Anda di halaman 1dari 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Problem Based Learning


Divariasikan dengan Sarasehan Berbasis Lesson Study
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu model
pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi
siswa untuk belajar tentang cara pemecahan masalah dan keterampilan berpikir
kritis, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konteks yang esensial dari materi
kuliah atau materi pembelajaran (Lidinillah, 2013 & Rusman, 2012). Menurut
KBBI, sarasehan adalah pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan
pendapat (prasaran) para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu.
Lesson study merupakan proses pengembangan profesi yang dipratikkan guru di
Jepang secara berkelanjutan agar memperbaiki proses pembelajaran dan
memfokuskan pada kualitas pengalaman belajar siswa.
Pelaksanaan pembelajaran Problem Based Learning yang berbasis lesson study
memberikan pengalaman baru bagi dosen model dan mahasiswa. Dosen model
ditemani empat mahasiswa observer untuk mengamati proses pembelajaran.
Observer ditugaskan untuk mengamati proses pembelajaran dengan menggunakan
lembar observasi keterlaksanaan lesson study, serta lembar observasi keterampilan
abad 21 yang akan diukur. Fokus pengamatan observer ditujukan pada perilaku
mahasiswa selama mengikuti proses pembelajaran. Kehadiran observer di kelas
memiliki arti penting karena seluruh pembelajaran akan dipantau dan dicatat untuk
direfleksi sebagai koreksi perbaikan pembelajaran berikutnya. Prosedur
pelaksanaan lesson study terdiri dari langkah perencanaan (plan), pelaksanaan (do),
dan refleksi (see) dalam satu siklus.
Keterlaksanaan tindakan
Pelaksanaan penerapan model pembelajaran PBL dipaparkan Tabel 1. Pada
Tabel 1 tersebut, baik dosen model, observer, dan mahasiswa telah melaksanakan
sintaks pembelajaran PBL dengan baik yakni telah mencapai 100%. Tabel 2
menunjukkan persentase keterlaksanaan LS, berdasarkan Tabel 2 tahap plan sudah
terlaksana dengan maksimal sehingga berdampak pada pelaksanaan do yang juga
maksimal. Pelaksanaan tahap see juga sudah berjalan maksimal.
Tabel 1. Keterlaksanaan Sintaks Model Pembelajaran PBL
Siklus Sintaks PBL
1 100%

Tabel 2. Keterlaksanaan Tindakan Lesson Study


Siklus Plan Do See
1 100% 100% 100%

Dilakukan tahap pertama yaitu perencanaan (plan), kegiatan tersebut


dilaksanakan sebanyak tiga kali. Selama dilakukan tahap plan tersebut dosen model
secara kolaboratif bersama observer saling memberikan masukan atau memperbaiki
rancangan pembelajaran. Plan pertama dilaksanakan pada hari Rabu 18 Oktober
2017 pukul 13.00 16.00 WIB, plan kedua dilaksanakan pada hari Kamis 19
Oktober 2017 pukul 13.30 15.00 WIB, plan ketiga dilaksanakan pada hari Senin
23 Oktober 2017 pukul 15.00 16.00 WIB. Plan pertama dilakukan penentuan
materi pembelajaran, penyusunan makalah. Plan kedua dilakukan penentuan model
pembelajaran, metode pembelajaran, dan keterampilan abad 21 yang
dikembangkan. Plan ketiga dilakukan pengecekan rancangan pembelajaran yang
telah dibuat meliputi SAP (Satuan Acara Pembelajaran), Chapter Design, Lesson
Design, LKM (Lembar Kerja Mahasiswa), media pembelajaran (power point).
Tahap kedua adalah tahap pelaksanaan (do) yang dilaksanakan pada hari Selasa
24 Oktober 2017. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan di offering AP dengan
jumlah mahasiswa sebanyak 24 orang. Dalam kegiatan ini, hanya diambil satu topik
pembelajaran yang dilaksanakan pada pukul 07.15 08.45 WIB. Pelaksanaan
pembelajaran dibantu oleh dosen pembimbing, mahasiswa KPL pascasarjana
Universitas Negeri Malang, dan mahasiswa observer dalam menyiapkan perangkat
pembelajaran. Kegiatan pendahuluan diawali dengan melakukan apersepsi,
pemberian motivasi, presentasi mind map, dan penyampaian tujuan pembelajaran.
Dosen model selanjutnya melaksanakan kegiatan inti sesuai dengan sintaks
model pembelajaran PBL. Pertama, dosen model menjelaskan sintaks
pembelajaran yang akan diterapkan. Kedua, dosen model membagi mahasiswa
menjadi 4 kelompok (beranggotakan 6 mahasiswa). Ketiga, dosen model
membagikan LKM dan menjelaskan petunjuk pengerjaan LKM. Keempat, dosen
model membimbing serta mengarahkan untuk merumuskan permasalahan yang
tepat sesuai dengan masalah pada soal LKM (tahap 1 PBL: merumuskan masalah).
Kelima, dosen model membimbing serta mengarahkan untuk menganalisis
permasalahan yang tepat sesuai dengan masalah pada soal LKM (tahap 2 PBL:
menganalisis masalah). Keenam, dosen model mengarahkan mahasiswa untuk
menentukan hipotesis yang tepat dan sesuai dengan permasalahan pada soal LKM
(tahap 3 PBL: merumuskan hipotesis). Ketujuh, dosen model memberikan arahan
mengenai pemecahan masalah dalam soal LKM (tahap 4 PBL: mengumpulkan
data). Kedelapan, dosen model memberikan arahan kepada mahasiswa untuk
mengungkapkan hasil diskusi serta pemecahan masalah (tahap 5 6 PBL:
pembuktian hipotesis dan merumuskan rekomendasi pemecahan masalah).
Kesembilan, dosen model memberikan penguatan terhadap permasalahan yang
dibahas. Kesepuluh, dosen model mengarahkan mahasiswa untuk menarik
kesimpulan berdasarkan proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pada kegiatan
penutup dosen model mengarahkan mahasiswa dalam merefleksikan pembelajaran,
dan menutup pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi pada tahap pelaksanaan (do) dapat disimpulkan
bahwa langkah atau sintak pembelajaran pada tahap do sudah terlaksana sesuai
dengan standar monitoring tahap do. Ibrohim (dalam Susilo , 2011) menyatakan
bahwa, fokus pengamatan diarahkan pada aktivitas belajar siswa sesuai dengan
standar dan prosedur yang telah disepakati bukan untuk mengamti dan
mengavaluasi guru yang sedang bertugas mengajar. Sesuai dengan pendapat
Ibrohim (dalam Susilo, 2011), jika rancangan pelaksanaan pembelajaran yang
dihasilkan pada tahap plan sudah baik maka pelaksanaan pembelajaran (do) juga
akan terlaksana dengan baik.
Tahap ketiga adalah refleksi (see), dimana merupakan tahap refleksi dari
pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran PBL. Pada
kegiatan ini, peristiwa penting yang terjadi selama proses pembelajaran
disampaikan oleh dosen model, mahasiswa KPL pascasarjana, dan mahasiswa
observer. Guru model beserta observer saling menyampaikan apa yang dialami dan
dirasakan selama pembelajaran berlangsung untuk kemudian dijadikan sebagai
masukan dan saran perbaikan untuk pembelajaran selanjutnya. Berdasarkan hasil
refleksi kegiatan diketahui adanya kendala yang muncul dalam pelaksanaan lesson
study yaitu adanya beberapa mahasiswa yang terlambat sehingga tidak bisa
mengikuti alur pembelajaran dengan baik, sehingga diperlukan adanya alternatif
pemecahan masalah yakni dosen model harus memberikan pengarahan agar
mahasiwa lebih cepat mengikuti dan menyusul kegiatan pembelajaran. Catatan
penting dari diskusi refleksi untuk perbaikan pembelajaran ialah pemilihan masalah
dan model/metode pembelajaran yang diterapkan cukup menentukan keefektifan
pembelajaran, ketegasan dosen model mendukung keterlaksanaan pembelajaran
yang baik.

Daftar Rujukan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). (Online), (https://kbbi.web.id/sarasehan),
diakses 1 November 2017.
Lidinillah, D. A. M. 2013. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning). (Online),
(http://file.upi.edu/Direktori/KDTasikmalaya/Dindin_Abdul_Muiz_Lidinilla
h_(KD-Tasikmalaya)
197901132005011003/132313548%20%20dindin%20abdul%20muiz%20lid
inillah/Problem% 20Based%20Learning.pdf), diakses 31 Oktober 2017.
Susilo, H. 2011. Lesson Study Berbasis Sekolah. Malang: Bayumedia.