Anda di halaman 1dari 8

TRIBUNJATENG.

COM, SEMARANG- Ditunjuknya Eddy Raharto sebagai Ketua DPD


Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah periode 2012-2017 tentu
bukan tanpa sebab. 15 tahun malang melintang dan merasakan asam garam dunia
pelabuhan, menjadi satu alasan.
Problematik tentang ekspor, pelayaran, kemaritiman pun seakan sudah akrab
dengannya. Menurut Eddy, bukan perkara mudah mencapai kesuksesan seperti saat
ini. Apa yang didapat merupakan buah kesabaran, keberanian, dan kepercayaan. Juga,
kepandaian menangkap setiap peluang agar relasi terus meluas.
Kepada wartawan Tribun Jateng Deni Setiawan, Arief Novianto, dan M Syofri
Kurniawan, Eddy Raharto yang saat ini menjabat Wakil Ketua Kadin Kota Semarang
dan anggota Dewan Pendidikan Jawa Tengah menuturkan perjalanan karier dan
pandangan tentang dunia kemaritiman serta aktivitas lain yang digeluti.
Apakah berkecimpung di dunia pelayaran memang impian Anda?
Apa yang saya jalankan sejak 1991 mengalir begitu saja. Memang, cita-cita ketika kecil
menjadi seorang pelaut. Lulus kuliah (Sastra Inggris Universitas Diponegoro (Undip)
Semarang --Red) saya melamar pekerjaan di PT Samudera Indonesia.
Saya diterima meski background ilmu tidak terkait dunia kemaritiman. Di sanalah,
saya menimba ilmu dan berbagi dengan rekan sebaya maupun senior. Belajar tentang
hukum, budaya, maritim pelayaran, hingga bisnis. Modal kehidupan sehari-hari pun
saya gunakan untuk melobi atau merayu perusahaan-perusahaan. Karir awal saya
dimulai dari sales.
Berbekal ilmu dagang yang saya dapat saat membantu orangtua semasa kecil,
serta berorganisasi di kampus, saya memperkenalkan produk, memasarkan dan
meyakinkan perusahaan agar mau menggunakan jasa kami. Ini menjadi jalan rintisan
bagi saya lebih berkembang. Saya memang punya keinginan, ada di mana-mana meski
saya bukan siapa-siapa. Karena itu, entah itu bidang pelayaran maupun bidang lain,
selalu saya buru ketika ada peluang di depan mata.
Bagaimana Pandangan Anda tentang persaingan bisnis kemaritiman?
Banyak liku yang harus dihadapi agar perusahaan yang diikuti atau didirikan bisa
bertahan, bahkan berkembang. Apalagi, persaingan dengan perusahaan asing.
Bagaimana barang-barang yang diangkut menggunakan kapal dari Jawa Tengah bisa
berlabuh di negara lain. Saat ini, masih berkebalikan. Lebih dominan mereka yang
masuk (membawa barang impor).
Itu sebenarnya yang menjadi tantangan. Jangan selamanya Indonesia
bergantung pada negara lain. Apalagi, jika dilihat dari potensi, sangat besar dan diyakini
mampu bersaing. Nah, tinggal bagaimana pemerintah menyikapi karena banyak hal
yang bisa ditangkap di dunia pelayaran. (bersambung).
Ini Rahasia Sukses Marsudi Majukan Usaha JNE Express
Regional Jateng dan DIY
Senin, 24 Oktober 2016 10:54

TRIBUNJATENG.COM - Menggeliatnya perdagangan elektronik atau e-commerce turut


meningkatkan persaingan di bisnis jasa pengiriman logistik. Bagaimana Head Regional
Jateng & DIY PT TIKI Jalur Nugraha Ekakurir (JNE Express), Marsudi, memandang hal
itu? Berikut penuturannya kepada wartawan Tribun Jateng, Hermawan Endra
Wijonarko, baru-baru ini.
Bagaimana Anda mencapai posisi sekarang?
Di tahun 1996, JNE melakukan perluasan jaringan di beberapa wilayah, satu di
antaranya Yogyakarta. Saat itu, saya merintis bisnis ekspedisi JNE di Yogyakarta
bersama empat karyawan. Kemudian, di tahun 2000, perusahaan memberi
kepercayaan saya menjadi branch manager JNE Yogyakarta. Hingga akhirnya, saya
diberi amanah oleh perusahaan, untuk menduduki posisi Head Jawa Tengah & DIY
pada 2014.
Terobosan apa saja yang Anda lakukan?
Bekerjasama dengan UKM dan UMKM, khususnya makanan, untuk bergabung menjadi
vendor PESONA (Pesanan Oleh-Oleh Nusantara). Kemudian, berpartisipasi dalam
kegiatan workshop, gathering dan seminar bagi UKM atau home industry bersama
akademisi, pemerintahan maupun komunitas sebagai narasumber di bidang ekspedisi
dan perkembangan e commerce. Serta, memperluas jaringan di wilayah Jateng & DIY
agar masyarakat mudah mendapat pelayanan JNE, baik di kota maupun di desa.
Sehingga, bisa membuka lapangan pekerjaan baru pula lewat kemitraan atau gerai
agen.

Bagaimana mengatur bawahan?


Menanamkan nilai spiritual sebagai landasan utama dalam bekerja, selanjutnya
kejujuran, disiplin dan tanggungjawab serta visioner. Lewat landasan utama spiritual
diharapkan seseorang berpikir, kerja adalah bagian dari ibadah sehingga dia akan
bekerja ikhlas dan memberi layanan prima kepada konsumen.
==========================================
BIODATA
Nama: Marsudi
Lahir: Gunung Kidul, 10 Februari 1971
Pendidikan: S1 Manajemen Informatika STMIK AKAKOM
Jabatan: Head Regional Jateng & DIY PT TIKI Jalur Nugraha Ekakurir (JNE Express)
sejak Januari 2014
Kantor: Jl Sorogenen No 196 Nitikan, Yogyakarta
Istri: Nurhasanah Elystiani
Anak:
1. Diyena Salma Haya
2. Novilia Lady Ramayati
3. Syifa Aulia Isnani
==========================================
Apa saja tantangan yang dihadapi bisnis jasa pengiriman logistik ini?
Adanya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), kompetisi semakin ketat. Namun, JNE
berharap, bisa bersinergi dengan kompetitor sehingga dapat lebih termotivasi memberi
yang terbaik bagi customer. Kerjasama yang saling menguntungkan akan menciptakan
iklim usaha yang harmonis sehingga dapat bersama-sama menghadapi tantangan dan
mendukung perekonomian nasional serta meningkatkan daya saing perusahaan dalam
negeri di era perdagangan bebas.
Bagaimana prospek bisnis ini?
Indonesia terdiri dari 17.000 lebih pulau. Ini merupakan potensi besar dalam industri
logistik. Ditambah gencarnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah
hingga pelosok, tentu arus rantai pasok bisa semakin lancar.
Dari segi pertumbuhan e-commerce, bisnis jasa pengiriman logistik pun punya peluang
besar. Diperkirakan, pada 2025, pasar e-commerce Indonesia tumbuh menjadi 46 miliar
dollar AS (Rp 598 triliun) atau setara 52% dari total pasar e-commerce di Asia
Tenggara yang sebesar 87,8 miliar dollar AS.
Masa sulit yang mungkin dihadapi?
Sejauh ini, target-target yang ditetapkan perusahaan tercapai baik. Kami juga
melakukan evaluasi untuk menjaga kualitas dan tetap eksis. Krisis dalam perusahaan
pasti ada namun tidak signifikan dan dapat diatasi sehingga tidak sampai berdampak
pada stakeholder.
Strategi apa yang Anda terapkan untuk menghadapi kompetitor?
Memberikan pelayanan yang terbaik untuk pelanggan, bahkan melebihi yang mereka
harapkan, tentu menjadi hal utama. Selain itu, kami juga membuka peluang kerjasama
kepada masyarakat untuk menjadi mitra.
Target Anda?
Penambahan warehouse di wilayah Semarang Jawa Tengah dan penambahan jaringan
di seluruh wilayah Jateng & DIY secara merata.

http://jateng.tribunnews.com/2016/10/24/ini-rahasia-sukses-marsudi-majukan-usaha-
jne-express-regional-jateng-dan-diy
Kisah Sukses Nadiem Makarim Sosok Pendiri Go-Jek
kisah sukses nadiem makarim sosok pendiri gojek
Pada Agustus 2016, Go-Jek telah mencatatkan sejarah dengan menjadi penyandang
status unicorn pertama yang resmi di Indonesia setelah mendapatkan pendanaan raksasa sebesar
US$ 550 juta. Pencapaian tersebut tidak hanya menandai babak baru Go-Jek tetapi juga menjadi
bagian penting dalam kisah sukses Nadiem Makarim yang menjadi pendiri Go-Jek.
Dengan pendanaan tersebut Go-Jek ditaksir mempunyai nilai perusahaan sebesar US$ 1,2 miliar
atau sekitar Rp 15,6 trilliun. Dimana status unicorn diberikan untuk startup dengan nilai
perusahaan lebih dari US$ 1 milyar atau sekitar Rp. 13 trilliun.
Sebuah pencapaian yang luar biasa jika mengingat valuasi tersebut diperoleh hanya dalam jangka
waktu kurang dari 2 tahun sejak peluncuran aplikasi Go-Jek. Lebih luar biasa lagi jika mengingat
nilai pasar PT Garuda Indonesia Tbk pada saat tulisan ini dibuat hanya sekitar Rp 8,8 trilliun.
Dibalik pencapaian Go-Jek tersebut terdapat sosok Nadiem Makarim sang pendiri yang tidak
dapat dipisahkan dari perjalanan Go-Jek menjadi unicorn pertama Indonesia. Oleh karena itu,
untuk mendapatkan inspirasi dan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai Go-Jek akan
lebih baik jika mengetahui bagaimana kisah sukses Nadiem Makarim dalam mendirikan Go-Jek
secara lebih rinci.

Awal Mula Kisah Sukses Nadiem Makarim


Nadiem Makarim lahir pada tanggal 4 Juli 1984 di Singapura dari pasangan Nono Anwar
Makarim dan Atika Algadrie. Ayah Nadiem adalah seorang pengacara yang cukup terpandang
dan mempunyai reputasi.
Nadiem Makarim sempat bersekolah di Jakarta tetapi pada saat SMA Nadiem sekolah di
Singapura. Lulus dari SMA, Nadiem kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan international
relation di Brown University Amerika Serikat.
Setelah lulus dari Brown University, Nadiem bergabung dengan McKinsey & Co perusahaan
riset dan konsultasi global yang terkemuka. Nadiem bekerja di McKinsey & Co selama sekitar
tiga tahun. Selain itu, Nadiem juga melakukan beberapa pekerjaan untuk BUMN, salah
satunya inisiatif yang disebut Young Leaders for Indonesia. Inisiatif tersebut adalah program
untuk mempersiapkan mahasiswa tahun ketiga di Indonesia untuk memasuki dunia kerja.
Nadiem menyebutkan bahwa keterlibatannya dalam inisiatif tersebut sebagai salah satu alasan
utama ia bisa masuk ke program Master of Business Administration (MBA) Harvard Business
School yang bergensi itu pada tahun 2009.

Kelahiran Go-Jek
Sebelum berangkat ke Amerika Serikat untuk kuliah di Harvard, Nadiem mempunyai sebuah
gagasan yang tidak bisa ia abaikan. Nadiem dalam kesehariannya terbiasa menggunakan ojek
untuk menembus kemacetan di Jakarta. Lantaran sering menggunakan jasa ojek, Nadiem
akhirnya menjadi sering ngobrol dengan tukang ojek langganannya. Dari hasil obrolan dan
pengamatannya, Nadiem mendapatkan kesimpulan bahwa sebagian besar waktu tukang ojek
banyak dihabiskan untuk mangkal dan menunggu penumpang.
Berawal dari masalah tukang ojek yang waktunya kebanyakan dihabiskan untuk mangkal dan
menunggu penumpang serta kebutuhan masyarakat untuk transportasi yang bisa menembus
kemacetan itulah Nadiem mendapat ide untuk membuat call center ojek. Idenya adalah call
center ojek tersebut dapat digunakan oleh calon penumpang untuk meminta ojek menjemut
mereka dan mengantar kemana yang mereka mau.
Setelah itu Nadiem harus meninggalkan Jakarta untuk kuliah Master of Business Administration
di Harvard Business School. Selama meninggalkan Indonesia, Nadiem menyerahkan operasional
Go-Jek di bawah kepemimpinan paruh waktu co-founder Jurist Tan dan Brian Cu.
Selama bersekolah di Harvard Business School, Nadiem berteman dengan saingannya di masa
depan, Anthony Tan sang pendiri Grab. Nadiem dan Anthony sering berkonsultasi satu dengan
lainnya sebelum akhirnya menjadi saingan dalam bisnis.
Bergabung Dengan Rocket Internet
By Rocket Internet [Public domain], via Wikimedia CommonsTidak lama setelah lulus dari
Harvard Business School pada tahun 2011, Nadiem bergabung dengan Rocket Internet,
perusahaan Jerman yang mempunyai spesialisasi mendirikan dan mengembangkan startup digital
di seluruh dunia. Oliver Sawyer CEO dari Rocket Internet mengajak Nadiem untuk membantu
merintis Zalora Indonesia.
Di Zalora Indonesia, Nadiem sebagai Managing Director diberikan pendanaan yang besar dari
Rocket Internet untuk mengembangkan Zalora. Disinilah Nadiem belajar berbagai aspek penting
dalam mengembangkan perusahaan startup.
Nadiem hanya bertahan setahun di Zalora Indonesia, hal ini karena kondisi kerja di Rocket
Internet yang kurang kondusif dimana seperti kebanyakan pegawai Rocket Internet Nadiem
memutuskan keluar dari Rocket Internet dan mencoba hal yang lain.

Kembali Ke Go-Jek
Saat Nadiem Makarim masih kuliah di Harvard Business School tahun 2010, Uber yang
merupakan pioneer startup on-demand dan ride sharing diluncurkan di San
Fransisco. Kesuksesan Uber menjadi pemicu gelombang kemunculan berbagai startup on
demand dan ride sharing lainnya.
Trend tersebut juga diperkuat dengan minat investor untuk menanamkan modal di bisnis yang
mirip dengan Uber. Pada tahun 2014, Nadiem Makarim mulai mencari investor untuk
mengembangkan Go-Jek ketingkat yang lebih tinggi dan akhirnya berhasil menarik NSI Venture
untuk berinvestasi di Go-Jek.
Dengan modal tambahan tersebut, Nadiem melakukan perubahan di internal Go-Jek, mulai
mengembangkan aplikasi untuk smartphone dan menambah jumlah driver. Aplikasi Go-Jek
sendiri selesai pada akhir tahun 2014 dan diluncurkan pada awal 2015.
Peluncuran aplikasi tersebut menandai awal dari pertumbuhan luar biasa Go-Jek. Pada Juli 2015,
aplikasi Go-Jek telah didownload lebih dari 700.000 kali. Dalam bulan Agustus 2015 jumlah
download melesat menjadi 3,7 juta dan pada akhir tahun total jumlah download Go-Jek telah
menembus angka 10 juta.
Dengan aplikasi Go-Jek tersebut, Nadiem merubah reputasi ojek yang sebelumnya tidak aman,
penentuan harga yang tidak jelas, tidak dapat diandalkan dan driver yang tidak professional
menjadi jauh lebih baik dengan penentuan harga yang transparan, jauh lebih mudah didapatkan,
praktis dan lebih professional. Perubahan reputasi ojek dengan menggunakan sistem online
tersebut membuka peluang pasar baru dimana jika sebelumnya hanya kalangan tertentu saja yang
nyaman untuk menggunakan jasa ojek sekarang hampir semua kalangan lebih nyaman untuk
menggunakan jasa ojek.
Perubahan reputasi tersebut menjadi salah satu bagian dari kisah sukses Nadiem Makarim tidak
hanya dalam ranah Go-Jek tetapi juga dalam lingkup kehidupan bermasyarakat karena Nadiem
telah berhasil meningkatkan mobilitas masyarakat dengan biaya yang murah sekaligus juga
membuka peluang baru bagi masyarakat.
Saat ini aplikasi Go-Jek yang tidak hanya menawarkan solusi untuk mobilitas masyarakat berupa
transportasi angkutan orang tetapi juga untuk makanan, pengangkutan barang, hiburan, cleaning
service sampai cara pembayaran.
Dengan peningkatan pesat dan beragamnya penawaran Go-Jek tersebut, Go-Jek telah
berkembang dari 20 driver menjadi lebih dari 200.000 driver yang tersebar di 10 kota besar di
Indonesia dan melayani lebih dari 20 juta pesanan pada Juni 2016.

Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari Kisah Sukses Nadiem Makarim


Untuk menutup artikel Kisah Sukses Nadiem Makarim Pendiri Go-Jek ini kami menilai bahwa
bagi seorang entrepreneur terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil sebagai berikut:
1. Temukan Permasalahan Yang Besar dan Pikirkan Solusinya
Kisah sukses Nadiem Makarim dalam meraih pencapaian tersebut dalam waktu yang relatif
singkat didorong oleh besarnya masalah terkait dengan kemacetan Jakarta dan rendahnya
mobilitas di kota besar Indonesia dibandingkan dengan negara lain.
Selain itu dapat Nadiem juga menawarkan solusi bagi masalah sulit yang lain yaitu bagaimana
caranya agar tukang ojek yang sebenarnya sangat membantu mobilitas di Jakarta tidak
menghabiskan kebanyakan waktu untuk menunggu penumpang.
Kedua masalah yang sulit untuk diselesaikan tersebut menjadi celah dimana Nadiem berhasil
menjadi pemberi solusi yang pertama bergerak menawarkan solusi tersebut ke pasar.

2. Berawal Dari Hal Yang Kecil


Nadiem Makarim tidak memulai Go-Jek dengan dana yang besar dan teknologi yang cangih. Dia
memulai dengan membuat call center ojek yang hanya mempunyai 20 orang karyawan dan
driver. Pemprosesan order pun dilakukan secara manual dengan menelpon pemesan dan ojek.
Walaupun dimulai secara kecil, Go-Jek yang dirintis secara sederhana oleh Nadiem pada tahun
2010 tersebut dapat bertahan dan menjadi pondasi untuk kemudian dapat menarik perhatian
investor menanamkan modalnya.
3. Berani Mengambil Risiko dan Bergerak Cepat
Salah satu kunci keberhasilan Go-Jek adalah bergerak cepat sebelum kompetitor masuk kedalam
pasar yang dibuka oleh Go-Jek. Hal ini dilakukan dengan mengambil risiko besar dimana Go-Jek
memberikan subsidi dalam jumlah yang besar dan terus memberikan inovasi-inovasi baru seperti
perkenalan Go-Food, Go-Clean, Go-Send dan lainnya.
Selain itu dari sisi pribadi Nadiem Makarim, kesuksesan Go-Jek tidak terlepas dari keberanian
Nadiem Makarim menjadikan Go-Jek sebagai pekerjaan full timenya walaupun dirinya
mengetahui 1 dari 10 startup berakhir dengan kegagalan.
Sebagai penutup, selain ketiga pembelajaran tersebut, menurut anda apa kunci kisah sukses
Nadiem Makarim dalam mendirikan Go-Jek? Apakah anda terinspirasi dengan kisah sukses
Nadiem Makarim? Jangan sungkan untuk memberikan komentar anda di bagian dibawah ini.
KISAH SUKSES PENDIRI JNE

Bisnis ekspedisi di tahun 1990-an sempat menjadi primadona. Kala itu ekspedisi menjadi
andalan banyak konsumen untuk mengirim barang dalam jumlah kecil sampai besar selain kantor
pos. Tentu saja bisnis ekspedisi lokal juga harus bersaing dengan perusahaan asing seperti DHL,
Fedex, TNT dan banyak lagi lainnya.

Di tengah persaingan tersebut ada satu perusahaan ekspedisi yang cukup sukses hingga kini.
Perusahaan itu adalah PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Keberhasilan Tiki ini tidak lepas
dari sentuhan Chief Executive Officer JNE HM Johari Zein.

Johari sangat bersyukur bisnis ekspedisi yang dikembangkannya bisa diterima di negeri sendiri.
Bahkan tanpa terasa ia sudah menahkodainya lebih dari 20 tahun. Kuncinya adalah optimisme
dan kesabaran, ungkap Johari memaknai perjalanan hidupnya.

Awalnya sebelum merintis bisnis ekspedisi tersebut, Johari bekerja di sebuah perusahaan
ekspedisi TNT asal Australia tahun 1985. Setahun berikutnya pria asal Medan ini keluar dan
memutuskan untuk mendirikan perusahaan sejenis bernama, WorldPak.

Ia pun mengajak teman-temannya dari eks TNT untuk ikut membantu membesarkan bisnis
tersebut. Namun baru setahun berselang, cashflow perusahaan mulai terganggu, padahal
operasional dan order jasa lainnya terus mengalir ke WorldPak. Ini ujian pertama bagi saya,
ujarnya. Ia sadar dalam mengelola sebuah perusahaan, kemahiran marketing dan operasional
tidaklah cukup, Saya butuh orang yang mampu mengelola financial, ungkapnya.

Bahkan untuk menutupi kesulitan putaran cashflow, ia sempat meminjam uang pada orangtua,
Ya malu juga sih, tapi saya harus menyelamatkan perusahaan, ujar Johari yang saat itu baru
berusia 32 tahun mengenang. Inilah pelajaran berharga bagi dirinya untuk menjadi seorang
entrepreneur, yakni kesabaran.

Beruntung ujian itu akhirnya hanya sebentar sebab sebuah perusahaan kurir Pronto pimpinan
Darren Liu datang mengunjunginya. Awalnya Darren ingin mendirikan agen di Indonesia,
namun melihat potensi WorldPak, pengusaha asal Singapura itu justru berniat membeli
WorldPak. Untuk berkembang, WorldPak membutuhkan dana segar. Ya akhirnya saya menjual
kepemilikan WorldPak sebanyak 60% dan saya hanya 40%, ujar Johari.

Meski mendapat keuntungan berlipat dari modal yang ia keluarkan, bahkan masih memiliki
40%, ia mengaku sangat berat hati karena harapannya untuk mendirikan sebuah perusahaan
nasional dibidang yang ia kuasai harus kandas seketika, Sungguh sangat berat hati. Ada sebuah
keinginan yang sudah terwujud namun kembali kandas, ujarnya mengenang.

Pada tahun 1989, sebuah kebijakan yang dikeluarkan Kantor Pusat Pronto di Singapura,
memaksa Johari menjual seluruh saham yang dimilikinya. WorldPak pun benar-benar terlepas.
Dan kesabaran kembali menjadi sikap yang harus ia ambil.

Ia pun kembali menganggur. Namun tidak hilang akal, Johari lantas mencari obyekan di bandara
dengan membantu customer dalam pengurusan kepabeanan agar barang dapat dikeluarkan pihak
bandara, Alhamdulilah teman-teman di Singapura tetap mempercayakan kepabeanan barang-
barang mereka pada saya, termasuk dari TIKI, ungkapnya bersyukur dapat tetap survive dan
optimis.
Performance Johari yang dapat dipercaya, nyatanya bukan saja diperhatikan kalangan pengusaha
asal Singapura, namun juga beberapa pejabat PT Titipan Kilat (TIKI) yang kemudian
mengundang dirinya untuk datang mempresentasikan konsepnya dihadapan sejumlah Direksi
TIKI. Terlintas dibenaknya, kalau saya diterima TIKI, kata Jouhari, saya akan membuat
perusahaan ekspedisi berstandar internasional, Dengan kualitas yang memuaskan, ungkapnya
optimis.

Namun terkejutlah dia, bukannya bergabung di TIKI, justru sang pemilik Soeprapto Suparno,
mempercayakan dirinya untuk mendirikan sebuah perusahaan yang kini dikenal sebagai PT Tiki
Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), dengan target; menangkap potensi pasar dari dampak globalisasi
yang tengah terjadi.

Saya sungguh bersyukur. Harapan untuk membangun perusahaan nasional dibidang ekspedisi
dan logistik yang mencangkup jaringan dunia internasional, akhirnya benar-benar didepan mata,
ujar Johari senang. Sejak itu, optimisme menjadi bekal dirinya dalam menahkodai JNE hingga
berkembang dan menjadi salah satu pemain Indonesia yang diperhitungkan di bisnis ekspedisi
dan logistik mancanegara. (asm)

Sumber:Goodhoki."Kisah Johari zein membangun TIKI


JNE."https://www.kaskus.co.id/thread/50e40abce374b48c57000007/kisah-johari-zein-
membangun-tiki-jne/ (Diakses 27 maret 2017)