Anda di halaman 1dari 50

TUGAS KEPERAWATAN JIWA II

HIPNOTHERAPI

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 9
CLAUDIO ALVEREZ GINTING 04021181320013
REGA AUDIA NYAYU 04021181320018
WILLA ELISA SEMBIRING 04021181320020
FENI TIARA DIAH 04021181320033
RIZKY CAHYA MORGA 04021281320017
POVI OLIVIA 04021281320021
MIA DAMAYANTI 04021181320024
Dosen Pembimbing:
Sri Maryatun S.Kep., Ns., M.Kep.

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirannya Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat
menyusun makalah ini dengan tepat pada waktunya. Shalawat serta salam
tercurahkan kepada junjungan nabi kita Muhammad SAW beserta para
sahabatnya.
Makalah ini di buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa
II dimana makalah ini berisi tentang Hipnoterapi.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari pihak lain maka penulis tidak
akan dapat menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah
membantu menyelesaikan makalah ini.

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii
BAB I ................................................................................................................................... iii
PENDAHULUAN .................................................................................................................. iii
A. Latar Belakang........................................................................................................ iii
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................iv
C. Tujuan Penulisan .....................................................................................................iv
D. Manfaat Penulisan .................................................................................................. v
BAB II ................................................................................................................................... 1
TUJUAN TERAPI ................................................................................................................... 1
BAB III .................................................................................................................................. 3
A. Definisi .................................................................................................................... 3
B. Sejarah Hipnotis & Hipnoterapi .............................................................................. 3
C. Dasar - dasar dalam mempelajari Hipnotis & Hipnoterapi ..................................... 5
D. Penggunaan Hipnotis dalam Bidang Kedokteran maupun Keperawatan ............. 10
E. Relaksasi mendalam sebagai Teknik Hipnosis Modern ........................................ 13
F. Kasus yang dapat ditangani dengan Hipnoterapi ................................................. 13
G. Penurunan Rasa Nyeri dengan Hipnosis ............................................................... 15
BAB IV................................................................................................................................ 18
SOP HIPNOTHERAPI .......................................................................................................... 18
BAB V................................................................................................................................. 31
PENELITIAN TERKAIT ......................................................................................................... 31
A. Penelitan-penelitian yang terkait :........................................................................ 31
A. KESIMPULAN ......................................................................................................... 42
B. SARAN ................................................................................................................... 42
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 43

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di tengah-tengah psikolog yang memprioritaskan penelitiannya pada


kesadaran dan memandang kesadaran sebagai aspek utama dari kehidupan mental,
muncul seorang dokter muda dari kota Wina yang bernama Sigmund Freud (1856
1939), dengan gagasan yang radikal dimana ia mengatakan bahwa kesadaran
itu hanyalah sebagian kecil saja dari kehidupan mental sedangkan bagian yang
terbesar justru alam tidak sadar atau alam ketidaksadaran. Istilah ketidaksadaran
yang lebih dikenal dengan sebutan psikoanalisa ini walaupun diciptakan oleh
Freud tetapi ide - idenya campur tangan dari Josep Breuer. Psikoanalisa itu sendiri
secara umum dapat dikatakan sebagai suatu pandangan tentang manusia dimana
ketidaksadaran memainkan perananan sentral. Dalam teori psikoanalaisa ini
terdapat tiga aspek penting yang meliputi psikoanalisa sebagai aspek kepribadian,
sebagai aspek teknik evaluasi kepribadian dan sebagai teknik terapi.
Hipnoterapi sampai saat ini masih terus berkembang yang dimulai sejak
abad ke-18, mulai dari konsep hypnosis konvensional yang dikembangkan oleh
Dr. James Braid sampai dengan hipnoterapi klinis modern yang dikembangkan
oleh Dr. Milton H. Erickson sampai terakhir-terakhir yang dikembangkan oleh Dr.
Dave Elman, Gill Boyne maupun DR. Calvin Banyan.
Pada awalnya hipnoterapi, itu digunakan terutama untuk membantu
mengatasi emosi, masalah psikologis, dan sebagai alternatif anestesi, untuk
operasi lapangan. Pada titik tertentu, Pada tahun 1900-an hipnoterapi mulai
menjadi populer untuk menggunakan hipnosis untuk membantu orang berhenti
merokok, dan menurunkan berat badan.
Seseorang yang mempelajari Hipnoterapi disebut Hipnoterapis. Dengan
Hipnosis, seorang Hipnoterapis membantu klien untuk menyelesaikan
masalahnya. Waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah klien, seorang
Hipnoterapis mungkin hanya dibutuhkan satu sesi atau beberapa sesi, tergantung

iii
permasalahan yang di hadapai klien. Setelah melakukan sesi hipnoterapi, masalah
yang dihadapi klien akan teratasi, meberikan lebih banyak kontrol terhadap
pikiran dan perasaanya sehingga terjadi perubahan perilaku.
Seorang Hipnoterapis akan mengantarkan klien masuk ke dalanm kondisi
relaks atau trans dengan Hipnosis. Dalam kondisi relaks atau trans, pikiran
seseorang akan lebih mudah menerima sugesti sehingga mengubah cara seseorang
berpikir, berperilaku, dan merasa. Trans bukanlah tidur tetapi relaks dan
menyenangkan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi hipnoterapi ?

2. Bagaimana sejarah hipnotis & hipnoterapi ?


3. Apa saja dasar-dasar dalam mempelajari hipnotis & hipnoterap ?
4. Bagaimana cara penggunaan hipnotis dalam bidang kedokteran maupun
keperawatan ?
5. Bagaimana cara yang benar tentang relaksasi mendalam sebagai teknik
hipnosis modern ?
6. Apa saja kasus yang dapat ditangani dalam hipnoterapi ?

C. Tujuan Penulisan

1. Agar mahasiswa keperawatan mengetahui tentang Sejarah Hipnotis &


Hipnoterapi.
2. Agar mahasiswa keperawatan mengetahui Dasar-dasar Hipnotis &
Hipnoterapi.
3. Agar mahasiswa keperawatan mengetahui cara Penggunaan Hipnotis
dalam Bidang Kedokteran maupun Keperawatan.
4. Agar mahasiswa keperawatan mengetahui cara yang benar tentang
Relaksasi mendalam sebagai Teknik Hipnosis Modern.

iv
5. Agar mahasiswa keperawatan mengetahui apa saja Kasus yang dapat
ditangani dengan Hipnoterapi.

D. Manfaat Penulisan

1. Mengetahui definisi hipnoterapi.


2. Mengetahui Bagaimana sejarah hipnotis & hipnoterapi.
3. Mengetahui Apa saja dasar-dasar dalam mempelajari hipnotis &
hipnoterapi.
4. Mengetahui Bagaimana cara penggunaan hipnotis dalam bidang
kedokteran maupun keperawatan.
5. Mengetahui Bagaimana cara yang benar tentang relaksasi mendalam
sebagai teknik hipnosis modern.
6. Mengetahui Apa saja kasus yang dapat ditangani dalam hipnoterapi.

v
BAB II

TUJUAN TERAPI

Tujuan dari hipnoterapi adalah menghapus atau menanamkan program di


Pikiran Bawah Sadar supaya perubahan yang Anda alami berlangsung dari dalam
diri Anda sendiri. Dengan mengubah program yang ada di Bawah Sadar Anda,
maka Anda tidak perlu susah payah memaksa diri Anda untuk berubah. Misalnya
Anda ingin menurunkan berat badan. Dengan hipnoterapi, Anda tidak perlu susah
payah menahan keinginan untuk makan. Pikiran Bawah Sadar Anda bisa diberi
program agar supaya Anda merasa kenyang dengan makanan yang sedikit dan
tetap merasa kenyang sampai tiba waktu makan. Dengan begitu, Anda tidak
merasa tersiksa meskipun makan cuma sedikit.
Kesimpulannya, hipnoterapi merupakan sebuah metode yang bisa
mengubah program di pusat kendali dalam diri Anda. Yang kami maksud pusat
kendali adalah Pikiran Bawah Sadar. Hipnoterapi merupakan terapi yang langsung
berurusan dengan sumber segala masalah pribadi, yaitu Pikiran Bawah Sadar.
Karena hipnoterapi langsung mengatasi akar masalahnya, maka perubahan yang
terjadi melalui hipnoterapi adalah permanen. Misalnya Anda punya sakit maag
karena asam lambung Anda tinggi. Tingginya asam lambung disebabkan oleh rasa
kecemasan. Jika Anda hanya minum obat, maka itu hanya menyembuhkan
sementara. Dengan hipnoterapi, kecemasan Anda dihilangkan sehingga sakit
maag tidak akan muncul untuk selamanya.
Dari apa yang telah kita ketahui bahwa Hypnotherapy adalah suatu metode
dimana pasien dibimbing untuk melakukan relaksasi, dimana setelah kondisi
relaksasi dalam ini tercapai maka secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar
sesesorang akan terbuka lebar, sehingga yang bersangkutan cenderung lebih
mudah untuk menerima sugesti penyembuhan yang diberikan.
Dari hal ini dapat dikatakan hypnoterapi sangat efektif sekali digunakan
dalam poses keperawatan. Dalam kasus - kasus tertentu yang bersifat medis.
hipnoterapi bukan suatu bentuk alternatif dari pengobatan, tetapi menjadi

1
suplemen terhadap proses penyembuhannya. Sehingga jika secara medis masalah
tersebut masih memerlukan pengobatan secara medis maka masih tetap
dibutuhkan seorang dokter untuk memberikan obatnya. Seorang hypnotherapis
atau perawat yang berperan sebagai hynoterapis yang membantu dalam masalah
mentalnya. Pada saat ini hipnoterapi yang sering digunakan oleh perawat kepada
klien terapi menejermen nyeri dan mengurangi ansietas atau kecemasan. Dua hal
ini adalah terapi yang lebih sering diterapkan oleh perawat dalam proses
keperawatan untuk mengatasi masalah klien. Misalnya implementasi keperawatan
untuk menghilangkan nyeri dan cemas yaitu dengan mengunakan relaksasi nafas
dalam dan distraksi.
Distraksi adalah suatu pengalihan perhatian klien terhadap apa yang
dirasakannya. Misalnya dengan mengunakan terapi hipnotis lima jari, hipnotis
lima jari adalah suatu terapi dimana klien diperintahkan untuk membayangkan hal
indah - indah tentang dirinya. Caranya adalah, misalnya sebelum melakukanyanya
klien diperintah untuk melakukan relaksasi nafas dalam dengan menutup mata
tentunya dengan posisi yang senyaman mungkin, setelah klien nyaman klien
diperinntah untuk menyentuhkan jari jempol dengan jari telunjuk dan klien
diperintah misalnya untuk membayangkan pada saat dia sehat, jari jempol dengan
jari tengah pada saat dia mendapatka prestasi, jari jempol dengan jari manis pada
saat dia mendapatkan pujian dan jari jempol dengan jari kelingking pada saat
bersama orang terdekat. Terbukti dengan mengunakan metode ini klien berada
dalam metode yang nyaman dan sanagat rilek bila klien berfokus dalam
melakukannya.
Berdasarkan apa yang telah kita bahas sejauh ini, maka hypnoterpi dapat
dikatakan terapi komplementer yang sangat efektif yang dapat digunakan untuk
mempercepat proses penyembuhan klien. Pada saat ini terapi relaksasi nafas
dalam dan distraksi adalah suatu metode hipnoterapi yang modern pada saat ini
dan sudah diterapkan oleh perawat dalam melakukan asuhan keperawatan
terhadap klien.

2
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Hipnoterapi adalah suatu rangkaian proses yang digunakan seorang


hipnoterapis untuk menyelesaikan masalah klien dengan ilmu hipnosis.
Hypnotherapy adalah suatu metode dimana pasien dibimbing untuk
melakukan relaksasi, dimana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai maka
secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar,
sehingga yang bersangkutan cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti
penyembuhan yang diberikan.
Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari
manfaat sugesti untuk mengatasi masalah pikiran, perasaan, dan perilaku.
Hipnoterapi dapat juga dikatakan sebagai suatu teknik terapi pikiran
menggunakan hipnotis. Hipnotis bisa diartikan sebagai ilmu untuk memberi
sugesti atau perintah kepada pikiran bawah sadar. Orang yang ahli dalam
menggunakan hipnotis untuk terapi disebut hypnotherapist.
Hipnoterapi menggunakan sugesti atau pengaruh kata - kata yang
disampaikan dengan teknik - teknik tertentu. Satu - satunya kekuatan dalam
hipnoterapi adalah komunikasi. Setiap perawat sudah cukup akrab dengan
namanya komunikasi karena pekerjaannya adalah langsung berinteraksi dengan
orang banyak, termasuk klien dan keluarga. Oleh karena itu tak akan banyak
makan waktu jika dibutuhkan latihan, sebab hampir setiap hari kita berkomunikasi
dengan orang asing. Perawat mampu menghipnotis pasien jika dia memahami
bahasa yang perawat gunakan.

B. Sejarah Hipnotis & Hipnoterapi

Pada jaman dahulu, hypnosis ini sering sekali dikaitkan dengan klenik-
klenik, supranatural, ritual keagamaan, kepercayaan, dll. Banyak "orang pintar" di

3
jaman mesir kuno dan yunani menggunakan metode hypnosis untuk mengobati
orang-orang pada waktu itu, walaupun waktu itu belum ada istilah hypnosis.
Menurut yang ditulis pada catatan dokumen medis Ebers Papyrus, Catatan
sejarah tentang sejarah hipnosis, berawal dari jaman mesir kuno 1550 SM.
Menurut Ebers papyrus, dituliskan bahwa pada jaman mesir kuno ada kuil
pengobatan yang bernama kuil tidur. Cara pengobatan pada waktu itu, para
pendeta menyembuhkan pasiennya dengan menyentuhkan tangannya pada dahi
pasien sambil mengucapkan mantra atau sugesti untuk menyembuhkan pasiennya.
Kemudian para warga sekitar pada waktu itu mempercayai bahwa pendeta itu
memiliki kekuatan magis.
Pada abad 18 adalah titik awal untuk sejarah hypnosis modern, yang
dimulai dari pendeta yang bernama gassner. Gassner meyakini bahwa orang sakit
itu kerasukan setan, maka dengan membuat pasien masuk ke kondisi hypnosa
(hypnosa adalah kondisi dimana manusia menjadi rileks dan terfokus) kemudian
beliau melakukan ritual tertentu untuk mengusir setan yang ada dalam tubuh
pasiennya.
Setelah Gassner, barulah muncul beberapa tenaga kesehatan dari para dokter dan
psikolog yang meneliti tentang hypnosis ini, dimulai dari :
1. Franz Anton Mesmer (1735-1815),
2. Marquis de Puysegur (1751-1825),
3. John Elliotson (1791-1868),
4. James Braid,Penulis dan dokter terkenal di Inggris (1795-1860),
5. Para psikiater Jean Martin Charcot (1825-1893) dan Sigmund Freud
(1856-1939)
6. Milton Erickson (1901-1980)
7. Dave Elman (1900-1967)
8. Ommond Mcgill (1913-2005)
Dari para tokoh diatas, yang paling berperan adalah Milton Erickson, karena
jasanya hypnosis bisa di terima oleh Asosiasi Medis Amerika dan Asosiasi
Psikiatris Amerika yang bisa digunakan dalam pengobatan sejak tahun 1958.

4
Dr. Milton H. Erickson pertama kali memperkenalkan bahwa jiwa manusia
sangat unik. Tidaklah mudah meminta orang untuk secara langsung
menghilangkan kebiasaan buruk yang ingin dia tinggalkan. Seperti kita
menyampaikan nasihat kepada seseorang yang mengeluh karena dia mempunyai
masalah, Sekarang kamu dapat menyelesaikannya, atau seseorang yang
mempunyai masalah perilaku lalu kita berikan nasihat, Sekarang perilaku anda
sudah berubah menjadi baik. Belum tentu dia akan merubah perilakunya dengan
segera. Mungkin hanya untuk sementara, tetapi biasanya kebiasaan itu akan
kembali lagi. Apalagi jika kita tidak mengetahui akar permasalahannya mengapa
dia berperilaku demikian, tidak mengetahui nilai dasar dan keinginan sebenarnya
yang dimiliki orang tersebut. Ingat, jiwa manusia sangat kompleks, setiap orang
mempunyai jiwa dan nilai yang unik. Perilaku atau respons seseorang tidak sama
dalam menghadapi peristiwa yang berbeda. Bahkan sangat mungkin sekali untuk
peristiwa yang sama, perilaku atau respons seseorang yang sama dapat berbeda.
Hal inilah yang dikembangkan Erickson menuju metode hipnoterapi yang
lebih efektif. Berkat jasanya dalam mengembangkan metode-metode dalam
melakukan terapi klinis dengan metode hipnoterapi, maka pada tahun 1950-an
hipnoterapi diakui oleh Asosiasi Medis Amerika sebagai metode terapi.
Paska Milton H. Erickson, metode ini berkembang terus sampai dengan
metode yang berorientasi kepada pasien. Saat ini, metode ini lebih efektif
digunakan apalagi digabungkan dengan pola komunikasi yang telah
dikembangkan Erickson. Metode ini telah banyak dipergunakan oleh para terapist
terkenal seperti Gill Boyne, Mary Lee LaBay, maupun Calvin Banyan dan lain-
lain.

C. Dasar - dasar dalam mempelajari Hipnotis & Hipnoterapi

Pikiran bawah sadar manusia menyimpan misteri yang luar biasa. Banyak
hal yang menyangkut manusia bersumber dari berbagai data dan nilai yang
tersimpan di pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar tidak saja terkait dengan
perilaku dan mental, tetapi lebih jauh lagi pikiran bawah sadar dapat merubah

5
metabolisme, mempercepat penyembuhan, atau bahkan memperburuk suatu
kondisi penyakit.
Hypnotherapy adalah suatu metode dimana pasien dibimbing untuk
melakukan relaksasi, dimana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai maka
secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar,
sehingga yang bersangkutan cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti
penyembuhan yang diberikan.
Secara konvensional, Hypnotherapy dapat diterapkan kepada mereka yang
memenuhi persyaratan dasar, yaitu :
1. Bersedia dengan sukarela
2. Memiliki kemampuan untuk fokus
3. Memahami komunikasi verbal
Untuk memahami Hypnosis atau Hypnotherapy secara mudah dan benar,
sebelumnya kita harus memahami bahwa aktivitas pikiran manusia secara
sederhana dikelompokkan dalam empat wilayah yang dikenal dengan istilah
Brainwave, yaitu : Beta, Alpha, Theta, dan Delta.
Beta adalah kondisi pikiran pada saat sesorang sangat aktif dan waspada.
Kondisi ini adalah kondisi umum ketika seseorang tengah beraktivitas normal.
Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 14 24 Cps (diukur dengan perangkat
EEG)
Alpha adalah kondisi ketika seseorang tengah fokus pada suatu hal
(belajar, mengerjakan suatu kegiatan teknis, menonton televisi), atau pada saat
seseorang dalam kondisi relaksasi. Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 7
14 Cps.
Theta adalah kondisi relaksasi yang sangat ekstrim, sehingga seakan-akan
yang bersangkutan merasa tertidur, kondisi ini seperti halnya pada saat
seseorang melakukan meditasi yang sangat dalam. Theta juga gelombang pikiran
ketika seseorang tertidur dengan bermimpi, atau kondisi REM (Rapid Eye
Movement). Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 3.5 7 Cps
Delta adalah kondisi tidur normal (tanpa mimpi). Frekwensi pikiran pada
kondisi ini sekitar 0.5 3.5 Cps.

6
Kondisi Hypnosis sangat mirip dengan kondisi gelombang pikiran Alpha
dan Theta. Yang sangat menarik, bahwa kondisi Beta, Alpha, dan Theta,
merupakan kondisi umum yang berlangsung secara bergantian dalam diri kita.
Suatu saat kita di kondisi Beta, kemudian sekian detik kita berpindah ke Alpha,
sekian detik berpindah ke Theta, dan kembali lagi ke Beta, dan seterusnya.
Pada saat setiap orang menuju proses tidur alami, maka yang terjadi adalah
gelombang pikiran ini secara perlahan-lahan akan menurun mulai dari Beta,
Alpha, Theta, kemudian Delta dimana kita benar-benar mulai tertidur.
Perpindahan wilayah ini tidak berlangsung dengan cepat, sehingga sebetulnya
walaupun seakan - akan seseorang sudah tampak tertidur, mungkin saja ia masih
berada di wilayah Theta.
Pada wilayah Theta seseorang akan merasa tertidur, suara-suara luar tidak
dapat didengarkan dengan baik, tetapi justru suara - suara ini didengar dengan
sangat baik oleh pikiran bawah sadarnya, dan cenderung menjadi nilai yang
permanen, karena tidak disadari oleh pikiran sadar yang bersangkutan.
a) Syarat syarat melakukan hypnoterapi
Secara konvensional, Hypnotherapy dapat diterapkan kepada mereka
yang memenuhi persyaratan dasar, yaitu :
1) Bersedia dengan sukarela
2) Memiliki kemampuan untuk focus
3) Memahami komunikasi verbal.
b) Tahap Hypnoterapi
Pada saat proses hipnoterapi berlangsung, klien hanya diam. Duduk
atau berbaring, yang sibuk justru terapisnya, yang bertindak sebagai
fasilitator. Akan tetapi, pada proses selanjutnya, klien lah yang
menghipnosis dirinya sendiri (Otohipnotis), berikut proses sebuah
tahapan hipnoterapi :
1) Pre - Induction (Interview)
Pada tahap awal ini hipnoterapis dan klien untuk pertama kalinya
bertemu. Setelah klien mengisi formulir mengenai data dirinya,
hipnoterapis membuka percakapan untuk membangun kepercayaan

7
klien, menghilangkan rasa takut terhadap hipnotis/hipnoterapi dan
menjelaskan mengenai hipnoterapi dan menjawab semua
pertanyaan klien. Sebelumnya hipnoterapis harus dapat mengenali
aspek - aspek psikologis dari klien, antara lain hal yang diminati
dan tidak diminati, apa yang diketahui klien terhadap hipnotis, dan
seterusnya. Pre - Induction merupakan tahapan yang sangat
penting. Seringkali kegagalan proses hipnoterapi diawali dari
proses Pre - Induction yang tidak tepat.
2) Suggestibility Test
Maksud dari uji sugestibilitas adalah untuk menentukan apakah
klien masuk ke dalam orang yang mudah menerima sugesti atau
tidak. Selain itu, uji sugestibilitas juga berfungsi sebagai
pemanasan dan juga untuk menghilangkan rasa takut terhadap
proses hipnoterapi. Uji sugestibilitas juga membantu hipnoterapis
untuk menentukan teknik induksi yang terbaik bagi sang klien.
3) Induction
Induksi adalah cara yang digunakan oleh seorang hipnoterapis
untuk membawa pikiran klien berpindah dari pikiran sadar
(conscious) ke pikiran bawah sadar (sub conscious), dengan
menembus apa yang dikenal dengan Critical Area.
Saat tubuh rileks, pikiran juga menjadi rileks. maka frekuensi
gelombang otak dari klien akan turun dari Beta, Alfa, kemudian
Theta. Semakin turun gelombang otak, klien akan semakin rileks,
sehingga berada dalam kondisi trance. Inilah yang dinamakan
dengan kondisi terhipnotis. Hipnoterapis akan mengetahui
kedalaman trance klien dengan melakukan Depth Level Test
(tingkat kedalaman trance klien).
4) Deepening (Pendalaman Trance)
Jika dianggap perlu, hipnoterapis akan membawa klien ke trance
yang lebih dalam. Proses ini dinamakan deepening.
5) Suggestions / Sugesti

8
Pada saat klien masih berada dalam trance, hipnoterapis juga akan
memberi Post Hypnotic Suggestion, sugesti yang diberikan kepada
klien pada saat proses hipnotis masih berlangsung dan diharapkan
terekam terus oleh pikiran bawah sadar klien meskipun klien telah
keluar dari proses hipnotis. Post Hypnotic Suggestion adalah salah
satu unsur terpenting dalam proses hipnoterapi.
6) Termination
Akhirnya dengan teknik yang tepat, hipnoterapis secara perlahan
lahan akan membangunkan klien dari tidur hipnotisnya dan
membawanya ke keadaan yang sepenuhnya sadar.
c) Manfaat Hypnoterapi
Saat ini hipnoterapi dapat digunakan untuk mengatasi masalah
masalah sebagai berikut:
1) Masalah fisik
Ketegangan otot dan rasa nyeri yang berlebihan dapat dibantu
dengan Hipnoterapi. Dengan Hipnoterapi, dapat membuat tubuh
menjadi relaks dan mengurangi intensitas nyeri yang berlebihan
secara drastik.
2) Masalah Emosi
Serangan panik, ketegangan dalam menghadapi ujian, kemarahan,
rasa bersalah, cemas, kurang percaya diri dan lain-lain adalah
masalah-masalah emosi yang berhubungan dengan rasa takut dan
kegelisahan. Semua masalah di atas bisa diatasi dengan
Hipnoterapi.
3) Masalah Perilaku
Masalah perilaku seperti merokok, makan berlebihan dan minum
minuman keras yang berlebihan dan berbagai macam perilaku
ketagihan, dapat diatasi dengan Hipnoterapi. Hipnoterapi juga bisa
membantu insomnia dan gangguan tidur.

9
d) Efek Samping Hypnoterapi
Seperti terapi lainnya, hipnoterapi juga dapat menimbulkan efek
samping. Seperti dikatakan Dr. Erwin Kusuma SpKJ, program yang
ditanamkan dalam hipnoterapi harus positif. Ini mengingat pasien tidak
memiliki kemampuan merangkum (sintesis) karena kecerdasan
jasmaninya menurun. Bila hal ini tidak diperhatikan, bukan tidak
mungkin akan muncul hasil yang tidak diinginkan, seperti timbul
abreaksi (keluarnya rekaman bawah sadar secara serentak, seperti
kekesalan dan kesedihan, sehingga ungkapan dan tindakan pasien tidak
terkendali).
e) Fakta Hypnoterapi
1) Hipnoterapi adalah suatu hal yang aman dilakukan. Hal ini
hanyalah keadaan santai di mana pikiran bawah sadar seseorang
dapat diakses dan terbuka untuk membuat perubahan positif.
2) Hipnoterapi bukan pengendalian pikiran. Karena dengan bantuan
pembimbing, orang tersebut yang memilih cara yang tepat untuk
mengkhilaskan dan mengatasi masalah seseorang.
3) Seseorang tetap sadar selama hipnoterapi. Kondisi ini hanyalah
sebuah bagian dari relaksasi, yaitu pikiran tenang dan rileks.
4) Siapapun dapat di hipnoterapi (selama yang bersangkutan tidak
mengalami paksaan, dan gangguan dalam berkomunikasi)

D. Penggunaan Hipnotis dalam Bidang Kedokteran maupun Keperawatan

Seorang yang sakit secara medis, mau sembuh atau tidak mau mengikuti
saran dokternya atau tidak, tergantung pada pasien sendiri. Sehebat apapun
dokternya, apabila pasien tidak menuruti apa kata dokternya, tentunya sulit untuk
sembuh.
Dalam kasus - kasus tertentu yang bersifat medis, hipnoterapi bukan suatu
bentuk alternatif dari pengobatan, tetapi menjadi suplemen terhadap proses
penyembuhannya. Sehingga jika secara medis masalah tersebut masih

10
memerlukan pengobatan secara medis maka masih tetap dibutuhkan seorang
dokter untuk memberikan obatnya. Seorang hypnotherapist membantu dalam
masalah mentalnya.
Metode hipnoterapi modern dengan orientasi kepada pasien lebih banyak
berperan untuk membuka kesadaran pasien untuk mengetahui masalah utamanya
dan membantu pasien untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh
dia sendiri. Pasien menjadi lebih merasa nyaman dengan kondisinya dan dapat
menerima kondisinya, sehingga tidak mengganggu aktivitasnya atau kegiatannya
sehari-hari.
Hipnotis kedokteran telah mengalami banyak perkembangan sejak pertama
kali diterapkan oleh Dr. Franz Anton Mesmer (1734-1815) dan Dr. James Braid
(1795-1860). Pada 1955, The British Medical Association mengakui hipnotis
sebagai salah satu terapi medis yang sahih. Sementara The American Medical
Association mengakuinya sejak 1958.
Hipnotis kedokteran kini terbagi atas hipnopromosi (meningkatkan
kesehatan dengan hipnotis bagi orang sehat), hipnoprevensi (mencegah gangguan
kesehatan dengan hipnotis bagi orang sehat), hipnoterapi (penyehatan dengan
hipnotis bagi orang sakit), serta masih ada hipnotis untuk rehabilitasi bagi orang
cacat. Hipnotis juga digunakan di bidang kebidanan (hypnobirthing) dan
kedokteran gigi (hypnodontics).
Hipnoterapi merupakan salah satu bentuk psikoterapi dalam dunia
psikiatri. Namun demikian, hipnoterapi juga bisa digunakan pada pasien
nonpsikiatrik. Pengobatan model ini bisa digabungkan dengan jenis pengobatan
lainnya. Banyak dokter terutama ahli bedah dan anestesi yang terlatih dalam
masalah hipnoterapi. Demikian pula dokter gigi serta para perawat. Sayangnya,
hingga kini masih banyak orang yang enggan menjalani hipnoterapi.
Pasien Sebagai Subjek
Orang yang dihipnotis sebenarnya tidak dalam keadaan tidur
sesungguhnya. Walaupun menggunakan perintah berupa kata 'tidur', kata itu tidak
membuat pasien tidur sesungguhnya. Pasien tetap dalam keadaan awake, serta
mampu mengobservasi perilakunya selama dalam keadaan hipnotis. Ia menyadari

11
segala sesuatu yang diperintahkan serta dapat menolak sesuatu yang bertentangan
dengan keinginan atau norma - norma umum. Selain itu, sebelum proses ini
dilakukan, telah ada kesepakatan antara pasien dengan penghipnotis untuk
melakukan hipnoterapi.
Melakukan hipnoterapi terhadap pasien sama halnya dengan melakukan
terapi lainnya. Pasien harus tahu persis mengapa diperlukan bantuan hipnotis
dalam terapinya, serta keunggulan apa yang didapatkan dibandingkan model
terapi lainnya. Proses hipnoterapi juga harus dilakukan dengan jelas, terbuka, dan
tanpa paksaan. Sebelum melakukan hipnotis, pasien harus terlebih dahulu
menjalani pemeriksaan fisik, dan bila perlu disusul dengan menjalani pemeriksaan
laboratorium (darah, urine, dll).
Terapis sebagai fasilitator dan pasien sebagai subjek perlu menjalani
kerjasama yang baik sebelum proses hipnotis dimulai. Pemahaman pasien akan
masksud dan tujuan hipnoterapi merupakan kunci efektifitas terapi. Karena itu
diperlukan informasi yang jelas dan pemahaman yang sama. Hal ini bertujuan
agar persepsi yang terbentuk dalam tingkat sadar sejalan dengan persepsi bawah
sadar.
Menurut Dr. Erwin Kusuma SpKJ, pasien hipnotis berperan sebagai
subjek. Ini berarti pasienlah yang menentukan apa yang akan dilakukan.
Sementara penghipnotis hanya berperan sebagai fasilitator. Bila sudah terampil,
lanjut dosen hipnotis kedokteran FKUI ini, pasien tidak perlu lagi peran fasilitator
sehingga hipnotis bisa dilakukan sendiri (autohipnotis).
Pada tingkat bawah sadar, pasien tetap sepenuhnya memiliki kendali
terhadap kemauannya sendiri sehingga ia tidak mungkin dipengaruhi di luar
kesadarannya. ''Ini yang sering disalah mengerti oleh orang awam,'' ungkap
lulusan Psikiatri Anak dan Remaja FKUI tahun 1982 itu. Berbeda dengan
magnetisme dimana pasien berfungsi sebagai obyek (sasaran) yang dikendalikan,
baik untuk tujuan terapi maupun untuk hal-hal negatif seperti untuk merampok.

12
E. Relaksasi mendalam sebagai Teknik Hipnosis Modern

Hipnotis di masa lalu indentik dengan kondisi tidur, terbaring, atau tidak
bergerak. Pada masa kini, hipnotis lebih ditekankan pada kondisi relaksasi yang
dalam, baik secara fisik maupun mental. Saat ini dikenal beberapa keadaan
hipnotis seperti moving meditation, hypnoidal state, serta automatic writing,
dimana pasien melakukan aktivitas bawah sadar dalam bentuk gerakan atau
tindakan yang dikendalikan oleh niat. Psikolog pada Pusat Hipnotis Kedokteran
RSPAD Gatot Subroto (pusat hipnotis kedokteran pertama di Indoneisa) Dra Psi
Adjeng Lasmini mengatakan, pada hipnotis, pasien diajak untuk relaks secara
fisik dan mental dengan memusatkan perhatian melalui sarana fiksasi berupa
suara, tatapan, dan sentuhan secara berulang dan monoton. Ini membuat pasien
merasa semakin santai.
Dalam kondisi hipnotis, lanjutnya, sugesti positif yang ditanamkan
disusun dalam kalimat yang sederhana. Karena pada kondisi ini kemampuan
seseorang untuk merangkum kalimat demi kalimat mengalami penurunan.
Seperti terapi lainnya, hipnotis juga dapat menimbulkan efek
samping.Seperti dikatakan Dr. Erwin Kusuma SpKJ, program yang ditanamkan
dalam hipnoterapi harus positif. Ini mengingat pasien tidak memiliki kemampuan
merangkum (sintesis) karena kecerdasan jasmaninya menurun. Bila hal ini tidak
diperhatikan, bukan tidak mungkin akan muncul hasil yang tidak diinginkan,
seperti timbul abreaksi (keluarnya rekaman bawah sadar secara serentak, seperti
kekesalan dan kesedihan, sehingga ungkapan dan tindakan pasien tidak
terkendali).

F. Kasus yang dapat ditangani dengan Hipnoterapi

Kasus seperti apa saja yang bisa mendapatkan hipnoterapi? Erwin


mengungkapkan, pasien dengan kasus kecemasan dan fobia adalah yang paling
sering mendapatkan hipnoterapi. Bagi pasien yang mengalami gangguan
kecemasan sehingga cemas pula untuk menelan obat, hipnoterapi adalah tindakan
yang utama. Gangguan kesehatan bioplasmik (aura dan chakra), ungkap Erwin,

13
sudah tentu harus diatasi dengan hipnoterapi. Ini karena obat - obatan kimia tidak
mampu mencapai bioplasmik tersebut. Gangguan kesehatan bioplasmik dapat
dilihat dari menurunnya ketahanan mental maupun fisik, serta berbagai bentuk
alergi. Hipnoterapi juga dilakukan untuk pasien dengan gangguan psikosomatik.
Sedangkan untuk gangguan fisik murni (somatik), hipnoterapi berperan sebagai
penunjang.
Kasus kebutaan histerik, yakni kebutaan yang timbul setelah mengalami
trauma psikis, juga dapat diobati dengan hipnoterapi. Seperti halnya jenis terapi
lainnya, harus ada indikasi (alasan) untuk menggunakan hipnoterapi. Selain itu,
terapi jenis ini digunakan bila manfaatnya lebih besar dari pada kerugian yang
mungkin timbul.
Lebih lanjut, hipnoterapi mempunyai manfaat sebagai berikut: Pada anak-
anak, hipnoterapi dapat menghilangkan kebiasaan buruk seperti gigit kuku,
menghisap jari, gagap, ngompol, alergi / kulit merah-merah. Hipnoterapi juga
diterapkan pada pasien autisme.
Pada pasien dewasa, hipnoterapi dapat menghilangkan kebiasaan buruk
seperti masturbasi, merokok, judi, insomnia, penyakit kulit, kleptomania, phobia,
trauma pskologis (kekerasan, perkosaan), serta dapat mempercepat penyembuhan
ketergantungan narkoba. Di samping itu juga dapat membantu mengatasi luka
bakar, melenyapkan timbulnya kutil, serta mampu menyembuhkan penyakit
seperti asma, sinusitis, arthritis, mabuk laut, gangguan menstruasi, tekanan darah
tinggi, stroke, impotensi, mengatasi rasa sakit (kasus kanker, persalinan, dan cabut
gigi ). Hipnotis juga digunakan untuk mengatasi kecemasan bawah sadar sehingga
pasien mampu untuk menghadapi realitas, seperti pada kasus phobia, cemas,
gangguan psikomatik, ataupun kebiasaan buruk (bad habits)
Di bidang psikologi belajar, hipnotis dapat diarahkan untuk
mengingkatkan konsentrasi, daya ingat, kreatifitas, ataupun kesiapan menghadapi
ujian. Sementara di bidang industri, hipnotis bermanfaat untuk meningkatkan
mutu SDM sehingga diharapkan mampu menghadapi situasi kompetitif dan
efektif dalam menjalani tugas Arp

14
G. Penurunan Rasa Nyeri dengan Hipnosis

Otak dan pikiran manusia masih menyimpan jutaan misteri dengan


sedemikian banyak fenomena yang luar biasa. Selama ini banyak orang telah
mengetahui bahwa hypnosis dapat dimanfaatkan untuk menurunkan nyeri. Namun
demikian belum diketahui secara jelas bagaimana mekanisme kerja hypnosis
dalam tubuh manusia terutama otak. Tampaknya, apabila kita dapat menjelaskan
lebih dalam secara ilmiah maka hal itu akan makin mendorong peneriman
masyarakat dan aplikasinya di banyak area praktek klinik.
Hal itu pula yang mendorong Sebastian Schulz-Stubner, M.D.,Ph.D dan
rekan-rekannya, para peneliti dari University of Iowa dan The Technical
University of Aachen, Jerman, untuk melakukan penelitian lebih dalam tentang
pengaruh hypnosis pada otak manusia. Mereka mencoba menggunakan Magnetic
Resonance Imaging untuk mendapatkan gambaran bagaimana hypnosis merubah
aktivitas otak sebagai cara untuk menurunkan nyeri.
Mereka mendapatkan bahwa para relawan yang diberikan tehnik hypnosis
mengalami penurunan nyeri yang signifikan terhadap rangsang nyeri panas.
Mereka juga mendapati secara jelas perbedaan pola aktivitas otak dibandingkan
saat relawan tidak dihipnosis selama mendapatkan rangsang nyeri. Perubahan
aktivitas otak tersebut menggambarkan bahwa hypnosis memutuskan signal nyeri
dari aliran saraf yang menuju bagian otak yang mempersepsikan nyeri.
Menurut Schulz-Stubner yang utama dari penemuan mereka, dimana MRI
pertama kali digunakan untuk meneliti aktivitas otak saat hypnosis untuk menekan
nyeri, adalah mereka melihat adanya penurunan aktivitas di daerah jaringan nyeri
(pusat persepsi nyeri) dan peningkatan aktivitas pada area otak lainnya saat
hypnosis. Peningkatan tersebut bisa spesifik bisa juga tidak tetapi jelas melakukan
sesuatu hal yang menurunkan atau menghambat signal nyeri masuk ke struktur
kortikal.
Jaringan nyeri berfungsi seperti system relay. Input signal nyeri berasal
dari saraf perifer di daerah dimana rangsang nyeri diberikan, kemudian masuk ke
dalam spinal cord dimana informasi diproses dan disalurkan ke dalam batang

15
otak. Dari sini signal menuju area otak tengah dan akhirnya masuk ke dalam
korteks otak yang berkaitan dengan persepsi sadar terhadap stimulus eksternal
seperti nyeri.
Proses yang terjadi pada jaringan nyeri bagian bawah gambarannya terlihat
sama antara saat kondisi hypnosis ataupun tidak, namun pada kondisi hypnosis
aktivitasnya menurun pada daerah atas (korteks) yang berperan terhadap persepsi
nyeri.
Awalnya, 12 relawan dibagi menjadi dua grup dimana tiap relawan akan
diberikan stimulus menggunakan benda panas pada kulit mereka sampai mereka
merasakan nyeri skala 8 (pada rentang skala nyeri 0-10). Pada grup pertama
dilakukan hypnosis lebih dahulu, kemudian relawan ditempatkan dalam MRI dan
dilakukan scaning aktivitas otak pada saat stimulus nyeri diberikan. Kemudian
kondisi hypnosis dihentikan, MRI melakukan scaning lagi saat relawan diberikan
stimulus nyeri tanpa hypnosis. Pada grup kedua dilakukan proses yang sebaliknya.
Relawan dilakukan scaning saat menerima stimulus tanpa hypnosis lebih dahulu,
baru kemudian discaning saat kondisi hypnosis.
Hypnosis berhasil menurunkan nyeri pada semua relawan. Mereka semua
melaporkan tidak merasakan nyeri atau nyeri berkurang secara signifikan
(dibawah nilai skala 3). Saat kondisi hypnosis MRI menunjukkan aktivitas otak
menurun pada area persepsi nyeri yang meliputi daerah korteks ( primary sensory
cortex). Pada dua struktur otak yang lain : korteks cingulated anterior kiri dan
basal ganglia terlihat gambaran yang berbeda dengan adanya peningkatan
aktivitas otak. Para peneliti memperkirakan peningkatan aktivitas pada dua area
otak tersebut merupakan bagian dari jalur penghambat yang memutus signal agar
tidak ditangkap oleh struktur kortikal yang lebih tinggi yang bertugas
mempersepsikan nyeri.
Schulz-Stubner mencatat bahwa detail MRI yang dibutuhkan untuk
mengidentifikasi secara pasti area yag terlibat saat hypnosis menurunkan nyeri
dan berharap adanya MRI generasi yang lebih baru yang bisa memberikan
jawaban lebih banyak.

16
Bagaimanapun penelitian ini patut menjadi perhatian dan mendapatkan
apresiasi karena setidaknya telah menjadi bagian kecil dari penjelasan dan
gambaran ilmiah tentang proses hypnosis dalam menurunkan rasa nyeri. (Story
Source : University of Iowa Health Science Relations.

17
BAB IV

SOP HIPNOTHERAPI

HIPNOTERAPI

(HIPNOSIS BIASA)

PROSEDUR NO DOKUMEN NO REVISI: HALAMAN:


TETAP
TANGGAL TERBIT DITETAPKAN OLEH:

1 PENGERTIAN Hypnotherapy adalah suatu metode


. dimana pasien dibimbing untuk
melakukan relaksasi, dimana setelah
kondisi relaksasi dalam ini tercapai
maka secara alamiah gerbang pikiran
bawah sadar sesesorang akan terbuka
lebar, sehingga yang bersangkutan
cenderung lebih mudah untuk
menerima sugesti penyembuhan yang
diberikan.

2 TUJUAN Saat ini hipnoterapi dapat digunakan


. untuk mengatasi masalah masalah
sebagai berikut:

1. Fisik
2. Masalah Emosi
3. Masalah Perilaku
3 INDIKASI 1. Meningatkan mental klien
. (kepercayaan diri, menghilangkan
trauma, mengurangi phobia)

18
2. Menyembuhkan psikosomatis
klien (alergi, asma)
3. Membantu proses penyembuhan
klien(kanker, aids)
4 KONTRAINDIKASI 1. Seseorang yang dalam kondisi
. tidak tenang, gaduh gelisah,
misalnya pada psikosisakut
sehingga tidak dapat dilakukan
kontak psikis dengan subjek.
2. Seseorang yang dalam keadaan
tidak mengerti apa yang akan
dilakukan,
misalnya pada orang imbesil atau d
imensia. Pada mereka tidakdapat d
ilakukan hipnotis dengan cara
apapun.
3. Pada orang yang tidak tahu atau
belum mengerti tentang apa yang
kita katakan,sugesti verbal tidak
akan berpengaruh pada subjek.
4. Subjek yang memiliki kesulitan
dengan kepercayaan dasar seperti
pasien paranoidatau yang memiliki
masalah pengendalian seperti
obsesi-kompulsif.
5. Penggunaan hipnosis oleh operator
yang tidak terlatih dengan baik.
6. Penggunaan hipnosis untuk tujuan
yang tidak baik.
5 PERSIAPAN PASIEN 1. Pasien sebagai subjek.

19
. 2. Terapis sebagai fasislitator
3. Bersedia dengan sukarela.
4. Memiliki kemampuan untuk fokus
5. Memahami komunikasi verbal.
6 PERSIAPAN ALAT 1. Kursi
. 2. Bantal jika diperlukan

7 CARA KERJA
.
A. Pre induction
1. Klien dan penghipnotis memperkenalkan diri
2. Menganjurkan klien untuk menceritakan keluhan yang sedang dialami
3. Memberikan berbagai pemecahan masalah yang dapat diambil
4. Menjelaskan hipnoterapi secara singkat, jelas, dan mudah dipahami
5. Meminta persetujuan klien dan memberikan inform consent pada klien
untuk dilakukan hipnoterapi
6. Melakukan tes subjektifitas
a. Anjurkan klien duduk dengan nyaman
b. Mengajarkan klien tarik napas dalam
c. Menganjurkan klien untuk melakukan hand clasp test yaitu dengan
meminta subjek menangkupkan kedua tangan, kemudian
merekatkan kedua jari telunjuk dan sugestikan bahwa pada kedua
telunjuk terdapat lem yang akan merekatkan jari telunjuk tersebut.
Sugestikan bahwa semakin klien ingin memisahkan telunjuknya
maka jari telunjuknya akan semakin lengket. Selanjutnya minta
klien untuk menyatakan apakah jarinya semakin lengket atau tidak.
d. Anjurkan klien untuk rileks dan menarik napas dalam
e. Lepaskan jari tangan tersebut.
B. Induction
1. Pada tahap induksi hypnotherapist harus mahir dalam menyusun
variasi kalimat PacingLeading (Physical mirroring yaitu pencerminan
fisik, Match the voice yaitu penyelarasan kualitas suara, Match the

20
breathing yaitu penyelarasan irama nafas, Match the size of the pieces
of information yaitu penyelarasan pengelompokan informasi, Match
their common experience yaitu penyelarasan pengalaman umum)
2. Posisikan klien lebih rileks lagi dari Normal State ke Hypnosis State
(suasana sangat rileks dan sugestif)
3. Latih klien untuk nafas dalam lagi untuk merilekskan tubuh dan
pikiran klien
4. Bawa klien pada satu titik focus atau tanamkan sugesti yang
berkebalikan pada masalah klien (contoh kalimat sekarang lihat
telapak tangan saya, bayangkan bahwa ditelapak tangan ini ada rokok
dan rokok ini digantikan dengan petis/makanan yang tidak disukai oleh
klien)
5. Pastikan klien sudah pada posisi yang benar-benar focus dan rileks
6. Apabila sudah, tepuk kedua tangan hypnoterapist secara cepat dan
keras
C. Deepening dan dept level test
1. Pada tahap Deepening hypnotherapist akan membimbing klien untuk
berimajinasi melakukan suatu kegiatan atau berada di suatu tempat
yang mudah dirasakan oleh subjek untuk memasuki trance level yang
lebih dalam.
2. Pastikan bahwa klien hanya mendengarkan suara hypnotherapist
dengan memegang tubuh klien dan memberikan perintah untuk
mendengarkan suara hypnotherapist saja.
3. Pastikan bahwa klien mengerti perintah yang diberikan oleh
hypnotherapist dengan memerintahkan klien untuk menggerakkan
bagian tubuhnya.
4. Bimbing klien untuk berimajinasi ke suatu tempat yang nyaman untuk
klien dengan menggunakan 5 tahap.
a. Lima, perintahkan agar tubuh dan pikiran anda memasuki relaksasi
lebih dalam, total, semakin tenang, semakin lelap.
b. Empat, biarkan tubuh dan pikiran anda memasuki tidur yang lebih

21
dalam lagi, bahkan saat ini anda dapat membayangkan berada di
suatu tempat lain yang menurut anda adalah tempat yang nyaman,
tempat yang indah, dimanapun itu, buatlah semakin jelas, semakin
riel, semakin nyata, bahkan anda dapat merasakan detailnya,
emosinya.
c. Tiga, semakin lelap, lebih dalam lagi, rasakan tubuh anda semakin
ringan, bahkan anda dapat melupakannya.
d. Dua, masuki tidur lelap berkali lipat lebih dalam, dan rasakan
suasana menjadi sangat hening, bahkan anda benar-benar tidak
menghiraukan suara apapun juga, begitu tenang, fisik anda terlelap,
fikiran anda bersitirahat, bahkan seluruh panca-indra anda benar-
benar beristirahat.
e. Satu, silakan nikmati relaksasi yang sangat luar biasa ini, silakan
anda membayangkan diri anda di suatu tempat yang nyaman dan
indah, dan saat yang sama biarkan fisik dan pikiran anda
beristirahat total, nyaman, tenang, damai.
D. Suggestion
1. Sampaikan pada klien untuk merilekskan seluruh tubuhnya hingga
merasa rileks dan nyaman.
2. Setelah pasien sudah merasa nyaman mulailah dengan rangkaian kata
menjadi kalimat yang indah dan mudah difahami klien
3. Kemudian Sampaikan sugesti dengan rangkaian kata yang sudah biasa
di dengar, agar pasien akan mudah memahami dan mudah
mengimajinasikannya seperti bayangkan oleh anda bahwa anda
sedang berada di tempat yang paling nyaman dengan kalimat ini si
pasien pasti dapat dengan mudah membayangkannya, karena bahasa
tersebut sudah biasa di dengar dan di lakukan.
4. Tegaskan ke klien untuk memfokuskan hanya pada perkataan terapis.
Contoh dengarkan kata-kata saya, jika anda menemui rokok anda
membayangkan roko adalah petis. Sesuatu yang menjijikan.
5. Kata-kata tersebut diulang beberapa kali sampai klien benar-benar

22
memahami
6. Berikan reinforcement positif pada klien
E. Termination
1. Kaji respon klien
Membangun sugesti positif yang akan membuat tubuh seorang Client
lebih segar dan rileks, kemudian diikuti dengan proses hitungan
beberapa detik untuk membawa Client ke kondisi normal kembali.
Contoh: Kita akan mengakhiri sesi Hypnotherapy ini saya akan
menghitung dari 1 sampai dengan 5, dan tepat pada hitungan ke-5
nanti, silakan anda bangun dalam keadaan sehat dan segar, dst.

2. Simpulkan hasil kegiatan


3. Berikan reinforcement positif
4. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
5. Akhiri kegiatan dengan cara yang baik.
8 HASIL
.
Dokumentasikan tindakan:

1. Respon responden selama Hypnosis (respon subyektif dan obyektif).


2. Tanggal dan waktu pelaksaan tindakan.
3. Nama dan paraf peneliti.
9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
.
1. Klien bersedia untuk dilakukan hypnosis
2. Pastikan klien benar-benar focus saat dilakukannya hypnosis

23
HIPNOTERAPI

(EXTENDED PROGRESSIVE RELAXATION)

PROSEDUR NO DOKUMEN NO REVISI: HALAMAN:


TETAP
TANGGAL TERBIT DITETAPKAN OLEH:

1. PENGERTIAN Extended progressive relaxation


adalah teknik induksi hipnosis yang
dibawakan dengan cara relaksasi.
Artinya secara bertahap tapi pasti,
hipnoterapis membimbing klien
masuk ke dalam kondisi hipnosis
yang jauh lebih dalam. Progressive
Relaxation adalah salah satu teknik
relaksasi yang menggunakan induksi
otot syaraf.

2. TUJUAN 1. Memperdalam kondisi hipnosis


klien yang bersugestivitas
mudah, sedang sampai yang
sulit.
2. Meningkatkan relaksasi.
3. Mengurangi stress psikis dan fisik
3. INDIKASI 1. klien yang mengalami kesulitan
untuk memasuki relaksasi
2. klien yang mengalami
ketegangan psikis
3. klien yang mengalami
ketegangan fisik fisik.
4. KONTRAINDIKASI 1. tidak diperbolehkan untuk

24
pasien penderita penyakit syaraf
2. klien tidak mengalami
gangguan jiwa
5. PERSIAPAN PASIEN 1. Pastikan identitas klien
2. Kaji kondisi klien
3. Beritahu dan jelaskan pada
klien/keluarganya tindakan yang
dilakukan
4. Posisikan klien senyaman
mungkin
6. PERSIAPAN ALAT 1. Kursi
2. Bantal (jika diperlukan)
7. CARA KERJA

1. Klien dan penghipnotis memperkenalkan diri


2. Menganjurkan klien untuk menceritakan keluhan yang sedang
dialami
3. Memberikan berbagai pemecahan masalah yang dapat diambil
4. Menjelaskan tentang Extended Progressive Relaxation (EPR) secara
singkat, jelas, dan mudah dipahami
5. Meminta persetujuan klien dan memberikan inform consent pada
klien untuk dilakukan Extended Progressive Relaxation
6. Anjurkan klien dalam posisi yang nyaman
7. Mengajarkan klien teknik tarik napas dalam agar klien lebih rileks
8. Menganjurkan klien untuk menutup mata, melemaskan bagian
kelopak mata, dahi, kening, dan seluruh wajah menjadi rileks, malas
dan sangat lemas. Berikan penjelasan kepada klien bahwa:
Dikarenakan oleh kondisi yang rileks, ketika klien mencoba untuk
menggerakkan kelopak mata, bahkan mata anda benar-benar tidak
mau bergerak karena malas dan lemasnya. Semakin klien mencoba
untuk membuka mata, maka mata klien justru akan tertarik memasuki

25
relaksasi yang lebih dalam dan lebih sempurna.
9. Bagi petugas kesehatan: Pada tahapan ini, amati apakah mata klien
sudah benar-benar lemas ? Jika klien masih dapat membuka matanya
dengan mudah, maka segeralah minta klien untuk menutup kembali,
dan ulangi mulai langkah no. 8 yang memandu klien untuk menutup
mata.
10. Anjurkan pada klien mempertahankan matanya tertutup dan
melemaskan kelopak matanya, memberikan pernyataan pada klien
bahwa klien dapat mengendalikan bagian tubuh klien.
11. Menganjurkan klien untuk merasakan adanya getaran relaksasi yang
turun secara halus dan perlahan ke daerah leher dan membuat bagian
leher menjadi benar-benar nyama
12. Menganjurkan klien untuk memusatkan perhatiannya ke daerah leher
dan menganjurkan klien untuk memerintahkan bagian lehernya
memasuki relaksasi sempurna sehingga leher akan menjadi sangat
lemas dan malas.
13. Menganjurkan klien untuk memerintahkan leher dengan mengatakan
: wahai leher.. aku perintahkan saat ini juga engkau memasuki
relaksasi sempurna, sehingga saat ini juga engkau menjadi sangat
malas, sangat lemas, dan benar-benar engkau beristirahat secara
sempurna, benar-benar malas dan sangat malas
14. Berikan pernyataan pada klien bahwa saat ini leher klien benar-benar
lemas dan sangat lunglai seakan-akan tulang-tulangnya menghilang
sehingga tidak mampu untuk menyangga kepala.
15. Berikan pernyataan pada klien bahwa semakin klien ingin
menggerakkan lehernya maka klien semakin tertarik memasuki
relaksasi yang lebih dalam lagi, lebih sempurna, lebih sempurna,
lebih nyaman dan lelap
16. Perintahkan pada klien untuk menoba menggerakkan lehernya. Pada
tahap ini, petugas kesehatan amati apakah leher klien benar-benar
lemas. Jika klien masih dapat menggerakkan lehernya dengan mudah,

26
maka ulang bagian script yang memandu klien untuk memerintahkan
lehernya agar menjadi benar-benarlemas tanpa daya.
17. Anjurkan klien untuk tetap merilekskan lehernya dan perintahkan
klien untuk merasakan getaran relaksasi turun secara halus dan
perlahan ke daerah bahu, punggung belakang, kemudian dada dan
tentu saja membuat bagian-bagian yang terlewati getaran tersebut
menjadi benar-benar nyaman dan sangat rileks.
18. Perintahkan klien untuk merasakan relaksasi melewati kedua belah
tangan mulai dari lengan atas, siku, pergelangan dan akhirnya
mengalir ke jari-jemari. Perintahkan klien untuk merasakan seluruh
bagian tangan benar-benar menjadi sangat rileks, nyaman dan santai
19. Anjurkan klien untuk memerintahkan kedua tangannya dan
kesepuluh jari-jemarinya untuk memasuki relaksasi, anjurkan klien
untuk memerintahkan tangan dan jari jemarinya : wahai tangan dan
jari jemari, aku perintahkan saat ini engkau memasuki relaksasi
sempurna, sehingga saat ini juga engkau menjadi sangat malas,
sangat lemas, dan benar-benar engaku beristirahat secara sempurna,
benar-benar malas dan sangat lemas
20. Berikan pernyataan pada klien bahwa saat ini tangan klien benar-
benar merasakan relaksasi yang sangat dalam di kedua tangannya
sehingga kedua tangannya tidak berminat untuk bergerak, semakin
klien menggerakkan tangannya maka klien semakin memasuki
rileksasi sempurna.
21. Perintahkan klien untuk mencoba menggerakkan tanggannya
22. Pada tahap ini, petugas kesehatan mengamati apakah tangan klien
benar-benar lemas, jika klien masih dapat menggerakkan tangannya
dengan mudah, maka segera ulangi bagian sript yang memandu client
untuk memerintahkan tangan dan jari jemarinya agar menjadi benar-
benar lemas dan tanpa daya.
23. Anjurkan kepada klien untuk melemaskan kedua tangan dan jari-
jemari

27
24. Anjurkan klien merasakan getaran relaksasi turun secara halus ke
daerah pinggang kemudian perut, turun ke paha, lutut, betis dan
kemudian menjalar ke telapak kaki
25. Anjurkan klien untuk memerintahkan kedua kaki memasuki relaksasi
dengan mengatakan Wahai kaki . aku perintahkan saat ini juga
engkau memasuki relaksasi sempurna, sehingga saat ini juga
engkau menjadi sangat malas, sangat lemas, dan benar-benar
engkau beristirahat secara sempurna, benar-benar malas dan
sangat lemas.
26. Berikan pernyataan pada klien bahwa saat ini kedua kaki klien benar-
benar lemas dan sangat lunglai seakan-akan tulang-tulangnya
menghilang sehingga tidak mampu untuk menggerakkan kedua
kakinya.
27. Berikan pernyataan pada klien bahwa semakin klien ingin
menggerakkan kedua kakinya maka klien semakin tertarik memasuki
relaksasi yang lebih dalam lagi, lebih sempurna, lebih sempurna,
lebih nyaman dan lelap
28. Perintahkan pada klien untuk mencoba menggerakkan kedua
kakinya. Pada tahap ini, petugas kesehatan amati apakah kedua kaki
klien benar-benar lemas. Jika klien masih dapat menggerakkan kedua
kakinya dengan mudah, maka ulang bagian script yang memandu
klien untuk memerintahkan kedua kakinya agar menjadi benar-
benarlemas tanpa daya.
29. Anjurkan kepada klien untuk melemaskan seluruh tubuhnya
30. Anjurkan klien untuk memerintahkan tubuhnya memasuki relaksasi
dengan mengatakan Wahai tubuh . dari ujung kepala sampai
dengan ujung kaki . aku perintahkan saat ini juga engkau
memasuki relaksasi sempurna, sehingga saat ini juga engkau
menjadi sangat malas, sangat lemas, dan benar-benar engkau
beristirahat secara sempurna, benar-benar malas dan sangat
lemas.

28
31. Berikan pernyataan pada klien bahwa saat ini tubuh klien benar-benar
lemas dan sangat lunglai seakan-akan tulang-tulangnya menghilang
sehingga tidak mampu untuk menggerakkan bagian dari tubuhnya
32. Berikan pernyataan pada klien bahwa semakin klien ingin
menggerakkantubuhnya maka klien semakin tertarik memasuki
relaksasi yang lebih dalam lagi, lebih sempurna, lebih sempurna,
lebih nyaman dan lelap
33. Perintahkan pada klien untuk menoba menggerakkan tubuhnya. Pada
tahap ini, petugas kesehatan amati apakah tubuh klien benar-benar
lemas. Jika klien masih dapat menggerakkan tubuhnya dengan
mudah, maka ulang bagian script yang memandu klien untuk
memerintahkan tubuhnya agar menjadi benar-benarlemas tanpa daya
34. Sampaikan pada klien untuk merilekskan seluruh tubuhnya hingga
sangat rileks dan nyaman.
35. Minta klien untuk benar-benar beristirahat dengan melemaskan
seluruh tubuh hingga terasa ringan
36. Minta klien untuk merasakan setiap hembusan nafasnya. Setiap
hembusan nafas akan menarik klien memasuki relaksasi yang lebih
dalam sehingga semakin merasa tenang, damai, dan nyaman sekali
37. Sugestikan pada klien untuk memerintahkan pikiran dan otaknya
untuk beristirahat
38. Berikan aba-aba kepada klien untuk mengatakan dalam hati kepada
pikiran dan otak untuk memasuki alam relaksasi yang sempurna
39. Beri reinforcemen positif pada klien dan dukung klien untuk semakin
rileks dan mulai memasuki penghayatan rasa
1. Dalam suasana yang semakin nyaman, sugestikan pada klien agar
memerintahkan agar tubuh fisik dan juga otaknya benar-benar
memasuki istirahat yang sangat total, bahkan hingga tertidur
2. Beritahukan pada klien bahwa yang tidur hanya tubuh fisik dan
pikiran, sedangkan alam bawah asadr akan tetap terjaga
3. Tuntun klien memerintahkan tubuh dan pikirannya untuk beristirahat

29
lebih dalam
4. Beri aba-aba pada klien bahwa tindakan akan segera dilakukan.
5. Mulailah menuntun klien hingga beristirahat total dengan 5 hitungan
mundur
a. Hitungan Lima, perintahkan klien untuk relaksasi dalam, tenang,
dan lelap
b. Hitungan Empat, minta klien membayangkan sedang berada di
suatu tempat yang tenang
c. Hitungan Tiga, Minta klien untuk merasakan tubuhnya mulai
ringan
d. Hitungan Dua, Perintahkan klien untuk memasuki tidur yang
semakin lelap dan merasakan suasana yang hening
e. Hitungan Satu, Biarkan klien menikmati relaksasi yang sangat
luar biasa, tertidur dengan nyaman dan indah
6. Untuk mengakhiri katakan pada klien bahwa dalam hitungan 1-5
pada hitungan ke 5 klien akan bangun membuka mata dalam keadaan
segar, sehat, dan positif

8. HASIL

Dokumentasikan tindakan:

1. Respon responden selama Hypnosis (respon subyektif dan obyektif).


2. Tanggal dan waktu pelaksaan tindakan.
3. Nama dan paraf peneliti.
9. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

1. Klien bersedia untuk dilakukan hypnosis


2. Pastikan klien benar-benar focus saat dilakukannya hypnosis

30
BAB V
PENELITIAN TERKAIT

A. Penelitan-penelitian yang terkait :


1. Penelitian
1) Judul
Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Nyeri Sendi Pada Lansia
2) Oleh
NurWahida, ZulfaJhusniyah
3) Tujuan
Mengetahui pengaruh hipnoterapi terhadap nyeri sendi pada lansia di
Panti Wredha Mojokerto
4) Desain
Quasy-Eksperimentaltipe Non Randomized Control Group Pretest-
Postest.
5) Hasil
Setalah dilakukan hipnoterapi sebelum dan sesudah pada kelompok
perlakuan didapatkan rata-rata perbedaan 3 yang lebih besar dari pada
kelompok control yang hanya didapat nilai rata-rata perbedaan 0,25.
Ini berarti ada perbedaan skala pada lansia sebelum dan sesudah
dilakukan hipnoterapi di Panti Werdha Mojopahit Mojokerto.
6) Kesimpulan
Terdapat pengaruh yang signifikan pemberian hipnoterapi terhadap
penurunan nyeri sendi pada lansia di Panti Werdha Mojopahit
Mojokerto, dan ada perbedaan yang bermakna penurunan nyeri sendi
antara kelompok perlakuan dan kelompok control.

2. Penelitian
1) Judul

31
Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada
Pasien Post Operasi Dengan Skala Nyeri Sedang-Berat Di Rumah
Sakit Bhayangkara Polda Kalbar Tahun 2015
2) Oleh
Sulistyorini Febriah Sumarwanto, Hendra, Ariyani
3) Tujuan
Mengidentifikasi pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan intensitas
nyeri pada pasien post operasi dengan skala nyeri sedang-berat di
Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalbar Tahun 2015
4) Desain
Pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest-postest design.
5) Hasil
Menunjukkan dengan nilai signifikan <0,001 (p>0,05) artinya
hipnoterapi berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri post
operasi. Direkomendasikan untuk Rumah Sakit Bhayangkara Polda
Kalbar agar menerapkan hipnoterapi sebagai salah satu terapi
nonfarmakologi untuk menurunkan intensitas nyeri post operasi.
6) Kesimpulan
Hipnoterapi berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri pasien
post operasi. Disarankan agar perawat dapat mengaplikasikan
hipnoterapi pada pasien dengan nyeri post operasi.

3. Penelitian
1) Judul
Pengaruh Terapi Hypnosis Terhadap Kejadian Insomnia Pada Lansia
Di Posyandu Desa Karang Kecamatan Baki Sukoharjo
2) Oleh
Arina Maliya A. Kep. M. Si. Med, Anita
3) Tujuan
Mengetahui pengaruh hypnosis terhadap kejadian insomnia pada lansia
di Posyandu Desa Karang Baki, Sukoharjo.

32
4) Desain Penelitian
Penelitian Kuantitatif
5) Hasil Penelitian
Hasil penelitian terdapat 28 responden lansia diperoleh data umur
termuda adalah 56 tahun dan tertua 72 tahun. Rentang usia muda dan
tertua dimana usia pertengahan 45-59 tahun berjumlah 4 orang, lanjut
usia: 60-74 tahun berjumlah 24 orang. Responden mayoritas pada
kelompok umur pertengahan: 45-59 tahun sebanyak 4 responden
(14,3%), kelompok umur 60-74 tahun sebanyak 24 responden (85,7%),
sementara pada kelompok. Untuk kelompok umur 75-90 tahun tidak
ditemukan dalam penelitian (0%). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Insomnia lansia sebelum dilakukan pemberian teknik terapi
hynosis mayoritas pada tingkat sedang yaitu sebanyak 22 responden.
Setelah dilakukan pemberian teknik terapi hynosis mayoritas pada
tingkat ringan sebanyak 16 responden. Hasil pengujian Wilcoxon
Rank Test diperoleh p-value = 0,000, sehingga disimpulkan ada
pengaruh terapi hypnosis terhadap kejadian insomnia pada lansia di
Posyandu Desa Karang, Kecamatan Baki, Sukoharjo.
6) Kesimpulan
1. Insomnia pada lansia sebelum dilakukan pemberian teknik terapi
hypnosis di posyandu desa Kecamatan Baki, kabupaten Sukoharjo
mayoritas pada tingkat sedang.
2. Insomnia pada lansia setelah dilakukan pemberian teknik terapi
hypnosis di posyandu desa Kecamatan Baki, kabupaten Sukoharjo
mayoritas pada tingkat ringan.
3. Ada pengaruh terapi hypnosis terhadap kejadian insomnia pada
lansia di Posyandu desa Karang Baki, Sukoharjo.

33
4. Penelitian
1) Judul
Pengaruh Terapi Hipnotis Lima Jari Untuk Menurunkan Kecemasan
Pada Mahasiswa Yang Sedang Menyusun Skripsi Di Stikes
Muhammadiyah Klaten
2) Oleh
Retno Yuli Hastuti, Ayu Arumsari
3) Tujuan
Mengetahui pengaruh terapi hipnotis lima jari untuk menurunkan
kecemasan pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.
4) Desain Penelitian
Penelitian pra eksperimen dengan pendekatan rancangan penelitian
One group Pre test-Post test yang bertujuan untuk mengetahui
pengaruh terapi hipnotis lima jari untuk menurunkan kecemasan pada
mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Uji statistik parametrik
yang bertujuan untuk uji kemaknaan dengan paried t test.
5) Hasil Penelitian
Hasil penelitian Responden sebanyak 18 orang, setelah dilakukan
pengukuran sebelum perlakuan didapatkan hasil cemas sedang sebnyak
18 orang (100%) dan setelah mendapat perlakuan menjadi 15 orang
(83,3%) mengalami cemas ringan dan 3 orang (16,7%) mengalami
cemas sedang. Adapun hasil uji statistik didapatkan hasil p=0,000
(p<0,05). Hipnotis lima jari merupakan salah satu bentuk self hipnosis
yang dapat menimbulkan efek relaksasi yang tinggi, sehingga akan
mengurangi ketegangan dan stress dari pikiran seseorang. Manfaat
hipnotis lima jari adalah dapat meningkatkan semangat, menimbulkan
kedamaian di hati dan mengurangi ketegangan (Keliat dkk, 2011).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kumalasari (2013)
menyatakan bahwa mahasiswa yang diberikan hipnotis, gelombang
pikirannya masuk ke gelombang alfa frekuensinya 7-14 hertz atau
lebih dalam lagi ke gelombang theta frekuensinya 4-7 hertz. Ketika

34
pikiran masuk ke gelombang ini, mahasiswa menghasilkan zat
endorphin alami yang menghasilkan sensasi nyaman dan dalam
hipnotis state ini, sistem metabolisme tubuh menjadi jauh lebih baik
dan tubuh bebas dari ketegangan
6) Kesimpulan
Kesimpulan bahwa dalam penelitian ini ada pengaruh yang kuat dari
perilaku sebelum terapi hipnotis lima jari dan sesudah terapi hipnotis
lima jari (p< 0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini maka kesimpulan
yang dapat diambil adalah :
1. Karakteristik responden Umur responden yang paling banyak
mengalami kecemasan usia 21 dan 22 dengan frekuensi 7 orang
(38,9%) dengan rata-rata 21,83 0,786.
2. Tingkat kecemasan (ansietas) mahasiswa di STIKES
Muhammadiyah Klaten sebelum memperoleh hipnotis lima jari
menunjukan 18 (100%) responden mengalami kecemasan (ansietas)
sedang.
3. Tingkat kecemasan (ansietas) mahasiswa di STIKES
Muhammadiyah Klaten sesudah memperoleh hipnotis lima jari
menunjukan 15 responden (83,3%) mengalami kecemasan ringan dan
3 responden (16,7%) mengalami kecemasan (ansietas) sedang.
4. Ada pengaruh hipnotis lima jari terhadap penurunan kecemasan
(ansietas) mahasiswa di STIKES Muhammadiyah Klaten sebelum
diberikan terapi hipnotis lima jari dan setelah diberikan terapi hipnotis
lima jari dengan p value =0, 000 (p<0,05).

5. Penelitian
1) Judul
Pengaruh Hipnotherapi Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada
Pasien Yang Menjalani Kemoterapi di RS Telogorejo Semarang
2) Oleh
Ady Irianto, Sri Puguh Kristiyawati, Supriyadi

35
3) Tujuan
Mengetahui pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan tingkat
kecemasan pada pasien yang menjalani kemoterapi
4) Desain Penelitian
quasy experiment dengan teknik one group pretest dan posttest
design.
5) Hasil Penelitian
Menunjukkan tingkat kecemasan sebelum pemberian hipnoterapi
terbanyak pada skala sedang sebanyak 23 responden (48,9%).
Sedangkan setelah pemberian hipnoterapi didapatkan hasil tingkat
kecemasan menurun menjadi skala normal sebanyak 20 responden
(42,6%). Hipnoterapi dilakukan 15 menit sebelum kemoterapi
dimulai. Hasil uji statistik dengan Wilcoxon hipnoterapi
berpengaruh dalam menurunkan tingkat kecemasan (p=0,000).
6) Kesimpulan
Ada pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan tingkat kecemasan saat
menjalani kemoterapi. Disarankan hipnoterapi dapat menjadi masukan
alternatif dalam upaya meningkatkan dan perkembangan ilmu
keperawatan dan hipnoterapi dapat menjadi intervensi dalam
menurunkan kecemasan pada pasien yang menjalani kemotrapi.

6. Penelitian
1) Judul
Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Tingkat Stres Mahasiswa Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran Angkatan 2011
2) Oleh
Bayu Hedriato, Aat Sriati, Nita Fitria.
3) Tujuan
Mengetahui pengaruh hipnoterapi terhadap tingkat stres mahasiswa
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran angkatan 2011.
4) Desain

36
Eksperimen yang termasuk ke dalam pre test dan post test one group
design
5) Hasil
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat penurunan tingkat stres
responden sebelum dan sesudah dilakukan hipnoterapi. Penurunan
tingkat stres terbukti dari prosentase tingkat stres normal setelah
dilakukan hipnoterapi yaitu sebanyak 16 responden (53,33%) dari 0
responden (0%) pada tingkat stres normal sebelum dilakukan
hipnoterapi. Berdasarkan penelitian ini hipnoterapi efektif
menurunkan tingkat stres dan diharapkan dapat memberi masukan
kepada institusi pendidikan, dan penelitian yang lain sehingga dapat
mengatasi stres pada mahasiswa dengan hipnoterapi.

7. Penelitian
1) Judul
Metode Keperawatan Komplementer Hipnoterapi untuk Menurunkan
Efek Stress Pasca Trauma Tingkat Sedang pada Fase Rehabilitasi
Sistem Penanggulangan Kegawatdaruratan Terpadu
2) Oleh
Rani Rakhmawati , Kuswantoro Rusca Putra, Fa Rizki Bayu Perdana
dan Hardiyanto
3) Tujuan
untuk mengidentifikasi apakah metode hipnoterapi bisa menurunkan
efek stres pasca trauma tingkat sedang.
4) Hasil Penelitian
Hipnoterapi ini diketahui dapat menetralisisir ketegangan atau stres
kehidupan yang dialami sehari hari dan merelaksasikan 3 unsur jiwa
raga yaitu: nafas, gerak dan nalar. Ketika seseorang berada dalam
situasi ini dan diperiksa dengan mesin ECG/ Electro Ensefalo Grafi
akan terlihat dominasi gfelombang alfa yaitu gelombang setengah
lingkaran dengan frekuensi 8-12 siklus perdetik. Metode ini dapat

37
dijadikan salah satu alternatif untuk rehabilitasi psikologi klien akibat
sress pasca trauma yang dialami.
5) Kesimpulan
Metode keperawatan komplementer ini dengan hipnoterapi sangat
efektif untuk menurunkan stres tingkat sedang pada pasca trauma.
Disarankan untuk dilakukan pengkajian lebih lanjut terkait faktor-faktor
lain yang mempengaruhi hasil terapi pada hipnoterapi ini.

8. Penelitian
1) Judul
Efektivitas Terapi Hipnotis Lima Jari untuk Menurunkan Tingkat
Ansietas Pasien Hipertensi
2) Oleh
Endang Banon, Ermawati Dalami dan Noorkasiani
3) Tujuan
untuk mengetahui efektivitas terapi hipnotis lima jari dalam
menurunkan tingkat ansietas pasien hpipertensi di Kelurahan X Jakarta
Timur.
4) Hasil Penelitian
hasil penelitian ini menunjukkan adanya penurunan tingkat ansietas
dengan p-value a 0,019 antara kelompok intervensi dengan kelompok
kontrol. Penurunan tingkat ansietas pada kelompok intervensi sebesar
5,16 point dan kelompok kontrol sebesar 2,13 point.
5) Kesimpulan
Pemberian terapi hipnotis lima jari dapat menurunkan ansietas pada
pasien hipertensi dibandingkan dengan kelompok yang tidak
mendapatkan terapi tersebut.

38
9. Penelitian
1) Judul
Metode Terapi Hipnopunktur (Hipnoterapi Dan Terapi Akupunktur)
Untuk Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Kanker Rahim Pasca
Kemoterapi Di Kota Surakarta
2) Oleh
Maria Dewi Christiyawati, Sri Yatmihatun, Sumanto,
3) Tujuan
Terapi akupunktur pada penderita kanker dapat dilakukan untuk
mengatasi efek samping kemoterapi baik berdasarkan penelitian
maupun teori klasik.
4) Desain penelitian
quasi eksperimental one group desain
5) Hasil Penelitian
Hasil identifikasi karakteristik responden diperoleh semua responden
berusia dewasa yaitu berusia 45 tahun 60 tahun. Hasil identifikasi
kualitas hidup pada responden diperoleh data sebelum di lakukan
intervensi yaitu pasien dengan kualitas hidup buruk skor kurang dari
sama dengan 500 berjumlah 7 orang (50%), pasien dengan kualitas
hidup sedang skor antara 501 1000 berjumlah 7 orang (50%) dan
tidak didapatkan pasien dengan kualitas hidup baik. Hasil setelah
intervensi hipnopunkture sebagai berikut pasien dengan kualitas hidup
buruk skor kurang dari sama dengan 500 berjumlah 4 orang (28%),
pasien dengan kualitas hidup sedang skor antara 501 1000 berjumlah
5 orang (36%) dan pasien dengan kualitas hidup baik skor diatas 1000
berjumlah 5 orang ( 36%). Hasil analisis pengaruh metoda
Hipnopunkture terhadap kualitas hidup responden menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh yang signifikan.
6) Kesimpulan
Metoda hipnopunktur mempunyai pengaruh yang signifikan sehingga
diharapkan tindakan tersebut tetap diberikan pada pasien kanker.

39
10. Penelitian
1) Judul
Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Penurunan Tingkat Stres Pada
Penderita Gastritis Psikosomatis
2) Oleh
Sintha Sari Marthaningtyas
3) Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan tingkat
stres pada penderita gastritis psikosomatis.
4) Desain Penelitian
Penelitian eksperimen dengan pastisipan berjumlah sedikit (Single case
experimental design)
5) Hasil Penelitian
Hipnoterapi pada penelitian ini terbukti dapat menurunkan tingkat stres
pada penderita gastritis psikosomatis. Pengukuran dengan metode
visual inspection yang dilakukan setiap seminggu sekali, selama
sepuluh kali, menunjukkan adanya fluktuasi tingkat stres pada setiap
partisipan dengan kecenderungan yang selalu menurun. Berdasarkan
perbandingan rerata skor DASS 42 antar partisipan.
6) Kesimpulan
a) Hipnoterapi mampu menurunkan tingkat stres pada penderita
gastritis psikosomatis. Semua partisipan mengalami penurunan
tingka stres yang cukup konsisen dari tahap ke tahap
b) Partisipan yang mencapai keberhasilan penurunan stres secara
optimal adalah partisipan 2. Keberhasilan ini memunculkan temuan
bahwa hipnoterapi lebih efektif diberikan kepada penderita
gastritis psikosomatis yang mengalami tingkat stres pada kategori
sedang (jika diukur menggunakan norma DASS 42).
c) Setiap partisipan terbukti memiliki coping adaptive

40
11. Penelitian
1) Judul
Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Dismenore Primer Pada Siswi
Sekolah Menengah Pertama
2) Oleh
Hemi Fitriani, Jenita Sidabutar
3) Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hipnoterapi
terhadap dismenore primer.
4) Desain Penelitian
Pre Eksperimen One Group Pre-Test And Post-Test Design
5) Hasil Penelitian
Hasil penelitian didapatkan rata-rata skala dismenore pada siswi SMP
sebelum dilakukan tindakan hipnoterapi adalah 6,50 dan secara
keseluruhan skala nyeri berada diantara 5,75-7,25. Berdasarkan data
diatas didapatkan rata- rata skala dismenore pada siswi SMP sesudah
dilakukan tindakan hipnoterapi adalah berada pada skala 1,35.
6) Kesimpulan
Rata-rata skala dismenore sebelum dilakukan intervensi diperoleh
nilai mean 6,50. Rata-rata skala dismenore sesudah dilakukan
intervensi diperoleh nilai mean 1,35. Hasil penelitian didapatkan
bahwa p value=0,0001 (p value<0,05) sehingga dapat disimpulkan ada
pengaruh hipnoterapi terhadap dismenore pada siswi SMP Patriot
Bangsa Desa Tani Mulya Tahun 2014.

41
BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari
manfaat sugesti untuk mengatasi masalah pikiran, perasaan dan perilaku.
Hipnoterapi dapat juga dikatakan sebagai suatu teknik terapi pikiran
menggunakan hipnotis. Hipnotis bisa diartikan sebagai ilmu untuk memberi
sugesti atau perintah kepada pikiran bawah sadar. Orang yang ahli dalam
menggunakan hipnotis untuk terapi disebut hypnotherapist.
Manfaat dari hynoterapi itu sendiri adalah untuk mengatasi maslah emosi,
fisik dan perilaku. Sedangkan syarat hipnoterapi itu sendiri adalah bersedia
dengan sukarela, memiliki kemampuan untuk focus, dan memahami komunikasi
verbal.
Hipnoterapi juga dapat menimbulkan efek samping. Seperti dikatakan Dr.
Erwin Kusuma SpKJ, program yang ditanamkan dalam hipnoterapi harus positif.
Ini mengingat pasien tidak memiliki kemampuan merangkum (sintesis) karena
kecerdasan jasmaninya menurun. Bila hal ini tidak diperhatikan, bukan tidak
mungkin akan muncul hasil yang tidak diinginkan, seperti timbul abreaksi
(keluarnya rekaman bawah sadar secara serentak, seperti kekesalan dan kesedihan,
sehingga ungkapan dan tindakan pasien tidak terkendali).

B. SARAN
Diharapkan dengan adanya makalah ini semua pihak yang tidak menutup
kemungkinan masyarakat, mahasiswa pada khususnya mahasiswa keperawatan,
dan seluruh jajaran terkait, dapat memandang positif serta memahami adanya
informasi ini, sesuai apa yang dibahas didalamnya dengan menerapkan sesuai
peraturan yang berlaku.

42
DAFTAR PUSTAKA
Adiyanto. 2007, Hipnosis penurunan rasa nyeri Pengamatan Efek Hypnosis Pada
Otak Melalui Brain Imaging. www.ibh.com
Banon, Endang. (2014). Efektivitas Terapi Hipnotis Lima Jari untuk Menurunkan
Tingkat Ansietas Pasien Hipertensi. Jurnal Keperawatan, 2(3), 24-33
Chamber, Bradford. 2005. How to hypnotize. Stravon Publisher : New York
Murphy, Joseph. 1997. The power of Your Subconscious Mind
(terjemahan) spektrum : Jakarta
Fitriani, H., Sidabutar, J. (2016). Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Dismenore
Primer Pada Siswi Sekolah Menengah Pertama. Artikel Penelitian.
JKA.2016;3(1): 69-75
Hediyanto, Bayu. (2011). Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Tingkat Stres
Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran Angkatan
2011. Bandung: Universitas Padjajaran.
Irianto, Ady. (2014). Pengaruh Hipnotherapi Terhadap Penurunan Tingkat
Kecemasan Pada Pasien Yang Menjalani Kemoterapi di RS Telogorejo
Semarang. Semarang: Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan.
McDonald F., 2006, Hypnotherapy Applications in Pain Management.
www.fmcdonald.com
Purwanto, S. 2007 Hipnoterapi (Suplemen Kuliah. Tidak diterbitkan Labels:
psikoterapy
Rakhmawati, Rani dkk. (2014). Metode Keperawatan Komplementer Hipnoterapi
untuk Menurunkan Efek Stress Pasca Trauma Tingkat Sedang pada Fase
Rehabilitasi Sistem Penanggulangan Kegawatdaruratan Terpadu . Jurnal
Keperawatan, 5(2)
http://kesehatan.kompasiana.com/alternatif/2011/11/08/hipnoterapi/ Diakses pada
tanggal 9 Maret 2017
http://nathaliainstitute.com/hipnoterapi/ Diakses pada tanggal 9 Maret 2017
http://domba-bunting.blogspot.com/2010/12/manfaat-dari-pengobatan-
hipnoterapi.html Diakses pada tanggal 9 Maret 2017

43
http://yusufsila.blogspot.com/2011/06/apa-arti-hipnoterapi.html Diakses pada
tanggal 9 Maret 2017
http://kesehatan.kompasiana.com/alternatif/2011/11/08/hipnoterapi/ Diakses pada
tanggal 9 Maret 2017
http://karya-ilmiah.com/tag/skripsi-perspektif-psikoanalisa-sigmund-freud-
terhadap-hipnoterapi-1688 Diakses pada tanggal 9 Maret 2017
http://www.fresh-hypnotherapy.com/info-sejarah-apa-itu-hipnoterapi.html
Diakses pada tanggal 9 Maret 2017

44