Anda di halaman 1dari 4

RMK Akuntansi Sektor Publik

Dinah Diyanah Burhan


A31115506

Penyusunan Laporan Keuangan SKPD

A. Kerangka Hukum
Laporan Keuangan yang disusun harus memenuhi prinsip-prinsip yang dinyatakan
dalam PP No. 24 Tahun 2005. Laporan Keuangan dihasilkan dari masing-masing SKPD yang
kemudian dijadikan dasar dalam membuat Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

B. Deskripsi Kegiatan
Laporan Keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan
transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan umum laporan
keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus
kas dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam
membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik tujuan
laporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk
pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber
daya yang dipercayakan kepadanya.
Pembuatan Laporan Keuangan dilakukan oleh masing-masing SKPD. Selanjutnya
laporan keuangan tersebut akan di konsolidasikan oleh SKPKD menjadi Laporan Keuangan
Pemerintah Kabupaten.
Laporan Keuangan SKPD terdiri dari:
1. Laporan Realisasi Anggaran
2. Neraca
3. Catatan atas Laporan Keuangan

C. Langkah-langkah Penyusunan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah


Laporan Keuangan yang dihasilkan pada tingkat Satuan Kerja Perangkat Daerah dihasilkan
melalui proses akuntansi lanjutan yang dilakukan oleh PPK-SKPD. Jurnal dan posting yang
telah dilakukan terhadap transaksi keuangan menjadi dasar dalam penyusunan laporan
keuangan.
Langkah 1 (Kertas Kerja)
1. PPK-SKPD menyiapkan kertas kerja (worksheet) 10 lajur sebagai alat untuk menyusun
Laporan Keuangan. Worksheet adalah alat bantu yang digunakan dalam proses
pembuatan Laporan Keuangan. Worksheet berguna untuk mempermudah proses
pembuatan laporan keuangan yang dihasilkan secara manual.
PPK-SKPD melakukan rekapitulasi saldo-saldo buku besar menjadi neraca saldo. Angka-
angka saldo dari semua akun buku besar dipindahkan ke kolom neraca saldo dalam
worksheet, sesuai dengan posisi debit atau kredit dalam saldo di buku besar masing-
masing.
Format Neraca Saldo dapat dilihat pada Lampiran IV.1 sedangkan Format Kertas
Kerja/Worksheet pada Lampiran IV.2.

2. PPK-SKPD membuat jurnal penyesuaian. Jurnal ini dibuat dengan tujuan melakukan
penyesuaian atas saldo pada akun-akun tertentu dan pengakuan atas transaksi-transaksi
yang bersifat akrual. Jurnal penyesuaian tersebut diletakkan dalam kolom Penyesuaian
yang terdapat pada Kertas Kerja.
Jurnal penyesuaian telah dijelaskan dalam pembahasan Prosedur Akuntansi Aset,
Kewajiban dan Ekuitas Dana SKPD.
Jurnal Penyesuaian yang ada SKPD meliputi setidaknya :
Koreksi kesalahan pencatatan
Pengakuan aset, hutang, dan ekuitas.
Jurnal depresiasi
Jurnal terkait dengan transaksi yang bersifat accrual dan prepayment
3. PPK-SKPD melakukan penyesuaian atas neraca saldo berdasarkan jurnal penyesuaian
yang telah dibuat sebelumnya. Nilai yang telah disesuaikan diletakkan pada kolom Neraca
Saldo Setelah Penyesuaian yang terdapat pada Kertas Kerja.
4. Berdasarkan Neraca Saldo yang telah disesuaikan, PPK-SKPD mengidentifikasi akun-
akun yang termasuk dalam komponen Laporan Realisasi Anggaran dan memindahkannya
ke kolom Laporan Realisasi Anggaran yang terdapat pada Kertas Kerja.
5. Berdasarkan Neraca Saldo yang telah disesuaikan, PPK-SKPD mengidentifikasi akun-
akun yang termasuk dalam komponen Neraca dan memindahkannya ke kolom Neraca
yang terdapat pada Kertas Kerja.
6. Dari kertas kerja yang telah selesai diisi, PPK-SKPD dapat menyusun Laporan Keuangan
yang terdiri dari Neraca dan Laporan Realisasi Anggaran. Sebagai catatan, neraca yang
dihasilkan belum final karena PPK-SKPD belum membuat Jurnal Penutup.

Langkah 2 (Jurnal Penutup)


Jurnal Penutup adalah jurnal yang dibuat untuk menutup saldo nominal menjadi nol pada akhir
periode akuntansi. Perkiraan nominal adalah perkiraan yang digunakan untuk Laporan
Realisasi Anggaran, yaitu Pendapatan, dan Belanja.

Langkah 3 (Penyusunan Laporan Keuangan Sebelum Konversi)


Laporan Realisasi Anggaran SKPD (LRA SKPD) disusun setiap semester. Format Laporan
Realisasi Anggaran Semesteran dapat dilihat pada lampiran bab ini. Laporan Realisasi
Anggaran menyajikan informasi realisasi pendapatan dan belanja SKPD yang masing-masing
diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode.

Langkah 4 (Konversi SAP)


Laporan keuangan yang dibuat oleh SKPD yang terdiri atas LRA, Neraca, dan Catatan atas
Laporan Keuangan, disusun berdasarkan struktur anggaran APBD sesuai Permendagri No.
13 Tahun 2006. Sehingga, terdapat perbedaan struktur akun pendapatan dan belanja bila
dibandingkan dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (PP No. 24 Tahun 2005).
a. Konversi untuk LRA

Pendapatan Asli Daerah yang merupakan wewenang SKPD untuk mencatat dan
melaporkannya dalam LRA, seperti terlihat, dalam bagan di atas, tidak terdapat
perbedaan. Oleh karena itu, untuk PAD tidak memerlukan konversi. Belanja yang
merupakan wewenang SKPD untuk mencatat dan melaporkannya dalam LRA.
Konversi Belanja Langsung sebagai berikut:
1. Dari komponen belanja langsung, yaitu belanja pegawai ke komponen belanja
operasi pada akun belanja pegawai,
2. Dari komponen belanja langsung, yaitu akun belanja barang dan jasa ke
komponen belanja barang, dan
3. Dari komponen belanja langsung, yaitu akun belanja modal ke komponen belanja
modal.

Dalam konversi agar sesuai dengan PP No. 24 Tahun 2005 tentang SAP, pelaporan
realisasi belanja dalam LRA tidak berdasarkan program dan kegiatan, sebagaimana
klasifikasi anggaran belanja langsung dalam APBD, tetapi untuk tujuan Penjabaran
Laporan Realisasi APBD, belanja harus dilaporkan bersama program dan kegiatan.
Dengan demikian, perlu dibuat dua versi pelaporan LRA, yaitu berdasarkan Permendagri
No. 13 Tahun 2006 kemudian konversinya yang berdasarkan PP No. 24 Tahun 2005
sebagaimana telah dijelaskan di atas.

b. Konversi untuk Neraca


Ketika akan melakukan konversi Neraca, perlu diteliti lebih dahulu pada klasifikasi mana
terjadi perbedaan antara Permendagri No. 13 Tahun 2006 dengan PP No. 24 Tahun
2005, kemudian lakukan konversi. Perbedaan di dalam Aset Tetap ada pada kelompok
Jalan, Jaringan dan Instalasi berdasarkan akun pada Permendagri No. 13 Tahun 2006,
sedangkan berdasarkan format PP No. 24 Tahun 2005 kelompok yang sama adalah
Jalan, Irigasi, dan Jaringan. Bila diperhatikan lebih saksama ke dalam susunan Kode
Rekening Permendagri No.13 Tahun 2006, yang dimaksud dengan jaringan termasuk
di dalamnya adalah jaringan irigasi, sehingga sebenarnya tidak ada perbedaan
substansi di antara keduanya. Perbedaan pada kelompok Aset Lainnya terlihat bahwa
dalam format No. 24 Tahun 2005 dibedakan antara Tuntutan Perbendaharaan dan
Tuntutan Ganti Rugi, sedangkan di Permendagri No. 13 Tahun 2006 hanya ada
Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah dengan tidak memisahkan ke dalam dua
kelompok seperti pada PP No.24 Tahun 2005. Oleh karena itu, dalam konversi, sesuai
dengan kejadian transaksinya, perlu dibedakan ke dalam dua kelompok seperti dalam
PP No. 24 Tahun 2005.
Perbedaan kelompok Kewajiban
1) Dalam Permendagri No. 13 Tahun 2006 (Lampiran E.XII-Format Neraca SKPD)
terdapat Uang Muka dari Kas Daerah. Bila yang dimaksud adalah transfer kas dari
BUD, maka diakui/dicatat sebagai RK-Pusat yang menjadi bagian dari akun ekuitas
dana di SKPD.
2) Dalam Permendagri No. 13 Tahun 2006 terdapat Pendapatan Diterima di Muka/
Pendapatan yang Ditangguhkan. Hal ini terjadi dari transaksi pendapatan yang diterima
oleh Bendahara Penerimaan yang belum disetorkan ke Kas Daerah. Namun
sebenarnya bila transaksi itu terjadi maka diakui/dicatat ke sebagai pendapatan yang
ditangguhkan yang masuk dalam kelompok Ekuitas Dana Lancar. Tetapi bila akun
tersebut muncul dari transaksi lainnya yang menyebabkan pendapatan diterima di
muka, maka dapat dikonversikan ke dalam Utang Jangka Pendek Lainnya menurut PP
No. 24 Tahun 2005. Dari bagan di atas dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan
antara Permendagri No. 13 Tahun 2006 dengan PP No. 24 Tahun 2005 bagi komponen
Ekuitas pada Neraca.
3) Akun Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek
merupakan contra account dari Ekuitas Dana Lancar

Langkah 5 (Penyusunan Laporan Keuangan SKPD Setelah Konversi)

Format Laporan Realisasi Anggaran SKPD setelah dilakuan konversi yang telah sesuai
Permendagri 59 Tahun 2007/Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 disajikan dalam
Lampiran IV.5.

Format Neraca SKPD setelah dilakuan konversi yang telah sesuai Permendagri 59 Tahun
2007/Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 disajikan dalam Lampiran IV.6.

Langkah 6 (Penyusunan Catatan Atas Laporan Keuangan)

Catatan atas Laporan Keuangan disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam Laporan
Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas harus memiliki referensi silang dengan
informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Format Catatan Atas Laporan
Keuangan dapat disajikan dalam Lampiran IV.7.

Langkah 7 (Pembuatan Jurnal Balik di Awal Tahun)

Jurnal Balik adalah proses pilihan yang dilakukan setelah pembuatan laporan keuangan.
Jurnal balik adalah proses penjurnalan kembali untuk akun-akun yang dilakukan penyesuaian
(misalnya persediaan) agar pada kondisi awal neraca periode berikutnya, nilainya menjadi
nihil. Secara singkatnya, jurnal balik adalah jurnal penyesuaian dengan rekening yang
sebelumnya di debit menjadi kredit dan rekening yang sebelumnya dikredit menjadi di debit.
Jurnal Balik telah dibahas pada Prosedur Akuntansi Neraca. Jurnal Balik dicatat pada Buku
Jurnal Umum untuk selanjutnya diposting ke Buku Besar pada awal tahun.

Anda mungkin juga menyukai