Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DASAR DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA


KLIEN DENGAN BATU BULI DI RUANG MAWAR
RUMAH SAKIT DAERAH DR. SOEBANDI
JEMBER

oleh:
Fikri Nur Latifatul Qolbi, S. Kep.
NIM 132311101011

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017

LAPORAN PENDAHULUAN
KONSEP DASAR DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN BATU BULI

A. Konsep Dasar Batu Buli


1. Anatomi Ginjal
Ginjal adalah suatu organ yang secara struktural kompleks dan telah berkembang untuk
melaksanakan sejumlah fungsi penting, seperti : ekskresi produk sisa metabolisme,
pengendalian air dan garam, pemeliharaan keseimbangan asam yang sesuai, dan sekresi
berbagai hormon dan autokoid.
Ginjal merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak di kedua sisi kolumna
vertebralis. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan ginjal kiri karena tertekan
kebawah oleh hati. Kutub atasnya terletak setinggi iga keduabelas, sedangkan kutub atas ginjal
kiri terletak setinggi iga kesebelas.
Ginjal terletak di bagian belakang abdomen atas, di belakang peritoneum, di depan dua
iga terakhir, dan tiga otot besar transversus abdominis, kuadratus lumborum, dan psoas
mayor. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal.
Ginjal terlindung dengan baik dari trauma langsung, disebelah posterior (atas) dilindungi
oleh iga dan otot-otot yang meliputi iga, sedangkan di anterior (bawah) dilindungi oleh
bantalan usus yang tebal. Ginjal kanan dikelilingi oleh hepar, kolon, dan duodenum,
sedangkan ginjal kiri dikelilingi oleh lien, lambung, pankreas, jejunum dan kolon.
2. Fungsi Ginjal
Fungsi utama ginjal terangkum dibawah ini, yang menekankan peranannya sebagai
organ pengatur dalam tubuh:
a. Fungsi Ekskresi
1) Mengeluarkan zat toksis/racun
2) Mengatur keseimbangan air, garam/elektrolit, asam /basa
3) Mempertahankan kadar cairan tubuh dan elektrolit (ion-ion lain)
4) Mengekskresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein (terutama
urea, asam urat dan kreatinin)
5) Bekerja sebagai jalur ekskretori untuk sebagian besar obat
b. Fungsi Non-ekskresi
1) Renin, penting dalam pengaturan tekanan darah
2) Eritropoetin, merangsang produksi sel darah merah oleh sumsum tulang
3) 1,25-dihidroksivitamin D3 : hidroksilasi akhir vitamin D3 menjadi bentuk

yang paling kuat


4) Prostaglandin: sebagian besar adalah vasodilator, bekerja secara lokal, dan
melindungi dari kerusakan iskemik ginjal
5) Degradasi hormon polipeptida
6) Insulin, glukagon, parathormon, prolaktin, hormon pertumbuhan, ADH
dan hormon gastrointestinal (gastrin, polipeptida intestinal vasoaktif)
3. Anatomi Fisiologi Kandung Kemih (buli-buli)
Buli-buli merupakan organ berongga yang terdiri atas 3 lapis otot detrusor yang saling
beranyaman. Di sebelah dalam adalah otot longitudinal, di tengah merupakan otot sirkuler,
dan yang paling luar adalah longitudinal mukosa vesika terdiri dari sel-sel transisional yang
sama seperti pada mukosa pelvis renalis, ureter dan uretra posterior. Pada dasar buli-buli
kedua muara ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang disebut
trigonum buli-buli. Secara anatomis buli-buli terdiri dari tiga permukaan, yaitu (1) permukaan
superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum (2) permukaan inferoinferior dan (3)
permukaan posterior (Purnomo, 2011).

Gambar 1. Anatomi Buli-buli

Buli-buli berfungsi menampung urin dari ureter dan kemudian mengeluarkannya


melalui uretra dalam mekanisme berkemih. Dalam menampung urin, buli-buli mempunyai
kapasitas yang maksimal, yang volumenya untuk orang dewasa kurang lebih adalah 300-450
ml, sedangkan kapasitas buli-buli pada anak menurut formula dari koff adalah

Kapasitas buli- buli = ( umur (tahun) + 2 ) x 30

Pada saat kosong, buli-buli terdapat di belakang simpisis pubis dan pada saat penuh
berada pada atas simpisis pubis sehingga dapat dipalpasi atau di perkusi. Buli-buli yang
terasa penuh memberikan rangsangan pada saraf afferen dan menyebabkan aktivasi miksi di
medulla spinalis segmen sacral S 2-4. Hal ini akan menyebabkan kontraksi otot detrusor,
terbukanya leher buli-buli dan relaksasi spingter uretra sehingga terjadilah proses miksi
(Purnomo, 2011).

4. Definisi
Batu buli-buli disebut juga batu vesica, vesical calculi, vesical stone, bladder stone.
Batu buli-buli atau vesikolitiasis adalah masa yang berbentuk kristal yang terbentuk atas
material mineral dan protein yang terdapat pada urin. Batu saluran kemih pada dasarnya
dapat terbentuk pada setiap bagian tetapi lebih banyak pada saluran penampung terakhir.
Pada orang dewasa batu saluran kencing banyak mengenai sistem bagian atas (ginjal,
pyelum) sedang pada anak- anak sering pada sistem bagian bawah (buli-buli). Di negara
berkembang batu buli-buli terbanyak ditemukan pada anak laki-laki pre pubertas. Komponen
yang terbanyak penyusun batu buli-buli adalah garam calsium. Pada awalnya
merupakan bentuk yang sebesar biji padi tetapi kemudian dapat berkembang menjadi ukuran
yang lebih besar. Kadangkala juga merupakan batu yang mulitipel (De Jong, 2004; Sudoyo et
al, 2006).

5. Etiologi
Secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu buli- buli yaitu
faktor instrinsik yang terdiri dari herediter (keturunan) penyakit ini diduga diturunkan dari
orang tuanya, umur, serta jenis kelamin, jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak
dibandingkan dengan pasien perempuan. Sedangkan faktor ekstrinsik terdiri dari
keadaan geografi, iklim, temperatur, asupan air, diet, dan pekerjaan. Geografi, kebanyakan
didaerah pegunungan, padang pasir, dan daerah tropis. Iklim, individu yang menetap di
daerah beriklim panas dengan paparan sinar ultraviolet tinggi akan cenderung
mengalami dehidrasi serta peningkatan produksi vitamin D3 (memicu peningkatan ekskresi
kalsium dan oksalat) sehingga insiden batu saluran kemih akan meningkat. Asupan air,
kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi dapat
meningkatkan insiden batu saluran kemih. Diet, obat sitostatik untuk penderita kanker juga
memudahkan terbentuknya batu saluran kemih, karena obat sitostatik bersifat meningkatkan
asam urat dalam tubuh, diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya
penyakit batu saluran kemih. Dan pekerjaan, penyakit ini sering dijumpai pada orang
yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitasnya (De Jong, 2004; Sudoyo et al,
2006).
Batu buli-buli atau vesikolitiasis sering terjadi pada pasien yang menderita gangguan
miksi atau terdapat benda asing di buli-buli yang aktivitasnya sebagai inti batu. Gangguan
miksi terjadi pada pasien-pasien hiperplasia prostat, striktura uretra, divertikel buli-buli dan
buli-buli neurogenik. Pada suatu studi dilaporkan pada pasien dengan cidera spinal dimana
ia mempunyai kelainan neurogenik blader dalam delapan tahun, 36%nya berkembang
menjadi batu buli-buli. Benda asing tersebut dibedakan menjadi iatrogenic dan non
iatrogenik. Benda iatrogenic terdiri dari bekas jahitan, balon folley kateter yang pecah,
kalsifikasi yang disebabkan karena iritasi balon kateter, staples, uretral stens,
peralatan kontrasepsi, prostetik uretral stents. Noniatrogenik disebabkan adanya benda yang
terkandung pada buli-buli seusai pasien rekreasi atau alasan yang lain. Selain itu batu buli-
buli dapat berasal dari batu ginjal atau batu ureter yang turun ke buli-buli yang banyak
dijumpai pada anak-anak yang menderita kurang gizi atau yang sering menderita dehidrasi
atau diare. Infeksi pada saluran kemih akan mempercepat timbulnya batu. Inflamasi pada
buli-buli dapat disebabkan karena hal sekunder misalnya sinar radiasi atau infeksi
shiztomiasis yang juga merupakan predisposisi batu buli-buli. Gangguan metabolik juga
merupakan faktor predisposisi terjadi pembentukan batu. Pada pasien ini batu umumnya
terbentuk dari bahan calsium dan struvit. Pada pasien yang mempunya predisposisi
dilakukan evaluasi ada tidaknya hal yang memicu statisnya urin, misalnya BPH. Pada
perempuan yang memakai celana ketat, dan cystocele (De Jong, 2004; Sudoyo et al, 2006).

6. Patofisiologi
Pada umumnya batu buli-buli terbentuk dalam buli-buli, tetapi pada beberapa kasus
batu buli terbentuk di ginjal lalu turun menuju buli-buli, kemudian terjadi penambahan
deposisi batu untuk berkembang menjadi besar. Batu buli yang turun dari ginjal pada
umumnya berukuran kecil sehingga dapat melalui ureter dan dapat dikeluarkan spontan
melalui uretra (De Jong, 2004; Sudoyo et al, 2006).

Gambar 2. Batu Buli-buli


Secara teoritis batu dapat terbentuk diseluruh saluran kemih terutama pada tampat-
tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (statis urine), yaitu pada sistem
kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises (stenosis
uretro-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hyperplasia prostate
benigna, striktura, dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang memudahkan
terjadinya pembentukan batu. Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-
bahan organik maupun anorganik yang terlarut di dalam urine. Kristal-kristal tersebut tetap
berada dalam keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urine jika tidak ada keadaan-keadaan
tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal-kristal yang saling
mengadakan presipitasi membentuk inti batu (nukleasi) yang kemudian akan mengadakan
agregasi, dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar.
Meskipun ukurannya cukup besar, agregat kristal masih rapuh dan belum cukup mampu
membuntu saluran kemih. Untuk itu agregat kristal menempel pada epitel saluran kemih
(membentuk retensi kristal), dan dari sini bahan-bahan lain diendapkan pada agregat itu
sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk menyumbat saluran kemih. Kondisi
metastabel dipengaruhi oleh pH larutan, adanya koloid di dalam urine, konsentrasi solute di
dalam urine, laju aliran urine di dalam saluran kemih, atau adanya korpus alienum di dalam
saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu. Lebih dari 80% batu saluran kemih
terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan dengan oksalat maupan dengan fosfat,
membentuk batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat; sedangkan sisanya berasal dari batu
asam urat, batu magnesium ammonium fosfat (batu infeksi), batu xanthyn, batu sistein, dan
batu jenis lainnya. Meskipun patogenesis pembentukan batu-batu diatas hampir sama, tetapi
suasana didalam saluran kemih yang memungkinkan terbentuknya jenis batu itu tidak sama.
Dalam hal ini misalkan batu asam urat mudah terbentuk dalam asam, sedangkan
batu magnesium ammonium fosfat terbentuk karena urine bersifat basa (De Jong, 2004;
Sudoyo et al, 2006).
Pada penderita yang berusia tua atau dewasa biasanya komposisi batu merupakan
batu asam urat yaitu lebih dari 50% dan batu paling banyak berlokasi di vesika. Batu yang
terdiri dari calsium oksalat biasanya berasal dari ginjal. Pada batu yang ditemukan pada anak
umumnya ditemukan pada daerah yang endemik dan terdiri dari asam ammonium material,
calsium oksalat, atau campuran keduanya. Hal itu disebabkan karena susu bayi yang berasal
dari ibu yang banyak mengandung zat tersebut. Makanan yang mengandung rendah pospor
menunjang tingginya ekskresi amonia. Anak-anak yang sering makan makanan yang kaya
oksalat seperti sayur akan meningkatkan kristal urin dan protein hewan (diet rendah
sitrat). Batu buli-buli juga dapat terjadi pada pasien dengan trauma vertebra/ spinal
injury, adapun kandungan batu tersebut adalah batu struvit/Ca fosfat. Batu buli-buli dapat
bersifat single atau multiple dan sering berlokasi pada divertikel dari ventrikel buli-buli dan
biasanya berukuran besar atau kecil sehingga menggangu kerja dari vesika. Gambaran fisik
batu dapat halus maupun keras. Batu pada vesika umumnya mobile, tetapi ada batu yang
melekat pada dinding vesika yaitu batu yang berasal dari adanya infeksi dari luka jahitan dan
tumor intra vesika (De Jong, 2004; Sudoyo et al, 2006).

7. Komposisi Batu
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur kalsium oksalat atau kalsium
fosfat, asam urat, magnesium ammonium fosfat, xanthin, sistein, silikat dan senyawa
lainnya. Data mengenai kandungan atau komposisi batu sangat penting untuk pencegahan
timbulnya batu yang residif. Berikut ini adalah jenis batu saluran kemih meliputi (De Jong,
2004; Sudoyo et al, 2006; Basler, 2007):
a. Batu Kalsium
Batu ini merupakan batu yang paling banyak ditemukan yaitu sekitar 70- 80% dari
seluruh batu saluran kemih. Adapun kandungannya adalah kalsium oksalat, kalsium
fosfat atau campuran keduanya. Faktor terjadinya batu oksalat adalah sebagi berikut:
1) Hiperkalsiuri merupakan kenaikan kadar kalsium dalam urin yang melebihi 250-

300mg/24jam, disebabkan oleh peningkatan absorbsi kalsium melalui usus, gangguan


reabsorbsi kalsium oleh ginjal, dan peningkatan reabsorbsi tulang karena
hiperparatiroid atau tumor paratiroid.
2) Hiperoksaluri merupakan peningkatan ekskresi oksalat melebihi 45 gram/ hari,
keadaan ini banyak diderita oleh penderita yang mengalami kelainan usus karena post
operasi dan diet kaya oksalat, misalnya teh, kopi instant, minuman soft drinks, kokoa,
jeruk, sitrun, dan sayuran yang berwarna hijau terutama bayam.
3) Hiperurikosuri merupakan kadar asam urat di dalam urin melebihi 850gram/24 jam.
Asam urat yang berlebihan dalam urin bertindak sebagai inti batu terhadap
pembentukan batu kalsium oksalat. Sumber asam urat dalam urin berasal dari
makanan yang mengandung banyak purin maupun berasal dari metabolisme endogen.
4) Hipositraturia merupakan sitrat berikatan dengan kalsium di dalam urin sehingga
calsium tidak lagi terikat dengan oksalat maupun fosfat, karenanya merupakan
penghambat terjadinya batu tersebut. Kalsium sitrat mudah larut sehingga hancur dan
dikeluarkan melalui urin.
5) Hipomagnesia, magnesium juga merupakan penghambat seperti halnya sitrat.
Penyebab tersering dari hipomagnesia adalah inflamasi usus yang diikuti
gangguan absorbsi. Penyebab tersering hipomagnesuria ialah penyakit inflamasi
usus (inflammatory bowel disease) yang diikuti dengan gangguan malabsorbsi
b. Batu struvit disebut juga sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini karena proses
infeksi pada saluran kemih. Hal ini disebabkan karena infeksi yang sebagian besar karena
kuman pemecah urea, sehingga urea yang menghasilkan suasana basa yang mempermudah
mengendapnya magnesium fosfat, ammonium, karbonat. Kuman tersebut diantaranya
adalah Proteus spp, Klebsiella, Enterobacter, Pseudomonas, dan stafilokokus.
c. Batu asam urat merupakan batu yang terjadi pada 5-10% kasus batu. 75-80% merupakan
batu asam urat murni dan sisanya merupakan campuran dengan asam oksalat. Batu ini
banyak diderita oleh pasien dengan gout, penyakit mieloproliferatif, pasien yang mendapat
terapi antikanker, dan banyak menggunakan obat urikosurik diantaranya tiazid,
salisilat, kegemukan, peminum alkohol, diet tinggi protein. Adapun faktor predisposisi
terjadinya batu asam urat adalah urin yang terlalu asam, dehidrasi atau konsumsi air
minum yang kurang dan tingginya asam urat dalam darah.
d. Batu jenis lain diantaranya batu sistin, batu santin, dan batu silikat sangat jarang
dijumpai. Batu sistin didapatkan karena kelainan metabolisme yaitu kelainan absorbsi
sistin di mukosa usus. Pemakaian antasida yang mengandung silikat berlebihan dalam
jangka waktu yang lama dapat memungkinkan terbentuknya batu silikat.

8. Tanda dan Gejala


Pasien yang mempunyai batu buli sering asimtomatik, tetapi pada anamnesis biasanya
dilaporkan bahwa penderita mengeluh nyeri suprapubik, disuria, gross hematuri terminal,
perasaan ingin kencing, sering kencing di malam hari, perasaan tidak enak saat kencing, dan
kencing tiba-tiba terhenti kemudian menjadi lancar kembali dengan perubahan posisi
tubuh. Gejala lain yang umumnya terjadi dalam menyertai nyeri yaitu nyeri menjalar dari
ujung penis, scrotum, perineum, punggung dan panggul, perasaan tidak nyaman tersebut biasa
bersifat tumpul atau tajam, disamping sering menarik-narik penisnya pada anak laki-laki dan
menggosok-gosok vulva pada anak perempuan. Rasa sakit diperberat saat pasien sedang
beraktivitas, karena akan timbul nyeri yang tersensitisasi akibat batu memasuki leher vesika.
Pasien anak dengan batu buli sering disertai dengan priapism dan disertai ngompol. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan vesika urinaria tampak penuh pada inspeksi, ketika dipalpasi
didapatkan blader distended pada retensi akut. Adapun tanda yang dapat dilihat adalah
hematuri mikroskopik atau bahkan gross hematuri, pyuria, bakteri yang positif pada
pemeriksaan kultur urin (De Jong, 2004; Sudoyo et al, 2006).
B. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang meliputi (De Jong, 2004; Sudoyo et al, 2006):
1. Pemeriksaan urin
Pemeriksaan urin sering dilakukan karena tidak mahal dan hasilnya dapat
menggambarkan jenis batu dalam waktu yang singkat. Pada pemeriksaan dipstick, batu buli
berhubungan dengan hasil pemeriksaan yang positif jika mengandung nitrat, leukosit esterase
dan darah. Batu buli sering menyebabkan disuri dan nyeri hebat, oleh sebab itu banyak pasien
sering mengurangi konsumsi air minum sehingga urin akan pekat. Pada orang dewasa, batu
buli akan menyebabkan urin asam. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya sel darah
merah dan pyuria( leukosit), dan adanya kristal yang menyusun batu buli. Pemeriksaan urin
juga berguna untuk memberikan antibiotik yang rasional jika dicurigai adanya infeksi.
2. Pemeriksaan Imaging
a. Urografi
Pemeriksaan radiologis yang digunakan harus dapat memvisualisasikan saluran kemih
yaitu ginjal, ureter dan vesika urinaria (KUB). Tetapi pemeriksaan ini mempunyai
kelemahan karena hanya dapat menunjukkan batu yang radioopaque. Batu asam urat
dan ammonium urat merupakan batu yang radiolucent. Tetapi batu tersebut terkadang
dilapisi oleh selaput yang berupa calsium sehingga gambaran akhirnya radioopaque.
Pelapisan adalah hal yang sering, biasanya lapisan tersebut berupa sisa metabolik, infeksi
dan disebabkan hematuri sebelumnya

Gambar 3. BOF
b. Cystogram/ intravenous pyelografi
Jika pada pemeriksaan secara klinik dan foto KUB tidak dapat menunjukkan
adanya batu, maka langkah selanjutnya adalah dengan pemeriksaan IVP. Adanya batu
akan ditunjukkan dengan adanya filling defek.
Gambar 3. BOF
c. Ultrasonografi (USG)
Batu buli akan terlihat sebagai gambaran hiperechoic, efektif untuk melihat batu
yang radiopaque atau radiolucent.

Gambar 5. USG
d. CT Scan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk banyak kasus pada pasien yang nyeri
perut, massa di pelvis, suspect abses, dan menunjukkan adanya batu buli- buli
yang tidak dapat ditunjukkan pada IVP. Batu akan terlihat sebagian batu yang
keruh.

Gambar 6. CT Scan

e. MRI
Pemeriksaan ini akan menunjukkan adanya lubang hitam yang semestinya
tidak ada pada buli yang seharusnya terisi penuh, ini diassosiasikan sebagai batu.

Gambar 7. MRI
f. Sitoskopi
Pada pemeriksaan ini dokter akan memasukkan semacam alat endoskopi
melalui uretra yang ada pada penis, kemudian masuk kedalam blader
g. Terapi pembedahan
Terapi bedah digunakan jika tidak tersedia alat litotriptor, alat gelombang kejut
atau bila cara non bedah tidak berhasil. Walaupun demikian kita harus memerlukan
suatu indikasi. Misalnya apabila batu kandung kemih selalu menyebabkan
gangguan miksi yang hebat sehingga perlu diadakan tindakan pengeluarannya.
Litotriptor hanya mampu memecahkan batu dalam batas ukuran 3 cm kebawah.
Batu diatas ukuran ini dapat ditangani dengan batu kejut atau sistolitotomi (De
Jong, 2004; Sudoyo et al, 2006).
1) Transurethral Cystolitholapaxy: tehnik ini dilakukan setelah adanya batu
ditunjukkan dengan sistoskopi, kemudian diberikan energi untuk membuat
nya menjadi fragmen yang akan dipindahkan dari dalam buli dengan alat
sistoskopi. Energi yang digunakan dapat berupa energi mekanik
(pneumatic jack hummer), ultrasonic dan elektrohidraulik dan laser (De
Jong, 2004; Sudoyo et al, 2006).
2) Percutaneus Suprapubic cystolithopaxy: tehnik ini selain digunakan untuk
dewasa juga digunakan untuk anak- anak, tehnik percutaneus
menggunakan endoskopi untuk membuat fragmen batu lebih cepat hancur
lalu dievakuasi.sering tehnik ini digunalan bersama tehnik yang pertama
dengan tujuan stabilisasi batu dan mencegah irigasi yang ditimbulkan
oleh debris pada batu (De Jong, 2004; Sudoyo et al, 2006)
3) Suprapubic Cystostomy: tehnik ini digunakan untuk memindah batu
dengan ukuran besar, juga di indikasikan untuk membuang prostate, dan
diverculotomy. Pengambilkan prostate secara terbuka diindikasikan jika
beratnya kira- kira 80-100gr. Keuntungan tehnik ini adalah cepat,
lebih mudah untuk memindahkan batu dalam jumlah banyak,
memindah batu yang melekat pada mukosa buli dan kemampuannya
untuk memindah batu yang besar dengan sisi kasar. Tetapi kerugian
penggunaan tehnik ini adalah pasien merasa nyeri post operasi, lebih lama
dirawat di rumah sakit, lebih lama menggunakan kateter (De Jong, 2004;
Sudoyo et al, 2006).

C. Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada seseorang dengan batu buli adalah
sebagai berikut:
1. Hidronefrosis
pelebaran pada ginjal serta pengisutan jaringan ginjal, sehingga ginjal menyerupai
sebuah kantong yang berisi kemih, kondisi ini terjadi karena tekanan dan aliran balik
ureter dan urine ke ginjal akibat kandung kemih tidak mampu lagi menampung urine.
Sementara urine terus-menerus bertambah dan tidak bisa dikeluarkan. Bila hal ini terjadi
maka, akan timbul nyeri pinggang, teraba benjolan basar didaerah ginjal dan secara
progresif dapat terjadi gagal ginjal.
2. Uremia
peningkatan ureum didalam darah akibat ketidak mampuan ginjal menyaring hasil
metabolisme ureum, sehingga akan terjadi gejala mual muntah, sakit kepala, penglihatan
kabur, kejang, koma, nafas dan keringat berbau urin.
3. Pyelonefritis
Adalah infeksi ginjal yang disebabkan oleh bakteri yang naik secara assenden ke
ginjal dan kandung kemih. Bila hal ini terjadi maka akan timbul panas yang tinggi
disertai mengigil, sakit pinggang, disuria, poliuria, dan nyeri ketok kosta vertebra
4. Gagal ginjal akut hingga kronis
G
Klasifikasi Gagal Ginjal

Gagal Ginjal Kronis

Berdasarkan National Kidney Foundation (NKF) Kidney Disease Outcome


Quality Initiative (K/000/) Guidelines Update tahun 2002, definisi Penyakit Ginjal
17
Kronis (GGK) adalah:
a. Kerusakan Ginjal > 3 bulan, berupa kelainan struktur ginjal, dapat atau tanpa
disertai penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) yang ditandai dengan: kelainan
patologi, dan adanya pertanda kerusakan ginjal, dapat berupa kelainan
laboratorium darah atau urine, atau kelainan radiologi.
2
b. LFG <60 mL/menit/1,73 m selama >3 bulan, dapat disertai atau tanpa disertai
kerusakan ginjal.
Diagnosis dari gagal ginjal kronis terdiri dari: anamnesis yang ditandai
seringnya berkemih pada malam hari, pergelangan kaki bengkak, lemah, lesu, mual,
muntah, nafsu makan turun, kram otot terutama malam hari, sulit tidur, bengkak
disekitar mata terutama pada bangun tidur, dan mata merah serta berair (uremic red
eye) karena deposit garam kalsiun fosfat yang dapat menyebabkan iritasi hebat pada
selaput lendir mata. Pemeriksaan fisik, seperti anemis, kulit gatal dan kering,
edema tungkai maupun palpebra, tanda bendungan paru, mata merah dan berair.
Diagnosis juga ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium terhadap gangguan
fungsi ginjal.
Gangguan fungsi ginjal kronis dapat dikelompokkan menjadi empat stadium
34
menurut tingkat keparahannya, yaitu:
a. Kondisi normal: Kerusakan ginjal dengan nilai GFR normal. Nilai GFR 60-89
2
ml/menit/1,73 m .
b. Stadium 1: Kerusakan ginjal ringan dengan penurunan nilai GFR, belum terasa
gejala yang mengganggu. Ginjal berfungsi 60-89%. Nilai GFR 60-89
2
ml/menit/1,73 m .
c. Stadium 2: Kerusakan sedang, masih bisa dipertahankan. Ginjal berfungsi 30-
2
59%. Nilai GFR 30-59 ml/menit/1,73 m .
d. Stadium 3: kerusakan beratsudah tingkat membahayakan. Ginjal berfungsi 15-
2
29%. Nilai GFR 15-29 ml/menit/1,73 m .
e. Stadium 4: Kerusakan parah, harus cuci ginjal. Fungsi ginjal kurang dari 15%.
2
Nilai GFR kurang dari 15 ml/menit/1,73 m .

Pada kasus gagal ginjal akut kondisi ginjal dapat dipulihkan kembali, hal ini
berbeda dengan kasus pada gagal ginjal kronik. Pada gagal ginjal kronik penderita
hanya dapat berusaha menghambat laju tingkat kegagalan fungsi ginjal tersebut, agar
tidak menjadi gagal ginjal terminal, suatu kondisi dimana ginjal sudah hampir tidak
dapat berfungsi lagi. Kondisi ini berlangsung secara perlahan dan sifatnya menahun,
dengan sedikit gejala pada awalnya, bahkan lebih sering penderita tidak merasakan
adanya gejala
Gagal Ginjal Akut
Gagal ginjal akut adalah sindroma yang ditandai oleh penurunan laju
filtrasi glomerulus secara mendadak dan cepat (hitungan jam-minggu) yang
mengakibatkan terjadinya retensi produk sisa nitrogen, seperti ureum dan
kreatinin.
Terdapat tiga kondisi yang dapat menyebabkan GGA:
a. GGA Prarenal
GGA prarenal diakibatkan oleh hipoperfusi ginjal (dehidrasi,
perdarahan, penurunan curah jantung, dan hipotensi oleh sebab lain)
b. GGA Renal
GGA renal diakibatkan kerusakan akut parenkim ginjal (obat, zat
kimia/toksin, iskemia ginjal, dan penyakit glomerular)
c. GGA Pascarenal
GGA pascarenal diakibatkan obstruksi akut traktus urinarius (batu
saluran kemih, hipertrofi prostat, keganasan ginekologis), ureter
terjahit.
Fase gagal ginjal akut adalah anuria (produksi urine <100 ml/24 jam,
oliguria
(produksi urine <400 ml/24 jam), poliuria (produksi urine >3500 ml/24
jam)
Pada kasus penderita gagal ginjal akut (GGA), ginjal akan berfungsi normal
kembali bila penyebabnya dapat diatasi, sehingga pengeluaran urin kembali
normal, dengan demikian keadaan fisik secara menyeluruh dapat pulih.

5. Obstruksi kandung kemih


6. Perforasi kandung kemih
7. Hematuria kandung kemih
8. Nyeri pinggang kronis
D.
E. Clinical Pathway
Faktor etiologi

BATU BULI

Stasis aliran
Hambatan RETENSI urin Iritasi mukosa Diskontinuitas
saluran urin URIN bladder jaringan lokal

peluang infeksi
Perubahan Kerusakan NYERI AKUT
Refluk urin bakteri meningkat
volume urin pembuluh darah

RISIKO
GANGGUAN hidroureter
INFEKSI Hematuria
ELIMINASI
URIN Produksi
Urin refluk Perdarahan Hb/nutrisi Suplai nutrisi
kegagalan ginjal ke pelvis berlebih menurun dalam darah
membuang limbah menurun
metabolik
Penekanan pada Oksihemoglobin
RISIKO
medula ginjal menurun KETIDAKSEIMB
SYOK
Sindrom ANGAN
uremia Suplai O2 NUTRISI:
Gangguan Penurunan
kasar KURANG DARI
fungsi ginjal eritropoetin
menurun KEBUTUHAN
urea keluar
TUBUH
bersama
Kerusakan sel- Produksi eritrosit
keringat
sel ginjal menurun ketidakseimbangan
suplai dan
Bekuan kebutuhan oksigen
GAGAL anemia
uremik pada
kulit GINJAL KETIDAK
Produksi Hb EFEKTIFAN
Bersifat PERFUSI
pruritus menurun
toksik bagi JARINGAN
tubuh PERIFER
KERUSAKAN Mudah lelah, letih
INTEGRITAS , lesu, pucat
Ureum bertemu
KULIT
dg HCl di
lambung Penurunan
aktivitas
MUAL
INTOLERANSI
AKTIVITAS
F. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Fokus
a. Data demografi
Secara otomatis, tidak ada faktor jenis kelamin dan usia yang
signifikan dalam proses pembentukan batu. Namun, angka kejadian
urolgitiasis dilapangan sering kali terjadi pada laki-laki dan pada masa
usia dewasa. Hal ini dimungkinkan karena pola hidup, aktifitas, dan
geografis. (Prabowo E, dan Pranata, 2014
b. Riwayat penyakit klien
Keluhan yang sering terjadi pada klien batu saluran kemih ialah nyeri
pada saluran kemih yang menjalar, berat ringannya tergantung pada
lokasi dan besarnya batu, dapat terjadi nyeri/kolik renal klien dapat
juga mengalami gangguan gastrointestinal dan perubahan. (Dinda,
2011
c. Keadaan umum
Pemeriksaan fisik pasien dengan BSK dapat bervariasi mulai tanpa
kelainan fisik sampai tanda-tanda sakit berat tergantung pada letak
batu dan penyulit yang ditimbulkan. Terjadi nyeri/kolik renal klien
dapat juga mengalami gangguan gastrointestinal dan perubahan.
d. Tanda-tanda vital
Kesadaran compos mentis, penampilan tampak obesitas, tekanan
darah 110/80 mmHg, frekuensi nadi 88x/menit, frekuensi nafas 20
kali/menit, suhu 36,2 C, dan Indeks Massa Tubuh (IMT) 29,3 kg/m2.
Pada pemeriksaan palpasi regio flank sinistra didapatkan tanda
ballotement (+) dan pada perkusi nyeri ketok costovertebrae angle
sinistra (+)
e. Pengkajian Pola
1) Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Kaji tentang Riwayat penyakit ginjal akut dan kronik, riwayat
infeksi saluran kemih, pajanan lingkungan terhadap zat-zat kimia,
keturunan, alkoholik, merokok, tipe dan jumlah persalinan untuk
klien wanita
2) Pola nutrisi metabolic
Kaji tentang mual muntah, demam, diet tinggi purin oksalat atau
fosfat, Kebiasaan mengkonsumsi air minum, distensi abdominal,
penurunan bising usus, alkoholik
3) Pola eliminasi
Perubahan pola eliminasi: urin pekat, penurunan output, adanya
hematuria, rasa terbakar dan dorongan berkemih, riwayat
obstruksi, penurunan hantaran urin
4) Pola aktivitas dan latihan
Kaji tentang perkejaan, pola aktivitasnya, keterbatasan aktivitas,
gaya hidup olahraga, gangguan tidur
5) Pola tidur dan istirahat
Gangguan tidur akibat rasa nyeri., demam dan menggigil
6) Pola persepsi kognitif
Nyeri: nyeri yang khas adalah nyeri akut tidak hilang dengan
posisi atau tindakan lain, nyeri tekan pada area ginjal pada
palpasi, pengetahuan tentang terjadinya pembentukan batu,
penanganan tanda dan gejala yang muncul
7) Pola reproduksi dan seksual
Keluhan dalam aktivitas seksual sehubungan dengan adanya nyeri
pada saluran kemih
8) Pola persepsi dan konsep diri
Perubahan gaya hidup karena penyakit
9) Pola mekanisme copying dan toleransi terhadap stress
Adakah pasien tampak cemas, bagaimana klien mengatasi
masalah yang muncul.
f. Pemeriksaan fisik per-sistem
1) Sistem persyarafan, tingkat kesadaran, GCS, reflex bicara, compos
mentis.
2) Sistem penglihatan, termasuk penglihatan pupil isokor, dengan
reflex cahaya (+)
3) Sistem pernafasan, nilai frekuensi nafas, kualitas, suara dan jalan
nafas. Atau tidak mengeluh batuk atau sesak. Tidak ada riwayat
bronchitis, TB, asma, empisema, pneumonia
4) Sistem pendengaran, tidak ditemukan gangguan pada sistem
pendengaran
5) Sistem pencernaan, Mulut dan tenggorokan: Fungsi mengunyah
dan menelan baik, Bising usus normal
6) Sistem abdomen, adanya nyeri tekan abdomen, teraba massa
keras atau batu, nyeri ketok pada pinggang.
7) Sistem reproduksi tidak ada masalah atau gangguan pada sistem
reproduksi.
8) Sistem kardiovaskuler, tidak ditemukan gangguan pada sistem
kardiovaskular.
9) Sistem integumen, hangat, kemerahan, atau pucat.
10) Sistem muskuluskletal, mengalami intoleransi aktivitas dan
hambatan mobilitas fiisk karena nyeri yang dirasakan yang
melakukan mobilitas fisik tertentu.
11) Sistem perkemihan, adanya oliguria, disuria, gross hematuria,
menjadi ciri khas dari urolithiasis, nyeri yang hebat, nyeri ketok
pada pinggang, distensi vesika pada palpasi vesika
(vesikolithiasis/ urolithiasis, nyeri yang hebat, nyeri ketok pada
pinggang, distensi vesika pada palpasi vesika
(vesikolithiasis/uretrolithiasis), teraba massa keras/batu
(uretrolithiasis). nilai frekuensi buang air kecil dan jumlahnya,
Gangguan pola berkemih. (Prabowo E, dan Pranata, 2014).
g. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan darah lengkap,
kimia darah (ureum, kreatinin, asam urat), dan urin lengkap.
Hasilnya ditemukan peningkatan kadar leukosit 11.700/l
(normalnya: 5000- 10.000/l); kimia darah tidak ditemukan
peningkatan kadar ureum, kreatinin, maupun asam urat; urin
lengkap ditemukan warna keruh, epitel (+), sedimen (+),
peningkatan kadar eritrosit 5-7/LPB (normalnya: 0-1/LPB),
leukosit 10-11/LPB (0-5/LPB).

a
G. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yangs ering muncul pada kasus dengan batu buli
adalah sebagai berikut:
1. B1 (Breathing)
-
2. B2 (Blood)
a. Intoleransi aktivitas
b. Risiko syok
c. Risiko infeksi
3. B3 (Brain)
a. Nyeri akut
4. B4 (Bladder)
a. Retensi urin
b. Gangguan eliminasi urin
c. Kerusakan integritas kulit
5. B5 (Bowel)
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
b. Mual
6. B6 (Bone)
-
H. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut
No.Dx Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri Akut Definisi : Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan aktual ataupun potensial atau yang
digambarkan sebagai kerusakan (Internasional Assosiation fot the Study
of Pain; awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga
berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau diprediksi.

Tidak Kadang- Secara


Jarang
pernah kadang Sering konsisten
menunju
No. NOC No.Indikator Kriteria Hasil menunjuk menunjukk menunjukkan menunjukk
kkan
kan an an

1 2 3 4 5

1605 160502 Mengenali kapan nyeri terjadi

Kontrol 160501 Menggambarkan faktor penyebab


Nyeri
Menggunakan tindakan
160504
pengurangan nyeri tanpa analgesik
Menggunakan analgesik yang di
160505
rekomendasikan
160513 Melaporkan perubahan terhadap
gejala nyeri pada profesional
kesehatan
Mengenali apa yang terkait dengan
160511 gejala nyeri

Cukup
Berat Sedang Ringan Tidak ada
berat
1 2 3 4 5

2102 Tingkat 210201 Nyeri yang dilaporkan


nyeri
210204 Panjangnya periode nyeri

Menggosok area yang terkena


210221
dampak
210217 Mengerang dan menangis

210206 Ekspresi nyeri wajah

210208 Tidak bisa beristirahat

210224 Mengerinyit

210225 Mengeluarkan keringat berlebih

210218 Mondar mandir

210219 Focus menyempit

210209 Ketegangan otot

210215 Kehilangan nafsu makan


210227 Mual

210228 Intoleransi makanan

No. NIC Intervensi Rasional

1400 Manajeme 1. Lakukan pengkajian yang komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, onsert/durasi, Membantu pasien untuk
n nyeri frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya dan faktor pencetus. mengenal nyeri dan
2. Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai ketidaknyamanan terutama pada merek yang mengurangi nyerinya
tidak dapat berkomunikasi secara efektif dalam bentuk
3. Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemamtauan yang ketat nonfamakologis maupun
4. Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai nyeri farmakologis.
5. Tentukan akibat dari pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup pasien (misalnya: tidur, nafsu
makan, performa kerja, perasaaan, pengertian, hubungan, tanggung jawab peran)
2. 6. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan
dan antisipasi akan ketidaknyamanan akibat prosedur.
7. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
8. Ajarkan teknik non farmakologis (seperti: biofeeback, TENS, hypnosis, relaksasi,bimbingan
antisipatif, terapi music, terapi bermain, terapi aktifitas, akupresur, aplikasi panas/dingin dan
pijatan)
9. Berikan penurun nyeri yang optimal dengan resepan analgesik dari dokter.
6482 Manajeme 1. Tentukan tujuan pasien dan keluarga dalam mengelola lingkungan dan kenyamanan yang Memanipulasi lingkungan
n optimal. pasien untuk mendapatkan
lingkungan 2. Hindari gangguan yang tidak perlu dan berikan waktu untuk beristirahat kenyamanan yang optimal
: 3. Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung
4. Sediakan lingkungan yang aman dan bersih
kenyaman
5. Pertimbangkan sumber-sumber ketidaknyamanan, seperti balutan lembab, posisi selang,
an
balutan yang tertekan, seprei kusut, maupun lingkungan yang menggangggu.
6. Posisikan pasien untuk memfasilitasi kenyamanan
Definisi: pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan dengan kerusakan
jaringan atau potensial. Atau digambarkan sebagai suatu kerusakan (Internasional
Nyeri Kronis Assosiation fot the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas
ringan hingga berat, terjadi konstan atau berulang tanpa akhir yang dapat diantisipasi
atau diprediksi dan berlangsung lebih dari tiga (>3) bulan.

Sangat Banyak Cukup Sedikit Tidak


menyimpang menyimpang menyimpang menyimpang menyimpang
No. NOC No. indikator Kriteria Hasil dari rentang dari rentang dari rentang dari rentang dari rentang
normal normal normal normal normal

1 2 3 4 5

Nyeri: 210127 ketidaknyamanan


Efek yang
menggang Gangguan hubungan
210101
gu interpersonal

Gangguan
210102
penampilan peran

Gangguan
210108
konsentrasi

Gangguan dalam
210128
perasaan mengontrol

210112 Interupsi pada saat


tidur
Gangguan dalam
210119
rutinitas

Gangguan
210113
pergerakan fisik

Gangguan pada
210129
aktifitas sehari-hari

Kehilangan nafsu
210115
makan

Gangguan
210117
elimminassi urin

No. NIC Intervensi Rasional

1400 Manajeme 10. Lakukan pengkajian yang komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, onsert/durasi, Membantu pasien untuk
n nyeri frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya dan faktor pencetus. mengenal nyeri dan
11. Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai ketidaknyamanan terutama pada merek mengurangi nyerinya dalam
yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif bentuk nonfamakologis
12. Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemamtauan yang ketat maupun farmakologis.
13. Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai nyeri
14. Tentukan akibat dari pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup pasien (misalnya: tidur,
nafsu makan, performa kerja, perasaaan, pengertian, hubungan, tanggung jawab peran)
15. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan
dan antisipasi akan ketidaknyamanan akibat prosedur.
16. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
17. Ajarkan teknik non farmakologis (seperti: biofeeback, TENS, hypnosis, relaksasi,bimbingan
antisipatif, terapi music, terapi bermain, terapi aktifitas, akupresur, aplikasi panas/dingin dan
pijatan)
18. Berikan penurun nyeri yang optimal dengan resepan analgesik dari dokter.
6482 Manajeme 7. Tentukan tujuan pasien dan keluarga dalam mengelola lingkungan dan kenyamanan yang Memanipulasi lingkungan
n optimal. pasien untuk mendapatkan
lingkungan 8. Hindari gangguan yang tidak perlu dan berikan waktu untuk beristirahat kenyamanan yang optimal
: 9. Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung
10. Sediakan lingkungan yang aman dan bersih
kenyaman
11. Pertimbangkan sumber-sumber ketidaknyamanan, seperti balutan lembab, posisi selang,
an
balutan yang tertekan, seprei kusut, maupun lingkungan yang menggangggu.
12. Posisikan pasien untuk memfasilitasi kenyamanan

2. Kerusakan integritas kulit

No.Dx Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan integritas kulit Definisi : Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis.

Sangat Banyak Cukup Sedikit Tidak


No. NOC No.Indikator Kriteria Hasil terganggu terganggu terganggu terganggu terganggu

1 2 3 4 5

1101 Integritas 110101 Suhu kulit


Jaringan: kulit
110102 sensasi
& membrane
mukosa 110103 Elastisitas
110104 Hidrasi

110106 Keringat

110108 Tekstur

110109 Ketebalan

110113 Integritas kulit

No. NIC Intervensi Rasional

1720 Pengecekan 19. Periksa kulit dan selaput lender terkait dengan adanya kemerahan, kehangatan, ekstrim, Membantu klien
kulit edema, atau drainase mengumpulkan dan
20. Amati warna, kehangatan, bengkak, pulsasi, tekstur, edema, dan ulserasi pada ekstremitas menganalisis data klien
21. Monitor kulit untuk adanya ruam dan lecet untuk menjaga kulit dan
22. Monitor kulit untuk adanya kekeringan yang berlebihan dan kelembaban
integritas membrane
23. Monitor infeksi, terutama dari daerah edema
24. Dokumentasikan perubahan membrane mukosa mukosa
25. Ajarkan anggota keluarga/pemberu asuhan mengenai tanda-tanda kerusakan kulit, dengan
tepat
Tidak ada Terbatas Sedang Besar Sangat besar
No. NOC No. indikator Kriteria Hasil
1 2 3 4 5

1102 Penyembuhan Memperkirakan [kondisi]


110201
Luka: Primer kulit
100803 Memperkirakan [kondisi]
tepi luka
100804 Pembentukan bekas luka

No. NIC Intervensi Rasional

3660 Perawatan 1. Angkat balutan dan plester perekat Membantu klien mencegah
luka 2. Cukur rambut disekitar daerah yang terkena, sesuai kebutuhan komplikasi luka dan
3. Monitor karakteristik luka, termasuk drainase, warna, ukuran, dan bau peningkatan penyembuhan
4. Ukur luas luka yang sesuai
luka
5. Bersihkan dengan normal saline atau pembersih yang tidak beracun dengan tepat
6. Tepatkan area yang terkena pada air yang mengalir, dengan tepat
7. Berikan perawatan insisi pada luka, yang diperlukan
8. Oleskan salep yang sesuai dengan kulit/lesi
9. Berikan balutan yang sesuai dengan jenis luka
10.Ganti balutan sesuai dengan jumlah eksudat dan drainase
11.Periksa luka setiap kali perubahan baluta
12.Bandingkan dan catat setiap perubahan luka
13.Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengenal tanda dan gejala infeksi
14.Dokumentasikan lokasi luka, ukuran, dan tampilan
DAFTAR PUSTAKA

Baradero, M. et al. 2007. Seri Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan


Sistem
Reproduksi & Seksualitas. Jakarta: EGC.

Basler, J. 2007. Bladder Stones. Emedicine Journal. Sited


by http://www.emedicine.com. [diakses pada 8 November 2015].

De Jong, W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:EGC.

Marszalek, M. et al. 2009. Transurethral Resection of the Prostate.


http://eu- acme.org/europeanurology/upload_articles/Marszalek.pdf.
[diakses pada 8
November 2015].

NANDA. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-


2014. Jakarta: EGC.

Price, S & Wilson, L, 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit.
Edisi 6. Jakarta: EGC.

Purnomo, B. 2011. Dasar-dasar Urologi,. Jakarta: Sagung Seto.

Smeltzer, SC., Bare B.G. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Brunner


dan
Suddarth. Jakarta : EGC.

Sudoyo, A. W. et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:


Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Sjamsuhidajat, R. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Quint Health Care (QHC). tanpa tahun. Transurethral Resection of


Prostate (TURP). http://www.qhc.on.ca/photos/custom/QHCTransurethral
%20Resection%2
0of%20Prostate%20(TURP).pdf. [diakses pada 8 November 2015].

Wibowo, D dan Paryana, W. 2009. Anatomi Tubuh Manusia. Yogyakarta:


Graha
Ilmu.

Wilkison, J. M. dan Ahern. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan


Diagnosis
NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.