Anda di halaman 1dari 37

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 SINAR- X

Sinar-X merupakan gelombang elektromagnetik didefenisikan sebagai sesuatu


gelombang yang terdiri atas gelombang listrik dan gelombang magnit. Pada
gambar 2.1 berikut ditunjukkan keluarga gelombang elektro-magnetik, dimulai
dari gelombang radio, cahaya tampak, sinar-X hingga sinar kosmik.
Pengelompokan tersebut dibedakan atas tingkat energi atau panjang
gelombangnya.

Gambar 2.1 Tingkat energi gelombang elektromagnetik

Satuan panjang gelombang sinar-X adalah amstrong () dan nm.

Panjang gelombang sinar-X dalam kisaran 0,5 2,5 (gambar 2.1).

Sinar-X terjadi bila elektron yang bergerak dengan kecepatan tinggi tiba-tiba
terhenti karena menubruk suatu bahan misalnya suatu plat logam. Sebagai
sumber elektron adalah filamen yang dipanaskan dalam plat logam adalah
anodanya. Elektron-elektron yang terjadi pada pemanasan filamen dipercepat
dengan menggunakan tegangan tinggi antara filamen dan anoda. Sinar-X yang
terjadi karena proses pengereman diatas disebut juga Bremstrahlung.
Spektrum sinar-X yang dihasilkan proses ini adalah kontinu.

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.2 Proses pembentukan sinar-X Bremstrahlung.

Sebagian kecil elektron-elektron yang dipercepat itu akan menubruk elektron


pada kulit atom, akibatnya elektron pada kulit atom itu akan terpental sehingga
tempat tersebut kosong. Kekosongan ini segera diisi oleh elektron dari kulit
bagian atasnya disertai dengan pemancaran foton. Foton yang dihasilkan dengan
cara ini disebut sinar-X karakteristik. Bila elektron yang terpental dari kulit K
maka sinar-X yang terjadi dari pengisian kulit L disebut K, dari kulit M disebut
K dan seterusnya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sinar-X yang
terjadi dari suatu generator sinar-X akan berupa sinar-X kontinu dan sinar-X
karakteristik

Gambar 2.3 Proses Pembentukan sinar-X karakteristik

Dalam radiografi tegangan antara anoda dan katoda diperlukan sekitar 50 kV


sampai 2 MV, tetapi yang sering dipakai adalah 50 kV sampai 300 kV.

Universitas Sumatera Utara


Panjang gelombang sinar-X tergantung pada kecepatan elektron yang menubruk
anoda, jadi tergantung pada beda tegangan antara anoda dan katoda yang
digunakan. Distribusi panjang gelombang berkas sinar-X dari suatu tabung
sinar-X yang ditunjukkan pada gambar 2.4.

Panjang gelombang minimum ( min) dirumuskan oleh Duane-Hunt sebagai


berikut :

Dimana, V = beda tegangan antara anoda dan katoda.

Pada umumnya spektrum sinar-X terdiri dari spektrum kontinu ini ada beberapa
spektrum garis yaitu karakteristik bahan target dari tabung sinar-X. Banyak
elektron tergantung pada arus listrik yang melalui filamen dan temperatur.
Karena arus mudah dikontrol maka dalam sinar-X ada dua kontrol yaitu kontrol
intensitas oleh arus dan kontrol tenaga oleh tegangan. Tenaga elektron hampir
seluruhnya diubah menjadi panas sedang yang menjadi sinar-X hanya 1 %
maka anoda yang berupa logam tungsten perlu dihubungkan dengan blok
tembaga pendingin. Ada juga sinar-X yang tak mempunyai pendingin tetapi
hanya dilengkapi dengan switch.

Gambar 2.4 Tabung sinar-X

Universitas Sumatera Utara


2.2 SIFAT-SIFAT SINAR-X

Adapun sifat-sifat dari sinar-X adalah sebagai berikut :

1. Daya tembus

Sinar-X dapat menembus bahan atau massa yang padat dengan daya
tembus yang sangat besar seperti tulang dan gigi. Makin tinggi
tegangan tabung (besarnya kV) yang digunakan, makin besar daya
tembusnya. Makin rendah berat atom atau kepadatan suatu benda,
makin besar daya tembusnya.

2. Pertebaran (hamburan)

Apabila berkas sinar-X melalui suatu bahan atau suatu zat, maka
berkas sinar tersebut akan bertebaran keseluruh arah, menimbulkan
radiasi sekunder (radiasi hambur) pada bahan atau zat yang dilalui. Hal
ini akan menyebabkan terjadinya gambar radiograf dan pada film akan
tampak pengaburan kelabu secara menyeluruh. Untuk mengurangi
akibat radiasi hambur ini maka diantara subjek dengan film diletakkan
timah hitam (grid) yang tipis.

3. Penyerapan

Sinar-X dalam radiografi diserap oleh bahan atau zat sesuai dengan
berat atom atau kepadatan bahan atau zat tersebut. Makin tinggi
kepadatannya atau berat atomnya makin besar penyerapannya.

4. Efek Fotografi

Sinar-X dapat menghitamkan emulsi film (emulsi perak-bromida)


setelah diproses secara kimiawi (dibangkitkan) di kamar gelap.

5. Fluoresensi

Sinar-X dapat menyebabkan bahan-bahan tertentu seperti kalsium


tungstat atau zink sulfide memendarkan cahaya (luminisensi).
Luminisensi ada 2 jenis yaitu :

Universitas Sumatera Utara


a. Fluoresensi, yaitu memendarkan cahaya sewaktu ada radiasi sinar-
X saja.

b. Fosforisensi, pemendaran cahaya akan berlangsung beberapa saat


walaupun radiasi sinar-X sudah dimatikan (after-glow).

6. Ionisasi

Efek primer dari sinar-X apabila mengenai suatu bahan atau zat dapat
menimbulkan ionisasi partikel-partikel atau zat tersebut.

7. Efek Biologi

Sinar-X dapat menimbulkan perubahan-perubahan biologi pada


jaringan. Efek biologi ini yang dipergunakan dalam pengobatan
radioterapi, (Rasad S, 2005).

2.3 PEMBANGKIT SINAR-X

Pada saat ini terdapat cukup banyak peralatan yang digunakan sebagai
pembangkit radiasi sinar-X. Akan tetapi dalam bagian ini hanya dibahas
pembangkit yang paling populer yaitu pesawat sinar-X atau juga sering disebut
mesin Rontgen.

Gambar 2.5 Konstruksi sinar-X

Universitas Sumatera Utara


Beberapa bagian yang paling penting adalah sebagai berikut :

a. Filamen yang terdapat pada katoda dihubungkan dengan sumber arus (mA).
Katoda dihubungkan ke kutub negatif dari sumber tegangan (kV).

b. Target terletak pada anoda, yang dihubungkan ke kutub positif sumber


tegangan (kV).

2.4 PRINSIP KERJA TABUNG SINAR-X

1. Arus listrik (mA) akan memanaskan filamen (katoda) sehingga akan


terjadi awan elektron disekitar filamen (proses emisi termionik).

2. Tegangan (kV) diantara katoda (negatif) dan anoda (positif) akan


menyebabkan elektron-elektron bergerak kearah anoda.

3. Fokus (focusing cup) berfungsi untuk mengarahkan pergerakan


elektron-elektron (berkas elektron) menuju target.

4. Ketika berkas elektron menubruk target akan terjadi proses eksitasi


pada atom-atom target, sehingga akan dipancarkan sinar-X
karakteristik, dan pembelokan / pemantulan elektron sehingga akan
dipancarkan sinar-X Bremstrahlung.

5. Berkas sinar-X yang dihasilkan, yaitu sinar-X karakteristik


Bremstrahlung, dipancarkan keluar tabung melalui window.

2.5 PENGATURAN PESAWAT SINAR-X

Terdapat 2 (dua) pengaturan (adjusment) pada pesawat sinar-X yaitu


pengaturan arus filamen (mA) dan pengaturan tegangan diantara anoda dan
katoda (kV). Pengaturan arus mA akan menyebabkan perubahan jumlah
elektron yang dihasilkan filamen dan intensitas berkas elektron sehingga
mempengaruhi intensitas sinar-X.

Universitas Sumatera Utara


Semakin besar mA akan menghasilkan intensitas sinar-X yang semakin besar.

Pengaturan tegangan kV akan menyebabkan perubahan gaya tarik anoda


terhadap elektron sehingga kecepatan elektron menuju (menubruk) target akan
berubah. Hal ini menyebabkan energi sinar-X yang dihasilkan akan mengalami
perubahan.

Semakin besar kV akan menghasilkan energi dan intensitas sinar-X yang


semakin besar.

Bila arus (mA) dinaikkan maka spektrum sinar-X akan semakin tinggi
intensitasnya dengan puncak pada energi atau panjang gelombang yang tetap.
Bila tegangan (kV) dinaikkan maka intensitas semakin tinggi dan puncaknya
bergeser ke kiri, panjang gelombang mengecil atau energi membesar.

2.6 INTERAKSI SINAR-X DENGAN MATERI

Beberapa peristiwa yang menyebabkan terjadinya sinar-X telah dibahas pada


bagian sebelum ini, sedangkan pada bagian ini akan dibahas proses atau
interaksi yang terjadi bila radiasi sinar-X tersebut mengenai materi.

2.6.1 Intensitas Radiasi

Sinar-X sebagaimana radiasi gelombang elektromagnetik yang lain


memancar ke segala arah secara merata. Jumlah radiasi persatuan
waktu per satuan luas (intensitas) disuatu tempat sangat tergantung
pada tiga hal yaitu jumlah radiasi yang dipancarkan oleh sumber, jarak
antara tempat tersebut dan sumber radiasinya serta medium
diantaranya.

Hubungan antara intensitas radiasi terhadap jarak mengikuti persamaan


inverse square law (hukum kuadrat terbalik) sebagaimana berikut :

Universitas Sumatera Utara


Dimana : I1 = intensitas di titik 1

I2 = intensitas di titik 2

r1 = jarak antara titik1 dan sumber

r2 = jarak antara titik 2 dan sumber

Salah satu prinsip proteksi radiasi ekstrena adalah jarak, semakin jauh
posisi seseorang dari sumber radiasi maka intensitas radiasi yang
diterimanya akan semakin kecil, mengikuti hukum kuadrat terbalik
diatas.

2.6.2 Atenuasi Sinar-X

Intensitas radiasi sinar-X setelah melalui bahan dengan tebal tertentu


akan mengalami pelemahan atau atenuasi (gambar 2.6) mengikuti
persamaan berikut :

I = I0 e-x.....................................................................................2.3

Dimana I0, I = Intensitas sebelum dan sesudah menembus bahan.

X = tebal bahan yang diperiksa

= koefisien absorbsi linier tergantung dari jenis


bahan dan tenaga sumber yang digunakan

I0 Bahan I

Gambar 2.6 Atenuasi intensitas radiasi setelah melalui bahan.

Universitas Sumatera Utara


HVL (half value layer) adalah tebal bahan yang dapat menyerap intensitas
radiasi menjadi separuhnya, sedangkan

TVL (tenth value layer) adalah tebal bahan yang dapat menyerap intensitas
radiasi menjadi seper-sepuluhnya.

Nilai HVL dan TVL suatu bahan dapat dihitung dari koefisien serap linier ()
nya dengan persamaan berikut :

Contoh :

Koefisien serap suatu bahan adalah 0,1386/mm. Bila bahan tersebut digunakan
sebagai penahan radiasi sinar-X maka tebal yang dibutuhkan untuk
menurunkan intensitas radiasi dari 10mR/jam adalah :

HVL bahan = 0,693/0,1386 = 5 mm

Ix/I0 = 2,5 / 10 =

Tebal yang diperlukan adalah 2 x HVL = 2 x 5 mm = 10 mm

(satu HVL menurunkan nya maka diperlukan 2 HVL untuk menurunkan


nya).

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.1 Jumlah HVL dengan jumlah Ix/I0

Jumlah HVL Ix/I0

1 1/2

2 1/4

3 1/8

4 1 / 16

5 1 / 32

dan seterusnya.......

Tabel 2.2 Jumlah TVL dengan jumlah Ix/I0

Jumlah TVL Ix/I0

1 1 / 10

2 1 / 100

3 1 / 1000

dan seterusnya.......

2.6.3 Mekanisme Interaksi

Mekanisme interaksi sinar-X ketika mengenai materi adalah efek


Fotolistrik, efek Compton dan Produksi Pasangan

Universitas Sumatera Utara


2.6.3.1 Efek Fotolistrik

Gambar 2.7 Proses Efek Fotolistrik

Dalam proses efek fotolistrik, sinar-X menubruk salah satu elektron dan
memberikan seluruh energinya sehingga elektron tersebut lepas dari lintasannya.
Elektron yang dilepaskan dalam proses ini disebut fotoelektron, yang mempunyai
energi sebesar energi sinar-X yang mengenainya.

2.6.3.2 Hamburan Compton

Gambar 2.8 Proses Hamburan Compton

Dalam proses hamburan Compton, sinar-X seolah-olah menubruk salah


satu elektron dan kemudian terhambur ke daerah yang lain. Sebagian energi

Universitas Sumatera Utara


sinar-X diberikan ke elektron sehingga lepas dari lintasannya, sedangkan
sisanya dibawa oleh sinar-X hamburan.

2.6.3.3 Produksi Pasangan

Proses Produksi Pasangan hanya terjadi bila energi sinar-X lebih besar dari
1,02 MeV dan sinar-X tersebut berhasil mendekati inti atom. Sinar-X
tersebut akan lenyap dan berubah menjadi sepasang elektron-positron.
Positron adalah partikel yang identik dengan elektron tetapi bermuatan
positif.

Gambar 2.9 Proses Produksi Pasangan.

2.7 PRINSIP-PRINSIP SUATU RADIOGRAFI

Radiografi adalah gambaran suatu bahan (objek) pada film photografis yang
dihasilkan dengan melewatkan sinar-X melalui bahan tersebut. Jadi dasar
radiografi adalah mendeteksi perbedaan suatu kerapatan bahan yang
digambarkan sebagai gelap dan terang pada film. Bagian gelap sesuai dengan
bahan yang mempunyai kerapatan () rendah, karena mengabsorbsi intensitas
radiasi lebih sedikit dari kerapatan yang tinggi.

Universitas Sumatera Utara


2.7.1 Kualitas Radiografi

Kualitas radiografi adalah kemampuan radiografi dalam memberikan


informasi yang jelas mengenai objek atau organ yang diperiksa. Kualitas
radiografi ditentukan oleh beberapa komponen antara lain : densitas, kontras,
ketajaman dan detail.

Kualitas radiografi meliputi, sebagai berikut :

1. Densitas

Gambaran hitam pada hasil radiograf ditetapkan sebagai densitas. Hasil


densitas yang semakin baik terdapat pada area yang dimana sinar-X ditangkap
oleh film dan dikonversikan ke warna hitam, silver metalik.

Karakteristik fisik bahan yang paling ditemui di X-ray imaging dibandingkan


dalam tabel berikut :

Tabel 2.3 Karakteristik Fisik Bahan Kontras

Material Nomor Atom Densitas

Air 7,42 1,0

Otot 7,46 1,0

Lemak 5,92 0,91

Udara 7,64 0,00129

Kalsium 20,0 1,55

Iodine 53,0 4,94

Barium 56,0 3,5

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.4 Hubungan antara jumlah cahaya yang ditransmisikan dan
densitas film

Transmittance Percent Film Density


Transmittance
(I0/It) Log (I0/It)

1,0 100 % 0

0,1 10 % 1

0,01 1% 2

0,001 0,1 % 3

0,0001 0,01 % 4

0,00001 0,001 % 5

0,000001 0,0001 % 6

0,0000001 0,00001 % 7

2. Kontras

Perbedaan dalam densitas di beberapa tempat pada radiograf disebut kontras.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kontras adalah :

a. Relatifitas transparansi sinar-X terhadap beberapa struktur pada


radiograf.

b. Tipe film yang digunakan

c. Pemerosesan film yang digunakan

d. Intensifying screen

e. Tegangan (kV) dan

f. Pemecahan sinar radiasi

Universitas Sumatera Utara


Tegangan yang lebih rendah menghasilkan kontras yang tinggi dan tegangan
yang lebih tinggi menghasilkan kontras yang rendah.

Perbedaan derajat kehitaman dirumuskan dengan :

C = D2 D1...............................................................................................2.6

Dengan :

C = menyatakan kontras

D2 = Densitas pada daerah ke 2

D1 = Densitas pada daerah 1

Tabel 2.5 Efek mA, kVp dan waktu eksposure terhadap densitas film dan kontras

Densitas Film Kontras

Kvp Ya Ya

mA Ya Tidak

Waktu (s) Ya Tidak

3. Sharpness (Ketajaman gambar)

Ketajaman gambar pada radiograf mengindikasikan penandaan yang tajam


pada beberapa struktur yang terekam. Radiograf dikatakan memiliki ketajaman
optimum apabila batas antara bayangan satu dengan bayangan lain dapat
terlihat jelas. Ketidaktajaman radiograf dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain :

a. Faktor geometri

Seperti yang diuraikan diatas karena bentuk sumber bukan beberapa


titik tetapi mempunyai beberapa garis tengah maka sering terjadi
gangguan pada bayangan sesungguhnya.

Universitas Sumatera Utara


Adapun gangguan pada radiograf yang disebabkan oleh faktor
geometri.

Dengan menggunakan segitiga sebangun maka :

P : B = F : (A B)...........................................................................2.7

Atau

Gangguan juga dapat ditimbulkan dari hamburan yang sampai pada film
baik dari benda yang diperiksa maupun dari benda-benda lain yang berada
dibelakang film.

Gangguan semacam ini dapat diatasi dengan penghalang (screen) timbal,


dimuka maupun dibelakang film. Selain itu penghalang ini akan mempercepat
terjadinya bayangan pada film karena bentuknya elektron sekunder dari timbal
setelah menerima radiasi.

Gangguan ini biasa disebut ketidaktajaman (unsharpness), gangguan ini dapat


diatasi dengan cara sebagai berikut :

1. Sumber harus sejauh mungkin dengan bahan yang diperiksa jadi sumber
hampir mendekati sumber titik.

2. Film harus sedekat mungkin dan sejajar dengan benda yang diperiksa.

3. Letak sumber sedemikian rupa sehingga sinar jatuh tegak lurus ke


permukaan film.

a. Faktor sistem perekam bayangan

b. Efek paralak, karakteristik film dan

c. Faktor pergerakan

Universitas Sumatera Utara


4. Detail

Detail merupakan kualitas radiograf berdasarkan ketajaman dilihat dari garis


luar yang membentuk gambar dan kontras antara beberapa sruktur yang
terekam. Jika garis luar yang membentuk gambar sangat jelas dilihat dan
kejernihan detail ini dapat dikatakan bagus.

Detail radiograf menggambarkan ketajaman dengan struktur-struktur terkecil


dari radiograf. Faktor-faktor yang berpengaruh pada detail adalah faktor
geometri antara lain ukuran focal spot, FFD (Fokus Film Distance) dan FOD
(Film Objek Distance), Obrian M, 2009)

2.7.2 Gangguan Pada Citra Radiografi

1. Artefak

Artefak merupakan suatu gangguan pada tampilan citra radiografi


akibat berbagai kesalahan. Baik itu kesalahan akibat pencucian, noda
pada intensifying screen (IS) dan lain-lain. Dalam banyak situasi
artefak tidak mempengaruhi keakuratan visibilitas obyek dan
diagnostik. Tapi artefak dapat mengaburkan bagian gambar atau dapat
ditafsirkan sebagai fitur anatomi. Berbagai faktor yang terkait dengan
setiap metode imaging dapat menyebabkan artefak gambar.

2. Blur Summery (kekaburan)

Kekaburan mempunyai batas untuk mampu dilihat pada bayangan yang


kecil. Sehingga kekaburan itu mengakibatkan keterbatasan
pengelihatan detail gambar. Kekaburan menurunkan penampakan
struktur kecil dari kontras objek. Dan hal ini sering terjadi pada citra
medik. Bila kekaburan kecil maka objek yang besar masih dapat kita
lihat. Tetapi apabila kekaburan makin besar maka bukan hanya objek
kecil yang tidak bisa kita lihat, objek yang besar juga akan sulit kita
amati.

Universitas Sumatera Utara


Ada 3 (tiga) pengaruh dari kekaburan, yaitu :

1. Sebagaimana yang telah kita amati, kekaburan mengakibatkan penurunan


kemampuan untuk memperlihatkan detail anatomi objek. Padahal hal
tersebut sangat penting dalam penggambaran citra medik.

2. Kekaburan menurunkan nilai ketajaman ( sharpness) struktur dan objek


citra medik sehingga ketidaktajaman (unsharpness) sering digunakan
sebagai pengganti istilah kekaburan (blurring).

3. Efek dari Noise

Setiap kolom pada gambar di bawah ini mempunyai seri rentang kontras
dari mulai yang tinggi (bagian bawah) sampai yang mempunyai kontras
rendah (bagian atas). Terdapat 3 (tiga) tingkatan (rendah, medium dan
tinggi noise pada ketiga kolom gambar disamping. Efek dari noise adalah
untuk menurunkan visibilitas dari objek yang dimiliki dengan kontras
rendah.

Gambar 2.10 Contoh noise

Membandingkan Efek dari noise dan kekaburan (Blur).

Baik blur maupun noise sebenarnya merupan ciri umum unsur yang tidak
diinginkan pada citra medik karena bisa menurunkan visibilitas objek tertentu.
Ilustrasi gambar dibawah ini menunjukkan diagram Kontras Detail. Objek
dirancang menurut penurunan ukuran (detail) dari kiri ke kanan, dan menurut
penurunan kontras dari bawah ke atas. Bagian yang besar dan tinggi nilai kontras
objek di dalam wilayah kiri bawah harus terlihat sebagai gambaran umum

Universitas Sumatera Utara


kondisi citra medik yang semestinya. Anggaplah noise dan kekaburan (blur)
adalah dua hal yang secara bersama menghasilkan tabir ketidaktampakan
(curtain of invisibility).

Noise menurunkan visibilitas objek dengan kontras rendah. Sedangkan blur


menurunkan visibilitas objek yang ukurannya kecil. Biasanya kebanyakan objek
dengan ukuran anatomi yang kecil akan mempunyai nilai kontras yang relatif
rendah dan visibilitasnya menurun karena faktor noise dan blur.

Gambar 2.11 Efek noise dan blur

2.8 GRID (KISI)

Grid radiografi terdiri dari serangkaian strip foil timbal (Pb) yang
dipisahkan oleh celah dari strip timah tersebut (gambar 2.13). Hal ini ditemukan
oleh Dr. Gustave Bucky pada tahun 1913 (gambar 2.12), dan masih merupakan
cara yang paling epektif untuk menghilangkan radiasi scatter (radiasi hambur)
agar tidak sampai ke film rontgen di bidang radiografi. Bahan dari grid ini dapat
berupa kertas atau aluminium, tapi dalam grid modern biasanya terbuat dari serat
karbon, strip timah hitam (Pb).

Radiasi primer berorientasi pada sumbu yang sama dengan strip timah dan
melewati diantara strip timah tersebut untuk sampai ke film. Radiasi hambur
muncul dari berbagai titik dari pasien dan yang meliputi dari segala arah (multi

Universitas Sumatera Utara


arah), sehingga sebagian besar diserap oleh timah (grid) dan hanya sejumlah
sinar-X yang lewat dan sampai ke film (gambar 2.14).

Gambar 2.12 Dr Gustave Bucky

Grid terdiri atas lajur-lajur lapisan tipis timbal (Pb) atau dapat juga dijelaskan
pada saat mengambil gambar radiografi semua sinar primer jatuh pada jaringan
yang tidak dapat terlewati. Beberapa sinar dapat melewati jaringan, beberapa
sinar terrefleksikan dalam berbagai tingkatan ketebalan jaringan dan sinar
yang tertinggal terabsorbsi oleh jaringan. Sinar yang terrefleksikan
menyebabkan radiasi yang terpecah. Radiasi yang terpecah tersebut jatuh ke
film bersamaan dengan sinar primer menghasilkan gambar yang buram pada
film. Untuk menghindari pemecahan sinar diperlukan sebuah alat yang
dinamakan grid yang digunakan dalam radiografi. Penggunaan grid diperlukan
untuk jaringan dengan ketebalan 11 centi meter. Grid ditempatkan diantara
bagian yang terekspose pada kaset.

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.13 Penyerapan selektif radiasi hambur oleh sebuah Grid

2.8.1 Jenis-jenis Grid (kisi)

1. Grid diam (stationary grid atau lisholm).

Grid ini mempunyai macam-macam ukuran sesuai dengan ukuran


kaset, dan grid ini bisa dibawa atau bersifat mobile.

2. Grid bergerak (moving grid atau bucky)

Grid bergerak (moving grid) diciptakan oleh Dr Hollis E. Potter


pada tahun 1920 dan selama bertahun-tahun, grid bergerak itu
disebut grid Potter Bucky. Dalam beberapa tahun terakhir nama
telah disingkat menjadi grid Bucky, yang sangat disayangkan,
karena nama penemu dihilangkan. Grid digerakkan untuk
mengaburkan bayangan strip timah hitam (lajur grid).

Biasanya grid ini digerakkan oleh motor yang berada di bawah meja
pemeriksaan atau tepatnya terletak diatas film. Sehingga disaat
eksposure dengan cepat grid bergerak sehingga hasil pada gambar
radiografi strip tidak lagi terlihat (gambar 2.14).

Gambar 2.14 Grid bergerak (bucky)

Universitas Sumatera Utara


Sebuah grid tersusun atas strip dan materi radiotransparan seperti kayu atau
aluminium teratur pada saat focal spot diposisikan tepat ditengah grid, strip
pada grid disejajarkan dengan tumbukan primer. Contoh sederhana alat yang
dapat kita temui adalah grid yang dapat bergerak yaitu Potter-Bucky
Diafragma (Bucky). Grid ini tetap bergerak selama waktu terjadinya
pemaparan sinar. Pada saat grid yang tidak bergerak digunakan strip pada grid
akan tergambar pada radiograf. Untuk menghindari hasil dari strip ini maka
digunakan strip yang bergerak.

Gambar 2.15 gambar susunan lempeng (Pb)

2.8.2 Grid Ratio

Grid ratio adalah perbandingan antara tinggi lempengan timbal dengan jarak
antara lempeng

Semakin tinggi grid ratio semakin banyak hamburan yang diserap oleh grid,
faktor eksposi yang digunakan semakin besar. Grid dengan ratio 8 : 1 atau 10 :
1 grid sering digunakan di dalam pemeriksaan thorax dan sebagainya. Grid

Universitas Sumatera Utara


ratio 5 : 1 akan menyerap radiasi 85 % dimana grid ratio 16 : 1 penyerapan
radiasi sebesar 97 %.

Rasio grid didefenisikan sebagai perbandingan antara tinggi dari strip dengan
jarak.

Gambar 2.16 karakteristik grid

Atau

2.8.3 Cara Kerja Grid (kisi)

Grid digunakan untuk meningkatkan kontras dengan menyerap radiasi


sekunder sebelum mencapai film. Grid ideal akan menyerap semua radiasi
sekunder dan bukan radiasi primer, itu akan memberikan kontras film
maksimum tanpa peningkatan yang tidak perlu dalam eksposure pasien.

Konstruksi grid dirancang sedemikian rupa agar dapat menyerap radiasi yang
menuju ke film. Adapun prinsip konstruksinya adalah sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara


Hamburan akan diserap oleh lempengan timbal, sinar akan dilewatkan oleh
lempengan timbal tersebut terdapat jarak (interspace = D) dan juga terdapat
tinggi lempeng timbal tersebut (tinggi lead strip = h).

Sebagai sinar-X ( a= radiasi primer) akan tersebar kesegala arah pada waktu
mengenai suatu benda (gambar 2.17). Sinar tersebar ini dinamakan sinar
hambur (radiasi sekunder atau scattered radiation). Walaupun sinar hambur
mempunyai panjang gelombang yang lebih pendek tetapi efek fotografinya
tetap ada sehingga dapat menimbulkan gangguan pada film rontgen.

Sinar hambur ini harus ditiadakan dengan menggunakan grid.

Gambar 2.17 Peletakan dan fungsi grid

2.8.4 Grid Berdasarkan Susunannya

Dari susunannya dibagi dalam :

1. Linier : Jalur lempeng (Pb) yang satu dengan yang lain


sejajar (gambar 2.19).

2. Focused : Jalur lempeng (Pb) berangsur tambah miring dari pusat


ke tepi, di susun sedemikian rupa mengikuti arah sinar.

Universitas Sumatera Utara


3. Crosed grid : dua grid diletakkan satu atas yang lain
(bersilang), crossed grid sebagian pusat sinar-X tepat ditengah grid.

2.8.5 Grid Linier

Strip atau susunan grid linier mengarah sejajar satu sama lain dalam
sumbu longitudinal (gambar 2.19). Keunggulan utama grid ini adalah
susunan strip timah hitamnya memungkinkan kita untuk sudut tabung
X-ray sepanjang grid tanpa kehilangan radiasi primer dari grid cut
off (gambar 2.18).

Cut off grid adalah hilangnya berkas radiasi primer karena ketidak
tepatan angulasi antara tube dan strip timah dan menimbulkan
perbesaran strip pada gambar rontgen.

Gambar 2.18 Grid cut off

Gambar 2.19 Grid Linier

Universitas Sumatera Utara


Jadi grid (kisi) yang memenuhi syarat adalah :

1. Dapat menyerap sinar hambur 80 90 %.

2. Dapat menyerap sinar primer 10 15 %.

3. Dapat menaikkan kontras.

Penambahan kontras dapat diukur dengan faktor perbaikan kontras (K), dengan

Tabel 2.5 Perbaikan Kontras (K)

Grid Lead content / Faktor


Perbaikan
No. Grid Ratio Isi timah hitam (mg/cm2) kontras (K)

1 3,4 170 1,95

2 2 x 3,1 310 1,95

3 11 340 2,1

4 7 390 2,1

5 9 460 2,35

6 15 460 2,6

7 2x7 680 2,95

8 15 900 2,95

Universitas Sumatera Utara


2.9 FILM RADIOGRAFI

Film berfungsi untuk mencatat bayangan pada gambaran radiografi. Film ini
terdiri dari bebarapa lapisan yang diantaranya :

a. Supercoat : untuk melindungi emulsi film

b. Emulsi Film : emulsi silver-bromide yang terdiri atas AgBr, AgCl


dan AgJ. Tebal emulsi ini adalah 0,01 inc (0,0025 cm).

c. Substratum : berfungsi sebagai perekat antara emulsi ke alas film.

d. Alas film (film base) : terdiri atas polyester base

Gambar 2.20 Lapisan Film

2.9.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi penghitaman film

Derajat kehitaman (density) tergantung pada jumlah radiasi yang diserap oleh
emulsi film. Jumlah radiasi ini tergantung dari kekuatan sumber, bagian radiasi
yang menembus benda dan penghalang yang mungkin dipergunakan. Jumlah
radiasi yang dipancarkan oleh sinar-X tergantung dari arus, tegangan yang
dipakai dan lamanya penyinaran. Apabila arus yang dirubah sedangkan
tegangan tetap dan waktu tetap maka intensitas akan sebanding dengan arus
(miliampere) dan tidak ada penambahan panjang gelombang.

Jadi tidak ada penambahan daya tembusnya. Jika arus tetap dan tegangan
dirubah maka tidak hanya intensitas yang berubah tetapi juga kualitasnya.

Universitas Sumatera Utara


Pada waktu tegangan naik maka sinar-X gelombang pendek terjadi, maka daya
tembusnya bertambah.

Penyinaran (eksposure) pada sinar-X dapat dirumuskan sebagai berikut :

E = M x t...........................................................................................2.12

Dimana :

E = Penyinaran (eksposure)

M = miliampere (aktifitas)

t = waktu penyinaran

Bila jarak berubah maka jumlah radiasi yang dipancarkan berbanding terbalik
dengan kwadrat jaraknya, atau :

Dimana d = jarak sumber ke film

Jadi eksposure dapat ditentukan dari ketiga variabel diatas.

2.9.2 Sifat-Sifat Film Radiografi

Film yang digunakan untuk radiografi terdiri dari emulsi perak halida yang
diletakkan diatas gelatin dan dilapisi oleh tin yang transparan untuk
memberikan kecepatan dan kekontrasan yang optimal. Emulsi ini sensitif
terhadap sinar-X, cahaya dan lain-lain. Bila salah satu radiasi ini mengenai
emulsi tersebut maka terjadi bayangan laten. Perubahan ini tidak dapat
dideteksi secara fisis tetapi bila film yang sudah teradiasi itu dicelupkan ke
developer, maka terjadi reaksi yang menyebabkan logam perak menjadi
hitam. Perak yang mengendap dalam gelatin inilah yang menimbulkan
bayangan.

Universitas Sumatera Utara


Jenis-jenis film rontgen adalah sebagai berikut :

1. Screen Film : Film yang di dalam penggunaannya selalu menggunakan


intensifying screen.

2. Non-Screen Film : Film yang penggunaannya tanpa intensifying screen


seperti : film gigi (dental film), mammography film.

Menurut sensitifitasnya film juga dibagi atas blue sensitive dan green sensitive

Ada tiga golongan film menurut kepekaannya terhadap macam-macam warna


cahaya yaitu :

1. Orthochromatic Film

Yaitu jenis film yang memiliki kepekaan terhadap warna hijau sampai
violet, jenis ini digunakan untuk film green sensitive pada pemeriksaan
radiografi.

2. Monochromatic Film

Yaitu jenis fim yang memiliki kepekaan terhadap satu jenis warna, yaitu
warna biru saja. Jenis ini biasanya digunakan untuk film X-ray blue
sensitive.

3. Panchromatic Film

Yaitu jenis film yang memiliki kepekaan terhadap semua warna


pencahayaan. Jenis ini digunakan dalam film fotografi.

2.9.3 Daerah Kerja Film

Untuk mendapatkan kekontrasan yang baik maka suatu film perlu


ditentukan daerah kerjanya. Daerah ini dapat ditentukan dengan membuat
grafik antara E, D dimana D adalah density film dan E adalah exposure
(penyinaran).

Universitas Sumatera Utara


Density film adalah ukuran kegelapan suatu film, makin besar ukuran butir
perak persatuan luas pada film tersebut makin gelap. Makin gelap film
tersebut makin tinggi densitasnya.

Density (D) didefenisikan sebagai perbandingan log intensitas cahaya


datang sebelum dan sesudah melewati film.

Dimana : I0 = intensitas cahaya sebelum jatuh ke film

I1 = intensitas cahaya sesudah jatuh ke film

Density (D) ini terdiri dari 2 (dua) komponen, yaitu :

1. Fog density (D0) yaitu kegelapan yang memang sudah ada pada film,
jadi dapat disamakan dengan background.

2. Density (D1) yaitu kegelapan karena penyerapan sinar-X oleh emulsi


film.

Maka emulsi dapat ditulis sebagai berikut :

D = D0 + D1..........................................................................2.15

Grafik antara E dan D biasanya disebut juga dengan kurva karakteristik


film seperti terlukis pada gambar :

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.20 Kurva Karakteritik Film

Density film karena radiasi menuruti hubungan berikut :

D = C1 x I x tp........................................................................................2.16

Dimana C = Suatu faktor yang tergantung dari tenaga sinar datang dan macam
film yang dipakai

I = Intensitas sinar datang

t = lamanya film disinari

p = index yang berhubungan dengan sensitivitas dari film terhadap radiasi yang
diterima

Karena daerah kerja film terletak pada garis yang linier, maka rumus diatas
menjadi :

D = C1 I t ........................................................................................2.17

Koefisien arah dari tiap-tiap titik pada grafik disebut kekontrasan dari film
tersebut dan dinyatakan sebagai

Universitas Sumatera Utara


Dalam radiografi t ditentukan dengan meradiasi bahan yang akan diperiksa pada
ketebalan yang berbeda-beda dengan suatu jarak tertentu dan waktu yang
berbeda-beda.

2.9.4 Proses Pencucian Film

Ada 2 (dua) cara yang digunakan untuk memprosesing film, yaitu :

1. Secara manual

Yaitu cara memprosesing film dengan menggunakan tenaga manusia . Pada


cara manual ini terdiri dari beberapa tahap yaitu :

a. Tahap developer

Fungsinya untuk membangkitkan bayangan laten menjadi bayangan


tampak pada daerah yang terkena eksposi.

b. Tahap pembilasan (rinsing)

Fungsinya agar sisa-sisa larutan developer yang melekat pada film


tidak masuk ke dalam fixer.

c. Tahap penetapan (fixer)

Ini bertujuan untuk menetapkan gambaran yang terbentuk pada film.

d. Tahap pembersihan (washing)

Fungsinya membersihkan sisa-sisa larutan fixer pada film yang dapat


mempengaruhi hasil gambaran.

e. Tahap pengeringan.

Merupakan tahap akhir dari prosesing yaitu pengeringan film

Universitas Sumatera Utara


A
B
C D

Gambar 2.21 Manual Prosesing

Keterangan :

A = Tangki developer (pembangkitan)

B = Tangki rinsing (pembilasan)

C = Tangki fixer (penetapan)

D = Tangki washing (pembilas akhir)

2 Secara Otomatis

Yaitu cara memprosesing film dengan menggunakan prosesing film


yang dapat bekerja secara otomatis (menggunakan mesin dengan
bagian bagian sebagai berikut :

a. Film feeding system (tempat pemasukan film).

b. Roller transport, adalah alat yang menjalankan / mengerakkan film


dengan kecepatan konstan yang digerakkan oleh motor.

c. Water system fungsinya untuk mencuci film sebagai stabilizer


temperature developer.

d. Developer recirculatory system, berfungsi untuk mengaduk


penambahan replenisher, agitasi dan memelihara kesamaan
temperature.

e. Fixer recirculatory system.

Universitas Sumatera Utara


f. Replenaishment system, berfungsi sebagai penambah larutan
developer dan fixer yang dipompakan secara otomatis ke dalam
mesin bila volume developer dan fixer berkurang.

g. Air circulation system, merupakan pemanas udara (pengering) yang


mempunyai suhu 40 o C.

Gambar 2.22 Automatic processing Film

2.10 GRAFIK EXPOSURE

Faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya penyinaran adalah :

1. Jenis sumber yaitu tegangan (tenaga) dan arus (aktivitas).

2. Jarak sumber ke film.

3. Jenis benda dan tebalnya

4. Density yang di inginkan

5. Jenis Film

6. Proses pencucian

Disini kita dapat membahas grafik eksposure yang menunjukkan


hubungan antara tebal bahan, tenaga yang dipakai dan lamanya
eksposure. Grafik ini digunakan untuk menentukan waktu penyinaran
(eksposure) dari bahan dasar yang uniform.

Universitas Sumatera Utara


Pada sinar-X biasanya grafik ini sudah dibuat dari pabrik yang
mengeluarkannya, karena itu grafik ini berbeda untuk tipe pembangkit
sinar-X (pesawat sainar-X) yang lain. Dalam laboratorium grafik ini
sering dibuat lagi untuk sinar-X maupun sinar , karena film yang
dipakai berlainan dengan film yang dicantumkan dari pabrik dan juga
karena film mendekati masa berlakunya atau penyimpanannya kurang
sempurna.

2.10.1 Pembuatan Grafik Eksposure

Karena pada sinar-X dapat diatur maka pembuatan grafik eksposure


untuk sinar-X dan sinar berbeda. Pada pembuatan grafik harus
dicantumkan jarak dari sumber ke film yang dipakai.

Ada beberapa cara pembuatan grafik eksposure untuk sinar-X tetapi


yang dibahas hanya berdasarkan hukum pelemahan.

2.10.2 Hukum Pelemahan

Hukum Pelemahan adalah

I = I0e-x ...................................................................................2.19

It = I0e-x ...................................................................................2.20

Dimana t adalah waktu penyinaran, sehingga It sama dengan eksposure (E). Jadi
persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut :

ln E0 = ln E + x .............................................................................2.21

Universitas Sumatera Utara


Yang berlaku untuk satu tegangan. Untuk suatu tegangan intensitas radiasi yang
dipancarkan sebanding dengan arus filamen. Jadi grafiknya adalah antara log
miliampere menit terhadap tebal : grafik linier. Bila tegangan dinaikkan maka
makin kecil dan kemiringan garis bertambah.

Cara melakukan percobaan adalah dengan menggunakan stepwedge atau


bahan yang tebalnya berbeda di radiografi dengan dua waktu penyinaran yang
berbeda dan masing-masing dengan tegangan yang berbeda, tetapi jarak sumber
ke film tetap. Setelah film dicuci film diukur density untuk setiap ketebalan
densitometer. Pembacaan density ini digambarkan terhadap ketebalan untuk tiap
eksposure.

Pilih density 2 atau density yang sesuai pada film yang digunakan. Kemudian
eksposure digambarkan terhadap ketebalan pada kertas semilog. Masing-masing
grafik diperoleh dari 2 titik dengan tegangan yang sama. Untuk memperoleh
grafik eksposure yang lain harus digunakan tegangan yang lain pula.

2.11 HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN SUMBER, WAKTU DAN


JARAK

Dari grafik eksposure tampak bahwa untuk suatu sumber radiasi ada 4 (empat)
faktor yang menentukan eksposure yaitu : kV, miliampere (mA), waktu (t) dan
jarak.

Hubungan ketiga variabel ini dapat dilihat dari persamaan berikut, yaitu :

Karena density film dipilih tetap maka E akan tetap untuk setiap perubahan
M, t dan d sehingga E1 = E2. Jadi ada 3 hubungan yaitu :

Universitas Sumatera Utara


Dari hubungan diatas jelas bahwa walaupun grafik eksposure hanya berlaku
untuk suatu jarak tertentu tetapi dapat digunakan juga untuk jarak yang lain.

Universitas Sumatera Utara