Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN BEDAH MINOR

ODONTEKTOMI

Pembimbing :
drg. Anindito Nurpradipto Wibisono

Disusun Oleh :

Retno Kinasih Nugraheni (2014-16-178)


Ezario Amabel (2015-16-048)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PROF.DR.MOESTOPO(BERAGAMA)
JAKARTA

1
2017

BAB I

PENDAHULUAN

Gigi impaksi merupakan gigi yang jalan erupsinya terhalang pada


lengkung gigi karena kurangnya ruang pada lengkung atau obstruksi pada
jalannya erupsi gigi. Hal ini dapat terjadi karena tidak tersedianya ruangan yang
cukup pada rahang untuk tumbuhnya gigi dan angulasi yang tidak benar dari gigi
tersebut. Gigi yang mengalami impaksi memiliki jalan erupsi yang terhalang atau
terblokir, biasanya oleh gigi didekatnya atau terdapat jaringan patologis.1
Permasalahan kasus gigi impaksi sangat bervariasi, ada yang memerlukan
tata laksana bedah yaitu odontektomi dan ada pula kasus yang dapat dibiarkan
tanpa pembedahan. Odontektomi adalah suatu prosedur pengangkatan gigi
impaksi, perlu dilakukan pada sebagian gigi impaksi. Sebagian gigi impaksi
lainnya, dapat dibiarkan tanpa pembedahan tetapi dengan perawatan dan
pengawasan akan kemungkinan komplikasi yang timbul. Tindakan odontektomi
sendiri juga dapat menimbulkan komplikasi. Tingginya prevalensi gigi yang
mengalami impaksi mengakibatkan frekuensi odontektomi meningkat tajam,
namun disisi lain muncul pertanyaan apakah odontektomi memang diperlukan
pada seluruh kasus.2
Gigi molar ketiga merupakan satu-satunya jenis gigi yang seluruh
pertumbuhannya terjadi setelah kelahiran dan satu-satunya gigi yang masih terus
mengalami proses pertumbuhan bahkan pada saat seseorang sudah berusia
delapan belas tahun seiring dengan bertambahnya usia, dan belum tentu selesai
sempurna pada usia 22 tahun (Silvestri dan Singh, 2003; Lopez dkk., 2013). Oleh
karenanya, gigi molar ketiga menjadi gigi yang paling sering mengalami impaksi
dibandingkan dengan jenis gigi lainnya. Dilaporkan bahwa prevalensi gigi molar
ketiga rahang bawah impaksi adalah antara 9,5% 50%. Gigi molar ketiga rahang

2
bawah merupakan gigi yang paling sering mengalami impaksi, diikuti dengan gigi
molar ketiga rahang atas, gigi kaninus rahang atas, dan gigi kaninus rahang bawah
(Obimakinde, 2009).
Dalam memutuskan akan dilakukan atau tidaknya odontektomi sebagai
tatalaksana pengangkatan gigi impaksi, didasari oleh pertimbangan manfaat dan
risiko masing-masing pilihan. Keputusan diambil bersama oleh dokter dan pasien,
setelah pasien diberikan penjelasan selengkapnya.2
Laporan kasus ini membahas prosedur odontektomi gigi 38 pada seorang
pasien laki-laki yang dilakukan pada tanggal 01 November 2017 di bagian Oral
Surgery Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (B).

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Gigi Impaksi


Gigi impaksi adalah gigi yang jalan erupsi normalnya terhalang atau
terblokir, biasanya oleh gigi di dekatnya atau jaringan patologis. Impaksi
diperkirakan secara klinis apabila gigi antagonisnya sudah erupsi dan hampir bisa
dipastikan apabila gigi yang terletak pada sisi yang lain sudah erupsi.3
Semua gigi berpotensi untuk mengalami impaksi, tetapi frekuensi tertinggi
gigi yang mengalami impaksi secara berurutan adalah molar tiga rahang bawah
dan rahang atas, kaninus rahang atas, dan premolar rahang bawah.4

B. Etiologi Gigi impaksi


Gigi impaksi dapat disebabkan karena adanya halangan fisik pada jalan
erupsi gigi yang dapat dideteksi secara klinis atau radiografis. Etiologi dari gigi
impaksi permanen berupa faktor lokal dan sistemik. Sindrom Down, cleidocranial
dysplasia, defisiensi hormon endokrin (hipotiroid dan hipopituitari), penyakit
demam, dan akibat radiasi adalah beberapa faktor sistemik yang mempengaruhi
impaksi gigi permanen. Faktor lokal dapat berupa halangan karena kekurangan
ruang dalam lengkung rahang yang mengakibatkan tabrakan folikular antara gigi
yang sedang mengalami masa pertumbuhan, tertahannya gigi tersebut oleh gigi
sulung, arah erupsi gigi tersebut menyimpang atau kegagalan erupsi yang tidak
diketahui asalnya.
Penyebab lain impaksi dapat dihubungkan dengan adanya gigi
supernumerary, gigi crowded, dan obstruksi jaringan lunak dan jaringan keras
seperti tumor odontogenik. Pada beberapa kasus, gigi dapat menjadi impaksi
karena gerakan rotasi selama masa pertumbuhan gigi.3,5 Faktor yang paling
berpengaruh terhadap terjadinya impaksi gigi adalah ukuran gigi. Sedangkan

4
faktor yang paling erat hubungannya dengan ukuran gigi adalah bentuk gigi.
Bentuk gigi ditentukan pada saat konsepsi.6
Etiologi dari gigi impaksi bermacam-macam diantaranya kekurangan
ruang, kista, gigi supernumerer, retensi gigi sulung, infeksi, trauma, anomali dan
kondisi sistemik.3 Pada umumnya gigi susu mempunyai besar dan bentuk yang
sesuai serta letaknya terletak pada maksila dan mandibula. Tetapi, pada saat gigi
susu tanggal tidak terjadi celah antar gigi, maka diperkirakan akan tidak cukup
ruang bagi gigi permanen penggantinya sehingga bisa terjadi gigi berjejal dan hal
ini merupakan salah satu penyebab terjadinya impaksi.7
Hambatan erupsi gigi biasanya berupa hambatan dari sekitar gigi atau
hambatan dari gigi itu sendiri.8
Hambatan dari sekitar gigi dapat terjadi karena :
1. Tulang yang tebal serta padat
2. Tempat untuk gigi tersebut kurang
3. Gigi tetangga menghalangi erupsi gigi tersebut
4. Adanya gigi desidui yang persistensi
5. Jaringan lunak yang menutupi gigi tersebut kenyal atau liat
Hambatan dari gigi itu sendiri dapat terjadi oleh karena :
1. Letak benih abnormal, horizontal, vertikal, distal dan lain-lain.
2. Daya erupsi gigi tersebut kurang.

C. Berdasarkan Teori Filogenik


Berdasarkan teori filogenik, gigi impaksi terjadi karena proses evolusi
mengecilnya ukuran rahang sebagai akibat dari perubahan perilaku dan pola
makan pada manusia. Beberapa faktor yang diduga juga menyebabkan impaksi
antara lain perubahan patologis gigi, kista, hiperplasi jaringan atau infeksi lokal.3
Seorang ahli yang bernama Nodine, mengatakan bahwa sivilisasi mempunyai
pengaruh terhadap pertumbuhan rahang. Makin maju suatu bangsa maka stimulan
untuk pertumbuhan rahangnya makin berkurang.
Kemajuan bangsa mempunyai hubungan dengan pertumbuhan rahang,
karena bangsa yang maju diet makanannya berbeda dalam tingkatan kekerasan
dibandingkan dengan bangsa yang kurang maju. Misalnya bangsa-bangsa primitif
lebih sering memakan makanan yang lebih keras sedangkan bangsa modern lebih

5
sering makan malanan yang lunak, sehingga tidak atau kurang memerlukan daya
untuk mengunyah, sedangkan mengunyah merupakan stimulasi untuk
pertumbuhan rahang.9

D. Berdasarkan Teori Mendel


Menurut teori Mendel, jika salah satu orang tua mempunyai rahang kecil,
dan salah satu orang tua lainnya bergigi besar, maka kemungkinan salah seorang
anaknya berahang kecil dan bergigi besar. Sebagai akibat dari kondisi tersebut,
dapat terjadi kekurangan tempat erupsi gigi permanen sehingga terjadi impaksi.9

E. Etiologi Gigi Terpendam Menurut Berger


Kausa lokal:
1. Posisi gigi yang abnormal
2. Tekanan terhadap gigi tersebut dari gigi tetangga
3. Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut
4. Kurangnya tempat untuk gigi tersebut
5. Gigi desidui persintensi (tidak mau tanggal)
6. Pencabutan gigi yang prematur
7. Inflamasi yang kronis yang menyebabkan penebalan mukosa sekeliling gigi
8. Adanya penyakit-penyakit yang menyebabkan nekrose yulang karena
inflamasi atau abses yang ditimbulkannya
9. Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada anak
anak.9
Kausa umum :
1. Kausa prenatal
2. Keturunan
3. Miscegenation.

Kausa postnatal :
Semua keadaan atau kondisi yang dapat mengganggu pertumbuhan pada
anak-anak seperti :
1. Ricketsia

6
2. Anemia
3. Syphilis kongenital
4. TBC
5. Gangguan kelenjar endokrin
6. Malnutrisi
Kelainan pertumbuhan :
1. Cleido cranial dysostosis
Terjadi pada masa kongenital dimana terjadi kerusakan atau ketidak beresan
dari pada tulang cranial. Hal ini biasanya diikuti dengan persistensi gigi susu dan
tidak erupsinya atau tidak terdapat gigi permanen, juga ada kemungkinan
dijumpai gigi supernumeri yang rudimeter.
2. Oxycephali
Suatu kelainan dimana terdapat kepala yang lonjong diameter muka
belakang sama dengan dua kali kanan atau kiri. Hal ini mempengaruhi
pertumbuhan rahang.

F. Klasifikasi Gigi Impaksi

Beberapa metode telah digunakan untuk mengklasifikasi impaksi, yaitu


impaksi berdasarkan level impaksi, berdasarkan angulasi molar ketiga, dan
hubungan terhadap tepi anterior ramus mandibula. Klasifikasi dari Winter, Pell
dan Gregory serta Archer dan Kruger adalah yang paling sering digunakan untuk
mengklasifikasi impaksi molar ketiga rahang bawah.5,10.

1. Klasifikasi molar tiga bawah impaksi menurut Pell dan Gregory


Pell dan Gregory menghubungkan kedalaman impaksi terhadap bidang
oklusal dan garis servikal gigi molar kedua mandibula dalam sebuah
pendekatan dan diameter mesiodistal gigi impaksi terhadap ruang yang
tersedia antara permukaan distal gigi molar kedua dan ramus ascendens
mandibula dalam pendekatan lain.11

7
Gambar 1. Klasifikasi impaksi molar ketiga rahang bawah menurut
Pell dan Gregory.6

2. Berdasarkan Relasi Molar Ketiga Bawah dengan Ramus Mandibula12


a. Klas I
Diameter anteroposterior gigi sama atau sebanding dengan ruang
antara batas anterior ramus mandibula dan permukaan distal gigi molar
kedua.4 Pada klas I ada celah di sebelah distal Molar kedua yang
potensial untuk tempat erupsi Molar ketiga.
b. Klas II
Sejumlah kecil tulang menutupi permukaan distal gigi dan ruang tidak
adekuat untuk erupsi gigi, sebagai contoh diameter mesiodistal gigi
lebih besar daripada ruang yang tersedia. Pada klas II, celah di sebelah
distal Molar kedua.
c. Klas III
Gigi secara utuh terletak di dalam mandibula akses yang sulit. Pada
klas III mahkota gigi impaksi seluruhnya terletak di dalam ramus.

3. Berdasarkan kedalamannya dalam hubungannya terhadap garis


servikal Molar kedua disebelahnya.12

8
a. Posisi A: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada tingkat yang sama
dengan oklusal gigi molar kedua tetangga.13 Mahkota Molar ketiga
yang impaksi berada pada atau di atas garis oklusal.12
b. Posisi B: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada pertengahan garis
servikal dan bidang oklusal gigi molar kedua tetangga. Mahkota Molar
ketiga di bawah garis oklusal tetapi di atas garis servikal Molar
kedua.2,12
c. Posisi C: Bidang oklusal gigi impaksi berada di bawah tingkat garis
servikal gigi molar kedua. Hal ini juga dapat diaplikasikan untuk gigi
maksila. Mahkota gigi yang impaksi terletak di bawah garis
servikal.2,12

Gambar 2. Klasifikasi impaksi molar ketiga menurut Pell dan Gregory. 14

4. Berdasarkan Kedalaman Impaksi dan Jaraknya ke Molar Kedua


a. Posisi A : Permukaan oklusal gigi impaksi sama tinggi atau sedikit
lebih tinggi dari gigi molar kedua
b. Posisi B : Permukaan oklusal dari gigi impaksi berada pada
pertengahan mahkota gigi molar kedua atau sama tinggi dari garis
servikal
c. Posisi C : Permukaan oklusal dari gigi impaksi berada di bawah garis
servikal molar kedua.

9
5. Posisinya Berdasarkan Jarak Antara Molar Kedua Rahang Bawah
dan Batas Anterior Ramus Mandibula
a. Klas I : Jarak antara distal molar dua bawah dengan ramus mandibula
cukup lebar mesiodistal molar tiga bawah
b. Klas II : Jarak antara distal molar dua bawah dengan ramus mandibula
lebih kecil dari lebar mesiodistal molar tiga bawah
c. Klas III : Gigi molar tiga bawah terletak di dalam ramus mandibula.

6. Klasifikasi Winter13
Winter mengajukan sebuah klasifikasi impaksi gigi molar ketiga
mandibula berdasarkan hubungan gigi impaksi terhadap panjang aksis gigi
molar kedua mandibula. Beliau juga mengklasifikasikan posisi impaksi
yang berbeda seperti impaksi vertikal, horizontal, inverted, mesioangular,
distoangular, bukoangular, dan linguoangular. Quek et al mengajukan
sebuah sistem klasifikasi menggunakan protractor ortodontik. Dalam
penelitian mereka, angulasi dideterminasikan menggunakan sudut yang
dibentuk antara pertemuan panjang aksis gigi molar kedua dan ketiga.
Mereka mengklasifikasikan impaksi gigi molar ketiga mandibula sebagai
berikut:11

a. Mesioangular (11o sampai dengan -79o)


b. Vertikal (10o sampai dengan -10o)
c. Horizontal (80o sampai dengan 1000)
d. Distoangular (-11o ampai dengan -79o)
e. Lainnya (-111osampai dengan -80o).

Teori didasarkan pada inklinasi impaksi gigi molar ketiga terhadap


panjang axis gigi molar kedua.14

10
7. Klasifikasi Menurut Archer dan Kruger14

Gambar 3. Klasifikasi impaksi molar ketiga rahang bawah menurut


Archer dan Kruger (1 Mesioangular, 2 distoangular, 3 vertical, 4
horizontal, 5 buccoangular, 6 linguoangular, 7 inverted)

a. Mesioangular: Gigi impaksi mengalami tilting terhadap molar kedua


dalam arah mesial
b. Distoangular: Axis panjang molar ketiga mengarah ke distal atau ke
posterior menjauhi molar kedua

11
Gambar 4. Impaksi mesioangular molar ketiga
rahang bawah kanan dan distoangular pada molar
ketiga rahang bawah kiri (catatan: gigi molar
ketiga rahang bawah tidak erupsi)15

c. Horizontal: Axis panjang gigi impaksi horizontal

Gambar 5. Impaksi horizontal bilateral molar ketiga


rahang bawah.15
d. Vertikal: Axis panjang gigi impaksi berada pada arah yang sama
dengan axis panjang gigi molar kedua

Gambar 6. Sebuah impaksi dengan posisi vertikal.15

e. Bukal atau lingual: Sebagai kombinasi impaksi yang dideskripsikan


di atas, gigi juga dapat mengalami impaksi secara buccal atau secara
lingual
f. Transversal: Gigi secara utuh mengalami impaksi pada arah
buccolingual
g. Signifikansi: Tiap inklinasi memiliki arah pencabutan gigi secara
definitif. Sebagai contoh, impaksi mesioangular sangat mudah untuk
dicabut dan impaksi distoangular merupakan posisi gigi yang paling
sulit untuk dicabut.

12
8. Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Thoma15
Thoma mengklasifikasikan kurvatura akar gigi molar ketiga yang
mengalami impaksi ke dalam tiga kategori:
a. Akar lurus (terpisah atau mengalami fusi)
b. Akar melengkung pada sebuah posisi distal
c. Akar melengkung secara mesial.

9. Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Killey dan Kay15


Killey dan Kay mengklasifikasikan kondisi erupsi gigi molar ketiga
impaksi dan jumlah akar ke dalam tiga kategori. Gigi tersebut
diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Erupsi
b. Erupsi sebagian
c. Tidak erupsi.

10. Menurut American Dental Association15


Jumlah akar mungkin berjumlah dua atau multipel. Gigi impaksi
juga dapat terjadi dengan akar yang mengalami fusi. Dengan tujuan untuk
memberikan mekanisme logis dan praktik untuk industry asuransi.
American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons
mengklasifikasikan gigi impaksi dan tidak erupsi berdasarkan prosedur
pembedahan yang dibutuhkan untuk melakukan pencabutan, daripada
posisi anatomi gigi. Mereka mengklasifikasikan gigi impaksi ke dalam
empat kategori:
a. Pencabutan gigi hanya dengan impaksi jaringan lunak
b. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara parsial
c. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara sempurna
d. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang sempurna dan komplikasi
pembedahan yang tidak biasa.

13
Klasifikasi posisi gigi impaksi secara sistematis dan teliti
membantu dalam memeriksa arah pencabutan gigi impaksi dan juga
mendeterminasikan jumlah kesulitan yang akan dialami selama
pencabutan.12

Cara Perhitungan tingkat kesukaran pengangkatan gigi M3 RB impaksi 12


TABEL 1. HUBUNGAN KESULITAN PENGAMATAN M3 IMPAKSI
Klasifikasi Nilai
Hubungan ruang
Mesio Angular 1
Horizontal/Transversal 2
Vertikal 3
Disto Angular 4
Kedalaman
Level A 1
Level B 2
Level C 3
Hubungan dengan ramus
Kelas I 1
Kelas II 2
Kelas III 3
Indeks Kesulitan
Sangat sulit : 7-10
Kesulitan sedang : 5-7
Kesulitan minimal : 3-4

Contoh Perhitungan :
Mesioangular =1
Level B =2
Kelas I I =2
Skor tingkat kesulitan =5
Jadi gigi impaksi tersebut mempunyai tingkat kesulitan sedang.

14
Kategori ini merupakan titik awal untuksuatu analisa atau
memperkirakan tingkat kesulitan pencabutan gigiimpaksi. Secara umum,
semakin dalam letak gigi impaksi dan semakin banyak tulang yang
menutupinyasertamakin besar penyimpangan angulasi gigi impaksi dari
kesejajaran terhadap sumbu panjang molar kedua, makin sulit
pencabutannya. Pilihan yang diperoleh dari analisa ini adalah:

a. Tidak diapa-apakan
b. Pencabutan gigi impaksi
c. Rujukan.12

G. Indikasi dan Kontra Indikasi Odontektomi


1. Indikasi Odontektomi
a. Perikoronitis
Perikoronitis merupakan peradangan pada jaringan lunak disekeliling gigi
yang akan erupsi, paling sering terjadi pada molar 3 bawah. Perikoronitis
merupakan suatu kondisi yang umum terjadi pada molar impaksi dan cenderung
muncul berulang, bila molar belum erupsi sempurna. Akibatnya, dapat terjadi
destruksi tulang di antara gigi molar dan geraham depannya. Odontektomi dapat
dilakukan sebagai tindakan pencegahan dari terjadinya perikoronitis akibat gigi
erupsi sebagian. Perikoronitis dengan gejala-gejala:
a) rasa sakit di regio tersebut
b) pembengkakan
c) bau mulut
d) pembesaran limfenode submandibular.

15
Gambar 7. Perikoronitis

b. Mencegah Berkembangnya Folikel Menjadi Kista Odontegenik

Suatu gigi yang impaksi mempunyai daya untuk merangsang pembentukan


kista atau bentuk patologi terutama pada masa pembentukan gigi. Benih gigi
tersebut mengalami rintangan sehingga pembentukannya terganggu menjadi tidak
sempurna dan dapat menimbulkan premordial kista dan folikular kista.

Gambar 8. Kista Odontogenik

c. Pencegahan Karies

Gigi yang impaksi juga bertendensi menimbulkan infeksi atau karies pada
gigi di dekatnya. Cukup banyak kasus karies pada gigi molar dua karena gigi
molar ketiga mengalami impaksi. Gigi molar ketiga merupakan penyebab
tersering karies pada molar kedua karena retensi makanan. Karies distal molar
kedua yang disebabkan oleh karies posisi gigi molar ketiga.

d. Untuk Keperluan Terapi Ortodontik


Pencabutan gigi impaksi pada perawatan ortodontik dapat menjadi suatu
indikasi apabila ruangan yang dibutuhkan kurang untuk ekspansi lengkung gigi

16
atau juga dikhawatirkan akan menjadi faktor relapse setelah dilakukannya
perawatan ortodontik.
e. Menimbulkan Kerusakan Pada Akar Gigi Yang Berdekatan
Gigi impaksi dapat menyebabkan tekanan pada akar gigi sebelahnya
sehingga mengalami resorpsi akar. Pencabutan gigi impaksi dapat menyelamatkan
gigi terdekat dengan adanya perbaikan pada sementumnya.
f. Terdapat keluhan rasa sakit atau pernah merasa sakit
Rasa sakit dapat timbul bila gigi impaksi menekan syaraf atau menekan
gigi tetangga dan tekanan tersebut dilanjutkan ke gigi tetangga lain di dalam
deretan gigi, dan ini dapat menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit dapat timbul karena
gigi impaksi langsung menekan nervus alveolaris inferior pada kanalis
mandibularis.
g. Diperkirakan Akan Mengganggu Pembuatan Protesa
Pencabutan gigi impaksi dilakukan apabila berada dalam denture bearing
area yang dapat menghambat adaptasi landasan dan mengganggu retensi serta
stabilitas dari protesa yang akan dibuat.

2. Kontra Indikasi Odontektomi


a. Tidak Ada Keluhan

Apabila tidak ada keluhan dari pasien yang mengalami gigi impaksi maka
tidak diperlukan tindakan odontektomi yang dapat memakan waktu, biaya dan
resiko pembedahan yang dapat terjadi.
b. Kemungkinan Menyebabkan Gigi Terdekat Rusak Atau Struktur
Penting Lainnya
Tindakan odontektomi beresiko tinggi untuk merusak jaringan dengan
membuka flap dan juga merusak tulang yang menghalangi akses terhadap gigi
yang impaksi. Apabila dikhawatirkan kerusakan yang akan diakibatkan oleh
tindakan odontektomi tidak sebanding dengan manfaat yang didapatkan, maka
sebaiknya odontektomi tidak dilakukan.

c. Penderita Usia Lanjut

17
Pada pasien yang berusia lanjut, tulang yang menutupi gigi impaksi akan
sangat termineralisasi dan padat sehingga akan menyulitkan dilakukan
odontektomi. Selain itu perlu diperhatikan juga keadaan umum pasien yang
mungkin akan menghambat keberhasilan penyembuhan setelah dilakukannya
odontektomi.

d. Kondisi Fisik Atau Mental Terganggu

Pada pasien dengan kesehatan umum yang terganggu misalnya mengidap


penyakit sistemik maka diperlukan konsultasi terlebih dahulu kepada dokter yang
bersangkutan sebelum melakukan tindakan bedah. Sedangkan untuk pasien
dengan keadaan mental yang terganggu dapat mengganggu tingkat kooperatif
pasien selama melakukan tindakan pembedahan.

H. Syarat Insisi dan Prinsip Flap


Syarat Insisi:
1. Insisi harus tajam yang lurus dan bersudut 45 dengan dasar MBF
2. Diatas tulang yang sehat
3. Insisi jangan di interdental papil tapi di 2.3 kontur gigi
4. Harus sejajar garis Langerhans (pada kulit)
5. Insisi harus sampai periosteum.

Prinsip Flap:

1. Dasar flap harus selebar mungkin


2. Lapang pandang seluas mungkin
3. Intrument harus tajam.

I. Penatalaksanaan Odontektomi
Penanganan Sebelum Pembedahan
a. Riwayat Medis dan Pemeriksaan Klinis

18
Gigi impaksi dapat menimbulkan gangguan ringan sampai serius jika gigi
tersebut tidak erupsi. Tidak semua gigi impaksi menimbulkan masalah klinis yang
signifikan, namun setiap gigi impaksi memiliki potensi tersebut.

b. Pemeriksaan Radiografis

Gambar 9. Foto Rontgen

Pemeriksaan radiografis yang dianjurkan adalah pemeriksaan


panoramik foto. Foto rontgen sebaiknya merupakan foto terbaru dari
kondisinya giginya atau minimal 6 bulan. Pemeriksaan radigrafi gigi
impaksi harus dapat menguraikan hal-hal berikut ini :

a) Melihat inklinasi dari gigi impaksi


b) Ukuran mahkota dan kondisinya
c) Jumlah dan morfologi akar
d) Hubungan gigi geligi rahang bawah dengan kanalis mandibularis,
foramen mentale, batas bawah mandibular
e) Hubungan gigi geligi rahang atas dengan rongga nasal atau sinus
maksilaris
f) Tinggi tulang alveolar, termasuk kedalam dan densitasnya
g) Status periodontal dan kondisi gigi tetangga
h) Kesepakatan Rencana Perawatan

Bila pasien sudah mengerti dan setuju dengan rencana perawatan, ia


harus bersedia untuk mengisi dan menandatangani surat pernyataan kesepakatan
rencana perawatan

19
c. Persiapan Alat dan Bahan

Gambar 10. Alat dan Bahan

Bahan :

a) Betadine
b) Kassa/tampon
c) Kapas bulat
d) Syringe
e) Larutan anastetikum, yang mengandung epinefrin/adrenalin
f) Pisau (blade) RA : no 12 & RB : no 15
g) Suction tip dispossible
h) Jarum dengan benang jahit
i) Larutan salin (air salin)

Alat :

a) Alat standart
b) Kain duk steril untuk instrument dan pasien
c) Klem untuk kain duk (towel clip)
d) Gagang pisau (blade handle)
e) Needle holder
f) Hemostat/arteri klem
g) Rasparatorium
h) Mata bur tulang
i) Mata bur gigi
j) Bein
k) Cryer
l) Tang gigi (forceps)
m) Kuret
n) Bone file
o) Syringe untuk irigasi
p) Pinset

20
q) Gunting benang
r) Persiapan Pasien dan Operator
s) Tindakan Asepsis.

d. Teknik Pembedahan
Kasus Benih Gigi Molar Ketiga Rahang Bawah

Gambar 11. Foto Rontgen contoh kasus

a) Anastesi

Untuk molar ketiga mandibula dilakukan injeksi blok mandibular pada


nervus alveolaris inferior, nervus lingualis dan nervus bukalis, sedangkan
kalau pada molar ketiga maksila dilakukan injeksi blok pada nervus
alveolaris superior posterior dan nervus palatinus mayor.

b) Pembuatan flap

Digunakan insisi triangular dengan cara insisi vertical dari 1/3 distal
gigi 7 sampai MBF membentuk sudut 45 kemudian buat insisi horizontal
dengan patokan linea oblique externa dengan menggunakan blade.

21
Gambar 12. Pembuatan Flap

c) Pembukaan flap mukoperiosteal dengan rasparatorium

Gambar 13. Membuka Flap

d) Pembuangan tulang disekitar gigi

Gambar 14. Pembuangan Tulang

22
e) Separasi bagian undercut gigi 8
f) Pengungkitan dengan bein sampai gigi 8 terangkat

Gambar 15. Pengungkitan Gigi 8

g) Pencabutan gigi dengan tang

Gambar.16. Gigi Yang Sudah Dikeluarkan

h) Penghalusan tulang dengan bone file


i) Spooling betadine + aquadest
j) Masukan spongostan kedalam soket bekas gigi pencabutan untuk
mengatasi perdarahan
k) Flap dikembalikan ketempat semula dengan pinset chirurgis
l) Penjahitan interrupted pada daerah insisi vertical dan horizontal
m) Massage daerah operasi
n) Spooling betadine + aquadest
o) Gigit tampon yang sudah diberikan betadine

23
e. Perawatan Pasca Operasi Instruksi pada pasien
a) Minum obat sesuai yang diberikan dalam resep
b) Menggigit tampon kurang lebih selama 1 jam
c) Lakukan pengompresan es pada wajah untuk menguramgi
pembengkakan
d) Lakukan sikat gigi seperti biasa
e) Diet makanan lunak
f) Istirahat yang cukup
g) Tidak menghisap-hisap daerah operasi
Medikasi

Pemberian antibiotik, analgesik dan obat kumur

Kontrol paska operasi

Kontrol dijadwalkan pada waktu melepas jahitan, biasanya hari


pertama-kelimaketujuh sesudah operasi.

f. Komplikasi Odontektomi 3,16,17


Komplikasi Saat Pencabutan
a) Perdarahan
b) Tertekan / trauma pada Nervus. Alveolaris Inferior, Sinus Maksilaris,
Kanalis Mandibularis
c) Fraktur : akar, proc.alveolaris
d) Trauma pd gigi terdekat: rusak, goyang, sampai tercabut
e) Rusaknya tumpatan atau mahkota pada gigi molar kedua di samping
molar ketiga yang dilakukan odontektomi
f) Masuknya gigi / sisa akar gigi ke dalam submand. Space, kanalis
mandibularis atau spasia regio lingual
g) Alergi pada obat-obatan yang diberikan : antibiotika, analgetika
maupun anaestesi lokal
h) Syok anafilaktik
i) Patahnya instrumen.

Komplikasi Pasca Pencabutan


a) Pembengkakan atau edema
b) Rasa sakit atau pernah mengalami rasa sakit di regio gigi molar
ketiga impaksi.
c) Perdarahan sekunder

24
d) Dry socket (alv. Osteitis)
e) Infeksi pada jaringan lunak maupun tulang
f) Memar jaringan lunak ekstraoral dan dapat meluas sampai ke regio
leher dan dada di regio odontektomi atau bilateral
g) Facial abses
h) Trismus
i) Osteomyelitis
j) Emphysema
k) Parestesi
l) Perforasi Sinus Maksilaris

g. Pemberian Obat-obatan
Obat-obat yang digunakan dalam kedokteran gigi:
a) Analgesik: penghilang rasa sakit
b) Anti-inflamasi: Menghilangkan radang karena phisis, kemis,
mekanis
c) Antibiotik: Infeksi bakteri
d) Antiseptik: betadine povidon iodine ; konsentrat pekat 10 %
Obat kumur (gargarisma) ; konsentrat 1 %.

25
BAB III

LAPORAN KASUS

HASIL LAPORAN ODONTEKTOMI


GIGI MOLAR TIGA IMPAKSI

Tanggal : 01 November 2017


Operator : Retno Kinasih Nugraheni (2014-16-178)
Ezario Amabel (2015-16-048)
Pembimbing : drg. Anindito Nurpradipto Wibisono

I. STATUS UMUM
Tanggal : 05 September 2017
No Kartu : M 3974/IX/2017
Nama : M. Alif Lutfi
Umur : 25 tahun
Pekerjaan : Mahasiswa
No. Telepon : 081213440520
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. H Montong komplek BBD Ciganjur, Jakarta
Selatan

26
II. KELUHAN UTAMA & RIWAYAT PENYAKIT
Keluhan utama : Ingin mencabut gigi geraham bawah belakang kiri
karena tumbuh tidak sempurna dan mengganggu
saat mengunyah
Riwayat penyakit : 1 tahun yang lalu gigi terasa sakit dan tidak
nyaman karena tumbuh miring. lama kelamaan
sering terselip sisa makanan. sekarang datang
dalam keadaan tidak sakit dan ingin dicabut.

III.KEADAAN UMUM
Keadaan umum pasien : Baik
Kesadaran pasien : Compos mentis
Tanda-tanda vital : Tensi darah: 120/80 mmHg
Suhu: Afebris
Frek. Nadi: 70 x/menit
Frek. Pernafasan: 22 x / menit
Kelainan sistemik : Penyakit jantung (-) ; Hemofilia (-) ; Asma (-)
Hepatitis (-) ; Hiper/hipotensi (-) ; DM (-) ;
Maag (-) ; Alergi (-) ; Epilepsi (-)

IV. PEMERIKSAAN EKSTRA ORAL


Status Lokalis
a. Pemeriksaan Ekstra Oral
Inspeksi
Lokasi/regio : TAK
Bentuk kelainan : TAK
Warnanya : TAK

Palpasi
Suhu : TAK
Batas : TAK
Mudah digerakkan/tidak : TAK
Permukaan : TAK
Konsistensi : TAK
Nyeri tekan : TAK

27
Fluktuasi : TAK
Ukuran : TAK
Kelenjar getah bening : Teraba, lunak, tidak sakit

b. Intra Oral
Inspeksi
Trismus : TAK
Kelainan : TAK
Lokasi : TAK
Warna : TAK

Palpasi
Suhu : TAK
Batasnya : TAK
Permukaan : TAK
Mudah digerakkan/tidak : TAK
Konsistensi : TAK
Fluktuasi : TAK
Nyeri tekan : TAK
Ukuran : TAK

Keterangan
Bibir atas : Normal
Bibir bawah : Normal
O.H. : Sedang
Gingiva : Pigmentasi
Oklusi : Normal
Palatum : Normal
Mukosa pipi ki&ka : Normal
Lidah : Normal
Dasar Mulut : Normal

Status Lokalis Gigi : 38 Impaksi partial p/t(-)

V. Pemeriksaan Penunjang
a. Ro Foto : Panoramik

28
Gambar 17. Gambaran panoramik gigi 38

TINGKAT KESULITAN

Berdasar jarak ramus mandibula ke gigi 38 kls II = 2


Berdasar titik tertingginya oklusal gigi 38 posisi A = 1
Berdasarkan posisinya Mesioangular = 1
+

4
Tingkat kesulitan odontektomi untuk gigi 38 adalah minimal.

b. Punksi Aspirasi :-
c. Pemeriksaan Lab :-
d. Pemeriksaan PA :-

VI. Diagnosa

29
a. Diagnosa Utama : 38, Eruptio deficilis
b. Differensial Diagnosa :-

VII. Prognosa : Baik

VIII. RencanaTerapi
Rencana terapi : Gigi 38 Pro Blok + Pro Odontektomi

IX. Rujukan :
X. Terapi
Pada tanggal 05 September 2017
Pengisian status, tindakan odontektomi, dan pemberian resep.

XI. Penatalaksanaan odontektomi


Operasi mulai: 09.30 WIB
Operasi selesai: 11.30 WIB
1. Anamnesa pasien dan pengukuran tekanan darah
2. Penandatanganan inform consent
3. Mempersiapkan dan sterilisasi alat-alat operasi (Gambar 4).
4. Posisikan pasien di dental chair
5. Muka pasien ditutup duk steril kecuali daerah mulut

Gambar 18. Persiapan alat dan bahan operasi

6. Asepsis daerah operasi dengan povidone iodine pada regio posterior


bawah kanan

30
7. Blok anestesi N.Alveolaris inferior sebanyak 1,25cc dan N.Lingualis
sebanyak 0,25cc kemudian infiltrasi pada N.Bukalis (distobukal regio
38 sebanyak 0,5cc, bukal regio 38 & 37 sebanyak 0,5cc
8. Membuat mukoperiosteal flap (triangular Flap) menggunakan blade
no.15, insisi horizontal dari distal gigi 38 kemudian menyusuri
marginal gingival gigi 38, serta insisi vertikal di bukal gigi 38
9. Flap mukoperiosteal dibuka dengan rasparatorium
10. Membuang tulang bagian bukal gigi 38 dan distal gigi 38 dengan bur
tulang low speed (round bur)
11. Membuang mahkota bagian mesial gigi 38 ke arah akar untuk
menghilangkan retensi dengan bur gigi (fisur bur) ditambahkan
dengan membelah bifurkasi sehingga akar menjadi dua bagian
12. Pengungkitan sisa akar gigi 38 menggunakan luxator
13. Kuret soket gigi 38
14. Periksa soket gigi dengan menggunakan ujung jari, jika ada tulang
tajam haluskan dengan bone file
15. Spooling povidone iodine
16. Memasukan spongostan sebagai hemostatic agent ke dalam soket gigi
38
17. Flap dikembalikan keposisi semula
18. Flap dijahit dengan jahitan interrupted, 2 jahitan pada soket gigi 38
(gambar 18).

Gambar 18. Flap setelah dijahit

31
Gambar 19. Hasil Odontektomi gigi 38

19. Pasien diberi instruksi:


1) Gigit tampon 1jam
2) Jangan makan dan minum yang terlalu panas
3) Tetap dijaga oral hygine dengan berkumur betadine
4) Kompres dingin pada hari pertama kemudian kompres hangat
untuk hari berikutnya
5) Diet makanan lunak dan makan pada sisi berlawanan
6) Jangan kumur-kumur terlalu kuat
7) Daerah bekas operasi yang dijahit jangan dipegang dengan lidah
8) Datang kembali untuk kontrol
20. Pemberian obat berupa antibiotik, anti-inflamasi, analgesik dan obat
kumur.

Resep :
R/ Tab. Lincomycin 500 mg No. XV
3 d.d. 1
------------------//-----------------------
R/ Tab. Cataflam 25mg No.X
3 d.d. 1
------------------//-----------------------
R/ Tab. Asam mefenamat 500 mg No. X
3 d.d. 1
------------------//-----------------------
R/ Minosep garg. 60 ml fl No. I
coll.oris
------------------//-----------------------

XII. Kontrol

32
Kontrol I (1 hari paska operasi tanggal 2 November 2017)
S: pasien ingin memeriksa hasil operasi
O: Pemeriksaan EO pembengkakan (+), wajah asimetris
Pemeriksaan IO radang (+), nyeri tekan (+), kemerahan (+), trismus (-),
jahitan lengkap
A: -
P: pembersihan debris makanan di daerah operasi dan irigasi dengan NaCl
dan spooling betadine. Terapi dilanjutkan

Gambar 20. Foto ekstra oral 1 hari pasca OD

Gambar 21. Foto intra oral 3 hari pasca OD

Kontrol II (5 hari paska operasi 05 November 2017)


S: Pasien ada keluhan
O: Pemeriksaan EO Pembengkakan (-), wajah simetris

33
Pemeriksaan IO radang(-), pembengkakan(-), kemerahan(-), trismus(-),
jahitan lengkap
A: -
P: membersihkan debris makanan didaerah operasi & irigasi NaCl dan
spooling betadine, lanjutkan terapi

Gambar 22. Foto ekstra oral 5 hari pasca OD

Gambar 23. Foto intraoral 5 hari pasca OD

34
Kontrol III (7 hari paska operasi 08 November 2017)
S: Pasien tidak ada keluhan
O: Pemeriksaan EO TAK
Pemeriksaan IO regio 48 kemerahan (+), luka jahitan baik, OH sedang
A: -
P: - Irigasi NaCl + povidone iodine
-Pembukaan jahitan
-Instruksi pemeliharaan OH

Gambar 24. Foto intraoral pembukaan jahitan

35
BAB IV

RINGKASAN

Impaksi adalah suatu kondisi dimana gigi gagal erupsi secara utuh pada
posisi yang seharusnya. Jalan erupsi normal gigi yang mengalami impaksi
terhalang oleh tulang dan jaringan lunak, terblokir oleh gigi tetangganya atau
dapat juga oleh karena adanya jaringan patologis. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan impaksi gigi. Antara lain karena ketidaktersediaan ruangan yang
cukup pada rahang untuk tumbuhnya gigi dan angulasi yang tidak benar dari gigi
tersebut,Impaksi dapat diperkirakan secara klinis bila gigi antagonisnya sudah
erupsi dan hampir dapat dipastikan bila gigi yang terletak pada sisi yang lain
sudah erupsi.Tidak semua gigi impaksi membutuhkan perawatan odontektomi.

Banyak penelitian yang melaporkan impaksi gigi paling sering terjadi pada
gigi molar ketiga, baik pada rahang atas maupun rahang bawah dilihat dari
berbagai populasi yang berbeda. Gigi molar ketiga adalah gigi yang paling akhir
erupsi yaitu pada usia 18-24 tahun sehinggagigi molar ketiga dapat menjadi gigi
yang lebih sering mengalami impaksi dibandingkan gigi yang lain karena
seringkali tdak tersedia ruangan yang cukup bagi gigi molar ketiga untuk
erupsi.Klasifikasi dari Winter, Pell dan Gregory serta Archer dan Kruger adalah
yang paling sering digunakan untuk mengklasifikasi impaksi molar ketiga rahang
bawah.

36

Anda mungkin juga menyukai