Anda di halaman 1dari 11

TUGAS INDIVIDU

TOKOH PEMIKIR ISLAM

DISUSUN OLEH:
YASMIN MAULIDA AZZAHRA

TUGAS AKIDAH AKHLAK KELAS XI


1. MUHAMMAD MUSA AL-KHAWARIZMI

Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi adalah seorang ilmuwan muslim terkemuka yang telah
memberika kontribusi besar bagi peradaban manusia, melalui perannya mengembangkan ilmu
matematika dan meletakannya sebagai ilmu Aljabar. Peranan ini turut membangkitkan ilmu
matematika yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan alam dan teknologi, karena ia laksana roh pada
jasad.

Riwayat Hidup Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi


Dia bernama Abdullah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi. Dia dilahirkan pada tahun 164 H
(780 M) di daerah Khawarizmi di Asia Tengah. Dia wafat di Baghdad pada tahun 232 H (847 M),
sekalipun sebagian literature menyatakan bahwa dia wafat pada tahun 235 H (850 M).
Penemuan Ilmiah Al-Khawarizmi
Al-Khawarizmi memiliki beberapa hasil penelitian ilmiah dan buku-buku yang dikarang dibidang
matematika (menghitung, aljabar, dan geometri), astronomi, geografi dan musik. Diantara penemuan
Al-Khawarizmi yang paling fenomenal adalah penemuan dibidang Aljabar, dialah orang yang
menggagas ilmu ini menjadi ilmu tersendiri yang terpisah dari ilmu hitung. Dan buku yang dia karang
adalah buku Aljabar wal Muqabalah asal mula penamaan ini bahwa ketika dia menggagas ilmu
Aljabar, dan memberikan judul kitab atau buku dengan nama Aljabar wal Muqabalah, sehingga kata
pertamalah yang identik dengan ilmu ini yakni Aljabar.
Selain penemuannya di bidang matematika, banyak sekali penemuan-penemuan lainnya yang
kemudian dia bukukan diantaranya :
1. As-Sanad Hind (bidang Astronomi)
2. Shuratul Al-Ardh (bidang Geografi)
3. Taqwin Al-Buldan (bidang Geografi)
Dan tentunya masih banyak lagi karya-karya dari Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi ini yang
belum dituliskan, namun sebagai penghormatan atau untuk mengenang jasa dari Muhammad bin
Musa Al-Khawarizmi. Nama Al-Khawarizmi diabadikan sebagai Uiniversitas di Uni Emirat Arab.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan karuni-Nya kepada ilmuwan dan guru kita semua yang
mulia ini.
2. AL-GHAZALI

Nama lengkapnya Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, digelar Hujjah
(Acuan) Al-Islam lahir di Thus, bagian kota Khusaran, Iran pada 450 H (1056 M). Ayahnya
tergolong orang yang hidup sangat sederhana sebagai pemintal benang (ghazzal) sehinnga
dijuluki al-Ghazzali, karena dinisbatkan kepada mata pencaharian ayahnya, tetapi ayah
mempunyai semangat keagamaan yang tinggi seperti terlihat ada simpatiknya pada ulama,
dan mengharapkan anaknya menjadi ulama yang selalu memberi nasehat pada uamaqt.
Sebelum ayahnya wafat, ayahnya menitipkan anaknya Al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad
yang pada itu masih kecil, kepada seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan didikan dan
bimbingan.
Karya Al-Ghazali diperkirakan mencapai 300 buah, diantaranya adalah:
Maqashid-Al-Falasifah (Tujuan-tujuan Para Filsuf), sebagai karangannya yang pertama dan
berisi masalah-masalah filsafat.
Tahafut Al-Filasafah (Kekacuaan Pikiran Para Filsuf), dikarang sewaktu berada di Bagdad
tatkala jiwanya dilanda keragu-raguan.
Miyar Al-Ilm (Kriteria-Kriteria / Standar Keilmuan).
Ihya Ulum Al-Din (Menghidupkan Kembali Agama-Agama), merupakan karya terbesar
Al-Ghazali.
Al-Munqidz Min Al-Dhalal (Penyelamatan dari Kesehatan), merupakan sejarah alam
pikiran Al-Ghazali sendiri dan mereflesikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta
jalan mencapai Tuhan.
Al-Maarif Al-Aqliah (Pengatahuan Yang Rasional).
Misyakat Al-Anwar (Lampu Yang Bersinar Banyak), berisi pembahasan tentang akhlak
dan tasawuf.
Minhaj Al-Abidin (Jalan Mengabdikan Diri Kepada Tuhan).
Al-Iqtishad fi al-Itiqad (moderasi dalam akidah).Al-Mustadzhir Qisthasul
Mustaqim (Nerca Yang Lurus).
3. IBNU RUSYD

Ibnu Rusyd atau nama lengkapnya Abu Walid Muhammad Ibnu Ahmad lahir di
Kardova pada tahun 1126. Beliau ahli falsafah yang paling agung pernah dilahirkan dalam
sejarah Islam. Pengaruhnya bukan sahaja berkembang luas didunia Islam, tetapi juga di
kalangan masyarakat di Eropah. Di Barat, beliau dikenal sebagai Averroes. Keturunannya
terdiri daripada golongan yang berilmu dan ternama. Bapanya dan datuknya merupakan kadi
di Kardova.
Pada lewat penghujung usianya, kedudukan Ibnu Rusyd dipulihkan semula apabila
Khalifah Al-Mansor Al-Muwahhidi menyadari kesilapan yang dilakukannya. Namun, segala
kurniaan dan penghormatan yang diberikan kepadanya tidak sempat dikecapi karena beliau
menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1198.
Kematiannya merupakan kehilangan yang cukup besar kepada kerajaan dan umat
Islam di Sepanyol. Beliau tidak meninggalkan sebarang harta benda melainkan ilmu dan
tulisan dalam pelbagai bidang seperti falsafah, perubatan, ilmu kalam, falak, fiqh, muzik, kaji
bintang, tatabahasa, dan nahwu. Antara karya besar yang pernah dihasilkan oleh Ibnu Rusyd
termasuklah "Kulliyah fit-Thibb" yang mengandungi jilid, mengenai perubatan secara umum,
MabadilFalsafah (Pengantar Ilmu Falsafah), Tafsir Urjuza yang membicarakan perubatan dan
tauhid, Taslul, buku mengenai ilmu kalam, Kasyful Adillah, yang mengungkap persoalan
falsafah dan agama, Tahafatul Tahafut, ulasannya terhadap buku Imam Al-Ghazali yang
berjudul Tahafatul Falaisafah, dan Muwafaqatil Hikmah Wal Syari'a yang menyentuh
persamaan antara falsafah dengan agama.
Filsafat Ibnu Rusyd
Pembicaraan falsafah Ibnu Rusyd banyak tertumpu pada persoalan yang berkaitan
dengan metafizik, terutamanya ketuhanan. Beliau telah mengemukakan idea yang bernas lagi
jelas, dan melakukan pembaharuan semasa membuat huraianya mengenai perkara tersebut.
Pembaharuan ini dapat dilihat juga dalam bidang perubatan apabila Ibnu Rusyd memberi
penekanan tentang kepentingan menjaga kesihatan.

Beberapa pandangan yang dikemukakan dalam bidang perubatan juga didapati


mendahului zamannya. Beliau pernah menyatakan bahawa demam campak hanya akan
dialami oleh setiap orang sekali sahaja. Kehebatannya dalam bidang perubahan tidak berlegar
di sekitar perubatan umum, tetapi juga merangkum pembedahan dan fungsi organ di dalam
tubuh manusia. Ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Ibnu Rusyd turut menjangkau bidang
yang berkaitan dengan kemasyarakatan apabila beliau cuba membuat pembahagian
masyarakat itu kepada dua golongan iaitu golongan elit yang terdiri daripada ahli falsafah dan
masyarakat awam.
Pembahagian strata sosial ini merupakan asas pengenalan pembahagian masyarakat
berdasarkan kelas seperti yang dilakukan oleh ahli falsafah terkemudian, seperti Karl Max
dan mereka yang sealiran dengannya. Apabila melihat keterampilan Ibnu Rusyd dalam
pelbagai bidang ini, maka tidak syak lagi beliau merupakan tokoh ilmuwan Islam yang tiada
tolok bandingannya. Malahan dalam banyak perkara, pemikiran Ibnu Rusyd jauh lebih besar
dan berpengaruh jika dibandingkan dengan ahli falsafah yang pernah hidup sebelum
zamannya ataupun selepas kematiannya.

4. IBNU SINA

Ibnu Sina yang memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hussein Ibn Abdallah, lahir di
Afshana dekat Bukhara (Asia Tengah) pada tahun 981. Pada usia sepuluh tahun, dia telah
menguasai dengan baik studi tentang Al Quran dan ilmu-ilmu clasar. Ilmu logika,
dipelajarinya dari Abu Abdallah Natili, seorang filsuf besar pada masa itu. Filsafatnya
meliputi buku-buku Islam dan Yunani yang sangat beragam.
Kemampuannya dalam bidang pengobatan sudah begitu mumpuni di usianya yang
masih belia. Bahkan ketika usianya baru tujuhbelas tahun, dia sudah berhasil menyembuhkan
penguasa Bukhara, Nun Ibn Manshur. Padahal sebelumnya para pakar kesehatan kerajaan
sudah menyerah, tak satu pun yang mampu mengatasi penyakit sang raja. Atas jasanya itu,
Manshur bermaksud memberinya hadiah. Namun Ibnu Sina justru lebih memilih izin dari
sang raja untuk diperkenankan meggunakan perpustakaan kerajaan yang dikenal memiliki
koleksi buku-buku yang unik.
Filsafat Ibnu Sina
Karya Ibnu Sina dalam bidang filsafat yang terkenal adalah Al-Najat, Isyarat, dan al-
Shifa (buku yang berisi tentang penyembuhan penyakit) merupakan ensiklopedi filosofis. Di
dalamnya berisi jangkauan pengetahuan yang luas, dari filsafat hingga ilmu pengetahuan.
Filsafat Ibnu Sina merupakan penggabungan tradisi Aristotelian, pengaruh Neoplatonic dan
teologi Islam. Ibnu Sina mengelompokkan seluruh bidang ilmu ke dalam dua kategori besar,
yakni: pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis. Pengetahuan teoritis meliputi fisika,
matematika, dan metafisika, sedangkan pengetahuan praktis meliputi etika, ilmu ekonomi,
dan ilmu politik.
Jenius yang satu ini tidak pernah berhenti mengembara, baik secara fisik maupun
secara batin. Secara fisik, dia terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, untuk
memuaskan rasa ingin tahunya terhadap segala hal, serta untuk dapat belajar, belajar, dan
belajar. Karena terlalu banyak memeras otak dan diperparah oleh gejolak politik pada masa
itu, kesehatannya semakin memburuk. Akhirnya, pada tahun 1037 dia kembali ke Hamadan,
dan meninggal di sana.
5. AL-FARABI

Nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh. Dikalangan
orang-orang latin abad tengah, Al-Farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr. Ia lahir di Wasij, Distrik
Farab (sekarang kota Atrar), Turkistan pada 257 H. Pada tahun 330 H, ia pindah ke Damaskus dan
berkenalan dengan Saif al-Daulah al-Hamdan, sultan dinasti Hamdan di Allepo. Sultan memberinya
kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan tunjangan yang sangat besar, tetapi Al-Farabi
memilih hidup sederhana dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Al-Farabi dikenal
sebagai filsuf Islam terbesar, memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang
filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya secara sempurna, sehingga filsuf yang datang
sesudahnya, seperti Ibnu Sina dan Ibn Rusyd banyak mengambil dan mengupas sistem filsafatnya.

Pemikirannya
a) Pemaduan Filsafat

Al-Farabi berusaha memadukan beberapa aliran filsafat yang berkembang sebelumnya


terutama pemikiran Plato, Aristoteles, dan Plotinus, juga antara agama dan filsafat. Karena itu
ia dikenal filsuf sinkretisme yang mempercayai kesatuan filsafat. Dalam ilmu logika dan
fisika, ia dipengaruhi oleh Aristoteles. Dalam masalah akhlak dan politik, ia dipengaruhi oleh
Plato. Sedangkan dalam hal matematika, ia dipengaruhi oleh Plotinus. Untuk
mempertemukan dua filsafat yang berbeda seperti dua halnya Plato dan Aristoteles mengenai
idea. Aristoteles tidak mengakui bahwa hakikat itu adalah idea, karena apabila hal itu
diterima berarti alam realitas ini tidak lebih dari alam khayal atau sebatas pemikiran saja.
Sedangkan Plato mengakui idea merupakan satu hal yang berdiri sendiri dan menjadi hakikat
segala-galanya. Al-Farabi menggunakan interpretasi batini, yakni dengan menggunakan
tawil bila menjumpai pertentangan pikiran antara kedanya. Menurut Al-Farabi, sebenarnya
Aristoteles mengakui alam rohani yang terdapat diluar alam ini. Jadi kedua filsuf tersebut
sama-sama mengakui adanya idea-idea pada zat Tuhan. Kalaupun terdapat perbedaan, maka
hal itu tidak lebih dari tiga kemungkinan:

1) Definisi yang dibuat tentang filsafat tidak benar

2) Adanya kekeliruan dalam pengetahuan orang-orang yang menduga bahwa antara


keduanya terdapat perbedaan dalam dasa-dasar falsafi.

3) Pengetahuan tentang adanya perbedaan antara keduanya tidak benar, padahal definisi
keduanya tidaklah berbeda, yaitu suatu ilmu yang membahas tentang yang ada secara mutlak.
Adapun perbedaan agama dengan filsafat, tidak mesti ada karena keduanya mengacu kepada
kebenaran, dan kebenaran itu hanya satu, kendatipun posisi dan cara memperoleh kebenran
itu berbeda, satu menawarkan kebenaran dan lainnya mencari kebenaran. Kalaupun terdapat
perbedaan kebenaran antara keduanya tidaklah pada hakikatnya, dan untuk menghindari itu
digunakab tawil filosofis. Dengan demikian, filsafat Yunani tidak bertentangan secara
hakikat dengan ajaran Islam, hal ini tidak berarti Al-farabi mengagungkan filsafat dari agama.
Ia tetap mengakui bahwa ajaran Islam mutlak kebenarannya.

b) Jiwa

Adapun jiwa, Al-Farabi juga dipengaruhi oleh filsafat Plato, Aristoteles dan Plotinus. Jiwa
bersifat ruhani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan tidak berpindah-pindah dari
suatu badan ke badan lain. Kesatuan antara jiwa dan jasad merupakan kesatuan secara
accident, artinya antara keduanya mempunyai substansi yang berbeda dan binasanya jasad
tidak membawa binasanya jiwa. Jiwa manusia disebut al-nafs al-nathiqah, yang berasal dari
alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, beruapa, berkadar, dan
bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.Mengenai keabadian jiwa, Al-
Farabi membedakan antara jiwa kholidah dan jiwa fana. Jiwa khalidah yaitu jiwa yang
mengetahui kebaikan dan berbuat baik, serta dapat melepaskan diri dari ikatan jasmani. Jiwa
ini tidak hancur dengan hancurnya badan.

c) Politik

Pemikiran Al-Farabi lainnya yang sangat penting adalah tentang politik yang dia tuangkan
dalam karyanya, al-Siyasah al- Madiniyyah (Pemerintahan Politik) dan ara al-Madinah al-
Fadhilah (Pendapat-pendapat tentang Negara Utama) banyak dipengaruhi oleh konsep Plato
yang menyamakan negara dengan tubuh manusia. Ada kepala, tangan, kaki dan anggota
tubuh lainnya yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Yang paling penting dalam
tubuh manusia adalah kepala, karena kepalalah (otak) segala perbuatan manusia
dikendalikan, sedangkan untuk mengendalikan kerja otak dilakukan oleh hati. Demikian juga
dalam negara. Menurut Al-Farabi yang amat penting dalam negara adalah pimpinannya atau
penguasanya, bersama-sama dengan bawahannya sebagai mana halnya jantung dan organ-
organ tubuh yang lebih rendah secara berturut-turut. Pengusa ini harus orang yang lebih
unggul baik dalam bidang intelektual maupun moralnya diantara yang ada. Disamping daya
profetik yang dikaruniakan Tuhan kepadanya, ia harus memilki kualitas-kualitas berupa:
kecerdasan, ingatan yang baik, pikiran yang tajam, cinta pada pengetahuan, sikap moderat
dalam hal makanan, minuman, dan seks, cinta pada kejujuran, kemurahan hati,
kesederhanaan, cinta pada keadilan, ketegaran dan keberanian, serta kesehatan jasmani dan
kefasihan berbicara.

Tentu saja sangat jarang orang yang memiliki semua kualitas luhur tersebut, kalau terdapat
lebih dari satu, maka menurut Al-Farabi yang diangkat menjadi kepala negara seorang saja,
sedangkan yang lain menanti gilirannya. Tetapi jika tidak terdapat seorang pun yang
memiliki secara utuh. Dua belas atribut tersebut, pemimpin negara dapat dipikul secara
kolektif antara sejumlah warga negara yang termasuk kelas pemimpin.

Pemikiran Al-Farabi tentang kenegaraan terkesan ideal sebagaimana halnya konsepsi yang
ditawarkan oleh Plato. Hal ini dimungkinkan, Al-Farabi tidak pernah memangku suatu
jabatan pemerintahan, ia lebih menyenangi berkhalawat, menyendiri, sehingga ia tidak
mempunyai peluang untuk belajar dari pengalaman dalam pengelolaan urusan kenegaraan.
Kemungkinan lain yang melatarbelakangi pemikiran Al-Farabi itu adalah situasi pada waktu
itu, kekuasaan Abbassiyah diguncangkan oleh berbagai gejolak, pertentangan dan
pemberontakan.
6. AL-RAZI

Nama lengkap al-razi adalah Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria ibnu Yahya Al-Razi.
Dalam wacana keilmuan barat, beliau dikenal dengan sebutan Razhes. Ia dilahirkan di Rayy,
sebuah kota tua yang masa lalu bernama Rhoges, dekat Teheran, Republik Islam Iran pada
tanggal 1 Syaban 251 H/865 M. Perlu diingat bahwasanya tempat yang ia tinggali yakni Iran
,yang sebelumnya terkenal dengan sebutan Persia, merupakan tempat dimana terjadinya
pertemuan berbagai kebudayaan terutama kebudayaan Yunani dan Persia. Dengan suasana
seperti lingkungan seperti ini mendorong bakat Al-Razi tampil sebagai seorang intelektual.

Ada beberapa nama tokoh lain yang juga dipanggil al-razi, yakni Abu Hatim Al-Razi dan
Najmun Al-Razi. Oleh karena itu, untuk membedakan Al-Razi dengan yang lainnya, perlu
ditambahkan dengan sebutan Abu Bakar, yang merupakan nama kun-yah-nya (gelarnya).
Beliau pernah menjadi tukang intan pada mudanya, penukar uang, dan pemain kecapi. Lalu
beliau memusatkan perhatiannya pada ilmu kimia dan meninggalkannya akibat eksperimen-
eksperimen yang dilakukannya yang menyebabkan mata terserang penyakit. Setelah itu,
beliau mendalami ilmu kedokterang dan filsafat yang ada pada masa itu.

Ayahnya berharap Al-razi menjadi seorang pedagang besar, maka dari itu ayahnya
membekali Al-razi ilmu-ilmu perdagangan. Akan tetapi, Al-Razi lebih memilih kepada
bidang intelektual ketimbang dengan perdagangan karena menurutnya bidang intelektual
merupakan perkara yang lebih besar ketimbang urusan dengan materi belaka.

Karena ketekunannya dalam bidang kedoteran dan filsafat, Al-Razi menjadi terkenal sebagai
dokter yang dermawan, penyayang kepada pasien-pasiennya, oleh karena tiu dia sering
memberi pengobata cuma-Cuma kepada orang miskin. Dan karena reputasinya dalam
kedokteran, dia pernah mejabat sebagai kepala rumah sakit Rayy pada masa pemerintahan
Gubernur Al-Mansur ibnu Ishaq. Kemudian dia berpindak ke Baghdad dan memimpin rumah
saki di sana pada masa pemerintahan Khlifah Al-Muktafi. Setelah Al-Muktafi meninggal, ia
kembali ke kota kelahirannya, kemudian id berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri
lainnya dan meninggal dunia pada tanggal 5 Syaban 313 H/ 27 Oktober 925 dalam usia 60
tahun.
7. IBNU MISKAWAIH

Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad ibnu Muhammad ibnu Yakub ibnu
Miskawaih. Ia dilahirkan di kota Rayy, Iran pada tahun 330 H/ 941 M dan wafat di asfahan
pada tanggal 9 Shafar 421 H/ 16 Februari 1030 M. Dari buku yang kami dapatkan, tidak ada
penjelasan yang sangat rinci mengungkapkan biograpinya. Namun, ada beberapa hal yang
perlu dijelaskan, bahwa ibnu miskawaih belajar sejarah terutama Taarikh al-Thabari kepada
Abu Bakar Ibnu Kamil Al-Qadhi dan belajar filsafat kepada Ibnu Al-Khammar, mufasir
kenamaan karya-karya aristoteles.
Ibnu Miskawaih adalah seorang penganut syiah. Hal ini didasarkan pada pengabdiannya
kepada sultan dan wazir-wazir syiah pada masa pemerintahan Bani Buwaihi ( 320 448 M ).
Dan ketika sultan Ahmad Adhud Al-Daulah menjabat sebagai kepala pemerintahan, ibnu
Miskawaih menduduki jabatan yang penting, seperti pengangkatannya
sebagai Khazin, penjaga perpustakaan Negara dan bendarahara negara.

Karyanya

Dalam karyanya dalam disiplin ilmu meliputi kedokteran, sejarah dan filsafat. Akan tetapi,
dia lebih terkenal sebagai seorang filosof akhlak, ( al-falsafat al-amaliyat ) ketimbang
dengan seorang filosof ketuhanan ( al-falsafat al-nazhariyyat al-Illahiyat ).
Dalam buku The History of the Muslim Philoshopy disebutkan bahwa karya tulisannya
itu; Al-Fauz al-Akbar, al-Fauz al-Asghar, Tajaarib al-Umaan ( sebuah sejarah tentang banjir
besar yana ditulis pada tahun 369 H/ 979 M), Uns al-Fariid ( yakni koleksi anekdot, syair,
peribahasa, dan kata-kata hikmah ), Tartiib al-Saadat ( isinya ahlak dan politik ), al-
Mustaufa ( isinya syair-syair pilihan ), al-Jaami, al-Siyaab, On the Simple Drugs ( tentang
kedokteran ), On the composition of the Bajats ( tentang kedokteran ), Kitaab al-Ashribah (
tentang minuman ), Tahziib al-Akhlak ( tentang akhlak ), Risaalat fi al-Lazza wa al-Aalam fil
jauhar al-Nafs, ajwibaat wa Asilat fi al-Nafs wa al-Aql, Al-Jawaab fi Al-Masaail al-Salas,
Risaalat fi Jawaab fi Sual Ali ibnu Muhammad Abuu Hayyan al-Shufii fi HAqiiqat al-
Aql, dan Tharathat al-Nafs.
8. AL-KINDI

Al-Kindi, nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Yakub ibnu Ishaq ibnu al-Shabbah ibnu
Imron ibnu Muhammad ibnu al-Asyas ibnu Qais al-Kindi. Kindah merupakan suatu
nama kabilah terkemuka pra-Islam yang merupakan cabang dari Bani Kahlan yang menetap
di Yaman. Kabilah ini pulalah yang melahirkan seorang tokoh sastrawan yang terbesar
kesusasteraan Arab, sang penyair pangeran Imr Al-Qais, yang gagal untuk memulihkan tahta
kerajaan Kindah setelah pembunuhan ayahnya.

Al-Kindi dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H dari keluarga kaya dan terhormat.
Ayahnya, Ishaq ibnu Al- Shabbah, adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-
Mahdi dan Ar-Rasyid. Al-kindi sendiri mengalami masa pemerintahan lima khalifah Bani
Abbas, yakni Al-Amin, Al-Mamun, Al-Mutasim, Al- Wasiq, dan Al-Mutawakkil.

Dalam hal pendidikan Al-Kindi pindah dari Kufah ke Basrah, sebuah pusat studi bahasa dan
teologi Islam. Dan ia pernah menetap di Baghdad, ibukota kerajaan Bani Abbas, yang juga
sebagai jantung kehidupan intelektual pada masa itu. Ia sangat tekun mempelajari
berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu tidak heran jika ia dapat menguasai ilmu
astronomi,ilmu ukur, ilmu alam, astrologi, ilmu pasti, ilmu seni musik meteorologi,, optika,
kedokteran, matematika, filsafat, dan politik. Penguasaannya terhadap filsafat dan ilmu
lainnya telah menempatkan ia menjadi orang Islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam
jajaran filosof terkemuka. Karena itu pulalah ia dinilai pantas menyandang gelar Faiasuf al-
Arab ( filosof berkebangsaan Arab).

9. MULLA SADRA

Shadr al-Din Muhammad ibn Ibrahim ibn Yahya Qawami al-Syirazi atau
yang lebih dikenal dengan Mulla Shadra, dilahirkan di Syiraz pada tahun 1572
M. Pendidikan dasarnya dijalani dikotanya dalam bidang al-Qur'an, Hadis,
Bahasa Arab dan Bahasa Persia kemudian dilanjutkan di Isfahan sebuah kota
pusat studi yang penting pada masa itu. Di sana, Mulla Shadra berguru kepada
Baha' al-Din al-Amili (w. 1622 M), Mir Damad (w. 1631) dan Mir Abu Al-
Qasim Findereski (w. 1640).
Konon, Mulla Shadra pernah melaksanakan ibadah haji dengan berjalan
kaki sebanyak tujuh kali, dan wafat di Basrah sekembalinya dari menunaikan
ibadah haji yang ketujuh pada 1641.
Karya Mulla Sadra
Sumbangan filsafat Mulla Shadra sangatlah banyak diantaranya; Al-
Suhrawadi, HikmahAl-Isyraq, Al-Abhari, Al-Hidayah fi Al-Hikmah, dan Ibn
sina, Al-Syifa bersanding dengan risalah-risalahnya tentang organization,
Resurraction (Awal Penciptaan dan Hari Akhir), Predicating Essence of
Existence, dan beberapa makalah singkatnya dalam tema-tema serupa. Namun,
karya filsafatnya yang berpengaruh adalah Al-Masya'ir (Keprihatinan), Kasr
Asnam Al-Jahiliyah (Menghancurkan Arca-Arca Paganisme), dan "Hikmah
Transedental", yang lebih dikenal sebagai "Empat Pengembaraan" (Al-Asfar
Al-Arba'ah).