Anda di halaman 1dari 17

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

RENCANA KERJA
DAN SYARAT-SYARAT TEKNIS (RKS TEKNIS)

Nama Pekerjaan : Pembangunan Bangunan Publik Bertingkat Kantor


BPR

Lokasi Pekerjaan : Jalan Dr. Setiabudi No.241 Semarang

Tahun Anggaran : 2017

1
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

SYARAT SYARAT TEKNIS

Pasal VI.01. URAIAN PEKERJAAN

1. Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Kontraktor adalah Pembangunan Prasana dan
Sarana Lingkungan Gedung Imigrasi Pati, dengan rincian secara garis besar sebagai
berikut:
a. PEKERJAAN PERSIAPAN
b. PEKERJAAN TANAH
c. PASANGAN DAN PLESTERAN
d. PEKERJAAN BETON
e. PEKERJAAN CAT
f. PEKERJAAN SALURAN
g. PEKERJAAN ATAP
h. PEKERJAAN KAYU
i. PEKERJAAN KERAMIK 30/30
j. PEKERJAAN PEMASANGAN LISTRIK

2. Sarana Pekerjaan :
Untuk kelancaran pekerjaan pelaksanaan di lapangan, Kontraktor menyediakan :
a. Tenaga Pelaksana yang selalu ada di lapangan, tenaga kerja yang terampil
dan cukup jumlahnya dengan kapasitas yang memadai dengan pengalaman
untuk prasarana gedung.
b. Bahan-bahan bangunan harus tersedia di lapangan dengan jumlah yang cukup
dan kualitas sesuai dengan spesifikasi teknis.
c. Melaksanakan tepat sesuai dengan time schedule.

3. Cara Pelaksanaan :
Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, dan sesuai dengan syarat-
syarat (RKS), gambar rencana, Berita Acara Penjelasan serta mengikuti petunjuk
dan keputusan Pengawas lapangan .

2
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

Pasal VI. PEKERJAAN PERSIAPAN


1. Bouwplank
a. Semua papan bouwplank menggunakan kayu kuat kelas II dengan ketebalan 2
cm dipasang terentang pada patok kayu ukuran 5/7 dan diserut rata pada
permukaan atas dan terpasang water pass dengan peil + 0.00.
b. Bouwplank dipasang memanjang keliling bangunan, pada as kolom dan
dinding penyekat supaya diberi tanda dengan cat warna merah / meni.
c. Bouwplank dipasang di luar garis bangunan dengan jarak minimal 2 m untuk
mencegah kelongsoran terhadap galian tanah pondasi.
d. Setelah pemasangan bouwplank selesai, Kontraktor wajib melapor kepada
Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan untuk
mendapatkan persetujuan pekerjaan selanjutnya.
2. Pembersihan dan Perapihan
Setelah pekerjaan selesai semua, permukaan harus bersih dari segala macam
kotoran dan dalam keadaan baik sempurna, serta sisa dari bahan-bahan yang sudah
digunakan yang berupa apapun harus dibersihkan atau dibuang.

Pasal VI. PEKERJAAN TANAH


1. Pekerjaan Galian
a. Pekerjaan galian untuk semua lubang, baru boleh dilaksanakan setelah papan
patok (bouwplank) dengan penandaan sumbu ke sumbu selesai diperiksa dan
disetujui oleh Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan.
b. Dalamnya galian untuk lubang pondasi harus sesuai dengan gambar kerja.
Untuk hal tersebut diadakan pemeriksaan setempat oleh Direksi/Pengawas
Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan.
c. Dasar galian harus dikerjakan dengan teliti sesuai dengan ukuran gambar kerja
dan dibersihkan dari segala kotoran.
2. Pekerjaan Urugan
a. Pekerjaan untuk urugan mencapai titik peil yang dikehendaki digunakan tanah
urug pilihan lapis demi lapis. Pekerjaan pengurugan ini dilakukan setelah
pondasi baik batu kali maupun footplat selesai dikerjakan.
b. Urugan pasir pada bawah pondasi 10 cm, pada bawah lantai 5 cm
c. Urugan kembali lubang pondasi dilakukan setelah dilakukan pemeriksanaan
pondasi.
d. Sloof dipasang di atas tanah urugan dan di atas pondasi batu kali.
3. Pemadatan

3
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

a. Kepadatan tanah harus diukur dengan nilai dry density contoh tanah sebagai
persentase kepadatan kering maksimum pada kadar air optimum sebagaimana
ditetapkan pada pengujian (test).
b. Semua bahan yang akan digunakan untuk urugan harus sesuai dengan ayat ini
dan harus dipadatkan sampai 90 % kepadatan kering. Pemadatan dari seluruh
bahan-bahan harus dilakukan dengan penyiraman optimum untuk
mendapatkan hasil pemadatan yang dikehendaki Direksi/Pengawas
Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan.

Pasal VI.PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN


1. Pekerjaan Pasangan
a. Pasangan pondasi batu kali dengan campuran 1Pc : 4Ps seperti yang
ditunjukkan pada gambar kerja.
b. Pasangan batu bata dengan campuran 1Pc : 4Ps tebal bata untuk semua
pasangan dinding batu bata seperti yang ditunjukkan pada gambar kerja.
c. Pasangan batu bata dengan campuran 1Pc : 4Ps tebal 1 bata untuk pasangan
Rollag bata seperti yang ditunjukkan pada gambar kerja.
d. Batu bata sebelum dipasang harus direndam dalam air terlebih dahulu sampai
jenuh.
e. Pasangan batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap ditunggu sampai kuat
betul minimal 1 hari untuk pasangan berikutnnya.
f. Batu bata yang kurang dari 1/2 (setengah) tidak boleh dipasang kecuali pada
bagian-bagian yang membutuhkan.
g. Siar harus dikorek sebelum diplester dan pasangan batu bata yang menempel
dengan beton tidak boleh tembus pandang.
h. Pasangan batu bata yang telah berdiri harus terus menerus dibasahi air selama
7 (tujuh) hari, setiap hari sekali pada pagi hari.
2. Pekerjaan Plesteran
a. Pada dasarnya spesi untuk plesteran sama dengan campuran spesi untuk
pekerjaan pasangannya.
b. Sebelum pekerjaan plesteran dilakukan, bidang-bidang yang akan diplester
harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dibasahi dengan air agar plesteran
tidak cepat kering dan tidak retak-retak.
c. Semua permukaan beton yang diplester permukaanya harus dikasarkan terlebih
dahulu.
d. Adukan untuk plesteran harus benar-benar halus sehingga plesteran tidak
terlihat pecahpecah.
e. Tebal plesteran 1,5 cm.
f. Plesteran supaya digosok berulang-ulang sampai mantap dengan acian PC
sehingga tidak terjadi retak-retak dan pecah dengan hasil halus dan rata.
g. Pekerjaan plesteran terakhir harus lurus, rata, vertikal dan tegak lurus dengan
bidang lainnya.

4
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

h. Semua pekerjaan plesteran harus menghasilkan bidang yang tegak lurus, halus,
tidak bergelombang. Sedang sponeng/tali air harus lurus dan baik.

Pasal VI. PEKERJAAN BETON BERTULANG 1.


Pekerjaan yang harus dilaksanakan adalah :
a. Sloof beton bertulang, kolom praktis, ring balok struktur, dan balok latiu.
b. Sesuai dengan gambar perencanaan.

2. Persyaratan Umum :
a. Beton tak bertulang dengan spesi 1Pc : 3Ps : 6Split
b. Beton bertulang spesi 1Pc : 2Ps : 3Split atau mutu K.225 (Struktur).
c. Pembuatan cetakan beton.
d. Konstruksi harus menggunakan peralatan-peralatan/normalisasi yang berlaku
di Indonesia seperti PBI, SNI, PMI, PKKI dan lain-lain.

3. Bahan-bahan
a. Bahan menggunakan adukan beton adukan ditempat dengan memakai molen,
kontrol mutu sesuai dengan spesifikasi di bawah ini :
1) Agregat beton
a) Agregat beton berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu
dengan Wet Sistem Stone Crusher.
b) Agregat beton harus sesuai dengan spesifikasi agregat beton menurut
ASTM-C 33.
c) Ukuran terbesar agregat beton adalah 2,5 cm.
d) Sistem penyimpanan harus sedemikian rupa agar memudahkan
pekerjaan dan menjaga agar tidak terjadi kontaminasi bahan yang tidak
dinginkan.
e) Agregat harus bersih dari segala kotoran, tidak melebihi 5 %.
2) Agregat kasar
a) Agregat kasar untuk beton harus terdiri dari butir-butir yang kasar, tidak
berpori dan berbentuk kubus.
b)Bila ada butir-butir yang pipih jumlahnya tidak boleh melampaui 20 %
dari jumlah berat seluruhnya.
c) Agregat kasar tidak boleh mengalami pembubukan hingga melebihi 50
% kehilangan berat menurut test mesin Los Angeles ASTM-C 131-55.
d) Agregat kasar harus bersih dari zat-zat organis , zat-zat reaktif alkali
atau substansi yang merusak beton.
3) Agregat halus
a) Agregat halus dapat digunakan pasir alam yang berasal dari pasir lokal
dan memenuhi persyaratan sebagai agregat halus untuk campuran
beton.

5
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

b) Pasir harus bersih dari bahan organis, zat-zat alkali dan substansi-
substansi yang merusak beton.
c) Pasir tidak boleh mengandung segala jenis substansi tersebut lebih dari
5 %.
d) Pasir laut tidak boleh digunakan untuk beton.
e) Pasir harus terdiri dari partikel-partikel yang tajam dan keras.
f) Cara dan penyimpanan harus sedemikian rupa agar menjamin
kemudahan pelaksanaan pekerjaan dan menjaga agar tidak terjadi
kontaminasi yang tidak dinginkan.

4) PC (Portland Cement)
a) Semen yang dipakai harus dari mutu yang disyaratkan NI-8 bab 3.2 PC
type I.
b) Kontraktor harus mengusahakan agar satu merk semen saja yang
dipakai untuk seluruh pekerjaan beton.
c) Semen ini harus dibawa ke tempat pekerjaan dalam zak yang tertutup
oleh pabrik dan terlindung serta harus dalam jumlah sesuai urutan
pengirimannya.
d) Penyimpanannya harus dilaksanakan dalam tempat-tempat rapat air
dengan lantai terangkat dan ditumpuk dalam urutan pengirimannya.
Semen yang rusak atau tercampur apapun tidak boleh dipakai dan harus
dikeluarkan dari lapangan.
e) Pembesian
f) Besi penulangan beton harus disimpan dengan cara-cara sedemikian
rupa, sehingga bebas dari hubungan langsung dengan tanah lembab
maupun basah.
g) Besi penulangan harus disimpan berkelompok berdasarkan ukuran-
ukuran masingmasing besi penulangan rangka maupun besi-besi
penulangan bergelombang (Deformed bar) harus sesuai dengan
persyaratan dalam NI-2 bab 3.7.
h) Besi penulangan yang akan digunakan harus bebas dari karat dan
kotoran lain, apabila harus dibersihkan dengan cara disikat atau digosok
tanpa mengurangi diameter penampang besi atau dengan bahan cairan
sejenis Vikaoxy off yang disetujui Pengawas.
i) Direksi atau Pengawas berhak untuk memerintahkan untuk menambah
besi tulangan di tempat yang dianggap perlu sampai maksimum 5 %
dari tulangan yang ada di tempat tersebut, meski tidak tertera dalam
gambar struktur, tanpa biaya tambahan.
j) Penulangan harus terdiri dari baja keras dengan mutu U 39 dan Baja
lunak U 24 sesuai SNI 03-2847-2002.

6
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

5) Kawat pengikat
a) Harus berukuran minimal diameter 1 mm seperti yang disyaratkan
dalam NI-2 bab 3.7.
6) Air
a) Air harus bersih dan jernih sesuai dengan persyaratan dalam NI-2 bab
3.6.
b) Sebelum air untuk pengecoran digunakan harus terlebih dahulu
diperiksakan pada laboratorium PAM / PDAM setempat yang disetujui
pengawas dan biaya sepenuhnya ditanggung oleh Kontraktor.
c) Kontraktor harus menyediakan air atas biaya sendiri.
d) Additive
e) Untuk mencapai slump yang disyaratkan dengan mutu yang tinggi bila
diperlukan campuran beton dapat menggunakan bahan additive
POZZOLITH 300 R atau yang setaraf.
f) Bahan tersebut harus disetujui oleh Direksi/Pengawas Lapangan/Tim
Pengelola Teknis Kegiatan. Additive yang mengandung Chloride atau
Nitrat tidak boleh digunakan

4. Pelaksanaan
a. Sebelum dilaksanakan, Kontraktor harus mengadakan Trial test atau mixed
design yang dapat membuktikan bahwa mutu beton yang disyaratkan dapat
tercapai. Dari hasil test tersebut ditentukan oleh Direksi/Pengawas
Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan, deviasi standar yang akan
dipergunakan untuk menilai mutu beton selama pelaksanaan.
b. Pengecoran beton
1) Pengecoran beton dapat dilaksanakan setelah Kontraktor mendapat ijin
secara tertulis dari Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis
Kegiatan. Permohonan ijin rencana pengecoran harus diserahkan paling
lambat 2 (dua) hari sebelumnya.
2) Sebelum pengecoran dimulai Kontraktor harus sudah menyiapkan seluruh
stek-stek maupun anker-anker dan sparing-sparing yang diperlukan, pada
kolom-kolom, balokbalok beton untuk bagian yang akan berhubungan
dengan bata maupun pekerjaan instalasi.
3) Kecuali dinyatakan lain pada gambar, maka stek-stek dan angker-angker
dipasang dengan jarak setiap 1 meter.
4) Persetujuan Direksi untuk mengecor beton berkaitan dengan pelaksaan
pekerjaan stekan dan pemasangan besi serta bukti bahwa Kontraktor dapat
melaksanakan pengecoran tanpa gangguan. Persetujuan tersebut di atas
tidak mengurangi tanggung jawab Kontraktor atas pelaksanaan pekerjaan
beton secara menyeluruh.
5) Adukan beton tidak boleh dituang bila waktu sejak dicampurnya air pada
semen dan agregat atau semen pada agregat telah melampaui 1 jam dan

7
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

waktu ini dapat berkurang lagi jika Direksi menganggap perlu didasarkan
pada kondisi tertentu.
6) Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga menghindarkan terjadinya
pemisahan material (segregation) dan perubahan letak tulangan.
7) Cara penuangan dengan alat-alat pembantu seperti talang, pipa, chute dan
sebaganya, harus mendapat persetujuan Direksi/Pengawas Lapangan/Tim
Pengelola Teknis Kegiatan.
8) Alat-alat penuang seperti talang, pipa chute dan sebagainya harus selalu
bersih dan bebas dari lapisan-lapisan beton yang mengeras.
9) Adukan beton tidak boleh dijatuhkan secara bebas dari ketinggian lebih
dari 2 meter.
10) Selama dapat dilaksanakan sebaiknya digunakan pipa yang terisi penuh
adukan dengan pangkalnya terbenam dalam adukan yang baru dituang.
11) Penggetaran tidak boleh dilaksanakan pada beton yang telah mengalami
Initialset atau yang telah mengeras dalam batas dimana akan terjadi
plastis karena getaran.
12) Semua pengecoran bagian dasar konstruksi beton yang menyentuh tanah
harus diberi lantai dasar setebal 5 cm agar menjamin duduknya tulangan
dengan baik dan penyerapan air semen dengan tanah.
13) Bila pengecoran harus berhenti sementara beton sudah menjadi keras dan
tidak berubah bentuk, harus dibersihkan dari lapisan air semen (laitances)
dan partikelpertikel yang terlepas samapi suatau kedalaman yang cukup
sampai tercapai beton yang padat.
14) Segera setelah pemberhentian pengecoran ini maka adukan yang lekat
pada tulangan dan cetakan harus dibersihkan.
c. Pemadatan beton
1) Kontraktor harus bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan untuk
mengangkat dan menuang beton dengan kekentalan secukupnya agar
beton padat tanpa menggetarkan secara berlebihan.
2) Selama proses pengecoran berlangsung, maka beton harus dipadatkan
dengan alat mekanis (internal / eksternal vibrator), kecuali jika
Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan mengijinkan
pemadatan dengan tenaga manusia, maka dapat dilakukan denan cara
memukul mukul acuan dari luar, mencocol atau menusuk nusuk adukan
beton secara kontinyu.
3) Pelaksanaan penuangan dan penggetaran beton adalah sangat penting.
Beton digetarkan dengan vibrator secukupnya dan dijaga agar tidak
berlebihan (overvibrate). Hasil beton yang berongga-rongga / pemisahan
bahan - bahan dan terjadi pengantongan beton-beton tidak akan diterima.
4) Penggetaran tidak boleh dengan maksud mengalirkan beton.
5) Pada daerah pembesian yang penuh (padat) harus digetarkan dengan
penggetar frekuensi tinggi 0,2 cm agar dijamin pengisian beton dan
pemadatan yang baik.

8
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

6) Penggetaran beton harus dilaksanakan oleh tenaga kerja yang mengerti dan
terlatih dan pelaksanaan pemadatan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk
Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan.

d. Slump (kekentalan beton)


Kekentalan beton untuk jenis konstruksi berdasarkan pengujian dengan PBI-
1971 adalah sebagai berikut :

Slump/Max Min
Jenis Konstruksi
(mm) (mm)

a. Kaki dan dinding


125 50
pondasi
150 75
b. Pelat, balok dan dinding
150 75
c. Kolom
125 50
d. Pelat di atas tanah

Bila tidak digunakan alat penggetar dengan frekuensi getaran tinggi nilai
tersebut di atas dapat dinaikkan sebesar 50 %, tetapi dalam hal apapun tidak
boleh melebihi 150 mm.
e. Pengujian kekuatan beton
1) Selama masa pelaksanaan, mutu beton harus diperiksa secara kontinyu
dari hasil pemeriksaan benda uji. Paling sedikit setiap 5 m3 beton harus
dibuat 1 sampel benda uji, atau untuk seluruh bangunan dibuat minimal
sampai 20 benda uji.
2) Benda uji harus diperiksa kekuatan tekannya di laboratorium yang
disetujui Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan
dengan biaya menjadi tanggungan kontraktor dan hasil kuat tekan harus
sesuai dengan ketentuan SNI 03-24872002.
3) Mutu beton yang disyaratkan K 225.
f. Pemeriksaan lanjutan
1) Apabila hasil pemeriksaan tersebut di atas masih meragukan, maka
pemeriksaaan lanjutan dilakukan dengan menggunakan concrete gun atau
kalau perlu dengan core drilling untuk meyakinkan penilaian terhadap
kualitas beton yang sudah ada sesuai dengan SNI 03-2487-2002.
2) Seluruh biaya pekerjaan pemeriksaan lanjutan ini sepenuhnya menjadi
tanggungan Kontraktor.
g. Cetakan Beton / Bekisting
1) Standard
Seluruh cetakan harus mengikuti persyaratan-persyaratan di bawah ini :
a) NI 2 1971
b) NI 3 1979

9
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

2) Bahan-bahan
a) Bekisting harus dibuat dari kayu kelas II tebal 3 cm dengan permukaan
yang rata dan diketam halus, sehingga diperoleh permukaan beton yang
baik.
b) Agar bekisting kuat, tidak bergoyang dan tidak melendut, harus
dipasang penopang dari kayu ukuran 5 x 7 cm.
c) Bekisting harus bebas dari kotoran-kotoran, potongan-potongan serta
serbuk gergaji, tanah dan lain-lain.
d) Semua bekisting yang dibangun harus teguh, alat-alat dan usaha-usaha
membuka cetakan-cetakan harus sesuai dan cocok tanpa merusak
permukaan dari beton yang telah selesai.
e) Semua bekisting harus betul-betul teliti dan aman pada kedudukannya
sehingga dicegah pengembangan atau lain-lain gerakan selama
penuangan adukan beton.
f) Bekisting harus dibuat dan disangga sedemikian rupa sehingga dapat
dicegah dari kerusakan-kerusakan dan dapat mempermudah
penumbukan pada waktu pemadatan adukan mortar beton tanpa
merusak kontruksi.
g) Sewaktu-waktu Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis
Kegiatan dapat menolak sesuatu bagian dari bentuk yang tidak dapat
diterima dan Kontraktor harus dengan segera membongkar bentuk yang
ditolak dan untuk menggantinya atas bebannya sendiri.
h) Bekisting dapat dipergunakan maksimal 3 kali. Pembongkaran
bekisting dapat dilakukan minimal 3 (tiga) hari setelah konstruksi dicor
atau harus seijin Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis
Kegiatan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga menjamin
keamanan sepenuhnya.
i) Perancah menggunakan bambu/kayu beserta perlengkapannya.
Pemasangannya harus benar-benar kokoh dan tidak berubah tempat
sebelum dan selama pengecoran.
j) Cetakan beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari
Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan atau jika
umur beton telah melampaui waktu sebagai berikut :
(1) Bagian bawah sisi balok 28 hari
(2) Balok tanpa beban konstruksi 7 hari
(3) Balok dengan beban konstruksi 21 hari
(4) Pelat lantai / atap 21 hari
k) Dengan persetujuan Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola
Teknis Kegiatan cetakan beton dapat dibongkar lebih awal asal benda
uji yang kondisi perawatannya sama dengan beton sebenarnya telah
mencapai kekuatan 75 % dari kekuatan pada umur 28 hari. Segala ijin
yang diberikan oleh Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis
Kegiatan sekali-kali tidak boleh menjadi bahan untuk

10
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

mengurangi/membebaskan tanggung jawab Kontraktor dari adanya


kerusakankerusakan yang timbul akibat pembongkaran cetakan
tersebut.
l) Pembongkaran cetakan beton tersebut harus dilaksanakan dengan hati-
hati sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan cacat pada
permukaan beton, tetap dihasilkan sudut-sudut yang tajam dan tidak
pecah.
m) Bekas cetakan beton untuk bagian-bagian konstruksi yang terpendam
dalam tanah harus dicabut dan dibersihkan sebelum dilaksanakan
pengurugan tanah kembali.
3) Cacat pada Beton
Meskipun hasil pengujian kubus memuaskan, Direksi/Pengawas
Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan mempunyai wewenang untuk
menolak konstruksi beton yang cacat, seperti berikut :
a) Konstruksi beton yang keropos.
b) Konstruksi beton yang tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan
atau profil profil tidak seperti yang ditunjuk pada gambar.
c) Konstruksi beton yang berisikan kayu atau bahan bahan lainnya.
d) Jika menurut pendapat Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola
Teknis Kegiatan, beton tersebut cacat, maka Kontraktor wajib
memperbaikinya atau membongkarnya kembali sesuai petunjuk
Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan.

Pasal VI. PEKERJAAN CAT


1. B a h a n
a. Pengertian cat disini meliputi cat-cat dinding bata, beton, , besi yang tampak ter-
expose dengan bahan cat emulsion merk sekualitas Decolith (cat tembok) dan
sekualitas Bee brand (cat besi).
b. Cat-cat/plamir yang didatangkan harus dalam keadaan utuh dalam kemasan
kaleng, tertera nama perusahaannya dan serta masih terdapat segel yang utuh.
c. Semua cat yang dipakai harus mendapatkan persetujuan dari Direksi/Pengawas
Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan.
d. Plamir dan dempul untuk pekerjaan cat tembok dan kayu digunakan merk yang
sama dengan merk cat yang dipilih.
e. Cat meni digunakan sesuai dengan cat jadi dan sesuai dengan penggunaan cat.
f. Bahan pengencer digunakan dari produksi pabrik dari bahan yang diencerkan.

2. Macam Pekerjaan
Mengecat dengan cat tembok dan cat kayu untuk semua bidang exterior dan interior
seperti dinyatakan dalam gambar.

11
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

3. Cara Pelaksanaan
a. Cat Tembok
Bidang bagian dalam yang akan dicat sebelumya digosok memakai kain yang
dibasahi air. Setelah kering didempul pada tempat yang berlubang sehingga
permukaannnya rata dan licin untuk kemudian dicat paling sedikit 2 (dua) kali
dengan roler minimal 20 cm sampai baik atau dengan cara yang telah ditentukan
oleh pabrik.
b. Cat Kayu
Semua pekerjaan yang telah dicat meni, baru boleh dicat kilap setelah terlebih
dahulu dibersihkan dari kotoran yang menempel. Pengecatan minimum 2 (dua)
kali. Pengecatan yang dilakukan diatur ketika keadaan mendung dan hujan tidak
diperkenankan. Bahan yang digunakan sekualitas produk Bee Brand.
c. Pelaksanaan pekerjaan cat harus sesuai peraturan yang berlaku.

Pasal VI. PEKERJAAN PAVING BLOCK


Lingkup pekerjaan
a. Pekerjaan paving block ini meliputi seluruh pekerjaan paving block seperti
yang ditunjukkan dalam gambar kerja.
b. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan
alat-alat bantu lainnya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini
sehingga diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
c. Pekerjaan ini termasuk pengadaan dan pelaksanaan pekerjaan sub grade dan
lantai kerja sesuai dengan seluruh detail yang disebutkan / ditunjukkan dalam
gambar.
d. Kemiringan lantai dibuat ke arah pembuangan air seperti yang ditunjukkan
dalam gambar.
Persyaratan bahan
a. Semua material yang akan digunakan harus memenuhi standar SII, terutama
pada hal-hal kekuatan, ukuran, perubahan warna.
b. Material paving blok yang digunakan setara dengan merek Conblock Indonesia
atau lainnya ditentukan dengan test laboratorium atau sertifikat.
Syarat-syarat pelaksanaan
a. Bahan-bahan yang dipakai sebelum digunakan terlebih dahulu harus
diserahkan contohcontohnya untuk mendapatkan persetujuan dari
Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan.
b. Material lain yang tidak ditentukan dalam persyaratan di atas, tetapi dibutuhkan
untuk penyelesaian / penggantian dalam pekerjaan ini, harus baru, kualitas
terbaik dari jenisnya dan harus disetujui Konsultan Pengawas / Pemberi Tugas.
c. Untuk pasangan paving blok yang langsung di atas tanah, maka lapisan pasir
urug sub grade dan lantai kerja di bawahnya harus sudah dikerjakan dengan
sempurna (telah dipadatkan sesuai persyaratan) dan memiliki kemiringan
permukaan 2,5 % dan telah mempunyai daya dukung maksimal sesuai yang

12
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

ditujukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas / Pemberi


Tugas.
d. Pekerjaan-pekerjaan di bawah tanah, lubang service dan lainnya harus
dikerjakan dan diselesaikan sebelum pekerjaan paving blok dilaksanakan.
e. Sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor diwajibkan membuat shop drawing
dari pola paving block untuk disetujui Konsultan Pengawas / Pemberi Tugas.
f. Jarak antara unit-unit pemasangan paving block yang terpasang (lebar siar-
siar), harus sama lebar maksimum 5 mm, atau sesuai detail gambar serta
petunjuk Konsultan Pengawas / Pemberi Tugas, yang membentuk garis-garis
sejajar dan lurus yang sama lebarnya, untuk siar-siar yang berpotongan harus
membentuk sudut siku dan saling berpotongan tegak lurus sesamanya.
g. Pertemuan unit paving block dengan curb, trotoir harus menggunakan key
block dan pemotongan harus menggunakan alat pemotong khusus sesuai
persyaratan dari pabrik yang bersangkutan.
h. Areal pemasangan paving block harus dipadatkan dengan plate vibrator ukuran
plate 0,3 0,5 m2 dan mempunyai tekanan sentrifugal 1,6 2,0 ton. Pemadatan
dilakukan 3 kali sebelum siar-siar di isi pasir, setelah itu dipadatkan dan
diratakan beberapa kali dengan roller 3 ton.
i. Area paving block tidak boleh digunakan sebelum seluruh area selesai dan
terkunci.
j. Untuk setiap paving block, toleransi deviasi tidak lebih dari 6 mm dan
perbedaaan ketinggian setiap blok tidak lebih dari 2 mm.
k. Seluruh pekerjaan paving block harus bebas dari kotoran semen maupun oli.
l. Selama pemasangan dan setidaknya 3 hari setelah selesainya pekerjaan, seluruh
area paving block harus tertutup dari lalu lintas dan pekerjaan lainnya.

Pasal VI. PEKERJAAN SALURAN

1. Elevasi galian dasar selokan yang telah selesai dikerjakan tidak boleh berbeda lebih
dari 1 cm dari yang ditentukan atau disetujui pada tiap titik, dan harus cukup halus
dan merata untuk menjamin aliran yang bebas dan tanpa genangan bilamana
alirannya kecil.
2. Alinyemen selokan dan profil penampang melintang yang telah selesai dikerjakan
tidak boleh bergeser lebih dari 5 cm dari yang ditentukan atau telah disetujui pada
setiap titik.
3. Contoh bahan yang akan digunakan untuk saluran yang dilapisi harus diserahkan
kepada Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan.
4. Setelah selesainya pekerjaan pembentukan penampang selokan, Kontraktor harus
meminta persetujuan Direksi Pekerjaan sebelum bahan pelapis selokan dipasang.
5. Pelaksanaan pekerjaan selokan yang tidak memenuhi kriteria toleransi yang
diberikan dalam Pasal 2.1.1.(4) di atas, harus diperbaiki oleh Kontraktor seperti
yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

13
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

Pekerjaan perbaikan dapat meliputi :


a) Penggalian atau penimbunan lebih lanjut, bilamana diperlukan termasuk
penimbunan kembali dan dipadatkan terlebih dulu pada pekerjaan baru
kemudian digali kembali hingga memenuhi garis yang ditentukan;
b) Perbaikan dan penggantian pasangan batu dengan mortar yang cacat.

Pasal VI. PEKERJAAN ATAP


1. Lingkup pekerjaan atap meliputi :
a. Pembuatan gording menggunakan bahan kayu bengkirai sesuai gambar kerja.
b. Pemasangan penutup atap dengan dengan asbes gelombang.
2. Pelaksanaan pekerjaan
a. Sebelum kayu dipesan untuk dikerjakan terlebih dahulu diawetkan dengan
bahan anti rayap (perendaman garam wolfman) atau sesuai dengan petunjuk
direksi.
b. Semua kayu yang dipakai harus kering, berumur tua, lurus dan tidak retak,
tidak bengkok, serta tidak mempunyai derajat kelembaban kurang dari 15 %
dan memenuhi persyaratan yang tercantum dalam PPKI 1971-SNI.
c. Semua pekerjaan kayu yang tampak harus diserut rata dan licin hingga
memberikan penyelesaian yang baik dan sedikit penghalusan.
d. Gording, Murplat, Gapit dan Nok kayu menggunakan kayu Bengkirai kualitas
baik dengan ukuran sesuai gambar rencana.
e. Bahan penutup atap sebelum dipasang harus diseleksi terlebih dahulu, dan
bahan yang dipasang harus sesuai dengan contoh yang disetujui oleh Direksi
Pekerjaan.
f. Penutup atap menggunakan asbes gelombang yang dipasang rapat sehingga
tidak bocor bila ada hujan.
g. Sebelum pemasangan penutup atap dilaksanakan, harus dicek kemiringan dan
kerataan rangka atap sehingga diperoleh bidang yang sesuai.

Pasal VI. PEKERJAAN KAYU


1. Lingkup pekerjaan kosen meliputi :
a. Pembuatan kosen pintu dan kisen jendela nako 6/12 kayu Bengkirai, sesuai
gambar perencanaan / bestek.
b. Pembuatan daun pintu 4/12 panil kayu bengkirai, sesuai gambar perencanaan /
bestek.
c. Pemasangan alat-alat gantung seperti engsel pintu , kunci tanam 2 x putar:
1) Setiap pintu dipasang 3 (tiga) buah engsel. 2) Kunci tanam pada pintu
panil bengkirai.
d. Pemasangan kaca tebal 5 mm.

14
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

2. Persyaratan Pelaksanaan Pekerjaan :


a. Pekerjaan Kosen
1) Penyetelan dijaga agar permukaan tidak cacat, kayu penyokong tidak
boleh dipasang pada bidang luar dan dipasang sedemikian rupa sehingga
kayu penyokong mudah dilepas setelah kosen dipasang kokoh.
2) Bagian-bagian yang tertanam atau berhubungan langsung dengan bahan
lain seperti misal tembok, beton serta bagian lain, sebelumnya harus
dimeni sampai rata.
3) Setiap kosen baru yang berhubungan dengan dinding harus diberi angkur
dari besi sebanyak 4 buah untuk kosen pintu.
4) Kosen-kosen harus dilindungi supaya sudut-sudutnya tidak rusak selama
waktu penyetelan sampai pengecatan
5) Semua kosen pintu/jendela, sebelum dan sesudah terpasang harus water
pass.
6) Di atas kosen dengan bentangan 100 cm atau lebih harus dipasang balok
latei beton bertulang.
7) Semua sambungan kayu dibuat dengan kaidah secara teknis, rapi, rapat,
kuat serta pada sambungan harus dilem kayu.
8) Semua pekerjaan kosen yang kelihatan, harus diketam sampai halus dan
rata.
9) Semua ukuran kayu yang tersebut dalam gambar adalah ukuran kayu jadi
setelah mengalami proses pembuatan antara lain.
b. Pekerjaan daun pintu
1) Pemasangan daun pintu harus tepat pertemuannya dengan kosen.
2) Untuk daun pintu panil menggunakan panil atau sesuai gambar, kualitas
baik. Konstruksi pelaksanaan sesuai gambar.
3) Kaca yang dipakai kaca bening, tebal sesuai gambar 5 mm, semua kaca
harus benarbenar datar dan tidak boleh menggelombang.

Pasal VI.PEKERJAAN KERAMIK 30/30 PUTIH


POLOS 1. Lingkup Pekerjaan meliputi :
a. Pekerjaan lantai keramik seperti yang ditunjukkan pada gambar kerja.
b. Meratakan dengan pasir dengan ketebalan sesuai gambar kerja.
c. Membuat landasan lantai keramik dari beton rabat 1:3:5 tebal 5 cm.
d. Pemasangan ubin lantai dengan keramik 40/40 cm (ruang utama), 30/30 cm
tekstur kasar (selasar), 20/20 cm (lantai KM/WC), 20/25 cm (keramik dinding)
sekualitas ASIA TILE,
ROMAN, MILAN
e. Pembuatan liskol / plint lantai tinggi 10 cm.

15
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

2. Syarat Pelaksanaan Pekerjaan :


a. Secara keseluruhan ubin pada lantai digunakan ubin keramik 40/40 dengan
kualitas baik dan telah mendapatkan persetujuan tertulis dari Owner atau
Direksi.
b. Sebelum lantai keramik dipasang, lantai di floor setebal 7 cm atau pembuatan
lantai kerja sesuai bestek/gambar perencanaan.
c. Setelah keramik terpasang dengan baik dan telah mendapat persetujuan secara
tertulis dari Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan
dinyatakan baik, baru dapat dimulai pekerjaan pengolotan (cor nat ubin dengan
Pc) hingga menghasilkan nat-nat yang sama lebarnya dan rata. Sebelum
pekerjaan pembersihan kolotan selesai, maka pekerjaan pembersihan kolotan
harus tetap diteruskan hingga betul-betul bersih walaupun jam kerja telah usai.
Penundaan pembersihan sisa kolotan akan berakibat sulitnya pembersihan sisa
semen tersebut.
d. Seluruh bidang-bidang permukaan ubin setelah terpasang harus datar, nat-
natnya merupakan garis lurus vertikal/horisontal.
e. Pemasangan keramik dapat dilaksanakan setelah pemasangan atap dan plafond
selesai.
f. Ubin yang akan digunakan harus telah mendapatkan persetujuan
Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan.
g. Ubin yang cacat, retak tepinya, noda-noda atau cacat warna tidak boleh
dipasang, jika sudah terpasang harus dibongkar dan diganti.

Pasal VI. PEKERJAAN PEMASANGAN LISTRIK


1. Tiang Besi 7 meter
Menggunakan pipa besi hitam dengan tebal besi 3 mm +, 5 2 m, 4 2 m,
3 2 m, 2 3 m dicat warna hijau tua.
Accessories tiang dipasang di sambungan pipa dan lengkung pipa, dicat warna
kuning emas.
Plendes tiang menggunakan besi ukuran 0,3 x 0,3 m dengan tebal 1,5 cm.
2. Housing/Kap Lampu
Menggunakan kap lampu luar ruangan kedap air dan serangga dengan kualitas
baik.
Lampu penerangan jalan dan halaman menggunakan lampu type SON T 150
watt dan ballast BSN 150 watt, dilengkapi innector dan kapasitor sesuai
ukuran tabel SII/LMK/SPLN.
3. Lampu Taman 1
Menggunakan kap lampu luar ruangan type borobudur dengan lampu hemat
energi 45/36 watt dengan kualitas baik dan tertera SII/LMK/SPLN.

16
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

4. Lampu Taman 2
Menggunakan kap lampu luar ruangan type TO-66 E-27 OPAL GLASS &
CASTING dengan lampu hemat energi 45/36 watt dengan kualitas baik dan
tertera SII/LMK/SPLN.
5. Hantaran Tanah
Kabel NYY 4 x 16 mm2 tertera
SII/LMK/SPLN Kabel NYY 4 x 4 mm2
tertera SII/LMK/SPLN
Kabel NYY 4 x 3 mm2 tertera SII/LMK/SPLN
Semua hantaran tanah menggunakan pipa pelindung PVC sesuai ukuran kabel
dengan kualitas baik
6. Panel Lampu
Menggunakan box panel ukuran 0,4 x 0,6 x 0,2 meter dengan kualitas baik dan
terkunci, di dalamnya terdiri dari : Contactor Magnetis 25 A, timer
otomatis, 3 MCB @ 10 A, terminal kabel 125 A
7. Semua bahan yang akan dipasang harus terlebih dahulu harus ditunjukkan dan
mendapatkan persetujuan dari Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola
Teknis Kegiatan.

Pasal VI.28. PEKERJAAN LAIN - LAIN


1. Segala sesuatu yang belum tercantum dalam RKS ini yang mana masih termasuk
lingkup dalam pelaksanaan ini kontraktor harus menyelesaikan, sesuai dengan
petunjuk, Perintah Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas, baik sesudah atau
selama berjalannya pekerjaan, serta perubahan-perubahan di dalam Berita Acara
Aanwijzing.
2. Hal-hal yang timbul dalam pelaksanaan dan diperlukan penyelesaian di lapangan
akan dibicarakan dan diatur oleh Konsultan Pengawas, dengan dibuat Berita
Acara yang disyahkan oleh Pemberi Tugas.

17