Anda di halaman 1dari 3

Team Development Model

Teori mengenai model pembentukan tim (Team Development Model) pertama kali diutarakan oleh Dr
Bruce Tuckman pada tahun 1965. Menurutnya, untuk membentuk sebuah tim, tahapan yang harus dilalui
adalah Forming Storming Norming Performing. Dia menambahkan tahap kelima, Adjourning pada
1970-an.
Model Tucman menjelaskan bahwa seiring dengan perkembangan kedewasaan dan kemampuan tim,
maka pemimpin tim akan menyesuaikan pendekatan yang digunakannya.Diawali dengan gaya directing,
kemudian coaching, participating hingga delegating. Pada tahap akhir ini team akan menghasilkan
seorang pemimpin baru dan pemimpin yang lama bisa membentuk tim baru yang lain.
Berikut adalah penjelasan masing-masing tahapan :

1. Forming: Ketergantungan anggota kepada pemimpin tinggi. Pemimpin yang menetapkan tujuan dan
arah. Peran dan tanggung jawab individu tidak jelas. Pemimpin harus siap untuk menjawab banyak
pertanyaan dari anggota timnya mengenai banyak hal. pada tahapan ini, proses sering diabaikan.
Pemimpin banyak mengarahkan anggotanya. (mirip dengan Situational Leadership Style Ken Blanchard
pada tahapan Telling)
2. Storming: Pada tahapan ini, kesepakatan dalam pengambilan keputusan bukanlah hal yang mudah
dihasilkan di dalam tim. Setiap orang berusaha membangun keakuannya di dalam tim dan di mata
pemimpin tim. Pemimpin tim mulai mendapatkan tantangan dari anggota tim. Kejelasan tujuan tim sudah
mulai tampak jelas namun beberapa ketidakjelasan lain muncul. Pemimpin harus fokus pada tujuan tim
dan harus bisa menghindari isu hubungan emosional yang timbul agar tim bisa terus maju. Beberapa
kompromi mungkin terjadi. Pada tahapan ini pemimpin tim berperan sebagai coach. (Mirip dengan
tahapan Selling pada Situational Leadership Style)
Tukmans team development stages
3. Norming: Pada tahapan ini persetujuan dan kesepakatan sudah banyak terjadi di dalam tim, hal ini
tentu tidak lepas dari peran memimpin tim. Peran dan tanggung jawab masing-masing anggota jelas dan
diterima dengan baik oleh tim. hal besar dikerjakan bersama, hal kecil di delegasikan kepada perorangan
atau dibentuk tim kecil di dalam tim untuk mengerjakannya. Hubungan yang terjadi sudah baik, tim bisa
menikmati saat-saat kebersamaan dan menyenangkan bersama. Pada tahapan ini peran pemimpin adalah
sebagai facilitator dan enabler, mirip dengan Participating pada Situational Leadership Model Ken
Blanchard.
4. Performing: Tim sudah lebih baik dari tahapan sebelumnya. Tim tahu dengan jelas apa yang harus
dikerjakan dan mengapa itu perlu dikerjakan. Tim bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan pemimpinnya.
Tim mempunyai tingkat otonomi yang tinggi. Beberapa ketidaksepakatan bisa terjadi namun tim secara
dewasa bisa menanganinya sendiri secara positif. Tim ini mampu bekerja untuk mencapai tujuan
tanpaperlu diberi instruksi atau dibantu. Anggota tim mungkin meminta bantuan dari pemimpin dalam
hal pengembangan pribadi dan peningkatan hubungan interpersonal. Pemimpin banyak mendelegasikan
dan mengawasi saja. (Ini mirip dengan Situasional Leadership Style Delegating).
5. Adjourning: Pada tahapan ini tugas tim sudah selesai. Tim dibubarkan dan masing-masing anggota tim
bisa melakukan hal yang baru. Yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah rasa tidak nyaman yang
mungkin timbul diantara anggota tim karena tim yang selama ini mereka bangun dengan susah payah
akhirnya harus dibubarkan.