Anda di halaman 1dari 13

BAB III

PERENCANAAN DAN PEMBUATAN

3.1 Langkah-Langkah Dalam Merancang Motor Induksi 3 Phase

Untuk melakukan perancangan motor induksi tiga phase mini,

memerlukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Menggambar Bentangan Lilitan (Kumparan) Stator.

2. Menentukan Jumlah Belitan Stator .

3. Menghitung Jumlah Kawat Belitan dan Penampang Kawat dalam Alur

Stator.

4. Menggulung Motor 3 Phase.

3.1.1 Menggambar Bentangan Lilitan (Kumparan) Stator

Gambar bentangan dari lilitan stator merupakan pedoman bagi siapa

saja yang akan melalukan pekerjaan menggulung lilitan stator, memasukkan

kumparan-kumparan ke dalam lubang alur stator dan menyambung ujung

kawat yang keluar dari setiap kumparan, dibawah ini tabel data motor

23
Tabel 3.1 Data Motor

Jenis motor ( m ) : 3 phase Diameter luar stator (D2) : 9 cm

Putaran nominal ( n ) : 1500 Rpm Panjang stator (L) : 5,1 cm

Frekuensi ( f ) : 50 Hz Tebal gandar stator (Dy) : 2,1 cm

Jumlah alur ( G ) : 24 alur Lebar gigi terkecil (Wts1) : 0,4 cm

Diameter dalam stator (D1) : 4,8 cm Jenis gulungan : spiral / rata

Beberapa hal yang harus dilakukan sebelum melakukan

penggambaran kumparan stator adalah menghitung :

a. Jumlah Pasang Kutub (P):

Untuk menetukan jumlah pasang kutub menggunakan persamaan (2.1),

dimana f adalah frekwensi, di Indonesia 50Hz, dan n merupakan

putaran nominal dimana, data pada motor sebesar 1500Rpm, sehingga :

60 xf
P =
n

60x 50
P =
1500

P = 2 pasang kutub

Jadi jumlah pasang kutub pada motor ini adalah 2 pasang kutub atau

4 buah kutub ( 2 kutub utara dan 2 kutub selatan).

24
b. Jumlah alur tiap phase (K):

Untuk menetukan jumlah alur tiap phase menggunakan persamaan (2.4),

dimana G adalah jumlah alur yang mana pada data motor sebanyak

24alur, dan m merupakan jenis motor, pada data motor merupakan motor

3 phase. Maka :

G
K=
m

24
K 8alur
3

c. Jumlah Alur Per Kutub - Per Phase ( g ):

Untuk menetukan jumlah alur per kutub per phase menggunakan

persamaan (2.3), dimana (G) adalah jumlah alur, yaitu 24 alur, (p) jumlah

pasang kutub, yang telah dihitung diatas, terdapat 2 pasang kutub dan (m)

banyaknya phase pada motor, jadi :

G
g =
2 p.m

24
g = 2 alur
2 x 2 x3

Jadi pada setiap phase terdapat dua alur kumparan.

d. Langkah Belitan ( Yg )

Untuk menetukan langkah belitan menggunakan persamaan (2.2), dimana

dimana (G) adalah jumlah alur, (p) jumlah pasang kutub, sehingga :

G
Yg = =
2p

25
24
Yg 6alur
4

Jika awal kumparan diletakkan pada alur no1, maka akhir kumparan

terletak pada alur ke 6 + 1 = 7 ( dari alur ke satu sampai alur ke tujuh ),

seperti terlihat pada tabel berikut:

Tabel 3.2 Langkah Belitan Motor

Phase R Phase S Phase T

17 5 11 9 15

28 6 12 10 16

13 19 17 23 21 3

14 20 18 24 22 - 4

e. Pergeseran Tempat Antar Phase ( Yf ) :

Untuk menetukan pergeseran tempat antar phase menggunakan

persamaan (2.8), dimana (Yg) adalah langkah belitan yang sudah dihitung

diatas, sehingga :

2
Yf = xYg
3

2
Yf = x6 4
3

Jadi menempatkan kumparan (pergeseran tempat antar phase) adalah

4 alur. Jika pada phase R dimulai dari alur 1, maka phase S akan dimulai

dari alur 5 = ( 1 + 4 ) dan phase T dimulai dari alur 9 = ( 5 + 4 )

f. Jarak alur satu dengan yang lain terdekat () :

360
= 15
24

26
Setelah menghitung data-data diatas didapatkan gambar bentangan

seperti Gambar 3.1:

Gambar 3.1 Bentangan Belitan Motor

27
3.1.2 Menentukan Jumlah Belitan Stator :

a. Rapat Fluksi pada Celah Udara

Untuk menetukan Rapat fluksi pada celah udara menggunakan

persamaan (2.25), dimana ( ) fluksi tiap kutub, (D1) adalah diameter

dalam stator, (L) panjang stator dan Bg rapat fluksi yang telah ditetapkan

, sehingga :

t = x D1 x L x Bg

= 3,14 x 4,8 x 5,1 x 3840

= 295170,048 garis-garis

b. Rapat Fluksi pada Gigi Stator

menetukan rapat fluksi pada gigi stator menggunakan persamaan (2.27),

dimana ( t) rapat fluksi pada celah udara, (Wts1) adalah lebar gigi

terkecil, (L) panjang stator, (Ss) jumlah gigi stator dan (k) adalah faktor

isolasi lembaran lembaran, untuk penyesuaian yang nilainya antara 0.9-

0.93, karena lembaran-lembaran baja listrik stator berlaminasi, maka

panjang stator (L) tidak sepenuhnya berupa baja listrik, maka :

t
Bts1 =
Wts1.L.k1.Ss

295170 , 048 295170 , 048


=
0 , 4 . 5 ,1 . 0 , 93 . 24 45 , 5328

= 6482,58065 garis-garis/cm2

28
c. Rapat Fluksi pada Gandar Stator

Pada bab 2 didepan sudah dijelaskan cara mencari fd. Pada persamaan

(2.21) Dari penjelasan di bab 2 tersebut dapat dihitung :

E1
fd = dimana Ea = Eb = Ec
Ea Eb Ec

Ea 2 Ea cos 15

3 Ea
Ea (1 2 cos 15 )

3 Ea
1 2 . 0 ,9659 2 ,932
0 ,977
3 3

oleh karena fluksi total bentuk sinus, sedang gandar

menampung/terdistribusi fluksi total, maka untuk ketepatan

mendapatkan rapat fluksi pada gandar harus disisipkan faktor distribusi.

txfd
=
2 xP

295170 , 048 x 0 , 977


= 72116 , 23 garis-garis
2x2

Fluksi gandar menjadi garis-garis, sehingga rapat fluksi ditentukan :


Bys =
DyxLxk1

72116,23

2,1x5,1x0,93
72116,23

9,9603
7240,36726

29
3.1.3 Menghitung Jumlah Kawat Belitan dan Penampang Kawat dalam

Alur Stator.

Untuk menentukan jumlah kawat belitan tiap alur phase, yang mana

besarnya tegangan yang bekerja pada motor ditentukan, dapat dengan

ketentuan tegangan pada persamaan (2.31) sebagai berikut :

E = 4,44 x z x x f x fd x10-8 volt/phase

= 4,44 x z x72116,23 x 50 x 0,977 x 10-8

380 = 16005153,1 x 10-8 x z

380.10
z = 2374,23kawat
16005153,1

2374,23
Jumlah kawat tiap alur dalam satu phasa 296,77875 kawat,
8

dalam satu phase terdapat 8 alur, seperti pada persamaan (2.4) karena

jumlah kawat dalam satu sanggul dibuat 297 kawat.

Menentukan penampang kawat dengan menentukan dulu jenis

kawat belitnnya dengan persamaan (2.3) dimana (A) luar alur sudah

diberi isolasi dalam mm, (z) jumlah kawat belitan dalam satu phase, .

Digunakan kawat email untuk belitannya, jadi :

0,75 xA
q=
z
s

0,75.89,325 66,99375 2
0,22556818mm
297 297

Oleh karena di pasaran adanya kawat dengan luas penampang

0,25 mm2 maka perancangan ini menggunakan kawat dengan luas

penampang 0,25 mm2.

30
3.1.4 Cara Menggulung Motor 3 Phase

a. Membuat mal kumparan sesuai dengan gambar kerja.

b. Menggulung kumparan pada mal yang telah dibuat sebanyak jumlah

kumparan yang telah dihitung.

c. Membuat prespan plastik.

Selain berfungsi sebagai penyekat, prespan plastik juga berfungsi sebagai

pelindung kumparan terhadap gesekan mekanik pada saat pemasangan

kumparan pada stator motor.

1) Menentukan ukuran prespan`

a) Memerikasa ukuran alur kumparan.

b) Memeriksa ketebalan inti.

c) Prespan plastik sebaiknya dilebihkan 15mm dari lubang alur.

d) Sebaiknya membuat contoh satu dulu dan dicoba dimasukkan ke

dalam alur.

2) Memotong prespan

a) Memotong banyaknya lembaran-lembaran prespan sesuai dengan

kebutuhan dan ukurannya.

3) Memasang prespan plastik yang telah dibuat ke dalam alur stator

31
Gambar 3.2 Bentuk Prespan Plastik yang Digunakan

Gambar 3.3 Cara Memasang Prespan Plastik yang telah Dibuat ke dalam

Alur Stator

d. Memasukkan hasil gulungan ke dalam alur stator sesuai dengan langkah

kumparan dan ditutup dengan prespan plastik.

1) Memasang atau menyisipkan kumparan ke dalam lubang alur sehinnga

panjang kabel yang dilebihkan sebagai cadangan berada pada sisi kiri

2) Menekan bundel kumparan hingga pipih sehingga cukup untuk

dimasukkan kedalam alur dan masuk kedalam celah bidang alur.

Gambar 3.4 Cara Memasukkan Hasil Gulungan ke dalam Alur Stator

32
e. Membuat koneksi

1) Hubungan semua kutub dan semua phase dalam hubungan seri untuk

semua kumparan,

2) Menghubungkan ujung kutub.

Hubungan semua kabel ini dilakukan sesuai dengan arah gulungan

kumparan, pemasangan hubungan delta dan posisi kelebihan panjang

kabel kedalam yang telah di tentukan, memeriksa hubungan dan

isolasi penyekat

3) Menyambung dan menyolder kelompok kumparan.

4) Memasang isolasi penyekat koneksi.

Menempatkan lengan kabel dan sarung bervernis diseluruh, setiap

koneksi.

5) Hubungan ujung (kepala) kabel

a) Panjang isolasi penyekat terpasang sebelum ujung awal kabel yang

dilebihkan panjangnya, menghubungkan kabel-kabel ini ke ujung

kabel dan menyolder koneksi yang bersangkutan.

b) Membungkus koneksi ini dengan sarung bervernis.

f. Memastikan koneksi

1) Mengukur hasil penyambungan dan mengukur tahanan isolasi motor

antara kumparan dan body dengan menggunakan avometer.

2) Menghitung nilai induktansinya, dengan cara manual, yaitu

Satu buah sanggul gulungan digunakan untuk pengukuran.

Lilitan tersebut dihubungkan dengan Resistor 100 Ohm 5 Watt

33
dan transformator CT 12 Volt. Induktansi lilitan adalah seri

dengan resistansi lilitan

Untuk mendapatkan nilai V1 dan V2 diukur dengan

menggunakan Volt Meter, kemudian, menghitung Arus yang

mengalir pada satu sanggul dengan rumus :

V1 V 2
I .................................................................(3.1)
Rtambahan

Setelah didapatkan nilai I , dapat digunakan untuk menghitung

nilai induktasi dengan rumus :

Ls = 1 V
2 2 2
R I ..........................................................(3.2)
I 2 2

3) Mengukur tahanan gulungan antara U-V, V-W, dan W-U dengan

menggunakan avometer, kemudian memeriksa apakah semua dalam

keadaan setimbang atau tidak.

g. Mengikat dan merapikan hasil kumparan

h. Memasukkan rotor dan menutup tutup stator.

i. Pemeriksaan.

1) Mencoba putaran motor dengan tangan tanpa menghubungkan dengan

power supply.

2) Mengukur kembali tahanan isolasi antara kumparan dan body dengan

menggunakan avometer.

3) Mengukur kembali tahanan gulungan antara U-V, V-W, dan W-U

dengan menggunakan avometer, kemudian memeriksa apakah semua

dalam keadaan setimbang atau tidak.

4) Menghubungkan hasil gulungan dengan power supply.

34
5) Mengukur besarnya arus motor dalam keadaan beban kosong.

6) Apabila sudah selesai, dibuka kembali dengan cara membuka tutup

muka dan belakang motor dengan traker dan mengeluarkan rotor dari

rumah motor.

j. Memberi serlak pada kumparan dengan cara mencelupkan seluruh stator

ke dalam larutan serlak.

k. Mengeringkan hasil penyerlakan dengan menjemur pada sinar matahari.

setelah kering dipasang kembali dengan cara memasukkan rotor dan

menutup stator kembali.

l. Menghitung Daya dengan menggunakan data yang telah ada, dengan

menggunakan rumus :

P 3xVxIxcos ......................................................................(3.3)

Dimana

P = Daya

V = 220V

I = Arus yang di dapat dari hasil percobaan

R
cos = .......................................................................(3.4)
2 2
R JL

Sementara,

JL = 2 xxfxL ......................................................................................(3.5)

L = Induktansi

f = Frekwensi

= 3,14

35