Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lingkungan sebagai suatu biosphere sangat menentukan eksistensi makhluk
hidup yang berada di dalamnya. Makhluk hidup yang beranekaragam, termasuk
manusia, mempunyai tingkat adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang
berbeda-beda, sebab setiap makhluk hidup mempunyai tingkat kerentanan dan
kemampuan yang tidak sama dalam merespons perubahan di lingkungannya.
Diantaranya makhluk hidup yang lain, manusia yang paling cepat menyikapi
perubahan yang terjadi dilingkungannya.
Salah satu sifat yang unik dari manusia yang tak dimiliki oleh makhluk lain
adalah keinginan untuk mengetahui berbagai fenomena yang terjadi atau
berlangsung dalam lingkungan hidupnya (Yustina dan Elya F, 2013). Fenomena
alam yang terjadi, berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan merupakan
fenomena yang harus dihadapi oleh manusia. Berbagai fenomena yang muncul
sebagian besar adalah ulah tangan manusia. Hal ini disebutkan oleh Hawley. A.H
(1986) dalam buku Human Ecology A Theoretical Essay dalam Maizer Said N
(2008) menyebutkan bahwa komponen yang penting dalam analisa ekologi adalah
ekosistem, populasi dan lingkungan. Manusia sebagai komponen populasi
mempunyai peranan yang besar dalam memanfaatkan, mengelola dan
mengendalikan fenomena yang terjadi di alam. Maka manusia bertanggung jawab
terhadap keberlanjutan ekosistem karena manusia diciptakan sebagai khalifah
(Q.S. 2: 30)
Menurunnya keanekaragaman hayati menyebabkan semakin sedikit pula
manfaat yang diperoleh manusia. Penurunan keanekaragaman hayati dapat
dicegah dengan cara melakukan konservasi.Konservasi merupakan proses untuk
dapat menciptakan perencanaan dan pelaksanaan awal sebagai dasar perlindungan
ekologi, dengan menggunakan teknik yang signifikan dalam mengembangan
kerapatan, topik dan keuntungan dari konservasi itu sendiri (Maizer Said N,
2008).

1
Secara sederhana konservasi diberi pengertian tentang upaya pemanfaatan
lingkungan dan atau sumber daya alam yang dilakukan saat ini, tetapi tetap
mempertahankan keberadaanya di waktu mendatang. Keberadaan dalam hal ini
tidak hanya dalam arti kualitas tetapi juga dalam arti kuantitas. Oleh karenanya
konservasi akan dapat menghasilkan kelestarian. Adanya kelestarian terhadap
sumberdaya alam dan lingkungan akan menjamin terciptanya pemanfaatan yang
berlanjut sehingga pembangunan berkelanjutan dapat terwujud.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1. Apakah pengertian dari konservasi?
2. Apa saja azas dan tujuan dari konservasi?
3. Bagaimana upaya konservasi pada tingkat spesies dan populasi?
4. Bagaimana upaya konservasi pada tingkat komunitas, ekosistem, dan
bentang alam (landscape)?
5. Bagaimana upaya pemulihan suatu daerah ekosistem gambut yang rusak?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk:
1. Memahami pengertian dari konservasi
2. Memahami azas dan tujuan konservasi
3. Memahami konservasi pada tingkat spesies dan populasi
4. Memahami konservasi pada tingkat komunitas, ekosistem dan bentang
alam (landscape)
5. Memahami upaya pemulihan pada suatu daerah ekosistem yang rusak:
ekosistem gambut

1.4 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu untuk menambah wawasan
mahasiswa tentang pentingnya konservasi dan diharapkan dapat ikut berperan
serta dalam melaksanakan konservasi baik dalam lingkungan sehari-hari dan
masyarakat.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Konservasi


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konservasi adalah pemeliharaan dan
perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan
dengan jalan mengawetkan/pengawetan dan pelestarian. Makna kata konservasi
berdasarkan kamus ekologi adalah Management of natural resources to provide
maximum benefit over a sustained period of time. Conservation includes
preservation and forms of wise use, including reducing waste, balanced multiple
use, and recycling (Art, 1993). Jadi kata konservasi itu adalah kata kerja yang
maknanya harus memayungi semua bentuk kerja pengelolaan sumberdaya alam
dan lingkungan yang bertanggung-jawab, berkelanjutan dan berkeseimbangan,
sesuai dengan nilai-nilai falsafah hidup yang bersifat universal, yaitu Pancasila
(Ervizal A.M., dkk).
Undang-undang No. 5 Tahun 1990 menjelaskan bahwa konservasi sumber
daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang
pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan
persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas
keanekaragaman dan nilainya (Pasal 1 butir 2). Konservasi adalah langkah-
langkah pengelolaan tumbuhan dan/atau satwa liar yang diambil secara bijaksana
dalam rangka memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan generasi masa
mendatang (Permenhut RI, 2012).
Konservasi merupakan upaya pelestarian lingkungan, tetapi tetap
memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh pada saat itu dengan tetap
mempertahankan keberadaan setiap komponen lingkungan untuk pemanfaatan
masa depan.Konsep konservasi adalah kegiatan pelestarian sesuai dengan
kesepakatan yang telah dirumuskan dalam program tersebut. Konservasi adalah
konsep proses pengeloalaan suatu ruang atau tempat atau obyek makna kultural
yang terkandung di dalamnya terpelihara dengan baik.

3
Konservasi dapat dilakukan secara in-situ dan ex-situ. In-situ adalah upaya
konservasi di dalam habitat alaminya. Sedangkan ex-situ adalah upaya konservasi
di luar habitat alaminya.

2.2 Azas Tujuan dan Konservasi


Secara hukum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 tahun 1990
tentang Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan
pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam
ekosistemnya secara serasi dan seimbang (Pasal 2).
Tujuan konservasi tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 5
tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yaitu
bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta
keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia (Pasal 3).Adapun
beberapa tujuan konservasi lainnya menurut Bitar (2016), sebagai berikut ini:
a. Untuk bisa memelihara serta untuk melindungi tempat-tempat yang sudah
dianggap berharga agar tidak hancur
b. Untuk bisa menekankan kembali sehingga bisa memakai kembali pemakaian
bangunan yang sudah lama yang sehingga tidak terlantar, sebenarnya memiliki
maksud apakah dengan menggunakan cara seperti ini bisa menghidupkan
kembali fungsi dari bangunan yang sebelumnya dari bangunan tersebut atau
bisa juga mengganti suatu fungsi dari bangunan yang lama dengan fungsi
yang baru yang memang diperlukan.
c. Untuk bisa melindungi benda-benda sejarah atau juga benda-benda pada
zaman purbakala dari kehancuran dan kerusakan yang bisa diakibatkan oleh
faktor alam, mikro organisme dan juga kimiawi.
d. Untuk bisa melindungi benda-benda cagar alam yang sudah dilakukan dengan
secara langsung seperti membersihkannya, memelihara dan juga memperbaiki
baik secara fisik maupun dengan cara langsung dari pengaruh berbagai macam
faktor yang ada, misalnya seperti faktor lingkungan yang bisa merusak benda-
benda itu.

4
Tujuan suatu rencana konservasi secara umum adalah untuk memastikan tidak
terjadinya kehilangan keanekaragaman hayati. Adanya keterwakilan, kemudian,
merupakan prinsip mendasar dalam perencanaan konservasi dan mengacu pada
seberapa baik kondisi keanekaragaman hayati, baik genetik, spesies, komunitas
terwakili dalam konservasi (Watson dalam Tim Forum RKBA, 2014). Tujuan
konservasi adalah pelestarian biosfer yang berfungsi penuh sebagai satu-satunya
habitat manusia. Pada dasarnya konservasi merupakan suatu perlindungan
terhadap alam dan makhluk hidup lainnya. Sesuatu yang mendapat perlindungan
maka dengan sendiri akan terwujud kelestarian.

2.3 Konservasi Pada Tingkat Spesies dan Populasi


Upaya konservasi seharusnya dimulai sebelum penurunan yang drastis terjadi,
yaitu ketika masih banyak tersedia waktu untuk menyelamatkan daerah habitat
yang cukup besar untuk mendukung populasi alamiah (Campbell, 2004).
Konservasi berbasis spesies diantaranya berupaya melindungi spesies terancam
punah dan spesies yang berperan penting dalam rantai makanan. Spesies adalah
sekelompok individu yang berpotensi untuk bereproduksi dalam satu kelompok
dan tidak mampu bereproduksi dengan kelompok lain (definisi secara biologis).
Definisi lain spesies adalah sekelompok individu yang mempunyai karakter
morfologi, fisiologi atau biokimia berbeda dengan kelompok lain (definisi secara
morfologis).
Secara konseptual, biologis, dan hukum, spesies merupakan fokus utama
dalam konservasi. Dalam Buletin Konservasi Biodiversitas Raja4 (2014),
konservasi berbasis spesies dapat dilakukan pada empat kelompok fokus atau
prioritas yaitu sebagai berikut:
a. Umbrella species: spesies yang memiliki penyebaran yang luas yang
membutuhkan banyak spesies lain atau spesies yang membutuhkan area yang
luas sehingga perlindungan jenis ini juga melindungi hewan lain yang juga
menempati daerah yang sama. Secara tradisional umbrella species digunakan
pada hewan yang badannya relatif lebih besar dan jenis hewan vertebrata
tingkat tinggi yang penyebarannya luas.

5
b. Flagship species: spesies yang dipilih sebagai ikon atau simbol untuk
mendefinisikan suatu habitat, isu, kampanye atau dampak lingkungan. Dengan
memfokuskan dan mengusahakan konservasi jenis ini, status jenis lain yang
menempati habitat yang sama atau rawan menjadi ancaman yang sama juga
akan menjadi lebih baik. Flagship species relatif berukuran besar, dan
kharismatik dalam budaya barat contohnya panda, Rafflesia, dan jenis lainnya
yang biasa dijadikan simbol di dalam lambang dan sebagainya.
c. Keystone species: jenis yang jika hilang keberadaannya pada ekosistem maka
akan mengakibatkan perubahan yang hebat terhadap populasi jenis lain atau
proses ekosistem; serta yang memiliki fungsi yang vital dalam komunitasnya.
Jika hilang jenis ini akan mengakibatkan perubahan yang signifikan atau
fungsi yang salah yang bisa berefek pada skala yang lebih besar. Contohnya
gajah dalam memelihara struktur habitat serta kelelawar dan serangga di
dalam polinasi. Dengan memfokuskan pada keystone species, aksi konservasi
dari spesies membantu melindungi struktur dan fungsi habitat yang luas yang
berhubungan dengan spesies ini selama siklus hidupnya.
d. Foot print impacted spesies: spesies yang populasinya terancam akibat
konsumsi yang tidak berkelanjutan, seperti eksploitasi, perburuan atau
penangkapan berlebih. Contohnya adalah hiu, terumbu karang dan tuna.
Populasi adalah kelompok individu dari jenis tertentu di tempat tertentu
yang secara alami dan dalam jangka panjang mempunyai kecenderungan untuk
mencapai keseimbangan populasi secara dinamis sesuai dengan kondisi habitat
beserta lingkungannya (Suprayitno, 2008). Populasi merupakan sekelompok
individu dalam satu spesies yang menempati suatu habitat yang menggunakan
sumberdaya dengan cara yang sama dan dipengaruhi oleh faktor-faktor
alam.Konservasi pada tingkat populasi juga dilakukan untuk melindungi dan
melestarikan beberapa jumlah spesies yang terancam punah yang mendiami suatu
tempat dan waktu yang sama.

6
1. Mempertahankan keanekaragaman genetik dan arena lingkungan
Dalam pengertian yang luas, keanekaragaman biologis dan faktor-faktor yang
mendukung mencakup semua keragaman genetik di dalam populasi spesies dan
banyak proses ekosistem yang menyediakan tempat terjadinya evolusi. Saat ini
upaya konservasi jauh tertinggal dibelakang laju penurunan dan punahnya spesies.
Banyak populasi spesies telah berkurang sampai ke jumlah yang sangat rendah
akibat perubahan habitat oleh aktivitas manusia. Ketika hal tersebut terus
meningkat maka untuk memfokuskan pada pelestarian keanekaragaman genetik
menjadi kurang praktis (Campbell, 2004).
Upaya untuk memperlambat krisis keanekaragaman biologis adalah
mempelajari secara mendalam ilmu konservasi sambil diaplikasikan atau disebut
dengan Learn as we apply (Campbell, 2004). Ilmu konservasi lebih
memfokuskan pada proses yang mendukung ekosistem dan hubungan evolusioner
yang mewakili oleh spesies daripada melestarikan spesies individual atau
populasi.

2. Dinamika pembagian populasi berlaku pada permasalahan yang


disebabkan oleh fragmentasi habitat
Pemahaman dinamika dan kemampuan populasi yang terbagi-bagi
(metapopulasi) yang semakin penting ketika aktivitas manusia terus
memfragmentasi habitat. Laju reproduksi sangat berbeda untuk bagian
metapopulasi yang terisolir. Perlindungan habitat sumber (di mana keberhasilan
reprodukasi suatu populasi lebih besar dibandingkan dengan laju kematiannya)
merupakan suatu aspek penting konservasi.

7
Gambar 1. Suatu metapopulasi ikan air tawar yang diubah oleh aktivitas manusia
(Sumber: Campbell, 2004)

Fragmentasi habitat merupakan pengaruh umum aktivitas manusia, dan


banyak populasi yang semula menyatu telah berkurang dalam jumlah dan berubah
menjadi metapopulasi. Spesies yang berada sebagai metapopulasi sebelum ada
campur tangan manusia seringkali berkurang. Sebagai contoh ikan air tawar asli
barat laut Amerika Utara mengalami pemisahan menjadi tiga jenis subpopulasi
(Gambar 1).a) Sebelum adanya campur tangan manusia (ikan bull trout, di
Alaska) b) Setelah perubahan oleh manusia, metapopulasi menjadi berkurang dan
terbagi-bagi, bahkan hampir terisolasi.

3. Analisis viabilitas populasi yangberpeluang untuk suatu spesies agar


bertahan hidup atau menjadi punah pada habitat yang tersedia baginya
Analisis viabilitas (kelangsungan hidup) populasi merupakan suatu metode
untuk memprediksi apakah suatu spesies akan bertahan atau tidak dalam suatu
lingkungan tertentu (Campbell, 2004). Para ahli biologi konservasi menggunakan
anlisis viabilitas populasi untuk mengevaluasi kemampuan bertahan hidup jangka
panjang suatu populasi spesies dalam habitat tertentu. Analisis viabilitas populasi
umumnya dihasilkan melalui pemodelan komputer dengan menggunakan data

8
sejarah kehidupan, keragaman genetik, dan respon suatu populasi terhadap
kondisi lingkungan, khususnya gangguan. Analisis viabilitas populasi bisa
memprediksi ukuran minimum populasi yang dapat bertahan hidup, jumlah
individu terkecil yang diperlukan untuk mempertahankan suatu populasi,
subpopulasi atau spesies. Taksiran ukuran minimum populasi yang bertahan hidup
bisa didasarkan pada penentuan ukuran populasi efektif (N), yang merupakan
fraksi dari populasi total yang benar-benar menghasilkan generasi berikutnya.

4. Menganalisis viabilitas spesies terpilih dapat membantu


mempertahankan spesies lain
Meskipun waktu dan sumberdaya menghalangi analisis sistematis dari banyak
spesies dan populasi, apa yang dipelajari dari analisis viabilitas dari populasi yang
relatif sedikit yang bisa dilakukan oleh para peneliti mungkin bisa diterapkan bagi
banyak populasi lain.

5. Konservasi spesies melibatkan pertimbangan akan kebutuhan-kebutuhan


yang bertentangan
Upaya konservasi seringkali melibatkan penyelesaian konflik antara
kebutuhan manusia akan pengembangan ekonomi dan ruang untuk hidup.
Penyediaan habitat yang akan menopang spesies dasar-yaitu spesies yang
mempunyai dampak ekologis besar relatif terhadap jumlahnya-dapat menjadi
penting dalam penopangan seluruh komunitas. Penentuan jumlah populasi yang
dapat hidup dan habitat yang diperlukan hanya merupakan bagian dari upaya
untuk menyelamatkan spesies (Campbell, 2004).
Fokus konservasi tingkat spesies dilakukan pada tingkat populasi. Kunci
menyelamatkan spesies adalah dengan melindungi populasi yang ada. Tugas ahli
biologi konservasi adalah menetukan tingkat kestabilan suatu populasi.

2.4 Konservasi Pada Tingkat Komunitas, Ekosistem dan Bentang Alam


Kawasan konservasi atau kawasan yang dilindungi dapat berupa wilayah darat
maupun laut yang dirancang untuk melindungi kanekaragaman hayati dan budaya
setempat.Primack et al. (1998) menjelaskan ada tiga kriteria yang dapat digunakan

9
untuk menentukan prioritas konservasi bagi perlindungan spesies dan komunitas,
yaitu kekhasan, keterancaman, dan kegunaan.
a. Kekhasan
Suatu komunitas hayati diberi prioritas yang lebih tinggi bagi konservasi bila
komunitas tersebut lebih banyak disusun oleh spesies endemik daripada
spesies yang umum dan tersebar luas. Suatu spesies dapat diberi nilai
konservasi yang lebih tinggi bilasecara taksonomis bersifat unik, misalnya
spesies yang merupakan anggota tunggal dalam marga atau sukunya
dibandingkan dengan anggota suatu marga dengan banyak spesies.
b. Keterancaman
Spesies yang menghadapi ancaman kepunahan akan lebih
pentingdibandingkan sepsies yang tidak terancam kepunahannya. Komunitas
hayati yang terancam dengan penghancuran langsung juga harus mendapat
prioritas untuk dikonservasi.
c. Kegunaan
Spesies yang memiliki kegunaan nyata atau potensial bagi manusia
perlu diberikan nilai konservasi yang lebih dibandingkan spesies yang tidak
mempunyai kegunaan yang jelas bagi manusia. Sebagai contoh, kerabat-
kerabat liar dari gandum yang mempunyai potensi untuk mendukung
pengembangan varietas tanaman perlu diberikan prioritas yang lebih tinggi
apabila dibandingkan dengan spesies-spesies rerumputan yang tidak
tercatat mempunyai hubungan dengan tumbuhan bernilai ekonomis (Wilyan
Suri, 2009)

Konservasi pada tingkat komunitas akan memungkinkan pelestarian sejumlah


besar spesies dalam kesatuan-kesatuan yang bekerja mandiri, sementara strategi
penyelamatan spesies sasaran secara satu per satu biasanya sulit dilakukan, mahal
dan seringkali tidak berhasil (Primack et al., 1998).
Perlindungan komunitas hayati dilakukan mulai dari mewujudkan kawasan
konservasi, mengelola kawasan perlindungan secara efektif, menerapkan upaya
konservasi di luar kawasan konservasi dan memperbaiki komuniyas hayati pada
habitat yang telah rusak. Pada saat kawasan konservasi ditetapkan, kompromi
sebagai penyeimbang berbagai kepentingan harus dilakukan. Kompromi adalah
katalis bagi pencapaian tujuan pengelolaan kawasan konservasi. Tanpa kompromi,
upaya konservasi dapat berjalan lambat bahkan terhenti ditengah jalan.

10
Ekosistem adalah suatu kompleks dinamis yang terdiri dari komunitas biotik
dan abiotik berupa tumbuhan, hewan, jasad renik dan lingkungan mereka yang
saling berinteraksi sebagai unit fungsional dan menghasilkan energi serta daur
hara (David Ardhian, dkk, 2014). Perbedaan antar ekosistem hanya pada unsur-
unsur penyusun masing-masing komponen tersebut.
Ekositem perlu dikelola dengan baik agar komponen yang terdapat
didalamnya tetap terjaga sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Kegiatan yang dilakukan pada suatu lokasi harus mengacu pada pendekatan
ekosistem agar dapat meminimalisir gangguan(David Ardhian, dkk,
2014).Pendekatan ekosistem merupakan strategi untuk pengelolaan terpadu tanah,
air dan sumber daya hidup yang mempromosikan konservasi dan pemanfaatan
berkelanjutan dengan cara yang adil.
Bentang alam (landscape) adalah suatu kesatuan regional dari ekosistem-
ekosistem yang saling berinteraksi, seperti hutan atau patch hutan, lahan
terbukayang berdekatan, lahan basah, anak sungai, habitat tepi aliran/riparian
(Campbell, 2004). Struktur bentang alam terdiri dari unit-unit berupa matrix,
patch,dan corridor. Matrix (matriks) adalah bercak yang mendominasi bentang
alam, patch (bercak) merupakan area homogen yang dapat dibedakan dengan
daerah di sekitarnya, dan corridor adalah patch yang berbentuk memanjang (Suer
Suryadi, dkk, 2016).
Untuk mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati, jasa ekosistem,
perubahan iklim, dan faktor negatif lainnya yang berdampak pada lingkungan,
maka perlu pendekatan baru yang berfokus pada bentang alam di luar kawasan
konservasi. Upaya-upaya global untuk melindungi keanekaragaman hayati telah
beralih dari pendekatan spesies dan kawasan kepada ekosistem dan bentang alam
untuk meningkatkan kesinambungan dan ketahanan kawasan. Untuk memastikan
tercapainya tujuan konservasi pada skala bentang alam, maka sangat penting
untuk menghubungkan target konservasi dengan tujuan pembangunan yang lebih
besar, seperti pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, pendidikan dan
perubahan iklim, serta strategi yang memandu pendekatan konservasi bentang
alam (Suer Suryadi, dkk, 2016).

11
1. Pingiran dan koridor dapat sangat mempengaruhi keanekaragaman
biologis bentang alam
Perbatasan (pinggiran) diantara ekosistem-ekosistem dan di sepanjang ciri
menonjol ekosistem mempunyai kumpulan kondisi fisik dan komunitas spesies
yang unik. Pinggiran menjadi semakin luas ketika fragmentasi habitat semakin
meluas, dan spesies yang beradaptasi dengan pinggiran bisa menjadi semakin
dominan. Sebagai contoh, permukaan tanah suatu pinggiran antara suatu bagian
hutan dan suatu daerah yang terbakar menerima lebih banyak cahaya matahari dan
umumnya lebih panas dan lebih kering dibandingkan dengan bagian dalam hutan,
tetapi lebih sejuk dan lebih lembap dibandingkan dengan permukaan tanah di
daerah yang terbakar (Campbell, 2004).
Koridor pergerakan merupakan ciri dari bentang alam khususnya dimana
habitat telah terfragmentasi secara besar-besaran. Koridor Pergerakan adalah
barisan atau rumpun habitat berkualitas yang menghubungkan patch-patch habitat,
bisa menggalang penyebaran dan membantu menopang metapopulasi, atau dapat
pula menggalang kondisi yang membahayakan.
2. Cagar alam seharusnya merupakan bagian fungsional dari bentang alam
Banyak pertanyaan mengenai penyediaan dan pemeliharaan cagar alam masih
tetap ada hingga saat ini. Mempertahankan keanekaragaman biologis dalam cagar
alam selama periode waktu yang lama memerlukan pengelolaan untuk
menyediakan gangguan yang cukup dan untuk menjamin bahwa aktivitas manusia
di bentang alam sekelilingnya mendukung habitat yang dilindungi. Upaya
konservasi seringkali melibatkan pekerjaan dalam wilayah bentang alam yang
sebagian besar didominasi oleh manusia.

12
Gambar 2. Konsep cagar terzonasi dalam pengelolaan bentang alam
(Sumber: Campbell, 2004)

Beberapa negara telah menggunakan suatu pendekatan terhadap pngelolaan


bentang alam yang disebut dengan sistem cagar terzonasi (Campbell, 2004).
Daerah yang dilindungi dikelilingi oleh lahan yang digunakan dan diubah secara
lebih luas oleh aktivitas manusia.
Peta tersebut (Gambar 2) menunjukkan upaya sebuah bangsa untuk
mengakomodasi keanekaragaman biologis dengan membangun daerah konservasi
atau cagar terzonasi. Daerah yang berwarna hijau merupakan daerah taman
nasional, warna kuning merupakan daerah penyangga atau daerah transisi,
terutama dimiliki swasta untuk manusia bekerja dan tinggal. Secara ideal daerah
industri dibatasi pada pinggiran paling luar pada daerah transisi. Pada daerah
penyangga, kemajuan telah dibuat dalam penggalangan pertanian dan kehutanan
berkelanjutan.
3. Pemulihan daerah-daerah yang rusak merupakan suatu upaya
konservasi yang semakin penting
Beberapa daerah yang telah dirubah dan dirusak oleh aktivitas manusia pada
akhirnya ditelantarkan dan ada juga ekosistem yang rusak diakibatkan kecelakaan
seperti tumpahan minyak (Campbell, 2004). Habitat dan ekosistem yang rusak ini

13
semakin meningkat luasnya karena laju pemulihan alamiah melalui proses suksesi
lebih lambat dibandingkan dengan laju perusakan oleh aktivitas manusia. Dalam
Campbell (2004) dijelaskan bahwa ilmu baru ekologi restorasi mencari data untuk
mengembangakan pemulihan ekosistem yang telah rusak dan mempertahankan
keanekaragaman biologis. Upaya restorasi seringkali melibatkan upaya
bioremediasi dan augmentasi. Bioremediasi adalah penggunaan organisme untuk
mendetoksifikasi ekosistem yang tercemar. Augmentasi merupakan proses
ekosistem, seperti perubahan suksesi. Proses augmentasi ekosistem memerlukan
penetuan faktor misalnya nutrien kimiawi, yang telah hilang dari suatu daerah dan
membatasi laju pemulihan daerah tersebut.

4. Tujuan pembangunan yang berkelanjutan adalah penyesuaian kembali


tujuan penelitian ekologis dan akan memerlukan perubahan beberapa
nilai-nilai kemanusiaan
Pembangunan berkelanjutan, kemakmuran jangka panjang masyarakat
manusia dan ekosietem yang mendukungnya, bergantung pada pengetahuan
ekologis dan pada suatu komitemen untuk menggalang proses ekosistem dan
keanekaragaman biologis.

2.5 Upaya Pemulihan Pada Suatu Daerah Ekosistem Yang Rusak : Ekosistem
Gambut
Kerusakan fungsi ekosistem gambut terjadi akibat dari pengelolaan lahan yang
salah dengan pemilihan komoditas bisnis yang tidak sesuai dengan karakteristik
lahan gambut. Ditambah dengan pengurasan air gambut yang berakibat
kekeringan (kering tak balik) pada gambutnya itu sendiri yang saat ini sebagai
pemicu kebakaran. Fakta dilapangan menunjukkan kebakaran yang terjadi hampir
setiap tahun dengan luasan yang selalu bertambah merupakan kenyataan bahwa
gambut tidak lagi dalam kondisi alaminya atau sudah mengalami kerusakan
(Chandra wahyu, 2015).
Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab utama kerusakan hutan
tropis di Indonesia. Pada tahun 1997/98 tercatat sekitar 2.124.000 ha hutan rawa
gambut di Indonesia terbakar (Tacconi, 2003 dalam Iwan Tricahyo W., dkk).
Bahkan banyak sekali dijumpai kasus terbakarnya kembali lokasi yang sama

14
hingga beberapa kali. Sebagian besar kebakaran yang terjadi di hutan gambut
tergolong berat mengingat karakteristik gambut itu sendiri yang tersusun dari
serasah bahan organik dengan vegetasi diatasnya, dan berpotensi sebagai bahan
bakar. Karenanya, pada hutan gambut dikenal istilah ground fire, yaitu kebakaran
di bawah permukaan yang sangat berdampak buruk terhadap lingkungan.
Kebakaran tersebut bisa juga terjadi secara serempak pada bagian bawah maupun
atas permukaan gambut, sehingga tidak heran jika setelah kebakaran, vegetasi di
atas permukaan gambut maupun lapisan tanah gambutnya menghilang dan pada
musim hujan lokasi ini akan tergenang air yang menyerupai danau.
Konversi pengembangan lahan perkebunan sawit menjadi penyebab dominan
kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Riau selama ini. Ekosistem gambut
yang ada di Riau menjadi potensi utama kebakaran menjadi semakin parah. Lahan
gambut diubah fungsinya menjadi areal perkebunan, dengan kondisi kering. Sifat
lahan gambut jika terbakar sulit untuk dipadamkan, karena kedalaman gambut di
bawah anah yang bisa mencapai sepuluh meter. Struktur ekosistem gambut
sebetulnya sudah dipahami oleh pemerintah Provinsi Riau, namun kebakaran
masih saja terulang (Geovani M., 2016).
Selain menyebabkan polusi, kerusakan ekosistem dan kehilangan
biodiversitas, kebakaran pada rawa gambut juga menyebabkan penurunan
permukaan gambut dan gangguan tata air tanah gambut. Keadaan ini pada
akhirnya menyebabkan pemulihan ekosistem gambut bekas kebakaran melalui
proses suksesi alami menjadi terganggu dan bahkan terhambat (Iwan Tricahyo
W., dkk).
Mengingat besarnya kerugian akibat kerusakan fungsi ekosistem gambut
tersebut, pemerintah harus berkomitmen untuk melakukan upaya-upaya
rehabilitasi dan pemulihan fungsi ekosistem gambut sampai pada kondisi
alaminya. Menjaga kubah gambut sebagai pengendali hidrologi pada satu
kesatuan hidrologis gambut (KHG). Upaya pemulihan fungsi ekosistem gambut
bisa dilakukan melalui :

15
Restorasi ekosistem gambut
Rehabilitasi ekosistem gambut
(Chandra wahyu, 2015)

Restorasi ekosistem gambut dapat dilakukan melalui penataan kembali fungsi


hidrologi dimana kubah gambut sebagai penyimpan air jangka panjang (long
storage of water), sehingga gambut tetap basah dan sulit terbakar.
Restorasi tata air diprioritaskan pada daerah kubah-kubah gambut dengan
melakukan penutupan sepenuhnya seluruh kanalkanalyang sudah terlanjur
ada di atasnya. Lalu restorasi dilanjutkan dengan menyekat kanalkanal (block
ing of canals) yang sudah terlanjur ada di sekitar atau di bagian bawah dari
kubah gambut (termasuk kanal-kanal yang terdapat dalam wilayah konsesi
perkebunan kelapa sawit, HTI akasia, maupun pertanian masyarakat).
Sekat-sekat yang dibangun dalam sebuah kanal, jumlahnya harus memadai
(bukan satu sekat untuk satu kanal) sehingga lahan gambut di sekitar kanal
menjadi basah.
Sekat-sekat yang dibangun bukan berupa pilahan papan, tapi berupa sekat
yang memiliki ruangan cukup memadai untuk ditanami vegetasi endemik/ asli
lahan gambut. Keberadaan vegetasi di atas sekat diharapkan dapat
memperkuat kontruksi sekat.
Untuk mencegah abrasi pada sisi-sisi dinding kanal, perlu ditanami berbagai
tanaman endemik/asli lahan gambut kearah daratan.
Keberadaan sekat-sekat harus secara rutin di pantau dan di rawat
keberadaannya
Pembangunan sekat-sekat agar sebelumnya disosialisasikan dan melibatkan
masyarakat setempat, baik dalam pembangunan-pemantauan dan
perawatannya.

Kegiatan rehabilitasi harus dilandasi suatu persiapan dan perencanaan yang


matang serta memperhatikan beberapa tahapan untuk menunjang keberhasilannya.
Tahapan-tahapan tersebut meliputi penilaian terhadap areal yang akan
direhabilitasi, pemilihan jenis tanaman yang tepat, penyiapan lahan, waktu

16
penanaman, penanaman, dan pemeliharaan (Iwan Tricahyo W., dkk).
Melaksanakan rehabilitas terhadap areal bekas kebakaran yang ada dan
meningkatkan sumberdaya manusia baik petugas maupun masyarakat dalam hal
pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan menjaga suatu ekosistem
(Andri Ginson, 2003).

Rehabilitasi di Taman Nasional Berbak, Jambi


Dalam seri pengelolaan hutan dan lahan gambut, Arinal menjelaskan kegiatan
rehabilitasi yang telah dilakukan oleh Proyek CCFPI di dalam kawasan Taman
Nasional Berbak, Jambi pada areal lahan gambut bekas terbakar. Jumlah bibit
yang ditanam adalah sekitar 20.000 bibit dan terdiri atas jenis-jenis tumbuhan asli
(seperti Meranti, Jelutung dan Ramin). Faktor yang sangat berperan dalam
menentukan keberhasilan tumbuh dan berkembangnya tanaman rehabilitasi di
lokasi ini terutama diakibatkan oleh adanya genangan air pada musim hujan dan
kekeringan pada musim kemarau. Oleh sebab itu teknik penanamannya
(khususnya untuk mengantisipasi banjir) ditentukan sebagai berikut:
Bibit ditanam di atas gundukan setinggi 50 sampai dengan 100 cm di atas rata-
rata permukaan tanah (untuk mencegah dampak genangan terhadap tanaman
di musim hujan).
Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (sekitar bulan
September/Oktober) sehingga pada musim kemarau yang akan datang bibit
sudah cukup kuat untuk menghadapi kekeringan.
Untuk mengganti bibit-bibit yang mati akibat hujan/banjir dilakukan
penyisipan/penyulaman bibit-bibit baru setelah banjir berakhir.
Bibit yang akan ditanam di sepanjang tepian sungai dipilih dari jenis-jenis
yang paling tahan genangan dan ukurannya sudah tinggi.

17
Gambar 3. Gundukan untuk menanam bibit
(Sumber: Arinal, 2004)

Sedangkan tahap-tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut:


Pada akhir musim kemarau sebelum turun hujan dibuat gundukan tanah gambut
yang jumlahnya sesuai dengan jumlah bibit yang akan ditanam (dalam hal ini
sebanyak 20.000 gundukan).Jika gundukan dibuat pada saat musim hujan,
maka tanah gambut yang di gundukan akan sulit menyatu atau tercerai berai.
Untuk menghindari gundukan gambut runtuh, maka setiap gundukan diberi
pembatas (kotak) berbentuk segi empat atau segi tiga berukuran 1 x 1 meter.
Pembatas ini dapat dibuat dengan menggunakan sisa-sisa onggokan kayu di
lapangan (lihat gambar 3).
Setelah hujan turun selama satu minggu bibit-bibit mulai ditanam pada lubang
yang dibuat di atas gundukan
(Arinal, 2004)

18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Konservasi merupakan upaya pelestarian lingkungan, tetapi tetap
memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh pada saat itu dengan tetap
mempertahankan keberadaan setiap komponen lingkungan untuk pemanfaatan
masa depan.Secara hukum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 5
tahun 1990 tentang Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati
dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang dan bertujuan untuk
mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta
keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Fokus konservasi tingkat
spesies dilakukan pada tingkat populasi. Kunci menyelamatkan spesies adalah
dengan melindungi populasi yang ada. Perlindungan komunitas hayati dilakukan
mulai dari mewujudkan kawasan konservasi, mengelola kawasan perlindungan
secara efektif.
Kerusakan fungsi ekosistem gambut terjadi akibat dari pengelolaan lahan yang
salah dengan pemilihan komoditas bisnis yang tidak sesuai dengan karakteristik
lahan gambut. Upaya pemulihan fungsi ekosistem gambut bisa dilakukan melalui
restorasi ekosistem gambut dan rehabilitasi ekosistem gambut.

3.2 Saran
Kawasan konservasi adalah merupakan salah satu sumber kehidupan yang
dapat meningkatkan kesejahtreraan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu usaha-
usaha konservasi di Indonesia haruslah tetap memegang peranan penting dimasa
yang akan datang, suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa usaha
konservasi harus dapat terlihat memberikan keuntungan kepada masyarakat luas,
hal ini penting untuk mendapat dukungan dan partisipasi seluruh lapisan
masyarakat.

19
DAFTAR PUSTAKA
Andri Ginson. 2003. Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan di
Taman Nasional Berbak Jambi. Prosiding Semiloka. Center for International
Forestry Research. Palembang, Sumatera Selatan. Indonesia
Arinal, I. dan INN Suryadiputra. 2004. Kegiatan Penanaman Kembali
(Rehabilitasi) Berbagai Jenis Tanaman Kehutanan pada Lahan Gambut Bekas
Terbakar di dalam Kawasan Taman Nasional Berbak Jambi. CCFPI. Wetlands
International - Indonesia Programme. Jambi. Indonesia
Art, Henry W., 1993. The Dictionary of Ecology and Environmental Science. A
Henry Holt Reference Book. New York.
Bitar. 2016. Pengertian, Tujuan, Manfaat Dan Jenis Konservasi beserta
Contohnya Terlengkap. http://www.gurupendidikan.com/ (diakses pada 17
Mei 2017)
Buletin Konservasi Biodiversitas Raja4. 2014. Konservasi Spesies. FPPK
UNIPA. e-ISSN: 2338-5561. Vol.11 No. 3
Campbell, Neil A., Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi. Edisi
Kelima Jilid III. Jakarta : Erlangga
Chandra wahyu. 2015. Pedoman Pemulihan Ekosistem Gambut. Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan. https://www.academia.edu/ (diakses pada
15 Mei 2017)
David Ardhian, Paul Mario Ginting, dan Arief Tajalli. 2014. Panduan
Pengelolaan Program Konservasi Berbasis Pendekatan Ekosistem.
Kalimantan: Penabulu Alliance
Ervizal A.M. Zuhud, Ellyn K. Damayanti, Agus Hikmat.Pengembangan Desa
Konservasi Hutan Untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Kemandirian
Obat Keluarga : Strategi Pembangunan Masyarakat Indonesia Dalam Era
Globalisasi Denganberbasis Pengembangan Etnobiologi Dan Ipteks
Konservasi Keanekaragaman Hayati Lokal.Bagian Konservasi Keaneka
Ragaman Tumbuhan. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Dan
Ekowisata,Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Geovani Meiwanda. 2016. Kapabilitas Pemerintah Daerah Provinsi Riau:
Hambatan dan Tantangan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Jurnal
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Volume 19, Nomor 3, (251-263) ISSN 1410-
4946
Iwan Tricahyo Wibisono, Labueni Siboro & INN Suryadiputra. Seri Pengelolaan
Hutan dan Lahan Gambut: Rehabilitasi Hutan/Lahan Rawa Gambut Bekas
Terbakar. Wetlands International-Indonesia Programme. Jambi. Indonesia

20
Maizer Said Nahdi. 2008. Konservasi Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati
Hutan Tropis Berbasis Masyarakat. Kaunia, Vol. IV, No. 2 : 159-172
Primack, R.B., J. Supriyatna, M. Indrawan, & P. Kramadibrata. 1998. Biologi
konservasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Republik Indonesia. 2012. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia
Nomor:P.31/Menhut-II/2012tentang Lembaga Konservasi. Menteri Kehutanan
Republik Indonesia. Jakarta
Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sekretariat Negara. Jakarta
Suer Suryadi, Robi Royana, Nurman Hakim, Sunjaya, Agustinus Wijayanto, Koen
Meyers, Edy H. Wahyono, Nano Sudarno, Akbar A. Digdo, Ichlas al-Zaqie.
2016. Rencana Induk: Pengembangan Konservasi Bentang Alam Skala Besar
di Sumatera dan Kalimantan. Jakarta: Yayasan Belantara
Suprayitno. 2008. Teknik Pengelolaan Konservasi Keanekaragaman Hayati.
Bogor: Departemen Kehutanan Pusat Diklat Kehutanan
Tim Forum RKBA. 2014. Rencana Konservasi Bentang Alam Kota Palangka
Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Jakarta: Indonesia Forest and Climate
Support (USAID IFACS)
Wilyan Suri. 2009. Konservasi Pada Tingkat Komunitas. http://wilyansuri.
blogspot.co.id/2009/12/konservasi-tingkat-komunitas.html (diakses pada 17
Mei 2017)
Yustina dan Elya Febrita. 2013. Ilmu Pengetahuan Lingkungan. Program Studi
Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Riau. Pekanbaru

21