Anda di halaman 1dari 3

Prinsip-prinsip Dasar Muamalah

Prinsip - Prinsip Dasar Muamalah Interaksi manusia bersama segala tujuannya untuk mencukupi keperluan
keduniaan. Interaksi ini diatur di dalam Islam di dalam Fiqih Muamalah.

Berbeda halnya bersama Fiqh Ibadah, Fiqih Muamalah berbentuk lebih fleksibel dan eksploratif. Hukum seluruh
aktifitas itu pada awalnya adalah boleh selama tidak tersedia dalil yang melarangnya, inilah kaidah ushul fiqhnya.

Fiqih Muamalah pada awalnya termasuk seluruh aspek problem yang melibatkan interaksi manusia, layaknya
pendapat Wahbah Zuhaili, hukum muamalah itu terdiri berasal dari hukum keluarga, hukum kebendaan, hukum acara,
perundang-undangan, hukum internasional, hukum ekonomi dan keuangan.

Tapi, saat ini Fiqh Muamalat dikenal secara tertentu atau lebih sempit mengerucut hanya pada hukum yang berlaku
bersama harta benda.

Begitu pentingnya mengetahui Fiqih muamalah ini dikarenakan setiap muslim tidak dulu terlepas berasal dari aktivitas
kebendandaan yang berkenaan bersama pemenuhan kebutuhannya.

Maka dikenal lah objek yang dikaji di dalam fiqih muamalat, kendati para fuqaha (ahli fiqih) klasik maupun
kontemporer berbeda-beda.

Tetapi secara umum fiqh muamalah membicarakan perihal tersebut :

Teori hak - kewajiban, rencana harta, rencana kepemilikan, teori akad, bentuk-bentuk akad yang terdiri berasal dari
jual-beli, sewa-menyewa, sayembara, akad kerjasama perdagangan, kerjasama bidang pertanian, pemberian, titipan,
pinjam-meminjam, perwakilan,

hutang-piutang, garansi, pengalihan hutang-piutang, jaminan, perdamaian, akad-akad yang berkenaan bersama
kepemilikan: menggarap tanah tak bertuan, ghasab (meminjam barang tanpa izin edt), merusak, barang temuan,
dan syufah (memindahkan hak kepada rekan sekongsi bersama mendapat pindah yang jelas).

Prinsip dasar bermuamalah menurut Hukum nya yang melandasi bermuamalah

a. Pada dasarnya segala wujud muamalah adalah mubah.


Asal dalam hal-hal (dalam transaksi) diizinkan, kecuali bukti sebaliknya ditunjukkan

Pada dasarnya (asalnya) pada segala sesuatu (pada masalah muamalah) itu hukumnya mubah, kecuali kecuali ada
dalil yang menunjukkan atas arti lainnya.

b. Mumalalah dilakukan atas dasar sukarela, tanpa mengandung unsur-unsur paksaan.


Wahai orang-orang yang beriman La Taklva Mvalkm Bynkm Balbatl evolusi layanan sebagai TRZ Mnkm kecuali
bahwa provinsi Allah Kan Nfskm Tqtlva Rhyma BKM.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah Anda saling memakan harta sesamamu bersama dengan jalur yang bathil,
kecuali bersama dengan jalur bisnis yang terjadi bersama dengan senang mirip senang di antara kamu. Dan janganlah
Anda membunuh diri Anda sekalian, sebenarnya Allah adalah maha penyayang kepadamu . "(QS. An-Nisa ': 29)

c. Muamalah dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan kegunaan dan jauhi


mudharat dalam bermasyarakat.
Untuk menyembah anak diam bahwa Rasulullah, saw dan menghabiskan yang tidak membahayakan. -roah Ahmad
dan Ibnu Majah

"Dari Ubadah bin Shamit, bahwasanya Rasulullah saw menentukan tidak bisa berbuat kemudharatan dan tidak bisa
pula membalas kemudharatan". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam kaidah fiqhiyah terhitung disebutkan;

Untuk menyembah anak diam bahwa Rasulullah, saw dan menghabiskan yang tidak membahayakan. -roah Ahmad
dan Ibnu Majah
"Kemudharatan harus dihilangkan"

d. Muamalah dilakukan bersama dengan pelihara nilai-nilai keadilan, jauhi unsur-


unsur penganiayaan dalam pengambilan kesempatan.
Frame Anak Domba Allah Vrsvlh Tflva Faznva Bhrb saya Tbtm itu Flkm Rvvs Mvalkm Tzlmvn La Vela Tzlmvn

"Maka kecuali Anda tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya bakal
memerangimu. Dan kecuali Anda bertobat (dari mengambil riba), maka bagimu pokok hartamu; Anda tidak
menganiaya dan tidak (pula) dianiaya". (QS. Al-Baqarah: 279)

Setelah mengenal secara lazim apa saja yang dibahas dalam fiqh muamalah, tersedia komitmen dasar yang harus
dimengerti dalam berinteraksi.

Ada 5 perihal yang harus diingat sebagai landasan tiap kali seorang muslim bakal berinteraksi. Kelima perihal ini jadi
batasan secara lazim bahwa transaksi yang dilakukan sah atau tidak, lebih dikenal dengan singkatan MAGHRIB, yaitu
Maisir, Gharar, Haram, Riba, dan Bathil.

1. Maisir
Menurut bhs maisir berarti gampang/mudah. Menurut makna maisir berarti memperoleh keuntungan tanpa harus
bekerja keras. Maisir sering dikenal dengan perjudian dikarenakan didalam praktek perjudian seseorang dapat
memperoleh keuntungan dengan langkah mudah.

Dalam perjudian, seseorang didalam keadaan dapat beruntung atau dapat rugi. Padahal islam mengajarkan mengenai
bisnis dan kerja keras. Larangan pada maisir / judi sendiri telah sadar ada didalam AlQuran (2:219 dan 5:90)

2. Gharar
Menurut bhs gharar berarti taruhan. Ada termasuk mereka yang memperlihatkan bahwa gharar berniat diragukan atau
keraguan. Setiap transaksi yang masih belum sadar barangnya atau tidak berada didalam kuasanya alias di luar
jangkauan termasuk menjual membeli gharar.

Dapat dikatakan bahwa rencana gharar berkisar pada arti ketidakpastian dan ketidakjelasan suatu hal transaksi yang
dilaksanakan, secara umum dapat dipahami sebagai berikut:

Sesuatu barangan yang ditransaksikan itu bentuk atau tidak


Sesuatu barangan yang ditransaksikan itu dapat diserahkan atau tidak
Transaksi itu ditunaikan secara yang tidak sadar atau akad dan kontraknya tidak jelas, baik berasal dari kala
bayarnya, langkah bayarnya, dan lain-lain.

Misalnya belanja burung di hawa atau ikan didalam air atau belanja ternak yang masih didalam persentase induknya
termasuk didalam transaksi yang berwujud gharar. Atau kegiatan para spekulan menjual membeli valas.

3. Haram
Ketika objek yang diperjualbelikan ini adalah haram, maka transaksi nya mnejadi tidak sah. Misalnya menjual
membeli khamr, dan lain-lain.

4. Riba
Pelarangan riba telah dinyatakan dalam beberapa ayat Al Quran. Ayat-ayat berkenaan pelarangan riba diturunkan
secara bertahap. Tahapan-tahapan turunnya ayat diawali dari peringatan secara halus hingga peringatan secara keras.

Tahapan turunnya ayat berkenaan riba dijelaskan sebagai tersebut:

Pertama, menolak asumsi bahwa riba tidak tingkatkan harta justru mengurangi harta. Sesungguhnya zakatlah
yang tingkatkan harta. Seperti yang dijelaskan dalam QS. Ar Rum : 39 .
"Dan suatu hal riba (tambahan) yang memberikan agar dia makin tambah terhadap harta manusia, maka riba itu
tidak tingkatkan terhadap segi Allah. Dan apa yang Anda memberikan bersifat zakat yang Anda maksudkan untuk
meraih keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya) "

Kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang tidak baik dan balasan yang keras kepada orang Yahudi yang
memakan riba. Allah berfiman dalam QS. An Nisa : 160-161 .

"Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik
(yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan gara-gara mereka banyak halangi (manusia) dari jalur Allah, dan
disebabkan mereka memakan riba, padahal sebetulnya mereka telah dilarang daripadanya, dan gara-gara mereka
memakan harta orang bersama jalur yang batil. Kami telah sediakan untuk orang-orang yang kafir di pada mereka
itu siksa yang pedih. "

Ketiga, riba diharamkan bersama dikaitkan ke suatu tempat yang berlipat ganda. Allah tunjukkan pembawaan
dari riba dan keuntungan menjauhkan riba layaknya yang tertuang dalam QS. Ali Imran: 130.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah Anda memakan riba bersama berlipat ganda dan bertakwalah Anda
kepada Allah agar Anda mendapat keberuntungan."

Keempat, merupakan tahapan yang tunjukkan betapa kerasnya Allah mengharamkan riba. QS. Al Baqarah :
278-279 tersebut ini menyatakan rencana final berkenaan riba dan konsekuensi bagi siapa yang memakan
riba.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) kecuali
Anda orang-orang yang beriman. Maka kecuali Anda tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah,
bahwa Allah dan Rasul-Nya bakal memerangimu . dan kecuali Anda bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu
pokok hartamu; Anda tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. "

5. Bathil
Dalam melaksanakan transaksi, komitmen yang wajib dijunjung adalah tidak tersedia kedzhaliman yang dirasa pihak-
pihak yang terlibat. Semuanya wajib sama-sama berkenan dan adil cocok takarannya.

Maka, dari segi ini transaksi yang berjalan bakal merekatkan ukhuwah pihak-pihak yang terlibat dan diharap agar bisa
tercipta hubungan yang senantiasa baik.

Kecurangan, ketidakjujuran, menutupi cacat barang, mengurangi timbangan tidak dibenarkan. Atau hal-hal kecil
layaknya menggunakan barang tanpa izin, meminjam dan tidak bertanggungjawab atas kerusakan wajib terlampau
diperhatikan dalam bermuamalah.