Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu usaha manusia dengan penuh tanggung jawab untuk
membimbing anak didik menuju kedewasaan dan membekali generasi bangsa (siswa) dengan
berbagai kemampuan dan keterampilan hidup, sehingga diharapkan mampu merubah pola
pikir masyarakat agar dapat bertahan hidup dan dapat bersaing dengan kehidupan yang penuh
perkembangan ilmu pengetahuan. Fungsi dari pendidikan itu sendiri adalah membimbing
anak ke arah tujuan yang kita nilai tinggi.
Arah dan tujuan yang lebih tinggi dapat dicapai jika setiap elemen pendukung
pendidikan khususnya guru dan orang tua paham akan perkembangan anaknya. Salah satu
jenis perkembangan yang harus dipahami adalah perkembangan kognitif pada anak.
Sekarang ini, banyak dari guru dan orang tua kurang memperhatikan perkembangan
kognitif anaknya, yang dikarenakan kekurang pahaman pada perkembangan kognitif anak.
Banyak dari mereka menggunakan ilmu kira-kira terhadap perkembangan kognitif anak.

Perlu kita ketahui bersama bahwa perkembangan kognitif pada dasarnya berhubungan
dengan konsep-konsep yang dimiliki dan tindakan seseorang, oleh karenanya perkembangan
kognitif seringkali menjadi sinonim dengan perkembangan intelektual. Dalam proses
pembelajaran sering kali anak dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang menuntut adanya
pemecahan. Kegiatan itu mungkin dilakukan anak secara fisik, seperti mengamati penampilan
obyek yang berupa wujud atau karakteristik dari obyek tersebut. Tetapi lebih lanjut anak
dituntut untuk menanggapinya secara mental melalui kemampuan berfikir, khususnya
mengenai konsep, kaidah atau prinsip atas obyek masalah dan pemecahannya. Ini berarti
aktivitas dalam belajar tidak hanya menyangkut masalah fisik semata, tetapi yang lebih
penting adalah keterlibatannya secara mental yaitu aspek kognitif yang berhubungan dengan
fungsi intelektual.
Perkembangan kognitif menjadi sangat penting manakala anak akan dihadapkan
kepada persoalan-persoalan yang menuntut kemampuan berfikir. Masalah ini sering menjadi
pertimbangan mendasar di dalam membelajarkan mereka, khususnya yang menyangkut isi
atau kurikulum yang akan dipelajarinya.
Peserta didik tidak pernah lepas dari belajar, baik di sekolah maupun dalam
lingkungan keluarga. Kemampuan kognitif sangat diperlukan dalam pendidikan.

1
Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam
perkembangan peserta didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang
berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat
menentukan keberhasilan peserta didik dalam sekolah.
Dalam perkembangan kognitif di sekolah, guru sebagai tenaga pendidik yang
bertanggung jawab dalam perkembangan kognitif peserta didik perlu memiliki pemahaman
yang sangat mendalam tentang perkembangan kognitif pada peserta didiknya. Hal ini
dikarenakan guru merupakan salah satu faktor yang akan membentuk perkembangan kognitif
anak.
Orang tua juga tidak kalah penting dalam kognitif anak, karena perkembangan dan
pertumbuhan anak dimulai dari lingkungan keluarga. Namun, sebagian pendidik dan orang
tua belum terlalu memahami tentang perkembangan kognitif anak, karakteristik
perkembangan kognitif, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah perkembangan
kognitif anak.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan perkembangan kognitif?
2. Bagaimana perkembangan kognitif menurut Piaget?
3. Bagaimana perkembangan kognitif menurut Vigosky?
4. Masalah apa yang berkaitan dengan perkembangan kognitif peserta didik dan
bagaimana solusinya?
5. Apa manfaat mengetahui perkembangan kognitif bagi orang tua?
6. Bagaimana peran guru dalam memotivasi perkembangan kognitif peserta didik pada
proses pembelajaran?
C. Tujuan
1. Mendeskripsikan pengertian perkembangan kognitif.
2. Mendeskripsikan perkembangan kognitif menurut Piaget.
3. Mendeskripsikan perkembangan kognitif menurut Vigosky
4. Mendeskripsikan masalah yang berkaitan dengan perkembangan kognitif peserta
didik dan bagaimana solusinya.
5. Mendeskripsikan manfaat mengetahui perkembangan kognitif bagi orang tua.
6. Mendeskripsikan peran guru dalam memotivasi perkembangan kognitif peserta didik
pada proses pembelajaran.

2
D. Manfaat
1. Berguna sebagai bahan referensi bagi penelitian di masyarakat mendatang sekalipun
dalam perspektif yang berbeda sekaligus sebagai bahan pembanding bagi penulis
lainnya.
2. Berguna sebagai bahan kajian bagi kalangan akademis untuk memperkaya
pengetahuan tentang perkembangan kognitif.
3. Agar guru paham dalam memotivasi perkembangan kognitif peserta didik pada proses
pembelajaran.

3
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Kognitif
Memahami perkembangan kognitif anak tidak bisa terlepas dari tokoh terkemuka Jean
Piaget (1896-1980). Perkembangan Kognitif merupakan dasar bagi kemampuan anak
untuk berpikir. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmad Susanto (2011: 48) menjelaskan
bahwa kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk
menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Jadi
proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intellegence) yang menandai
seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide belajar.
Beberapa ahli psikologi mendefinisikan kognitif dengan berbagai peristilahan
diantaranya Pamela Minet(dalam Sujiono, 2008:1.4) mendefinisikan kognitif sebagai
perkembangan pikiran, yang merupakan sebuah proses berpikir dari otak. Sedangkan
Gardner (dalam Thobroni, 2013: 240) mengemukakan bahwa kemampuan
intelegensiadalah kemampuan untuk memecahkan masalahatau untuk menciptakan karya
yang dihargai dalam suatu kebudayaan atau lebih.Serupa tapi tak sama Colvin(dalam
Sujiono, 2008:1.5) mendefinisikan kognitif adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan. Sedangkan Piaget mengartikan kognitif sebagai pengetahuan yang
luas, daya nalar, kreatifitas (daya cipta), kemampuan berbahasa, serta daya ingat. Pada
kesimpulannya kognitif adalah proses berpikir anak dalam memecahkan masalah dengan
lingkungannya sehingga menciptakan suatu karya yang dihargai oleh lingkungan dan
budayanya. Proses kognisi sendiri meliputi aspek persepsi, ingatan, pikiran, simbol,
penalaran, dan pemecahan masalah. Piaget (dalam Suyadi: 2010: 79) mengatakan bahwa
pengetahuan dapat diperoleh melalui eksplorasi, manipulasi, dan konstruksi secara
elaboratif. Dalam perkembangan kognitif anak usia dini merupakan hasil proses dari
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan penyerapan informasi baru yang telah ada
dalam struktur kognitif anak.Sedangkan akomodasi merupakan penyatuan informasi yang
sudah ada dengan informasi baru sehingga memperluas informasi yang sudah ada dalam
schemata/ cara padang anak.
Selain Piaget tokoh perkembangan kognitif yang lain adalahVygotsky. Vygotsky
(dalam Sujiono:2008:4.5) berpikiran bahwa kecerdasan seseorang dapat dimengerti dari
latar belakang sosial budaya dan sejarahnya.Vygotsky mengemukakan bahwa fungsi alat
berpikir setiap individu yang satu dangan individu lainnya berbeda. Dalam bermain anak
akan menuruti apa yang ada didalam pikirannya daripada apa yang ada dalam realita.

4
Menurut Vygotsky anak tidak akan berpikir abstrak, karena begi mereka makna dan objek
berbaur menjadi satu. Anak tidak dapat memanipulasi, dan memanitur ide dan pikiran
tanpa mengacu pada dunia nyata. Vygotsky (dalam Thobroni, 2013: 217) dengan
pemikiran ZPD (Zona Proximal Development)yaitu jarak antara tahap aktual dan potensial
sehingga anak membutuhkan pendamping/bantuan untuk meraih apa yang bisa ia capai.
Menurut Piaget (Suyadi, 2010:82-90) proses belajar seseorang akan mengikuti pola
dan tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Pada anak selalu
diberikan kebebasan dalam mengembangkan daya secara bebas. Diantaranya tahapan
perkembangan menurut Piaget :
a. Tingkat sensori motor (0-18bulan), rabaan dan gerak merupakan hal-hal yang
penting dalam pengalamannya dan ia belajar berdasarkan pengalamannya itu,
berpikir dengan perbuatannya. Anak belajar mengkoordinasi persepsi dan fungsi
motoriknya untuk mengenal dunianya.
b. Tingkat pra-operasional (18 bulan-6 tahun), tahap di mana anak mulai
menggunakan lambang-lambang/simbol-simbol. Kemampuan melambangkan
tampak pada kegiatan bermain. Keterampilan-keterampilan mulai tunbuh dengan
baik dan faktor ini dapat mendorong anak terampil, menggunakan bahasa, mereka
mulai belajar menalar dan membentuk konsep serta meniru.
c. Tingkat operasional kongkrit (6-12 tahun), tahap di mana pengerjaanpengerjaan
logis dapat dilakukan dengan bantuan benda-benda konkret. Pengamatan dan
pikiran memperlihatkan kemajuan. Anak mampu mengkonversi angka, benda
terutama yang kongkret. Kekongkretan ini membantu guru dan siswa memahami
makna kata.
d. Tingkat operasi formal (12 tahun-dewasa), pengerjaan logis dapatdilakukan tanpa
bantuan benda-benda konkret. Pada tingkat ini anak mengembangkan
kemampuan berpikir abstrak dan hipotesis, mereka mampu menalar secara
sistematik dan mampu menarik kesimpulan.
Pendapat Piaget ini didukung oleh Bruner (Suprijono: 2010) yang menyatakan bahwa
proses belajar adalah adanya pengaruh kebudayaan terhadaptingkah laku individu. Bruner
membagi tahap perkembangan menjadi dua meliputi tahap Enaktif yaitu individu
melakukan aktivitas dengan memahami lingkungan sekitar.Tahap Ikonok yaitu tahap
individu memahami objek-objek melalui gambar dan video. Seperti Piaget, Vygotsky
(dalam Sujiono: 2008:4.11) menekan bahwa anak secara aktif menyusun pengetahuan
mereka yang berasal dari sumbersumber sosial di luar dirinya. Vygotsky berpendapat

5
bahwa anak-anak dalam mengembangkankognitifnya sangat dipengaruhi oleh
perkembangan bahasa yaitu berupa dukungan dari orang yang lebih ahli.Pembicaraan
bukan hanya komunikasi sosial tapi juga membantu dalam menyelesaikan tugas.Dalam
Permendiknas no.58 tahun 2009,bidang pengembangan kognitif meliputi perkembangan
pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk ,warna ,dan ukuran, konsep bilangan dan
lambang bilangan huruf. Diusahakan melalui penyajian yang menarik untuk menghindari
terjadinya tekanan atau ketegangan pada anak.Melalui berbagai kegiatandengan media
peraga yang menarik, anak akan aktif dan asyik bekerja, bermain, sehingga dengan
aktivitas tersebutakan menimbulkan motivasi belajar. Hal ini sangat menguntungkan anak,
terutama bagi anak yang daya abstraksinya kurang tajam. Dengan pengalaman belajar
seraya bermainseperti ini akan memberikan pesan dan kesan yang cukup mendalam dan
sulit dilupakan. Dari pemaparan yang disampaikan oleh Piaget, Vygotsky, Brunner bahwa
setiap anak akan melalui tahapan perkembangan yang disesuaikan dengankecerdasan
individunya masing-masing

B. Tahapan Perkembangan Kognitif Menurut Piaget


Para ahli psikologi perkembangan mengakui bahwa pertumbuhan itu berlangsung
secara terus menerus dengan tidak ada lompatan. Penekanan pendidikan dan pengetahuan
harus diseimbangkan sesuai dengan aspek perkembangan manusia. Untuk membantu melihat
hal tersebut kiranya perlu dilihat perkembangan kognitif pada setiap anak. Piaget (dalam
Suparno dkk, 2002:55) membagi perkembangan kognitif seseorang dalam empat tahap:
sensorimotor, pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal.

Tahap Sensorimotor

Usia 0-2 tahun

Bayi bergerak dari tindakan reflex instinktif pada saat lahir


sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu
pemahaman tentang dunia melalui pengoordinasian pengalaman-
pengalaman sensor dengan tindakan fisik.

Tahap Pra-operasional

6
Usia 2-7 tahun
Anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-
gambar. Kata-kata dan gambar ini menunjukkan adanya peningkatan
pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi indrawi dan
tindakan fisik.

Tahap Operasional Konkret

Usia 7-11 tahun

Pada saat ini akan dapat berpikir secara logis mengenai


peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan benda-benda
ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.

Tahap Operasional Formal

Usia 11 tahun Dewasa


Remaja berpikir dengan cara yang lebih abstrak, logis dan idealistik.

Gambar 2.1 Tahap Perkembangan Kognitif Piaget (dalam desmita, 2009:101)


Tahap sensori motor terjadi pada umur sekitar 0-2 tahun. Tahap ini, mulai pada masa
bayi ketika ia menggunakan pengindraan dan aktivitas motorik dalam mengenal
lingkungannya. Pada masa ini biasanya bayi keberadaannya masih terikat kepada orang lain
bahkan tidak berdaya, akan tetapi alat-alat inderanya sudah dapat berfungsi. Tindakannya
berawal dari respon refleks, kemudian berkembang membentuk representasi mental. Anak
dapat menirukan tindakan masa lalu orang lain, dan merancang kesadaran baru untuk
memecahkan masalah dengan menggabungkan secara mental skema dan pengetahuan yang
diperoleh sebelumnya. Dalam periode singkat antara 18 bulan atau 2 tahun, anak telah
mengubah dirinya dari suatu organisme yang bergantung hampir sepenuhnya kepada refleks
dan perlengkapan heriditer lainnya menjadi pribadi yang cakap dalam berfikir simbolik.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif selama stadium sensorimotor, intelegensi anak baru
nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik. Dalam stadium ini
yang penting adalah tindakan-tindakan konkrit dan bukan tindakan-tindakan yang imaginer

7
atau hanya dibayangkan saja, tetapi secara perlahanlahan melalui pengulangan dan
pengalaman konsep obyek permanen lama-lama terbentuk. Anak mampu menemukan
kembali obyek yang disembunyikan.
Pada tahap pra-operasional yang terjadi pada umur 2-7 tahun, anak mulai
menggunakan simbol dan bahasa. Dengan menggunakan bahasa anak mulai dapat
memikirkan yang tidak terjadi sekarang tetapi yang sudah lalu. Dengan adanya bahasa maka
ia dapat mengungkapkan sesuatu hal lebih luas daripada yang dapat dijamah, yang sekarang
dilihatnya. Dalam hal sikap pribadi, anak pada tahap ini masih egosentris, berpikir pada diri
sendiri. Penanaman nilai mulai dapat menggunakan bahasa, dengan bicara dan sedikit
penjelasan. Riyanto (2012:123) menjelaskan sebagai berikut.
Pada menjelang akhir tahun ke-2 anak telah mengenal simbol/nama yaitu (1) Anak dapat
mengaitkan pengalaman yang ada di lingkungan bermainnya dengan pengalaman pribadinya
dan karenanya ia menjadi egois; (2) anak belum memiliki kemampuan untuk memecahkan
masalah yang membutuhkan berpikir yang dapat dibalik; (3) anak belum mampu melihat dua
aspek dari satu objek atau situasi sekaligus dan belum mampu bernalar secara induktif dan
deduktif; (4) anak bernalar secara tranduktif (dari khusus ke khusus), juga belum
membedakan antara fakta dan fantasi; (5) anak belum memiliki konsep kekekalan (kuantitas,
materi, luas, berat dan isi); (6) menjelang akhir tahap ini, anak mampu memberi alas an
mengenai apa yang mereka percayai.
Pada tahap operasional konkret, umur 7-11 tahun, anak sudah mulai berpikir
transformasi reversible (dapat dipertukarkan) dan kekekalan. Dia dapat mengerti adanya
perpindahan benda, mulai dapat membuat klasifikasi, namun dasarnya masih pada hal yang
konkret. Anak sudah mengetahui persoalan sebab akibat. Maka dalam penanaman nilai pun
sudah dapat dikenalkan suatu tindakan dengan akibatnya yang baik dan tidak baik.
Adapun pada tahap operasional formal, umur 11 tahun ke atas, anak sudah dapat
berpikir formal, abstrak. Dia dapat berpikir secara deduktif, induktif dan hipotesis sehingga
disebut tahap hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkembangan
intelektual. Ia tidak membatasi berpikir pada yang sekarang tetapi dapat berpikir tentang yang
akan datang, sesuatu yang diandaikan. Anak sudah dapat diajak menyadari apa yang
dibuatnya dengan alasannya. Segi rasionalitas tindakan sudah dapat diajarkan. Pada tahap ini
dalam penanaman nilai, anak sudah dapat diajak diskusi untuk menemukan nilai yang baik
dan tidak baik. Soekamto (dalam Riyanto, 2012: 125) mengaitkan antara teori perkembangan
Piaget dengan perkembangan kognisi menurut Brunner sebagai berikut:

8
a. Tahap enaktif, anak melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya memahami lingkungan;
b. Tahap ikonik; anak memahami melalui gambaran-gambaran dan visualisasi verbal;
c. Tahap simbolis, anak telah memiliki gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi oleh
bahasa dan logika.

C. Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Perkembangan Kognitif


Bagi perkembangan fungsi kognitif ada empat faktor yang perlu:
a. Lingkungan fisik, artinya kontak dengan lingkungan fisik perlu karena interaksi antara
individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru. Namun kontak dengan
dunia fisik tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi
individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut karena itu kematangan sistem syaraf
menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari
pengalaman fisik;
b. Kematangan artinya membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau
kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi kognitif. Dicapainya koordinasi tangan
dan mata pada bayi, misalnya esensial bagi terbentuknya skema tindakan bayi itu sendiri
meraih, menangkap, menarik. Meskipun kematangan suatu kondisi yang penting bagi
perkembangan kognitif, kejadian-kejadian tertentu itu tidak ditentukan sebelumnya.
Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan, bergantung pada sifat
kontak dengan lingkungan dan kegiatan si belajar itu sendiri.
c. Lingkungan sosial artinya penanaman bahasa dan pendidikan pentingnya lingkungan
sosial adalah bahwa pengalaman seperti itu, seperti halnya pengalaman fisik dapat
memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif.
d. Equilibrasi, artinya proses pengaturan bukannya penambahan pada ketiga faktor yang
lain. Alih-alih ekuilibrasi mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan
maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial, dan pengalaman jasmani. Ekuilibrasi
menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun dengan baik.
Beberapa tips untuk mengembangkan kemampuan kognitif pada anak (Wiriana, 2008), antara
lain:
a. Asupan gizi yang memadai dan disesuaikan dengan kebutuhan anak
b. Melakukan beberapa latihan fisik dan relaksasi seperti, brain gym
c. Keluarga sebagai fondasi bagi perkembangan anak ke depan hendaknya
mampu menciptakan suasana yang harmonis, hangat dan penuh kasih sayang.

9
D. Karakteristik Perkembangan Kognitif
Menurut Desmita (2009:103) karakteristik perkembangan kognitif peserta didik
dibagi dalam dua tahap yaitu tahap usia sekolah (SD) dan Remaja (SMP dan SMA).
a. Usia Sekolah (SD)
Berdasarkan pada teori kognitif Piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar
masuk dalam tahap pemikiran kongkret-operasional, yaitu masa dimana aktivitas mental anak
terfokus pada objek-objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya.
Menurut Piaget (dalam Desmita, 2009:104), operasi adalah hubungan-hubungan logis di
antara konsep-konsep atau skema-skema. Sedangkan operasi kongkret adalah aktifitas mental
yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa-peristiwa nyata atau kongkrit dapat di ukur.
Anak-anak pada masa operasional kongkret (masa sekolah SD) telah mampu
menyadari konservasi, yakni kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek
yang berbeda secara serempak. Hal ini karena pada masa ini anak telah mengembangkan tiga
macam proses yang disebut dengan operasi-operasi: negasi, resiprokasi dan identitas.

Negasi (Negation)
Pada masa pra-opersional anak hanya melihat keadaan permulaan dan akhir dari
deretan benda, dengan kata lain mereka hanya mengetahui permulaan dan akhirnya saja tetapi
belum memahami alur tengahnya. Tetapi pada masa kongkret opersional, anak memahami
proses apa yang terjadi diantara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan antara
keduanya.
Hubungan Timbal Balik (Resiprokasi)
Ketika anak melihat bagaimana deretan dari benda-benda itu diubah, anak mengetahui
bahwa deretan benda-benda bertambah panjang, tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dengan
deretan lain. Karena anak mengetahui hubungan timbale balik antara panjang dan kurang
rapat atau sebaliknya kurang panjang tetapi lebih rapat, maka anak tahu pula bahwa jumlah
benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama. Desmita (2009:105). Sehingga dalam
masa ini anah mulai mengerti tentang hubungan timbal balik.
Identitas
Gunaris (dalam Desmita, 2009:73) menjelaskan bahwa pada usia sekolah dasar,anak
sudah mengetahui berbagai benda yang berada dalam suatu deretan, bisa menghitung,
sehingga meskipun susunan dalam deret di pindah, anak tetap mengetahui jumlahnya sama.

10
Jadi, anak pada usia sekolah (masa Konkrit operasional) dapat mengetahui identitas berbagai
benda dan mulai memahami akan susunan dan urutan tertentu.

b. Remaja (SMP dan SMA)


Pada masa remaja, kemampuan anak sudah semakin berkembang hingga memasuki
tahap pemikiran operasional formal. Lerner & Hustlsch (dalam Desmita, 2009:75)
menjelaskan bahwa suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11
dan 12 tahun dan terus berlanjut sampai usia remaja sampai masa dewasa. Pada masa remaja,
anak sudah mampu berfikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan
dari informasi yang sudah tersedia.
Pada masa remaja, anak sudah mampu berfikir secara abstrak dan hipotesis, sehingga
ia mampu berfikir apa yang terjadi atau apa yang akan terjadi. Mereka sudah mampu berfikir
masa akan datang dan mampu menggunakan symbol untuk sesuatu benda yang belum
diketahui.

11
BAB III

REKAYASA IDE

A. Perkembangan Kognitif Anak Kelas II SD Berdasarkan Teori Jean Piaget


1. Tahap Perkembangan Kognitif Anak Kelas II SD

Anak kelas II SD merupakan anak yang berusia sekitar 7-8 tahun. Berdasarkan tahapan teori
perkembangan kognitif dari Jean Piaget anak kelas II SD termasuk dalam tahap pemikiran
operasional konkret (usia 7-12 tahun). Sedangkan, untuk usia 7-8 tahun digolongkan ke
dalam tahap pemikiran operasional konkrit awal. Hal ini disebabkan dalam tahap
perkembangan kognitif anak yang dibagi ke dalam empat struktur operasional, dimana setiap
struktur mencirikan pencapaian suatu taraf perkembangan pokok dan dalam setiap taraf itu
dapat dibedakan lagi ke dalam taraf-taraf yang lebih rendah.

Dalam penelitiannya, Piaget menemukan adanya tiga level perkembangan.

Level 1. Anak yang berumur 4 dan 5 tahun biasanya menyatukan benda-benda yang
dilihatnya mempunyai kesamaan. Tetapi, kriteria kesamaan adalah kesamaan dua objek pada
waktu yang sama. Maka, dapat terjadi bahwa anak mengumpulkan lingkaran putih dengan
lingkaran merah karena sama- sama lingkaran. Tetapi, ia lalu menambah segitiga putih
lingkaran putih, karena sama-sama putih. Akibatnya, klasifikasi menjadi campur aduk. Anak
hanya membandingkan dua-dua, tidak melihat keseluruhan.

Level 2. Anak yang berumur 7 tahun menyatukan benda-benda yang mempunyai kesamaan
dalam satu dimensi. Misalnya, semua lingkaran disatukan dan semua segitiga disatukan
karena diklasifikasi menurut bentuk. Bila ia mengklasifikasi menurut warna, maka semua
yang merah disatukan dan yang hijau disatukan. Wujud tidak penting disini. Hubungan antara
koleksi dan subkoleksi tidak diperhatikan.

Level 3. Anak yang berumur 8 tahun dapat mengklasifikasikan benda- benda dengan baik. Ia
dapat menentukan hubungan antara kelas dan subkelas.

2. Sistem Pembelajaran Full Day School


Kata full day school berasal dari bahasa Inggris. Full artinya penuh, day artinya
hari, sedang school artinya sekolah. Jadi, full day school secara etimologi berarti
sekolah atau kegiatan belajar yang dilakukan sehari penuh.

12
Sedangkan menurut terminologi full day school mengandung arti sebuah sistem
pembelajaran yang dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan
sehari penuh dengan memadukan sistem pengajaran secara intensif yaitu dengan
memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman yang berlangsung selama lima
hari setiap pekan yang dimulai pada pukul 06.45 pagi hingga 15.30 sore, sedangkan
hari sabtu tetap masuk sekolah yang biasanya diisi dengan relaksasi dan kreatifitas.
Metode pembelajaran full day school tidak berlangsung secara terus menerus
dilakukan di dalam kelas, namun juga siswa diberi kebebasan untuk memilih tempat
belajar. Artinya siswa bisa belajar dimana saja, seperti di halaman, perpustakaan dan
lain-lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari kebosanan siswa yang seharian terus
menerus berada di lingkungan sekolah dan siswa menjadi tidak terbebani. Dengan
mengikuti full day school, orang tua dapat mencegah dan menetralisasi kemungkinan
dari kegiatan-kegiatan anak yang menjurus pada kegiatan yang negatif. Alasan
memilih dan memasukkan anaknya ke full day school , antara lain:
1. Meningkatnya jumlah orang tua tunggal dan banyaknya aktivitas orang tua
(parent-career) yang kurang memberikan perhatian pada anaknya, terutama yang
berhubungan dengan aktivitas anak setelah pulang dari sekolah.
2. Perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat, dari masyarakat agraris
menuju ke masyarakat industri. Kemajuan sains dan teknologi yang begitu cepat
perkembangannya, terutama teknologi komunikasi dan informasi lingkungan
kehidupan perkotaan yang menjurus ke arah individualisme.
3. Perubahan sosial budaya memengaruhi pola pikir dan cara pandang masyarakat.
Salah satu ciri masyarakat industri adalah mengukur keberhasilan denganmateri.
Sehingga sangat berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat yang akhirnya
berdampak pada perubahan peran. Yakni yang semula ibu rumah tangga sekarang
telah menjadi seorang wanita karir.
4. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat, salah satunya yaitu
dengan semakin banyaknya program televisi yang membuat anak lebih enjoy
untuk duduk di depan televisi dan bermain play station (PS).
Maka, untuk memaksimalkan waktu luang anak-anak agar lebih berguna, khususnya
bagi orang tua yang sibuk kerja seharian hingga tidak bisa mengawasi anaknya ketika
pulang sekolah. Dimasukkanlah anak dalam sistem full day school, sistem ini
dibentuk dengan tujuan: membentuk akhlaq dan akidah dalam menanamkan nilai-nilai
yang positif, mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai khalifah fil Ard dan

13
sebagai hamba Allah, serta memberikan dasar yang kuat dakam belajar di segala
aspek.

3. Sistem Pembelajaran Half Day School


Kata half day school berasal dari bahasa Inggris. Half yang berarti setengah, day
yang berarti hari, dan school yang berarti sekolah. Jadi half day school secara
etimologi mempunyai arti sekolah atau kegiatan belajar yang berlangsung setengah
hari. Sedangkan secara terminologi, half day school adalah sebuah sistem
pembelajaran yang dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar, yang dilaksanakan
setengah hari, dimulai dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 12.00 siang, akan tetapi
kegiatan belajar hanya dilaksanakan di ruang kelas yang tetap, dan proses
pembelajaran yang terus-menerus dengan waktu istirahat yang sebentar. Dengan
waktu kegiatan belajar yang terbatas di sekolah, sehingga terkadang guru biasanya
hanya memberikan tugas-tugas rumah kepada siswa.

14
BAB IV
PENERAPAN IDE

A. Penerapan Teori Perkembangan Kognitif dalam Pembelajaran ( Half and Full Day
School)
Perkembangan kognitif menurut Diane E. Papalia, merupakan perubahan atau
stabilitas dalam kemampuan mental, seperti belajar, perhatian, memori, bahasa, berpikir,
penalaran dan kreativitas. Sementara, Piaget menyimpulkan perkembangan kognitif adalah
hasil gabungan dari kedewasaan otak dan sistem saraf, serta adaptasi pada lingkungan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam perkembangan kognitif itu berlangsung secara
bertahap dari lahir hingga dewasa hingga mencapai tahap kematangan dalam proses
kognitifnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, pemikiran anak berkembang secara
perlahan dengan tahap-tahapnya, mulai dari yang konkret ke yang abstrak, mulai dari tahap
sensorimotor ke pemikiran formal. Maka, dalam mengembangkan pemikirannya perlu
diperhatikan tingkat pemikirannya, dimulai dari yang konkret ke yang abstrak, dari bahan
yang mudah ke yang sulit, dari bahan yang dekat dengannya sampai ke yang jauh, sesuai
dengan tahap perkembangan anak. Untuk meningkatkan perkembangan kognitif anak, banyak
hal perlu diperhatikan, antara lain perkembangan fisik, susunan saraf, pengalaman,
kematangan diri, transmisi sosial dan juga proses ekuilibrasi yang terjadi dalamotak
seseorang. Dengan ini semua, maka ditekankan Piaget bahwa unsur bawaan dan unsur
pendidikan mempunyai pengaruh yang kuat. Unsur bawaan seperti keadaan fisik, susunan
saraf, dan jaringan otak anak mempunyai pengaruh kuat dalam perkembangan kognitif anak.
Akan tetapi, unsur pendidikan yang berupa pengalaman, kematangan diri, transmisi sosial,
dan proses ekuilibrasi sangat penting juga dalam meningkatkan perkembangan kognitif anak.
Dalam hal ini, peran pendidik yang sangat membantu dan tidak dapat diabaikan dalam
menyediakan pengalaman yang menantang terjadinya proses ekuilibrasi. Disamping faktor-
faktor di atas, hal yang dapat menjadi motivasi intrinsik dalam diri anak untuk memajukan
pengetahuannya adalah adanya proses asimilasi dan adanya situasi konflik yang merangsang
seseorang mengadakan akomodasi. Tindakan asimilasi ini akan menghubungkan pengetahuan
yang sudah dimiliki seseorang dengan hal baru yang sedang ditemukan. Agar proses adaptasi
dengan asimilasi ini berjalan bagus, diperlukan kegiatan pengulangan dalam suatu latihan dan
praktik. Pengetahuan baru yang telah dikonstruksikan perlu dilatih dengan pengulangan agar
semakin berarti dan tertanam.Khususnya, perkembangan pada anak usia 7-8 tahun yang
menjadi poin utama dalam pembentukan kognitif. Anak pada usia ini membuat perubahan

15
penting pada kemampuannya dari bentuk sederhana selama masa-masa sebelum sekolah ke
dalam masa sekolah dasar. Yakni dari pemikiran praoperasional menjadi pemikiran
operasional konkret awal. Dan dalam proses peralihan tersebut anak membutuhkan perhatian
yang maksimal dari keluarga dan lingkungan sekitarnya untuk pembentukan perkembangan
kognitif yang optimal. Dimana pada tahap operasional konkret awal ini anak mengalami
kemajuan dengan ciri-ciri mampu mencapai dan mengerti dalam proses transformasi
reversibel, proses sistem kekekalan (konservasi) yaitu konservasi substansi, panjang dan luas,
proses decentering, proses seriasi (pengurutan), proses klasifikasi, proses bilangan, proses
ruang dan waktu, proses hilangnya egosentrisme dan tumbuhnya sifat sosialisme.
Apabila proses belajar anak-anak berada pada situasi yang berbeda, bagaimana
dengan perkembangan kognitifnya. Apakah berbeda dalam mencapai pada tahap pemikiran
perkembangan kognitif Jean Piaget dengan ciri-ciri kemajuan yang dicapai pada tahap
operasional konkret awal. Jika, dilihat secara tidak langsung full day school dan half day
school jelas berbeda dari segi intensitas waktunya dalam proses belajar. Selain itu berbeda
juga dalam segi sistem pembelajarannya antara full day school dengan half day school. Full
day school yang merupakan sistem pembelajaran yang berlangsung seharian penuh di
sekolah, dimulai dari pukul 06.45 pagi hingga pukul 15.30 sore. Pembelajaran dilaksanakan
dengan sistem Smart, Fun and Full Day Schooldengan maksud membentuk kepribadian
melalui pembiasaan dan keteladanan. Sistem yang dilaksanakan di full day school ini tidak
hanya berbasis sekolah formal, namun juga informal. Antara lain, latihan belajar kelompok,
latihan berjamaah shalat wajib dan sunnah dhuha, latihan membaca doa bersama, dan lain
sebagainya. Sistem pembelajaran di full day school ini tidak kaku atau monoton, bahkan
menyenangkan karena siswa diberi kebebasan dalam memilih tempat belajarnya, namun
untuk sekedar ketertiban belajar mengajar, maka dibuat jadwal untuk tempat belajar diluar
kelas. Selain itu, pembelajarannya sarat dengan permainan yang bertujuan agar proses belajar
mengajar penuh dengan kegembiraan, permainan-permainan yang menarik bagi siswa untuk
belajar dan mendapatkan nilai plus yang berbasis keislaman. Sehingga situasi dan kondisi
yang sangat menyenangkan ini akan melahirkan generasi yang cerdas intelektual, cerdas
emosional, dan cerdas spiritual. Dan penyaluran bakat minat anak juga akan terlihat dengan
adanya kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan tiap seminggu sekali. Kegiatan seperti
mengerjakan tugas sekolah (PR), dalam sistem pembelajaran di sekolah ini dilakukan di
sekolah dengan bimbingan guru yang bertugas.
Lain halnya, dengan half day school yaitu proses belajar yang berlangsung setengah hari di
sekolah, dimulai dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 12.00 siang. Pembelajaran dilaksanakan

16
dengan sistem aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, dengan maksud membentuk
kepribadian anak melalui pembiasaan, pembinaan dan keteladanan untuk mencapai akhlakul
karimah. Selain pembelajaran formal, di sekolah ini juga menerapkan kegiatan informal yaitu
dengan adanya kegiatan tilawah dan latihan shalat berjamaah dhuhur. Dengan waktu belajar
yang sedikit, pembelajaran diutamakan pada bidang akademik dengan proses belajar
mengajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sistem pembelajarannya tidak
bersifat monoton, bahkanmenyenangkan karena situasi tempat duduk di kelas selalu diubah
dengan sistem kelompok sesuai permintaan anak. Sehingga anak mampu bersifat aktif dengan
melatih kegiatan diskusi bersama teman-temannya yang akan menambah sifat sosialisme
anak. Kegiatan tugas rumah (PR) dikerjakan di rumah dengan harapan anak di rumah akan
mengulang dan belajar kembali tentang pelajaran yang diberikan guru di sekolah maupun
pelajaran yang akan diajarkan esok harinya. Dengan begitu, anak tidak lupa dengan pelajaran
yang diberikan tadi dan untuk pelajaran esoknya anak sudah siap dan mudah menerima
karena sudah dipelajari sebelumnya.

17
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Dari teori-teori di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa hubungan perkembangan
kognitif sejalan dengan sistem pembelajaran full day school dan half day school yaitu
Piaget lebih menekankan bentuk sistem pembelajaran yang dimana anak mampu
belajar sendiri, aktif membentuk pengetahuannya sendiri, bebas mengungkapkan
gagasannya, dan kreatif. Yaitu apabila diterapkan dalam kelas yang besar atau tidak
hanya satu siswa saja dengan menggunakan model diskusi kelas dan kerja kelompok.
Begitu juga dengan sistem pembelajaran di full day school dan half day school, anak
belajar dengan menggunakan sistem belajar kelompok atau diskusi untuk menangkap
bahan atau pelajaran yang memperhatikan tingkat kematangan murid. Dalam proses
pembentukan yang dialami melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap situasi
yang dihadapi. Anak selalu mengembangkan skema yang dimilikinya menjadi lebih
lengkap. Karena belajar adalah proses individual, tekanan juga penting pada
pemahaman dan kemajuan masing-masing anak. Sehingga dengan adanya diskusi
kelas, anak akan berintegrasi dengan lingkungan sosial temannya. Diskusi bersama
dengan teman sangat membantu penangkapan dan pengembangan pemikiran anak
dalam belajar, asal semua ikut aktif dalam diskusi. Kemudian dari hasil
pengembangan pemikiran anak yang melakukan diskusi dengan teman dan
menemukan hasilnyamelalui pengelolaan dari diri anak sendiri sehingga
perkembangan kognitif anak pada full day school dan half day school berjalan secara
padu dan tersusun baik. Namun, dengan sistem pembelajaran yang sejalan tidak dapat
dipastikan juga bahwa kemampuan anak dalam menangkap dan mengembangkan
pemikiran mampu berkembang secara sejalan atau sama. Karena dalam prosesnya
dipengaruhi juga oleh lingkungan teman sekitar, guru yang mendukung anak secara
aktif dan dari diri anak itu sendiri. Hal ini didukung juga dari teori kognitif Jean
Piaget yang mengatakan bahwa dengan semakin banyak informasi dan kegiatan tidak
membuat pikiran anak lebih maju. Sebab dalam perkembangannya terdapat tahapan
sendiri untuk menjadikan kognitif anak lebih maju.
2. Perkembangan kognitif merupakan serangkaian perubahan secara dalam organisme
akibat perubahan kematangan dan kesiapan fisik yang memiliki potensi untuk
melakukan suatu aktivitas melalui proses belajar mengacu pada kegiatan mental yang

18
mencakup segala bentuk mendeteksi, menafsirkan, mengelompokkan, mengingat
informasi, mengevaluasi, menyimpulkan, persepsi, imajinasi, penangkapan makna,
penilaian, penalaran dan memikirkan lingkungannya.
3. Mekanisme utama yang memungkinkan anak maju dari satu tahap pemungsian
kognitif ke tahap berikutnya oleh Piaget disebut asimilasi, akomodasi dan
ekuilibrium. Proses perkembangan dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu heriditas,
pengalaman, transmisi sosial dan ekuilibrasi. Piaget membagi perkembangan kognitif
seseorang dalam empat tahap: sensori motor (0-2 tahun), pra operasional (2-7 tahun),
operasional konkret (7-11 tahun), dan operasional formal (11 tahun-dewasa).
perkembangan fungsi kognitif ada empat faktor yaitu: (a) lingkungan fisik; (b)
kematangan; (c) lingkungan sosial; dan (d) equilibrasi. Penerapan prinsip teori
perkembangan kognitif dalam pembelajaran, yaitu dengan: (a) memusatkan perhatian
kepada berpikir atau proses mental anak; (b) mengutamakan peran siswa dalam
berinisiatif sendiri; dan (c) Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal
kemajuan perkembangan.
4. Penyebab terjadinya masalah perkembangan kognitif pada seorang anak adalah faktor
fisiologis dan faktor lingkungan. Salah satu masalah perkembangan kognitif yang
banyak muncul adalah gangguan kesulitan pemusatan perhatian dengan ciri-ciri (a)
menghindari, enggan dan mengalami kesulitan melaksanakan tugas- tugas; (b)
kesulitan berkonsentrasi di dalam kelas; dan (c) pelupa dengan kegiatan sehari-
hari. Dalam lingkup anak berkebutuhan khusus secara umum dapat diidentifikasi dari
tiga hal, yaitu tidal perhatian (inattention), hiperaktif, dan impulsif.
5. Manfaat orang tua dalam memahami perkembangan kognitif anak adalah orang tua
akan selalu memberikan pelayanan terbaik bagi anaknya. Pelayanan terbaik dilakukan
dengan cara (a) memberikan pola asuh yang baik pada anak; (b) memberi asupan gizi
yang tepat pada anak; (c) menciptakan suasana kondusif di dalam keluarga; (d)
melayani anak untuk belajar dengan sepenuh hati; (e) orang tua membantu belajar
anak tersebut; (f) memberikan beberapa latihan fisik dan relaksasi; (g) memberi
banyak cinta, kasih sayang dan disiplin; (h) memberikan Penghargaan atas
Keberhasilan anak; dan (i) memasukkan anak tersebut kedalam lembaga bimbingan
jika masih dirasa kurang.

19
B. Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang telah dikaji, penulis dapat menganjurkan
saran sebagai berikut:
1. Guru dan orang tua wajib memahami perkembangan kognitif anak.
2. Peran serta pemerintah, masyarakat, pengajar, dan orang tua perlu untuk mengawasi
perkembangan kognitif setiap anak dan peserta didik.

20
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1995. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Dariyo, Agoes. 2011. Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung: PT
Refika Aditama

Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Rosdakarya

Hamalik, Oemar. 2010. Psikologi Belajar & Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Hasbullah. 2011. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press

Purwanto, Ngalim. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Surakarta: Pustaka Pelajar

Riyanto, Yatim. 2012. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Suparno, Paul. 1997. Filsafat dalam Pendidikan. Yogyakarta. Anisius

Suparno, Paul, dkk. 2002. Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah. Yogyakarta: Kanisus

21