Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal
yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin
diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan
untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang
menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa
melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam
terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan
interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting
bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan
yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih
atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin
dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber
nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan
kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang
penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang
sehat.

Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari
dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang "kotor". Hal ini berkaitan
dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi,
sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan
saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang
dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan zat yang steril
.Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan
mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan mengeluarkan urin
berwarna kuning pekat atau cokelat.
Eliminasi urin secara normal bergantung pada satu pemasukan cairan dan sirkulasi
volume darah, jika salah satunya menurun, pengeluaran urin akan menurun. Pengeluaran urin
juga berubah pada seseorang dengan penyakit ginjal, yang mempengaruhi kuantitas, urin dan
kandungan produk sampah didalam urin.

1.2 Rumusan Masalah


1. Menjelaskan konsep kebutuhan eliminasi urine
2. Menjelaskan hal yang dikaji pada pasien dengan gangguan kebutuhan eliminasi urine
3. Menjelaskan masalah-masalah yang dialami pada pasien dengan gangguan pemenuhan
eliminasi urine .
4. Menuliskan diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan gangguan
pemenuhana eliminasi urime
5. Menjelaskan intervensi dan evaluasi keperawatan pada pasien dengan gangguan
eliminasi urine.

1.3 Tujuan Umum


Untuk mempelajari eliminasi urin
Tujuan Khusus
1. Menjelaskan anatomi fisiologi sistem perkemihan
2. Menjelaskan konsep pemenuhan kebutuhan eliminasi urine
3. Menjelaskan proses perkemihan
4. Menjelaskan masalah eliminasi urin
5. Menjelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi eliminasi urine
6. Menjelaskan asuhan keperawatan dengan pemenuhan kebutuhan urin

1.4 Manfaat
Mengetahui dan dapat memahami konsep kebutuhan eliminasi urin beserta anatomi
fisiologi sistem perkemihan dan proses perkemihan tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh. Pembuangan
dapat melalui urine ataupun bowel.
Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan. Proses pengeluaran ini sangat
bergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder, dan
uretra. Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urine. Ureter mengalirkan urine
ke bladder. Dalam bladder urine ditampung sampai mencapai batas tertentu yang
kemudian dikeluarkan melalui uretra.

2.2 Anatomi-Fisiologi Saluran Perkemihan


Saluran perkemihan terdiri atas ginjal,ureter, kandung kemih,dan uretra.
1. Ginjal
Bentuknya seperti biji kacang,ju,lahnya ada dua di kiri dan kanan.Ginjal terletak di
kedua sisi medula spinalis,di balik rongga peritoneum.Ginjal kiri lebih besar dari ginjal
kanan,dan pada umumnya ginjal laki laki lebih panjang dari pada ginjal perempuan
( Syaifuddin,1994).Ginjal terdiri atas satu juta unit fungsional nefron yang bertugas
menyaring darah dan membuang limbah metabolik.Selain itu,ginjal juga bertugas
mempertahankan homeostatis cairan tubuh melalui beberapa cara,yakni :
a. Pengaturan volume cairan.jumlah cairan dan elektrolit dalam tubuh
berfluktuasi.Proses ekskresi ini diatur oleh ginjal.Jika seseorang minum
banyak,urinenya akan encer dan volumenya akan bertambah.sebaliknya,jika
orang tersebut minum sedikit,urinenya akan pekat dan volumenya berkurang.
b. Pengaturan jumlah elektrolit tubuh.Kandungan elektrolit dalam tubuh cenderung
konstan.Kondisi ini dipertahankan melalui dua proses,yaitu laju filtrasi
glomerulus ( GFR ) dan proses reabsorbsi yang selektif di tubulus ginjal akibat
pengaruh hormon.Saat jumlah ion Na+ meningkatkan laju filtrasi glomerulus (
GFR) dan menghambat sekresi hormon aldosteron sehingga reabsorsi Na+
berkurang ,demikian pula sebaliknya.
c. Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh.Ginjal merupakan mekanisme
ppengaturan keseimbangan asam basa yang paling kuat.Dalam menjalankan
fungsinya,ginjsl tidak hanya mengubah ubah peengeluaran H+,tetapi juga
menahan atau membuang HCO3- sesuai dengan status asam basa tubuh.
d. Ekskresi sisa sisa metabolisme.Ginjal mengekskresikan zat zat racun ( misal
ureum,asam urat,kreatinin,sulfat,fosfat ) dan obat obatan dari tubuh.
e. Reabsorpsi bahan yang bersifat vital untuk tubuh.Normalnya,bahan bahan
darah,dan biasanya tidak diekskresikan ke dalam urine.upaya ini mencegah
hilangnya nutrien nutrien penting dari tubuh.
f. Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresikan hormon renin untuk
mempertahankan keseimbangan cairan elektrolit dan tekanan darah ( sistem
renin angiotensin aldosteron ).Selain itu,ginjal juga berperan dalam proses
metabolisme zat zat tertentu ( misalnya obat )
Fungsi utama ginjal ialah mengeluarkan sisa nitrogen, toksin, ion, dan obat-obatan,.
Mengatur jumlah dan zat-zat kimia dalam tubuh. Mempertahankan keseimbangan
antara air dan garam-garam serta asam dan basa. Menghasilkan renin, enzim untuk
membantu pengaturan tekanan darah. Menghasilkan hormon eritropoitin yang
menstimulasi pembentukan sel-sel darahmerah di sumsum tulang. Membantu dalam
pembenrtukan vitamin D.
2. Ureter
Ureter adalah tabung yang berasal dari ginjal dan bermuara di kandung kemih.
Panjangnya sekitar 25 cm dan diameternya 1,25 cm.Bagian atas ureter berdilatasi dan
melekat pada hilus ginjal,sedangkan bagian bawahnya memasuki kandung kemih pada
sudut posterior dasar kandung kemih.Urine didorong melewati ureter dengan
gelombang peristalsis yang terjadi sekitar 1 4 kali per menit.Pada pertemuan antara
ureter dan kandung kemih,terdapat lipatan membran mukosa yang bertindak sebagai
katup guna mencegah refluks urine kembali ke ureter sehingga mencegah penyebaran
infeksi dari kandung kemih ke atas.
3. Kandung kemih
Kandung kemih ( vesika urinaria ) adalah kantung muskular tempat urine bermuara
dari ureter.Ketika kosong atau seetengah terisi,kandung kemih terletak di belakang
simfisis pubis.Pada pria,kandung kemih terletak di antara kelenjar prostat dan rektum
; pada wanita,kanddung kemih terletak di antara uterus dan vagina.Dinding kandung
kemih sangat elastis sehingga mampu menahan regangan yang sangat besar.Saat
penuh,kandung kemih bisa melebihi simfisis pubis,bahkan bisa setinggi umbilikus.
4. Uretra
Uretra membentang dari kandung kemih sampai meatus uretra.Panjang uretra pada
pria sekitar 20 cm dan membentang dari kandung kemih sampai ujung penis.Uretra
pria terdiri atas tiga bagian,yaitu uretra pars prostatika,uretra pars membranosa,dan
uretra pars spongiosa.Pada wanita,pamjamg uretra ssekitar 3 cm dan membentang dari
kandung kemih sampai lubang di antara labia minora 2,5 cm di belakang klitoris.Karen
uretranya yang pendek,wanita lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih.

2.3 Refleks Miksi


Kandung kemih dipersyarafi oleh saraf sakral 2 (S-2) dan sakral 3 (S-3). Saraf sensorik
dari kendung kemih dikirimkan kemedula spinalis bagian sakral 2 sampai dengan sakral 4
kemudian diteruskan ke pusat miksi pada susunan saraf pusat. Pusat miksi mengirimkan
sinyal kepada otot kandung kemih (destrusor) untuk berkontraksi. Pada saat destrusor
berkontraksi spinter interna relaksasi dan spinter eksterna yang dibawah kontrol kesadaran
akan berperan. Apakah mau miksi atau ditahan/ditunda. Pada saat miksiotot abdominal
berkontraksi bersama meningkatnya otot kandung kemih. Biasanya tidak lebih dari 10 ml
urine tersisa dalam kandung kemih yang disebut dengan urine residu.

2.4 Urine
1. Ciri-ciri urine normal
a. Jumlah dalam 24 jam 1.500 cc,bergantung pada banyaknya asupan cairan
b. Berwarna oranye bening,pucat,tanpa endapan
c. Berbau tajam
d. Sedikit asam ( pH rata rata 6 )
2. Proses pembentukan urine
Ada tiga proses dasar yang berperan dalam pembentukan urine : filtrasi glomerulus,
reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus.
a. Filtrasi glomerulus. Proses ini terjadi karena permukaan aferen lebih besar dari
permukaan eferen sehingga terjadi penyerapan darah. Saat darah melalui
glomerulus, terjadi filtrasi plasma bebas protein menembus membran kapiler
glomerulus ke dalam kapsul Bowman. Filtrasi yang lolos tersebut terdiri atas air,
glukosa, natrium, klorida, sulfat, dan bikarbonat yang kemudian diteruskan ke
tubulus ginjal.
b. Reabsorpsi tubulus. Pada tubulus bagian atas, terjadi penyerapan kembali
sebagian besar zat zat penting, seperti glukosa, natrium, klorida, sulfat, dan ion
bikarbonat. Proses tersebut berlangsung secara pasif yang dikenal dengan istilah
reabsorpsi obligator. Apabila diperlukan, tubulus bawah akan menyerap kembali
natrium dan ion bikarbonat melalui proses aktif yang dikenal dengan istilah
reabsorpsi fakultatif. Zat zat yang direabsorpsi tersebut diangkut oleh kapiler
peritubulus ke vena dan kemudian ke jantung untuk kembali diedarkan.
c. Sekresi tubulus. Mekanisme ini merupakan cara kedua bagi darah untuk masuk
ke dalam tubulus di samping melalui filtrasi glomerulus. Melalui sekresi tubulus,
zat zata tertentu pada plasma yang tidak berhasil disaring di kapiler tubus dapat
lebih cepat dieliminasi.

2.5 Fisiologi Berkemih


Fisiologi berkemih secara umum menurut Gibson (2003)
Faktor yang memengaruhi eleminasi urine
Faktor faktor yang memengaruhi eliminasi urine meliputi :
1. Pertumbuhan dan perkembangan. Jumlah urine yang diekskresikan dapat
dipengaruhi oleh usia dan berat badan seseorang. Normalnya, bayi dan anak anak
mengekskresikan 400 500 ml urine setiap harinya. Sedangkan orang dewasa
mengekskresikan 1500 1600 ml urine per hari. Dengan kata lain, bayi yang beratnya
10% orang dewasa mampu mengekskresikan urine 33% lebih banyak dari orang
dewasa. Seiring penuaan, lansia juga mengalami perubahan pda fungsi ginjal dan
kandung kemihnya sehinggga mengakibatkan perubahan pada pola eliminasi urine (
misal : nokturia, sering berkemih, residu urine). Sedangkan ibu hamil dapat
mengalami peningkatan keinginan miksi akibat adanya penekanan pada kandung
kemih.
2. Asupan cairan dan makanan. Kebiasaan mengkonsumsi jenis makanan atau
minuman tertentu (misal : teh, kopi, coklat, alkohol) dapat menyebabkan peningkatan
ekskresi urine karena dapat menghambat hormon antidiuretik (ADH).
3. Kebiasaan/gaya hidup. Gaya hidup ada kaitanya dengan kebiasaan seseorang ketika
berkemih. Sebagai contoh, seseorang yang terbiasa buang air kecil di sungai atau di
alam bebas akan mengalami kesulitan ketika harus berkemih di toilet atau
menggunakan pispot pada saat sakit.
4. Faktor psikolgis. Kondisi stres dan kecemasan dapat menyebabkan peningkatan
stimulus berkemih, di samping stimulus buang air besar (diare) sebagai upaya
kompensasi.
5. Aktiitas dan tonus otot. Eliminasi urine membutuhkan kerja ( kontaksi ) otot otot
kandung kemih, abdomen, dan pelvis. Jika terjadi gangguan pada kemampuan tonus
otot, dorongan untuk berkemih juga akan berkurang. Aktivitas dapat meningkatkan
kemampuan metabolisme dan produksi urine secara optimal.
6. Kondisi patologis. Kondisi sakit seperti demam dapat menyebabkan penurunan
produksi urine akibat banyaknya cairan yang dikeluarkan melalui penguapan kulit.
Kondisi inflamasi dan iritasi organ kemih dapat menyebabkan retensi urine.
7. Medikasi. Penggunaan obat obat tertentu ( misal : diuretik) dapat meningkatkan
haluaran urine, sedangkan penggunaan antikolinerrgik dapat menyebabkan retensi
urine.
8. Proses pembedahan. Tindakan pembedahan menyebabkan stres yang akan memicu
sindrom adaptasi umum. Kelenjar hipofisi anterior akan melepaskan hormon ADH
sehingga meningkatkan reabsorpsi air dan menurunkan haluaran urine. Selain itu,
respons stres juga meningkatkan kadar aldosteron yang mengakibatkan penurunan
haluaran urine.
9. Pemeriksaan diagnostik. Prosedur pemeriksaan saluran perkemihan, seperti
pielogram intravena dan urogram,tidak membolehkan pasian mengkonsumsi cairan
per oral sehingga akan memengaruhi haluaran urine. Selain itu, pemeriksaan
diagnostik yang bertujuan melihat langsung struktur perkemihan (misal : sitoskopi)
dapat menyebabkan edema pada outlet uretra dan spasme pada sfingter kandung
kemih. Ini menyebabkan kien sering mengalami retensi urine dan mengeluarkan urine
berwarna merah muda akibat adanya perdarahan.

2.6 Masalah Pada Pola Berkemih


1. Perubahan eliminasi urine
Meskipun produksi urine normal,ada sejumlah faktor atau kondisi yang dapat
memengaruhi eliminasi urine. Beberapa perubahan yang terjadi pada pola eliminasi
urine akibat kondisi tersebut antara lain inkontinensia, retensi, enuresis, frekuensi,
urgensi, dan disuria.
a. Inkontinensia urine. Inkontinensia urine adalah kondisi ketika dorongan
berkemih tidak mampu dikontrol oleh sfingter eksternal. Sifatmya bisa
menyeluruh (inkontinensia parsial).
Ada dua jenis inkontinensia, yakni inkontinensia stres dan inkontinensia urgensi.
a) Inkontinensia stres. Inkontinensia stres terjadi saat tekanan intraabdomen
meningkat dan menyebabkan kompresi kandung kemih. Kondisi ini biasanya
terjadi ketika seseorang batuk atau tertawa. Penyebabnya antara lain
peningkatan tekanan intraabdomen, perubahan degeneratif terkait usia, dan
lain lain.
b) Inkontinensia urgensi. Inkontinensia urgensi terjadi saat klien mengalami
pengeluaran urine involunter karena desakan yang kuat dan tiba tiba untuk
berkemih. Penyebabnya antara lain infeksi saluran kemih bagian bawah,
spasme kandung kemih, overdistensi, penurunan kapasitas kandung kemih,
peningkatan konsumsi kafein atau alkohol, serta peningkatkan konsentrasi
urine (Taylor,1989).
b. Retensi urine. Retensi urine adalah kondisi tertahannya urine di kandung kemih
akibat terganggunya proses pengosongan kandung kemih sehingga kandung kemih
menjadi regang. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh obstuksi (Misal : hipertrofi
prostat), pembedahan, otot sfingter yang kuat, peningkatan tekanan uretra akibat
otot detrusor yang lemah.
c. Enuresis (mengompol). Enuresis adalah peristiwa berkemih yang tidak disadari
pada anak yang usianya melampaui batas usia normal kontrol kandung kemih
seharusnya tercapai. Enuresis lebih banyak terjadi pada anak anak di malam hari
(enuresis nokturnal ). Faktor penyebabnya antara lain kapasitas kandung kemih
yang kurang dari normal, infeksi saluran kemih, konsumsi makanan yang banyak
mengandung garam dan mineral, takut keluar malam, dan gangguan pola miksi.
d. Sering berkemih (frekuensi). Sering berkemih (frekuensi) adalaah
meningkatnya frekuensi berkemih tanpa disertai peningkatan asupan cairan.
Kondisi ini biasanya terjadi pada wanita hamil (tekanan rahim pada kandung
kemih), kondisi stres, dan infeksi saluran kemih.
e. Urgensi. Urgensi adalah perasaan yang sangat kuat untuk berkemih. Ini biasa
terjadi pada anak anak karena kemampuan kontrol sfingter mereka yang lemah.
Gangguan ini biasanya muncul pada kondisi stres psikologis dan iritasi uretra.
f. Disuria. Disuria adalah rasa nyeri dan kesulitan saat berkemih. Ini biasanya terjadi
pada kasus infeksi uretra, infeksi saluran kemih, trauma kandung kemih.
2. Perubahan produksi urine
Selain perubahan eliminasi urine, masalah lain yang kerap dijumpai pada pola
berkemih adalah perubahan produksi urine. Perubahan tersebut meliputi poliuria,
oliguria, dan anuria.
a. Poliuria. Poliuria adalah produksi urine yang melebihi batas normal tanpa disertai
peningkatan asupan cairan. Kondisi ini dapat terjadi pada penderita diabetes,
ketidakseimbangan hormonal (misal : ADH), dan nefritis kronik. Poliuria dapat
menyebabkan kehilangan cairan yang berlebihan yang mengarah pada dehidrasi.
b. Oliguria dan anuria. Oliguria adalah produksi urine yang rendah, yakni 100
500 ml/24 jam. Kondisi ini bisa disebabkan oleh asupan cairan yang sedikit atau
pengeluaran cairan yang abnormal, dan terkadang ini mengindikasikan gangguan
pada aliran darah menuju ginjal. Sedangkan anuria adalah produksi urine kurang
dari 100 ml/24 jam.

2.7 Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Riwayat Keperawatan
a) Pola berkemih
b) Gejala dari perubahan berkemih
c) Faktor yang mempengaruhi berkemih.
b. Pemeriksaan Fisik
a) Abdomen
Pembesaran, pelebaran pembuluh darah vena, distensi bladder, pembesaran
ginjal, nyeri tekan, tenderness, bising usus.
b) Genetalia Wanita
Inflamasi, nodul, lesi, adanya sekret dari meatus, keadaan atropi jaringan
vagina.
c) Genetalia laki-laki
d) Kebersihan, adanya lesi, tenderness, adanya pembesaran skrotum.
c. Intake dan output cairan
a) Kaji intake dan output cairan dalam sehari (24 jam).
b) Kebiasaan minum di rumah.
c) Intake : cairan infus, oral, makanan, NGT.
d) Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui ketidakseimbangan cairan.
e) Output urine dari urinal, cateter bag,drainage ureterostomy, sistostomi.
f) Karakteristik urine : warna, kejernihan, bau, kepekatan.
d. Pemeriksaan diagnostik
a) Pemeriksaan urine (urinalisis) :
Warna (N: jernih kekuningan)
Penampilan (N: jernih)
Bau (N: beraroma)
pH (H: 4,5-8,0)
Berat jenis (N; 1,005-1,030)
Glukosa (n: negatif)
Keton (N: negatif)
b) Kultur urine (N: kuman patogen negatif).
2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
a. Gangguan pola eliminasi urine : inkontinensia
Definisi: Kondisi di mana seseorang tidak mampu mengendalikan pengeluaran
urine.
Kemungkinan berhubungan dengan :
a) Gangguan neuromuskuler.
b) Spasme bladder.
c) Trauma pelvice.
d) Infeksi saluran kemih.
e) Trauma medulla spinalis.
Kemungkinan data yang ditemukan:
a) Inkontinensia.
b) Keinginan berkemih yang segar.
c) Sering ke toilet.
d) Menghindari minum.
e) Spasme bladder.
f) Setiap berkemih kurang dari 100 ml atau lebih dari 550 ml.
Tujuan yang diharapkan:
a) Klien dapat mengontrol pengeluaran urine setiap 4 jam.
b) Tidak ada tanda-tanda retensi dan inkontinensia urine.
c) Klien berkemih dalam keadaan rileks.
b. Retensi urine
Definisi: Kondisi di mana seseorang tidak mampu mengosongkan bladder secara
tuntas.
Kemungkinan data yang ditentukan:
a) Tidak tuntasnya pengeluaran urine.
b) Distensi bladder.
c) Hipertropi prostat.
d) Kanker.
e) Infeksi saluran kemih.
f) Pembedahan besar abdomen.
Tujuan yang diharapkan:
a) Pasien dapat mengontrol pengeluaran bladder setiap 4 jam.
b) Tanda dan gejala retensi urine tidak ada.

Proses Keperawatan

1. Pengkajian
Dalam pengkajian harus melakukan harus menggerakkan semua indera dan tenaga
untuk melakukan pengkajian secara cermat baik melalui wawancara , observasi,
pemeriksaan fisik untuk menggali data yang akurat .
a. Tanyakan riwayat keperawatan klien tentang pola berkemih, gejala berkemih,gejala
dari perubahan berkemih, faktor yang mempengaruhi berkemih .
b. Pemeriksaan fisik klien meliputi :
Abdomen ,pembesaran , pelebaran pembuluh darah vena distensi bledder ,
pembesaran ginjal, nyeri tekan, tandamess , bising usus.
Genetalia : wanita , inflamasi, nodul, lessi, adanya secret dari meatus,
kesadaran, antropi jaringan vagina dan genitalia laki-laki kebersihan ,
adanya lesi ,tenderness, adanya pembesaran scrotum .
c. Identifikasi intake dan output cairan dalam (24 jam ) meliputi pemasukan minum
dan infus, NGT, dan pengeluaran perubahan urine dari urinal, cateter bag, ainage ,
ureternomy, kateter urine, warna kejernihan , bau kepekatan .
d. Pemeriksaan diagnostik :
Pemeriksaan urine (urinalisis)
Warna (jernih kekuningan )
Penampilan (N : jernih )
Bau (N : beraroma)
pH (N : 4,5-8,0)
Berat Jenis (N : 1,005- 1,030)
Glukosa (N: Negatif )
Keton (N; negatif )
Kultur urine (N : kuman petogen negatif)

2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

Gangguan pola eliminasi urine : inkontinesia

Definisi : Kondisi di mana seseorang tidak mampu mengedalikan pengeluaran urine,


kemungkinan penyebab (berhubungan dengan) gangguan neuromuskuler, spasme baldder,
trauma pelvic, infeksi saluran kemih, trauma medulla spinalis , kemungkinan klien mengalami
( data yang ditemukan ) : inkontinesia, keinginan berkemih yang segera, sering ke toilet ,
menghindari minum , spasme bladder , setiap berkemih kurang dari 100 ml atau lebih dari
550ml.

Tujuan yang diharapkan :

a. Klien dapat mengontrol pengeluaran urine tiap 4 jam.


b. Tidak ada tanda- tanda retensi dan inkontinensia urine .
c. Klien berkemih dalam keadaan berkemih .

3. Intervensi
INTERVENSI RASIONAL

1. Monitor keadaan bladder setiap 2 1. Tingkatkan kekuatan otot bladder


jam dan kolaborasi dalam bladder
training
2. Hindari faktor pencentus
inkontenensia urine seperti cemas 2. Mengurangi atau menghindari
3. Kolabarasi dengan dokter dalam inkontinensia
pengobatan dan kateterisasi 3. Menghindari faktor penyebab
4. Berikan penjelasan tentang
pengobatan , kateter , penyebab
4. Meningkatkan pengetahuan dan
dan tindakan lainnya
pasien lebih kooperatif

5. Kriteria Evaluasi
Setelah membantu klien untuk melakukan evaluasi . klien mampu mengontrol
pengeluaran bladder setiap 4 jam, tanda dan gejala retensi urine tidak ada

6. Retensi Urine
Definisi : Kondisi dimana seseorang tidak mampu mengosongkan bladder secara tuntas
, kemungkinan penyebab (berhubungan dengan ): Obstruksi mekanik pembesaran
prostat , trauma, pembedahan kehamilan, kemungkinan klien mengalami (data yang
ditemukan) : tidak tuntasnya penyeluaran urine distensi bledder, hypertropi prostat ,
kanker, infeksi saluran kemih , pembesaran besar abdomen.

INTERVENSI RASIONAL

1. Memonitor keadaan bledder 1. Menentukan masalah


setiap 2 jam
2. Ukur intake dan output cairan 2. Memontior keseimbangan cairan
steiap 4 jam
3. Berikan cairan 2000ml / hari 3. Menjaga defisit cairan
dengan kolaborasi
4. Kurangi minum setelah jam 6 4. Mencegah nocturia
malam 5. Membantu monitor
5. Kaji dan monitor analisis urine keseimbangan cairan
elektrolit dan berat badan 6. Meningkatkan fungsi ginjal dan
6. Lakukan latihan prgerakan dan bledder
lakukan relaksasi ketika duduk 7. Relaksasi pikiran dapat
berkemih meningkatkan kemampuan
7. Ajarkan teknik latihan dengan berkemih
kolaborasi dokter/ fisioterapi 8. Mengoatkan otot pelvis
8. Kolaborasi dalam pemasangan 9. Mengeluarkan urien
kateter
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN

INKONTINENSIA URIN

A. KONSEP PENYAKIT
1. Pengertian
Inkontinensia urine adalah pelepasan urine secara tidak terkontrol dalam jumlah
yang cukup banyak, sehingga dapat dianggap merupakan masalah bagi seseorang

2. Klasifikasi
Inkontinensia urin dibagi atas 3, yaitu :

a. Inkontinensia urgensi
Adalah pelepasan urine yang tidak terkontrol sebentar setelah ada peringatan ingin
melakukan urinasi. Disebabkan oleh aktivitas otot destrusor yang berlebihan atau
kontraksi kandung kemih yang tidak terkontrol

b. Inkontinensia tekanan
Adalah pelepasan urine yang tidak terkontrol selama aktivitas yang meningkatkan
tekanan dalam lubang intra abdominal. Batuk, bersih, tertawa dan mengangkat
beban berat adalah aktivitas yang dapat menyebabkan inkontinensia urin

c. Inkontinensia aliran yang berlebihan (over flow inkontinensia)


Terjadi jika retensi menyebab kandung kemih terlalu penuh dan sebagian terlepas
secara tidak terkontrol, hal ini pada umumnya disebabkan oleh neurogenik bladder
atau obstruksi bagian luar kandung kemih.

3. Etiologi
Faktor faktor penyebab inkontenensia yaitu :

Cidera pada sfingter urinarius eksterna


Kelainan neurogenik
Urgensi hebat akibat infeksi
Kelemahan mekanisme sfingter
Cerebral clouding
stress
4. Patofisiologi
Pengendalian kandung kencing dan sfinkter diperlukan agar terjadi pengeluaran
urin secara kontinen. Pengendalian memerlukan kegiatan otot normal diluar kesadaran
dan yang didalam kesadaran yang dikonrdinasi oleh refleks urethrovsien urinaris. Bila
terjadi pengisian kandung kencing tekanan didalam kandung kemih meningkat. Otot
detrusor (lapisan yang tiga dari dinding kencing) memberikan respon dengan relaksasi
agar memperbesar volume daya tampung. Bila sampai 200 ml urin daya rentang
reseptor yang terletak pada dinding kandung kemih mendapat rangsangan. Stimulus
ditransmisikan lewat serabut reflek eferen ke lengkungan pusat refleks untuk
meksitrurisasi. Impuls kemudian disalurkan melalui serabut eferen dari lengkungan
refleks ke kandung kemih, menyebabkan kontraksi otot detrusor. Sfinkter interna yang
dalam keadaan normal menutup, serentak bersama sama membuka dan urin masuk ke
uretra posterior. Relaksasi sfinkter eksterna dan otot pariental mengkuti dan isi
kandung kemih keluar. Pelaksanaaan kegiatan refleks bisa mengalami interupsi dan
berkemih ditangguhkan melalui dikeluarkannya impuls inhibitor dari pusat kortek yang
berdampak kontraksi diluar kesadaran dan sfinkter eksterna. Bila disalah satu bagian
mengalami kerusakan maka akan dapat mengakibatkan inkontenensia

5. Manifestasi Klinis
Kulit ruam
Dekubitus
Iritasi kandung kemih
Ketidakmampuan mengontrol BAK

6. Pemeriksaan Diagnostik
Pengkajian fungsi otot destrusor
Radiologi dan pemeriksaan fisik ( mengetahui tingkat keparahan/ kelainan dasar
panggul)
Cystometrogram dan elektroyogram

7. Penatalaksanan Medik
Urgensi
Cream estrogen vaginal, anticolenergik, imipramine (tofranile). Diberikan pada
malam hari dan klien diajurkan untuk sering berkemih

Over flow inkotinensia


Farmakologis prazocine (miniprise) dan cloridabetanecol (urechloine) diberikan
untuk menurunkan resistensi bagian luar dan meningkatkan kontraksi kandung
kemih

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. pengumpulan data
aktivitas / Istrahat
Tanda : Klien nampak lemah

Makanan dan Cairan


Gejala : Klien mengatakan nafsu makannya berkurang

Tanda : Porsi makan tidak dihabiskan

Eliminasi
Gejala : Klien mengeluh tidak dapat mengontrol buang air kecil, klien
mengatakan kencingnya keluar sendiri

Tanda : Haluaran urin tidak terkontrol, haluaran urin terus-menerus.

Integritas Ego
Gejala : Klien mengatakan stress pada penyakitnya

Tanda : Klien nampak ketakutan

Keamanan
Tanda : Dekubitus.

Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Klien mengeluh nyeri pada daerah abdomen bagian bawah
Tanda : Nyeri tekan pada abdomen

Penyuluhan dan Pembelajaran


Gejala : Klien mengatakan kurang pengetahuan dan informasi tentang
penyakitnya

Tanda : Pasien tampak bertanya kepada perawat dan dokter akan


penyakitnya

b. Pengelompokan Data
Data Subjektif

Klien mengatakan nafsu makannya berkurang


Klien mengeluh tidak dapat mengontrol buang air kecil
Klien mengatakan kencingnya keluar sendiri
Klien mengatakan stress pada penyakitnya
Klien mengeluh nyeri pada daerah abdomen bagian bawah
Klien mengatakan kurang pengetahuan dan informasi tentang penyakitnya

Data Objektif

Klien nampak lemah


Porsi makan tidak dihabiskan
Haluaran urin tidak terkontrol
Haluaran urin terus-menerus.
Klien nampak ketakutan
Nyeri tekan pada abdomen
Pasien tampak bertanya kepada perawat dan dokter akan penyakitnya

c. Analisa data
Data Penyebab Masalah

Ds : Adanya infeksi pada dinding Nyeri


kandung kemih
Klien mengeluh nyeri
pada daerah abdomen
bagian bawah
iritasi lapisan mukosa kandung
Do :
kemih
Nyeri tekan pada

abdomen
sakit pada saat BAK

Gangguan rasa nyaman nyeri

Ds : Inkontinensia urin Resiko tinggi


kekurangan nutrisi
Klien mengeluh nafsu
makan kurang
Bau pesing
Do :

Porsi makan tidak
dihabiskan Anoreksi

Intake nutrisi yang kurang adekuat

Resiko tinggi perubahan nutrisi

Do : Inkontenensia urin Resiko tinggi deficit


volume cairan
Haluaran urin tidak dapat
terkontrol
Haluaran urin yang terus menerus
Haluaran urin terus
menerus
Pembatasan intake cairan

Ketidakseimbangan intake output


cairan dan elektrolit

Resiko tinggi defisit volume cairan

Ds : Adanya faktor penyebab Perubahan pola


inkontinensia urin eliminasi
Klien mengeluh tidak
dapat mengontrol buang
air kecil
Kelemahan pada sfingter externa
Klien mengatakan
kencingnya keluar
sendiri
Inkontenensia

Gangguan pola eliminasi


Do :

Haluaran urin tidak


terkontrol
Haluaran urin terus-
menerus.
Ds : Kurang pengetahuan tentang Kecemasan
penyakitnya
Klien mengatakan stress
pada penyakitnya
Klien mengatakan
Ketidakmampuan pasien
kurang pengetahuan dan
menggunakan mekanisme koping
informasi tentang
penyakitnya
Do :
Pasien tampak bertanya Berdampak pada kesehatan
kepada perawat dan fisiknya
dokter akan penyakitnya

Klien nampak ketakutan
Pasien merasa terancam

cemas

d. Prioritas Masalah
1) Nyeri
2) Perubahan pola eliminasi
3) Kecemasan
4) Resiko tinggi deficit volume cairan
5) Resiko tinggi kekurangan nutrisi

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada mukosa dinding kandung kemih yang
ditandai dengan :
Ds : Klien mengeluh nyeri pada daerah abdomen bagian bawah

Do : Nyeri tekan pada abdomen

b. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan kelemahan pada sfingter externa


yang ditadai dengan :
Ds : Klien mengeluh tidak dapat mengontrol buang air kecil
Klien mengatakan kencingnya keluar sendiri
Do : Haluaran urin tidak terkontrol
Haluaran urin terus-menerus.
c. Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
penyakitnya yang ditandai dengan :
Ds : Klien mengatakan stress pada penyakitnya
Klien mengatakan kurang pengetahuan dan informasi tentang
penyakitnya
Do : Pasien tampak bertanya kepada perawat dan dokter akan
penyakitnya
Klien nampak ketakutan
d. Resiko tinggi kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang kurang adekuat yang ditadai dengan :
Do : Haluaran urin tidak dapat terkontrol
Haluaran urin terus menerus
e. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan intake
output cairan yang ditandai dengan :
Ds : Klien mengeluh nafsu makan kurang

Do : Porsi makan tidak dihabiskan

3. Perencanaan
a. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada mukosa dinding kandung kemih
Tupan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah nyeri teratasi

Tupen :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama beberapa hari nyeri beransur-ansur


hilang dengan kriteria :

Tidak nyeri saat berkemih


Ekspresi wajah tenang
Tidak nyeri tekan pada daerah abdomen
Intervensi

1) Kaji tingkat nyeri, perhatikan lokasi, intensitas, dan lamanya nyeri


Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan/tindakan
selanjutnya yang akan diberikan

2) Pertahankan tirah baring bila diindikasikan


Tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase inkontinensia.
Namun, ambulasi dini dapat memperbaiki pola berkemih normal dan
menghilangkan nyeri kolik

3) Ajarkan klien tehnik relaksasi dan tehnik distraksi


Tehnik relaksasi dan tehnik distraksi membantu mengurangi rasa nyeri

4) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian anti analgetik sesuai indikasi


Membantu menghilangkan rasa nyeri dengan menekan pusat nyeri

b. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan kelemahan pada sfingter externa


Tupan :

Setelah diberikan tindakan keperawatan masalah kebiasaan berkemih teratasi

Tupen :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama beberapa hari kebiasaan berkemih


beransur-ansur normal kembali dengan kriteria :

Klien dapat mengontrok kencingnya


Klien dapat berkemih dengan normal
Intervensi

1) Pantau kebiasaan klien berkemih


Untuk membantu dalam penentuan tindakan selanjutnya

2) Latih pengosongan bladdcer pada jam jam tertentu


Pengosongan kandung kemih dapat menghindari residu urin

3) Buat jadwal berkemih


Melatih kembali bereaksi yang tepat untuk berkemih

4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan drainase urin


Sebagai drainase pengobatan serta untuk meraih kontinen

c. Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang


penyakitnya
Tupan :

Setelah diberikan tindakan keperawatan kecemasan hilang

Tupen :

Setelah diberikan tindakan keperawatan selama beberapa hari rasa cemas klien
beransur-ansur hilang dengan kriteria :

Klien tidak takut akan penyakitnya


Klien mau menerima kondisinya saat ini
Intervensi

1) Pantau rasa cemas klien dan depresi dan penyempitan perhatian


Membentu untuk memperkirakan kebutuhan intervensi yang tepat

2) Jelaskan kepada klien tentang proses penyakitnya serta cara penganganannya


Rasa cemas dan ketidaktahuan diperkecil dengan informasi atau pengetahuan
dan dapat meningkatkan penerimaan inkontenensia urin.

3) Motivasi dan berikan kesempatan pada klien untuk mengajukan pertanyaan dan
menyatakan masalah
Membuat perasaan terbuka dan bekerja sama dan memberikan informasi
yang akan membantu dalam identifikasi atau mengatasi masalah

4) Tunjukan indikator positif pengobatan


Meningkatkan perasaan berhasil atau maju

d. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan intake


output cairan
Tupan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan kekurangan volume cairan tidak terjadi

Tupen :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama beberapa hari tanda-tanda


kekurangan cairan tidak ada dengan kriteria :
Tugor kulit baik
Intake dan out put cairan seimbang
Intervensi

1) Ukur pemasukan dan haluaran cairan yang akurat


Membantu unntuk memperkitakan kebutuhan penggunaan cairan

2) Anjurkan klien untuk minum yang banyak


Mengganti cairan yang keluar terus menerus

3) Perhatikan perubahan kulit seperti kulit kering, tugor kulit


Tanda kulit kering serta tugor kulit merupakan tanda dari dehidrasi

4) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan melalui intravena


Menggantikan kehilangan cairan dan natrium untuk mencegah/ memperbaiki
hipovolemia

e. Resiko tinggi kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang kurang adekuat
Tupan :

Setelah diberikan tindakan keperawatan kekurangan nutrisi tidak terjadi

Tupen :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan tanda-tanda kekurangan nutrisi tidak


terjadi dengan kriteria :

Nafsu makan meningkat


Porsi makan dihabiskan
Berat badan dalam batas normal
Intervensi

1) Pantau pemasukan diet


membantu dalam mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet, kondisi
fisik umum, gejala uremik anoreksia membantu pemasukan nutrisi

2) Berikan mananan sedikit dan sering


Meminimalkan anoreksia dan mual
3) Timbang berat badan tiap hari
Pasien yang tidak nafsu makan dapat mengalami penurunan berat badan

4) Berikan pasien atau orang terdekat daftar makanan atau cairan yang diizinkan
dan libat kan pasien dalam pemilihan menu
Memberikan pasien tindakan kotrol dalam pembatasan diet. Makanan diari
rumah dapat meningkatkan nafsu makan

5) Kolaborasi dengan ahli gizi dan tim pendukung nutrisi


Menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan dan
mengidentifikasi rute paling efektif

Anda mungkin juga menyukai