Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Merujuk pada Nawacita 9 Agenda Prioritas Jokowi JK urutan ke 7 yaitu

Kami Akan Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Dengan Menggerakkan

Sektor-Sektor Strategis Ekonomi Domestik . Dalam poin tersebut banyak hal

yang ingin di wujudkan anatara lain : 1) Membangun kedaulatan pangan, 2)

Mewujudkan kedaulatan energy, 3) Mewujudkan kedaulatan keuangan , 4)

Mendirikan bank petani/nelayan dan UMKM termasuk gudang dan fasilitas

pengolahan paska panen di tiap sentra produksi tani/nelayan, 5) Mewujudkan

penguatan teknologi melalui kebijakan penciptaan sistem inovasi nasional.

Dalam agenda pemerintahan Jokowi JK dalam membangun kedaulatan pangan

berbasis agribisnis kerakyatan dapat di mulai dari :1) Penyusunan kebijakan

pengendalian atas import pangan, 2) Penanggulangan kemiskinan pertanian

dan

dukungan

regenerasi

petani,

3)

Implementasi

reforma

agrarian,

4)

Pembangunan agribisnis kerakyatan melalui pembangunan bank khusus untuk

pertanian, UMKM dan koperasi.

Menyoroti pada poin dalam membangun kedaulatan pangan berbasis

agribisnis kerakyatan melalui pembangunan bank khusus pertanian, UMKM dan

Koperasi, di sini penulis ingin mengupas tentang koperasi terutama koperasi

susu di Kota Malang.

Kedaulatan pangan tidak hanya melalui komoditi daging, telur, ayam tetapi

dapat juga melalui susu sapi perah. Wilayah Jawa Timur khususnya Kota

Malang merupakan daerah yang cukup dingin dengan suhu udara berkisar 19°

31° C dan kelembapan udara berkisar 63 98 %. Dengan kondisi yang dingin

memungkinkan daerah tersebut untuk beternak sapi perah. Untuk daerah

1

Malang perkembangan sapi perah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan

seperti yang tersaji pada table 1 di bawah ini.

Tabel 1. Populasi Ternak di Kota/Kabupaten Malang (ekor)

   

Tahun

Tahun

Tahun

Tahun

No

Jenis Ternak

   

2010

2011

2012

2013

1

Sapi Potong

2.786

4.430

4.433

4.241

2

Sapi Perah

166

264

267

269

3

Kerbau

198

151

153

150

4

Kambing

1.273

996

1.012

1.052

5

Domba

210

319

333

345

6

Babi

15

0

0

0

7

Kuda

40

58

58

58

8

Ayam Buras

166.085

53.568

53.828

54.076

9

Ayam Petelur

36.506

150.000

150.300

152.000

10

Ayam Pedaging

138.522

110.806

140.000

170.752

11

Itik

7.191

13.648

14.434

14.795

12 Entok 491 594 617 632 Sumber : Dinas Peternakan Jawa Timur
12
Entok
491
594
617
632
Sumber : Dinas Peternakan Jawa Timur

Daerah Malang meliputi wilayah kota dan kabupaten. Untuk di daerah

Kabupaten Malang banyak wilayah yang digunakan untuk beternak sapi perah,

diantaranya

Karangploso,

Pujon,

Kasembon,

Ngantang,

Dau,

Jabung,Tumpang, Poncokusumo, Wajak, dan Kepanjen. Begitu banyaknya

wilayah peternakan sapi perah ini diikuti dengan berdirinya koperasi susu di

sekitarnya. Ada beberapa nama koperasi susu yang ada di wilayah Malang,

antara lain KOP “SAE” Pujon, Koperasi Setia Kawan di Nongkojajar, KUD Batu,

2

KUD Dau, KUD Karangploso,dan lain sebagainya. Data koperasi susu di

Wilayah Malang dan Batu disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Nama Koperasi dan Alamat Koperasi Susu

No

Nama Koperasi

Alamat

1

Tani Luhur

Jl. Raya Kesambon Kec Kesambon

2

Sumber Makmur

Ds. Watu Rejo Kec. Ngantang

3

SAE

Jl. Brigjen Abd. Manan Wijaya Pujon

4

Karang Ploso

Ds. Ngijo Kec. Karangploso

5

Argoniaga

Ds. Kemantren Kec. Jabung

6

Dewi Sri

Jl. A. Yani 1 Kec. Lawang

7

Gondanglegi

Kec. Gondanglegi

8

Turen

Ds. Talok Kec. Turen

9

Satya Darma

Jl. Raya Wonogiri Wonokerto Bantur

10

Bina Mitra Sentosa

Ds. Pulusari Gunung Kawi

11

Nganjum

Jl. Raya Patusari, Plaosan Wonosari

12

Baru

Jl. Raya 15 Ds. Tajinan Kec. Tajinan

13

Kompas

Jl. Raya Ds. Sumberrejo Gedangan

14

Saribumi

Jl. Raya 10 Ds. Bakalan Bululawang

15

Katu

Jl. Raya Sitirejo Kec. Wagir

16

Sidodadi

Kec. Poncokusumo

17

Wajak

Kec. Wajak

18

Abadi

Abadi

19

Batu

Jl. Diponegoro 8 Batu

3

Begitu banyaknya koperasi susu di wilayah Malang dan Batu, harapannya

kehidupan peternak rakyat dapat meningkat melalui koperasi. Tetapi pada

kenyataannya

peternak

merasa

kebutuhannya

belum

terpenuhi.

Koperasi

sebagai salah satu wadah organisasi yang berhubungan langsung dengan

pengembangan usaha sapi perah yang terdapat di sentra-sentra usaha sapi

perah. Keterkaitan koperasi susu dengan usah sapi perah tidak hanya sebatas

factor historis kebijakan pemerintah dalam pengembangan usaha sapi perah,

akan tetapi koperasi tersebut juga merupakan lembaga yang bertindak sebagai

mediator antara peternak dan IPS (Daryanto, 2007).

Begitu eratnya hubungan koperasi dan usaha ternak sapi perah sehingga

pengembangan usaha sapi perah sangat tergantung kepada kemampuan

koperasi susu dalam melaksanakan fungsinya. Makalah ini memberikan ulasan

tentang

peningkatan

performa

koperasi

susu

dalam

rangka

mendorong

pengembangan usaha sapi perah rakyat guna mewujudkan kedaulatan pangan.

4

KONDISI RIIL

K O N D I S I R I I L EVALUASI DIRI MASALAH AKAR MASALAH

EVALUASI DIRI

MASALAH

AKAR MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

D I S I R I I L EVALUASI DIRI MASALAH AKAR MASALAH ALTERNATIF SOLUSI KONDISI
D I S I R I I L EVALUASI DIRI MASALAH AKAR MASALAH ALTERNATIF SOLUSI KONDISI

KONDISI YANG DIINGINKAN

D I S I R I I L EVALUASI DIRI MASALAH AKAR MASALAH ALTERNATIF SOLUSI KONDISI

PILIHAN SOLUSI

D I S I R I I L EVALUASI DIRI MASALAH AKAR MASALAH ALTERNATIF SOLUSI KONDISI

HASIL

D I S I R I I L EVALUASI DIRI MASALAH AKAR MASALAH ALTERNATIF SOLUSI KONDISI

1. Kurangnya efisiensi manajemen.

2. Harga konsentrat mahal.

3. Terbatasnya lahan hijauan.

4. Infrastruktur transportasi kurang memadai

1. Harga susu impor lebih murah dibanding susu local.

2. Penentu harga adalah IPS

murah dibanding susu local. 2. Penentu harga adalah IPS 1. Tidak bisa menentukan harga 4. Biaya

1. Tidak bisa menentukan harga

4. Biaya

produksi tinggi

1. Tidak bisa menentukan harga 4. Biaya produksi tinggi Koperasi Susu di Wilayah Malang 1. SDM
Koperasi Susu di Wilayah Malang
Koperasi Susu di Wilayah
Malang

1. SDM Koperasi masih belum professional

2. SDM masih memiliki hubungan kekerabatan

2. Kinerja

Pengurus

belum optimal

3. Kualitas Susu Masih Rendah

1. Pengetahuan peternak masih rendah ttg bibit, kesehatan, pakan ternak.

2. Penentu harga adalah IPS.

3. Recording jarang dilakukan

4. Terjadi Inbreeding

5. Langkanya sumber bibit ternak

2. Penentu harga adalah IPS. 3. Recording jarang dilakukan 4. Terjadi Inbreeding 5. Langkanya sumber bibit
2. Penentu harga adalah IPS. 3. Recording jarang dilakukan 4. Terjadi Inbreeding 5. Langkanya sumber bibit

MASALAH DAN AKAR MASALAH

1. Koperasi Susu Belum Bisa Menentukan Harga

Saat ini harga susu bukan ditentukan oleh koperasi melainkan oleh

Industri Pengolahan Susu (IPS). Ketergantungan ini dapat menyebabkan

perilaku monopsoni. Selama ini peternak/koperasi hanya sebagai price taker.

Standar

harga

pada

komoditas

susu

belum

diterapkan

seperti

pada

beras/padi.

Awalnya

terdapat

kebijakan

Bukti

Serap

(BUSEP)

yang

mewajibkan IPS menyerap susu dari koperasi. Hal ini berdampak terhadap

peningkatan share produksi susu dari koperasi terhadap produksi susu

nasional dari sekitar 17,5 % pada tahun 1979 menjadi 92,6 % pada tahun

1984. Dengan adanya kebijakan ini rasio penyerapan susu domestic dapat

meningkat (Baga, 2005). Tetapi dalam perkembangannya, tingkat harga

yang di terima peternak semakin turun. Apalagi dengan adanya Inpres No 4.

Tahun 1998 yang merupakan bagian dari Leter of Intent (LOI) yang di

tetapkan

oleh

International

Monetary

Fund

(IMF),

maka

ketentuan

pemerintah yang membatasi impor susu melalui BUSEP menjadi tidak

berlaku sehingga susu impor bebas masuk ke Indonesia.

Dengan diperbolehkannya impor susu maka banyak Negara-negara

yang

melakukan

ekspor

produk

olahan

susu

segar

ke

Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ada lima negara pemasok susu

terbesar ke Indonesia, yaitu Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru,

Belgia, dan Kanada. Bentuk impor susu ini berupa produk olahan susu

seperti susu bubuk, susu bubuk skim, anhydrous milk fat. Harga susu impor

di negara asalnya mencapai Rp. 4.500,- per liter sedangkan di Indonesia

harganya menjadi Rp. 5.600,- per liter. Saat ini harga jual susu segar dari

peternak antara Rp.

6.000,- - Rp. 7.000,- (Dispet Prov. Jatim, 2015).

Idealnya harga jual susu local sebesar 80% dari harga susu impor (Khairina,

2007). Harga susu impor lebih murah dibandingkan susu local apalagi

ditambah kualitas susu impor jauh lebih baik jika dibandingkan dengan susu

local. Hal ini yang menyebabkan IPS lebih memilih membeli susu impor.

2. Kurang Maksimalnya Kinerja Pengurus

Dengan

harapannya

adanya

koperasi

susu

di

Wilayah

Malang

dan

Batu,

usaha ternak sapi perah rakyat menjadi lebih maju. Koperasi

tidak dapat memajukan anggotanya apabila koperasi itu tidak maju. Jika

dibandingkan dengan koperasi susu di luar negeri,

peran

koperasi di

Indonesia masih belum menujukkan kemajuannya. Koperasi dituntut untuk

melaksanakan fungsi-fungsinya secara optimal berupa pemasaran hasil

produksi anggota, pelayanan kebutuhan pakan, obat-obatan, kesehatan

hewan, IB dan fasilitas penyaluran kredit yang ringan. Jika kesemua fungsi

koperasi dapat berjalan secara maksimal, maka peternak rakyat akan dapat

berkembang dengan baik. Kinerja koperasi tidak didukung dengan sumber

daya manusia yang professional. SDM yang ada di koperasi masih memiliki

hubungan

kekerabatan

pengelolaannya.

sehingga

kurangnya

transparansi

manajemen

Hasil penelitian dari Yusda dan Sayuti (2002) membuktikan bahwa

koperasi tidak menjalankan manajemen tanpa pengawasan anggota, justru

sebaliknya koperasi mempunyai kecenderungan lebih berkuasa mengatur

8

anggota.

Peternak

manajemen.

tidak

memiliki

hak

kontrol

sepenuhnya

terhadap

Sebagian koperasi juga sudah melakukan diversifikasi usaha tetapi

belum maksimal. Seperti pengolahan susu segar dijadikan susu pasteurisasi,

pembuatan pakan konsentrat walaupun kualitas nya masih rendah.

3. Kualitas Susu Masih Rendah

Sebagian besar peternak sapi perah merupakan usaha kecil dengan

skala kepemilikan sapi antara 2-4 ekor per peternak. Skala usaha ini dinilai

kurang

ekonomis

karena

keuntungan

yang

di

peroleh

hanya

dapat

memenuhi

kebutuhan

hidup

sehari-hari

dan

tidak

mungkin

untuk

pengembangan usaha sapi perahnya. Dengan rendahnya jumlah ternak

yang dimiliki oleh peternak hal ini juga berakibat rendahnya produksi susu

yang dihasilkan oleh peternak karena sapi laktasinya terbatas. Hal ini juga

mempengaruhi peternak dalam memberikan pakan yang tepat bagi sapinya.

Kualitas susu yang dihasilkan di Indonesia saat ini masih sangat jauh dari

standar milk CODECS yaitu standar kelayakan makanan dan minuman yang

dipakai oleh dunia. Dari hasil pengujian mutu susu secara fisik, kimia dan

biologi, hasil susu Indonesia terhitung lebih encer, kadar lemak yang tinggi

dan kandungan mikroorganisme yang jauh melebihi standart. Hasil pengujian

tersaji dalam Tabel 3. Harga yang di tentukan oleh IPS berdasarkan standar

kualitas mutu yang ketat seperti kandungan mikroba dan total solid yang

harus dipenuhi oleh koperasi.

9

Tabel 3. Perbandingan Standart Susu CODEC dan Rata-rata Produk Susu Indonesia

Parameter

Syarat Standart CODEC

Rata-rata di Indonesia

Berat Jenis

Min 1,028

1,025

Protein

2,7 %

3,5 %

Lemak

3 %

4,25 %

Bakteri Susu

1.000.000/ml

3.000.000/ml

Sumber : SNI 1998

Peternak rakyat memiliki pengetahuan yang sangat minim mengenai

kesehatan,

pakan

yang

berkualitas

dan

bibit

yang

baik.

Rendahnya

pengetahuan

peternak

tentang

penanganan

kesehatan

mengakibatkan

ternak sapi ada yang terserang penyakit seperti brucellosis yang berakibat

mengganggu kemampuan sapi untuk memproduksi susu. Untuk ternak yang

akan

dikawinkan,

peternak

melakukan

perkawinan

melalui

IB

tetapi

sayangnya semen yang diberikan terkadang berasal dari bibit yang sama

sehingga tidak jarang terjadi inbreeding. Hal ini juga dipengaruhi oleh kurang

telitinya recording dalam pencatatan semen beku pada balai pembibitan

nasional. Sehingga jika terjadi inbreeding, kualitas anak yang dihasilkan akan

menurun. Masalah lainnya adalah langkanya sumber bibit sapi perah yang

digunakan untuk replacement karena minimnya pihak yang mau berusaha

dalam bidang pembibitan/rearing.

4. Tingginya Biaya Produksi Susu

Seperti yang telah disampaikan diatas mengenai skala usaha peternak

yang masih kecil yaitu memiliki ternak 2-4 ekor maka sangatlah sulit

10

pendapatan

peternak

dapat

meningkat.

Kusnadi,

2004

dalam

hasil

kajiannya menyatakan bahwa peternak yang memiliki 2 ekor sapi perah

induk memiliki pendapatan rata-rata sebesar Rp. 796.580,- per bulan.

Lokakarya kebijakan pengembangan industry peternakan modern yang

dilaksanakan pada tahun 2001 oleh Forum Komunikasi Peternakan Bogor,

merekomendasikan bahwa peningkatan skala usaha yang ideal untuk

agribisnis sapi perah yaitu memiliki sapi minimum 7 ekor induk yang

berproduksi

susu

sepanjang

tahun.

Untuk

mempertahankan

jumlah

tersebut, maka jumlah sapi yang dipelihara minimum 10 ekor induk. Namun

rekomendasi

tersebut

belum

dapat

terealisasi

dikarenakan

belum

mendapatkan dukungan dari pemerintah (Forum Komunikasi Peternakan,

2001).

Pakan

sapi

perah

juga

menentukan

hasil

susu

yang

berkualitas.

Pemberian pakan yang baik untuk sapi perah maka akan mengahasilkan

susu yang baik pula. Pakan sapi perah berupa konsentrat dan hijauan.

Standart baku pemberian konstrat sapi perah adalah 67 % TDN (Total

Digestible Nutrient) yang terdiri dari 16 % PK, 6 % LK, 12 % kadar air, 11 %

SK, 10 % Abu, 0,9-1,2 % Ca, dan 0,6 0,8 % P (Bamualim, dkk., 2009).

Jika kadar pemberian konsentrat kurang dari 67 % TDN maka produksi

susu akan turun. Selain konsentrat, sapi perah juga membutuhkan hijauan

segar kurang lebih 10 % dari BB nya. Hijauan yang sering diberikan adalah

rumput gajah. Pengeluaran pakan untuk sapi perah menyedot biaya yang

cukup besar dibandingkan yang lainnya apalagi untuk pembelian konsentrat

yang setiap tahunnya meningkat. Selain

11

biaya konsentrat yang mahal,

hijauan pun saat ini sudah sulit di dapat. Hal ini dikarenakan terbatasnya

lahan hijauan untuk ditanami rumput-rumputan. Lahan bagi pengembangan

budidaya rumput semakin sempit akibat desakan atau tekanan penduduk

serta keterbatasan jenis hijauan yang berkualitas. Akibat dari keterbatasan

lahan hijauan, maka peternak harus membeli hijauan dari tempat yang jauh

dari

lokasi

peternakan.

peternak rakyat.

Ini

akan

menambah

biaya

pengeluaran

bagi

Selain pakan, infrastruktur transportasi yang kurang memadai juga

dapat menambah tingginya biaya produksi. Masih banyak jalan-jalan di

daerah pedesaan yang masih berbatu sehingga rawan dalam mengangkut

komoditi susu. Karena susu mudah rusak terkena goncangan.

ALTERNATIF SOLUSI YANG COBA DI TAWARKAN

1. Mencabut subsidi impor

2. Memperbaiki tata niaga dan harga susu

3. Perluasan lahan hijauan

4. Penyediaan peralatan prosesing dengan teknologi tepat guna

5. Pemberdayaan system contract farming

6. Pengembangan usaha koperasi ke arah industry down stream

7. Memproduksi pakan berkualitas dengan harga terjangkau

8. Adanya kegiatan pembibitan (rearing) sapi perah

9. Meningkatkan fungsi-fungsi koperasi secara optimal

10. Menggalakkan budaya minum susu segar local

12

PILIHAN SOLUSI UNTUK JANGKA PENDEK

1. Memperbaiki kinerja koperasi

Sudah saatnya koperasi bangkit untuk memperbaiki kinerja koperasi

yang menurun. Hal ini bisa dimulai dengan reorganisasi mengenai

penggunaan

factor

produksi

memaksimumkan

keuntungan

dimana.

anggota

Koperasi

harus

bisa

bukan

memaksimumkan

keuntungan koperasi. Koperasi membutuhkan SDM yang professional

dan handal, memiliki naluri berusaha yang tinggi serta yang terpenting

memiliki komitmen untuk mengutamakan kepentingan koperasi diatas

kepentingan pribadi.

2. Mengembangkan pengolahan susu segar menjadi UHT atau pasteurisasi

(diversifikasi usaha)

Selain sebagai tempat penampungan susu segar dari peternak, koperasi

dapat mengolah susu segar tersebut untuk di jadikan susu pateurisasi

atau UHT. Di wilayah malang dan Batu sudah ada koperasi yang

melakukan hal tersebut diantaranya KUD DAU, KOP SAE. Untuk IPS

yang mengolah susu pasteurisasi di kota malang adalah PT.Greenfields

Indonesia. Pemerintah bisa memberikan bantuan alat-alat pengolahan

susu pada koperasi yang dinilai sudah siap baik SDM, infrastruktur

penunjangnya.

3. Mengajak perusahaan swasta untuk bermitra dengan peternak

Peternak masih membutuhkan pendampingan dalam mengembangkan

ternak sapi perahnya mulai dari sisi kesehatan, pakan, bibit, manajemen

pemeliharaan, bahkan keuangan. Oleh karena itu pemerintah harus bisa

13

menjembatani kebutuhan peternak melalui kerjasama-kerjasama dengan

pihak swasta yang dapat membantu pengembangan agribisnis ternak

sapi perah.

4. Menggalakkan budaya minum susu segar lewat sekolah-sekolah

Pemerintah dapat mengajak IPS bekerjasama dalam membudayakan

minum susu segar atau setidaknya susu murni hasil pasteurisasi atau

UHT. Hal ini dapat di mulai dari siswa TK atau SD sehingga mereka

mulai terbiasa minum susu segar dan mencintai produk local.

HASIL YANG DIINGINKAN

1. Koperasi susu melakukan reorganisasi terutama pembenahan system

pendanaan, pengurus, arah penggunaan investasi dan modal yang jelas.

2. Koperasi mampu meningatkan posisi tawar agar dapat menentukan

setiap kebijakan IPS dan memperkuat jaringan IPS.

3. Adaptasi

kelembagaan

contract

farming

dengan

memperhatikan

kepentingan bersama antara peternak, koperasi susu dan IPS.

4. Mengembangkan

usahanya

kearah

industry

down

stream

sehingga

menampung keseluruhan produksi susu perah.

Dengan

adanya

perbaikan

performa

koperasi susu,

hal

ini

dapat

menunjang nawacita ke 7 dimana pemerintahan Jokowi-JK menginginkan

adanya kedaulatan pangan melalui protein yang dapat di peroleh dari susu.

DAFTAR PUSTAKA

Baga,

Lukman.

2005.

Penguatan

Kelembagaan

Koperasi

Petani

untuk

Revitalisasi

Pertanian.

Makalah

disampaikan

pada

acara

Seminar

14

Revitalisasi Pertanian Untuk Kesejahteraan Bangsa. Diselenggarakan oleh Masyarakat ILmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI). Jakarta, 19 Juni 2005.

Bamualim, AbdullahM, Kusmartono, dan Kuswandi. 2009. Aspek Nutrisi Sapi Perah. Dalam Buku Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. Bogor.

Daryanto, Arief. 2007. Persusuan Indonesia : Kondisi, permasalahan dan arah kebijakan. http://ariefdaryanto.wordpress.com/2007/09/23/persusuan- indonesia-kondisi-permasalah.

Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. 2015. Statistik Peternakan Jawa Timur Tahun 2015. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Surabaya.

Forum Komunikasi Peternakan. 2001. Kebijakan Pengembangan Peternakan Moderen Kaitannya dengan Otonomi Daerah Dalam Swasembada Daging dan Susu. Proyek Penelitian BIoteknologi Untuk Menunjang Industri Biosintesis. Cibinong.

Khairina. 2007. Susu Sapi Juga Butuh Perhatian.http://64.203.71.11/kompas- cetak/0707/21/focus/301562.htm.21 juli 2007

Yusdja, Y dan Sayuti, R. 2002. Skala Usaha Koperasi Susu dan Implikasinya Bagi Pengembangan Usaha Sapi Rakyat. Jurnal Agro Ekonomi Vol.20 No. 1 Mei 2002:48-63

15