Anda di halaman 1dari 20

I.

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Ikan Baronang (Siganidae) adalah ikan yang hidupnya berkelompok dan dapat
dijumpai di daerah pantai ataupun daerah terumbu karang. Ikan ini tersebar luas di
daerah kawasan Indo Pasifik dan mempunyai beberapa keistimewaan, yaitu dagingnya
enak dan gurih. Ikan ini bersifat Primary herbivora tetapi memakan juga pellet. Ikan
ini mempunyai toleransi besar terhadap salinitas maupun suhu.
Ikan Baronang adalah pemakanan tumbuh-tumbuhan, hal ini sesuai dengan
morfologi dari gigi danm saluran pencernaan yaitu, mulutnya kecil, mempunyai gigi
seri pada masing-masing rahang, gigi geraham berkembang sempurna, dinding
lambung agak tebal, usus halusnya panjang dan mempumyai permukaan yang luas
a. Sumber air laut bersih dan jernih sepanjang tahun.
b. Bebas dari pencemaran.
c. Dasar perairan laut berpasir atau berkarang.
d. Dekat dengan lokasi pemasaran/pemasok induk
Di alam ikan Baronang dewasa memakan jenis rumput laut yaitu, Enhalus sp,
Padina sp, Sargassum halopyla, sedangkan Baronang juwana lebih menyukai algae dari
genera Entoromorpha, Teldmannia, dan Derbisia. Berbeda dengan Baronang yang
hidup di perairan bebas , ikan yang tertangkap dan dibudidayakan mampu memakan
apa saja yang diberikan seperti pellet, tepung tapioka, tepung ikan, daging ikan,
molussca, kangkung, dll.
Perairan umum adalah bagian dari permukaan Bumi yang secara permanen atau
berkala digenangi air, baik air tawar, air payau maupun air laut, mulai dari garis pasang
surut air laut terendah ke daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami dan
buatan. Perairan umum tidak dimiliki oleh perorangan dan mempunyai fungsi politik,
ekonomi, sosial dan budaya. Yang termasuk dalam perairan umum adalah sungai
(DAS), danau, waduk dan genangan air lainnya (Soerjani, 1997).
Sistem perairan yang menutupi bagian dari permukaan Bumi dibagi dalam
dua kategori utama, yaitu ekosistem air tawar dan ekosistem air laut. Dari kedua sistem
tersebut, air laut mempunyai bagian yang paling besar, yaitu 97%, sisanya adalah air
tawar yang sangat penting artinya bagi manusia untuk aktivitas hidupnya. Ekosistem
perairan tawar secara umum dibagi menjadi dua, yaitu perairan mengalir (lotic water)
dan perairan menggenang (lentic water). Perairan lotik dicirikan dengan adanya arus
terus-menerus dengan kecepatan bervariasi sehingga perpindahan massa air
berlangsung terus-menerus. Perairan menggenang disebut juga perairan tenang, yaitu
perairan dimana aliran air lambat atau bahkan aliran air tidak ada dan massa air
terakumulasi dalam periode waktu yang lama (Sahnin, 2005).
Ikan adalah hewan berdarah dingin, ciri khasnya adalah mempunyai tulang
belakang, insang dan sirip dan terutama ikan sangat bergantung atas air sebagai
medium dimana tempat mereka tinggal. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk
bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga
tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin.
Ikan merupakan sumberdaya alam yang sering dijadikan objek atau target terakhir
dari suatu proses pemanfaatan sumberdaya hayati akuatik. Ikan juga merupakan
organisme yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dibandingkan dengan organisme
akuatik lainnya. Hasil perikanan Indonesia merupakan salah satu pemasok devisa
negara. Sumberdaya perikanan laut seperti ikan, udang dan rumput laut, disamping
mempunyai nilai ekspor juga untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri untuk
memenuhi kebutuhan protein hewani (Jabarsyah, 2002).
Salah satu sumberdaya hayati perairan laut yang banyak dikonsumsi dan
merupakan ikan favorit bagi pemancing di Indonesia adalah ikan Baronang (Siganus
sp.). Ikan Baronang di Indonesia secara umum ada ikan Baronang susu (Siganus
canaliculatus), Baronang tompel (Siganus guttatus) dan Baronang angin (Siganus
javus). Dari ketiga jenis itu yang paling sering dijumpai adalah Baronang susu (Siganus
canaliculatus). Selain itu ada juga ikan Baronang lada (Siganus stellatus), Baronang
batik (Siganus vermiculatus), Baronang kalung (Siganus virgatus), Baronang kunyit,
dan lain-lain. Namun, lantaran populasinya sudah langka, jenis-jenis terakhir ini sudah
sangat jarang ditemui.
II. PEMBAHASAN
1. Klasifikasi Ikan Baronang (Siganus sp)
Klasifikasi untuk ikan Baronang adalah sebagai berikut;
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Percomorphi
Famili : Siganidae
Genus : Siganus
Spesies : Siganus sp.

2. Morfologi Ikan Baronang (Siganus sp)


Ikan Baronang (Siganus sp.) merupakan anggota famili Siganidae yang
mempunyai badan pipih dan mulut kecil yang posisinya terminal. Rahang ikan ini
dilengkapi dengan gigi-gigi yang kecil. Ikan ini memiliki sirip punggung yang terdiri
dari 13 duri keras dan 10 duri lunak. Duri-duri ikan ini dilengkapi oleh kelenjar racun
pada ujung siripnya sehingga orang akan merasa sakit jika tertusuk oleh duri tersebut.
Tubuh bagian atas ikan ini bewarna keabu-abuan, sedangkan dada dan perutnya
berwarna putih atau perak.
Ikan Baronang juga merupakan salah satu ikan yang memiliki bentuk ekor yang
homocercal, dimana bentuk ekornya simetris dan seimbang.

Gambar 1. Morfologi Ikan Baronang


Ciri-Ciri Ikan Baronang (Siganus sp):
a. Ikan baronang termasuk herbivore.
b. Golongan ikan Ostiectyes (bertulang sejati).
c. Bentuk tubuh Compressed (lebar lebih kecil dari panjang tubuhnya) dengan
panjang tubuh 20-45 cm (untuk dewasa),
d. Bentuk sisik Ctenoid / sisir,
e. Tipe Gigi Bulat Setengan dengan posisi mulut terminal.
f. Ikan Acantopterygii (berjari jari keras) yang dilengkapi dengan kelenjar
bisa/racun pada ujungnya dan dapat menyebabkan rasa sakit. Meskipun duri ikan
baronang beracun tetapi daging hewan ini aman untuk dikonsumsi.
g. Diurnal (beraktifitas pada siang hari).
h. Mempunyai macam macam bentuk ekor, yaitu berpinggiran tegak, berpinggiran
cekung, dan brcagak.
i. Posisi sirip perut sub-abnominal (terletak di antara sirip dada dan sirip dubur)

3. Fisiologi Organ Penglihatan Ikan Baronang (Siganus sp)


Ikan baronang tidak mampu melihat jaring warna transparan dengan baik karena
ikan-ikan tersebut banyak yang lolos melalui jaring tersebut. Demikian juga untuk
jaring warna putih. Ikan baronang kurang mampu mengenali jaring yang berwarna
hijau karena tidak adanya kekontrasan warna jaring dengan warna dasar dan tepian
konikel sehingga menyamarkan warna hijau dari jaring tersebut. Pada jaring warna biru
dan merah merupakan warna jaring yang dapat dikenali kedua ikan penelitian karena
kekontrasannya dengan warna perairan. Jaring didalam air akan dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang salah satunya adalah trasparansi dan sinar matahari.

4. Kebiasaan Makan Ikan Baronang


Menurut Mayunar (1992), sesuai dengan morfologi dari gigi dan saluran
pencernaan ikan Baronang yaitu mulutnya yang kecil, mempunyai gigi seri pada
masing-masing rahang, gigi geraham berkembang sempurna, dinding lambung agak
tebal, usus halusnya panjang dan mempunyai permukaan yang luas, ikan beronang
termasuk pemakan tumbuh-tumbuhan. Tetapi kalau dibudidayakan, ikan Baronang
mampu memakan makanan apa saja yang diberikan seperti pakan buatan.
Dilihat dari hasil pembedahan ikan ini, ditemukan bahwa ikan Baronang
memiliki usus halus yang panjang dan mempunyai permukaan yang luas. Keadaan usus
yang sangat panjang pada ikan herbivora merupakan kompensasi terhadap kondisi
makanan yang memiliki kadar serat yang tinggi sehingga memerlukan pencernaan
lebih lama. Usus yang panjang tersebut bertujuan untuk mendapatkan hasil pencernaan
makanan secara maksimal.
Ikan Baronang ada juga yang terkadang memakan makanan yang hewani,
misalnya ikan Baronang susu (Siganus canaliculatus) yang terkadang mau memakan
umpan udang mati. Kebiasaan makanan dan cara memakan ikan secara alami juga tidak
terlepas pada lingkungan tempat hidup ikan. Hal ini juga membenarkan apa yang
dikatakan oleh Mayunar (2002), bahwa ikan Baronang mampu memakan apa saja yang
diberikan seperti pakan buatan.

5. Reproduksi Ikan Baronang


Reproduksi merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu
organisme. Umumnya, ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Dalam hal ini, ikan
jantan dan betina akan saling mendekat satu sama lain, kemudian si betina akan
mengeluarkan telur. Selanjutnya, si jantan akan segera mengeluarkan spermanya, lalu
sperma dan telur ini bercampur di dalam air.
Induk jantan Siganus javus mulai matang kelamin pada ukuran panjang 27,0-
36,6 cm dan berat 650-800 gram, sedangkan ikan-ikan jantan dan betina Siganus
canaliculatus telah matang kelamin pada ukuran masing-masing 18,6 cm dan 22 cm.
Pematangan gonad dan pemijahan secara alami induk ikan Baronang dapat terjadi di
lingkungan air laut dengan salinitas 28-30 ppm dan suhu antara 23-32 derajat Celcius.
Pematangan tersebut terjadi sepanjang tahun.
Untuk membedakan kelamin ikan jantan dan betina, kita dapat memperhatikan
gambar berikut :
Gambar 2. Ovarium dan Testis Ikan

6. Pertumbuhan dan perkembangan Ikan Baronang (Siganus Sp)


Variasi jumlah telur ikan baronang yang berukuran panjang 22-27 cm adalah
antara 200.000-1.300.000 butir. Juwana baronang S. guttatus yang berukuran D35
dapat mencapai berat 5o g atau panjang total 12 cm dalam 115 hari. Sementara itu,
baronang S. canaliculatus dapat mencapai berat 93 g/ekor selama 5 bulan pemeliharaan
dari benih berukuran 25 g/ekor. Hubungan antara persentase protein dalam pakan dan
laju pertumbuhan ikan dapat dilihat pada gambar di bawah.

Gambar 3. Laju Pertumbuhan Ikan


7. Penyebaran Ikan Baronang (Siganus Sp)
Penyebaran ikan beronang ini cukup luas, tetapi penyebaran setiap species
sangat terbatas seperti yang terdapat di LON LIPI daerah penyebaran setiap species
sebagai berikut:
a. Siganus guttatus penyebarannya di :
Sumatera : Bengkulu, Padang Deli;
Jawa : P. Seribu, Cirebon, Balay, Surabaya;
Kalimantan : Balik Papan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Bajo, Manado, Selayar;
Maluku : Seram, P. Obo, Ternate, Ambon, dsb.
b. Siganus canaculatus penyebarannya di :
Sumatera : Padang;
Jawa : Ujung Kulon, Teluk Banten, P. Seribu;
Maluku : Ternate, Bacan.
c. Siganus vulpinus penyebarannya di :
Kalimantan : Birabirahan;
Sulawesi : Masalembo, Ujung Pandang, Manado;
Maluku : Ternate, Kajoa, Ambon, Seram;
Irian : Manokwari.
d. Sirganus virgatus penyebarannya di :
Sumatera : Pariaman, Padang, Bangka, Belitung;
Jawa : P. Seribu, Bawean;
Kalimtan : Sundakan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Bajo.
e. Siganus corallinus penyebarannya di :
Sumatera;
Jawa;
Nusa Tenggara;
Sulawesi;
Maluku.
f. Siganus chrysapilos penyebarannya di :
Jawa :P. Seribu;
Kalimantan : Sundakan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Manado, Slayar;
Nusa Tenggara : Sumbawa;
Maluku : P. Obi, Roti, Ambon dan sekitarnya.
g. Siganus spinus penyebarannya di :
Sumatera : Bengkulu, Padang, Tapak Tuan;
Jawa : P. Serinu, Pacitan, Karang Bolong, Prigi;
Sulawesi : Ujung Pandang. Bajo, Manado;
Nusa Tenggara, Timor;
Bali;
Maluku dan sekitarnya.
h. Siganus vermiculatus penyebarannya di :
Sumatera : Bengkulu, Padang, Sibolga, Nias;
Jawa : P. Seribu, Semarang;
Kalimantan : Balik Papan dan Sundakan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Bulukumba, Manado, Sangihe;
Maluku : Halmahera, Morotai, Ternate, Bacan, Ambon;
Nusa Tenggara, Timor.
i. Siganus puellus penyebarannya di :
Jawa :P. Seribu;
Sulawesi : Ujung Pandang;
Maluku dan sekitarnya.
j. Siganus javus penyebarannya di :
Sumatera : Deli, Sibolga, Bengkulu, Bangka, Belitung;
Jawa : Jakarta, Cirebon, Semarang, Jepara, Surabaya,
Pasuruan, madura;
Kalimantan : Stagen, Balik Papan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Bajo.
k. Siganus lineatus penyebarannya di :
Maluku : Ternate, Morotai, Ambon dan sekitarnya.

8. Cara Pemijahan Budidaya Ikan Baronang (Siganus sp)


Baronang adalah ikan yang termasuk spesies siganus sp. jenis ikan laut ini
banyak diminati karena rasanya yang lezat. Di indonesia ikan baronang (siganus sp.)
terdapat 7 spesies diantaranya : Siganus javus, S. argentinzaculatus, S. vermiculatus,
S. guttatus, S. spinus, S. Rivulatus, dan S. canaliculatus.
Ikan baronang yang digemari dengan kondisis ikan cepat tumbuh dan daya
tahan toleran terhadap kondisi strest serta perubahan lingkungan antara lain adalah
ikan baronang spesies. S. guttatus dan S. canaliculutus.
Ikan baronang (siganus sp) masih terkendala dalam budidaya, karena sebagian
besar ikan baronang di dapatkan dari hasil tangkapan nelayan di laut.
Budidaya baronang menggunakan air laut, harus berdekatan dengan laut.
Menurut Direktorat Bina Pembenihan, Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian
disosialisasikanlah mengenai teknik pembenihan ikan baronang, dengan harapan agar
para nelayan dapat membudidayakan ikan baronang dengan pengadaan benih dari
budidaya sendiri juga. Istilahnya usaha budidaya dengan mengambil keuntungan dari
hulu sampai hilir.
A. Pemijahan Alami
Induk induk matang telur hasil pembesaran dalam kurungan apung
dipindahkan ke dalam bak-bak pemijahan dengan volume air 3 m3 .Perbandingan
induk jantan dangan induk betina yang ideal adalah 1 : 1, dengan densitas 1,5 kg/ m3 .
induk ikan biasanya memijah pada bulan gelap, antara 5 9 hari setelah bulan gelap
dan waktu memijah sekitar petang menjelang malam atau dini hari menjelang subuh.
Dengan mempelajari musim pemijahan dan lingkungan tempat pemijahan, para
ahli sudah dapat memijahkan ikan Baronang secara alamiah pada bak-bak terkontrol.
Adpun parameter atau lingkungan pada bak terkontrol berdasarkan percobaan Trijoko,
dkk (1985) adalah sebagai berikut:
- Volume bak : 600 liter dan 1.750 liter
- Suhu : 24 32 0C
- Salinitas : 30 40 ppt
- Sirkulasi : Mengalir terus menerus
- Pakan : Ikan rucah dan alga segar dengan jumlah 2 % berat kering atau 8%
berat basah/BB/hari.
Hasil dari percobaan tersebut adalah sbb:
- Siganus virgatus matang gonad lebih awal, kemudian disusul Siganus
canaliculatus, dan yang paling lambat adalah Siganus chrysospilos.
- Periode kematangan gonad rata-rata 66 162 hari.
- Telur yang dihasilkan mempunyai kualitas cukup baik, hanya telur Siganus
canaliculatus yang tidak menetas.
B. Pemijahan Rangsangan
Ikan yang sudah matang telur dirangsang dengan suntikan hormon
Gonadotropin. Induk betina disuntik dengan 500 MU (Mouse Unit) dan induk jantan
dengan 250 MU. Biasanya setelah 6 8 jam ikan akan memijah dan apabila induk ikan
tidak mau memijah maka dapat dilakukan pembuahan dengan metode Stripping
C. Pemijahan dengan Stripping
Pada pemijahan dengan metode stripping dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
a. Metode kering
sel telur hasil stipping dari induk betina dicampur dengan sperma. Pencampuran
dilakukan dengan menggunakan bulu ayam/bebek. Setelah itu sel telur dibiarkan
selama 10 menit , kemudian dicuci air laut yang telah disaring dan disterilkan, setelah
itu telur dipindahkan ke dalam tangki penetasan.
b. Metode Basah
Sel telur dan sperma hasil stripping dicampur dalam air laut yang telah
disterilkan dan dibiarkan selama 10 menit, kemudian telur dicuci dan dipindahkan
pada tangki penetasan.
Gambar 4. Pembenihan Ikan Baronang Cara Kering
Keterangan Gambar
A. Pengambilan Sperma
B. Pengambilan telur dengan cara stripping
C. Pencampuran sperma dan telur
D. Diaduk dengan bulu ayam/bebek
E. Pencucian telur
F. Pencucian dengan air mengalir dalam plankton net.

9. Cara Pembenihan Budidaya Ikan Baronang (Siganus sp)

Gambar 3. Ikan Baronang (Siganus sp)


Ikan baronang merupakan ikan air laut, ikan air laut biasanya memiliki jumlah
telur yang terlampau banyak karena di lihat dari kondisi dilaut dengan banyaknya
rantai pemangsa ikan-ikan kecil membuat berbagai jenis ikan dilaut memiliki jumlah
telur yang banyak.

a. Pemilihan tempat pembenihan Ikan Baronang.


Ikan ini hidup diperairan payau dan laut di daerah tropis. Salinitas terbaik untuk
Inkubasi telur ialah antara 10-51 ppt. Sementara itu, salinitas untuk perkembangan
larva yang masih mengandung kuning telur adalah 14-37 ppt. Ikan ini dapat
dibudidayakan di karamba jarring apung dan tambak. Benihnya ditempatkan pada
keramba berukuran 2m x 2m x 2m yang bermata jarring 12-25 mm.

b. Pemilihan Induk Ikan Baronang


Induk ikan baronang yang di gunakan dapat berupa induk di pelihara dari
keramba jaring apung dan tambak atau hasil penangkapan dari alam. Induk yang
memenuhi kriteria standar yaitu warna cerah, organ tubuh lengkap ( tidak cacat ), tubuh
kenyal dan gerakan aktif. Sebelum induk di pelihara dalam bak pemeliharaan induk
terlebih dahulu diadaptasikan lingkungan terutama suhu dan salinitas.

c. Ciri-ciri Indukan Ikan Baronang.


1. Betina
Ikan Betina lebih besar dari jantan
Perut bagian bawah ikan betina lebih besar
Lubang genital ikan baronang betina lebih besar
Ukuran baronang betina terutama matang telur adalah panjang baku 130 -
210 mm
Berat Betina > 300-450
Jika bagian perut beronang diurut, cairan keluar berwarna jingga dari
lubang genital
2. Jantan
Ukuran baronang jantan terutama matang telur adalah panjang baku 110 -
140 mm
Berat Jantan > 250.

d. Pemeliharaan Induk Ikan Baronang


Pemeliharaan induk dilakukan dengan menggunakan :
Bak dari beton yang berukuran 3 m3 dengan perbandingan antara jantan
dan betina adalah 1 : 1.
Pakan yang diberikan berupa pakan pelet sebanyak 3 - 5 % bobot ikan yang
mengandung protein > 35 %.
Pemberian pakan ini dilakukan 2 3 kali sehari pada jam 07.00, 10.00, dan
15.00.

e. Pengelolaan Budidaya
1. Penyediaan benih
Ketersediaan benih masih terkendala. Pembudidaya memperoleh benih ini
dari hasil tangkapan alam. Kini, benih dari hatchery sudah bisa diperoleh. Pada
musim tertentu benih S. canaliculatus banyak terdapat di perairan pantai pada lokasi
tertentu (Sulawesi Selatan).
2. Penebaran benih
Benih berukuran 30-50 g/ekor dapat ditebarkan dalam karamba dengan
kepadatan 250 ekor/m2
3. Pendederan
Benin berukuran 1-3 g/ekor dapat didederkan dalam karamba bermata jaring
22 min dengan kepadatan 300-5oo ekor/m3. Untuk mencapai ukuran 30-50 g,
diperlukan waktu pendederan 2 bulan.
4. Pemberian pakan
Pakan yang diberikan selama pemeliharaan berupa pakan buatan (pelet)
dengan dosis 3-5% bobot badan. Pakan tersebut diberikan 3 kali sehari (pagi, Siang,
dan malam hari).

3. Pemijahan Ikan Baronang dengan hormon


Induk ikan yang sudah matang telur dirangsang untuk memijah dengan suntikan
hormon gonadotropin. Induk betina disuntik dengan 500 MU dan induk jantan
disuntik dengan 250 MU (mouse unit). Biasanya setelah 6 -8 jam ikan akan
memijah.

10. Penetasan Telur


a. Fekunditas
Telur ikan Baronang mempunyai fekunditas yang relatif tinggi. Jumlah telur
yang dikandung tergantung pada besarnya induk. Contoh Siganus canaliculatus yang
panjang totalnya antara 11-14 cm mempunyai telur sebanyak 300.000 400.000 butir.
Variasi jumlah telur dalam ovari ikan yang berukuran 22-27 cm yaitu sebanyak
200.000 1.300.000 butir,
b. Pengumpulan Telur
Untuk mengumpulkan telur pada bak pemijahan alami digunakan potongan
pkastik gelombang pada dinding dan dasar bak untuk melekat/menempelnya telur Ikan
Baronang. Pada pemijahan secara hormonal (Stripping) tidak perlukan potongan
plastik gelombang.
Selain dengan cara tersebut, untuk pemijahan secara alami dapat juga dilakukan dengan
sitem siphon, yaitu dimana aerasi harus dimatikan dan didiamkan sekitar 10 menit,
kemudian disiphon.
c. Penetasan Telur
Telur-telur yang telah dibuahi, dimasukkan ke dalam tangki penetasan yang
telah diisi dengan air laut bersih. Pada fase ini air dibiarkan menggenang (tidak
sirkulasi)dan diberi areasi yang sangat kecil, diatas tangki diberi pelindung agar cahaya
tidak terlalu banyak menembus air dalam tangki. Pengamatan perkembangan telur
dapat dilakukan dengan cara mengambil sampel secara hati-hati dalam tangki
penetasan dan diperiksa di bawah mikroskop.
Adapun kualitas air yang dianjurkan, adalah :
-Salinitas : 25 -28% .
-Suhu : 27 -290C
-pH air : normal

11. Pemeliharaan larva

Gambar 4. Larva Ikan Baronang


Setelah telur menetas ( 22 -24 jam)setelah dibuahi air dalam tangki harus segera
diganti dengan cara hati-hati yaitu dengan menggunakan pipa plastik dengan diameter
1 cm, pada ujungnya diberi saringan agar larva tidak terbawa keluar, sedang pada
ujung pipa yang lainnya dimana air keluar di tampung dalam ember yang ketinggian
ember tersebut setinggi permukaan air dalam tangki. Larva yang baru menetas
dipindahkan pada bak pemeliharaan atau tidak, apabila bak penetasan juga sebagai bak
pemeliharaan. Kepadatan larva ideal 20 -30 ekor/liter.
1. Management air dalam bak pemeliharaan
a. Penggantian Air
- Umur < 10 hari : tidak diganti air
- Umur 10 -20 hari : 50% ganti air
- Umur > 30 hari : ganti air 100 -200 % / hari
b. Penyiponan dasar bak
- Umur < 7 hari : lihat kondisi
- Umur 7 -20 hari : disiphon 2 hari sekali
- Umur > 21 hari : disiphon setiap hari
c. suhu air : 26 30 0C
d. Intensitas cahaya yang ideal : 800 5.000 lux
e. Salinitas air
- Umur 1 20 : 25 -28 ppt
- Umur 20 -30 hari : 28 30 ppt
- Umur > 30 hari : 30 ppt
f. D.O yang ideal : > 4 ppm
- Aerasi 1 bh/0,5 1 m3.
- Umur 1 15 hari : perlu udara 0,1 2 liter/menit
- Umur 16 30 hari : perlu udara 2,5 10 liter/ menit.
g. pHair : 7,6 8,6
h. NO2 N : < 0,5 ppm
i. NH3 : < 0,1 ppm

12. Pengelolaan Kualitas Air


Air laut untuk pemeliharaan larva adalah air laut yang sudah mengalami
beberapa saringan, pertama melalui saringan pasir kemudian saringan millipore yang
berdiameter 10 dan 15 mikron. Pembersihan tangki harus dilakukan secara periodik
dengan menggunakan siphon (pipa plastik), larva telah berumur antara 7 20 hari,
dasar tangki harus dibersihkan setiap 2 hari sekali, bila larva berumur di atas 21 hari
pembersihan dasar tangki dilakukan setiap hari.

13. Pengendalian Hama Dan Penyakit Ikan Baronang (Siganus Sp)


Ikan baronang (S. guttatus) dapat terserang parasit sejenis dinoflagelata, yaitu :
Amyloodinium ocellatum.
Organ yang diserang adalah insang dan kulit. Ikan yang terinfeksi oleh parasit
ini menunjukkan gejala berenang megap-megap di permukaan, muncul warna
merah di sekeliling mulut, dan gejala anemia. Bahkan, jika terinfeksi berat,
dapat berakibat kematian pada ikan.
Pencegahan dan pengobatan, yaitu dilakukan perendaman dengan formalin 200
ppm selama satu jam disertai aerasi kuat.
Hal ini disebabkan penggunaan formalin dengan dosis tinggi dapat menurunkan
kadar oksigen terlarut dalam air, selain ikan sangat sensitif terhadap formalin.
Ichthyophonus sp
Jamur yang sering menyerang ikan laut adalah Ichthyophonus sp. Tanda adanya
infeksi jamur, yaitu pada setiap ikan berbeda. Beberapa ikan terinfeksi tidak
menunjukkan gejala sakit. Namun, ada juga yang ditandai dengan
pembengkakan organ dalam, seperti limpa, hati, dan ginjal disertai benjolan
putill berdiameter hingga lebih dari 2 mm, kadang disertai pembengkakan perut
dan bergerak tak menentu.
Efek lain yang timbul adalah ikan kehilangan nafsu makan sehingga menjadi
kurus dan menderita anemia. Pengobatannya belum diketahui. Untuk
menghindari serangan penyakit ini, sebaiknya sejauh mungkin dihindari
pemberian pakan yang terkontaminasi jamur.
Vibrio spp
Penyakit bakterial penting pada ikan baronang, yaitu penyakit yang disebabkan
bakteri Vibrio spp. dan Streptococcus sp. Gejala yang timbul, antara lain nafsu
makan menurun, warna tubuh menjadi lebih gelap, perdarahan (hemoragi)
multifokal pada sirip, dan mata buram/keruh serta sering kali menonjol. Infeksi
kronis umumnya menyebabkan insang pucat.
Pencegahannya dengan mempertahankan kualitas perairan, melakukan
penanganan sesuai prosedur, padat penebaran yang lebih rendah, dan vaksinasi.
Pengobatannya dengan perendaman ikan sakit ke dalam larutan nitrafurazone
15 mg/l selama 2 jam atau Chloramphenicol 5o mg/l selama 4 jam. perendaman
dapat juga dengan Supphonamide 5o mg/l selama 4 jam.
14. Manfaat Ikan Baronang (Siganus Sp) Bagi Manusia
Dari hasil penelitian ternyata komoditi beronang mempunyai nilai yang
menguntungkan sebagai berikut:
a. Ikan beronang merupakan makanan yang enak dan gurih dan disukai banyak
orang sehingga pemasaran ikan ini cukup baik.
b. Selama musim-musim tertentu benih beronang dapat diperoleh dalam jumlah
banyak.
c. Ikan beronang mempunyai toleransi besar terhadap salinitas dan suhu.
d. Mempunyai daya adaptasi yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat.
e. Ikan ini sudah dapat dipijahkan di dalam laboratorium sehingga prospek
pembenihan dari hatchery cukup baik.
f. Ikan beronang mempunyai harga pasar yang cukup tinggi baik untuk konsumsi
dalam maupun luar negeri.
g. Teknologi pembesaran ikan beronang sudah dikuasai.
Jadi dapat diambil kesimpulan kalau ikan baronang ini bisa dibudidayakan dengan
skala besar karena ikan baronang sudah bisa di pijahkan didalam laboratorium sehingga
untuk pembenihannya cikup baik, da juga teknologi pembesaran ikan baronang sudah
dikuasai. Untuk masalah harga juga cukup tinggi baik dikonsumsi dalam maupun luar
negeri, terutama yang ada telurnya selama tahun baru cina.
Banyak keuntungan jika mengkonsumsi ikan karena setiap bagian tubuhnya bisa
dimakan. Kita simak fakta berikut ini:
Daging putih mengandung asam lemak tak jenuh omega-3 dan protein yang
berisi asam amino taurin dan sepuluh jenis asam amino esensial.
Daging merah mengandung asam lemak tak jenuh omega-3, protein, vitamin
A dan B.
Kulit mengandung vitamin A dan B2.
Tulang mengandung mineral, terutama kalsium dan fosfor.
Isi perut mengandung vitamin dan mineral.
Kepala dan mata mengandung polisakarida yang berperan dalam kelembutan
kulit dan pembuluh darah..Semua itu dapat memberikan keseimbangan nilai
gizi bagi mereka yang rakus ikan. Ada baiknya masyarakat memanfaatkan
kekayaan ikan yang bernilai gizi tinggi itu.
15. Nilai Ekonomis Ikan Baronang (Siganus Sp)
Ikan Baronang merupakan salah satu jenis ikan laut bernilai ekonomis penting
yang banyak di temukan diperairan Indonesia. Ikan ini bernilai gizi tinggi dan telah
dibudidayakan secara komersial di beberapa Negara tropis.
Ikan Baronang (Siganus Sp) merupakan salah satu komoditas perikanan yang
memiliki prospek yang baik untuk di budidayakan pada wadah terkontrol seperti
ditambak atau keramba. Selain karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi serta
digemari masyarakat karena rasanya yang gurih dan lezat, hal ini juga disebabkan
karena ikan ini merupakan ikan herbivore yang dapat memakan lumut maupun klekap
yang tumbuh di tambak, di samping itu ikan baronang juga responsif terhadap pakan
buatan serta memiliki laju pertumbuhan yang relative tinggi.
III. KESIMPULAN