Anda di halaman 1dari 64

ASUHAN KEPERAWATAN

LANSIA DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL

Dosen Pembimbing : Shanti Rosmaharani, S.Kep.,Ns.,M.Kes

Di Susun Oleh Kelompok 1 :

1. Aan Anisyah K.U (151001001)


2. Adinda Vici Pandulum (151001002)
3. Benny wibowo (151001006)
4. Daniel Tanaem (151001007)
5. Dia Fitriana (151001009)
6. Faridatul Umroh (151001014)
7. Ferdi Yuswan (151001015)
8. Galih Prasetyo (151001017)
9. Hasri Provitasari (151001019)
10. Irma Maulinda (151001021)
11. Makfiatul Abadyah (151001023)
12. Mufarikha Tri Wahyuni (151001026)
13. Mufid Asadullah (151001027)
14. Nelam Anggaini (151001029)

PRODI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

STIKES PEMKAB JOMBANG TAHUN 2017/2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta
karunianya-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat pada
waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah komunitas ASUHAN
KEPERAWATAN LANSIA DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL

Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses pembelajaran dan
dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak, atas bantuan, dukungan dan doanya.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca makalah ini,
sehingga dapat memperlancar dan mempermudah proses belajar mengajar. Makalah ini
mungkin kurang sempurna, untuk itu kami mengharap kritik dan saran untuk penyempurnaan
makalah ini.

Jombang,13 Oktober 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER......................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR.................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang............................................................................... 4
1.2Rumusan Masalah.......................................................................... 4
1.3Tujuan............................................................................................ 4
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Ida Jean Orlando............................................................. 5
2.2 Teori Orlando............................................................................. 6
2.3 Asumsi dari teory orlando......................................................... 7
2.4 Penerapan Teori Dalam Dunia Keperawatan............................................... 8
2.5 Analisa teory Orlando................................................................ 9

2.6 Pengertian keperawatan Komunitas ......................................... 11

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 13

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Psikogeriatri atau psikiatri adalah cabang ilmu kedokteran yang memperhatikan
pencegahan, diagnosis, dan terapi gangguan fisik dan psikologis atau psikiatrik pada lanjut
usia. Saat ini disiplin ini sudah berkembang menjadi suatu cabang psikiatrik, analaog dengan
psikiatrik anak (Brocklehurts, Allen, 1987). Diagnosis dan terapi gangguan mental pada
lanjut usia memerlukan pengetahuan khusus, karena kemungkinan perbedaan dalam
manisfestasi klinis, pathogenesis dan patofisiologi gangguan mental antara pathogenesis
dewasa muda dan lanjut usia (Weinberg, 1995; Kolb-Brodie, 1982). Faktor penyulit pada
pasien lanjut usia juga perlu dipertimbangkan, antara lain sering adanya penyakit dan
kecacatan medis kronis penyerta, pemakaian banyak obat (polifarmasi) dan peningkatan
kerentanan terhadap gangguan kognitif (Weinberg, 1995; Gunadi, 1984).
Sehubungan dengan meningkatnya populasi usia lanjut, perlu mulai dipertimbangkan
adanya pelayanan psikogeriatrik di rumah sakit yang cukup besar. Bangsal akut, kronis dan
day hospital, merupakan tiga layanan yang mungkin harus sudah mulai difikirkan
(Brocklehurts, Allen, 1987). Tentang bagaimana kerjasama antara bidang psikogeriatrik dan
geriatrik dapat dilihat pada bab mengenai pelayanan kesehatan pada usia lanjut.

1.1 Rumusan Masalah


1) Bagaimanakah asuhan keperawatan lansia yang mengalami gangguan psikologi dan
psikososial?

1.4 Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
1) Mengetahui dan mempelajari tentang asuhan keperawatan lansia yang mengalami
gangguan psikososial.

1.3.2. Tujuan Khusus


1) Mengetahui tentang Konsep Teori Lansia
2) Mengetahui tentang Teori Kejiwaan Lansia

4
3) Mengetahui tentang Teori Psikologi dan Psikososial.
4) Mengetahui tentang Teori Psikososial Lansia
5) Mengetahui tentang Macam-macam Masalah Keperawatan Psikologi dan
Psikososial
6) Mengetahui tentang Tahap-tahap Asuhan Keperawatan Lansia

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Teori Lansia
A. Batasan Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Lanjut Usia meliputi:
a. Usia pertengahan (Middle Age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (Elderly) ialah kelompok usia antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (Old) ialah kelompok usia antara 75 dan 90 tahun.
d. Usia sangat tua (Very Old) ialah kelompok di atas usia 90 tahun.
B. Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang
telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa kanak-kanak, masa dewasa dan masa
tua (Nugroho, 1992). Tiga tahapan ini berbeda baik secara biologis maupun secara
psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun
secara psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut putih,
penurunan pendengaran, penglihatan menurun, gerakan lambat, kelainan berbagai
fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat.

2.2 Teori Kejiwaan Lansia


1) Aktifitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung.
Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut
banyak dalam kegiatan sosial. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup
dari lanjut usia. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap
stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.
2) Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini
merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang
terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personaliti yang
dimiliki.

6
3) Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-
angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan
interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga
sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss), yakni:
Kehilangan Peran
Hambatan Kontak Sosial
Berkurangnya Kontak Komitmen

2.3 Teori Psikologi


1) Teori Tugas Perkembangan
Havigurst (1972) menyatakan bahwa tugas perkembangan pada masa tua antara lain
adalah:
a. Menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan
b. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan
c. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
d. Membentuk hubungan dengan orang-orang yang sebaya
e. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
f. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

Selain tugas perkembangan diatas, terdapat pula tugas perkembangan yang spesifik yang
dapat muncul sebagai akibat tuntutan:
a. Kematangan fisik
b. Harapan dan kebudayaan masyarakat
c. Nilai-nilai pribadi individu dan aspirasi
Menurut teori ini, setiap individu memiliki hirarki dari dalam diri, kebutuhan yang
memotivasi seluruh perilaku manusia (Maslow 1954).

2) Teori Individual Jung


Carl Jung (1960) menyusun sebuah teori perkembangan kepribadian dari seluruh fase
kehidupan yaitu mulai dari masa kanak-kanak, masa muda dan masa dewasa muda, usia

7
pertengahan sampai lansia. Kepribadian individu terdiri dari Ego, ketidaksadaran seorang
dan ketidaksadaran bersama. Menurut teori ini kepribadian digambarkan terhadap dunia
luar atau kearah subyektif. Pengalaman-pengalaman dari dalam diri (introvert).
Keseimbangan antara kekuatan ini dapat dilihat pada setiap individu dan merupakan hal
yang paling penting bagi kesehatan mental.

3) Teori Delapan Tingkat Kehidupan


Secara Psikologis, proses menua diperkirakan terjadi akibat adanya kondisi dimana
kondisi psikologis mencapai pada tahap-tahap kehidupan tertentu. Ericson (1950) yang
telah mengidentifikasi tahap perubahan psikologis (delapan tingkat kehidupan)
menyatakan bahwa pada usia tua, tugas perkembangan yang harus dijalani adalah untuk
mencapai keeseimbangan hidup atau timbulnya perasaan putus asa. Peck (1968)
menguraikan lebih lanjut tentang teori perkembangan Erikson dengan mengidentifikasi
tugas penyelarasan integritas diri dapat dipilih dalam tiga tingkat yaitu : pada perbedaan
ego terhadap peran pekerjaan preokupasi, perubahan tubuh terhadap pola preokupasi, dan
perubahan ego terhadap ego preokupasi.

Pada tahap perbedaan ego terhadap peran pekerjaan preokupasi, tugas perkembangan
yang harus dijalani oleh lansia adalah menerima identitas diri sebagai orang tua dan
mendapatkan dukungan yang adekuat dari lingkungan untuk menghadapi adanya peran
baru sebagai orang tua (preokupasi). Adanya pensiun dan atau pelepasan pekerjaan
merupakan hal yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang menyakitkan dan dapat
menyebabkan perasaan penurunan harga diri dari orang tua tersebut.

2.4 Teori Psikososial Lansia


1. Definisi
Perkembangan psikososial lanjut usia adalah tercapainya integritas diri yang utuh.
Pemahaman terhadap makna hidup secara keseluruhan membuat lansia berusaha
menuntun generasi berikut (anak dan cucunya) berdasarkan sudut pandangnya. Lansia
yang tidak mencapai integritas diri akan merasa putus asa dan menyesali masa lalunya
karena tidak merasakan hidupnya bermakna (Anonim, 2006). Sedangkan menurut

8
Erikson yang dikutip oleh Arya (2010) perubahan psikososial lansia adalah perubahan
yang meliputi pencapaian keintiman, generatif dan integritas yang utuh.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Psikososial Lansia


Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan psikososial lansia
menurut Kuntjoro (2002), antara lain:
1) Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi
fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga
berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin
rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia
mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan
gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat
menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan
lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan
kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau
tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir
fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya
makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
2) Penurunan Fungsi dan Potensial Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan
berbagai gangguan fisik seperti:
a. Gangguan jantung
b. Gangguan metabolisme, misal diabetes mellitus
c. Vaginitis
d. Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi
e. Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat
kurang
f. Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer

9
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain:
a. Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.
b. Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi
dan budaya .
c. Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
d. Pasangan hidup telah meninggal
e. Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya
misalnya cemas, depresi, pikun dsb.
3) Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan
fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi,
pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan
perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif)
meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan,
tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami
perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia.
Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia
sebagai berikut:
a. Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak
banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
b. Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada
kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia
tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya
c. Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya
sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu
harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup
meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika
tidak segera bangkit dari kedukaannya.
d. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah
memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan

10
yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan
kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
e. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini umumnya
terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung
membuat susah dirinya.
4) Perubahan Yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal
pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun
dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan
sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga
diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model
kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.

Bagaimana menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah lansia?
Jawabannya sangat tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa
pensiun. Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa
senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap
pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi
masing-masing individu, baik positif maupun negatif.
5) Perubahan Dalam Peran Sosial Di Masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan
sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia.
Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan
kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya
dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang
bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika
keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain
dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung
diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek dan menangis
bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.

Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang


memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat beruntung
11
karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat
umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan
pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara
karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan
pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali
menjadi terlantar. Disinilah pentingnya adanya Panti Werdha sebagai tempat untuk
pemeliharaan dan perawatan bagi lansia di samping sebagai long stay rehabilitation
yang tetap memelihara kehidupan bermasyarakat. Disisi lain perlu dilakukan
sosialisasi kepada masyarakat bahwa hidup dan kehidupan dalam lingkungan sosial
Panti Werdha adalah lebih baik dari pada hidup sendirian dalam masyarakat sebagai
seorang lansia

2.5 Macam-macam Masalah Keperawatan Psikososial


1. Depresi
Pengertian
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan
dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada
pola tidur dan nafsu rnakan, psikomotor, konsentrasi, keielahan, rasa putus asa dan tak
berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kap'an dan Sadock, 1998). Depresi adalah suatu
perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa
serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam (Nugroho,
2000). Menurut Hudak & Gallo (1996), gangguan depresi merupakan keluhan umum
pada lanjut usia dan merupakan penyebab tindakan bunuh diri.

Depresi adalah gangguan alam perasaan yang ditandai oleh kesedihan, harga diri
rendah, rasa bersalah, putus asa, perasaan kosong (Keliat, 1996). Sedangkan menurut
Hawaii (1996;, depresi adalah bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (mood),
yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketidakgairahan hidup, perasaan tidak
berguna, dan putus asa. Depresi adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang
berkepanjangan (Stuart dan Sundeen, 1998).

12
Tanda Dan Gejala Depresi

Perilaku yang berhubungan dengan depresi menurut Kelliat (1996) meliputi beberapa
aspek seperti:
1. Afektif : Kemarahan, ansietas, apatis, kekesalan, penyangkalan perasaan,
kemurungan, rasa bersalah, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesepian, harga diri
rendah, kesedihan.
2. Fisiologik : Nyeri abdomen, anoreksia, sakit punggung, konstipasi, pusing,
keletihan, gangguan pencernaan, insomnia, perubahan haid, makan
berlebihan/kurang, gangguan tidur, dan perubahan berat badan.
3. Kognitif : Ambivalensi, kebingungan, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan
minat dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, mencela diri sendiri, pikiran yang
destruktif tentang diri sendiri, pesimis, ketidakpastian.
4. Perilaku : Agresif, agitasi, alkoholisme, perubahan tingkat aktivitas, kecanduan
obat, intoleransi, mudah tersinggung, kurang spontanitas, sangat tergantung,
kebersihan diri yang kurang, isolasi sosial, mudah menangis, dan menarik diri.

Menurut PPDGJ-III (Maslim,1997), tingkatan depresi ada 3 berdasarkan gejala-


gejalanya yaitu:
a. Depresi Ringan
Gejala :
a) Kehilangan minat dan kegembiraan
b) Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan
menurunnya aktivitas.
c) Kosentrasi dan perhatian yang kurang
d) Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang
b. Depresi Sedang
Gejala :
a) Kehilangan minat dan kegembiraan
b) Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan
menurunnya aktivitas.
c) Kosentrasi dan perhatian yang kurang

13
d) Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang
e) Pandangan masa depan yang suram dan pesimis
c. Depresi Berat
Gejala :
a) Mood depresif
b) Kehilangan minat dan kegembiraan
c) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa
lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.
d) Konsentrasi dan perhatian yang kurang
e) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
f) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
g) Perbuatan yang membahayakan dirinya sendiri atau bunuh diri
h) Tidur terganggu
i) Disertai waham, halusinasi
j) Lamanya gejala tersebut berlangsung selama 2 minggu

Karakteristik Depresi Pada Lanjut Usia


Meskipun depresi banyak terjadi dikalangan lansia, depresi ini sering di
diagnosis salah atau diabaikan. Rata-rata 60-70% lanjut usia yang mengunjungi
praktik dokter umum adalah mereka dengan depresi, tetapi ; acapkali tidak terdeteksi
karena lansia lebih banyak memfokuskan pada keluhan badaniah yang sebetulnya ;
adalah penyerta dari gangguan emosi (Mahajudin, 2007).
Menurut Stanley & Beare (2007), sejumlah faktor yang menyebabkan keadaan
ini, mencakup fakta bahwa depresi pada lansia dapat disamarkan atau tersamarkan
oleh gangguan fisik lainnya (masked depression). Selain itu isolasi sosial, sikap orang
tua, penyangkalan pengabaian terhadap proses penuaan normal menyebabkan tidak
terdeteksi dan tidak tertanganinya gangguan ini. Depresi pada orang lanjut usia
dimanifestasikan dengan adanya keluhan tidak merasa berharga, sedih yang
berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa kosong, tidak ada harapan, menuduh
diri, ide-ide pikiran bunuh diri dan pemilihan diri yang kurang bahkan penelantaran
diri (Wash, 1997).

14
Samiun (2006) menggambarkan gejala-gejala depresi pada lansia :
1. Kognitif
Sekurang-kurangnya ada 6 proses kognif pada lansia yang menunjukkan gejala
depresi. Pertama, individu yang mengalami depresi memiliki self-esteem yang
sangat rendah. Mereka berpikir tidak adekuat, tidak mampu, merasa dirinya tidak
berarti, merasa rendah diri dan merasa bersalah terhadap kegagalan yang dialami.
Kedua, lansia selalu pesimis dalam menghadapi masalah dan segala sesuatu yang
dijalaninya menjadi buruk dan kepercayaan terhadap dirinya (self-confident) yang
tidak adekuat. Ketiga, memiliki motivasi yang kurang dalam menjalani hidupnya,
selalu meminta bantuan dan melihat semuanya gagal dan sia-sia sehingga merasa
tidak ada gunanya berusaha. Keempat, membesar-besarkan masalah dan selalu
pesimistik menghadapi masalah. Kelima, proses berpikirnya menjadi lambat,
performance intelektualnya berkurang. Keenam, generalisasi dari gejala depresi,
harga diri rendah, pesimisme dan kurangnya motivasi.
2. Afektif
Lansia yang mengalami depresi merasa tertekan , murung, sedih, putus asa,
kehilangan semangat dan muram. Sering merasa terisolasi, ditolak dan tidak
dicintai. Lansia yang mengalami depresi menggambarkan dirinya berada dalam
lubang gelap yang tidak dapat terjangkau dan tidak dapat keluar dari sana.
3. Somatik
Masalah somatik yang sering dialami lansia yang mengalami depresi seperti pola
tidur yang terganggu ( insomnia ), gangguan pola makan dan dorongan seksual
yang berkurang. Lansia lebih rentan terhadap penyakit karena sistem kekebalan
tubuhnya melemah, selain karena aging proces juga karena orang yang mengalami
depresi menghasilkan sel darah putih yang kurang (Schleifer et all, 1984 ; Samiun,
2006).
4. Psikomotor
Gejala psikomotor pada lansia depresi yang dominan adalah retardasi motor. Sering
duduk dengan terkulai dan tatapan kosong tanpa ekspresi, berbicara sedikit dengan
kalimat datar dan sering menghentikan pembicaraan karena tidak memiliki tenaga
atau minat yang cukup untuk menyelesaikan kalimat itu. Dalam pengkajian depresi

15
pada lansia, menurut Sadavoy et all (2004) gejala-gejala depresi dirangkum dalam
SIGECAPS yaitu gangguan pola tidur (sleep) pada lansia yang dapat berupa
keluhan susah tidur, mimpi buruk dan bangun dini dan tidak bisa tidur lagi,
penurunan minat dan aktifitas (interest), rasa bersalah dan menyalahkan diri
(guilty), merasa cepat lelah dan tidak mempunyai tenaga (energy), penurunan
konsentrasi dan proses pikir (concentration), nafsu makan menurun (appetite),
gerakan lamban dan sering duduk terkulai (psychomotor) dan penelantaran diri
serta ide bunuh diri (suicidaly)

Penyebab Depresi
Menurut Stuart dan Sundeen ( 1998 ), faktor penyebab depresi ialah :
a. Faktor Predisposisi
1. Faktor genetik, dianggap mempengaruhi transmisi gangguan afektif melalui
riwayat keluarga dan keturunan.
2. Teori agresi menyerang kedalam, menunjukkan bahwa depresi terjadi karena
perasaan marah yang ditunjukkan kepada diri sendiri.
3. Teori kehilangan obyek, menunjuk kepada perpisahan traumatika individu
dengan benda atau yang sangat berarti.
4. Teori organisasi kepribadian, menguraikan bagaimana konsep diri yang negatif
dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang
terhadap stressor.
5. Model kognitif, menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang di
dominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri sesorang, dunia seseorang
dan masa depan seseorang.
6. Model ketidakberdayaan yang dipelajari ( learned helplessness ), menunjukkkan
bukan semata-mata trauma menyebabkan depresi tetapi keyakinan bahwa
seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang penting dalam
kehidupannya, oleh karena itu ia mengulang respon yang tidak adaptif.
7. Model perilaku, berkembang dari teori belajar sosial, yang mengasumsi
penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif dalam berinteraksi
dengan lingkungan.

16
8. Model biologik, menguraikan perubahan kimia dalam tubuh yang terjadi selama
depresi, termasuk definisi katekolamin, disfungsi endokri, hipersekresi kortisol,
dan variasi periodik dalam irama biologis.

b. Stresor Pencetus
Ada 4 sumber utama stresor yang dapat mencetuskan gangguan alam perasaan (
depresi ) menurut Stuart dan Sundeen ( 1998 ), yaitu :
1. Kehilangan keterikatan yang nyata atau dibayangkan, termasuk kehilangan cinta
seseorang, fungsi fisik, kedudukan atau harga diri. Karena elemen aktual dan
simbolik melibatkan konsep kehilangan, maka persepsi seseorang merupakan hal
sangat penting.
2. Peristiwa besar dalam kehidupan, hal ini sering dilaporkan sebagai pendahulu
episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah yang
dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
3. Peran dan ketegangan peran telah dilaporka mempengaruhi perkembangan
depresi, terutama pada wanita.
4. Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik.
Seperti infeski, neoplasma, dan gangguan keseimbangan metabolik, dapat
mencentuskan gangguan alam perasaan. Diantara obat-obatan tersebut terdapat
obat anti hipertensi dan penyalahgunaan zat yang menyebabkan kecanduan.
Kebanyakan penyakit kronik yang melemahkan tubuh juga sering disertai
depresi.

Menurut Townsed (1998), penyebab depresi adalah gabungan dari faktor predisposisi
(teori biologis terdiri dari genetik dan biokimia), dan faktor pencetus (teori psikososial
terdiri dari psikoanalisis, kognitif, teori pembelajaran, teori kehilangan objek).
a. Penyebab Depresi Pada Lanjut Usia
Depresi pada lansia merupakan permasalahan kesehatan jiwa (mental health)
yang serius dan kompleks, tidak hanya dikarenakanaging process tetapi juga faktor
lain yang saling terkait. Sehingga dalam mencari penyebab depresi pada lansia

17
harus dengan multiple approach. Menurut Samiun (2006) ada 5 pendekatan yang
dapat menjelaskan terjadinya depresi pada lansia yaitu :
1. Pendekatan Psikodinamik
Salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan mencintai dan dicintai, rasa
aman dan terlindung, keinginan untuk dihargai, dihormati dan lain-lain. Menurut
Hawari (1996), seseorang yang kehilangan akan kebutuhan afeksional tersebut
(loss of love object) dapat jatuh dari kesedihan yang dalam. Sebagai contoh
seorang kehilangan orang yang dicintai (terhadap suami atau istri yang
meninggal), kehilangan pekerjaan/jabatan dan sejenisnya akan dan menyebabkan
orang itu mengalami kesedihan yang mendalam, kekecewaan yang diikuti oleh
rasa sesal, bersalah dan seterusnya, yang pada gilirannya orang akan jatuh dalam
depresi.

Freud mengemukakan bahwa depresi terjadi sebagai reaksi terhadap


kehilangan. Perasaan sedih dan duka cita sesudah kehilangan objek yang dicintai
(loss of love object), tetapi seringkali mengalami perasaan ambivalensi terhadap
objek tersebut (mencintai tetapi marah dan benci karena telah meninggalkan).
Orang yang mengalami depresi percaya bahwa intropeksi merupakan satu-
satunya cara ego untuk melepaskan suatu objek, sehingga sering mengritik,
marah dan menyalahkan diri karena kehilangan objek tadi (Kaplan et all, 1997).
Depresi yang terjadi pada lanjut usia adalah dampak negatif kejadian penurunan
fungsi tubuh dan perubahan yang terjadi terutama perubahan psikososial.
Perubahan-perubahan tersebut diatas seringkali menjadi stresor bagi lanjut usia
yang membutuhkan adaptasi biologis dan biologis. Menurut Maramis (1995),
pada lanjut usia permasalahan yang menarik adalah kurangnya kemampuan
dalam beradaptasi secara psikologis terhadap perubahan yang terjadi pada
dirinya. Penurunan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dan stres
lingkungan sering menyebabkan depresi.

Strategi adaptasi yang seringkali digunakan lansia yang mengalami depresi


adalah strategi pasif (defence mcanism) seperti menghindar, menolak, impian,
displacement dan lain-lain (Coyne ett all, 1981 ; Samiun, 2006). Hubungan
stress dan kejadian depresi seringkali melibatkan dukungan sosial (social
18
support) yang tersedia dan digunakan lansia dalam menghadapi stresor. Ada
bukti bahwa individu yang memiliki teman akrab dan dukungan emosional yang
cukup, kurang mengalami depresi bila berhadapan dengan stres (Billings, et all,
1983 ; Samiun , 2006).

2. Pendekatan Perilaku Belajar


Salah satu hipotesis untuk menjelaskan depresi pada lansia adalah individu
yang kurang menerima hadiah (reward) atau penghargaan dan hukuman
(punishment) yang lebih banyak dibandingkan individu yang idak depresi
(Lewinsohn, 1974 ; Libet & Lewinsohn, 1997 ; Samiun, 2006). Dampak dari
kurangnya hadiah dan hukuman yang lebih banyak ini mengakibatkan lansia
merasakan kehidupan yang kurang menyenangkan, kecenderungan memiliki
self-esteem yang kurang dan mengembangkan self-concept yang rendah. Hadiah
dan hukuman bersumber dari lingkungan (orang-orang dan peristiwa sekitar) dan
dari diri sendiri. Situasi akan bertambah buruk jika seseorang menilai hadiah
yang diterima terlalu rendah dan hukuman yang diterima terlalu tinggi terutama
untuk tingkah laku mereka sendiri, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan
antara nilai reward dan punishment itu. Peran hadiah dan hukuman terhadap diri
sendiri yang tidak tepat dapat menimbulkan depresi (Rehm, 1997 ; Wicoxon, et
all, 1997 ; Samiun 2006).

Faktor lain dari lingkungan yang berkenaan dari hadiah dan hukuman adalah
seseorang jika pindah ke tempat lain yang dapat mengakibatkan kehilangan
sumber-sumber hadiah dan perubahan dari tingkah laku yang mendapat hadiah
sehingga aktifitas yang sebelumnya dihadiahi menjadi tidak berguna. Standar
untuk hadiah dan hukuman yang meningkat menyebabkan performansi yang
diperlukan untuk mendapat hadiah lebih tinggi. Kehilangan hadiah yang
sebelumnya diterima dapat menyebabkan depresi apabila sumber alternatif
untuk mendapat hadiah tidak ditemukan.

3. Pendekatan Kognitif
Menurut Beck (1967 ; 1976), Samiun (2006), seseorang yang mengalami
depresikarena memiliki kemapanan kognitif yang negatif (negative cognitive

19
sets) untuk menginterpretasikan diri sendiri, dunia dan masa depan mereka.
Misalnya, seseorang yang berhasil mendapatkan pekerjaan akan mengabaikan
keberhasilan tersebut dan menginterpretasikan sebagai suatu yang kebetulan dan
tetap memikirkan kegagalannya. Akibat dari persepsi yang negatif itu, individu
akan memiliki self-concept sebagai seorang yang gagal, menyalahkan diri,
merasa masa depannya suram dan penuh dengan kegagalan. Masalah utam pada
lansia yang depresi adalah kurangnya rasa percaya diri (self-confidence) akibat
persepsi diri yang negatif (Townsend, 1998).

Negative cognitive sets digunakan individu secara otomatis dan tidak


menyadari adanya distorsi pemikiran dan adanya interpretasi alternative yang
lebih positif, sehingga menyebabkan tingkat aktifitas berkurang karena merasa
tidak ada alasan berusaha. Individu menjadi tidak dapat mengontrol aspek-aspek
negative dari kehidupannya dan merasa tidak berdaya (helplessness). Perasaan
ketidakberdayaan ini yang menyebabkan depresi (Abramson, 1978; Peterson,
1984; Samiun, 2006).

Menurut Kaplan et all (1997), Interpretasi yang keliru (misinterpretation)


kognitif yang sering adalah melibatkan distorsi negative pengalaman hidup,
penilaian diri yang negative, pesimistis dan keputusasaan. Pandangan negative
dan ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness) tersebut selanjutnya
menyebabkan perasaan depresi. Pengalaman awal memberikan dasar pemikiran
diri yang negative dan ketidakberdayaan ini, sepertio pola asuh orang tua, kritik
yang terus menerus tanpa diimbangi dengan pujian, dan kegagalan-kegagalan
yang sering dialami individu (Beck, et al., 1979; Samiun, 2006).

4. Pendekatan Humanistik Eksitensial


Teori humanistic dan eksistensial berpendapat bahwa depresi terjadi karena
adanya ketidakcocokan antara reality self dan ideal self. Individu yang
menyadari jurang yang dalam antara reality self dan ideal self dan tidak dapat
dijangkau, sehingga menyerah dalam kesedihan dan tidak berusaha mencapai
aktualisasi diri.

20
Menyerah merupakan factor yang penting terjadinya depresi. Individu
merasa tidak ada lagi pilihan dan berhenti hidup sebagai seeorang yang real.
Pada lansia yang gagal untuk bereksistensi diri menyadari bahwa mereka tidak
mau berada pada kondisinya sekarang yang mengalami perubahan dan kurang
mampu menyesuaikan diri, sehingga kehidupan fisik mereka segera berakhir.
Kegagalan bereksistensi ini merupakan suatu kematian simbolis sebagai
seseorang yang real.

5. Pendekatan Fisiologis
Teori fisiologis menerangkan bahwa depresi terjadi karena aktivitas
neurologis yang rendah (neurotransmiter norepinefrin dan serotonin) pada
sinaps-sinaps otak yang berfungsi mengatur kesenangan. Neurotransmitter ini
memainkan peranan penting dalam fungsi hypothalamus, seperti mengontrol
tidur, selera makan, seks dan tingkah laku motor (Sachar, 1982; Samiun, 2006),
sehingga seringkali seseorang yang mengalami depresi disertai dengan keluhan-
keluhan tersebut.

Pendekatan genetic terhadap kejadian depresi dengan penelitian saudara


kembar. Monozogotik Twins (MZ) berisiko mengalami depresi 4,5 kali lebih
besar (65%) daripada kembar bersaudara (Dizigotik Twins/DZ) yang 14%
(Nurberger & Gershon, 1982; Samiun, 2006). Secara keseluruhan dapat
dikatakan bahwa secara genetic depresi itu diturunkan.

Menurut Mangoenprasodjo (2004), depresi pada lansia merupakan


perpaduan interaksi yang unik dari berkurangnya interaksi social, kesepian,
masalah social ekonomi, perasaan rendah diri karena penurunan kemampuan
rendah diri, kemandirian, dan penurunan fungsi tubuh, serta kesedihan ditinggal
orang yang dicintai, factor kepribadian, genetic, dan factor biologis penurunan
neuron-neuron dan neurotransmitter di otak. Perpaduan ini sebagai factor
terjadinya depresi pada lansia. Kompleksitasnya perubahan-perubahan yang
terjadi pada lansia, sehingga depresi pada lansia dianggap sebagai hal yang wajar
terjadi.

21
b. Depresi Lanjut Usia Pasca Kuasa (POST POWER SYNDROME)
Depresi pada pasca kuasa adalah perasaan sedih yang mendalam yang dialami
seseorang setelah mengalami pension. Salah satu factor penyebab depresi pada
pasca kuasa adalah karena adanya perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan atau
kekuasaan ketika pension. Meskipun tujuan ideal pension adalah agar para lansia
dapat menikmati hati tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering
diartikan sebaliknya, karena pension sering dirasakan sebagai kehilangan
penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri (Rini J,
2001). Menurut Kuntioro (2002), reaksi setelah orang memasuki masa pension
lebih tergantung dari model kepribadiannya. Untuk mensiasati agar masa pension
tidak merupakan beban mental lansia, jawabannya adalah sangat tergantung pada
sikap dan mental individu dalam masa pensiun, dalam kenyataannya ada yang
menerima ada yang takut kehilangan ada yang merasa senang memiliki jaminan
hari tua da nada juga yang seolah-olah acuh terhadap pension (pasrah). Masing-
masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing individu baik
positif maupun negative. Dampak positif lebih menentramkan driri lansia dan
dampak negative akan mengganggu kesejahteraan hidup.

Secara umum peristiwa kehidupan meliputi kehilangan harga diri, gangguan


interpersonal, peristiwa social yang tidak diinginkan dan gangguan pola kehidupan
yang besar. Kejadian yang tidak diinginkan juga sering menjadi factor presipitasi
depresi. Kejadian di masa lampau (perpisahan dan segala macam kehilangan) lebih
sering memperburuk gejal kejiwaan, perubahan kesehatan fisik, gangguan
penampilan peran social dan depresi (Stuart dan Larairam, 1998).

Menurut Hawari (1996) orang yang mempunyai jabatan adalah orang yang
mempunyai kekuasaan, wewenang, dan kekuatan (power). Orang yang kehilangan
jabatan berarti orang yang kehilangan kekuasaan dan kekuatan (powerless), artinya
sesuatu yang dimiliki dan dicintai kini telah tiada (loss of love object). Dampak dari
loss of love object ini adalah terganggunya keseimbangan mental/emosional dengan
manifestasi berbagai keluhn fisik, kecemasan dan terlebih-lebih depresi. Keluhan-
keluhan tersebut di atas disertai dengan perubahan sikap dan perilaku, merupakan
kumpulan gejala yang disebut sindroma pasca kuasa (post power syndrome).
22
Perubahan sikap dan perilaku tersebut merupakan dampak atau keluhan psikososial
dari orang yang baru kehilangan jabatan atau kekuasaan.

Kehilangan jabatan atau kekuasaan berarti perubahan posisi, yang dahulu kuat
kini merasa lemah. Perubahan posisi ini mengakibatkan perubahan dalam alam fikir
(rasio) dan alam perasaan pada diri yang bersangkutan. Kalau keluhan-keluhan
yang bersifat fisik (somatik) dan kejiwaan (kekecewaan atau depresi) itu sifatnya
kedalam, tertutup dan tidak terbuka maka keluhan psikososial inilah yang sering
menampakan diri dalam bentuk ucapan maupun sikap dan perilaku.

Keluhan-keluhan psikososial terjadi disebabkan karena perubahan posisi yang


mengakibatkan perubahan persepsi dari diri yang bersangkutan terhadap kondisi
psikososial di luar dirinya. Guna menghindari rasa kecewa dan tidak senang itu,
orang menggunakan mekanisme defensive antara lain berupa makanisme proyeksi
dan rasionalisasi itulah maka terjadi perubahan persepsi seseorang terhadap kondisi
psikososial sekelilingnya. Menurut Maramis (1995), bahwa stress psikologis
terutama pada jiwa, seperti kecemasan, kekecewaan dan rasa bersalah yang
menimbulkan mekanisme penyesuaian psikologis. Mungkin pada sewaktu-waktu,
hanya gejala badaniah atau gejala psiokologik saja yang menonjol, tetapi kita harus
mengingat bahwa manusia itu senantiasa bereaksi secara holistic, yaitu bahwa
seluruh manusia itu terlibat dalam hal ini.

Karena manusia bereaksi secara holistic, maka depresi terdapat juga komponen
psikologik dan komponen somatic. Gejala-gejala psikologik ialah menjadi pendiam,
rasa sedih, pesimistis, putus asa, nafsu bekerja dan bergaul kurang, tidak dapat
mengambil keputusan lekas lupa timbul pikiran bunuh diri. Sedangkan gejala
badaniah ialah penderita kelihatan tidak senang, lelah tak bersemangat atau apatis,
bicara dan gerak-geriknya pelan dan kurang hidup, terdapat anoreksia (kadang-
kadang makan terlalu banyak sebagai pelarian), insomnia (sukar untuk tertidur) dan
konstipasi.

23
c. Faktor-faktor yang menyebabkan depresi pada lanjut usia yang tinggal di Institusi
Terjadinya depresi pada lanjut usia yang tinggal dalam institusional seperti tinggal
di panti wreda (Endah dkk, 2003) :
1) Faktor Psikologis
Motivasi masuk panti wreda sangat penting bagi lanjut usia untuk
menentukan tujuan hidup dan apa yang ingin dicapainya dalam kehidupan di
panti. Tempat dan situasi yang baru, orang0orang yang belum dikenal, aturan
dan nilai-nilai yang berbeda, dan keterasingan merupakan stressor bagi lansia
yang membutuhkan penyesuaian diri. Adanya keinginan dan motivasi lansia
untuk tinggal dipanti akan membuatnya bersemangat meningkatkan toleransi dan
kemampuan adaptasi terhadap situasi baru.

Menurut Maramis (1995), pada lanjut usia permasalah yang menarik adalah
kekurangan kemampuan dalam beradaptasi secara psikologis terhadap
perubahan yang terjadi pada dirinya. Penurunan kemampuan beradaptasi
terhadap perubahan dan stress lingkungan sering menyebabkan depresi.
Hubungan stress dan kejadian depresi seringkali melibatkan dukungan social
(social support) yang tersedia dan digunakan lansia dalam menghadapi stressor.
Ada bukti bahwa individu yang memiliki teman akrab dan dukungan emosional
yang cukup, kurang mengalami depresi bila berhadapan dengan stress (Billings,
et all, 1983; Samiun, 2006).

Rasa kurang percaya diri atau tidak berdaya dan selalu menganggap bahwa
hidupnya telah gagal karena harus menghabiskan sisa hidupnya jauh dari orang-
orang yang dicintai mengakibatkan lansia memandang masa depan suram dan
selalu menyesali diri, sehingga mempengaruhi kemampuan lansia dalam
beradaptasi terhadap situasi baru tinggal di institusi.

2) Faktor Psikososial
Kunjungan keluarga yang kurang, berkurangnya interaksi social dan
dukungan social mengakibatkan penyesuaian diri yang negative pada lansia.
Menurunnya kepasitas hubungan keakraban dengan keluarga dan berkurangnnya
interaksi dengan keluarga yang dicintai dapat menimbulkan perasaan tidak

24
berguana, merasa disingkirkan, tidak dibutuhkan lagi dan kondisi ini dapat
berperan dalam terjadinya depresi. Tinggal di institusi membuat konflik bagi
lansia antara integritas, pemuasan hidup dan keputusasaan karena kehilangan
dukungan social yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk memelihara dan
mempertahankan kepuasan hidup dan self-esteemnya sehingga mudah terjadi
depresi pada lansia (Stoudemire, 1994).

Kemampuan adaptasi dan lamanya tinggal dipanti mempengaruhi terjadinya


depresi. Sulit bagi lansia meninggalkan tempat tinggal lamanya. Pada lansia
yang harus meninggalkan rumah tempat tinggal lamanya (relokasi) oleh karena
masalah kesehatan atau social ekonomi merupakan pengalaman yang traumatic
karena berpisah dengan kenangan lama dan pertalian persahabatan yang telah
memberikan perasaan aman dan stabilitas sehingga sering mengakibatkan lansia
merasa kesepian dan kesendirian bahkan kemeorosotan kesehatan dan depresi
(Friedman, 1995).

Pekerjaan di waktu muda dulu yang berkaitan dengan peran social dan
pekerjaannya yang hilang setelah memasuki masa lanjut usia dan tinggal di
institusi mengakibatkan hilangnya gairah hidup, kepuasaan dan penghargaan
diri. Lansia yang dulunya aktif bekerja dan memiliki peran penting dalam
pekerjaannya kemudian berhenti bekerja mengalami penyesuaian diri dengan
peran barunya sehingga seringkali menjadi tidak percaya dan rendah diri (Rini,
2001).

3) Faktor Budaya
Perubahan social ekonomi dan nilai social masyarakat, mengakibatkan
kecenderungan lansia tersisihkan dan terbengkalai tidak mendapatkan perawatan
dan banyak yang memilih untuk menaruhnya di panti lansia (Darmojo &
Martono, 2004). Pergeseran system keluarga (family system) dari extendend
family ke nuclear family akibat industrialisasi dan urbanisasi mengakibatkan
lansia terpinggirkan. Budaya industrialisasi dengan sifat mandiri dan individualis
menggangap lansia sebagai trouble maker dan menjadi beban sehingga

25
langkah penyelesainnya dengan menitipkan di panti. Akibatnya bagi lansia
memperburuk psikologisnya dan mempengaruhi kesehatannya.

Tinggal di panti wreda harusnya merupakan alternative yang terakhir bagi


lansia, karena tinggal dalam keluarga adalah yang terbaik bagi lansia sesuai
dengan tugas perkembangan keluarga yang memiliki lansia untuk
mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan dan mempertahankan
ikatan keluarga antargenerasi (Duvall, 1985 yang dikutip oleh Friedman, 1998).

d. Skala Pengukuran Depresi Pada Lanjut Usia


Depresi dapat mempengaruhi perilaku dan aktivitas seseorang terhadap
lingkungannya. Gejala depresi pada lansia diukur menurut tingkatan sesuai dengan
gejala yang termanifestasi. Jika dicurigai terjadi depresi, harus dilakukan
pengkajian dengan alat pengkajian yang terstandarisasi dan dapat dipercayai serta
valid dan memang dirancang untuk diujikan kepada lansia. Salah satu yang paling
mudah digunakan untuk diinterprestasikan di berbagai tempat, baik oleh peneliti
maupun praktisi klinis adalah Geriatric Depression Scale (GDS). Alat ini
diperkenalkan oleh Yesavage pada tahun 1983 dengan indikasi utama pada lanjut
usia, dan memiliki keunggulan mudah digunakan dan tidak memerlukan
keterampilan khusus dari pengguna. Instrument GDS ini memiliki sensitivitas 84 %
dan specificity 95 %. Tes reliabilitas alat ini correlates significantly of 0,85 (Burns,
1999). Alat ini terdiri dari 30 poin pertanyaan dibuat sebagai alat penapisan depresi
pada lansia. GDS menggunakan format laporan sederhana yang diisi sendiri dengan
menjawab ya atau tidak setiap pertanyaan, yang memrlukan waktu sekitar 5-10
menit untuk menyelesaikannya. GDS merupakan alat psikomotorik dan tidak
mencakup hal-hal somatic yang tidak berhubungan dengan pengukuran mood
lainnya. Skor 0-10 menunjukkan tidak ada depresi, nilai 11-20 menunjukkan
depresi ringan dan skor 21-30 termasuk depresi sedang/berat yang membutuhkan
rujukan guna mendapatkan evaluasi psikiatrik terhadap depresi secara lebih rinci,
karena GDS hanya merupakan alat penapisan. Spesifikasi rancangan pernyataan
perasaan (mood) depresi seperti tabel berikut:

26
Table 5.1 Spesifikasi rancangan kuesioner GDS
Butir Soal

Parameter Favorable Unfavorable


Minat aktivitas 2, 12, 20, 28 27
Perasaan sedih 16, 25 9, 15, 19
Perasaan sepi dan bosan 3, 4
Perasaan tidak berdaya 10, 17, 24
Perasaan bersalah 6, 8, 11, 18, 23 1
Perhatian/konsentrasi 14, 26, 30 29
Semangat atau harapan terhadap masa 13, 22 5, 7, 21
depan

Skoring nilai 1 diberikan pada pernyataan Favorable untuk jawaban ya dan


nilai 0 untuk jawaban tidak sedangkan pernyataan Unfavorable, jawaban tidak
diberi nilai 1 dan jawaban ya diberi nilai 0.

Assasment Tool geriatric depressions scale (GDS) untuk mengkaji depresi pada
lansia sebagai berikut:

No. Pernyataan Ya Tidak


Apakah bapak/ibu sekarang ini merasa puas dengan
1.
kehidupannya?
Apakah bapak/ibu telah meninggalkan banyak kegiatan atau
2.
kesenangan akhir-akhir ini?
Apakah bapak/ibu sering merasa hampa/kosong di dalam hidup
3.
ini?
4. Apakah bapak/ibu sering merasa bosan?
Apakah bapak/ibu merasa mempunyai harapan yang baik di
5.
masa depan?
6. Apakah bapak/ibu merasa mempunyai pikiran jelek yang

27
menganggu terus menerus?
7. Apakah bapak/ibu memiliki semangat yang baik setiap saat?
Apakah bapak/ibu takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi
8.
pada anda?
9. Apakah bapak/ibu merasa bahagia sebagian besar waktu?
10 Apakah bapak/ibu sering merasa tidak mampu berbuat apa-apa?
11. Apakah bapak/ibu sering merasa resah dan gelisah?
Apakah bapak/ibu lebih senang tinggal dirumah daripada keluar
12.
dan mengerjakan sesuatu?
13. Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang masa depan?
14. Apakah bapak/ibu akhir0akhir ini sering pelupa?
Apakah bapak/ibu piker bahwa hidup bapak/ibu sekarang ini
15.
menyenangkan?
16. Apakah bapak/ibu sering merasa sedih dan putus asa?
17. Apakah bapak/ibu merasa tidak berharga akhir-akhir ini?
18. Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang masa lalu?
19. Apakah bapak/ibu merasa hidup ini menggembirakan?
Apakah sulit bagi bapak/ibu untuk memulai kegiatan yang
20
baru?
21. Apakah bapak/ibu merasa penuh semangat?
Apakah bapak/ibu merasa situasi sekarang ini tidak ada
22.
harapan?
Apakah bapak/ibu berpikir bahwa orang lain lebih baik
23.
keadaannya daripada bapak/ibu?
24. Apakah bapak/ibu sering marah karena hal-hal yang sepele?
25. Apakah bapak/ibu sering merasa ingin menangis?
26. Apakah bapak/ibu sulit berkonsentrasi?
Apakah bapak/ibu merasa senang waktu bangun tidur dipagi
27.
hari?
28. Apakah bapak/ibu tidak suka berkumpul di pertemuan social?

28
29. Apakah mudah bagi bapak/ibu membuat sesuatu keputusan?
Apakah pikiran bapak/ibu masih tetap mudah dalam
30.
memikirkan sesuatu seperti dulu?

e. Upaya Penanggulangan Depresi Pada Lansia


Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lanjut usia sangat perlu
ditekannkan pendekatan yang mencakup fisik, psikologis, spiritual dan sosial. Hal
tersebut karena pendekatan daru satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan
kesehatan pada lanjut usia yang membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif.
Pendekatan inilah yang dalam bidang kesehatan jiwa (mental health) disebut
pendekatan eclectic holistik, yaitu suatu pendekatan yang tidak tertuju pada kondisi
fisik saja, akan tetapi juga mencakup aspek psychological, psikososial, spiritual dan
lingkungan yang menyertainya. Pendekatan Holistik adalah pendekatan yang
menggunakan semua upaya untuk meningkatan derajat kesehatan lanjut usia, secara
utuh dan menyeluruh (Hawari, 1996).

2. Berduka Cita
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang
sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan.
Periode duka cita merupakan suatu periode yang sangat rawan bagi seorang penderita
lanjut usia. Meninggalnya pasangan hidup, seorang teman dekat atau bahkan seekor
hewan yang sangat disanyangi bias mendadak memutuskan ketahanan kejiwaan yang
sudah rapuh dari seorang lansia, yang selanjutnya akan memicu terjadinya gangguan fisik
dn kesehatannya. Periode 2 tahun pertama setelah ditinggal mati pasangan hidup atau
teman dekat tersebut merupakan periode yang sangat rawan. Pada periode ini orang
tersebut justru harus dibiarkan untuk dapat mengekspresikan dukacita tersebut. Sering
diawali dengan perasaan kosong, kemudian diikuti dengan menangis dan kemudian suatu
periode depresi. Depresi akibat duka-cita pada usia lanjut biasanya tidak bersifat self
limiting. Dokter atau petugas kesehatan harus memberi kesempatan pada episode tersebut
berlalu. Diperlukan pendamping yang dengan penuh empati mendengarkan keluhan,
memberikan hiburan dimana perlu dan tidak membiarkan tiap episode berkepanjangan

29
dan berjalan terlalu berat. Apabila upaya diatas tidak berhasil, bahkan timbul depresi
berat, konsultasi psikiatrik mungkin diperlukan, dengan kemungkinan diberikan obat anti
depresan.

3. Kesepian
Kesepian atau loneliness, biasanya dialami oleh seseorang lanjut usia pada saat
meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat, terutama bila dirinya sendiri saat itu
juga mengalami berbagai penurunan status kesehatan, misalnya menderita berbagai
penyakit fisik berat, gangguan mobilitas atau gangguan sensorik, terutama gangguan
pendengaran (Brocklehurts-Allen, 1987).

Harus dibedakan antara kesepian dengan hidup sendiri. Banyak di antara lansia hidup
sendiri tidak mengalami kesepian, karena aktivitas social yang masih tinggi, tetapi dilain
pihak terdapat lansia yang walaupun hidup di lingkungan yang beranggotakan cukup
banyak, tohh mengalami kesepian.

Pada penderita kesepian ini peran dari organisasi social sangat berarti, karena bias
bertindak menghibur, memberikan motivasi untuk lebih meningkatkan peran social
penderita, di samping memberikan bantuan pengerjaan pekerjaan di rumah bila memang
terdapat disabilitas penderita dalam hal-hal tersebut.

4. Dementia
Pengertian
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat
mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia
bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan
beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan
tingkahlaku.

Demensia adalah keadaan dimana seseorang mengalami penurunan kemampuan


daya ingat dan daya pikir, dan penurunan kemampuan tersebut menimbulkan
gangguan terhadap fungsi kehidupan sehari-hari. Kumpulan gejala yang ditandai
dengan penurunan kognitif, perubahan mood dan tingkah laku sehingga
mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari penderita.

30
Etiologi
Penyebab demensia yang reversible sangat penting diketahui karena pengobatan
yang baik pada penderita dapat kembali menjalankan kehidupan sehari-hari yang
normal. Untuk mengingat berbagai keadaan tersebut telah dibuat suatu jembatan
keledai sebagai berikut:
D Drugs (obat)
Obat sedative
Obat penenang minor atau mayor
Obat anti konvulsan
Obat anti hipertensi
Obat anti aritmia
E emotional (gangguan emosi, ex: depresi)
M metabolic dan endokrin
Seperti: DM
Hipoglikemia
Gangguan ginjal
Gangguan hepar
Gangguan tiroid
Gangguan elektrolit
E Eye & Ear (disfungsi mata dan telinga)
N Nutritional
Kekurangan vit B6 (pellagra)
Kekurangan vit B1 (sindrom wernicke)
Kekurangan vut B12 (anemia pernisiosa)
Kekurangan asam folat
T Tumor dan Trauma
I Infeksi
Ensefalitis oleh virus, contoh: herpes simplek
Bakteri, contoh: pnemokok
TBC

31
Parasit
Fungus
Abses otak
Neurosifilis
A Arterosklerosis (komplikasi peyakit aterosklerosis, missal: infark miokard, gagal
jantung, dan alkohol).

Keadaan yang secara potensial reversible atau yang bisa dihentikan seperti:
Intoksikasi (obat, termasuk alkohol)
Infeksi susunan saraf pusat
Gangguan metabolic
Gangguan vaskuler (demensia multi-infark)
Lesi desak ruang:
Hematoma subdural akut/kronis
Metastase neoplasma
Hidrosefalus yang bertekanan normal
Depresi (pseudo-demensia depresif)

Penyebab dari Demensia Non Reversible :


1. Penyakit Degenerative
Penyakit Alzhemeir
Demensia yang berhubungan dengan badan Lewy
Penyakit pick
Penyakit Huntingon
Kelumpuhan supranuklear progresif
Penyakit Parkinson
2. Penyakit Vaskuler
Penyakit serebrovaskuler oklusif (demensia multi-infark)
Penyakit Binswanger
Embolisme serebral
Arteritis

32
Anoksia sekunder akibat henti jantung, gagal jantung akibat intiksikasi karbon
monoksida
3. Demensia Traumatic
Perlukaan kranio-serebral
Demensia pugilistika
4. Infeksi
Sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS)
Infeksi opportunistic
Penyakit creutzfeld-jacob progresif
Kokeonsefalopati multi fokal progresif
Demensia pasca ensefalitis
Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala
demensia adalah penyakit Alzhemeir, penyakit vaskuler (pembuluh darah), demensia
leury body, demensia frontotemporer dan 10% diantaranya disebabkan oleh penyakit
lain. Penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada 7S, sebagian
dapat disembuhkan dan sebagian besar tidak dapat disembuhkan. 50%-60% penyebab
demensia adalah penyakit Alzhemeir. Alzhemeir adalah kondisi dimana sel saraf pada
otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat ditransmisikan sebagaimana
mestinya.

Karakteristik Demensia
Menurut John (1994) bahwa lansia yang mengalami demensia juga akan mengalami
keadaan yang sama seperti orang depresi yaitu akan mengalami deficit aktivitas
kehidupan sehari-hari (AKS), gejala yang sering menyertai demensia adalah :
a. Gejala Awal
Kinerja mental menurun
Fatique
Mudah lupa
Gagal dalam tugas
b. Gejala Lanjut
Gangguan kognitif

33
Gangguan afektif
Gangguan perilaku
c. Umum
Mudah lupa
Aktivitas sehari-hari terganggu
Disorientasi
Cepat marah
Kurang konsentrasi
Resti jatuh

Klasifikasi Demensia
1. Dementia Senilis
Kekurangan peredaran darah ke otak serta pengurangan metabolism dan O2 yang
menyertainya merupakan penyebab kelainan anatomis di otak. Pada banyak orang
terdapat kelainan aterosklerosis seperti juga yang terdapat pada demensia senifilis,
tetapi tidak diketemukan gejal-gejal demensia. Otak mengecil terdapat suatu atrofi
umum, terutama pada daerah frontal. Yang penting ialah jumlah sel berkurang.
Kadang-kadang ada kelainan otak yang jelas, tetapi orang itu tidak psikotik,
sebaliknya pada orang yang sudah jelas demensia kadang-kadang ada sedikit kelaianan
pada otak, jadi tidak selalu ada korelasi antara besarnya kelainan histology dan
beratnya gangguan intelegensi.

1) Gejala
Biasanya sesudah umur 60 tahun baru timbul gejala-gejala yang jelas untuk
membuat diagnose demensia senilis. Penyakit jasmaniah atau gangguan
emosi yang hebat dapat mempercepat munduran mental.

Gangguan ingatan jangka pendek, lupa tentang hal-hal yang baru terjadi,
merupakan gejala dini, juga kekurangan ide-ide dan gaya pemikiran abstrak.
Yang menjadi egosentrik dan egoistic, lekas tersinggung dan marah-marah.
Kadang-kadang timbul aktivitas seksual yang berlebihan atau yang tidak
pantas, sesuatu tanda control berkurang atau usaha untuk kompensasi
psikologis.

34
Penderita menjadi acuh tak acuh terhadap pakaian dan rupanya. Ia menyimpan
barang-barang yang tidak berguna, mungkin timbul waham bahwa ia akan
dirampok, akan dirasuni atau ai miskin sekali atau tidak disuka orang.

Orientasi terganggu dan ia mungkin pergi dari rumah dan tidak mengetahui
jalan pulang.

Penilaiannya berkurang sehingga ia dapat menyukarkan dan menbahayakan


lalu lintas dijalan.

Ia mungkin jadi korban penjahat karena ia mudah diajak, umpamanya dalam


hal penipuan dan sex.

Banyak menjadi gelisah waktu malam, mereka berjalan-jalan tak bertujuan dan
menjadi dekstruktif. Mungkin timbul delirium waktu malam, ini karena
penglihatan yang terbatas diwaktu gelap bila penderita dengan demensia senilis
ditaruh dalam kamar yang gelap, maka akan timbul disorientasi.

Ingatan jangka pendek makin lama makin keras terganggu, maka makin lama
makin banyak ia lupa, sehingga penderita hidup dalam alam pikiran sewaktu ia
masih muda atau masih kecil.

Gejala jasmani: kulit menjadi tipis, keriput, dan atrofis, BB mengurang, atrofi
pada otot-otot, jalannya menjadi tidak stabil, suara kasar, dan bicaranya jadi
pelan, dan tremor pada tangan dan kepala.

Gejala psikologis: sering hanya terdapat tanda kemunduran mental umum


(demensia simplek). Tetapi tidak jarang juga terjadi kebingungan dan delirium,
atau depresi atau serta agitasi. Ada yang menjadi paranoid. Pada presbiofrenia
terutama dapat gangguan ingatan serta konvabulasi dan dapat dianggap sebagai
salah satu jenis demensia senilis dan beberapa gejala yang menonjol dan sedikit
lebih cepat.

35
2) Prognosa
Tidak baik, jalannya progresif, demensia makin lama makin berat sehingga
akhirnya penderita hidup secara vegetative saja, walaupun demikian penderita
dapat hidup selama 10 tahun atau lebih setelah gejala-gejala menjadi nyata.
3) Diagnosa
Perlu dibedakan dari arteroskelorosa otak, tapi kedua hal ini tidak jarang terjadi
bersama-sama. Pada melankolia involusi tidak didapat tanda-tanda demensia.
Kadang-kadang sindroma otak organis sebab uremia, anemia, payah jantung atau
penyakit paru-paru dapat serupa dengan psikosa senilis.

4) Pengobatan
Pertahankan perasaan aman dan harga diri, perhatikanlah dan cobalah
memuaskan kebutuhan rasa kasih saying, rasa masuk hitungan, tercapainya
sesuatu dan rasa penuh dibenarkan serta dihargai.

Kamarnya jangan gelap gulita dan taruhlah barang-barang yang sudah ia kenal
sejak dulu untuk mempermudah orientasinya.

2. Dementia Presenilis
Seperti namanya, maka gangguan ini gejala utamanya ialah seperti sebelum masa
senile akan dibicarakan 2 macam demensia presenilis yaitu:

1) Penyakit Alzheimer
Penyakit Alzheimeir ini biasanya timbul antara usia 50-60 tahun. Yang
disebabkan oleh karena adanya degenerasi kortek yang difus pada otak dilapisan
luar, terutama di daerah frontal dan temporal. Atrofi otak ini dapat dilihat pada
pneumoensefalogam, system ventrikel membesar serta banyak hawa diruang
subarachnoid. Penyakit ini dimulai pelan sekali, tidak ada ciri yang khas pada
gangguan intelegensi atau pada kelainan perilaku. Terdapat disorientasi, gangguan
ingatan, emosi yang lebih, kekeliruan dalam berhitung, dam pembicaraan sehari-
hari dapat terjadi afasi, perseverasi (mengulang-ngulang perkataan; perbuatan tanpa
guna), pembicaraan logoklonia (pengulangan tiap suku kata akhir secara tidak
teratur), dan bila sudah berat maka penderita tidak dapat dimengerti lagi. Ada yang
jadi gelisah dan hiperaktif.

36
Kadang-kadang sepintas lalu timbul aproksia (kehilangan kecakapan yang
diperoleh sebelumnya untuk melakukan pekerjaan atau gerakan yang memerlukan
keterampilan), hemiplegia tau pra plegi, parese pada muka dan spasme pada
ekstremitas juga sering terjadi sehingga pada stadium akhir timbul kontraktur. Pada
fase ini sudah sangant dement dan tidak diadakan kotak dengannya lagi. Biasanya
penyakit ini berlangsung selama 5-10 tahun.

2) Penyakit Pick
Secara patologis penyakit ini ialah atrofi dan gliosis di daerah-daerah asosiatif.
Daerah motoric, sensorik, dan daerah proyeksi secara relative dan banyak berubah.
Yang terganggu ialah daerah kortek yang secara filogenptik lebih mudah dan yang
penting buat fungsi asosiasi yang lebih tinggi. Sebab itu yang terutama terganggu
ialah pembicaraan dan proses berpikir.

Penyakit ini mungkin herediter, diperkirakan terdapat factor menjadi pencetus


dari sel-sel ganglion yang tertentu yaitu: yang genetic paling muda. Lobus frontalis
menjadi demikian atrofis sehingga kadang kelihatan seperti ditekan oleh suatu
lingkaran. Biasanya terjadi pada umut 45-60 tahun, yang termuda yang pernah
diberitakan ialah 31 tahun.

Penyakit Pick terdapat 2x lebih banyak pada kaum wanita dari pad kaum pria.
Gejala permulaan: ingatan berkurang, kesukaran dalam pemikiran dan konsentrasi,
kurang spontanitas, emosi menjadi tumpul. Penderita menjadi acuh tak acuh,
kadang-kadang tidak dapat menyesuaikan diri serta menyelesaikan masalah dalam
situasi yang baru.

Dalam waktu 1 tahun sudah terjadi demensia yang jelas. Ada yang efor, ada
yang jadi susah dan curiga. Sering terdapat gejala fokal seperti afasia, aproksia,
aleksia, tetapi gejala ini sering diselubungi oleh demensia umum. Ciri afasia yang
penting pada penyakit ini ialah terjadinya secara pelan-pelan (tidak mendadak
seperti pada gangguan pembuluh darah otak), terdapatnya logorrhea yang spontan
(yang tidak terdapat pada afasia sebab gangguan pembuluh darah). Tidak jarang ada
echolalia dan reaksi stereotip.

37
Pada fase lanjut demensia menjadi hebat, terdapat inkontinensia, kemampuan
buat berbicara hilang dan kekeksia yang berat. Biasanya penderita meninggal dalam
waktu 4-6 tahun karena suatu penyakit infeksi tambahan.

Sampai sekarang tidak ada pengobatan terhadap kasus demensia presenilis.


Dapat direncanakan bantuan yang simptomatik dalam lingkungan yang memadai.
Biar gelisah dapat dipertimbangkan pemberian obat psikotropik.

Pemeriksaan Demensia
Pemeriksaan penting yang harus dilakukan untuk penderita, mulai dari pengkajian
latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian status mental dan sebagai
penunjang juga diperlukan tes laboratorium.

1. Berikut ini untuk menguji aspek-aspek Kognitif dan Fungsi Mental


Nilai Maksimum Score Pertanyaan
Orientasi
(tahun) (musim) (tanggal) (hari) (bulan apa
5
sekarang)
Dimana kita: (negara
5
bagian)(wilayah)(kota)(rumah sakit)(lantai)
Registrasi
Nama 3 objek: 1 detik untuk mangatakan
masing-masing. Kemudian tanyakan klien
ketiga objek setelah anda mengatakannya.
3 Beri 1 poin untuk setiap jawaban yang
benar. Kemudian ulangi sampai ia
mempelajari ketiganya. Jumlahkan
percobaan dan catat.
Perhatian dan
Kalkulasi
Seri 7s. 1 poin untuk setiap kebenaran
5 Berhenti setelah 5 jawaban. Bergantian eja
kata ke belakang.

38
Meminta
Minta untuk mengulang ketiga objek di atas.
3
Berikan 1 poin untuk setiap kebenaran.
Bahasa
Nama pensil dan melihat (2poin)
9 Mengulangi hal berikut: task ada jika, dan
atau tetapi(1 poin)
Nilai Total

Compos mentis Apatis Somnolen Soporus Koma


Keterangan:

Nilai maksimal 30, nilai 21 atau kurang biasanya indikasi adanya kerusakan
kognitif yang memerlukan penyelidikan lanjut. Kriteria demensia:

Ringan : 21 - 30
Sedang : 11 20
Berat : < 10

2. Pemeriksaan Portabel untuk Status Mental (PPMS = MMSE = mini mental state
examination)
Daftar pertanyaan Penilaian
1. Tanggal berapakah hari ini? (bulan, tahun) 0-2 kesalahan = baik
2. Hari apakah ini? 3-4 kesalahan = gangguan intelek ringan
3. Apakah nama tempat ini? 5-7 kesalahan = gangguan intelek sedang
4. Berapa nomor telepon bapak/ibu? (bila tidak 8-10 kesalahan = gangguan intelek berat
ada telepon, dijalan apakah rumah bapak/ibu?)
5. Berapakah umur Bapak/Ibu? Bila penderita tak pernah sekolah, nilai
6. Kapan Bapak/Ibu lahir? (tanggal, bulan, kesalahan diperbolehkan +1 dari nilai di atas.
tahun) Bila penderita sekolah lebih dari SMA,
7. Siapakah nama gubernur kita? kesalahan yang diperbolehkan -1 dari nilai
(walikota/lurah/camat) diatas.

39
8. Siapakah nama gadis ibu anda?
9. Hitung mundur 3-3, mulai dari 20!

Penanganan Pasien Demensia


Tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan jika menghadapi pasien demensia aialah
sebagai berikut:
a. Terapi obat dengan pengawasan dokter
b. Intervensi non obat :
a) Intervensi Lingkungan
Penyesuaian fisik (bentuk ruangan, warna, alat yang tersedia).
Penyesuaian waktu (membuat jadual rutin).
Penyesuaian lingkungan malam hari (mandi air hangat, tidur teratur).
Penyesuaian indra (mata, telinga).
Penyesuaian nutrisi (makan makanan dengan gizi seimbang).
b) Intervensi Perilaku
Wandering
Yakinkan dimana keberadaan pasien.
Berikan keleluasaan bergerak di dalam dan di luar rumah.
Gelang pengenal hendaya memory.
Agitasi dan Agresifitas
Hindari situasi yang memprovokasi
Hindari argumentasi
Sikap kita tenang dan mantap
Alihkan perhatian kenal lain
Sikap dan pertanyaan yang berulang
Tenang, dengarkan dengan baik, jawab dengan penuh pengertian. Bila masih
berulang, acuhkan dan usahankan aluhkan ke hal yang menarik.
Perilaku seksual yang tidak wajar/ sesuai
Tenang dan bombing pasien keruang pribadinya
Alihkan ke hal yang menarik perhatiannya

40
Bila didapatkan dalam keadaan telanjang, berilah pakaian atau selimut untuk
menutupi badannya. Bantu mengenakan baju kembali.
c) Intervensi Psikologis
Psiko terapi individual
Psiko terapi kelompok
Psiko terapi keluarga
d) Intervensi untuk care giver (pengasuh) diperlukan :
Dukungan mental
Pengembangan kemampuan adaptasi dan peningkatan kemandirian
Kemampuan menerima kenyataan
e) Intervensi yang dilakukan untuk mengatasi mudah lupa :
Lakukan latihan terus-menerus, berulang-ulang
Tingkatkan perhatian
Asosiasikan hal yang diingat dengan hal yang sudah ada dalam otak
f) Aktivitas Keagamaan
g) Mengembangkan hobi yang ada seperti melukis, memasak, main music, berkebun,
fotografi.

2.6 Diagnosa Keperawatan


1. Kesepian berhubungan dengan menarik diri
Tujuan :
a. Pasien mampu mengekspresikan perasaannya
b. Pasien mampu kembali bersosialisasi dengan lingkungan
Intervensi
Bina hubungan saling percaya
Bantu klien menguraikan kelebihan dan kekurangan interpersonal.
Bantu klien membina kembali hubungan interpersonal yang positif / adaptif dan
memberikan kepuasan timbal balik :
a) Beri penguatan dan kritikan yang positif
b) Dengarkan semua kata-kata klien dan jangan menyela saat klien bertanya.

41
c) Berikan penghargaan saat klien dapat berprilaku yang positif
d) Hindari ketergantungan klien
Libatkan dalam kegiatan ruangan.
Ciptakan lingkungan terapeutik
Libatkan keluarga/system pendukung untuk membantu mengatasi masalah klien.

2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan konsep diri dan depresi
Tujuan :
a. Pasien mampu berpartisipasi dalam memutuskan perawatan dirinya
b. Pasien mampu melakukan kegiatan dalam menyelesaikan masalahnya
Intervensi
Bicara secara langsung dengan klien, hargai individu dan ruang pribadinya jika tepat
Beri kesempatan terstruktur bagi klien untuk membuat pilihan perawatan
Beri kesempatan bagi pasien untuk bertanggung jawab terhadap perawatan dirinya
Beri kesempatan menetapkan tujuan perawatan dirinya. Contoh : minta pasien memilih
apakah mau mandi, sikat gigi atau gunting kuku.
Beri kesempatan untuk menetapkan aktifitas perawatan diri untuk mencapai tujuan.
Contoh : Jika pasien memilih mandi, bantu pasien untuk menetapkan aktifitas untuk
mandi (bawa sabun, handuk, pakaian bersih)
Berikan pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
Sepakati jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut secara teratur.
Bersama keluarga memilih kemampuan yang bisa dilakukan pasien saat ini
Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih
dimiliki pasien.
Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan
yang dimiliki.
Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan
jadwal kegiatan yang sudah dibuat.

42
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas
Tujuan :
a. Pasien mampu mengidentifikasi penyebab gangguan pola tidur
b. Pasien mampu memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
Intervensi
Identifikasi gangguan dan variasi tidur yang dialami dari pola yang biasanya
Anjurkan latihan relaksasi, seperti musik lembut sebelum tidur
Diskusikan cara-cara utuk memenuhi kebutuhan tidur
Kurangi tidur pada siang hari
Minum air hangat/susu hangat sebelum tidur
Hindarkan minum yang mengandung kafein dan coca cola
Mandi air hangat sebelum tidur
Dengarkan musik yang lembut sebelum tidur
Anjurkan pasien untuk memilih cara yang sesuai dengan kebutuhannya)
Berikan pujian jika pasien memilih cara yang tepat untuk memenuhi kebutuhan
tidurnya
Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang untuk memfasilitasi
agar pasien dapat tidur.

4. Resiko membahayakan diri berhubungan dengan perasaan tidak berharga dan putusasa
Tujuan :
a. Pasien tidak membahayakan dirinya sendiri
b. Pasien mampu memilih alternatif penyelesaian masalah yang konstruktif
Intervensi
Identifikasi derajat resiko / potensi untuk bunuh diri
Bantu pasien mengenali perasaan yang menjadi penyebab timbulnya ide bunuh diri.
Ajarkan beberapa alternatif cara penyelesaian masalah yang konstruktif.
Bantu pasien untuk memilih cara yang palin tepat untuk menyelesaikan masalah secara
konstruktif.
43
Beri pujian terhadap pilihan yang telah dibuat pasien dengan tepat.
Anjurkan pasien mengikuti kegiatan kemasyarakatan yang ada di lingkungannya
Lakukan tindakan pencegahan bunuh diri
Mendiskusikan dengan keluarga koping positif yang pernah dimiliki klien dalam
menyelesaikan masalah

5. Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tak efektif sekunder terhadap
respon kehilangan pasangan.
Tujuan :
a. Klien merasa harga dirinya naik.
b. Klien mengunakan koping yang adaptif.
c. Klien menyadari dapat mengontrol perasaannya.
Intervensi
Bina hubungan saling percaya dan keterbukaan.
Maksimalkan partisipasi klien dalam hubungan terapeutik.
Bantu klien menerima perasaan dan pikirannya.
Bantu klien menjelaskan konsep dirinya dan hubungannya dengan orang lain melalui
keterbukaan.
Berespon secara empati dan menekankan bahwa kekuatan untuk berubah ada pada
klien.
Mengeksplorasi respon koping adaptif dan mal adaptif terhadap masalahnya.
Bantu klien mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah.
Bantu klien untuk melakukan tindakan yang penting untuk merubah respon maladaptif
dan mempertahankan respon koping yang adaptif.
Identifikasi dukungan yang positif dengan mengaitkan terhadap kenyataan.
Berikan kesempatan untuk menangis dan mengungkapkan perasaannya.

44
BAB III

ASKEP TEORI

3.1 PENGKAJIAN
Pengkajian adalah kegiatan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk
mengevaluasi & mengidentifikasi status kesehatan klien.
1. IDENTITAS KLIEN
Nama : untuk membedakan pasien satu dengan pasienyang lain karena banyak
orang yang namanya sama
Umur : pada usia anak-anak, remaja, dewasa, dan usia lanjut dapat terserang
Jenis Kelamin: tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin
Diagnosismedis : untuk menentukan diagnose
Suku/Bangsa : untuk mengetahui darimana asal dan letak geografis tempat tinggal
pasien
TglPengkajian : dimulainya pengkajian serta catat jam
Agama : tidak dipengaruhi agama yang di anut
Pekerjaan : tidak dipengaruhi jenis pekerjaan
Pendidikan : tidak dipengaruhi jenis pekerjaan
Alamat : untuk mengetahui dimana klien berada
Tgl MRS : untuk mengetahui klien saat MRS serta catat jam MRS
3.2 RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)
1. Keluhan utama :
Jika pengkajian dilakukan setelah beberapa hari pasien Atrial Septal Defect maka
keluhan utama diisi dengan keluhan yang dirasakan saat pengkajian. Misalnya: keluhan
utama pada pasien denganAtrial Septal Defect: sesak napas, suhu tubuh meningkat,
lemas, jantung berdebar-debar.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan penjelasan dari permulaan klien merasakan keluhan sampai di bawa ke
pelayanan kesehatan. Jika pengkajian dilakukan beberapa hari setelah pasien rawat inap,

45
maka riwayat penyakit sekarang ditulis dari permulaan pasien merasakan keluhan sampai
kita melakukan pengkajian.

3. Riwayat Kesehatan Terdahulu


Adanya faktor bawaan dari ibu sebelum lahir dan wanita yang hamil dengan banyak
kontraksi obat-obatan, radiasi secara potensial menyebabkan kelainan susunan jantung
pada embrio/sejak lahir.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan pada pasien apakah sebelumnya ada yang menderita Atrial Septal Defect
pada keluarga.
5. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Lingkungan yang telah terpejan oleh Atrial Septal Defect
3.3 PEMERIKSAAN FISIK
Status Pasien :
Suhu : C (SUHU. axial, rectal, oral)
Nadi : . x/menit ( NADI. teratur, tidak teratur, kuat, lemah)
TD : ../..mmHg (lengan kiri, lengan kanan, berbaring, duduk)
RR : .x/menit (regular/ irregular)
TB : cm BB : . Kg ( cara menghitung berat badan ideal : TB -100 ( 10% dari hasil).
3.4 PEMERIKSAAN PER SISTEM
1. Sistem Pernapasan
Anamnesa : karakteristik bentuk (dada simetris), Kerateristik frekuensi (25 x/menit,
irama teratur, suara napas ronkhi tidak ada weezing).
a. Area Dada :
Inspeksi : bentuk dada (barrel chest, pigeon chest, funnelchest, normal, dada
cembung atau cekung), trauma dada, pembengkakan, penyebaran warna kulit, cikatrik.
Palpasi : nyeri tekan, kelainan pada dinding thorax, bengkak (konsistensi, suhu,
denyutan, dapat di gerakkan / tidak)
Perkusi: pada daerah anterior posterior ( resonansi diatas seluruh permukaan paru,
pekak di intercoste V kanan, intercoste II-V kiri, tympani di intercoste VI kanan).

46
Auskultasi : suara nafas trakeal, bronkial, bronkovesikuler, vesikuler (sesuai dengan
lokasi), ronkhi, wheezing, stridor, pleural friction rub, crakcles.
2. Cardiovaskuler Dan Limfe
Anamnesa : nyeri dada (PQRST), sesak saat istirahat/beraktivitas, tidur dengan
berapabantal, mudah lelah, diaphoresis, perubahan berat badan, pusing (sesuai dengan
etiologi), tension headache.
a. Wajah
Inspeksi : sembab, pucat, oedem periorbital, sianosis,
pembuluh darah mata : pecah,konjungtiva pucat/tidak.
b. Leher
Inspeksi : bendungan vena jugularis
Palpasi : Arteri carotis communis (frekuensi, kekuatan, irama), nilai JVP untuk
melihat fungsi atrium dan ventrikel kanan.
c. Dada
Inspeksi: Pulsasi dada, ictus cordis, bentuk dada sinistra cembung/cekung.
Palpasi : letak ictus kordis ( ICS 5, 1 cm medial dari garis midklavikula sinistra)
apabila tidak dapat diinspeksi, pergeseran ke arah lateral menunjukkanpembesaran
Perkusi : batas jantung dengan adanya bunyi redup, apakah terjadi
pelebaranataupengecilan
Auskultasi: bunyi jantung normal ( BJ 1 dan BJ 2) atau ada kelainan bunyi
jantung(gallop, murmur, friction rub, BJ3(fibrasi pengisian ventrikel), BJ4(tahanan
pengisian ventrikel setelah kontraksi atrium, terdengar antara BJ 1 dan BJ 2).
3. Persyarafan
Anamnesa : nyeri kepala berputar-putar, nyeri kepala sebelah, hilang keseimbangan,
perubahan berbicara, tremor, parastesia, anasthesia, parese, paralisis, koordinasi antar
anggota badan
Tingkat kesadaran (Kuantitas) :
GCS (Glasgow Coma Scale), yang dinilai yaitu :
Eye/membuka mata (E) :
4 = dapat membuka mata spontan
3 = membuka mata dengan dipanggil/atas perintah

47
2 = membuka mata bila dirangsang nyeri
1 = selalu tertutup walaupun dirangsang nyeri
Motorik (M) :
6 = dapat bergerak sesuai perintah
5 = dapat bereaksi menyingkirkan rangsangan nyeri/reaksi setempat
4 = bereaksi fleksi siku pada rangsangan nyeri/menghindar
3 = dengan rangsangan nyeri dapat bereaksi fleksi pada pergelangan tangan atau
jari atau fleksi spastic pada tungkai atau abduksi lengan atas/fleksiabnormal
2 = respon ekstensi
1 = tidak bereaksi
Verbal/bicara (V) :
5 = orientasi baik : orang, tempat, waktu
4 = jawaban kacau
3 = kata-kata tak berarti
2= suara tidak komprehensif
1 = tidak ada suara
4. Perkemihan-Eliminasi Urine
Anamnesa : urin (jumlah, warna, bau), gatal, nafas berbau amoniak/ureum, nokturi
(sering kencing pada malam hari). Urgensi (rasa sangat ingin kencing sehingga terasa
sakit), hesitansi (sulit untuk memulai kencing, sehingga untuk memulai kencing kadang-
kadang harus mengejan), terminal dribbling ( masih didapatkannya tetesan-tetesan urin
pada akhir miksi), intermitensi ( terputus-putusnya pancaran urin pada saat miksi)
Genetalia eksterna :
a. Laki-Laki :
Penis
Inspeksi : Mikropenis, makropenis, hipospadia, epispedia, stenosis meatus uretra
eksterna, fistel uretrocutan, ulkus, tumor penis, warna kemerahan, kebersihan,
adanya luka atau trauma
Palpasi : nyeri tekan
Scrotum

48
Inspeksi : pembesaran, transiluminasi/ penerawangan (untuk membedakan
massapadat dan massa kistus yang terdapat pada isi scrotum dengan cara
penerawangan dilakukan pada tempat yang gelap dan menyinari scrotum dengan
cahaya terang, jika isi scrotum tampak menerawangberarti berisi cairan dan
dikatakan transiluminasi positif atau deafanoskopi positif), hipoplasi kulit (sering
dijumpai pada kriptorkismus), luka /trauma, tanda infeksi, kebersihan.
Palpasi : nyeri tekan, penurunan testis
b. Perempuan :
Genetalia eksterna
Inspeksi : odema, kemerahan, tandatanda infeksi, pengeluaran per vagina(cairan),
varises, kondiloma, kebersihan, bartolinitis, luka/trauma.
Palpasi : benjolan, nyeri tekan.
Ginjal :
Inspeksi : pembesaran daerah pinggang (karena hidronefrosis atau tumor di daerah
retroperitoneum).
Palpasi : dengan cara ( memakai dua tangan, tangan kiri diletakkan
disudutkostevertebra untuk mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan kanan
meraba ginjal dari depan), adanya nyeri tekan abdomen kuadran I dan II diatas
umbilikus, suhu kulit, massa
Perkusi : nyeri ketok (dengan cara memberikan ketokan pada sudut kostavertebra,
yaitu sudut yang dibentuk oleh kosta terakhir dengantulang vertebra)
5. Sistem Pencernaan
Anamnesa : Nafsu makan, pola makan klien, porsi makan dan jumlah minum per hari,
alergi terhadap makan, keluhan mual muntah, nyeri tenggorokan, telan, melakukan diet,
disfagia, riwayat penggunaan pencahar.

a. Mulut:
Inspeksi : mukosa bibir, labio/palatoschiziz, gigi (jumlah, karies, plak, kebersihan),
Gusi (berdarah, lesi/bengkak, edema), mukosa mulut (stomatitis, nodul/benjolan,
kebersihan). Produksi saliva, pembesaran kelenjar parotis
Palpasi : nyeri tekan pada rongga mulut, massa
b. Lidah
49
Inspeksi : Posisi, warna dan bentuk, simetris, kebersihan, warna, gerakan,tremor, lesi
Palpasi : Nodul, oedema, nyeri tekan

c. Faring - Esofagus :
Inspeksi : hiperemi, warna dan bentuk palatum. Tonsil (bentuk, warna dan ukuran)
Palpasi : pembesaran kelenjar
d. Abdomen (dibagi menjadi 4 kuadran)
Inspeksi: pembesaran abnormal (asites, distensi abdomen), spider navy, tampak vena
porta hepatika, bekas luka, luka (colostomy, CAPD, hernia), umbilikus (kebersihan,
menonjol,)
Auskultasi : peristaltik usus
Perkusi : tymphani, hipertympani, batas batas hepar, nyeri
Palpasi:
Kuadran I:
Hepar hepatomegali, nyeri tekan, shifting dullness
Kuadran II:
Gaster nyeri tekan abdomen, distensi abdomen
Lien splenomegali
Kuadran III:
Massa (skibala, tumor), nyeri tekan
Kuadran IV:
Nyeri tekan pada titik Mc Burney
6. Sistem Muskuloskeletal & Integumen
Anamnese : Adakah nyeri, kelemahan extremitas, Cara berjalan, Bentuk tulang
belakang (lordosis:keadaan tulang belakang condong ke arah depan, kiposis: keadaan
tulang condong ke arah belakang, skoliosis: keadaan tulang condong ke arah samping)
a. Warna kulit
Hiperpigmentasi, hipopigmentasi (dikaji dengan pemeriksaan sensasi panas/nyeri),
icterus, kering, mengelupas, bersisik (di sela-sela jari kaki/tangan)
Kekuatan otot :
Keterangan:

50
0: Tidak ada kontraksi
1: Kontaksi (gerakan minimal)
2: Gerakan aktif namun tidak dapat melawan gravitasi
3: Gerakan aktif, dapat melawan gravitasi
4: Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan ringan
5: Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan penuh
b. Luka :
Inspeksi : adanya tanda radang, warna (merah/vaskularisasi baik, kuning/peradangan,
hitam/nekrosis), karakteristik (kedalaman, luas, jenis cairan yang kluar)
Palpasi : warna cairan yang keluar (luka jahitan), suhu (panas,dingin)
7. Sistem Endokrin dan Eksokrin
Anamnesa : Menanyakan bagaimana riwayat nutrisi dan eleminasi (3P : Poliuria,
polifagia, polidipsia), lemah, kejang/kram, adanya disfungsi gonad (kemampuan ereksi,
dispareunia, pruritus), pandangan kabur, perubahan berat badan dan tinggi badan,
kesulitan menelan, berkeringat, tremor, hot flushes (panas pada wajah)
a. Kepala :
Inspeksi : distribusi rambut, ketebalan, kerontokan ( hirsutisme), alopesia (botak),
moon face
b. Leher
Inspeksi : bentuk, pembesaran kelenjar thyroid, perubahan warna
Palpasi : pembesaran kelenjar (thyroid, parathyroid), nyeri tekan,
suhu
c. Payudara
Inspeksi : pembesaran mamae (pada laki-laki)
d. Genetalia :
Inspeksi :Rambut pubis ( distribusi, ketebalan, kerontokan), kebersihan,
pengeluaran (darah, cairan, lendir).
Palpasi :adakah benjolan, kegagalan penurunan testis (kriptokismus),
e. Ekstremitas bawah
Palpasi : edema non pitting
8. Sistem Reproduksi

51
Anamnesa : Menanyakan bagaimana riwayat haid yang meliputi: menarche, cyclus haid,
lama haid, banyaknya darah & sifatnya (cair, bergumpal), flour albus (warna, bau,
jumlah), disminore. Menorhagia, metrorhagia. keluhan waktu coitus (nyeri, pengeluaran
darah)

a. Payudara
Inspeksi : bentuk, kebersihan, warna areola, bentuk papilla mamae, adanya massa,
kulit seperti kulit jeruk, adanya luka, kesimetrisan payudara
Palpasi : ada /tidak benjolan abnormal, pengeluaran ( cairan, darah ), nyeri tekan,
b. Axilla
Inspeksi : tampak /tidak adanya benjolan abnormal,
Palpasi : teraba/ tidak benjolan abnormal
c. Abdomen
Inspeksi : pembesaran abdomen , luka post SC, strie ( albican, livide).
Palpasi : pembesaran (kontur, ukuran), adakah massa.
d. Genetalia :
Inspeksi : Rambut pubis, kebersihan,odema, varices, benjolan, pengeluaran (darah,
cairan, lendir), adakah tanda-tanda infeksi.
Palpasi: adakah benjolan/ massa dan nyeri tekan.
Laki-laki :
Anamnesa :
keluhan waktu coitus (kemampuan ereksi ,rasa nyeri, ejakulasi dini),
Genetalia :
Inspeksi : bentuk, rambut pubis, kebersihan,odema, varices, benjolan, pengeluaran
(darah, cairan, lendir), turunnya testis, luka/keadaan luka. priapismus
Palpasi: adakah benjolan,
9. Persepsi sensori :
Anamnesa : tanyakan pada klienpakah ada nyeri yang dirasakan pada mata, Keluhan
penurunan tajam penglihatan, Keluhan mata berkunang-kunang, kabur, penglihatan

52
ganda ( diplopia ). Keluhan mata berair, gatal, kering, adanya benda asing dalam
mata,penurunan pendengaran, terasa penuh pada telinga, nyeri.Rasa sengau pada hidung
a. Mata
Inspeksi :
Kesimetrisan mata, bentuk mata, lesi Papelbra ( ukuran, bentuk, warna, cairan yang
keluar ), Bulu mata (pnyebaran, posisi masuk :Enteropion, keluar :ksteropion),
produksi air mata.
Kornea : Normal berkilau, transparan
Iris dan pupil :warna iris dan ukuran, uji reflek cahaya pada pupil
Lensa : Normal jernih dan transparan, pada org tua kdg ada cincin putih seputar iris
(Arkus senilis)
Sclera ; warna ( putih, ikterik)
Palpasi:
Teraba lunak/ keras, nyeri dan pembengkakan kelopak mata, palpasi kantong lakrimal,
pemeriksaan TI
b. Penciuman (Hidung) :
Palpasi : Sinus (maksilaris, frontalis, etmoidalis, sfenoidalis), Palpasi fossa kanina (
nyeri/ tidak),Pembengkakan, Deformitas
Perkusi : pada regio frontalis sinus frontalis dan fossa kanina kita lakukan apabila
palpasi pada keduanya menimbulkan reaksi hebat
3.5 Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan b/d penurunan tekanan osmotik, perunahan permeabilitas
pembuluh darah
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d mual muntah
3. Pola nafas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru
4. Intoleransi aktivitas v/d kelemahan fisik
5. Nyeri akut b/d peningkatan vaskuler otak pasien mengeluh sakit kepala
6. Resiko cedera pada janin b/d tidak adekuatnya perfusi darah plasenta.
3.6 INTERVENSI

53
Intervensi keperawatan adalah tindakan yang dirancang untuk membantu klien dalam
beralih dari tingkat kesehatan saat ini ke tingkat yang di inginkan dalam hasil yang di
harapkan (Gordon, 1994).

BAB IV
ASKEP KASUS

Pasien Ny.M dengan umur 60 tahun mengurung diri di kamar dan tidak mau makan dan hanya
diam,. Beliau tinggal sendiri karena 3 hari yang lalu beliau ditinggalkan cucunya. pasien tampak
cemas dan gelisah. Keluarga sudah mencoba membawa Ny.M ke puskesmas namun Ny.M masih
tidak ada perubahan. Dan akhirnya dirujuk ke RSUD Jombang. Pasien Ny.M memiliki riwayat
gastritis. Ny.M mengeluh nyeri ulu hati, mual muntah, pusing. Hasil pemeriksaan TTV : TD:
140/80 mmhg, RR: 20x/menit , nadi : 110 x/menit. S:37,00C

1. Pengkajian

IDENTITAS KLIEN

Nama : Ny.M No. Reg :344504

Umur : 60 tahun Tgl. MRS : 07-02-2017

(Jam 08.00 WIB)

Jenis Kelamin : P Diagnosis medis : gastritis

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Tgl Pengkajian : 16-10-2017

(Jam 13.45 WIB)

Agama : Islam

Pekerjaan : -

Pendidikan : SMP

Alamat : segodorejo, somobito, jombang

54
2. Keluhan Utama
Cemas

3. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat Penyakit Sekarang
. Pasien Ny.M mengeluh nyeri ulu hati, mual muntah, pusing. . pasien tampak cemas dan
gelisah Hasil pemeriksaan TTV : TD: 140/80 mmhg, RR: 20x/menit , nadi : 110 x/menit.
b. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien Ny.M memiliki riwayat gastritis

c. Riwayat penyakit keluarga

Keluarga An. L tidak ada yang pernah menderita penyakit yang sama.

. Pemeriksaan Fisik
PEMERIKSAAN FISIK

1.1. Tanda-tanda Vital, TB dan BB :


S :37.5C N :110 x/menit TD : 140/80mmHg RR : 20x/menit (regular/ irregular)

TB :154 cm BB : 40 Kg

1.2. PEMERIKSAAN PER SISTEM


A. Sistem Pernapasan
Anamnesa :

Pasien mengatakan tidak ada keluahan pada sistem pernafasan

Hidung:

Inspeksi: mukosa bersih, lembab , tidak ada sputum

Palpasi: nyeri tekan (-)

Mulut

Inspeksi : mukosa bibir lembab

55
Area dada:

Inspeksi: pola nafas teratur, simetris kanan kiri , tidak ada lesi

Palpasi: nyeri tekan (-)

Perkusi : sonor

Auskultasi : vesikuler, wheezig (-), ronkhi (-)

A. Cardiovaskuler Dan Limfe


Anamnesa: Pasien mengatakan tidak ada keluhan pada sistem kardiovaskuler

Wajah

Inspeksi : pucat

Dada

Inspeksi : tidak ada lesi, simetris kanan kiri


Palpasi : ictus cordis teraba
Perkusi : sonor
Auskultasi : bunyi jantung normal lub dub, tidak ada kelainan bunyi jantung (gallop,
murmur)

Ekstrimitas Atas

Inspeksi : sianosis (-),

56
Palpasi : CRT <2dtk

Ekstrimitas Bawah

Inspeksi : tidak ada Varises, tidak ada sianosis, tidak ada clubbing finger,tidak ada odem.

Palpasi : CRT <2detik.

B. Persyarafan
Anamnesis:tidak mengalami nyeri kepala berputar-putar,nyeri kepala sebelah,hilang
keseimbangan, mual dan muntah.
Pemeriksaan nervus (diperiksa jika ada indikasi dengan kelainan persyarafan):
1. Nervus I olfaktorius( pembau)
Pasien dapat membedakan bau-bau yang menyengat dan tidak menyengat (seperti
minyak kayu putih,parfum dan kopi)
2. Nervus II opticus( penglihatan)
Pasien menggunakan kacamata
3. Nervus III oculomotorius
Pada pasien tidak terdapat oedema kelopak mata,tidak terdapat sklera mata jatuh,bola
mata menonjol datn celah mata sempit,tetapi pasien konjungtiva matanya anemis.
4. Nervus IV toklearis
Pasien diperiksa pupilnya normal dan refleks pupilnya normal pada saat diberi
sinaran oleh cahaya.
5. Nervus VI abdusen
Pada pasien saat dilakukan pemeriksaan gerak bola mata, pergerakannya adalah
normal antar mata kanan dan kiri.
6. Nervus VII facialis
Pada pasien pendengaran normal tidak ada gangguan pada pendengaran.
7. Nervus X vagus: Pada pasien pergerakan lidahnya dapat bergerak penuh dan tidak
ada gangguan pada pergerakan lidah pasien,dapat menelan secara normal.
8. Nervus XI aksesoriusPada pasien pergerakan kepala dan bahu normal. Kepala dapat
menggeleng, menoleh kanan dan kiri. Dan bahu dapat bergerak penuh.
Tingkat kesadaran (kualitas):

57
Compos Mentis : sadar sepenuhnya, dapat menjawab pertanyaan tentang keadaan
sekelilingnya.
Tingkat kesadaran (Kuantitas) :
GCS (Glasgow Coma Scale), yang dinilai yaitu :
1. Eye/membuka mata (E) :
4 = dapat membuka mata spontan
2. Motorik (M) :
4= bereaksi fleksi siku pada rangsangan nyeri/menghindar
-Verbal/bicara (V) :
5 = orientasi baik : orang, tempat, waktu
C. Perkemihan-Eliminasi Uri
Anamnesa

Pasien mengatakan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan

D. Sistem Pencernaan-Eliminasi Alvi (KDM ganguan eliminasi sec teori...?)


Anamnesa

Tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, dan mual muntah

Mulut:

Inspeksi : mukosa bibir pucat, stomatitis (-)

Palpasi : nyeri tekan pada rongga mulut (-), massa (-)

Lidah

Inspeksi : simetris, warna merah muda dan,bersih, tidak ada lesi

Palpasi : oedema(-),

Faring - Esofagus :

Inspeksi : hiperemi (-)

58
Palpasi : pembesaran kelenjar (-)

Abdomen (dibagi menjadi 4 kuadran)

Inspeksi: lesi (-)

Auskultasi : peristaltik usus 18x/mnt

Perkusi : hypertimpani, nyeri (+)

Palpasi:

Kuadran I:

Hepar hepatomegali(-), nyeri tekan(-)

Kuadran II:

Gaster nyeri tekan abdomen (+), distensi abdomen(-)

Lien splenomegali (-)

Kuadran III:

Massaskibala(-), tumor(-), nyeri tekan(-)

Kuadran IV:

Nyeri tekan pada titik Mc Burney (-)

E. Sistem Muskuloskeletal & Integumen


Anamnese : kelemahan otot

Warna kulit

Hiperpigmentasi, hipopigmentasi kering, , bersisik faktor usia

Kekuatan otot : 4 4

4 4

59
Keterangan:

0: Tidak ada kontraksi

1: Kontaksi (gerakan minimal)

2: Gerakan aktif namun tidak dapat melawan gravitasi

3: Gerakan aktif, dapat melawan gravitasi

4: Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan ringan

5: Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan penuh

F. Sistem Endokrin dan Eksokrin


Anamnesa : lemah

Menanyakan bagaimana riwayat nutrisi dan eleminasi (3P : Poliuria, polifagia,


polidipsia), lemah, kejang/kram, adanya disfungsi gonad (kemampuan ereksi,
dispareunia, pruritus), pandangan kabur, perubahan berat badan dan tinggi badan,
kesulitan menelan, berkeringat, tremor, hot flushes (panas pada wajah)

Riwayat KB : Ditanyakan apakah klien pernah ikut KB, metode apa yang digunakan,
kapan menpggunakannya, alasan mengikuti KB, alasan berhenti, side efek.

Kepala :
Inspeksi : distribusi rambut, ketebalan, kerontokan ( hirsutisme), alopesia (botak),
moon face

Leher
Inspeksi : bentuk, pembesaran kelenjar thyroid, perubahan warna
Palpasi : pembesaran kelenjar (thyroid, parathyroid), nyeri tekan, suhu

Payudara
Inspeksi : pembesaran mamae (pada laki-laki)

Genetalia :
Inspeksi : Rambut pubis ( distribusi, ketebalan, kerontokan), kebersihan,
pengeluaran (darah, cairan, lendir).
Palpasi : adakah benjolan, kegagalan penurunan testis (kriptokismus),

Ekstremitas bawah
Palpasi : edema non pitting

60
G. Sistem Reproduksi

Tidak ada keluhan apapun.

H. Persepsi sensori :
Anamnesa : pandangan kabur

2 Diagnosa Keperawatan
00069 KELAS 2. Respon koping
NS. DIAGNOSIS :
Ketidakefektifan koping
(NANDA-I)
DOMAIN 9.KOPING/TOLERANSI STRES
Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian falid tentang
DEFINISI stresor, ketidakadekuatan pilihan respon yang dilakukan,
dan/atau ketidakmampuan untuk sumberdaya yang tersedia
Ketidakmampuan memenuhi harapan peran
Letih
Ketidakmampuan menghadapi situasi
0
DEFINING
Sering sakit
CHARACTERISTICS
Strategi koping tidak efektif
Kurang perilaku yang berfokus pada pencapaian tujuan
Perubahan pola komunikasi
Ketidakadekuatan kesempatan untuk bersiab menghadapi
RELATED FACTORS:
stresor.

61
ASSESSMENT Subjective data entry Objective data entry
TTV PASIEN
Pasien tidak nafsu makan TD:140/80mmhg
Pasien mengurung diri di
RR:20x/menit
kamar
Pasien mengatakan merasa N:110xmenit
nyeri ulu hati S:37,00C
Mual
Muntah
Pusing
Memiliki riwayat gastritis

DIAGNOSIS Ns. Diagnosis (Specify):


Client
Ketidakefektifan koping
Diagnostic
Related to:
Statement:
Stresor

3. Intervensi Keperawatan

NIC NOC
INTERVE AKTIVITAS OUTCOME INDKATOR
NSI
Peningkata 1. Observasi 1. Koping definisi : 1. Mampu
n koping - Idendetifikasi sistem tindakan pribadi menginden
DEF yang dukungann untuk mengolah stres tifikasikan
:fasilitasi yang tersedia yang membebani pola
usaha 2. Aksi kemampuan individu koping
koknitif dan - Gunakan pendekatan yang
perilaku yang tenang dan efektif (4)
mengelola memberikan jaminan. 2. Melaporka
stresor yag - Berikan penilaian n

62
dirasakan,p yang terkait dengan pengurang
erubahan,at kebutuhan tau an stres(4)
aau keinginan pasien 3. Mampu
ancaman terkait dengan menyataka
yang dukungan sosial. n
menggangu 3. Edukasi penerimaa
dalam - Intruksikan pasien untuk n situasi
rangka mengunakan teknik relaksasi (4)
memenuhi sesuai dengan kebutuhan. 4. Beradaptas
kebutuhan i
hidup dan perubahan
peran. hidup (4)

Implementasi

no Tanggal / jam Kegiatan paraf

1 17 oktober Melakukan identifikasi sistem pendukung pada pasien


2017 (08.00
09.00)
2 17 oktober Melakukan pendekatan diri pada pasien
2017 (09.00
10.00)
3 17 oktober Menilai faktor pendukung koping pasien
2017 (10.00
11.00)
4 17 oktober Memberi edukasi pada pasien untuk melakukan teknik
2017 (11.00 relaksasi sesuai kebutuhan
12.00)

Evaluasi

no Tanggal / dx. keperawatan Perkembangan ( S O A P)


jam
1 20 oktober Ketidakefektifan S: pasien mengatakan tidak cemas lagi dan mampu
2017 jam beradaptasi dengan lingkungan baru
koping
08.00 0 : pasien tampak lebih tenang dan mau

63
berkomunikasi dengan keluarga
A : masalah teratasi
P : hentikan intervensi

BAB
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bahwa pelayanan geriatrik di Indonesia sudah saatnya diupayakan di seluruh jenjang
pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk itu pengetahuan mengenai geriatric harus sudah
merupakan pengetahuan yang diajarkan pada semua tenaga kesehatan. Dalam hal ini
pengetahuan mengenai psikogeriatri atau kesehatan jiwa pada usia lanjut merupakan salah satu di
antara berbagai pengetahuan yang perlu diketahui. Tatacara pemeriksaan dasar psikogeriatri oleh
karena itu sering disertakan dalam pemeriksaan/assesmen geriatric, antara lain mengenai
pemeriksaan gangguan mental. Kognitif, depresi dan beberapa pemeriksaan lain.

DAFTAR PUSTAKA

Martono Hadi dan Kris Pranaka. 2010. Buku Ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI. Jakarta:
Fakultas Kedokteran UNIVERSITAS INDONESIA

Depkes R.I. 1999. Kesehatan keluarga, Bahagia di Usia Senja. Jakarta: Medi Media

Nugroho Wahyudi. 1995. Perawatan Usia Lanjut. Jakarta: EGC

64