Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK LIQUID DAN SEMI SOLIDA

SALEP MINYAK IKAN

Penyusun :

Nama : Siti Marfuah

NIM : P2.06.30.1.15.034

JURUSAN FARMASI

POLTEKKES KEMENKES TASIKMALAYA


2015
I. Tujuan : Melakukan compounding resep salep minyak ikan
II. Dasar teori :
Salep (Unguenta) adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan
dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen
dalam dasar salep yang cocok. (FI III : 33). Salep tidak boleh berbau tengik. Salep
harus homogentias, jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain
yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen. Salep umumnya dibuat
dengan melarutkan atau mensuspensikan obat kedalam salep dasar. Salep dasar
adalah zat pembawa dengan massa lembek, mudah dioleskan, umumnya
berlemak, dapat digunakan bahan yang telah mempunyai massa lembek atau zat
cair, zat padat, terlebih dahulu diubah menjadi massa yang lembek. (Fornas : 334).

Peraturan pembuatan salep menurut F. Van duin:

1. Zat yang dapat larut dalam campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya jika perlu
dengan pemanasan.
2. Bahan yang laurt dalam air, jika tak ada peraturan lain, dilarutkan terlebih
dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang digunakan dapt diserap seluruhnya
oleh basis salep dan jumlah air yang dipakai, dikurangi dari basis salep.
3. Bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air harus
diserbukkan terlebih dahulu, kemudian diayak dengan pengayak no. 60.
4. Salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus
sampai dingin. Bahan-bahan yang ikut dilebur, penimbangannya harus
dilebihkan 10-20% untuk mencegah kekurangan bobotnya.

III. Formula
Resep standar:
Olei iecoris unguentum (fornas: 217)
Tiap 10 gram mengandung:
Oleum iecoris aselli 2,5 g
Cera flava 250 mg
Vaselin flavum ad 10 g
IV. Monografi
a. Oleum iecoris aselli (minyak ikan) FI III: 457
Pemerian : Cairan kuning pucat, bau khas, agak amis, tidak tengik dan rasa
khas.
Kelarutan : Sukar larut dalam etanol (95%), mudah larut dalam kloroform
pekat, dalam eter pekat dan dalam eter minyak tanah pekat.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terisi penuh dan terlindungi dari
cahaya.
Khasiat : Sumber vitamin A dan D

b. Cera flava
Pemerian : Zat padat, coklat kekuningan, bau enak seperti madu, agak rapuh
jika dingin, menjadi elastis jika hangat dan bekas patahan buram
dan butir.
Kelarutan : Praktis tak larut dalam air, sukar larut dalam etanol 95%, larut
dalam kloroform pekat, dalam etanol hangat, minyak lemak dan
dalam atsiri
Khasiat : Zat tambahan

c. Vaselin flavum (vaselin kuning) FI III: 633


Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning, sifat
ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa
diaduk, berfluoresensi lemah, jika di cairan tak berbau, hampir tak
berasa.
Kelarutan : Memenuhi syarat yang tertera pada vaselin album
Khasiat : Zat tambahan

V. Permasalahan
Vaselin flavum dan cera flava mempunyai fasa yang berbeda, sehingga tidak
menyatu
VI. Penyelesaian
Dilakukan peleburan kedua bahan tersebut secara bersamaan
VII. Perhitungan dan Penimbangan Bahan
1. Oleum iecoris aselli : 2,5 g
2. Cera flava : 250 mg
3. Vaselin flavum : 10 g-(2,5 g+0,25 g)
: 10 g-2,75 g
:7,25 g

VIII. Prosedur Kerja


1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Ditimbang semua bahan.
3. Cera flava dan veselin dilebur bersama diatas penangas air hingga meleleh,
kemudian diaduk.
4. Dimasukkan hasil leburan ccera flava dan vaselin ke dalam mortir.
5. Dimasukkan oleum iecoris sedikit demi sedikit, kemudian digerus hingga
homogen.
6. Dimasukkan ke dalam wadah, diberi etiket biru.
7. Dilakukan evaluasi sediaan.

IX. Evaluasi
a. Organoleptik :
1. Bau : bau ikan
2. Warna : kuning
b. Homogenisasi : homogen
X. Etiket

Apotek poltekkes tasikmalaya


Jl. Cilolohan no. 35 tasikmalaya
Telp. 0265-340186
APA: Siti Marfuah
SIK: P2.06.30.1.15.034
No. 01 Tgl. 19-05-10
2-3 kali dioleskan
Obat luar
XI. Pembahasan

Pada praktikum kali ini dibuat sediaan salep sebanyak 10 g. Sediaan salep ini
yaitu salep minyak ikan. Sediaan ini ditujukan untuk pemakaian topikal. Sediaan
salep mempunyai zat aktif yaitu Oleum Iecoris aselli yang berfungsi sebagai
sumber vitamin A dan D. Efek farmakologi sediaan salep minyak ikan ini sebagai
sumber vitamin A, vitamin D, asam lemak tak jenuh yang merupakan faktor-
faktor makanan dasar dan tidak terjadi dalam kandungan vitamin A dan vitamin
D. Sari minyak ikan atas salepnya sangat mendukung untuk mempercepat
penyembuhan luka bakar, koreng, menekan salut dan luka pada permukaan, tetapi
observasi yang terkontrol telah menghentikan nilai penguatan yang tegas. Dan
asam lemak omega-3 berkhasiat untuk penurunan kadar kolesterol dalam darah.
Terdapat cera flava sebagai zat tambahan, sedangkan vaselin flavum sebagai basis
salep.
Alasan dibuatnya sediaan salep minyak ikan adalah agar memenuhi tujuan
penggunaan yaitu untuk menyembuhkan luka bakar yang berarti digunakan secara
topikal. Dalam pembuatan salep ini yang pertama dilakukan adalah menyiapkan
alat dan bahan sehingga memudahkan dalam pembuatan salep. Kemudian
menimbang semua bahan, lalu melebur cera flava dan vaselin flavum agar kedua
bahan tersebut menyatu. Setelah itu masukkan hasil leburan cera flava dan vaselin
flavum ke dalam mortir, lalu tambahkan oleum iecoris aselli kemudian gerus
hingga homogen. Masukkan ke dalam wadah salep dan beri etiket berwarna biru.
Dengan menguji organoleptik yaitu bau dan warna. Bau sediaan ini memiliki
aroma minyak ikan yang berasal dari oleum iecoris aselli. Sedangkan warna
sediaan ini yaitu kuning yang muncul akibat leburan cera flava dan vaselin
flavum. Lakukan evaluasi homogenitas yaitu dengan menggunakan objek glass
jika homogen hal ini akan menunjukan susunan yang tidak terdapat butiran
butiran yang tidak terdispersi itu disebabkan karena semua bahan sudah tercampur
homogen.
XII. Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan salep minyak ikan yang ditujukkan
untuk pemakaian topikal berkhasiat sebagai luka bakar terbuka maupun tertutup.
Pada evaluasi sediaan organoleptik bau sediaan ini memiliki aroma
minyak ikan, sedangkan warna sediaan ini yaitu kuning. Dilakukan evaluasi
homogenitas yaitu dengan menggunakan objek glass jika homogen hal ini akan
menunjukan susunan yang tidak terdapat butiran butiran yang tidak terdispersi
itu disebabkan karena semua bahan sudah tercampur homogen.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1979. Farmakope Indonesia Edisi III .Departemen Kesehatan


RI.Jakarta
Anonim.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV .Departemen Kesehatan
RI.Jakarta
Ansel, Howard.1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV.Jakarta :
Universitas Indonesia
Rowe.Raymon C.2009. Handbook Of Pharmacetical Excipients Edisi VI.
London : Pharmacetical Press