Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembiayaan pembangunan menjadi bagian dari administrasi pembangunan yang


merupakan cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari upaya-upaya pemerintah
dalam rangka membiayai berbagai pengeluaran pemerintah.

Dilihat dari definisi pembangunan sendiri, Pembangunan (development) adalah


proses perubahan yang mencakup seluruh sistem sosial, seperti politik, ekonomi,
infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya
(Alexander 1994). Portes (1976) mendefinisikan pembangunan sebagai
transformasi ekonomi, sosial dan budaya Pembangunan adalah proses perubahan
yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Sedangkan Ginanjar Kartasasmita (1994) memberikan pengertian yang lebih
sederhana, yaitu sebagai suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik melalui
upaya yang dilakukan secara terencana.

Administrasi pembangunan berkembang berdasarkan disiplin ilmu yang


mendahuluinya, yaitu ilmu administrasi negara. Administrasi negara lebih
berorientasi untuk mendukung usaha-usaha pembangunan negara-negara yang
belum maju, yang berarti perhatian terhadap usaha perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan. Suatu perencanaan yang berorientasi kepada pelaksanaannya akan
lebih banyak mengarah dalam pelaksanaan pembangunan. Sedangkan administrasi
pembangunan berfungsi untuk mendukung proses perumusan kebijaksanaan-
kebijaksanaan dari program-program pembangunan, yang tercermin dalam suatu
rencana pembangunan atau suatu kerangka kebijaksanaan yang konsisten (dalam
proses administrasi dan politik). Administrasi pembangunan juga mendukung tata
pelaksanaan kebijakan secara efektif (instrumen = administrasi pembangunan).

Dalam hal pembiayaan, administrasi pembiayaan pembangunan sebagai tata


pembukuan yang berfungsi untuk segala pencatatan masuk dan keluarnya keuangan
untuk membiayai sesuatu kegiatan organisasi kerja yang berupa tata usaha.

1
Pengertian secara luas adalah kebijakan dalam pengadaan keuangan untuk
mewujudkan kegiatan kerja yang berupa perencanaan, pengurusan dan
pertanggungjawaban suatu lembaga terhadap penyandang dana, baik individual
maupun lembaga.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Apa sajakah yang menjadi bagian administrasi pembiayaan pembangunan?

1.3 Tujuan

Mengetahui bahasan bagian-bagian dalam administrasi pembiayaan pembangunan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anggaran Belanja sebagai Program Kegiatan Pemerintah


Dengan meningkatnya peranan pemerintah serta perluasan fungsinya, maka
pengelolaan sumber serta pembangunan menjadi amat penting. Kebijaksanaan
pemerintah terhadap masalah tersebut sebaiknya merupakan bagian dari suatu
kebijaksanaan dan rencana pembangunan sosial-ekonomi. Hal ini terutama berlaku
bagi negara-negara baru berkembang.

Salah satu alat penting dalam rangka pembiayaan pembanguinan yang ada di tangan
pemerintah adalah anggaran belanja Negara. Anggaran belanja mempunyai dua
segi, yaitu segi penerimaan dan segi pengeluaran. Pelaksanaan kebijaksanaan dari
dua segi tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap berbagai bidang
ekonomi-sosial di sektor pemerintah maupun swasta. Oleh karena itu anggaran
belanja menjadi sangat penting sebagai suatu program aksi pemerintah.

Segi lain dari anggaran belanja negara adalah pengawasan atas pelaksanaannya. Hal
ini lebih-lebih menjadi penting karena anggaran belanja negara bukan saja
merupakan kebijaksanaan pemerintah tetapi juga kebijaksanaan negara. Dengan
demikian perlu kiranya ada pertanggungan-jawaban atas pelaksanaan suatu tahun
anggaran tertentu dikemukakan dalam bentuk perhitungan anggaran. Pada
umumnya pertanggungan-jawaban ini perlu disampaikan kepada badan legislatif.
Sehingga perencanaan pelaksanaan dan pengawasan anggaran belanja merupakan
pula salah satu segi penting dari kehidupan yang demokratis. Pengawasan anggaran
belanja sebaiknya dilakukan oleh suatu badan pengawas yang bebas dan tidak
memihak.

Terakhir perlu dikemukakan bahwa dalam penyusunan anggaran belanja perlu pula
diserasikan dengan pengarahan atau perencanaan kredit, anggaran devisa, bahkan
di dalam angka suatu rencana investasi nasional secara menyeluruh. Hal ini perlu
untuk menjamin konsistensi dalam usaha perencanaan yang bersifat nasional.

3
Adapun definisi anggaran, dalam hal ini adalah APBN adalah rencana keuangan
tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan
Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana
penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari - 31
Desember). APBN, perubahan APBN, dan pertanggungjawaban APBN setiap
tahun ditetapkan dengan Undang-Undang.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sendiri merupakan alat utama
pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya dan sekaligus alat pemerintah untuk
mengelola perekonomian negara. Sebagai alat pemerintah, APBN bukan hanya
menyangkut keputusan ekonomi, namun juga menyangkut keputusan politik.
Dalam konteks ini, DPR dengan hak legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang
dimilikinya perlu lebih berperan dalam mengawal APBN sehingga APBN benar-
benar dapat secara efektif menjadi instrumen untuk mensejahterakan rakyat dan
mengelola perekonomian negara dengan baik.

2.2 Perencanaan dan Penyusunan Anggaran

Perencanaan dan penyusunan anggaran sebetulnya hanya meliputi sebagian dari


seluruh sumber-sumber pembiayaan dan perkiraan pembiayaan serta investasi
masyarakat. Namun demikian perencanaan dan penyusunan anggaran merupakan
hal yang penting.

Dalam tahapan perencanaan dan penyusunan anggaran, tahapan ini dilakukan pada
tahun sebelum anggaran tersebut dilaksanakan (APBN t-1) seperti untuk APBN
2014 dilakukan pada tahun 2013 yang meliputi dua kegiatan yaitu, perencanaan dan
penganggaran. Tahap perencanaan dimulai dari:

Penyusunan arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional


Kementerian negara/lembaga (k/l) melakukan evaluasi pelaksanaan program
dan kegiatan pada tahun berjalan, menyusun rencana inisiatif baru dan indikasi
kebutuhan anggaran
Kementerian perencanaan dan kementerian keuangan mengevaluasi pelaksanaan
program dan kegiatan yang sedang berjalan dan mengkaji usulan inisiatif baru

4
berdasarkan prioritas pembangunan serta analisa pemenuhan kelayakan dan
efisiensi indikasi

Tahap penganggaran dimulai dari:

Penyusunan kapasitas fiskal yang menjadi bahan penetapan pagu indikatif;


Penetapan pagu indikatif (3) penetapan pagu anggaran K/L;
Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran K/L (RKA-K/L);
Penelaahan RKA-K/L sebagai bahan penyusunan nota keuangan dan
rancangan undang-undang tentang APBN;
Penyampaian Nota Keuangan, Rancangan APBN, dan Rancangan UU tentang
APBN kepada DPR.

Penetapan/Persetujuan APBN

Kegiatan penetapan/persetujuan ini dilakukan pada APBN t-1, sekitar bulan


Oktober-Desember. Kegiatan dalam tahap ini berupa pembahasan Rancangan
APBN dan Rancangan Undang-undang APBN serta penetapannya oleh DPR.
Selanjutnya berdasarkan persetujuan DPR, Rancangan UU APBN ditetapkan
menjadi UU APBN. Penetapan UU APBN ini diikuti dengan penetapan Keppres
mengenai rincian APBN sebagai lampiran UU APBN dimaksud.

Pelaksanaan APBN

Jika tahapan kegiatan ke-1 dan ke-2 dilaksanakan pada APBN t-1, kegiatan
pelaksanaan APBN dilaksanakan mulai 1 Januari - 31 Desember pada tahun
berjalan (APBN t). Dengan kata lain, pelaksanaan tahun anggaran 2014 akan
dilaksanakan mulai 1 Januari 2014 - 31 Desember 2014.Kegiatan pelaksanaan
APBN dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini kementerian/lembaga (K/L). K/L
mengusulkan konsep Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) berdasarkan
Keppres mengenai rincian APBN dan menyampaikannya ke Kementerian
Keuangan untuk disahkan. DIPA adalah alat untuk melaksanakan APBN.
Berdasarkan DIPA inilah para pengelola anggaran K/L (Pengguna Anggaran,

5
Kuasa Pengguna Anggaran, dan Pembantu Pengguna Anggaran) melaksanakan
berbagai macam kegiatan sesuai tugas dan fungsi instansinya.

Pelaporan dan Pencatatan APBN

Tahap pelaporan dan pencatatan APBN dilaksanakan bersamaan dengan tahap


pelaksanaan APBN, 1 Januari-31 Desember. Laporan keuangan pemerintah
dihasilkan melalui proses akuntansi, dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi
keuangan pemerintah yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca,
dan Laporan Arus Kas, serta catatan atas laporan keuangan.

Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban APBN

Tahap terakhir siklus APBN adalah tahap pemeriksanaan dan pertanggungjawaban


yang dilaksanakan setelah tahap pelaksanaan berakhir (APBN t+1), sekitar bulan
Januari - Juli. Contoh, jika APBN dilaksanakan tahun 2013, tahap pemeriksaan dan
pertanggungjawabannya dilakukan pada tahun 2014. Pemeriksaan ini dilakukan
oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Untuk pertanggungjawaban pengelolaan dan pelaksanaan APBN secara


keseluruhan selama satu tahun anggaran, Presiden menyampaikan rancangan
undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada DPR
berupa laporan keuangan yang telah diperiksa BPK, selambat-lambatnya 6 (enam)
bulan setelah tahun anggaran berakhir.

2.3 Aspek Penerimaan Anggaran Belanja

Sumber pembiayaan pembangunan menurut (Tjokroamidjojo, 1986: 100) dibagi


atas sebagai berikut:

a. Sumber-sumber penerimaan dalam negeri khususnya yang tersedia sebagai


tabungan pemerintah

6
b. Tabungan masyarakat
Tabungan masyarakat antara lain dapat dipupuk melalui perbankan dan
lembaga-lembaga keuangan ataupun bentuk penanaman modal. Perhitungan
dalam rencana mengenai tabungan masyarakat ini dilakukan berdasar perkiraan
atas perkembangan kegiatan ekonomi, peningkatan pendapatan masyarakat,
desain-desain tabungan dalam masyarakat, pengembangan pelembagaan
keuangan termasuk non bank, kebijaksanaan moneter, perkreditan khususnya
tingkat bunga dan kebijaksanaan di bidang penanaman modal.

c. Sumber dana dari luar negeri


Dapat tersalur ke dalam anggaran negara atau pun tidak, langsung kepada sektor
perkreditan atau kepada sektor penanaman modal. Perkiraan tentang sumber
dana luar negeri lain mulai banyak direncanakan sebagai bagian yang integral
dari keseluruhan investasi pada umumnya, dilihat secara komplementer
kebutuhan pembiayaan pembangunan sebagai resource gap.

Mengenai penerimaan dalam negeri diusahakan dari pajak langsung, pajak tidak
langsung dan penerimaan bukan pajak. Pada umumnya yang dihitung sebagai
sumber pembiayaan pembangunan hanyalah sisa setelah dikurangi pembiayaan
rutin pemerintah. Bagi Indonesia misalnya hal ini disebut sebagai tabungan
pemerintah.

Pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari
penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak, serta penerimaan hibah
dari dalam negeri dan luar negeri.

1. Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri atas pajak
dalam negeri dan pajak perdagangan internasional.
a. Pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari pajak
penghasilan, pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan
atas barang mewah, pajak bumi dan bangunan, cukai, dan pajak lainnya.
b. Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang
berasal dari bea masuk dan bea keluar.

7
2. Penerimaan negara bukan pajak, yang selanjutnya disingkat PNBP, adalah
semua penerimaan Pemerintah Pusat yang diterima dalam bentuk penerimaan
dari sumber daya alam, bagian Pemerintah atas laba badan usaha milik negara
(BUMN), penerimaan negara bukan pajak lainnya, serta pendapatan badan
layanan umum (BLU).
3. Penerimaan hibah adalah semua penerimaan negara baik dalam bentuk devisa
dan/atau devisa yang dirupiahkan, rupiah, maupun dalam bentuk barang, jasa,
dan surat berharga yang diperoleh dari pemberi hibah yang tidak perlu dibayar
kembali dan yang tidak mengikat, baik yang berasal dari dalam negeri maupun
dari luar negeri.

2.4 Pelaksanaan Pembiayaan Pembangunan

Segi anggaran belanja dalam pelaksanaan pembiayaan pembangunan adalah segi


pengeluaran. Pada umumnya pengeluaran Negara di dasarkan atas :

1. Pemenuhan kebutuhan rutin pemerintah


2. Usaha pertumbuhan ekonomi dan pembangunan pada umumnya
3. Pertimbangan stabilitas ekonomi, dan
4. Pemenuhan kebutuhan jangka pendek yang tumbuh karena perkembangan
keadaan Negara dan masyarakat.

Anggaran pengeluaran pada umumnya terbagi atas dua bagian, yaitu anggaran rutin
dan anggaran pembangunan. Kemudian sesuai dengan klasifikasi fungsional
Anggaran pembangunan tersebut dibagi untuk anggaran berbagai sektor kegiatan
pembangunan. dalam pelaksanaan pembiayaan, terutama biaya pembangunan
perlulah didasarkan atas beberapa pertimbangan, pertama pencapaian tujuan
kegiatan usaha dengan biaya yang seefisien mungkin. Kedua, dapat dipertangung-
jawabkan serta sejauh mungkin mengurangi kebocoran dan penyelewengan. ketiga
pertimbangan-pertimbangan manajemen pelaksanaan kegiatan-kegiatan usaha atau
proyek yang dibiayai dari anggaran Negara.

Mengenai prosedur pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, telah


dilakukan penyempurnaan tahun demi tahun. Keputusan Presiden Nomor 33 tahun

8
1969 disempurnakan dengan Keputusan Presiden Nomor 24 tahun 1970, dan
kemudian disempurnakan lagi dengan Keputusan Presiden Nomor 14 tahun 1971.
Dan untuk tahun anggaran 1972/1973 dengan Keputusan Presiden Nomor 28 tahun
1972.

Pokok-pokok prosedur pelaksanaan anggaran pembangunan adalah sebagai


berikut:

1. Departemen-departemen mengajukan DIP (Daftar Isian Proyek) kepada


Departemen Keuangan dan Bappenas.
2. Departemen Keuangan dan Bappenas meneliti DIF-DIP dan
mengesahkan DIP-DIP yang telah diteliti tersebut, DIP-DIP yang telah
disahkan tersebut kemudian dikirim ke Departemen, KBN dan Gubernur.
3. Pimpinan maupun Bendaharawan Proyek harus sudah ditetapkan oleh
Pimpinan Lembaga, sebelum dapat disahkannya suatu DIP.
4. Departemen mengirimkan DIP kepada Proyek,
5. Departemen Keuangan menetapkan plafond biaya triwulanan bagi masing-
masing Departemen. Plafond ini adalah untuk Departemen secara
keseluruhan dan bukannya untuk masing-masing proyek.
6. Departemen menerbitkan SKO (Surat Keputusan Otorisasi) untuk masing-
masing proyek, dengan mengingat plafond biaya satu triwulan yang telah
ditetapkan untuk Departemen secara keseluruhan. SKO dapat dikeluarkan
untuk satu triwulan sekaligus. SKO dikirim kepada KBN, Proyek dan
Gubernur (tembusan).
7. Bendaharawan Proyek mengajukan SPP (Surat Perintah
Pembayaran).
8. KBN meneliti SPP :
a. harus sesuai dengan DIP
b. harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Ketentuan-ketentuan tentang
syarat ini, lebih dipertegas dalam Keputusan Presiden Nomor
14/1971.
9. Pengeluaran dilakukan oleh KBN atas dasar beban tetap dan beban
sementara. Ketentuan-ketentuan tentang pengeluaran beban tetap dan beban
sementara diperjelas.

9
10. KBN menerbitkan SPM (Surat Perintah Membayar). Dalam hal
beban tetap SPM diterbitkan atas nama pemborong atau
penjual. Dalam hal beban sementara SPM diterbitkan atas nama
Bendaharawan Proyek.
11. Dalam hal beban tetap pemborong atau penjual menguangkan SPM pada
Kas Negeri. Dalam hal beban sementara Bendaharawan Proyek
menguangkan SPM pada Kas Negeri.
12. Bendaharawan Proyek menguangkan uang tersebut untuk keperluan-
keperluan Proyek.
13. Proyek mengirimkan SPJ (Surat Pertangungan Jawab) kepada KBN
selambat-lambatnya pada tanggal 10 tiap bulan.
14. Dalam hal pembelian barang melalui impor maka :
a. Proyek mengajukan SPP kepada KBN.
b. Bank membuka L/C yang dibebankan atas rekening KBN.
c. Bank mengirimkan Debet Nota kepada KBN.
d. KBN mengirimkan SPM redres.

2.5 Pembiayaan Pembangunan Daerah

Sumber-sumber pembiayaan untuk pembangunan daerah (capital investment),


antara lain berasal dari dana perimbangan yang diterima oleh daerah-daerah dari
pemerintah pusat. Beberapa daerah yang kaya sumber daya alam dapat
menggunakan dana bagi hasil untuk membiayai belanja pembangunannya
sedangkan bagi daerah-daerah miskin dan tidak memiliki sumber daya alam,
belanja pembangunannya masih akan tergantung pada jumlah Dana Alokasi Umum
(DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diterima pada tahun anggaran
tertentu. Namun dalam pelaksanaannya sebagian besar dari jumlah DAU digunakan
untuk membayar gaji pegawai daerah, sedangkan bagian DAU untuk belanja
pembangunan relatif kecil sekali jumlahnya, sehingga diperlukan alternatif sumber
pembiayaan pembangunan (Elmi, 2002:57).

Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah melalui UU No.22 tahun 1999


yang diperbaharui dengan UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan

10
UU No.25 tahun 1999 yang diperbaharui dengan UU No.33 tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah, mengarahkan pemerintah
daerah di Indonesia memasuki era baru dalam pelaksanaan sistem desentralisasi di
bidang perekonomian, administrasi dan fiskal. Oleh karena itu pemerintah daerah
diharapkan dapat mengembangkan potensi daerahnya sendiri dan menggali sumber
dana yang ada dan potensial guna mewujudkan peningkatan kesejahteraan warga
masyarakatnya. Akibatnya mekanisme pembiayaan pelaksanaan otonomi daerah
berubah yaitu diutamakan semaksimal mungkin berasal dari potensi penerimaan
asli daerah baik melalui pajak daerah, retribusi daerah maupun dari laba BUMD
dan penerimaan lain yang dianggap sah serta potensi penerimaan lain yang masih
belum terjangkau oleh PAD.

Selain itu sebagian besar proyek-proyek dan kegiatan-kegiatan kepemerintahan


yang dulu ditangani dan dibiayai oleh pemerintah pusat sekarang akan menjadi
beban pemerintah daerah. Dengan demikian pemerintah daerah akan menanggung
beban belanja atau pengeluaran yang jumlahnya besar. Namun dari beberapa
penelitian yang dilakukan sebelumnya didapat hasil bahwa hampir semua daerah di
Indonesia memiliki derajat desentralisasi di bidang perekonomian yang rendah
(Kuncoro, 1995:3-17; Nasara, 1997:17-25). Kondisi ini menyebabkan sebagian
besar daerah mengalami masalah keuangan dalam menyelenggarakan
pemerintahan dan pembangunan di daerah, padahal tuntutan masyarakat terhadap
penyediaan fasilitas atau sarana dan prasarana umum juga semakin meningkat.
Sebagai konsekuensinya pemerintah daerah dituntut untuk kreatif dalam mencari
sumber-sumber pendapatan dan pembiayaan yang memadai.

Sumber dana pemerintah daerah sebagian besar masih berasal dari pemerintah
pusat. Jika melihat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di masing-
masing kabupaten/kota, hampir sebagian dana diperoleh dari transfer pemerintah
pusat dan dirasa masih belum mencukupi. Oleh karena itu pembangunan di daerah
dapat dikatakan tidak dapat berjalan bila hanya mengandalkan dari transfer
pemerintah pusat, karena sebagian besar dipakai untuk membiayai pengeluaran
rutin saja. Keadaan ini menggambarkan betapa pemerintah daerah sangat
bergantung pada pemerintah pusat. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
seharusnya menjadi sumber utama keuangan daerah masih jauh dari harapan. Hal

11
ini terlihat dari rendahnya proporsi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap total
pendapatan daerah bila dibandingkan dengan besarnya transfer dari pemerintah
pusat (Elmi, 2002:50).

Salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah sebagai
sumber pembiayaan pembangunan adalah pinjaman daerah. Kabupaten Semarang
sebagai salah satu kota di Propinsi Jawa Tengah sudah harus mandiri dalam
membiayai pembangunannya, pemerintah daerah dituntut untuk mengoptimalkan
sumber-sumber pembiayaan yang bersumber dari laba BUMD, dana perimbangan
dan dana pinjaman. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan
daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai sehingga
daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali, tidak termasuk kredit
jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan (PP No. 54 Tahun 2005).
Sumber pinjaman daerah berasal dari pemerintah pusat, negara donor melalui
pemerintah pusat (two step loan), pasar modal dan tabungan masyarakat. Pinjaman
daerah dibutuhkan untuk membiayai berbagai kebutuhan dan penyediaan fasilitas
yang diperlukan oleh sektor publik (masyarakat).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No 54 Tahun 2005, dana pinjaman


merupakan pelengkap dari sumber-sumber penerimaan daerah yang ada guna
menutupi kekurangan penerimaan yang berasal dari pajak dan retribusi serta
bantuan yang diberikan oleh pemerintah pusat dan ditujukan untuk membiayai
pengadaan prasarana Daerah atau harta tetap lain yang berkaitan dengan kegiatan
yang bersifat meningkatkan penerimaan yang dapat digunakan untuk
mengembalikan pinjaman, serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat
berupa penyediaan fasilitas di berbagai sektor-sektor yang menjadi kebutuhan dasar
utilitas perkotaan dan sektor ini memerlukan dana yang cukup besar. Selain itu,
Daerah dimungkinkan pula melakukan pinjaman dengan tujuan lain, seperti
mengatasi masalah jangka pendek yang berkaitan dengan arus kas Daerah.

Dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah memanfaatkan


sumber dana pinjaman untuk proyek-proyek yang dapat menghasilkan pendapatan
dengan maksud agar Pemerintah Daerah yang bersangkutan mampu
mengembalikan modal pokok pinjaman beserta bunganya. Kegiatan-kegiatan yang

12
dibiayai melalui pinjaman daerah pada dasarnya merupakan investasi di bidang
publik berupa perbaikan dan penambahan infrastruktur sosial ekonomi.

Semakin baik infrastruktur ekonomi yang disediakan pemerintah, maka akan


mendorong kegiatan ekonomi masyarakat dan pada akhirnya akan meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah. Beberapa alasan mengapa pinjaman Pemerintah Daerah
dipergunakan untuk daerah perkotaan. Pertama, sektor perkotaan dianggap banyak
mempunyai kegiatan yang dimungkinkan mampu untuk melakukan pengembalian;
kedua, daerah perkotaan cenderung mempunyai pendapatan daerah yang terbesar;
ketiga, pihak negara donor telah sering terlibat untuk meminjamkan dana di daerah
perkotaan (Devas, 1989:223). Proyek-proyek di daerah perkotaan yang biasanya
mendapat bantuan adalah proyek-proyek air bersih, pengolahan limbah,
perkampungan, sanitasi, pasar atau hotel dan lain sebagainya. Yang langsung
menghasilkan penerimaan yang cukup bagi pemerintah daerah setelah pinjaman
dilunasi.

Di berbagai negara umumnya, wewenang pemerintah daerah untuk meminjam dan


dibatasi. Ada tiga sebab utama yaitu pertama, pinjaman sektor pemerintah secara
keseluruhan perlu dikendalikan dalam hubungan dengan kebijaksanaan moneter,
terutama untuk mengendalikan inflasi. Kedua,untuk mencegah jangan sampai
pemerintah daerah terjerumus ke dalam kesulitan keuangan. Untuk itu ada batas
sampai sejauh mana pemerintah daerah sanggup membayar kembali hutangnya,
sehingga bila pinjaman tidak terkendali, mau tidak mau pemerintah daerah
bersangkutan akan berhadapan dengan berbagai kesulitan dan sebab ketiga,
pemerintah pusat ingin tetap mengendalikan pola pengeluaran penanaman modal
pemerintah daerah (Devas, 1989:223).

Menurut PP.no. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah, dasar pemberian


pinjaman adalah diukur dari kemampuan daerah itu sendiri dalam menghimpun
penerimaan selama periode tertentu yang didasarkan atas jumlah penerimaan asli
daerah. Di Indonesia dasar penerimaan ini diatur dalam ketentuan tersendiri oleh
pemerintah pusat dan rasionya adalah minimal pemerintah daerah memiliki DSCR
sebesar 2,5. Pinjaman yang diberikan mempunyai tenggang waktu yang cukup lama
dengan tingkat bunga yang rendah serta memiliki grace periode yang bervariasi.

13
Sedangkan dalam hal ambang batas pelunasan hutang pinjaman yang merupakan
tolak ukur yang dipergunakan oleh pemerintah pusat (Departemen Dalam Negeri)
yaitu untuk mengendalikan jumlah pinjaman pemerintah daerah yaitu angka
ambang batas untuk satu tahun dibatasi sampai 15% dari penerimaan pembangunan
pemerintah daerah pada tahun yang bersangkutan.

Oleh karena ketatnya aturan yang diberlakukan untuk mengadakan suatu pinjaman,
maka pemerintah daerah kesukaran untuk memperoleh dana sehingga
menyebabkan pemerintah daerah memiliki keterbatasan anggaran. Padahal di sisi
lain Pemerintah Daerah memerlukan dana yang cukup besar untuk membangun
berbagai prasarana yang mendukung kegiatan ekonomi dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat di daerah. Terbatasnya anggaran menyebabkan sulitnya
pelaksanaan pembangunan daerah.

2.6 Aspek Administrasi Kredit dan Penanaman Modal

Salah satu pembiayaan pembangunan di mana pemerintah dapat melakukan


perannya yang penting dan secara cukup besar, ialah dengan kebijaksanaan dan
pengembangan perkreditan dan penanaman modal. Di sini akan diuraikan tidak
mengenai kebijaksanaannya, tetapi lebih ditekankan kepada aspek administrasi
terutama dalam rangka administrasi pembangunan dari pada perkreditan dan
penanaman modal, yang menjadi bagian dari fungsi pemerintah. Biarpun demikian,
aspek administrasi tesebut tidak akan dapat dilepaskan dai peranan pemerintah yang
diambil oleh masing-masing negara dalam bidang pembangunan (ekonomi) serta
kebijaksanaannya.

Dari segi administrasi pembangunan, dalam banyak negara-negara baru


berkembang dirasakan perlunya peranan pemerintah untuk merencanakan dan
mengembangkan prasaran bagi pemupukan sumber-sumber dana pembangunan di
luar sektor anggaran (financial infrastucture).

Beberapa masalah lain dari aspek administrasi bidang perkreditan ini (termasuk
pula dana-dana yang dipupuk dan disalurkan oleh lembaga-lembaga keuangan

14
lainnya) yang perlu mendapat perhatian menurut pendapat Wignaraja adalah
sebagai berikut :

Struktur organisasi dan lembaga keuangan


Kualitas manajemen dan kemampuan penyelenggaraan pinjaman kepada
proyek secara sehat
Kualitas peminjaman
Hubungan antara lembaga lembaga keuangan.
Hubungan antara kebijaksanaan lembaga-lembaga keuangan dalam
pelaksanaan kegiatan pemerintah
Hubungan antara kebijaksanaan kredit dan kebijaksanaan lembaga
keuangan
Bagaimana menyerahkan lembaga keuangan lainnya dalam sistem
keuangan negara

Mengenai penanaman modal, pemerintah dapat menyertakan kekayaan Negara


yang dipisahkan sebagai penanaman modal pada suatu perusahaan, tetapi
pemerintah juga dapat memberikan kebijakan dan prasarana administratif bagi
terselenggaranya penanaman modal dalam negeri. Semua ini sekali lagi tergantung
dari peranan pemerintah terhadap sektor swasta.

Aspek administratif dari pembiayaan pembangunan melalui penanaman modal ini


antara lain adalah tata penyelenggaraan evaluasi pelaksanaan penanaman modal
dalam negeri maupun penanaman modal luar negeri, karena dalam tata
penyelenggaraan pelayanan administratif bagi penanaman modal tersebut terlibat
banyak sekali badan-badan pemerintah. Maka seringkali terjadi kesimpangsiuran,
ketidaktegasan bidang kewenangan, dan pembenturan keputusan antara badan
badan pemerintah tersebut.

15
2.7 Administrasi Keuangan

Karena banyaknya perbedaan pengertian terhadap istilah yang dipakai, maka perlu
dikemukakan di sini bahwa istilah administrasi keuangan dalam uraian ini diartikan
dalam arti sempit. Administrasi keuangan dalam pelaksanaan anggaran belanja
Negara. Di dalam administrasi keuangan sebagai pelaksanaan anggaran belanja
Negara ini, dapat dibedakan tiga kegiatan tertentu, antara lain:

a. Fungsi pre-audit. Dalam fungsi ini dilakukan penelitian, perencanaan,


penilaian dan persetujuan terhadap usul-usul pengeluaran untuk menjamin
bahwa pengeluaran ini benar-benar wajar, mempunyai dasar hukum dan
bahwa pengeluaran tersebut sesuai dengan penyediaan anggaran yang telah
ditentukan serta telah tersedia dananya.
b. Transaksi dan tata pembukuan. Yaitu melakukan pembukuan terhadap
kegiatan mutasi keuangan yang sebenarnya, seperti penerimaan,
pengeluaran, alokasi dan penyusunan neraca penerimaan dan pengeluaran.
c. Pot-audit, dan ini sering disebut sebagai audit. Fungsi ini adalah meneliti,
menilai dan melakukan verifikasi terhadap transaksi dan mutasi yang telah
dilaksanakan dan tata pembukuannya. Untuk mudahnya ini disebut
pengawasan keuangan.

Semua kegiatan tersebut ditujukan supaya penyelenggaraan administrasi keuangan


dapat dipertanggung jawabkan. Untuk keperluan kelancaran pelaksanaan kegiatan,
terutama dalam rangka pembangunan, serta tetap dapat dipertanggungjawabkannya
pelaksanaan keuangan pemerintah, maka perbaikan-perbaikan, penyempurnaan-
penyempurnaan perlu terus menerus dilakukan. Dengan perluasan fungsi dan
kegiatan pemerintahan, perlu dikembangkan pula penyediaan tenaga dan
peningkatan kualitas tenaga dalam bidang administrasi keuangan ini.

2.8 Pengawasan Keuangan

Pengawasan keuangan negara pada tahap pelaksanaan dilakukan pada sisi


penerimaan dan pengeluaran keuangan negara. Pada sisi penerimaan pengawasan
dilakukan oleh Kantor Pelayanan ataupun Pemeriksa Pajak untuk penerimaan

16
negara dalam bentuk pajak, Kantor Inspeksi Bea dan Cukai untuk penerimaan
dalam bentuk bea dan cukai serta Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
(KPPN) untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Sedangkan pengawasan
keuangan negara pada sisi pengeluaran lebih ditekankan pada pengawasan internal
dari masing-masing instansi yang akan melakukan pengeluaran keuangan negara
tersebut

Pengawasan keuangan harus dilakukan pada pengawasan penutupan buku


anggaran. Penutupan buku anggaran untuk tahun tertentu adalah penerbitan neraca
anggaran secara menyeluruh, sebagai hasil pelaksanaan anggaran sesuatu tahun
tertentu. Sedangkan fungsi pengawasan keuangan adalah untuk mengetahui sah
atau tidaknya transaksi keuangan pada ketepatan tata pembukuannya. Dengan ini
berarti pengawasan adalah berupa suatu penilaian dan pengecekan terhadap tata
pembukuan pelaksanaan keuangan pemerintah.

Fungsi pengawasan keuangan pada umumnya dilakukan oleh sesuatu badan


administratif yang bebas, dan dapat melaporkan hasil pengawasan tersebut kepada
pimpinan pemerintahan dan kepada badan legislatif. Macam pengawasan keuangan
tertentu dapat pula dilakukan misalnya bagi perusahaan negara atau transaksi
perusahaan yang menggunakan kekayaan negara sebagai modal keseluruhan atau
sebagian.

17
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari bahasan dalam pembahasan pada makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa
administrasi pembiayaan pembangunan sebagai tata pembukuan yang berfungsi
untuk segala pencatatan masuk dan keluarnya keuangan untuk membiayai sesuatu
kegiatan organisasi kerja yang berupa tata usaha. Administrasi pembiayaan
pembangunan diperlukan sebagai badan yang mengatur alokasi anggaran untuk
pembiayaan pembangunan negara, selain itu dalam implementasinya, administrasi
pembiayaan pembangunan memerlukan badan pengawasan keuangan negara,
dimana fungsi pengawasan penggunaan keuangan adalah untuk mengetahui sah
atau tidaknya transaksi keuangan pada ketepatan tata pembukuannya.

18
DAFTAR PUSTAKA

Kuncoro, Mudrajad, Ekonomi Pembangunan : Teori, Masalah, dan Kebijakan,


Yogyakarta, 1997.
Tambunan, Tulus T.H., Perekonomian Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia,
1996.
Tjokroamidjojo, Bintoro; Mustopadidjaja, Pengantar Pemikiran tentang Teori
dan Strategi Pembangunan nasional, Jakarta, 1984.

19