Anda di halaman 1dari 41

i

KEBEBASAN HAKIM DALAM SISTEM PENEGAKAN HUKUM


(Rule Of Law)

KARYA ILMIAH

Oleh:
SISI OKTAVIA
Lokal I A

MAHASISWA PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH JURUSAN


SYARIAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KERINCI
2016 M/1438 H
i

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim
Alhamdulillah, Puji beserta syukur Saya panjatkan kehadirat Allah Swt
yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga kami
mampu menyelesaikan Makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini berisikan tentang penjelasan Kebebasan Hakim Dalam Sistem
Penegakan Hukum (Rule Of Law)
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini .
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir . Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita . Amin .

Sungai Penuh, Desember 2016


Sisi Oktavia

i
ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................


DAFTAR ISI .................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...........................................................................
B. Tujuan Masalah ...........................................................................
BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN

BABV KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan..................................................................................
B. Saran ............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

ii
iii

ABSTRAK

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini untuk mengetahui


bagaimana makna kebebasan kekuasaan kehakiman dalam sistim hukum
Indonesia dan untuk mengetahui apakah kebebasan hakim dalam penegakan
hukum tidak tak terbatas. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif
yang mengkaji bahan hukum yang terkait, yaitu norma hukum dan asas-asas
hukum yang berlaku, norma hukum yang pernah berlaku serta norma hukum yang
dapat berlaku di masa depan. Pendekatan penelitian yang digunakan, yaitu :
Pendekatan Perundang-undangan (statute approach) dan Pendekatan Analitis
(analytical Approach). Hasil penelitian didapatkan, bahwa Kedudukan kekuasaan
kehakiman dan hakim sebagai salah satu bagian dari kekuasaan negara dan
penyelenggara negara setelah amandemen Undang Undang Dasar telah memiliki
kemerdekaan dan kemandirian, karena sudah tidak tergantung lagi kekuasaan
eksekutif yang meliputi keorganisasian, keuangan, administrasi yang
sebelumnya tergantung pada eksekutif dan hal tersebut akan berpengaruh pada
aspek yudisial. Hakim dalam menjalankan keadilan sebagai suatu pertanggung
jawaban yang lebih berat dan mendalam kepadanya, bahwa karena sumpah
jabatannya dia tidak hanya bertanggung jawab kepada hukum, kepada diri sendiri
dan kepada rakyat, tetapi lebih dari itu harus bertanggung jawab kepada Tuhan
Yang Maha Esa, yang dalam undang-undang dirumuskan dengan ketentuan
bahwa peradilan dilakukan Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa. Dari frasa ini seorang hakim dalam pelaksanaan tugasnya bersifat bebas dan
mandiri dalam melaksanakan aturan hukum dan peristiwa yang terjadi yang
diajukan kepadanya. Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka menghendaki
agar hakim terbebas dari campur tangan, tekanan atau paksaan, baik langsung
maupun tidak langsung dari kekuasaan lembaga lain, teman sejawat, atasan, serta
pihak-pihak lain di luar peradilan. Hukum materiil merupakan batas normatif
terhadap kebebasan hakim yang bersifat relatif. Oleh karena batas normatif yang
bersifat relatif, maka dalam melaksanakan tugas mengadili, memeriksa dan

iii
iv

memutuskan suatu perkara, dalam keadaan tertentu hakim dapat menyimpangi


hukum materiil. Hukum formil atau acara merupakan batas normatif yang bersifat
absolut terhadap kebebasan hakim. Oleh karena batas normatif yang bersifat
absolut, maka hukum acara harus dilaksanakan dan tidak boleh disimpangi oleh
hakim dalam melaksanakan tugas mengadili, memeriksa dan memutus suatu
perkara. Pelanggaran terhadap hukum acara mengakibatkan tidak sahnya putusan
hakim.
Kata kunci : Kebebasan, Hakim.

iv
5

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam negara modern secara garis besar dikenal tiga pemegang
kekuasaan negara, yaitu kekuasaan eksekutif, kekuasaan legislatif dan
kekuasaan yudikatif. Dalam penerapan ditemukan berbagai variasi dan
bentuk di berbagai negara, ada yang memakai pola pemisahan kekuasaan
(separation of power), ada yang menggunakan pembagian kekuasaan
deviation of power), di beberapa negara ditemukan bahwa kekuasaan negara
ternyata tidak hanya bertumpu pada konsep trias politica saja sebagai state
primery institution (kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif), tetapi ada
kebutuhan untuk menyelenggarakan kekuasaan lainya yaitu kekuasaan
bidang perbantuan (state auxiliary institution) yang bersifat konsultatif,
pertimbangan atau kepenasehatan (consultative power) dan pengawasan
(examinative power). Hal ini dikaenakan bahwa penyelenggaraan negara
tidak ditentukan oleh tiga pilar kekuasaan besar itu, tetapi juga dipengaruhi
oleh budaya dan pilihan politik dari negara yang bersangkutan. Namun satu
hal yang sama dan dijumpai dalam setiap Negara yang menganut trias
politika, baik dalam arti pemisahan kekuasaan maupun pembagian
kekuasaan, khusus untuk cabang kekuasaan yudikatif, dalam tiap negara
hukum badan yudikatif haruslah bebas daricampur tangan badan eksekutif.
Badan yudikatif yang bebas adalah syarat mutlak dalam suatu
Negara hukum. Kebebasan tersebut meliputi kebebasan dari campur tangan
badan eksekutif, legislatif ataupun masyarakat umum, di dalam menjalankan
tugas yudikatifnya. Cara untuk menjamin pelaksanaan asas kebebasan badan
yudikatif yaitu pertama, kita lihat bahwa di beberapa negara jabatan hakim
permanen, seumur hidup atau setidak-tidaknya sampai saat pensiun, selama
berkelakuan baik dan tidak tersangkut kejahatan. Hakim biasanya diangkat
oleh badan eksekutif yang dalam hal Amerika Serikat didasarkan atas

1
6

persetujuan senat atau dalam hal Indonesia atas rekomendasi badan


legeslatif.
Reformasi di bidang hukum yang terjadi sejak tahun 1998 telah
dilembagakan melalui perubahan UUD 1945. Semangat perubahan UUD 1945
adalah mendorong terbangunnya struktur ketatanegaraan yang lebih
demokratis. Perubahan UUD 1945 sejak reformasi telah dilakukan sebanyak
empat kali. Hasil perubahan UUD 1945 melahirkan bangunan kelembagaan
negara yang satu sama lain dalam posisi setara dengan saling melakukan
kontrol (cheks and balances), mewujudkan supremasi hukum dan keadilan
serta menjamin dan melindungi hak asasi manusia. Kesetaraan dan
ketersediaan saling kontrol inilah prinsip dari sebuah negara demokrasi dan
negara hukum. Amandemen UUD 1945 menyebabkan berubahnya sistem
ketatanegaraan yang berlaku meliputi jenis dan jumlah lembaga negara, sistem
pemerintahan, sistem peradilan dan sistem perwakilannya.
Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia.
Pernyataan tersebut merupakan pengertian kekuasaan kehakiman yang
tercantum dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang
kekuasaan Kehakiman. Kekuasaan kehakiman yang merdeka merupakan salah
satu prinsip penting bagi Indonesia sebagai suatu negara hukum. Prinsip ini
menghendaki kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak
manapun dan dalam bentuk apapun sehingga dalam menjalankan tugas dan
kewajibannya, ada jaminan ketidak berpihakan kekuasaan kehakiman kecuali
terhadap hukum dan keadilan.
Fungsi ini lazimnya dijalankan oleh suatu lembaga yang disebut dengan
lembaga peradilan, yang berwenang melakukan pemeriksaan, penilaian dan
memberikan putusan terhadap konflik. Wewenang yang sedemikian itulah
7

yang disebut sebagai kekuasaan kehakiman yang dalam peraktiknya


dilaksanakan oleh hakim
Sedangkan suatu pengadilan yang mandiri, tidak memihak, kompeten,
transparan, akuntabel dan berwibawa, yang mampu menegakkan wibawa
hukum, pengayoman hukum, kepastian hukum dan keadilan merupakan
conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang
berdasarkan hukum. Pengadilan sebagai pilar utama dalam penegakkan hukum
dan keadilan dan pada umumnya kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan
oleh bagaimana penegakan hukumnya. Hal ini dapat kita lihat dan ketahui dari
beberapa Negara maju dan mulai maju. Oleh karena itu sungguh sangat
penting dijamin agar perilaku dari para hakim yang bersangkutan, baik dalam
menjalankan tugas yudisialnya maupun dalam kesehariannya sehingga
masyarakat mempercayainya. Sejalan dengan tugas dan wewenangnya itu,
hakim dituntut selalu menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran
martabat, serta etika dan perilaku hakim sebagaimana ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan harus diimplementasikan secara konkrit dan
konsisten baik dalam menjalankan tugas yudisialnya maupun di luar tugas
yudisialnya, sebab hal itu berkaitan erat dengan upaya penegakkan hukum dan
keadilan.
Kehormatan adalah kemuliaan atau nama baik yang senantiasa harus
dijaga dan di pertahankan dengan sebaik-baiknya oleh para hakim dalam
menjalankan fungsi pengadilan. Kehormatan hakim itu terutama terlihat pada
putusan yang di buatnya, dan pertimbangan yang melandasi, atau keseluruhan
proses pengambilan keputusan yang bukan saja berlandaskan peraturan
perundang-undangan, tetapi juga rasa keadilan dan kearifan dalam masyarakat.
Kehormatan, keluhuran martabat merupakan tingkat harkat kemanusiaan atau
harga diri yang mulia yang sepatutnya tidak hanya dimiliki, tetapi harus dijaga
dan dipertahankan oleh hakim melalui sikap tindak atau perilaku yang berbudi
pekerti luhur. Hanya dengan sikap tindak atau perilaku yang berbudi pekerti
8

luhur itulah kehormatan dan keluhuran martabat hakim dapat dijaga dan
ditegakkan.
Kehormatan dan keluhuran martabat berkaitan erat dengan etika
perilaku. Etika adalah kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
mengenai benar dan salah yang dianut satu golongan atau masyarakat. Apabila
seorang hakim melakukan pelanggaran terhadap kode etik dan pedoman
perilaku hakim, maka hakim itu dapat diberikan sanksi, dalam menentukan
sanksi yang layak dijatuhkan, harus dipertimbangkan faktor-faktor yang
berkaitan dengan pelanggaran, yaitu latar belakang, tingkat keseriusan, dan
akibat dari pelanggaran tersebut terhadap lembaga peradilan ataupun pihak
lain. Kekuasaan kehakiman yang merdeka diharapkan dapat diwujudkan, dan
sekaligus diimbangi oleh prinsip akuntabilitas kekuasaan kehakiman, baik dari
segi hukum maupun segi etika. Berdasarkan uraian di atas, yang perlu dikaji
dalam tulisan ini adalah Implementasi asas kebebasan kekuasaan kehakiman
dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah
1. Bagaimana implementasi kebebasan kekuasaan kehakiman menurut
hukum positif. ?
2. Apa saja pembatasan asas kebebasan hakim dalam penegakan hukum.?

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana makana kebebasan kekuasaan kehakiman
dalam sistim hukum Indonesia.
2. Untuk mengetahui apakah kebebasan hakim dalam penegakan hukum
tidak tak terbatas.
9

D. Manfaat Penelitian
Dapat mengetahui kebebasan hakim dalam sistem penegakan hukum (Rule Of
Law)
10

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Hakim
Pengertian Hakim adalah aparat penegak hukum atau pejabat
peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang undang untuk mengadili
atau memutuskan suatu perkara. Di dalam Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang
Nomor 48 Tahun 2009, tentang Kekuasaan Kehakiman, Hakim adalah hakim
pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di
bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan
hakim pada pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan
tersebut.
Adapun hakim konstitusi adalah hakim pada Mahkamah
Konstitusi. Hakim ad hoc adalah hakim yang bersifat sementara yang
memiliki keahlian dan pengalaman di bidang tertentu untuk memeriksa,
mengadili, dan memutus suatu perkara yang pengangkatannya diatur dalam
undang-undang.

B. Kebebasan Hakim
Untuk terselenggaranya pemerintah yang demokratis dibawah
Rule of Law sebagaimana pemikiran mengenai Negara Hukum modern
yang pernah di cetuskan dalam konferensi oleh International Commission of
Jurists di Bangkok pada tahun 1965.
Dalam pertemuan konferensi tersebut ditekankan pemahaman
tentang apa yang disebut sebagai the dynamic aspects of the Rule of Law in
the modern age (aspek-aspek dinamika Rule of Law dalam abad modern).
Dikatakan bahwa ada 6 (enam) syarat-syarat dasar untuk terselenggaranya
pemerintah yang demokratis dibawah Rule of Law, yaitu :
1. Perlindungan Konstitusjonal

10
11

2. Peradilan atau badan-badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak


3. Pemilihan Umum yang bebas
4. Kebebasan menyatakan pendapat
5. Kebebasan berserikat / berorganisasi dan beroposisi
6. Pendidikan kewarganegaraan
Dari syarat-syarat tersebut jelaslah bahwa independensi Kekuasaan
Kehakiman merupakan salah satu pilar yang pokok, yang apabila komponen
tersebut tidak ada maka kita tidak bisa berbicara lagi tentang Negara Hukum.
Selain ketentuan konstitusi di negara kita yaitu Pasal 24 Undang-
Undang Dasar 1945 dengan segala implementasinya tersebut , arti
pentingnya independensi badanbadan peradilan dan Kekuasan Kehakiman
tersebut secara universal telah diterima dan ditekankan dalam berbagai
instrumen hukum internasional, yaitu antara lain dalam :
1. Universal Declaration of Human Rights Pasal10
2. International Covenant of Civil and Political Rights Pasal14
3. Vienna Declaration and Programme for Action tahun 1993 paragraf 27
4. International Bar Association Code of Minimum Standards of Judicial
Independence tahun 1982 di New Delhi ;
5. Universal Declaration on the Independence tahun 1983 di Montreal,
Canada
6. Beijing Statement of Principles of the Independence of Judiciary in the
Law Asia Region tahun 1995;
Demikianlah jelas bahwa secara nasional maupun internasional
atau universal, independensi badan-badan peradilan dijamin. Hakekat
independensi Kekuasaan Kehakiman itu tidak ada kekuasaan atau
kewenangan di dunia ini yang tidak tak-terbatas, atau tanpa batas, kecuali
kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa di dunia ini maupun di akhirat.
Kekuasaan Kehakiman, yang dikatakan independensi atau mandiri itu pada
hakekatnya diikat dan dibatasi oleh rambu-rambu tertentu, sehingga dalam
konferensi International Commission of Jurists dikatakan bahwa :
12

Independence does not mean that the judge is entitled to act in an arbitrary
manner.
Batasan atau rambu-rambu yang harus diingat dan diperhatikan
dalam implementasi kebebasan itu adalah terutama aturan-aturan hukum itu
sendiri. Ketentuan-ketentuan hukum, baik segi prosedural maupun
substansial/materiil, itu sendiri sudah merupakan batasan bagi Kekuasaan
Kehakiman agar dalam
melakukan independensinya tidak melanggar hukum, dan bertindak
sewenang-wenang. Hakim adalah subordinated pada Hukum dan tidak
dapat bertindak contra legem.
Selanjutnya, harus disadari bahwa kebebasan dan independensi
tersebut diikat pula dengan pertanggungan-jawab atau akuntabilitas, yang
kedua-duanya itu, independensi dan akuntabilitas pada dasarnya merupakan
kedua sisi koin mata uang saling melekat. Tidak ada kebebasan mutlak tanpa
tanggung jawab.
Dengan perkataan lain dapat dipahami bahwa dalam konteks kebebasan
hak Hakim sebagai penegak hukum dijamin dalam menyampaikan dan
mempertahankan argumentasi yuridisnya masing-masing pada waktu
musyawarah putusan.
Dengan demikian kebebasan Hakim yang merupakan personifikasi dari
kemandirian kekuasaan Kehakiman, tidaklah berada dalam ruang hampa
tetapi ia dibatasi oleh rambu-rambu berikut
1. Akuntabilitas
2. Integritas moral dan etik
3. Transparans
4. Pengawasan (kontrol)
Dalam hubungan dengan tugasnya sebagai hakim, maka
independensi Hakim masih harus dilengkapi lagi dengan sikap impartialitas
dan profesionalisme dalam bidangnya. Oleh karenanya kebebasan Hakim
sebagai penegak hukum haruslah dikaitkan dengan :
13

1. Akuntabilta
2. Integritas moral dan etik
3. Transparans
4. Pengawasan (control
5. Profesionalisme dan impartialitas
Tetapi sebaliknya, independensi Kekuasaan Kehakiman itu juga
mengandung makna perlindungan pula bagi Hakim sebagai penegak hukum
untuk bebas dari pengaruh-pengaruh dan direktiva yang dapat berasal dari
antara lain :
1. Lembaga-Iembaga di luar badan-badan peradilan, baik eksekutif maupun
legislatif, dan lain-Iain
2. Lembaga-Iembaga internal didalam jajaran Kekuasaan Kehakiman sendiri
Pengaruh-pengaruh pihak yang berperkara
3. Pengaruh tekanan-tekanan masyarakat, baik nasional maupun
internasional
4. Pengaruh-pengaruh yang bersifat trial by the press
Dalam kaitan dengan peranan dan fungsi pers ini, haruslah kita
pahami bahwa memang dalam penegakan Negara Hukum dibutuhkan
adanya
pilar atau komponen pers yang bebas tetapi yang juga harus berada dalam
rambu-rambu akuntabilitas dan transparansi. Seperti halnya Kekuasaan
Kehakiman yang independen, pers juga harus dilindungi terhadap segala
macam
pengaruh yang dapat mengkerdil-kan fungsi pers itu sendiri, sehingga
menghalangi kebebasan menyatakan pendapat. Peranan dan fungsi pers
sebagai
salah satu lembaga kontrol atau pengawasan merupakan sarana yang
strategis
didalam proses mewujudkan Negara Hukum, sebab melalui kekuatannya
pers
14

dapat dan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat sehingga social


control
15

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian


Berdasarkan penelitian yang diteliti Kebebasan Hakim Dalam Sistem
Penegakan Hukum (Rule Of Law) maka data yang digunakan untuk
penelitian ini dapat dinyatakan dalam bentuk kata atau kalimat (kualitatif),
maka jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif.

B. Informan Penelitian
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah pemberi data yang
valid tentang masalah yang sedang diteliti, adapun informansi dalam
penulisan media internet, buku dan file pdf .
Karena terdapat banyak informan penelitian, maka untuk

mengambil sebagai informan penelitian dengan menggunakan teknik

membaca dan mengcopys, dengan mengasumsikan seluruh jenis responden

mempunyai peluang besar untuk bisa memberi informasi, data serta fakta

yang akurat dan reliabel.

C. Jenis dan Sumber Data

Adapun jenis data dalam penilitian ini adalah data primer dan data sekunder:

1. Data primer adalah data yang diambil atau dikumpulkan langsung di

lapangan dari media, buku, penelitian atau yang bersangkutan yang

memerlukannya.

2. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan

peneliti dari sumber-sumber yang telah ada. Pada penelitian ini data

15
16

sekunder diperoleh dari dokumentasi atau arsip yang ada kaitannya

dengan masalah penelitian.

D. Metode Pengumpulan Data

Ada beberapa teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu:

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap

gejala-gejala yang diteliti untuk mendapat gambaran secara langsung.

Dalam penelitian ini data yang akan didapat dengan menggunakan teknik

pengumpulan data observasi adalah Menegaskan kembali komitmen

negara hukum sebuah catatan atas kecenderungan defisit negara Hukum

di indonesia

2. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau

variabel-variabel yang berupa catatan, transcript, buku, surat kabar,

majalah, prasasti, rapat, dan lain sebagainya. Dalam penelitian data yang

akan ditunjukkan melalui teknik dokumentasi, antara lain adalah

Kebebasan Hakim Dalam Sistem Penegakan Hukum (Rule Of Law)

E. Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan alat yang digunakan untuk memperoleh

data yang digunakan dalam satu penelitian. Dalam penilitian ini instrumen

yang digunakan adalah buku ,media internet sofware.


17

Adapun cara-cara pembuatan instrumen adalah sebagai berikut

1. Perencanaan, meliputi perumusan tujuan, menentukan variabel, kategori

variabel.

2. Penganalisaan hasil, penulisan, melihat pola jawaban peninjauan saran-

saran dan sebagainya

3. Mengadakan revisi ulang terhadap perbaikan data yang kurang baik,

mendasarkan diri pada data yang diperoleh

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data dan

informasi yang diperoleh selama penelitian berlangsung. Hasil penelitian

dibahas berdasarkan hasil siklus tindakan penelitian dan serta hasil observasi

untuk kemudian dinarasikan dalam bentuk deskriptif kualitatif sebagai

kesimpulan dari penelitian.

Maka teknik analisis data dilakukan secara sistematis dalam

bentuk kegiatan sebagai berikut:

a. Kegiatan pengumpulan data

b. Penyajian data

c. Penarikan kesimpulan atau verifikasi

Adapun cara berpikir yang digunakan penulis dalam menganalisis

data adalah dengan menggunakan kerangka berpikir sebagai berikut:

a. Kerangka berpikir induktif, yaitu data terbuka bagi perubahan, perbaikan,

dan penyempurnaan.
18

b. Kerangka berpikir deduktif, yaitu pemecahan masalah berdasarkn

pendapat umum, kemudian dirumuskan ke dalam bentuk kesimpulan

khusus.

c. Kerangka berpikir komparatif, yaitu cara berpikir membandingkan

berbagai pendapat dari data-data, kemudian memilih pendapat yang lebih

kuat.

G. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri

Kerinci Pada tanggal


19

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. Kebebasan Hakim Dalam Sistem Penegakan Hukum


Kebebasan Hakim yang didasarkan pada kemandirian Kekuasaan
Kehakiman di Indonesia dijamin dalam Konstjtusi Indonesia yaitu Undang-
undang Dasar 1945, yang selanjutnya di implementasikan dalam Undang-
Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan
Kehakiman, sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor : 35 Tahun
1999. Independensi diartikan sebagai bebas dari pengaruh eksekutif maupun
segala Kekuasaan Negara lainnya dan kebebasan dari paksaan, direktiva atau
rekomendasi yang datang dari pihak-pihak extra judisiil, kecuali dalam hal-
hal yang diizinkan oleh Undang- Undang. Demjkian juga meliputi kebebasan
dari pengaruh -pengaruh internal judisiil didalam menjatuhkan putusan.
Dalam melakukan kekuasaan kehakiman dikenal adanya 4 (empat)
lingkungan peradilan yaitu :
1. Peradilan Umum
2. Peradilan Agama
3. Peradilan Militer
4. Peradilan Tata Usaha Negara
Salah satu pasal dahulu dalam Undang-Undang tentang Pokok- Pokok
Kekuasaan Kehakiman Nomor 14 Tahun 1970 tersebut yang dapat
mengganggu independensi badan-badan pengadilan, yaitu Pasal 11 yang
menentukan secara organisatoris, administratif dan finansiil badan-
badan peradilan berada dibawah Departemen yang terkait (eksekutif),
sedangkan dilain pihak Pasal 10 menentukan bahwa peradilan tertinggi adalah
Mahkamah Agung Yang melakukan pengawasan maupun kasasi dan
peninjauan kembali terhadap putusan-putusan badan peradilan tersebut
Dengan perkataan lain, ada dualisme pembinaan hakim yaitu

20
20

pembinaan teknis oleh Mahkamah Agung dan pembinaan administratif oleh


Departemen (eksekutif) yang bersangkutan. Keadaan inilah yangl lazim
disebut dengan adanya sistem dua atap dalam badan-badan peradilan, yang
akan segera diakhiri dengan penerapan Undang-Undang Nomor 35 Tahun
1999. Undang-Undang ini merupakan implementasi dari Ketetapan MPR
Nomor X Tahun 1998 yang berkaitan dengan pemisahan yang tegas antara
fungsi-fungsi judikatif dan eksekutif.
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999
tersebut, maka peralihan kewenangan Departemen (eksekutif) terhadap
badan- badan peradilan sehingga menjadi dibawah satu atap di Mahkamah
Agung dilaksanakan secara bertahap dalam tempo 5 tahun sejak Undang-
Undang tersebut diundangkan, yang berarti antara tahun 1999 s/d tahun 2004.
Sehjngga dengan demikian sudah tidak akan ada lagi dualisme dalam
pembinaan badan-badan peradilan, melainkan akan menjadi satu pembinaan
dibawah kewenangan Mahkamah Agung, baik meliputi pembinaan teknis
maupun administratlif, organisatoris dan finansiil.
Oleh karenanya salah satu aspek dari Legal Reform di Indonesia
dalam kaitannya dengan independensi Kekuasaan Kehakiman adalah antara
lain pengalihan atau transfer kewenangan dari eksekutif (dalam hal ini
Departemen Kehakiman dan HAM serta departemen-departemen lain yang
terkait kepada Mahkamah Agung sebagai puncak dalam Kekuasaan
Kehakiman. Dengan diadakannya revisi atau amandemen dalam waktu dekat
terhadap berbagai perundang-undangan yang berkaitan dengan badan
peradilan, yaitu antara lain :
1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan
Kehakiman
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara
21

5. Dan lain-lain
Apakah memang benar bahwa Kekuasaan Kehakiman itu mandiri atau
independen dalam arti sebebas-bebasnya, Independensi Kekuasaan
Kehakiman atau badan-badan kehakiman / peradilan merupakan salah satu
dasar untuk terselenggaranya pemerintah yang demokratis dibawah Rule of
Law sebagaimana pemikiran mengenai Negara Hukum modern yang pernah
di cetuskan dalam konferensi oleh International Commission of Jurists di
Bangkok pada tahun 1965.
Dalam pertemuan konferensi tersebut ditekankan pemahaman tentang
apa yang disebut sebagai "the dynamic aspects of the Rule of Law in the
modern age" (aspek-aspek dinamika Rule of Law dalam abad modern).
Dikatakan bahwa ada 6 (enam) syarat-syarat dasar untuk terselenggaranya
pemerintah yang demokratis dibawah Rule of Law, yaitu :
1. Perlindungan Konstitusjonal
2. Peradilan atau badan-badan kehakiman yang bebas dan tidak
memihak
3. Pemilihan Umum yang bebas
4. Kebebasan menyatakan pendapat
5. Kebebasan berserikat / berorganisasi dan beroposisi
6. Pendidikan kewarganegaraan
Dari syarat-syarat tersebut jelaslah bahwa independensi
Kekuasaan Kehakiman merupakan salah satu pilar yang pokok, yang apabila
komponen tersebut tidak ada maka kita tidak bisa berbicara lagi tentang
Negara Hukum.
Selain ketentuan konstitusi di negara kita yaitu Pasal 24
Undang- Undang Dasar 1945 dengan segala implementasinya tersebut
diatas, arti pentingnya independensi badan-badan peradilan dan Kekuasan
Kehakiman tersebut secara universal telah diterima dan ditekankan dalam
berbagai instrumen hukum internasional, yaitu antara lain dalam :
22

1. Universal Declaration of Human Rights Pasal10


2. International Covenant of Civil and Political Rights Pasal14
3. Vienna Declaration and Programme for Action tahun 1993 paragraf
4. International Bar Association Code of Minimum Standards of
Judicial Independence tahun 1982 di New Delhi
5. Universal Declaration on the Independence tahun 1983 di Montreal,
Canada
6. Beijing Statement of Principles of the Independence of Judiciary in
the Law Asia Region tahun 1995

Demikianlah jelas bahwa secara nasional maupun internasional atau


universal, independensi badan-badan peradilan dijamin.
Menjadi pertanyaan bagi kita sekarang apakah hakekat
independensi Kekuasaan Kehakiman itu memang harus mandiri dan
merdeka dalam arti sebebas-bebasnya tanpa ada batasnya secara absolut?
Menurut hemat saya tidak demikian, sebab tidak ada kekuasaan atau
kewenangan di dunia ini yang tidak tak-terbatas, atau tanpa batas, kecuali
kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa di dunia ini maupun di akhirat.
Kekuasaan Kehakiman, yang dikatakan independensi atau mandiri itu pada
hakekatnya diikat dan dibatasi oleh rambu-rambu tertentu, sehingga dalam
konferensi International Commission of Jurists dikatakan bahwa :
"Independence does not mean that the judge is entitled to act in an arbitrary
manner.
Batasan atau rambu-rambu yang harus diingat dan
diperhatikan dalam implementasi kebebasan itu adalah terutama aturan-
aturan hukum itu sendiri. Ketentuan-ketentuan hukum, baik segi prosedural
maupun substansial / materiil, itu sendiri sudah merupakan batasan bagi
Kekuasaan Kehakiman agar dalam melakukan independensinya tidak
melanggar hukum, dan bertindak sewenang-wenang. Hakim adalah
"subordinated pada Hukum dan tidak dapat bertindak "contra legem".
Selanjutnya, harus disadari bahwa kebebasan dan independensi tersebut
23

diikat pula dengan pertanggungan-jawab atau akuntabilitas, yang kedua-


duanya itu, independensi dan akuntabilitas pada dasarnya merupakan kedua
sisi koin mata uang saling melekat. Tidak ada kebebasan mutlak tanpa
tanggung jawab. Dengan perkataan lain dapat dipahami bahwa dalam
konteks kebebasan hakim (independency of judiciary) haruslah
diimbangi dengan pasangannya yaitu akuntabilitas peradilan (Judicial
accountability). Dalam memasuki era globalisalsi sekarang ini, menjadi
kewajiban bagi kita semua yang bergerak di pemerintahan dan penegakan
hukum, baik kalangan teoritisi / akademisi maupun praktisi untuk mengkaji
secara serius dan mendalam mengenai pengertian "judicial accountability"
tersebut sebagai pasangan dari independency of judiciary".
Bentuk tanggung jawab ada dan bisa dalam mekanisme yang
berbagai macam, dan salah satu yang perlu disadari adalah "social
accountability (pertanggungan jawab pada masyarakat), karena pada
dasarnya tugas badan-badan kehakiman atau peradilan adalah melaksanakan
public service di bidang memberikan keadilan bagi masyarakat pencari
keadilan. Secara teoritis, di samping social atau public accountability
tersebut dikenal pula : political accountability / legal accountability of state,
dan personal accountability of the judge.
Sisi lain dari rambu-rambu akuntabilitastersebut adalah adanya
integritas dan sjfat transparansi dalam penyelenggaraan dan proses
memberikan keadilan tersebut, hal mana harus diwujudkan dalam bentuk
publikasi putusan- putusan badan pengadilan serta akses publik yang lebih
mudah untuk mengetahui dan membahas putusan-putusan badan pengadilan
yang telah berkekuatan hukum tetap. Sehingga karenanya putusan-putusan
tersebut dapat menjadi obyek kajian hukum dalam komunitas hukum.
Adalah suatu langkah reformasi juga dibidang peradilan,
manakala dikembangkan wacana perlunya publiikasi pendapat yang berbeda
(publication of dissenting opinion) diantara hakim-hakim didalam proses
pemutusan perkara jika tidak terdapat kesepakatan yang bulat diantara
24

mereka. Pada hakekatnya justru melalui mekanisme "publication of


dissenting opinion" itulah independensi hakim
sebagai penegak hukum dijamin dalam menyampaikan dan
mempertahankan argumentasi yuridisnya masing-masing pada waktu
musyawarah putusan. Contoh dari sudah diterimanya asas ini dalam
perundang-undangan kita adalah dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun
2002 tentang Pengadilan Pajak, dan telah dipraktekkan pula di Pengadilan
Niaga dalam perkara-perkara kepailitan.
Konsekuensi lebih lanjut dari adanya akuntabilitas tersebut
diatas, adalah adanya pengawasan atau kontrol terhadap kinerja badan-
badan peradilan baik mengenai jalannya peradilan maupun termasuk
perilaku para aparatnya, agar kemandirian dan kebebasan Kekuasaan
Kehakiman tidak disalah gunakan sehingga dikawatirkan dapat menjadi "
tirani Kekuasaan Kehakiman ". Banyak bentuk dan mekanisme
pengawasan yang dapat dipikirkan dan dilaksanakan, dan salah satu bentuk
adalah kontrol atau pengawasan melalui mass-media termasuk pers. Jadi
dengan demikian, aspek akuntabilitas, integritas dan aspek transparansi,
maupun aspek pengawasan merupakan 4 (empat) rambu-rambu yang
menjadi pelengkap dari diakuinya kebebasan dan independiensi Kekuasaan
Kehakiman.
Dengan demikian kebebasan Hakim yang merupakan
personifikasi dari kemandirian kekuasaan Kehakiman, tidaklah berada
dalam ruang hampa tetapi ia dibatasi oleh rambu-rambu berikut :
- Akuntabilitas
- Integritas moral dan etika
- Transparansi
- Pengawasan (kontrol)
25

Dalam hubungan dengan tugasnya sebagai hakim, maka


independensi Hakim masih harus dilengkapi lagi dengan sikap impartialitas
dan profesionalisme dalam bidangnya. Oleh karenanya kebebasan Hakim
sebagai penegak hukum haruslah dikaitkan dengan
1. Akuntabiltas
2. Integritas moral dan etik
3. Transparansi
4. Pengawasan (kontrol)
5. Profesionalisme dan impartialitas

Tetapi sebaliknya, independensi Kekuasaan Kehakiman itu juga


mengandung makna perlindungan pula bagi Hakim sebagai penegak hukum
untuk bebas dari pengaruh-pengaruh dan direktiva yang dapat berasal dari
antara lain :
1. Lembaga-Iembaga di luar badan-badan peradilan, baik eksekutif mapun
legislatif, dan lain-Iain
2. Lembaga-Iembaga internal didalam jajaran Kekuasaan Kehakiman sendiri
3. Pengaruh-pengaruh pihak yang berperkara
4. Pengaruh tekanan-tekanan masyarakat, baiknasiona maupun
internasional
5. Pengaruh-pengaruh yang bersifat "trial by the press"

Lazimnya perlindungan-perlindungan tersebut dikaitkan dengan


larangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bersifat "Contempt of
Court' atau pelecehan / penghinaan terhadap peradilan. Dalam kaitan
dengan peranan dan fungsi pers ini, haruslah kita pahami bahwa memang
dalam penegakan Negara Hukum dibutuhkan adanya pilar atau komponen
pers yang bebas tetapi yang juga harus berada dalam rambu-rambu
akuntabilitas dan transparansi. Seperti halnya Kekuasaan Kehakiman yang
independen, pers juga harus dilindungi terhadap segala macam pengaruh
26

yang dapat mengkerdil-kan fungsi pers itu sendiri, sehingga menghalangi


kebebasan menyatakan pendapat. Peranan dan fungsi pers sebagai salah satu
lembaga kontrol atau pengawasan merupakan sarana yang strategis didalam
proses mewujudkan Negara Hukum, sebab melalui kekuatannya pers dapat
dan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat sehingga "social control
dapat terlaksana dengan baik.
Bahkan dapat dikatakan bahwa secara langsung pers mempunyai peranan yang
besar dan berpengaruh terhadap implementasi dari independensi Kekuasaan
Kehakiman. Melalui pemberitaan pers-Iah masyarakat memperoleh informasi
apakah jalannya proses peradilan telah dilaksanakan sebaik-baiknya dan
sebagaimana seharusnya. Oleh karena itu, kebebasan pers itu membawa
implikasi sebagai lembaga kontrol tapi juga sekaligus sebagai lembaga yang
memberi informasi secara benar, akurat dan tidak berpihak pada masyarakat
tentang kinerja badan-badan peradilan. Batasan atau rambu-rambu yang harus
diperhatikan adalah bahwa pemberitaan-pemberitaan pers haruslah bersifat
informatif dan sekalipun mengandung analitis, haruslah dihindari pemberitaan
yang sudah bersifat dan mengarah kepada "trial by the press". Dengan demikian
maka dialektika dan interaksi antara Kekuasaan Kehakiman dan dunia pers
menjadi kinerja yang saling menghargai satu sama lain melalui peningkatan
integritas dan profesionalitas aparatur masing-masing, baik jajaran
aparat Kekuasaan Kehakiman sendiri maupun insan pers dalam memberikan
pemberitaan yang bertanggung jawab dari pers itu sendiri.
Memang dari pemberitaan-pemberitaan dalam pers maupun
dalam kenyataan praktek di Iapangan menunjukan bahwa kebebasan Hakim
sebagai penegak hukum masih sering disimpangi, halmana disebabkan oleh
pengaruh pengaruh yang disebutkan diatas dan juga oleh karena kelemahan
pribadi sang Hakim sendiri yang tidak dapat bersikap tegar terhadap
pengaruh-pengaruh tersebut atas dirinya. Maka dalam hal demikian, fungsi
pengawasan terhadap tugas dan kinerja Hakim yang harus bekerja secara
efektif, konsisten dan tegas.
27

Pengawasan tersebut dapat bersifat internal maupun eksternal, yang


preventif maupun represif, yang harus dioptimalkan dan diberdayakan.
Harapan ditujukan pada pembentukan Komisi Yudisial yang dalam
konstitusi (Pasal 24 B Undang- Undang Dasar 1945) telah ditentukan bahwa
Komisi Yudisial ini bersifat mandiri. Komisi Yudisial berwenang
mengusulkan pengangkatan Hakim Agung, dan mempunyai wewenang lain
dalam rangka menjaga dan menegakan kehormatan, keluhuran martabat,
serta perilaku hakim.
Bahagian yang terakhir inilah yang penting untuk menjaga
agar kebebasan Hakim sebagai penegak hukum benar-benar dapat
diterapkan sesuai dengan idealisme dan hakekat kebebasan tersebut.
28

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
1

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Rifai, 2010, Penemuan Hukum oleh Hakim, Dalam Persfektif Hukum
Progresif ,Jakarta: Sinar Grafika.
Andi Hamzah, 2006.Hukum Acara Pidana Indonesia ,Jakarta: CV. Shapta artha
jaya.Antonius Sujata, 2000. Reformasi dan Penegakan Hukum, Jakarta:
Djambatan.
Al. Wisnubroto, 1997. Hakim dan Peradilan di Indonesia, Yogyakarta: Univ.
Atmajaya.
Bintan R Saragih, 1988.Lembaga perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia,
Gaya Media Pratama, Jakarta.
Dahlan Thaib, 1993. Implementasi Sistem Ketatanegaraan Menurut UUD 1945,
Liberty, Yogyakarta.
Djokosoetono, 2006 , Hukum Tata Negara, dihimpun oleh Harun Alrasid, Edisi
Revisi, Jakarta: Ind-Hill Co.
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12