Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan sistem rangka ?
1.2.2 Apa saja fungsi dari sistem rangka ?
1.2.3 Bagaimanakah struktur dari sistem rangka manusia ?
1.2.4 Bagaimanakah susunan sistem rangka manusia ?
1.2.5 Apa saja kelainan atau gangguan yang terjadi pada sistem rangka ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian sistem rangka
1.3.2 Untuk mengetahui fungsi dari sistem rangka
1.3.3 Untuk mengetahui struktur sistem rangka pada manusia
1.3.4 Untuk mengetahui susunan sistem rangka manusia
1.3.5 Unutuk mengetahui berbagai kelainan/gangguan yang dapat terjadi pada sistem
rangka
1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Bagi Penulis

1. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas anatomi dan fisiologi manusi
2. Sebagai sarana untuk memperluas wawasan anatomi dan fisiologi manusia
tentang sistem rangka
1.4.2 Bagi Pembaca
Sebagai sarana untuk mengatahui bagaimana anatomi dan fisiologi manusia
tentang sistem rangka

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Rangka
2.2 Fungsi Sistem Rangka
1. Dukungan
Sistem kerangka terdiri dari tulang dan tulang rawan. Ada 206 tulang dalam tubuh
dan tulang-tulang dan tulang rawan membantu memberikan dukungan dan titik
perlekatan ke banyak jaringan lunak, otot dan ligamen dalam tubuh. Ada berbagai
jenis tulang seperti tulang panjang, tulang pendek, tulang pipih, tulang tidak teratur
dan tulang sesamoid. Fungsi juga termasuk memberikan kekakuan dan bentuk tubuh.
Ini membantu mendukung berat otot dan organ internal, tanpa tulang tubuh akan
runtuh.
2. Perlindungan
Salah satu fungsi utama dari sistem kerangka melibatkan perlindungan terhadap organ
lembut dan halus dari tubuh. Otak dilindungi oleh tengkorak, saraf dilindungi oleh
tulang belakang, tulang rusuk memberikan perlindungan pada jantung dan paru-paru.
Cakram berserat antara setiap tulang belakang bertindak sebagai peredam kejut.
3. Penyimpanan mineral
Mineral seperti kalsium dan fosfor disimpan dalam tulang, sampai mereka harus
didistribusikan di berbagai bagian tubuh yang membutuhkan mineral untuk
melaksanakan berbagai fungsi.
4. Membantu dalam gerakan
Tulang bertindak bersama sebagai pengungkit dan jangkar untuk otot. Titik asal otot
disebut jangkar dan tulang bertindak sebagai tuas. Ada tiga jenis sendi, yaitu. sendi
tetap atau Synarthroses seperti tulang tengkorak, sedikit bergerak atau
Amphiarthroses seperti simfisis pubis dan bergerak bebas atau Diarthroses. sendi
Yang bergerak bebas dibagi menjadi empat kelompok. Yang pertama, bola dan soket
bersama seperti sendi pinggul, sendi engsel dalam anatomi siku, sendi poros dari
radius dan ulna dan peluncur bersama terlihat di sendi karpal pergelangan tangan.
5. Penyimpanan energy kimia

2
Sumsum kuning pada tulang dibahas di atas terdiri dari sel-sel adiposa. Sel-sel
adiposa adalah sel lemak yang merupakan sumber yang sangat penting dari energi
kimia.
6. Produksi sel darah merah
Sel-sel darah merah serta sel-sel darah putih yang diproduksi di sumsum merah
tulang. Setelah lahir dan pada anak usia dini, keesokan harinya darah merah berwarna
merah. Kemudian, di masa dewasa, setengah dari sumsum tulang berubah menjadi
kuning, karena hanya terdiri dari sel-sel lemak. Tulang panjang terdiri dari sumsum
kuning dan sumsum merah ditemukan dalam tulang pipih pinggul, tengkorak dan
tulang belikat. Anda juga dapat menemukan sumsum merah di tulang belakang dan
ujung tulang panjang. Dalam kondisi ekstrim, tubuh dapat mengkonversi beberapa
sumsum tulang kuning kepada sumsum tulang merah.
2.3 Struktur Sistem Rangka Manusia
2.3.1 Tulang
1. Struktur Tulang
Pada umumnya penyusun tulang diseluruh tubuh kita semuanya berasal dari
material yang sama. Dari luar ke dalam kita akan dapat menemukan lapisan-
lapisan berikut ini:
a. Periosteum
Pada lapisan pertama kita akan bertemu dengan yang namanya
periosteum. Periosteum merupakan selaput luar tulang yang tipis.
Periosteum mengandung osteoblas (sel pembentuk jaringan tulang),
jaringan ikat dan pembuluh darah. Periosteum merupakan tempat
melekatnya otot-otot rangka (skelet) ke tulang dan berperan dalam
memberikan nutrisi, pertumbuhan dan reparasi tulang rusak.
b. Tulang Kompak (Compact Bone)
Pada lapisan kedua ini kita akan bertemu dengan tulang kompak. Tulang
ini teksturnya halus dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki sedikit
rongga dan lebih banyak mengandung kapur (Calsium Phosfat dan
Calsium Carbonat) sehingga tulang menjadi padat dan kuat. Kandungan
tulang manusia dewasa lebih banyak mengandung kapur dibandingkan

3
dengan anak-anak maupun bayi. Bayi dan anak-anak memiliki tulang yang
lebih banyak mengandung serat-serat sehingga lebih lentur. Tulang
kompak paling banyak ditemukan pada tulang kaki dan tulang tangan.
c. Tulang Spongiosa (Spongy Bone)
Pada lapisan ketiga ada yang disebut dengan tulang spongiosa. Sesuai
dengan namanya tulang spongiosa memiliki banyak rongga. Rongga
tersebut diisi oleh sumsum merah yang dapat memproduksi sel-sel darah.
Tulang spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula.
d. Sumsum Tulang (Bone Marrow)
Lapisan terakhir yang kita temukan dan yang paling dalam adalah sumsum
tulang. Sumsum tulang wujudnya seperti jelly yang kental. Sumsum
tulang ini dilindungi oleh tulang spongiosa seperti yang telah dijelaskan
dibagian tulang spongiosa. Sumsum tulang berperan penting dalam tubuh
kita karena berfungsi memproduksi sel-sel darah.

Sumber : https://www.buzzle.com/images/diagrams/skeleton/bone-
structure.jpg
2. Susunan Makroskopis dan Histologi Tulang
Secara makroskopis tulang disusun menurut 2 cara:

a. Spongiosa
Tulang Spongiosa atau tulang seperti spons (L. cancello = membuat kisi-
kisi) Tulang ini terdiri atas batang yang halus atau selubung yang halus
yaitu trabekula (L. singkatan dari trabs = sebuah balok) yang bercabang
dan saling memotong ke berbagai arah untuk membentuk jala-jala seperti
4
spons dari spikula tulang, yang rongga-rongganya diisi oleh sumsum
tulang. Pars spongiosa merupakan jaringan tulang yang berongga seperti
spon (busa). Rongga tersebut diisi oleh sumsum merah yang dapat
memproduksi sel-sel darah. Tulang spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis
tulang yang disebut trabekula.

Sumber :
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/12/Bone_cross-
section.svg
b. Kompakta
Tulang yang membentuk masa yang padat tanpa terlihat ruangan. Pars
kompakta teksturnya halus dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki
sedikit rongga dan lebih banyak mengandung kapur (Calsium Phosfat dan
Calsium Carbonat) sehingga tulang menjadi padat dan kuat. Kandungan
tulang manusia dewasa lebih banyak mengandung kapur dibandingkan
dengan anak-anak maupun bayi. Bayi dan anak-anak memiliki tulang yang
lebih banyak mengandung serat-serat sehingga lebih lentur. Tulang
kompak paling banyak ditemukan pada tulang kaki dan tulang tangan.

5
Sumber : http://embed.wistia.com/deliveriesjpg
3. Lokasi dan Fungsi 4 Macam Sel-Sel Tulang
a. Osteoblas
Dari Bahasa Yunani yang merujuk kepada "tulang" dan "janin" atau
embrio . Sel ini bertanggung jawab atas pembentukan matriks tulang, oleh
karena itu banyak ditemukan pada tulang yang sedang tumbuh. Selnya
berbentuk kuboid atau silindris pendek, dengan inti terdapat pada bagian
puncak sel dengan kompleks Golgi di bagian basal. Sitoplasma tampak
basofil karena banyak mengandung ribonukleoprotein yang menandakan
aktif mensintesis protein. Pada pengamatan dengan M.E tampak jelas
bahwa sel-sel tersebut memang aktif mensintesis protein, karena banyak
terlihat RE dalam sitoplasmanya. Selain itu terlihat pula adanya lisosom.
Osteoblast yang mensintesis dan menjadi perantara mineralisasi osteoid.
Osteoblast ditemukan dalam satu lapisan pada permukaan jaringan tulang
sebagai sel berbentuk kuboid atau silindris pendek yang saling
berhubungan melalui tonjolan-tonjolan pendek.
b. Osteosit
Merupakan komponen sel utama dalam jaringan tulang. Pada sediaan
gosok terlihat bahwa bentuk osteosit yang gepeng mempunyai tonjolan-
tonjolan yang bercabang-cabang. Bentuk ini dapat diduga dari bentuk
lacuna yang ditempati oleh osteosit bersama tonjolan-tonjolannya dalam

6
canaliculi. Dari pengamatan dengan M.E dapat diungkapkan bahwa
kompleks Golgi tidak jelas, walaupun masih terlihat adanya aktivitas
sintesis protein dalam sitoplasmanya. Ujung-ujung tonjolan dari osteosit
yang berdekatan saling berhubungan melalui gap junction. Hal-hal ini
menunjukkan bahwa kemungkinan adanya pertukaran ion-ion di antara
osteosit yang berdekatan. Osteosit yang terlepas dari lacunanya akan
mempunyai kemampuan menjadi sel osteoprogenitor yang pada gilirannya
tentu saja dapat berubah menjadi osteosit lagi atau osteoklas. Osteosit
merupakan komponen sel utama dalam jaringan tulang. Mempunyai
peranan penting dalam pembentukan matriks tulang dengan cara
membantu pemberian nutrisi pada tulang.
c. Osteoklas
merupakan sel multinukleat raksasa dengan ukuran berkisar antara 20 m-
100m dengan inti sampai mencapai 50 buah. Sel ini ditemukan untuk
pertama kali oleh Kllicker dalam tahun 1873 yang telah menduga bahwa
terdapat hubungan sel osteoklas (O) dengan resorpsi tulang. Hal tersebut
misalnya dihubungkan dengan keberadaan sel-sel osteoklas dalam suatu
lekukan jaringan tulang yang dinamakan Lacuna Howship (H).
keberadaan osteoklas ini secara khas terlihat dengan adanya microvilli
halus yang membentuk batas yang berkerut-kerut (ruffled border).
Gambaran ini dapat dilihat dengan mroskop electron. Ruffled border ini
dapat mensekresikan beberapa asam organik yang dapat melarutkan
komponen mineral pada enzim proteolitik lisosom untuk kemudian
bertugas menghancurkan matriks organic. Pada proses persiapan
dekalsifikasi (a), osteoklas cenderung menyusut dan memisahkan diri dari
permukaan tulang. Relasi yang baik dari osteoklas dan tulang terlihat pada
gambar (b). resorpsi osteoklatik berperan pada proses remodeling tulang
sebagai respon dari pertumbuhan atau perubahan tekanan mekanikal pada
tulang. Osteoklas juga berpartisipasi pada pemeliharaan homeostasis darah
jangka panjang.Osteoklas merupakan sel fagosit yang mempunyai
kemampuan mengikis tulang dan merupakan bagian yang penting. Mampu

7
memperbaiki tulang bersama osteoblast. Osteoklas ini berasal dari deretan
sel monosit makrofag.
d. Sel osteoprogenitor
merupakan sel mesenchimal primitive yang menghasilkan osteoblast
selama pertumbuhan tulang dan osteosit pada permukaan dalam jaringan
tulang. Tulang membentuk formasi endoskeleton yang kaku dan kuat
dimana otot-otot skeletal menempel sehingga memungkinkan terjadinya
pergerakan. Tulang juga berperan dalam penyimpanan dan homeostasis
kalsium. Kebanyakan tulang memiliki lapisan luar tulang kompak yang
kaku dan padat. Tulang dan kartilago merupakan jaringan penyokong
sebagai bagian dari jaringan pengikat tetapi keduanya memiliki perbedaan
pokok antara lain : Tulang memiliki system kanalikuler yang menembus
seluruh substansi tulang. Tulang memiliki jaringan pembuluh darah untuk
nutrisi sel-sel tulang. Tulang hanya dapat tumbuh secara aposisi. Substansi
interseluler tulang selalu mengalami pengapuran.

Sumber : www.zoology.ubc.ca
4. Jenis-Jenis Tulang
a. Jenis Tulang Berdasarkan Jaringan yang Menyusunnya

8
1) Tulang keras
Sifat tulang keras ini memang kaku dan keras, sehingga disebut tulang
keras, yang tersusun dari zat fosfor dan kapur. Seiring bertambahnya
usia seseorang, semakin banyak zat kapur, semakin keras dan kaku
pula tulangnya. Hal ini menyebabkan tulang mudah patah.
2) Tulang rawan
Disebut tulang rawan karena memang sifatnya yang liat dan sangat
lentur. Zat antar sel-nya juga banyak mengandung zat kapur dan zat
perekat. Zat perekat biasanya juga disebut kolagen, dan sangat
berperan dalam penyambungan tulang jika terjadi tulang patah atau
retak. Tulang rawan dapat kita jumpai di area hidung, telinga,
sambungan antar tulang dan juga di setiap ujung tulang keras.

Sumber : http://2.bp.blogspot.com
b. Jenis tulang berdasarkan bentuknya
1) Tulang pipa
Tulang ini memiliki bentuk sesuai namanya yaitu berbentuk pipa.
Tulang ini memiliki bentuk memanjang dan tengahnya berlubang.
Pada ujung tulang pipa (yang berbentuk seperti bundar) terdapat tulang
spons sedangkan pada lapisan tulang pipa terdapat tulang kompak,
tulang pipa juga dilapisi periosteum. Contohnya adalah tulang paha,

9
tulang betis, tulang ruas jari, dan tulang lengan. Tulang pipa berfungsi
sebagai tempat pembentukan sel darah merah.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
2) Tulang pipih
Tulang ini memiliki bentuk pipih seperti pelat. Contohnya adalah
adalah tulang belikat, tulang usus, tulang panggul, tulang penyusun
tengkorak, tulang rusuk, dan tulang dada. Tulang pipih berfungsi
sebagai tempat pembentukan sel darah merah dan sel darah putih.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
3) Tulang pendek
Tulang pendek memiliki bentuk sesuai dengan namanya berbentuk
pendek dan berisi sumsum merah. Tulang ini bersifat ringan dan kuat.
Meskipun tulang ini pendek, tulang ini mampu menahan beban yang
cukup berat. Contohnya adalah tulang pergelangan tangan, ruas tulang

10
belakang, tempurung lutut, telapak tangan, dan telapak kaki. Tulang
Pendek berfungsi sebagai tempat pembentukan sel darah merah dan sel
darah putih.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
4) Tulang panjang
Tulang panjang adalah tulang yang panjangnya melebihi lebarnya.
Biasanya terdiri dari sebuah batang berbentuk tabung yang disebut
diafisis dan sebuah epifsisi pada ujung-ujungnya. Pada masa
pertumbuhan diafisis dari tulang panjang dipisahkandari epifisis oleh
sebuah epifisis tulang rawan.
Bagian diafisi yang terletak berdekatan dengan epifisis cartilage
disebut dengan metafisis. Bagian batang atau diafisis dari tulang
panjang memiliki sebuah rongga sempit di bagian tengahnya yang
berisi sumsum tulang.
Bagian ujung dari tulang panjang, yaitu epifisis dan metafisis,
terdiri daricancellous bone yang dikelilingi oleh lapisan cortical bone
yang tipis. Permukaan artikular dari ujung tulang panjang dilapisi
olehcartilage hialin. Tulang panjang ditemukan pada tungkai. Yang
termasuk tulang panjang adalah femur, tibia, dan fibula pada paha dan
betis, humerus, radius, dan ulna dari lengan, serta metatarsal,
metacarpal, dan phalanges dari kaki dan tangan.

11
Sumber : https://image.slidesharecdn.com
5) Tulang tak beraturan
Tulang Tak Beraturan. Tulang jenis ini merupakan gabungan dari
berbagai bentuk tulang. Contohnya adalah tulang rahang pada wajah
dan tulang yang terdapat pada ruas-ruas tulang belakang.

Sumber : https://educrazy.files.wordpress.com
5. Efek Hormon Terhadap Pertumbuhan Tulang
a. Hormon pertumbuhan (Growth Hormon)
1) Merupakan efek paling utama dari GH

12
2) Pertumbuhan tulang dapat berupa penebalan atau pertumbuhan
panjang

3) Ke 2 pertumbuhan tersebut ditingkatkan oleh hormon pertumbuhan

4) Hormon ini merangsang poliferasi tulang rawan epifis sehingga


menyediakan lebih banyak ruang untuk membentuk tulang dan
merangsang aktivitas osteoblas

5) Apabila lempeng epifis telah tertutup,tulang tidak lagi bertambah


panjang walaupun terdapat hormon pertumbuhan
b. Parathyroid hormon (PTH)
Fungsinya mempertahankan konsentrasi serum kalsium pada rentang yang
sangat sempit. Produksi dan release distimulasi oleh naik turunnya kadar
kalsium serum. Target organnya tubulus renal, tulang, dan intestinal.
c. Hormon lain
Estrogen menstimulasi absorbsi kalsium dan melindungi tulang dari
pengaruh PTH. Efek hormon ini menyebabkan oeteoporosis. Thyroxin
meningkatkan pembentukan dan resobsi tulang tetapi lebih dominan
resorbsi sehingga hyperthyroid dihubungkan dengan besarnya
pembongkaran tulang dan osteoporosis.
6. Perkembangan Tulang
Proses Pembentukan & Pertumbuhan Tulang - Rangka manusia terbentuk
pada akhir bulan kedua atau awal bulan ketiga pada waktu perkembangan
embrio. Tulang yang terbentuk mula-mula adalah tulang rawan (kartilago).
Inilah proses pertumbuhan tulang pada manusia:
a. Tulang rawan pada embrio mengandung banyak osteoblas, terutama pada
bagian tengah epifisis dan bagian tengah diafisis, serta pada jaringan ikat
pembungkus tulang rawan.
b. Osteosit terbentuk dari osteoblas, tersusun melingkar membentuk sistem
Havers. Di tengah sistem Havers terdapat saluran Havers yang banyak
mengandung pembuluh darah dan serabut saraf.

13
c. Osteosit mensekresikan zat protein yang akan menjadi matriks tulang.
Setelah mendapat tambahan senyawa kalsium dan fosfat tulang akan
mengeras.
d. Selama terjadi penulangan, bagian epifisis dan diafisis membentuk daerah
antara yang tidak mengalami pengerasan, disebut cakraepifisis
e. Bagian cakraepifisis terus mengalami penulangan. Penulangan bagian ini
menyebabkan tulang memanjang.
f. Di bagian tengah tulang pipa terdapat osteoblas yang merusak tulang
sehingga tulang menjadi berongga kemudian rongga tersebut terisi oleh
sumsum tulang
7. Regenerasi Tulang
Proses regenerasi tulang adalah proses penyembuhan pada tulang. Adapun
tahap tahapnya adalah sebagai berikut :
a. Inflamasi
Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan
hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami
devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian
akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar) yang akan
membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan, dan
nyeri.
b. Poliferasi sel
Hematoma akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang fibrin,
membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan
osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel
endostel, dan sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan
proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk
jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum tampak
pertumbuhan melingkar .
c. Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan

14
tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat
imatur.
d. Osifikasi (penulangan kalus)
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu
setelah patah tulang melalui proses penulangan endokondral.
e. Remodeling
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati
dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya.
Remodelling memerlukan waktu berbulan-bulan samapai bertahun-tahun
tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan
pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus , stress
fungsional pada tulang.
2.3.2 Persendiaan/Artikulasi
Merupakan hubungan antara 2 buah tulang. Struktur khusus yang terdapat pada
artikulasi yang dapat memungkinkanuntuk pergerakan disebut dengan sendi.
Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat bergerak
dengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas tulang yang satu
dengan ruas tulang lainnya, sehingga kedua tulang tersebut dapat digerakkan
sesuai dengan jenis persendian yang diperantarainya. Sendi merupakan tempat
pertemuan dua atau lebih tulang. Sendi dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu:
1. fibrosa dimana tidak terdapat lapisan kartilago, antara tulang dihubungkan
dengan jaringan ikat fibrosa, dan dibagi menjadi dua subtipe yaitu sutura dan
sindemosis
2. sendi kartilaginosa dimana ujungnya dibungkus oleh kartilago hialin,
disokong oleh ligament, sedikit pergerakan, dan dibagi menjadi subtipe yaitu
sinkondrosis dan simpisis
3. sendi sinovial. Sendi sinovial merupakan sendi yang dapat mengalami
pergerakkan, memiliki rongga sendi dan permukaan sendinya dilapisi oleh
kartilago hialin. Kapsul sendi membungkus tendon-tendon yang melintasi
sendi, tidak meluas tetapi terlipat sehingga dapat bergerak penuh. Sinovium
menghasilkan cairan sinovial yang berwarna kekuningan, bening, tidak

15
membeku, dan mengandung lekosit. Asam hialuronidase bertanggung jawab
atas viskositas cairan sinovial dan disintesis oleh pembungkus sinovial. Cairan
sinovial mempunyai fungsi sebagai sumber nutrisi bagi rawan sendi.
Artikulasi dapat dibedakkan menjadi :
1. Sinarthrosis
Disebut juga dengan sendi mati.Yaitu hubungan antara 2 tulang yang tidak
dapat digerakkan sama sekali. Artikulasi ini tidak memiliki celah sendi dan
dihubungkan dengan jaringan serabut. Dijumpai pada hubungan tulang pada
tulang-tulang tengkorak yang disebut sutura/suture.

Sumber : http://1.bp.blogspot.com
2. Amfiarthrosis
Disebut juga dengan sendi kaku.Yaitu hubungan antara 2 tulang yang dapat
digerakkan secara terbatas. Artikulasi ini dihubungkan dengan cartilago.
Dijumpai pada hubungan ruas-ruas tulang belakang, tulang rusuk dengan
tulang belakang.

16
Sumber : http://1.bp.blogspot.com
3. Diarthrosis
Disebut juga dengan sendi hidup.Yaitu hubungan antara 2 tulang yang dapat
digerakkan secara leluasa atau tidak terbatas. Untuk melindungi bagian ujung-
ujung tulang sendi, di daerah persendian terdapat rongga yang berisi minyak
sendi/cairan synovial yang berfunggsi sebagai pelumas sendi.
Sendi dapat dibedakan menjadi :
1. Sendi engsel
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan hanya satu arah
saja. Dijumpai pada hubungan tulang Os. Humerus dengan Os. Ulna dan Os.
Radius/sendi pada siku, hubungan antar Os. Femur dengan Os. Tibia dan Os.
Fibula/sendi pada lutut.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf

17
2. Sendi pelana/sendi sellaris
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan kedua arah.
Dijumpai pada hubungan antara Os. Carpal dengan Os. Metacarpal, sendi pada
tulang ibu jari.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
3. Sendi putar
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan salah satu tulang berputar
terhadap tulang yang lain sebagai porosnya. Dijumpai pada hubungan antara
Os. Humerus dengan Os. Ulna dan Os. Radius, hubungan antar Os. Atlas
dengan Os. Cranium.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
4. Sendi peluru/endartrosis

18
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan ke segala
arah/gerakan bebas. Dijumpai pada hubungan Os. Scapula dengan Os.
Humerus, hubungan antara Os. Femur dengan Os. Pelvis virilis.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
5. Sendi geser
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan pada satu bidang
saja atau gerakan bergeser. Dijumpai pada ruas-ruas Os. Vertebrae, ruas-ruas
Os. Metatarsal dan ruas-ruas Os. Metacarpal.

Sumber : https://1.bp.blogspot.com
6. Sendi luncur

19
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan badan melengkung
ke depan (membungkuk) dan ke belakang serta gerakan memutar
(menggeliat).
7. Sendi gulung
Yaitu hubungan antar tulang yang gerakan tulangnya seolah-olah mengitari
tulang yang lain. Dijumpai pada hubungan Os. Metacarpal dengan Os. Radius.
8. Sendi ovoid
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan berporos dua,
dengan gerak ke kiri dan ke kanan, gerakan maju dan mundur, gerakan
muka/depan dan belakang. Ujung tulang yang satu berbentuk ovaldanmasuk
ke dalam suatu lekuk yang berbentuk elips. Dijumpai pada hubungan Os.
Radius dengan Os. Carpal.
2.4 Susunan Tulang Rangka Manusia
Rangka manusia terdiri atas kurang lebih 206 tulang. Berdasarkan letak tulang-tulang
terhadap sumbu tubuh, rangka dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Kelompok
pertama adalah rangka aksial yang berada di bagian tengah sumbu tubuh. Kelompok
kedua, adalah rangka apendikular yang berada di bagian tepi dari sistem rangka aksial.
1. Rangka aksial
Rangka aksial merupakan tulang-tulang yang berada di bagian tengah sumbu tubuh.
Tulang rangka aksial terdiri atas tulang kepala, ruas tulang belakang, tulang dada, dan
tulang rusuk.
a. Tulang kepala/tengkorak
Tulang tengkorak terdiri atas dua bagian, yaitu tengkorak otak (neuro cranial) dan
tengkorak wajah (fasial cranial)
1) Tengkorak Otak (Neuro Cranial)
Tengkorak otak terdiri dari tulang-tulang yang dihubungkan satu sama lain
oleh tulang bergerigi yang disebut sutura, banyaknya 8 buah dan terdiri dari
bagian yaitu:
a) Kubah tengkorak, terdiri dari:
(1) Os frontal: tuang dahi
(2) Os parietal: tulang ubun-ubun

20
(3) Os oksipital: tulang belakang kepala
b) Dasar tengkorak, terdiri dari:
(1) Os sfenoidal: tulang baji (terdapat di tengah dasar tengkorak)
(2) Os etmoidal: tulang tapis (terletak di sebelah depan dari os sfenoidal di
antara lekuk mata.
c) Samping tengkorak (os temporal): tulang pelipis
(1) Sutura coronalis: antara os frontal dan os parietalis
(2) Sutura sagitalis: antara kedua os parietal
(3) Sutura lambdoidalis: antara os parietal dan kedua os parietalis.
Di neuro cranial juga terdapat fontanel yaitu rongga pada ubun-ubun.
Fontanel ini akan tertutup sempurna pada usia 18 bulan. Terdapat 2 fontanel,
yaitu fontanel anterior (fontanel depan) dan fontanel posterior (fontanel
belakang).

2) Tengkorak Wajah (Fasial Cranial)


Pada manusia bentuknya lebih kecil dari neuro cranial, di dalalmnya terdapat
rongga-rongga yang membentuk rongga mulut (kavum oris), rongga hidung
(kavum nasi) dan rongga rongga mata (kavum orbita).
Fasial cranial dibagi atas 2 bagian, yaitu:
a) Bagian hidung (nasalis)
(1) Os lakrimal: tulang mata,
(2) Os nasal: tulang hidung

21
(3) Os konka nasal: tulang karang hidung, terletak di dalam rongga
hidung
(4) Septum nasi: sekat rongga hidung
b) Bagian rahang
(1) Os maksilaris: tulang rahang atas
(2) Os zigomatikum: tulang pipi
(3) Os palatum: tulang langit-langit, terdiri dari 2 buah tulang kiri/kanan.
(4) Os mandibularis: tulang rahang bawah.
(5) Os hyoid: tulang lidah, terdapat di pangkal leher di antara otot-otot
leher.
(6) Procesus alveolaris: taju di daerah os maksilaris yang merupakan
tempat melekatnya urat gigi.

Sumber : https://upload.wikimedia.org
b. Kerangka Dada (Torax)
Kerangka dada dibentuk oleh susunan tulang yang melindungi rongga dada yang
terdiri dari :
1) Tulang dada (sternum): 1 buah
Tulang dada menjadi tonggak dinding depan dari toraks (rongga dada)
bentuknya gepeng dan sedikit melear, yang terdiri atas 3 bagian yaitu:
a) Manubrium sterni: bagian atas sternum yang menjadi tempat melekatnya
tulang selangka (klavicula) dan tulang iga.

22
b) Korpus sterni: batang sternum
c) Procesus xifoideus sterni: bagian ujung dari tulan dada.
2) Tulang iga (kosta): 12 pasang
Os kosta banyaknya 24 buah, kiri dan kanan, bagian depan berhubungan
dengan tulang sternum dan bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas
tulang belakang (veterbra torakalis). Tulang iga dibagi 3 macam:
a) Iga sejati (os kosta vera): 7 pasang, berhubungan langsung dengan
sternum.
b) Iga tidak sejati (os kosta spuria): 3 pasang, berhubungan dengan kosta ke
7.
c) Tulang iga melayang (os kosta fluitantes): 2 pasang, tidak mempunyai
hubungan dengan tulang sternum.

Sumber : https://4.bp.blogspot.com
3) Vertebra torakalis: 12 ruas.
Jumlanya sesuai dengan jumlah kosta, dan menjadi tempat melekatnya kosta.
c. Tulang Belakang (Os Vertebrae)
Bagian dari ruas tulang-tulang belakang terdiri dari:
1) Vertebra servikalis (tulang leher): 7 ruas, mempunyai badan ruas kecil dan
lubang ruas yang besar.
2) Vertebra torakais (tulang punggung): 12 ruas, badan ruasnya besar, dan kuat,
taju durinya panjang dan melengkung.

23
3) Vertebra lumbalis (tulang pinggang): 5 ruas, badan ruasnya besar tebal dan
kuat, taju durinya agak picak.
4) Vertebra sakralis (tulang selangkang): 5 ruas. Samping kiri/kanannya terdapat
lubang kecil 5 buah yang disebut foramen sakralis.
5) Vertebra koksigialis (tulang ekor): 4 ruas. Dapat bergerak sedikit karena
membentuk persendian dengan sacrum.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
Diantara ruas-ruas tulang belakang tedapat sebuah bantalan yang berasal dari
tulang rawan fibrosa yang disebut discus intevetebralis.
2. Rangka Apendikular
Kerangka apendikular terdiri dari 126 tulang dalam tubuh manusia. Kata apendiks
adalah kata sifat dari kata benda tambah, yang berarti bagian yang bergabung untuk
sesuatu yang lebih besar. Secara fungsional, Kerangka apendikular terlibat dalam
pergerakan (tungkai bawah dan korset panggul) dari kerangka aksial dan manipulasi
benda-benda di lingkungan (tungkai atas dan korset dada).
a. Tulang bahu

24
1) Tulang belikat (skapula), Tulang belikat berjumlah 2 buah yang berbentuk
segibagu dan taju paruh gagak.
2) Tulang selangka (klavikula)
3) Tulang selangka berjumlah 2 buah. Tulang selangka berbentuk seperti huruf s.
Ujung yang satu melekat pada tulang dada sedangkan ujung yang lain
berakhir pada ujung bahu. Tulang selangka menjadi penghubung antara
gelang bahu dan rangka tubuh.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf

b. Tulang panggul (pelvis)


1) tulang usus (ileum) berjumlah 2 buah,
2) tulang duduk (iskhium) berjumlah 2 buah,
3) tulang kemaluan berjumlah 2 buah.

25
Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf

26
c. Tulang anggota gerak atas

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf

1) Tulang lengan atas (humerus)


Tulang lengan atas (humerus) berjumlah 2 buah. Tulang ini merupakan tulang
terpanjang dari anggota atas. Tulang humerus sebelah atas bundar tetapi
semakin ke bawah menjadi lebih pipih, sedangkan ujung bawahnya lebar dan
agak pipih. Pada bagian paling bawah terdapat permukaan sendi yang
dibentuk bersama tulang lengan bawah.
2) Tulang hasta (ulna)
Tulang hasta (ulna) berjumlah 2 buah. Tulang-tulang ini berbentuk pipa
dengan ujung yang kuat dan tebal. Batang tulang hasta mendekati ujung
bawah makin kecil. Fungsinya memberi kaitan kepada otot yang
mengendalikan gerakan dari pergelangan tangan dan jari. Ujung bawah tulang
hasta kecil dibandingkan dengan ujung atasnya.
3) Tulang pengumpil (radius)

27
Tulang pengumpil (radius) berjumlah 2 buah. Tulang pengumpil (radius)
merupakan tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung serta lebih
pendek daripada tulang hasta.
4) Tulang pergelangan tangan (karpal)
5) Tulang tapak tangan (metakarpal)
6) Tulang jari-jari (phalanges)
d. Tulang anggota gerak bawah

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf

1) Tulang paha (femur)


Tulang paha (femur) berjumlah 2 buah. Tulang paha (femur) merupakan
tulang terpanjang dari tubuh, yang berupa tulang pipa dan mempunyai sebuah
batang dan dua ujung.
2) Tulang tempurung lutut (patela)
Tulang tempurung lutut (patela) berjumlah 2 buah. Tulang tempurung lutut
(patela) terletak di depan sendi lutut, tetapi tidak ikut serta di dalamnya.
3) Tulang betis (fibula)

28
Tulang betis (fibula) berjumlah 2 buah. Tulang ini merupakan tulang pipa
dengan sebuah batang dan dua ujung. Tulang betis adalah tulang sebelah
lateral tungkai bawah.
4) Tulang kering (tibia)
Tulang kering (tibia) berjumlah 2 buah. Tulang kering (tibia) ini merupakan
kerangka yang utama dari tungkai bawah dan terletak medial dari tulang betis.
Tulang kering merupakan tulang pipa dengan sebuah batang dan dua kali
ujung.
5) Tulang pergelangan kaki (tarsal)
Tulang pergelangan kaki (tarsal) berjumlah 2 kali 7 buah.
6) Tulang tapak kaki (metatarsal)
Tulang tapak kaki (metatarsal) berjumlah 2 kali 5 buah tulang.
7) Tulang jari kaki (phalanges) berjumlah 2 kali 14 ruas jari.
2.5 Kelainan atau Gangguan pada Sistem Rangka
Kelainan atau penyakit pada sistem rangka dapat di sebabkan adanya gangguan
pada tulang, persendian, susunan ruas-ruas tulang belakang dan fisiologisnya. Beberapa
contoh kelainan pada tulang antara lain yaitu sebagai berikut:
1. Gangguan Pada Tulang
Sebagian besar gangguan pada tulang adalah berupa retak atau patah
tulang (fraktura).
Berikut ini beberapa macam gangguan pada tulang karena fraktura :
a. Fraktura Sederhana
Fraktura sederhana merupakan patah tulang yang tidak menyebabkan rusaknya
jaringan sekelilingnya (otot dan kulit). Pada gangguan jenis ini, tulang mengalami
retak atau patah. Namun posisi patahan belum bergeser dari posisi awal dan tidak
melukai otot yang ada di sekitarnya.
b. Fraktura Kompleks
Fraktura kompleks atau fraktura majemuk merupakan patah tulang yang mampu
merobek otot atau kulit. Pada fraktura kompleks, ujung patahan tulang dapat
menembus kulit dan muncul ke permukaan luar. Oleh karena itu, fraktura

29
kompleks sering di sebut juga fraktura terbuka. Posisi tulang telah benar-benar
terpisah saat terjadi gangguan ini. Otot di sekitar tulang yang patah terlukai.
c. Fraktura Sebagian
Fraktura sebagian atau greenstick merupakan patah tulang yang tidak terlalu
serius, hanya berupa retak pada tulang. Fraktura sebagian atau greenstick ini tidak
terjadi pada keseluruhan tulang, hanya sebagian saja. Apabila keretakan terjadi
pada tulang pipa, hanya sebagian diameternya saja yang mengalaminya dan tulang
tidak terpisah.
d. Fraktura Berganda
Fraktura berganda atau comminuted merupakan patah tulang pada beberapa
tempat yang terjadi pada satu tulang. Pada patah tulang jenis ini, tulang terbagi
menjadi beberapa bagian, namun masih terlindungi oleh otot. Berdasarkan uraian
tersebut, sangat wajar bila penderita gangguan tulang akibat berbagai jenis
fraktura itu bisa mengalami rasa sakit yang sangat perih.

Sumber: http://www.pintarbiologi.com/2014/11/gangguan-mekanik-frakture-pada-
tulang.html
2. Gangguan Pada Persendiaan
Gangguan pada persendian dapat menyebabkan tulang tidak dapat bergerak secara
optimal dan sering kali menimbulkan rasa nyeri. Berikut ini beberapa gangguan yang
terjadi pada persendian :
a. Dislokasi

30
Dislokasi merupakan gangguan persendian yang menyebabkan sendi bergeser dari
kedudukan semula. Dislokasi terjadi karena ligamen atau jaringan
penggantung rusak/sobek.

Sumber: https://www.slideshare.net/mobile/DyndhaPutry/gangguan-pada-tulang-
dan-sendi
b. Keseleo
Keseleo atau terkilir merupakan gangguan persendian yang terjadi akibat gerakan
mendadak yang tidak biasa di lakukan. Gerakan ini dapat menyebabkan ligament
tertarik, tetapi tidak menyebabkan bergesernya posisi persendian. Rasa sakit
cukup hebat yang di sertai pembengkakan terjadi pada daerah yang terkilir.

Sumber: https://www.slideshare.net/mobile/DyndhaPutry/gangguan-pada-tulang-
dan-sendi
c. Ankilosis
Ankilosis merupakan gangguan persendian yang mengakibatkan tulang tidak
dapat di gerakkan lagi.

31
Sumber: https://www.slideshare.net/mobile/DyndhaPutry/gangguan-pada-tulang-
dan-sendi
d. Arthritis
Arthritis merupakan gangguan persendian berupa peradangan pada beberapa sendi
yang di sertai rasa nyeri dan sakit. Berikut ini beberapa gangguan persendian yang
termasuk Arthritis yaitu sebagai berikut:
1) Osteoartritis, merupakan tipe arthritis yang disebabkan oleh penipisan lapisan
kartilago sehingga gerakan sendi menjadi terganggu.
2) Goutartritis, merupakan tipe arthritis yang disebabkan oleh kegagalan
meatbolisme asam urat sehingga terjadi penimbunan asam urat di dalam
sendi. Kebanyakan terjadi pada persendian jari-jari (biasa ditandai dengan
ruas-ruas jari yang membesar).
3) Rematoid, merupakan tipe arthritis lainnya yang terjadi pada jaringan
penghubung sendi (tulang rawan). Gangguan tersebut dapat berupa
peradangan atau pengapuran pada jaringan tulang rawan sehingga sendi sulit
untuk digerakkan.

32
Sumber: https://www.slideshare.net/mobile/DyndhaPutry/gangguan-pada-
tulang-dan-sendi
3. Gangguan Pada Susunan Ruas-Ruas Tulang Belakang
Gangguan pada susunan ruas-ruas tulang belakang dapat terjadi karena adanya
perubahan posisi dari ruas-ruas tulang belakang. Hal ini dapat di
sebabkan oleh kebiasaan posisi duduk yang salah atau bawaan sejak lahir. Berikut ini
beberapa contoh yang termasuk gangguan pada susunan ruas-ruas tulang belakang :
a. Kifosis
Kifosis adalah kelainan pada tulang, di mana tulang punggung akan membengkok
ke depan. Kelainan kifosis ini di sebabkan karena kebiasaan duduk/bekerja
dengan membungkuk.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
a. Skoliosis
Skoliosis merupakan kelainan tulang di mana tulang punggung akan membengkok ke
samping kanan atau kiri. Skoliosis ini dapat terjadi pada orang yang menderita sakit
jantung yang menahan rasa sakitnya, sehingga terbiasa miring dan mengakibatkan
tulang punggungnya menjadi miring.

33
Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
b. Lordosis
Lordosis merupakan kelainan tulang, di mana tulang punggung akan membungkok
ke belakang. Lordosis ini bisa terjadi karena kebiasaan tidur yang pinggangnya
diganjal dengan menggunakan bantal.

Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
c. Polio
Polio merupakan kelainan pada tulang yang disebabkan oleh virus, sehingga keadaan
tulangnya mengecil dan abnormal.

34
Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
d. Sublikasi
Sublikasi merupakan gangguan yang terjadi pada ruas-ruas tulang belakang di daerah
leher akibat posisi kepala pengalami perubahan sehingga kepala tertarik ke arah kiri
atau kanan. Sublikasi dapat terjadi karena kecelakaan atau gerakan yang melebihi
batas.
4. Gangguan Fisiologis
Gangguan fisiologis dapat terjadi antara lain akibat tulang mengalami kekurangan
nutrisi, baik berupa vitamin ataupun mineral. Selain itu, gangguan ini dapat pula
terjadi karena adanya gangguan sistem hormon. Berikut ini beberapa bentuk
gangguan fisiologis pada sistem rangka.
a. Osteoporosis
Osteoporosis merupakan masalah tulang yang sangat umum terutama teradi
pada orang tua dan di temukan lebih banyak pada wanita.
Osteoporosis terjadi karena kekurangan hormon ( misalnya tesrosteron pada
laki-laki dan progesteron pada perempuan), disposisi genetik, penyakit tertentu
seperti kanker tulang, kurangnya diet yang tepat, maupun tidak cukupnya deposisi
kalsium dalam tulang kita. Akibatnya, tulang-tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

35
Sumber: https://www.slideshare.net/mobile/DyndhaPutry/gangguan-pada-tulang-
dan-sendi
b. Mikrosepalus
Mikrosepalus merupakan gangguan pertumbuhan tulang-tulang tengkorak karena
kekurangan zat kapur pada saat bayi. Akibatnya, kepala menjadi kecil sehingga pada
akhirnya akan berpengaruh juga pada keseimbangan mental.

Sumber: https://www.slideshare.net/mobile/DyndhaPutry/gangguan-pada-tulang-
dan-sendi
c. Rakhitis
Rakhitis merupakan kelainan pada tulang akibat kekurangan vitamin D, sehingga
kakinya berbentuk huruf X atau O. Kekurangan vitamin D dapat mengakibatkan sel-
sel tulang sedikit memperoleh zat kapur sehingga tulang cenderung lunak.

36
Sumber : https://suyatmanblog.files.wordpress.com/2016/09/bab-iii-rangka
manusia.pdf
d. Osteomalacia
Penyakit ini mengakibatkan tulang menjadi lunglai yang diakibatkan kekurangan
vitamin D atau kesalahan metabolisme di dalam tubuh. Sama halnya dengan
Osteoporosis, Osteomalacia juga berpotensi membuat tulang cepat patah.

Sumber: https://www.slideshare.net/mobile/DyndhaPutry/gangguan-pada-tulang-
dan-sendi
e. Rickets
Rickets sering dialami oleh anak-anak yang sedang tumbuh. Formasi tulang pada
penderita Rickets abnormal, yaitu terjadi penumpukan kalsium di dalam tulang
karena terlalu banyak mengonsumsi susu berkalsium atau akibat radiasi sinar
matahari.

37
Sumber: https://www.slideshare.net/mobile/DyndhaPutry/gangguan-pada-tulang-
dan-sendi
f. Osteomyelitis
Infeksi ini menyerang tukang dan diakibatkan oleh bacteria, atau sepsis yang
menyebar dan mengurangi kekuatan tulang.

Sumber: https://www.slideshare.net/mobile/DyndhaPutry/gangguan-pada-tulang-
dan-sendi

38
BAB III
PENUTUP

39