Anda di halaman 1dari 24

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya sumber

daya manusia yang sehat, terampil dan ahli, serta disusun dalam satu program kesehatan

dengan perencanaan terpadu yang didukung oleh data dan informasi epidemologi yang valid.

Pembangunan bidang kesehatan di indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double

burden). Penyakit menular masih merupakan masalah, sementara penyakit degeneratif juga

muncul sebagai masalah. Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administrasi,

sehingga menyulitkan pemberantasanya. Dengan tersedianya vaksin yang dapat mencegah

penyakit menular tertentu, maka tindakan pencegahan untuk mencegah berpindahnya penyakit

dari satu daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan dalam waktu relatif

singkat.(Anonim 2010)

1
Laporan UNICEF yang dikeluarkan terakhir menyebutkan bahwa 27 juta anak balita dan

40 juta ibu hamil di seluruh dunia masih belum mendapatkan layanan imunisasi rutin.

Akibatnya, penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin ini diperkirakan menyebabkan lebih dari

dua juta kematian tiap tahun. Hampir seperempat dari 130 juta bayi yang lahir tiap tahun tidak

diimunisasi agar terhindar dari penyakit anak yang umum. Vaksin telah menyelamatkan jutaan

jiwa anak-anak dalam tiga dekade terakhir, namun maih ada jutaan anak lainnya yang tidak

terlindungi dengan imunisasi. Survei dilakukan WHO menunjukkan bahwa dibeberapa daerah

angka imunitas kurang dari 56%. Tiga tahun sebelumnya angka imunitas mencapai 70%. Hal ini

menunjukkan turunnya layanan kesehatan di beberapa daerah miskin. (Progress for Children

Report no 3, September 2005)

Di tingkat Association South East Asean Nation (ASEAN) tahun 2012, Indonesia

misalnya angka kematian bayinya 32/1.000 kelahiran hidup yaitu hampir 5 kali lipat

dibandingkan dengan angka kematian bayi di Malaysia, 2 kali dibandingkan dengan Thailand
dan 1,3 kali dibandingkan dengan Philipina sekitar 57% kematian bayi tersebut terjadi pada bayi

berumur dibawah satu bulan dan utamanya disebabkan oleh campak, selain itu adalah

gangguan perinatal, infeksi saluran pernapasan akut, diare, malaria dan Bayi Berat Lahir

Rendah (BBLR), 40% disebabkan oleh hipotermi, asfiksia karena prematuritas, trauma

persalinan dan tetanus neonatrium. (anonim 2008)

The 3rd Vaccine Conference diselengarakan oleh ikatan Dokter anak Indonesia (IDAI).

Tujuan dari konferensi iniuntuk meningkatkan pengetahuan danketerampilan petugas

kesehatan yang melaksanakan imunisasi (IDAI:2010).

Rata-rata imunisasi di Indonesia pada tahun 2005 hanya 72%. Artinya, angka

dibeberapa daerah sangat rendah. Ada sekitar 2.400 anak di Indonesia meninggal setiap hari

termasuk yang meninggal karena sebab-sebab yang seharusnya dapat dicegah, misalnya

tubercolosis, campak, pertussis, difteri dan tetanus. Ini merupakan tragedi yang mengejutkan

dan tidak seharusnya terjadi. Kata Dr. Gianfranco Rotigaliano, kepala perwakilan UNICEF di

Indonesia.

Dinas kesehatan kota Makassar tahun 2011 jumlah bayi yang ditargetkan mendapat

imunisasi sebanyak 29.338 anak. (Profil Dinas Kesehatan Kota Makassar tahun 2011)

Menurut data diwilayah kerja Rumah Sakit Bhayangkara Mappaoudang Makassar,

jumlah bayi yang mendapatkan imunisasi periode Januari s.d April tahun 2013 yaitu sebanyak

306 bayi.

Pengetahuan seorang ibu akan mempengaruhi status imunisasinya. Masalah pegertian

dan pemahaman ibu dalam program imunisasi bayinya tidak akan menjadi halangan yang besar

jika pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan. Pengetahuan ibu tentang imunisasi

akan membentuk sikap positif terhadap kegiatan imunisasi. Hal ini juga merupakan

faktor dominan dalam keerhasilan imunisasi. Dengan pengetahuan baik yang ibu miliki maka

kesadaran untuk mengimunisasikan bayi akan meningkat yang mempengaruhi status imunisasi

(M.Ali,2008).

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan penelitian ini yakni, Jenis-jenis imunisasi dan

jadwal pemberian imunisasi. Adapunjenis imunisasi yakni imunisasi aktif dan imunisasi pasif.
Imunisasi aktif adalah imunisasi yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu

penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama. Sedangkan Imunisasi

pasif yaitu tubuh anak tidak membuat zat antibody sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh

dari luar setelah memperoleh zat penolak, sehingga prosesnya cepat tetapi tidak bertahan

lama.

Adapun jadwal menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah pembagian waktu

berdasarkan rencana pengaturan urutan kerja daftar atau tabel kegiatan atau rencana kegiatan

dengan pembagian waktu pelaksanaan yang terperinci. Sedangkan pengertian penjadwal

adalah cara menjadwalkan atau memasukan kedalam jadwal. (Anonim 2012).

Pada keadaan tertentu imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang

sudah disepakati. Keadaan ini tidak merupakan hambatan untuk melanjutkan imunisasi. Vaksin

yang sudah diterima oleh anak tidak menjadi hilang manfaatnya tetapi tetap sudah

menghasilkan respon imunologis sebagaimana yang diharapkan. (Sudarti, M.Kes 2010)

Di Indonesia, jadwal pemberian imunisasi dikeluarkan oleh kementrian kesehatan RI,

yang mengharuskan orang tua memberikan 5 imuniasi dasar lengkap yaitu hepatitis B, Polio,

DPT, BCG, dan Campak. (Rini Sukartini,2011)

Berdasarkan data diatas, maka penulis tertarik untuk memaparkan masalah ini melalui

karya tulis ilmiah dengan judul Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi di Rumah Sakit

Bhayangkara Mappaoudang Makassar periode Januari s.d April 2013

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan ruang lingkup permasalahan penulis

1. Bagaiman gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi di Rumah Sakit Bhayangkara

Mappaoudang Makassar periode Januari s.d April tahun 2013?

2. Bagaiman gambaran pengetahuan ibu tentang jenis-jenis imunisasi di Rumah Sakit

Bhayangkara Mappaoudang Makassar periode Januari s.d April 2013?

3. Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang jadwal imunisasi di Rumah Sakit Bhayangkara

Mappaoudang Makassar periode Januari s.d April 2013?


C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi di Rumah Sakit

Bhayangkara Mappaoudang Makassar periode Januari s.d April 2013.

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasai berdasarkan jenis-jenis

imunisasi di Rumah Sakit Bhayangkara Mappaoudang Makassar periode Januari s.d April 2013.

b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi berdasarkan jadwal penelitian

di Rumah Sakit Bhayangkara mappaoudang Makassar periode Januari s.d April 2013.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Praktis

Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Diploma III

Kebidanan di Universitas Indonesia Timur.

2. Manfaat Ilmiah

Karya Tulis Ilmiah ini dapat menjadi sumber informasi dan menambah ilmu pengetahuan

khususnya yang berkaitan dengan kebidanan.

3. Manfaat Institusi

Diharapkan hasil penelitian ini dapat melengkapi informasi bagi institusi dalam

mengembangkan proses belajar mengajar untuk penulisan Karya Tulis sIlmiah berikutnya.

4. Manfaat bagi penulis

Bagi penulis sendiri merupakan pengalaman berharga guna memperluas wawasan dan

pengetahuan melalui penelitian lapangan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Imunisasi

1. Pengertian Imunisasi

kata imun berasal dari bahasa latin immunitas yang berarti pembebasan (kekebalan)

yang diberikan kepada para senator romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban

sebagai warga negara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian

berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit dan

lebih spesifik lagi terhadap penyakit menular. (Ronald H.S, 2011).

Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri atas sel-sel serta produk zat-

zat yang dihasilkanya yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinasi untuk melawan

bendah asing, seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya yang masuk dalam tubuh.(Ronald

H.S, 2011)

8
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap

penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah satu kuman atau racun kuman yang dimasukan

kedalam tubuh bayi atau anak yang disebut antigen. Dalam tubuh, antigen akan

bereaksidengan anti body sehingga akan terjadi kekebalan. Juga ada vaksin yang dapat

langsung menjadi racun terhadap kuman yang disebut antitoksin.(Andi Maryam, dkk,2009)

Imunisasi adalah cara untuk meningkatkan kekebalan (imunitas), bila terpajang antigen

atau kuman penyakit. (Robin Dompas, 2010)

Prinsip dasar pemberian imunisasi adalah:

a. Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun) memasuki tubuh maka tubuh akan

berusaha menolaknya, tubuh membuat zat anti berupa anti bady atau anti toxin.

b. Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen berlangsung secara lambat dan lemah, sehingga

tak cukup banyak antibody yang terbentuk.

c. Pada reaksi atau respon yang kedua, ketiga dan seterusnya tubuh sudah mulai lebih mengenal

jenis antigen tersebut.


d. Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk mempertahankan

agar tetap kebal, perlu diberikan antigen atau suntikan imunisasi ulang.

e. Kadar antibody yang tinggi dalam tubuh menjamin anak akan sulit untuk terserang penyakit.

(Sujono Riyadi, dkk:2009)

Itulah sebabnya pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya dilakukan

tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar

tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut atau seandainya terkenapun tidak akan menimbulkan

akibat yang fatal. (Ronald H.S,2011)

Banyak faktor penyebab ketidakberhasilan imunisasi. Dari faktor anak bisa disebabkan

umur bayi pada waktu diberiakn imunisasi, status gizi, masih adanya antibody maternal dari ibu

pada waktu imunisasi diberikan. Dari faktor lingkungan yang dipengaruhi adalah sanitasi

lingkungan, tingkat kepadatan pendudukan yang menyebabkan mudahnya terjadinya

penularan. (Rini sekartini, 2011)

Sebaiknya, pemberian imunisasi pada anak mengikuti jadwal yang ada. Dengan

memberikan imunisasi sesui jadwal yang telah ditetapkan memberikan hasil pembentukan

kekebalan (antibody) yang optimal sehingga dapat melindungi anak dari paparan penyakit. Di

indonesia, jadwal imunisasi di keluarkan oleh kementrian kesehatan RI, yang mengharuskan

orang tua memberiakan 5 imunisasi dasar lengkap yaitu Hepatitis B, Polio, DPT, BCG, dan

Campak. (Rini sukartini,2011)

2. Jenis-jenis Imunisasi

ada dua jenis imunisasi yang bekerja dalam tubuh bayi atau anak:

a. Imunisasi aktif

Imunisasi aktif adalah imunisasi yang di buat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu

penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama.

Imunisasi aktif dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :

1). Imunisasi aktif alamiah dimana tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami atau

sembuh dari suatu penyakit, misalnya anak yang telah menderita campak lagi karena tubuh

telah membuat zat penolak terhadap penyakit tersebut.


2). Imunisasi aktif buatan yaitu kekebalan yang dinuat tubuh setelah mendapat vaksin (imunisasi)

misalnya anak diberi vaksinasi BCG, DPT, dan Polio.

b. Imunisasi pasif

Imunisasi pasif yaitu tubuh anak tidak membuat zat antibody sendiri tetapi kekebalan tersebut

diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolak, seingga proses cepat tetapi tidak bertahan

lama.

Imunisasi pasif dapat terjadi dengan dua cara:

1). Imunisasi pasif alami atau imunisasi pasif bawaan yaitukekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir

dari ibunya. Kekebalan ini tidak berlangsung lama (kira-kira sekitar lima bulan). Misalnya difteri,

morbili, dan tetanus.

2). Imunisasi pasif buatan, dimana kekebaln ini diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak.

Misalnya suntikan ATS. (Andi Mariam dkk,2011)

3. Pentingnya Imunisasi

Data statistik menunjukan bahwa makin banyak penyakit menular bermunculan dan

senantiasa mengancam kesehatan anda. Angan biarkan anak anda dan diri anda sendiri

terserang oleh infeksi yang dapat membahayakan hidup anda. Lindungi anda dan keluarga dari

infeksi dengan melalui vaksinasi terkontrol. Setiap tahun, diseluruh dunia ratusan ibu, anak-

anak, dan dewasa meninggal karena penyakit yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini

karena kurangnya informasi tentang pentingnya imunisasi. Bayi-bayi yang baru lahir, anak-anak

usia muda yang bersekolah, dan orang dewasa sama-sama memiliki resiko tinggi terserang

penyakit-penyakit menular yang mematikan, seperti difteri, tetanus, hepatitis B, influenza, tifus,

radang selaput otak, dan masih banyak penyakit lainnya yang sewaktu-waktu muncul dan

mematikan. Untuk itu, salah satu pencegahan terbaik dan sangat vatal agar bayi-bayi, anak-

anak muda, dan orang dewasa terlindungi hanya dengan melakukan imunisasi. (Ronald

H.S,2011)

Adapun tujuan umum pemberian imunisasi adalah menurunkan angkah kesakitan,

kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Sedangkan

tujuan khususnya adalah tercapainya target Universal ChildImmunization (UCI) diseluruh desa

atau kelurahan pada tahun 2010. (Robin Dompas:2010)


4. Imunisasi Wajib, Program pengembangan Imunisasi (PPI)

Di Indonesia, jadwal imunisasi dikeluarkan oleh kementrian kesehatan RI, yang

mengharuskan orang tua memberikan 5 imunisasi dasar lengkap (Rini Sekartini:2010)

a. Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B. Diberikan untuk mencegah penyakit hepatitis. Diberikan pada bayi

baru lahir dengan dosis 0,5 ml diberikan intramuskuler dalam. (Robin Dompas:2010)

b. BCG

Tujuan dari pemberian vaksin BCG adalah untuk membuat kekebalan aktif terhadap

penyakit tubercolosis atau TBC. Vaksin BCG mengandung kuman bacilus calmete Guerin dari

bibit penyakit atau kuman hidup yang dilemakan. Diberikan pada bayi usia 0-2 bulan dengan

dosis 0,05 cc vaksinasi ulang pada umur anak 5 tahun. Sebelum penyuntikan vaksin ini harus

dilarutkan terlebi dahulu dengan 4 cc pelarut atau Nacl 0,9 %, vaksin yang sudah dilarutkan

harus digunakan dalam waktu 3 jam. Kekebalan yang diperoleh anak tidak mutlak 100 %, jadi

kemungkinan anak menderita TBC ringan, akan tetapi terhindar dari TBC barat, TBC Tulang,

dan TBC selaput atak. Efek sampingnya akan timbul setelah dua minggu seperti

pembengkakan kecil, merah, dan tempat penyuntikan akan terjadi abses kecil dengan garis

tangan 10 mm. Luka ini akan sembuh sendiri dan meninggalkan jaringan parut (scar) bergaris

tengah 3-7 mm. Kontra indikasinya yaitu anak yang sakit kulit atau infeksi kulit pada tempat

penyuntikan anak yang telah terjangkit dengan penyakit denagan penyakit TBC. (Andi Mariam

ddk.2011)

c. DPT

Tujuan pemberian vaksin ini adalah untuk memberikan kekebalan aktif yang bersamaan

terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin pertusis terbuat dari kuman bordetella

partusis yang telah dimatikan, dikemas dengan vaksin difteri dan tetanus. Diberikan pada bayi

usia antara 2-11 bulan sebanyak 3 kali suntikan dengan selang waktu 4 minggu. Diberikan

dengan dosis 0,5 cc dengan cara intramusculer. Reaksi yang mungkin terjadi setelah

pemberian imunisasi adalah demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri pada tempat

penyuntikan selama 1-2 hari. Kontra indikasi anak yang sedang sakit, panas tinggi, dan

penyakit gangguan kekebalan. (Andi Mariam dkk:2011)


d. Polio

Tujuan pemberian vaksin polio adalah untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit

poliomeletis. Vaksin polio tedapat dalam dua kemasan: Vaksin yang mengandung virus polio

yang masih hidup yang telah dilemakan (virus sabin) cara pemberiannya melalui oral. Diberikan

pada bayi usia 2-11 bulan diberikan sebanyak 4 kali pemberian dengan dosis dua tetes dengan

interval 4 minggu. Kontraindikasinya yaitu anak yang diare berat, anak sakit parah, anak

menderita defisiensi kekebalan. (Andi Mariam dkk:2011)

e. Campak

Tujuan pemberikan vaksin campak adalah untuk mendapatkan kekebalan terhadap

penyakit campak. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang sudah dilemahkan.

Vaksin campak yang digunakan di Indonesia dapat diperoleh dalam kemasan kering tunggal

atau dikombinasikan dengan vaksin gondongan mumps dan rubella. Jadwal pemberian vaksin

campak adalah pada umur 9-11 bulan dengan 1 kali pemberian dengan dosis 0.5 cc dengan

suntikan sub kutan. Apabila pemberian vaksin campak kurang dari 9 bulan harus diulangi pada

umur 15 bulan. Efek sampingnya tidak ada, mungkin hanya demam ringan dan nampak sedikit

bercak merah pada pipi, dibawah telinga pada hari ke 7-8 setenga penyuntikan. Efek

sampingnya anak yang sakit parah, menderita TBC tanpa pengobatan, defisiensi gizi dalam

derajat berat, defisiensi kekebalan, demem yang lebih 38 derjat celcius. (Andi mariam

dkk:2011)

5. Penyakit-penyakit yang dapat dicegah imunisasi

Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit

dan merupakan bagian kedokteran prefentif yang mendapatkan prioritas. Sampai saat ini ada

tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan cacat. Ketujuh

penyakit tersebut dimasukan pada program imunisasi yaitu penyakit tuberkolosis, difteri,

pertusis, tetanus, polio, campak, dan hepatitis-B.

a. Tuberkulosis

Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

kuman TB (Mycobacterium tubercolosis). Penyakit TBC ini dapat menyerang semua golongan

umur dan diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang Tb dengan kematian 3 juta
oarang per tahaun. Di negara-negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian

penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TBC

berada di Negara berkembang. (Mirzal tawi,2008).

b. Difteri

Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Corinebacterium

diphtheriaemerangsang saluran pernafasan terutama terjadi pad balita. Penyakit difteri

mempunyai kasus kefatalan yang tinggi. Pada penduduk yang belum divaksinasi ternyata anak

yang berumur 1-5 tahun paling banyak diserang karena kekebalan (antibodi) yang dipeoleh dari

ibunya hanya berumur satu tahun. (Mirzal tawi,2008).

c. Pertusis

Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Bordotella

pertusispada saluran pernafasan. Penyakit ini merupakan penyakit yang cukup serius pada bayi

usia dini dan tidak jarang menimbulkan kematian. Seperti halnya penyakit infeksi saluran

pernafasan akut lainnya, pertusis sangat mudah dan cepat penularannya. Penyakit ini dapat

merupakan salah satu sebab tingginya angka kesakitan terutama di daerah yang padat

penduduk. (mirzal Tawi.2008)

d. Tetanus

Penyakit tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman

bakteri Clostridium tetani. Kejaian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang

tetapi masi banyak terdapat di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih

seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonetorium). Penyakit terjadi karena

kuman Clostridiumtetani memasuki tubuh bayi lahir melalui tali pusat yang kurang terawat.

Kejadian seperti ini sering kali ditemukan pada persalinan yang dilakukan oleh dukun kampung

akibat memotong tali pusat memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. Tali pusat

mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan, abu, daun-daunan, dan sebagainya. Oleh

kaerena itu, untuk mencegah kejadian tetanus neonatorium ini adalah dengan pemberian

imunisasi. (Mirzal Tawi,2008)

e. Poliomieletis
Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Berdasarkan hasil surveilans AFP

(Acute Flaccide Paraisis) dan pemeriksaan laboratorium, penyakit ini sejak tahun 1995 tidak

ditemukan di Indonesia. Namun kasus AFP ini dalam beberapa tahun terakhir kembali

ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. (Mirzal Tawi, 2008)

f. Campak

Penyakit campak (Measles) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak, dan

termasuk penyakit akut dan sangat menular, menyerang hampir semua anak kecil.

Penyebabnya virus dan menular melalui saluran pernafasan yang keluar saat penderita

bernafas, batuk dan bersin (droplet). Penyakit ini pada umumnya sangat dikenal oleh

masyarakat terutama para ibu rumah tangga. Dibeberapada daerah penyakit ini dikaitkan

dengan nasib yang harus dialami oleh sumua anak, sedangkan di daerah lain dikaitkan dengan

pertumbuhan anak. (Mirzal Tawi,2008)

g. Hepatitis B

Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B.

Penyakit ini masih merupakan satu masalah kesehatan di indonesia karena prevelensinya

cukup tinggi. Prioritas pencegahan terhadap penyakit ini yaitu melalui pemberian imunisasi

hepatitis pada bayi dan anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar mereka terlindungi dari penularan

hepatitis B sedini mungkin dalam hidupnya. Dengan demiian integrasi imunisasi hepatitis B ke

dalam imunisasi dasar pada kelompok bayi dan anak-anak merupakan langkah yang sangat

diperlukan. (Mirzal Tawi,2008)

B. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan Ibu

1. Pengertian

Menurut Notoatmodjo (2010) yang dikutip dari Wibowo A (2010) bahwa pengetahuan

adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap

suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan sebelum seorang mengadopsi perilaku baru, dan dalam dirinya terjadi

proses yaitu :

a. Awarenes (kesadaran), dimana seorang menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu

terhadap stimulus (objek).


b. Interest (tertarik), dimana seorang mulai tertarik kepada stimulus.

c. Evalation (menimbang-nimbang), terhadap bayi dan tidaknya stimulus baginya.

d. Trial (mencoba), dimana seorang telah mulai mencoba perilaku baru.

e. Adaption (adaptasi), dimana seorang telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan

kesadaran, motivasi, dan sikapnya terhadap stimulus.

2. Tingkat pengetahuan

Tingkatan pengetahuan terdiri dari:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, contohnya

dapat menyebutkan nama orang.

b. Memahami (comprehension)

Dikatakan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui

dan dapat mengintepretasikan materi tersebut secara benar, misalnya dapat menjelaskan

tentang imunisasi dasar pada bayi.

c. Aplikasi (aplication)

Diartikan sebagai kemampuan untuk menguraikn materi yang telah di pelajari pada situasi dan

kondisi sebenarnya. Di sini dapat diartikan sebagai aplikasi dalam penggunaan metode, prinsip

dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain, misalnya mengaplikasikan imunisasi

dasar pada bayi.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi kedalam komponen-komponen,

tetapi masih dalam struktur organisasi dan ada kaitan satu sama lain.

e. Sintesis (syntesis)

Menunjukan kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru. Misalnya dapat merencanakan, meringkas, menyusuaikan dan

sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

f. Evaluasi (evaluatian)

Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi yang

berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau yang telah ada. Pengukuran pengetahuan
dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang

ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.

Ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh ilmu pengetahuan yaitu:

1. Objektif, artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya, objek ilmu pengetahuan dibagi

menjadi objek material dan objek atau sudut penyelidikan. Objek materialnya adalah manusia

dan alam, sedangkan objek formalnya objek material yang disoroti oleh suatu ilmu tertentu yaitu

masalah khusus yang timbul dari pada objek material tadi (Notoatmojo,2007)

2. Metodik, artinya pengetahuan ilmiah itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu dan

terkontrol. Cara-cara atau metode-metode pengetahuan antara lain metode observasi, metode

induksi, metode perkembangan, metode situasi kasus merode intropeksi, metode kuesioner,

metode klinis, metode testing, dan metode statistic. (Notoatmojo,2007)

3. Sistematik, artinya pengetahuan ilmiah tersusun dalam suatu system. Tidak berdiri sendiri, satu

dengan yang lain saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga merupakan satu kesatuan

yang utuh. (Notoatmojo,2007)

4. Universal, artinya pengetahuan ilmiah itu harus dapat diterima secara umum.

(Notoatmodjo,2007)

C. Tinjauan Umum Tentang Variabel Yang Diteliti

Imunisasi adalah sesuatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif

terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi

penyakit dilihat dari cara timbulnya. (Sunarti)

1. Jenis-jenis Imunisasi

Jenis-jenis imunisasi ada dua yaitu :

a. Imunisasi aktif

Merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah ditemukan (vaksin) agar nantinya sistem

imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan terhadap antigen ini, sehingga

terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan meresponnya. Contoh imunisasi aktif adalah imunisai

polio atau campak.

b. Imunisasi pasif
Merupakan suatu proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara pemberian zat

imunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari

plasma manusia (kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui placenta). Contoh imunisasi

pasif adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami kecelakaan.

(Atikah Proverawati,2010).

Dengan pengetahuan yang ibu miliki, ibu dapat mengetahui jenis-jenis pemberian imunisasi

terhadap bayinya sehingga bayinya dapat memperoleh kekebalan tubuh dan terhindar dari

penyakit. Apabila seorang ibu tidak mengetahui jenis-jenis imunisasi apa yang diberikan pada

bayinya, maka bayinya tidak mendapatkan imunisasi lengkap dan bayinya tersebut mudah

terserang penyakit.

2. Jadwal

Jadwal menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalahpembagian waktu berdasarkan

rencana pengaturan urutan kerja daftar atau tabel kegiatan atau rencana kegiatan dengan

pembagian waktu pelaksanaan yang terperinci. Sedangkan pengertian penjadwal adalah cara

menjadwalkan atau memasukan kedalam jadwal. (Anonim 2012)

Pada keadaan tertentu imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang

sudah disepakati. Keadaan initidak merupakan hambatan untuk melanjutkan imunisasi. Vaksin

yang sudah diterima oleh anak tidak menjadi hilang manfaatnya tetapi tetap sudah

menghasilkan respon imunologis sebagaimana yang diharapkan.(Sudarti, M.Kes 2010)

Di Indonesia, jadwal pemberian imunisasi dikeluarkan oleh kementrian kesehatan RI, yang

mengharuskan orang tua memberikan 5 imuniasi dasar lengkap yaitu hepatitis B, Polio, DPT,

BCG, dan Campak. (Rini Sukartini,2011)


BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Variabel Yang Diteliti

Pada penelitian terdapat dua variabel yaitu dependen dan independen. Variabel

dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat dari variabel independen, yang

menjadi variabel dependen pada penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang imunisasi.

Sedangkan variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen, yang

termasuk variabel independen pada penelitian ini adalah jenis-jenis imunisasi dan jadwal

pemberian imunisasi. Setelah mempelajari berbagai literature yang menjadi bahan rujukan

tulisan ini atas variabel-variabel penelitian, maka untuk mempermudah pemahaman dalam

menerapkan keterkaitanantara variabel tersebut untuk dibuat sesuai tingkat sebagai berikut:

1. Jenis-jenis imunisasi

Jenis-jenis imunisasi ada dua yaitu :

a. Imunisasi aktif

26
Merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah ditemukan (vaksin) agar nantinya sistem

imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan terhadap antigen ini, contoh

imunisasi aktif adalah imunisai polio atau campak.

b. Imunisasi pasif

Merupakan suatu proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara pemberian zat

imunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari

plasma manusia (kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui placenta). Contoh imunisasi

pasif adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami kecelakaan.

(Atikah Proverawati,2010)

Dengan pengetahuan yang ibu miliki, ibu dapat mengetahui jenis-jenis pemberian imunisasi

terhadap bayinya sehingga bayinya dapat memperoleh kekebalan tubuh dan terhindar dari

penyakit.

2. Jadwal Pemberian Imunisasi


Di Indonesia, jadwal pemberian imunisasi dikeluarkan oleh kementrian kesehatan RI, yang

mengharuskan orang tua memberikan 5 imuniasi dasar lengkap yaitu hepatitis B, Polio, DPT,

BCG, dan Campak. (Rini Sukartini,2011)

B. Kerangka Konsep

Jenis-jenis Imunisasi
Jadwal Pemberian Imunisasi
Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi

Keterangan Gambar :

Variabel yang diteliti :

Variabel independen :

Variabel dependen :

C. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1. Pengetahuan ibu tentang imunisasi


Pengetahuan ibu tentang imunisasi adalah segala sesuatu yang diketahui oleh responden

tentang imunisasi sesuai dengan pernyataan responden pada kuisioner di Rumah Sakit

Bhayangkara Mappaoudang Makassar pada bulan Januari s.d April 2013 dengan kriteria

objektif sebagai berikut:

a. Tahu : jika jawaban yang benar dari responden 50% dari seluruh pertanyaan yang diberikan

pada lembar koesioner.

b. Tidak tahu : jika jawaban yang benar dari responden 50% dari seluruh pertanyaan yang

diberikan pada lembar koesiner.

2. Jenis-jenis Imunisasi

Adapun jenis imunisasi yakni imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah

imunisasi yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu

dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama. Sedangkan Imunisasi pasif yaitu tubuh

anak tidak membuat zat antibody sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar, sehingga

prosesnya cepat tetapi tidak bertahan lama yang sesuai dengan pernyataan responden pada

kuisioner di Rumah Sakit Bhayangkara Mappaoudang Makassar pada bulan Januari s.d April

2013 dengan kriteria objektif sebagai berikut:

a. Tahu: jika jawaban Ibu tahu tentang jenis-jenis pemberian imunisasi dari koesioner yang

diberikan.

b. Tidak tahu:jika jawaban ibu tidak tahu tentan jenis-jenis pemberian imunisasi dari koesiner yang

diberikan.

3. Jadwal

Jadwal menurut kamus besar bahasa indonesia adalah pembagian waktu berdasarkan rencana

pengaturan urutan kerja daftar atau tabel kegiatan atau rencana kegiatan dengan pembagian

waktu pelaksanaan yang terperinci, sesuai dengan pernyataan responden pada kuisioner di

Rumah Sakit Bhayangkara Mappaoudang Makassar pada bulan Januari s.d April 2013 dengan

kriteria objektif sebagai berikut:

a. Tahu: jika jawaban Ibu tahu tentang jadwal pemberian imunisasi dari koesioner yang diberikan.

b. Tidak tahu: jika jawaban ibu tidak tahu tentang jadwal pemberian imunisasi dari koesioner yang

diberikan
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian dekskriptif, dengan

tujuan untuk memperoleh gambaran mengenai pengetahuan ibu tantang Imunisasi di Rumah

Sakit Bhayangkara Mappaoudang Makassar periode Januari s.d April 2013.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. LokasiPenelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara Mappaoudang Makassar.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei 2013.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu-ibu yang berkunjung mempunyai bayi yang

diimunisasi di Rumah Sakit Bhayangkara Mappaodang Makassar.

2. Sampel

31
Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu yang datang berkunjung yang mempunyai bayi

berumur 0-11 bulan yang mendapatkan imunisasi di Rumah Sakit Bhayangkara Mappaoudang

Makassar sebanyak 30 ibu yang bersedia menjadi responden.

D. Tehnik Pengambilan Sampel

Sampel dalam penelitian ini diambil secara Purposive Samplingyaitu pengambilan

sampel dengan pertimbangan tertentu didasarkan kepentingan dan tujuan tertentu yakni semua

ibu yang datang berkunjung dan mempunyai bayi berumur 0-11 bulan yang di imunisasi di

Rumah Sakit Bhayangkara Mappaoudang Makassar pada bulan Januari s.d April 2013.

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan daftar

pertanyaan (kuisioner) yang diberikan kepada ibu yang bersedia menjadi responden.

F. Teknik Pengolahan Data

Data diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator dan ditampilkan dalam

bentuk tabel distribusi frekuensi.

G. Analisa Data

Analisis deskriptif menggunakan rumus

Keterangan :

P= persentasi yang dicari

f= Frekuensi

n= Jumlah sampel
BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan diRumah Sakit BhayangkaraMakassar tanggal 16 s.d 20

Mei 2013 dari 306 populasidiambilsampel sebanyak 30 orang, kemudian dibagi menurut

karakteristik dan dianalisis secara deskriptif, selanjutnya dimasukkan kedalam tabel distribusi

Frekuensi sebagai berikut:

1. Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi


Tabel 1: Gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasidi Rumah Sakit Bhayangkara Makassar Periode
Januari s.d April 2013

Tingkat Pengetahuan f %
Tahu 15 50%
Tidak tahu 15 50%
Total 30 100%
Sumber : data primer periode Januari s.d April 2013

34
Berdasarkan tabel 1 diatas menujukan bahwa dari 30 responden, tingkat pengetahuan

ibu tentang pemberian imunisasi adalah yang tahu yaitu 15 orang (50%) dan tidak tahu yaitu 15

orang (50%).

2. Jenis-jenis Imunisasi
Tabel 2: Gambaran Pengetahuan Ibu tentang jenis-jenis imunisasi di Rumah Sakit Bhayangkara
Mappaoudang Makassar Periode Januari s.d April 2013

Pengetahuan Tentang
Frekwensi (n) Persentase (%)
Jenis-jenis Imunisasi
Tahu 20 66,7%
Tidak Tahu 10 33,3%
Jumlah 30 100
Sumber : data primerperiode Januari s.d April 2013

Berdasarkan data pada tabel 2 terlihat bahwa dari 30 responden yang diteliti menunjukan

20 orang (66,7%) yang tahu tentang jenis-jenis imunisasi dan yang tidak tahu sebanyak 10

orang (33,3 %).

3. Jadwal Pemberian Imunisasi


Tabel 3: Gambaran pengetahuan ibu tentang jadwal imunisasi di Rumah Sakit Bhayangkara Mappaoudang
Makassar Periode Januari s.d April 2013.

Pengetahuan Tentang
Frekwensi (n) Persentase (%)
Jadwal Imunisasi
Tahu 8 26,7 %
Tidak Tahu 22 73,3 %
Jumlah 30 100
Sumber :Data primer periode Januari s.d April 2013
Berdasarkan data pada tabel 3 terlihat bahwa dari 30 responden yang diteliti menunjukan 8

orang (26,7 %) yang tahu tentang jadwal imunisasi dan yang tidak tahu sebanyak 22

orang (73,3 %).

B. Pembahasan

1. Gambaran Pengetahuan Ibu

Dari hasil koesioner yang disebarkan pada 30 responden terdapat 15 orang (50%) yang

tahu tentang pengetahuan imunisasi dan 15 orang (50%) yang tidak tahu tentang pengetahuan

imunisasi.

Hal ini menunjukkan bahwa Frekuensipengetahuan ibu tentang imunisasi sama banyak

dari ibu yang tahu dan ibu yang tidak tahu tentang imunisasi di Rumah sakit Bhayangkara

Mappaoudang Makassar.Pengetahuan seorang ibu akan mempengaruhi status imunisasinya.

Masalah pegertian dan pemahaman ibu dalam program imunisasi bayinya tidak akan menjadi

halangan yang besar jika pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan. Pengetahuan

ibu tentang imunisasi akan membentuk sikap positif terhadap kegiatan imunisasi. Hal ini juga

merupakan faktor dominan dalam keerhasilan imunisasi. Dengan pengetahuan baik yang ibu

miliki maka kesadaran untuk mengimunisasikan bayi akan meningkat yang mempengaruhi

status imunisasi (M.Ali,2008).

2. Jenis-jenis Imunisasi

Dari hasil koesioner yang disebarkan pada 30 responden terdapat 20 orang (66,7%) yang

tahu tentang jenis-jenis imunisasi dan 10 orang (33,3%) yang tidak tahu tentang jenis-jenis

imunisasi.

Hal ini tidak sesuai dengan konsep dasar bahwa faktor predisposisi lain yang

menyebabkan pengetahuan ibu tentang imunisasi yaitu ibu yang mengetahui jenis-jenis

imunisasi lebih banyak daripada ibu yang tidak tahu tentang jenis-jenis imunsasi.

3. Jadwal Imunisasi

Dari hasil koesioner yang disebarkan pada 30 responden terdapat 8 orang (26,7%) yang

tahu tentang jadwal pemberian imunisasi dan 22 orang (73,3%) yang tidak tahu tentang jadwal

pemberian imunisasi.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa faktor predisposisi yang mempengaruhi pengetahuan

ibu tentang imunisasi yaitu ibu yang tidak tahu tentang jadwal pemberian imunisasi lebih banyak

daripada ibu yang tahu tentang jadwal pemberian imunisasi.

Karena pada keadaan tertentu imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal

yang sudah disepakati. Keadaan ini tidak merupakan hambatan untuk melanjutkan imunisasi.

Vaksin yang sudah diterima oleh anak tidak menjadi hilang manfaatnya tetapi tetap sudah

menghasilkan respon imunologis sebagaimana yang diharapkan.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap

penyakit tertentu.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara

Mappaodang Makassar tanggal 16 s.d 20mei 2013 maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Dari 30 responden yang dibagikan koisioner maka diketahui pengetahuan ibu yang tahu tentang

pemberian imunisasi yaitu 15orang (50%) dan yang tidak tahu sebanyak 15 orang (50%).

2. Ibu yang tahu tentang jenis-jenisimunisasi yaitu 20 orang (66,7%) dan yang tidak tahu yaitu 10

orang (33,7%).

3. Ibu yang tahu tentang jadwal imunisasi yaitu 8 orang (26,7%) dan yang tidak tahu yaitu 22

orang (73,3%).

39
B. Saran

1. Diharapkan institusi lebih meningkatkan proses belajar mengajar mengenai pengetahuan

imunisasi kepada mahasiswa di Universitas Indonesia Timur.

2. Diharapkan kepada petugas kesehatan khususnya petugas di ruangan KIA agar lebih

meningkatkan penyuluhan dan nasihat yang lebih optimal pada setiap ibu mengenai imunisasi.

3. Kepada peneliti selanjutnya semoga karya tulis ini dapat menjadi bahan acuan untuk penelitian

selanjutnya