Anda di halaman 1dari 575

DUKUNGAN PENGOLAHAN

DAN PEMASARAN HASIL


PERKEBUNAN

PEDOMAN TEKNIS
PENGEMBANGAN PENGOLAHAN
DAN PEMASARAN HASIL PERKEBUNAN
TAHUN 2016

DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN


KEMENTERIAN PERTANIAN
MARET 2016
KATA PENGANTAR

Pedoman Teknis Kegiatan Pengolahan dan


Pemasaran Hasil Perkebunan tahun 2016 disusun dalam
rangka memberikan acuan terhadap pelaksanaan
kegiatan di daerah yang dilaksanakan dengan dukungan
dana APBN Tahun Anggaran 2016 dalam bentuk Tugas
Pembantuan di Provinsi/Kabupaten/Kota atau dana
Dekonsentrasi.
Pedoman teknis ini menjelaskan mengenai
pelaksanaan kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil
perkebunan di daerah terutama dalam kaitannya
dengan penyediaan sarana pascapanen dan pengolahan
serta bimtek untuk petani/kelompok tani/gapoktan.
Alokasi kegiatan difokuskan untuk komoditi tebu,
kakao, kopi, lada, pala, cengkeh, karet, kelapa dan
jambu mete. Selain itu juga dalam rangka memberikan
acuan dan arahan dalam pelaksanaan kegiatan
pengembangan informasi pasar, pemasaran produk
perkebunan dan pembinaan usaha perkebunan.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran


Hasil Perkebunan Tahun 2016 i
Untuk mendukung tercapainya pelaksanaan
kegiatan secara tertib, baik teknis maupun
administrasi, agar Dinas yang membidangi perkebunan
dapat menjadikan pedoman teknis ini sebagai acuan
dalam pelaksanaan kegiatan. Apabila terdapat hal-hal
yang bersifat spesifik daerah dan belum tertampung
dalam pedoman ini, agar dijabarkan kedalam Petunjuk
Teknis dan Petunjuk Pelaksanaan.

Jakarta,31 Maret 2016


Direktur Jenderal Perkebunan

Ir. Gamal Nasir, MS


Nip. 19560728 198603 1 001

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran


Hasil Perkebunan Tahun 2016 ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Sasaran Nasional 13
C. Tujuan 16

II. PENDEKATAN PELAKSANAAN KEGIATAN


A. Prinsip Pendekatan Pelaksanaan 18
Kegiatan
B. Spesifikasi Teknis 35

III. PELAKSANAAN KEGIATAN


A. Ruang Lingkup 40
B. Pelaksana Kegiatan 44
C. Lokasi, Jenis, dan Volume 53
D. Simpul Kritis 55

IV. PROSES PENGADAAN DAN PENYALURAN BANTUAN


A. Pelaksanaan Pengadaan Barang 57
B. Mekanisme Penyaluran Barang 57
C. Pelaksanaan Kegiatan Lainnya 60

V. PEMBINAAN, PENGENDALIAN, PENGAWALAN, DAN


60
PENDAMPINGAN

VI. MONITORING, EVALUASI, DAN PELAPORAN 62


Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Perkebunan Tahun 2016 iii
A. Jenis Laporan 62
B. Waktu Penyampaian Laporan 63

VII. PEMBIAYAAN 65

VIII. PENUTUP 66

LAMPIRAN

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran


Hasil Perkebunan Tahun 2016 iv
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Perkebunan Tahun 2016 v
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkebunan merupakan salah satu sektor


andalan bagi perkembangan perekonomian
di Indonesia. Selain sebagai penyumbang
devisa negara, sektor perkebunan juga
berkontribusi sebagai penyedia lapangan
kerja bagi masyarakat Indonesia.
Perkebunan sebagai sektor andalan
perekonomian Indonesia tidak lepas dari
permasalahan yang harus dihadapi antara
lain masih rendahnya kualitas hasil
(produk) yang diperoleh dari usaha
perkebunan, baik itu produk primer
maupun produk sekunder. Kualitas produk
primer yang kurang baik akan berdampak
pada kualitas hasil pengolahan
sekundernya. Hal ini dapat mengakibatkan
permasalahan dalam pemasaran produk
komoditas perkebunan. Rendahnya mutu
selain karena pengaruh perlakuan
budidaya, juga karena penanganan
pascapanen dan pengolahan yang belum
diterapkan sesuai standar.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 1


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Arah Kebijakan Umum Pembangunan
Perkebunan adalah mensinergikan seluruh
sumber daya perkebunan dalam rangka
peningkatan daya saing usaha perkebunan,
nilai tambah, produktivitas dan mutu
produk perkebunan melalui partisipasi
aktif masyarakat perkebunan dan
penerapan organisasi moderen yang
berlandaskan kepada ilmu pengetahuan
dan teknologi serta didukung dengan tata
kelola pemerintahan yang baik.

Peningkatan produk perkebunan berdaya


saing diarahkan melalui penerapan sistem
jaminan mutu Good Agricultural Practices
(GAP), Good Handling Practices (GHP),
Good Manufacturing Practices (GMP)
penerapan standar mutu mulai dari
kegiatan di lapangan hingga sampai ke
meja konsumen, dengan istilah from land
to table. Peningkatan mutu dan
standarisasi dilakukan melalui kebijakan
Penerapan SNI wajib mulai dari tingkat
petani dan pelaku usaha. Salah satu bagian
dalam penerapan standar mutu yaitu
penerapan sistem jaminan mutu Good

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 2


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Agricultural Practices (GAP), Good
Handling Practices (GHP), Good
Manufacturing Practices (GMP) dan
Sanitary and Phytosanitary (SPS) untuk
perkarantinaan pertanian, serta berbagai
macam sertikasi lainnya seperti Global
GAP, Organic Farming, Keamanan
Pangan/HACCP, serta Maximum Residue
Limit (MRL) untuk produk komoditas
strategis.

Industri hilir merupakan salah satu kunci


sukses dalam meningkatkan daya saing
produk perkebunan. Selain itu,
peningkatan esiensi produksi maupun
distribusi produk antara lain melalui
pengembangan dan penggunaan teknologi
budidaya dan input yang lebih esien,
kelembagaan petani yang menunjang
esiensi produksi, konsolidasi lahan
pertanian dengan tujuan untuk
meningkatkan luas penguasaan lahan
perkebunan per individu petani. Selain itu
diperlukan penghapusan ekonomi biaya
tinggi dengan menghilangkan inesiensi
dalam bidang pemasaran seperti pungutan

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 3


Hasil Perkebunan Tahun 2016
liar dan perbaikan sarana infrastruktur
informasi dan telekomunikasi.

Tingginya kebutuhan dan tuntutan akan


informasi pasar pertanian yang meliputi
harga, produksi dan jumlah permintaan
produk oleh pelaku agribisnis mulai dari
tingkat petani sampai konsumen secara
cepat, tepat, akurat, lengkap dan dapat
dipertanggungjawabkan membutuhkan
sistem jaringan informasi pasar yang
memadai. Pentingnya informasi pasar
khususnya harga komoditi unggulan,
menuntut pemerintah pusat dan daerah
bekerja keras untuk membangun jaringan
informasi pasar melalui Pelayanan
Informasi Pasar.

Untuk mengoptimalkan pasar dalam negeri


dan memperkuat daya saing produk
perkebunan, sinergitas pemerintah, pelaku
usaha dan masyarakat perlu ditingkatkan.
Perilaku masyarakat pun perlu diperkuat
dalam menghadapi perdagangan bebas
dengan mengobarkan semangat untuk
mencintai produk dalam negeri. Perbaikan
tata niaga dilakukan untuk menekan biaya
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 4
Hasil Perkebunan Tahun 2016
inesiensi yang timbul. Kebijakan tata
niaga tarif/pajak/regulasi ekspor dan
impor dilakukan untuk melindungi produk
pertanian dalam negeri. Pengaturan bea
masuk bagi produk-produk impor ke dalam
negeri merupakan kebijakan sementara
dalam jangka pendek sambil dilakukan
pembinaan di dalam negeri terhadap
produk sejenis agar nantinya memiliki
standar kualitas sehingga bisa bersaing
dengan kualitas produk impor. Selain itu
dapat juga menerapkan kebijakan non
tarif barrier yang tidak melanggar
konvensi internasional terkait
perdagangan.

Mekanisme kebijakan penetapan harga


dasar/harga pembelian pemerintah (harga
pasar yang berlaku) pada musim panen
untuk melindungi produsen. Kegiatan
promosi produk perkebunan untuk
memperluas dan meningkatkan pangsa
pasar produk perkebunan unggulan
nasional baik di dalam negeri maupun di
pasar ekspor.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 5


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Perusahaan Perkebunan Besar mempunyai
peranan yang penting terutama sebagai
sumber pendapatan negara, sumber
teknologi dan manajemen, penyerapan
tenaga kerja, pemicu pengembangan
wilayah, mitra usaha perkebunan rakyat
dan menjaga kelestarian fungsi lingkungan
hidup. Dalam upaya menjaga
kesinambungannya, maka perlu dilakukan
pembinaan terhadap unit usaha
perkebunan.

Pembinaan usaha perkebunan dilakukan


selain terhadap perusahaan perkebunan
besar juga terhadap perkebunan rakyat
dikarenakan masih banyak permasalahan
khususnya terkait perizinan usaha
perkebunan serta penyediaan lahan yang
semakin terbatas sehingga perlu diketahui
data dan informasi sebenarnya penyediaan
lahan yang tersedia dan diizinkan untuk
usaha perkebunan.

Sesuai Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun


2004 tentang Perkebunan yang saat ini
telah disempurnakan dengan UU Nomor 39
Tahun 2014 tentang Perkebunan
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 6
Hasil Perkebunan Tahun 2016
menyatakan bahwa perusahaan
perkebunan yang melakukan usaha
budidaya tanaman perkebunan dengan
luasan skala tertentu dan/atau usaha
pengolahan hasil perkebunan dengan
kapasitas pabrik tertentu wajib memiliki
izin usaha perkebunan.

Pemberian Izin Usaha Perkebunan


berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 98/Permentan/OT.140/9/2013
tentang Pedoman Perizinan Usaha
Perkebunan, dengan jenis izin usaha
perkebunan terdiri dari: Izin Usaha
Perkebunan Budidaya (IUP-B), Izin Usaha
Perkebunan Pengolahan (IUP-P) dan Izin
Usaha Perkebunan (IUP), yang diterbitkan
oleh pemberi izin yaitu Menteri/
Gubernur/Bupati/Walikota sesuai dengan
kewenangannya.

Perusahaan perkebunan yang telah


memiliki IUP-B, IUP-P atau IUP sesuai
Permentan Nomor 98 Tahun 2013, wajib
memiliki sumberdaya manusia, sarana,
prasarana dan sistem pembukaan lahan
tanpa bakar dan menerapkan teknologinya;
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 7
Hasil Perkebunan Tahun 2016
mengelola sumberdaya alam secara lestari;
sistem pengendali kebakaran; sistem
pengendalian organisme pengganggu
tanaman (OPT); penerapan AMDAL atau
UKL dan UPL; menyampaikan peta digital
lokasi IUP-B atau IUP; melakukan
kemitraan dengan pekebun, karyawan dan
masyarakat serta melaporkan
perkembangan usaha perkebunan kepada
pemberi izin.

Pembinaan dan pengawasan terhadap


perusahaan perkebunan dilakukan oleh
gubernur atau bupati/walikota dalam
bentuk evaluasi kinerja perusahaan
perkebunan dan penilaian usaha
perkebunan. Penilaian usaha perkebunan
dilakukan sesuai dengan pedoman
penilaian usaha perkebunan.

Penilaian usaha perkebunan yang dilakukan


secara periodik berdasarkan Peraturan
Menteri Pertanian Nomor 07/Permentan/
OT.140/2/2009. Penilaian usaha
perkebunan mulai dilaksanakan pada tahun
2009, yang menjadi penilaian dalam usaha
perkebunan antara lain legalitas,
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 8
Hasil Perkebunan Tahun 2016
manajemen, penyelesaian hak atas tanah,
realisasi pembangunan kebun dan/atau
unit pengolahan, kepemilikan sarana dan
prasarana serta sistem pencegahan dan
pengendalian organisme pengganggu
tanaman, kepemilikan sarana dan
prasarana serta sistem pencegahan dan
pengendalian kebakaran, penerapan
AMDAL, atau UKL dan UPL, penumbuhan
dan pemberdayaan masyarakat/koperasi
setempat dan laporan.

Sejak diterbitkannya Permentan No. 98


Tahun 2013 tersebut, beberapa hal yang
dipertanyakan oleh dunia usaha dan pihak
pemberi izin antara lain menyangkut
kewajiban pembangunan kebun
masyarakat diwajibkan kepada perusahaan
perkebunan dengan batasan luas berapa,
bagaimana penyediaan lahannya, siapa
yang layak sebagai peserta, serta
pembiayaan. Dan untuk usaha industri
pengolahan hasil perkebunan dalam
mendapatkan IUP-P harus memenuhi
penyediaan bahan baku paling rendah 20%
(dua puluh per seratus) berasal dari kebun

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 9


Hasil Perkebunan Tahun 2016
sendiri dan kekurangannya wajib dipenuhi
dari kebun masyarakat/perusahaan
perkebunan lain melalui kemitraan
pengolahan berkelanjutan.

Pelaku usaha perkebunan harus melakukan


usaha perkebunan secara berkelanjutan
dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek,
yaitu ekonomi, sosial budaya, dan ekologi.
Pelaku usaha cenderung hanya
mempertimbangkan aspek ekonomi,
sedangkan aspek sosial budaya dan ekologi
belum berjalan seperti yang diharapkan.

Hal tersebut telah mendapat perhatian


dari berbagai pihak/masyarakat, baik
domestik maupun internasional yang
menuntut pengelolaan produk perkebunan
berkelanjutan.

Sebagai upaya dalam penerapan


perkebunan berkelanjutan, telah
diterbitkan Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 19/Permentan/ OT.140/3/2011
tanggal 29 Maret 2011 Pedoman
Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan
Indonesia (Indonesian Sustainable Palm
Oil/ISPO) yang telah disempurnakan
dengan Peraturan Menteri Pertanian

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 10


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Nomor 11/Permentan/OT.140/3 /2015
tanggal 17 Maret 2015 tentang Sistem
Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit
Berkelanjutan. Selain komoditas kelapa
sawit yang telah menerapkan perkebunan
berkelanjutan dan saat ini sedang disusun
pedoman perkebunan kopi berkelanjutan
Indonesia.

Salah satu visi bangsa yang tertuang dalam


Pasal 33 UUD 1945 adalah pemanfaatan
sumber daya alam (hutan dan perkebunan)
secara adil. Kondisi yang ada saat ini,
menunjukkan bahwa terdapat
ketimpangan dalam pengelolaan dan
kebijakan sumber daya alam sehingga
menyebabkan terjadinya korupsi. Dari
total 41,69 juta hektar lahan hutan yang
dikelola, hanya 1 persen yang diberikan
kepada skala kecil dan masyarakat adat.
Sementara itu kerusakan hutan,
deforestasi terus terjadi dari tahun ke
tahun.

Dalam kajian perizinan sumberdaya alam


KPK tahun 2013 membuktikan bahwa
kebijakan pengelolaan sumberdaya alam
sangat rentan dengan korupsi. Akibatnya
setiap proses perizinan penuh dengan
suap, konflik kepentingan, pengaruh
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 11
Hasil Perkebunan Tahun 2016
perdagangan, pemerasan, bahkan state
capture.

Komisi Pemberantasan Korupsi melalui


kewenangan yang diatur oleh Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2002 menginisiasi
Nota Kesepakatan Bersama 12
Kementerian dan Lembaga (termasuk
Kementerian Pertanian) tentang
Percepatan Pengukuhan Kawasan Hutan
Indonesia yang menyepakati pada tanggal
11 Maret 2013 dengan prinsip berkeadilan
dan anti korupsi, membenahi regulasi dan
kebijakan terkait sumberdaya alam,
menyelaraskan proses perencanaan hutan,
dan memastikan pelaksanaan penyelesaian
konflik.

Penyelamatan sumberdaya kehutanan dan


perkebunan merupakan tugas bersama
semua elemen bangsa. Sebagai bagian dari
pelaksanaan tugas monitor tersebut KPK
telah melakukan kegiatan Gerakan
Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam
Sektor Kehutanan dan Perkebunan di 24
provinsi.

Berdasarkan hal tersebut di atas, untuk


melaksanakan pembinaan terhadap usaha
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 12
Hasil Perkebunan Tahun 2016
perkebunan dan gerakan penyelamatan
sumber daya alam, maka pada tahun 2016
pemerintah melalui Ditjen Perkebunan
mengalokasikan dana APBN melalui
kegiatan Tugas Pembantuan kepada Dinas
Provinsi yang membidangi perkebunan
untuk melaksanakan kegiatan Pembinaan
Usaha Perkebunan Berkelanjutan yang
terdiri dari kegiatan-kegiatan: a).
Koordinasi dan Supervisi Gerakan Nasional
Penyelamatan Sumber Daya Alam
(GNPSDA) Sub Sektor Perkebunan, b).
Pembinaan dan Monev Penerapan
Perkebunan Berkelanjutan pada Kelapa
Sawit, serta c). Sosialisasi Standar
Perkebunan Kopi Berkelanjutan Indonesia.

B. Sasaran Nasional
1) Mendukung Program Peningkatan
Produksi dan Produktivitas melalui
kegiatan penanganan pascapanen dan
pengolahan di provinsi sentra
produksi;
2) Terfasilitasinya kebutuhan kelompok
tani/gapoktan dalam memperoleh dan
memanfaatkan teknologi pascapanen
dan pengolahan secara optimal;
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 13
Hasil Perkebunan Tahun 2016
3) Meningkatnya nilai tambah, daya saing
komoditas perkebunan dalam
memenuhi pasar ekspor dan substitusi
impor;
4) Terciptanya sistem Pelayanan
Informasi Pasar yang cepat, tepat,
kontinyu, up to date dan dapat
dipercaya serta langsung dapat
dimanfaatkan oleh para pengguna
informasi;
5) Tersedianya data dan informasi pasar
yang berkualitas, akurat, up to date,
kontinyu dan lengkap;
6) Tersebarnya informasi pasar kepada
masyarakat luas;
7) Meningkatnya kualitas SDM pelaksana
kegiatan PIP;
8) Meningkatnya dukungan pengembangan
mutu dan standarisasi bidang
perkebunan;
9) Meningkatnya dukungan program
peningkatan produksi dan produktivitas
tanaman perkebunan berkelanjutan
melalui kegiatan pembinaan usaha
perkebunan berkelanjutan di provinsi;

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 14


Hasil Perkebunan Tahun 2016
10) Meningkatnya kapasitas petugas dinas
provinsi/kabupaten/kota yang
membidangi pembinaan usaha dan
perkebunan berkelanjutan;
11) Meningkatnya perbaikan tata kelola
sub sektor perkebunan untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat, dengan
memperhatikan aspek keberlanjutan,
konsistensi, keterpaduan, kepastian
hukum, kemitraan, pemerataan, peran
serta masyarakat, keterbukaan,
desentralisasi, akuntabilitas, dan
keadilan;
12) Perbaikan sistem pengelolaan
sumberdaya perkebunan untuk
mencegah korupsi, kerugian keuangan
negara dan kehilangan kekayaan
negara;
13) Meningkatnya monitoring pelaksanaan
usaha perkebunan melalui kepatuhan
kewajiban pelaku usaha perkebunan.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 15


Hasil Perkebunan Tahun 2016
C. Tujuan

Tujuan dari penyusunan Pedoman Teknis


Kegiatan Pengolahan dan Pemasaran hasil
Perkebunan yakni memberikan petunjuk
dan acuan bagi petugas di provinsi dan
kabupaten/kota dalam pelaksanaan
kegiatan Pengolahan dan Pemasaran hasil
perkebunan untuk:
1) Meningkatkan nilai tambah,daya saing,
mutu dan standarisasi produk
perkebunan;
2) Melakukan pembinaan/pengawalan
kegiatan agar dapat berjalan dengan
baik dan tepat sasaran sehingga
agroindustri perkebunan dapat
berkembang di daerah;
3) Meningkatkan/membuka akses pasar
bagi poktan, gapoktan, dalam
memasarkan produk hasil perkebunan,
memberikan harga yang transparan dan
berkeadilan;
4) Menciptakan Sistem Pelayanan Informasi
Pasar yang cepat, tepat, kontinyu, up to
date dan dapat dipercaya, agar dapat

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 16


Hasil Perkebunan Tahun 2016
dimanfaatkan oleh para pengguna
informasi tepat waktu;
5) Meningkatkan kualitas data dan
informasi pasar sehingga lebih akurat,
up to date, kontinyu dan lengkap;
6) Meningkatkan kualitas sumber daya
manusia pelaksana kegiatan pelayanan
informasi pasar;
7) Melakukan Pembinaan Usaha
Perkebunan dan Sosialisasi Legalitas
dan Peraturan Perizinan Usaha
Perkebunan;
8) Pembinaan, Monev Penerapan
Perkebunan Berkelanjutan Pada Kelapa
Sawit;
9) Sosialisasi Standar Perkebunan Kopi
Berkelanjutan Indonesia (Indonesian
Sustainable Coffee/ISCoffee) kepada
petugas Dinas yang Membidangi
Perkebunan Provinsi dan
Kabupaten/Kota dan pelaku usaha di
bidang kopi dalam rangka menghimpun
masukan untuk penyusunan Pedoman
Perkebunan Kopi Berkelanjutan
Indonesia;

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 17


Hasil Perkebunan Tahun 2016
10) Koordinasi dan Supervisi Gerakan
Nasional Penyelamatan Sumber Daya
Alam Sub Sektor Perkebunan.

II. PRINSIP PENDEKATAN PELAKSANAAN


KEGIATAN
A. Prinsip Pendekatan Pelaksanaan
Kegiatan
A1. Prinsip Pendekatan Pelaksanaan
Kegiatan
(TP)
1. Pascapanen Hasil Perkebunan
a) Pelaksanaan kegiatan ditempuh melalui
pendekatan kelompok/gabungan
kelompok pada satu wilayah pertanaman
perkebunan dengan harapan para petani
mampu melakukan penanganan
pascapanen dan pengolahan dengan
menghasilkan produk primer/sekunder
(olahan) yang bermutu;
b) Kelompok tani/gabungan kelompok tani
terpilih adalah kelompok tani/gapoktan
yang aktif dan berfungsi serta jelas
kepengurusannya dan sudah terdaftar di
bakorluh. Penentuan kelompok terpilih

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 18


Hasil Perkebunan Tahun 2016
dilakukan melalui seleksi oleh petugas
dinas yang membidangi perkebunan
serta ditetapkan oleh Pemerintah
Daerah setempat atau Kepala Dinas yang
membidangi perkebunan;
c) Penggunaan lahan untuk pembangunan
UPH/sarana lainnya harus dilengkapi
dengan surat hibah/perjanjian
pemanfaatan lahan;
d) Paket bantuan yang diserah-terimakan
kepada kelompok tani/gapoktan harus
dilengkapi dengan surat perjanjian
pemanfaatan alat/sarana bantuan;
e) Paket bantuan yang akan diberikan
untuk kelompok tani/Gapoktan
dilakukan melalui proses pengadaan
barang/jasa yang dilaksanakan oleh
panitia/pejabat pengadaan di Dinas yang
membidangi Perkebunan setempat;
f) Proses pengadaan barang/jasa yang
dilakukan harus berdasarkan Perpres No.
54 tahun 2010 dan No. 70 tahun 2012
beserta perubahannya tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
g) Seluruh tahapan kegiatan yang dilakukan
oleh petani atau kelembagaannya
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 19
Hasil Perkebunan Tahun 2016
dilaksanakan dengan bimbingan dan
pendampingan oleh petugas daerah yang
ditunjuk;
h) Pelaksanaan kegiatan harus dilakukan
pencatatan secara tertib sebagai bahan
penyusunan laporan akhir dan evaluasi;

2. Pengolahan Hasil Perkebunan


a) Penetapan calon penerima/calon lokasi
Verifikasi CP/CL untuk kegiatan tahun
2016 hendaknya sudah dilakukan pada
tahun 2015. Apabila belum dilakukan,
agar segera dilakukan pada awal tahun
2016. Surat Keputusan (SK) CP/CL
ditetapkan oleh kepala dinas provinsi.
Khusus untuk TP kabupaten (satker
mandiri) ditetapkan kepala dinas
kabupaten. SK CP/CL ditetapkan paling
lambat akhir maret 2016. Kriteria
poktan/gapoktan calon penerima
sebagai berikut:
Memiliki potensi bahan baku yang
memenuhi skala ekonomi;
Sanggup menyediakan lahan untuk
lokasi bangunan pengolahan yang jelas
statusnya;

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 20


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Mempunyai komitmen untuk
mengembangkan usaha pengolahan
hasil perkebunan dengan mengisi
formulir naskah ikatan kerjasama
pengelolaan barang;
Verifikasi CPCL dilakukan pada tahun
2016 untuk kegiatan tahun 2017 yang
dilakukan oleh petugas Provinsi dan
kabupaten. Verifikasi CPCL sesuai
dengan form verifikasi.

b) Pembentukan Tim Teknis


- Tim teknis dibentuk oleh kepala dinas
yang membidangi perkebunan;
- Tim Teknis adalah petugas/staf teknis
yang kompeten di bidang perkebunan,
terdiri dari petugas Dinas Provinsi dan
Kabupaten/Kota (sesuai usulan Kepala
Dinas Kabupaten/Kota), apabila
diperlukan tim teknis dapat berasal
dari Balai Penelitian, BPTP Dinas
terkait dan Perguruan Tinggi;
- Tim Teknis bertugas melakukan
pemantapan CPCL, membantu
menyusun dan mengesahkan RUKK,

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 21


Hasil Perkebunan Tahun 2016
pengawalan, monitoring dan evaluasi
terhadap kondisi sarana dan prasarana
sampai dengan selesainya uji coba
komersil;
- Untuk kegiatan yang ada dana bahan
running usaha komersial, tim teknis
bersama-sama dengan rekanan dan
pengelola unit usaha melakukan
running usaha komersial dan membuat
laporannya sebagai dasar berita acara
serah terima barang dari dinas ke
poktan/gapoktan.
c) Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan
Kelompok (RUKK)
- RUKK disusun berdasarkan
kebutuhan kelompok sesuai
lampiran;
- Penyusunan RUKK dilakukan oleh
kelompok/gapoktan dibantu
pembina kabupaten dan Provinsi dan
disetujui tim teknis serta ditetapkan
oleh Kepala Dinas Provinsi/
Kabupaten/Kota.
d) Pengadaan gedung pengolah hasil

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 22


Hasil Perkebunan Tahun 2016
- Pengadaan gedung pengolah hasil
mengacu pada Perpres 70 tahun
2012 tentang Peraturan Pengadaan
Barang dan Jasa;
- Pembangunan UPH mengacu pada
Peraturan Menteri Pertanian Nomor
35/Permentan/OT.140/7/2008
tentang persyaratan dan penerapan
cara pengolahan hasil pertanian asal
tumbuhan yang baik (Good
Manufacturing Practices);
- Luas bangunan menyesuaikan
standar harga biaya setempat
dengan pagu anggaran yang ada;
- Pengadaan bangunan termasuk
didalamnya pemasangan instalasi
listrik dan penyambungannya.
e) Pengadaan alat dan mesin
- Pengadaan alat dan mesin
pengolahan hasil harus sesuai
dengan Peraturan Menteri Pertanian
Nomor
35/Permentan/OT.140/7/2008
tentang persyaratan dan penerapan

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 23


Hasil Perkebunan Tahun 2016
cara pengolahan hasil pertanian asal
tumbuhan yang baik (Good
Manufacturing Practices);
- Mesin pengolah hasil harus
memenuhi persyaratan SNI
(mempunyai sertifikat penggunaan
tanda SNI/ SPPT SNI) atau minimal
memiliki test report yang
dikeluarkan oleh lembaga
berwenang. Beberapa mesin
pengolah hasil yang telah memiliki
test report dapat dilihat di
www.bpm-alsintan.com;
- Pengadaan alat yang tertuang dalam
RUKK harus sudah termasuk
pemasangan alat, mesin genset,
pelatihan petugas pengelola
(operasional, perawatan,
perbaikan), running test serta
jaminan/garansi selama 1 tahun;
- Contoh spesifikasi beberapa alat dan
mesin pengolahan dapat dilihat pada
lampiran.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 24


Hasil Perkebunan Tahun 2016
f) Running usaha komersial
- Tahapan ini dilaksanakan pada
kegiatan yang mempunyai anggaran
running usaha komersial. Setelah alat
dan mesin terinstall, maka harus
dilakukan running usaha komersial
sampai alat dan mesin dapat
beroperasi optimal sesuai dengan
spesifikasi teknis, yang dibuktikan
dengan laporan;
- Berita acara serah terima barang
ditandatangani bila running usaha
komersial telah dilaksanakan dan
berhasil memenuhi persyaratan sesuai
dengan kelayakan teknis.
g) Naskah Ikatan Kerja Sama Pengelolaan
Barang
Gapoktan penerima harus
menandatangani naskah ikatan
kerjasama pengelolaan barang
sebagaimana contoh yang tercantum
pada lampiran.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 25


Hasil Perkebunan Tahun 2016
h) Penyerahan kepada Gapoktan
Penyerahan alat, mesin, dan gedung
dari dinas yang membidangi perkebunan
di provinsi kepada gapoktan dilengkapi
dengan Berita Acara Hasil Pemeriksaan
dan Berita Acara Serah Terima Barang
sesuai format pada lampiran pedoman
ini.
i) Organisasi Usaha Kelompok
Kepemilikan usaha dan pengelolaan
usaha:
1) Unit usaha dimiliki oleh gabungan
kelompok tani (Poktan/Gapoktan);
2) Pengelolaan usaha dilakukan secara
profesional oleh site
manager/pengurus
poktan/gapoktan;
3) Dinas yang memiliki alokasi
anggaran site manager diharapkan
melakukan Recruitment Site
Manager dan Asisten Site Manager
dengan ketentuan sebagai berikut:

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 26


Hasil Perkebunan Tahun 2016
- Berpengalaman dan mempunyai
jiwa wirausaha dan memiliki latar
belakang pendidikan minimal SMA;
- Berasal/berdomisili dalam wilayah
dimana unit usaha kelompok
berada;
- Site manager tidak sebagai
pengurus poktan/gapoktan;
- Site manager dan asisten site
manager yang terpilih ditetapkan
dengan SK kepala dinas provinsi.
j) Pengelolaan Unit Usaha
1) Bahan baku diutamakan berasal dari
anggota poktan/gapoktan;
2) Proses pengolahan hasil, pengemasan
dan penyimpanan dilakukan sesuai
kaidah - kaidah penerapan jaminan
mutu sehingga menghasilkan produk
yang bermutu secara konsisten dan
aman dikonsumsi;
3) Produksi yang dihasilkan dapat berupa
diversifikasi produk secara vertikal
maupun diversifikasi produk secara
horizontal (produk samping). Produk

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 27


Hasil Perkebunan Tahun 2016
yang dihasilkan harus memenuhi
standar produk yang ingin dicapai
secara konsisten;
k) Peningkatan Kompetensi SDM
Dalam rangka meningkatkan kinerja
UPH, maka perlu dilakukan pelatihan
secara internal dan mengikuti
pelatihan eksternal yang relevan.

3. Kegiatan Pemasaran Hasil


a. Pemasaran Domestik
1) Pengumpulan, pengolahan,
pengiriman, penganalisaan serta
penyebarluasan data/informasi
pasar;
2) Penyiapan SDM PIP adalah Petugas
PIP atau Pejabat Fungsional;
3) Analis Pasar Hasil Pertanian (APHP)
tingkat terampil dan ahli baik di
provinsi maupun kabupaten yang
mempunyai tugas pokok
menyiapkan, melaksanakan,
menganalisa dan mengkaji kebijakan

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 28


Hasil Perkebunan Tahun 2016
dan mengembangkan pelayanan di
bidang pemasaran hasil pertanian;
4) Kegiatan Peningkatan Akses
Pemasaran Domestik Produk
Perkebuan:
- Kegiatan dilakukan dalam bentuk
pertemuan koordinasi antara
stakeholders/pemangku
kepentingan komoditas hasil
perkebunan yang sudah
mempunyai akses pasar maupun
yang masih memerlukan fasilitasi
pengembangan akses pemasaran;
- Peserta terdiri dari Petugas Dinas
Perkebunan Propinsi atau
Kabupaten sentra produksi,
pekebun/poktan/gapoktan
produsen hasil perkebunan baik
segar dan olahan yang produknya
perlu penguatan dan
pengembangan pemasaran, pelaku
usaha yang membutuhkan bahan
baku hasil perkebunan baik segar
maupun olahan (industri
pengolahan, eksportir), serta dan
lembaga pendukung lainnya seperti
lembaga pembiayaan, pelaku
usaha pengemasan, dan lain-lain;

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 29


Hasil Perkebunan Tahun 2016
- Pola pertemuan dalam bentuk :
Fasilitasi Pertemuan / Workshop
Peningkatan Akes Pemasaran.
5) Kegiatan Penyusunan Bahan
Kebijakan Harga TBS dan komoditi
karet dilaksanakan dalam rangka
menyelaraskan harga di tingkat
pekebun/poktan/gapoktan dan
dapat dijadikan acuan bagi seluruh
stakeholder perkebunan. Kegiatan
ini juga mencakup desiminasi
informasi melalui penyelenggaraan
workshop kebijakan harga di
sentra produksi;
6) Kegiatan Promosi Perkebunan
dilaksanakan dalam rangka
memfaslitasi petani/kelompok
tani/gapoktan dan kelembagaan
pemasaran dalam pemecahan
masalah dan pemasaran hasil
pertanian serta sebagai sarana
pembelajaran bagi petani/kelompok
tani/gapoktan dalam melakukan
pemasaran hasil perkebunan.
Untuk meningkatkan proporsi
pemasaran hasil perkebunan
nusantara di pasar domestic;
7) Dalam rangka pelaksanaan
Pembinaan dan Pengembangan
Agrowisata perlu adanyanya
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 30
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Kesepakatan Rencana
Pengembangan Agrowisata;
8) Dalam pelaksanaan kegiatan
pengembangan kemitraan dan
kewirausahaan dilakukan
identifikasi kelompok-kelompok
petani yang potensial untuk
dimitrakan, Identifikasi
perusahaan calon mitra bagi
kelompok-kelompok petani yang
potensial serta melaksanakan
pertemuan dan merumuskan
konsep kemitraan yang dapat
dilaksanakan dan penanda-
tanganan MoU oleh para pihak.

b. Pemasaran Internasional
1) Pertemuan Fasilitasi Pengembangan
Akses Pasar Perdagangan
Internasional dilaksanakan dalam
bentuk seminar, kunjungan lapang
(filed trip) atau temu bisnis (bisnis
matching);
2) Peserta meliputi gapoktan
berorientasi ekspor, eksportir atau
calon eksportir produk perkebunan,
Dinas Perkebunan
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 31
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Provinsi/Kabupaten, Lembaga
Keuangan/Perbankan, Penyuluh
Pertanian, dan calon importer;

3) Materi pertemuan meliputi tata


cara/prosedur ekspor produk
perkebunan dan persyaratan impor
di negara tujuan ekspor, peluang
dan potensi ekspor berbagai
komoditi ekspor di negara tujuan
ekspor, kesepakatan yang dihasilkan
dari forum perundingan bilateral,
regional, multilateral dan kerjasama
komoditi, upaya pengembangan
ekspor produk perkebunan yang
sedang dan akan dilakukan (di
tingkat kabupaten, provinsi maupun
pusat);

4) Lingkup komoditi antara lain kopi


specialty, kakao olahan, teh
specialty, pala organic, lada
organic, mete atau komoditi
perkebunan laiannya yang
merupakankomoditi
unggulan/potensial ekspor.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 32


Hasil Perkebunan Tahun 2016
4. Kegiatan Pembinaan Usaha
a. Perkebunan Berkelanjutan
Melakukan koordinasi dengan instansi/
institusi terkait baik di tingkat pusat
maupun daerah antara lain:
Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, Kementerian Agraria dan
Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional,
Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM), dinas yang membidangi
Perkebunan provinsi dan
kabupaten/kota dan perusahaan
perkebunan besar swasta dan negara.

b. Gerakan Nasional Penyelematan SDA


(GNPSDA)
Melakukan koordinasi dengan
instansi/institusi terkait baik di tingkat
pusat maupun daerah antara lain: KPK,
Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, Kementerian Agraria dan
Tata Ruang, Badan Informasi
Geospasial, dinas yang membidangi
perkebunan provinsi dan
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 33
Hasil Perkebunan Tahun 2016
kabupaten/kota dan perusahaan
perkebunan besar swasta dan negara.

A2.Prinsip Pendekatan Pelaksanaan


Kegiatan (Dekon)
1. Kegiatan Standardisasi dan Mutu
Kegiatan Capacity Building Penilaian Mutu Biji
Kakao sesuai SNI dilakukan di kelompok yang
merupakan cikal bakal Unit Fermentasi Biji
Kakao. Pelatihan dilaksanakan dengan pola
penyampaian materi dan praktek pengujian
biji kakao sehingga harus tersedia bahan
praktek seperti biji kakao, alat ukur kadar air,
timbangan digital dan alat untuk membelah biji
kakao.

2. Penerapan Sistem Jaminan Mutu Dan


Keamanan Pangan
Maksud dari kegiatan ini adalah melakukan
koordinasi, sosialisasi serta melakukan
pengawalan kegiatan Penerapan Sistem
jaminan Mutu dan Keamanan Pangan. Selain
itu dilaksanaan Bimbingan Teknis Penerapan
Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 34


Hasil Perkebunan Tahun 2016
B. Spesifikasi Teknis
1. Kegiatan Pascapanen dan Pengolahan
Hasil Perkebunan
Sarana (alat dan mesin) yang digunakan
untuk penanganan pascapanen dan
pengolahan hasil perkebunan harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Perawatan dan pengoperasiannya
mudah;
b. Permukaan peralatan yang
berhubungan dengan bahan yang
diproses tidak boleh berkarat dan
tidak mudah mengelupas;
c. Tidak mencemari hasil seperti unsur
atau fragmen logam yang lepas,
minyak pelumas, bahan bakar, tidak
bereaksi dengan produk, jasad
renik, dan lain-lain;
d. Mudah dikenakan tindakan sanitasi;
e. Memiliki test report atau SNI.
Spesifikasi alat dan mesin pascapanen
perkebunan yang akan diberikan untuk
kelompok tani seperti pada lampiran.
Selain kegiatan pengadaan alat dan

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 35


Hasil Perkebunan Tahun 2016
mesin pascapanen untuk kelompok
tani, dalam kegiatan penanganan
pascapanen tanaman perkebunan
terdapat kegiatan peningkatan
keterampilan dan kemampuan
kelompok tani melalui pertemuan
teknis.

2. Pemasaran Hasil Perkebunan


a) Penyiapan SDM PIP adalah Petugas
PIP atau Pejabat Fungsional;
b) Bentuk kegiatan adalah Fasilitasi
Pertemuan/Workshop, field trip,
promosi dan koordinasi antar
stakeholders/pemangku kepentingan
komoditas hasil perkebunan yang
berkaitan dengan pemasaran hasill
perkebunan;
c) Peserta terdiri dari Petugas Dinas
Perkebunan Propinsi atau Kabupaten
sentra produksi,
pekebun/poktan/gapoktan produsen
hasil perkebunan baik segar dan
olahan yang produknya perlu
penguatan dan pengembangan
pemasaran, pelaku usaha yang
membutuhkan bahan baku hasil

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 36


Hasil Perkebunan Tahun 2016
perkebunan baik segar maupun
olahan (industri pengolahan,
eksportir), serta dan lembaga
pendukung lainnya seperti lembaga
pembiayaan, pelaku usaha
pengemasan, dan lain-lain;
5) Materi pertemuan meliputi tata
cara/prosedur ekspor produk
perkebunan dan persyaratan impor
di negara tujuan ekspor, peluang
dan potensi ekspor berbagai
komoditi ekspor di negara tujuan
ekspor, kesepakatan yang dihasilkan
dari forum perundingan bilateral,
regional, multilateral dan kerjasama
komoditi, upaya pengembangan
ekspor produk perkebunan yang
sedang dan akan dilakukan (di
tingkat kabupaten, provinsi maupun
pusat);

6) Lingkup komoditi antara lain kopi


specialty, kakao olahan, teh
specialty, pala organic, lada
organic, mete atau komoditi
perkebunan laiannya yang

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 37


Hasil Perkebunan Tahun 2016
merupakankomoditi
unggulan/potensial ekspor.

3. Pembinaan Usaha dan Perkebunan


Berkelanjutan
Materi yang terkait dengan Pembinaan
Usaha dan Perkebunan Berkelanjutan:
a) Undang-Undang Nomor 39 tahun
2014 tentang Perkebunan;
b) Peraturan Menteri Pertanian Nomor
98/Permentan/OT.140/9/2013
tentang Pedoman Perizinan Usaha
Perkebunan;
c) Peraturan Menteri Pertanian Nomor
14 Tahun 2009 tentang Pedoman
Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk
Budidaya Kelapa Sawit;
d) Peraturan Menteri Pertanian Nomor
07 Tahun 2009 tentang Pedoman
Penilaian usaha Perkebunan;
e) Peraturan Menteri Pertanian Nomor
19 Tahun 2011 tentang Pedoman
Perkebunan Kelapa Sawit
Berkelanjutan Indonesia (ISPO) yang
telah disempurnakan dengan
Peraturan Menteri Pertanian Nomor
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 38
Hasil Perkebunan Tahun 2016
11 Tahun 2015 tentang Sistem
Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit
Berkelanjutan.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 39


Hasil Perkebunan Tahun 2016
III. PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Ruang Lingkup
1. Pascapanen dan Pengolahan
Kegiatan penanganan pascapanen dan
pengolahan di daerah meliputi:
a) Fasilitasi alat/mesin pascapanen,
bangunan UPH;
b) Peningkatan keterampilan dan
kemampuan kelompok
tani/gapoktan melalui pertemuan
teknis;
c) Pembinaan, pengawalan, monitoring
serta evaluasi pascapanen dan
pengolahan hasil perkebunan;
d) Pertemuan kooordinasi teknis
pengolahan bokar bersih.

2. Pemasaran Hasil Perkebunan


a) Fasilitasi unit pemasaran
poktan/gapoktan;
b) Fasilitasi pertemuan dan koodinasi
harga TBS Kelapa Sawit;
c) Fasilitasi pemasaran karet;
d) Pengembangan peayanan informasi
pasar komoditas perkebunan;
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 40
Hasil Perkebunan Tahun 2016
e) Pengembangan agro industry
perkebunanan;
f) Pengembangan kemitraan dan
kewirausahaan;
g) Pengembangan dan pembinaan
agrowisata;
h) Fasilitasi pengembangan akses
perdagangan internasional.

3. Pembinaan Usaha
a. Ruang lingkup kegiatan Pembinaan
Usaha Perkebunan Berkelanjutan
meliputi:
1) Sosialisasi peraturan perundang-
undangan yang terkait dengan
legalitas dan perizinan usaha
perkebunan kepada petugas
dinas yang membidangi
perkebunan di
provinsi/kabupaten/kota,
petugas instansi pemerintah
terkait lainnya, dan petugas
perusahaan perkebunan (PBS
dan PTPN) serta pelaku usaha
lainnya;

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 41


Hasil Perkebunan Tahun 2016
2) Sosialisasi perkebunan
berkelanjutan yang meliputi
sosialisasi Permentan No. 19
Tahun 2013 tentang Pedoman
Perkebunan Kelapa Sawit
Berkelanjutan Indonesia yang
telah disempurnakan dengan
Peraturan Menteri Pertanian No.
11 Tahun 2015 tentang Sistem
Sertifikasi Perkebunan Kelapa
Sawit Berkelanjutan serta
sosialisasi Standar Kopi
Berkelanjutan Indonesia kepada
petugas dinas yang membidangi
perkebunan di
provinsi/kabupaten/kota,
petugas instansi pemerintah
terkait lainnya, dan petugas
perusahaan perkebunan (PBS
dan PTPN) serta pelaku usaha
lainnya;
3) Pembinaan, pengawalan,
monitoring, dan evaluasi melalui
koordinasi dan kunjungan
lapangan terhadap pelaksanaan

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 42


Hasil Perkebunan Tahun 2016
kegiatan pembinaan usaha
perkebunan berkelanjutan.
b. Ruang lingkup kegiatan GNPSDA:
Pembinaan dan bimbingan teknis
kepada petugas Dinas yang
Membidangi Perkebunan di Tingkat
Provinsi/Kabupaten/Kota, petugas
instansi pemerintah terkait lainnya,
dan petugas perusahaan perkebunan
(PBS, PBSN danPBN).

c. Ruang lingkup kegiatan Standardisasi


dan mutu (Dekon):
1. Capacity Building Penilaian Mutu Biji
Kakao sesuai SNI;
2. Bimbingan Teknis Petugas Registrasi
Surat Tanda Pendaftaran UFPBK;
3. Koordinasi, Sosialisasi , pembinaan
dan Bimtek Penerapan Sistem
jaminan Mutu.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 43


Hasil Perkebunan Tahun 2016
B. Pelaksana Kegiatan
1. Pascapanen dan Pengolahan Hasil
Perkebunan
Tugas dan fungsi petugas tingkat Pusat,
Provinsi dan Kabupaten/kota sebagai
berikut:
a. Kegiatan Tingkat Pusat
1) Penyusunan Pedoman Teknis;
2) Sosialisasi, Pembinaan dan
Pengawalan Kegiatan;
3) Monitoring Dan Evaluasi Kegiatan;
4) Pelaporan Hasil Pelaksanaan
Kegiatan.
b. Kegiatan Tingkat Provinsi
1) Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan
(Juklak);
2) Sosialisasi kegiatan dan Identifikasi
Calon kelompok Sasaran;
3) Penetapan Kelompok Sasaran
untuk alokasi APBN melalui TP
Propinsi;
4) Pembinaan, pengawalan dan
pelaksanaan kegiatan;
5) Monitoring serta evaluasi kegiatan;

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 44


Hasil Perkebunan Tahun 2016
6) Pelaporan hasil pelaksanaan
kegiatan.
c. Kegiatan Tingkat Kabupaten/Kota
1) Penyusunan Petunjuk Teknis
(Juknis);
2) Sosialisasi Kegiatan dan Identifikasi
Calon kelompok Sasaran;
3) Penetapan Kelompok Sasaran
untuk alokasi APBN melalui TP
kabupaten/ kota;
4) Koordinasi/konsultasi ke provinsi
dan koordinasi ke lokasi dalam
rangka persiapan, pelaksanaan,
pembinaan dan pengawalan
kegiatan;
5) Monitoring serta evaluasi;
6) Pelaporan hasil pelaksanaan
kegiatan.

2. Pemasaran Hasil Perkebunan


a. Kegiatan Tingkat Pusat
1) Penyusunan Pedoman Teknis;
2) Pengumpulan data untuk
penyusunan bahan kebijakan;
3) Verifikasi dan Monitoring
Pelaksanan Kebijakan;
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 45
Hasil Perkebunan Tahun 2016
4) Promosi produk perkebunan
unggulan;
5) Monitoring dan Evaluasi Kegiatan;
6) Menyelenggarakan pertemuan;
7) Pelaporan Hasil Pelaksanaan
Kegiatan.
b. Kegiatan Tingkat Provinsi
1) Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan
(Juklak);
2) Koordinasi/konsultasi ke pusat dan
koordinasi ke lokasi dalam rangka
persiapan dan pelaksanaan
kegiatan;
3) Pembinaan, pengawalan dan
pelaksanaan kegiatan;
4) Monitoring serta evaluasi kegiatan;
4) Pengumpulan data dan informasi
yang berkaitan dengan pemasaran
hasil perkebunan;
5) Menyelenggarakan pertemuan;
6) Pelaporan hasil pelaksanaan
kegiatan.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 46


Hasil Perkebunan Tahun 2016
c. Kegiatan Tingkat Kabupaten/Kota
1) Penyusunan Petunjuk Teknis
(Juknis);
2) Koordinasi/konsultasi ke provinsi
dan koordinasi ke lokasi dalam
rangka persiapan dan pelaksanaan
kegiatan;
3) Monitoring serta evaluasi;
4) Pelaporan hasil pelaksanaan
kegiatan.

3. Pembinaan Usaha dan Perkebunan


Berkelanjutan
Kegiatan Pembinaan Usaha dan
Perkebunan Berkelanjutan dilaksanakan
oleh Direktorat Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen
Perkebunan dan Dinas Provinsi yang
menangani fungsi perkebunan, dengan
tugas masing-masing sebagai berikut:
a. Tingkat Pusat
- Menyusun Pedoman Teknis;
- Melakukan koordinasi dengan Dinas
yang menangani fungsi perkebunan
tingkat Provinsi/Kabupaten/kota;

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 47


Hasil Perkebunan Tahun 2016
- Melakukan pembinaan, pengawalan
monitoring, dan evaluasi kegiatan
pembinaan usaha perkebunan
berkelanjutan;
- Menyiapkan materi sosialisasi;
- Bersama KPK menyelenggarakan
rapat koordinasi GNPSDA dengan
mengundang instansi terkait tingkat
pusat, asosiasi terkait perkelapa
sawitan dan kepala dinas yang
membidangi perkebunan di provinsi
prioritas;
- Bersama KPK menyelenggarakan
rapat evaluasi GNPSDA dengan
mengundang instansi terkait tingkat
pusat, asosiasi terkait perkelapa
sawitan dan kepala dinas yang
membidangi perkebunan di provinsi
prioritas;
- Menyusun laporan akhir kegiatan.

b. Tingkat Provinsi
- Menyusun Petunjuk Teknis kegiatan
pembinaan usaha perkebunan
berkelanjutan, meliputi: a).
Koordinasi dan Suprevisi Gerakan
Nasional Penyelamatan Sumber
Daya Alam (GNPSDA) Sub Sektor
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 48
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Perkebunan b). Pembinaan
dan Monev Penerapan Perkebunan
Berkelanjutan pada Kelapa Sawit
dan c). Sosialisasi Standar
Perkebunan Kopi Berkelanjutan
Indonesia;
- Melakukan konsultasi/koordinasi
dengan Direktorat Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Perkebunan,
Ditjen Perkebunan;
- Melakukan koordinasi dengan Dinas
Kabupaten/Kota yang membidangi
perkebunan dan instansi/lembaga
terkait di provinsi dan
kabupaten/kota;
- Melakukan koordinasi dengan
perusahaan perkebunan (PTPN dan
PBS) di provinsi dan
kabupaten/kota;
- Melaksanakan kunjungan lapangan
untuk memonitor dan mengevaluasi
perusahaan perkebunan (PTPN dan
PBS) serta kelompok tani kopi
berkelanjutan;
- Melaksanakan sosialiasi peraturan
perundang-undangan yang terkait
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 49
Hasil Perkebunan Tahun 2016
dengan perkebunan serta
sosialisasi pedoman perkebunan
berkelanjutan;
- Menyusun laporan Monitoring dan
Evaluasi kegiatan pembinaan usaha
dan perkebunan berkelanjutan dan
menyampaikannya ke Direktorat
Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perkebunan, Ditjen Perkebunan;
- Dinas yang membidangi perkebunan
di 8 provinsi prioritas melakukan
penyiapan data perizinan dan data
spasial lokasi kebun melalui
monitoring dan evaluasi ke
kabupaten serta ke perusahaan
perkebunan;
- Dinas yang membidangi perkebunan
di 8 provinsi prioritas melakukan
pertemuan/rapat evaluasi terhadap
hasil verifikasi pengumpulan data
GNPSDA, sesuai jadwal yang
disepakati bersama Ditjen
Perkebunan dan KPK.

Kegiatan Standardisasi dan Mutu (Dekon)


dilaksanakan oleh Pusat dan Propinsi,
dengan tugas sebagai berikut:

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 50


Hasil Perkebunan Tahun 2016
- Pusat
Ditjen Perkebunan melakukan koordinasi
dan melakukan pengawalan kegiatan
terhadap:

Sosialisasi sistem jaminan mutu dan


keamanan pangan;
Pendampingan penyusunan dokumen
sistem mutu;
Verifikasi penerapan Sistem Kendali
Internal (SKI);
Penyiapan sertifikasi/registrasi sistem
mutu dan keamanan pangan.

- Daerah
Dinas perkebunan provinsi penerima
dana dekonsentrasi Penerapan Sistem
Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan,
bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan Bimbingan Teknis
Penerapan Sistem Jaminan Mutu dan
Keamanan Pangan;
Dinas perkebunan provinsi melakukan
identifikasi pelaku usaha perkebunan
sebagai calon penerap sistem jaminan
mutu dan keamanan pangan yang
pelaksanaanya dikoordinasikan dengan
dinas perkebunan Kabupaten/kota;
Fasilitator sistem jaminan mutu dan
keamanan pangan dinas perkebunan
kabupaten/Kota melakukan
pendampingan pelaksanaan penerapan
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 51
Hasil Perkebunan Tahun 2016
sistem jaminan mutu dan keamanan
pangan (sistem kendali internal);
Calon Penerima/Calon Lokasi (CPCL)
yang telah ditetapkan oleh kepala
dinas perkebunan provinsi harus
menerapkan sistem jaminan mutu dan
keamanan pangan secara konsisten
dan berkesinambungan;
Dinas perkebunan Kabupaten/Kota
yang menjadi sentra bokar di provinsi
penerima dana dekonsentrasi SJM
Bokar bertanggung jawab untuk
meregistrasi UPPB yang telah
melakukan sistem jaminan mutu
bokar;
Dinas perkebunan kabupaten/kota
yang menjadi sentra kakao di provinsi
penerima dana dekonsetrasi
bertanggung jawab untuk meregistrasi
UFPBK serta mendampingi
poktan/gapoktan dalam mengajukan
permohonan sertifikasi jaminan
keamanan pangan bagi UFPBK kepada
OKKP-D.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 52


Hasil Perkebunan Tahun 2016
- Otoritas Kompeten Keamanan Pangan
Daerah (OKKP-D)
Otoritas Kompeten Keamanan Pangan
Daerah (OKKP-D) sebagai lembaga
pengawas mutu dan keamanan pangan
melakukan penilaian melalui
mekanisme sertifikasi jaminan
keamanan pangan kakao fermentasi
dan sertifikasi GHP/GMP terhadap
pelaku usaha yang sudah menerapkan
sistem jaminan mutu dan keamanan
pangan.

C. Lokasi, Jenis dan Volume


1. Kegiatan Pascapanen dan Pengolahan
Hasil Perkebunan
Lokasi, Jenis dan Volume kegiatan
penanganan pascapanen dan
pengolahan hasil perkebunan tahun
2016 seperti pada Lampiran.

2. Kegiatan Pembinaan Usaha


a) Koordinasi dan Supervisi Gerakan
Nasional Penyelamatan SUmber Daya
Alam (GNPSDA) Sub Sektor
Perkebunan dilaksanakan di 8
(delapan) provinsi ;

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 53


Hasil Perkebunan Tahun 2016
b) Pembinaan, Monev Penerapan
Perkebunan Berkelanjutan pada
Kelapa Sawit.
Pembinaan, Monev Penerapan
Perkebunan Berkelanjutan pada
Kelapa Sawit dilaksanakan di 18
(delapan belas) provinsi.
c) Sosialisasi Standar Perkebunan Kopi
Berkelanjutan (ISCoffee).
Sosialisasi standar perkebunan kopi
berkelanjutan(ISCoffee) dilaksanakan
di 6 (enam) provinsi sebagaimana
tercantum dalam lampiran.

3. Kegiatan Pengembangan Agroindustri


Perkebunan
Lokasi, Jenis dan Volume kegiatan
Pengembangan Agroindustri Perkebunan
tahun 2016 serta detail pelaksanaan
kegiatan tertera dalam lampiran
pedoman ini.

4. Kegiatan Pemasaran Domestik dan


Internasional
Lokasi, Jenis dan Volume kegiatan
Pemasaran Domestik dan Internasional
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 54
Hasil Perkebunan Tahun 2016
tahun 2016 serta serta detail
pelaksanaan kegiatan tertera dalam
lampiran pedoman ini.

5. Kegiatan Fasilitasi Standarisasi Mutu


Lokasi, Jenis dan Volume kegiatan
Fasilitasi Standardisasi Mutu tahun 2016
serta serta detail pelaksanaan kegiatan
tertera dalam lampiran pedoman ini.

D. Simpul Kritis
Beberapa hal yang harus diperhatikan
yang menjadi simpul kritis dalam
pelaksanaan kegiatan:
a) Kelompok sasaran penerima bantuan
bukan kelompok yang baru dibentuk
dan organisasinya berfungsi dengan baik
sehingga bantuan yang diberikan dapat
dimanfaatkan dan dikelola secara
optimal serta meningkatkan nilai
tambah dan pendapatan
petani/kelompok tani/ gapoktan;
b) Proses pelaksanaan pengadaan
barang/jasa sesuai aturan dan tepat
waktu untuk menghindari
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 55
Hasil Perkebunan Tahun 2016
keterlambatan pelaksanaan
program/kegiatan;
c) Penggunaan lahan untuk pembangunan
UPH/sarana lainnya dilengkapi dengan
Surat hibah/perjanjian pemanfaatan
lahan;
d) Penyerahan barang/sarana bantuan
kepada kelompok tani harus dilengkapi
dengan berita acara serah terima
barang dan surat kesanggupan
pemanfaatan alat/sarana;
e) Peserta harus sesuai dengan kriteria
yang dipersyaratkan;
f) Pemilihan Narasumber berdasarkan
kompetensi yang dimilikinya.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 56


Hasil Perkebunan Tahun 2016
IV. PROSES PENGADAAN DAN PENYALURAN
BANTUAN
Pengadaan alat/mesin/bangunan dilakukan
melalui metode kontraktual.
A. Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa
1. Proses pengadaan barang dan jasa yang
dilakukan harus mengacu kepada
Perpres no. 54 tahun 2010 berikut
perubahannya (Perpres No. 70 tahun
2012) tentang Peraturan Pengadaan
Barang dan Jasa;
2. Dalam rangka percepatan pelaksanaan
kegiatan, persiapan pengadaan barang
dimulai dari Januari 2016 sekaligus
pengumuman pelelangan;
3. Kontrak pengadaan alat/mesin paling
lambat harus sudah ditandatangani akhir
triwulan I (bulan Maret) tahun 2016;
4. Pelaksanaan kegiatan pertemuan,
workshop, dan fieldtrip sesuai dengan
jadwal pelaksanaan kegiatan.

B. Mekanisme Penyaluran Barang


1. Pengelolaan dan penyaluran barang
harus mengacu kepada Permenkeu
Nomor 248/2010;
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 57
Hasil Perkebunan Tahun 2016
2. Dalam rangka percepatan pelaksanaan
kegiatan, identifikasi serta penetapan
kelompok sasaran penerima alat/mesin
dilaksanakan pada bulan Januari 2016;
3. Penentuan kelompok tani terpilih
dilakukan melalui seleksi oleh petugas
dinas yang membidangi perkebunan
serta ditetapkan oleh Pemerintah
Daerah setempat atau Kepala Dinas
yang membidangi Perkebunan;
Adapun kriteria penetapan kelompok
tani sasaran adalah sebagai berikut:
a. Kelompok yang bersangkutan sudah
ada/telah eksis dan aktif,
berpengalaman, bukan bentukan
baru dan sudah terdaftar di
Bakorluh, dapat dipercaya serta
mampu mengembangkan usaha/
kegiatan melalui kerjasama
kelompok, dengan jumlah anggota
minimal 20 orang;
b. Kelompok yang bersangkutan tidak
mendapat penguatan modal atau
fasilitasi lain untuk kegiatan yang
sama/sejenis pada saat yang
bersamaan atau mendapat modal
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 58
Hasil Perkebunan Tahun 2016
pada tahun-tahun sebelumnya
kecuali kegiatan yang diprogramkan
secara bertahap dan saling
mendukung;
c. Kelompok yang bersangkutan tidak
bermasalah dengan perbankan,
kredit atau sumber permodalan
lainnya;
d. Kelompok yang mengalami kesulitan
untuk mengakses sumber
permodalan, sehingga sulit untuk
menerapkan rekomendasi teknologi
anjuran secara penuh dan
memanfaatkan peluang pasar.
4. Penyerahan bantuan
sarana/alat/mesin
pascapanen/pengolahan kepada
kelompok tani harus dilengkapi dengan
Berita Acara Serah Terima Barang
antara PPK pelaksana kegiatan dengan
Ketua Kelompok Tani yang
bersangkutan dengan dibubuhi Materai
6.000 rupiah.
5. Penyerahan bantuan
sarana/alat/mesin pascapanen kepada
kelompok tani paling lambat harus
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 59
Hasil Perkebunan Tahun 2016
sudah dilakukan pada akhir triwulan 2
(bulan Juni) 2016.

C. Pelaksanaan Kegiatan Lainnya


Pelaksanaan kegiatan pendukung seperti
sosialiasi dilaksanakan di awal kegiatan,
sedangkan kegiatan pertemuan teknis
petani dilaksanakan setelah proses
pengadaan alat/mesin/bangunan selesai
dan diserah terimakan kepada kelompok
penerima.

V. PEMBINAAN, PENGENDALIAN,
PENGAWALAN, DAN PENDAMPINGAN
Pembinaan kelompok dilakukan secara
terorganisir dan berkelanjutan sehingga
kelompok mampu mengembangkan usahanya
secara mandiri. Untuk itu diperlukan
dukungan dana pembinaan lanjutan yang
bersumber dari APBD.

Agar pelaksanaan kegiatan ini memenuhi


kaidah pengelolaan sesuai prinsip
pelaksanaan kepemerintahan yang baik (good
governance) dan pemerintah yang bersih
(clean governance), maka pelaksanaan

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 60


Hasil Perkebunan Tahun 2016
kegiatan harus mematuhi prinsip-prinsip:
mentaati ketentuan peraturan dan
perundangan, membebaskan diri dari praktek
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN),
menjunjung tinggi keterbukaan informasi,
transparansi dan demokratisasi, memenuhi
asas akuntabilitas.
Tanggung jawab teknis pelaksanaan kegiatan
ini berada pada dinas/kantor perkebunan
atau yang melaksanakan fungsi perkebunan
lingkup kabupaten/kota. Tanggung jawab
koordinasi pembinaan program berada pada
Dinas perkebunan Provinsi. Tanggung jawab
atas program dan kegiatan adalah Direktorat
Jenderal Perkebunan, Kementerian
Pertanian.
Pengendalian melalui jalur struktural
dilakukan oleh tim teknis kabupaten, tim
pembina provinsi dan pusat, sedangkan
pengendalian kegiatan dilakukan oleh
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA). Proses
penegendalian di setiap wilayah direncanakan
dan diatur oleh masing masing instansi.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 61


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Pengawasan dilaksanakan sesuai ketentuan
yang berlaku agar penyelenggaraan kegiatan
dapat menerapkan prinsip-prinsip
partisipatif, transparansi dan akuntabel.

Pembinaan kepada pelaku usaha perkebunan


dilakukan secara berkelanjutan sehingga
mampu menerapkan peraturan perundangan
yang berlaku.

VI. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

Sistem Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan


dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri
Pertanian nomor
31/Permentan/OT.140/3/2010 tanggal 19
Maret 2010 tentang Pedoman Sistem
Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan
Pembangunan Pertanian. Dinas yang
membidangi perkebunan kabupaten dan
provinsi wajib melakukan monitoring,
evaluasi dan pelaporan secara berjenjang
dilaporkan kepada Direktorat Jenderal
Perkebunan, dengan ketentuan sebagai
berikut:
A. Jenis Laporan
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 62
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Tim Teknis Kabupaten/Kota dan Tim
Pembina Provinsi wajib membuat laporan
tentang pelaksanaan kegiatan yang terdiri
dari:

1. Sistem Monitoring dan Evaluasi


(SIMONEV) meliputi:
Kemajuan pelaksanaan kegiatan
sesuai indikator kinerja;
Perkembangan kelompok sasaran
dalam pengelolaan kegiatan lapangan
berikut realisasi fisik dan keuangan;
Permasalahan yang dihadapi dan
upaya penyelesaian di tingkat
kabupaten dan provinsi.
2. Laporan Perkembangan fisik yang sesuai
tahapan pelaksanaan kegiatan dengan
materi meliputi: nama petani/kelompok
tani/gapoktan, desa/kecamatan/
kabupaten, luas areal (target dan
realisasi), waktu pelaksanaan,
perkembangan, kendala dan
permasalahan, upaya pemecahan
masalah;

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 63


Hasil Perkebunan Tahun 2016
3. Laporan Akhir, berisi realisasi kegiatan
yang berhasil dilaksanakan hingga akhir
tahun anggaran, permasalahan yang
dihadapi dan usulan tindak lanjut yang
perlu dilakukan, yang dibuat setelah
program berakhir.

B. Waktu Penyampaian Laporan


1. Simonev dibuat setiap bulan dengan
ketentuan:
Pelaporan dinas yang membidangi
perkebunan kabupaten ditujukan
kepada provinsi, disampaikan paling
lambat tanggal 5 bulan laporan;
Pelaporan dinas yang membidangi
perkebunan provinsi ditujukan kepada
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Perkebunan Direktorat Jenderal
Perkebunan, disampaikan paling
lambat tanggal 7 bulan laporan;
2. Laporan perkembangan fisik dibuat
pertriwulan ditujukan kepada Direktorat
Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perkebunan Direktorat Jenderal

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 64


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Perkebunan, disampaikan paling lambat
tanggal 7 bulan laporan;
3. Laporan akhir ditujukan kepada
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Perkebunan Direktorat Jenderal
Perkebunan, disampaikan paling lambat
tanggal 31 Desember 2016.

Laporan pelaksanaan kegiatan tersebut


dikirim melalui email dengan alamat:
pcpn.simregar@gmail.com,
pascapanen011@yahoo.com,
bimuspb.ditjenbun@gmail.com.

VII. PEMBIAYAAN
Kegiatan ini dibiayai dengan dana APBN
(Tugas Pembantuan Direktorat Jenderal
Perkebunan, Kementerian Pertanian) yang
ditampung dalam DIPA Direktorat Jenderal
Perkebunan tahun 2016.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 65


Hasil Perkebunan Tahun 2016
VIII. PENUTUP
Pedoman Teknis kegiatan Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Perkebunan merupakan
acuan secara umum yang perlu
dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk
Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan
Petunjuk Teknis (Juknis) yang lebih
operasional. Diharapkan dengan pedoman
teknis ini, pelaksanaan kegiatan tersebut
dapat terlaksana sesuai dengan tujuan dan
sasaran yang direncanakan.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 66


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LAMPIRAN 1

LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN DUKUNGAN


PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL
PERKEBUNAN TAHUN 2016

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 67


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN PENANGANAN
PASCAPANEN PERKEBUNAN TAHUN 2016

A. Komoditas Kakao

No. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH (KT)


33
1 Aceh 1 Bireun 1
2 Pidie Jaya 1
3 Aceh Besar 1
2 Sumbar 4 Padang Pariaman 1
5 Lima Puluh Kota 1
3 Bengkulu 6 Bengkulu Utara 1
4 Jateng 7 Batang 1
5 Jatim 8 Ngawi 1
6 Bali 9 Buleleng 1
7 DIY 10 Gunung Kidul 1
11 Kulon Progo 1
8 NTT 12 Ende 1
13 Manggarai Timur 1
9 Kaltara 14 Nunukan 1
Kaltim Berau 1
10 Sulut 15 Bolaang
Mongondow 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 68


Hasil Perkebunan Tahun 2016
No. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH (KT)
16 Bolaang
Mongondow Utara 1
11 Sulteng 18 Kota Palu 1
12 Sulsel 19 Pinrang 1
20 Bone 1
21 Bantaeng 1
22 Luwu Timur 1
23 Bulukumba 1
13 Sulbar 24 Mamuju Tengah 1
14 Sultra 25 Kolaka 1
26 Kolaka Timur 1
27 Konawe Selatan 1
28 Buton 1
15 Gorontalo 29 Gorontalo Kab. 1
30 Boalemo 1
16 Papua 33 Nabire 1
34 Keerom 1
17 Papua Barat 35 Manokwari Selatan 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 69


Hasil Perkebunan Tahun 2016
B. Komoditas Kopi

No. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH (KT)


60
1 Aceh 1 Gayo Lues 1
2 Sumut 2 Simalungun 8
3 Dairi 6
4 Tapanuli Utara 6
5 Mandailing Natal 4
6 Humbang
Hasundutan 10
3 Sumbar 7 Lima Puluh Kota 1
4 Riau 8 Kep. Meranti 1
5 Sumsel 9 Lahat 1
6 Lampung 10 Lampung Barat 2
11 Tanggamus 2
7 Bengkulu 12 Rejang lebong 1
13 Kepahyang 1
8 Jabar 14 Kuningan 1
15 Bandung 1
16 Garut 3
9 Jateng 17 Kendal 1
18 Pemalang 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 70


Hasil Perkebunan Tahun 2016
10 Jatim 19 Lumajang 1
20 Malang 1
11 Bali 21 Tabanan 1
22 Bangli 1
11 Sulsel 23 Enrekang 1
12 NTB 24 Lombok Tengah 1
25 Dompu 1
13 NTT 26 Manggarai Barat 1
27 Alor 1

C. Komoditas Pala
NO. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH (KT)
3
1 Papua barat 1 Fakfak 3

D. Komoditas Lada
PROVINSI KABUPATEN JUMLAH(KT)
3
1 Lampung 1 lampung Timur 2
2 Kalbar 2 Sanggau 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 71


Hasil Perkebunan Tahun 2016
E. Komoditas Cengkeh
PROVINSI KABUPATEN JUMLAH(KT)
5
1 Sulut 1 Minahasa 1
2 Minahasa Selatan 1
2 Gorontalo 3 Bone Bolango 1
Maluku
3 4 Halmahera Barat 1
Utara
5 Halmahera Utara 1

F. Komoditas Karet
PROVINSI KABUPATEN JUMLAH(KT)
44
1 Sumut 1 Labuhan Batu Utara 3
2 Asahan 3
2 Sumbar 3 Dharmasraya 4
4 Kota Sawalunto 5
3 Riau 5 Kampar 2
6 Kuantan Singingi 2
4 Sumsel 7 Musi Banyuasin 4
8 Ogan Komering Ilir 2

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 72


Hasil Perkebunan Tahun 2016
9 Musi Rawas 5
5 Bengkulu 10 Bengkulu Utara 3
11 Seluma 2
6 Kalteng 12 Pulang Pisau 3
7 Kalsel 13 Tapin 3
14 Tanah Bumbu 3
8 Kalbar 15 Sambas 1
16 Sanggau 3

G. Komoditas Kelapa
PROVINSI KABUPATEN JUMLAH(KT)
25
Bolaang
1 Sulut 1 4
Mongondow
2 Minahasa Tenggara 4
3 Minahasa Selatan 6
2 Riau 4 Pelalawan 2
3 Kalbar 5 Sambas 3
Maluku Tenggara
4 Maluku 6 2
Barat
7 Kep. Aru 2
5 Malut 8 Kep. Morotai 2

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 73


Hasil Perkebunan Tahun 2016
H. Komoditas Jambu Mete
PROVINSI KABUPATEN JUMLAH(KT)
12
1 Sultra 1 Muna 3
2 NTB 2 Lombok Barat 3
3 Bima 3
3 Malut 4 Kep. Sula 3
4 NTT 5 Belu
6 Alor

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 74


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUMEN KEGIATAN FASILITASI
PENGEMBANGAN PENGOLAHAN HASIL
PERKEBUNAN TAHUN 2016

A. Fasilitasi Pengolahan Gula Tebu

No. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH


(UNIT)
10
1 Aceh 1 Gayo Luwes 1
2 Aceh Tengah 2
3 Bener Meriah 2
2 Jambi 4 Kerinci 1
3 Sultra 5 Muna 1
4 Malut 6 Halmahera Timur 1
5 NTB 7 Dompu 2

B. Fasilitasi Pengolahan Coklat

NO. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH


(UNIT)
4
1 Jawa Timur 1 Blitar 1
2 Sulsel 2 Bulukumba 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 75


Hasil Perkebunan Tahun 2016
3 Sulbar 3 Mamuju 1
4 Bali 4 Jembrana 1

C. Fasilitasi Pengolahan Kopi Bubuk

NO. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH


(UNIT)
7
1 Jambi 1 Merangin 1
2 Jabar 2 Bandung 1
3 Jateng 3 Pati 1
4 Sulsel 4 Toraja Utara 1
5 Sumut 5 Simalungun 1
6 Tapanuli Selatan 1
6 Lampung 7 Lampung Barat 1

D. Fasilitasi Pengolahan Kelapa

NO. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH


(UNIT)
12
1 Jabar 2 Pangandaran 1
2 Jateng 3 Kebumen 1
4 Magelang 1
3 Sulbar 5 Polewali Mandar 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 76


Hasil Perkebunan Tahun 2016
NO. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH
(UNIT)
4 Sulteng 6 Donggala 1
5 Gorontalo 7 Pohuwato 1
6 Banten 8 Lebak 1
7 Maluku 9 Maluku Tenggara 1
10 Seram Bagian Barat 1
8 Malut 11 Halmahera Barat 1
12 Halmahera Utara 1
9 Sultra 13 Buton Tengah 1

E. Fasilitasi Pengolahan Sagu

NO. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH


(UNIT)
11
1 Malut 1 Halmahera Selatan 1
2 Papua 2 Provinsi 1
3 Jayapura 1
4 Nabire 1
5 Keerom 1
6 Supiori 1
7 Mimika 1
3 Papua 8 Provinsi 1
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 77
Hasil Perkebunan Tahun 2016
NO. PROVINSI KABUPATEN JUMLAH
(UNIT)
Barat
9 Sorong 1
10 Sorong Selatan 1
11 Teluk Bintuni 1

F. Fasilitasi Pengolahan Karet

NO. JUMLAH
PROVINSI KABUPATEN
(UNIT)
12
1 Sumbar 1 Sijunjung 1
2 Aceh 2 Aceh Tamiang 1
3 Sumut 3 Asahan 1
4 Tapanuli Utara 1
4 Riau 5 Rokan Hulu 1
5 Sumsel 6 Ogan Ilir 1
7 Musi Rawas 1
6 Bengkulu 8 Bengkulu Tengah 1
7 Banten 9 Lebak 1
8 Jambi 10 Tebo 1
11 Merangin 1
9 Kalsel 12 Balangan 1
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 78
Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
KOORDINASI DAN SUPERVISI GERAKAN NASIONAL
PENYELAMATAN SUMBER DAYA ALAM (GNPSDA)
SUB SEKTOR PERKEBUNAN

NO PROPINSI VOLUME (KEG)


1. Jambi 1
2. Bengkulu 1
3. Sumatera Selatan 1
4. Kalimantan Barat 1
5. Kalimantan Tengah 1
6. Kalimantan Utara 1
7. Sulawesi Tengah 1
8. Papua Barat 1
Jumlah 8

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 79


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN PEMBINAAN,
MONEV PENERAPAN PERKEBUNAN
BERKELANJUTAN PADA KELAPA SAWIT
TAHUN 2016
VOLUME
NO PROPINSI
(KEG)
1. Aceh 1
2. Sumatera Utara 1
3. Riau 1
4. Sumatera Barat 1
5. Jambi 1
6. Sumatera Selatan 1
7. Bengkulu 1
8. Lampung 1
9. Bangka Belitung 1
10. Banten 1
11. Kalimantan Barat 1
12. Kalimantan Tengah 1
13. Kalimantan Selatan 1
14. Sulawesi Selatan 1
15. Sulawesi Barat 1
16. Sulawesi Utara 1
17. Sulawesi Tenggara 1
18. Papua 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 80


Hasil Perkebunan Tahun 2016
VOLUME
NO PROPINSI
(KEG)
Jumlah 18

LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN SOSIALISASI


STANDAR PERKEBUNAN KOPI BERKELANJUTAN
(ISCoffee) TAHUN 2016
VOLUME
NO PROPINSI
(KEG)
1. Sumatera Utara 1
2. Lampung 1
3. Jawa Tengah 1
4. Nusa Tenggara 1
Timur
5. Sulawesi Selatan 1
6. Papua 1
Jumlah 6

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 81


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN PEMBINAAN,
PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN
PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN TAHUN 2016
NO PROPINSI
1. Aceh
2. Sumatera Utara
3. Sumatera Barat
4. Riau
5. Jambi
6. Sumatera Selatan
7. Lampung
8. Bengkulu
9. Jawa Barat
10. Jawa Tengah
11. Jawa Timur
12. Bali
13. D.I. Yogyakarta
14. Banten
15. Kalimantan Barat
16. Kalimantan Selatan
17. Kalimantan Utara
18. Sulawesi Utara
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 82
Hasil Perkebunan Tahun 2016
NO PROPINSI
19. Sulawesi Tengah
20. Sulawesi Selatan
21. Sulawesi Tenggara
22. Sulawesi Barat
23. Gorontalo
24. Nusa Tenggara Barat
25. Nusa Tenggara Timur
26. Maluku
27. Maluku Utara
28. Papua
29. Papua Barat

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 83


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
MONITORING DAN EVALUASI PENGOLAHAN
HASIL PERKEBUNAN TAHUN 2016
NO PROPINSI
1. Aceh
2. Sumatera Utara
3. Sumatera Barat
4. Riau
5. Jambi
6. Sumatera Selatan
7. Lampung
8. Bengkulu
9. Jawa Barat
10. Jawa Tengah
11. Jawa Timur
12. Bali
13. D.I. Yogyakarta
14. Banten
15. Kalimantan Barat
16. Kalimantan Selatan
17. Kalimantan Utara
18. Sulawesi Utara
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 84
Hasil Perkebunan Tahun 2016
NO PROPINSI
19. Sulawesi Tengah
20 Sulawesi Selatan
21 Sulawesi Tenggara
22 Sulawesi Barat
23 Gorontalo
24 Nusa Tenggara Barat
25 Nusa Tenggara Timur
26 Maluku
27 Maluku Utara
28 Papua
29 Papua Barat

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 85


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
BIMBINGAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL
PERKEBUNAN TAHUN 2016
NO PROPINSI
1. Aceh
2. Sumatera Utara
3. Sumatera Barat
4. Riau
5. Jambi
6. Sumatera Selatan
7. Lampung
8. Bengkulu
9. Jawa Barat
10. Jawa Tengah
11. Jawa Timur
12. Bali
13. D.I. Yogyakarta
14. Banten
15. Kalimantan Barat
16. Kalimantan Selatan
17. Sulawesi Utara

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 86


Hasil Perkebunan Tahun 2016
NO PROPINSI
18. Sulawesi Tengah
19. Sulawesi Selatan
20 Sulawesi Tenggara
21 Sulawesi Barat
22 Gorontalo
23 Nusa Tenggara Barat
24 Nusa Tenggara Timur
25 Maluku
26 Maluku Utara
27 Papua
28 Papua Barat

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 87


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
FASILITASI PENGEMBANGAN AKSES PASAR
PERDAGANGAN INTERNASIONAL TAHUN 2016
Volume
NO PROPINSI
(paket)
1. Jawa Barat 1
2. Jawa Tengah 1
3. D.I. Yogyakarta 1
4. Jawa Timur 1
5. Aceh 1
6. Sumatera Utara 1
7. Sumatera Barat 1
8. Riau 1
9. Jambi 1
10. Sumatera Selatan 1
11. Lampung 1
12. Kalimantan Barat 1
13. Kalimantan Tengah 1
14. Kalimantan Selatan 1
15. Kalimantan Timur 1
16. Sulawesi Utara 1
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 88
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Volume
NO PROPINSI
(paket)
17. Sulawesi Selatan 1
18. Maluku 1
19. Bali 1
20 Maluku Utara 1
JUMLAH 20 paket

LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN


FASILITASI UNIT PEMASARAN
POKTAN/GAPOKTANTAHUN 2016

NO PROPINSI Volume (unit)


1. Sumatera Selatan 1
2. Sumatera Barat 1
3. Jawa Barat 1
4. Jawa Tengah 1
5. Kalimantan Tengah 1
6. Papua 1
JUMLAH 6 unit

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 89


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 90
Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUMEN KEGIATAN
FASILITASI PERTEMUAN DAN KOORDINASI
PENETAPAN HARGA TBS KELAPA SAWIT
TAHUN 2016
NO PROPINSI Volume (Keg)
1. Aceh 1
2. Sumatera Utara 1
3. Sumatera Barat 1
4. Riau 1
5. Jambi 1
6. Sumatera Selatan 1
7 Bengkulu 1
8 Lampung 1
9 Kalimantan Barat 1
10 Kalimantan Tengah 1
11 Kalimantan Timur 1
12 Kalimantan Selatan 1
13 Sulawesi Tengah 1
14 Sulawesi Selatan 1
15 Sulawesi Barat 1
16 Banten 1
17 Kep. Bangka Belitung 1
18 Papua 1
19 Papua Barat 1
JUMLAH 19

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 91


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
PENGEMBANGAN PELAYANAN INFORMASI PASAR
KOMODITAS PERKEBUNAN (TP) TAHUN 2016
NO PROVINSI KABUPATEN KEG
1 ACEH ACEH UTARA 1
ACEH SELATAN 1
ACEH TIMUR 1
ACEH BARAT 1
ACEH TENGAH 1
GAYO LUES 1
ACEH TAMIANG 1
BENER MERIAH 1
PIDIE 1
2. SUMATERA UTARA MADINA 1
TAPANULI SELATAN 1
LABUHAN BATU 1
ASAHAN 1
SIMALUNGUN 1
KARO 1
LANGKAT 1
3. SUMBAR PESISIR SELATAN 1
TANAH DATAR 1
PADANG PARIAMAN 1
AGAM 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 92


Hasil Perkebunan Tahun 2016
DHARMAS RAYA 1
PASAMAN BARAT 1
SOLOK 1
LIMA PULUH KOTA 1
4. RIAU KUANTAN SINGINGI 1
INDRAGIRI HILIR 1
INDRAGIRI HULU 1
PELALAWAN 1
SIAK 1
KAMPAR 1
ROKAN HULU 1
ROKAN HILIR 1
BENGKALIS 1
5. JAWA BARAT SUKABUMI 1
CIANJUR 1
KOTA BANDUNG 1
GARUT.TASIK MALAYA 1
CIAMIS 1
MAJALENGKA 1
SUMEDANG 1
SUBANG 1
PURWAKARTA 1
BANDUNG BARAT 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 93


Hasil Perkebunan Tahun 2016
TASIK MALAYA 1
IDRAMAYU 1
PANGANDARAN 1
KOTA BANJAR 1
6. SUMSEL OGAN KOMERING ULU 1
OGAN KOMERING ILIR 1
MUARA ENIM 1
LAHAT 1
MUSI RAWAS 1
BANYU ASIN 1
MUSI BANYUASIN 1
OKU SELATAN 1
OKU TIMUR 1
OGAN ILIR 1
EMPAT LAWANG 1
PRABUMULIH 1
PAGAR ALAM 1
LUBUK LINGGAU 1
PALI 1
7. BENGKULU REJANG LEBONG 1
BENGKULU UTARA 1
SELUMA 1
KEPAHIANG 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 94


Hasil Perkebunan Tahun 2016
BENGKULU TENGAH 1
8. LAMPUNG LAMPUNG BARAT 1
TRENGGAMAS 1
LAMPUNG SELATAN 1
LAMPUNG TIMUR 1
LAMPUNG UTARA 1
PESAWARAN 1
9. BANGKA BELITUNG BELITUNG 1
BANGKA BARAT 1
BANGKA TENGAH 1
BANGKA SELATAN 1
10. JAMBI MERANGIN
TANJAB TIMUR
TANJAB BARAT
KOTA SUNGAI PENUH
TEBO
BATANG HARI
11. BANTEN LEBAK 1
12. JAWA TENGAH CILACAP 1
JEPARA 1
BREBES 1
WONOGIRI 1
13. DIY KULON PROGO 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 95


Hasil Perkebunan Tahun 2016
BANTUL 1
GUNUNG KIDUL 1
14. JATIM PACITAN 1
JOMBANG 1
15. BALI JEMBRANA 1
TABANAN 1
BADUNG 1
GIANYAR 1
BALI 1
KARANG ASEM 1
BULELENG 1
KLUNGKUNG 1
NUSA TENGGARA
16. LOMBOK TIMUR 1
BARAT
LOMBOK BARAT 1
NUSA TENGGARA
17. KUPANG 1
TIMUR
TIMOR TENGAH
1
SELATAN
BELU 1
ALOR 1
ENDE 1
NGADA 1
MANGGARAI 1
18. KALIMANTAN BARAT BENGKAYANG 1
LANDAK 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 96


Hasil Perkebunan Tahun 2016
PONTIANAK 1
SANGGAU 1
SINGKAWANG 1
KALIMANTAN KOTA WARINGIN
19. 1
TENGAN BARAT
KAPUAS 1
BARITO UTARA 1
1
1
SUKAMARA 1
LAMANDAU 1
SERUYAN 1
GUNUNG MAS 1
KATINGAN 1
KALIMANTAN
20. TANAH LAUT 1
SELATAN
KOTA BARU 1
BANJAR 1
TAPIN 1
HULU SUNGAI TENGAH 1
HULU SUNGAI
1
SELATAN
BALANGAN 1
TABALONG 1
TANAH BUMBU 1
KOTA BANJAR BARU 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 97


Hasil Perkebunan Tahun 2016
21. KALIMANTAN TIMUR KUTAI BARAT 1
KUTAI KERTANEGARA 1
22. SULAWESI UTARA SANGIHE 1
BOLAANG
1
MONGONDOW
23. SULAWESI SELATAN SELAYAR 1
BULU KUMBA 1
GOWA 1
BARRU 1
BONE 1
PINRANG 1
ENREKANG 1
LUWU 1
LUWU UTARA 1
LUWU TIMUR 1
TORAJA UTARA 1
24. SULAWESI TENGAH BANGGAI
POSO
DONGGALA
PARIGI MOUTONG
TOJO UNA-UNA
KOTA PALU
SIGI
SULAWESI
25. BUTON 1
TENGGARA

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 98


Hasil Perkebunan Tahun 2016
KONAWE 1
KOLAKA 1
KONAWE SELATAN 1
BOMBANA 1
KOLAKA TIMUR 1
KOLAKA UTARA 1
MUNA 1
KONAWE UTARA 1
KENDARI 1
BAU-BAU 1
26. SULAWESI BARAT MAMUJU 1
MAMUJU UTARA 1
POLEWALI MANDAR 1
27. GORONTALO GORONTALO 1
BOALEMO 1
28. MALUKU MALUKU TENGAH 1
MALUKU TENGGARA
1
BARAT
29. MALUKU UTARA MALUKU TENGAH 1
MALUKU TENGGARA
1
BARAT
30. PAPUA JAYAPURA 1
MERAUKE 1
31. PAPUA BARAT MANOKWARI SELATAN 1
PEGUNUNGAN ARVA 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 99


Hasil Perkebunan Tahun 2016
RAJA AMPAT 1
TOTAL 183

LOKASI DAN VOLUME PELAKSANAAN KEGIATAN


FASILITASI PEMASARAN KARET
TAHUN 2016

NO PROPINSI Volume (Keg)

1. Aceh 1
2. Sumatera Utara 1

3. Sumatera Barat 1

4. Riau 1

5. Jambi 1

6. Sumatera Selatan 1

7 Lampung 1

8 Kalimantan Barat 1

9 Kalimantan Timur 1

10 Kalimantan Selatan 1

11 Kalimantan Barat 1

JUMLAH 11

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 100


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 101
Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
PENGEMBANGAN KEMITRAAN
DAN KEWIRAUSAHAAN TAHUN 2016

NO PROPINSI Volume (Keg)

1 Aceh 1
2 Sumatera Utara 1
3 Sumatera Barat 1
4 Riau 1
5 Jambi 1
6 Sumatera Selatan 1

7 Lampung 1
8 Kep. Bangka Belitung 1
9 Banten 1
10 Jawa Barat 1
11 Jawa Tengah 1
12 D.I. Yogyakarta 1
13 Jawa Timur 1
14 Kalimantan Barat 1
15 Kalimantan Tengah 1
16 Kalimantan Selatan 1
17 Sulawesi Tengah 1
18 Sulawesi Selatan 1
19 Sulawesi Tenggara 1
20 Bali 1
21 Nusa Tenggara Barat 1
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 102
Hasil Perkebunan Tahun 2016
NO PROPINSI Volume (Keg)

22 Maluku Utara 1
JUMLAH 22

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 103


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN AGROWISATA
TAHUN 2016

NO PROPINSI Volume (Keg)

1 Aceh 1
2 Sumatera Utara 1
3 Sumatera Barat 1
4 Jambi 1
5 Lampung 1
6 Jawa Barat 1
7 Jawa Tengah 1
8 D.I. Yogyakarta 1
9 Jawa Timur 1
10 Kalimantan Selatan 1
11 Sulawesi Utara 1
12 Sulawesi Selatan 1
13 Bali 1
14 Papua Barat 1
JUMLAH 14

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 104


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
FASILITASI PENERAPAN SISTEM JAMINAN MUTU
BOKAR TAHUN 2016

NO PROPINSI Volume (Keg)

1 Kalimantan Barat 1
2 Sumatera Selatan 1
3 Riau 1
4 Kalimantan Selatan 1
5 Jambi 1
6 Kalimantan Tengah 1

7 Lampung 1
8 Sumatera Utara 1
9 Sumatera Barat 1
10 Bengkulu 1
JUMLAH 10

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 105


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUMEN KEGIATAN
CAPACITY BUILDING PENGUJIAN BIJI KAKAO
TAHUN 2016

NO PROPINSI Volume (Keg)


1 Aceh 1
2 Sumatera Barat 1
3 Lampung 1
4 D.I. Yogyakarta 1
5 Bali 1
6 Sulawesi Selatan 1

7 Sulawesi Tenggara 1
8 Sulawesi Barat 1
9 Sulawesi Tengah 1
10 Maluku 1
11 Papua 1
12 Papua Barat 1
JUMLAH 12

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 106


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
BIMTEK PETUGAS REGISTRASI SURAT TANDA
PENDAFTARAN UFPBK TAHUN 2016

NO PROPINSI Volume (Keg)


1 Aceh 1
2 Sumatera Barat 1
3 Lampung 1
4 D.I. Yogyakarta 1
5 Bali 1
6 Sulawesi Selatan 1

7 Sulawesi Tenggara 1
8 Sulawesi Barat 1
9 Sulawesi Tengah 1
10 Maluku 1
11 Papua 1
12 Papua Barat 1
JUMLAH 12

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 107


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LOKASI DAN VOLUME KEGIATAN
FASILITASI PENERAPAN SISTEM JAMINAN MUTU
DAN KEAMANAN PANGAN KOMODITI KAKAO
TAHUN 2016

NO PROPINSI Volume (Keg)


1 Aceh 1
2 Sumatera Barat 1
3 Lampung 1
4 D.I. Yogyakarta 1
5 Bali 1
6 Sulawesi Selatan 1
7 Sulawesi Tenggara 1
8 Sulawesi Barat 1
9 Sulawesi Tengah 1
10 Maluku 1
11 Papua 1
12 Papua Barat 1
JUMLAH 12

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 108


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LAMPIRAN 2

JUMLAH KELOMPOK TANI DAN JENIS KEGIATAN


PENANGANAN PASCAPANEN TANAMAN TAHUNAN,
SEMUSIM DAN REMPAH PENYEGAR TAHUN 2016

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 109


Hasil Perkebunan Tahun 2016
JUMLAH KELOMPOK TANI DAN JENIS KEGIATAN
PENANGANAN PASCAPANEN TANAMAN TAHUNAN,
SEMUSIM DAN REMPAH PENYEGAR TAHUN 2016

Lokasi, Jenis dan Volume kegiatan penanganan


pascapanen tanaman perkebunan tahun 2016
adalah sebagai berikut :
1. Penanganan Pascapanen Kakao
Jumlah
No Lokasi Jenis
(KT)
35
1 Aceh Pengadaan sarana, 3
2 Sumbar UPH, alat dan mesin 2
3 Lampung pascapanen serta 1
4 Bengkulu peningkatan 1
5 Jateng keterampilan SDM 1
6 Jatim petani 1
7 Bali 1
8 DIY 2
9 Kalbar 1
10 Kaltim 1
11 Kaltara 1
12 Sulut 2
13 Sulteng 1
14 Sulsel 5
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 110
Hasil Perkebunan Tahun 2016
15 Sulbar 1
16 Sultra 4
17 Gorontalo 2
18 NTT 2
19 Papua 2
20 Papua Barat 1

2. Penanganan Pascapanen Kopi


No. Provinsi Jenis Jumlah (KT)
25
1 Aceh Pengadaan sarana, 1
2 Sumbar UPH, alat dan mesin 1
3 Riau pascapanen serta 1
peningkatan
4 Sumsel 1
keterampilan SDM
5 Lampung petani 4
6 Kalbar 1
7 Bengkulu 2
8 Jabar 3
9 Jateng 2
10 Jatim 2
11 Bali 2
12 Sulsel 1
13 NTB 2
14 NTT 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 111


Hasil Perkebunan Tahun 2016
3. Penanganan Pascapanen Pala
Volume
No Lokasi Jenis
(KT)
1 Papua Barat Pengadaan sarana, 3
UPH, alat dan mesin
pascapanen serta
peningkatan
keterampilan SDM
petani

4. Penanganan Pascapanen Lada


Volume
No Lokasi Jenis
(KT)
1 Lampung Pengadaan sarana, 1
alat dan mesin
pascapanen

5. Penanganan Pascapanen Cengkeh


No. PROVINSI Jenis JUMLAH
(KT)
5
1 Sulut Pengadaan sarana, 2
2 Gorontalo lantai jemur, alat 1
3 Malut dan mesin 2

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 112


Hasil Perkebunan Tahun 2016
pascapanen

6. Penanganan Pascapanen Karet


No Lokasi Jenis Volume
(KT)
44
1 Sumbar Penyediaan sarana/ 9
2 Sumut alat pascapanen 6
3 Riau 4
4 Sumsel 11
5 Bengkulu 5
6 Kalsel 6
7 Kalteng 3

7. Penanganan Pascapanen Kelapa


No Lokasi Jenis Volume
(KT)
14
1 Sulut Penyediaan sarana/ 14
alat pascapanen

8. Penanganan Pascapanen Jambu Mete


No Lokasi Jenis Volume(KT)
12
1 Sultra Penyediaan sarana/ 3
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 113
Hasil Perkebunan Tahun 2016
2 NTB alat pascapanen 6
3 Malut 3

9. Penanganan Pengolahan Gula Tebu


No Lokasi Jenis Volume
(Unit)
103
1 Aceh Penyediaan sarana/ 35
2 Jambi alat pengolahan dan 1
3 Sulteng bangunan UPH 5
4 Sultra 30
5 Malut 5
6 NTB 2
7 Papua 19

10. Penanganan Pengolahan Cokelat


No Lokasi Jenis Volume
(Unit)
4
1 Jatim Penyediaan sarana/ 1
2 Sulsel alat pengolahan dan 1
3 Sulbar bangunan UPH 1
4 Bali 1

11. Penanganan Pengolahan Kopi Bubuk


No Lokasi Jenis Volume
(Unit)
6
1 Jambi Penyediaan sarana/ 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 114


Hasil Perkebunan Tahun 2016
2 Jabar alat pengolahan dan 1
3 Jateng bangunan UPH 1
4 Sulsel 1

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 115


Hasil Perkebunan Tahun 2016
LAMPIRAN 3

SPESIFIKASI SARANA/ALAT/MESIN PASCAPANEN


PERKEBUNAN

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 116


Hasil Perkebunan Tahun 2016
SPESIFIKASI SARANA/ALAT/MESIN PASCAPANEN
PERKEBUNAN

A. KOMODITAS KAKAO
1. Kotak Fermentasi Kakao
Spesifikasi :
Kapasitas 40-50 Kg/Batch tipe bak kayu
Jenis kayu meranti/yang sejenis
Ketebalan papan kayu : 20 30 mm
Siku penguat : plat aluminium atau kayu
Dimensi : 40 x 40 x 50 cm
1 set terdiri dari dua kotak kayu yang
dilengkapi dengan 1 unit kaki/dudukan
sebagai penyangga salah satu kotak
Setiap sisi kotak diberi lubang dengan
jarak secukupnya

2. Alat Ukur Kadar Air


Spesifikasi :
Skala meter : 5 -15 %
Tipe Digital

3. Alat Ukur Kadar Air


Spesifikasi :
Tipe Digital MC 7825G
Sumber arus : Battery tipe AA2500mAh
1 Rechargable 6 buah, saklar meter 5
15%
Dimensi 13,5 x 12 x 8 cm
Berat 690 gram

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 117


Hasil Perkebunan Tahun 2016
4. Terpal
Spesifikasi :
Ukuran minimal 6 x 4 m
Tipe bahan terpal A 12

5. Para para
Spesifikasi :
Ukuran : 80 x 200 cm
Tinggi kaki : minimal 1 m
Sungkup dengan plastik UV transparan

6. Timbangan duduk
Spesifikasi :
Kapasitas minimal 500 Kg
Ukuran : 48 x 62 cm

7. Alat Uji Belah Kakao


Spesifikasi :
Kapasitas 50 Biji Kakao/Batch
(Persyaratan biji kakao hasil fermentasi
kadar air 12 -13%)
Tipe : vertikal tekan
Pisau: Stainless Steel
Papan Pembelahan: Kayu Kamper/yang
sejenis

8. Bangunan UPH Kakao


Spesifikasi :
Pondasi batu dengan tiang beton
bertulang

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 118


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Bangunan UPH : tinggi bangunan + 3,25 m
yang terdiri dari dua ruang yaitu :
Ruang kerja/fermentasi:
- Lantai di plester, dinding tembok
bagian bawah (2/3) bata merah/
batako diplester, acian semen, dan
bagian atas (1/3) menggunakan
kawat ram yang berfungsi sebagi
ventilasi udara, dan terdapat pintu
keluar.
Gudang :
- Lantai plester, dinding tembok, bata
merah/batako diplester, dan acian
semen, ventilasi udara secukupnya
serta terdapat pintu keluar.
Luas bangunan : menyesuaikan standar
harga bangunan setempat dan pagu
anggaran.

9. Rumah Pengering/penjemuran kakao


Spesifikasi :
Bangunan ukuran luas : Ukuran luas : p x
l=4x3m
Lantai dicor dan diaci
Dinding :
- Bahan : rangka besi holow uk. 40x40x4
mm, kawat harmonika + plastik UV
- Tinggi dinding + 2 m
Atap :

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 119


Hasil Perkebunan Tahun 2016
- Bahan : besi hollow uk. 40x40x4 mm,
plastik UV
- Tinggi 60 cm panjang sisi miring 158 cm

Pintu :
- Bahan : besi hollow uk. 40x40x4 mm,
kawat harmonika + plastik UV
- Ukuran p x l = 185 x 105 cm
Rak pengering sebanyak 4 set, masing
masing set terdiri dari 6 unit para para
berukuran 90 x 53 cm2. Rak dibuat dalam
2 susun, tiap susun terdiri dari 3 para
para yang dipasang berderet dengan
rangka kayu Uk. 4/6, alas para para dari
kawat ayakan plastik.

B. KOMODITAS KOPI
1. Pulper 1.000 Kg/jam
Spesifikasi :
Kapasitas 1.000 Kg/jam
Motor penggerak ber-SNI

2. Pulper 470 Kg/ jam


Spesifikasi :
Kapasitas 470 Kg/ jam
Motor penggerak ber-SNI

3. Pulper 200 Kg/jam


Spesifikasi :

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 120


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Kapasitas 200 Kg/jam
Motor penggerak ber-SNI

4. Huller 1000 Kg/jam


Spesifikasi :
Kapasitas 1000 Kg/jam
Motor penggerak ber-SNI

5. Huller 500 Kg/jam


Spesifikasi :
Kapasitas 500 Kg/jam
Motor penggerak ber-SNI

6. Huller 400 Kg/jam


Spesifikasi :
Kapasitas 1000 Kg/jam
Motor penggerak ber-SNI

7. Huller 300 Kg/jam


Spesifikasi :
Kapasitas 1000 Kg/jam
Motor penggerak ber-SNI

8. Huller 110 Kg/jam


Spesifikasi :
Kapasitas 110 Kg/jam
Motor penggerak ber-SNI

9. Alat Ukur Kadar Air


Spesifikasi :
Skala meter : 9 - 20 %
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 121
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Tipe Digital

10. Alat Ukur Kadar Air


Spesifikasi :
Tipe Digital MC 7825G
Sumber arus : Battery tipe AA2500mAh
1 Rechargable 6 buah, saklar meter 5
15%
Dimensi 13,5 x 12 x 8 cm
Berat 690 gram

10. Terpal
Spesifikasi :
Ukuran minimal 6 x 4 m (menyesuaikan)
Tipe bahan terpal A 12

11. Para para


Spesifikasi :
Ukuran : 80 x 200 cm
Tinggi kaki : 1 m
Sungkup dengan plastik UV tranparan

12. Bangunan UPH Kopi


Spesifikasi :
Pondasi batu dengan tiang beton
bertulang
Bangunan terdiri dari dua ruang yaitu :
Ruang kerja:
- Lantai diplester, dinding tembok
bagian bawah (2/3) bata merah/
batako diplester, acian semen,
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 122
Hasil Perkebunan Tahun 2016
bagian atas (1/3) menggunakan
kawat ram yang berfungsi sebagai
ventilasi udara, dan terdapat pintu
keluar.
Gudang :
- Lantai plester, dinding tembok,
bata merah/batako diplester, dan
acian semen, ventilasi udara
secukupnya serta terdapat pintu
keluar.
Luas Bangunan : menyesuaikan harga
bangunan setempat dan pagu anggaran.

C. KOMODITAS PALA
1. Mesin pemecah cangkang
Spesifikasi :
Kapasitas : 50 Kg/jam
Dimensi (p x l x t) 150 cm x 90 cm x 125
cm
Bahan Plat MS, Rangka Plat Siku
Penggerak Dinamo PK/ Motor Bensin
5,5 PK

2. Terpal
Spesifikasi :
Ukuran minimal 6 x 4 m ,
Tipe bahan terpal A 12

3. Para Para Sungkup


Spesifikasi :
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 123
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Ukuran : 80 x 200 cm
Tinggi kaki : 1 m
Sungkup dengan plastik UV transparan

4. Rumah Naungan Bunga Pala (Fully)


Spesifikasi :
Ukuran luas 4 x 5 m
Bangunan Permanen dilengkapi dengan
papan para-para
Pondasi batu kali dengan slope beton
Dinding Polycarbonat
Atap polycarbonat atau setara

5. Rumah Pengasapan Pala (Asaran Pala)


Spesifikasi :
Bangunan permanen dilengkapi pengering
buatan
Luas Bangunan ukuran 4 x 4,5 meter
Dinding batako/bata finishing plester
semen dilengkapi lubang angin untuk
ventilasi
Tinggi Dinding 3 M
Atap seng dan seng transparan/fiber
bergelombang
Pondasi batu kali dan slope beton
Alat pengering terdiri dari tungku,
blower Idan I ducting, rak dan para-para
serta corong asap

D. KOMODITAS LADA
1. Mesin Perontok Lada
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 124
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Spesifikasi :
Kapasitas 650 700 Kg/Jam
Motor penggerak ber-SNI

2. Mesin Perontok Lada


Spesifikasi :
Kapasitas 100 - 200 Kg/Jam
Motor penggerak ber-SNI

3. Terpal
Spesifikasi :
Ukuran minimal 6 x 4 m (menyesuaikan)
Tipe bahan terpal A 12

4. Lantai Jemur
Spesifikasi :
Ukuran luas + 150 m
Ketebalan jadi: 0.2 m
Coran beton bertulang

5. Bak Perendaman Lada


Kedalaman (tinggi) : 1.2 M
Ukuran luas : 48 M2 (8 x 6)
Pondasi batu kali dengan slope beton
Lantai coran beton bertulang
Dinding cor beton
Saluran inlet/ outlet : pipa PVC

6. Para para
Spesifikasi :

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 125


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Ukuran : 80 x 200 cm
Tinggi kaki : 1 m
Sungkup dengan plastik UV tranparan

7. Timbangan duduk
Spesifikasi :
Kapasitas minimal 500 Kg
Ukuran : 48 x 62 cm

8. Sumur Bor
Menggunakan mesin pompa air 16 KVA
Pipa hisap 15 25 m (tergantung kondisi
ketersediaan mata air)
Pipa penahan tanah 20 30 m
Pipa pengantar panjang 50 100 m
Kedalaman sumur 15 - 30 m (tergantung
kondisi ketersediaan mata air)

9. Bangunan Penyimpanan
Ukuran luas + 54 M2 (6 m x 9 m) atau
menyesuaikan standar harga bangunan
setempat dan pagu anggaran.
Tinggi bangunan minimal 3 M
Pondasi batu dengan tiang beton
bertulang.
Dinding bata merah diplester, lantai
minimal disemen.
Atap asbes.
Ventilasi udara secukupnya dan terdapat
pintu keluar.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 126


Hasil Perkebunan Tahun 2016
E. KARET
1. Pisau sadap
Spesifikasi :
Mata pisau terbuat dari baja, sudut
mata (dalam 40o bentuk V sedang)
Panjang gagang terbuat dari besi 19,5
cm
Panjang dari gagang ke lubang 8,5 cm
Panjang lengkungan 6,5 cm
Panjang gagang 13,5 - 14,5 cm
Panjang pisau berikut gagang
keseluruhan 34,5 cm
Lebar gagang pisau 2,5 cm
Tebal gagang pisau 0,2 cm
Lebar mata pisau 3,0 cm

2. Mangkok sadap
Spesifikasi :
Bahan plastik polipropilena
Volume 500 cc
Tinggi 9 cm, diameter bibir 13 cm
Berat 25 gram

3. Talang sadap
Spesifikasi :
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 127
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Bahan dari besi tipis
Ukuran panjang 6 6,5 cm
Lebar permukaan 1,5 cm
Lebar pangkal yang bergerigi untuk
ditancapkan ke pohon 2,5 cm

4. Ring mangkok sadap


Spesifikasi :
Bahan terbuat dari kawat diameter 2
mm
Lebar diameter lingkaran ring 12 cm

5. Bak pembeku
Spesifikasi :
Bahan terbuat dari alumunium
Tebal 0,8 mm
Volume 12 liter
Bagian atas 60 x 40 cm
Bagian bawah 55 x 35 cm
Tinggi 10 20 cm
Bibir ditekuk keluar, didalam tekukan
diberi kawat/tulang

6. Bahan pembeku
Spesifikasi :
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku

F. KELAPA
1. Rumah Pengasapan
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 128
Hasil Perkebunan Tahun 2016
Spesifikasi :
Bangunan semi permanen 4 x 5 m
penutup atap 5 x 6 m
Terdapat para-para terbuat dari bambu
kayu atau kawat setinggi 2 m
Terdapat lubang pembakaran 60 x 60 cm
Ruang pembakaran 3 m2

2. Lantai Jemur
Spesifikasi :
Permanen disemen dengan memakai besi
beton
Pinggir/dinding keliling memakai batu
(4 x 6 m)

3. Alat Uji Kadar Air


Spesifikasi :
Tipe Digital MC 7825G
Sumber arus : Battery tipe AA2500mAh
1 Rechargable 6 buah, saklar meter 5
15%
Dimensi 13,5 x 12 x 8 cm
Berat 690 gram

4. Alat Cungkil Daging Kelapa


Spesifikasi :
Bahan ditempa/rakit yang sesuai dengan
selera petani
Bahan dari Stainless Steel

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 129


Hasil Perkebunan Tahun 2016
5. Alat Pengering Kelapa
Spesifikasi :
Dimensi 200 x 200 x 240 cm
Pemanas biomassa
Bahan paltizer 1 mm, siku 5/5
Kapasitas 1 ton/proses
Lama pengeringan 18 22 jam
Suhu udara ruang 80o C
Penggerak EM 1 Hp 220 V 1 Ph
Sistem siklon blower, automatic
thermocople

6. Mesin Pemarut Kelapa


Spesifikasi :
Dimensi : 38 x 31 x 93 cm
Kapasitas 90 kg/jam
Listrik : 750 watt, 220 Volt
Berat : 35 kg

G. METE
1. Kacip mete model Rem dan model Engkol
(sistem terpadu)
Spesifikasi :
Tipe REM
Kapasitas 30 50 kg/hari
Penggerak manual

2. Lantai jemur
Spesifikasi :

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 130


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Permanen disemen dengan memakai besi
beton
Pinggir/dinding keliling memakai batu
(4 x 6 m).

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 131


Hasil Perkebunan Tahun 2016
KEGIATAN PENINGKATAN KETERAMPILAN SDM
KELOMPOK TANI

1) Materi yang disampaikan :


Penanganan Pascapanen/Pengolahan Hasil
Penerapan Sistem Jaminan Mutu dan
Keamanan Pangan (GHP, GMP, dan SOP)
Strategi dan Jaringan Pemasaran
Kelembagaan Usaha
Praktek Pascapanen/Pengolahan Hasil

2) Peserta
Peserta pertemuan teknis adalah petani yang
berasal dari kelompok tani/gapoktan penerima
bantuan sarana pascapanen/pengolahan di
kabupaten setempat.

Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 132


Hasil Perkebunan Tahun 2016
Pedoman Teknis Kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran 133
Hasil Perkebunan Tahun 2016
PETUNJUK PELAKSANAAN
KEGIATAN PENINGKATAN AKSES PEMASARAN
HASIL PERKEBUNAN TAHUN 2016

DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN


DEPARTEMEN PERTANIAN
TA. 2016
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Petani/pekebun Indonesia masih merupakan petani


subsisten dengan ciri-ciri dari: (a) Luas kepemilikan lahan
rata-rata rendah; (b) Penerapan input dan teknologi
usaha pertanian masih sederhana; c) Terbatasnya akses
petani ke sumber permodalan; d) Kurangnya
pengetahuan tentang teknologi peningkatan produksi dan
mutu produk; e) Terbatasnya informasi dan akses pasar;
f) Posisi tawar petani yang masih lemah (tidak ada
jaminan harga yang layak). Direktorat Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Perkebunan berupaya untuk membuka
akses pasar bagi petani/pekebun dan meningkatkan
posisi tawar untuk meningkatkan pendapatannya.
Upaya pemerintah untuk meningkatkan posisi tawar
petani dilakukan dengan memfasilitasi pembangunan dan
pemberdayaan sarana dan prasarana pemasaran petani,
serta memfasilitasi jaringan pemasaran (akses
pemasaran) yang bertujuan untuk memperlancar
distribusi produk dari sentra produksi ke sentra konsumen
melalui jalur tataniaga yang efisien.
1
Pengembangan akses pasar sangat penting untuk
membantu distribusi agar petani/gapoktan dapat
memenuhi produk sesuai dengan kebutuhan pelaku
pasar : pedagang/supplyer, pasar induk/pasar modern,
retail, industri/pabrikan, eksportir, pedagang antar pulau,
STA/TA dan konsumen akhir.
Wilayah Indonesia yang terdiri dari kepulauan menjadi
salah satu kendala dalam pemasaran hasil perkebunan,
disatu sisi di daerah sentra produksi hasil perkebunan
melimpah, disisi lain produk ini dibutuhkan karena
memang wilayah tersebut tidak dapat memproduksi
sehingga aliran distribusinya harus diatur sedemikian
rupa dengan melibatkan berbagai institusi terkait seperti
perhubungan, perdagangan, perindustrian dan lain-lain.
Berkaitan dengan hal diatas salah satu penentu daya
saing adalah kemudahan produk untuk diakses oleh
konsumen dengan mutu dan kualitas yang baik, maka
untuk meningkatkan daya saing produk pertanian dalam
negeri perlu suatu kebijakan mengenai peningkatan
akses pemasaran yang akan menjamin distribusi
pemasaran hasil pertanian yang efektif dan efisien dan

2
kontinyu, dengan produk yang berkualitas dan harga
bersaing serta mudah diakses oleh konsumen.
Kegiatan peningkatan akses pemasaran hasil
perkebunan dapat dilakukan dalam bentuk pertemuan
seperti workshop, temu bisnis, koordinasi penguatan
jaringan pemasaran, fasilitasi sistem resi gudang dan
lain-lain.

B. Tujuan
Tujuan penyusunan Pedoman Pelaksanaan Kegiatan
Peningkatan Akses Pemasaran ini adalah sebagai
acuan bagi pembina di tingkat Pusat, Propinsi dan untuk
melaksanakan kegiatan Peningkatan Akses Pemasaran
Hasil Perkebunan.

C. Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai dengan disusunnya
Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Peningkatan Akses
Pemasaran ini adalah :

3
a. Meningkatnya Akses Pemasaran Produk Perkebunan
melalui berbagai sarana pemasaran misalnya pasar
lelang, pasar tradisional, sistem resi gudang, dll.
b. Meningkatnya kerjasama pemasaran produk
perkebunan dengan industri pengolahan, eksportir,
dan pelaku usaha lainnya.
c. Meningkatnya pendapatan petani/pekebun.

D. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dari kegiatan Peningkatan Akses
Pemasaran Hasil Perkebunan yaitu :
a. Terbangunnya jaringan pemasaran antara
petani/pekebun, kelompok tani/gapoktan dengan
Industri Pengolahan, pelaku usaha pemasaran,
maupun sesama pelaku pemasaran.
b. Meningkatnya jumlah petani/poktan /gapoktan yang
terlibat dalam kegiatan pemasaran hasil Perkebunan.
c. Meningkatkan gairah petani/poktan/gapoktan untuk
berusaha disubsektor perkebunan.

4
II. PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN AKSES
PEMASARAN HASIL PERKEBUNAN

Kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Direktorat


Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan dalam
rangka Peningkatan Akses Pemasaran Hasil Perkebunan
adalah pertemuan peningkatan akses pemasaran hasil
perkebunan.
a. Metoda Pelaksanaan
Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pertemuan
koordinasi antara stakeholders/pemangku kepentingan
komoditas hasil perkebunan yang sudah mempunyai
akses pasar maupun yang masih memerlukan fasilitasi
pengembangan akses pemasaran. Peserta terdiri dari
Petugas Dinas Perkebunan Propinsi atau Kabupaten
sentra produksi, pekebun/poktan/gapoktan produsen
hasil perkebunan baik segar dan olahan yang
produknya perlu penguatan dan pengembangan
pemasaran, pelaku usaha yang membutuhkan bahan
baku hasil perkebunan baik segar maupun olahan
(industri pengolahan, eksportir), serta dan lembaga

5
pendukung lainnya seperti lembaga pembiayaan,
pelaku usaha pengemasan, dan lain-lain.
Pola pertemuan dalam bentuk : Fasilitasi Pertemuan /
Workshop Peningkatan Akes Pemasaran.

b. Tahapan Kegiatan Persiapan Kegiatan


Tahapan untuk melakukan pertemuan pemasaran hasil
pertanian adalah sebagai berikut :
1) Pengumpulan data primer dan sekunder terkait
dengan komoditas yang akan di fasilitasi dari
daerah sentra produksi.
2) Identifikasi peserta dan narasumber
Peserta dari kegiatan pertemuan ataupun
peningkatan akses pemasaran hasil perkebunan
adalah:
Perwakilan Dinas Perkebunan
Propinsi/Kabupaten/Kota sentra produksi.
Pekebun/Poktan/Gapoktan disentra produksi
yang produknya sudah siap/eksis dipasarkan.
Pelaku usaha seperti pedagang besar, industri
pengolahan, eksportir dan lembaga-lembaga
pemasaran dan lembaga pembiayaan.
6
Akademisi, peneliti yang berkaitan dengan
pemasaran hasil perkebunan. Narasumber dari
pertemuan peningkatan akses pemasaran
perkebunan agar menyesuaikan dengan
permasalahan pemasaran serta tujuan yang
ingin dicapai oleh pengelola kegiatan.

3) Persiapan kegiatan pertemuan


Penyusunan Jadwal dan atau materi kegiatan
Surat Undangan peserta, narasumber dan
moderator dan lain-lain
Sambutan Pembukaan dan arahan pimpinan
Perlengkapan peserta (ATK, dll)
Administrasi pelaksanaan kegiatan

4) Koordinasi dengan instansi terkait


Perlu dilakukan koordinasi dengan instansi terkait
didaerah maupun pusat dan stakeholder ataupun
dinas diluar perkebunan terkait untuk membantu
pelaksanaan kegiatan pertemuan sehingga kegiatan
dapat dilakukan dengan baik untuk mencapai tujuan
yang diinginkan.
7
5) Penyusunan dan pelaporan kegiatan
Setelah kegiatan dilaksanakan, pelaksana kegiatan
akan melaporkan hasil kegiatan ke Direktur Jenderal
Perkebunan.
6) Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan peningkatan akses pemasaran hasil
perkebunan akan dilaksanan pada tahun 2016.

8
A. Sumber Biaya

Sumber biaya untuk melaksanakan kegiatan


Peningkatan Akses Pemasaran Hasil Perkebunan
berasal dari APBN TA. 2016 yang terdapat pada
program Peningkatan Produksi dan Produktivitas
Tanaman Perkebunan.
Jenis belanja anggaran yang dipergunakan dalam
pelaksanaan kegiatan adalah :
Belanja Bahan
- Adm, Fotokopi,dll
- Penggandaan laporan peningkatan akses
pemasaran perkebunan

Honor yang terkait dengan output kegiatan


- Honor panitia

Belanja Jasa Profesi


- Honor Narasumber
- Honor Moderator

9
Belanja perjalanan biasa
- Perjalanan dalam rangka identifikasi permasalahan
akses pemasaran perkebunan

Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Luar Kota


- Biaya akomodasi dan konsumsi serta ruang
meeting pertemuan dalam rangka peningkatan
akses pasar domestik komoditi perkebunan
- Perjalanan dalam rangka pelaksanaan pertemuan
peningkatan akses pasar komoditi perkebunan
- Perjalanan Narasumber kegiatan peningkatan
akses pasar domestik komoditi perkebunan

Uraian tentang penggunaan dana diatas, adalah sebagai


berikut :
a. Biaya Belanja Bahan merupakan biaya yang digunakan
untuk pembelian ATK, perbanyakan materi dan
penggandaan laporan kegiatan dalam rangka
pelaksanaan kegiatan.

10
b. Biaya honor yang terkait dengan output kegiatan
merupakan biaya yang diberikan kepada staf yang
ditugaskan dalam penyelenggaraan kegiatan.
c. Biaya Belanja Jasa Profesi merupakan biaya yang
diberikan kepada Narasumber dan Moderator yang terlibat
pada saat acara berlangsung.
d. Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Luar Kota
Biaya yang disediakan untuk biaya akomodasi dan
konsumsi serta ruang pertemuan kegiatan pertemuan
peningkatan akses pemasaran, biaya perjalanan staf
Direktorat Jenderal Perkebunan yang ditugaskan dalam
pelaksanaan kegiatan dan biaya perjalanan Narasumber
kegiatan.
e. Belanja Perjalanan Biasa merupakan biaya yang
disediakan dalam rangka identifikasi permasalahan Akses
Pemasaran Perkebunan.

11
III. PELAKSANAAN KEGIATAN FASILITASI EMASARAN
KARET
A. Kegiatan Provinsi (Dekonsentrasi)

1. Fasilitasi Pemasaran Karet.


c. Metoda Pelaksanaan
Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pertemuan
antara seluruh stakeholders/pemangku
kepentingan komoditas karet. Pertemuan akan
dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Perkebunan
Provinsi,Dinas Perdagangan dan Perindustrian,
Dinas Perkebunan Kabupaten sentra produksi,
petani/pekebun, pengelola pasar lelang karet,
pedagang pengumpul, perwakilan industri
pengolahan karet, asosiasi petani/pekebun,
lembaga pembiayaan, asosiasi industry
pengolahan, peneliti dan eksportir.

12
Pola pertemuan dalam bentuk : Temu Usaha,
Fasilitasi kerjasama pemasaran, Workshop,
dll.

d. Tahapan Persiapan Pelaksanaan Kegiatan


Untuk melakukan pertemuan fasilitasi pemasaran
karet adalah sebagai berikut :
Pengumpulan data primer dan sekunder terkait
dengan komoditas karet yang akan di fasilitasi
di daerah sentra produksi.
Identifikasi peserta dan narasumber
Peserta dari kegiatan pertemuan fasilitasi
pemasaran karet hasil pertanian adalah:
Perwakilan Dinas yang membidangi
perkebunan Provinsi dan Kabupaten/Kota
sentra produksi.
Petani/Pekebun dari sentra produksi yang
produknya sudah dapat difasilitasi
pemasarannya.

13
Pelaku usaha seperti pedagang besar, industri
pengolahan, eksportir dan lembaga-lembaga
pembiayaan dan lainnya.
Lembaga Pembiayaan.
Akademisi, peneliti yang berkaitan dengan
pemasaran karet. Asosiasi industry
pengolahan karet
Asosiasi petani/pekebun karet
Narasumber pertemuan Fasilitasi
Pemasaran Karet disesuaikan dengan
permasalahan pemasaran serta tujuan yang
ingin dicapai oleh pelaksana kegiatan.
Narasumber dapat berasal dari : Direktorat
Jenderal Perkebunan, Dinas/Instansi yang
membidangi Perkebunan,
Perdagangan/Perindustrian, Pelaku Usaha
Pemasaran Karet, Industry Pengolahan,
Asosiasi Industry Pengolahan, Akademisi,
Peneliti, Pengelola Pasar Lelang atau
lembaga pemasaran lainnya.

14
Moderator pertemuan Fasilitasi Pemasaran
Karet dapat berasal dari Dinas Perkebunan
Provinsi dan/atau Direktorat Jenderal
Perkebunan.

7) Persiapan kegiatan pertemuan


Penyusunan Jadwal kegiatan dan materi
kegiatan.
Surat Undangan kepada peserta,
narasumber, moderator dan lain-lain.
Sambutan Pembukaan dan arahan
pimpinan.
Perlengkapan peserta (ATK, dll).
Administrasi pelaksanaan kegiatan.

8) Koordinasi dengan instansi terkait


Perlu dilakukan koordinasi dengan instansi
terkait didaerah maupun pusat dan stakeholder
ataupun dinas diluar Perkebunan terkait untuk
menjamin pelaksanaan kegiatan pertemuan

15
sehingga kegiatan dapat dilakukan dengan baik
untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

9) Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan oleh Dinas Perkebunan
Provinsi yang menerima dana dekonsentrasi
disesuaikan dengan waktu kesiapan pelaksana
kegiatan pada tahun 2016.

10) Penyusunan dan pelaporan kegiatan


Setelah kegiatan dilaksanakan, pelaksana
kegiatan (dinas propinsi) harus melaporkan
hasil kegiatan ke Direktorat Jenderal
Perkebunan (c/q. Subdit Pemasaran Hasil
Perkebunan) dalam waktu paling lama + 1
bulan setelah kegiatan.

e. Waktu Pelaksanaan

16
Pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dana
dekonsentrasi ini adalah tahun
2016 oleh Dinas Perkebunan Provinsi. Waktu
pelaksanaan kegiatan ditentukan oleh pelaksana
kegiatan dekonsentrasi, sebelum kegiatan
dilaksanakan agar terlebih dahulu berkoordinasi
dengan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Perkebunan (c/q. Subdit Pemasaran) minimal
2 minggu sebelum pelaksanaan kegiatan.

f. Lokasi
Lokasi kegiatan pertemuan Fasilitasi Pemasaran
Karet adalah di 11 (sebelas) Provinsi seperti
tercantum pada Lampiran.

B. Sumber Biaya

Sumber biaya untuk melaksanakan kegiatan Fasilitasi


Pemasaran Karet berasal dari APBN TA. 2016.

17
Kegiatan Fasilitasi Pemasaran Karet
Belanja Bahan
- Perbanyakan materi kegiatan
- Perbanyakan materi laporan

Honor yang terkait dengan output kegiatan


- Honor panitia

Belanja Jasa Profesi


- Honor Narasumber
- Honor Moderator

Belanja perjalanan biasa


- Dalam rangka koordinasi dan pembinaan
- Dalam rangka konsultasi ke pusat

Belanja perjalanan Dinas Paket Meeting Luar Kota


- Fasilitasi akses pasar komoditi perkebunan (karet)
- Fasilitasi perjalanan Narasumber

18
Penjelasan tentang penggunaan dana kegiatan diatas,
adalah sebagai berikut :
a. Biaya Belanja Bahan merupakan biaya yang digunakan
untuk pembelian ATK, perbanyakan materi dan
penggandaan laporan kegiatan.
b. Biaya honor yang terkait dengan output kegiatan
merupakan biaya yang diberikan kepada staf Dinas
Perkebunan yang ditugaskan dalam penyelenggaraan
kegiatan.
c. Biaya Belanja Jasa Profesi merupakan biaya yang
diberikan kepada Narasumber dan Moderator yang terlibat
pada saat acara berlangsung.
d. Belanja Perjalanan Biasa merupakan biaya yang
disediakan bagi Staf Dinas Perkebunan Provinsi dalam
rangka melakukan koordinasi dan pembinaan ke
Kabupaten dan Konsultasi ke Direktorat Jenderal
Perkebunan (Pusat) terkait dengan kegiatan pemasaran
komoditi karet.

19
e. Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Luar Kota
merupakan biaya yang dipergunakan untuk pengadaan
akomodasi dan konsumsi serta ruang meeting pertemuan
kegiatan Fasilitasi Pemasaran Karet dan biaya perjalanan
Narasumber kegiatan.

20
IV. PENUTUP

Semoga petunjuk teknis peningkatan akses pemasaran


hasil perkebunan ini dapat menjadi acuan untuk
melaksanakan kegiatan peningkatan akses pemasaran
hasil perkebunan dengan seluruh pemangku kepentingan
dan stakeholder yang terkait, sehingga diharapkan dari
kegiatan itu akan dapat menghasilkan rumusan-rumusan
konkrit dalam pemecahan permasalahan pemasaran hasil
perkebunan serta berkembangnya jaringan dan akses
pemasaran didaerah-daerah sentra produksi hasil
perkebunan. Terbangunnya akses pemasaran antara
produsen dengan konsumen atau user ataupun produsen
dengan produsen, maka akan menghasilkan suatu hubungan
yang baik dan pemasaran menjadi mudah yang
menguntungkan bagi seluruh pihak yang terlibat
didalamnya. Akhirnya diharapkan tidak ada disparitas harga
yang tinggi antara petani/pekebun dengan industri
pengolahan ataupun dengan konsumen akhir.

21
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Efisiensi dibidang produksi dan pemasaran
agar komoditas yang diperdagangkan bisa bersaing
menjadi tuntutan pada era perdagangan di pasar
bebas. Perdagangan komoditas perkebunan pada
era globalisasi ekonomi saat ini, mengakibatkan
terjadinya transparansi pasar yang sangat kuat.
Pada umumnya skala usaha komoditi
perkebunan di Indonesia masih relatif rendah,
tersebar, dengan kualitas produk yang beragam.
Rantai tata niaga pemasaran produk perkebunan
segar masih panjang, sehingga disatu sisi
memberikan tekanan pada konsumen dalam
bentuk harga yang tinggi dan berfluktuasi, di sisi
lain tekanan pada produsen dalam bentuk proporsi
harga yang diterima relatif rendah.
Disparitas harga antar daerah diakibatkan
oleh, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari
pulau-pulau yang dihubungkan oleh lautan dan
selat, serta sentra produsen komoditas
perkebunan yang banyak terletak di remote area
dan daerah peripheral, sementara konsumen
maupun industri terletak di pusat-pusat kota.
Kondisi ini mengakibatkan terciptanya daerah
surplus dan minus sebagai akibat dari
ketidakseimbangan penawaran dan permintaan di
sentra sentra konsumen.
Ketidakseimbangan supply dan demand
disuatu pasar seringkali mengakibatkan
1
terjadinya fluktuasi harga , baik di sentra
produsen maupun sentra konsumen. Pada
umumnya fluktuasi harga juga diakibatkan
oleh ketidakseimbangan supply yang
disebabkan oleh sifat komoditi yang sangat
tegantung dari musim / iklim.
Keberhasilan pembangunan pemasaran
komoditas pertanian sangat ditentukan oleh
kualitas penyusunan kebijakan dan perencanaan
pembangunan pemasaran, yang sangat ditentukan
oleh ketersediaan informasi pasar yang aktual,
akurat dan kontinue. Untuk mendukung
ketersediaan informasi pasar yang aktual, akurat
dan terpercaya ini diperlukan pelayanan informasi
pasar yang baik, sehingga diharapkan akan
dimanfaatkan sebagai penyusunan kebijakan yang
tepat sesuai dengan perkembangan pasar.
Kegiatan Pelayanan Informasi Pasar (PIP) secara
umum telah dilaksanakan sejak awal tahun 1970
pada Direktorat Bina Usaha Tani, di setiap
Direktorat Jenderal, Departemen Pertanian. Pada
kegiatan ini, data harga dikumpulkan oleh Dinas
Pertanian Provinsi dan Kabupaten seluruh
Indonesia, dan dikirimkan ke Pusat Data secara
mingguan melalui surat/pos, dengan tujuan untuk
melakukan pendataan secara statistik.
Pada tahun 1979 Direktorat Jenderal
Tanaman Pangan mulai melaksanakan Pelayanan
Informasi Pasar sistem harian yang mencakup
sebagian besar komoditas tanaman pangan dan
hortikultura, dengan tujuan untuk memberikan
2
informasi harga secara harian kepada para pelaku
pasar melalui Radio. Sampai dengan tahun 1999
kegiatan ini sudah teralokasi di 27 propinsi, tetapi
dengan terjadinya reorganisasi di Departemen
Pertanian pada tahun 2000, kegiatan PIP di tingkat
pusat tidak dapat terlaksana secara optimal,
meskipun kegiatan ini masih dilaksanakan di daerah.
Pada tahun 20012005 kegiatan PIP di tingkat
pusat dikoordinasikan oleh Subdit Pasar Domestik,
pada masingmasing Direktorat Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Hortikultura,
Peternakan dan Perkebunan, pada Direktorat
Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Pertanian.
Sejak tahun 2006, kegiatan PIP dari seluruh
sub sektor pertanian dikoordinasikan oleh Sub
Direktorat Analisis dan Informasi pada Direktorat
Pemasaran Domestik, Direktorat Jenderal
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian.
Mulai tahun 2016, kegiatan PIP
dikoordinasikan oleh masing masing subsektor
(Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan
Peternakan) akibat dari dileburnya fungsi
Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Pertanian ke Direktorat Jenderal Komoditi.
Dan PIP hasil perkebunan akan dikoordinasikan
oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perkebunan.

3
1.2. Tujuan
Tujuan penyusunan pedoman teknis
Pelayanan Informasi Pasar (PIP) Perkebunan ini
adalah :
1. Memberikan panduan teknis tentang tata cara
pelaksanaan kegiatan PIP.
2. Sebagai bahan acuan dalam
mengembangkan sistem pengumpulan
data/informasi pasar disesuaikan dengan
kondisi masing-masing daerah.
3. Menciptakan Sistem Pelayanan Informasi Pasar
yang cepat, tepat, kontinyu, up to date dan
dapat dipercaya agar langsung dapat
dimanfaatkan oleh para pengguna informasi.

4
II. SISTEM PELAYANAN INFORMASI PASAR
HASIL PERTANIAN

Penyelenggaraan Sistem Pelayanan Informasi


Pasar (PIP) terdiri dari 3 (tiga) sub sistem yaitu:
metode, sumberdaya manusia (SDM) dan sumber
dana. Metode PIP terdiri dari pengumpulan,
pengolahan, pengiriman, penganalisaan serta
penyebarluasan data/informasi pasar. SDM PIP adalah
Pejabat Fungsional Analis Pasar Hasil Pertanian
(APHP) tingkat terampil dan ahli baik di provinsi
maupun kabupaten (petugas PIP) yang mempunyai
tugas pokok menyiapkan, melaksanakan, mengkaji
kebijakan dan mengembangkan pelayanan di bidang
analisis pasar hasil pertanian. Dan secara garis besar
unsur kegiatan meliputi pengumpulan data,
pengumpulan informasi kualitatif, pengolahan data,
analisis data dan penyebarluasan informasi pasar.
Sumber dana adalah biaya yang diperlukan
untuk melakukan kegiatan PIP yang pada tahun 2016
yang dialokasikan pada dana Dekonsentrasi untuk
kegiatan di daerah serta dana pertemuan petugas
dan pembina PIP yang dilaksanakan oleh Pusat.
Berikut uraian secara rinci metoda pelaksanaan
PIP yaitu :
2.1. Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan adalah data
harga, data pasokan dan permintaan (supply-
demand), data biaya usaha tani, data biaya
pemasaran serta data supplier komoditas
5
perkebunan. Data harga terdiri dari data harga
tingkat produsen, pengumpul besar dan
eksportir.
Data pasokan (supply) terdiri dari data
produksi perbulan dan data tonase produk yang
dijual di setiap lokasi pasar pengumpulan data
harga. Data permintaan (demand) terdiri dari
data permintaan pasar dan permintaan
industri/perusahaan pengolahan/eksportir.
Data biaya usaha tani terdiri atas data atau
biaya-biaya yang dikeluarkan dalam melakukan
kegiatan usaha tani termasuk data penerimaan dan
keuntungan.
Data biaya pemasaran terdiri atas
data/biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses
pemasaran mulai dari tingkat produsen sampai
dengan konsumen. Data supplier terdiri dari data
pemasok komoditas perkebunan, termasuk jenis
komoditi beserta jumlah yang ditawarkan.

2.1.1. Data Harga Produsen


Pencatatan harga tingkat produsen dilakukan
di daerah sentra produksi pada masing-masing
kabupaten yaitu di tempat-tempat perdagangan
(seperti pasar pengumpul desa/kecamatan),
rumah/gudang pedagang pengumpul, pinggir
jalan, atau tempat lain yang biasa dipergunakan
sebagai lokasi transaksi jual-beli.
Kabupaten sentra produksi terpilih adalah

6
beberapa kabupaten yang produksinya terbesar
berdasarkan data produksi yang tersedia pada
Dinas lingkup Perkebunan. Dari kabupaten sentra
terpilih kemudian ditentukan 2-3 kecamatan
sentra.
Harga tingkat produsen/harga jual petani
adalah harga penjualan petani kepada pedagang
pengumpul, pedagang antar daerah atau kepada
pabrik pengolahan hasil pertanian. Atau sebaliknya
adalah pembelian pedagang pengumpul
/perusahaan pengolahan kepada petani. Lokasi
pengembangan PIP dan komoditi di sentra produksi
sesuai dengan alokasi dana Dekonsentrasi tahun
2016 seperti tercantum pada lampiran.

2.1.2. Data Harga Pengumpul besar


Harga tingkat pengumpul besar dikumpulkan
dari lokasi pedagang pengumpul propinsi. Lokasi
pasar merupakan tempat transaksi/ jual-beli
produk pertanian secara borongan yang dilakukan
oleh pedagang pengumpul besar antar daerah.
Harga tingkat pengumpul besar yaitu harga
penjualan pedagang pengumpul besar kepada
eksportir atau perusahaan pengolahan. Lokasi
pengembangan PIP di tingkat pengumpul besar
tercantum pada lampiran 1 (bagian A).

7
2.1.3. Data Harga Eksportir
Harga tingkat eksportir dikumpulkan oleh
petugas PIP propinsi di seluruh Indonesia. Lokasi
pasar merupakan tempat transaksi/jual-beli
produk perkebunan untuk tujuan ekspor. Harga
tingkat eksportir yaitu harga penjualan oleh eksportir.

2.1.4. Data harga eceran


Harga eceran dikumpulkan dari pasar
pengecer di seluruh ibukota propinsi dan
ibukota kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Lokasi pasar merupakan tempat transaksi/jual-beli
produk perkebunan secara eceran. Harga eceran
yaitu harga penjualan pedagang pengecer kepada
konsumen atau harga pembelian oleh konsumen
kepada pedagang pengecer.

2.1.5. Data Pasokan dan Permintaan (Supply


Demand)
Data supply yang diperlukan dalam sistem PIP ini
adalah data produksi per propinsi serta
tonase/volume produk yang diperdagangkan di
pasar/lokasi pengumpulan harga grosir untuk
komoditas unggulan yang telah ditentukan sebagai
data informasi harga. Data demand adalah data
permintaan perusahaan industri
pengolahan/eksportir/hotel /restoran dan lain-lain.
Contoh formulir data pasokan dan permintaan seperti
terdapat pada lampiran 2.

8
2.1.6. Data Analisa Ekonomi Usahatani (Biaya
Usahatani)
Data Analisa Ekonomi Usahatani (Biaya Usahatani)
sangat diperlukan untuk mengetahui tingkat
keuntungan petani. Data ini dikumpulkan setahun
sekali untuk komoditi unggulan. Data yang
dikumpulkan meliputi :
a. Penerimaan (R = Revenue), merupakan penjualan
hasil produksi, dimana nilai penerimaan diperoleh
dari perhitungan harga per satuan hasil dikalikan
dengan volume hasil produksi.
b. Pengeluaran (C= Cost), merupakan penjumlah
semua biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses
produksi.
c. Keuntungan (B= Benefit), merupakan hasil yang
diperoleh dari pengurangan nilai penerimaan
dengan pengeluaran. Di dalam perhitungan
keuntungan dicantumkan juga perhitungan :
1) R-C rasio, merupakan perhitungan dari
perbandingan antara penerimaan (R) dengan
pengeluaran (C).
2) B-C rasio, merupakan perhitungan dari
perbandingan antara keuntungan (B) dengan
pengeluaran (C)
3) Keuntungan perbulan, merupakan asumsi dari
keuntungan yang diterima per bulan selama satu
kali periode proses produksi.
4) Keuntungan per satuan hasil, merupakan asumsi

9
dari keuntungan yang diterima persatuan hasil
produksi
Secara rinci, contoh tabel perhitungan analisa
usaha tani tercantum pada lampiran.

2.1.7. Data Analisa Biaya Pemasaran


Data Analisa Biaya Pemasaran adalah data
biaya-biaya yang dikeluarkan oleh setiap tingkat
pedagang pada masing-masing tahap dalam rantai
pemasaran. Data ini sangat diperlukan untuk
mengetahui margin pemasaran dari setiap tingkat
pedagang dan pangsa pasar yang diterima oleh
petani dari harga yang dibayarkan konsumen
akhir.
Data yang dikumpulkan meliputi data
penjualan petani/pembelian oleh pedagang
tingkat I (tahap I dalam rantai pemasaran) sampai
dengan harga pembelian oleh konsumen. Secara
rinci, contoh tabel perhitungan analisa biaya
pemasaran tercantum pada lampiran.

2.1.8. Data Supplier


Data supplier yang dimaksud adalah data
pemasok komoditas pertanian. Data tersebut
meliputi :
a. Nama supplier
b. Nama perusahaan

10
c. Data perusahaan meliputi provinsi,
kabupaten/kota, alamat, nomor telpon,
nomor faximili, alamat e-mail dan nama
contact person)
d. Jenis usaha (produsen/perdagangan
domestik/ eksportir/importir/usaha
lainnya)
e. Skala Usaha (kecil/menengah/besar)
f. Jenis Komoditi ( perkebunan)
g. Jenis Produk (segar dan atau olahan)
h. Jumlah penawaran/supply (ton)

2.1.9. Komoditas
Jenis komoditas yang tercakup dalam
pelaksanaan PIP ini adalah komoditas unggulan
propinsi atau kabupaten/kota, dengan kriteria
sebagai berikut :
a. Komoditas yang banyak dihasilkan di daerah
sentra produksi, secara kontinyu artinya
komoditi harus tersedia setiap hari di lokasi
pencatatan.
b. Jumlah komoditas relatif besar
c. Komoditas sudah diperdagangkan antar
daerah (antar kabupaten atau antar
kecamatan)

11
2.1.9 Responden
Seperti yang telah dijelaskan sesuai dengan
jenis data yang dikumpulkan, maka responden yang
dijadikan sebagai sumber informasi tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Responden untuk harga produsen adalah :
1) Petani (harga penjualan kepada pedagang
pengumpul atau perusahaan pengolahan
hasil)
2) Pedagang pengumpul (harga pembelian dari
petani)
3) Eksportir (harga pembelian dari petani
apabila melakukan pembelian langsung
kepada petani.

b. Responden untuk harga pengumpul besar


adalah:
1) pedagang pengumpul (harga penjualan
kepada pedagang grosir/eksportir)
2) pedagang grosir/eksportir (harga
pembelian dari pedagang grosir/
eksportir)
Jumlah responden yang diambil untuk setiap
komoditi adalah 5 orang. Metode penentuan
harganya adalah metoda rata-rata tanpa nilai
ekstrim yaitu dengan menghilangkan nilai
ekstrim tinggi dan rendah.

12
Sebagai contoh:
Responden A Rp. 2 100,-
Responden B Rp. 1700,
Responden C Rp. 2150,-
Responden D Rp. 2200,-
Responden E Rp. 2500,
Harga yang terjadi adalah :
(2100+2150+2200) : 3 = 2150.

c. Responden untuk harga eceran


1) pedagang pengecer (harga penjualan
kepada konsumen)
2) konsumen (harga pembelian dari
pedagang pengecer)
Jumlah responden yang diambil untuk
setiap komoditi adalah 5 orang. Metode
penentuan harganya adalah metoda rata-rata
tanpa nilai ekstrim yaitu dengan
menghilangkan nilai ekstrim tinggi dan
rendah.
Sebagai contoh:
Responden ARp. 2 100,-
Responden BRp. 1700,
Responden CRp. 2150,-
Responden DRp. 2200,-
13
Responden ERp. 2500,
Harga yang terjadi adalah :
(2100+2150+2200) : 3 = 2150

d. Responden untuk data produksi dan data


tonase adalah:
Data produksi diperoleh dari Dinas
Pertanian Propinsi/kabupaten dan data tonase
diperoleh dari Dinas Pasar pada lokasi
pengumpulan data harga grosir/pengumpul

e. Responden untuk data biaya usaha tani


adalah:
1) petani/poktan/gapoktan sebagai
produsen komoditas perkebunan
2) pedagang sarana produksi (harga sarana
produksi)

Mekanisme pengumpulan data biaya


usaha tani secara detail akan dijelaskan
pada buku petunjuk teknis analisa biaya
usaha tani.

14
f. Responden untuk data biaya biaya
pemasaran adalah:
1) petani/produsen komoditas perkebunan
2) pedagang pengumpul, pedagang grosir
dan pedagang pengecer (semua
pedagang yang terlibat dalam satu mata
rantai pemasaran) serta eksportir

g. Responden untuk data supplier adalah:


Data supplier diperoleh dari perusahaan
pemasok yang bergerak di sub sektor tanaman
perkebunan, gapoktan, dinas lingkup perkebunan
daerah (provinsi/kabupaten), instansi terkait
maupun sumber lain yang dapat
dipertanggungjawabkan kevalidan datanya.

2.1.10. Waktu dan Frekuensi


Waktu pencatatan data harga adalah
pada saat transaksi jual beli paling ramai,
dengan frekuensi pengumpulan data setiap hari
kerja (Senin sampai Jumat). Data produksi
dikumpulkan dan dikirim setiap bulan, sedangkan
data tonase/volume perdagangan di pasar/lokasi
pengumpulan data, dikumpulkan dan dikirim
setiap minggu.
Data Analisa Usahatani dan Data Biaya
Pemasaran dikumpulkan pada setiap akhir musim
tanam (Musim Hujan/MH, Musim Kering I/MK I,

15
Musim Kering II/MK II). Untuk data supplier
dikumpulkan setiap bulan.

2.2. Pengiriman, Penyebarluasan dan Pelaporan


Data
2.2.1. Pengiriman Data
a. Pengiriman Data Harga
Data harga tingkat produsen dan eceran di
sentra produksi (kabupaten/kota) serta harga
tingkat grosir dan eceran di sentra konsumsi
(ibukota provinsi) untuk komoditas yang
dikembangkan pada sistem PIP-SMS Harga,
dikirimkan setiap hari ke Subdirektorat
Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat
Pengolahan dan Pemasaran Hasil, Direktorat
Pemasaran Domestik melalui:
1) Input data harga melalui SMS Sender (format
pengiriman tercantum pada lampiran.
2) Input data harga melalui Sistem GPRS (format
pengiriman tercantum pada lampiran 6)
3) SMS Kementerian Pertanian dengan nomor
081380829555(sesuai format pengiriman
data melalui SMS pada lampiran.

Untuk komoditas dan tingkat harga diluar


pengembangan sistem PIP (SMS Harga) dikirimkan
setiap 1 (satu) minggu 1 (satu) sekali ke Subdit
Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat
16
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan
melalui:
1) Faxcimile / Fax : 021-7819726
2) e-mail : piplaporan@yahoo.com
Format pengiriman data informasi pasar
melalui fax dan email dikirimkan
dalambentuk file excel sesuai format pada
lampiran.

b. Pengiriman Data Pasokan (Supply)


Data supply yang dimaksud adalah :
1) Data produksi bulanan di tingkat kabupaten
2) Data produksi bulanan di tingkat provinsi
3) Data tonase mingguan di pasar tingkat
kabupaten
4) Data tonase mingguan di pasar tingkat
provinsi

Data supply dikirimkan melalui :


1) Input data supply melalui SMS Sender (format
pengiriman tercantum pada Juknis Supply dan
Demand)
2) Input data supply melalui Sistem GPRS (format
pengiriman tercantum pada Juknis Supply dan
Demand)

17
Pengiriman Data Demand
Data demand yang dimaksud adalah :
1) Data demand mingguan di tingkat
kabupaten
2) Data demand mingguan di tingkat provinsi

Pengiriman data demand dikirimkan melalui :


1) Input data demand melalui SMS Sender (format
pengiriman tercantum Juknis Supply dan
Demand)
2) Input data demand melalui Sistem GPRS
(format pengiriman tercantum Juknis Supply
dan Demand)

c. Pengiriman Data Biaya Usaha Tani dan Biaya


Pemasaran

Data biaya usahata tani dan biaya


pemasaran dikirimkan ke Subdit Pemasaran
Hasil Perkebunan melalui Email:
pipbunlaporan@gmail.com

d. Pengiriman Data Supplier


Data supplier baik ditingkat
kabupaten/kota maupun propinsi dikirimkan
setiap bulan pada minggu pertama ke Subdit
Informasi Pasar, Direktorat Pemasaran
Domestik, melalui :
18
1) Input data supplier secara langsung melalui
sistem GPRS pada website pip.kementan.org
2) Rekap data supplier juga dapat dikirimkan
melalui e-mail ke: piplaporan@yahoo.com

2.2.2. Penyebarluasan Informasi

Di tingkat propinsi, data/informasi harga grosir,


harga produsen dan eceran komoditas unggulan
daerah disebarluaskan secara kontinyu melalui
berbagai media daerah yaitu:
a. Radio (RRI, Radio Pemda dan atau Radio
Swasta)
b. T e l e vi s i ( T V R I d a n T V S w a s t a )
c. Surat Kabar, Tabloid, atau majalah
d. Papan Harga
e. W e b s i t e
f. H a n d p h o n e N o k i a L i f e t o o l s
g. P u s a t I n f o r m a s i K o m o d i t a s ( P I K )

2.2.3. Pelaporan
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa
seluruh petugas PIP harus melaporkan data harga
secara harian dan data produksi/tonase secara
bulanan ke Pusat (Subdit Pemasaran Hasil

19
Perkebunan, Dit. Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Perkebunan). Petugas PIP juga harus
mengirimkan Buletin Pemasaran atau Laporan
Tahunan kepada Pusat PIP secara periodik (bulanan
atau tahunan).

2.3. Sarana dan Kelembagaan PIP


2.3.1. Sarana
Dalam rangka melaksanakan Kegiatan PIP
diperlukan prasarana/peralatan yang dipergunakan
untuk mengumpulkan data, mengolah data,
mengirimkan data serta menyebarluaskan data.
Sarana tersebut adalah sebagai berikut:
a. Sepeda motor
b. Kalkulator
c. Perlengkapan kerja lapangan (Jas Hujan, sepatu
boot, helm)
d. Telepon/faxcimile
e. Handphone
f. Ko mp ute r / L a p top

2.3.2. Kelembagaan
Dalam melaksanakan kegiatan PIP diperlukan
petugas khusus (Petugas PIP dan atau Pejabat
fungsional APHP) yang secara rutin bertugas untuk
mengumpulkan, mengolah serta menganalisa data
informasi pasar. Petugas PIP dan atau Pejabat
20
fungsional APHP adalah pegawai tetap pada dinas
perkebunan propinsi dan atau kabupaten pada
Subdinas yang menangani kegiatan pemasaran.
Jabatan fungsional Analisis Pasar Hasil
Pertanian (APHP) ditetapkan berdasarkan
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 6 Tahun
2012 tentang Jabatan Fungsional Analisa Pasar
Hasil Pertanian Dan Angka Kreditnya.
Ketentuan pelaksanaan jabfung APHP diatur
berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Pertanian
dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor
59/PERMENTAN/OT.140/09/2012 dan Nomor 10
Tahun 2012 tentang Ketentuan Pelaksanaan
Peraturan Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi
tentang Jabatan Fungsional Analis Pasar Hasil
Pertanian.
2.4. Sumber Dana
Sumber dana kegiatan PIP berasal dari APBN,
APBD I dan APBD II. Untuk dana APBN TA 2016,
dana PIP perkebunan terdapat pada Program
Peningkatan Produksi dan Produktivitas
Tanaman Perkebunan Berkelanjutan, yang
dialokasikan untuk pelaksankan pertemuan
petugas dan Pembina PIP di Pusat dan didaerah
melalui dana dekonsentrasi yang dialokasikan pada
Dinas lingkup Perkebunan di 31 Propinsi , dengan
rincian sebagai berikut:

21
2.4.1. Kegiatan PIP di Pusat

Kegiatan yang dilaksanakan oleh pusat


merupakan pertemuan koordinasi yang akan
diikuti oleh petugas informasi pasar dari tingkat
Provinsi dan Kabupaten serta Pembina PIP.
a. Metoda Pelaksanaan
Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pertemuan
koordinasi dengan Peserta terdiri dari Petugas
Informasi Pasar dari tingkat Provinsi, Kabupaten
dan Pembina dari Dinas Perkebunan Propinsi.
Pola pertemuan dalam bentuk workshop
dengan tatap muka langsung dengan
narasumber yang menyampaikan materi.

b. Tahapan Persiapan Kegiatan


Tahapan untuk melakukan pertemuan Petugas
Informasi Pasar adalah sebagai berikut :
1) Pengumpulan data primer dan sekunder
terkait dengan PIP dari daerah sentra
produksi.
2) Identifikasi peserta dan narasumber
Peserta dari kegiatan pertemuan hasil
perkebunan adalah Petugas Informasi Pasar
dari tingkat Provinsi, Kabupaten dan Pembina
PIP. Narasumber dari pertemuan Petugas
Informasi Pasar adalah Pembina PIP
perkebunan dari Direktorat Jenderal
Perkebunan, Pusat Data dan Informasi
Pertanian, dan Stakeholder lainnya.

22
3) Persiapan kegiatan pertemuan
- Penyusunan Jadwal dan atau materi
kegiatan
- Surat Undangan peserta, narasumber dan
moderator dan lain-lain
- Sambutan Pembukaan dan arahan pimpinan
- Perlengkapan ATK, dll.
- Administrasi pelaksanaan kegiatan

4) Koordinasi dengan instansi terkait


Perlu dilakukan koordinasi dengan instansi
terkait didaerah maupun pusat dan
stakeholder ataupun dinas diluar Perkebunan
yang terkait untuk membantu pelaksanaan
kegiatan pertemuan sehingga kegiatan dapat
dilakukan dengan baik untuk mencapai
tujuan yang diinginkan.

5) Penyusunan dan pelaporan kegiatan


Setelah kegiatan dilaksanakan, pelaksana
kegiatan akan melaporkan hasil kegiatan ke
Direktur Jenderal Perkebunan.

6) Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Kegiatan Pertemuan Petugas Informasi Pasar
hasil perkebunan akan dilaksanan pada tahun
2016.

Adapun Rincian dana kegiatan yang mendukung


pertemuan PIP di Pusat adalah sebagai berikut:

Belanja bahan

23
- Administrasi , fotocopy,dll
- Penggandaan laporan Informasi pasar domestik
perkebunan

Honor Output kegiatan


- Honor panitia

Belanja jasa profesi


- Honor narasumber
- Honor moderator

Belanja perjalanan biasa


- Perjalanan dalam rangka Identifikasi dan
sinkronisasi informasi pasar.
-
Belanja Perjalanan Dinas paket Meeting Luar
Kota
- Dalam rangka pertemuan petugas informasi
pasar dan Pembina
- Perjalanan dalam rangka pertemuan petugas PIP
dan Pembina
- Perjalanan Narasumber

24
2.4.2. Kegiatan di Provinsi
Belanja bahan
- ATK komputer supplies, penggandaan, dll

Honor yang terkait dengan output kegiatan


- Operasional pengumpulan dan pengiriman data
- Operasional entry dan pengolahan data
- Fasilitasi pengiriman data (Petugas PIP) pulsa dan
langganan internet

Belanja barang non operasional lainnya


- Penyusunan dan Pengiriman database harga ,
BUT dan Biaya Pemasaran
- Penyebaran Informasi Pasar melalui media massa
- Penyusunan Buletin informasi pasar

Belanja perjalanan lainnya (DN)


- Pembinaan ke Kabupaten
- Pertemuan Koordinasi PIP Tingkat Pusat
- Pertemuan Petugas PIP

25
Belanja Peralatan dan Mesin untuk diserahkan
kepada masyarakat
- Pengadaan alat komunikasi untuk
pengumpulan data/ informasi

2.4.3. Kegiatan di kabupaten


Honor yang terkait dengan output
kegiatan
- Operasional pengumpulan dan
pengiriman data

Belanja Peralatan dan Mesin untuk


diserahkan kepada masyarakat
- Pengadaan alat komunikasi untuk
pengumpulan data/ informasi

Belanja barang non operasional lainnya


- Fasilitasi pengiriman data (Petugas PIP)
pulsa dan langganan internet
- Penyusunan dan Pengiriman Data Base
harga, BUT dan Biaya Pemasaran

Belanja Perjalanan Lainnya (DN)


- Pertemuan Petugas PIP tingkat nasional

26
- Pengumpulan data ke lokasi

Uraian Penggunaan Dana


Uraian tentang penggunaan dana diatas, adalah
sebagai berikut :

Pusat
1. Belanja bahan adalah biaya yang
dipergunakan untuk biaya bahan pertemuan
seperti fotocopi, penggandaan laporan, dll
2. Belanja jasa profesi adalah biaya yang
dipergunakan untuk membiayai honor
narasumber dan moderator kegiatan
pertemuan PIP.
3. Belanja perjalan biasa adalah biaya perjalanan
yang akan dilakukan untuk melakukan
identifikasi dan sinkronisasi informasi pasar ke
daerah sentra produksi
4. Belanja perjalan Dinas Paket meeting Luar
Kota
adalah biaya yang dipergunakan untuk
akomodasi dan konsumsi maupun ruang
pertemuan, serta biaya perjalanan dinas
petugas dari Direktorat Jenderal Perkebunan
pada pertemuan PIP di daerah dan biaya
perjalanan narasumber kegiatan.

27
Propinsi dan Kabupaten
1. Belanja bahan adalah biaya yang
dipergunakan untuk biaya bahan bahan
yang diperlukan dalam kegiatan PIP di
daerah.
2. Biaya perjalanan pertemuan koordinasi dan
pertemuan petugas PIP, merupakan biaya
yang digunakan untuk memfasilitasi
perjalanan dinas pembina PIP dan petugas
PIP untuk menghadiri pertemuan yang
dilaksnakan oleh Pusat.
3. Belanja Peralatan dan Mesin, merupakan
biaya yang digunakan untuk pengadaan
fasilitasi alat pengolahan data dan
komunikasi.
4. Honor operasional pengumpulan dan
pengiriman data merupakan honor yang
diberikan per bulan kepada petugas PIP
untuk pengumpulan data informasi
pemasaran komoditas pertanian (harga, dan
lain-lain) ke lokasi serta biaya pengiriman
data melalui SMS Sender.
5. Honor operasional entry dan pengolahan data
merupakan honor yang diberikan per bulan
kepada petugas entry data dan petugas
pengolah data PIP
6. Biaya Penyusunan dan Pengiriman Data Base ,
BUT dan Biaya pemasaran adalah biaya yang
digunakan Petugas PIP untuk melaksanakan

28
kegiatan tersebut.
7. Biaya penyebaran Informasi pasar melalui
media massa merupakan biaya yang
diperguanakan untuk penyebaran PIP di media
massa
8. Biaya penyusunan Buletin Informasi Pasar
merupakan biaya yang dipergunakan dlam
rangka penyusunan Buletin informasi pasar

29
III. PENUTUP

Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Informasi


Pasar merupakan acuan dalam melaksanakan
kegiatan PIP pada Dinas lingkup Perkebunan baik
tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.
Diharapkan dengan adanya Pedoman Teknis ini
dapat menyamakan persepsi para petugas dan
pembina PIP sehingga tercipta sistem pelayanan
informasi pasar yang cepat, tepat, akurat,
lengkap, kontinyu dan up to date. Dengan
demikian diharapkan jaringan informasi pasar di
pusat dan daerah akan semakin kuat dan
pelayanan informasi pasar yang cepat, lengkap,
tepat sasaran dan waktu serta berkesinambungan
dapat terlaksana sehingga peningkatan kegiatan
pemasaran hasil komoditas perkebunan bagi
masyarakat luas dan secara khusus stake holder
terkait dapat terwujud.

30
Pedoman Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan-2016 1
I. TEMU USAHA KEMITRAAN

Keberhasilan usaha agribisnis ditentukan terutama oleh 4


faktor atau 4 pilar penunjang usaha agribisnis yaitu (1) Faktor
sumber daya (termasuk sumber daya alam, sumber daya
manusia dan kelembagaan usaha); (2) Modal; (3) Teknologi dan
(4) Akses pasar atau pemasaran. Salah satu strategi untuk
memperkuat faktor-faktor tersebut adalah melalui
pengembangan kemitraan baik kemitraan antar para petani itu
sendiri dalam kelembagaan Kelompok Tani, Gabungan
Kelompok Tani atau Koperasi maupun kemitraan antar petani/
kelompok tani/gabungan kelompok tani/ koperasi dengan
Perusahaan Swasta ataupun BUMN. Sasaran kemitraan
diharapkan pada sisi petani dapat memperkuat keempat faktor
tersebut di atas, sehingga memberikan manfaat yang optimal
bagi petani, sedangkan pada sisi Perusahaan Mitra bertujuan
antara lain dalam rangka efisiensi dan keberlanjutan dari
usahanya. Dengan adanya kemitraan usaha diharapkan dapat
tercipta suatu sistem yang dikelola secara bersama berdasarkan
prinsip : saling membutuhkan, saling memperkuat, dan saling
menguntungkan antara stakeholder untuk menjamin
keberlanjutan usaha melalui upaya peningkatan nilai tambah dan
penciptaan produk yang berdaya saing. Selanjutnya melalui
kewirausahaan diharapkan dapat mereposisi petani menjadi
wirausaha pertanian yang profesional dan mandiri.

Secara umum telah terbangun kelembagaan kemitraan


usaha pertanian antara petani baik secara individu maupun
kelompok dengan perusahaan di bidang agribisnis, namun belum
terbangun kelembagaan kemitraan yang saling membutuhkan,
saling memperkuat dan saling menguntungkan serta tidak

Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 1


berkelanjutan. Kelemahan mendasar yang ada antara lain adalah
rendahnya komitmen antara pihak-pihak yang bermitra,
bargaining position yang tidak seimbang, serta kurangnya
transparansi dalam penetapan harga dan pembagian nilai
tambah/keuntungan. Selain itu kendala lain adalah adanya
ketimpangan antara pelaku usaha agribisnis di tingkat
masyarakat yang masih banyak berada di sub sistem agribisnis
hulu on farm dengan pihak lain yaitu pelaku usaha di sub sistem
yang lain.
Beberapa permasalahan dalam membangun kelembagaan
kemitraan agribisnis dari segi teknis, ekonomis dan sosial/
kelembagaan adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan dan penguasaan teknologi baik budidaya
maupun panen dan pasca panen pada petani dan aparat
masih kurang
2. Dukungan teknologi informasi masih lemah sehingga dalam
penentuan harga lebih didominasi oleh pihak Perusahaan
Mitra (pemilik modal)
3. Biaya investasi relatif mahal
4. Belum ada jaminan pemasaran, terutama pada waktu
produksi melimpah
5. Harga yang berfluaktuasi terutama saat-saat panen raya.
6. Sistem pembayaran relatif lambat
7. Persaingan yang tidak sehat antara petani produsen dalam
menjual hasil
8. Konsolidasi kelembagaan di tingkat petani masih lemah
9. Perusahaan yang bersedia sebagai avalis dalam kemitraan
agribisnis masih terbatas
10. Komitmen yang dibangun diantara pihak-pihak yang
bermitra masih belum optimal

Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 2


11. Kelembagaan usaha petani relatif masih banyak yang
bersifat informal.

Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam


pengembangan kewirausahaan Indonesia:
1. Jiwa ambtenaar masih mewarnai tingkah laku dan
kebiasaan masyarakat Indonesia.
2. Masih banyak masyarakat yang lebih mementingkan gengsi
dibandingkan kerja keras untuk berprestasi.
3. Masih banyak masyarakat yang lebih memperhatikan
materi tanpa memperhatikan makna dari pekerjaan yang
harus ditangani.
4. Fungsi manajemen tidak berperan baik sehingga pola
manajemen dan mekanisme organisasi tidak bisa
terkendali.
5. Kurangnya modal dalam pengembangan usaha.
6. Kurangnya infrastruktur penunjang pengembangan
kewirausahaan seperti akses penghubung (jalan) dan
akses pemasaran.

Pada APBN Tahun 2016 Direktorat Pengolahan dan


Pemasaran Hasil Perkebunan-Ditjen Perkebunan melalui
Program Peningkatan Produksi dan Produktivitas Komoditi
Perkebunan membiayai kegiatan Temu Usaha Kemitraan.
Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong para
petani/pelaku usaha perdesaan membentuk kelembagaan tani
yang kuat dalam rangka mengembangkan kemitraan usaha,
sehingga dapat mengembangkan usahanya secara lebih
profesional dengan jiwa kewirausahaan yang kuat, untuk

Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 3


menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah dan berdaya
saing tinggi.

A. Tujuan

Kegiatan Temu Usaha Kemitraan bertujuan antara lain:


Memfasilitasi terbentuknya dan/atau peningkatan kemitraan
usaha antara Poktan/Gapoktan dengan Perusahaan Mitra.

B. Sasaran

Terbentuknya dan/atau meningkatnya kemitraan usaha


antara Poktan/Gapoktan dengan Perusahaan Mitra serta
berkembangnya kewirausahaan dan ekonomi kreatif pada
Poktan/Gapoktan pada 24 satker di 24 Provinsi di Indonesia
sebagaimana terlampir.

C. Output

Terbentuknya kemitraan antara Poktan/Gapoktan dengan


Perusahaan Mitra yang ditandai dengan adanya MoU antara
para pihak tersebut.

D. Outcome

Meningkatnya akses pasar teknologi permodalan dan


capacity building.
Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 4
E. Metode Pelaksanaan

a. Identifikasi kelompok-kelompok petani yang potensial


untuk dimitrakan.

b. Identifikasi perusahaan calon mitra bagi kelompok-


kelompok petani yang potensial

c. Melaksanakan pertemuan dan merumuskan konsep


kemitraan yang dapat dilaksanakan dan penanda-
tanganan MoU oleh para pihak.

F. Jadwal Pelaksanaan

No Jenis Kegiatan Bulan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1. Identifikasi
kelompok-
kelompok petani
yang potensial
untuk dimitrakan

2 Identifikasi
perusahaan calon
mitra bagi
kelompok-
kelompok petani
yang potensial

3. Pertemuan
kemitraan (Temu
Usaha)

Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 5


Bulan
No Jenis Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

4. Koordinasi dengan
berbagai
stakeholder dalam
rangka mendukung
kemitraan

G. Anggaran

Anggaran Dana Dekonsentrasi Ditjen Perkebunan TA. 2016


untuk kegiatan Temu Usaha Kemitraan dialokasikan pada 24
Satker.

H. Pelaporan

Pelaksanaan kegiatan Temu Usaha Kemitraan, dilaporkan


oleh Dinas Perkebunan Provinsi terkait kepada Cq. Direktorat
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen
Perkebunan.

Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 6


II. BIMBINGAN TEKNIS TOT KEMITRAAN DAN
KEWIRAUSAHAAN

Dalam rangka pengembangan usaha kemitraan agribisnis


mulai dari hulu (budidaya) sampai hilir (pengolahan dan
pemasaran), pemerintah mendorong untuk terjadinya kemitraan
usaha yang efektif, adil dan berkelanjutan antara petani yang
tergabung dalam Poktan/Gapoktan, Koperasi Tani, LM3
Agribisnis, Subak Abian, Asosiasi dengan Perusahaan Mitra
(Menengah/Besar/Eksportir) ataupun antara Poktan/Gapoktan itu
sendiri.
Keberhasilan pembangunan agribisnis sangat ditentukan
oleh 4 faktor/ 4 pilar utama yaitu : (1) Sumberdaya mencakup
sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan kelembagaan
usaha; (2) Modal, (3) Teknologi, dan (4) Pasar. Dengan
demikian, diharapkan seluruh stakeholder akan benar-benar
sadar akan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian
tersebut selanjutnya dapat memberikan perhatian secara intensif
dan berimbang kepada keempat faktor atau pilar tersebut.
Sebagai tindak lanjut dari serangkaian kegiatan yang
memberikan langkah-langkah kongkret dan nyata dalam rangka
pengembangan agribisnis melalui pembangunan pengolahan
dan pemasaran hasil pertanian untuk memberikan nilai tambah
dan daya saing antara lain dilakukan pengembangan kemitraan
dan kewirausahaan agribisnis. Secara prinsip kemitraan usaha
tetap diarahkan dapat berlangsung atas dasar norma-norma
ekonomi yang berlaku dalam keterkaitan usaha yang saling
memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.
Tujuan Mengembangkan usaha kemitraan di bidang pertanian
antara lain untuk meningkatkan pendapatan, kesinambungan
Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 7
usaha, peningkatan kualitas sumberdaya mitra, peningkatan
skala usaha serta dalam rangka menumbuhkan dan
meningkatkan kemampuan usaha kelompok mitra yang mandiri.
Terhadap kemitraan yang sudah terbangun tersebut, perlu
dilakukan pembinaan, pemantauan dan evaluasi agar dapat
terwujud kemitraan yang adil, efektif dan berkelanjutan.

A. Tujuan dan Sasaran

Tujuan Bimbingan Teknis TOT Usaha Perkebunan adalah


meningkatkan kemampuan dalam mengelola usaha agribisnis
dibidang perkebunan dengan menerapkan pola kemitraan

Sasaran Bimbingan Teknis TOT Usaha agribisnis


Perkebunan yaitu kelompok yang telah tercatat sebagai
kelompok mitra

B. Sasaran
Sasaran yang diinginkan dari kegiatan Bimbingan Teknis
Kemitraan dan Kewirausahaan adalah terlatihnya para pelaku
usaha tentang konsep dan pola kemitraan dan kewirausahaan
perencanaan usaha d

C. Output
Output Bimbingan Teknis TOT Usaha agribisnis
Perkebunan adalah terbinanya Poktan/Gapoktan, Koperasi Tani,
LM3 Agribisnis, Subak Abian, Asosiasi yang telah melakukan
kemitraan

Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 8


D. Outcome

Outcome Bimbingan Teknis TOT Usaha agribisnis


Perkebunan adalah berjalannya kemitraan yang sudah berjalan
dari tahun 2011 2015.

E. Metode Pelaksanaan

Pelaksanaan Kegiatan sebagai berikut :

a) Tahap Persiapan

Pada tahap ini akan dilakukan identifikasi dan monev


terhadap Poktan/Gapoktan yang telah bermitra,
penyusunan jadwal, penentuan materi, menghubungi
narasumber, mempersiapkan undangan kepada peserta
dan narasumber dan berkoordinasi dengan Dinas
Perkebunan Provinsi/Kabupaten/Kota lingkup Pertanian
dan instansi terkait lainnya.

b) Tahap Pelaksanaan

Penyampaian materi pendukung di dalam kelas oleh


berbagai narasumber yang terkait.

Diskusi dan tukar menukar informasi tentang materi


yang telah disampaikan, permasalahan dan upaya
pemecahan masalah serta rencana tindak lanjut
terkait dengan pengembangan kemitraan usaha.

Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 9


c) Tahap Pembuatan Laporan

Pada tahap ini akan dilakukan pembuatan laporan hasil


pelaksanaan kegiatan, termasuk permasalahan,
pemecahan masalah dan tindak lanjut

F. Jadwal Pelaksanaan

Bulan
Jenis Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Bimbingan Teknis
TOT Usaha
agribisnis
Perkebunan

G. Anggaran

Anggaran Dana Dekonsentrasi Ditjen Perkebunan TA. 2016


untuk kegiatan Bimbingan Teknis TOT Kemitraan dan
Kewirausahaan dialokasikan pada 22 Satker.

H. Pelaporan

Pelaksanaan kegiatan Bimbingan Teknis TOT Kemitraan


dan Kewirausahaan meliputi hasil kegiatan termasuk

Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 10


permasalahan, pemecahan masalah dan tindak lanjut, dilaporkan
oleh Dinas Perkebunan Provinsi terkait kepada Cq. Direktorat
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen
Perkebunan.

PENUTUP

Pembinaan Kemitraan, Kewirausahaan dan Ekonomi


Kreatif melibatkan aspek yang sangat luas dan terkait dengan
kewenangan berbagai instansi di dalam dan di luar lingkup
Kementerian Pertanian. Oleh karena itu, kerjasama yang
harmonis lintas instansi sangat dibutuhkan. Dukungan para
pelaku usaha agribisnis, Pemerintah Daerah dan masyarakat
luas yang merupakan komponen utama didalam sistem
agribisnis sangat dibutuhkan. Melalui kerjasama yang efektif dan
bersifat saling mendukung diharapkan program-program yang
telah dirumuskan dapat direalisasikan dan mencapai tujuan serta
sasaran yang telah ditetapkan.

Pedoman teknis ini masih harus dijabarkan lebih lanjut ke


dalam pedoman yang lebih operasional yang diterbitkan oleh
Dinas Perkebunan di tingkat provinsi.

Petunjuk Teknis Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan 2016 Page 11


Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 1
KATA PENGANTAR

Dalam rangka mengembangkan usaha yang merupakan


salah satu upaya dalam rangka mengembangkan usaha
masyarakat untuk dapat meningkatkan kesejahteraan petani
pekebun khususnya masyarakat di wilayah agrowisata. Sinergi
antara Pertanian dan Pariwisata merupakan landasan dalam
pengembangan Agrowisata. Dampak positif pengembangan
Agrowisata antara lain dapat meningkatkan nilai jual komoditi
pertanian yang dihasilkan dan berkembangnya sumber-sumber
pendapatan lainnya yang dapat dinikmati oleh masyarakat
setempat. Untuk pengembangan lebih lanjut sebagai suatu
Kawasan Agrowisata yang dapat memberikan kontribusi nyata
terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya
petani pekebun di wilayah yang bersangkutan, maka perlu
adanya suatu koordinasi dan sinkronisasi dalam rangka
pembinaan dan pengawalan dengan instansi terkait serta
stakeholder untuk menindaklanjuti rencana pengembangan
agrowisata.
Terkait dengan pada kegiatan tersebut diharapkan Kawasan
Agrowisata dapat berkembang. Pedoman Teknis ini adalah salah
satu Pedoman/acuan dalam rangka pelaksanaan kegiatan tahun
2016.

Jakarta, .... 2016

..........................................

Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page i


.................................

NIP. ...........................................

Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page ii


I. PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN AGROWISATA

Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki kekayaan alam


dan hayati yang sangat beragam yang jika dikelola dengan tepat,
kekayaan tersebut mampu diandalkan menjadi andalan
perekonomian nasional. Kondisi agroklimat di wilayah Indonesia
sangat sesuai untuk pengembangan komoditas tropis dan
sebagian sub tropis pada ketinggian antara nol sampai ribuan
meter di atas permukaan laut. Komoditas perkebunan dengan
keragaman dan keunikannya yang bernilai tinggi serta diperkuat
oleh kekayaan kultural yang sangat beragam mempunyai daya
tarik kuat sebagai agrowisata. Keseluruhannya sangat
berpeluang besar menjadi andalan dalam perekonomian
Indonesia.

Preferensi dan motivasi wisatawan berkembang secara


dinamis. Kecenderungan pemenuhan kebutuhan dalam bentuk
menikmati obyek-obyek spesifik seperti udara yang segar,
pemandangan yang indah, pengolahan produk secara tradisional,
maupun produk-produk pertanian modern dan spesifik
menunjukkan peningkatan yang pesat. Kecenderungan ini
merupakan signal tingginya permintaan akan Wisata Agro dan
sekaligus membuka peluang bagi pengembangan produk-produk
agribisnis baik dalam bentuk kawasan ataupun produk pertanian
yang mempunyai daya tarik spesifik.

Potensi Wisata Agro yang sangat tinggi ini belum


sepenuhnya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal.
Untuk itu, perlu dirumuskan langkah-langkah kebijakan yang
konkrit dan operasional guna tercapainya kemantapan
pengelolaan Obyek Wisata Agro di era globalisasi dan otonomi
daerah. Sesuai dengan keunikan kekayaan spesifik lokasi yang
Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page 1
dimiliki, setiap daerah dan setiap obyek Wisata Agro dibutuhkan
kerjasama sinergis diantara pelaku yang terlibat dalam
pengelolaan Wisata Agro, yaitu masyarakat, swasta dan
pemerintah.

Kerjasama sinergis diantara pelaku/stakeholder yang


terlibat dalam pengelolaan wisata perlu dilakuka pembinaan dan
pengembangan agrowisata. Pembinaan dan pengembangan
agrowisata kepada stakeholder maupun Pemerintah bisa dalam
bentuk promosi maupun dalam bentuk Focus Group Discussion
antar instansi terkait dalam hal permasalahan-permasalahan
yang ada pada agrowisata serta untuk dapat mengembangkan
agrowisata tersebut.

A. Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan koordinasi, dan


sinkronisasi dalam rangka pembinaan dan pengembangan
Kawasan Agrowisata yang potensial di setiap wilayah.

B. Sasaran

Sasaran yang hendak dicapai melalui kegiatan ini ialah:

1) Adanya konsep kesepakatan antar stakeholder dalam


mengembangkan Agrowisata untuk suatu Kawasan
tertentu di masing-masing wilayah (Provinsi).

2) Adanya komitmen dukungan dari berbagai pihak


terkait untuk pengembangan Kawasan Agrowisata
Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page 2
yang bersangkutan.

C. Output

Hasi yang diperoleh antara lain :

1. Kesepakatan Rencana Pengembangan Agrowisata

2. Komitmen Stakeholder dalam mengembangkan


agrowisata

D. Outcome

Berkembangnya agrowisata.

E. Metode Pelaksanaan

1. Dalam rangka pelaksanaan Pembinaan dan


Pengembangan Agrowisata perlu adanyanya
Kesepakatan Rencana Pengembangan
Agrowisata :

a. Melakukan koordinasi dan silronisasi hasil analisis


potensi Kawasan yang potensial untuk
Pengembangan Kawasan Agrowisata (dilihat dari
aspek teknis, sosial, ekonomi, budaya dan
lingkungan alam.

b. Melakukan koordinasi dan silronisasi hasil

Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page 3


delineasi Kawasan sebagai salah satu wilayah
yang telah ditetapkan bersama akan
dikembangkan sebagai Kawasan Agrowisata.

c. Menyusun progres hasil koordinasi dan


sinkronisasi mengenai Rencana Tata Ruang dan
Tata Guna Lahan.

d. Melakukan pembinaan dan pengawalan Hasil


pemetaan sesuai komponen-komponen yang
perlu dibangun/dikembangkan serta tahapan
pelaksanaannya dalam rangka pengembangan
wilayah yang bersangkutan sebagai Kawasan
Agrowisata yang berdaya saing dan berkelanjutan.

e. Menyusun progres hasil koordinasi dan


sinkronisasi mengenai pola manajemen
Agrowisata yang direkomendasikan bersama

Dalam rangka pelaksanaan pembinaan dan


pengawalan tersebut perlu dilakukan langkah-langkah:

a. Rapat Koordinasi dan sinkronisasi dengan


stakeholders terkait.

b. Pemantapan rencana pengembangan kawasan


Agrowisata dan atau membentuk Tim
Pengembangan Agrowisata

Koordinasi dan sinkronisasi Penyusunan rencana


dukungan masing-masing sektor terkait dalam
rangka Pengembangan Agrowisata dan Wisata
Agro yang melibatkan instansi terkait, pakar usaha

Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page 4


Agrowisata dan wakil masyarakat sekitar
agrowisata.

2. Dalam rangka Gelar Potensi Agrowisata :

Menghadiri acara Gelar potensi agrowisata yang


diselenggarakan baik di tingkat Daerah atau di Tingkat
Nasional.

a) Peserta Gelar Potensi Agrowisata adalah


stakeholder terkait di Daerah (Kabupaten/ Kota,
Provinsi), termasuk wakil-wakil dari masyarakat di
sekitar Kawasan Agrowisata dan instansi terkait.

b) Hasil Koordinasi dan Sinkronisasi pemetaan


Kawasan Agrowisata dengan stakeholders
diharapkan dapat disosialisasikan lebih luas pada
acara Pameran Agrowisata di Tingkat Daerah dan
atau di acara Gelar Potensi Agrowisata yang
rencananya akan di selenggarakan di Jogja Expo
Center pada bulan Mei 2016.

Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page 5


F. Jadwal Pelaksanaan

Jadwal Pelaksanaan kegiatan Pembinaan dan


Pengembangan Agrowisata:

Bulan
No Jenis Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 Rapat
Koordinasi dan
Sinkronisasi

2 Pemantapan
rencana
pengembangan
agrowisata

3. Pelaksanaan
Gelar Potensi
Agrowisata

4.. Pelaporan

G. Anggaran

Anggaran Dana Dekonsentrasi Ditjen Perkebunan TA. 2016


untuk kegiatan Pembinaan dan Pengembangan Agrowisata
dialokasikan pada 14 Satker.

Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page 6


H. Pelaporan

Pelaksanaan kegiatan Pembinaan dan Pengembangan


Agrowisata meliputi hasil koordinasi dan sinkronisasi termasuk
permasalahan, pemecahan masalah dan tindak lanjut, dilaporkan
oleh Dinas Perkebunan Provinsi terkait kepada Cq. Direktorat
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen
Perkebunan.

H. Pelaporan

Laporan pelaksanaan kegiatan Pembinaan dan


Pengembangan Agrowisata kepada Ditjen Perkebunan Cq.
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan paling
lambat bulan November 2016 dan tembusan kepada Sekretariat
Ditjen Perkebunan.

Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page 7


PENUTUP

Pengembangan Kawasan Agrowisata melibatkan


stakeholder dengan aspek yang sangat luas dan terkait dengan
kewenangan berbagai instansi di dalam dan di luar lingkup
Kementerian Pertanian. Oleh karena itu, kerjasama yang
harmonis lintas instansi sangat dibutuhkan. Dukungan para
pelaku usaha agribisnis, Pemerintah Daerah dan masyarakat
luas yang merupakan komponen utama didalam sistem
agribisnis sangat dibutuhkan. Melalui kerjasama yang efektif dan
bersifat saling mendukung diharapkan program-program yang
telah dirumuskan dapat direalisasikan dan mencapai tujuan serta
sasaran yang telah ditetapkan.

Pedoman teknis ini masih harus dijabarkan lebih lanjut ke


dalam pedoman yang lebih operasional yang diterbitkan oleh
Dinas Perkebunan Provinsi.

Pedoman Teknis Pengembangan Agrowisata - 2016 Page 8


I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Persaingan pasar yang sangat kompetitif menuntut setiap


negara yang mempunyai keunggulan komparatif suatu
produk untuk selalu tanggap dan antisipatif. Indonesia
memiliki unggulan komoditi perkebunan seperti kelapa
sawit, kakao, teh, kopi, pala, dll. Berbagai faktor yang
mempengaruhi persaingan pasar tersebut diantaranya isu-
isu yang berkaitan dengan peningkatan daya saing produk
perkebunan Indonesia terutama yang berkaitan dengan
mutu/standarisasi, proteksi lewat hambatan non tarif
barrier serta Sanitary and Phytosanitary (SPS).

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi makin


banyak produk yang bernilai tambah dapat dihasilkan dan
peluang pasar komoditi perkebunan Indonesia di pasar
Internasional semakin terbuka luas, namun hal ini belum
dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku usaha
produk Perkebunan Indonesia.

1
Disisi lain, saat ini mulai banyak terjalin berbagai
perjanjian perdagangan antara Indonesia dengan negara
mitra dagang baik dalam forum bilateral, regional dan
multilateral termasuk kerjasama komoditi dalam bentuk
Free Trade Agreement (FTA). Kesepakatan perdagangan
bebas atau Free Trade Agreement (FTA) antar negara
yang merupakan wujud dari liberalisasi perdagangan tidak
bisa dibendung lagi oleh suatu negara secara individual.
Karena dalam situasi seperti ini satu negara tidak lagi
dapat berdiri sendiri, tetapi saling tergantung satu dengan
yang lain.

Perkembangan FTA semakin berkembang antara lain


disebabkan oleh tidak tercapainya kesepakatan
perundingan di dalam wadah WTO, termasuk perundingan
untuk produk perkebunan. Sebagai konsekuensi, sejumlah
negara berlomba untuk melakukan Free Trade
Agreement, baik berupa bilateral maupun regional untuk
meningkatkan perdagangan antar negara yang ikut serta
dalam FTA tersebut.Beberapa FTA antara Indonesia dan
negara mitratelah terbentuk antara lain: Indonesia Japan
Economic Patnership Agreement (IJ-EPA) dan PTA

2
Indonesia Pakistan sedangkan yang saat ini masih
dalam tahap negosiasi perundingan antara lain Indonesia
Korea CEPA, Indonesia EFTA CEPA, Indonesia EU
CEPA, Indonesia Australia CEPA. Dalam forum
regional, Indonesia terlibat dalam forum ASEAN-FTA dan
RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership)
sedangkan dalam forum multilateral Indonesia aktif dalam
WTO. AEC (Asean Economic Community) akan
implementatif pada 31 Desember 2015 dan RCEP
(dengan 16 negara) akan implementatif pada 1 Januari
2016.

FTA membawa dampak ekspansi perdagangan dunia,


menghilangkan hambatan perdagangan dan bertujuan
meningkatkan perdagangan antar anggota. Kesepakatan
utama dalam perdagangan bebas adalah menghilangkan
hambatan tarif dan non tarif diantara negara anggota.

Berbagai kesepakatan hasil negosiasi dan diplomasi di


berbagai forum perdagangan Internasional
perludiinformasikan lebih luas kepada stakeholder /
instansi teknis terkait di daerah sentra produksi di seluruh

3
Indonesia, agar hasil perundingan perdagangan
internasional tersebut bisa peningkatan ekspor produk
perkebunan.

Produk perkebunan sebagian besar berorientasi ekspor,


dimana banyak isu-isu perdagangan internasional yang
terus muncul seperti aflatoksin pada ekspor pala ke Uni
Eropa, kampanye negatif terhadap minyak sawit di Uni
Eropa dan Amerika Serikat serta kandungan cadmium
pada biji kakao, sehingga perlu disusun strategi yang
tepat dalam menyikapi dinamika perdagangan
internasional tersebut untuk meningkatkan ekspor produk
perkebunan.Forum Diskusi Akses Pasar Perdagangan
Internasional ini dapat menjadi wadah untuk
mendiskusikan informasi dari forum internasional serta
potensi dalam negeri. Dari forum ini diharapkan dapat
dihasilkan rumusan yang bermanfaat bagi stakeholder di
dalam dan di luar negeri termasuk perwakilan Indonesia di
luar negeri (KBRI, Atase Perdagangan, Indonesia Trade
Promotion Center/ITPC).

Sehubungan hal tersebut, pada tahun 2016 Direktorat


Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan telah

4
mengalokasikan Dana Dekonsentrasi berupa kegiatan
Fasilitasi Pengembangan Akses Pasar Perdagangan
internasional yang dapat berupa Kegiatan Sosialisasi
Hasil Negosiasi dan Diplomasi di Forum Perdagangan
Internasional atau forum temu bisnis (business matching)
dengan mendatangkan calon pembeli (buyer) dari luar
negeri / negara tujuan ekspor.

2. Tujuan

Pedoman Teknis ini disusun sebagai pedoman (acuan)


bagi Satker Penerima Dana Dekonsentrasi TA. 2016
dalam hal pelaksanaan kegiatan, peran dan tugas masing-
masing pelaksana serta mekanisme dan pengadministrasi
dalam pelaksanaan kegiatan Fasilitasi Pengembangan
Akses Pasar Perdagangan Internasional, khususnya untuk
produk perkebunan yang berorientasi ekspor.

3. Sasaran

Peningkatan akses pasar internasional untuk produk


perkebunan berorientasi ekspor di daerah penerima Dana
Dekonsentrasi. Selanjutnya diharapkan agar daerah dapat

5
memanfaatkan informasi maupun kegiatan temu bisnis
tersebut untuk membantu para pelaku/calon eksportir hasil
perkebunan dalam meningkatkan akses ke pasar-pasar
tujuan ekspor yang sesuai untuk komoditas unggulan
perkebunan di daerahnya masing-masing.

4. Provinsi Penerima Dana Dekonsetrasi Fasilitasi


Pengembangan Akses Pasar Perdagangan
Internasional

Kriteria provinsi yang dipilih sebagai daerah penerima


dana dekonsentrasi adalah provinsi yang memiliki
komoditi potensial ekspor dan pelaku usaha sub sektor
perkebunan yang sudah berorientasi ekspor. Provinsi
penerima dana dekonsentrasi Tahun Anggaran 2016
adalah sebagai berikut:
1) Daerah Istimewa Aceh,
2) Sumatera Utara,
3) Sumatera Barat,
4) Riau,
5) Jambi,
6) Sumatera Selatan,
7) Lampung,

6
8) Jawa Barat,
9) Jawa Tengah,
10) DI Yogyakarta,
11) Jawa Timur,
12) Kalimantan Barat,
13) Kalimantan Tengah,
14) Kalimantan Selatan,
15) Kalimantan Timur,
16) Sulawesi Utara,
17) Sulawesi Selatan,
18) Maluku,
19) Bali,
20) Maluku Utara.

5. Ruang Lingkup

5.1 Ruang Lingkup Materi

Cakupan materi dapat meliputi :

a. Tata cara/prosedur ekspor khususnya untuk produk


perkebunan dan persyaratan importasi di negara
tujuan ekspor. Hal ini bertujuan untuk memberikan
wawasan kepada stakeholder perkebunan tentang

7
pengembangan dan peningkatan akses pasar
internasional.

b. Peluang dan potensi ekspor berbagai komoditi


perkebunan di negara tujuan ekspor yang bertujuan
untuk memberikan informasi kepada stakeholder
tentang informasi pasar produk perkebunan di luar
ngeri dan produk produk perkebunan yang diminati
oleh pasar luar negeri.

c. Berbagai kesepakatan yang dihasilkan dari forum


perundingan bilateral, regional, multilateral maupun
kerjasama komoditi. Hal ini bertujuan untuk
memberikan pemahaman kepada gapoktan mengenai
keterlibatan Indonesia di forum internasional beserta
peranannya dalam pembukaan akses pasar di negara
tujuan dan perlindungan produk perkebunan di dalam
negeri.

d. Upaya pengembangan ekspor produk perkebunan


yang sedang dan akan dilakukan baik ditingkat
kabupaten, provinsi maupun pusat dapat meliputi
berbagai pemerintah mendorong ekspor produk

8
perkebunan, pengembangan market intelligence
produk perkebunan, fasilitasi masalah permodalan
antara gapoktan dengan lembaga pembiayaan, dan
lain-lain.

e. Peningkatan potensi ekspor perkebunan setempat

f. Temu bisnis (business matching) antara calon importir


/ buyer dengan pelaku usaha / poktan perkebunan

5.2 Ruang Lingkup Komoditi

Komoditi yang dimaksud dalam pedoman teknis ini adalah


kopi specialty, kakao olahan, tea specialty, pala organik,
lada organik, mete atau komoditi perkebunan lainnya yang
merupakan komoditi perkebunan unggulan / potensial
untuk ekspor di Provinsi penerima Dana Dekonsentrasi
TA. 2016.

9
II. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan Fasilitasi
Pengembangan Akses Pasar Perdagangan
Internasional

1. Instansi Pelaksana :

Pertemuan dilakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi


Penerima Dana Dekonsentrasi fasilitasi pengembangan
akses pasar perdagangan internasional TA. 2016.

2. Peserta :

Target peserta undangan Pertemuan fasilitasi


pengembangan akses pasar perdagangan internasional
adalah stakeholder produk perkebunan seperti :
Gapoktan berorientasi ekspor
Eksportir / calon eksportir produk perkebunan
Dinas Perkebunan Provinsi / Kabupaten
Lembaga Keuangan/Perbankan
Penyuluh Pertanian
Calon importir / buyer

10
Sangat diharapkan bahwa peserta yang mengikuti cara ini
mewakili semua kabupaten dan unsur yang disebutkan di
atas, agar dapat bermanfaat dan tepat sasaran.
3. Narasumber :

Narasumber yang dapat diundang :


Pejabat berkompeten di lingkup Direktorat Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan,
Kementerian Pertanian, Lembaga Pembiayaan Ekspor,
Perbankan.
Praktisi/eksportir yang berpengalaman
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia
Pemasok/Eksportir yang berhasil
Kadin daerah
Atase perdagangan / ITPC / Atase pertanian

4. Metode Pelaksanaan :

Pertemuan Fasilitasi Pengembangan Akses Pasar


Perdagangan Internasional dilaksanakan selama satu hari
penuh dalam format seminar, kunjungan lapang maupun
temu bisnis (business matching). Dalam format seminar,
materi yang disampaikan dalam seminar dapat bentuk

11
paparan dan diskusi. Agar peserta dapat menerima materi
dan berdiskusi dengan baik, sebelum paparan
diselenggarakan sesi ice breaking. Setelah acara utama
para peserta akan melakukan kunjungan lapang (field trip)
ke lokasi petani/gapoktan perkebunan yang berorientasi
ekspor. Sedangkan dalam format temu bisnis, kegiatan
dapat berupa pertemuan langsung antara calon importir /
buyer dengan pelaku usaha / poktan perkebunan.

5. Jadwal Pelaksanaan : (terlampir)

6. Susunan Acara (tentatif *)

Tabel 1. Susunan Acara Utama


WAKTU KEGIATAN KETERANGAN
Sambutan Kepala Dinas
Sambutan Direktur
Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Perkebunan
Ice Breaking
Pemaparan
Hasil Negosiasi dan Dir. PPH Bun
Diplomasi Produk
Perkebunan di Forum
Perdagangan Internasional
Peluang Pemasaran Dir.
Ekspor Produk dan Pengembangan
Strateginya Produk Ekspor,

12
Ditjen PEN,
Kemendag
Fasilitasi Pembiayaan LPEI /
Ekspor Bagi Produk Perbankan
Perkebunan
Permasalahan ekspor Kadin daerah
produk perkebunan yang
dihadapioleh daerah
Successtory Pelaku Usaha Komoditi
/Eksportir unggulan
setempat

*) nara sumber bisa disesuaikan dengan kebutuhan daerah dan


ketersediaan anggaran

7. Pelaporan

a. Pertanggung Jawaban

Pertanggungjawaban baik fisik/teknis maupun administrasi


adalah merupakan tahapan terakhir dalam rangka
pelaksanaan kegiatan Pengembangan Akses Pasar
Perdagangan Internasional. Secara umum ketentuan
pertanggung jawaban yang benar adalah tercapainya fisik/
output kegiatan berupa laporan pelaksanaan serta
dipenuhinya ketentuan adminsitrasi keuangan.

13
b. Laporan Pelaksanaan

Laporan hasil pelaksanaan kegiatan Pengembangan


Akses Pasar Perdagangan Internasional paling lama
dapat diselesaikan 2 minggu setelah kegiatan
dilaksanakan dan dikirimkan melalui email
pascapanen011@yahoo.com (format laporan
pelaksanaan selengkapnya terlampir).

c. Database Peserta

Setiap peserta khususnya gapoktan yang berpartisipasi


harus membawa dan menyerahkan profil gapoktan dan
mengisi kuisioner yang diberikan untuk penyusunan
database gapoktan berorientasi ekspor (kuisioner
terlampir).

d. Tindak Lanjut Pertemuan

Membentuk jaringan komunikasi antara gapoktan


berorientasi ekspor dengan Petugas Dinas Perkebunan
Kabupaten, Provinsi dan Ditjen Perkebunan Kementerian
Pertanian. Dalam hal ini Dinas Perkebunan Propinsi

14
diharapkan bisa menjadi inisiator dan fasilitaror jaringan
komunikasi tersebut, menggunakan aplikasi teknologi
informasi yang tersedia dan mudah dioperasikan oleh
anggota jaringan.

Dengan adanya jaringan komunikasi ini diharapkan akan


menjadi media pembelajaran, tukar menukar informasi
dan peluang pasar secara cepat dan efektif.

15
III. PENUTUP

Dana Dekonsentrasi merupakan bentuk dukungan Ditjen


Perkebunan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan
kualitas SDM petani, pelaku usaha ekspor maupun
instansi teknis terkait dalam rangka fasilitasi
Pengembangan Akses Pasar Perdagangan Internasional.
Keberhasilan pengembangan produk perkebunan
berorientasi ekspor sangat bergantung kepada sinergitas
antara pusat maupun daerah dalam melakukan
pembinaan, pengawalan dan koordinasi dengan
stakeholder.

Pelaksana kegiatan fasilitasi Pengembangan Akses Pasar


Perdagangan Internasionalini diharapkan dapat
bermanfaat bagi peningkatan SDM stakeholder sehingga
mampu memanfaatkan hasil kesepakatan negosiasi dan
diplomasi internasional maupun kegiatan temu bisnis yang
pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing dalam
memanfaatkan peluang pasar sekaligus dapat
meningkatkan meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan petani atau gapoktan serta pelaku usaha

16
perkebunan dan memberikan kontribusi pada peningkatan
perekonomian daerah.

Dari uraian yang telah dipaparkan, diharapkan pedoman


ini dapat dijadikan panduan bagi pelaksana kegiatan
fasilitasi Pengembangan Akses Pasar Perdagangan
Internasional. Diharapkan anggaran yang dialokasikan
dapat dimanfaatkan secara efektif, efisien dan tepat
sasaran, sehingga dapat menghasilkan capaian kinerja
yang baik.

17
DAFTAR LAMPIRAN

18
Lampiran 1. Jadwal Pelaksanaan Dana Dekonsentrasi Fasilitasi
Pengembangan Akses Pasar Perdagangan Internasional TA 2016
NO PROVINSI BULAN
JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT NOV DES
1 Daerah Istimewa
Aceh
2 Sumatera Utara
3 Sumatera Barat
4 Riau
5 Jambi
6 Sumatera
Selatan
7 Lampung
8 Jawa Barat
9 Jawa Tengah
10 DI Yogyakarta
11 Jawa Timur
12 Kalimantan
Barat
13 Kalimantan
Tengah

19
14 Kalimantan
Selatan
15 Kalimantan
Timur
16 Sulawesi Utara
17 Sulawesi
Selatan
18 Maluku
19 Bali
20 Maluku Utara

20
Lampiran 2. Format Laporan Pelaksanaan

Kata Pengantar
Daftar Isi
I. Pendahuluan
a. Latar Belakang
b. Tujuan

II. Pelaksanaan Kegiatan


a. Tempat dan Waktu Kegiatan
b. Peserta Kegiatan
c. Pembicara
d. Panitia
e. Anggaran Biaya
f. Susunan Acara

III. Rumusan Kegiatan

IV. Kesimpulan

V. Penutup

21
Lampiran 3. Kuisioner Bagi Gapoktan

Nama Gapoktan / Poktan :

Jumlah Anggota :

Tahun Gapoktan Berdiri :

Luas Lahan Kepemilikan :

Jenis Produk yang diusahakan :

Kapasitas Produksi / Volume Produksi :

Mitra Eksportir :

Total volume yang disuplai ke eksportir :

Total volume yang dipasarkan ke dalam :


negeri

Tujuan Pemasaran Dalam Negeri :

Tujuan Pasar Ekspor :

Bantuan dari Ditjen PPHP (Apa saja dan


tahun berapa)

Peningkatan volume produksi dan :


volume ekspor sebelum dan setelah di
bantu (berapa peningkatannya?)

Permasalahan di lapangan / hambatan :


usahatani

22
23
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan


Yang Maha Esa karena dengan rahmat-Nya Buku
Pedoman Teknis Pengolahan Hasil Perkebunan
Tahun 2016 telah selesai disusun.

Pedoman Teknis ini merupakan acuan bagi aparat


pembina tingkat provinsi dan kabupaten/kota
dalam melaksanakan kegiatan Pengolahan Hasil
Perkebunan yang didukung dana APBN Direktorat
Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian.
Pedoman ini agar dijabarkan lebih lanjut dalam
bentuk Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis
di daerah agar lebih aplikatif dalam
penerapannya.

Komitmen semua pihak sangat diharapkan demi


terwujudnya pelaksanaan kegiatan yang lebih baik
dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu,
koordinasi yang sinergis antara pusat, provinsi,
kabupaten/kota sangat diperlukan dalam

i
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

melakukan pembinaan pengolahan hasil


perkebunan berbasis kelompok.

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan di daerah agar


lebih baik, maka dimungkinkan adanya perbaikan
pedoman teknis selanjutnya, untuk itu saran dan
masukan yang bersifat membangun sangat
diharapkan. Kami mengucapkan terima kasih
kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi
dalam penyusunan pedoman teknis ini dan semoga
bermanfaat.
Jakarta, Februari 2016
Direktur Jenderal
Perkebunan

Ir. Gamal Nasir, MS


NIP. 19560728 198603 1 001

ii
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................... i


DAFTAR ISI iii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................. v
I. PENDAHULUAN ..................................................... 1
A. Latar Belakang .................................. 1
B. Tujuan dan Sasaran ............................. 4
II. ISTILAH DAN DEFINISI ......................................... 6
III. PELAKSANAAN KEGIATAN ................................ 10
1. Pembinaan, Pengawalan dan
Pendampingan Pengolahan Hasil
Perkebunan ..................................... 10
2. Monitoring dan Evaluasi Pengolahan
Hasil Perkebunan............................... 11
3. Bimbingan Teknis Pengolahan Hasil
Perkebunan ..................................... 13
4. Penyediaan Alat Pengolahan Hasil
Perkebunan ..................................... 16
IV. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN ................. 29
IV. PENGAWALAN DAN PEMBINAAN ...................... 31
A. Tingkat Pusat ................................... 32
B. Tingkat Provinsi ................................ 32
C. Tingkat Kabupaten/kota ...................... 33

iii
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

V. MONITORING, EVALUASI DAN


PELAPORAN ..................................................... 35
VI. PENUTUP .......................................................... 39
LAMPIRAN ............................................................. 40

iv
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuisioner Perkembangan


Kelembagaan Kelompok ................ 41
Lampiran 2. Kuisioner Perkembangan Usaha
Kelompok................................. 52
Lampiran 3. Form Monitoring Pelaksanaan
Kegiatan Dekonsentrasi ................ 61
Lampiran 4. Form Monitoring Pelaksanaan
Kegiatan Tugas Pembantuan .......... 62
Lampiran 5. Monitoring Perkembangan
Poktan/Gapoktan Penerima
Sarana Peralatan Pengolahan
Perkebunan .............................. 63
Lampiran 6. Formulir verifikasi CP/CL
(Poktan/Gapoktan) ..................... 64
Lampiran 7. Contoh Rencana Usaha Kegiatan
Kelompok (RUKK) ....................... 67
Lampiran 8. Daftar Lembaga yang Berwenang
Mengeluarkan Test Report ............. 68
Lampiran 9. Contoh Spesifikasi Sarana, Alat
dan Mesin Pengolahan
Perkebunan .............................. 70
Lampiran 10. Laporan Running Usaha
Komersil .................................. 78

v
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 11. Naskah Ikatan Kerjasama


Pengelolaan Barang antara Dinas
Perkebunan Propinsi dengan
Gapoktan... ........................ 80
Lampiran 12. Contoh Berita Acara
Pemeriksaan Barang .................... 82
Lampiran 13. Contoh Berita Acara Serah
Terima Barang dari Rekanan ke
Dinas Perkebunan ....................... 83

vi
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberhasilan Pengembangan Pengolahan Hasil
Perkebunan membutuhkan pengetahuan
tentang ciri produk perkebunan, hal ini akan
menentukan keputusan bisnis yang akan
diambil oleh pelaku usaha perkebunan, baik
petani produsen, maupun pihak lain yang
bergerak dalam bidang perkebunan.

Sektor perkebunan merupakan salah satu


produk yang menghasilkan komoditas ekspor
yang cukup prospektif, sehingga menjadikan
neraca perdagangan produk perkebunan
meningkat. Peningkatan ini merupakan kata
kunci yang harus dipikirkan dan ditindaklanjuti
dengan upaya nyata oleh seluruh stakeholder
yang terlibat dalam pengembangan pengolahan
hasil perkebunan, terutama oleh pelaku usaha
perkebunan.

1
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Selama ini, kontribusi sektor perkebunan


terhadap penerimaan devisa lebih banyak
diperoleh dari produk olahan primer
dibandingkan dengan produk olahan sekunder
(produk hilir). Produk perkebunan pada
umumnya masih dipasarkan dalam bentuk
primer sehingga bernilai rendah dan rentan
terhadap fluktuasi harga. Kecenderungan yang
terjadi dewasa ini adalah bahwa harga
komoditas primer semakin lama semakin
menurun dan harga produk olahan perkebunan
semakin meningkat.

Diversifikasi pengolahan produk hasil


perkebunan saat ini perlu dikembangkan
sehingga mempunyai nilai ekonomi yang cukup
tinggi, baik untuk konsumsi dalam negeri
maupun untuk tujuan ekspor. Menyadari hal
tersebut, maka pendekatan pembangunan
sektor perkebunan ke depan diarahkan kepada
pengembangan pengolahan hasil perkebunan,
bukan lagi pada pengembangan komoditas.

2
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Secara lebih khusus pendekatannya lebih


difokuskan pada produk olahan, baik produk
antara (intermediate product), produk semi
akhir (semi finished product) dan yang utama
adalah produk akhir (final product) yang
berdaya saing. Sampai saat ini, kegiatan-
kegiatan pengolahan hasil perkebunan
termasuk pemanfaatan produk samping dan
limbahnya (diversifikasi produk) pada umumnya
masih sangat kurang dimanfaatkan.

Untuk itu, salah satu strategi pengembangan


perkebunan ke depan adalah pengembangan
pengolahan hasil perkebunan. Pengembangan
pengolahan hasil perkebunan merupakan
pilihan strategis dalam meningkatkan
pendapatan, membuka lapangan pekerjaan di
pedesaan, dan untuk jangka panjangnya adalah
memperkuat pilar sektor perkebunan.

Dengan memfasilitasi poktan/gapoktan dengan


sarana dan prasarana pengolahan perkebunan
yang memenuhi kaidah GHP/GMP dan

3
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

memberikan pelatihan-pelatihan melalui


pembinaan, pengawalan dan pendampingan
pengolahan hasil perkebunan, serta bimbingan
teknis, diharapkan cita-cita membangun unit
pengolahan hasil perkebunan yang kompetitif
dapat tercapai.

Program Pengembangan Pengolahan Hasil


Perkebunan tahun 2016 ini diharapkan dapat
memberikan substansi yang lebih besar tentang
muatan teknologi pengolahan khususnya sektor
perkebunan sehingga mampu meningkatkan
nilai tambah, daya saing produk dan
pendapatan petani yang akhirnya dapat
meningkatkan kesejahteraan petani.
B. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan dan Sasaran

Pedoman teknis ini bertujuan sebagai acuan


dalam melaksanakan kegiatan pengolahan hasil
perkebunan di daerah yang pembiayaannya
melalui Anggara Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan TA 2016.

4
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Sedangkan sasarannya adalah aparat pelaksana


yang membidangi pengolahan perkebunan di
tingkat Provinsi/ kabupaten/kota (Kegiatan
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan) dan
Poktan/Gapoktan penerima Dana Tugas
Pembantuan TA 2016 sejumlah 55 unit di 31
provinsi.

5
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

II. ISTILAH DAN DEFINISI

1. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang


dari pemerintah pusat kepada gubernur sebagai
wakil pemerintah dan/atau kepada instansi
vertikal di wilayah tertentu;
2. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari
pemerintah pusat kepada daerah dan/atau
desa, dari pemerintah Provinsi kepada
kabupaten, atau kota dan/atau desa, serta dari
pemerintah kabupaten, atau kota kepada desa
untuk melaksanakan tugas tertentu dengan
kewajiban melaporkan dan
mempertanggungjawabkan pelaksanaannya
kepada yang menugaskan;
3. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal
dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur
sebagai wakil pemerintah yang mencakup
semua penerimaan dan pengeluaran dalam
rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak

6
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi


vertikal pusat di daerah;
4. Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang
berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh
daerah dan desa yang mencakup semua
penerimaan dan pengeluaran dalam rangka
pelaksanaan tugas pembantuan;
5. Running usaha komersial adalah uji coba
pemanfaatan alat dan mesin untuk
memproduksi produk sesuai dengan kapasitas
dan kemampuannya sampai diperoleh bukti
bahwa alat dan mesin tersebut mampu
berproduksi sesuai dengan spesifikasi teknisnya
serta menghasilkan produk yang siap
dipasarkan.
6. Program adalah instrumen kebijakan yang
berisi satu atau lebih kegiatan yang
dilaksanakan instansi/lembaga untuk mencapai
sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi
anggaran, atau kegiatan masyarakat yang
dikoordinasikan oleh instansi pemerintah;

7
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

7. Test Report atau hasil uji adalah keterangan


hasil pengujian dari uji verifikasi, uji unjuk
kerja, uji beban berkesinambungan, uji
pelayanan dan uji kesesuaian terhadap alat dan
mesin pertanian.
8. Sentra produksi adalah suatu kawasan yang
mencapai skala ekonomi tertentu sehingga
layak dikembangkan sebagai satuan kegiatan
pengembangan agroindustri pedesaan.
9. Kelompok Tani (Poktan) adalah kumpulan
petani yang dibentuk atas dasar kesamaan
kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan
(sosial, ekonomi, sumber daya) kesamaan
komoditi dan keakraban untuk meningkatkan
dan mengembangkan usahanya.
10. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) adalah
organisasi gabungan kelompok tani di suatu
wilayah/daerah sentra produksi yang bergerak
di bidang usahatani, pengolahan dan
pemasaran yang anggotanya terdiri dari
kelompok tani yang bekerjasama untuk

8
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi


usaha.
11. Site Manager adalah orang yang direkrut untuk
mengelola usaha pengolahan yang ditetapkan
oleh Kepala Dinas Provinsi atas usulan dinas
kabupaten/kota setempat;
12. Asisten Site Manager adalah orang yang dapat
direkrut didaerah setempat diutamakan dari
anggota poktan/gapoktan.
13. Pengolahan Hasil Perkebunan adalah suatu
kegiatan mengubah bahan hasil perkebunan
menjadi beraneka ragam bentuk/diversifikasi
olahan dan macamnya dengan tujuan untuk
memperpanjang daya simpan, dan
meningkatkan nilai tambah.
14. Alat dan Mesin Pengolahan Hasil Perkebunan
adalah peralatan dan mesin yang dioperasikan
dengan motor penggerak maupun tanpa motor
penggerak untuk kegiatan yang terkait dengan
pengolahan hasil perkebunan.

9
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

III. PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan yang dilaksanakan di daerah/Provinsi/


Kabupaten tahun anggaran 2016 meliputi:

1. Pembinaan, Pengawalan dan Pendampingan


Pengolahan Hasil Perkebunan

a. Tujuan: Melakukan pembinaan dan


pengawalan kegiatan pembangunan dan
pengembangan pengolahan hasil
perkebunan agar berjalan dengan
optimal dan sesuai dengan pedoman
teknis.
b. Sasaran: Poktan/Gapoktan penerima
Dana Tugas Pembantuan TA 2016.
c. Mekanisme pelaksanaan:
Pada awal tahun dilakukan Koordinasi
Pelaksanaan Kegiatan pengolahan
perkebunan. Kegitan ini dihadiri oleh pihak
terkait dalam pelaksanaan kegiatan tugas
pembantuan Tahun 2016 (tim teknis, pejabat

10
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

pengadaan, Kelompok Tani/penerima TP,


akademisi/tenaga ahli).
Pembinaan dilakukan secara bersama sama
baik dari unsur pusat, provinsi maupun
kabupaten. Dalam pembinaan ini, dapat juga
bekerjasama dengan akademisi/tenaga ahli
(BPTP atau perguruan tinggi).
Untuk mengetahui kondisi kelembagaan UPH,
petugas dinas melakukan penilaian
menggunakan form perkembangan
kelembagaan kelompok dan perkembangan
usaha kelompok (Lampiran 1 dan 2) .
Penilaian dilakukan pada saat sebelum
bantuan diterima dan pada akhir tahun
anggaran.

2. Monitoring dan Evaluasi Pengolahan Hasil


Perkebunan

a. Tujuan: Untuk melihat perkembangan


pemanfaatan fasilitasi alat dan mesin
pengolahan hasil perkebunan dan kinerja
unit usaha poktan/gapoktan.

11
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

b. Sasaran: Unit pengolahan hasil yang


difasilitasi oleh Ditjen PPHP sampai dengan
tahun 2015 dan Ditjen Perkebunan tahun
2016.
c. Mekanisme Pelaksanaan
1) Monitoring
Monitoring fasilitasi UPH dilakukan oleh
pihak pusat, provinsi dan
kabupaten/kota. Monitoring dilakukan
terhadap perkembangan pelakanaan
kegiatan tahun 2016, dengan
menggunakan form lampiran 3 dan 4

Monitoring terhadap perkembangan UPH


yang difasilitasi dilakukan dengan
menggunakan form pada lampiran 5.

Data yang diperoleh selama melakukan


monitoring akan dibahas pada
pertemuan evaluasi yang dilakukan di
Provinsi. Adapun pelaksanaannya
dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan

12
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Optimalisasi Unit Pengolahan Hasil


Perkebunan yang dilakukan oleh Pusat.

2) Pelaporan
Hasil yang sudah dibahas pada
pertemuan evaluasi di Provinsi termasuk
keberhasilannya (succes story), harus
dibawa pada pertemuan Optimalisasi
Unit Pengolahan Hasil Perkebunan di
tingkat pusat, yang akan dilaksanakan
bulan November 2016.

3. Bimbingan Teknis Pengolahan Hasil


Perkebunan

Kegiatan ini dilaksanakan oleh dinas perkebunan


Provinsi dalam bentuk pertemuan.
a. Tujuan: Untuk meningkatkan kompetensi
peserta di bidang pengolahan hasil
perkebunan.
b. Sasaran: petugas dinas kabupaten/kota dan
pengelola usaha/ pengurus
Poktan/Gapoktan baik yang telah
mendapatkan fasilitasi dan yang belum

13
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

difasilitasi, tetapi berpotensi untuk


mengembangkan pengolahan hasil
perkebunan.
c. Kriteria Peserta:
Petugas Dinas Kabupaten/Kota:
1) Orang yang menangani bidang
pengolahan hasil perkebunan.
2) Komunikatif sehingga mampu mengawal
dan mendampingi UPH.
3) Bersedia mengikuti bimbingan teknis
mulai dari awal sampai akhir kegiatan.
4) Mempunyai komitmen untuk melakukan
pembinaan dan pendampingan.
Pengelola usaha/ pengurus
Poktan/Gapoktan:
1) Pengelola UPH penerima bantuan dana
TP dan yang potensial mengembangkan
pengolahan perkebunan.
2) Bersedia mengikuti bimbingan teknis
mulai dari awal sampai akhir kegiatan.

14
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

3) Mempunyai komitmen untuk melakukan


pembinaan dan pendampingan.
d. Materi Bimbingan Teknis
Materi Bimbingan Teknis minimal
mencakup:
1) Teknologi pengolahan hasil, limbah dan
pemanfaatannya.
2) Penerapan manajemen mutu.
3) Manajemen kelembagaan dan usaha.
4) Perijinan
5) Pemasaran
e. Narasumber
Narasumber bimbingan teknis harus
kompeten dibidangnya, dapat berasal dari
balai penelitian dan pengembangan,
akademisi, pengelola usaha yang sudah
berhasil, Badan POM, Dinas Koperasi,
lembaga pembiayaan, dan instansi terkait
lainnya.

15
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

f. Pelaporan
Penyusunan laporan berisi seluruh tahapan
mulai dari persiapan sampai akhir
pelaksanaan kegiatan.

4. Penyediaan Alat Pengolahan Hasil Perkebunan

Penyediaan alat pengolahan hasil perkebunan


disalurkan melalui dana Tugas Pembantuan.
Kegiatan ini mempunyai tujuan membangun dan
menumbuhkembangkan agroindustri berbasis
kelompok di pedesaan, yang profesional.

Dalam rangka membentuk agroindustri seperti


tersebut di atas, maka diupayakan terintegrasi
dengan unit usaha di sektor lainnya.

Kegiatan Penyediaan alat pengolahan hasil


perkebunan terdiri dari:
1) Fasilitasi Pengolahan Tebu,
2) Fasilitasi Pengolahan Karet,
3) Fasilitasi Pengolahan Kopi,
4) Fasilitasi Pengolahan Kakao,
5) Fasilitasi Pengolahan Sagu,
6) Fasilitasi Pengolahan Kelapa,

16
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

a. Tujuan:
Membangun dan menumbuh kembangkan
unit pengolahan hasil perkebunan berbasis
kelompok dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan petani dan membuka
kesempatan kerja.
b. Sasaran:
Terbangunnya 55 unit usaha pengolahan
hasil perkebunan berbasis kelompok.
c. Lokasi
Kabupaten Penerima Dana Tugas
Pembantuan TA 2016.
d. Ruang lingkup kegiatan
Ruang lingkup kegiatan meliputi: fasilitasi
sarana dan prasarana pengolahan komoditi
perkebunan yang terdiri dari fasilitasi
bangunan unit pengolahan hasil, alat dan
mesin pengolahan, fasilitasi pengelola
usaha/site manajer, serta running usaha
komersial.

17
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

e. Tahap Pelaksanaan Kegiatan


1) Tahap Persiapan
a) Penetapan calon penerima/calon
lokasi
Verifikasi CP/CL untuk kegiatan tahun
2016 hendaknya sudah dilakukan pada
tahun 2015. Apabila belum dilakukan,
agar segera dilakukan pada awal
tahun 2016. Surat Keputusan (SK)
CP/CL ditetapkan oleh kepala dinas
provinsi. Khusus untuk TP kabupaten
(satker mandiri) ditetapkan kepala
dinas kabupaten. SK CP/CL
ditetapkan paling lambat akhir maret
2016. Kriteria poktan/gapoktan calon
penerima sebagai berikut:
Memiliki potensi bahan baku yang
memenuhi skala ekonomi.
Sanggup menyediakan lahan untuk
lokasi bangunan pengolahan yang
jelas statusnya.

18
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Mempunyai komitmen untuk


mengembangkan usaha pengolahan
hasil perkebunan dengan mengisi
formulir naskah ikatan kerjasama
pengelolaan barang.
Verifikasi CPCL dilakukan pada tahun
2016 untuk kegiatan tahun 2017 yang
dilakukan oleh petugas Provinsi dan
kabupaten. Verifikasi CPCL sesuai
dengan form verifikasi (lampiran 6).
b) Pembentukan Tim Teknis
Tim teknis dibentuk oleh kepala
dinas yang membidangi
perkebunan.

Tim Teknis adalah petugas/staf


teknis yang kompeten di bidang
perkebunan, terdiri dari petugas
Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota
(sesuai usulan Kepala Dinas
Kabupaten/Kota), apabila
diperlukan tim teknis dapat

19
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

berasal dari Balai Penelitian, BPTP


Dinas terkait dan Perguruan
Tinggi.

Tim Teknis bertugas melakukan


pemantapan CPCL, membantu
menyusun dan mengesahkan RUKK,
pengawalan, monitoring dan
evaluasi terhadap kondisi sarana
dan prasarana sampai dengan
selesainya uji coba komersil.

Untuk kegiatan yang ada dana


bahan running usaha komersial,
tim teknis bersama-sama dengan
rekanan dan pengelola unit usaha
melakukan running usaha
komersial dan membuat
laporannya sebagai dasar berita
acara serah terima barang dari
dinas ke poktan/gapoktan.

20
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

c) Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan


Kelompok (RUKK)
RUKK disusun berdasarkan
kebutuhan kelompok sesuai
lampiran 7.
Penyusunan RUKK dilakukan oleh
kelompok/gapoktan dibantu
pembina kabupaten dan Provinsi
dan disetujui tim teknis serta
ditetapkan oleh Kepala Dinas
Provinsi/ Kabupaten/Kota.

2) Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan antara lain
meliputi:
a) Pengadaan gedung pengolah hasil
Pengadaan gedung pengolah hasil
mengacu pada Perpres 70 tahun
2012 tentang Peraturan
Pengadaan Barang dan Jasa.

Pembangunan UPH mengacu pada


Peraturan Menteri Pertanian

21
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Nomor
35/Permentan/OT.140/7/2008
tentang persyaratan dan
penerapan cara pengolahan hasil
pertanian asal tumbuhan yang
baik (Good Manufacturing
Practices).

Luas bangunan menyesuaikan


standar harga biaya setempat
dengan pagu anggaran yang ada.

Pengadaan bangunan termasuk


didalamnya pemasangan instalasi
listrik dan penyambungannya.

b) Pengadaan alat dan mesin


Pengadaan alat dan mesin
pengolahan hasil harus sesuai
dengan Peraturan Menteri
Pertanian Nomor
35/Permentan/OT.140/7/2008
tentang persyaratan dan

22
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

penerapan cara pengolahan hasil


pertanian asal tumbuhan yang
baik (Good Manufacturing
Practices).

Mesin pengolah hasil harus


memenuhi persyaratan SNI
(mempunyai sertifikat
penggunaan tanda SNI/ SPPT SNI)
atau minimal memiliki test report
yang dikeluarkan oleh lembaga
berwenang (Lampiran 8).
Beberapa mesin pengolah hasil
yang telah memiliki test report
dapat dilihat di www.bpm-
alsintan.com

Pengadaan alat yang tertuang


dalam RUKK harus sudah
termasuk pemasangan alat, mesin
genset, pelatihan petugas
pengelola (operasional,
perawatan, perbaikan), running

23
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

test serta jaminan/garansi selama


1 tahun.

Contoh spesifikasi beberapa alat


dan mesin pengolahan dapat
dilihat pada lampiran 9.

c) Running usaha komersial

Tahapan ini dilaksanakan pada


kegiatan yang mempunyai anggaran
running usaha komersial. Setelah
alat dan mesin terinstall, maka harus
dilakukan running usaha komersial
sampai alat dan mesin dapat
beroperasi optimal sesuai dengan
spesifikasi teknis, yang dibuktikan
dengan laporan seperti pada
lampiran 10.

Berita acara serah terima barang


ditandatangani bila running usaha
komersial telah dilaksanakan dan

24
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

berhasil memenuhi persyaratan


sesuai dengan kelayakan teknis.

d) Naskah Ikatan Kerja Sama


Pengelolaan Barang

Gapoktan penerima harus


menandatangani naskah ikatan
kerjasama pengelolaan barang
sebagaimana contoh yang tercantum
pada lampiran 11.

e) Penyerahan kepada Gapoktan

Penyerahan alat, mesin, dan gedung


dari dinas yang membidangi
perkebunan di provinsi kepada
gapoktan dilengkapi dengan Berita
Acara Hasil Pemeriksaan dan Berita
Acara Serah Terima Barang sesuai
format pada lampiran 12 - 13

f) Organisasi Usaha Kelompok

Kepemilikan usaha dan pengelolaan


usaha:

25
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Unit usaha dimiliki oleh gabungan


kelompok tani (Poktan/Gapoktan).

Pengelolaan usaha dilakukan


secara profesional oleh site
manager/pengurus
poktan/gapoktan.

Dinas yang memiliki alokasi


anggaran site manager diharapkan
melakukan Recruitment Site
Manager dan Asisten Site Manager
dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Berpengalaman dan
mempunyai jiwa wirausaha
dan memiliki latar belakang
pendidikan minimal SMA
2) Berasal/berdomisili dalam
wilayah dimana unit usaha
kelompok berada
3) Site manager tidak sebagai
pengurus poktan/gapoktan

26
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

4) Site manager dan asisten site


manager yang terpilih
ditetapkan dengan SK kepala
dinas provinsi

3) Pengelolaan Unit Usaha

a) Bahan baku diutamakan berasal dari


anggota poktan/gapoktan.

b) Proses pengolahan hasil, pengemasan


dan penyimpanan dilakukan sesuai
kaidah - kaidah penerapan jaminan
mutu sehingga menghasilkan produk
yang bermutu secara konsisten dan
aman dikonsumsi.

c) Produksi yang dihasilkan dapat


berupa diversifikasi produk secara
vertikal maupun diversifikasi produk
secara horizontal (produk samping).
Produk yang dihasilkan harus
memenuhi standar produk yang ingin
dicapai secara konsisten.

27
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

4) Peningkatan Kompetensi SDM

Dalam rangka meningkatkan kinerja


UPH, maka perlu dilakukan pelatihan
secara internal dan mengikuti pelatihan
eksternal yang relevan

28
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

IV. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Jadwal pelaksanaan kegiatan daerah dapat dilihat


pada tabel 1 dan 2 berikut:

Table 1. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


Pengolahan Hasil Perkebunan di
Daerah Tahun 2016
Bulan
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Pembinaan, pengawalan
dan monitoring
pengolahan hasil
Perkebunan
2 Monitoring Evaluasi
Pengolahan Hasil
Perkebunan
3 Bimbingan Teknis
Pengolahan Hasil
Perkebunan

29
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Table 2 . Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penyediaan Alat dan Mesin Pengolahan


Perkebunan Tahun 2016
Bulan
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Penetapan SK CP/CL
2 Penetapan SK ULP/Tim Pengadaan Barang dan Jasa
3 Mengumumkan Rencana Pengadaan barang dan Jasa di E-
announcement
4 Melakukan proses pengadaan barang
5 Penetapan Pemenang pengadaan Barang dan Jasa & Kontrak
6 Pelaksanaan Pengadaan Barang
7 Pemeriksaan Barang (oleh Tim Penerima Barang)
8 Uji coba alat dan pelatihan Teknis
9 Running usaha komersial
10 Serah terima alat kepada poktan/gapoktan
11 Operasionalisasi peralatan
12 Monitoring dan Evaluasi

30
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

IV. PENGAWALAN DAN PEMBINAAN

Pengawalan dan pembinaan dilakukan secara


berkelanjutan, baik oleh Dinas Perkebuan Provinsi,
Kabupaten/kota maupun Pusat, sehingga
Poktan/gapoktan mampu mengoptimalkan
pemanfaatan sarana dan prasarana yang telah
diberikan. Pengawalan dan pembinaan ini perlu
didukung dana pembinaan lanjutan yang
bersumber dari APBN, APBD maupun sumber
pembiayaan lainnya.

Peran Dinas yang menangani di Provinsi dan


Kabupaten/kota sangat menentukan keberhasilan
kegiatan yang bersangkutan. Apabila diperlukan,
maka pengawalan dan pembinaan dimaksud dapat
melibatkan perguruan tinggi atau lembaga terkait
lainnya.

Kegiatan Pengawalan dan Pembinaan di masing-


masing tingkat mempunyai tugas sebagai berikut:

31
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

A. Tingkat Pusat
1. Menyusun pedoman teknis untuk
mengarahkan kegiatan-kegiatan dalam
mencapai tujuan dan sasaran yang
ditetapkan.
2. Menggalang kerjasama kemitraan dengan
Provinsi dan Kabupaten/kota dalam
melaksanakan advokasi, pengendalian,
pemantauan dan evaluasi.
3. Melaksanakan pengawalan, pembinaan dan
pemanfaatan alat dan mesin.
4. Menyusun laporan perkembangan kegiatan
pengolahan hasil perkebunan.
B. Tingkat Provinsi

1. Menyusun petunjuk pelaksanaan (Juklak)


kegiatan di Provinsi, yang mengacu kepada
pedoman teknis pusat.

2. Melaksanakan sinkronisasi dan koordinasi


lintas sektoral di tingkat
Provinsi/Kabupaten/kota dalam rangka
pengadaan alat dan mesin.

32
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

3. Melaksanakan pelatihan, bimbingan teknis,


dan manajemen alat dan mesin.

4. Menyusun dan melaporkan hasil


pemantauan dan pengendalian serta
menyampaikan laporan ke pusat (Direktorat
Jenderal Perkebunan cq Direktorat
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hasil
Perkebunan).

C. Tingkat Kabupaten/kota

1. Menyusun petunjuk teknis (Juknis) dengan


mengacu kepada pedoman teknis dan
petunjuk pelaksanaan (Juklak), disesuaikan
dengan kondisi teknis, ekonomi, sosial
budaya setempat (spesifikasi lokasi).

2. Melakukan sosialisasi dan seleksi calon


Poktan/gapoktan penerima alat dan mesin.

3. Melakukan pembinaan, pelatihan,


bimbingan teknis, dan manajemen
penggunaan alat dan mesin di daerahnya.

33
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

4. Melakukan pemantauan, pengendalian dan


evaluasi.

5. Menyusun dan melaporkan hasil pemantauan,


pengendalian, dan evaluasi ke Dinas
Perkebunan Provinsi dan Direktorat Jenderal
Perkebunan, Kementerian Pertanian.

34
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

V. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

Pelaporan kegiatan Pengembangan Pengolahan


Hasil Perkebunan merupakan salah satu bentuk
media penyampaian informasi terhadap
serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak
persiapan sampai akhir pelaksanaan. Melalui
laporan akan dilihat perkembangan pelaksanaan,
hasil pelaksanaan dan tingkat keberhasilannya.

Sistem monitoring, Evaluasi dan Pelaporan


dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri
Pertanian nomor 31/permentan/OT.140/3/2010
tanggal 19 Maret 2010 tentang Pedoman Sistem
Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan
Pembangunan Pertanian.

Dinas yang membidangi perkebunan kabupaten


dan provinsi wajib melakukan monitoring, evaluasi
dan pelaporan secara berjenjang dilaporkan
kepada Direktorat Jenderal Perkebunan cq.

35
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil


Perkebunan dengan ketentuan sebagai berikut:

A. Jenis Laporan

Tim Teknis Kabupaten/Kota dan Tim Pembina


Provinsi wajib membuat laporan tentang
pelaksanaan kegiatan yang terdiri dari:

1. SIMONEV yang meliputi:


Kemajuan pelaksanaan kegiatan sesuai
indikator kinerja
Perkembangan kelompok sasaran dalam
pengelolaan kegiatan lapangan berikut
realisasi fisik dan keuangan
Permasalahan yang dihadapi dan upaya
penyelesaian di tingkat Kabupaten dan
Provinsi.
2. Format Laporan menggunakan format yang
telah ditentukan seperti yang dapat dilihat di
lampiran 3 dan 4.

36
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

3. Laporan perkembangan fisik yang sesuai


tahapan pelaksanaan kegiatan dengan materi
meliputi: nama petani/kelompok
tani/gapoktan, desa/kecamatan/kabupaten,
luas areal (target dan realisasi), waktu
pelaksaan, perkembangan, kndala dan
permasalahan dan upaya pemecahan masalah.

4. Laporan akhir berisi realisasi kegiatan yang


berhasil dilaksanakan hingga akhir tahun
anggaran, permasalahan yang dihadapi dan
usulan tindak lanjut yang perlu dilakukan, yang
dibuat setelah program berakhir.

B. Waktu Penyampaian Laporan

1. Simonev dibuat per bulan dengan ketentuan:

Pelaporan dinas yang membidangi


perkebunan kabupaten ditujukan kepada
provinsi, disampaikan paling lambat tanggal 5
bulan laporan.

37
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Pelaporan dinas yang membidangi


perkebunan provinsi ditujukan kepada
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perkebunan, Direktorat Jenderal
Perkebunan, disampaikan paling lambat
tanggal 7 bulan laporan.

2. Laporan perkembangan fisik dibuat pertriwulan


ditujukan kepada Direktorat Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat
Jenderal Perkebunan, disampaikan paling
lambat tanggal 7 bulan laporan.

3. Laporan akhir ditujukan kepada Direktorat


Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan,
Direktorat Jenderal Perkebunan, disampaikan
paling lambat tanggal 31 Desember 2016.

38
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

VI. PENUTUP

Pedoman teknis ini merupakan acuan bagi Dinas


Perkebunan Provinsi maupun Kabupaten/kota,
dalam melaksanakan Kegiatan Dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan Pengolahan Hasil Perkebunan
TA 2016. Dinas Perkebunan Provinsi maupun
Kabupaten/kota diharapkan dapat menjabarkan
lebih lanjut dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan
dan Petunjuk Teknis.

Keberhasilan kegiatan Pengembangan Pengolahan


Hasil Perkebunan ini sangat tergantung kepada
komitmen semua pihak (stakeholder) yang terkait,
baik di tingkat pusat maupun daerah.

Dengan adanya pedoman teknis ini, diharapkan


akan meningkatkan koordinasi yang sinergis antara
Dinas Provinsi dan Kabupaten/kota dalam
melakukan pembinaan terhadap Pengembangan
Pengolahan Hasil Perkebunan Berkelanjutan.

39
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

LAMPIRAN

LAMPIRAN

40
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 1. Kuisioner Perkembangan Kelembagaan Kelompok


I. Data Dasar

Nama NamaKetua Waktu Nama Penilai,


No Gapoktan/UPH Gapoktan/ Penilaian Jabatan, No Ket
dan Alamat Manager UPH HP

II. Hasil Penilaian


Lembar Jawaban
Fakta di Lapang
No Kriteria (Lingkari salah Nilai
satu)
1 Sekretariat kelompok a b c d
2 Pengelola / Pengurus Kelompok a b c d
3 Administrasi Kelompok a b c d
4 Peraturan (AD/ART) a b c d
5 Rencana kerja Kelompok a b c d
6 Pertemuan Rutin Kelompok a b c d
7 Data perkembangan a b c d
8 Simpanan anggota kelompok a b c d
9 Usaha Kelompok a b c d
10 Monitoring dan Evaluasi Anggota Kelompok a b c d
11 Laporan Kondisi Anggota Kelompok a b c d
12 Laporan Kegiatan & Keuangan Kelompok a b c d
13 Kemitraan a b c d
14 Akses terhadap permodalan a b c d
TOTAL
Nilai : (a:0) (b:2,5) (c:5) (d:7,5) (e:10)

41
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Hasil Penilaian :
Perolehan Angka : Jumlah Jawaban
14

Status Gapoktan : a) 0 5 (Kelompok


(Berdasarkan Hasil Penilaian) Pemula)
: b) > 5 7,5
(Berkembang)
: c) > 7,5 (Mandiri)

42
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Kuesioner Kelengkapan Kelompok

1. Sekretariat kelompok
a. Belum ada
b. Ada tetapi tidak resmi
c. Ada tetapi tidak difungsikan
d. Ada tetapi masih tidak tetap dan berfungsi
e. Ada, alamat jelas, mudah dihubungi dan berfungsi
2. Pengelola / Pengurus Kelompok
a. Tidak berfungsi
b. Hanya ketua yang berfungsi yang lain tidak
c. Berfungsi seadanya
d. Berfungsi tetapi belum sepenuhnya
e. Berfungsi sesuai tugas masing-masing
3. Administrasi Kelompok
a. Belum ada
b. Sudah ada tetapi belum dijalankan pencatatannya
c. Kadang-kadang dicatat
d. Sudah ada tetapi belum tertib
e. Sudah ada dan tertib
4. Peraturan (AD/ART)
a. Belum mengerti
b. Baru ada aturan-aturan lisan
c. Sudah ada tetapi belum lengkap
d. Sudah ada, lengkap, belum disahkan dalam rapat
anggota
e. Sudah ada dan sudah disahkan pada rapat anggota
5. Rencana kerja Kelompok
a. Belum dibicarakan
b. Dibicarakan lisan saja
c. Dibicarakan dan tertulis per pekerjaan saja
d. Dibicarakan tertulis tetapi belum untuk 1 tahun
43
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

e. Dibicarakan , tertulis dengan jadwal pelaksanaan


selama 1 tahun
6. Pertemuan Rutin Kelompok
a. Tidak ada
b. Ada tetapi belum rutin
c. Ada tetapi pertemuan anggota saja yang rutin
d. Ada pertemuan anggota & pengurus rutin tetapi tidak
tercatat.
e. Ada rutin , pertemuan anggota setiap bulan , dan
pertemuan pengurus setiap minggu, tercatat.
7. Data perkembangan
a. Tidak ada
b. Kadang-kadang dicatat dibuku
c. Sudah ada tetapi belum rutin
d. Sudah ada , rutin, tetapi tidak dipasang di dinding
e. Ada dipajang di dinding dan rutin bulanan
8. Simpanan anggota kelompok
a. Belum ada
b. Simpanan pokok saja
c. Simpanan pokok dan wajib tetapi belum lengkap
d. Simpanan pokok dan wajib sesuai jadwal
e. Simpanan pokok dan wajib sesuai jadwal ditambah
simpanan sukarela
9. Usaha Kelompok
a. Tidak ada usaha kelompok hanya ada usaha anggota saja
b. Usaha kelompok baru simpan-pinjam secara sederhana
c. Usaha kelompok baru simpan-pinjam dari dana program
dan ditangani secara khusus.
d. Ada unit usaha lain berupa pemasaran hasil anggota
atau pengadaan sarana produksi untuk anggota
disamping simpan pinjam , dan ditangani secara khusus

44
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

e. Usaha simpan-pinjam, sarana produksi, pemasaran hasil,


dan lainnya dikelola secara terpisah, benar, dan
menghasilkan
10. Monitoring dan Evaluasi Anggota Kelompok
a. Belum dilakukan
b. Dilakukan pengurus, tidak rutin, dan tidak tercatat
c. Dilakukan pengurus, rutin, tidak tercatat
d. Dilakukan pengurus, rutin, tercatat, dibicarakan pada
rapat anggota
e. Dilakukan pengurus, rutin, tercatat, dibicarakan, dan
dilakukan tindak lanjut dari hasil monitoring dan
evaluasi tersebut.
11. Laporan Kondisi Anggota Kelompok
a. Belum ada
b. Ada, belum lengkap, dan tidak rutin
c. Ada , belum lengkap, tetapi rutin
d. Ada, lengkap, rutin, tidak selalu dibahas
e. Ada, lengkap, rutin, dan selalu dibahas
12. Laporan Kegiatan dan Keuangan Kelompok
a. Belum ada
b. Ada tetapi sederhana saja
c. Ada tetapi belum lengkap dan berubah-ubah
d. Ada, laporan kegiatan lengkap, laporan keuangan dalam
bentuk rugi laba dan neraca, tetapi sering terlambat.
e. Ada, laporan kegiatan lengkap, laporan keuangan dalam
bentuk rugi laba dan neraca dan diumumkan setiap
pertemuan anggota.
13. Kemitraan
a. Belum ada
b. Dalam proses pembicaraan saja (lisan)
c. Sudah dalam bentuk konsep tertulis
d. Sudah berhubungan(MoU/kontrak) tetapi belum berjalan
45
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

e. Sudah berjalan dengan baik.


14. Akses terhadap permodalan
a. Belum ada
b. Tahap perencanaan konsep
c. Sudah memulai penjajagan
d. Mengajukan proposal
e. Sudah terealisasi.

46
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Contoh Rencana Kerja Usaha Kelompok

Fakta di Waktu Monev/


No Indikator Target Rencana Kegiatan
Lapangan Pelaksanaan RTL
1 2 3 4 5 6 7
1 Sekretariat a) Belum ada e) Ada, alamat jelas, mudah - Penentuan lokasi sekretariat
Kelompok dihubungi dan berfungsi - Identifikasi kebutuhan sarana kerja
- Pengadaan sarana kerja
2 Pengelola / a) Tidak e) Berfungsi sesuai tugas - Menyusun Tupoksi
Pengurus Berfungsi masing masing - Pelatihan pelaksanaan tupoksi
kelompok
- Melaksanakan tupoksi
3 Administrasi a) Belum ada e) Sudah ada dan tertib - Membuat konsep untuk kartu anggota &
kelompok buku identitas anggota
- Pelatihan pendaftaran anggota
kelompok
- Pengadaan buku administrasi kelompok
- Pelatihan pengadministrasian
- Melakukan pengadministrasian dengan
tertib
4 Peraturan a) Belum e) Sudah ada dan sudah - Menyusun AD/ART
AD/ART mengerti disahkan pada rapat - Pembahasan dan Perbaikan AD/ART

47
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

anggota - Pengesahan AD/ART


- Sosialisasi AD/ART
- Pelaksanaan AD/ART
5 Rencana Keja a) Belum e) Dibicarakan, tertulis - Menyusun rencana kerja berdasarkan
Kelompok dibicarakan dengan jadwal hasil monev 14 Kriteria
pelaksanaan selama 1 thn - Sosialisasi rencana kerja selama 1 Tahun
- Pelaksanaan rencana kerja
6 Pertemuan a) Tidak ada e) Ada rutin, pertemuan - Membuat jadwal & agenda pertemuan
rutin anggota setiap bulan, anggota dan pengurus
kelompok pertemuan pengurus - Membuat format notulen
setiap minggu dan
tercatat - Pelatihan membuat notulen rapat
- Melaksanakan rapat dan membuat
notulen
7 Data a) Tidak ada e) Ada dipanjang di dinding - Mengidentifikasi kegiatan yang harus
perkembanga dan rutin bulanan dilaporkan
n - Membuat format dan jadwal pelaporan
- Menyiapkan sarana tempat pelaporan
- Pelatihan pencatatan laporan
- Membuat laporan perkembangan
keleompok setiap tanggal
8 Simpanan a) Belum ada e) Simpanan pokok dan - Sosialisasi tentang manfaat simpanan
anggota wajib sesuai jadwal di pokok,wajib & sukarela
kelompok tambah simpanan - Menentukan besarnya simpanan pokok,
sukarela wajib & sukarela
48
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

- Menentukan aturan tentang simpanan


pokok, wajib & sukarela
- Melakukan pencatatan simpanan pokok,
wajib & sukarela
9 Usaha a) Tidak ada e) Usaha simpan pinjam, - Identifikasi dan penentuan peluang
kelompok usaha sarana produksi, usaha
kelompok, pemasaran hasil dan - Pembuatan proposal usaha
hanya ada lainnya dikelola secara
usaha terpisah, benar dan - Sosialisasi proposal usaha
anggota saja menghasilkan - Penentuan penanggung jawab kegiatan
usaha
- Pelaksanaan usaha
- Pembagian sisa hasil usaha sesuai
AD/ART
10 Monitoring a) Belum e) Dilakukan pengurus, rutin, - Membuat daftar pertanyaan untuk
dan evaluasi dilakukan tercatat, dibicarakan dan monev
anggota dilakukan tindak lanjut - Menentukan jadwal monev
kelompok dari hasil monitoring dan
evaluasi tersebut - Pelatihan pelaksanaan monev
- Melakukan monev

11 Laporan a) Belum ada e) Ada, lengkap, rutin dan - Membuat format laporan kondisi
kondisi selalu dibahas anggota kelompok
anggota - Membuat laporan kondisi anggota
kelompok kelompok sesuai hasil monitoring
anggota kelompok

49
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

- Pembahasan hasil laporan dan


menyusun rencana tindak lanjut
- Melaksanakan rencana tindak lanjut
12 Laporan a) Belum ada e) Ada, laporan kegiatan - Pelatihan penyusunan laporan kegiatan
kegiatan & lengkap, laporan dan keuangan kelompok dalam bentuk
keuangan keuangan dalam bentuk rugi laba dan neraca
kelompok rugi laba dan neraca dan - Membuat laporan kegiatan dan
diumumkan setiap keuangan kelompok setiap akhir bulan
pertemuan anggota
13 Kemitraan a) Belum ada e) Sudah berjalan dengan - Identifikasi mitra
baik - Pelatihan penjajakan mitra
- Membuat MOU (Kontrak kerjasama)
- Pelaksanaan kerjasama
14 Akses a) Belum ada e) Sudah terealisasi - Identifikasi lembaga keuangan
terhadap - Pelatihan penjajakan lembaga keuangan
permodalan
- Membuat proposal
- Mengajukan proposal
- Realisasi penerimaan modal

Catatan :
Kolom 2 adalah kriteria dari 14 pertanyaan pada kuisioner penilaian kelembagaan.
Kolom 3 adalah fakta dilapangan sesuai hasil penilaian kelembagaan awal.

50
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Kolom 4 adalah target yang ingin dicapai sesuai dengan kemampuan usaha
kelompok.
Kolom 5 adalah perencanaan kegiatan untuk mencapai target berdasarkan pada
fakta awal yang ada dilapangan.
Kolom 6 adalah perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikan target.
Kolom 7 adalah evaluasi dari pelaksanaan kegiatan sesuai kolom 6 menggunakan 14
pertanyaan pada kuisioner penilaian kelembagaan sebagai dasar rencana tindak
lanjut atau rencana kerja usaha kelompok yang baru untuk mencapai target.

51
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 2. Kuisioner Perkembangan Usaha Kelompok

Perkembangan Usaha Kelompok


1. Sumber bahan baku :
a. Tidak dari kelompok
b. Dari kelompok 25%
c. Dari kelompok 26% - 50%
d. Dari kelompok 51% - 75%
e. Dari kelompok 76% - 100%
2. Ketersediaan bahan baku
a. 20% kapasitas produksi tercukupi
b. 21% - 40%kapasitas produksi tercukupi
c. 41% - 60% kapasitas produksi tercukupi
d. 61% - 80 % kapasitas produksi tercukupi
e. 81% 100 % kapasitas produksi tercukupi
3. Rata-rata Produksi per tahun
a. 20% target produksi
b. 21% 40% target produksi
c. 41% - 60% target produksi
d. 61% - 80% target produksi
e. 81% - 100% target produksi
4. Target produksi per tahun
a. 20% kapasitas terpasang
b. 21% 40% kapasitas terpasang
c. 41% - 60% kapasitas terpasang
d. 61% - 80% kapasitas terpasang
e. 81% - 100% kapasitas terpasang
5. Pelatihan dan komitmen penerapan GMP
a. Tidak ada pegawai yang mengikuti pelatihan GMP
b. Ada pegawai yang mengikuti pelatihan GMP secara
eksternal
c. Ada pelatihan GMP secara internal
d. Ada komitmen untuk menerapkan GMP setelah
pelatihan GMP internal
e. Sudah membentuk tim penerapan GMP
52
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

6. Sarana dan prasarana pengolahan hasil


a. Belum memenuhi persyaratan GMP
b. 25% memenuhi persyaratan GMP
c. 26%-50% memenuhi persyaratan GMP
d. 51%-75% memenuhi persyaratan GMP
e. 76%-100% memenuhi persyaratan GMP
7. Standar Operasional Prosedur (SOP) Proses
a. Belum ada
b. Sudah dibuat tapi belum disahkan
c. Sudah ada, sudah disahkan tapi belum diterapkan
d. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan tapi
belum tercatat
e. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan, dan
sudah tercatat
8. SOP Sanitasi (SSOP)
a. Belum ada
b. Sudah dibuat tapi belum disahkan
c. Sudah ada, sudah disahkan tapi belum diterapkan
d. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan tapi
belum tercatat
e. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan, dan
sudah tercatat
9. Program Kebersihan
a. Belum ada
b. Sudah dibuat tapi belum disahkan
c. Sudah ada, sudah disahkan tapi belum diterapkan
d. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan tapi
belum tercatat
e. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan, dan
sudah tercatat.
10. Produk olahan yang dihasilkan
a. Belum memenuhi standar yang dipersyaratkan
b. 25% memenuhi standar yang dipersyaratkan
c. 26%-50% memenuhi standar yang dipersyaratkan
d. 51%-75% memenuhi standar yang dipersyaratkan

53
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

e. 76%-100% memenuhi standar yang dipersyaratkan


11. Kemasan produk
a. Pengemasan masih seadanya
b. Bahan kemasan food grade tetapi desain kemasan
belum mampu melindungi produk secara benar.
c. Bahan kemasan food grade, desain kemasan sudah
mampu melindungi produk tetapi labelnya belum
memenuhi persyaratan
d. Bahan kemasan food grade, desain kemasan mampu
melindungi produk, label memenuhi persyaratan
tetapi belum menarik
e. Kemasan mampu melindungi produk, bahannya food
grade, memenuhi persyaratan pelabelan, dan sudah
menarik
12. Pemasaran Produk yang dihasilkan
a. Belum ada pasar yang jelas
b. pasar di tingkat lokal (desa)
c. Pasar tradisional tingkat kecamatan
d. Sudah ada kemitraan untuk pasar dalam negeri
e. Sudah ada kemitraan untuk pasar dalam negeri dan
ekspor
13. Pengelolaan Limbah
a. sudah diolah dan dimanfaatkan
b. 26%-60% limbah Belum dilakukan
c. 25% limbah sudah diolah dan dimanfaatkan
d. 61%-100% limbah sudah diolah dan dimanfaatkan
e. Sudah diolah dan menjadi usaha baru

54
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lanjutan Lampiran 1b
LEMBAR JAWABAN
Tanggal _____Bulan__________Tahun ______
Data Dasar
1. Nama kelompok :
2. Alamat :
3. Pengurus :
a. Ketua :
b. Sekretaris :
c. Bendahara :

1 a b c d e 8 a b c d e
2 a b c d e 9 a b c d e
3 a b c d e 10 a b c d e
4 a b c d e 11 a b c d e
5 a b c d e 12 a b c d e
6 a b c d e 13 a b c d e
7 a b c d e

Yang menilai :
Nama :

Cara penilaian dan pengkelasan usaha kelompok :


1. Nilai a = 0, nilai b = 2,5, nilai c= 5, nilai d = 7,5 dan nilai e = 10
2. Jumlahkan hasil penilaian untuk 10 kriteria, kemudian dihitung rata-
ratanya dengan membagi 10
3. a. Jumlah rata-rata antara 0 - 5 dikategorikan usaha kelompok pemula
b. Jumlah rata-rata antara > 5 - 7,5 dikategorikan usaha kelompok
berkembang c. Jumlah rata-rata antara > 7,5 dikategorikan usaha
kelompok mandiri
4. Hasil penilaian dan pengkelasan ini dapat dijadikan sebagai pedoman
untuk membuat rencana kerja kelompok dengan contoh format
sebagai berikut :

55
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Contoh Rencana Kerja Perbaikan Rencana Kerja di Kelompok

Waktu Monev/
No Indikator Fakta di Lapangan Target Rencana Kegiatan
Pelaksanaan RTL
1 2 3 4 5 6 7
1 Sumber bahan b) Tidak dari f) Dari kelompok - Identifikasi sumber bahan baku - 1 tahun sesuai
baku kelompok 76%-100% lainnya program yang
- Menambah anggota kelompok disusun
pemilik bahan baku
- Melakukan pencatatan
pengadaan bahan baku dengan
formulir yang mampu telusur
2 Ketersediaan a) 20% kapasitas e) 81%-100% - Identifikasi sumber bahan baku - 1 tahun sesuai
bahan baku produksi kapasitas produksi - Menjalin kerjasama dengan program yang
tercukupi tercukupi penyedia bahan baku disusun
- Melakukan upaya peningkatan
produksi dan produktivitas
(ekstensifikasi dan intensifikasi)
- Mendokumentasikan program
diatas
3 Rata-rata produksi b) 20% f) 81% 100% target - Menyusun program kerja - 1 tahun sesuai
olahan per tahun kapasitas produksi produksi pengolahan hasil per tahun program yang
- Sosialisasi rencana kerja selama disusun
1 Tahun kepada semua
anggota/pengelola
56
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

- Memperluas akses bahan baku


- Memperluas pangsa pasar
- Mengikuti promosi/pameran
- Mendokumentasikan program
diatas
4 Target produksi a) 20% e) 81% 100% - Menyusun program kerja - 1 tahun sesuai
per tahun kapasitas terpasang kapasitas terpasang pengolahan hasil per tahun program yang
- Sosialisasi rencana kerja selama disusun
1 Tahun kepada semua
anggota/pengelola
- Memperluas pangsa pasar
- Memperluas akses bahan baku
- Mendokumentasikan program
diatas
5 Pelatihan dan b) Tidak ada pegawai f) Sudah membentuk - Mengikuti pelatihan GMP secara - 1 tahun sesuai
komitmen yang mengikuti tim penerapan GMP eksternal program yang
penerapan GMP pelatihan GMP - Mengadakan pelatihan GMP disusun
secara internal
- Melakukan sosialisasi rencana
penerapan GMP kepada
karyawan
- Membentuk tim penyusun
dokumen penerapan GMP
- Membuat dokumentasi
pelaksanaan penerapan GMP

57
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

6 Sarana dan a. Belum memenuhi e) 76%-100% memenuhi - Identifikasi sarana prasarana - 1 tahun sesuai
prasarana persyaratan GMP persyaratan GMP yang rusak/tidak memenuhi GMP program yang
pengolahan hasil - Revitalisasi sarana prasarana disusun
yang rusak/tidak memenuhi
standar GMP
- Menambahkan sarana yang
kurang
- Membuat program dan
pencatatan pelaksanaan
kegiatan
7 SOP Proses b) Belum ada f) Sudah ada, sudah - Tim GMP menyusun SOP Proses - 1 tahun sesuai
disahkan, sudah - SOP proses dibahas secara program yang
diterapkan, dan internal disusun
sudah tercatat
- Perbaikan SOP proses
- Verifikasi SOP proses
- Pengesahan SOP proses
- Pelaksanaan SOP proses
- Pencatatan dan dokumentasi
penerapan SOP proses
8 SOP Sanitasi b) Belum ada f) Sudah ada, sudah - Tim GMP menyusun SOP sanitasi - 1 tahun sesuai
disahkan, sudah - SOP sanitasi dibahas secara program yang
diterapkan, dan internal disusun
sudah tercatat
- Perbaikan SOP sanitasi
- Verifikasi SOP sanitasi

58
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

- Pengesahan SOP sanitasi


- Pelaksanaan SOP sanitasi
- Pencatatan dan dokumentasi
penerapan SOP sanitasi
9 Program a) Belum ada e) Sudah ada, sudah - Tim GMP menyusun program - 1 tahun sesuai
Kebersihan disahkan, sudah kebersihan program yang
diterapkan, dan sudah - program kebersihan dibahas disusun
tercatat secara internal
- Perbaikan program kebersihan
- Verifikasi program kebersihan
- Pengesahan program kebersihan
- Pelaksanaan program kebersihan
- Pencatatan dan dokumentasi
penerapan program kebersihan
10 Produk olahan a) belum memenuhi e) 76%-100% - Membuat standar internal atau - 1 tahun sesuai
yang dihasilkan standar yang memenuhi standar mengadopsi SNI sebagai acuan program yang
dipersyaratkan yang dipersyaratkan standar produk yang akan disusun
dihasilkan
- Membuat prosedur verifikasi
kesesuaian produk
- Melakukan verifikasi kesesuaian
standar produk(visual dan atau
uji lab)
- Dokumentasi kegiatan

59
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

11 Kemasan produk b) Kemasan masih f) Kemasan mampu - Evaluasi - 1 tahun sesuai


seadanya melindungi - Mencari informasi tentang program yang
produk, bahannya kemasan dan pelabelan disusun
food grade,
memenuhi - Merencanakan perbaikan
persyaratan kemasan dan label
pelabelan, dan - Memperbaiki kemasan dan label
sudah menarik - Pencatatan dan dokumentasi
kegiatan
12 Pemasaran produk b) Belum ada pasar f) Sudah ada - Identifikasi pasar - 1 tahun sesuai
yang dihasilkan yang jelas kemitraan untuk - Menyusun rencana/strategi program yang
pasar dalam negeri pemasaran disusun
dan ekspor
- Melakukan kemitraan
- Melakukan promosi
- Pencatatan dan dokumentasi
kegiatan
13 Pengelolaan b) belum dilakukan f) sudah diolah dan - Identifikasi pemanfaatan limbah - 1 tahun sesuai
limbah menjadi usaha - Merancang program pengolahan program yang
baru limbah disusun
- Membuat SOP Pengolahan
Limbah menjadi produk samping
- Melatih petugas pengelolaan
limbah
- Mengolah, memanfaatkan, dan
memasarkan hasil olahan limbah
(produk samping)
60
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 3. Form Monitoring Pelaksanaan Kegiatan Dekonsentrasi

MONITORING PELAKSANAAN KEGIATAN DEKONSENTRASITA 2016

Dinas Propinsi :
Bulan :
Tanggal laporan :
Realisasi
No Kabupaten/Kota Kegiatan Pagu anggaran Fisik Keuangan Kendala RTL
Target Realisasi Rp %

RTL = Rencana Tindak Lanjut

61
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 4. Form Monitoring Pelaksanaan Kegiatan Tugas Pembantuan

MONITORING PELAKSANAAN KEGIATAN TUGAS PEMBANTUANTA 2016

Dinas Propinsi :
Bulan :
Tanggal laporan :
Realisasi
No Kabupaten/Kota Kegiatan Pagu Fisik Keuangan Kendala RTL
Anggaran Target Realisasi Rp %

RTL = Rencana Tindak Lanjut

62
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 5. Monitoring Perkembangan Poktan/Gapoktan Penerima Sarana Peralatan


Pengolahan Perkebunan

Propinsi :
Kapasitas
Pemasaran
Produksi
Sertifikasi
Nama Gapoktan Jenis Produksi
Kab Jenis Uph & Tahun Jaminan Upaya
No Alamat, Cp Dan Olahan & Merk Kendala
/Kota
Hp
Bantuan Alat Penerimaan
Dagang
Mutu/ Nama Penanganan
Ter Ter Perijinan*) mitra Tujuan
pasang pakai
usaha

*)Sertifikasi Jaminan Mutu : GHP/GMP/HACCP/ISO


Perijinan : ML/MD
63
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 6. Formulir verifikasi CP/CL (Poktan/Gapoktan)


Data verifikasi CP/CL (Poktan/Gapoktan)

I. Data Umum

Nama Poktan/Gapoktan :
Jumlah Kelompok :
Alamat (Desa, Kec, Kab, Prop) :
Komoditi :
Luas Areal Gapoktan :
Produksi :
Jumlah Anggota :
Ketersediaan air bersih :
Ketersediaan listrik :
Kesesuaian Lokasi :
Fasilitas Penanganan Limbah :
Fasilitasi sarana sebelumnya : ( ada/tidak ada), Sumber bantuan
........., tahun......
Registrasi/sertifikasi produk olahan dari instansi penerbit seperti Dinas
Kesehatan, Dinas Pertanian, BPOM : (ada/tidak ada) Sumber
sertifikasi...............,tahun.......

64
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

II. Kondisi UPH Saat ini


Sarana Yang dimiliki
Volume Alsin yang
Nama Ketersediaan Kemasan/
Produksi dimiliki
No produk Bahan Kondisi Pemasaran Ruang
/(..../.... (kapasitas
olahan Baku/Hari Kemasan prosesing
) terpasang
/..../....)
Luas :...
Kondisi
:...
Status
lahan :

Catatan : ................................................................

III. Fasilitasi UPH yang diusulkan

Sarana Yang diusulkan*


Nama Ketersediaan Volume Rencan Alsin yang
Bahan Baku Rencana
produ Produksi a diusulkan
No Pemasar
k (.../...) Kemas Ruang prosesing (kapasitas
(..../...) an
olahan an terpasang
/..../....)
Revitalisasi 1.......
(...m2) :... 2......
Pembangunan 3.......
baru (...m2) :...
Status lahan :

Catatan :
*Sarana dan Prasarana harus memenuhi standar GMP
Informasi lainnya : ..................................................................

65
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

IV. Rekomendasi tim verifikasi


(verifikator,petugas pendamping kabupaten, propinsi) :
.................................................................................
.................................................................................
.................................................................................

Petugas verifikator Petugas Pendamping Petugas pendamping


Dinas Kabupaten Dinas Propinsi

(........................) (.........................) (........................)

66
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 7. Contoh Rencana Usaha Kegiatan Kelompok


(RUKK)
Rekapitulasi RUKK Gapoktan
DINAS PERKEBUNAN PROVINSI
Dana Tugas Pembantuan Tahun .

Kelompok
Pagu
No Nama barang Penerima Volume
(Rp)
Bantuan/Alamat
Fasilitasi Pengolahan
Kelapa
1 Mesin Parut Kelapa 2 Unit
2 Mesin Pemeras Santan 1 unit
3 Mesin Penyaring Minyak 1 Unit
Kelapa
4 Mesin 1 unit
Pengemas/Pengunci
Tutup Botol
Mesin
5 Pemurni Minyak Kelapa 1 unit

6 ............................ ... unit

7 ............................ ... unit

Menyetujui, Mengetahui,
1. Poktan/Gapoktan : Kepala Dinas
Prop/Kab/Kota


2. Tim Teknis Kab/Kota :

3. Tim Teknis Prop :

67
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 8. Daftar Lembaga yang Berwenang


Mengeluarkan Test Report
No Lembaga / Laboratorium Alamat Prioritas Pengujian
1 Balai Pengujian Mutu Alat Jl. Lio Sawah Indah Alsin Pra Dan Pasca
Dan Mesin Citayam, Bojong Pondok Panen
Terong, Pancoran Mas,
Depok 16431
2 Balai Besar Pengembangan Situgadung, Legok, Tromol Alsin Pra Dan Pasca
Mekanisasi Pertanian Pos 2 Serpong Tangerang- Panen
Banten
3 Pusat Penelitian Kopi Dan Jl. PB. Sudirman No. 90, Alsin Pra Panen,
Kakao Jember 68118, Jawa Timur Panen, Dan Pasca
Panen Kopi Dan
Kakao
4 Pusat Penelitian Teh Dan Gambung, Kotak Pos 1013, Alsin Pra Panen,
Kina Bandung 40010, Jawa Barat Panen, Dan Pasca
Panen Teh Dan Kina
5 Pusat Penelitian Kelapa PO BOX 1103, Medan 2001, Alsin Pra Panen,
Sawit Jl. Brigjen Katamso No. 51, Panen, Dan Pasca
Medan 20158, Sumatera Panen Kelapa Sawit
Utara
6 Balai Penelitian Teknologi Jl. Salak No. 1 Bogor 16151, Alsin Pra Panen,
Karet Bogor Jawa Barat Panen, Dan Pasca
Panen Karet
7 Pusat Penelitian Perkebunan Jl. Pahlawan 25 Pasuruan, Alsin Pra Panen,
Gula Indonesia 67126 Jawa Timur Panen, Dan Pasca
Panen Gula
8 Balai Penelitian Tanaman Kotak Pos 1004, Manado, Alsin Pra Panen,
Kelapa Dan Palma Lain 95001 Panen, Dan Pasca
Mapanget Panen Kelapa
9 UPTD. Balai Pengembangan Jl. Darmaga, Bojong Picung, Alsin Pra Panen dan
Mekanisasi dan Teknologi Cihea, Kab. Cianjur, Jabar. Pasca Panen Tanaman
Pertanian, Cihea, Jabar Tel. 0263-322358. Pangan
10 Laboratorium Teknologi Jl. Bandung-Sumedang Km. 21, Alsin Pra Panen dan
Pertanian, Universitas Jatinangor Sumedang, Tel. Pasca Panen
Padjadjaran, Bandung 022-7798844.

68
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

No Lembaga / Laboratorium Alamat Prioritas Pengujian

11 Laboratorium Pasca panen, Jl.Sosio Yustisia Bulak Alsin Pasca Panen


Fakultas Teknologi Sumur Yogyakarta, 55281, Tanaman Pangan
Pertanian, Universitas Gajah Tel. 0274-563542
Mada, Yogyakarta
12 Laboratorium Alat dan Mesin Kampus IPB Dramaga, PO. Alsin Pra Panen
Budidaya Pertanian, Institut Box 220 Bogor, 16220. Tel.
Pertanian Bogor 0251-627931.
13 Balai Pengujian Mutu Pakan Jl. MT. Haryono, SETTU. Alsin Peternakan.
Ternak. Bekasi.
14 UPTD. Balai Mekanisasi Jl. Syeikh Jamil Jambek Alsin Pra Panen dan
Pertanian Tanaman Pangan Bukittinggi, telp. (0752) Pasca Panen
dan Hortikultura 22823 Tanaman Pangan
dan Hortikultura
15 UPTD. Perbengkelan dan Jl. AH. Nasution No.7, Alsin Pra Panen dan
Pelatihan Alsintan, Dinas Medan, SUMUT, Telp. Pasca Panen
Pertanian SUMUT (061)7862124 Tanaman Pangan

69
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 9. Contoh Spesifikasi Sarana, Alat dan Mesin


Pengolahan Perkebunan

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN PERKEBUNAN


KARET
NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI
1 Slub Cutter (Alat Kapasitas : 300-500 Kg/ Jam
Pemecah)
Dimensi : 1200 x 600 mm
Penggerak : DIESEL 23 pk
Material : Rangka = Mild Steel
Pisau : HSS
Fungsi : Memecah bahan baku
menjadi kuran sedang (4
bagian)
2 Creepers (Alat Pemadat) Kapasitas : 100-200 Kg/ Sheift
Material : Mild Steel, UNP 100
Fungsi : Memadatkan keseragaman
bahan baku dengan proses
mikro dan menjadikannya
dalam bentuk lembaran
3 Gerobak Dorong Kapasitas angkut : 50-100 Kg
Ukuran Roda : 300-325,8
Velg Roda : Besi Tebal
4 Pembeku Lateks Bahan : Yang direkomendasikan
lembaga berwenang
5 Bak Pembeku Bahan Bak : Alumunium
Tebal bahan bak : 0,8 mm
Ukuran Bawah : 30 x 30 cm
Ukuran atas : 50 x 50 cm
Tinggi bak : 40 cm
6 Mangkok sadap Bahan bak : Plastik/ Pilyproline
70
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Volume : 500 ml
Diameter atas : 11 CM
Tinggi : 9 cm
7 Talang sadap Bahan : Seng
Ketebalan : 0,2 MM
Jumlahgerigi : 6-8 buah
pangkal
Lebar : 4 cm
Panjang : 7 cm
8 Pisau sadap Bahan : Baja kualitas tinggi
Sudut mata : 55"
dalam
Tinggi lipatan : 1,5 cm
mata
Tinggi lengkung : 7 cm
pisau
Panjang : 10 cm
lengkungan
Lebar Pisau : 8,1 cm
Lebar mata : 1,7 cm
pisau
Tebal pisau : 0,2 cm
Tebal mata : 0, 1 cm
pisau
9 Timbangan Duduk Kapasitas : 500 Kg
Luas kantai : 37 x 53 cm
timbang
Tinggi : 100 cm
Timbangan
Tinggi lantai : 60 cm
Tinggi pagar : 60 cm
Bahan : Besi
Roda : 4 bh

71
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

10 Gancu Besi ukuran : 50 cm


Gagang gancu : Besi bulat
Panj gagang : 10-12 cm
pegangan
11 Cincin mangkok Bahan : Kawat
Diamater : 100 mm
Kawat : Kaki dan pengait
12 Bak Plastik Diameter : 60-70 mm, T : 60-70 cm

72
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN PERKEBUNAN


Tebu (Pengolahan Gula Merah)
NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI
1 Alat Penggilingan Tebu Type Silinder
Bahan Besi Cor, Besi Baja
dan Kuningan
2 Pompa air Daya : 125 watt
3 Wajan / Kawah Dimensi : Diameter 1000 cm
Radius : R 533 mm
Plat Utuh SS 304
Tebal : Min 4 mm (sertifikat)
4 Tutup Kawah / Cerobong Dimensi
diameter : 805 mm
Tinggi : 410 mm
Plat SUS 304
tebal : min 0.5 mm
5 Bailer / Centung Dimensi : 320 x 285 x 150 mm
Plat SUS 304 Tebal : 0.5 mm
6 Mesin Molen Pengaduk Gula Dimensi : 3464 x 118 x 1050 mm
Bak Gula : Plate SUS 304 tebal 2 mm
Frame : UNP 80 mm
Penggerak : Min 8 HP ber SNI
Sistem pengaduk spiral :
Material : SUS 304 diameter As
Spiral 20 mm
Dilengkapi kopling untuk memutar as pengaduk dan ulir
ke atas dan ke bawah
Diberi roda 4 buah dan pengunci roda
7 Meja Cetakan Gula Merah Dimensi : Min 2100 x 900 x
850 mm
Rangka mild steel :
Square pipe : 30 x 30 mm
Base Palte SS 304 tebal : minimal 2 mm

73
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN


PERKEBUNAN
Kakao (alat Pengolahan Coklat)

NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI


1 Roaster -Kapasitas : 10 - 30 kg/batch
Motor penggerak : Motor listrik
2 Mesin Pemecah Kulit dan Kapasitas : 10-50 kg/jam
Pemisah biji Kakao Sangrai Tipe : silinder berputar
Corong pemasukan : plat stainless steel
Motor penggerak : motor listrik
3 Pemasta kasar Kapasitas 20-80 kg/jam
Motor penggerak : motor listrik
4 Pemasta Halus (Ball Mill) Kapasitas : 10-25 kg/batch
Motor penggerak : motor listrik
5 Choncing Kapasitas : 10-20 kg/batch
Motor penggerak : motor listrik

74
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN


PERKEBUNAN
Kelapa (Alat pengolahan minyak kelapa)

NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI


1 Mesin parutan kelapa - Kapasitas : 30-50 btir/jam
- Penggerak : Motor penggerak
2 Mesin press santan - Kapasitas : 5 kg/press
manual
- Penggerak : Manual
3 Pemisah air dan minyak - Kapasitas : 3-5 liter/proses
4 Cooking Oil plan - Kapasitas : 500 liter - 1000 liter/hari
5 Oven
6 Ayakan Listrik Panjang : 140 cm
Lebar : 60 cm
Tinggi : 90 cm
Dimensi : 80 cm x 42 cm
pengayak
Penggerak : single phase 750 W 1400
dynamo listrik rpm
7 Timbangan digital Model AL - B : 48 x 62 cm
Platform
Power
rechargable
Display LED
Kapasitas : 300 kg
8 Continous Sealing
9 Wajan/Katel Ukuran Diameter : 68 cm
Bahan : galpanis

75
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN


PERKEBUNAN
Kopi ( Pengolahan kopi bubuk)

NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI


1 Mesin Penyangrai Kapasitas 5 50 kg/jam
(Roaster) Motor Penggerak SNI
Silinder sangrai : plat stainless steel
Pengaduk dalam silinder : plat stainless steel
Sumber pemanas : kayu bakar/burner
LPG/minyak tanah
2 Mesin Pembubuk Kapasitas : 15-60 kg/jam
Motor Penggerak ber SNI
3 Mesin Pengemas otomatis Kapasitas : 40 100 pack/menit
Sistem pengoperasian : otomatis
Penggerak : motor listrik

76
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN PERKEBUNAN


SAGU
No NAMA ALSIN SPESIFIKASI

1. Mesin pres sagu Lebar Rangka : 104 CM


Tinggi Rangka : 175 CN
Volume Tabung : 20 Kg (2 Tabung)
Hidrolik : 50 Ton
Catatan : Bahan Kerangka Besi (H : 15
CM) dan Tabung Stainlis Stell
2. Mesin pemeras Kapasitas : 50 Kg Sagu Parutan
sagu (Extruder)
Bahan Tabung : Stainles Stell

Waktu Pemerasan : 50 Kg/ 25 Menit


Kerangka : Besi
Saringan : Mess 80 (Bahan Stainlis Stell)

3. Portable Mesin Bahan : Stainles Stell


(Parut)
Motor Penggerak : B&S Vertikal 670 Kekuatan 6
PK, 9 HP
Waktu Pemerasan : 1 Jam/ Proses
Kerangka : Sasis dan Pegangan bahan
dasarnya besi
Bahan Bakar : Bensin

77
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 10. Laporan Running Usaha Komersil

Provinsi : .....................................
Kabupaten/Kota : .....................................
Nama Poktan/ Gapoktan : .....................................
Alamat : .....................................

I. Pembelian Bahan Baku

Asal Bahan
No. Jenis Bahan Baku Volume (Kg) Harga (Rp)
Baku

Total

II. Kesesuaian Alat dengan Spesifikasi

Jenis Perbaikan dan


Tidak
No. Jenis Alat Sesuai Target Penyelesaian
Sesuai
Bila Tidak Sesuai

Total

Jelaskan secara rinci bila tidak sesuai ...............................

III. Hasil Uji Coba Komersial


A. Pelaksanaan
1. Penggunaan alat (pilih salah satu jawaban) :
a. Dengan mudah dapat digunakan oleh Gapoktan
b. Penggunaan alat oleh Gapoktan/Poktan masih perlu
pendampingan
c. Ada kendala yang tidak dapat diperbaiki saat uji coba
komersil, target penyelesaian perbaikan alat pada
tanggal.....

78
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

2. Kapasitas produksi dibandingkan kapasitas terpasang (pilih salah


satu jawaban): a). 100% b).90-99% c)<90%, Yaitu.......%
B. Produksi Produk Olahan

Total Harga
No. Jenis Produk Volume (Kg) Harga (Rp)
Jual (Rp)

Total

IV. REKOMENDASI
a. .
b. .
c. .
d. .
e. .
..........,......... 2016

PT Penyedia Barang Ketua Kelompok/ Tim Teknis


Gapoktan
1. ......................

2. ......................

(....................) (.......................) 3. .......................

79
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 11. Naskah Ikatan Kerjasama Pengelolaan Barang


antara Dinas Perkebunan Propinsi dengan Gapoktan...

NASKAH IKATAN KERJASAMA PENGELOLAAN BARANG

Pada hari ini ., tanggal , bulan .........


tahun.., yang bertandatangan dibawah ini :
1. Nama : ..........................
Jabatan : Kepala Dinas
PerkebunanPropinsi........................
Alamat : .........................
Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA
2. Nama : .........................
Jabatan : Ketua Kelompok tani/ Gapoktan ..
Alamat : .........................
Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA)
Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Barang Nomor :
........., tanggal .......... tentang bantuan sarana pengolahan
dan pemasaran hasil pertanian yang bersumber dari APBN TA
2016 Satker Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian mata anggaran
kegiatan ...... sebanyak 1 (satu) set dengan spesifikasi teknis
terlampir, maka kedua belah pihak sepakat untuk
mengadakan ikatan kerjasama pengelolaan barang dalam
rangka mengoptimalkan penggunaan/pemanfaatan peralatan
tersebut dengan ketentuan sebagai berikut :
1. PIHAK PERTAMA berkewajiban :
a. Melakukan pencatatan, pembukuan dan
pengadministrasian barang serta keuangan dalam dalam
buku inventarisasi barang intern Satker Dinas
Perkebunan daerah bukan aplikasi SAI (SABMN)
b. Melakukan pembinaan, bimbingan teknis dan
manajemen, pelatihan, pengawalan (supervisi),
80
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

pendampingan, monitoring dan evaluasi kepada


kelompok tani/ gapoktan penerima bantuan
...........................
c. Melakukan pelatihan dan pendampingan kepada
Gapoktan di bidang pengolahan hasil tanaman pangan.
2. PIHAK KEDUA akan mendayagunakan peralatan yang
diberikan dengan cara :
a. Mengadministrasikan/mencatat/membukukan semua
kegiatan usaha pemanfaatan termasuk administrasi
keuangan baik penerimaan maupun pengeluarannya.
b. Membuat dan menyampaikan laporan secara berkala
setiap 3 (tiga) bulan kepada Pihak Pertama (Kepala
Dinas Pertanian Kabupaten/Kota).
3. Apabila PIHAK KEDUA tidak melaksanakan kewajibannya
sesuai dengan kesepakatan yang telah ditetapkan, maka
peralatan tersebut akan ditarik oleh PIHAK PERTAMA untuk
dialihkan ke Gapoktan lain agar lebih bermanfaat.
Naskah Ikatan Kerjasama ini berlaku selama 5 (lima) tahun
atau selama umur ekonomis peralatan ...... sejak
ditandatangani, dan dibuat rangkap 5 (lima) yang masing-
masing mempunyai kekuatan hukum yang sama dan 2 (dua)
diantaranya bermaterai cukup.

Demikian Ikatan Kerjasama ini dibuat dan ditandatangani


oleh kedua belah pihak.
PIHAK KEDUA PIHAK PERTAMA
Ketua GAPOKTAN Kepala Dinas
PerkebunanProvinsi
( )
( )
NIP. ..

81
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 12. Contoh Berita Acara Pemeriksaan Barang


BERITA ACARA PEMERIKSAAN BARANG
Nomor : .....................................................

Pada hari ini, hari ........., tanggal ........................, bulan


.........................., tahun dua ribu empat belas, yang bertanda tangan
di bawah ini :

Nama : Tim Pemeriksa Hasil Pengadaan Pengolahan Hasil


Perkebunan
pada Dinas Perkebunan Propinsi ................................
Alamat : .................................................... (ditulis lengkap)
Menyatakan telah melakukan pemeriksaan pengadaan ........di Propinsi
........................ sebanyak ........ dalam kondisi baru, baik, lengkap
dan dapat dioperasikan (hasil pemeriksaan terlampir).

Demikian Berita Acara Serah Pemeriksaan ini dibuat dan ditandatangani


oleh Tim Pemeriksa pada hari, tanggal, bulan, dan tahun seperti tersebut
di atas.
Tim Pemeriksa Barang

1.............................., ......................

2. ............................., ......................

3. ............................., ......................

82
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 13. Contoh Berita Acara Serah Terima Barang


dari Rekanan ke Dinas Perkebunan
BERITA ACARA SERAH TERIMA BARANG
Nomor : ............................
Pada hari ini, hari ........., tanggal ........................, bulan
.........................., tahun dua ribu empat belas, yang
bertanda tangan di bawah ini :
1. Nama : ................................................
Jabatan : PT.............................................
Alamat : ................................................
................................................
............................. (ditulis lengkap)
Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA
2. Nama : Tim Penerima ..............................
pada Dinas Perkebunan Propinsi .........
Alamat : ................................................
................................................
.............................. ditulis lengkap)
Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA
Dengan ini menyatakan bahwa :
1. PIHAK PERTAMA, telah menyerahkan ....... sebanyak
....... kepada PIHAK KEDUA dengan spesifikasi teknis
terlampir.
2. PIHAK KEDUA telah menerima penyerahan ....... tersebut
dalam kondisi baru, baik, lengkap dan dapat dioperasikan
sesuai hasil pemeriksaan terlampir
3. Jenis alat adalah hasil pengadaan barang pada Satuan
Kerja .......yang bersumber dari .......... : Nomor :

83
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

........, tanggal............., sesuai kontrak nomor :


............, tanggal .................................
Demikian Berita Acara Serah Terima (BAST) Barang ini dibuat
dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dan mempunyai
kekuatan hukum sama.
........................,......
......... 2016
PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA
Direktur Utama Tim Penerima Barang;
PT. ......................
1. .....................,

2. .....................,
( .................................)
3. .....................,
Catatan : BAST ini dibuat dalam 6 (enam) rangkap dengan 2
(dua) lembar bermaterai Rp. 6000,- (enam ribu rupiah)

84
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....... Error! Bookmark not defined.


DAFTAR ISI i
DAFTAR LAMPIRAN ................................................. iii
I. PENDAHULUAN ..................................................... 1
A. Latar Belakang .................................. 1
B. Tujuan dan Sasaran ............................. 4
II. ISTILAH DAN DEFINISI ......................................... 6
III. PELAKSANAAN KEGIATAN ................................ 10
1. Pembinaan, Pengawalan dan
Pendampingan Pengolahan Hasil
Perkebunan ..................................... 10
2. Monitoring dan Evaluasi Pengolahan
Hasil Perkebunan............................... 11
3. Bimbingan Teknis Pengolahan Hasil
Perkebunan ..................................... 13
4. Penyediaan Alat Pengolahan Hasil
Perkebunan ..................................... 16
IV. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN ................. 29
IV. PENGAWALAN DAN PEMBINAAN ...................... 31
A. Tingkat Pusat ................................... 32
B. Tingkat Provinsi ................................ 32
C. Tingkat Kabupaten/kota ...................... 33
V. MONITORING, EVALUASI DAN
PELAPORAN ..................................................... 35
VI. PENUTUP .......................................................... 39
LAMPIRAN ............................................................. 40
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuisioner Perkembangan


Kelembagaan Kelompok ................ 41
Lampiran 2. Kuisioner Perkembangan Usaha
Kelompok................................. 52
Lampiran 3. Form Monitoring Pelaksanaan
Kegiatan Dekonsentrasi ................ 61
Lampiran 4. Form Monitoring Pelaksanaan
Kegiatan Tugas Pembantuan .......... 62
Lampiran 5. Monitoring Perkembangan
Poktan/Gapoktan Penerima
Sarana Peralatan Pengolahan
Perkebunan .............................. 63
Lampiran 6. Formulir verifikasi CP/CL
(Poktan/Gapoktan) ..................... 64
Lampiran 7. Contoh Rencana Usaha Kegiatan
Kelompok (RUKK) ....................... 67
Lampiran 8. Daftar Lembaga yang Berwenang
Mengeluarkan Test Report ............. 68
Lampiran 9. Contoh Spesifikasi Sarana, Alat
dan Mesin Pengolahan
Perkebunan .............................. 70
Lampiran 10. Laporan Running Usaha
Komersil .................................. 78
Lampiran 11. Naskah Ikatan Kerjasama
Pengelolaan Barang antara Dinas
Perkebunan Propinsi dengan
Gapoktan... ........................ 80
Lampiran 12. Contoh Berita Acara
Pemeriksaan Barang .................... 82
Lampiran 13. Contoh Berita Acara Serah
Terima Barang dari Rekanan ke
Dinas Perkebunan ....................... 83
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberhasilan Pengembangan Pengolahan Hasil
Perkebunan membutuhkan pengetahuan
tentang ciri produk perkebunan, hal ini akan
menentukan keputusan bisnis yang akan
diambil oleh pelaku usaha perkebunan, baik
petani produsen, maupun pihak lain yang
bergerak dalam bidang perkebunan.

Sektor perkebunan merupakan salah satu


produk yang menghasilkan komoditas ekspor
yang cukup prospektif, sehingga menjadikan
neraca perdagangan produk perkebunan
meningkat. Peningkatan ini merupakan kata
kunci yang harus dipikirkan dan ditindaklanjuti
dengan upaya nyata oleh seluruh stakeholder
yang terlibat dalam pengembangan pengolahan
hasil perkebunan, terutama oleh pelaku usaha
perkebunan.
Selama ini, kontribusi sektor perkebunan
terhadap penerimaan devisa lebih banyak
diperoleh dari produk olahan primer
dibandingkan dengan produk olahan sekunder
(produk hilir). Produk perkebunan pada
umumnya masih dipasarkan dalam bentuk
primer sehingga bernilai rendah dan rentan
terhadap fluktuasi harga. Kecenderungan yang
terjadi dewasa ini adalah bahwa harga
komoditas primer semakin lama semakin
menurun dan harga produk olahan perkebunan
semakin meningkat.

Diversifikasi pengolahan produk hasil


perkebunan saat ini perlu dikembangkan
sehingga mempunyai nilai ekonomi yang cukup
tinggi, baik untuk konsumsi dalam negeri
maupun untuk tujuan ekspor. Menyadari hal
tersebut, maka pendekatan pembangunan
sektor perkebunan ke depan diarahkan kepada
pengembangan pengolahan hasil perkebunan,
bukan lagi pada pengembangan komoditas.
Secara lebih khusus pendekatannya lebih
difokuskan pada produk olahan, baik produk
antara (intermediate product), produk semi
akhir (semi finished product) dan yang utama
adalah produk akhir (final product) yang
berdaya saing. Sampai saat ini, kegiatan-
kegiatan pengolahan hasil perkebunan
termasuk pemanfaatan produk samping dan
limbahnya (diversifikasi produk) pada umumnya
masih sangat kurang dimanfaatkan.

Untuk itu, salah satu strategi pengembangan


perkebunan ke depan adalah pengembangan
pengolahan hasil perkebunan. Pengembangan
pengolahan hasil perkebunan merupakan
pilihan strategis dalam meningkatkan
pendapatan, membuka lapangan pekerjaan di
pedesaan, dan untuk jangka panjangnya adalah
memperkuat pilar sektor perkebunan.

Dengan memfasilitasi poktan/gapoktan dengan


sarana dan prasarana pengolahan perkebunan
yang memenuhi kaidah GHP/GMP dan
memberikan pelatihan-pelatihan melalui
pembinaan, pengawalan dan pendampingan
pengolahan hasil perkebunan, serta bimbingan
teknis, diharapkan cita-cita membangun unit
pengolahan hasil perkebunan yang kompetitif
dapat tercapai.

Program Pengembangan Pengolahan Hasil


Perkebunan tahun 2016 ini diharapkan dapat
memberikan substansi yang lebih besar tentang
muatan teknologi pengolahan khususnya sektor
perkebunan sehingga mampu meningkatkan
nilai tambah, daya saing produk dan
pendapatan petani yang akhirnya dapat
meningkatkan kesejahteraan petani.

B. Tujuan dan Sasaran


1. Tujuan dan Sasaran

Pedoman teknis ini bertujuan sebagai acuan


dalam melaksanakan kegiatan pengolahan hasil
perkebunan di daerah yang pembiayaannya
melalui Anggara Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan TA 2016.

Sedangkan sasarannya adalah aparat pelaksana


yang membidangi pengolahan perkebunan di
tingkat Provinsi/ kabupaten/kota (Kegiatan
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan) dan
Poktan/Gapoktan penerima Dana Tugas
Pembantuan TA 2016 sejumlah 55 unit di 31
provinsi.
II. ISTILAH DAN DEFINISI

1. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang


dari pemerintah pusat kepada gubernur sebagai
wakil pemerintah dan/atau kepada instansi
vertikal di wilayah tertentu;
2. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari
pemerintah pusat kepada daerah dan/atau
desa, dari pemerintah Provinsi kepada
kabupaten, atau kota dan/atau desa, serta dari
pemerintah kabupaten, atau kota kepada desa
untuk melaksanakan tugas tertentu dengan
kewajiban melaporkan dan
mempertanggungjawabkan pelaksanaannya
kepada yang menugaskan;
3. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal
dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur
sebagai wakil pemerintah yang mencakup
semua penerimaan dan pengeluaran dalam
rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak
termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi
vertikal pusat di daerah;
4. Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang
berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh
daerah dan desa yang mencakup semua
penerimaan dan pengeluaran dalam rangka
pelaksanaan tugas pembantuan;
5. Running usaha komersial adalah uji coba
pemanfaatan alat dan mesin untuk
memproduksi produk sesuai dengan kapasitas
dan kemampuannya sampai diperoleh bukti
bahwa alat dan mesin tersebut mampu
berproduksi sesuai dengan spesifikasi teknisnya
serta menghasilkan produk yang siap
dipasarkan.
6. Program adalah instrumen kebijakan yang
berisi satu atau lebih kegiatan yang
dilaksanakan instansi/lembaga untuk mencapai
sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi
anggaran, atau kegiatan masyarakat yang
dikoordinasikan oleh instansi pemerintah;
7. Test Report atau hasil uji adalah keterangan
hasil pengujian dari uji verifikasi, uji unjuk
kerja, uji beban berkesinambungan, uji
pelayanan dan uji kesesuaian terhadap alat dan
mesin pertanian.
8. Sentra produksi adalah suatu kawasan yang
mencapai skala ekonomi tertentu sehingga
layak dikembangkan sebagai satuan kegiatan
pengembangan agroindustri pedesaan.
9. Kelompok Tani (Poktan) adalah kumpulan
petani yang dibentuk atas dasar kesamaan
kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan
(sosial, ekonomi, sumber daya) kesamaan
komoditi dan keakraban untuk meningkatkan
dan mengembangkan usahanya.
10. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) adalah
organisasi gabungan kelompok tani di suatu
wilayah/daerah sentra produksi yang bergerak
di bidang usahatani, pengolahan dan
pemasaran yang anggotanya terdiri dari
kelompok tani yang bekerjasama untuk
meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi
usaha.
11. Site Manager adalah orang yang direkrut untuk
mengelola usaha pengolahan yang ditetapkan
oleh Kepala Dinas Provinsi atas usulan dinas
kabupaten/kota setempat;
12. Asisten Site Manager adalah orang yang dapat
direkrut didaerah setempat diutamakan dari
anggota poktan/gapoktan.
13. Pengolahan Hasil Perkebunan adalah suatu
kegiatan mengubah bahan hasil perkebunan
menjadi beraneka ragam bentuk/diversifikasi
olahan dan macamnya dengan tujuan untuk
memperpanjang daya simpan, dan
meningkatkan nilai tambah.
14. Alat dan Mesin Pengolahan Hasil Perkebunan
adalah peralatan dan mesin yang dioperasikan
dengan motor penggerak maupun tanpa motor
penggerak untuk kegiatan yang terkait dengan
pengolahan hasil perkebunan.
III. PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan yang dilaksanakan di daerah/Provinsi/


Kabupaten tahun anggaran 2016 meliputi:

1. Pembinaan, Pengawalan dan Pendampingan


Pengolahan Hasil Perkebunan

a. Tujuan: Melakukan pembinaan dan


pengawalan kegiatan pembangunan dan
pengembangan pengolahan hasil
perkebunan agar berjalan dengan
optimal dan sesuai dengan pedoman
teknis.
b. Sasaran: Poktan/Gapoktan penerima
Dana Tugas Pembantuan TA 2016.
c. Mekanisme pelaksanaan:
Pada awal tahun dilakukan Koordinasi
Pelaksanaan Kegiatan pengolahan
perkebunan. Kegitan ini dihadiri oleh pihak
terkait dalam pelaksanaan kegiatan tugas
pembantuan Tahun 2016 (tim teknis, pejabat
pengadaan, Kelompok Tani/penerima TP,
akademisi/tenaga ahli).
Pembinaan dilakukan secara bersama sama
baik dari unsur pusat, provinsi maupun
kabupaten. Dalam pembinaan ini, dapat juga
bekerjasama dengan akademisi/tenaga ahli
(BPTP atau perguruan tinggi).
Untuk mengetahui kondisi kelembagaan UPH,
petugas dinas melakukan penilaian
menggunakan form perkembangan
kelembagaan kelompok dan perkembangan
usaha kelompok (Lampiran 1 dan 2) .
Penilaian dilakukan pada saat sebelum
bantuan diterima dan pada akhir tahun
anggaran.

2. Monitoring dan Evaluasi Pengolahan Hasil


Perkebunan

a. Tujuan: Untuk melihat perkembangan


pemanfaatan fasilitasi alat dan mesin
pengolahan hasil perkebunan dan kinerja
unit usaha poktan/gapoktan.
b. Sasaran: Unit pengolahan hasil yang
difasilitasi oleh Ditjen PPHP sampai dengan
tahun 2015 dan Ditjen Perkebunan tahun
2016.
c. Mekanisme Pelaksanaan
1) Monitoring
Monitoring fasilitasi UPH dilakukan oleh
pihak pusat, provinsi dan
kabupaten/kota. Monitoring dilakukan
terhadap perkembangan pelakanaan
kegiatan tahun 2016, dengan
menggunakan form lampiran 3 dan 4

Monitoring terhadap perkembangan UPH


yang difasilitasi dilakukan dengan
menggunakan form pada lampiran 5.

Data yang diperoleh selama melakukan


monitoring akan dibahas pada
pertemuan evaluasi yang dilakukan di
Provinsi. Adapun pelaksanaannya
dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan
Optimalisasi Unit Pengolahan Hasil
Perkebunan yang dilakukan oleh Pusat.

2) Pelaporan
Hasil yang sudah dibahas pada
pertemuan evaluasi di Provinsi termasuk
keberhasilannya (succes story), harus
dibawa pada pertemuan Optimalisasi
Unit Pengolahan Hasil Perkebunan di
tingkat pusat, yang akan dilaksanakan
bulan November 2016.

3. Bimbingan Teknis Pengolahan Hasil


Perkebunan

Kegiatan ini dilaksanakan oleh dinas perkebunan


Provinsi dalam bentuk pertemuan.
a. Tujuan: Untuk meningkatkan kompetensi
peserta di bidang pengolahan hasil
perkebunan.
b. Sasaran: petugas dinas kabupaten/kota dan
pengelola usaha/ pengurus
Poktan/Gapoktan baik yang telah
mendapatkan fasilitasi dan yang belum
difasilitasi, tetapi berpotensi untuk
mengembangkan pengolahan hasil
perkebunan.
c. Kriteria Peserta:
Petugas Dinas Kabupaten/Kota:
1) Orang yang menangani bidang
pengolahan hasil perkebunan.
2) Komunikatif sehingga mampu mengawal
dan mendampingi UPH.
3) Bersedia mengikuti bimbingan teknis
mulai dari awal sampai akhir kegiatan.
4) Mempunyai komitmen untuk melakukan
pembinaan dan pendampingan.
Pengelola usaha/ pengurus
Poktan/Gapoktan:
1) Pengelola UPH penerima bantuan dana
TP dan yang potensial mengembangkan
pengolahan perkebunan.
2) Bersedia mengikuti bimbingan teknis
mulai dari awal sampai akhir kegiatan.
3) Mempunyai komitmen untuk melakukan
pembinaan dan pendampingan.
d. Materi Bimbingan Teknis
Materi Bimbingan Teknis minimal
mencakup:
1) Teknologi pengolahan hasil, limbah dan
pemanfaatannya.
2) Penerapan manajemen mutu.
3) Manajemen kelembagaan dan usaha.
4) Perijinan
5) Pemasaran
e. Narasumber
Narasumber bimbingan teknis harus
kompeten dibidangnya, dapat berasal dari
balai penelitian dan pengembangan,
akademisi, pengelola usaha yang sudah
berhasil, Badan POM, Dinas Koperasi,
lembaga pembiayaan, dan instansi terkait
lainnya.
f. Pelaporan
Penyusunan laporan berisi seluruh tahapan
mulai dari persiapan sampai akhir
pelaksanaan kegiatan.

4. Penyediaan Alat Pengolahan Hasil Perkebunan

Penyediaan alat pengolahan hasil perkebunan


disalurkan melalui dana Tugas Pembantuan.
Kegiatan ini mempunyai tujuan membangun dan
menumbuhkembangkan agroindustri berbasis
kelompok di pedesaan, yang profesional.

Dalam rangka membentuk agroindustri seperti


tersebut di atas, maka diupayakan terintegrasi
dengan unit usaha di sektor lainnya.

Kegiatan Penyediaan alat pengolahan hasil


perkebunan terdiri dari:
1) Fasilitasi Pengolahan Tebu,
2) Fasilitasi Pengolahan Karet,
3) Fasilitasi Pengolahan Kopi,
4) Fasilitasi Pengolahan Kakao,
5) Fasilitasi Pengolahan Sagu,
6) Fasilitasi Pengolahan Kelapa,
a. Tujuan:
Membangun dan menumbuh kembangkan
unit pengolahan hasil perkebunan berbasis
kelompok dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan petani dan membuka
kesempatan kerja.
b. Sasaran:
Terbangunnya 55 unit usaha pengolahan
hasil perkebunan berbasis kelompok.
c. Lokasi
Kabupaten Penerima Dana Tugas
Pembantuan TA 2016.
d. Ruang lingkup kegiatan
Ruang lingkup kegiatan meliputi: fasilitasi
sarana dan prasarana pengolahan komoditi
perkebunan yang terdiri dari fasilitasi
bangunan unit pengolahan hasil, alat dan
mesin pengolahan, fasilitasi pengelola
usaha/site manajer, serta running usaha
komersial.
e. Tahap Pelaksanaan Kegiatan
1) Tahap Persiapan
a) Penetapan calon penerima/calon
lokasi
Verifikasi CP/CL untuk kegiatan tahun
2016 hendaknya sudah dilakukan pada
tahun 2015. Apabila belum dilakukan,
agar segera dilakukan pada awal
tahun 2016. Surat Keputusan (SK)
CP/CL ditetapkan oleh kepala dinas
provinsi. Khusus untuk TP kabupaten
(satker mandiri) ditetapkan kepala
dinas kabupaten. SK CP/CL
ditetapkan paling lambat akhir maret
2016. Kriteria poktan/gapoktan calon
penerima sebagai berikut:
Memiliki potensi bahan baku yang
memenuhi skala ekonomi.
Sanggup menyediakan lahan untuk
lokasi bangunan pengolahan yang
jelas statusnya.
Mempunyai komitmen untuk
mengembangkan usaha pengolahan
hasil perkebunan dengan mengisi
formulir naskah ikatan kerjasama
pengelolaan barang.
Verifikasi CPCL dilakukan pada tahun
2016 untuk kegiatan tahun 2017 yang
dilakukan oleh petugas Provinsi dan
kabupaten. Verifikasi CPCL sesuai
dengan form verifikasi (lampiran 6).
b) Pembentukan Tim Teknis
Tim teknis dibentuk oleh kepala
dinas yang membidangi
perkebunan.

Tim Teknis adalah petugas/staf


teknis yang kompeten di bidang
perkebunan, terdiri dari petugas
Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota
(sesuai usulan Kepala Dinas
Kabupaten/Kota), apabila
diperlukan tim teknis dapat
berasal dari Balai Penelitian, BPTP
Dinas terkait dan Perguruan
Tinggi.

Tim Teknis bertugas melakukan


pemantapan CPCL, membantu
menyusun dan mengesahkan RUKK,
pengawalan, monitoring dan
evaluasi terhadap kondisi sarana
dan prasarana sampai dengan
selesainya uji coba komersil.

Untuk kegiatan yang ada dana


bahan running usaha komersial,
tim teknis bersama-sama dengan
rekanan dan pengelola unit usaha
melakukan running usaha
komersial dan membuat
laporannya sebagai dasar berita
acara serah terima barang dari
dinas ke poktan/gapoktan.
c) Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan
Kelompok (RUKK)
RUKK disusun berdasarkan
kebutuhan kelompok sesuai
lampiran 7.
Penyusunan RUKK dilakukan oleh
kelompok/gapoktan dibantu
pembina kabupaten dan Provinsi
dan disetujui tim teknis serta
ditetapkan oleh Kepala Dinas
Provinsi/ Kabupaten/Kota.

2) Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan antara lain
meliputi:
a) Pengadaan gedung pengolah hasil
Pengadaan gedung pengolah hasil
mengacu pada Perpres 70 tahun
2012 tentang Peraturan
Pengadaan Barang dan Jasa.

Pembangunan UPH mengacu pada


Peraturan Menteri Pertanian
Nomor
35/Permentan/OT.140/7/2008
tentang persyaratan dan
penerapan cara pengolahan hasil
pertanian asal tumbuhan yang
baik (Good Manufacturing
Practices).

Luas bangunan menyesuaikan


standar harga biaya setempat
dengan pagu anggaran yang ada.

Pengadaan bangunan termasuk


didalamnya pemasangan instalasi
listrik dan penyambungannya.

b) Pengadaan alat dan mesin


Pengadaan alat dan mesin
pengolahan hasil harus sesuai
dengan Peraturan Menteri
Pertanian Nomor
35/Permentan/OT.140/7/2008
tentang persyaratan dan
penerapan cara pengolahan hasil
pertanian asal tumbuhan yang
baik (Good Manufacturing
Practices).

Mesin pengolah hasil harus


memenuhi persyaratan SNI
(mempunyai sertifikat
penggunaan tanda SNI/ SPPT SNI)
atau minimal memiliki test report
yang dikeluarkan oleh lembaga
berwenang (Lampiran 8).
Beberapa mesin pengolah hasil
yang telah memiliki test report
dapat dilihat di www.bpm-
alsintan.com

Pengadaan alat yang tertuang


dalam RUKK harus sudah
termasuk pemasangan alat, mesin
genset, pelatihan petugas
pengelola (operasional,
perawatan, perbaikan), running
test serta jaminan/garansi selama
1 tahun.

Contoh spesifikasi beberapa alat


dan mesin pengolahan dapat
dilihat pada lampiran 9.

c) Running usaha komersial

Tahapan ini dilaksanakan pada


kegiatan yang mempunyai anggaran
running usaha komersial. Setelah
alat dan mesin terinstall, maka harus
dilakukan running usaha komersial
sampai alat dan mesin dapat
beroperasi optimal sesuai dengan
spesifikasi teknis, yang dibuktikan
dengan laporan seperti pada
lampiran 10.

Berita acara serah terima barang


ditandatangani bila running usaha
komersial telah dilaksanakan dan
berhasil memenuhi persyaratan
sesuai dengan kelayakan teknis.

d) Naskah Ikatan Kerja Sama


Pengelolaan Barang

Gapoktan penerima harus


menandatangani naskah ikatan
kerjasama pengelolaan barang
sebagaimana contoh yang tercantum
pada lampiran 11.

e) Penyerahan kepada Gapoktan

Penyerahan alat, mesin, dan gedung


dari dinas yang membidangi
perkebunan di provinsi kepada
gapoktan dilengkapi dengan Berita
Acara Hasil Pemeriksaan dan Berita
Acara Serah Terima Barang sesuai
format pada lampiran 12 - 13

f) Organisasi Usaha Kelompok

Kepemilikan usaha dan pengelolaan


usaha:
Unit usaha dimiliki oleh gabungan
kelompok tani (Poktan/Gapoktan).

Pengelolaan usaha dilakukan


secara profesional oleh site
manager/pengurus
poktan/gapoktan.

Dinas yang memiliki alokasi


anggaran site manager diharapkan
melakukan Recruitment Site
Manager dan Asisten Site Manager
dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Berpengalaman dan
mempunyai jiwa wirausaha
dan memiliki latar belakang
pendidikan minimal SMA
2) Berasal/berdomisili dalam
wilayah dimana unit usaha
kelompok berada
3) Site manager tidak sebagai
pengurus poktan/gapoktan
4) Site manager dan asisten site
manager yang terpilih
ditetapkan dengan SK kepala
dinas provinsi

3) Pengelolaan Unit Usaha

a) Bahan baku diutamakan berasal dari


anggota poktan/gapoktan.

b) Proses pengolahan hasil, pengemasan


dan penyimpanan dilakukan sesuai
kaidah - kaidah penerapan jaminan
mutu sehingga menghasilkan produk
yang bermutu secara konsisten dan
aman dikonsumsi.

c) Produksi yang dihasilkan dapat


berupa diversifikasi produk secara
vertikal maupun diversifikasi produk
secara horizontal (produk samping).
Produk yang dihasilkan harus
memenuhi standar produk yang ingin
dicapai secara konsisten.
4) Peningkatan Kompetensi SDM

Dalam rangka meningkatkan kinerja


UPH, maka perlu dilakukan pelatihan
secara internal dan mengikuti pelatihan
eksternal yang relevan
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

IV. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Jadwal pelaksanaan kegiatan daerah dapat dilihat


pada tabel 1 dan 2 berikut:

Table 1. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


Pengolahan Hasil Perkebunan di
Daerah Tahun 2016
Bulan
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Pembinaan, pengawalan
dan monitoring
pengolahan hasil
Perkebunan
2 Monitoring Evaluasi
Pengolahan Hasil
Perkebunan
3 Bimbingan Teknis
Pengolahan Hasil
Perkebunan
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Table 2 . Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penyediaan Alat dan Mesin Pengolahan


Perkebunan Tahun 2016
Bulan
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Penetapan SK CP/CL
2 Penetapan SK ULP/Tim Pengadaan Barang dan Jasa
3 Mengumumkan Rencana Pengadaan barang dan Jasa di E-
announcement
4 Melakukan proses pengadaan barang
5 Penetapan Pemenang pengadaan Barang dan Jasa & Kontrak
6 Pelaksanaan Pengadaan Barang
7 Pemeriksaan Barang (oleh Tim Penerima Barang)
8 Uji coba alat dan pelatihan Teknis
9 Running usaha komersial
10 Serah terima alat kepada poktan/gapoktan
11 Operasionalisasi peralatan
12 Monitoring dan Evaluasi
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

IV. PENGAWALAN DAN PEMBINAAN

Pengawalan dan pembinaan dilakukan secara


berkelanjutan, baik oleh Dinas Perkebuan Provinsi,
Kabupaten/kota maupun Pusat, sehingga
Poktan/gapoktan mampu mengoptimalkan
pemanfaatan sarana dan prasarana yang telah
diberikan. Pengawalan dan pembinaan ini perlu
didukung dana pembinaan lanjutan yang
bersumber dari APBN, APBD maupun sumber
pembiayaan lainnya.

Peran Dinas yang menangani di Provinsi dan


Kabupaten/kota sangat menentukan keberhasilan
kegiatan yang bersangkutan. Apabila diperlukan,
maka pengawalan dan pembinaan dimaksud dapat
melibatkan perguruan tinggi atau lembaga terkait
lainnya.

Kegiatan Pengawalan dan Pembinaan di masing-


masing tingkat mempunyai tugas sebagai berikut:
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

A. Tingkat Pusat
1. Menyusun pedoman teknis untuk
mengarahkan kegiatan-kegiatan dalam
mencapai tujuan dan sasaran yang
ditetapkan.
2. Menggalang kerjasama kemitraan dengan
Provinsi dan Kabupaten/kota dalam
melaksanakan advokasi, pengendalian,
pemantauan dan evaluasi.
3. Melaksanakan pengawalan, pembinaan dan
pemanfaatan alat dan mesin.
4. Menyusun laporan perkembangan kegiatan
pengolahan hasil perkebunan.
B. Tingkat Provinsi

1. Menyusun petunjuk pelaksanaan (Juklak)


kegiatan di Provinsi, yang mengacu kepada
pedoman teknis pusat.

2. Melaksanakan sinkronisasi dan koordinasi


lintas sektoral di tingkat
Provinsi/Kabupaten/kota dalam rangka
pengadaan alat dan mesin.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

3. Melaksanakan pelatihan, bimbingan teknis,


dan manajemen alat dan mesin.

4. Menyusun dan melaporkan hasil


pemantauan dan pengendalian serta
menyampaikan laporan ke pusat (Direktorat
Jenderal Perkebunan cq Direktorat
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hasil
Perkebunan).

C. Tingkat Kabupaten/kota

1. Menyusun petunjuk teknis (Juknis) dengan


mengacu kepada pedoman teknis dan
petunjuk pelaksanaan (Juklak), disesuaikan
dengan kondisi teknis, ekonomi, sosial
budaya setempat (spesifikasi lokasi).

2. Melakukan sosialisasi dan seleksi calon


Poktan/gapoktan penerima alat dan mesin.

3. Melakukan pembinaan, pelatihan,


bimbingan teknis, dan manajemen
penggunaan alat dan mesin di daerahnya.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

4. Melakukan pemantauan, pengendalian dan


evaluasi.

5. Menyusun dan melaporkan hasil pemantauan,


pengendalian, dan evaluasi ke Dinas
Perkebunan Provinsi dan Direktorat Jenderal
Perkebunan, Kementerian Pertanian.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

V. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

Pelaporan kegiatan Pengembangan Pengolahan


Hasil Perkebunan merupakan salah satu bentuk
media penyampaian informasi terhadap
serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak
persiapan sampai akhir pelaksanaan. Melalui
laporan akan dilihat perkembangan pelaksanaan,
hasil pelaksanaan dan tingkat keberhasilannya.

Sistem monitoring, Evaluasi dan Pelaporan


dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri
Pertanian nomor 31/permentan/OT.140/3/2010
tanggal 19 Maret 2010 tentang Pedoman Sistem
Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan
Pembangunan Pertanian.

Dinas yang membidangi perkebunan kabupaten


dan provinsi wajib melakukan monitoring, evaluasi
dan pelaporan secara berjenjang dilaporkan
kepada Direktorat Jenderal Perkebunan cq.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil


Perkebunan dengan ketentuan sebagai berikut:

A. Jenis Laporan

Tim Teknis Kabupaten/Kota dan Tim Pembina


Provinsi wajib membuat laporan tentang
pelaksanaan kegiatan yang terdiri dari:

1. SIMONEV yang meliputi:


Kemajuan pelaksanaan kegiatan sesuai
indikator kinerja
Perkembangan kelompok sasaran dalam
pengelolaan kegiatan lapangan berikut
realisasi fisik dan keuangan
Permasalahan yang dihadapi dan upaya
penyelesaian di tingkat Kabupaten dan
Provinsi.
2. Format Laporan menggunakan format yang
telah ditentukan seperti yang dapat dilihat di
lampiran 3 dan 4.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

3. Laporan perkembangan fisik yang sesuai


tahapan pelaksanaan kegiatan dengan materi
meliputi: nama petani/kelompok
tani/gapoktan, desa/kecamatan/kabupaten,
luas areal (target dan realisasi), waktu
pelaksaan, perkembangan, kndala dan
permasalahan dan upaya pemecahan masalah.

4. Laporan akhir berisi realisasi kegiatan yang


berhasil dilaksanakan hingga akhir tahun
anggaran, permasalahan yang dihadapi dan
usulan tindak lanjut yang perlu dilakukan, yang
dibuat setelah program berakhir.

B. Waktu Penyampaian Laporan

1. Simonev dibuat per bulan dengan ketentuan:

Pelaporan dinas yang membidangi


perkebunan kabupaten ditujukan kepada
provinsi, disampaikan paling lambat tanggal 5
bulan laporan.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Pelaporan dinas yang membidangi


perkebunan provinsi ditujukan kepada
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perkebunan, Direktorat Jenderal
Perkebunan, disampaikan paling lambat
tanggal 7 bulan laporan.

2. Laporan perkembangan fisik dibuat pertriwulan


ditujukan kepada Direktorat Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat
Jenderal Perkebunan, disampaikan paling
lambat tanggal 7 bulan laporan.

3. Laporan akhir ditujukan kepada Direktorat


Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan,
Direktorat Jenderal Perkebunan, disampaikan
paling lambat tanggal 31 Desember 2016.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

VI. PENUTUP

Pedoman teknis ini merupakan acuan bagi Dinas


Perkebunan Provinsi maupun Kabupaten/kota,
dalam melaksanakan Kegiatan Dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan Pengolahan Hasil Perkebunan
TA 2016. Dinas Perkebunan Provinsi maupun
Kabupaten/kota diharapkan dapat menjabarkan
lebih lanjut dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan
dan Petunjuk Teknis.

Keberhasilan kegiatan Pengembangan Pengolahan


Hasil Perkebunan ini sangat tergantung kepada
komitmen semua pihak (stakeholder) yang terkait,
baik di tingkat pusat maupun daerah.

Dengan adanya pedoman teknis ini, diharapkan


akan meningkatkan koordinasi yang sinergis antara
Dinas Provinsi dan Kabupaten/kota dalam
melakukan pembinaan terhadap Pengembangan
Pengolahan Hasil Perkebunan Berkelanjutan.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

LAMPIRAN

LAMPIRAN
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 1. Kuisioner Perkembangan Kelembagaan Kelompok


I. Data Dasar

Nama NamaKetua Waktu Nama Penilai,


No Gapoktan/UPH Gapoktan/ Penilaian Jabatan, No Ket
dan Alamat Manager UPH HP

II. Hasil Penilaian


Lembar Jawaban
Fakta di Lapang
No Kriteria (Lingkari salah Nilai
satu)
1 Sekretariat kelompok a b c d
2 Pengelola / Pengurus Kelompok a b c d
3 Administrasi Kelompok a b c d
4 Peraturan (AD/ART) a b c d
5 Rencana kerja Kelompok a b c d
6 Pertemuan Rutin Kelompok a b c d
7 Data perkembangan a b c d
8 Simpanan anggota kelompok a b c d
9 Usaha Kelompok a b c d
10 Monitoring dan Evaluasi Anggota Kelompok a b c d
11 Laporan Kondisi Anggota Kelompok a b c d
12 Laporan Kegiatan & Keuangan Kelompok a b c d
13 Kemitraan a b c d
14 Akses terhadap permodalan a b c d
TOTAL
Nilai : (a:0) (b:2,5) (c:5) (d:7,5) (e:10)
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Hasil Penilaian :
Perolehan Angka : Jumlah Jawaban
14

Status Gapoktan : a) 0 5 (Kelompok


(Berdasarkan Hasil Penilaian) Pemula)
: b) > 5 7,5
(Berkembang)
: c) > 7,5 (Mandiri)
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Kuesioner Kelengkapan Kelompok

1. Sekretariat kelompok
a. Belum ada
b. Ada tetapi tidak resmi
c. Ada tetapi tidak difungsikan
d. Ada tetapi masih tidak tetap dan berfungsi
e. Ada, alamat jelas, mudah dihubungi dan berfungsi
2. Pengelola / Pengurus Kelompok
a. Tidak berfungsi
b. Hanya ketua yang berfungsi yang lain tidak
c. Berfungsi seadanya
d. Berfungsi tetapi belum sepenuhnya
e. Berfungsi sesuai tugas masing-masing
3. Administrasi Kelompok
a. Belum ada
b. Sudah ada tetapi belum dijalankan pencatatannya
c. Kadang-kadang dicatat
d. Sudah ada tetapi belum tertib
e. Sudah ada dan tertib
4. Peraturan (AD/ART)
a. Belum mengerti
b. Baru ada aturan-aturan lisan
c. Sudah ada tetapi belum lengkap
d. Sudah ada, lengkap, belum disahkan dalam rapat
anggota
e. Sudah ada dan sudah disahkan pada rapat anggota
5. Rencana kerja Kelompok
a. Belum dibicarakan
b. Dibicarakan lisan saja
c. Dibicarakan dan tertulis per pekerjaan saja
d. Dibicarakan tertulis tetapi belum untuk 1 tahun
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

e. Dibicarakan , tertulis dengan jadwal pelaksanaan


selama 1 tahun
6. Pertemuan Rutin Kelompok
a. Tidak ada
b. Ada tetapi belum rutin
c. Ada tetapi pertemuan anggota saja yang rutin
d. Ada pertemuan anggota & pengurus rutin tetapi tidak
tercatat.
e. Ada rutin , pertemuan anggota setiap bulan , dan
pertemuan pengurus setiap minggu, tercatat.
7. Data perkembangan
a. Tidak ada
b. Kadang-kadang dicatat dibuku
c. Sudah ada tetapi belum rutin
d. Sudah ada , rutin, tetapi tidak dipasang di dinding
e. Ada dipajang di dinding dan rutin bulanan
8. Simpanan anggota kelompok
a. Belum ada
b. Simpanan pokok saja
c. Simpanan pokok dan wajib tetapi belum lengkap
d. Simpanan pokok dan wajib sesuai jadwal
e. Simpanan pokok dan wajib sesuai jadwal ditambah
simpanan sukarela
9. Usaha Kelompok
a. Tidak ada usaha kelompok hanya ada usaha anggota saja
b. Usaha kelompok baru simpan-pinjam secara sederhana
c. Usaha kelompok baru simpan-pinjam dari dana program
dan ditangani secara khusus.
d. Ada unit usaha lain berupa pemasaran hasil anggota
atau pengadaan sarana produksi untuk anggota
disamping simpan pinjam , dan ditangani secara khusus
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

e. Usaha simpan-pinjam, sarana produksi, pemasaran hasil,


dan lainnya dikelola secara terpisah, benar, dan
menghasilkan
10. Monitoring dan Evaluasi Anggota Kelompok
a. Belum dilakukan
b. Dilakukan pengurus, tidak rutin, dan tidak tercatat
c. Dilakukan pengurus, rutin, tidak tercatat
d. Dilakukan pengurus, rutin, tercatat, dibicarakan pada
rapat anggota
e. Dilakukan pengurus, rutin, tercatat, dibicarakan, dan
dilakukan tindak lanjut dari hasil monitoring dan
evaluasi tersebut.
11. Laporan Kondisi Anggota Kelompok
a. Belum ada
b. Ada, belum lengkap, dan tidak rutin
c. Ada , belum lengkap, tetapi rutin
d. Ada, lengkap, rutin, tidak selalu dibahas
e. Ada, lengkap, rutin, dan selalu dibahas
12. Laporan Kegiatan dan Keuangan Kelompok
a. Belum ada
b. Ada tetapi sederhana saja
c. Ada tetapi belum lengkap dan berubah-ubah
d. Ada, laporan kegiatan lengkap, laporan keuangan dalam
bentuk rugi laba dan neraca, tetapi sering terlambat.
e. Ada, laporan kegiatan lengkap, laporan keuangan dalam
bentuk rugi laba dan neraca dan diumumkan setiap
pertemuan anggota.
13. Kemitraan
a. Belum ada
b. Dalam proses pembicaraan saja (lisan)
c. Sudah dalam bentuk konsep tertulis
d. Sudah berhubungan(MoU/kontrak) tetapi belum berjalan
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

e. Sudah berjalan dengan baik.


14. Akses terhadap permodalan
a. Belum ada
b. Tahap perencanaan konsep
c. Sudah memulai penjajagan
d. Mengajukan proposal
e. Sudah terealisasi.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Contoh Rencana Kerja Usaha Kelompok

Fakta di Waktu Monev/


No Indikator Target Rencana Kegiatan
Lapangan Pelaksanaan RTL
1 2 3 4 5 6 7
1 Sekretariat a) Belum ada e) Ada, alamat jelas, mudah - Penentuan lokasi sekretariat
Kelompok dihubungi dan berfungsi - Identifikasi kebutuhan sarana kerja
- Pengadaan sarana kerja
2 Pengelola / a) Tidak e) Berfungsi sesuai tugas - Menyusun Tupoksi
Pengurus Berfungsi masing masing - Pelatihan pelaksanaan tupoksi
kelompok
- Melaksanakan tupoksi
3 Administrasi a) Belum ada e) Sudah ada dan tertib - Membuat konsep untuk kartu anggota &
kelompok buku identitas anggota
- Pelatihan pendaftaran anggota
kelompok
- Pengadaan buku administrasi kelompok
- Pelatihan pengadministrasian
- Melakukan pengadministrasian dengan
tertib
4 Peraturan a) Belum e) Sudah ada dan sudah - Menyusun AD/ART
AD/ART mengerti disahkan pada rapat - Pembahasan dan Perbaikan AD/ART
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

anggota - Pengesahan AD/ART


- Sosialisasi AD/ART
- Pelaksanaan AD/ART
5 Rencana Keja a) Belum e) Dibicarakan, tertulis - Menyusun rencana kerja berdasarkan
Kelompok dibicarakan dengan jadwal hasil monev 14 Kriteria
pelaksanaan selama 1 thn - Sosialisasi rencana kerja selama 1 Tahun
- Pelaksanaan rencana kerja
6 Pertemuan a) Tidak ada e) Ada rutin, pertemuan - Membuat jadwal & agenda pertemuan
rutin anggota setiap bulan, anggota dan pengurus
kelompok pertemuan pengurus - Membuat format notulen
setiap minggu dan
tercatat - Pelatihan membuat notulen rapat
- Melaksanakan rapat dan membuat
notulen
7 Data a) Tidak ada e) Ada dipanjang di dinding - Mengidentifikasi kegiatan yang harus
perkembanga dan rutin bulanan dilaporkan
n - Membuat format dan jadwal pelaporan
- Menyiapkan sarana tempat pelaporan
- Pelatihan pencatatan laporan
- Membuat laporan perkembangan
keleompok setiap tanggal
8 Simpanan a) Belum ada e) Simpanan pokok dan - Sosialisasi tentang manfaat simpanan
anggota wajib sesuai jadwal di pokok,wajib & sukarela
kelompok tambah simpanan - Menentukan besarnya simpanan pokok,
sukarela wajib & sukarela
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

- Menentukan aturan tentang simpanan


pokok, wajib & sukarela
- Melakukan pencatatan simpanan pokok,
wajib & sukarela
9 Usaha a) Tidak ada e) Usaha simpan pinjam, - Identifikasi dan penentuan peluang
kelompok usaha sarana produksi, usaha
kelompok, pemasaran hasil dan - Pembuatan proposal usaha
hanya ada lainnya dikelola secara
usaha terpisah, benar dan - Sosialisasi proposal usaha
anggota saja menghasilkan - Penentuan penanggung jawab kegiatan
usaha
- Pelaksanaan usaha
- Pembagian sisa hasil usaha sesuai
AD/ART
10 Monitoring a) Belum e) Dilakukan pengurus, rutin, - Membuat daftar pertanyaan untuk
dan evaluasi dilakukan tercatat, dibicarakan dan monev
anggota dilakukan tindak lanjut - Menentukan jadwal monev
kelompok dari hasil monitoring dan
evaluasi tersebut - Pelatihan pelaksanaan monev
- Melakukan monev

11 Laporan a) Belum ada e) Ada, lengkap, rutin dan - Membuat format laporan kondisi
kondisi selalu dibahas anggota kelompok
anggota - Membuat laporan kondisi anggota
kelompok kelompok sesuai hasil monitoring
anggota kelompok
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

- Pembahasan hasil laporan dan


menyusun rencana tindak lanjut
- Melaksanakan rencana tindak lanjut
12 Laporan a) Belum ada e) Ada, laporan kegiatan - Pelatihan penyusunan laporan kegiatan
kegiatan & lengkap, laporan dan keuangan kelompok dalam bentuk
keuangan keuangan dalam bentuk rugi laba dan neraca
kelompok rugi laba dan neraca dan - Membuat laporan kegiatan dan
diumumkan setiap keuangan kelompok setiap akhir bulan
pertemuan anggota
13 Kemitraan a) Belum ada e) Sudah berjalan dengan - Identifikasi mitra
baik - Pelatihan penjajakan mitra
- Membuat MOU (Kontrak kerjasama)
- Pelaksanaan kerjasama
14 Akses a) Belum ada e) Sudah terealisasi - Identifikasi lembaga keuangan
terhadap - Pelatihan penjajakan lembaga keuangan
permodalan
- Membuat proposal
- Mengajukan proposal
- Realisasi penerimaan modal

Catatan :
Kolom 2 adalah kriteria dari 14 pertanyaan pada kuisioner penilaian kelembagaan.
Kolom 3 adalah fakta dilapangan sesuai hasil penilaian kelembagaan awal.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Kolom 4 adalah target yang ingin dicapai sesuai dengan kemampuan usaha
kelompok.
Kolom 5 adalah perencanaan kegiatan untuk mencapai target berdasarkan pada
fakta awal yang ada dilapangan.
Kolom 6 adalah perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikan target.
Kolom 7 adalah evaluasi dari pelaksanaan kegiatan sesuai kolom 6 menggunakan 14
pertanyaan pada kuisioner penilaian kelembagaan sebagai dasar rencana tindak
lanjut atau rencana kerja usaha kelompok yang baru untuk mencapai target.
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 2. Kuisioner Perkembangan Usaha Kelompok

Perkembangan Usaha Kelompok


1. Sumber bahan baku :
a. Tidak dari kelompok
b. Dari kelompok 25%
c. Dari kelompok 26% - 50%
d. Dari kelompok 51% - 75%
e. Dari kelompok 76% - 100%
2. Ketersediaan bahan baku
a. 20% kapasitas produksi tercukupi
b. 21% - 40%kapasitas produksi tercukupi
c. 41% - 60% kapasitas produksi tercukupi
d. 61% - 80 % kapasitas produksi tercukupi
e. 81% 100 % kapasitas produksi tercukupi
3. Rata-rata Produksi per tahun
a. 20% target produksi
b. 21% 40% target produksi
c. 41% - 60% target produksi
d. 61% - 80% target produksi
e. 81% - 100% target produksi
4. Target produksi per tahun
a. 20% kapasitas terpasang
b. 21% 40% kapasitas terpasang
c. 41% - 60% kapasitas terpasang
d. 61% - 80% kapasitas terpasang
e. 81% - 100% kapasitas terpasang
5. Pelatihan dan komitmen penerapan GMP
a. Tidak ada pegawai yang mengikuti pelatihan GMP
b. Ada pegawai yang mengikuti pelatihan GMP secara
eksternal
c. Ada pelatihan GMP secara internal
d. Ada komitmen untuk menerapkan GMP setelah
pelatihan GMP internal
e. Sudah membentuk tim penerapan GMP
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

6. Sarana dan prasarana pengolahan hasil


a. Belum memenuhi persyaratan GMP
b. 25% memenuhi persyaratan GMP
c. 26%-50% memenuhi persyaratan GMP
d. 51%-75% memenuhi persyaratan GMP
e. 76%-100% memenuhi persyaratan GMP
7. Standar Operasional Prosedur (SOP) Proses
a. Belum ada
b. Sudah dibuat tapi belum disahkan
c. Sudah ada, sudah disahkan tapi belum diterapkan
d. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan tapi
belum tercatat
e. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan, dan
sudah tercatat
8. SOP Sanitasi (SSOP)
a. Belum ada
b. Sudah dibuat tapi belum disahkan
c. Sudah ada, sudah disahkan tapi belum diterapkan
d. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan tapi
belum tercatat
e. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan, dan
sudah tercatat
9. Program Kebersihan
a. Belum ada
b. Sudah dibuat tapi belum disahkan
c. Sudah ada, sudah disahkan tapi belum diterapkan
d. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan tapi
belum tercatat
e. Sudah ada, sudah disahkan, sudah diterapkan, dan
sudah tercatat.
10. Produk olahan yang dihasilkan
a. Belum memenuhi standar yang dipersyaratkan
b. 25% memenuhi standar yang dipersyaratkan
c. 26%-50% memenuhi standar yang dipersyaratkan
d. 51%-75% memenuhi standar yang dipersyaratkan
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

e. 76%-100% memenuhi standar yang dipersyaratkan


11. Kemasan produk
a. Pengemasan masih seadanya
b. Bahan kemasan food grade tetapi desain kemasan
belum mampu melindungi produk secara benar.
c. Bahan kemasan food grade, desain kemasan sudah
mampu melindungi produk tetapi labelnya belum
memenuhi persyaratan
d. Bahan kemasan food grade, desain kemasan mampu
melindungi produk, label memenuhi persyaratan
tetapi belum menarik
e. Kemasan mampu melindungi produk, bahannya food
grade, memenuhi persyaratan pelabelan, dan sudah
menarik
12. Pemasaran Produk yang dihasilkan
a. Belum ada pasar yang jelas
b. pasar di tingkat lokal (desa)
c. Pasar tradisional tingkat kecamatan
d. Sudah ada kemitraan untuk pasar dalam negeri
e. Sudah ada kemitraan untuk pasar dalam negeri dan
ekspor
13. Pengelolaan Limbah
a. sudah diolah dan dimanfaatkan
b. 26%-60% limbah Belum dilakukan
c. 25% limbah sudah diolah dan dimanfaatkan
d. 61%-100% limbah sudah diolah dan dimanfaatkan
e. Sudah diolah dan menjadi usaha baru
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lanjutan Lampiran 1b
LEMBAR JAWABAN
Tanggal _____Bulan__________Tahun ______
Data Dasar
1. Nama kelompok :
2. Alamat :
3. Pengurus :
a. Ketua :
b. Sekretaris :
c. Bendahara :

1 a b c d e 8 a b c d e
2 a b c d e 9 a b c d e
3 a b c d e 10 a b c d e
4 a b c d e 11 a b c d e
5 a b c d e 12 a b c d e
6 a b c d e 13 a b c d e
7 a b c d e

Yang menilai :
Nama :

Cara penilaian dan pengkelasan usaha kelompok :


1. Nilai a = 0, nilai b = 2,5, nilai c= 5, nilai d = 7,5 dan nilai e = 10
2. Jumlahkan hasil penilaian untuk 10 kriteria, kemudian dihitung rata-
ratanya dengan membagi 10
3. a. Jumlah rata-rata antara 0 - 5 dikategorikan usaha kelompok pemula
b. Jumlah rata-rata antara > 5 - 7,5 dikategorikan usaha kelompok
berkembang c. Jumlah rata-rata antara > 7,5 dikategorikan usaha
kelompok mandiri
4. Hasil penilaian dan pengkelasan ini dapat dijadikan sebagai pedoman
untuk membuat rencana kerja kelompok dengan contoh format
sebagai berikut :
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Contoh Rencana Kerja Perbaikan Rencana Kerja di Kelompok

Waktu Monev/
No Indikator Fakta di Lapangan Target Rencana Kegiatan
Pelaksanaan RTL
1 2 3 4 5 6 7
1 Sumber bahan b) Tidak dari f) Dari kelompok - Identifikasi sumber bahan baku - 1 tahun sesuai
baku kelompok 76%-100% lainnya program yang
- Menambah anggota kelompok disusun
pemilik bahan baku
- Melakukan pencatatan
pengadaan bahan baku dengan
formulir yang mampu telusur
2 Ketersediaan a) 20% kapasitas e) 81%-100% - Identifikasi sumber bahan baku - 1 tahun sesuai
bahan baku produksi kapasitas produksi - Menjalin kerjasama dengan program yang
tercukupi tercukupi penyedia bahan baku disusun
- Melakukan upaya peningkatan
produksi dan produktivitas
(ekstensifikasi dan intensifikasi)
- Mendokumentasikan program
diatas
3 Rata-rata produksi b) 20% f) 81% 100% target - Menyusun program kerja - 1 tahun sesuai
olahan per tahun kapasitas produksi produksi pengolahan hasil per tahun program yang
- Sosialisasi rencana kerja selama disusun
1 Tahun kepada semua
anggota/pengelola
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

- Memperluas akses bahan baku


- Memperluas pangsa pasar
- Mengikuti promosi/pameran
- Mendokumentasikan program
diatas
4 Target produksi a) 20% e) 81% 100% - Menyusun program kerja - 1 tahun sesuai
per tahun kapasitas terpasang kapasitas terpasang pengolahan hasil per tahun program yang
- Sosialisasi rencana kerja selama disusun
1 Tahun kepada semua
anggota/pengelola
- Memperluas pangsa pasar
- Memperluas akses bahan baku
- Mendokumentasikan program
diatas
5 Pelatihan dan b) Tidak ada pegawai f) Sudah membentuk - Mengikuti pelatihan GMP secara - 1 tahun sesuai
komitmen yang mengikuti tim penerapan GMP eksternal program yang
penerapan GMP pelatihan GMP - Mengadakan pelatihan GMP disusun
secara internal
- Melakukan sosialisasi rencana
penerapan GMP kepada
karyawan
- Membentuk tim penyusun
dokumen penerapan GMP
- Membuat dokumentasi
pelaksanaan penerapan GMP
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

6 Sarana dan a. Belum memenuhi e) 76%-100% memenuhi - Identifikasi sarana prasarana - 1 tahun sesuai
prasarana persyaratan GMP persyaratan GMP yang rusak/tidak memenuhi GMP program yang
pengolahan hasil - Revitalisasi sarana prasarana disusun
yang rusak/tidak memenuhi
standar GMP
- Menambahkan sarana yang
kurang
- Membuat program dan
pencatatan pelaksanaan
kegiatan
7 SOP Proses b) Belum ada f) Sudah ada, sudah - Tim GMP menyusun SOP Proses - 1 tahun sesuai
disahkan, sudah - SOP proses dibahas secara program yang
diterapkan, dan internal disusun
sudah tercatat
- Perbaikan SOP proses
- Verifikasi SOP proses
- Pengesahan SOP proses
- Pelaksanaan SOP proses
- Pencatatan dan dokumentasi
penerapan SOP proses
8 SOP Sanitasi b) Belum ada f) Sudah ada, sudah - Tim GMP menyusun SOP sanitasi - 1 tahun sesuai
disahkan, sudah - SOP sanitasi dibahas secara program yang
diterapkan, dan internal disusun
sudah tercatat
- Perbaikan SOP sanitasi
- Verifikasi SOP sanitasi
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

- Pengesahan SOP sanitasi


- Pelaksanaan SOP sanitasi
- Pencatatan dan dokumentasi
penerapan SOP sanitasi
9 Program a) Belum ada e) Sudah ada, sudah - Tim GMP menyusun program - 1 tahun sesuai
Kebersihan disahkan, sudah kebersihan program yang
diterapkan, dan sudah - program kebersihan dibahas disusun
tercatat secara internal
- Perbaikan program kebersihan
- Verifikasi program kebersihan
- Pengesahan program kebersihan
- Pelaksanaan program kebersihan
- Pencatatan dan dokumentasi
penerapan program kebersihan
10 Produk olahan a) belum memenuhi e) 76%-100% - Membuat standar internal atau - 1 tahun sesuai
yang dihasilkan standar yang memenuhi standar mengadopsi SNI sebagai acuan program yang
dipersyaratkan yang dipersyaratkan standar produk yang akan disusun
dihasilkan
- Membuat prosedur verifikasi
kesesuaian produk
- Melakukan verifikasi kesesuaian
standar produk(visual dan atau
uji lab)
- Dokumentasi kegiatan
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

11 Kemasan produk b) Kemasan masih f) Kemasan mampu - Evaluasi - 1 tahun sesuai


seadanya melindungi - Mencari informasi tentang program yang
produk, bahannya kemasan dan pelabelan disusun
food grade,
memenuhi - Merencanakan perbaikan
persyaratan kemasan dan label
pelabelan, dan - Memperbaiki kemasan dan label
sudah menarik - Pencatatan dan dokumentasi
kegiatan
12 Pemasaran produk b) Belum ada pasar f) Sudah ada - Identifikasi pasar - 1 tahun sesuai
yang dihasilkan yang jelas kemitraan untuk - Menyusun rencana/strategi program yang
pasar dalam negeri pemasaran disusun
dan ekspor
- Melakukan kemitraan
- Melakukan promosi
- Pencatatan dan dokumentasi
kegiatan
13 Pengelolaan b) belum dilakukan f) sudah diolah dan - Identifikasi pemanfaatan limbah - 1 tahun sesuai
limbah menjadi usaha - Merancang program pengolahan program yang
baru limbah disusun
- Membuat SOP Pengolahan
Limbah menjadi produk samping
- Melatih petugas pengelolaan
limbah
- Mengolah, memanfaatkan, dan
memasarkan hasil olahan limbah
(produk samping)
PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 3. Form Monitoring Pelaksanaan Kegiatan Dekonsentrasi

MONITORING PELAKSANAAN KEGIATAN DEKONSENTRASITA 2016

Dinas Propinsi :
Bulan :
Tanggal laporan :
Realisasi
No Kabupaten/Kota Kegiatan Pagu anggaran Fisik Keuangan Kendala RTL
Target Realisasi Rp %

RTL = Rencana Tindak Lanjut


PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 4. Form Monitoring Pelaksanaan Kegiatan Tugas Pembantuan

MONITORING PELAKSANAAN KEGIATAN TUGAS PEMBANTUANTA 2016

Dinas Propinsi :
Bulan :
Tanggal laporan :
Realisasi
No Kabupaten/Kota Kegiatan Pagu Fisik Keuangan Kendala RTL
Anggaran Target Realisasi Rp %

RTL = Rencana Tindak Lanjut


PEDOMAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN 2016

Lampiran 5. Monitoring Perkembangan Poktan/Gapoktan Penerima Sarana Peralatan


Pengolahan Perkebunan

Propinsi :
Kapasitas
Pemasaran
Produksi
Sertifikasi
Nama Gapoktan Jenis Produksi
Kab Jenis Uph & Tahun Jaminan Upaya
No Alamat, Cp Dan Olahan & Merk Kendala
/Kota
Hp
Bantuan Alat Penerimaan
Dagang
Mutu/ Nama Penanganan
Ter Ter Perijinan*) mitra Tujuan
pasang pakai
usaha

*)Sertifikasi Jaminan Mutu : GHP/GMP/HACCP/ISO


Perijinan : ML/MD
[Type text]

Lampiran 6. Formulir verifikasi CP/CL (Poktan/Gapoktan)


Data verifikasi CP/CL (Poktan/Gapoktan)

I. Data Umum

Nama Poktan/Gapoktan :
Jumlah Kelompok :
Alamat (Desa, Kec, Kab, Prop) :
Komoditi :
Luas Areal Gapoktan :
Produksi :
Jumlah Anggota :
Ketersediaan air bersih :
Ketersediaan listrik :
Kesesuaian Lokasi :
Fasilitas Penanganan Limbah :
Fasilitasi sarana sebelumnya : ( ada/tidak ada), Sumber bantuan
........., tahun......
Registrasi/sertifikasi produk olahan dari instansi penerbit seperti Dinas
Kesehatan, Dinas Pertanian, BPOM : (ada/tidak ada) Sumber
sertifikasi...............,tahun.......
[Type text]

II. Kondisi UPH Saat ini


Sarana Yang dimiliki
Volume Alsin yang
Nama Ketersediaan Kemasan/
Produksi dimiliki
No produk Bahan Kondisi Pemasaran Ruang
/(..../.... (kapasitas
olahan Baku/Hari Kemasan prosesing
) terpasang
/..../....)
Luas :...
Kondisi
:...
Status
lahan :

Catatan : ................................................................

III. Fasilitasi UPH yang diusulkan

Sarana Yang diusulkan*


Nama Ketersediaan Volume Rencan Alsin yang
Bahan Baku Rencana
produ Produksi a diusulkan
No Pemasar
k (.../...) Kemas Ruang prosesing (kapasitas
(..../...) an
olahan an terpasang
/..../....)
Revitalisasi 1.......
(...m2) :... 2......
Pembangunan 3.......
baru (...m2) :...
Status lahan :

Catatan :
*Sarana dan Prasarana harus memenuhi standar GMP
Informasi lainnya : ..................................................................
[Type text]

IV. Rekomendasi tim verifikasi


(verifikator,petugas pendamping kabupaten, propinsi) :
.................................................................................
.................................................................................
.................................................................................

Petugas verifikator Petugas Pendamping Petugas pendamping


Dinas Kabupaten Dinas Propinsi

(........................) (.........................) (........................)


[Type text]

Lampiran 7. Contoh Rencana Usaha Kegiatan Kelompok


(RUKK)
Rekapitulasi RUKK Gapoktan
DINAS PERKEBUNAN PROVINSI
Dana Tugas Pembantuan Tahun .

Kelompok
Pagu
No Nama barang Penerima Volume
(Rp)
Bantuan/Alamat
Fasilitasi Pengolahan
Kelapa
1 Mesin Parut Kelapa 2 Unit
2 Mesin Pemeras Santan 1 unit
3 Mesin Penyaring Minyak 1 Unit
Kelapa
4 Mesin 1 unit
Pengemas/Pengunci
Tutup Botol
Mesin
5 Pemurni Minyak Kelapa 1 unit

6 ............................ ... unit

7 ............................ ... unit

Menyetujui, Mengetahui,
1. Poktan/Gapoktan : Kepala Dinas
Prop/Kab/Kota


2. Tim Teknis Kab/Kota :

3. Tim Teknis Prop :


[Type text]

Lampiran 8. Daftar Lembaga yang Berwenang


Mengeluarkan Test Report
No Lembaga / Laboratorium Alamat Prioritas Pengujian
1 Balai Pengujian Mutu Alat Jl. Lio Sawah Indah Alsin Pra Dan Pasca
Dan Mesin Citayam, Bojong Pondok Panen
Terong, Pancoran Mas,
Depok 16431
2 Balai Besar Pengembangan Situgadung, Legok, Tromol Alsin Pra Dan Pasca
Mekanisasi Pertanian Pos 2 Serpong Tangerang- Panen
Banten
3 Pusat Penelitian Kopi Dan Jl. PB. Sudirman No. 90, Alsin Pra Panen,
Kakao Jember 68118, Jawa Timur Panen, Dan Pasca
Panen Kopi Dan
Kakao
4 Pusat Penelitian Teh Dan Gambung, Kotak Pos 1013, Alsin Pra Panen,
Kina Bandung 40010, Jawa Barat Panen, Dan Pasca
Panen Teh Dan Kina
5 Pusat Penelitian Kelapa PO BOX 1103, Medan 2001, Alsin Pra Panen,
Sawit Jl. Brigjen Katamso No. 51, Panen, Dan Pasca
Medan 20158, Sumatera Panen Kelapa Sawit
Utara
6 Balai Penelitian Teknologi Jl. Salak No. 1 Bogor 16151, Alsin Pra Panen,
Karet Bogor Jawa Barat Panen, Dan Pasca
Panen Karet
7 Pusat Penelitian Perkebunan Jl. Pahlawan 25 Pasuruan, Alsin Pra Panen,
Gula Indonesia 67126 Jawa Timur Panen, Dan Pasca
Panen Gula
8 Balai Penelitian Tanaman Kotak Pos 1004, Manado, Alsin Pra Panen,
Kelapa Dan Palma Lain 95001 Panen, Dan Pasca
Mapanget Panen Kelapa
9 UPTD. Balai Pengembangan Jl. Darmaga, Bojong Picung, Alsin Pra Panen dan
Mekanisasi dan Teknologi Cihea, Kab. Cianjur, Jabar. Pasca Panen Tanaman
Pertanian, Cihea, Jabar Tel. 0263-322358. Pangan
10 Laboratorium Teknologi Jl. Bandung-Sumedang Km. 21, Alsin Pra Panen dan
Pertanian, Universitas Jatinangor Sumedang, Tel. Pasca Panen
Padjadjaran, Bandung 022-7798844.
[Type text]

No Lembaga / Laboratorium Alamat Prioritas Pengujian

11 Laboratorium Pasca panen, Jl.Sosio Yustisia Bulak Alsin Pasca Panen


Fakultas Teknologi Sumur Yogyakarta, 55281, Tanaman Pangan
Pertanian, Universitas Gajah Tel. 0274-563542
Mada, Yogyakarta
12 Laboratorium Alat dan Mesin Kampus IPB Dramaga, PO. Alsin Pra Panen
Budidaya Pertanian, Institut Box 220 Bogor, 16220. Tel.
Pertanian Bogor 0251-627931.
13 Balai Pengujian Mutu Pakan Jl. MT. Haryono, SETTU. Alsin Peternakan.
Ternak. Bekasi.
14 UPTD. Balai Mekanisasi Jl. Syeikh Jamil Jambek Alsin Pra Panen dan
Pertanian Tanaman Pangan Bukittinggi, telp. (0752) Pasca Panen
dan Hortikultura 22823 Tanaman Pangan
dan Hortikultura
15 UPTD. Perbengkelan dan Jl. AH. Nasution No.7, Alsin Pra Panen dan
Pelatihan Alsintan, Dinas Medan, SUMUT, Telp. Pasca Panen
Pertanian SUMUT (061)7862124 Tanaman Pangan
[Type text]

Lampiran 9. Contoh Spesifikasi Sarana, Alat dan Mesin


Pengolahan Perkebunan

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN PERKEBUNAN


KARET
NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI
1 Slub Cutter (Alat Kapasitas : 300-500 Kg/ Jam
Pemecah)
Dimensi : 1200 x 600 mm
Penggerak : DIESEL 23 pk
Material : Rangka = Mild Steel
Pisau : HSS
Fungsi : Memecah bahan baku
menjadi kuran sedang (4
bagian)
2 Creepers (Alat Pemadat) Kapasitas : 100-200 Kg/ Sheift
Material : Mild Steel, UNP 100
Fungsi : Memadatkan keseragaman
bahan baku dengan proses
mikro dan menjadikannya
dalam bentuk lembaran
3 Gerobak Dorong Kapasitas angkut : 50-100 Kg
Ukuran Roda : 300-325,8
Velg Roda : Besi Tebal
4 Pembeku Lateks Bahan : Yang direkomendasikan
lembaga berwenang
5 Bak Pembeku Bahan Bak : Alumunium
Tebal bahan bak : 0,8 mm
Ukuran Bawah : 30 x 30 cm
Ukuran atas : 50 x 50 cm
Tinggi bak : 40 cm
6 Mangkok sadap Bahan bak : Plastik/ Pilyproline
Volume : 500 ml
[Type text]

Diameter atas : 11 CM
Tinggi : 9 cm
7 Talang sadap Bahan : Seng
Ketebalan : 0,2 MM
Jumlahgerigi : 6-8 buah
pangkal
Lebar : 4 cm
Panjang : 7 cm
8 Pisau sadap Bahan : Baja kualitas tinggi
Sudut mata : 55"
dalam
Tinggi lipatan : 1,5 cm
mata
Tinggi lengkung : 7 cm
pisau
Panjang : 10 cm
lengkungan
Lebar Pisau : 8,1 cm
Lebar mata : 1,7 cm
pisau
Tebal pisau : 0,2 cm
Tebal mata : 0, 1 cm
pisau
9 Timbangan Duduk Kapasitas : 500 Kg
Luas kantai : 37 x 53 cm
timbang
Tinggi : 100 cm
Timbangan
Tinggi lantai : 60 cm
Tinggi pagar : 60 cm
Bahan : Besi
Roda : 4 bh
10 Gancu Besi ukuran : 50 cm
Gagang gancu : Besi bulat
[Type text]

Panj gagang : 10-12 cm


pegangan
11 Cincin mangkok Bahan : Kawat
Diamater : 100 mm
Kawat : Kaki dan pengait
12 Bak Plastik Diameter : 60-70 mm, T : 60-70 cm
[Type text]

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN PERKEBUNAN


Tebu (Pengolahan Gula Merah)
NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI
1 Alat Penggilingan Tebu Type Silinder
Bahan Besi Cor, Besi Baja
dan Kuningan
2 Pompa air Daya : 125 watt
3 Wajan / Kawah Dimensi : Diameter 1000 cm
Radius : R 533 mm
Plat Utuh SS 304
Tebal : Min 4 mm (sertifikat)
4 Tutup Kawah / Cerobong Dimensi
diameter : 805 mm
Tinggi : 410 mm
Plat SUS 304
tebal : min 0.5 mm
5 Bailer / Centung Dimensi : 320 x 285 x 150 mm
Plat SUS 304 Tebal : 0.5 mm
6 Mesin Molen Pengaduk Gula Dimensi : 3464 x 118 x 1050 mm
Bak Gula : Plate SUS 304 tebal 2 mm
Frame : UNP 80 mm
Penggerak : Min 8 HP ber SNI
Sistem pengaduk spiral :
Material : SUS 304 diameter As
Spiral 20 mm
Dilengkapi kopling untuk memutar as pengaduk dan ulir
ke atas dan ke bawah
Diberi roda 4 buah dan pengunci roda
7 Meja Cetakan Gula Merah Dimensi : Min 2100 x 900 x
850 mm
Rangka mild steel :
Square pipe : 30 x 30 mm
Base Palte SS 304 tebal : minimal 2 mm
[Type text]

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN


PERKEBUNAN
Kakao (alat Pengolahan Coklat)

NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI


1 Roaster -Kapasitas : 10 - 30 kg/batch
Motor penggerak : Motor listrik
2 Mesin Pemecah Kulit dan Kapasitas : 10-50 kg/jam
Pemisah biji Kakao Sangrai Tipe : silinder berputar
Corong pemasukan : plat stainless steel
Motor penggerak : motor listrik
3 Pemasta kasar Kapasitas 20-80 kg/jam
Motor penggerak : motor listrik
4 Pemasta Halus (Ball Mill) Kapasitas : 10-25 kg/batch
Motor penggerak : motor listrik
5 Choncing Kapasitas : 10-20 kg/batch
Motor penggerak : motor listrik
[Type text]

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN


PERKEBUNAN
Kelapa (Alat pengolahan minyak kelapa)

NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI


1 Mesin parutan kelapa - Kapasitas : 30-50 btir/jam
- Penggerak : Motor penggerak
2 Mesin press santan - Kapasitas : 5 kg/press
manual
- Penggerak : Manual
3 Pemisah air dan minyak - Kapasitas : 3-5 liter/proses
4 Cooking Oil plan - Kapasitas : 500 liter - 1000 liter/hari
5 Oven
6 Ayakan Listrik Panjang : 140 cm
Lebar : 60 cm
Tinggi : 90 cm
Dimensi : 80 cm x 42 cm
pengayak
Penggerak : single phase 750 W 1400
dynamo listrik rpm
7 Timbangan digital Model AL - B : 48 x 62 cm
Platform
Power
rechargable
Display LED
Kapasitas : 300 kg
8 Continous Sealing
9 Wajan/Katel Ukuran Diameter : 68 cm
Bahan : galpanis
[Type text]

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN


PERKEBUNAN
Kopi ( Pengolahan kopi bubuk)

NO NAMA ALSIN SPESIFIKASI


1 Mesin Penyangrai Kapasitas 5 50 kg/jam
(Roaster) Motor Penggerak SNI
Silinder sangrai : plat stainless steel
Pengaduk dalam silinder : plat stainless steel
Sumber pemanas : kayu bakar/burner
LPG/minyak tanah
2 Mesin Pembubuk Kapasitas : 15-60 kg/jam
Motor Penggerak ber SNI
3 Mesin Pengemas otomatis Kapasitas : 40 100 pack/menit
Sistem pengoperasian : otomatis
Penggerak : motor listrik
[Type text]

CONTOH SPESIFIKASI ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN PERKEBUNAN


SAGU
No NAMA ALSIN SPESIFIKASI

1. Mesin pres sagu Lebar Rangka : 104 CM


Tinggi Rangka : 175 CN
Volume Tabung : 20 Kg (2 Tabung)
Hidrolik : 50 Ton
Catatan : Bahan Kerangka Besi (H : 15
CM) dan Tabung Stainlis Stell
2. Mesin pemeras Kapasitas : 50 Kg Sagu Parutan
sagu (Extruder)
Bahan Tabung : Stainles Stell

Waktu Pemerasan : 50 Kg/ 25 Menit


Kerangka : Besi
Saringan : Mess 80 (Bahan Stainlis Stell)

3. Portable Mesin Bahan : Stainles Stell


(Parut)
Motor Penggerak : B&S Vertikal 670 Kekuatan 6
PK, 9 HP
Waktu Pemerasan : 1 Jam/ Proses
Kerangka : Sasis dan Pegangan bahan
dasarnya besi
Bahan Bakar : Bensin
[Type text]

Lampiran 10. Laporan Running Usaha Komersil

Provinsi : .....................................
Kabupaten/Kota : .....................................
Nama Poktan/ Gapoktan : .....................................
Alamat : .....................................

I. Pembelian Bahan Baku

Asal Bahan
No. Jenis Bahan Baku Volume (Kg) Harga (Rp)
Baku

Total

II. Kesesuaian Alat dengan Spesifikasi

Jenis Perbaikan dan


Tidak
No. Jenis Alat Sesuai Target Penyelesaian
Sesuai
Bila Tidak Sesuai

Total

Jelaskan secara rinci bila tidak sesuai ...............................

III. Hasil Uji Coba Komersial


A. Pelaksanaan
1. Penggunaan alat (pilih salah satu jawaban) :
a. Dengan mudah dapat digunakan oleh Gapoktan
b. Penggunaan alat oleh Gapoktan/Poktan masih perlu
pendampingan
c. Ada kendala yang tidak dapat diperbaiki saat uji coba
komersil, target penyelesaian perbaikan alat pada
tanggal.....
[Type text]

2. Kapasitas produksi dibandingkan kapasitas terpasang (pilih salah


satu jawaban): a). 100% b).90-99% c)<90%, Yaitu.......%
B. Produksi Produk Olahan

Total Harga
No. Jenis Produk Volume (Kg) Harga (Rp)
Jual (Rp)

Total

IV. REKOMENDASI
a. .
b. .
c. .
d. .
e. .
..........,......... 2016

PT Penyedia Barang Ketua Kelompok/ Tim Teknis


Gapoktan
1. ......................

2. ......................

(....................) (.......................) 3. .......................


[Type text]

Lampiran 11. Naskah Ikatan Kerjasama Pengelolaan Barang


antara Dinas Perkebunan Propinsi dengan Gapoktan...

NASKAH IKATAN KERJASAMA PENGELOLAAN BARANG

Pada hari ini ., tanggal , bulan .........


tahun.., yang bertandatangan dibawah ini :
1. Nama : ..........................
Jabatan : Kepala Dinas
PerkebunanPropinsi........................
Alamat : .........................
Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA
2. Nama : .........................
Jabatan : Ketua Kelompok tani/ Gapoktan ..
Alamat : .........................
Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA)
Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Barang Nomor :
........., tanggal .......... tentang bantuan sarana pengolahan
dan pemasaran hasil pertanian yang bersumber dari APBN TA
2016 Satker Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian mata anggaran
kegiatan ...... sebanyak 1 (satu) set dengan spesifikasi teknis
terlampir, maka kedua belah pihak sepakat untuk
mengadakan ikatan kerjasama pengelolaan barang dalam
rangka mengoptimalkan penggunaan/pemanfaatan peralatan
tersebut dengan ketentuan sebagai berikut :
1. PIHAK PERTAMA berkewajiban :
a. Melakukan pencatatan, pembukuan dan
pengadministrasian barang serta keuangan dalam dalam
buku inventarisasi barang intern Satker Dinas
Perkebunan daerah bukan aplikasi SAI (SABMN)
b. Melakukan pembinaan, bimbingan teknis dan
manajemen, pelatihan, pengawalan (supervisi),
pendampingan, monitoring dan evaluasi kepada
[Type text]

kelompok tani/ gapoktan penerima bantuan


...........................
c. Melakukan pelatihan dan pendampingan kepada
Gapoktan di bidang pengolahan hasil tanaman pangan.
2. PIHAK KEDUA akan mendayagunakan peralatan yang
diberikan dengan cara :
a. Mengadministrasikan/mencatat/membukukan semua
kegiatan usaha pemanfaatan termasuk administrasi
keuangan baik penerimaan maupun pengeluarannya.
b. Membuat dan menyampaikan laporan secara berkala
setiap 3 (tiga) bulan kepada Pihak Pertama (Kepala
Dinas Pertanian Kabupaten/Kota).
3. Apabila PIHAK KEDUA tidak melaksanakan kewajibannya
sesuai dengan kesepakatan yang telah ditetapkan, maka
peralatan tersebut akan ditarik oleh PIHAK PERTAMA untuk
dialihkan ke Gapoktan lain agar lebih bermanfaat.
Naskah Ikatan Kerjasama ini berlaku selama 5 (lima) tahun
atau selama umur ekonomis peralatan ...... sejak
ditandatangani, dan dibuat rangkap 5 (lima) yang masing-
masing mempunyai kekuatan hukum yang sama dan 2 (dua)
diantaranya bermaterai cukup.

Demikian Ikatan Kerjasama ini dibuat dan ditandatangani


oleh kedua belah pihak.
PIHAK KEDUA PIHAK PERTAMA
Ketua GAPOKTAN Kepala Dinas
PerkebunanProvinsi
( )
( )
NIP. ..
[Type text]

Lampiran 12. Contoh Berita Acara Pemeriksaan Barang


BERITA ACARA PEMERIKSAAN BARANG
Nomor : .....................................................

Pada hari ini, hari ........., tanggal ........................, bulan


.........................., tahun dua ribu empat belas, yang bertanda tangan
di bawah ini :

Nama : Tim Pemeriksa Hasil Pengadaan Pengolahan Hasil


Perkebunan
pada Dinas Perkebunan Propinsi ................................
Alamat : .................................................... (ditulis lengkap)
Menyatakan telah melakukan pemeriksaan pengadaan ........di Propinsi
........................ sebanyak ........ dalam kondisi baru, baik, lengkap
dan dapat dioperasikan (hasil pemeriksaan terlampir).

Demikian Berita Acara Serah Pemeriksaan ini dibuat dan ditandatangani


oleh Tim Pemeriksa pada hari, tanggal, bulan, dan tahun seperti tersebut
di atas.
Tim Pemeriksa Barang

1.............................., ......................

2. ............................., ......................

3. ............................., ......................
[Type text]

Lampiran 13. Contoh Berita Acara Serah Terima Barang


dari Rekanan ke Dinas Perkebunan
BERITA ACARA SERAH TERIMA BARANG
Nomor : ............................
Pada hari ini, hari ........., tanggal ........................, bulan
.........................., tahun dua ribu empat belas, yang
bertanda tangan di bawah ini :
1. Nama : ................................................
Jabatan : PT.............................................
Alamat : ................................................
................................................
............................. (ditulis lengkap)
Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA
2. Nama : Tim Penerima ..............................
pada Dinas Perkebunan Propinsi .........
Alamat : ................................................
................................................
.............................. ditulis lengkap)
Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA
Dengan ini menyatakan bahwa :
1. PIHAK PERTAMA, telah menyerahkan ....... sebanyak
....... kepada PIHAK KEDUA dengan spesifikasi teknis
terlampir.
2. PIHAK KEDUA telah menerima penyerahan ....... tersebut
dalam kondisi baru, baik, lengkap dan dapat dioperasikan
sesuai hasil pemeriksaan terlampir
3. Jenis alat adalah hasil pengadaan barang pada Satuan
Kerja .......yang bersumber dari .......... : Nomor :
[Type text]

........, tanggal............., sesuai kontrak nomor :


............, tanggal .................................
Demikian Berita Acara Serah Terima (BAST) Barang ini dibuat
dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dan mempunyai
kekuatan hukum sama.
........................,......
......... 2016
PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA
Direktur Utama Tim Penerima Barang;
PT. ......................
1. .....................,

2. .....................,
( .................................)
3. .....................,
Catatan : BAST ini dibuat dalam 6 (enam) rangkap dengan 2
(dua) lembar bermaterai Rp. 6000,- (enam ribu rupiah)
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi
perkebunan andalan utama Indonesia, selain
sebagai produsen utama dunia juga merupakan
salah satu penyumbang devisa negara dari
ekspor non migas. Selama sepuluh tahun
terakhir perkembangan areal kelapa sawit terus
meningkat, hal ini terkait dengan menariknya
harga komoditi ini di pasar dunia yang
cenderung meningkat walaupun saat ini harga
minyak sawit cenderung turun seiring dengan isu
ekonomi dunia yang cenderung melemah.
Disamping isu isu negatif dari negara pesaing
lingkunan tapi perkembangan sawit didalam
negeri tetap berjalan.

Produk kelapa sawit selain digunakan sebagai


pangan juga dapat digunakan sebagai substitusi
dari energi yang berkelanjutan berupa biodiesel.
Kedepannya akan terjadi perebutan bahan baku
minyak sawit sebagai pangan dan bahan energi
jika tidak dikelola dengan baik.

Industri kelapa sawit merupakan salah satu


industri yang progresif dan memiliki produk
turunan yang bervariasi serta mempunyai
prospek pasar yang bagus.

Luas areal kelapa sawit sampai tahun 2014


sebesar 10,95 juta Ha, dimana seluas 4,55 juta

1
Ha atau sekitar 42% merupakan perkebunan
rakyat yang melibatkan sekitar 2 juta kepala
keluarga petani serta dapat sebagai penumbuh
lapangan kerja lainnya yang tidak terkait
langsung dengan produk sawit dan turunannya.
Perkebunan rakyat masih memerlukan bantuan
dari pemerintah terutama terkait dengan
kegiatan dari pasca panen sampai pemasaran
tandan buah segar (TBS) sawit. Perkebunan
sawit yang dikelola oleh rakyat mempunyai
bentuk yang bermacam-macam yaitu swadaya
atau mandiri, berkelompok dan membentuk
kelembagaan / koperasi; disamping itu proses
pemasaran antara pekebun dengan pengolah
kelapa sawit ada yang bersifat kemitraan dan
ada juga yang tidak melakukan kemitraan ( jual
lepas). Yang sering bermasalah adalah yang
tidak melakukan kemitraan karena seringkali
tidak jelas benih yang ditanam sehungga
berpengaruh terhadap rendemen minyak yang
dihasilkan dan ujung-ujungnya bermuara ke
harga TBS yang rendah.

Untuk menjembatani anatar pekeun dengan


pengolah kelapa sawit maka telah diterbitkan
Peraturan Menteri Pertanian nomor 14 Tahun
2013 tentang Tim Penetapan Pembelian Harga
TBS produksi petani Kelapa sawit. Untuk
pelaksanaan didaerah maka perlu disusun
pedomann agar secara nasional mempunyai
persepsi yang sama.

2
Dalam perhitungan penentuan harga TBS
komponen utama yang harus diperhatikan
adalah prosentase rendemen dari umur masing-
masing tanaman dikebun, rendemen dibagi
untuk minyak sawit dan inti sawit. Perhitungan
rendemen sebaiknya dievaluasi setiap 5 tahun
sekali atau disesuaikan dengan kebutuhan
dengan masing-masing propinsi.

Dalam menghitung besarnya indeks K yang


merupakan bagian yang harus diterima oleh
petani dilakukan berdasarkan pada harga
penjualan, biaya pengolahan dan biaya
pemasaran minyak sawit kasar (CPO) dan Inti
Sawit (PK) serta biaya penyusutan.

B. Tujuan
Tujuan dari pedoman ini adalah :
1. Untuk memberikan acuan bagi tim
penetapan harga TBS di daerah;
2. Memberi perlindungan perolehan harga yang
wajar dari TBS bagi para pekebun
3. Mengusulkan besarnya indeks K kepada
Gubernur

C. Sasaran
Sasaran yang akan dicapai adalah:
1. Menghindari persaingan harga yang tidak
sehat diantara pabrik kelapa sawit
2. Meningkatkan posisi tawar petani pekebun

3
II. PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari pedoman ini meliputi :
1. Pelaksanaan rapat tim penetapan TBS ;
2. Mekanisme pelaksanaan rapat tim ;
Memformulasikan besarnya indeks K
sebagai bahan usulan ke Gubernur;
3. Keanggotaan dari tim penetapan harga;
4. Pembinaan di propinsi dilakukan oleh
Gubernur
5. Pengawasan dilakukan oleh Gubernur

B. Pelaksana Kegiatan
Pelaksana rapat tim penetapan TBS sawit
adalah Pemerintah Daerah dengan diketuai
oleh Pemerintah Daerah propinsi atau yang
ditunjuk dengan anggota terdiri dari :
1. Pemerintah propinsi, Kabupaten/kota;
2. Dinas Perkebunan Propinsi,
Kabupaten/Kota;
3. perusahaan kelapa sawit,;
4. wakil dari petani pekebun atau kelembagaan
pekebun dan
5. instansi terkait lainnya,

4
C. Lokasi dan waktu
1. Pelaksanaan rapat tim penetapan TBS
bertempat di kantor Dinas Perkebunan
propinsi.
2. Dinas Perkebunan yang dimaksud adalah
daerah sentra produksi sawit sebanyak 20
(dua puluh) propinsi yaitu Aceh, Sumatera
Utara, Riau, Sumatera Barat, jambi,
Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka
Belitung, Lampung, Jawa Barat, Banten,
Kalimantan Barat, Kalimantan Timur,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,
Sulawesi, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah,
Papua dan Papua Barat.
3. Waktu pelaksanaan tim penetapan harga
dilakukan selama kurun waktu tahun 2016
dan dilaksanakan paling kurang sekali setiap
bulan.

D. Simpul Kritis
Permasalahan yang sering muncul adalah tidak
transparannya hitungan untuk proses
pengolahan yang ada di pabrik, rendemen
sawit yang bervariasi dan mempunyai persepsi
yang berbeda dalam cara perhitungan indeks
K.

Bagi pekebun yang tidak melakukan kemitraan


sering menimbulkan masalah terutama dalam
hal menerima harga yang lebih rendah.

5
E. Output Kegiatan

Output dari kegiatan pelaksanaaan tim


penetapan harga TBS adalah;
1. Menetapkan usulan besarnya nilai indek K
untuk disampaikan kepada Gubernur dan
2. Menetapkan harga TBS hasil kesepakatan
Tim berdasar atas umur tanaman.
3. Harga yang telah disepakati pada bulan ini
digunakan untuk harga pada pembelian
bulan berikutnya, atau harga byang telah
disepakati periode ini untuk peripode
berikutnya.

6
III. PEMBINAAN, PENGAWASAN, MONITORING
EVALUASI DAN PELAPORAN

A. PEMBINAAN
Pembinaan secara keseluruhan dalam tim
penetapan harga dilakukan oleh Pemerintah
Daerah, sementara pembinaan terhadap
pekebun atau kelembagaan pekebun dilakukan
oleh perusahaan perkebunan yang melakukan
kemitraan sedangkan bagi pekebun yang tidak
melakukan kemitraan pembinaan menjadi
tugas dan tanggung jawab dari dinas
perkebunan.

B. PENGAWASAN
Pengawasan dilakukan oleh Pemerintah
Daerah dengan melibatkan jajaran satuan
kerja diwilayahnya yang mempunyai fungsi
sebagai pengawasan. Jajaran yang akan
melakukan pengawasan akan diatur lebih
lanjut oleh Gubernur

C. MONITORING, EVALUASI DAN


PELAPORAN

Dinas yang membidangi perkebunan di


kabupaten dan propinsi wajib melakukan
monitoring, evaluasi dan pelaporan yang
dilakukan secara berjenjang untuk dilaporkan

7
secara terjadwal kepada Direktorat Jenderal
Perkebunan.

Jenis Pelaporan:
1. Laporan Bulanan tim penetapan harga
dengan hasil kesepatan berupa:
- Besarnya nilai indeks K yang diusulkan ke
Gubernur;
- Besaran harga TBS sesuai umur tanaman;
- Barga CPO dan Inti sawit yang berlaku

2. Laporan Akhir Tahun


Merupakan laporan lengkap hasil kompilasi
bulanan yang telah dilaporkan sebelumnya
termasuk didalamnya apabila ada
permasalahan yang muncul dan solusi
pemecahannya

8
IV. PEMBIAYAAN

Segala biaya yang dikeluarkan dalam rangka rapat


Tim Penetapan Harga TBS tersebut diatas
dibebankan kepada dana APBN Direktorat
Jenderal Perkebunan tahun 2016 yang disimpan
dalam bentuk Dana Dekonsentrasi

V. PENUTUP

Pedoman teknis ini digunakan sebagai acuan untuk


Dinas Perkebunan dalam melaksanakan rapat Tim
penetapan harga TBS didaerah dan menghindari
terjadinya perselisihan diantara pemangku
kepentingan.

9
PEDOMAN TEKNIS
(Penyelenggaraan Dana Dekonsentrasi)

PENERAPAN SISTEM JAMINAN MUTU DAN


KEAMANAN PANGAN

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN


HASIL PERKEBUNAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya Pedoman Teknis kegiatan Penerapan
Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan Tahun 2016
telah selesai disempurnakan.

Petunjuk pelaksanaan kegiatan ini merupakan acuan


penyelenggaraan kegiatan bagi provinsi yang mendapat alokasi
anggaran dekonsentrasi untuk kegiatan penerapan sistem
jaminan mutu dan keamanan pangan tahun 2016. Dalam
melaksanakan kegiatan tersebut, Satuan Kerja Provinsi
penerima anggaran harus berkoordinasi dengan lembaga
pengawas keamanan pangan daerah. Dalam petunjuk
pelaksanaan kegiatan ini disampaikan juga unit kerja lain yang
terlibat dalam proses kegiatan.

Apabila kegiatan yang akan dilakukan menimbulkan keraguan


bagi daerah atau instansi terkait dan apabila daerah akan
melakukan perubahan/revisi, agar berkoordinasi dengan Ditjen
Perkebunan cq Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perkebunan.

Pedoman ini selalu terus dalam perbaikan, untuk itu saran dari
semua pihak sangat diharapkan untuk penyempurnaan lebih
lanjut. Kiranya pedoman ini dapat dilaksanakan dengan baik
oleh semua pihak terkait. Semoga bermanfaat.

Jakarta, Februari 2016


Direktur Jenderal Perkebunan,

Ir. Gamal Nasir, M.S


NIP. 19560728 198603 1 001

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GAMBAR iv
I PENDAHULUAN 1
I.1 Latar Belakang 1
I.2 Tujuan 2
I.3 Sasaran 2
I.4 Hasil yang diharapkan 2
II ISTILAH DAN DEFINISI 2
III PELAKSANAAN KEGIATAN 6
3.1 Mekanisme Pelaksanaan 6
3.2 Pembinaan dan Penerapan Sistem Jaminan 10
Mutu dan Keamanan Pangan
IV PELAPORAN 19
V KETENTUAN LAIN 19
VI PENUTUP 20
VII LAMPIRAN 21

ii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
1 Lokasi Pembinaan Penerapan Sistem 9
Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan TA
2016
2 Jadwal Pembinaan Penerapan Sistem 9
Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan TA
2016
3 Materi Apresiasi/Sosialisasi Sistem Jaminan 13
Mutu dan Keamanan Pangan
4 Materi Apresiasi/Sosialisasi Sistem Jaminan 14
Mutu dan Keamanan Non-Pangan (Bokar)
5 Materi Bimbingan Teknis Sistem Jaminan 16
Mutu dan Keamanan Pangan
6 Materi Bimbingan Teknis Sistem Jaminan 17
Mutu dan Keamanan non-Pangan (Bokar)

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1 Bagan alir Pembinaan dan Penerapan 10
Sistem Jaminan Mutu Keamanan Pangan

iv
PENERAPAN SISTEM JAMINAN MUTU
DAN KEAMANAN PANGAN

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuntutan konsumen terhadap standar mutu suatu
produk baik pangan maupun non pangan sudah
tidak bisa dihindarkan lagi. Penerapan jaminan
mutu merupakan langkah penting bagi pelaku
usaha untuk mendapatkan pengakuan formal
terkait dengan jaminan mutu yang diwujudkan
dalam bentuk sertifikat. Sertifikat tersebut
merupakan alat bukti Penerapan Sistem
Manajemen Mutu dan dapat menjadi jaminan
keberterimaan pangan baik dipasar domestik
maupun internasional.

Selain untuk menjamin keamanan pangan,


penerapan sistem jaminan mutu juga diterapkan
untuk produk non pangan seperti bahan olah karet
(Bokar) sebagai pendukung program nasional
Bokar Bersih pada tahun 2015.

Selanjutnya untuk membantu pelaku usaha


(poktan/gapoktan) agar mampu menghasilkan
produk pangan yang aman dan bermutu serta
produk non pangan yang bermutu, maka
Direktorat Jenderal Perkebunan memberikan
fasilitasi dana dekonsentrasi bagi propinsi untuk
komoditi kakao dan karet.

1
1.2 Tujuan
Untuk memberikan acuan kepada petugas Dinas
Lingkup Perkebunan provinsi dalam
melaksanakan kegiatan dekonsentrasi penerapan
sistem jaminan mutu dan keamanan pangan.

1.3 Sasaran
Poktan/Gapoktan di propinsi penerima dana
dekonsentrasi agar mampu menerapkan sistem
jaminan mutu dan keamanan pangan, baik untuk
produk pangan dan sistem jaminan mutu untuk
produk non pangan.

1.4 Hasil yang diharapkan


a. Output:
Terlaksananya penerapan sistem jaminan mutu
kakao di 12 provinsi dan penerapan sistem
jaminan mutu bokar di 11 provinsi untuk siap
sertifikasi/registrasi/rekomendasi.

b. Outcome:
Tersedianya produk hasil pertanian melalui
sertifikasi/registrasi/rekomendasi.

II ISTILAH DAN DEFINISI

1. Bahan Olah Karet yang selanjutnya Bokar


adalah lateks dan atau gumpalan yang dihasilkan
pekebun kemudian diolah lebih lanjut secara
sederhana sehingga menjadi bentuk lain yang
bersifat lebih tahan untuk disimpan serta tidak
tercampur dengan kontaminan;

2
2. Biji Fermentasi adalah biji kakao yang
memperlihatkan atau lebih permukaan irisan
keping biji berwarna coklat, berongga dan
beraroma khas kakao;

3. Fermentasi adalah proses pembentukan cita rasa


khas coklat dengan bantuan mikroba alami agar
diperoleh mutu biji kakao yang baik;

4. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) adalah


kumpulan beberapa kelompok tani yang
bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan
skala ekonomi dan efisiensi usaha;

5. Good Manufacturing Practices (GMP) adalah


serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
memproduksi suatu produk olahan antara lain
mencakup lokasi, bangunan, ruang dan sarana
pabrik, proses pengolahan, peralatan pengolahan,
penyimpanan dan distribusi produk olahan,
kebersihan dan kesehatan pekerja, serta
penanganan limbah dan pengelolaan lingkungan;

6. Good Handling Practices (GHP) adalah


serangkaian kegiatan yang dilakukan setelah
panen sampai dengan siap dikonsumsi dan/atau
diolah meliputi pengumpulan, perontokan,
pembersihan, pengupasan, trimming, sortasi,
perendaman, pencelupan, pelilinan, pelayuan,
pemeraman, fermentasi, penggulungan, penirisan,
perajangan, pengepresan, pengawetan,
pengkelasan, pengemasan, penyimpanan,

3
standardisasi mutu dan pengangkutan hasil
pertanian alat tanaman;

7. Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya


yang diperlukan untuk mencegah pangan dari
kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda
lain yang mengganggu, merugikan dan
membahayakan manusia;

8. Kelompok Tani adalah kumpulan


petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar
kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi
lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan
keakraban untuk meningkatkan dan
mengembangkan usaha anggota;

9. Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah


(OKKP-D) adalah lembaga/institusi atau unit kerja
di lingkup Pemerintah Daerah yang sesuai dengan
tugas dan fungsinya diberikan kewenangan untuk
melaksanakan pengawasan sistem jaminan mutu
pangan segar hasil pertanian;

10. Pelaku Usaha Perkebunan (PUP) adalah


pekebun dan perusahaan perkebunan yang
mengelola usaha perkebunan;

11. Standard Operating Procedure (SOP) adalah


prosedur pendokumentasian pengawasan,
pemantauan dan tindakan koreksi terhadap
kegiatan spesifik untuk setiap tahap produksi,
yang terdapat pada suatu unit usaha;

4
12. Standar Sanitation Operation Procedure
(SSOP) adalah prosedur pendokumentasian
pengawasan, pemantauan dan tindakan koreksi
terhadap sanitasi yang spesifik untuk setiap lokasi
tempat makanan yang diproduksi/unit produksi,
yang harus dimiliki oleh setiap pelaku usaha;

13. Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB)


adalah satuan usaha atau unit usaha yang
dibentuk oleh satuan usaha atau unit usaha yang
dibentuk oleh satu atau lebih kelompok pekebun
sebagai tempat penyelenggara bimbingan teknis
perkebunan, pengolahan, penyimpanan
sementara dan pemasaran bokar;

14. Unit Fermentasi Pengolahan Biji Kakao


(UFPBK) adalah satuan usaha atau unit usaha
yang dibentuk oleh dua atau lebih kelompok
pekebun sebagai tempat penyelenggaraan
berbagai kegiatan yang terintegrasi seperti
kegiatan pasca panen, pengolahan,
pengembangan mutu, penyimpanan sementara,
pelatihan dan pemasaran;

5
III PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1 Mekanisme Pelaksanaan

3.1.1 Pusat
Ditjen Perkebunan melakukan koordinasi dan
melakukan pengawalan kegiatan terhadap:
Sosialisasi sistem jaminan mutu dan
keamanan pangan;
Pendampingan penyusunan dokumen
sistem mutu;
Verifikasi penerapan Sistem Kendali
Internal (SKI);
Penyiapan sertifikasi/registrasi sistem mutu
dan keamanan pangan.

3.1.2 Daerah
a. Dinas perkebunan provinsi penerima dana
dekonsentrasi Penerapan Sistem Jaminan
Mutu dan Keamanan Pangan,
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
Bimbingan Teknis Penerapan Sistem
Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan;

b. Dinas perkebunan provinsi melakukan


identifikasi pelaku usaha perkebunan
sebagai calon penerap sistem jaminan
mutu dan keamanan pangan yang
pelaksanaanya dikoordinasikan dengan
dinas perkebunan Kabupaten/kota;

c. Fasilitator sistem jaminan mutu dan


keamanan pangan dinas perkebunan
6
kabupaten/Kota melakukan
pendampingan pelaksanaan penerapan
sistem jaminan mutu dan keamanan
pangan (sistem kendali internal);

d. Calon Penerima/Calon Lokasi (CPCL)


yang telah ditetapkan oleh kepala dinas
perkebunan provinsi harus menerapkan
sistem jaminan mutu dan keamanan
pangan secara konsisten dan
berkesinambungan;

e. Dinas perkebunan Kabupaten/Kota yang


menjadi sentra bokar di provinsi penerima
dana dekonsentrasi SJM Bokar
bertanggung jawab untuk meregistrasi
UPPB yang telah melakukan sistem
jaminan mutu bokar;

f. Dinas perkebunan kabupaten/kota yang


menjadi sentra kakao di provinsi penerima
dana dekonsetrasi bertanggung jawab
untuk meregistrasi UFPBK serta
mendampingi poktan/gapoktan dalam
mengajukan permohonan sertifikasi
jaminan keamanan pangan bagi UFPBK
kepada OKKP-D.

3.1.3 Otoritas Kompeten Keamanan Pangan


Daerah (OKKP-D)
Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah
(OKKP-D) sebagai lembaga pengawas mutu
dan keamanan pangan melakukan penilaian

7
melalui mekanisme sertifikasi jaminan
keamanan pangan kakao fermentasi dan
sertifikasi GHP/GMP terhadap pelaku usaha
yang sudah menerapkan sistem jaminan mutu
dan keamanan pangan.

3.1.4 Lokasi dan Jadwal


Lokasi dan jadwal pembinaan penerapan
sistem jaminan mutu dan keamanan pangan
tertera pada tabel 1 dan tabel 2.

Tabel 1 Lokasi Pembinaan Penerapan Sistem


Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan TA
2016.

No Provinsi

1. Daerah Istimewa Yogyakarta


2. Aceh
3. Sumatera Barat
4. Lampung
5. Sulawesi Tengah
6. Sulawesi Selatan
7. Sulawesi Tenggara
8. Maluku
9. Bali
10. Papua
11. Papua Barat
12. Sulawesi Barat

8
Tabel 2 Jadwal Pembinaan Penerapan Sistem
Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan TA
2015
Bulan ke-
KEGIATAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Fasilitasi
Penerapan
Sistem Jaminan
Mutu dan
Keamanan
Pangan
Fasilitasi
Penerapan
Sistem Jaminan
Mutu Bokar

9
3.2 Pembinaan Penerapan Sistem Jaminan Mutu dan
Keamanan Pangan

Tahapan pembinaan penerapan sistem jaminan mutu


dan keamanan pangan dapat dilihat pada gambar 1.

Identifikasi

Apresiasi dan sosialisasi Apresiasi dan sosialisasi

Pembentukan Tim SKI

BimbinganTeknis Penyusunan Dokumen SKI

Sosialisasi di Poktan

Penerapan SKI

Uji laboratorium

Verifikasi
(penerapan SKI)

Tindakan perbaikan

Permohonan Sertifikasi/registrasi

Gambar 1 Bagan alir Pembinaan Penerapan Sistem


Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan

10
Uraian bagan alir pembinaan penerapan sistem jaminan
keamanan pangan sebagai berikut :

3.2.1 Identifikasi
Dinas perkebunan provinsi melakukan identifikasi
calon pelaku usaha yang akan dibina baik secara
langsung atau melalui usulan dinas perkebunan
kabupaten/kota agar siap disertifikasi/registrasi.

Kriteria pelaku usaha, poktan/gapoktan yang akan


dibina dan siap untuk sertifikasi/registrasi meliputi:
Sudah menerapkan budidaya pertanian yang
baik;
Tergabung dalam kelompok;
Bersedia mengikuti tahapan pembinaan dan
sertifikasi/registrasi sistem jaminan mutu dan
keamanan pangan;
Memiliki komitmen untuk menerapkan sistem
jaminan mutu secara konsisten dan
berkesinambungan;
Memiliki komitmen terhadap
sertifikasi/registrasi yang akan dilakukan oleh
institusi tekait (OKKP-D, dinas lingkup
perkebunan Kabupaten/Kota).

3.2.2 Apresiasi dan Sosialisasi


a. Peserta
Anggota/pengurus yang berasal dari
poktan/gapoktan, penyuluh, pembina
kabupaten/kota dan pembina provinsi dan
pemangku kebijakan lainnya;

11
Memiliki komitmen untuk menerapkan
sistem jaminan mutu dan keamanan
pangan yang baik;
Jumlah Poktan/Gapoktan minimal 3 (tiga)
kelompok dan setiap poktan/gapoktan
diwakili oleh minimal 3 (tiga) orang yang
menangani teknis budidaya atau
penanganan pasca panen atau pengolahan
hasil perkebunan yang baik;
Poktan/gapoktan harus didampingi oleh
penyuluh dan petugas pembina dinas
perkebunan di kabupaten/kota tersebut dan
mengikuti kegiatan hingga selesai.

b. Narasumber
Pusat dan atau daerah provinsi,
kabupaten/kota;
Memilik kompentensi yang memadai
dibidangnya (pendidikan formal, pelatihan,
pengalaman pendampingan).

Kegiatan apresiasi dilakukan dalam rangka


pengenalan sistem jaminan mutu dan keamanan
pangan produk perkebunan yang baik serta untuk
membangun komitmen bagi Poktan/Gapoktan
yang akan dibina terhadap penerapan sistem
jaminan mutu dan keamanan pangan.

Materi apresiasi dan sosialisasi sistem jaminan


mutu dan keamanan pangan tertera pada tabel 3
dan tabel 4.

12
Tabel 3 Materi Apresiasi/Sosialisasi Sistem Jaminan
Mutu dan Keamanan Pangan
JPL Narasumber
NO MATERI (jam pelajaran)
@ 45 menit
1 Kebijakan sistem jaminan 2 Pusat/daerah
mutu dan keamanan pangan
produk perkebunan
2 Regulasi: 3 Pusat
Permentan 67 tahun 2014
tentang Persyaratan Mutu
dan Pemasaran Biji Kakao
3 Pengantar Keamanan 2 Pusat
Pangan
4 Pengantar Dokumentasi 1 Pusat
Penerapan Jaminan Mutu
dan Keamanan Pangan bagi
UFPBK
TOTAL 8

13
Tabel 4 Materi Apresiasi/Sosialisasi Sistem Jaminan
Mutu Non Pangan (Bokar)
JPL Narasumber
NO MATERI (jam pelajaran)
@ 45 menit
1 Kebijakan sistem jaminan 2 Pusat/daerah
mutu produk perkebunan
2 Regulasi: 4 Pusat
Permentan 38 tahun 2008
tentang pengolahan dan
pemasaran Bokar
Permendag 53 tahun 2009
tentang Pengawasan mutu
Rubber
SNI 06-2047-2002 Bokar
3 Pengantar Dokumentasi 1 Pusat/Daerah
Penerapan Jaminan Mutu
bagi UPPB
4 Pengantar Registrasi Unit 1 Pusat/Daerah
Pengolahan dan Pemasaran
Bokar
TOTAL 8

3.2.3 Bimbingan Teknis Penyusunan Dokumentasi


Sistem Mutu (Doksistu)

a. Pelaksanaan Kegiatan
Dokumen sistem mutu yang disusun adalah
Panduan sistem Kendali Internal (SKI) untuk
kelompok yang antara lain terdiri dari:
Panduan Mutu (manual);
Prosedur;
Instruksi Kerja;
Formulir Pendukung.

Penyusunan dokumen sistem mutu dilakukan


oleh tim (anggota poktan/gapoktan dan
14
penyuluh) keamanan pangan, dipandu oleh
narasumber dari pusat dan daerah.
Keterlibatan aktif narasumber daerah sangat
diharapkan, dalam melakukan pendampingan
penerapan sistem jaminan mutu dan
keamanan pangan di pelaku hingga tahap
sertifikasi.

b. Peserta
Telah mengikuti kegiatan apresiasi dan
sosialisasi sistem jaminan mutu dan
keamanan pangan;
Memiliki komitmen dalam penerapan sistem
jaminan mutu dan keamanan pangan yang
baik;
Poktan/gapoktan harus didampingi oleh
penyuluh dan petugas pembina dinas
perkebunan di kabupaten/kota tersebut dan
mengikuti kegiatan hingga selesai.

c. Narasumber
Pusat dan atau daerah provinsi,
kabupaten/kota;
Memiliki kompentensi yang memadai
dibidangnya (pendidikan formal, pelatihan,
pengalaman pendampingan).

d. Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan bimbingan teknis penyusunan
doksistu dilaksanakan paling lambat 1 (satu)
bulan setelah kegiatan apresiasi dan
sosialisasi dilaksanakan.

15
Materi bimbingan teknis sistem jaminan mutu
dan keamanan pangan dan Sistem Jaminan
Mutu Bokar tertera pada tabel 5 dan 6.

Tabel 5 Materi Bimtek Sistem Jaminan Mutu dan


Keamanan Pangan
JPL Narasumber
NO MATERI (jam pelajaran)
@ 45 menit
1 Review Permentan 67 tahun 1 Pusat
2014 tentang Persyaratan
Mutu dan Pemasaran Biji
Kakao
2 Pedoman pembentukan Unit 2 Pusat
fermentasi dan pemasaran
biji kakao (UFP-BK),
Penerbitan Surat Tanda
Pendaftaran (STP), dan
penerbitan surat keterangan
asal lokasi biji kakao (SKAL-
BK)
3 Pedoman penanganan 1 Pusat dan
pasca panen kakao Daerah
4 Pedoman penerbitan surat 2 Pusat
keterangan kesesuaian mutu
(SKKM) dan sertifikat
jaminan mutu biji kakao
(SJM-BK)
5 Pedoman pengambilan 2 Pusat
contoh dan pengujian mutu
biji kakao
6 GHP/GMP, SOP Sanitasi 2 Pusat
7 Sistem Kendali Internal 2 Pusat
(Teori dan Praktek)
8 Dokumentasi sistem Mutu 3 Pusat dan
(Penyusunan dan Daerah
presentasi)
9 Rencana tindak lanjut 1 Daerah
TOTAL 16

16
Tabel 6 Materi Bimbingan Teknis Sistem Jaminan Mutu
dan Keamanan Non Pangan (Bokar)
JPL Narasumber
NO MATERI (jam pelajaran)
@ 45 menit
1 Review Permentan 38 1 Pusat dan
tahun 2008 tentang Daerah
pengolahan dan
pemasaran Bokar
2 Pedoman Penerapan 3 Pusat
Sistem Jaminan Mutu
Bokar
3 Pedoman Registrasi Unit 2 Pusat
Pengolahan dan
Pemasaran Bokar (UPPB)
4 SOP produksi bokar bersih 4 Pusat
5 Sistem Kendali Internal 2 Pusat dan
(Teori dan Praktek) Daerah
6 Dokumentasi sistem Mutu 3 Pusat dan
(Penyusunan dan Daerah
presentasi)
7 Rencana tindak lanjut 1 Daerah
TOTAL 16

3.2.4 Sosialisasi Dokumentasi Sistem Mutu


(Doksistu)
Dokumen sistem mutu yang telah disusun dengan
pengesahan Pimpinan Poktan/Gapoktan
disosialisasikan kepada seluruh anggota
poktan/gapoktan oleh tim Keamanan Pangan
Poktan/Gapoktan. Tim dibantu oleh pendamping
agar panduan SKI dapat dipahami dan dijadikan
acuan penerapan sistem mutu dan keamanan
pangan.

17
3.2.5 Penerapan Sistem Jaminan Mutu dan
Keamanan Pangan
a. Dokumen sistem mutu yang telah disusun
harus diterapkan oleh poktan/gapoktan secara
konsisten dan berkesinambungan. Penerapan
sistem tersebut dapat dibuktikan dengan
membuat catatan/rekaman dengan masa
simpan tertentu;
b. Peran penyuluh/pendamping dan Tim
keamanan pangan sangat diperlukan;
c. Sebagai bukti penerapan sistem jaminan
mutu, poktan/gapoktan melakukan validasi
terhadap sampel produk melalui pengujian
keamanan pangan ke laboratorium,
sedangkan untuk bokar dilakukan secara
visual oleh petugas dinas yang kompeten;
d. Sedangkan untuk memastikan konsistensi dan
efektivitas penerapan sistem manajemen,
dilakukan audit internal oleh tim auditor
internal;
e. Untuk memastikan konsistensi dan efektivitas
penerapan sistem manajemen mutu bokar,
dilakukan verifikasi oleh petugas pengawas
mutu bokar yang sudah dilatih

3.2.6 Pra sertifikasi/registrasi /rekomendasi


Sebelum dilakukan sertifikasi/registrasi
/rekomendasi oleh lembaga penilai kesesuaian,
petugas pusat akan melakukan pra sertifikasi
/registrasi/rekomendasi untuk memastikan bahwa
sertifikasi/registrasi/rekomendasi layak untuk
diajukan kepada lembaga penilai kesesuaian.

18
3.2.7 Tindakan Perbaikan

Ketidaksesuaian selama pra sertifikasi/registrasi/


rekomendasi terhadap penerapan sistem, harus
diperbaiki terlebih dahulu oleh poktan sebelum
diajukan kepada lembaga penilai kesesuaian.

3.2.8 Permohonan Sertifikasi ke lembaga penilai


kesesuaian

Poktan/Gapoktan yang telah menyelesaikan


tindakan perbaikan dapat mengajukan
sertifikasi/registrasi/rekomendasi ke lembaga
penilai kesesuaian melalui dinas perkebunan
provinsi penerima dana dekonsentrasi.

IV PELAPORAN
Dinas perkebunan Provinsi penyelenggara kegiatan
dekonsentrasi Penerapan Sistem Jaminan Mutu dan
Keamanan Pangan wajib memberikan laporan
pelaksanaan kegiatan kepada Direktorat Jenderal
Perkebunan melalui Direktorat Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Perkebunan paling lambat 1
minggu setelah seluruh tahapan kegiatan selesai
dengan format sebagaimana lampiran 2.

V KETENTUAN LAIN
Dalam hal terjadi keadaan perubahan kebijakan yang
mendesak, kegiatan dekonsentrasi penerapan sistem
jaminan mutu dan keamanan pangan diharapkan
tetap dijadikan sebagai kegiatan prioritas, mengingat
bahwa kegiatan dimaksud dapat mendorong

19
peningkatan nilai tambah dan daya saing produk
yang aman dan bermutu.

VI PENUTUP
Demikian Pedoman Teknis kegiatan ini dibuat agar
dapat dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan
kegiatan penerapan sistem jaminan mutu dan
keamanan pangan tahun 2016.

20
LAMPIRAN
Lampiran 1
Laporan Pelaksanaan Penerapan
Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan
Dinas ............ Provinsi ........... Tahun 2016

Nama Poktan/Gapoktan :
Alamat :
Kontak person, nomor :
Handphone
Email :
Komoditi :
Luasan lahan :
Status Pembinaan (doksistu,
penerapan, permohonan
sertifikasi, sertifikasi)
Lembaga Penilai Keseuaian :
yang memberikan
sertifikat/registrasi/rekomendasi
Biodata narasumber :

Catatan:
Matriks di atas diisi untuk masing-masing poktan/gapoktan yang dibina
atau disertifikasi.

Lampiran Laporan :
1. Biodata poktan/gapoktan yang dibina (nama
poktan/gapoktan, daftar pengurus, alamat sekretariat, nomor
telepon, komoditi yang diusahakan, luasan, pemasaran, dll);
2. Copy sertifikat dari OKKP bila sudah sertifikasi.
KEGIATAN
PENGAWALAN REGULASI TEKNIS

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN


HASIL PERKEBUNAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2016
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ........ Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ......................................................................i
DAFTAR TABEL .............................................................. ii
I. PENDAHULUAN .................................................... 1
II. TUJUAN ................................................................. 4
III. SASARAN .......................................................... 4III.
SASARAN .............................................................. 5
IV. PENGERTIAN ........................................................ 5
V. RUANG LINGKUP KEGIATAN ................................ 6
VI. MEKANISME PELAKSANAAN............................... 6
VII. PELAPORAN ..................................................... 133
VIII. PEMBIAYAAN ...................................................... 14
IX. EVALUASI DAN TINDAK LANJUT ....................... 14
X. PENUTUP ............................................................ 144

Lampiran

i
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Lokasi pelaksanaan kegiatan 8
Capacity BuildingPenilaian Mutu
Biji Kakao Sesuai SNI

Tabel 2. Materi kegiatan Capacity 10


BuildingPenilaian Mutu Biji Kakao
Sesuai SNI
Tabel 3. Lokasi Pelaksanaan Kegiatan 11
Bimbingan Teknis Petugas
Registrasi Surat Tanda
Pendaftaran
Tabel 4. Materi Kegiatan Bimbingan 13
Teknis Petugas Registrasi Surat
Tanda Pendaftaran

ii
PENGAWALAN REGULASI TEKNIS

I PENDAHULUAN

Era perdagangan bebas membawa dampak ganda, di


satu sisi membuka kerjasama seluas-luasnya antar
negara, di sisi lain membawa persaingan yang tinggi
dan ketat. Hambatan tarif kini tidak lagi diperbolehkan,
kecuali untuk komoditi yang sangat sensitif bagi
perekonomian atau keadaan sosial suatu
negara.Persaingan dalam perdagangan internasional
semakin meningkat, resiko terhadap membanjirnya
barang impor yang kurang bermutu juga meningkat,
sementara perlindungan terhadap produsen dalam
negeri menjadi sangat terbatas.Sehingga, dalam
rangka melindungi kepentingan domestik banyak
negara menggunakan instrumen non tarif seperti
standar mutu produk.

Standar dapat dipergunakan sebagai persyaratan


spesifikasi minimum yang harus dipenuhi oleh produk
impor untuk memasuki pasar domestik, sekaligus
berfungsi sebagai alat perlindungan konsumen,
khususnya bagi produk-produk yang menyangkut
kesehatan, keamanan, keselamatan, dan pelestarian
fungsi lingkungan hidup.

1
Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar
resmi yang berlaku di Indonesia. Untuk sektor
pertanian, telah banyak standar yang dihasilkan
seperti SNI produk, SNI alat dan mesin maupun SNI
metode pengujian, hanya saja keberadaan standar
tersebut masih kurang terinformasi kepada
stakeholder terkait seperti pelaku usaha danpembina
mutu di daerah.

Penerapan SNI perkebunan sampai saat ini sebagian


besar masih bersifat sukarela, namun penerapannya
dapat diwajibkan dengan beberapa pertimbangan
yang menyangkut keamanan, keselamatan dan
kesehatan. Penerapan wajib tersebut dapat ditetapkan
oleh instansi teknis yang terkait dengan
memperhatikan kesiapan pelaku usaha dan sarana
prasarana pendukung seperti laboratorium dan
lembaga sertifikasi. Jika SNI produk perkebunan
yang telah ditetapkan dapat diterapkan dengan baik,
maka ini dapat menjadi keunggulan komparatif bagi
produk tersebut.

Kementerian Pertanian telah menetapkan beberapa


jenis komoditas perkebunan sebagai komoditas
prioritas pengembangan salah satunya biji kakao
dengan pertimbangan potensi untuk peningkatan daya
saing dan nilai tambah yang tinggi serta mempunyai
multiplier effect yang luas terhadap peningkatan
industri perdesaan.

2
Biji kakao merupakan salah satu komoditi ekspor yang
cukup banyak memberikan sumbangan bagi devisa
(data statistik ditjen perkebunan), namun karena mutu
biji kakao Indonesia yang rendah terutama karena
tidak difermentasi, menyebabkan harga biji kakao
Indonesia lebih rendah dari negara kompetetitor
lainnya. Kondisi mutu biji kakao yang demikian juga
menyebabkan industri dalam negeri harus melakukan
impor biji kakao fermentasi dari negara lain, dan
tentunya hal ini sangat menyedihkan padahal produksi
biji kakao Indonesia cukup tinggi. Oleh karena itu
diperlukan upaya perbaikan mutu kakao, salah
satunya adalah melalui proses fermentasi.

Kementerian Pertanian telah menetapkan Permentan


No. 67/Pementan/OT.140/5/2014 tentang Persyaratan
Mutu dan Pemasaran Biji Kakao yang bertujuan untuk
meningkatkan daya saing dan nilai tambah biji kakao
Indonesia, mendukung pengembangan industri kakao
dalam negeri, perlindungan pada konsumen dari
peredaran biji kakao yang tidak memenuhi
persyaratan mutu, meningkatkan pendapatan petani
serta mempermudah penelusuran kemungkinan
terjadinya penyimpangan produksi dan peredaran biji
kakao.

Sebagai upaya untuk memperkuat penerapan


Permentan tersebut di lapangan diperlukan sumber
daya manusia yang mampuuntuk menguji dan

3
menganalisa biji kakao secara tepat. Oleh karena itu
dianggap perlu untuk melaksanakan kegiatanCapacity
Building Penilaian Mutu Biji Kakao sesuai SNI.

Agar kegiatan dapat terlaksana dengan baik sesuai


dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan, maka
dibutuhkan standar operasional pelaksanaan di
lapangan.

II TUJUAN

Tujuan disusunnya petunjuk pelaksanaan kegiatan


pengawalan regulasi teknis adalah sebagai acuan
bagi Dinas Perkebunan Provinsi dalam melaksanakan
kegiatan dana dekonsentrasi Capacity Building
Penilaian Mutu Biji Kakao Sesuai SNI dan Bimbingan
Teknis Petugas Registrasi Surat Tanda Pendaftaran
sehingga kegiatan tersebut berjalan efektif, efisien dan
sesuai sasaran yang diharapkan.

III SASARAN

Sasaran kegiatan kegiatan Pengawalan Regulasi


Teknisadalah dipahaminya standar dan kebijakan di
bidang mutu dan standardisasi oleh para Pembina dan
pengawas mutu, produsen, konsumen, serta para
pemangku kepentingan yang adadi daerah. Dengan
demikian diharapkan produk perkebunan yang
dihasilkan di tingkat pelaku usaha dapat sesuai
dengan standar nasional yang telah ditetapkan
4
sehingga produk tersebut memiliki daya saing yang
tinggi.

IV PENGERTIAN

1. Standar adalah dokumen berisi ketentuan,


pedoman, karakteristik kegiatan atau hasilnya
yang dirumuskan melalui konsensus oleh pihak-
pihak yang berkepentingan dan ditetapkan oleh
badan yang berwenang, sebagai acuan dalam
kegunaan yang bersifat umum dan/atau berulang
untuk mencapai tingkat keteraturan optimum
dalam konteks tertentu;

2. Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah


standar tentang produk (barang, jasa, dan sistem),
proses, sistem manajemen, dan hal lain yang
berkaitan, yang diterapkan secara nasional;

3. SNI wajib adalah SNI yang diberlakukan wajib


secara nasional melalui regulasi teknis;

4. Instansi teknis adalah Kementerian atau


Lembaga Pemerintah Non dilingkungan
pemerintah pusat yang salah satu kegiatannya
melakukan kegiatan standardisasi;

5. Produsen adalah pihak yang mewakili penghasil


produk, baik asosiasi maupun badan usaha;

5
6. Konsumen adalah pihak yang mewakili
kepentingan pengguna produk akhir baik
perorangan maupun organisasi;

7. Penilaian kesesuaian adalah rangkaian kegiatan


yang bertujuan untuk menilai kesesuaian suatu
produk, proses, sistem manajemen, dan/atau
kompetensi personel terhadap standar atau
ketentuan lain yang telah ditetapkan;

Sertifikasi adalah kegiatan penilaian kesesuaian


yang berkaitan dengan pemberian jaminan tertulis
bahwa suatu produk, proses, sistem manajemen,
dan/atau kompetensi personel telah memenuhi
standar atau ketentuan lain yang telah ditetapkan.

V RUANG LINGKUP KEGIATAN

Ruang lingkup kegiatan Pengembangan Standardisasi


meliputi:
1 Capacity Building Penilaian Mutu Biji Kakao sesuai
SNI;
2 Bimbingan Teknis Petugas Registrasi Surat Tanda
Pendaftaran.

VI MEKANISME PELAKSANAAN

6
1. Capacity Building Penilaian Mutu Biji Kakao
sesuai SNI

Tujuan
Kegiatan Capacity Building Penilaian Mutu Biji
Kakao sesuai SNI bertujuan untuk
mempersiapkan petugas pengawas mutu agar
mampu dan terampil dalam melakukan
pengujian mutu biji kakao sesuai parameter
yang diatur dalam Permentan 67 tahun 2014
tentangPersyaratan Mutu dan Pemasaran Biji
Kakao.

Anggaran
Dana dekonsentrasi dialokasikan dari DIPA
Ditjen Perkebunan Tahun 2016.

Lokasi
Pelaksanaan Kegiatan Capacity Building
Penilaian Mutu Biji Kakao sesuai SNI
dilaksanakan di 12 Provinsi dengan rincian
sebagai berikut :

7
Tabel 1 Lokasi pelaksanaan Kegiatan Capacity
Building Penilaian Mutu Biji Kakao sesuai
SNI
No Provinsi

1. Daerah Istimewa Yogyakarta


2. Aceh
3. Sumatera Barat
4. Lampung
5. Sulawesi Tengah
6. Sulawesi Selatan
7. Sulawesi Tenggara
8. Maluku
9. Bali
10. Papua
11. Papua Barat
12. Sulawesi Barat

Waktu
Kegiatan Capacity Building Penilaian Mutu Biji
Kakao sesuai SNI dapat diselenggarakan
mulai bulan Februarisampai Agustus2016.

Mekanisme Pelaksanaan
Kegiatan Capacity Building Penilaian Mutu Biji
Kakao sesuai SNI dilakukan di kelompok yang
merupakan cikal bakal Unit Fermentasi Biji
Kakao. Pelatihan dilaksanakan dengan pola
penyampaian materi dan praktek pengujian biji
kakao sehingga harus tersedia bahan praktek
seperti biji kakao, alat ukur kadar air,

8
timbangan digital dan alat untuk membelah biji
kakao.

Peserta
Peserta kegiatan Capacity Building Penilaian
Mutu Biji Kakao sesuai SNI antara lain adalah
:
Pembina mutu kabupaten/kota tempat
UFPBK berada;
Pengawas mutu/PMHP kabupaten/kota
tempat UFPBK berada;
Anggota kelompok UFPBK (Unit
Fermentasi dan Pengolahan Biji Kakao).

Narasumber
Narasumber berasal dari instansi pusat dan
daerah yang kompeten dalam bidang Mutu
dan Standardisasi khususnya metode
pengujian dan atau penilaian mutu biji kakao.

Materi
Materi berupa kebijakan/Permentan tentang
Persyaratan Mutu dan Pemasaran Biji Kakao,
bedah SNI biji kakao, teori dan praktek
pengujian/penilaian mutu biji kakao.

9
Tabel 2 Materi Kegiatan Penilaian Mutu Biji Kakao
sesuai SNI
NO. MATERI JPL NARASUMBER
(jam
pelajaran)
@ 45 menit
1 Kebijakan/Permentan 2jpl Pusat
tentang Persyaratan
Mutu dan Pemasaran
Biji Kakao
2 Bedah SNI biji kakao 2 jpl Pusat
3 Teori 2 jpl Pusat
pengujian/penilaian
mutu biji kakao
4 Praktek 4 jpl Pusat
pengujian/penilaian
mutu biji kakao
Total 10 jpl

2. Teknis Petugas Registrasi Surat Tanda


Pendaftaran

Tujuan
Kegiatan Bimbingan Teknis Petugas
Registrasi Surat Tanda Pendaftaran bertujuan
untuk mempersiapkan petugas agar mampu
dan terampil dalam melakukan registrasi surat
tanda pendaftaran sesuai dengan parameter
yang diatur dalam Permentan 67 tahun 2014
tentang persyaratan mutu dan pemasaran biji
kakao.

10
Anggaran
Dana dekonsentrasi yang dialokasikan antara
Rp. 100.000.000,- s.d 120.000.000,- /lokasi.

Lokasi
Pelaksanaan Kegiatan bimbingan teknis
petugas registrasi surat tanda pendaftaran
dilaksanakan di 12 Provinsi dengan rincian
sebagai berikut :

Tabel 3 Lokasi Pelaksanaan kegiatan Bimbingan


Teknis Petugas Registrasi Surat Tanda
Pendaftaran
No Provinsi

1. Daerah Istimewa Yogyakarta


2. Aceh
3. Sumatera Barat
4. Lampung
5. Sulawesi Tengah
6. Sulawesi Selatan
7. Sulawesi Tenggara
8. Maluku
9. Bali
10. Papua
11. Papua Barat
12. Sulawesi Barat

Waktu
Kegiatan bimbingan teknis petugas registrasi surat
tanda pendaftaran dapat diselenggarakan mulai
bulan Februari sampai Agustus 2016.

11
Mekanisme Pelaksanaan
Kegiatan bimbingan teknis petugas registrasi
surat tanda pendaftaran dilakukan dengan
mengumpulkan petugas registrasi di satu
pertemuan untuk dilatih bagaimana tatya cara
melakukan pendaftaran yang sesuai dengan
Permentan 67 Tahun 2014 dimaksud.
Pelatihan dilaksanakan dengan pola
penyampaian materi.

Peserta
Peserta kegiatan bimbingan teknis petugas
registrasi surat tanda pendaftaran antara lain:
petugas yang diberi tugas untuk melakukan
registrasi surat tanda pendaftaran sesuai
dengan Permentan 67 Tahun 2014

Narasumber
Narasumber berasal dari instansi pusat dan
daerah yang kompeten dalam bidang Mutu
dan Standardisasi.

Materi
Materi berupa kebijakan/Permentan tentang
Persyaratan Mutu dan Pemasaran Biji Kakao,
teori dan praktek registrasi surat tanda
pendaftaran, Sistem Informasi Kakao
Fermentasi (SIKAF).
12
Tabel 4Materi kegiatan Bimbingan Teknis Petugas
Registrasi Surat Tanda Pendaftaran
NO. MATERI JPL
(jam pelajaran)
@ 45 menit
1 Kebijakan/Permentan tentang 2jpl
Persyaratan Mutu dan
Pemasaran Biji Kakao
2 teori dan praktek registrasi 4 jpl
surat tanda pendaftaran
3 Sistem Informasi Kakao 2 jpl
Fermentasi (SIKAF)
Total 8 jpl

VII PELAPORAN
Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan
Pengawalan Regulasi Teknis maka disusun laporan
pelaksanaan kegiatan Capacity Building Penilaian
Mutu Biji Kakao sesuai SNI dan kegiatan Bimbingan
Teknis Petugas Registrasi Surat Tanda Pendaftaran.

Laporan tersebut wajib ditembuskan ke Direktorat


Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Ditjen
Perkebunan paling lambat 1 (satu) bulan setelah
pelaksanaan kegiatan.

13
VIII PEMBIAYAAN
Biaya untuk pelaksanaan kegiatan Pengawalan
Regulasi Teknis dialokasikan melalui APBN TA 2016
pada Dinas Provinsi lingkup Perkebunan.

IX EVALUASI DAN TINDAK LANJUT


1. UFPBK memiliki anggota yang memahami
persyaratan mutu biji kakao dan bisa melakukan
pengujian mutu secara mandiri.
2. Petugas Dinas Perkebuan dapat melakukan
registrasi surat tanda pendaftaran UFPBK sesuai
dengan Permentan 67 Tahun 2014

X PENUTUP
Pedoman teknis inibersifat dinamis dan akan
disesuaikan kembali apabila terjadi perubahan sesuai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
kebutuhan masyarakat.

14
LAMPIRAN

15
PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR : 67/Permentan/OT.140/5/2014

TENTANG
PERSYARATAN MUTU DAN PEMASARAN BIJI
KAKAO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa kakao merupakan


salah satu komoditas
unggulan perkebunan
bersifat strategis yang
mampu meningkatkan
pendapatan masyarakat,
menghasilkan devisa bagi
negara, menyediakan
lapangan kerja bagi
masyarakat dan membantu
pelestarian fungsi lingkungan
hidup;
b. bahwa dalam rangka untuk
menindaklanjuti amanat
ketentuan Pasal 28 Undang-
Undang Nomor 18 Tahun
2004 tentang
Perkebunanserta untuk
meningkatkan nilai tambah,
daya saing, menciptakan
persaingan usaha yang sehat
dan terjaminnya
mutukeamanan pangan,
maka perlu dilakukan upaya
pengawasan mutu biji kakao;
c. bahwa berdasarkan
pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan
huruf b, perlu menetapkan
Persyaratan Mutu dan
Pemasaran Biji Kakao;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12


Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman
(Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1992 Nomor
46, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia
Nomor 3478);
2. Undang-Undang Nomor 16
Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan dan
Tumbuhan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun
1992 Nomor 56, Tambahan
Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3482);
3. Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1994 tentang
Agreement Establishing The
World Trade Organization
(Persetujuan Pembentukan
Organisasi Perdagangan
Dunia) (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun
1994 Nomor 57, Tambahan
Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3564);
4. Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1995 tentang
Kepabeanan (Lembaran
Negara Republik Indonesia
Tahun 1995 Nomor 75,
Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor
3612) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-
Undang Nomor 17 Tahun
2006 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun
2006 Nomor 93,
Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor
4661);
5. Undang-Undang Nomor 18
Tahun 2004 tentang
Perkebunan (Lembaran
Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 85,
Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor
4411);
6. Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor
125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia
4437);
7. Undang-Undang Nomor 18
Tahun 2012 tentang Pangan
(Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2012 Nomor
227 Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia
Nomor 5360);
8. Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2014 tentang
Perindustrian (Lembaran
Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 4
Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor
5492);
9. Peraturan Pemerintah Nomor
44 Tahun 1997 tentang
Kemitraan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun
1997 Nomor 91, Tambahan
Lembaran NegaraRepublik
Indonesia Nomor 3718);
10. Peraturan Pemerintah Nomor
102 Tahun 2000 tentang
Standardisasi Nasional
Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun
2000 Nomor 199, Tambahan
Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4020);
11. Peraturan Pemerintah Nomor
14 Tahun 2002 tentang
Karantina Tumbuhan
(Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor
35, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia
Nomor 41967);
12. Peraturan Pemerintah Nomor
28 Tahun 2004 tentang
Keamanan, Mutu dan Gizi
Pangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 107, Tambahan
Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4424);
13. Peraturan Pemerintah Nomor
38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan
Pemerintah Antara
Pemerintah, Pemerintah
Daerah Provinsi, Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota
(Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor
82, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia
Nomor 4737);
14. Keputusan Presiden Nomor
84/P Tahun 2009 tentang
Pembentukan Kabinet
Indonesia Bersatu II;
15. Peraturan Presiden Nomor 47
Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi
Kementerian Negara,
sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 55
Tahun 2013 (Lembaran
Negara Republik Indonesia
Tahun 2013 Nomor 125);
16. Peraturan Presiden Nomor 24
Tahun 2010 tentang
Kedudukan, Tugas dan
Fungsi Kementerian Negara
serta Susunan Organisasi,
Tugas dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara
sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 56
Tahun 2013 (Lembaran
Negara Republik Indonesia
Tahun 2013 Nomor 126);
17. Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 58/Permentan/
OT.140/8/2007 tentang
Pelaksanaan Sistem
Standardisasi Nasional di
Bidang Pertanian;
18. Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 35/Permentan/O.T
140/07/2008 tentang
Persyaratan dan Penerapan
Cara Pengolahan Hasil
Pertanian Asal Tumbuhan
Yang Baik (Good
Manufacturing Practices);
19. Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 20/Permentan/O.T
140/02/2010 tentang Sistem
Jaminan Mutu Pangan Hasil
Pertanian;
20. Peraturan Menteri Pertanian
Nomor
61/Permentan/OT.140/10/2
010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian
Pertanian;
21. Peraturan Menteri Pertanian
Nomor
88/Permentan/PP.340/12/2
011 tentang Pengawasan
Keamanan Pangan Terhadap
Pemasukan dan Pengeluaran
Pangan Segar Asal
Tumbuhan;
22. Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 51/Permentan/
OT.140/9/2012 tentang
Pedoman Penanganan Pasca
Panen Kakao;
23. Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 18 Tahun
2013 tentang Kode dan Data
Wilayah Administrasi
Pemerintahan;

Memperhatikan : Notifikasi Indonesia


G/SPS/N/IDN/64 terkait
Persyaratan Mutu dan
Pemasaran Biji Kakao;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI


PERTANIAN TENTANG
PERSYARATAN MUTU DAN
PEMASARAN BIJI KAKAO.
BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:


1. Biji Kakao adalah biji kakao dari tanaman
kakao (Theobroma cacao L.) yang berasal dari
biji kakao mulia atau biji kakao lindak setelah
melalui proses fermentasi, dicuci atau tanpa
dicuci, dikeringkan dan dibersihkan.
2. Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Poktan
adalah kumpulan petani yang dibentuk atas
dasar kesamaan kepentingan dan kondisi
lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) serta
keakraban untuk meningkatkan dan
mengembangkan usaha anggota.
3. Gabungan Kelompok Tani yang selanjutnya
disebut Gapoktan adalah kumpulan beberapa
kelompok tani yang bergabung dan
bekerjasama untuk meningkatkan skala
ekonomi dan efisiensi usaha.
4. Pelaku Usaha adalah badan usaha yang
berbentuk badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum negara Republik Indonesia yang
menyelenggarakan kegiatan usaha dalam
bidang penanganan kakao.
5. Unit Fermentasi dan Pemasaran Biji Kakao
yang selanjutnya disebut UFP-BK adalah unit
usaha yang dibentuk oleh satu atau lebih
Poktan atau Gapoktan atau Pelaku Usaha
sebagai tempat kegiatan penanganan,
pemrosesan, dan pemasaran Biji Kakao.
6. Surat Tanda Pendaftaran yang selanjutnya
disebut STP adalah dokumen tertulis yang
diterbitkan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) kabupaten atau kota yang
menyelenggarakan fungsi perkebunan yang
menyatakan bahwa UFP-BK telah terdaftar
secara resmi.
7. Surat Keterangan Asal Lokasi Biji Kakao yang
selanjutnya disebut SKAL-BK adalah surat
keterangan yang diterbitkan oleh UFP-BK yang
menerangkan asal Biji Kakao dan telah
memenuhi persyaratan mutu sebagai pelengkap
administrasi dalam proses perdagangan
dan/atau peredaran Biji Kakao.
8. Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat
yang selanjutnya disebut OKKP-P adalah
institusi atau unit kerja di lingkup Kementerian
Pertanian yang sesuai dengan tugas dan
fungsinya diberikan kewenangan untuk
melaksanakan pengawasan Sistem Jaminan
Mutu Pangan Hasil Pertanian.
9. Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah
yang selanjutnya disebut OKKP-D adalah
Satuan Kerja Pemerintah Daerah yang sesuai
dengan tugas dan fungsinya diberikan
kewenangan untuk melaksanakan pengawasan
Sistem Jaminan Mutu Pangan Hasil Pertanian.
10. Sertifikat Jaminan Mutu Biji Kakao yang
selanjutnya disebut SJM-BK adalah bukti
tertulis yang dikeluarkan oleh OKKP-D kepada
UFP-BK yang telah mampu menerapkan sistem
jaminan mutu.
11. Surat Keterangan Kesesuaian Mutu yang
selanjutnya disebut SKKM adalah dokumen
yang terbitkan oleh OKKP-D yang menerangkan
hasil penilaian kesesuaian mutu Biji Kakao
terhadap persyaratan mutu Biji Kakao yang
sudah ditentukan.
12. Sistem Jaminan Mutu Biji Kakao adalah
rangkaian kegiatan dalam rangka menerapkan
jaminan mutu sesuai pedoman penanganan
pasca panen hasil pertanian asal tanaman yang
baik (good handling practices).
13. Penanganan Biji Kakao adalah bagian dari
rangkaian kegiatan mulai dari sortasi buah
sampai menghasilkan Biji Kakao sesuai
persyaratan mutu Biji Kakao.
14. Pemasaran Biji Kakao adalah kegiatan
transaksi jual beli Biji Kakao yang dilakukan
antara UFP-BK dengan industri pengolahan dan
atau eksportir.
15. Industri Pengolahan adalah suatu industri yang
melakukan kegiatan mengubah Biji Kakao
sehingga menjadi barang setengah jadi dan
atau barang jadi.
16. Eksportir adalah orang perseorangan, lembaga
atau lembaga usaha, baik berbentuk badan
hukum atau bukan badan hukum yang
melakukan ekspor Biji Kakao.
17. Kemitraan Usaha adalah kerjasama antara
UFP-BK dengan industri pengolahan dan atau
eksportir.
18. Serangga Hidup adalah serangga pada stadia
apapun yang ditemukan hidup pada partai
barang.
19. Biji Berserangga adalah Biji Kakao yang
dibagian dalamnya terdapat serangga pada
stadia apapun atau terdapat bagian-bagian dari
tubuh serangga, atau yang memperlihatkan
kerusakan karena serangga yang dapat dilihat
oleh mata.
20. Benda-Benda Asing adalah benda-benda lain
yang bukan berasal dari tanaman kakao.
21. Kotoran (waste) adalah benda-benda berupa
plasenta, biji dempet (cluster), pecahan biji,
pecahan kulit, biji pipih, ranting dan benda
lainnya yang berasal dari tanaman kakao.
22. Biji Pecah adalah Biji Kakao dengan bagian
yang hilang berukuran setengah () atau
kurang dari bagian Biji Kakao yang utuh.
23. Biji Berjamur adalah Biji Kakao yang ditumbuhi
jamur di bagian dalamnya dan apabila dibelah
dapat terlihat dengan mata.
24. Biji Slaty adalah biji yang tidak terfermentasi
sempurna yang pada kakao lindak
memperlihatkan separuh atau lebih permukaan
irisan keping biji berwarna ungu, keabu-abuan
seperti sabak atau biru keabu-abuan bertekstur
padat dan pejal, sedangkan pada kakao mulia
permukaannya berwarna putih kotor.
25. Biji Berkecambah adalah Biji Kakao yang telah
berkecambah atau yang telah lepas
kecambahnya dengan ditandai adanya lubang.
26. Biji Berbau Asap dan/atau hammy dan/atau
berbau asing adalah biji yang berbau asap,
berbau hammy atau bau asing lainnya yang
ditentukan metode uji.

Pasal 2
(1) Peraturan ini dimaksudkan sebagai dasar
dalam pemenuhan persyaratan mutu Biji Kakao
yang beredar.
(2) Peraturan ini bertujuan untuk:
a. meningkatkan daya saing dan nilai tambah
Biji Kakao Indonesia;
b. mendukung pengembangan industri
berbahan baku kakao dalam negeri;
c. memberikan perlindungan pada konsumen
dari peredaran Biji Kakao yang tidak
memenuhi persyaratan mutu;
d. meningkatkan pendapatan petani kakao;
dan
e. mempermudah penelusuran kembali
kemungkinan terjadinya penyimpangan
produksi dan peredaran.

Pasal 3

Ruang lingkup Peraturan ini mencakup:


a. kelembagaan;
b. persyaratan mutu dan penanganan;
c. pemasaran; dan
d. pembinaan dan pengawasan.

Pasal 4

(1) Biji Kakao yang beredar di wilayah Negara


Kesatuan Republik Indonesia dapat berasal dari
produksi dalam negeri dan berasal dari
pemasukan.
(2) Biji Kakao yang berasal dari produksi dalam
negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sesuai persyaratan mutu yang ditandai dengan
SKAL-BK.
(3) Biji Kakao yang berasal dari pemasukan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memenuhi persyaratan karantina tumbuhan
dan keamanan pangan sesuai peraturan
perundang-undangan.
BAB II
KELEMBAGAAN

Pasal 5

(1) UFP-BK harus memiliki struktur organisasi,


sarana dan prasarana kerja.
(2) Struktur organisasi UFP-BK sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) paling kurang terdiri
atas ketua, sekretaris, bendahara, sub unit
sarana prasarana, sub unit pembelian dan
pemasaran, sub unit penanganan, dan sub unit
pengawasan mutu internal.

Pasal 6

(1) UFP-BK dalam menerbitkan SKAL-BK harus


memiliki STP dan SJM-BK.
(2) Jika UFP-BK sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) belum memilikiSJM-BK, maka UFP-BK
harus memiliki SKKM dari OKKP-D.

Pasal 7

(1) Untuk mendapatkan STP sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), UFP-BK yang
terbentuk dari Poktan/Gapoktanharus
memenuhi persyaratan dengan memiliki:
a. struktur organisasi;
b. kartu anggota dan buku identitas anggota;
c. legalitas pembentukan Poktan/Gapoktan
dari pejabat berwenang;
d. Anggaran Dasar dan Rumah Tangga;
e. modal usaha; dan
f. denah lahan.

(2) Untuk mendapatkan STP sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), UFP-BK yang
terbentuk dari Pelaku Usaha harus memenuhi
persyaratan dengan memiliki:
a. struktur organisasi;
b. akte pendirian dan perubahannya;
c. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
d. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
e. surat keterangan domisili; dan
f. denah lahan.
(3) Tatacara mendapatkan STP sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan ini.
(4) STP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) berlaku selama UFP-BK operasional.
(5) STP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) dicabut apabila UFP-BK tidak
operasional dalam jangka waktu 2 (dua) tahun
berturut-turut.
(6) UFP-BK sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
dapat mengajukan permohonan ulang STP
apabila akan melakukan kegiatan kembali.

Pasal 8

(1) Permohonan untuk mendapatkan SJM-BK


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1)
harus memenuhi persyaratan dengan
melengkapi:
a. formulir permohonan;
b. fotocopy STP;
c. bukti penerapan jaminan mutu berupa SOP
dan dokumen pendukung; dan
d. laporan kesesuaian mutu 1 (satu) bulan
terakhir.
(2) Tatacara mendapatkan SJM-BK sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), sebagaimana
tercantum dalam Lampiranyang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.
(3) SJM-BK sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berlaku selama 3 (tiga) tahun dengan surveilen
paling kurang 1 (satu) tahun 1 (satu) kali.

Pasal 9

(1) UFP-BK yang telah memiliki SJM-


BKsebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus
melakukan pengambilan contoh dan penilaian
kesesuaian mutu secara internal setiap akan
menerbitkan SKAL-BK.
(2) Pengambilan contoh dan penilaian kesesuaian
mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh petugas UFP-BK yang sudah
terlatih dan kompeten dalam melakukan
pengambilan contoh dan penilaian mutu Biji
Kakao sesuai prosedur pengujian dalam SNI
2323:2008/Amd I:2010 Biji Kakao dan
perubahannya.
(3) Petugas pengambil contoh dan penilai
kesesuaian mutu harus memenuhi persyaratan
kompetensi sebagaimana tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan ini.
(4) Hasil penilaian kesesuaian mutu sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) harus sesuai dengan
persyaratan mutu Biji Kakao.
(5) UFP-BK sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
yang hasil penilaian kesesuaian mutunya
sesuai persyaratan kompetensi sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) berhak menerbitkan
SKAL-BK.
Pasal 10

(1) Permohonan untuk mendapatkan SKKM


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2)
harus memenuhi persyaratan dengan
melengkapi:
a. formulir permohonan; dan
b. fotocopy STP.
(2) SKKM sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diajukan oleh UFP-BK kepada OKKP-D setiap
kali akan melakukan peredaran Biji Kakao.
(3) Tatacara mendapatkan SKKM sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), diatur sebagaimana
tercantum dalam Lampiranyang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.
(4) SKKM sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berlaku hanya 1 (satu) kali untuk penerbitan
SKAL-BK.

Pasal 11

OKKP-D dalam menerbitkan SJM-BK dan SKKM


harus memiliki kompetensi sumber daya manusia
sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
ini.

BAB III
PERSYARATAN MUTU DAN PENANGANAN

Pasal 12

Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 9 ayat (4) paling kurang
harus memenuhi persyaratan mutu sebagai berikut:
a. Serangga Hidup : tidak ada
b. Kadar Air :maksimal 7,5 %
c. Biji Berbau Asap dan/atau
hammy dan/atau Berbau Asing : tidak ada
d. Kadar Benda Asing : tidak ada
e. Kadar Biji Pecah : maksimal 2 %
f. Kadar Biji Berjamur : maksimal 4 %
g. Kadar Biji Slaty : maksimal 20 %
h. Kadar Biji Berserangga : maksimal 2 %
i. Kadar Kotoran (waste) : maksimal 3 %
j. Kadar Biji Berkecambah : maksimal 3 %

Pasal 13
(1) UFP-BK yang menghasilkan Biji Kakao sesuai
dengan persyaratan mutu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 diberikan insentif
berupa fasilitasi pembinaan penanganan
pascapanen dan prioritas mendapatkan
bantuan.
(2) Tata cara untuk menghasilkan Biji Kakao
sesuai dengan persyaratan mutu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai
Pedoman Penanganan Pasca Panen Kakao yang
telah ditetapkan.

BAB IV
PEMASARAN

Pasal 14

UFP-BK dalam mengedarkan Biji Kakao yang


dihasilkannya wajib menyertakan SKAL-BK.

Pasal 15

(1) Industri pengolahan kakao atau eksportir


dilarang menerima Biji Kakao yang tidak
dilengkapi SKAL-BK.
(2) UFP-BK sebagaimana dimaksuddalam Pasal 14
dalam mengedarkan Biji Kakao dapat:
a. menjalin kerjasama Kemitraan Usaha dengan
industri pengolahan dan eksportir
berdasarkan azas manfaat dan berkelanjutan
yang saling menguntungkan yang dituangkan
dalam kontrak/kerjasama perjanjian;
b. menggunakan mekanisme sistem resi gudang;
dan
c. menggunakan mekanisme pasar lelang.

BAB V
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 16

(1) Pembinaan UFP-BK dilakukan secara


berjenjang oleh SKPD kabupaten/kota dan
provinsi yang menyelenggarakan fungsi
perkebunan, serta instansi pusat yang terkait.
(2) Pembinaan UFP-BK meliputi pembinaan
kelembagaan, penanganan pasca panen,
penerapan sistem jaminan mutu serta
pemasaran.
(3) UFP-BK melakukan pembinaan internal kepada
anggotanya dalam menghasilkan Biji Kakao.

Pasal 17

(1) UFP-BK melakukan pengawasan internal


kepada anggotanya dalam menghasilkan Biji
Kakao.
(2) Pengawasan kepada UFP-BK dilakukan oleh
OKKP-D.
(3) Pengawasan kepada UFP-BK meliputi
pengawasan aspek kelembagaan, penanganan
pasca panen, penerapan sistem jaminan mutu
serta pemasaran.

Pasal 18

(1) UFP-BK yang telah menerbitkan SKAL-BK,


wajib menyampaikan laporan penerbitan SKAL-
BK kepada OKKP-D setiap 6 (enam) bulan
sekali.
(2) OKKP-D wajib menyampaikan laporan
perkembangan UFP-BK yang telah menerbitkan
SKAL-BK kepada Direktur Jenderal Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Pertanian selaku Ketua
OKKP-P setiap 6 (enam) bulan sekali.

Pasal 19

(1) OKKP-D memberikan sanksi kepada UFP-BK


apabila:
a. menerbitan SKAL-BK untuk Biji Kakao yang
tidak sesuai persyaratan;
b. dalam peredaran Biji Kakao tidak
melampirkan SKAL-BK; dan/atau
c. tidak menyampaikan laporan berkala
berturut-turut selama 1 (satu) tahun.
(2) Sanksi kepada UFP-BK sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat berupa:
a. teguran pertama secara tertulis diberikan
apabila UFP-BK melakukan kesalahan;
b. teguran kedua secara tertulis diberikan
apabila teguran pertama belum ditanggapi
oleh UFP-BK dalam jangka waktu 1 (satu)
bulan; dan
c. pencabutan SJM-BK apabila dalam jangka
waktu 1 (satu) bulan setelah teguran kedua
belum ditanggapi.
(3) Industri pengolahan dan eksportir yang
menerima Biji Kakao tidak dilengkapi SKAL-BK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1)
diusulkan kepada Kementerian Perindustrian
untuk dikenakan sanksi sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

BAB VI
PENUTUP
Pasal 20

Peraturan Menteri ini mulai berlaku setelah 24 (dua


puluh empat) bulan terhitung sejak tanggal
diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Menteri ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 12 Mei 2014
MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.
SUSWONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 21 Mei 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN
2014 NOMOR 679
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 67/Permentan/OT.140/5/2014
TANGGAL : 12 Mei 2014

TATA CARA MEMPEROLEH STP, SJM-BK, SKKM,


PENERBITAN SKAL-BK DAN PERSYARATAN
KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA

I. TATA CARA MEMPEROLEH STP, SJM-BK, SKKM,


PENERBITAN SKAL-BK

A. Tata Cara Memperoleh Surat Tanda Pendaftaran


(STP)

1. Permohonan diajukan oleh Ketua UFP-BK


kepada SKPD Kabupaten atau Kota yang
membidangi perkebunan dengan cara mengisi
Formulir Permohonan dengan menggunakan
Formulir 1.
2. Penilaian dokumen dilakukan oleh petugas yang
ditunjuk oleh Kepala SKPD yang membidangi
perkebunan dengan cara memeriksa
kelengkapan dan keabsahan dokumen
permohonan dengan menggunakan Formulir 2.
3. Hasil penilaian dokumen permohonan yang telah
dinyatakan lengkap selanjutnya dilakukan
penilaian lapang oleh petugas yang ditunjuk.
4. Penilaian lapang dilakukan dengan melihat
kesesuaian antara dokumen permohonan dan
kondisi lapangan.
5. Selanjutnya SKPD melakukan penerbitan STP
untuk UFP-BK yang telah dinyatakan lulus
penilaian lapang dengan menggunakan
Formulir 3.
6. Penomoran STP mengikuti ketentuan
sebagaimana contoh berikut:

NO. 72.02- STP - 0005-06/2013


Keterangan :
72.02 = Kode Propinsi dan
Kabupaten/Kota untuk Prop.
Sulawesi Tengah, Kab. Poso.
STP = Kode/singkatan Surat Tanda
Pendaftaran.
0005 = Nomor urut pendaftaran yang
dikeluarkan oleh Kepala
Pemerintah Kabupaten atau
Kota yang membidangi
perkebunan yang diberikan
kepada UFP-BK.
06/2013 = Bulandan tahun
dikeluarkannya STP.

B. Tata Cara Memperoleh Sertifikat Jaminan Mutu


Biji Kakao (SJM-BK)
1. Permohonan diajukan oleh Ketua UFP-BK
kepada OKKP-D dengan cara mengisi Formulir
Permohonan dengan menggunakan Formulir 4.
2. Penilaian dokumen dilakukan oleh petugas yang
ditunjuk oleh Ketua OKKP-D dengan cara
memeriksa kelengkapan dan keabsahan
dokumen permohonan menggunakan Formulir
5.
3. Hasil penilaian dokumen permohonan yang
dinyatakan belum lengkap dilakukan penundaan
yang disampaikan kepada pemohon dengan
menggunakan Formulir 6.
4. Hasil penilaian dokumen permohonan yang telah
dinyatakan lengkap selanjutnya dilakukan
penilaian lapang oleh inspektor yang ditunjuk
oleh Ketua OKKP-D.
5. Penilaianlapang dilakukan oleh inspektor
dengan melihat kesesuaian antara dokumen
permohonan dan kondisi lapangan dengan
menggunakan Formulir 7.
6. Hasil penilaian lapang dilaporkan oleh inspektor
kepada ketua OKKP-D dengan menggunakan
Formulir 8.
7. Selanjutnya dilakukan pengambilan contoh oleh
Petugas Pengambil Contoh yang ditunjuk oleh
Ketua OKKP-D.
8. Contoh selanjutnya dinilai kesesuaian mutunya
berdasarkan Persyaratan Mutu dalam Pasal 10
ayat (3) oleh penilai yang ditunjuk oleh Ketua
OKKP-D.
9. Hasil penilaian lapang dan hasil penilaian mutu
selanjutnya dibahas dalam rapat Komisi Teknis.
Hasil rapat komisi teknis berupa rekomendasi
Komisi Teknis menggunakan Formulir 9.
10. Apabila ada klarifikasi perbaikan yang harus
ditindaklanjuti oleh UFP-BK maka disampaikan
oleh Ketua OKKP-D kepada UFP-BK
menggunakan Formulir 10.
11. Apabilahasil rekomendasi Komisi Teknis
menyatakan UFP-BK berhak memperoleh SJM-
BK, maka selanjutnya diterbitkan SJM-BK oleh
ketua OKKP-D dengan menggunakan Formulir
11.
12. Tata cara penomoran SJM-BK mengikuti
ketentuan sebagaimana contoh berikut:

NO. 75.03- SJM-BK -0005-06/2013

Keterangan :
75.03 = Kode Propinsi dan
Kabupaten/Kota untuk Prop.
Gorontalo, Kab. Bone Bolango.
SJM-BK = Kode/singkatan Sertifikat
Jaminan Mutu Biji Kakao.
0005 = Nomor urut sertifikat yang
dikeluarkan oleh OKKP-D.
06/2013 = Bulan dan tahun
dikeluarkannya SJM-BK.

13. Selanjutnya Ketua OKKP-D menyerahkan SJM-


BK kepada UFP-BK menggunakan Formulir 12.

C. Tata Cara Memperoleh Surat Keterangan


Kesesuaian Mutu (SKKM)
1. Permohonan diajukan oleh UFP-BK kepada
OKKP-D dengan cara mengisi Formulir
permohonan menggunakan Formulir 13.
2. Selanjutnya Ketua OKKP-D menunjuk Petugas
Pengambil Contoh untuk melakukan
pengambilan contoh di lokasi UFP-BK.
3. Contoh selanjutnya dinilai kesesuaian mutunya
berdasarkan Persyaratan Mutu dalam Pasal 10
ayat (3) oleh penilai yang ditunjuk oleh Ketua
OKKP-D.
4. Hasil penilaian diterbitkan oleh penguji yang
diketahui oleh Ketua OKKP-D menggunakan
Formulir 14.
5. Hasil penilaian yang dinyatakan memenuhi
kesesuaian mutu selanjutnya oleh Ketua OKKP-
D diterbitkan SKKM menggunakan Formulir 15.
6. Tata cara penomoran SKKM mengikuti
ketentuan sebagaimana contoh berikut:

NO. 75.03-SKKM-0005-06/2013
Keterangan :
75.03 = Kode Propinsi dan
Kabupaten/Kota untuk Prop.
Gorontalo, Kab. Bone Bolango.
SJM-BK = Kode/singkatan Surat
Keterangan Kesesuaian Mutu.
0005 = Nomor urut SKKM yang
dikeluarkan oleh OKKP-D.
06/2013 = Bulan dan tahun dikeluarkannya
SKKM.
D. Tata Cara Memperoleh Surat Keterangan Asal
Lokasi Biji Kakao (SKAL-BK)

1. UFP-BK yang telah memiliki SJM-BK atau


SKKM berhak menerbitkan SKAL-BK setiap kali
akan melakukan peredaran biji kakao dengan
menggunakan Formulir 16.
2. UFP-BK yang memiliki SJM-BK, setiap akan
menerbitkan SKAL-BK harus melakukan
pengambilan contoh oleh petugas pengambil
contoh dan penilaian kesesuaian mutu oleh
penilai yang berasal dari internal UFP-BK.
3. UFP-BK yang hanya memiliki SKKM berhak
menerbitkan SKAL-BK hanya untuk satu
lot/partai biji kakao yang dinilai kesesuaian
mutunya.
4. Tata cara penomoran SKAL-BK mengikuti
ketentuan sebagaimana contoh berikut:

NO. 13.04-SKAL-BK-0000-0005-06/2013

Keterangan :
13.04 = Kode Propinsi dan
Kabupaten/Kota untuk Prop.
Sumatera Barat, Kab. Tanah Datar
0000 = Nomor urut STP-UFPBK
0005 = Nomor urut SKAL-BK yang
dikeluarkan oleh UFP-BK
06/2013 = Bulan dan tahun dikeluarkannya
SKALBK
5. Biji kakao yang telah memiliki Nomor SKAL-BK
harus mencantumkan Nomor SKAL-BK tersebut
pada setiap kemasannya.
6. Setiap 6 bulan sekali UFPBK harus melaporkan
penerbitan SKAL-BK kepada ketua OKKP-D
menggunakan Formulir 17.

II. Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM)


A. Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah
(OKKP-D)

1. Persyaratan Inspektor
a. Pendidikan dan pengalaman kerja:
(1) SMU/SMK/D1 (Pertanian) pengalaman
minimal 3 tahun dibidang pertanian.
(2) D2/D3 (Pertanian) pengalaman minimal 2
tahun dibidang pertanian.
(3) S1/S2/S3 (Pertanian) pengalaman minimal 1
tahun dibidang pertanian.
b. Lulus pelatihan Inspektor Keamanan Pangan.

2. Persyaratan Petugas Pengambil Contoh


a. Pendidikan minimal SMU/SMK atau
sederajat.
b. Secara teknis mampu dalambidang
pengambilan contoh komoditi tertentu.
c. Telah menyelesaikan dan lulus pelatihan
pengambilan contoh komoditi tertentu, oleh
penyelenggara pelatihan PPC yang diakui
oleh unit kerja dengan tupoksi relevan.
d. PPC bukan petugas yang melakukan
pengujian atas contoh yang diambilnya.
3. Persyaratan Penilai Kesesuaian Mutu
a. Pendidikan yg cukup minimal SMU/SMK
atau sederajat.
b. Mengerti dan memahami prinsip-prinsip,
elemen-elemen dan kriteria mutu kakao.
c. Secarateknis mempunyai keterampilan
dalam penilaian mutu kakao serta standar
yang menjadi acuannya.
d. Mampu melaksanakan analisa terhadap
pemenuhan kesesuaian persyaratan dan
kriteria mutu kakao.

B. Unit Fermentasi dan Pemasaran Biji Kakao


(UFP-BK)

1. Persyaratan Petugas Pengambil Contoh


a. Pendidikan dan pengalaman kerja:
(1) SMA pengalaman minimal 1 tahun
menangani kakao; atau
(2) SMP pengalaman minimal 2 tahun
menangani kakao.
b. Lulus pelatihan Petugas Pengambil
Contoh biji kakao.

2. Persyaratan Penilai Kesesuaian Mutu


a. Pendidikan dan pengalaman kerja:
(1) SMA pengalaman minimal1 tahun
menangani kakao; atau
(2) SMP pengalaman minimal 2 tahun
menangani kakao.
b. Lulus pelatihan Penilai Kesesuaian Mutu
biji kakao.

MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
SUSWONO

Formulir 1

Formulir Permohonan Surat Tanda Pendaftaran


(UFP-BK dari Poktan/Gapoktan)

Kepada Yth.
Kepala Pemerintah Kabupaten/Kota yang
membidangi Perkebunan
Di
Tempat

Bersama ini, kami:


1. Nama Ketua UFP-BK :

2. Alamat :
3. Nomor HP :
4. Nama UFP-BK :
5. Alamat UFP-BK :
6. Telepon/Faximile :
7. Kontak Person yang dapat dihubungi
a. Nama :

b. Alamat :
c. Telepon/Faximile :

mengajukan permohonan Surat Tanda


Pendaftaran(STP) kepada Pemerintah
Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan.
Sebagai kelengkapan permohonan, kami lampirkan
persyaratan sebagai berikut:

KODE LAMPIRAN PERSYARATAN


1A Formulir isian data umum
1B Struktur organisasi
1C Denah lahan
1D Daftar SDM yang menangani
Fermentasi dan Pemasaran
1E Anggaran Dasar dan Rumah
Tangga
1F Sarana prasarana yang dimiliki
1G Nama anggota dan penguasaan
lahan

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan


kerjasamanya diucapkan terima kasih.
...., ...................20.......

Ketua UFP-BK

(nama dan tanda tangan)


Formulir 1

Formulir Permohonan Surat Tanda


Pendaftaran
(UFP-BK dari pelaku usaha)

Kepada Yth.
Kepala Pemerintah Kabupaten/Kota yang
membidangi perkebunan
Di
Tempat

Bersama ini, kami:


1. Nama Ketua UFP-BK :
2. Alamat :
3. Nomor HP :
4. Nama UFP-BK :
5. Alamat UFP-BK :
6. Telepon/Faximile :
7. Kontak Person yang dapat dihubungi
a. Nama :
b. Alamat :
c. Telepon/Faximile :

mengajukan permohonan Surat Tanda


Pendaftaran(STP) kepada Pemerintah
Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan.
Sebagai kelengkapan permohonan, kami
lampirkan persyaratan sebagai berikut :

KODE
PERSYARATAN
LAMPIRAN
1A Formulir isian data umum
1B Struktur organisasi
1C Denah lahan
1D Daftar SDM yang menangani
Fermentasi dan Pemasaran
1H Akte Pendirian dan
Perubahannya
1I Sarana prasarana yang
dimiliki
1J Surat Izin Usaha Perdagangan
(SIUP)
1K Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP)
1L Surat Keterangan domisili

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan


kerjasamanya diucapkan terima kasih.
............., ........20.......
Ketua UFP-BK

(nama dan tanda tangan)

1A
FORMULIR ISIAN DATA UMUM

1. Nama UFP-BK :
2. Alamat :
3. Nama Ketua UFP-BK :
4. Nomor Kartu tanda :
penduduk ketua UFP-BK
5. Alamat ketua UFP-BK :
6. Nomor telpon/HP :
7. Nomor Faximili :
8. Kapasitas produksi :
9. Tujuan pasar :
10. Kondisi Bangunan : Permanen / semi
permanen *)
11. Jumlah anggota : .....Orang
12. Luas lahan : ha
13. Modal Usaha :
14. Jumlah tenaga kerja : : ..Orang
Keterangan : *) pilih salah satu

.....................,..........20
Pemohon

(nama dan tanda


tangan)

Formulir 2

FORMULIR PENILAIAN KELENGKAPAN


DOKUMEN
SURAT TANDA PENDAFTARAN (STP)
(Untuk UFP-BK dari poktan/gapoktan)

Kode Persyaratan Ada Tidak Keterangan


1 A Formulir isian data
umum
1 B Struktur organisasi
1 C Denah lahan
1 D Daftar SDM yang
menangani Fermentasi
dan Pemasaran
1 E Anggaran Dasar dan
Rumah Tangga
1 F Sarana prasarana yang
dimiliki
1 G Nama anggota dan
penguasaan lahan
Formulir 2

FORMULIR PENILAIAN KELENGKAPAN


DOKUMEN
SURAT TANDA PENDAFTARAN (STP)
(Untuk UFP-BK dari Pelaku usaha)

Kode Persyaratan Ada Tidak Keterangan


1 A Formulir isian data
umum
1 B Struktur organisasi
1 C Denah lahan
1 D Daftar SDM yang
menangani Fermentasi
dan Pemasaran
1 H Akte Pendirian dan
Perubahannya
1I Sarana prasarana yang
dimiliki
1 J Surat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP)
1 K Nomor Pokok Wajib
Pajak (NPWP)
1L Surat Keterangan
domisili

Formulir 3
KOP
INSTANSI

SURAT TANDA PENDAFTARAN (STP)


NAMA INSTANSI .

Nomor Pendaftaran:
.
Diberikan Kepada:
..

Alamat:

telah memenuhi persyaratan pendaftaran


sebagai
Unit Usaha Fermentasi dan Pemasaran Biji
Kakao (UFP-BK)
Surat Tanda Pendaftaran ini berlaku sejak
tanggal ditetapkan.

Tanggal Ditetapkan :
Kepala .......................

Nama : ....................
NIP. ........................

Formulir 4

Formulir Permohonan
Sertifikat Jaminan Mutu Biji Kakao (SJM-BK)

Kepada Yth.
Ketua Otoritas Kompeten Keamanan Pangan
Daerah (OKKP-D)
Di
Tempat

Bersama ini, kami:


1. Nama Ketua UFP-BK :
2. Alamat :
3. Nomor HP :
4. Nama UFP-BK :
5. Alamat UFP-BK :
6. Telepon/Faximile :
7. Kontak Person yang dapat dihubungi
a. Nama :
b. Alamat :
c. Telepon/Faximile :
mengajukan permohonan Sertifikat Jaminan
Mutu Biji Kakao (SJM-BK) kepada Otoritas
Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKP-D).
Sebagai kelengkapan permohonan kami
tersebut, berikut kami sampaikan persyaratan
sebagai berikut :

a. Fotocopi Surat Tanda Pendaftaran;


b. Bukti penerapan pengolahan dan pemasaran
biji kakao (SOP dan dokumen pendukung);
c. Hasil Penilaian Mutu Biji Kakao minimal 1
(satu) bulan terakhir;
d. Formulir Isian Penerapan Mutu Biji Kakao
(terlampir).

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan


kerjasamanya diucapkan terima kasih.
........., ................20...
Pemohon

(nama dan tanda tangan)


Formulir 5

FORMULIR PENILAIAN KELENGKAPAN


DOKUMEN PERMOHONAN
SERTIFIKAT JAMINAN MUTU BIJI KAKAO
(SJM-BK)

Kode Persyaratan Ada Tidak Keterangan


5 A Fotocopi Surat Tanda
Pendaftaran;
5 B Bukti penerapan
pengolahan dan
pemasaran biji kakao
(Dokumen mutu, SOP
dan dokumen
pendukung);
5 C Hasil Penilaian Mutu
Biji Kakao minimal 1
(satu) bulan terakhir;
5 D Formulir Isian
Penerapan Mutu Biji
Kakao
5D
FORMULIR ISIAN PENERAPAN MUTU BIJI
KAKAO

NO PERSYARATAN YA TIDAK KET


I. KELEMBAGAAN
a. Memiliki struktur organisasi
Memiliki data anggota yang
b.
dicatat dalam kartu anggota
Memiliki Anggaran Dasar dan
c.
Rumah Tangga
d. Memiliki modal usaha
e. Memiliki denah lahan
Memiliki SDM pengolah dan
f.
pemasaran biji kakao
Memiliki tenaga pengawas
g.
mutu internal biji kakao
h. Memiliki STP-UFPBK
II. PANEN
a. Melalukan panen tepat waktu
b. Menggunakan cara panen yang
tepat
c. Menggunakan peralatan panen
yang tepat
III PENANGANAN PASCA PANEN
NO PERSYARATAN YA TIDAK KET
A. SORTASI BUAH
a. Melakukan sortasi buah
sebelum pemanenan
Melakukan pemisahan buah
b. sehat dan yang tidak sehat
(terserang hama dan penyakit,
busuk atau cacat).
Buah yang terserang hama
c. penyakit ditimbun ditempat
terpisah dan segera dikupas
kulitnya.
Kulit buah yang terserang
d. hama atau penyakit segera
ditimbun dalam tanah
B. PEMERAMAN atau
PENYIMPANAN BUAH
a. Melakukan pemeraman buah
b. Pemeraman buah dilakukan
dengan penimbunan buah
kakao dalam keranjang atau
goni dan ditutup daun-daun
kering
c. Pemeraman dilakukan di
tempat yang bersih, terbuka
(tetapi terlindung dari panas
matahari langsung dan aman
dari gangguan hewan
d. Menghentikan pemeraman
sebelum buah rusak atau
busuk
C. PEMECAHAN BUAH
a. Pemecahan buah dilakukan
NO PERSYARATAN YA TIDAK KET
secara hati-hati agar tidak
melukai atau merusak biji kakao
b. Pemecahan buah dilakukan
secara serentak
c. Pemecahan buah kakao
menggunakan peralatan yang
tidak merusak biji kakao
d. Melakukan pemisahan biji yang
sehat dengan yang cacat dan
kotoran lainnya
e. Memasukkan buah dalam
wadah fermentasi segera setelah
pemecahan buah
D. FERMENTASI
a. Menggunakan peralatan
fermentasi
b. Menggunakan penutup yang
bersih dan tidak menggotori
biji kakao
c. Wadah fermentasi dilengkapi
dengan lubang tempat
pembuangan air
d. Lamanya fermentasi 4-5 hari
e. Dilakukan pembalikan biji
setelah 2 hari
f. Pembalikan biji kakao
menggunakan peralatan yang
dianjurkan yang tidak
mencemari produk
E. PENGERINGAN BIJI
a. Pengeringan dilakukan
menggunakan sarana/peralatan
NO PERSYARATAN YA TIDAK KET
yang tidak mencemari produk
b. Penjemuran dilakukan sampai
kadar air maksimal 7,5 %
F. SORTASI BIJI KERING
a. Melakukan pemisahan kotoran
dan benda asing
b. Melakukan pemisahan biji
berdasarkan ukuran biji
G. PENGEMASAN DAN
PENYIMPANAN
a. Biji kakao dikemas
menggunakan kemasan karung
goni bersih, non toksik, bebas
hama dan bau asing.
b. Kemasan ditutup rapat dan
kuat dengan berat bersih
maksimum setiapkarung 62,50
kg atau 16 karung per ton atau
cara lain bila ada persetujuan
antara pembeli dan penjual
c. Setiap karung diberi label yang
menunjukkan nama komoditi,
jenis mutu dan identitas
produsen
d. Pelabelan menggunakan bahan
yang tidak mencemari biji
kakao
e. Biji kakao disimpan di ruangan
yang bersih dan penerangan
lampu yang memadai,
kelembaban tidak melebihi
75%, ventilasi cukup, dan tidak
NO PERSYARATAN YA TIDAK KET
campur dengan produk
pertanian lainnya yang berbau
keras.
f. Partai barang disusun dalam
stapelan dengan tinggi
maksimum 16 karung, jarak
antar staple 60 cm, jarak stapel
dengan dinding gudang 80 cm
g. Tumpukan karung disangga
dengan palet dari papan-papan
kayu maksimal setinggi 8-10
cm, jarak dari dinding 15-20
cm. Jarak tumpukan karung
dari plafon minimal 10 cm.
IV STANDAR MUTU
a. Melakukan pengujian mutu
sesuai prosedur
b. Hasil uji sesuai dengan
persyaratan mutu biji kakao
V. PRASARANA DAN SARANA
PASCA PANEN
1. BANGUNAN
a. Lokasi bebas dari pencemaran
(bukan di daerah pembuangan,
jauh dari peternakan, industri
yang mengeluarkan polusi yang
tidak dikelola secara baik dan
tempat lain yang sudah
tercemar.
b. Lokasi berada pada tempat
yang layak dan tidak di daerah
yang saluran pembuangan
NO PERSYARATAN YA TIDAK KET
airnya buruk.
c. Lokasi dekat dengan sentra
produksi
d. Kondisi keseluruhan bangunan
baik
e. Bangunan dirancang tidak
dimasuki binatang pengerat,
serangga dan hama lainnya
f. Bangunan cukup luas untuk
melakukan kegiatan
pengolahan
g. Bangunan dirawat dengan baik
h. Penerangan cukup
i. Ventilasi cukup
j. Bangunan dilengkapi sarana
penyediaan air bersih
k. Bangunan dilengkapi sarana
pembuangan
l. Luas bangunan memadai
m. Langit-langit terawat
n. Dinding terawat
o. Lantai bersih dan tidak
tergenang air
p. Terdapat sarana pengolahan
limbah padat
q. Tempat sampah tertutup
r. Sarana toilet tersedia
2. ALAT DAN MESIN
a. Permukaan yang berhubungan
dengan bahan yang diproses
tidak boleh berkarat dan tidak
NO PERSYARATAN YA TIDAK KET
mengelupas
b. Mudah dibersihkan
c. Tidak mencemari produk
d. Mudah dikenakan tindakan
sanitasi
3. WADAH DAN PEMBUNGKUS
a. Menggunakan wadah yang
dapat melindungi dan
mempertahankan mutu
b. Wadah dan pembungkus
dibuat dari bahan yang tidak
melepaskan bagian atau unsur
yang dapat mengganggu
kesehatan atau mempengaruhi
mutu produk
c. Tahan/tidak berubah selama
pengangkutan dan peredaran.
d. Sebelum digunakan wadah
harus dibersihkan dan
dikenakan tindakan sanitasi.
e. Wadah dan bahan pengemas
disimpan pada ruangan yang
kering dan ventilasi yang
cukup dan dicek kebersihan
dan infestasi jasad pengganggu
sebelum digunakan.
VI PELESTARIAN LINGKUNGAN
a. Menghindari polusi yang
berasal dari lokasi usaha yang
dapat menggangu lingkungan
VII PENGAWASAN
a. Menerapkan system
NO PERSYARATAN YA TIDAK KET
pengawasan
b. Melakukan pencatatan
VIII. TENAGA KERJA
a. Tenaga kerja harus berbadan
sehat.
b. Memiliki keterampilan sesuai
dengan bidang pekerjaannya.
c. Mempunyai komitmen dengan
tugasnya.
Formulir 6
Nomor :
Lampiran :
Perihal* : Penundaan Pendaftaran SJM-BK

Kepada Yth.:
.....................................
di -
....
Berdasarkan hasil penilaian sebagaimana
perihal diatas oleh petugas yang ditunjuk oleh
Ketua OKKP-D, tanggal ........., maka :
a. Nama UFP-BK :
b. Alamat :
c. Telepon/Faximile :
dengan ini diberitahukan bahwa, persyaratan
Permohonan Sertifikat Jaminan Mutu Biji Kakao
yang Saudara ajukan belum dapat diproses
lebih lanjut sebelum Saudara melengkapi
kekurangan persyaratan sebagai berikut:
a..................................
b..................................
c...................................
d...................................
e...................................
Demikian disampaikan, atas perhatian dan
kerjasamanya diucapkan terima kasih.

.., ..........20...
Ketua OKKP Daerah

.......................................
NIP. ........................

Formulir 7
FORMULIR PENILAIAN LAPANG

NO PERSYARATAN MI- MA- KRI KET.


NOR YOR -TIS
I. KELEMBAGAAN
a. Memiliki struktur organisasi
Memiliki data anggota yang
b.
dicatat dalam kartu anggota
Memiliki Anggaran Dasar dan
c.
Rumah Tangga
d. Memiliki modal usaha
e. Memiliki denah lahan
Memiliki SDM pengolah dan
f.
pemasaran biji kakao
Memiliki tenaga pengawas
g.
mutu internal biji kakao
h. Memiliki STP-UFPBK

II. PANEN
a Melalukan panen tepat waktu
b Menggunakan cara panen
yang tepat
c Menggunakan peralatan
panen yang tepat

III PENANGANAN PASCA PANEN


A. SORTASI BUAH
a. Melakukan sortasi buah
NO PERSYARATAN MI- MA- KRI KET.
NOR YOR -TIS
sebelum pemanenan
b. Melakukan pemisahan buah
sehat dan yang tidak sehat
(terserang hama dan penyakit,
busuk atau cacat).
c. Buah yang terserang hama
penyakit ditimbun ditempat
terpisah dan segera dikupas
kulitnya.
d. Kulit buah yang terserang
hama atau penyakit segera
ditimbun dalam tanah
B. PEMERAMAN atau
PENYIMPANAN BUAH
a. Melakukan pemeraman buah
b. Pemeraman buah dilakukan
dengan penimbunan buah
kakao dalam keranjang atau
goni dan ditutup daun-daun
kering
c. Pemeraman dilakukan di
tempat yang bersih, terbuka
(tetapi terlindung dari panas
matahari langsung dan aman
dari gangguan hewan
d. Menghentikan pemeraman
sebelum buah rusak atau
busuk
C. PEMECAHAN BUAH
a. Pemecahan buah dilakukan
secara hati-hati agar tidak
melukai atau merusak biji
kakao
NO PERSYARATAN MI- MA- KRI KET.
NOR YOR -TIS
b. Pemecahan buah dilakukan
secara serentak
c. Pemecahan buah kakao
menggunakan peralatan yang
tidak merusak biji kakao
d. Melakukan pemisahan biji yang
sehat dengan yang cacat dan
kotoran lainnya
e. Memasukkan buah dalam
wadah fermentasi segera
setelah pemecahan buah
D. FERMENTASI
a. Menggunakan peralatan
fermentasi
b. Menggunakan penutup yang
bersih dan tidak menggotori
biji kakao
c. Wadah fermentasi dilengkapi
dengan lubang tempat
pembuangan air
d. Lamanya fermentasi 4-5 hari
e. Dilakukan pembalikan biji
setelah 2 hari
f. Pembalikan biji kakao
menggunakan peralatan yang
dianjurkan yang tidak
mencemari produk
E. PENGERINGAN BIJI
a. Pengeringan dilakukan
menggunakan
sarana/peralatan yang tidak
mencemari produk
b. Penjemuran dilakukan sampai
NO PERSYARATAN MI- MA- KRI KET.
NOR YOR -TIS
kadar air maksimal 7,5 %
F. SORTASI BIJI KERING
a. Melakukan pemisahan kotoran
dan benda asing
b. Melakukan pemisahan biji
berdasarkan ukuran biji
G. PENGEMASAN DAN
PENYIMPANAN
a. Biji kakao dikemas
menggunakan kemasan
karung goni bersih, non
toksik, bebas hama dan bau
asing.
b. Kemasan ditutup rapat dan
kuat dengan berat bersih
maksimum setiapkarung
62,50 kg atau 16 karung per
ton atau cara lain bila ada
persetujuan antara pembeli
dan penjual
c. Setiap karung diberi label
yang menunjukkan nama
komoditi, jenis mutu dan
identitas produsen
d. Pelabelan menggunakan
bahan yang tidak mencemari
biji kakao
e. Biji kakao disimpan di
ruangan yang bersih dan
penerangan lampu yang
memadai, kelembaban tidak
melebihi 75%, ventilasi cukup,
dan tidak campur dengan
NO PERSYARATAN MI- MA- KRI KET.
NOR YOR -TIS
produk pertanian lainnya
yang berbau keras.
f. Partai barang disusun dalam
stapelan dengan tinggi
maksimum 16 karung, jarak
antar staple 60 cm, jarak stapel
dengan dinding gudang 80 cm
g. Tumpukan karung disangga
dengan palet dari papan-
papan kayu maksimal setinggi
8-10 cm, jarak dari dinding
15-20 cm. Jarak tumpukan
karung dari plafon minimal 10
cm.

IV STANDAR MUTU
a Melakukan pengujian mutu
sesuai prosedur
b Hasil uji sesuai dengan
persyaratan mutu biji kakao

V. PRASARANA DAN SARANA


PASCA PANEN
1. BANGUNAN
a. Lokasi bebas dari pencemaran
(bukan di daerah
pembuangan, jauh dari
peternakan, industri yang
mengeluarkan polusi yang
tidak dikelola secara baik dan
tempat lain yang sudah
tercemar.
b. Lokasi berada pada tempat
NO PERSYARATAN MI- MA- KRI KET.
NOR YOR -TIS
yang layak dan tidak di
daerah yang saluran
pembuangan airnya buruk.
c. Lokasi dekat dengan sentra
produksi
d. Kondisi keseluruhan
bangunan baik
e. Bangunan dirancang tidak
dimasuki binatang pengerat,
serangga dan hama lainnya
f. Bangunan cukup luas untuk
melakukan kegiatan
pengolahan
g. Bangunan dirawat dengan
baik
h. Penerangan cukup
i. Ventilasi cukup
j. Bangunan dilengkapi sarana
penyediaan air bersih
k. Bangunan dilengkapi sarana
pembuangan
l. Luas bangunan memadai
m. Langit-langit terawat
n. Dinding terawat
Lantai bersih dan tidak
o.
tergenang air
Terdapat sarana pengolahan
p.
limbah padat
q. Tempat sampah tertutup
r. Sarana toilet tersedia
2. ALAT DAN MESIN
a. Permukaan yang
berhubungan dengan bahan
NO PERSYARATAN MI- MA- KRI KET.
NOR YOR -TIS
yang diproses tidak boleh
berkarat dan tidak
mengelupas
b. Mudah dibersihkan
c. Tidak mencemari produk
d. Mudah dikenakan tindakan
sanitasi
3. WADAH DAN PEMBUNGKUS
a. Menggunakan wadah yang
dapat melindungi dan
mempertahankan mutu
b. Wadah dan pembungkus
dibuat dari bahan yang tidak
melepaskan bagian atau
unsur yang dapat
mengganggu kesehatan atau
mempengaruhi mutu produk
c. Tahan/tidak berubah selama
pengangkutan dan peredaran.
d. Sebelum digunakan wadah
harus dibersihkan dan
dikenakan tindakan sanitasi.
e. Wadah dan bahan pengemas
disimpan pada ruangan yang
kering dan ventilasi yang
cukup dan dicek kebersihan
dan infestasi jasad
pengganggu sebelum
digunakan.

VI PELESTARIAN LINGKUNGAN
a. Menghindari polusi yang
berasal dari lokasi usaha yang
NO PERSYARATAN MI- MA- KRI KET.
NOR YOR -TIS
dapat menggangu lingkungan

VII PENGAWASAN
a. Menerapkan system
pengawasan
b. Melakukan pencatatan

VII TENAGA KERJA


I.
a. Tenaga kerja harus berbadan
sehat.
b. Memiliki keterampilan sesuai
dengan bidang pekerjaannya.
c. Mempunyai komitmen dengan
tugasnya.
Keterangan :
Kritis : Berpengaruh langsung dan signifikan
terhadap mutu biji kakao yang
dihasilkan
Mayor : Berpengaruh tidak langsung dan
cukup signifikan terhadap mutu biji
kakao yang dihasilkan
Minor : Berpengaruh tidak langsung dan tidak
signifikan terhadap mutu biji kakao
yang dihasilkan
Hasil penilaian

Tanda Tangan Inspektor dan Tanggal


Tanda Tangan Auditi dan Tanggal

Formulir 8

LAPORAN HASIL PENILAIAN LAPANG


Nomor : ....

Kepada Yth,
Ketua OKKP-D
di.
tempat

Berdasarkan hasil penilaian lapang yang kami


lakukan berdasarkan :

Nomor Surat Perintah Tugas


Tanggal Surat
Nomor Permohonan SJM-BK
Tanggal Surat Permohonan
Tanggal Mulai Pemeriksaan
Tanggal Selesai pemeriksaan

Nama UFPBK :
Alamat :
Telpon/HP/Fax :
Hasil Pemeriksaan :

..20..
Tim Inspektor,
Ketua Anggota

(Nama lengkap) (Nama lengkap)


NIP.NIP.
Formulir 9
REKOMENDASI KOMISI TEKNIS

Pada hari ini, tanggal tahun ..


telah dilakukan pembahasan atas hasil inspeksi
terhadap :
UFPBK :
Alamat :
Telp/Fax :
: Ketua :
Inspektor
Anggota :

dengan hasil kesepakatan Tim/Panitia Teknis


yang hadir sebanyak . orang sebagai berikut
:
( ) Berhak memperoleh Sertifikat Jaminan
Mutu Biji Kakao (SJM-BK)
( ) Belum berhak memperoleh Sertifikat
Jaminan Mutu Biji Kakao (SJM-BK) dengan
perbaikan sebagaimana terlampir.Saudara
diberi waktu selama dua minggu untuk
melakukan perbaikan tersebut dan
mengirimkannya kembali kepada kami.

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan


kerjasamanya diucapkan terima kasih.
Komisi Teknis:
1. Anggota :
2. Anggota :
3. Anggota :
4. Anggota :
5. Anggota :

Mengetahui,
Ketua Otoritas Kompeten Kemanan Pangan
Daerah

.................................
NIP. .............................
Formulir 10

Nomor :
Lampiran :
Perihal : Klarifikasi Tindakan Perbaikan
Kepada Yth.:
......................
di
....

Sehubungan dengan belum diselesaikannya


tindakan perbaikan atas temuan
ketidaksesuaian pada unit usaha Saudara,
bersama ini kami meminta klarifikasi kepada
Saudara terkait dengan hal dimaksud. Adapun
temuan ketidaksesuaian tersebut adalah :

No Temuan Kategori Temuan


Ketidaksesuaian
Demikian kami sampaikan, atas perhatiannya
diucapan terima kasih.

OKKP Daerah

.................................
NIP............................
Formulir 11

LOGO OKKP-D

SERTIFIKAT JAMINAN MUTU BIJI KAKAO (SJM-BK)

OTORITAS KOMPETEN KEAMANAN PANGAN


DAERAH
PROVINSI ...........................

Nomor Sertifikat:
.

Diberikan Kepada:
..
Alamat:

telah memenuhi persyaratan Jaminan Mutu Biji


Kakao
Sertifikat ini berlaku selama 3 (tiga) tahun mulai
dari tanggal ditetapkan.
Tanggal Ditetapkan :
Tanggal Berakhir :

Ketua Otoritas Kompeten Keamanan Pangan


Daerah
Provinsi....................

..............................
NIP. ........................
Formulir 12
Nomor :
Lampiran :
Perihal : Penyerahan Sertifikat Jaminan Mutu
Biji kakao

Kepada Yth :
..
di -
..

Bersama ini kami sampaikan Sertifikat Jaminan


Mutu Biji Kakao, mengingat bahwa Unit
UsahaSaudara telah memenuhi
persyaratan.Terkait dengan hal tersebut,
Otoritas Kompeten Keamanan Pangan
Daerahakan :
1. Melakukan surveilen sekurang-kurangnya 1
(kali) dalam setahun untuk menjamin
konsistensi penerapan sistem mutu.
2. Melakukan audit investigasi jika terjadi
indikasi penyimpangan yang dapat dilakukan
berkoordinasi dengan instansi terkait.
Sertifikat ini dapat dicabut oleh OKKP-D apabila
UFP-BKmelakukan pelanggaran, baik dengan
sengaja maupun tidak sengaja terhadap
persyaratan yang telah ditetapkan.
Demikian disampaikan, untuk menjadi
perhatian.
Ketua OKKP DaerahProvinsi .......

.............................
NIP. ...................
Formulir 13
Formulir Permohonan
Surat Keterangan Kesesuaian Mutu (SKKM)

Kepada Yth.
Ketua Otoritas Kompeten Keamanan Pangan
Daerah (OKKP-D)
Di
Tempat

Bersama ini, kami:


1. Nama Ketua UFP-BK :
2. Alamat :
3. Nomor HP :
4. Nama UFP-BK :
5. Alamat UFP-BK :
6. Telepon/Faximile :
7. Kontak Person yang dapat dihubungi
a. Nama :
b. Alamat :
c. Telepon/Faximile :

mengajukan permohonan Surat Keterangan


Kesesuaian Mutu (SKKM) kepada Otoritas
Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKP-D).

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan


kerjasamanya diucapkan terima kasih.
.............., ............20....
Pemohon
(nama dan tanda tangan)

Formulir 14

HASIL PENILAIAN KESESUAIAN MUTU BIJI


KAKAO

Nama UFP-BK :
Alamat :
Uraian Produk :
Tanggal Terima :
Tanggal Penilaian :
Hasil penilaian mutu :

NO KARAKTERISTIK SATU HASIL PERSYARAT


AN UJI AN
1. Serangga hidup - Tidak ada
2. Kadar air (b/b) % Maksimal 7,5
3. Biji berbau asap,tak - tidak ada
normal, dan atau
hammy dan atau
berbau asing
4. Benda asing b/b % tidak ada
5. Kadar biji pecah b/b % maksimal 2
6. Biji berjamur biji/biji % maksimal 4

7. Biji slaty biji/biji % maksimal 20


8. Biji berserangga biji/biji % maksimal 2

9. Kotoran biji/biji % maksimal 3


10. Biji berkecambah % maksimal 3
biji/biji

, .20

Mengetahui : Penilai
Ketua OKKP-D

Nama Nama
NIP NIP
Formulir 15

LOGO OKKP-D

SURAT KETERANGAN KESESUAIAN MUTU

OTORITAS KOMPETEN KEAMANAN PANGAN


DAERAH
PROVINSI ...........................

Nomor SKKM:
.

Diberikan Kepada:
..
Alamat:

telah memenuhi kesesusaian mutu biji kakao


Surat Keterangan ini berlaku hanya untuk
partai barang yang dilakukan penilaian mutu

Tanggal Ditetapkan :
Tanggal Berakhir :

Ketua Otoritas Kompeten Keamanan Pangan


Daerah
Provinsi....................

....................................
NIP. ........................
Formulir 16
LOGO UFPBK

SURAT KETERANGAN ASAL LOKASI BIJI


KAKAO (SKAL-BK)

Nomor SKAL-BK :
Nama UFPBK :
Nomor STP-UFPBK :
Alamat :
Diskripsi barang :
- Kemasan :
- Berat total :
- Hasil pengujian :

NO KARAKTERISTIK SAT HASIL PERSYARATAN


UAN UJI
1. Serangga hidup - Tidak ada
2. Kadar air (b/b) % Maksimal 7,5
3. Biji berbau asap,tak - tidak ada
normal, dan atau hammy
dan atau berbau asing
4. Benda asing b/b % tidak ada
5. Kadar biji pecah b/b % maksimal 2
6. Biji berjamur biji/biji % maksimal 4
7. Biji slaty biji/biji % maksimal 20
8. Biji berserangga biji/biji % maksimal 2
9. Kotoran biji/biji % maksimal 3
10. Biji berkecambah biji/biji % maksimal 3

Tanggal Diterbitkan SKAL-BK :


Ketua UFPBK
.....................................................

Formulir 17

Kepada Yth.
Ketua OKKP-D
Di
Tempat

Bersama ini kami laporkan penerbitan Surat


Keterangan Asal Lokasi Biji Kakao (SKAL-BK)
oleh UFP-BK...................sejak tanggal
............sampai dengan tanggal ...........sebagai
berikut :

No Nomor SKAL-BK Tanggal Terbit Tujuan Pasar


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8. Dst.....

Demikian, atas perhatiaannya diucapkan


terimakasih.

Ketua UFPBK

Nama
PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN PENGEMBANGAN
PELAYANAN INFORMASI PASAR
TAHUN 2016

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL


PERKEBUNAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2016
PEDOMAN TEKNIS KEGIATAN
PENINGKATAN AKSES PEMASARAN DOMESTIK
TAHUN 2016

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERKEBUNAN


DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2016
PEDOMAN TEKNIS KEGIATAN
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN AGROWISATA
TAHUN 2016

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERKEBUNAN


DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2016
PEDOMAN TEKNIS KEGIATAN
PENGEMBANGAN KEMITRAAN DAN KEWIRAUSAHAAN
TAHUN 2016

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERKEBUNAN


DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2016
PEDOMAN TEKNIS KEGIATAN
PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN
TAHUN 2016

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERKEBUNAN


DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2016
Lampiran 4

FORMAT LAPORAN MONITORING DAN EVALUASI PEMBANGUNAN PERKEBUNAN 2016


SATKER DINAS PERKEBUNAN PROVINSI/KABUPATEN

Posisi :
TARGET REALISASI
UPAYA TINDAK
KODE NAMA KEGIATAN KEUANGAN FISIK PERMASALAHAN
FISIK KEUANGAN LANJUT
SERAPAN % VOLUME %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

42
2. Format Informasi supply-demand

Supply Demand
No. Komoditi
Jumlah Pasokan (Ton) Asal Daerah Pasokan Tujuan Pengiriman Jumlah Pengiriman
(Demand)

Keterangan :

34
- Tujuan Pengiriman bisa meliputi : Perusahaan Pengolahan, Eksportir, Restoran, dll
Lampiran 2. Formulir Input Data Pasokan (Supply) dan Permintaan
Lampiran 3. Formulir Analisa Biaya Usaha Tani

35
No. Uraian Volume Satuan (Rp) Jumlah (Rp)
I PENGELUARAN
A. Tenaga Kerja
1 Pengolahan tanah s/d siap tanam ha
2 Penanaman hkp
3 pemeliharaan
Memupuk hkp
Menyiang hkw
Pengend.hama dan penyakit hkp
Penyiraman hkp
4 Panen hkp
5 Pasca Panen (Penjemuran) hkw

Jumlah A.

B. Sarana Produksi
1 Benih/bibit kg
2 Pupuk (Anorganik)
- Urea tablet/prill kg
- SP-36 kg
- ZA kg
- NPK kg
3 Pupuk Organik/Kandang/Hijau kg
4 Pestisida Cair liter

Jumlah B

C. Lain-lain Pengeluaran
- Sewa lahan Ha
Jumlah C
Total Pengeluaran / Biaya Produksi (I=A+b+C)

II. PENERIMAAN / OUTPUT


Nilai Produksi/Penerimaan (II) kg

III. ANALISIS BIAYA USAHA TANI


- Keuntungan (U) = II-I
- R/C ratio = (II/I)
- B/C ratio = (U/I)
- BEP
1) harga
2) produksi

Lampiran 4. Formulir Analisa Biaya Pemasaran

36
Harga Biaya Persentase
No. Unsur Biaya Profit Margin
(Rp/Kg) (Rp/Kg) (%)
I Harga tingkat Petani 13,500 67.50

II Harga Pedagang Pengumpul 15,000 75.00


a ongkos angkut 100.00 0.50
b ongkos bongkar/muat 100.00 0.50
c ongkos pengemasan 100.00 0.50
d biaya susut 750.00 3.75
e retribusi 50.00 0.25
400.00 2.00
1,500 7.50

III Harga Pedagang Antar Daerah 17,000 85.00


a ongkos angkut 100.00 0.50
b ongkos bongkar/muat 100.00 0.50
c ongkos pengemasan 100.00 0.50
d biaya susut 850.00 4.25
e retribusi 50.00 0.25
800 4.00
2,000 10.00

IV Harga Pedagang besar / grosir 18,500 92.50


a ongkos angkut 50.00 0.25
b ongkos pengemasan 100.00 0.50
c biaya susut 555.00 2.78
d retribusi 50.00 0.25
745 3.73
1,500 7.50

V Harga Pedagang Pengecer 20,000 100.00


a ongkos angkut 100.00 0.50
b ongkos bongkar/muat 100.00 0.50
c ongkos pengemasan 100.00 0.50
d retribusi 50.00 0.25
1,150 5.75
1,500 7.50

Total Biaya Penanganan 3,405 17.03


Total Keuntungan 3,095 15.48
Margin Pemasaran 6,500 32.50

Lampiran 5. Format Pengiriman Data melalui Sistem SMS-Sender

37
Cara mendownload Aplikasi Deptan SMS Sender
1. Membuka browser yang terdapat pada ponsel dengan cara memasukkan alamat URL
http://m.pip.kementan.org/
2. Lalu pilih menu Download SMS Sender.

1.

2.

3. Setelah memilih menu tersebut aplikasi akan otomatis terdownload dan terinstal di
ponsel.

Tampilan Aplikasi
Cara Penggunaan
1. Pilih Jenis Laporan
- Laporan Harga Komoditas
- Laporan Supply Produsen
- Laporan Supply Tonase
- Laporan Demand Mingguan
2. Tingkat Wilayah
- Provinsi
- Kabupaten
3. Tipe Komoditas
- Pertanian
- Perkebunan
- Peternakan
4. Jenis Produk
5. Tanggal

A. Pengiriman Informasi Harga tingkat Provinsi

38
Tipe Komoditas : Perkebunan

1. Pilih Jenis Laporan


- Laporan Harga Komoditas
2. Tingkat Wilayah
- Provinsi
3. Tipe Komoditas
- Perkebunan
4. Jenis Produk

a. Peternakan Pengumpul
b. Peternakan Eksportir

5. Tanggal :
(adalah tanggal pengambilan data harga)
6. Selanjutnya akan muncul filedyang harus diisi
7. Setelah semua field terisi, selanjutnya pilih send

Aplikasi akan melakukan pengiriman


SMS dan menunjukkan pesan Sending
Message.. Please Wait.. di paling
bawah, menunjukkan bahwa SMS
sedang dalam proses pengiriman.
Jangan tutup aplikasi ketika aplikasi
masih menunjukkan pesan ini.

Aplikasi menampilkan pesan Message


Sent., menunjukkan bahwa SMS sudah
dikirim. Jangan tutup aplikasi ketika
aplikasi masih menunjukkan pesan ini.
Beberapa saat kemudian pesan
Message Sent. Menghilang dari layar.
Aplikasi boleh ditutup.

39
Entry Data Harga Perkebunan tingkat Pengumpul

Apabila pilih jenis produk Perkebunan tingkat pengumpul,


maka akan muncul filedyang harus diisi, yaitu :
1. Harga Pengumpul Karet Lump (Rp/Kg)
2. Harga Pengumpul Karet Sheet (Rp/Kg)
3. Harga Pengumpul Kakao Fermented (Rp/Kg)
4. Harga Pengumpul Kakao Unfermented (Rp/Kg)
5. Harga Pengumpul Biji Kopi Robusta (Rp/Kg)
6. Harga Pengumpul Biji Kopi Arabika (Rp/Kg)
7. Harga Pengumpul Kopra (Rp/Kg)
8. Harga Pengumpul Lada Hitam (Rp/Kg)
9. Harga Pengumpul Lada Putih (Rp/Kg)
10.Harga Pengumpul Bunga Cengkeh (Rp/Kg)
11.Harga Pengumpul CPO (Rp/Kg)
12.Harga Pengumpul TBS (10 Tahun) (Rp/Kg)

Entry Data Harga Perkebunan tingkat Eksportir

Apabila pilih jenis produk Perkebunan tingkat Eksportir,


maka akan muncul filedyang harus diisi, yaitu :
1. Harga Eksportir Karet Lump (Rp/Kg)
2. Harga Eksportir Karet Sheet (Rp/Kg)
3. Harga Eksportir Kakao Fermented (Rp/Kg)
4. Harga Eksportir Kakao Unfermented (Rp/Kg)
5. Harga Eksportir Biji Kopi Robusta (Rp/Kg)
6. Harga Eksportir Biji Kopi Arabika (Rp/Kg)
7. Harga Eksportir Kopra (Rp/Kg)
8. Harga Eksportir Lada Hitam (Rp/Kg)
9. Harga Eksportir Lada Putih (Rp/Kg)
10.Harga Eksportir Bunga Cengkeh (Rp/Kg)
11.Harga Eksportir CPO (Rp/Kg)

40
B. Pengiriman Informasi Harga Tingkat Kabupaten

Tipe Komoditas : Perkebunan

1. Pilih Jenis Laporan


- Laporan Harga Komoditas
2. Tingkat Wilayah
- Kabupaten
3. Tipe Komoditas
- Perkebunan
4. Jenis Produk

a. Perkebunan Produsen

5. Tanggal :
(adalah tanggal pengambilan data harga)
6. Selanjutnya akan muncul filedyang harus diisi
7. Setelah semua field terisi, selanjutnya pilih send

41
Aplikasi akan melakukan pengiriman
SMS dan menunjukkan pesan Sending
Message.. Please Wait.. di paling
bawah, menunjukkan bahwa SMS
sedang dalam proses pengiriman.
Jangan tutup aplikasi ketika aplikasi
masih menunjukkan pesan ini.

Aplikasi menampilkan pesan Message


Sent., menunjukkan bahwa SMS sudah
dikirim. Jangan tutup aplikasi ketika
aplikasi masih menunjukkan pesan ini.
Beberapa saat kemudian pesan
Message Sent. Menghilang dari layar.
Aplikasi boleh ditutup.

Entry Data Harga Perkebunan tingkat Produsen

Apabila pilih jenis produk Perkebunan tingkat pengumpul,


maka akan muncul filedyang harus diisi, yaitu :
1. Harga Kelapa Dalam (Rp/Butir)
14. Harga Kemiri Kupas Bulat (Rp/Kg)
2. Harga Kelapa Hibrida (Rp/Butir)
15. Harga Bunga Cengkeh Kering (Rp/Kg)
3. Harga Kopra (Rp/Kg)
16. Harga TBS (>10 Th) (Rp/Kg)
4. Harga Kopi Arabika Gabah (Rp/Kg)
17. Harga Teh Pucuk Basah (Rp/Kg)
5. Harga Kopi Robusta Berasan (Rp/Kg)
18. Harga Gula Tebu (Rp/Kg)
6. Harga Lada Hitam (Rp/Kg)
19. Harga Mete Gelondong (Rp/Kg)
7. Harga Lada Putih (Rp/Kg) 20. Harga Nilam Kering (Rp/Kg)
8. Harga Kakao Fermented (Rp/Kg)
21. Harga Pinang Kering Kupas (Rp/Kg)
9. Harga Unfermented Asalan (Rp/Kg)
22. Harga Vanili (Rp/Kg)
10.Harga Karet Lump (Rp/Kg)
11.Harga Slab Tipis (Rp/Kg)
12.Harga Slab Tebal (Rp/Kg)
13.Harga Kemiri Biji (Rp/Kgf)

42
Lampiran 6. Format Pengiriman Data melalui Sistem GPRS

Aplikasi web mobile PIP Kementerian Pertanian (Kementan) ini merupakan aplikasi yang
digunakan untuk menunjang penginputan data dan pelaporan harga komoditas
pertanian, perkebunan, maupun peternakan. Melalui web ini, pengguna dapat
menginput data harga komoditas maupun melihat harga komoditas tersebut sesuai
dengan tanggal dan lokasi yang diinginkan. Aplikasi ini dapat diakses dengan
menggunakan browser yang terdapat pada ponsel dengan cara memasukkan alamat URL
http://m.pip.kementan.org/

43
A. Input Harga Komoditas Tingkat Provinsi melalui Sistem GPRS

Input Harga Komoditas


Pengguna dapat mengakses fungsi Input Harga Komoditas ini untuk memasukkan
data harga suatu jenis komoditas yang sesuai dengan tingkat wilayah
(provinsi/kabupaten) dan tanggal yang diinginkan.

Untuk Tingkat Provinsi: PILIH TINGKAT WILAYAH PROVINSI

TAHAP :
Pertama, pengguna memilih Nomor Handphone yang digunakannya serta Provinsi
yang bersesuaian
Selanjutnya menekan tombol Verifikasi Data.

44
TAHAP :
Setelah menekan tombol Verifikasi Data
Selanjutnya akan muncul jenis laporan harga yang harus dipilih, misalnya memilih
Laporan harian harga grosir dan eceran komoditas beras tingkat provinsi

Setelah memilih Laporan harian harga pengumpul dan eksportir komoditas


Perkebunan tingkat provinsi, maka selanjutnya harus mengisi field yang tersedia

Setelah semua field terisi, pilih submit untuk mengirimkan data

B. Input Harga Komoditas Tingkat Kabupaten melalui Sistem GPRS

45
Input Harga Komoditas
Untuk Tingkat Kabupaten: PILIH TINGKAT WILAYAH Kabupaten

TAHAP :
Pertama, pengguna memilih Nomor Handphone yang digunakannya serta Kabupaten
yang bersesuaian
Selanjutnya menekan tombol Verifikasi Data.

46
TAHAP :
Setelah menekan tombol Verifikasi Data
Selanjutnya akan muncul jenis laporan harga yang harus dipilih, misalnya memilih
Laporan harian harga produsen komoditas perkebunan tingkat kabupaten

Setelah memilih Laporan harian harga produsen komoditas Perkebunan tingkat


kabupaten, maka selanjutnya harus mengisi field yang tersedia

Setelah semua field terisi, pilih submit untuk mengirimkan data

47
Lampiran 7. Format Pengiriman Data Harga melalui Sistem SMS.

A. Format Input Data Harga Sentra (Kabupaten)

48
B. Format Input Data Harga tingkat Pengumpul dan Eceran (Provinsi)

49
50
51
Lampiran 8. Format Pengiriman Data Supplier Komoditas
Perkebunan

A. Melihat Data Supplier melalui website : pip.kementan.org


- Mengakses laman pip.kementan.org

- Memilih menu Supplier

52
- Memilih menu Supplier List

- Memilih Menu Supplier List, pilih jenis komoditas :


perkebunan

53
- Memilih menu klik untuk detail

54
- Melihat menu detail supplier list

B. Menginput Data Suplier melalui website :


pip.kementan.org

- Mengakses laman pip.kementan.org/index.php/auth/login

55
- Masukkan E-mail/Login dan Password

- Memilih Menu Manajemen Supplier

56
- Pilih menu Manajemen Supplier : Manage Supplier : Klik
Menu Add

- Isilah Form yang tersedia pada Add New Supplier

- Setelah semua field diisi lalu klik OK


57
- Apabila data yang di entry sudah berhasil diinput, Data
supplier tersebut akan tampil dalam list supplier

58
Lampiran 9. Contoh Format Pengiriman Data Informasi
Pasar melalui Fax dan E-mail (file excel)

59
Bulan :---------------- Tahun 2011 Rata2 Rata2 Perubahan
No. Komoditi Tk. Harga Satuan harga Harian/Mingguan
hr-1 hr-2 hr-3 hr-4 hr-5 Mg ini Mg Lalu (%)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Keterangan :
- Tingkat Harga meliputi : - Produsen (Petani/Peternak/Pekebun)
- Pengumpul/ RPA/RPH

60
- Grosir
- Konsumen (Eceran)