Anda di halaman 1dari 8

EPISTIMOLOGI, ONTOLOGI, AKSIOLOGI, PENGETAHUAN SAINS

Sains merupakan kebutuhan pokok bagi setiap individu untuk menghadapi zaman
yang penuh dengan persaingan ini. Karena dengan sains, seseorang bisa dihormati dan diakui
keberadaannya oleh masyarakat. Selain itu, sains juga menjadi salah satu indikator kemajuan
suatu bangsa, karena pada dasarnya semua bidang kehidupan memerlukan sains. Sains atau
ilmu pengetahuan pada zaman klasik tak terpisah dengan filsafat. Filsafat mengambil
pengetahuan yang terpotong-potong dari berbagai ilmu, kemudian mengaturnya dalam
pandangan hidup yang lebih sempurna dan terpadu. Seiring dengan perkembangan teknologi
yang semakin pesat, doktrin positifisme yang hanya memusatkan diri pada hal yang faktual
pun mulai merajarela. Ia semakin perkasa dan seakan-akan membenarkan bahwa teologis,
metafisis adalah masa kanak-kanak pertumbuhan masyarakat dunia. Apalagi teknologi yang
semakin membantu manusia dalam berbagai aktivitasnya, misalnya mobil, telepon, internet
dan sebagainya, memberantas penghalang hubungan manusia modern. Sehingga jarak dan
waktu bukan jadi masalah lagi.
Tetapi di tengah kemajuan teknologi tersebut, ada masalah yang mulai menyelimuti
manusia. Teknologi yang awalnya diciptakan untuk melayani dan mempermudah manusia
pada perjalanannya lain. Kini teknologi mulai berbalik menyerang manusia. Manusia mulai
kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. Banyak kemajuan teknologi yang justru merusak
lingkungan dan nilai kemanusiaan.
Para filsuf terdahulu seperti Aristoteles dan Plato selalu mendasarkan
penyelidikannya pada metafisika. Plato misalnya, menyatakan bahwa pengetahuan yang kita
punya saat ini adalah bawaan dari alam idea. Proses berfikir ia samakan dengan proses
mengingat apa-apa yang pernah dilihat oleh manusia di alam idea dahulu. Baginya,
pengetahuan manusia bersifat apriori (mendahului pengalaman). Begitu pula dengan para
filsuf-filsuf sebelumnya. Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi
yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan
yang juga filosuf.

2.1 Pengertian SAINS


Kata sains berasal dari bahasa latin scientia yang berarti pengetahuan.
memandang dan mengamati keberadaan (eksistensi) alam ini sebagai suatu objek.
Berdasarkan Webster New Collegiate Dictionary definisi dari sains adalah pengetahuan
yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian atau pengetahuan yang melingkupi
suatu kebenaran umum dari hukum-hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan
dibuktikan melalui metode ilmiah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sains berarti :
1. Ilmu teratur (sistematis) yang dapat diuji kebenarannya
2. Ilmu yang berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata (fisika, kimia dan biologi).

Sains pada prinsipnya merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan


mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman
dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari dan dilanjutkan dengan suatu pemikiran
secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan
dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survey, studi kasus dan lain-lain. Istilah
common sense sering dianalogikan dengan good sense, karena seseorang dapat menerima
dengan baik. Jadi, kaitannya dengan sains, sains beranjak dari common sense, dari
peristiwa sehari-hari yang dialami manusia namun terus dilanjutkan dengan suatu
pemikiran yang logis dan teruji.
Sains merupakan suatu metode berpikir secara objektif. Tujuannya
menggambarkan dan memberi makana pada dunia yang faktual. Sains adalah gambaran

1
yang lengkap dan konsisten tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan
yang mungkin paling sederhana (simple possible terms). Sains dalam hal ini merujuk
kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan
pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena
fenomena yang terjadi di alam.
Sains (pengetahuan) juga kumpulan pengetahuan tentang sesuatu kenyataan yang
tersusun secara sistematis, dari usaha manusia yang dilakukan dengan penyelidikan,
pengamalan dan percobaan-percobaan. Bahasa yang lebih sederhana, sains adalah cara
ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan menggunakan metode tertentu. Sains dengan
definisi diatas seringkali disebut dengan sains murni, untuk membedakannya dengan
sains terapan, yang merupakan aplikasi sains yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
manusia. ilmu sains biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu :
1. Natural sains atau Ilmu pengetahuan Alam
2. Sosial sains atau ilmu pengetahuan sosial.

Sedangkan menurut Rektor IAIN SU ilmu pengetahuan dapat dibagi atas beberapa
tingkatan tertentu, antara lain :
1. Ilmu pengetahuan deskriftif
Ilmu pengetahuan yang memberikan jawaban ataspertanyaan apa dan bagaimana..?
2. Ilmu pengetahuan normatif
Ilmu pengetahuan normatif menjawab pertanyaan seharusnya bagaimana..?
3. Ilmu pengetahuan kausal
Ilmu pengetahuan kausal berupaya menjawab pertanyaan apa yang terjadi apabila ada
dua fenomena yang dapat dihubungkan.
4. Ilmu pengetahun esensi
Sedangkan ilmu pengetahuan essensi itu sendiri adalah ilmu pengetahuan yang dapat
mengungkapkan hakikat dari segala sesuatu.

Sedangkan merunut Sidi Gazalba, ada beberapa macam jenis ilmu pengetahuan,
antara lain :
1) Ilmu praktis
Ilmu yang tidak hanya sampai kepada hukum umum atau abstraksi, tidak
hanya terhenti pada teori, tapi menuju kepada dunia kenyataan. Ia mempelajari
hukum sebab dan akibat untuk diterapkan dalam alam kenyataan. Ilmu ini
terbagi dua, yaitu :
2) Ilmu Praktis Normatif
Ilmu yang memberikan ukuran-ukuran dan norma-norma.
3) Ilmu praktis Positif
Ilmu yang memberikan ukuran atau norma yang lebih khusus daripada ilmu
praktis normatif. Norma yang dikaji ialah bagaimana membuat sesuatu
tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencapai hasil tertentu.
4) Ilmu spekulatif-ideografis
Ilmu yang bertujuan mengkaji kebenaran obyek dalam ujud nyata dalam ruang
waktu tertentu.
5) Ilmu spekulatif-nomotetis
Ilmu pengetahuan yang bertujuan mendapatkan hukum umum atau
generalisasi substantif.
6) Ilmu spekulatif-teoritis
Ilmu yang bertujuan memahami kausalitas. Tujuannya agar memperoleh
kebenaran atau keadaan dari pristiwa tertentu (Sidi gazalba:1992:40).

2
Pengetahuan yang kian hari kian bertambah ini, pada dasarnya bersumber
pada tiga macam sumber (Juhaya S. Praja:2003:11). Yaitu :
a) Pengetahuan yang langsung diperoleh
b) Hasil dari suatu konklusi
c) Pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian dan otoritas.

2.2 Epistimologi Sains


Epistimologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk
mendapatkan pengetahuan. Epistimologi sains menjelaskan tentang objek pengetahuan
sains, cara memperoleh pengetahuan sains, cara mengukur benar tidaknya pengetahuan
sain
2.2.1 Objek Pengetahuan sains
Objek pengetahuan sains (yaitu objek-objek yang diteliti sains) ialah semua
objek yang empiris. Menurut Jujun. S dalam Ahmad Tafsir mengatakan bahwa
objek kajian sains hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman
manusia (2010:27). Yang dimaksud pengalaman di sini ialah pengalaman indera.
Bukti empiris ini di perlukan untuk menguji bukti rsaional yang telah di rumuskan
dalam hipotesis. Objek-objek yang dapat diteliti sains seperti alam, tumbuhan,
hewan, dan manusia serta kejadian di sekitar alam, tumbuhan, hewan, dan manusia.
Dari penelitian itulah muncul teori-teori sains.
2.2.2 Proses diperolehnya Pengetahuan Sains
Memperoleh sains didorong oleh beberapa paham, diantaranya:
a) Paham Humanisme merupakan salah satu paham filsafat yang mengajarkan
bahwa manusia dapat mengatur dirinya dan alam.
b) Paham Rasionalisme ialah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal
digunakan untuk mencari dan mengukur pengetahuan.
c) Paham Empirisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar
ialah yang logis dan ada bukti empiris.
d) Paham Positivisme menyatakan bahwa kebenaran adalah logis ,ada bukti
empirisnya, yang terukur. terukur inilah sumbangan penting positivisme.
Metode ilmiah mengatakan , untuk memperoleh yang benar dilakukan langkah
berikut : logico-hypothetico-verificatif. Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa
itu logis, kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris.

2.2.3 Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains


Hipotesis (dalam Sains) ialah pernyataan yang sudah benar secara logika,
tetapi belum ada bukti empirisnya.
Teori teori kebenaran :
a. Korespondesi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta atau
kenyataan. Contoh pernyataan : bentuk air selalu sesuai dengan ruang yang
ditempatinya, pernyataan ini benar karena kenyataannya demikian. Kedua,
kota Jakarta ada di pulau Jawa, pernyataan ini benar karena sesuai dengan
fakta. Korespondesi memakai logika induksi.

b. Koherensi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila konsisten dengan pernyataan
sebelumnya yang dianggap benar. Contoh pernyataan : Dika akan mati,
pernyataan ini sesuai (koheren ) dengan pernyataan sebelumnya bahwa semua

3
manusia akan mati dan Dika adalah manusia. Terlihat disini, logika yang
dipakai dalam koherensi adalah logika deduksi.
c. Pragmatik
Sebuah pernyataan dikatakan benar jika berguna (fungsional) dalam
situasi praktis. Kebenaran pragmatik dapat menjadi titik pertemuan antara
koherensi dan korespondesi. Jika ada dua teori keilmuan yang sudah
memenuhi kriteria dua teori diatas , maka yang diambil adalah teori yang lebih
mudah dipraktekkan. Agama dan seni bisa cocok jika diukur dengan teori
kebenaran ini. Agama dengan satu peryataannya misalnya Tuhan ada,
pernyataan ini benar secara pragmatik (adanya Tuhan berguna untuk
menopang nilai-nilai hidup manusia dan menjadikanya teratur), lepas dari
apakah Tuhan ada itu sesuai dengan fakta atau tidak, konsisten dengan
pernyataan sebelumnya atau tidak.

2.3 Ontologi Sains


Ontologi sains merupakan ilmu yang mempelajari tentang hakekat dan struktur
sains. Dan hakikat sains menjawab pertanyaan apa sains itu sebenarnya, dan struktur
sains menjelaskan tentang cabang-cabang sains.

2.3.1 Hakikat Sains

Pada pembelajaran hakikat sains ini ada dua pengetahuan yaitu


pengetahuan rasional dan pengetahuan empiris. Yang pertama masalah rasional.
Jika kita meneliti suatu kejadian dan memberikan suatu kesimpulan sementara atau
hipotesis dan hipotesis itu harus berdasarkan rasional dan penelitian itu harus
berdasarkan rasional dan penelitian ini berdasarkan sebab akibat, seperti contoh :
dalam 2 desa yang pertama desa A dan desa B. Di desa A banyak penduduk yang
sakit sedangkan di desa B penduduknya sehat-sehat. Diambil kesimpulan bahwa
penduduk B lebih sehat dari pada penduduk A. Lalu dicari tahu tenang sebab
akibatnya, ternyata di kampung B memelihara ayam dan telurnya dimanfaatkan
untuk dikonsumsi, sedangkan penduduk A mereka juga memelihara ayam akan
tetapi untuk dijual. Dalam hal ini, hipotesis/dugaan sementara adalah rasional
untuk sehat diperlukan gizi, telur banyak mengandung gizi, karena itu logis bila
semakin banyak makan telur semakin sehat. Dan hipotesis ini rasional karena
adanya hubungan pengaruh atau sebab akibat. Yang kedua, masalah empiris
hipotesis yang sudah dibahas dan realistis itu selanjutnya diajukan bukti yang
empiris karena diambil penduduk dari desa A dan desa B. Untuk desa B selama
satu tahun tidak memakan telur ternyata penduduk B lebih sehat dari pada
penduduk. Kesimpulannya bahwa semakin banyak makan telur semakin sehat atau
telur berpengaruh positif terhadap kesehatan. Teori yang rasionalempiris dan teori
inilah yang disebut teori ilmiah scientific theory. Rumus baku metode ilmiah
adalah Logico-hypothetico-verificatif bukti bahwa itu logis, tarik hipotesis, ajukan
bukti empiris). Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan
sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain, asumsi sains
adalah tidak ada suatu kejadian tanpa sebab dan dirumuskan dengan ungkapan
post hoc/ ergo propter hoc ini tentu disebabkan oleh ini
Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional. Ilmu
atau sains berisi tentang teori, teori itu pada dasarnya menerangkan hubungan
sebab akibat. Dan sains tidak memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram,
sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah, sains hanya memberikan nilai benar
atau salah.

4
2. 3.2 Struktur Sains
Dalam garis besar sains dibagi menjadi dua; yaitu sains kealaman dan sains
sosial, yang menjelaskan struktur sains dalam bentuk nama-nama ilmu.
a. Sains Kealaman
- Astronomi
- Fisika : mekanika, bunyi, cahaya, dan optic, fisika, nuklir;
- Kimia : kimia organik, kimia teknik
- Ilmu bumi : paleontology, ekologi, geofisika, geokimia, mineralogy,
geografi.
- Ilmu hayat : biofisika, botani, zoology.
b. Sains Sosial
- Sosiologi : sosiologi komunikasi, sosiologi politik, sosiologi
pendidikan
- Antropologi : antropologi budaya, antropologi ekonomi, antropologi
politik
- Psikologi : psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal
- Ekonomi : ekonomi makro, ekonomi lingkungan, ekonomi pedesaan
- Politik : politik dalam negeri, politik hukum, politik internasional.

2.3.3 Karakteristik Sains


Sejarah membuktikan bahwa dengan metode sains telah membawa
manusia pada kemajuan dalam pengetahuan. Randall dan Buchker
mengemukakan beberapa ciri umum sains, antara lain :
1. Hasil sains bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama, artinya hasil
sains yang lalu dapat digunakan untuk penyelidikan hal yang baru, dan tidak
memonopoli. Setiap orang dapat memanfaatkan hasil penemuan orang lain.
2. Hasil sains kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena
yang menyelidikinya adalah manusia.
3. Sains bersifat objektif ,artinya prosedur kerja atau cara penggunaan metode
sains tidak tergantung kepada siapa yang menggunakan, tidak tergantung
pada pemahaman secara pribadi.
Ralph Ross dan Ernest Van den Haag mengemukakan ciri-ciri sains, yaitu :
1. Bersifat rasional (hasil dari proses berpikir dengan menggunakan rasio atau
akal).
2. Bersifat empiris (pengalaman oleh panca indra).
3. Bersifat umum (hasil sains bisa digunakan oleh semua orang tanpa
terkecuali).
4. Bersifat akumulatif (hasil sains dapat dipergunakan untuk dijadikan objek
penelitian berikutnya).

2.4 Aksiologi Sains


Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang
umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan (Kallsolt, 2004:318). Tafsir (2007: 25)
berpendapat bahwa aksiologi adalah penerapan pengetahuan, jadi dibahas mulai dari
klasifikasinya, kemudian dengan melihat tujuan pengetahuan itu sendiri, akhirnya dilihat
perkembangannya. Aksiologi sains membahas tentang kegunaan sains, cara sains
menyelesaikan masalah, dan netralitas sains. Sebenarnya yang kedua merupakan contoh
aplikasi yang pertama.

2.4.1 Kegunaan Pengetahuan Sains

5
Ada tiga kegunaan sains, yaitu sebagai alat pembuat eksplanasi, sebagai alat
peramal dan sebagai alat pengontrol.
a. Teori sebagai Alat Eksplanasi
Menurut T. Jacob dalam Ahmad Tafsir mengatakan bahwa sains
merupakan suatu system eksplanasi yang paling dapat di andalkan
dibandingkan dengan system lainnya dalam memahami masa lampau,
sekarang, serta merubah masa depan. Contoh dari teori ini akhir tahun 1997
di Indonesia terjadi gejolak moneter, yaitu nilai rupiah naik. Semakin murah
dibandingkan dengan dolar ( kurs rupiah terhadap dolar menurun). Gejolak
ini telah memberikan dampak yang cukup luas terhadap kehidupan di
Indonesia. Gejalanya ialah harga semakin tinggi dan cara menerangkan
gejala ini ialah teori-teori ekonomi (mungkin juga politik) dapat
menerangkan (mengeksplanasikan) gejala itu. Teori ekonomi mengatakan
karena banyaknya hutang luar negeri jatuh tempo (harus di bayar), hutang itu
harus di bayar dengan dolar, maka banyak sekali orang yang memerlukan
dolar, maka harga dolaar naik dalam rupiah.
b. Teori sebagai Alat Peramal
Ketika membuat eksplanasi, biasanya ilmuwan telah mengetahui faktor
penyebab terjadinya gejala itu.Dengan mempertimbangkan factor penyebab
itu, ilmuwan membuat ramalan. Dalam bahasa ilmuwan ramalan disebut
prediksi, untuk membedakan dari ramalan dukun.
Dalam contoh kurs dolar tadi, dengan mudah orang ahli meramal.
Misalnya, karena di kemudian bulan hutang luar negeri jatuh tempo semakin
banyak, maka di prediksikan kurs rupiah terhadap dolar akan semakin lemah.
Ramalan lain misalnya, harga barang dan jasa pada bulan mendatang akan
naik.
c. Teori sebagai Alat Pengontrol
Eksplanasi merupakan bahan untuk membuat prediksi dan control.
Ilmuwan, selain mampu membuat prediksi berdasarkan eksplanasi gejala,
juga dapat membuat control. Sebagai contoh agar kurs rupiah menguat, perlu
di tangguhkan pembayaran hutang yang jatuh tempo, jadi pembayaran hutang
di undur. Kita dapat mengontrol kurs rupiah terhadap dolar agar tidak naik
dengan cara menangguhkan pembayaran hutang terhadap dolar atau dengan
menangguhkan pembangunan proyek yang memerlukan bahan import.
Kontrol merupakan tindakan yang di duga dapat mencegah terajdinya gejala
yang tidak diharapkan.

2.4.2 Cara Sains Menyelesaikan Masalah


Sains menyelesaikan masalah dengan cara yang pertama, mengidentifikasi
masalah. Kedua, mencari teori tentang sebab-sebab masalah tersebut. Ketiga,
kembali membaca literature lagi.
Ilmuan dalam studinya tentang sekelompok fenomena melakukan tiga
tahapan kerja, antara lain :
 Mula-mula sekali di himpun fakta-fakta atau data dari obyek studinya.
Apabila fakta-fakta telah terkumpul, maka dapat melangkah ketahap
berikutnya.
 Pelukisan fakta-fakta, dengan cara :
 Membentuk defenisi dan pelukisan umum
 Melakukan analisis tentang fakta-fakta itu
 Mengklasifikasikan fakta-fakta itu.

6
Setelah fakta-fakta ini terlukiskan maka sampailah ia ke tahap terakhir :
 Penjelasan fakta-fakta dengan jalan sebagai berikut :
Menentukan sebab-sebab (dengan menentukan hal-hal yang
mendahului peristiwa)
Merumuskan hukum (dengan penentuan keserba tetapan peristiwa)

Ada juga cara kerja sains yang menurut sebagian pendapat para ahli seperti
berikut :
 Mengumpulan tentang fakta-fakta
 Gambaran tentang fakta-fakta, dengan cara :
Definisi dan gambaran umum
Analisis
Klarifikasi
 Penjelasan-penjelasan tentang fakta-fakta, dengan cara :
Memastikan sebab akibat
Merumuskan berbagai kesamaan perilaku

2.4.3 Netralitas Sains


Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada
pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial, agama.
Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah
polemik baru karena kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita
sebut sebagai Netralitas pengetahuan (value free). Sekarang mana yang lebih
unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada
keterikatan nilai.
Netral biasanya diartikan tidak memihak. Dalam kata sain netral pengertian
itu juga terpakai. Artinya sains tidak memihak pada kebaikan dan tidak juga pada
kejahatan. Itulah sebabnya istilah sains netral sering dig anti dengan istilah sains
bebas nilai (value free). Sedangkan lawannya ialah sains terikat (value bound).
Sains netral mempunyai keuntungan bahwa sains netral perkembangannta akan
cepat terjadi karena tidak ada yang menghambat atau menghalangi tatkala peneliti
memilih dan menetapkan objek yang hendak diteliti, cara meneliti, dan tatkala
menggunakan produk penelitian.

2.5 Kelebihan dan kekurangan Sains


Ada beberapa kelebihan sains, antara lain yaitu:
 Sains telah memberikan banyak sumbangannya bagi umat manusia, misalnya dalam
perkembangan sains dan teknologi kedokteran, sains dan teknologi komunikasi dan
informasi.
 Dengan sains dan teknologi memungkinkan manusia dapat bergerak atau bertindak
dengan cermat dan tepat, efektif dan efisien karena sains dan teknologi merupakan
hasil kerja pengalaman, observasi, eksperimen dan verifikasi.
Sedangkan kelemahan sains antara lain yaitu :
 Sains bersifat objektif, menyampingkan penilaian yang bersifat subjektif. Sains
menyampingkan tujuan hidup, sehingga dengan demikian sains dan teknologi tidak
bisa dijadikan pembimbing bagi manusia dalam menjalani hidup ini.
 Sains membutuhkan pendamping dalam operasinya.

3.1 Kesimpulan

7
Sains merupakan suatu metode berpikir secara objektif. Tujuannya
menggambarkan dan memberi makana pada dunia yang faktual. Sains adalah gambaran
yang lengkap dan konsisten tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan
yang mungkin paling sederhana (simple possible terms). Sains dalam hal ini merujuk
kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan
pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena
fenomena yang terjadi di alam.
Epistimologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk
mendapatkan pengetahuan. Epistimologi sains menjelaskan tentang objek pengetahuan
sains, cara memperoleh pengetahuan sains, cara mengukur benar tidaknya pengetahuan
sain
Ontologi sains merupakan ilmu yang mempelajari tentang hakekat dan struktur
sains. Dan hakikat sains menjawab pertanyaan apa sains itu sebenarnya, dan struktur
sains menjelaskan tentang cabang-cabang sains.
Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang umumnya
ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan (Kallsolt, 2004:318). Tafsir (2007: 25)
berpendapat bahwa aksiologi adalah penerapan pengetahuan, jadi dibahas mulai dari
klasifikasinya, kemudian dengan melihat tujuan pengetahuan itu sendiri, akhirnya dilihat
perkembangannya. Aksiologi sains membahas tentang kegunaan sains, cara sains
menyelesaikan masalah, dan netralitas sains. Sebenarnya yang kedua merupakan contoh
aplikasi yang pertama.

DAFTAR PUSTAKA

Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, ( Jakarta: Bumi Aksara,2010)


Tafsir Ahmad, Filsafat Mengurai Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi Pengetahuan,
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010)
Kattstoff, Louis. 2004. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana
Rosadtea. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan) (online),
https://sites.google.com/site/rosadteaconr/artikel/epistemologi-filsafat-pengetahuan,
diakses 26 April 2013.
Thalibs,Rahmah. Aksiologi Sains (online),
http://rahmahthalib.wordpress.com/2010/04/14/aksiologi-sains-by-rahmah-2/, diakses
26 April 2013

_______________

Oleh:
Amin Nur Thoyibah
Devi Nurmala Yuda
Fera Setia Rosiana
Imroatul Azizah
Toni Anggun Pratiwi

Disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian dengan dosen pengampu
Afid Burhanuddin, M.Pd.