Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Industri Soda Kaustik


Industri soda kaustik sering kali disebut industri klor alkali. Industri ini selain
mengahsilkan soda kaustik atau alkali hidroksida (NaOH) juga menghasilkan klor (Cl2)
sebagai produk utamanya.
Proses elektrolisis berperan penting pada industri soda kaustik. Proses tersebut menghasilkan
produk berupa gas H2, gas Cl2, dan NaOH (dimana sumber ion klorida yang digunakan
adalah NaCl).
Produksi soda kaustik dengan cara elektrolisis sudah dikenal pada abad ke-18, tetapi
baru pada tahun 1890 soda kaustik diproduksi dengan cara ini untuk keperluan industri.
Sampai beberapa tahun sebelum Perang Dunia I, kuantitas soda kaustik yang dihasilkan
sebagai koproduk klor dari proses elektrolisis boleh dikatakan dapat diabaikan bila
dibandingkan dengan yang dibuat dari soda abu dengan kaustisasi gamping.
Kimiawan Swedia Karl Wilhelm Scheele menemukan klorin pada tahun 1774 dan
membuatnya dalam bentuk unsur melalui reaksi asam klorida dengan pirolusit (suatu mineral
yang mengandung MnO2).
Scheele tidak menyadari bahwa gas kuning kehijauan yang dihasilkannya adalah unsur dan
hal ini terus berlangsung sampai Humphry Davy mengidentifikasinya pada 1811 dan
menamainya klorin (dari kata Yunani chloros, berarti hijau). Sementara itu, Berthollet dan de
Saussure telah mendeskripsikan sifat pemutih dari klorin pada tahun 1786. Namun demikian,
klorin kurang memuaskan dalam beberapa hal zat ini akan merusak pakaian.
Kimiawan Skotlandia Charles Tennant membuat kemajuan penting pada tahun 1799
ketika ia mematenkan material yang disebutnya serbuk pemutih yang dibuat dengan
menjenuhkan kapur mati dengan klorin seperti reaksi berikut.
Ca(OH)2(s) + Cl2(g) CaCl(OCl)(s) + H2O(l)
Dengan demikian, paten pertama mengenai penggunaan klor di industri diterbitkan pada
tahun 1799 (seperempat abad setelah penemuannya) yaitu sebagai pemutih tersebut.

1
Selama hampir satu abad sesudah penemuan klorin pada tahun 1774, metode utama untuk
membuat klorin untuk zat pemutih masih merupakan proses reaksi asli yang pernah
digunakan oleh Scheele. Ini merupakan metode yang sangat boros, sebab sebagian mangan
dan sebagian klorin hilang sebagai MnCl2. Menjelang pertengahan abad ke-19, asam klorida
(produk samping yang berbahaya dari proses Leblanc) sudah banyak digunakan dalam
manufaktur pemutih dan diperlukan metode untuk mengoksidasinya yang lebih hemat.
Antara tahun 1868 dan 1874, kimiawan dan industriawan Inggris, Henry Deacon
mengembangkan suatu proses untuk mengonversi asam klorida gas menjadi klorin dengan
katalis tembaga klorida di mana kesetimbangan reaksinya tidak memuaskan.
Proses lain adalah proses Weldon, yaitu HCl dioksidasi dengan mangan dioksida yang
mahal. Pengembangan peralatan listrik arus searah berkapasitas besar menjelang akhir abad
ke-19 menyebabkan proses kaustisasi ini menjadi kuno dan pada pertengahan abad kedua
puluh, lebih dari 99% klor yang digunakan di dunia diproduksi dari proses elektrolisis.

1.2 Jenis-jenis Bahan Baku


Bahan baku utama dalam industri soda kaustik adalah:
Larutan garam (brine, 20-25% NaCl)
Air
Na2CO3
Listrik
Bahan baku samping dalam dalam industri soda kaustik adalah:
Asam sulfat (H2SO4)
Merkuri (Hg)
Asam Clorida (HCl)

1.3 Jenis-jenis Alternative Proses

Proses elektrolisis berperan penting dalam industri soda kaustik. Dimana larutan garam
(NaCl) dielektrolisis sehingga diperoleh kaustik soda (NaOH) serta hidrogen di sisi katode
dan gas klor (Cl2) di sisi anode. Jika diidnginkan klor dan natrium hidroksida sebagai produk

2
akhir, maka rancangan sel harus dibuat sedemikian rupa sehingga kedua bahan tersebut tidak
bercampur.
Terdapat tiga jenis rancangan sel pada proses elektrolisis yang banyak digunakan dalam
industri soda kaustik, yaitu:

1. Sel diafragma
2. Sel membran
3. Sel merkuri
Proses elektrolisis dengan sel difragma, ruang katode dan anode dipisahkan
menggunakan sekat yang disebut diafragma. Sel diafragma menjaga bercampurnya gas
hidrogen dan gas klor, karena kedua gas tersebut dapat menyebabkan terjadinya ledakan
apabila bercampur. Selain itu untuk mencegah bereaksinya soda kaustik dengan klorin yang
dapat membentuk natrium hipoklorit (NaClO) dan natrium klorat (NaClO3) pada temperatur
operasi diatas 400C.
Elektrolisis dengan menggunakan sel diafragma, arus DC dialirkan melalui sel agar
elektrolisa larutan natrium klorida dan arahnya dari anoda ke katoda, yang berlawanan arah
dengan aliran elektron.

GAMBAR 1.1 Diafragma Sel

3
Proses elektrolisis dengan sel merkuri anodenya terbuat dari grafit atau titanium, tetapi
katodenya adalah kolam aliran raksa (merkuri). Katode merkuri mempunyai overpotensial
yang lebih tinggi untuk mereduksi H2O menjadi OH- dan H2(g).
Sel merkuri cukup banyak memberi keuntungan daripada sel diafragma, terutama karena
dapat menghasilkan NaOH dengan kemurnian tinggi tanpa prosedur lanjutan yang terlalu
banyak. Proses dengan menggunakan sel merkuri menghasilkan konsentrasi larutan kaustik
soda tertinggi diantara ketiga jenis sel-sel yang lain.
Satu kerugian yang penting adalah sel merkuri memerlukan voltase yang lebih tinggi (kira-
kira 4,5 V) dibandingkan sel diafragma dan juga memerlukan energi listrik yang cukup
banyak, yaitu sekitar 3100 kWh/ton Cl2 dalam sebuah sel merkuri, dibandingkan dengan
2700 kWh dalam sel diafragma. Kerugian lain yang cukup serius dari sel merkuri ini adalah
perlunya pengendalian limbah merkuri ke lingkungan.

GAMBAR 1.2 Merkuri Sel

Proses elektrolisis larutan garam (brine) dengan menggunakan sel membrane merupakan
teknologi modern dalam industri soda kaustik.

Pada elektrolisis dengan sel membran, ruang anoda dan ruang katoda dipisahkan oleh suatu
membrane. Dimana membran hanya dapat dilalui oleh kation (ion positif) atau disebut juga
membran penukar kation. Membran penukar kation memiliki peranan penting sebagai media
yang memungkinkan terjadinya perpindahan ion-ion natrium (Na+) dari ruang anoda ke

4
ruang katoda dan mencegah mengalirnya ion Cl- ke ruang katoda serta mencegah sebagian
besar ion OH- ke ruang anoda sehingga soda kostik yang dihasilkan tidak bercampur dengan
larutan garam.
Larutan garam natrium klorida jenuh yang mengandung ion-ion Na+ and Cl dialirkan ke
dalam ruang anoda, sedangkan pada ruang katoda diisi air murni. Suatu arus searah (DC)
kemudian dialirkan melalui sel tersebut. Sel membran beroperasi dengan menggunakan
larutan garam yang lebih pekat dan menghasilkan produk yang lebih murni dan lebih pekat.

GAMBAR 1.3 Membran Sel

Perbedaan Antara Ketiga Macam Sel Elektrolisis


Merkuri Diafragma Membran
Kualitas dari soda Tinggi, hanya Mengandung 1.0 Tinggi,hanya
kaustik mengandung <30 1.5% berat NaCl mengandung
ppm NaCl <50 ppm NaCl
Konsentrasi soda 50 % 12 % 33%
kaustik
Bahan baku air Beberapapemurnian Beberapapemurnia Air garam yang
garam diperlukan, ndiperlukan, digunakan harus

5
tetapitergantung tetapitergantung dengan
padakemurniangara padakemurniangara kemurnianyang
m atauair m atauair tinggi agar tidak
garamyang garamyang mempengaruhi
digunakan digunakan kinerjamembran
Energi listrik yang sekitar 3100 Sekitar 2700 2200-2500
digunakan
(kWh/ton)
Tingkat Tinggi Tinggi Rendah
pencemaran
lingkungan
TABEL 1.1 Pebedaan ketiga macam sel elektrolisis

1.4 Kegunaan Produk


1.4.1 Kegunaan Soda Kaustik (NaOH)

Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai alkali kaustik soda, adalah
kaustik logam dasar . Natrium hidroksida adalah basa yang umum di laboratorium
kimia. Natrium hidroksida ( NaOH ) banyak digunakan di banyak industri, terutama
sebagai kuat kimia dasar dalam pembuatan pulp dan kertas, tekstil, air minum, sabun
dan deterjen dan sebagai pembersih drain.

1. Industri Pulp dan Kertas


Industri pulp dan kertas merupakan salah satu pengguna terbesar produk
caustic soda di seluruh dunia, dimana caustic soda digunakan sebagai bahan baku
dalam proses pulping dan bleaching. Caustic soda juga digunakan dalam proses
daur ulang kertas bekas, yaitu dalam proses de-inking kertas bekas, disamping
juga banyak digunakan dalam proses pengolahan air.

6
2. Industri Tekstil
Dalam industri tekstil, caustic soda digunakan dalam pemrosesan kapas
disamping juga dalam proses pewarnaan serat sintetik seperti nilon dan polyester.

3. Industri Sabun dan Detergen


Dalam industri sabun dan deterjen, caustic soda digunakan dalam reaksi
saponifikasi, yaitu reaksi konversi minyak nabati menjadi sabun. Caustic soda juga
digunakan dalam pembuatan surfaktan anionic yang merupakan komponen penting
dalam produk deterjen maupun produk pembersih.

4. Industri Minyak dan Gas Bumi


Industri minyak dan gas bumi (migas) memanfaatkan kaustic soda dalam
tahap eksplorasi, produksi maupun pemrosesan minyak dan gas alam, dimana
caustic soda digunakan untuk menghilangkan bau yang berasal dari hidrogen
sulfida (H2S) maupun mercaptan.

5. Dalam proses produksi aluminium, caustic soda digunakan untuk melarutkan bijih
bauksit yang merupakan bahan baku dalam produksi aluminium.
6. Industri Kimia
Dalam industri kimia, caustic soda digunakan sebagai bahan baku atau
bahan kimia proses yang menghasilkan berbagai produk kimia hilir, seperti bahan
plastic, obat-obatan, pelarut, kain sintetik, adesif, zat pewarna, cat, tinta, dan lain-
lain. Caustic soda juga digunakan secara luas untuk menetralisasi limbah yang
bersifat asam dan juga untuk menyerap komponen dalam gas buang yang bersifat
asam.

7. Netralisasi Minyak
Salah satu contoh penggunaan NaOH dalam skala industri, yitu netralisasi
minyak. Netralisasi dengan kaustik soda banyak dilakukan dalam skala industry,
karena lebih efisien dan lebih murah dibandingkan dengan cara netralisasi lainnya.

7
Selain itu penggunaan kaustik soda, membantu dalam mengurangi zat warna dan
kotoran yang berupa getah dan lender dalam minyak.
Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan zat warna dan kotoran
seperti fosfatidan dan protein, dengan cara mementuk emulsi. Sabun atau emulsi
yang terbentuk dapat dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifusi.
Dengan cara hidrasi dan dibantu dengan proses pemisahan sabun secara
mekanis, maka netralisasi dengan menggunakan kaustik soda dapat
menghilangkan fosfatida, protein, rennin, dan suspense dalam minyak yang tidak
dapat dihilangkan dengan proses pemisahan gum. Komponen minor (minor
component) dalam minyak berupa sterol, klorofil, vitamin E, dan karotenoid hanya
sebagian kecil dapat dikurangi dengan proses netralisasi.
Netralisasi menggunakan kaustik soda akan menyabunkan sejumlah kecil
trigliserida. Molekul mono dan digliserida lebih mudah bereaksi dengan
persenywaan alkali. Reaksi penyabunan mono dan digliserida dalam minyak
terjadi sebagai berikut:

GAMBAR 1.4 Reaksi penyabunan


Pemakaian larutan kaustik soda dengan kensentrasi yang terlalu tinggi akan
bereaksi sebagian dengan trigiserida sehingga mengurangi rendemen minyak dan
menambah jumlah sabun yang terbentuk. Oleh karena itu, harus dipilih konsentrasi
dan jumlah kaustik soda yang tepat untuk menyabunkan asam lemak bebas dalam
minyak. Dengan demikian penyabunan trigliserida dan terbentuknya emulsi dalam
minyak dapat dikurangi, sehingga dihasilkan minyak netral dengan rendemen yang
lebih besar dan mutu minyak yang lebih baik.

8
1.4.2 Kegunaan Clorida (Cl2)

1. Sebagai disinfektan air dalam proses pembuatan air minum


2. Obat-obatan
3. Pulp dan kertas, pelarut, zat pewarna, tekstil, perminyakan, antiseptik, insektisida,
makanan, cat, plastik, pemutih
4. Klorin dalam bentuk Asam Klorida (HCl) digunakan pada industri logam sebagai
bahan baku ekstraksi.
5. Unsur halogen klorin dalam Kalium Klorida (KCl) digunakan sebagai pupuk
tanaman.
6. Klorin dalam Kalsium hipoklorit [Ca (OCl2)2] digunakan sebagai desifektan dan
bahan pemutih.
7. Fungsi klorin dalam bentuk Kalium klorat (KCl) bahanbaku pembuat mercon dan
korek api.
8. Klorin dalam bentuk Seng Klorida (ZnCl2) sebagai bahan pematri (solder).

1.4.3 Keguanaan Hidrogen


Hidrogen sering dibuat menjadi senyawa, misalnya asam klorida dan amonia, atau
digunakan untuk hidrogenasi senyawa organik. Gas ini dapat pula dibakar untuk
pembangkitan kalor atau digunakan di dalam sel bahan bakar untuk pembangkitan
listrik.hidrogen juga digunakan dalam industri pupuk, agen pereduksi bijih logam,
pemurnian minyak bumi, pembuatan metanol, hidrogen juga dipakai sebagai zat
pendingin rotor dalam generator listrik di stasiun penghasil listrik. H2 digunakan
sebagai pendingin rotor di generator pembangkit listrik karena ia mempunyai
konduktivitas termal yang paling tinggi di antara semua jenis gas. Baru-baru ini juga
hidrogen digunakan sebagai bahan campuran dengan nitrogen (kadangkala disebut
forming gas) sebagai gas perunut untuk pendeteksian kebocoran gas yang kecil.
Aplikasi ini dapat ditemukan di bidang otomotif, kimia, pembangkit listrik,
kedirgantaraan, dan industri telekomunikasi. Hidrogen adalah zat aditif (E949) yang
diperbolehkan penggunaanya dalam ujicoba kebocoran bungkusan makanan dan
sebagai antioksidan.

9
1.5 Aspek Ke-ekonomian Produk
Dewasa ini, berbagai jenis bahan kimia kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam industri. Soda kaustik dan klor merupakan salah satu produk yang paling
penting. Dalam penggunaannya, bahan ini hampir setingkat dengan asam sulfat dan amonia.
Penerapannya sangat beraneka ragam, sehingga dapat dikatakan tidak ada barang konsumsi
yang diperjual belikan yang tidak bergantung pada klor dan alkali pada salah satu tahap
pembuatannya. Kedua produk ini hampir seluruhnya dijual kepada industri dan digunakan
dalam pembuatan serat dan plastik, kaca, petrokimia, pulp dan kertas, pupuk, bahan peledak,
pelarut, dan berbagai bahan kimia lainnya. Bahkan dalam skala kecil kaustic soda yang
digunakan sebagai produk pembersih rumah tangga, pembersih botol minuman, pembuatan
sabun skala kecil, dan lain-lain.
Karena sifatnya yang multifungsi, dari tahun ke tahun keinginan akan soda kaustik serta
Cl2 terus bertambah. Hal ini membuat produksi kaustik soda terus meningkat bahkan industri
yang menghasilkan soda kaustik ini cukup banyak dan berkembang.
Pada tahun 1998, total produksi dunia sekitar 45 juta ton.Amerika Utara dan Asia secara
kolektif memberikan kontribusi sekitar 14 juta ton, sementara Eropa memproduksi sekitar 10
juta ton. Di Amerika Serikat, produsen utama natrium hidroksida adalah Dow Chemical
Company, yang telah produksi tahunan sekitar 3,7 juta ton dari situs di Freeport, Texas , dan
Plaquemine, Louisiana. Produsen utama AS termasuk Oxychem , PPG , Olin , Pioneer
Perusahaan (yang dibeli oleh Olin), Inc (PIONA), dan Formosa. Semua perusahaan-
perusahaan ini menggunakan proses chloralkali.
Di Indonesia sendiri, industri yang menghasilkan soda kaustik serta klor alkali sudah
cukup banyak, bahkan dapat menghasilkan soda kaustik dalam skla besar. Hal ini
menunjukan bahwa soda kaustik dan klor memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

PRODUSEN KLORIN DI INDONESIA

Nama Perusahaan Kapasitas (ton / tahun)


PT. Industri Soda Indonesia, Waru 4.500
PT. Kertas Basuki Rahmat, Banyuwangi 2.390
PT. Trisana Chlor Alkali, Probolinggo 14.000
PT. Dong Jiu Indonesia, Serang 6.000

10
PT. Asahimas Subentra Chemical, Cilegon 20.000
PT. Indochlor Prakasa Industri, Serang 100.000
Tabel 1.2 Produsen klorin di Indonesia

PRODUSEN SODA KAUSTIK DI INDONESIA

Nama Perusahaan Lokasi Kapasitas (ton/tahun)


Padatan
PT Asahimas Subentra Chemicals Cilegon 285.000
PT Sulfindo Adiusaha Serang 215.000
Cair
PT Industri Soda Indonesia Sidoarjo 12.000
PT Soda Sumatera Medan 6.400
PT Indah Kiat Pulp and Paper Riau 10.000
PT Kertas Letjes Probolingg 9.000
PT Tjiwi Kimia o 7.200
PT Kertas Basuki Rachmat Sidoarjo 6.850
PT Kertas Padalarang Banyuwang 750
PT Pakerin i 15.000
PT Suparma Padalarang 1.800
PT Miwon Indonesia Mojokerto 12.000
PT Sasa Fermentasi Surabaya 3.600
Gresik
Sidoarjo
Tabel 1.3 Produsen soda kaustik di Indonesia [Sumber : CIC Indochemical No. 300, 2000]

11
BAB II
DESKRIPSI PROSES

2.1 Metode Produksi


Industri adalah bidang usaha/perusahaan yang menghasilkan barang atau jasa bernilai
ekonomi, melalui pemanfaatan sejumlah tertentu jenis sumber daya (bahan mentah/bahan
baku, teknologi, informasi, manusia, dan modal).
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa setiap industri baik industri kimia maupun
industri lainnya akan selalu mempertimbangakan waktu, mutu, biaya dan lingkungan dalam
prosesnya.
Atas dasar pertimbangan itulah proses elektrolisis sel membran sering kali digunakan di
banyak industri. Elektrolisis dengan sel membrane merupakan proses yang paling ramah
lingkungan karena mengkonsumsi energi secara minimum, bebas polusi dan menghasilkan
kualitas produk baik.

2.2 Spesifikasi Bahan Baku


Pada proses elektrolisis dengan sel membran, bahan baku yang digunakan yaitu garam
(NaCl), Air, natrium karbonat (Na2CO3) serta asam klorida (HCl).
Spesifikasi bahan baku dalam industri kaustik soda dengan elektrolisis sel membrane
adalah sebagai berikut

a. Sifat Fisik
BAHAN BAKU
BAHAN BAKU UTAMA
TAMBAHAN
SIFAT FISIK
Natrium Natrium
Air Asam Klorida
Clorida Carbonat
Fasa Padat Cair Padat Cair
Rumus Molekul NaCl H2O Na2CO3 HCl
Berat Molekul (g/mol) 58,45 18,0153 106 36,5

12
Titik Lebur, 1 atm (0C) 800,4 0 8510 27,32 (larutan 38%)

Titik Didih, 1 atm (0C) 1413 100 - 110 (larutan 20,2%)

Densitas (g/ml) 1,13 0.998 2,533 1,18

Kapasitas Panas 1,8063 4184 4,3350 -


(cal/mol C)
Panas Penguapan 40.810 40.7 7.000 -
cal/mol kJ/mol cal/mol
Entalpi Pembentukan - 286.0 - -
Standar (kJ/mol)
Tabel 2.1 sifat fisik bahan baku

b. Sifat Kimia

Natrium Klorida (NaCl):

Dengan perak nitrat membentuk endapan perak klorida


NaCl + AgNO3 NaNO3 + AgCl

Asam Klorida (HCl)

Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik, yang berarti bahwa ia dapat
berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali. Dalam larutan asam klorida, H+
ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium, H3O+:[8][9]

HCl + H2O H3O+ + Cl

Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida, Cl. Asam klorida oleh karenanya
dapat digunakan untuk membuat garam klorida, seperti natrium klorida. Asam
klorida adalah asam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air

Natrium Karbonat (Na2CO3)

13
CO2 murni dapat diperoleh dari melakukan pemanasan natrium bikarbonat pada
persamaan berikut:
2 NaHCO3 Na2CO3 + CO2 + H2O

2.3 Spesifikasi Produk


Industri Kaustik Soda mengahasilkan Natrium Hidroksida, Cl2 (l) dan H2 (g) . Berikut
karakteristik dari ketiganya.
Natrium hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium
hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida
basa natrium oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin
yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang
industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan
kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang
paling umum digunakan dalam laboratorium kimia.
Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet,
serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembap cair dan secara spontan
menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan
melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun
kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. Ia tidak
larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya. Larutan natrium hidroksida akan
meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas.

Sifat-Sifat NaOH
Berikut adalah sifat-sifat fisik dari kaustik soda atau NaOH
a. Sifat fisik

Natrium Hidroksida
Nama Sistematis Natrium Hidroksida

14
Nama lain Soda kaustik
Sifat
Rumus molekul NaOH
Massa molar 39,9971 g/mol
Penampilan zat padat putih
Densitas 2,1 g/cm, padat
Titik leleh 318C (591 K)
Titik didih 1390C (1663 K)
Kelarutan dalam air 111 g/100 ml (20C)
Kebasaan (pKb) -2,43
Tabel 2.2 sifat fisik NaOH

Klor (Cl2 ) dan Hidrogen (H2)


a. Sifat Fisik

SIFAT FISIK Klor Hidrogen

Fasa Gas Gas


Rumus Molekul Cl2 H2
Berat Molekul 71 gr/mol 1,00794 gr/mol
Titik Lebur,1 atm 171,6 K 14,01 K
Titik Didih,1 atm 239,11 K 20,28 K
Densitas 3,2 gr/ml 0,08988 gr/ml
Kapasitas Panas 33,949 28,836
Jmol1K1 Jmol1K1
TABEL 2.3 sifat fisik Cl2 dan H2
b. Sifat Kimia
Hidrogen (H2)
Hidrogen terbakar menurut persamaan kimia:
H2(g) + O2(g) 2H2O(l)

15
2.4 Proses Elektrolisis dengan Sel Membran

Terdapat beberapa tahapan proses dalam pembuatan kaustik soda ini, diantaranya : tahap
pemurnian bahan baku, proses utama, tahap pengolahan akhir.
1. Pemurnian Bahan Baku
Tahap pemurnian bahan baku merupakan tahap awal dari proses ini. Tahap
pemurnian bahan baku meliputi pencampuran, pengendapan pengotor, penyaringan
pengotor, penukaran ion.
1) Pencampuran
Garam (97,7%) dilarutkan bersama air proses dan garam lemah recycle pada suhu
90,6oC ke dalam tangki pencampur untuk mendapatkan larutan garam konsentrasi
27%. Larutan garam jenuh keluar dari tangki pencampur memiliki suhu 67,1oC
memasuki tangki pengendap, suhu operasi yang baik untuk pengendapan adalah
diatas 60oC.

2) Pengendapan Pengotor
Larutan garam dari tangki pencampur memasuki tangki pengendap untuk
diendapkan pengotornya, diantaranya CaSO4, MgSO4, CaCl2, MgCl2 menggunakan
Na2CO3 dan NaOH dengan reaksi sebagai berikut:
CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 + Na2SO4
MgSO4 + 2NaOH Mg(OH)2 + Na2SO4
CaCl2 + Na2SO4 CaSO4 + 2NaCl
MgCl2 + 2NaOH Mg(OH)2 + 2NaCl
CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 + 2NaCl
Reagen dan pengotor bereaksi membentuk endapan dan dikeluarkan dari dasar tangki.
Pemberian reagen dilakukan dengan kadar berlebih untuk mendapatkan hasil yang
optimum. Sekitar 60% dari pengotor yang mengendap keluar dari bagian bawah tangki
pengendap, sedangkan larutan lainya keluar dari bagian atas clarifier menuju ke filter.

3) Penyaringan (Filtrasi)

16
Endapan yang masih tersisa seluruhnya difilter dalam filter press.

4) Penukaran Ion
Selama proses sedimentasi tidak semua ion bereaksi dengan reagen dan dan akan
terdapat ion-ion yang tidak diinginkan sehingga diperlukan perlakuan lebih lanjut agar
NaCl yang akan di elekrolisis terbebas dari pengotor impuritis. Karena itu digunakan
resin untuk mengikat ion-ion tersebut.
Larutan NaCl dilewatkan pada resin. Resin yang mengikat kation disebut resin
kation dan resin yang mengikat anion disebut resin anion. Reaksi penukaran ion yang
terjadi adalah:
Resin kation : R-H + A- R-A + H+
Resin anion : R-OH B+ R-B + OH-

Proses diatas terjadi secara reversible sehingga bila resin sudah jenuh, atau tidak
bisa menangkap atau mengikat ion mineral positif/negative, bisa diregenerasi kembali.
Regenerasi dilakukan dengan mereaksikan kembali resin dengan asam-basa yaitu
NaOH dan H2SO4 sehingga ion mineral positif yang sudah terikat di resin akan terlepas
lagi. Reaksi regenerasi sebagai berikut:
2(R-A) + H2SO4 2(R-H) + A2SO4
2R-B + NaOH R-OH + NaB

2. Proses Utama
Prosen utama merupakan tahapan inti dari industri soda kaustik ini. Proses ini
terdiri dari pengasaman dan elektrolisis.
1) Penambahan HCl (Pengasaman)
Penambahan HCl dilakukan untuk mengurangi terjadinya pembentukan chlorate
pada sel elektrolisa, larutan masuk anoda diasamkan hingga pH 4.

2) Elektrolisa

17
Larutan yang keluar dari resin penukar ion sebelum memasuki sel elektrolisa akan
dipanaskan terlebih dahulu. Proses elektrolisa menggunakan titanium sebagai sel
anoda dan nikel sebagai sel katoda yang dialiri arus DC (direct current) sebagai
sumber energi.
Pada anoda feed masuk adalah larutan garam, ion Cl- pada NaCl teroksidasi dan
membuntuk Cl2 sedangkan ion Na+ kehilangan pasangan dan bergerak menuju
katoda. Pada katoda feed masuk adalah H2O dan NaOH recycle, ion H+ dari H2O
tereduksi menjadi H2 sehingga ion OH- kehilangan pasangan. Ion Na+ dan OH- ini
selanjutnya bertemu dan membentuk NaOH. Dihasilkan larutan NaOH yang
dihasilkan 32%.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
- Anode
Ionisasi : NaCl Na+ + Cl-
2Cl- Cl2 (g) + 2e-
- Katode
Ionisasi : H2O H+ + OH-
2 H+ + 2 e H2 (g)

Reaksi elektrolisis larutan garam (NaCl) secara keseluruhan dapat dituliskan sebagai
berikut:

2NaCl + 2H2O 2NaOH +Cl2(g) + H2(g)


Antara sel anoda dan katoda dibatasi oleh membran, yaitu nafion yang hanya
dapat dilalui oleh ion positif.
Hasil samping dari proses elektrolisa ini berupa gas chlorine (Cl2) dan gas Hydrogen
(H2). Gas Cl2 diproses lebih lanjut menjadi Cl2 liquid, sedangkan gas H2 diblower ke
udara karena jumlahnya relatif sedikit.

18
GAMBAR 2.1 Diagram alir proses pemurnian dan proses elektrolisis

Larutan keluar anoda di recycle kembali menuju tangki pencampur. Sedangkan


larutan keluar katoda mengandung NaOH 32%, 10% direcycle kembali sebagai
umpan dan sebagian yang lain diproses lebih lanjut untuk mendapatkan NaOH 50%.

3. Pengolahan Akhir
1) Evaporasi
Untuk menghasilkan NaOH 50% maka diperlukan tahap selanjutnya yaitu
evaporasi. NaOH 32% yang keluar dari sel elektrolisa memasuki evaporator. NaOH
di evaporasi menggunakan steam sehingga NaOH 50% keluar. NaOH 50%
kemudian didinginkan melalui beberapa tahap pendinginan, pertama ditukarkan
panasnya dengan feed katoda sehingga suhunya turun, larutan ini kemudian
didinginkan kembali menggunakan air pendingin dan ditampung ke dalam tangki
penampung.

2) Evaporasi Akhir
Kaustik 50% yang sudah didinginkan dan diendapkan atau kaustik yang telah
dimurnikan secara khusus dapat dipekatkan dengan menggunakan evaporator akhir
efek-tunggal agar menjadi NaOH 70% sampai 75% dengan menggunakan uap

19
bertekanan 500 sampai 600 kPa. Kaustik yang sangat pekat ini harus ditangani
dengan pipa yang dipanasi dengan pipa uap agar tidak mengalami pembekuan.
Larutan itu lalu diteruskan ke periuk penyelesaian.

3) Penyelesaian Kaustik dalam Periuk


Walaupun penyelesaian kaustik 50% itu dulu dilakukan di dalam periuk-periuk
besi tuang dengan menggunakan pemanasan langsung, efisiensi kalornya cukup
rendah sehingga dewasa ini cara ini dilakukan hanya untuk kaustik 70% sampai 75%
saja. Suhu akhirnya adalah 5000C sampai 6000C dan ini menguapkan airnya sampai
kira-kira 1% yang tertinggal. Periuk-periuk besi ini sekarang digantikan dengan
evaporator. Cara ini juga untuk konsentrasi di atas 50%. Kaustik anhidro yang panas
itu diolah dengan belerang agar kandungan besinya mengendap dan keluar. Produk
ini dipompakan dengan pompa sentrifugal yang menyalurkan bahan meleleh itu ke
dalam drum-drum baja yang dapat menampung 320 kg atau ke dalam mesin
penyerpih.

GAMBAR 2.2 Diagram alir pemekatan larutan NaOH

20
4. Proses Pengolahan Produk Samping
Proses ini dilakukan untuk megolah Cl2 berfasa gas menjadi Cl2 yang berfasa cair.
Proses tersebut terdiri dari:

1) Pendinginan

Gas Cl2 keluar dari bagian atas anoda masih mengandung H2O yang terikut
dan sedikit O2 untuk mendapatkan Cl2 liquid dengan kemurnian 99,65% kandungan
air harus dihilangkan terlebih dahulu. Dimana Gas Cl2 didinginkan menggunakan
brine hingga suhunya mencapai 10oC pada suhu ini campuran gas Cl2 telah berada
pada dua fase. Campuran gas-liquid ini kemudian dipisahkan dalam flash separator,
produk atas dari flash separator berupas gas yang memiliki kandungan Cl2 sekitar
99,65.

2) Pengeringan

Setelah didinginkan, gas klor dikeringkan dengan asam sulfat di dalam


menara pembasuh. Sampai pada menara asam sulfat ini, klor basah itu harus
ditangani dengan menggunakan bahan yang tahan, seperti poliester, polivinil
klorida, dan lain-lain.

3) Pemampatan dan Pencairan Klor

Untuk mendapatkan Cl2 liquid, gas Cl2 terlebih dahulu dinaikan tekananya,
kemudian dikondensasikan. Kompresi dilakukan dalam dua stage, kompresi
pertama tekanan Cl2 gas 1 atm dinaikan tekananya menjadi 4 atm, dan didapatkan
suhu keluar kompresor 154oC. Selanjutnya dilakukan pendinginan dari gas Cl2
untuk meringankan beban kompresor ke dua, gas Cl2 didinginkan menggunakan
brine hingga suhu 50oC. Kompresi yang kedua menaikan tekanan gas Cl2 dari
tekanan 4 atm menjadi tekanan 6 atm. Gas Cl2 keluar dari kompresor kedua pada

21
suhu 93oC, kemudian didinginkan dengan air pendingin hingga suhu 45oC, dan
dikondensasikan sehingga menjadi liquid hingga suhu 8oC.

Pada elektrolisa ini terjadi reaksi samping. Reaksi samping yang terjadi yaitu
pembentukan Chlorate (NaClO3) reaksi pembentukan chlorate :

H2O + Cl2 HClO + HCl

HClO + 3NaOH NaClO3 + 2NaCl + 3H2O

Perpindahan ion yang terjadi dalam elektrolisa juga tidak sempurna, sekitar 5% ion
Cl- lolos menuju katoda (Uhde), dan sekitar 5% ion OH- lolos menuju anoda,
membentuk NaOH dan kemudian membentuk chlorate.

Reaksi samping lain yang terjadi adalah sebagian dari H2O di anoda juga
teroksidasi dengan reaksi:

H2O 2H+ + O2 + 2e-

Reaksi ini menghasilkan gas O2 yang akan keluar dari bagian atas anoda, dan ion H+
yang akan menuju ke katoda, kemudian ion H+ bereaksi dengan OH- manjadi H2O
(back mixing).

Pengotor yang tidak dikehendaki dalam kaustik 50% adalah besi klorida,
NaCl, dan NaClO3. Penyingkiran besi-besi biasanya dilakukan dengan mengolah
kaustik itu dengan 1% berat serbuk kalsium karbonat dan menyaring campuran yang
dihasilkan. Klorida dan klorat dikeluarkan dengan meneteskan kaustik 50% itu ke
dalam kolom larutan ammonia 50%. Pengolahan ini menghasilkan kaustik yang
hampir bebas sama sekali dari klorida dan klorat

22
GAMBAR 2.3 Block diagram pembuatan NaOH

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Industri Soda Kaustik dapat disebut juga industri klor-alkali karena selain menghasilkan
kaustik soda (NaOH), industri ini menghasilkan gas klor (Cl2). Sebagian besar Industri soda
kaustik menggunakan elektrolisis khususnya elektrosis sel membran dalam proses
pengolahannya. Proses ini lebih banyak digunakan karena meghasilkan kualitas soda kaustik
yang lebih baik, ramah lingkungan, dan mengkonsumsi energi secara minimum.

23
Pada elektrolisis dengan sel membran, anode dan katode dipisahkan oleh membran.
Membran ini memiliki peranan sebagai media yang memungkinkan terjadinya perpindahan
ion-ion natrium (Na+) dari ruang anoda ke ruang katoda dan mencegah mengalirnya ion Cl-
ke ruang katoda serta mencegah sebagian besar ion OH- ke ruang anoda sehingga soda kostik
yang dihasilkan tidak bercampur dengan larutan garam. Bahan baku yang digunakan dalam
industri ini adalah garam (NaCl), natrium karbonat (Na2CO3), air (H2O), asam klorida (HCl),
dan litrik.
Soda kaustik dan klor merupakan salah satu produk yang paling penting. Penerapannya
sangat beraneka ragam, sehingga dapat dikatakan tidak ada barang konsumsi yang diperjual
belikan yang tidak bergantung pada klor dan alkali pada salah satu tahap pembuatannya.
Kedua produk ini hampir seluruhnya dijual kepada industri yang digunakan dalam pembuatan
serat dan plastik, kaca, petrokimia, pulp dan kertas, pupuk, bahan peledak, pelarut, dan
berbagai bahan kimia lainnya. Bahkan dalam skala kecil caustic soda yang digunakan sebagai
produk pembersih rumah tangga, pembersih botol minuman, pembuatan sabun skala kecil,
dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Austin, G.T. 1984. Shreves Chemical Process Industries. New York : McGraw-Hill Book
Company.
Purba, Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.
PT. Asahimas Chemical. http://www.asc.co.id/?idm=3&id=11
Meirina. Chlorine - caustic Soda. Diakses tanggal : 1 Mei 2014. http://membagiilmutekim-
meirina.blogspot.com/2011/05/caustic-soda.html.

24
LAMPIRAN

PERTANYAAN

25
Penanya : Fauzan Abdal Haq (142012039)

Bagaimana memisahkan NaClO3 dari NaOH ?

JAWABAN

Pengotor yang tidak dikehendaki dalam kaustik 50% adalah besi klorida, NaCl, dan NaClO3.
Penyingkiran besi-besi biasanya dilakukan dengan mengolah kaustik itu dengan 1% berat serbuk
kalsium karbonat dan menyaring campuran yang dihasilkan. Klorida dan klorat dikeluarkan
dengan meneteskan kaustik 50% itu ke dalam kolom larutan ammonia 50%. Pengolahan ini
menghasilkan kaustik yang hampir bebas sama sekali dari klorida dan klorat.

26