Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR LUMBAL DI RUANG HCU BEDAH


RSUD dr. MOEWARDI SURAKARTA

Disusun Oleh:

IRFAN FAUZI
J 230 170 121

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
FRAKTUR LUMBAL

A. Pengertian
Vertebra lumbalis merupakan tulang terbesar dan terkuat dari semua tulang
yang berada pada tulang belakang. Vertebra ini dimulai dari lengkung lumbal
(yaitu, persimpangan torakolumbalis) dan meluas ke sacrum. Otot-otot yang
melekat pada vertebra lumbalis menstabilkan tulang belakang.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya, terjadi di tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress
yang lebih besar dari yang dapat di absorbsinya (Brunner & Suddart, 2010).
Vertebra lumbalis terletak di region punggung bawah antara region torakal
dan sacrum. Vertebra pada region ini ditandai dengan corpus vertebra yang
berukuran besar, kuat, dan tiadanya costal facet. Vertebra Lumbal ke 5 (VL5)
merupakan vertebra yang mempunyai gerakan terbesar dan menanggung beban
tubuh bagian atas (Hanna, 2007).
Fraktur kompresi (wedge fractures) merupakan kompresi pada bagian
depan corpus vertebralis yang tertekan dan membentuk patahan irisan. Fraktur
kompresi adalah fraktur tersering yang mempengaruhi kolumna vertebra.
Fraktur ini dapat disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan
posisi terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala, osteoporosis dan adanya
metastase kanker dari tempat lain ke vertebra kemudian membuat bagian vertebra
tersebut menjadi lemah dan akhirnya mudah mengalami fraktur kompresi. Vertebra
dengan fraktur kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya daripada ukuran
vertebra sebenarnya. Trauma vertebra yang mengenai medula spinalis dapat
menyebabkan defisit neorologis berupa kelumpuhan.

B. Etiologi
1. Menurut Arif Muttaqin (2008) penyebab dari fraktur lumbal adalah :
a. Kecelakaan lalu lintas
b. Kecelakaan olahraga
c. Kecelakaan industri

1
d. Kecelakaan lain, seperti jatuh dari pohon atau bangunan
e. Luka tusuk, luka tembak
f. Trauma karena tali pengaman (Fraktur Chance)
g. Kejatuhan benda keras
2. Factor patologis, fraktur yang terjadi pada lansia yang mengalami
osteoporosis, tumor tulang, infeksi, atau penyakit lain.
3. Factor stress, fraktur jenis ini dapat terjadi pada tulang normal akibat stress
tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang. Fraktur stress ini
biasanya menyertai peningkatan yang cepat tingkat latihan atlet, atau
permulaan aktivitas fisik yang baru. Karena kekuatan ototmeningkat lebih
cepat daripada kekuatan tulang individu dapat merasa mampu melakukan
aktivitas melebihi sebelumnya, walaupun tulang mungkin tidak mampu
menunjang peningkatan tekanan.

C. Klasifikasi
1. Fraktur kompresi (Wedge fractures)
Adanya kompresi pada bagian depan corpus vertebralis yang tertekan
dan membentuk patahan irisan. Fraktur kompresi adalah fraktur tersering
yang mempengaruhi kolumna vertebra. Fraktur ini dapat disebabkan oleh
kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan posisi terduduk ataupun mendapat
pukulan di kepala, osteoporosis dan adanya metastase kanker dari tempat lain
ke vertebra kemudian membuat bagian vertebra tersebut menjadi lemah dan
akhirnya mudah mengalami fraktur kompresi. Vertebra dengan fraktur
kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya daripada ukuran vertebra
sebenarnya.
2. Fraktur remuk (Burst fractures)
Fraktur yang terjadi ketika ada penekanan corpus vertebralis secara
langsung, dan tulang menjadi hancur. Fragmen tulang berpotensi masuk ke
kanalis spinais. Terminologi fraktur ini adalah menyebarnya tepi korpus
vertebralis kearah luar yang disebabkan adanya kecelakaan yang lebih berat
dibanding fraktur kompresi. tepi tulang yang menyebar atau melebar itu akan
memudahkan medulla spinalis untuk cedera dan ada fragmen tulang yang

2
mengarah ke medulla spinalis dan dapat menekan medulla spinalis dan
menyebabkan paralisi atau gangguan syaraf parsial.
Tipe burst fracture sering terjadi pada thoraco lumbar junction dan
terjadi paralysis pada kaki dan gangguan defekasi ataupun miksi. Diagnosis
burst fracture ditegakkan dengan x-rays dan CT scan untuk mengetahui letak
fraktur dan menentukan apakah fraktur tersebut merupakan fraktur kompresi,
burst fracture atau fraktur dislokasi. Biasanya dengan scan MRI fraktur ini
akan lebih jelas mengevaluasi trauma jaringan lunak, kerusakan ligamen, dan
adanya perdarahan.
3. Fraktur dislokasi
Terjadi ketika ada segmen vertebra berpindah dari tempatnya karena
kompresi, rotasi atau tekanan. Ketiga kolumna mengalami kerusakan
sehingga sangat tidak stabil, cedera ini sangat berbahaya. Terapi tergantung
apakah ada atau tidaknya korda atau akar syaraf yang rusak. Kerusakan akan
terjadi pada ketiga bagian kolumna vertebralis dengan kombinasi mekanisme
kecelakaan yang terjadi yaitu adanya kompresi, penekanan, rotasi dan proses
pengelupasan.
Pengelupasan komponen akan terjadi dari posterior ke anterior dengan
kerusakan parah pada ligamentum posterior, fraktur lamina, penekanan sendi
facet dan akhirnya kompresi korpus vertebra anterior. Namun dapat juga
terjadi dari bagian anterior ke posterior. kolumna vertebralis. Pada
mekanisme rotasi akan terjadi fraktur pada prosesus transversus dan bagian
bawah costa. Fraktur akan melewati lamina dan seringnya akan menyebabkan
dural tears dan keluarnya serabut syaraf.
4. Cedera pisau lipat (Seat belt fractures)
Sering terjadi pada kecelakaan mobil dengan kekuatan tinggi dan tiba-
tiba mengerem sehingga membuat vertebrae dalam keadaan fleksi, dislokasi
fraktur sering terjadi pada thoracolumbar junction. Kombinasi fleksi dan
distraksi dapat menyebabkan tulang belakang pertengahan menbetuk pisau
lipat dengan poros yang bertumpu pada bagian kolumna anterior vertebralis.
Pada cedera sabuk pengaman, tubuh penderita terlempar kedepan melawan
tahanan tali pengikat. Korpus vertebra kemungkinan dapat hancur selanjutnya

3
kolumna posterior dan media akan rusak sehingga fraktur ini termasuk jenis
fraktur tidak stabil.

D. Patofiologi
Kolumna vertebralis tersusun atas seperangkat sendi antara korpus vertebra
yang saling berdekatan. Diantaranya korpus vertebra mulai dari vertebra sevikalis
kedua sampai vertebra sakralis terdapat discus intervertebralis. Discus-discus ini
membentuk sendi fibrokartilago yang lentur antara korpus pulposus ditengah dan
annulus fibrosus di sekelilingnya. Nucleus pulposus merupakan rongga
intervertebralis yang terdiri dari lapisan tulang rawan dalam sifatnya semigelatin,
mengandung berkas-berkas serabut kolagen, sel sel jaringan penyambung dan sel-
sel tulang rawan.
Zat-zat ini berfungsi sebagai peredam benturan antara korpus vertebra yang
berdekatan, selain itu juga memainkan peranan penting dalam pertukaran cairan
antara discus dan pembuluh-pembuluh kapiler.
Apabila kontuinitas tulang terputus, hal tersebut akan mempengaruhi
berbagai bagian struktur yang ada disekelilingnya seperti otot dan pembuluh darah.
Akibat yang terjadi sangat tergantung pada berat ringannya fraktur, tipe, dan luas
fraktur. Pada umumnya terjadi edema pada jaringan lunak, terjadi perdarahan pada
otot dan persendian, ada dislokasi atau pergeseran tulang, ruptur tendon, putus
persyarafan, kerusakan pembuluh darah dan perubahan bentuk tulang dan
deformitas. Bila terjadi patah tulang, maka sel sel tulang mati. Perdarahan
biasanya terjadi disekitar tempat patah dan kedalaman jaringan lunak disekitar
tulang tersebut dan biasanya juga mengalami kerusakan. Reaksi peradangan hebat
timbul setelah fraktur.

4
E. Pathway

Trauma pada tulang belakang

Fraktur pada tulang lumbal

Perdarahan Mengeblok saraf


mikroskopik parasimpatif

Kerusakan jalur
apatetik desending
edema Reaksi Reaksi Kelumpuhan
peradangan anantetik otot polos
Terputusnya
Penekanan jaringan saraf
saraf & Syok spinal Ileus medula spinalis
Iskemia dan
pembuluh paralitik, hipoksemia
darah gangguan
Nyeri akut fungsi Paralisis &
rektum paraplegi
Gangguan
Penurunan pola nafas
perfusi
jaringan Gangguan Hambatan
eliminasi mobilitas fisik
Hipoventilasi

Gagal napas

Kematian

5
F. Manifestasi Klinis
1. Manifestasi klinis fraktur antara lain:
a. Edema/pembengkakan
b. Nyeri, spasme otot akibat reflek involunter pada otot, trauma
langsungpada jaringan, peningkatan tekanan pada saraf sensori,
pergerakan padadaerah fraktur.
c. Spasme otot, respon perlindungan terhadap injuri dan fraktur
d. Deformitas
e. Echimosis, ekstravasasi darah didalam jaringan subkutan
f. Kehilangan fungsi
g. Crepitasi, pada palpasi adanya udara pada jaringan akibat trauma
terbuka
2. Manifestasi klinis fraktur vertebra berdasarkan lokasi fraktur adalah
a. Manifestasi klinis fraktur vertebra pada cervical
1) C1-C3 : gangguan fungsi diafragma (untuk pernapasan)
2) C4 : gangguan fungsi biceps dan lengan atas
3) C5 : gangguan fungsi tangan dan pergelangan tangan
4) C6 : gangguan fungsi tangan secara komplit
5) C7 : gangguan fungsi jari serta otot trisep
6) C8 : gangguan fungsi jariGangguan motoriknya yaitu kerusakan
setinggi servical menyebabkankelumpuhan tetrapareseb.
b. Manifestasi klinis fraktur vertebra pada torakal
1) T1 : gangguang fungsi tangan
2) T1-T8 : gangguan fungsi pengendalian otot abdominal, gangguan
stabilitas tubuh
3) T9-T12 : kehilangan parsial fungsi otot abdominal dan batang
tubuh
c. Manifestasi klinis fraktur vertebra pada lumbal
Gangguan motorik yaitu kerusakan pada thorakal sampai dengan
lumbal memberikan gejala paraparese,
L1 : Abdominalis.
L2 : Gangguan fungsi ejakulasi.

6
L3 : Quadriceps.
L4-L5 : Ganguan Hamstring dan knee, gangguan fleksi kaki dan lutut.
d. Manifestasi klinis fraktur vertebra pada sacral
Gangguang motorik kerusakan pada daerah sacral menyebabkan
gangguanmiksi & defekasi tanpa para parese.
e. Segmen lumbar dan sacral
Cedera pada segmen lumbar dan sakral dapat mengganggu
pengendaliantungkai, sistem saluran kemih dan anus. Selain itu
gangguan fungsisensoris dan motoris, cedera vertebra dapat berakibat
lain sepertispastisitas atau atrofi otot.
S1 : Gangguan pengendalian tungkai.
S2-S4 : Penile Erection.
S2-S3 : Gangguan system saluran kemih dan anus.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien fraktur lumbal menurut
Mahadewa dan Maliawan (2009) adalah :
1. Foto Polos
Pemeriksaan foto polos terpenting adalah AP Lateral dan Oblique view.
Posisi lateral dalam keadaan fleksi dan ekstensi mungkin berguna untuk
melihat instabilitas ligament. Penilaian foto polos, dimulai dengan melihat
kesegarisan pada AP dan lateral, dengan identifikasi tepi korpus vertebrae,
garis spinolamina, artikulasi sendi facet, jarak interspinosus. Posisi oblique
berguna untuk menilai fraktur interartikularis, dan subluksasi facet.
2. CT Scan
CT scan baik untuk melihat fraktur yang kompleks, dan terutama yang
mengenai elemen posterior dari tulang belakang. Fraktur dengan garis fraktur
sesuai bidang horizontal, seperti Chane fraktur, dan fraktur kompresif kurang
baik dilihat dengan CT scan aksial. Rekonstruksi tridimensi dapat digunakan
untuk melihat pendesakan kanal oleh fragmen tulang, dan melihat fraktur
elemen posterior.

7
3. MRI
MRI memberikan visualisasi yang lebih baik terhadap kelainan medula
spinalis dan struktur ligamen. Identifikasi ligamen yang robek seringkali lebih
mudah dibandingkan yang utuh. Kelemahan pemakaian MRI adalah terhadap
penderita yang menggunakan fiksasi metal, dimana akan memberikan artifact
yang menggangu penilaian
Kombinasi antara foto polos, CT Scan dan MRI, memungkinkan kita
bisa melihat kelainan pada tulang dan struktur jaringan lunak (ligamen, diskus
dan medula spinalis). Informasi ini sangat penting untuk menetukan klasifikasi
cedera, identifikasi keadaan instabilitas yang berguna untuk memilih
instrumentasi yang tepat untuk stabilisasi tulang.
4. Elektromiografi dan Pemeriksaan Hantaran Saraf
Kedua prosedur ini biasanya dikerjakan bersama-sama 1-2 minggu
setelah terjadinya cedera. Elektromiografi dapat menunjukkan adanya
denervasi pada ekstremitas bawah. Pemeriksaan pada otot paraspinal dapat
membedakan lesi pada medula spinalis atau cauda equina, dengan lesi pada
pleksus lumbal atau sacral.
5. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium klinik rutin dilakukan untuk menilai
komplikasi pada organ lain akibat cedera tulang belakang.

Sedangkan menurut Arif Mutaqin (2008) pemeriksaan radiologi yang dapat


dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Rontgen. Pada pemeriksaan Rontgen, rnanipulasi penderita
hams dilakukan secara hati-hati. Pada fraktur C-2, pemeriksaan posisi AP
dilakukan secara khusus dengan membuka mulut. Pemeriksaan posisi AP
secara lateral dan kadang-kadang oblik dilakukan untuk menilai hal-hal
sebagai berikut.
a. Diameter anteroposterior kanal spinal
b. Kontur, bentuk, dan kesejajaran vertebra
c. Pergerakan fragmen tulang dalam kanal spinal
d. Keadaan simetris dari pedikel dan prosesus spinosus

8
e. Ketinggian ruangan diskus intervertebralis
f. Pembengkakanjaringan lunak
2. Pemeriksaan CT-scan terutama untuk melihat fragmentasi tan dan
pergeseran fraktur dalam kanal spinal.
3. Pemeriksaan CT-scan dengan mielografi.
4. Pemeriksaan MRI terutama untuk melihatjaringanlunak, yaitu diskus
intervertebralis dan ligamentum flavum serta lesi dalam sumsum tulang
belakang.

H. Komplikasi
1. Syok
Syok hipovolemik akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke
jaringan yang rusak sehingga terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar
akibat trauma.
2. Mal union
Pada keadaan ini terjadi penyambungan fraktur yang tidak normal sehingga
menimbulkan deformitas. Gerakan ujung patahan akibat imobilisasi yang
jelek menyebabkan mal union, selain itu infeksi dari jaringan lunak yang
terjepit diantara fragmen tulang, akhirnya ujung patahan dapat saling
beradaptasi dan membentuk sendi palsu dengan sedikit gerakan (non union)
juga dapat menyebabkan mal union.
3. Non union
Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan tulang.Non
union dapat di bagi menjadi beberapa tipe, yaitu:
a. Tipe I (Hypertrophic non union), tidak akan terjadi proses
penyembuhan fraktur dan diantara fragmen fraktur tumbuh jaringan
fibros yang masih mempunyai potensi untuk union dengan
melakukan koreksi fiksasi dan bone grafting.
b. Tipe II (atropic non union), disebut juga sendi palsu
(pseudoartrosis) terdapat jaringan synovial sebagai kapsul sendi
beserta ronga cairanyang berisi cairan, proses union tidak akan
tercapai walaupun dilakukan imobilisasi lama. Beberapa faktor

9
yang menimbulkan non union seperti disrupsi periosteum yang
luas, hilangnya vaskularisasi fragmen-fragmen fraktur, waktu
imobilisasi yang tidak memadai, distraksi interposisi, infeksi dan
penyakit tulang (fraktur patologis). Non union adalah jika tulang
tidak menyambung dalam waktu 20 minggu. Hal ini diakibatkan
oleh reduksi yang kurang memadai.
4. Delayed union
Delayed union adalah penyembuhan fraktur yang terus berlangsung dalam
waktu lama atau lambat dari waktu proses penyembuhan fraktur secara
normal. Pada pemeriksaan radiografi tidak terlihat bayangan sklerosis pada
ujung-ujung fraktur.
5. Tromboemboli, infeksi, Koagulopati Intravaskuler Diseminata (KID).
Infeksi terjadi karena adanya kontaminasi kuman pada fraktur terbuka atau
pada saat pembedahan dan mungkin pula disebabkan oleh pemasangan alat
seperti plate, paku pada fraktur.
6. Emboli lemak
Saat fraktur, globula lemak masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum
tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler. Globula lemak akan bergabung
dengan trombosit dan membentuk emboli yang kemudian menyumbat
pembuluh darah kecil, yang memasok ke otak, paru, ginjal, dan organ lain.
7. Sindrom Kompartemen
Terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot pada tungkai atas maupun
tungkai bawah sehingga terjadi penekanan neurovaskuler sekitarnya.
Fenomena ini disebut ischemi volkmann. Ini dapat terjadi pula pada
pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga dapat mengganggu aliran
darah dan terjadi edema didalam otot. Apabila ischemi dalam 6 jam pertama
tidak mendapatkan tindakan dapat mengakibatkan kematian/nekrosis otot
yang nantinya akan diganti dengan jaringan fibros yang secara perlahan-
lahan menjadi pendek dan disebut dengan kontraktur volkmann. Gejala
klinisnya adalah 5 P yaitu Pain (nyeri), Parestesia, Pallor (pucat), Pulseness
(denyut nadi hilang) dan Paralisis.

10
8. Cedera vascular dan kerusakan syaraf yang dapat menimbulkan iskemia,dan
gangguan syaraf. Keadaan ini diakibatkan oleh adanya injuri atau keadaan
penekanan syaraf karena pemasangan gips, balutan atau pemasangan traksi.
9. Dekubitus
Terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips, oleh karena
Itu perlu diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang menonjol.

I. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


1. Nyeri akut b/d agen cedera biologis (kompresi saraf)
2. Hambatan mobilitas fisik b/d gangguan neuromuskular
3. Kerusakan integritas kulit b/d gangguan sensasi cedera medula spinalis
4. Ansietas b/d krisis situasi

J. Tujuan/ Rencana Tindakan (NOC/ NIC)


No. Dx. dan Intervensi (NIC)
Tujuan (NOC)
Dx kolaborasi
1. Nyeri akut b/d NOC: NIC:
agen cedera Pain Level, Pain Management
biologis Pain control, Lakukan pengkajian nyeri secara
(kompresi Comfort level komprehensif termasuk lokasi,
saraf). Kriteria Hasil : karakteristik, durasi, frekuensi,
Mampu mengontrol nyeri kualitas dan faktor presipitasi
(tahu penyebab nyeri, Observasi reaksi nonverbal dari
mampu menggunakan ketidaknyamanan
tehnik nonfarmakologi Gunakan teknik komunikasi
untuk mengurangi nyeri, terapeutik untuk mengetahui
mencari bantuan). pengalaman nyeri pasien.
Melaporkan bahwa nyeri Evaluasi pengalaman nyeri masa
berkurang dengan lampau
menggunakan manajemen Evaluasi bersama pasien dan tim
nyeri. kesehatan lain tentang
Mampu mengenali nyeri ketidakefektifan kontrol nyeri masa
(skala, intensitas, frekuensi lampau.
dan tanda nyeri). Bantu pasien dan keluarga untuk
Menyatakan rasa nyaman mencari dan menemukan dukungan.
setelah nyeri berkurang Kurangi faktor presipitasi nyeri.
Tanda vital dalam rentang Ajarkan tentang teknik non
normal. farmakologi.
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri.

11
Tingkatkan istirahat.
Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil.
Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri

2. Hambatan NOC : NIC:


mobilitas fisik Pergerakan sendi punggung Mobiitas sendi
b/d gangguan Ambulasi Ajarkan dan berikan latihan ROM
neuromuskular Keseimbangan aktif atau pasif.
Kriteria Hasil : Ubah posisi pasien yang
Memperlihatkan mobilitas, immobilisasi minimal setiap dua
yang dibuktikan indikator jam, berdasarkan jadwal spesifik.
sedang:pergerakan sendi Latihan untuk ambulasi
dan otot, bergerak dengan Ajarkan teknik Ambulasi &
mudah perpindahan yang aman kepada
Meminta bantuan untuk klien dan keluarga.
aktivitas mobilisasi Sediakan alat bantu untuk klien
Mengerti tujuan dari seperti kruk, kursi roda, dan walker
peningkatan mobilitas. Beri penguatan positif untuk
Memperagakan penggunaan berlatih mandiri dalam batasan yang
alat Bantu untuk mobilisasi aman.
(walker) Latihan Keseimbangan
Ajarkan pada klien & keluarga untuk
dapat mengatur posisi secara mandiri
dan menjaga keseimbangan selama
latihan ataupun dalam aktivitas sehari
hari.
Perbaikan Posisi Tubuh yang Benar
Ajarkan pada klien/ keluarga untuk
memperhatikan postur tubuh yg
benar untuk menghindari kelelahan,
keram & cedera.
Kolaborasi ke ahli terapi fisik untuk
program latihan.
3 Kerusakan NOC : NIC :
integritas kulit Tissue Integrity : Skin and Pressure Management
b/d gangguan Mucous Membrane Anjurkan pasien untuk
sensasi cedera Kriteria Hasil : menggunakan pakaian yang
medula spinalis Integritas kulit yang baik longgar.
bisa dipertahankan Hindari kerutan padaa tempat tidur.
Melaporkan adanya Jaga kebersihan kulit agar tetap
gangguan sensasi atau nyeri bersih dan kering.
pada daerah kulit yang Mobilisasi pasien (ubah posisi
mengalami gangguan pasien) setiap dua jam sekali.
Menunjukkan pemahaman
dalam proses perbaikan
12
kulit dan mencegah Monitor kulit akan adanya
terjadinya cedera berulang kemerahan.
Mampu melindungi kulit Oleskan lotion atau minyak/baby oil
dan mempertahankan pada derah yang tertekan.
kelembaban kulit dan Monitor aktivitas dan mobilisasi
perawatan alami pasien.
Monitor status nutrisi pasien.
Memandikan pasien dengan sabun
dan air hangat.

13
DAFTAR PUSTAKA

Andrew L Sherman, MD, MS; Chief Editor: Rene Cailliet, MD. Lumbar
Compression Fracture. (diakses tanggal 17 Juli 2014). Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/309615-overview

Brunner, Suddarth. 2010. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC.
Jakarta
Hanna J, Letizia M. Kyphoplasty: A treatment for osteoporotic vertebral
compression fractures. nursing journal center (serial online) 2007 ( diakses
3 Oktober 2017); Dunduh dari: URL:
http://www.nursingcenter.com/library/journalarticle.asp?article_id=7558
99.
Johnson, M., et all. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition.
New Jersey: Upper Saddle River Rasjad C. Trauma. 2009 .Pengantar ilmu
bedah ortopedi. 6th ed. Jakarta: Yarsif Watampone
Maliawan S. dan Mahadewa T. 2009. Diagnosa Dan Tatalaksana Kegawat
Daruratan Tulang Belakang. Jakarta.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.

14