Anda di halaman 1dari 36

KEPERAWATAN KOMUNITAS I

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DIMENSIA DALAM


PEMBELAJARAN PRAKTIK GERONTOLOGI DI MASYARAKAT
Ns. Faisal Kholid Fahdi M.Kep

DISUSUN OLEH:
Epiphana Desi II031151001
Dian Susanti I1031151002
Lola Prianti I1031151003
Novara I1031151013
Desy Anggreani I1031151016
Imelda Verawaty I1031151020
Yudi Agustin I103115103I
Enggar Septhy I1031151036
Suriyani Nengsih I1031151049
Yuvita Anggraini I1021151050

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Asuhan Keperawatan Keluarga Dimensia dalam Pembelajaran Praktik
Gerontologi di masyarakat. Makalah ini di buat guna memenuhi tugas mata
kuliah Komunitas I.
Makalah ini sudah dirampungkan dengan sebaik mungkin oleh kami tapi
kami masih mengharapkan kritikan dan saran yang membangun demi
menyempurnakan makalah ini lebih lagi.
Semoga makalah ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat dalam
pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Terimakasih.

Pontianak, 14 September 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I.......................................................................................................................1

A. LATAR BELAKANG...................................................................................1

B. RUMUSAN MASALAH..............................................................................3

C. TUJUAN.......................................................................................................3

BAB II......................................................................................................................5

A. DEFINISI......................................................................................................5

B. ETIOLOGI....................................................................................................5

C. KLASIFIKASI..............................................................................................6

D. PATOFISIOLOGI..........................................................................................7

E. MANIFESTASI KLINIS..............................................................................8

F. EPIDEMIOLOGI..........................................................................................9

G. KOMPLIKASI..............................................................................................9

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK...............................................................10

I. PENATALAKSANAAN.............................................................................10

J. PERAN KELUARGA.................................................................................11

K. TINGKAH LAKU LANSIA.......................................................................11

L. NASKAH ROLEPLAY..............................................................................12

BAB III..................................................................................................................18

A. PENGKAJIAN............................................................................................18

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN..................................................................18

C. INTERVENSI KEPERAWATAN...............................................................19

BAB IV..................................................................................................................32

A. KESIMPULAN...........................................................................................32
B. SARAN.......................................................................................................32

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................33
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat


kronis atau progresif dimana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang
lebih tinggi, termasuk memori, berpikir, orientasi, pemahaman,
perhitungan, belajar, kemampuan, bahasa, dan penilaian kesadaran tidak
terganggu. Gangguan fungsikognitif yang biasanya disertai, kadang-
kadang didahului, oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi, perilaku
sosial, atau motivasi. Sindrom terjadi pada penyakit Alzheimer, di penyakit
serebrovaskular dan dalam kondisi lain terutama atau sekunder yang
mempengaruhi otak (Durand dan Barlow, 2006).
Berdasarkan sejumlah hasil penelitian diperoleh data bahwa
dimensia seringkali terjadi pada usia lanjut yang telah berumur kurang
lebih 60 tahun. Dimensia tersebut dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu:
1) Dimensia Senilis (60 tahun); 2) Demensia Pra Senilis (60 tahun).
Sekitar 56,8% lansia mengalami demensia dalam bentuk Demensia
Alzheimer (4% dialami lansia yang telah berusia 75 tahun, 16% pada usia
85 tahun, dan 32% pada usia 90 tahun). Sampai saat ini diperkirakan +/-
30 juta penduduk dunia mengalami Demensia dengan berbagai sebab
(Oelly Mardi Santoso, 2002).
Departemen Kesehatan RI membatasi penggolongan usia lanjut
adalah: Masa virilitas (menjelang lansia): 45 55 tahun, Masa Presenium
(lansia): 55 64 tahun, Masa Senium: > 65 tahun. Proses penuaan
penduduk tentunya berdampak pada berbagai aspek kehidupan, baik
sosial, ekonomi, dan terutama kesehatan. Pada dampak kesehatan, lansia
mengalami kemunduran fungsi tubuh baik karena faktor alamiah maupun
karena penyakit. Demensia adalah suatu sindroma klinik yang meliputi
hilangnya fungsi intelektual dan ingatan sedemikian berat sehingga
menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari (Darmojo, 2000 dalam jurnal
Untari, 2015).
Pertambahan jumlah lansia Indonesia, dalam kurun waktu tahun
1990 2025, tergolong tercepat di dunia (Kompas, 25 Maret 2002:10).
Jumlah sekarang 16 juta dan akan menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau
sebesar 11,37 % penduduk dan ini merupakan peringkat ke empat dunia,
dibawah Cina, India dan Amerika Serikat. Sedangkan umur harapan hidup
berdasarkan sensus BPS 1998 adalah 63 tahun untuk pria dan 67 tahun
untuk perempuan. (Meski menurut kajian WHO (1999), usia harapan
hidup orang Indonesia rata-rata adalah 59,7 tahun dan menempati urutan
ke 103 dunia, dan nomor satu adalah Jepang dengan usia harapan hidup
rata-rata 74,5 tahun).
Komponen kemampuan intelektual yang terganggu meliputi daya
ingat dan kemampuan berpikir, berhitung, berbahasa dan orientai
geografis. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah
meningkatnya usia harapan hidup. Semakin meningkat usia harapan hidup
penduduk, menyebabkan jumlah penduduk lansia terus meningkat dari
tahun ke tahun. Lansia didunia dengan usia 60 keatas tumbuh sangat cepat
bahkan tercepat dibanding kelompok usia lainnya. Hasil prediksi
menunjukkan persentase lansia akan mencapai 9,77 persen dari total
penduduk pada tahun 2010 dan menjadi 11,34
persen pada tahun 2020 (Badan Pusat Statistik: 2010).
Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru
sajaterjadi, tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan,
kecemasan, penurunan emosi atau perubahan kepribadian lainnya. Terjadi
perubahan ringan dalam pola berbicara, penderita menggunakan kata-kata
yang lebih sederhana,menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak
mampu menemukan kata-katayang tepat. Ketidakmampuan mengartikan
tanda-tanda bisa menimbulkan kesulitan dalam mengemudikan kendaraan.
Pada akhirnya penderita tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya.
Demensia banyak menyerang mereka yang telah memasuki usia
lanjut.Bahkan, penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang
dari 50 tahun. Sebagian besar orang mengira bahwa demensia adalah
penyakit yang hanya diderita oleh para Lansia, kenyataannya demensia
dapat diderita oleh siapa saja dari semua tingkat usia dan jenis kelamin
(Harvey, R. J. et al. 2003). Untuk mengurangi risiko, otak perlu dilatih
sejak dini disertai penerapan gaya hidup sehat. (Harvey, R. J., Robinson,
M. S. & Rossor, M. N, 2003).
Kondisi ini tentu saja menarik untuk dikaji dalam kaitannya
dengan masalah demensia. Betapa besar beban yang harus ditanggung oleh
negara atau keluarga jika masalah demensia tidak disikapi secara tepat dan
serius, sehubungan dengan dampak yang ditimbulkannya. Mengingat
bahwa masalah demensia merupakan masalah masa depan yang mau tidak
mau akan dihadapi orang Indonesia dan memerlukan pendekatan holistik
karena umumnya lanjut usia (lansia) mengalami gangguan berbagai fungsi
organ dan mental, maka masalah demensia memerlukan penanganan lintas
profesi yang melibatkan: Internist, Neurologist, Psikiater, Spesialist Gizi,
Spesialis Rehabilitasi Medis dan Psikolog Klinis.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi dari dimensia?


2. Apa etiologi dari dimensia?
3. Apa saja klasidikasi dari dimensia?
4. Apa patofisiologi dari dimensia?
5. Apa saja manifestasi klinis dari dimensia?
6. Apa epidemiologi dimensia?
7. Apa saja komplikasi dari dimensia?
8. Apa saja pemeriksaan diagnostik dari dimensia?
9. Bagaimana pentalaksanaan dimensia?
10. Bagaimana peran keluarga menangani dimensia?
11. Bagaimana tingkah laku lansia pada dimensia?
12. Bagaimana asuhan keperawatan pada dimensia?

C. TUJUAN

1. Mengetahui definisi dari dimensia.


2. Mengetahui etiologi dari dimensia.
3. Mengetahui apa saja klasidikasi dari dimensia.
4. Mengetahui patofisiologi dari dimensia.
5. Mengetahui manifestasi klinis dari dimensia.
6. Mengetahui epidemiologi dimensia.
7. Mengetahui apa saja komplikasi dari dimensia.
8. Mengetahui apa saja pemeriksaan diagnostik dari dimensia.
9. Mengetahui pentalaksanaan dimensia.
10. Mengetahui peran keluarga menangani dimensia.
11. Mengetahui tingkah laku lansia pada dimensia.
12. Mengetahui asuhan keperawatan pada dimensia.
BAB II

ISI

A. DEFINISI

Demensia adalah kumpulan gejala atau sindrom yang disebabkan oleh sejumlah
gangguan otak (Alzheimers Association, 2007). Pada demensia terjadi penurunan
fungsi kognitif yang biasanya bersifat kronis atau progresif.
Oleh karena itu, demensia menjadi salah satu penyebab utama ketergantungan
lansia terhadap keluarga atau pengasuhnya (WHO, 2012)
B. ETIOLOGI

Meskipun Penyebab Alzheimer disease belum diketahui, sejumlah faktor yang saat
ini berhasil diidentiifikasi yang tampaknya berperan besar dalam timbulnya penyakit ini
(Robbins & all, 2007)
1. Faktor genetik berperan dalam timbulnya Alzheimer Disease pada beberapa kasus,
seperti dibuktikan adanya kasus familial. Penelitian terhadap kasus familial telah
memberikan pemahaman signifikan tentang patogenesis alzheimer disease familial,
dan , mungkin sporadik. Mutasi di paling sedikit empat lokus genetik dilaporkan
berkaitan secara eksklusif dengan AD familial. Berdasarkan keterkaitan antara
trisomi 21 dan kelainan mirip AP di otak yang sudah lama diketahui, mungkin
tidaklah mengherankan bahwa mutasi pertama yang berhasil diidentifikasi adalah
suatu lokus di kromosom 21 yang sekarang diketahui mengkode sebuah protein
yang dikenal sebagai protein prekursor amiloid (APP). APP merupakan sumber
endapan amiloid yang ditemukan di berbagai tempat di dalam otak pasien yang
menderita Alzheimer disease. Mutasi dari dua gen lain, yang disebut presenilin 1
dan presenilin 2, yang masing- masing terletak di kromosom 14 dan 1 tampaknya
lebih berperan pada AD familial terutama kasus dengan onset dini.

2. Pengendapan suatu bentuk amiloid, yang berasal dari penguraian APP merupakan
gambaran yang konsisten pada Alzheimer disease. Produk penguraian tersebut yang
dikenal sebagai - amiloid (A) adalah komponen utama plak senilis yang
ditemukan pada otak pasien Alzheimer disease, dan biasanya juga terdapat di dalam
pembuluh darah otak.
3. Hiperfosforilisasi protein tau merupakan keping lain teka-teki Alzheimer disease.
Tau adalah suatu protein intra sel yang terlibat dalam pembentukan mikrotubulus
intra akson. Selain pengendapan amiloid, kelainan sitoskeleton merupakan
gambaran yang selalu ditemukan pada AD. Kelainan ini berkaitan dengan
penimbunan bentuk hiperfosforilasi tau, yang keberadaanya mungkin menggaggu
pemeliharaan mikrotubulus normal.

4. Ekspresi alel spesifik apoprotein E (ApoE) dapat dibuktikan pada AD sporadik dan
familial. Diperkirakan ApoE mungkin berperan dalam penyaluran dan pengolahan
molekul APP. ApoE yang mengandung alel 4 dilaporkan mengikat A lebih baik
daripada bentuk lain ApoE, dan oleh karena itu, bentuk ini mungkin ikut
meningkatkan pembentukan fibril amiloid.

C. KLASIFIKASI

1. Menurut Umur:
a. Demensia senilis (>65th)
b. Demensia prasenilis (<65th)
2. Menurut perjalanan penyakit:
a. Reversibel
b. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B
Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.
3. Menurut kerusakan struktur otak Tipe Alzheimer Tipe non-Alzheimer
a. Demensia vascular
b. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia)
c. Demensia Lobus frontal-temporal
d. Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS)
e. Morbus Parkinson
f. Morbus Huntington
g. Morbus Pick
h. Morbus Jakob-Creutzfeldt
i. Sindrom Gerstmann-Strussler-Scheinker
j. Prion disease
k. Palsi Supranuklear progresif
l. Multiple sclerosis
m. Neurosifilis
n. Tipe campuran
4. Menurut sifat klinis:
a. Demensia proprius
b. Pseudo-demensia
D. PATOFISIOLOGI

Komponen utama patologi penyakit Alzheimer adalah plak senilis dan neuritik,
neurofibrillarytangles, dan hilangnya neuron/sinaps.Plak neuruitik mengandung -
amyloid ekstraseluler yang dikelilingi neuritis distrofik, sementara plak difus (atau
nonneuritik) adalah istilah yang kadang digunkan untuk deposisi amyloid tanpa
abnormalitas neuron.Deteksi adanya ApoE di dalam plak -amyloid menunjukkan bukti
hubungan antara amylodogenesis dan ApoE.Plak neuritik juga mengandung protein
komplemen, mikroglia yang teraktivasi, sitokin-sitokin, dan protein fase akut, sehingga
komponen inflamasi juga dapat terlibat pada patogenesis penyakit Alzheimer. Gen yang
mengkode ApoE terdapat di kromosom 19 dan gen yang mengkode amyloid prekursor
protein (APP) terdapat di kromosom 21.
Adanya sejumlah plak senilis adalah suatu gambaran patologis utama untuk
diagnosis penyakit Alzheimer. Sebenarnya jumlah plak meningkat seiring usia, dan plak
ini juga muncul di jaringan otak orang usia lanjut yang tidak demensia. Dilaporkan
bahwa satu dari tiga orang berusia 85 tahun yang tidak demensia mempunyai deposisi
amyloid yang cukup di korteks cerebri untuk memenuhi kriteria diagnosis penyakit
Alzheimer, namun apakah ini mencerminkan fase preklinik dari penyakit, masih belum
diketahui.
Neurofibrillary tangles merupakan struktur intraneuron yang mengandung tau yang
terhiperfosforilasi pada pasanagn filamen helix. Individu usia lanjut yang normal juga
diketahui mempunyai neurofibrillary tangles di beberapa lapisan hippokampus dan
korteks entorhinal, tapi struktur ini jarang ditemukan di neokorteks pada seseorang
tanpa demensia. Neurofibrillary tangles inin tidak spesifik untuk penyakit Alzheimer
dan juga timbul pada penyakit dementia lannya.
E. MANIFESTASI KLINIS

Orang dengan alzheimer disease mengalami gangguan progresif daya ingat dan
fungsi kognitif lainnya. Gangguan mula-mula mungkin samar dan mudah disalah-
sangka sebagai depresi, penyakit penting lain pada usia lanjut. Gangguan kognitif
berlanjut terus, biasanya dalam waktu 5 hingga 15 tahun, yang menyebabkan
disorientasi total dan hilangnya fungsi bahasa dan fungsi luhur korteks lainnya. Pada
sebagian kecil pasien, dapat muncul kelainan gerakan khas parkinsonisme, biasanya
berkaitan dengan adanya pembentukan badan lewy (Robbins & all, 2007).
1. Gangguan memori, muncul pada tahap awal, gangguan memori hal-hal yang baru
lebih berat dari yang lama, memori verbal dan visual juga terganggu, memori
procedural relatif masih baik.
2. Gangguan perhatian, muncul pada tahap awal, gangguan dalam hal menggambat
dan mencari menemukan alur
3. Gangguan dalam pemecahan masalah, muncul pada tahap awal, gangguan hal
abstraksi dan menyatakan pendapat.
4. Gangguan dalam kemampuan berhitung muncul pada tahap awal
5. Gangguan kepribadian, kehilangan rem, agitasi, mudah tersinggung
6. Gangguan isi pikiran, waham
7. Gangguan afek, depresi
8. Gangguan berbahasa, sulit menemukan kata yang tepat, artikulasi dan komprehensi
relative masih baik
9. Gangguan persepsi, gangguan visual, penghiduan, dan pendengaran : halusinasi,
ilusi
10. Gangguan praksis, apraksia ideasional dan ideomotor
11. Gangguan kesadaran dari penyakit, menolak pendapat bahwa dia sakit, mungkin
diikuti waham,konfabulasi, dan indifference
12. Gangguan kemampuan social, muncul dikemudian hari
13. Defisit motoric, muncul dikemudian hari, relative ringan
14. Inkontinensia urin dan alvi, muncul dikemudian hari
15. Kejang/epilepsy, muncul dikemudian hari

F. EPIDEMIOLOGI

Laporan Departemen Kesehatan tahun 2000, populasi usia lanjut diatas 60 tahun
adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka kejadian
kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi .
Kira-kira 5 % usia lanjut 65 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali
lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri
kasus demensia 0.5 1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 15%
atau sekitar 3 4 juta orang.
Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia
Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju
Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-
20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia
vaskuler 50 60 % dan 30 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer (AAI,2003).

G. KOMPLIKASI

Kushariyadi (2010) menyatakan koplikasi yang sering terjadi pada demensia


adalah:
1. Peningkatan resiko infeksi di seluruh bagian tubuh.
a. Ulkus diabetikus
b. Infeksi saluran kencing
c. Pneumonia
2. Thromboemboli, infarkmiokardium
3. Kejang.
4. Kontraktur sendi.
5. Kehilangan kemampuan untuk merawat diri.
6. Malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan dan kesulitan menggunakan peralatan.

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Asosiasi Alzheimer Indonesia (2003) :


1. Pemeriksaan laboratorium rutin
2. Imaging : Computed Tomography (CT) scan dan MRI (Magnetic Resonance
Imaging)
3. Pemeriksaan EEG
4. Pemeriksaan cairan otak
5. Pemeriksaan genetika
6. Pemeriksaan neuropsikologis

I. PENATALAKSANAAN

Asosiasi Alzheimer Indonesia (2003) sebagian besar kasus demensia tidak dapat
disembuhkan.
1. Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan antikoliesterase
seperti Donepezil , Rivastigmine , Galantamine , Memantine
2. Dementia vaskuler membutuhkan obat -obatan anti platelet seperti Aspirin ,
Ticlopidine , Clopidogrel untuk melancarkan aliran darah ke otak sehingga
memperbaiki gangguan kognitif.
3. Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi
perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan mengobati
tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan dengan stroke.
4. Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat anti-depresi seperti
Sertraline dan Citalopram.
5. Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang bisa
menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakan obat anti-psikotik (misalnya
Haloperidol , Quetiapine dan Risperidone). Tetapi obat ini kurang efektif dan
menimbulkan efek samping yang serius. Obat anti-psikotik efektif diberikan kepada
penderita yang mengalami halusinasi atau paranoid.

J. PERAN KELUARGA

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita
demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal
yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar.
Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses
perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara
teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan
dialami penderita demensia. (Nugroho,2004)
Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia,
sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota
keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin
melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas
sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat
mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia. (Nugroho,2004)
Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema, walaupun
setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka, mungkin mereka tidak akan
pernah mengenal dan mengingat siapa kita, bahkan tidak ada ucapan terima kasih
setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam
merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Tanamkanlah dalam hati bahwa
penderita demensia tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Merekapun
berusaha dengan keras untuk melawan gejala yang muncul akibat demensia.
Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu
untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat
menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia
dengan demensia.

K. TINGKAH LAKU LANSIA

Pada suatu waktu Lansia dengan demensia dapat terbangun dari tidur malamnya
dan panik karena tidak mengetahui berada di mana, berteriak-teriak dan sulit untuk
ditenangkan. Untuk mangatasi hal ini keluarga perlu membuat Lansia rileks dan aman.
Yakinkan bahwa mereka berada di tempat yang aman dan bersama dengan orang-orang
yang menyayanginya. Duduklah bersama dalam jarak yang dekat, genggam tangan
Lansia, tunjukkan sikap dewasa dan menenangkan. Berikan minuman hangat untuk
menenangkan dan bantu lansia untuk tidur kembali.
Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak
memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun
orang lain. Mereka dapat saja menyalakan kompor dan meninggalkannya begitu saja.
Mereka juga merasa mampu mengemudikan kendaraan dan tersesat atau mungkin
mengalami kecelakaan. Memakai pakaian yang tidak sesuai kondisi atau menggunakan
pakaian berlapis-lapis pada suhu yang panas.
Seperti layaknya anak kecil terkadang Lansia dengan demensia bertanya sesuatu
yang sama berulang kali walaupun sudah kita jawab, tapi terus saja pertanyaan yang
sama disampaikan. Menciptakan lingkungan yang aman seperti tidak menaruh benda
tajam sembarang tempat, menaruh kunci kendaraan ditempat yang tidak diketahui oleh
Lansia, memberikan pengaman tambahan pada pintu dan jendela untuk menghindari
Lansia kabur adalah hal yang dapat dilakukan keluarga yang merawat Lansia dengan
demensia di rumahnya. (Mickey,2005)

L. NASKAH ROLEPLAY

Epiphana Desi Sebagai Anak 1


Dian Susanti Sebagai Nenek
Lola Prianti Sebagai Narator
Novara Sebagai Tetangga
Desy Anggreani Sebagai Dokter
Imelda Verawaty Sebagai Ibu
Yudi Agustin Sebagai Ayah
Enggar Septhy Sebagai Anak 2
Suriyani Nengsih Sebagai Perawat 1
Yuvita Anggraini Sebagai Perawat 2

Suatu hari di desa sukamaju terdapat sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, 2
anak kembar, dan nenek Dian. Namun, karena kesibukan dari anggota keluarga, nenek selalu di
tinggalkan oleh keluarga dan di titipkan kepada tetangga , kadang-kadang nenek tinggal di
rumah sendirian dan seiring bertambahnya usia, nenek Dian mengalami pikun. Di suatu
malam, ketika sedang makan malam di ruang makan.
Papa : Ibu, makan malamnya sudah siap ayo kita makan.
Nenek : Iya.. nak, tapi ibu mau ke dapur dulu, mau cuci tangan.(sambil bergegas menuju
dapur)
Sesampainya di dapur
Mama : Ibu, mau ngapain ke dapur..?
Nenek : Aduhh iya ya. Ibu lupa ibu mau ngapain kesini ya sudah ibu mau ke kamar aja.
Cucu 1 : Eh nenek mau kemana?.
Nenek : Mau kekamar, nenek ngantuk mau tidur dulu.(bergegas pergi)
Cucu 2 : Lah kok tidur sih nek, tadi kata nya nenek mau cuci tangan dulu sebelum makan?.
(sambil memegang sendok)
Nenek : Astaga iya nenek lupa, maklum nenek sudah tua cu.(sambil tertawa)
Mama : Aduh ibu kok makan aja bisa lupa, yaudah kalau gitu ibu makan dulu ya. Epi enggar
Tolong damping dan siapin makannya nenek ya
Cucu 1/2: Baik bu nek yukk kita makan.
Nenek : (nenek hanya mengangguk)
Dengan peristiwa tersebut, keluarga hanya menganggap hal itu biasa saja. Keesokan
pagi nya, nenek masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk, kemudian tidak
lama lagi nenek keluar dari kamar mandi.
Mama : Ibu, kenapa cepat sekali mandi nya?.
Nenek : Ibu ndak mandi kok.
Mama : la tadi ibu bilang mau mandi?
Nenek : Oh iya ibu lupa, ibu mandi dulu ya.

Setelah nenek Dian selesai mandi, nenek dian berencana mau keluar rumah untuk pergi
ke pasar, tetapi ditengah jalan, nenek dian lupa jalan ke pasar dan jalan pulang kerumahnya.
Nenek :Aduh saya sekarang dimana saya lupa jalan ke pasar(Kebingungan)
Tanpa sengaja nenek Dian bertemu dengan ibu Vara tetangga mereka.
Vara : Nenek Dian, apa kabar? Mau kemana ni ?
Nenek : Nenek nyasar, tadi mau pergi ke pasar, tapi nenek lupa jalan kepasar dan jalan
pulang.
Vara : Loh,, kalo tidak tau jalan kenapa pergi sendirian nek?.
Nenek : Saya tidak mau ngerepotin anak saya.
Vara : Ya udah saya antar nenek pulang ya.(sambil memegang tangan nenek)
Nenek : Baik lah.

Sesampainya di rumah ,
Vara : Adek ada ibunya gak?.
Cucu 1 : Ada tante, bentar ya saya panggil dulu. Ma ada tante Vara dengan nenek.
Mama : Eh ada mbak Vara, loh kok dengan Ibu, kenapa? kok sampe di antarain pulang?.
Vara : Tadi nenek nyasar di jalan pas mau pergi ke pasar.
Mama : Iya, akhir-akhir ini memang ibu saya sering pelupa mbak.
Vara : Coba bawa ke puskesmas aja, di periksa takut nya ada sesuatu.
Mama : Ya udah terimakasih ya bu Vara, besok saya bawa ke puskesmas.
Keesokan harinya
Mama : Pa ,kayaknya hari ini kita harus membawa ibu ke puskesmas deh, seperti nya ibu
akhir2 ini sering lupa sampe kemarin ibu lupa pulang kerumah, untungnya ada
mbak vara yang menolong ibu mengantar ke rumah. takut nya nanti ibu kenapa -
napa pa.
Papa : Ya udah, kalau begitu, papa minta adek untuk panggil ibu dulu ya, biar kita bawa ibu
ke puskesmas. adekkkk
Cucu 2 : Iyaa paaa ada apa?.
Papa : Tolong bilang ke nenek supaya siap siap karena papa dan mama mau bawa nenek
untuk konsultasi ke puskesmas.
Anak : Baik paa (menuju ke nenek). nenek pesan papa nenek disuruh siap2 untuk pergi ke
Puskesmas.
Nenek : (mengangguk).

Kemudian mereka pun pergi ke puskesamas dan sesampainya di puskesmas, mereka


membawa nenek untuk konsultasi dengan dokter dan perawat yang ada di puskesmas tersebut.
Ayah : Permisi.. selamat pagi dokter.
Dokter : Selamat pagi pak, bu, mari silahkan duduk (sambil mempersilahkan duduk). Ada
keluhan apa yang membuat bapak dan ibu datang kemari?
Ayah : Jadi begini dok, akhir akhir ini ibu saya sering lupa dok.
Dokter : Bapak dan ibu bisa ceritakan kejadiannya?.
Ibu : Begini dok dua hari yang lalu waktu makan malam, ibu saya lupa makan lalu
paginya dia lupa mandi dan yang fatalnya ibu saya lupa jalan pulang. Jadi kami
khawatir sus dengan kondisi ibu saya ini. Kira-kira bagaimana ya?(ekspresi cemas).
Dokter : Selain pelupa ada lagi tidak penyakit bawaan dari nenek Dian?.
Ibu : Tidak ada dokter
Dokter : Oke kalau begitu saya periksa dulu ya (Pemeriksaan). Ini pak resep obatnya nanti
jangan lupa di tebus ya dan minumnya harus teratur. Selanjutnya nanti akan ada
Perawat Yuvita dan Perawat Vara yang akan membantu pemeriksaan selanjutnya. Jadi
silahkan ke ruangan pemeriksaan ya pak, ibu.
Perawat 1 : Mari bapak dan ibu silahkan bawa nenek dian ikut saya ke ruangan
pemeriksaan.(sambil mempersilahkan)
Perawat 1 : Assalamualaikum, selamat pagi nek?.(sambil tersenyum)
Nenek Dian : Walaikumsalam.
Perawat 1 : Perkenalkan saya Perawat Vara, dan ini teman saya Perawat Yuvita. Hari ini kami
bertugas dari jam 08.00-14.00 dan akan merawat bapak pagi ini, apa benar ini
dengan nenek Dian Susanti dan senangnya di panggil siapa?
Nenek Dian : Iya benar, panggil nenek Dian saja.
Perawat 1 : Bagaimana kabar nenek Dian sekarang?
Nenek : Alhamdulillah baik, kalian siapa ya?
Perawat 1 : Baiklah nek, tadi kan saya sudah memperkenalkan diri saya. Disini saya akan
mengulanginya lagi. Nama saya perawat Vara, dan teman saya perawat Yuvi.
Nenek : Oh, yang ini perawat Vara yang ini perawat Yuvi?
Perawat 2 : Iya benar nek.
Perawat 1 : Nek disini tujuan kami ingin berbincang-bincang mengenai aktivitas nenek
sehari-hari. Apa nenek bersedia?
Nenek : Oh tentu boleh, kebetulan saya senang bercerita.(tertawa kecil)
Perawat 2 : Nenek Dian sebelum ke sini sudah mandi atau belum ?
Nenek : Sepertinya belum sus, karna tadi saya langsung dibawa pergi kesini.
Perawat 2 : Nenek Dian yakin belum mandi ? coba di ingat-ingat
Nenek : Belum sus, saya yakin Saya merasa badan saya bau, berarti belum mandi sus.
(sambil mengendus-ngendus)
Perawat 2 : Tadi sebelum mandi nenek Dian pakai baju apa? Sekarang pakai baju apa?
Pasien : Tadi baju ungu.
Perawat 2 : Sekarang pakai baju apa nek?
Nenek : Sekarang batik coklat. Oh iya saya lupa, ternyata saya sudah mandi.(tertawa
kecil).
Perawat 2 : Nah berarti nenek Dian sekarang ingat kalau nenek sudah mandi.
Perawat 2 : Setelah mandi, nenek Dian melakukan aktivitas apa sampai saat ini?.
Nenek : Tadi saya sarapan pagi, lalu bermain boneka dengan cucu kembar saya, lalu
saya beristirahat lagi di kamar.
Perawat 2 : Sarapan apa ya nek?.
Nenek : Sarapan apa ya apa ya?.
Perawat 2 : Yaudah nek, kalau tidak ingat jangan dipaksa.
Perawat 2 : Tadi main boneka sama cucu ya nek?.
Nenek : Iya sus.
Perawat 2 : Cucu nenek Dian namanya siapa?.
Nenek : Cucu saya namanya Epi dan Enggar.
Perawat 2 : Nenek, perbincangan kita pada hari ini sudah sampai disini ya.
Perawat 1 : Sebelum kita pamit, coba nenek sebutkan lagi kegiatan apa saja yang nenek
lakukan sampai saat ini ?
Nenek : Setelah saya bangun tidur saya mandi lalu sarapan lalu apa ya?.
Perawat 1 : Boneka nek.
Nenek : Iya bermain boneka dengan cucu saya.
Perawat 1 : Bagus sekali nenek sudah dapat mengulanginya, kecuali kegiatan yang
terakhir.
Perawat 2 : Oke nek. pemeriksaan hari ini sampai di sini saja. Untuk bapak dan ibu
jangan biarkan nenek Dian pergi sendiri, lalu bapak dan ibu tadi kan sudah melihat bagaimana
cara kami melatih nenek agar tidak lupa dengan setiap kegiatannya. Diharapkan bapak dan ibu
juga bisa menerapkannya jangan lupa obatnya diminum teratur ya.
Ayah : Baik suster terima kasih kalau begitu kami permisi dulu.
Perawat 1 : Sama-sama terma kasih kerjasamanya. Semoga neneknya cepat sembuh.
Keesokan harinya saat di rumah,
Cucu 2 : Nenek mau ke mana?
Nenek : Nenek mau mandi.
Mama : Ibu kalau mau mandi handuknya mana?.
Nenek : Oh iya handuk nenek kemana ya?.
Ayah : Tadi sebelum mau ke kamar mandi ibu sudah ambil handuknya belum?.
Nenek : Udah, tapi ibu lupa meletakannya di mana?. (muka bingung)
Cucu 1 : Coba nenek ingat ingat lagi.
Nenek : (sambil berpikir) oh iya nenek baru ingat handuknya nenek gantung di gantungan
pintu kamar mandi. Ibu mandi dulu ya.
Setelah itu setiap harinya nenek Dian selalu di ajarkan oleh keluarga agar setiap kegiatan yang
nenek Dian lakukan dapat di ingat kembali, selalu rutin minum obat serta melakukan
pemeriksaan di Puskesmassesuai dengan jadwal yang sudah di berikan
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Data subyektif :

1. Pasien mengatakan mudah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi.

2. Pasien mengatakan tidak mampu mengenali orang, tempat dan waktu

Data obyektif :

1. Pasien kehilangan kemampuannya untuk mengenali wajah, tempat dan objek yang
sudah dikenalnya dan kehilangan suasana kekeluargaannya.

2. Pasien sering mengulang-ngulang cerita yang sama karena lupa telah


menceritakannya.

3. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara; penderita menggunakan kata-kata


yang lebih sederhana, menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu
menemukan kata-kata yang tepat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kerusakan Memori

2. Resiko Jatuh

3. Defisit Perawatan Diri

4. Hambatan Komunikasi Verbal


C. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan dan Kriteri Hasil (NOC) Intervensi (NIC)


1. Kerusakan Memori NOC NIC
Definisi : 1. Orientasi Kognitif Memori Taining (Pelatihan Memori)
Ketidakmampuan mengingat beberapa informasi 1. Stimulasi memory dengan
atau keterampilan perilaku. Kriteria Hasil; mengulangi pembicaraan secara jelas
Batasan Karakteristik : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di akhir pertemuan dengan pasien.
Ketidakmampuan melakukan keterampilan 3 x 24 jam, kesadaran klien terhadap identitas 2. Mengenang pengalaman masa lalu
yang telah dipelajari sebelumnya personal, waktu dan tempat meningkat/baik, dengan pasien.
Ketidakmampuan mempelajari informasi baru dengan indikator/kriteria hasil : 3. Menyediakan gambar untuk
Ketidakmampuan mempelajari keterampilan 1. Mengenal kapan klien lahir mengenal ingatannya kembali
baru 2. Mengenal orang atau hal penting 4. Monitor perilaku pasien selama

Ketidakmampuan mengingat informasi actual 3. Mengenal hari, bulan, dan tahun dengan terapi

Keidakmampuan mengingat perilaku tertentu benar 5. Monitor daya ingat klien.

yang pernah dilakukan 4. Klien mampu memperhatikan dan 6. Kaji kemampuan klien dalam
mendengarkan dengan baik mengingat sesuatu.
Ketidakmampuan mengingat peristiwa
5. Klien mampu melaksanakan instruksi 7. Ingatkan kembali pengalaman masa
Ketidakmampuan menyimpan informasi baru
sederhana yang diberikan. lalu klien
Lupa melakukan perilaku pada waktu yang
6. Klien dapat menjawab pertanyaan yang 8. Implementasikan teknik mengingat
telah dijadwalkan

18
Mudah lupa diberikan dengan tepat. dengan cara yang tepat
7. Klien mampu mengenal identitas dirinya 9. Latih orientasi klien
Faktor Yang Berhubungan dengan baik. 10. Beri kesempatan kepada klien untuk
Anemia 8. Klien mengenal identitas orang melatih, konsentrasinya

Distraksi lingkungan disekitarnya dengan tepat/baik. Stimulasi Kognitif (Cognitive

Gangguan neurologis 9. Klien mampu mengidentifikasikan tempat Stimulation)


dengan benar. 1. Monitor interpretasi klien terhadap
Hipoksia
10. Klien mampu mengidentifikasi waktu lingkungan
Gangguan volume cairan
dengan benar. 2. Tempatkan objek/hal-hal yang
Ketidakseimbangan elektrolit
familiar di lingkungan/di kamar
Penurunan curah jantung
klien
3. Observasi kemampuan klien
berkonsentrasi.
4. Kaji kemampuan klien memahami
dan memproses informasi
5. Berikan instruksi setelah klien
menunjukkan kesiapan untuk belajar
atau menerima informasi.
6. Atur instruksi sesuai tingkat

19
pemahaman klien
7. Gunakan bahasa yang familiar dan
mudah dipahami
8. Dorong klien menjawab pertanyaan
dengan singkat dan jelas.
9. Koreksi interpretasi yang salah
10. Beri reinforcement pada setiap
kemajuan klien

2 Resiko Jatuh NOC NIC


Definisi 1. Trauma risk for
Peningkatan kerentanan untuk jatuh yang dapat 2. Injury risk for 1. Mengidentifikasi defisit kognitif atau
menyebabkan bahaya fisik fisik yang dapat meningkatkan potensi
Faktor Resiko Kriteria hasil : jatuh dalam lingkungan tertentu
1. Dewasa Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2. Mengidentifikasi perilaku dan faktor
Usia 65 tahun atau lebih 3x 24 jam di harapkan klien mampu untuk : yang mempengaruhi resiko jatuh
Riwayat jatuh 1. Keseimbangan: kemampuan untuk 3. Mengidentifikasi karakteristik

Tinggal sendiri mempertahankan ekuilibrium lingkungan yang dapat meningkatkan

20
Prosthesis eksremitas bawah 2. Gerakan terkoordinasi : kemampuan otot potensi untuk jatuh ( misalnya : lantai
Penggunaan alat bantu ( misalnya : untuk bekerja sama secara volunter untuk yang licin dan tangga terbuka )
walker,tongkat ) melakukan gerakan yang bertujuan 4. Mendorong pasien untuk
Penggunaan kursi roda 3. Perilaku pencegahan jatuh : tindakan menggunakan tongkat atau alat
individu atau pemberi asuhan untuk pembantu berjalan

2. Anak meminimalkan faktor resiko yang dapat 5. Kunci roda dari kursi roda,tempat

Usia dua tahun atau kurang memicu jatuh dilingkungan individu tidur,atau brankar selama transfer
4. Kejadian jatuh : tidak ada kejadian jatuh pasien
Tempat tidur yang terletak didekat jendela
5. Pengetahuan : pemahaman pencegahan 6. Tempat artikel mudah dijangkau dari
Kurangnya penahan / pengekang kereta
jatuh pengetahuan : keselamatan anak fisik, pasien
dorong
6. Pengetahuan : keamanan pribadi 7. Ajarkan pasien bagaimana jatuh untuk
Kurangnya/longgarnya pagar pada tangga
7. Pelanggaran perlindungan tingkat meminimalkan cedera
Kurangnya penghalang atau tali pada
kebingungan akut 8. Menyediakan toilet ditinggikan untuk
jendela
8. Tingkat agitasi memudahkan transfer
Kurang pengawasan orang tua
9. Komunitas pengendalian resiko 9. Membantu ke toilet seringkali,interval
Jenis kelamin laki-laki yang berusia < 1
10. Gerakan terkoordinasi dijadwalkan
tahun
10. Sarankan alas kaki yang aman
Bayi yang tidak diawasi saat berada
11. Mengembangkan cara untuk pasien
dipermukaan yang tinggi ( misalnya:
untuk berpartisipasi keselamatan

21
tempat tidur/meja) dalam kegiatan rekreasi
12. Lembaga program latihan rutin fisik
3. Kognitif yang meliputi berjalan
Penurunan status mental 13. Tanda-tanda posting untuk
mengingatkan staf bahwa pasien yang
4. Lingkungan beresiko tinggi untuk jatuh
Lingkungan yang tidak terorganisasi
Ruang yang memiliki pencahayaan yang
redup
Tidak ada meteri yang antislip di tempat
mandi pancuran
Pengekangan
Karpet yang tidak rata/terlipat
Ruang yang tidak di kenal
Kondisi cuaca ( misalnya : lantai basah,es)

5. Medifikasi
Penggunaan alcohol

22
Inhibitor enzyme pengubah angiotensin
Agen anti ansietas
Agen anti hipertensi
Deuretik
Hipnotik
Narkotik/opiate
Obat penenang
Antidepresan trisiklik

6. Fisiologis
Sakit akut
Anemia
Arthritis
Penurunan kekuatan ekstremitas bawah
Diare
Kesulitan gaya berjalan
Vertigo saat mengekstensikan leher
Masaalah kaki

23
Kesulitan mendengar
Gangguan keseimbangan
Gangguan mobilitas fisik
Inkontinensia
Neoplasma ( misalnya : letih,mobilitas
terbatas )
Neuropati
Hipotensi ortostatisk
Kondisi postoperative
Perubahan gula darah postprandial
Deficit proprioseptif
Ngantuk
Berkemih yang mendesak
Penyakit vaskuler
Kesulitan melihat

24
3 Defisit Perawatan Diri NOC : NIC
Definisi 1. Self care : Activity of Daily
Hambatan kemampuan untuk melakukan aktivitas 2. Living (ADLs) Self Care assistane : ADLs
atau menyelesaikan aktivitas berpakaian sendiri, Kriteria Hasil : 1. Monitor kemempuan klien untuk
eliminasi sendiri dan makan sedndiri Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama perawatan diri yang mandiri.
3 x 24 jam Defisit perawatan diri teratas dengan 2. Monitor kebutuhan klien untuk alat-
Batasan Kharateristik kriteria hasil: alat bantu untuk kebersihan diri,
Ketidakmampuan mengacingkan pakaian Klien dapat berdandan eliminasi dan berpakaian, berhias, toileting dan
Hambatan mengambil pakaian makan dengan mandiri makan.

Hambatan mengenakan pakaian Menyatakan kenyamanan terhadap 3. Sediakan bantuan sampai klien mampu
Ketidakmampuan menggunakan higene kemampuan untuk melakukan ADLs secara utuh untuk melakukan self-care.

eliminasi tepat Dapat melakukan ADLS dengan bantuan 4. Dorong klien untuk melakukan

Ketidakmampuan naik toilet aktivitas sehari-hari yang normal


sesuai kemampuan yang dimiliki.
Ketidakmampuan memanipulasi pakaian
5. Dorong untuk melakukan secara
untuk eliminasi.
mandiri, tapi beri bantuan ketika klien
Ketidakmampuan untuk berdiri dan duduk
tidak mampu melakukannya.
di toilet
6. Ajarkan klien/ keluarga untuk
Ketidakmampuan mengambil makanan dan
Mendorong kemandirian, untuk
memasukannya ke mulut

25
Ketidakmampuan mengunyah makanan Memberikan bantuan hanya jika
Ketidakmampuan menghabiskan makanan pasien tidak mampu untuk

Ketidakmampuan makan makanan dalam melakukannya.

jumlah memadai 7. Berikan aktivitas rutin sehari- hari

Ketidakmampuan memanipulasi makanan sesuai kemampuan.

dalam mulut 8. Pertimbangkan usia klien jika

Ketidakmampuan menyapakna makanan mendorong pelaksanaan aktivitas

untuk di makan sehari-hari.

Ketidakmampuan untuk menelan

Faktor Yang Berhubungan


Gangguan kognitif
Penurunan motivasi
Ketidaknyamanan
Kendala lingkungan
Keletihan
Gangguan musculoskeletal
Gangguan neuromuscular

26
Nyeri
Gangguan persepsi
Ansietas berat

4 Hambatan Komunikasi Verbal NOC NIC


Definisi
Penurunan, keterlambatan atau ketiadaan 1. Ansiety Communication Enhancement : Speech
kemampuan untuk menerima proses mengirim 2. Coping Deficit
dan atau menggunaka sistem symbol 3. Sensori Funtion : hearing dan vision 1. Gunakan penerjemah jika diperlukan
4. Fear self control 2. Beri satu kalimat simple setiap
Batasan Kharateristik bertemu jika di perlukan
Tidak ada Kontak Mata Kriteria Hasil 3. Konsultasikan dengan dokter
Tidak Dapat Bicara Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama kebutuhan terapi wicara

Kesulitan mengekspresikan fikiran secara 3 x 24 jam klien mampu : 4. Dorong pasien untuk berkomunikasi

verbal 1. Berkomunikasi : penerimaan interpretasi secara perlahan dan untuk

Kesulitan menyusn kalinat dan ekspresi pesan mengulangi permintaan

Kesulitan menyusun kata-kata 2. Lisan, tulisan dan non verbal meningkat. 5. Dengarkan dengan penuh perhatian
3. Komunikasi ekspresif : (kesulitan berdiri di depan pasien ketika
Kesuliatan memahami pola komunikasi

27
yang biasa berbicara ekspresi pesan verbal atau non berbicara.
Kesulitan dalam kehadiran tertentu verbal yang bermakna) 6. Gunakan kertu baca, kertas, pensil,
Kesulitan menggunakan ekspresi wajah 4. Komunikasi reseptif (kesulitan bahasa tubuh, gambar, daftar kosa

Disorientasi orang, ruang dan waktu. mendengar) : penerimaan komunikasi dan kata, bahasa asing, computer, dan

Tidak bicara interprestasi pesan verbal atau non verbal lain-lain. Untuk memfasilitasi
5. Gerakan terkoordinasi : mampu komunikasi dua arah yang optimal
Dismpena ketidakmampuan dalam bahasa
mengkoordinasi gerakan dalam 7. Ajarkan bicara dari esophagus jika
pemberi asuhan
menggunakan isyarat. diperlukan
Ketidakmampuan menggunakan ekspresi
6. Pengolahan informasi : klien mampu 8. Beri anjuran kepada pasien dan
tubuh
untuk memperoleh, mengatur, dan keluarga tentang penggunaan alat
Ketidak mampuan menggunakan ekspresi
menggunakan informasi bantu bicara misalnya prostesi,
wajah
7. Mampu mengontrol respon ketakutan dan trakheoesofagus dan laring buatan
Ketidaktepatan verbalisasi
kecemasan terhadap ketidak mampuan 9. Berikan pujian positif jika
Defisit visual parsial
berbicara diperlukan
Pello
8. Mampu memanajemen kemampuan fisik 10. Anjurkan pada pertemuan kelompok
Sulit bicara
yang di miliki 11. Anjurkan kunjungan keluarga secara
Gagap
9. Mampu mengkomunikasikan kebutuhan teratur untuk member stimulus
Defisit penglihatan total dengan lingkungan sosial komunikasi.
Bicara dengan kesulitan 12. Anjurkan ekspresi diri dengan cara

28
Menolak bicara lain dalam menyampaikna informasi
misalnya bahasa isyarat.
Faktor Yang Berhubungan
Ketiadaan Orang terdekat
Perubahan Konsep Diri
Perubahan sistem syaraf pusat
Defek anatomis
Tumor otak
HDR kronik
Perubahan harga diri
Perbedaan Budaya
Penurunan Sirkulasi ke otak
Perbedaan yang berhubungan dengan usia
perkembangan
Gangguan emosi
Kurang informasi
Hambatan fisik
Kondisi psikologi

29
HDR situasional
Stress kendala lingkungan
Efek samping obat jelemahan sistem
musculoskeletal

30
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Demensia adalah kumpulan gejala atau sindrom yang disebabkan oleh


sejumlah gangguan otak sehingga terjadi penurunan fungsi kognitif yang
biasanya bersifat kronis atau progresif. Disebabkan oleh Faktor genetic,
Pengendapan suatu bentuk amiloid, Hiperfosforilisasi protein, dan Ekspresi
alel spesifik apoprotein E (ApoE). Dengan gejala-gejala yang timbul pada
dimensia gangguan memori, gangguan perhatian, gangguan dalam pemecahan
masalah, gangguan dalam kemampuan berhitung, gangguan kepribadian,
gangguan isi pikiran, gangguan afek, gangguan berbahasa. Untuk itu diagnosa
keperawatan yang dapat diambil pada pasien dengan dimensia anatara lain
kerusakan Memori, resiko Jatuh, defisit Perawatan Diri, hambatan
Komunikasi Verbal

B. SARAN

Dimensia dapat dicegah dengan beberapa cara. Oleh karena itu,


disarankan untuk menjalani pola hidup sehat seperti makan dengan gizi
seimbang, cukup istirahat dan olah raga, tidak merokok dan lain-lain agar
pada saatnya nanti para usia lanjut tidak segera mengalami kepikunan dan
masih dapat mandiri bahkan produktif. Selain itu, kemungkinan dementia
dapat dicegah dengan menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa
mengoptimalkan fungsi otak. Bagi manula, dianjurkan pula untuk saling
membentuk kelompok, sebagai suatu wadah kegiatannya sebagai model
kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas hidup usia lanjut.

31
DAFTAR PUSTAKA

Asosiasi Alzheimer Indonesia.2003 Konsesus Nasional. Pengenalan dan


Penatalaksanaan Demensia Alzheimer dan Demensialainya.Edisi
1 Jakarta.

Boedhi-Darmojo, (2009), Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Edisi 4. Jakarta :


FKUI.

Elizabeth.J.Corwin. 2009. Buku Saku : Patofisiologi. Ed.3. Jakarta : EGC

Kushariyadi.2010. Askep pada Klien Lanjut Usia. Jakarta : Salemba Medika

Linden, E., Wibowo, Y.I., Setiawan, E., 2008, Serba Serbi Gangguan Kesehatan
Pada Lanjut Usia, Universitas Surabaya: PIOLKpress

Nugroho,Wahjudi. 2004. Keperawatan Gerontik.Edisi 2.Buku Kedokteran.


EGC.Jakarta

Nugroho, W.2009. Keperawatan Gerontik & Geriatric Edisi 3.Jakarta : EGC

Stanley,Mickey.2005. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC: Jakarta.

32