Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PEGADAIAN SYARIAH

PEGADAIAN SYARIAH
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Bank dan Lembaga Keuangan Syariah
Dosen Pengampu : Farida Rohmah, S. Pd., M.Sc.

Disusun Oleh:
(Kelompok 12)
ESRH-5
1. Siti Maemunah (1420210285)
2. Istiani (1420210304)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS


JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM/ES
TAHUN 2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sampai saat ini masih ada kesan dalam masyarakat, kalau seseorang pergi ke
pegadaian untuk menjamin sejumlah uang dengan cara menggadaikan barang, adalah aib dan
seolah kehidupan orang tersebut sudah sangat menderita. Karena itu banyak diantara
masyarakat yang malu menggunakan fasilitas penggadaian. Lain halnya jika kita pergi ke
sebuah Bank, di sana akan terlihat lebih prestisius, walaupun dalam prosesnya memerlukan
waktu yang relatif lebih lama dengan persyaratan yang cukup rumit.
Bersamaan dengan berdirinya dan berkembangnya bank, BMT, dan asuransi yang
berdasarkan prinsip syariah di Indonesia, maka hal yang mengilhami dibentuknya pegadaian
syariah atau rahn lebih dikenal sebagai produk yang ditawarkan oleh Bank Syariah, dimana
Bank menawarkan kepada masyarakat dalam bentuk penjaminan barang guna mendapatkan
pembiayaan.
Oleh karena itu, dibentuklah lembaga keuangan yang mandiri yang berdasarkan
prinsip syariah. Adapun dalam makalah ini akan dijelaskan secara lengkap mengenai
pegadaian syariah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pegadaian syariah?
2. Bagaimana lahirnya pegadaian di Indonesia?
3. Bagaimana dasar hukum pegadaian syariah?
4. Bagaimana rukun dan syarat pegadaian syariah?
5. Apa tujuan, manfaat dan resiko pegadaian?
6. Apa saja hal-hal yang berkaitan dengan gadai?
7. Bagaimana aplikasi dalam perbankan?
8. Apa saja jasa dan produk dalam pegadaian syariah?
9. Bagaimana operasional dalam pegadaian syariah?
10. Apa perbedaan pegadaian syariah dan pegadaian konvensional?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pegadaian Syariah
Dalam istilah bahasa Arab, gadai diistilahkan dengan rahn dan dapat juga dinamai al-
hasbu. Secara etimologis, arti rahn adalah tetap dan lama, sedangkan al-hasbu berarti
penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga dapat dijadikan sebagai pembayaran
dari barang tersebut. Sedangkan menurut Sabiq, rahn adalah menjadikan barang yang
mempunyai nilai harta menurut pandangan syara sebagai jaminan hutang, hingga orang yang
bersangkutan boleh mengambil hutang atau ia bisa mengambil sebagian (manfaat) barangnya
itu.
Adapun pengertian rahn menurut Imam Ibnu Qudhamah dalam Kitab al-Mughni
adalah sesuatu benda yang dijadikan kepercayaan dari suatu hutang untuk dipenuh dari
harganya, apabila yang berhutang tidak sanggup membayarnya dari orang yang
berpiutang.1[1]
Ibnu Sayyidah mengartikan dengan sesuatu yang disimpan seseorang sebagai
pengganti sesuatu yang diambilnya. Adapun al-Harali mengartikannya dengan suatu
kepercayaan dengan cara memberikan sesuatu yang sepadan dengan jalan tertentu.
Sedangkan rahn menurut istilah sebagaimana dikemukakan para ulama adalah
sebagai berikut:
a. Hanafiyah: Menjadikan sesuatu tertahan karena ada kewajiban yang harus dipenuhinya,
seperti utang.
b. Malikiyah: Sesuatu yang dikuasa sebagai kepercayaan karena adanya utang.
c. Syafiiyah dan Hanabilah: Menjadikan barang sebagai jaminan (kepercayaan) atas utang
yang dapat dijadikan pembayar utang apabila orang yang berutang pada waktunya tidak bisa
membayar utangnya.
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 02 Tahun 2008 tentang
Kompilasi Hukuk Ekonomi Syariah Pasal 20 mendefinisikan rahn sebagai berikut:
Pengusaan barang milik peminjam oleh pemberi pinjaman sebagai jaminan.
Dari definisi yang dikemukakan para ulama diatas tentang rahn, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa yang dinamakan gadai adalah akad sebuah kepercayaan dengan cara
menjadikan sesuatu sebagai barang jaminan atas utang yang harus dibayarnya. Dan apabila
utang pada waktunya tidak terbayar, maka barang yang dijadikan jaminan tersebut dapat
dijual untuk membayar utangnya.2[2]
Dalam jurnal Ahmad Supriyadi mengatakan bahwa gadai syariah adalah hubungan
hukum antara satu orang atau lebih dengan seorang atau lebih dengan kata seepakat untuk
mengikatkan dirinya bahwa di satu pihak (rahin) bersedia menyerahkan barang untuk ditahan
oleh murtahin dan membayar biaya perawatan dan sewa tempat penyimpanan serta asuransi

1[1] Abdul Ghofur Anshori, Gadai Syariah di Indonesia (Konsep, Implementasi, dan
Institusionalisasi), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2005, hlm. 88.

2[2] Enang Hidayat, Transaksi Ekonomi Syariah, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2016, hlm.
189-191.
sedangkan murtahin sepakat untuk memberikan pinjaman uang tertentu sebesar nilai
taksir.3[3]
Pengertian gadai yang ada dalam syariah agak berbeda dengan pengertian gadai yang
ada dalam hukum positif, sebab pengertian gadai dalam hukum positif seperti yang tercantum
dalam Burgerlijk Wetbook (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah suatu hak yang
diperoleh seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan
kepadanya oleh seorang yang berhutang atau oleh seseorang lain atas dirinya, dan yang
memberikan kekuasaan kepada orang yang berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari
barang tersebut secara didahulukan dari pada orang yang berpiutang lainnya, dengan
pengecualian biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatannya setelah barang itu
digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan (Pasal 1150 KUH Perdata).4[4]
Jika memperhatikan pengertian gadai (rahn) di atas, maka tampak bahwa fungsi dari
akad perjanjian antara pihak peminjam dengan pihak yang meminjam uang adalah untuk
memberikan ketenangan bagi pemilik uang dan/ atau jaminan keamanan uang yang
dipinjamkan. Karena itu, rahn pada prinsipnya merupakan suatu kegiatan utang piutang yang
murni berfungsi sosial, sehingga dalam buku fiqh muamalah akad ini merupakan akad
tabarru atau akad derma yang tidak mewajibkan imbalan.5[5]
B. Lahirnya Pegadaian di Indonesia
Terbitnya PP/10 tanggal 1 April 1990 dapat dikatakan menjadi tonggak awal
kebangkitan Pegadaian, satu hal yang perlu dicermati bahwa PP10 menegaskan misi yang
harus diemban oleh Pegadaian untuk mencegah praktik riba, misi ini tidak berubah hingga
terbitnya PP103/2000 yang dijadikan sebagai landasan kegiatan usaha Perum Pegadaian
sampai sekarang. Banyak pihak berpendapat bahwa operasionalisasi Pegadaian pra Fatwa
MUI tanggal 16 Desember 2003 tentang Bunga Bank, telah sesuai dengan konsep syariah
meskipun harus diakui belakangan bahwa terdapat beberapa aspek yang menepis anggapan
itu. Berkat Rahmat Allah SWT dan setelah melalui kajian panjang, akhirnya disusunlah suatu
konsep pendirian unit Layanan Gadai Syariah sebagai langkah awal pembentukan divisi
khusus yang menangani kegiatan usaha syariah.

3[3] Ahmad Supriyadi, Struktur Hukum Akad Rahn di Pegadaian Syariah Kudus, Jurnal
Penelitian Islam, Vol. 5, No. 2, 2012, hlm. 7.

4[4] Buchari Alma, Manajemen Bisnis Syariah, Alfabeta, Bandung, 2009, hlm. 31-32.

5[5] Zainuddin Ali, Hukum Gadai Syariah, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm. 3-4.
Konsep operasi Pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modern yaitu
azas rasionalitas, efisiensi dan efektifitas yang diselaraskan dengan nilai Islam. Fungsi
operasi Pegadaian Syariah itu sendiri dijalankan oleh kantor-kantor Cabang Pegadaian
Syariah/ Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) sebagai satu unit organisasi di bawah binaan
Divisi Usaha Lain Perum Pegadaian. ULGS ini merupakan unit bisnis mandiri yang secara
struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai konvensional. Pegadaian Syariah pertama
kali berdiri di Jakarta dengan nama Unit Layanan Gadai Syariah ( ULGS) Cabang Dewi
Sartika di bulan Januari tahun 2003. Menyusul kemudian pendirian ULGS di Surabaya,
Makasar, Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta di tahun yang sama hingga September 2003.
Masih di tahun yang sama pula, 4 Kantor Cabang Pegadaian di Aceh dikonversi menjadi
Pegadaian Syariah.6[6]
C. Dasar Hukum Pegadaian Syariah
1. Al-Quran










Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak
memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang (oleh
yang berpiutang). (QS. Al-Baqarah 2:283)
2. Hadis
a) Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Nabi Saw. pernah membeli makanan dari orang
Yahudi untuk masa yang akan datang, lalu beliau menggadaikan beju besi beliau (sebagai
jaminan). (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

6[6] Khaerul Umam, Manajemen Perbankan Syariah, Pustaka setia, Bandung, 2013, hlm.
356-357.
b) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah Saw. meninggal dan baju zirahnya
tergadaikan pada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha jewawut untuk keluarganya. (HR.
Al-Nasai)
c) Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah Saw. bersabda: (Hewan) boleh
dikendarai jika digadaikan dengan pembayaran tertentu, susu hewan juga boleh diminum
jika dengan pembayaran tertentu, dan terhadap orang yang mengendarai dan meminum
susunya wajib membayar. (HR. Al-Bukhari)
3. Ijma
Para ulama telah sepakat bahwa telah disyariatkan gadai ini karena telah dipraktikkannya
sejak zaman Nabi Muhammad Saw. sampai sekarang dan tidak ada seorang pun yang
menentangnya.7[7]
D. Rukun dan Syarat Pegadaian Syariah
1. Rukun Gadai
a. Shigat adalah ucapan berupa ijab dan qabul
b. Orang yang berakad, yaitu orang yang menggadaikan (rahin) dan orang yang menerima
gadai (murtahin)
c. Harta atau barang yang dijadikan jaminan (marhun)
d. Hutang (marhun bih)
2. Syarat Gadai
a. Rahin dan murtahin
Mempunyai kecakapan dalam melakukan akad (ahliyah al-tasharruf), yaitu balig, berakal,
cerdas, dan tidak terhalang melakukan akad seperti orang yang sedang dipenjara. Pendapat
tersebut sepakat dikemukakan oleh mayoritas ulama kecuali Hanafiyah yang menyatakan
balig tidak menjadi syarat. Oleh karena itu, anak yang sudah mumayyiz asalkan ada izin
orang tuanya, sah melakukan akad.
b. Marhun
1) Dapat dijual apabila pada waktunya utang tidak terbayar yang nilainya seimbang dengan
utang.
2) Bernilai harta dan boleh dimanfaatkan. Oleh karena itu misalnya khamr dan bangkai tidak
sah dijadikan marhun.

7[7] Enang Hidayat, Transaksi Ekonomi Syariah, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2016, hlm.
191-193.
3) Dapat diketahui dengan jelas pada waktu akad. oleh karena itu misalnya tidak sah
menggadaikan burung yang sedang terbang di uadara atau ikan yang ada di kolam.
4) Dapat diserahterimakan pada waktu akad. Oleh karena itu utang yang berada dalam
tanggungan tidak sah dijadikan marhun.
5) Dapat dikuasai oleh murtahin.
6) Milik orang yang menggadaikan atau orang yang berutang. Atau apabila milik orang lain
harus ada izin darinya. Akan tetapi apabila ada kaitannya dengan hak kepengurusan (wilayah
syariyyah), seperti orang tua yang menggadaikan harta milik anaknya atau orang yang
menerima wasiat yang menggadaikan harta milik orang yang member wasiat, maka hal itu
diperbolehkan tanpa harus ada izin dari keduanya (anaknya atau pemberi wasiat).
7) Dapat dibagi atau dipisahkan. Oleh karena itu tidak sah hukumnya menggadaikan harta yang
terikat dengan hak orang lain yang tidak bisa dibagi (musya), seperti menggadaikan sebagian
rumah atau setengah dari perangkat kendaraan, yang kepemilikannya berserikat. Pendapat
tersebut dikemukakan oleh Hanafiyah. Berbeda dengan Imam SyafiI yang memperbolehkan
hal tersebut apabila diketahui keberadaannya.
8) Satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu tdak sahnya hukumnya
menggadaikan buah yang ada di pohon, tanpa menggadaikan pohonnya, atau tanaman tanpa
tanahnya. Karena semuanya itu tidak mungkin memisahkan buah atau tanaman tanpa pohon
dan tanahnya.
c. Marhun bih
1) Merupakan hak yang harus dikembalikan kepada rahin.
2) Memungkinkan dapat dibayarkan dengan marhun tersebut.
3) Harus jelas dan tertentu. Oleh karena itu apabila seseorang memberikan marhun atas salah
satu dari dua utangnya, tanpa menjelaskan marhun yang diserahkan itu untuk utang yang
mana, maka hukumnya tidak sah. Karena hal tersebut termasuk ke dalam hak yang samar.
4) Masih tetap berjalan. Oleh karena itu tidak sah hukunya menyerahkan marhun, namun
berutangnya di kemudian hari. Karena gadai itu merupakan kepercayaan atas hak, yang tidak
bisa terdahului oleh yang lain. Pendapat ini dikemukakan Hanabilah.
d. Shighat
1) Diungkapkan dengan kata-kata yang menunjukkan akad gadai yang lazim diketahui
masyarakat, baik dengan ungkapan kata-kata atau petunjuk jelas. Misalnya telah
dikemukakan di atas dalam pembahasan rukun gadai.
2) Dilakukan dalam satu majlis. Maksudnya kedua belah pihak yang melakukan akad gadai
hadir dan membicarakan topik yang sama atau antara ijab dan qabul tidak terpisah oleh
sesuatu yang menunjukkan berpalingnya akad menurut kebiasaan.
3) Terdapat kesesuaian antara ijab dan qabul. Maksudnya ungkapan qabul dari murtahin sesuai
atau ada kaitannya dengan yang dimaksud oleh ungkapan ijabnya rahin.
4) Tidak dikaitkan dengan syarat tertentu atau masa yang akan datang. Karena akad gadai dalm
hal ini sama dengan akad jual beli. Apabila hal tersbut dilakukan, maka syaratnya batal,
sedangkan akadnya sah. Misalnya rahin mensyaratkan jika utangnya belum terbayar pada
waktu yang telah ditentukan, maka dia waktunya diperpanjang lagi. Atau murtahin
mensyaratkan agar barang gadaian bisa dimanfaatkan olehnya. Pendapat tersebut
dikemukakan oleh Hanafiyah.8[8]
E. Tujuan dan Manfaat dan Resiko Pegadaian
1. Tujuan pegadaian
a) Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program pemerintah di
bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang
pembiayaan/ pinjaman atas dasar hukum gadai.
b) Pencegahan praktik ijon, pegadaian gelap, dan pinjaman tidak wajar lainnya.
c) Pemanfaatan gadai bebas bunga pada gadai syariah memiliki efek jarring pengaman sosial
karena masyarakat yang butuh dana mendesak tidak lagi dijerat pinjaman/ pembiayaan
berbasis bunga.
d) Membantu orang-orang yang membutuhkan pinjaman dengan syarat mudah.
2. Manfaat pegadaian
a) Bagi nasabah
- Tersedianya dana dengan prosedur yang relative sederhana dan dalam waktu yang lebih
cepat dibandingkan dengan pembiayaan/kredit perbankan.
- Nasabah juga mendapat manfaat penaksiran nilai barang bergerak seacara professional.
- Mendapatkan fasilitas penitipan barang bergerak yang aman dan dapat dipercaya.9[9]
- Jika rahn diterapkan dalam mekanisme pegadaian, maka akan sangat membantu saudara kita
yang kesulitan dana terutama di daerah-daerah.10[10]

8[8] Ibid., hlm. 194-196.

9[9] M. Nur Rianto Al Arif, Lembaga Keuangan Syariah (Suatu Kajian Teoritis Praktis),
Pustaka Setia, Bandung, 2012, hlm. 283.
- Bank memberikan kemungkinan nasabah lalai atau bermain-main dengan fasilitas
pembiayaan yang diberikan bank.
- Serta bank memberikan keamanan bagi semua penabung dan pemegang deposito bahwa
dananya tidak akan hilang begitu saja jika nasabah peminjam ingkar janji karena ada suatu
asset atau barang (marhun).11[11]
b) Bagi perusahaan pegadaian
- Penghasilan yang bersumber dari sewa modal yang dibayarkan oleh peminjam dana.
- Penghasilan yang bersumber dari ongkos yang dibayarkan oleh nasabah memperoleh jasa
tertentu. Bank syariah yang mengeluarkan produk gadai syariah dapat mendapat keuntungan
dari pembebanan biaya administrasi dan biaya sewa tempat penyimpanan emas.
- Pelaksanaan misi perum pegadaian sebagai BUMN yang bergerak di bidang pembiayaan
berupa pemberian bantuan kepada masyarakat yang memerlukan dana dengan prosedur yang
relative sederhana.
- Berdasarkan PP No.10 tahun 1990, laba yang diperoleh digunakan untuk: (1) dana
pembangunan semesta (55%), (2) cadangan umum (20%), (3) cadangan tujuan (5%), (4) dana
sosial (20%).12[12]
3. Risiko pegadaian
a) Risiko tak terbayarnya utang nasabah (wanprestasi).
b) Risiko penurunan nilai asset yang ditahan atau rusak.13[13]
F. Hal-Hal yang Berkaitan dengan Gadai
1. Status Barang Gadai
Status gadai terbentuk saat terjadinya akad atau kontrak utang piutang bersama
dengan penyerahan jaminan. Misalnya, ketika seorang penjual meminta pembeli
menyerahkan jaminan seharga tertentu untuk pembelian barang dengan kredit. Status gadai
sah setelah terjadinya utang. Para ulama pun menilai hal ini sah karena utang tetap menuntut
pengambilan jaminan. Oleh karena itu, dibolehkan mengambil sesuatu sebagai jaminan.

10[10] Muhammad SyafiI Antonio, Bank Syariah (Dari Teori ke Praktik), Gema Insani,
Jakarta, 2013, hlm. 130.

11[11] Moh. Rifai, Konsep Perbankan Syariah, Wicaksana, Semarang, 2002, hlm. 91.

12[12] M. Nur Rianto Al Arif, Op. Cit., hlm. 283.

13[13] Muhammad SyafiI Antonio, Op. Cit., hlm 131.


Jumhur fuqaha berpendapat bahwa gadai berkaitan dengan keseluruhan hak barang
yang digadaikan dan bagian lainnya, yaitu jika seseorang menggadaikan sejumlah barang
tertentu, kemudian ia melunasi, keseluruhan barang gadai masih tetap berada di tangan
penerima gadai. Sebagian fuqaha berpendapat bahwa barang yang masih tetap berada di
tangan penerima gadai hanya sebagiannya, yaitu sebesar hak yang belum dilunasi.
2. Pemanfaatan Barang Gadai
Mengenai penggunaan barang gadai oleh penggadaian terdapat perbedaan pandangan
di kalangan muslim. Menurut mazhab Hanafi dan Hambali, penerima gadai boleh
memanfaatkan barang yang menjadi jaminan untuk utang atas izin pemiliknya karena barang
itu dikehendaki untuk menggunakan hak miliknya.
Sekalipun demikian, pada dasarnya tidak boleh terlalu lama memanfaatkan barang
jaminan sebab hal itu akan menyebabkan barang jaminan hilang atau rusak. Hanya,
diwajibkan untuk mengambil manfaat ketika berlangsungnya rahn. Siapakah yang
mengambil manfaat gadai rahin dan murtahin?
a. Pemanfaatan rahin terhadap barang gadaian
Dalam masalah ini ada dua pendapat. Pertama, jumhur ulama selain ulama, syafii melarang
rahn untuk memanfaatkan barang gadaian. Kedua, ulama syafii membolehkan selam tidak
memadharatkan murtahin.
b. Pemanfaatan dari murtahin
Mayoritas ulama, selain mazhab Hambali, berpendapat bahwa murtahin tidak boleh
mempergunakan barang rahn.
3. Penjualan Barang Gadai Setelah Jatuh Tempo
Sebelum islam datang, tradisi orang arab, jika orang yang menggadaikan barang tidak
mampu mengembalikan pinjaman, barang gadaiannya keluar dari miliknya kemudian
dikuasai oleh pemegang gadaian tersebut. Islam melarang dan membatalkan cara tersebut.
Sebagaimana dalam hadist dari Muawiyah bin Abdullah bin Jafar bahwa seseorang
menggadaikan sebuah rumah di Madinah untuk waktu tertentu. Kemudian, masanya telah
lewat. Lalu pemegang gadaian menyatakan bahwa ini menjadi rumahku.
Gadai merupakan jaminan utang dan tujuan gadai adalah mendapatkan pelunasan
utang melalui harga barang yang digadaikan jika rahin gagal melunasi utangnya setelah jatuh
tempo. Jika telah jatuh tempo, orang yang menggadaikan barang yang berkewajiban melunasi
utangnya. Jika tidak melunasinya, dan dia tidak mengizinkan barangnya dijual untuk
kepentingnnya, hakim berhak memaksanya untuk melunasi dan menjual barang yang
dijadikan jaminan. Jika hakim telah menjualnya, kemudian terdapat kelebihan itu milik rahin,
dan jika masih belum bisa untuk melunasi utangnya, rahin berkewajiban melunasi sisanya.
4. Musnahnya Barang Gadai
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan fuqaha tentang barang gadai yang rusak
atau hilang di tangan penerima gadai. Sebagian fuqaha, yaitu Imam syafii, Ahmad, Abu
Tsaur dan dan kebanyakan ahli hadist berpendapat bahwa barang gadai adalah barang titipan
(amanat), dan merupakan barang dari orang yang menggadaikannya. Pemegang gadai sebagai
pemegang amanat, tidak dapat mengambil tanggung jawab atas kehilangan tanggungan. Jika
terjadi pemusnhan di tangan murtahin yang dipegangi dengan kata-kata murtahin diikuti
dengan sumpahnya bahwa dia tidak menganiaya barang tersebut.
5. Berakhirnya Akad Gadai
Akad rahn dipandang berakhir atau habis dengan beberapa keadaan berikut :
a. Barang telah diserahkan kembali kepada pemiliknya.
b. Rahn membayar utangnya.
c. Dijual dengan perintah hakim atas permintaan rahin
d. Pembebasan utang
e. Pembatalan oleh murtahin
f. Rusaknya barang rahn bukan oleh tindakan atau penggunaan murtahin.
g. Memanfaatkan barang rahn dengan penyewaan, hibah, atau sedekah, baik dari pihak rahin
maupun murtahin.14[14]

G. Aplikasi dalam Perbankan


Kontrak rahn dipakai dalam perbankan dalam dua hal berikut:
1. Sebagai produk pelengkap
Rahn dipakai sebagai produk pelengkap, artinya sebagai akad tambahan (jaminan/collateral)
terhadap produk lain seperti dalam pembiayaan bai al-murabahah. Bank dapat menahan
barang nasabah sebagai konsekuensi akad tersebut.
2. Sebagai produk tersendiri
Akad rahn telah dipakai sebagai alternative dari pegadaian konvensional. Bedanya dengan
pegadaian biasa, dalam rahn, nasabah tidak dikenakan bunga, yang dipungut dari nasabah
adalah biaya penitipan, pemeliharaan, penjagaan, serta penaksiran yang dipungut dan

14[14] M. Nur Rianto Al Arif, Op. Cit., hlm. 287-290.


ditetapkan di awal perjanjian. Sedangkan dalam perjanjian gadai biasa, nasabah dibebankan
juga bunga pinjaman yang dapat terakumulasi dan berlipat ganda.15[15]
Dalam mekanisme perjanjian gadai syariah, akad perjanjian yang dapat dilakukan
antara lain:
1. Akad al-qardhul hasan
Akad ini dilakukan pada kasus nasabah yang menggandakan barangnya untuk keperluan
konsumtif. Dengan demikian, nasabah (rahin) akan memberikan biaya upah atau fee kepada
pegadaian (murtahin) yang telah menjaga atau merawat barang gadaian (marhun).
2. Akad al-mudharabah
Akad ini dilakukan untuk nasabah yang menggadaikan jaminannya untuk menambah modal
usaha (pembiayaan investasi dan modal kerja). Dengan demikian, rahin akan memberikan
bagi hasil (berdasarkan keuntungan) kepada murtahin sesuai dengan dengan kesepakatan,
sampai modal yang dipinjam terlunasi.
3. Akad baI al-muqayyadah
Akad ini dilakukan untuk nasabah yang menggadaikan jaminannya untuk menambah modal
usaha berupa pembelian barang modal. Dengan demikian murtahin akan membelikan barang
yang dimaksud oleh rahin.16[16]
4. Akad ijarah
Akad ini dilakukan untuk nasabah (rahin) memberikan fee kepada murtahin ketika masa
kontrak berakhir dan murtahin mengembalikan marhun kepada rahin.17[17]
5. Akad musyarakah amwal al-inan
Akad musyarakah amwal al-inan adalah suatu transaksi dalam bentuk perserikatan antara dua
pihak atau lebih yang disponsori oleh pegadaian syariah untuk berbagi hasil (profit loss
sharing), berbagi kontribusi, berbagi kepemilikan, dan berbagi risiko dalam sebuah
usaha.18[18]
H. Jasa dan Produk dalam Pegadaian Syariah

15[15] Muhammad SyafiI Antonio, Op. Cit., hlm. 130.

16[16] Abdul Ghofur Anshori, Gadai Syariah di Indonesia (Konsep, Implementasi, dan
Institusionalisasi), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2005, hlm. 104.

17[17] Zainuddin Ali, Hukum Gadai Syariah, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm. 97.

18[18] Ibid., hlm. 101.


Layanan jasa serta produk yang ditawarkan oleh pegadaian syariah adalah sebagai
berikut:
1. Pemberian pinjaman atau pembiayaan atas dasar hukum gadai
Syaratnya harus terdapat jaminan berupa barang bergerak, seperti emas, elektronik, dan lain-
lain. Besarnya pemberian pinjaman ditentukan oleh pegadaian, bergantung pada nilai dan
jumlah barang yang digadaikan.
2. Penaksiran nilai barang
Jasa ini diberikan bagi mereka yang menginginkan informasi tentang taksiran barang yang
berupa emas, perak, dan berlian. Biaya yang dikenakan adalah ongkos penaksiran barang.
3. Penitipan barang (ijarah)
Barang yang dapat dititipkan, antara lain sertifikat motor,dan tanah. Pegadaian akan
mengenakan biaya penitipan bagi nasabahnya.
4. Gold counter
Merupakan fasilitas penjualan emas yang memiliki sertifikat jaminan sebagai bukti kualitas
dan keasliannya. 19[19]
I. Operasional dalam Pegadaian Syariah
1. Nasabah menjaminkan barang kepada pegadaian syariah untuk mendapatkan pembiayaan.
Kemudian, pegadaian menaksir barang jaminan untuk dijadikan dasar dalam pemberian
besaran pembiayaan yang dapat diberikan oleh pegadaian syariah kepada nasabah.
2. Pegadaian syaraiah dan nasabah menyetujui akad gadai. Akad ini mengenai berbagai hal,
seperti kesepakatan biaya administrasi, tarif jasa simpan, pelunasan, dan sebagainya.
3. Pegadaian syariah menerima biaya administrasi dibayar di awal, sedangkan untuk jasa
simpan pada saat pelunasan utang.
4. Nasabah melunasi barang yang digadaikan menurut akad: pelunasan penuh, ulang gadai,
angsuran, atau tebus sebagian.20[20]

Pembiayaan (Marhun) Bih)

19[19] M. Nur Rianto Al Arif, Lembaga Keuangan Syariah (Suatu Kajian Teoritis Praktis),
Pustaka Setia, Bandung, 2012, hlm. 291.

20[20]Ibid., hlm. 291-292.


Gambar 1.
Bagan Proses
Rahn21[21]
J. Perbedaan Pegadaian Syariah dan Pegadaian Konvensional
No. Pegadaian Syariah Pegadaian Konvensional
1. Biaya administrasi berdasarkan Biaya administrasi berupa
barang. persentase yang didasarkan pada
golongan barang.
2. 1 hari dihitung 5 hari. 1 hari dihitung 15 hari.
3. Jasa simpanan berdasarkan Sewa modal berdasarkan uang
simpanan. pinjaman.
4. Apabila pinjaman tidak dilunasi, Apabila pinjaman tidak dilunasi,
barang jaminan akan dijual barang jaminan dilelang kepada
kepada masyarakat. masyarakat.
5. Uang pinjaman 90% dari Uang pinjaman untuk golongan A
taksiran. 92%, sedangkan untuk golongan
BCD 88%-86%.
6. Penggolongan nasabah D-K-M- Penggolongan nasabah P-N-I-D-
I-L. L.
7. Jasa simpanan dihitung dengan Sewa modal dihitung dengan
konstanta x taksiran. persentase x uang pinjaman.
8. Maksimal jangka waktu 3 bulan. Maksimal jangka waktu 4 bulan.
9. Kelebihan uang hasil dari Kelebihan uang hasil lelang tidak
penjualan barang tidak diambil diambil oleh nasabah, tetapi
oleh nasabah, tetapi diserahkan menjadi milik pegadaian. 22[22]

21[21] Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, Rajawali Pers, Jakarta, 2013, hlm. 109.

22[22] M. Nur Rianto Al Arif, Op. Cit., hlm. 296.


kepada lembaga ZIS.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gadai adalah akad sebuah kepercayaan dengan cara menjadikan sesuatu sebagai
barang jaminan atas utang yang harus dibayarnya. Dan apabila utang pada waktunya tidak
terbayar, maka barang yang dijadikan jaminan tersebut dapat dijual untuk membayar
utangnya.
Tonggak awal kebangkitan Pegadaian ditandai dengan Terbitnya PP/10 tanggal 1
April 1990. Sedangkan dasar hukum dari pegadian terdapat pada Quran Surat al-Baqarah ayat
283, hadis Bukhari Muslim, hadis al-Nasai, hadis al-Bukhari, dan lain-lain serta terdapat
dalam ijma para ulama.
Rukun gadai terdiri dari : shighat, orang yang menggadaikan (rahin), orang yang
menerima gadai (murtahin), harta yang dijaminkan (marhun), hutang (marhun bih).
Sedangkan syarat gadai terdiri dari : rahin dan marhun (mempunyai kecakapan), marhun
(dapat dijual apabila pada waktunya utang tidak terbayar yang nilainya seimbang dengan
utang), marhun bih (merupakan hak yang harus dikembalikan kepada rahin), shighat
(diungkapkan dengan kata-kata).
Tujuan pegadaian adalah sebagai pencegahan ijon, pegadaian gelap, dan pinjaman
tidak wajar lainnya. Manfaat dari pegadaian adalah bagi nasabah tersedianya dana dengan
prosedur yang relatif sederhana dan dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan
pembiayaan/kredit perbankan. Sedangkan bagi perusahaan pegadaian adalah mendapatkan
penghasilan yang bersumber dari sewa yang dibayarkan oleh peminjam dana. Resikonya
adalah tak terbayarkan utang nasabah dan penurunan nilai asset yang ditahan atau rusak.
Status gadai terbentuk saat terjadinya akad atau kontrak utang piutang bersama
dengan penyerahan jaminan. Mengenai penggunaan barang gadai oleh penggadaian terdapat
perbedaan pandangan di kalangan muslim. Jika telah jatuh tempo, orang yang menggadaikan
barang yang berkewajiban melunasi utangnya. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan
fuqaha tentang barang gadai yang rusak atau hilang di tangan penerima gadai. Akad rahn
dipandang berakhir atau habis dengan beberapa keadaan seperti rahn membayar utangnya.
Kontrak rahn dipakai dalam perbankan dalam dua hal yaitu Sebagai produk
pelengkap dan Sebagai produk tersendiri. Dalam mekanisme perjanjian gadai syariah, akad
perjanjian yang dapat dilakukan antara lain: akad al-qardhul hasan,akad al-mudharabah,
akad baI al-muqayyadah, akad ijarah, akad musyarakah amwal al-inan.
Layanan jasa serta produk yang ditawarkan oleh pegadaian syariah adalah: Pemberian
pinjaman atau pembiayaan atas dasar hukum gadai, Pemberian pinjaman atau pembiayaan
atas dasar hukum gadai, Penitipan barang (ijarah), Gold counter.
Perbedaan pegadaian syariah dan pegadaian konvensional adalah pada biaya
adaministrasi, pengelolaan biaya hasil penjualan barang yang tidak diambil oleh nasabah dan
lain-lain.
B. Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan dan sampaikan, semoga bermanfaat
bagi kita semua. Apabila ada penulisan atau kata-kata yang kurang berkenan kami mohon
maaf. Kritik dan saran yang membangun senantiasa kami harapkan untuk kesempurnaan
makalah kami selanjutnya. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Ghofur Anshori, Gadai Syariah di Indonesia (Konsep, Implementasi, dan Institusionalisasi),
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.
Ahmad Supriyadi, Struktur Hukum Akad Rahn di Pegadaian Syariah Kudus, Jurnal Penelitian Islam,
Vol. 5, No. 2, 2012.
Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, Rajawali Pers, Jakarta, 2013.
Buchari Alma, Manajemen Bisnis Syariah, Alfabeta, Bandung, 2009.
Enang Hidayat, Transaksi Ekonomi Syariah, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2016.
Khaerul Umam, Manajemen Perbankan Syariah, Pustaka setia, Bandung, 2013.
M. Nur Rianto Al Arif, Lembaga Keuangan Syariah (Suatu Kajian Teoritis Praktis), Pustaka Setia,
Bandung, 2012.
Moh. Rifai, Konsep Perbankan Syariah, Wicaksana, Semarang, 2002.
Muhammad SyafiI Antonio, Bank Syariah (Dari Teori ke Praktik), Gema Insani, Jakarta, 2013.
Zainuddin Ali, Hukum Gadai Syariah, Sinar Grafika, Jakarta, 2008.