Anda di halaman 1dari 9

KEMAS 10 (2) (2015) 169-177

Jurnal Kesehatan Masyarakat


http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas

INISIASI SEKS PRANIKAH REMAJA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Linda Suwarni, Selviana

Universitas Muhammadiyah Pontianak

Info Artikel Abstrak


Sejarah Artikel: Perilaku seks pranikah remaja di Kota Pontianak tahun 2009 menunjukkan 56,9%
Diterima 11 November 2014 pernah kissing, 30,7 necking, 13,8% petting, 7,2% oral seks, 5,5% anal seks, dan 14,7%
Disetujui 28 November 2014 pernah intercourse. Angka intercourse ini lebih tinggi dari angka yang dirilis Kemenkes
Dipublikasikan Januari 2015
2009 (6.9% di Jakarta, Medan, Bandung, dan Surabaya). Tujuan penelitian ini adalah
Keywords: untuk mengetahui inisiasi seks pranikah remaja dan faktor prediktornya pada remaja di
Premarital sexual; Kota Pontianak tahun 2014. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional de
Initiation; ngan menggunakan teknik simple random sampling dalam pengambilan sampel. Jumlah
Adolescence sampel dalam penelitian ini adalah 300 remaja SMP dan SMA yang ada di 6 kecamatan
Kota Pontianak. Hasil penelitian ini menunjukkan inisiasi seks remaja diawali dengan
pegangan tangan (82,7%), berpelukan (60,7%), cium pipi (66%), meraba daerah sensi-
tive (19,3%), seks oral (7%), seks anal (4%), dan intercourse (14,7%). Faktor prediktor
inisiasi seks pranikah diantaranya: usia pasangan (p value =0,0001; PR=2,461), moni-
toring orangtua (p value =0,001; PR=1,537), perilaku teman sebaya (p value =0,0001;
PR=2,993), sikap seksual (p value =0,0001; PR=1,868), norma subjektif (p value =0,0001;
PR=1,309), niat berperilaku (p value =0,0001; PR=3,150), dan paparan media pornografi
(p value =0,0001; PR=2,803).

PREMARITAL SEXUAL INITIATION AND ASSOCIATED FACTORS


AMONG ADOLESCENCE

Abstract
Adolescent premarital sexual behavior in Pontianak (2009) showed that 56.9% had been
kissing, 30.7 necking, 13.8% petting, 7.2% oral sex, 5.5% anal sex, and 14.7% intercourse.
The number of intercourse was higher than free sex adolescent number by the Ministry
of Health in 2009 (6.9% in the Jakarta, Medan, Bandung, and Surabaya). The purpose
of this study was to investigate and analyze adolescence premarital sexual initiation and
associated factors in 2014. A cross-sectional study with simple random sampling data
collection was used. The study involved 300 adolescents participated from junior and senior
high school at six subdistrict in Pontianak. This study showed initiation of premarital
sexual starting from 82.7% hand touching, 60.7% hugging, 66% kissing, 19.3% touching
sensitive areas, 7% oral sex, 4% anal sex, and 14.7% intercourse. The associated factors with
premarital sex initiation were older age pair (p value = 0.0001; PR = 2.461), low parental
monitoring (p value = 0.001; PR = 1.537), risky peers behavior (p value = 0.0001; PR =
2.993), permissive sexual attitude (p value = 0.0001; PR = 1.868), permissive subjective
norm (p value = 0.0001; PR = 1.309), risky intention to behave (p value = 0.0001; PR =
3,150), and pornography media exposure (p value = 0.0001; PR = 2.803).

2015 Universitas Negeri Semarang

Alamat korespondensi: ISSN 1858-1196


Jalan A. Yani No.111 Pontianak, Universitas Muhammadiyah Pontianak
E-mail: lienharis@yahoo.co.id
Linda Suwarni & Selviana / Inisiasi Seks Pranikah Remaja Di Kota Pontianak Dan Faktor Yang Mempengaruhinya Tahun 2014

Pendahuluan 10 tahun. Usia 13 dan 14 tahun dilaporkan


hampir 4% telah melakukan hubungan seksual
Dewasa ini kesehatan reproduksi dan presentasenya relatif meningkat seiiring
mendapat perhatian khusus secara global sejak pertambahan usia. Ketika mereka berusia 17
diangkatnya isu tersebut dalam Konferensi tahun, kira-kira sepertiga populasi orang muda
Internasional tentang Kependudukan dan sudah akan melakukan hubungan seksual
Pembangunan (International Conference on minimal satu kali.
Population and Development, ICPD), di Kairo, Inisiasi seksual dini merupakan isu
Mesir, pada tahun 1994. Hal penting dalam kesehatan dan sosial yang penting. Studi yang
konferensi tersebut adalah disepakatinya sudah dilakukan menunjukkan bahwa sebagian
perubahan paradigma dalam pengelolaan besar remaja yang sudah berpengalaman
masalah kependudukan dan pembangunan seksual (intercourse) menyatakan ada
dari pendekatan pengendalian populasi dan keinginan untuk menunda lebih lama dalam
penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang melakukan hubungan seksual. Dampaknya,
terfokus pada kesehatan reproduksi serta upaya remaja yang melakukan hubungan seksual dini
pemenuhan hak-hak reproduksi. lebih banyak yang mengalami kehamilan yang
Menurut data United Nations Population tidak diinginkan dan infeksi menular seksual
Division tahun 2007, sebanyak 592.975.000 (IMS). Selain itu juga, semakin dini remaja
penduduk remaja usia 10-19 tahun di dunia mulai berhubungan seksual dikaitkan dengan
diperkirakan 47% telah menjadi seksual aktif rendahnya penggunaan kontrasepsi maupun
(Center for Disease Control and Prevention/ memiliki pasangan seksual yang lebih banyak
CDC, 2006). Sebanyak 1,2 miliar penduduk serta mengingat organ reproduksinya sedang
dunia atau hampir 1 dari 5 orang di dunia berkembang.
berusia 10-19 tahun. Tingginya proporsi Perilaku seksual remaja di Indonesia saat
remaja di populasi dunia, termasuk Indonesia, ini sudah sangat mengkhawatirkan, termasuk
menjadi investasi negara di masa depan. di Kalimantan Barat. Hal ini dapat dilihat
United Nations Population Fund (UNFPA) dari data tentang perilaku seksual pranikah
mengamati bahwa populasi muda ini akan remaja di Kota Pontianak Propinsi Kalimantan
memfasilitasi dalam pencapaian Millenium Barat menunjukkan bahwa 56,9% pernah
Development Goal (MDGs) (UNFPA, 2004). kissing, 30,7 necking, 13,8% petting, 7,2%
Hasil sensus penduduk tahun 2010 di Indonesia oral seks, 5,5% anal seks, dan 14,7% pernah
menunjukkan 1 dari 4 orang penduduk melakukan intercourse (Suwarni, 2009). Hal
Indonesia merupakan kaum muda berusia 10- ini menunjukkan angka perilaku seks
24 tahun, dari 240 juta penduduk Indonesia, bebas (intercourse) yang lebih tinggi
jumlah remaja terbilang besar, mencapai 63,4 jika dibandingkan dengan angka perilaku
juta atau sekitar 26,7% dari total penduduk. seks bebas remaja yang pernah dirilis oleh
Dengan jumlah yang tidak sedikit, remaja Kementrian Kesehatan tahun 2009 yaitu 6,9%
Indonesia menghadapi berbagai persoalan di empat kota besar yaitu Jakarta, Medan,
dalam kehidupan dunia remaja. Bandung, dan Surabaya.
Perkembangan seksualitas dimulai pada Teori Integrated Behavior Model
masa remaja, melalui perubahan fisik dan menjelaskan bahwa perilaku seseorang
hormonal sejak pubertas. Akibatnya, remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling
menghadapi konsekuensi sosial dan psikologis terintegrasi. Inisiasi seks pranikah remaja
yang besar. Hal ini terjadi dikarenakan adanya dalam Integrated Behavior Model dipengaruhi
rasa ingin tahu dan coba-coba yang besar pada oleh niat berperilaku, sikap, norma subyektif,
remaja akibat adanya perubahan biologis dan pengetahuan, lingkungan (teman sebaya) dan
fisik pada masa pubertas (Santrock, J, 2012). faktor personal (meliputi persepsi kontrol yang
Sekitar 1 persen anak laki-laki dan 4 persen dirasakan dan keyakinan diri). Faktor personal
anak perempuan di Indonesia dilaporkan telah ini, salahsatunya dipengaruhi oleh monitoring
melakukan hubungan seksual sebelum usia 13 yang dilakukan oleh orangtua remaja.
tahun, beberapa bahkan ketika berusia di bawah Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan

170
KEMAS 10 (2) (2015) 169-177

peran orangtua (monitoring parental) teknik systematic random sampling.


berpengaruh signifikan pada perilaku seksual Data yang dikumpulkan adalah data
berisiko remaja. primer. Sebelum instrumen penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk digunakan dalam pengumpulan data,
mengetahui inisiasi seks pranikah pada dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada
remaja di Kota Pontianak dan faktor yang remaja SMP/SMA di Kota Singkawang. Adapun
mempengaruhinya. Adapun tujuan khusus pertimbangan memilih salah satu sekolah
penelitian ini adalah mengetahui faktor yang yang ada di Kota Singkawang adalah memiliki
pencetus remaja dalam inisiasi seks pranikah karakteristik yang hampir sama dengan
dan prediktor dari inisiasi seks pranikah remaja SMP dan SMA di Kota Pontianak. Uji
tersebut. validitas dan reliabilitas ini dilakukan pada 30
Oleh karena itu, diperlukan penelitian orang. Item variabel dikatakan valid jika nilai
tentang model insiasi seks pranikah pada remaja r > 0,3, dan reliable jika nilai alpha cronbach
dan faktor yang mempengaruhinya (studi pada > 0,7. Hasil uji validitas dan reliabilitas ini
remaja di Kota Pontianak), sehingga dapat menunjukkan ada beberapa item yang tidak
dijadikan landasan dalam menyusun rencana valid sehingga dikeluarkan dalam instrumen
program preventif primer terhadap perilaku penelitian, kemudian dilakukan uji validitas
seks pranikah pada remaja. dan reliabilitas kembali. Hasilnya menunjukkan
semua item yang ada valid dan reliabel.
Metode Analisis data menggunakan uji chi-
square dengan Confidence Interval (CI = 95%
untuk mengetahui hubungan variabel bebas
Penelitian ini merupakan penelitian dan terikat pada skala data kategorik (nominal/
kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, ordinal). Program yang digunakan untuk
yaitu bertujuan untuk mempelajari hubungan analisis data adalah SPSS. Data yang sudah
variabel bebas dan terikat melalui pengukuran dianalisis disajikan dalam bentuk tabel dan
sekaligus pada saat yang sama. Penelitian ini narasi.
akan memaparkan tentang inisiasi perilaku
seks pranikah remaja dan faktor yang
mempengaruhinya, seperti usia pasangan, Hasil dan Pembahasan
monitoring parental, perilaku teman sebaya,
sikap seksual, norma subjektif, niat berperilaku, Hasil penelitian yang kepada 300
dan paparan media pornografi. responden remaja SMP dan SMA di Kota
Penelitian ini dilakukan pada remaja Pontianak menunjukkan bahwa sebagian
SMP dan SMA yang ada di Kota Pontianak besar responden berjenis kelamin perempuan
tahun 2014. Populasi penelitian adalah seluruh (55,3%), tinggal bersama kedua orangtua
remaja SMP (kelas VII, VIII, dan IX) dan SMA kandung (68,7%), dan status pernikahan
(kelas X, XI, dan XII) dengan jumlah sampel orangtuanya adalah menikah dan tinggal
sebanyak 300 orang remaja SMP dan SMA yang bersama (80,3%). Rata-rata usia pubertas
ada pada enam (6) kecamatan di Kota Pontianak, remaja adalah 12,67 tahun (min = 9; maks =
yaitu Pontianak Utara, Pontianak Timur, 17; SD = 1,46). Remaja perempuan (mean =
Pontianak Selatan, Pontianak Barat, Pontianak 12,19 tahun; min = 9; maks = 15 tahun; SD =
Tenggara, dan Kota Pontianak. Pengambilan 1,26 tahun) mengalami pubertas lebih awal
sampel dilakukan dengan beberapa tahap, daripada remaja laki-laki (Mean = 13,37 tahun;
yaitu (1) Menentukan jumlah sampel pada min = 11 tahun; maks = 17; SD=1,36). Sebagian
setiap kecamatan secara proporsional; (2) besar usia pacar responden usianya lebih tua
Menentukan jumlah sampel pada setiap (76,3%), sama atau lebih muda 23,7%.
sekolah yang ada di masing-masing kecamatan Inisiasi seksual remaja dimulai dengan
secara proporsional; dan (3) Menentukan berpegangan tangan (82,7%), berpelukan
sampel yang terpilih menjadi responden pada (60,7%), berciuman pipi (66,0%), ciuman bibir
masing-masing sekolah dengan menggunakan (47,7%), meraba daerah sendiri (19,3%), seks

171
Linda Suwarni & Selviana / Inisiasi Seks Pranikah Remaja Di Kota Pontianak Dan Faktor Yang Mempengaruhinya Tahun 2014

oral (7%), seks anal (4%), intercourse (14,7%). hubungan yang signifikan antara jenis kelamin
Diantara remaja yang melakukan intercourse, dengan perilaku seksual remaja, tetapi ada
3,3% pernah mengalami kehamilan yang kecenderungan yang lebih besar pada remaja
tidak diinginkan (KTD). Selain itu, hasil laki-laki untuk melakukan seks pranikah
penelitian ini juga menunjukkan sebagian daripada remaja perempuan (Santrock, 2012;
besar responden terpaparan media pornografi Mathews et al., 2009; Nagamatsu, Saito, and
(57,3%), mendapat monitoring parental dalam Sato, 2008). Hal ini terjadi karena adanya sifat
level rendah (51%), norma subyektif yang asertif dan agresif pada laki-laki daripada
permisif terhadap perilaku seks pranikah perempuan.
(44,7%), sikap seksual permisif terhadap Selain itu, penyebab lainnya adalah
perilaku seks pranikah (50,7%), dan 13,3% adanya standar ganda pada laki-laki juga
remaja mempunyai intensi melakukan seks mempengaruhi hal tersebut (Kreager and Staff,
pranikah. 2009). Adanya standar ganda yang berlaku
Prediktor inisiasi seks pranikah pada di masyarakat secara langsung atau tidak
remaja di Kota Pontianak, diantaranya: usia langsung mendorong remaja raki-laki menjadi
pacar/pasangan (p value = 0,0001; CI 95% = lebih permisif dalam perilaku seksual. Remaja
1,575 3,847), monitoring parental (p value laki-laki lebih diberikan kebebasan dalam
= 0,001; CI 95% = 1,198 1,973), perilaku perilaku seks daripada remaja perempuan.
seks teman sebaya (p value = 0,0001; CI 95% Dalam kenyataannya, remaja perempuan harus
= 2,231 4,01), keterpaparan pornografi (p lebih berhati-hati dan adanya aturan serta
value = 0,0001; CI = 2,013 3,904), norma pengawasan yang lebih ketat dibandingkan
subyektif (p value = 0,0001; CI 95% = 1,309 dengan remaja laki-laki.
2,119), sikap seksual (p value = 0,0001; CI 95% Sejalan dengan penelitian yang dilakukan
= 1,439 2,425,; dan intensi berperilaku seks oleh Yulianto (2010) mengenai perilaku seks
pranikah (p value = 0,0001; CI 95% = 2,427 prnaikah remaja di Jakarta menunjukkan
4,090). Jenis kelamin secara statistik tidak bahwa remaja laki-laki cenderung bersikap
mempunyai hubungan yang signifikan, akan menerima (permisif) terhadap perilaku seks
tetapi kecenderungan terdapat pada laki-laki pranikah yaitu sebesar 57,6%, dibandingkan
yang berpeluang 1,256 kali lebih besar dalam dengan remaja perempuan (42,4%) (Yulianto,
melakukan inisiasi seks pranikah. 2010). Hal ini dikaitkan dengan inisiasi seks
Walaupun secara statistik jenis kelamin pranikah yang lebih banyak dilakukan terlebih
tidak ada hubungan yang siginifikan dengan dahulu dengan remaja laki-laki daripada
inisiasi seks pranikah, tetapi remaja laki- perempuan.
laki cenderung lebih besar dalam melakukan Usia pacar/pasangan berhubungan
inisiasi seks pranikah dibandingkan dengan signifikan dengan inisiasi seks pranikah remaja
remaja perempuan yaitu sebesar 1,256 (p value = 0,0001; CI 95% = 1,575 3,847).
kali. Sejalan dengan penelitian yang sudah Remaja yang mempunyai pacar yang usianya
dilakukan sebelumnya, menunjukkan tidak ada lebih tua berpeluang 2,46 kali melakukan
Tabel 1. Hasil Uji Bivariat
Confident Interval
No Variabel p value Prevalence Ratio
(95%)
1. Jenis kelamin 0,076 1,256 0,992 1,590
2. Usia pacar/pasangan 0,0001* 2,461 1,575 3,847
3. Monitoring parental 0,001* 1,537 1,198 1,973
4. Perilaku seks teman sebaya 0,0001* 2,993 2,231 4,016
5. Keterpaparan pornografi 0,0001* 2,803 2,013 3,904
6. Norma subjektif 0,0001* 1,665 1,309 2,119
7. Sikap seksual 0,0001* 1,868 1,439 2,425
8. Intensi berperilaku seks pranikah 0,0001* 3,150 2,427 4,090
Sumber : data primer

172
KEMAS 10 (2) (2015) 169-177

inisiasi seks pranikah dibandingkan dengan psikologis orangtua. Hasil penelitian ini
yang sama atau lebih muda. Remaja yang menunjukkan bahwa sebagian besar hubungan
mempunyai pasangan yang lebih tua dari antara orangtua dengan remaja kurang baik
usianya mempunyai kecenderungan untuk (56,3%), komunikasi antara orangtua dengan
melakukan inisiasi seks pranikah dini remaja kurang baik (51,3%), kontrol orangtua
dibandingkan yang seusia atau lebih muda (Le yang kurang (51%), pengetahuan orangtua
and Kato, 2006). Hal ini sangat erat kaitannya yang rendah terhadap keberadaan, aktfitas,
dengan pengalaman seksual di masa lalu yang dan teman-teman remaja (52,7%), dan kontrol
akan sangat mempengaruhi perilaku seksual psikologi orangtua yang rendah (51%). Dari
pada masa kini. kelima aspek tersebut saling berkaitan satu
Inisiasi seksual dini berhubungan sama lainnya. Temuan dalam penelitian ini
dengan mutipel dampak negatif pada kesehatan adalah sebagian besar orangtua masih tabu
reproduksi remaja (termasuk IMS dan HIV dalam membicarakan tentang seksualitas
AIDS. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan kepada anak remajanya. Orangtua kebingungan
oleh Vanoos (2010), menunjukkan bahwa dalam menyampaikan tentang seksualitas yang
remaja yang mempunyai pacar usianya lebih ada karena mereka tidak pernah mendapatkan
tua maka kecenderungannya lebih besar dalam tentang pendidikan seksualitas dari orangtua
insiasi seksual daripada yang mempunyai pacar saat mereka masih remaja. Selain itu, adanya
usia yang sama. Hal ini dikarenakan pasangan standar ganda yang dilakukan orangtua dalam
yang lebih tua lebih berpengalaman dalam memonitoring anak remajanya antara laki-
berperilaku seksual, sehingga norma dan sikap laki dan perempuan. Anak remaja laki-laki
seksualnya lebih permisif. Dengan demikian, cenderung diberikan lebih keleluasaan dalam
adanya tekanan pada remaja yang mempunyai aktivitas sehari-hari di luar rumah daripada
pasangan usia lebih tua lebih besar dalam anak remaja perempuan.
melakukan inisiasi seks pranikah daripada Studi sebelumnya menunjukkan bahwa
yang seusia (Vanoos, 2010). orangtua dapat menjadi salah satu pengaruh
Monitoring parental berhubungan terkuat dalam kehidupan remaja, termasuk
signifikan dengan inisiasi seks pranikah pengambilan keputusan seksual. Hal ini akan
remaja di Kota Pontianak (p value = 0,001; CI berhubungan dengan rendahnya kenakalan
95% = 1,198 1,973). Remaja yang menerima remaja, dan perilaku berisiko pada remaja,
monitoring parental dalam level rendah serta dapat mencegah remaja menjadi seksual
berpeluang 1,527 kali lebih besar dalam aktif dalam usia yang lebih muda (Yany, 2006).
melakukan inisiasi seks pranikah daripada Peran primer orangtua dalam membantu
monitoring parental tinggi. Banyak penelitian remaja untuk mencegah dan mengurangi
yang sudah dilakukan juga menunjukkan perilaku seksual remaja berisiko.
hubungan yang signifikan antara monitoring Keterlibatan remaja dalam aktivitas
parental yang diterima remaja dengan inisiasi seksual dan perilaku berisiko lainnya dikaitkan
seks pranikah (Le and Kato, 2006; Nagamatsu, dengan derajat monitoring parental. Beberapa
2008; Suwarni, 2009; Yang, 2006). Remaja studi juga menyatakan bahwa konstruk
yang menerima monitoring dalam level rendah monitoring parental merupakan hal yang
kecenderungan lebih besar melakukan inisiasi paling dan faktor yang efektif dalam menunda
seks pranikah dini dibandingkan dengan remaja melakukan aktivitas seksual dini (Coley,
monitoring parental yang tinggi. Monitoring 2009; Sieverding, 2005). Monitoring parental
parental merupakan prediktor perilaku seks telah menjadi komponen pokok dari model
berisiko pada remaja (Morales-Campos, 2012). perkembangan dan prevensi perilaku antisosial.
Monitoring parental dalam penelitian Temuan ini sejalan dengan teori
ini terdiri dari 5 konstruk yang mendukung, psikologi perkembangan remaja yang
di antaranya, yaitu: 1) Hubungan antara menyatakan bahwa proses pendewasaan,
orangtua dengan remaja; 2) Komunikasi antara pengaruh keluarga telah bergeser menjadi teman
orangtua dengan remaja; 3) Kontrol orangtua; sebaya sekitar 50%. Namun demikian, keluarga
4) Pengetahuan orangtua; dan 5) Kontrol menjadi dasar yang kuat bagi remaja dalam

173
Linda Suwarni & Selviana / Inisiasi Seks Pranikah Remaja Di Kota Pontianak Dan Faktor Yang Mempengaruhinya Tahun 2014

pemilihan teman sebayanya. Dengan demikian, Teman sebaya dijadikan oleh remaja sebagai
program intervensi monitoring parental yang role of model dalam berperilaku sehari-hari,
didesain efektif dapat mempengaruhi perilaku termasuk perilaku seksualnya. Oleh karena
seksual berisiko pada remaja awal (umur itu, remaja yang tidak dimonitoring orangtua
14-16 tahun). Intervensi yang terintegrasi secara baik maka perilaku teman sebaya yang
dengan keterlibatan dan dukungan orangtua negatif akan sangat mudah mempengaruhi
yang sesuai akan berpengaruh jangka panjang perilaku remaja tersebut.
dibandingkan dengan menargetkan remaja Keterpaparan pornografi berhubungan
sendiri (Huang, 2010). signifikan dengan inisiasi seks pranikah (p
Perilaku seks teman sebaya berhubungan value = 0,0001; CI = 2,013 3,904). Remaja
signifikan dengan inisiasi seks pranikah (p yang terpapar porngrafi berpeluang 2,803 kali
value = 0,0001; CI 95% = 2,231). Remaja yang melakukan inisiasi seks pranikah dibandingkan
mempunyai teman sebaya berperilaku seks remaja yang tidak terpapar. Keterpaparan
pranikah berpeluang 1,99 kali melakukan pornografi pada remaja melalui media televisi
inisiasi seks pranikah daripada yang tidak. dapat memprediksikan inisiasi seks pranikah
Perilaku teman sebaya juga mempengaruhi remaja. Remaja yang terpapar pornografi
inisiasi seks pranikah remaja. Remaja cenderung lebih besar melakukan inisiasi seks
yang mempunyai teman sebaya yang pranikah dibandingkan yang tidak pernah
sudah melakukan inisiasi seks pranikah terpapar. Selain itu, frekuensi keterpaparan
kecenderungan lebih besar dalam melakukan juga mempengaruhi inisiasi seks pranikah pada
inisiasi seks pranikah juga (Suwarni, 2009). remaja.
Banyak penelitian juga menunjukkan adanya Remaja lebih tertarik pada materi seks
hubungan yang signifikan perilaku teman yang berbau porno yang disajikan melalui
sebaya dengan perilaku seks remaja (Akers, media pornografi dibandingkan dengan
2011}; Gardner, 2005; Heilbron, 2008; Sieving materi seks yang dikemas dalam bentuk
2006; Suwarni, 2009; You, 2011). Demikian pendidikan. Hal ini berkaitan dengan masa
juga dengan penelitian yang dilakukan oleh transisi yang sedang dialami remaja. Selain
Sieving et al. (2006) menunjukkan bahwa itu juga, remaja juga menghadapi perubahan
remaja yang mempunyai teman sebaya yang baik aspek fisik, seksual, emosional, moral,
sudah melakukan inisasiasi seks pranikah, sosial, maupun intelektual (Santrock, 2012).
lebih berisiko 1,2 kali melakukan inisiasi seks Hal ini menyebabkan remaja menganggap
pranikah (Sieving, 2006). media massa sebagai sumber informasi seksual
Remaja sangat mudah terpengaruh yang lebih penting dibandingkan orangtua dan
dengan perilaku teman sebayanya. Saat teman sebaya, karena media massa memberikan
usia remaja, perasaan untuk diterima pada gambaran yang lebih baik mengenai keinginan
kelompoknya menjadi hal yang paling penting dan kemungkinan yang positif mengenai
bagi seorang remaja, termasuk perilaku teman seks dibandingkan permasalahan dan
sebaya. Penelitian yang dilakukan Azinar konsekuensinya.
(2013), menunjukkan bahwa ada hubungan Sejalan dengan penelitian yang
yang signifikan antara perilaku seksual teman dilakukan oleh Stulhofer (2012), menunjukkan
sebaya dengan perilaku berisiko terhadap adanya pengaruh yang kuat paparan pornografi
kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) terhadap perilaku seksual remaja. Remaja yang
(pvalue = 0,0001). Remaja yang mempunyai terpapar pornografi akan mempengaruhi
teman sebaya berperilaku berisiko terhadap sikapnya tentang gambaran seks pada dirinya,
KTD cenderung akan mengadopsi perilaku selanjutnya akan diwujudkan dalam bentuk
tersebut. perilaku intimasi dengan pasangannya
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Stulhofer, 2012). Demikian juga, penelitian
oleh Coley (2013), menunjukkan bahwa yang dilakukan oleh Braun-Courville (2009),
perilaku seksual remaja lebih besar dipengaruhi menunjukkan bahwa remaja yang terpapar
oleh perilaku seksual teman sebaya selama masa media pornografi cenderung mempunyai
remaja awal sampai dewasa awal (Coley, 2013). pasangan seks yang lebih banyak (multipatner)

174
KEMAS 10 (2) (2015) 169-177

(OR = 1,8; CI = 1,2 - 2,9), mempunyai Berdasarkan theory of planned


pasangan seks lebih dari 1 dalam kurun waktu behavior determinan intensi berperilaku yang
3 bulan terakhir (OR = 1,8; CI = 1,1 3,1), kedua adalah norma subyektif yaitu faktor
dan melakukan anal seks (OR = 2,0; CI = 1,2 merefleksikan pengaruh sosial. Peran sosial
3,4). Selain itu, remaja yang terpapar media yang dimaksud dalam teori ini menunjukkan
pornografi mempunyai sikap seksual yang jauh pada pengaruh norma subyektif pada
lebih permisif daripada yang tidak terpapar pembentukan intensi seseorang.
(Braun-Courville, 2009). Sikap seksual juga berhubungan
Berdasarkan teori yang dikemukakan signifikan inisiasi seks pranikah remaja (p
oleh Bandura menjelaskan bahwa suatu value = 0,0001, CI =1,439 2,425). Remaja
perilaku dapat dipelajari dengan melihat dan yang mempunyai sikap seksual yang permisif
meniru model tertentu (teori pembelajaran berpeluang 1,868 melakukan inisiasi seksual
sosial). Remaja yang sering terpapar media pranikah dibandingkan dengan yang tidak
pornografi akan termotivasi untuk melakukan permisif. Remaja yang mempunyai sikap
modeling, dengan cara meniru adegan-adegan seksual permisif cenderung melakukan inisiasi
tersebut. Selain itu, adanya rasa kesenangan seks pranikah lebih besar dibandingkan yang
yang diperoleh setelah melakukan inisiasi tidak permisif.
seksual akan membuat remaha cenderung Adanya sikap seksual permisif remaja
mengulangi lagi perilaku seksual tersebut. terhadap perilaku seks bebas atau perilaku seks
Dengan demikian, semakin sering remaja pranikah dapat menimbulkan risiko terjadinya
terpapar media pornografi maka perilaku kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan
seksual remaja cenderung akan semakin tertular penyakit menular seksual (PMS).
meningkat . Sikap sebagai prediktor munculnya perilaku,
Norma subyektif berhubungan signifikan rendahnya sikap permisif remaja terhadap
dengan inisiasi seks pranikah (p value = perilaku seks pranikah ternyata diikuti dengan
0,0001; CI 95% = 1,309 2,119). Remaja yang perilakunya. Hal ini sejalan dengan penelitian
mempunyai norma subyektif lebih permisif ini yang menunjukkan bahwa remaja yang
berpeluang 1,67 kali melakukan inisiasi seks tidak permisif (33,1% yang melakukan inisiasi
pranikah daripada yang tidak permisif. Norma seks pranikah), lebih kecil jika dibandingkan
subjektif dapat mempengaruhi niat insiasi dengan remaja yang bersikap permisif (61,8%).
seks pranikah dan inisiasi seks pranikah Sejalan dengan penelitian yang
remaja. Sejalan dengan penelitian dilakukan dilakukan oleh Azinar (2013), tentang perilaku
Armitage (2010), menunjukkan bahwa norma seksual pranikah berisiko terhadap kehamilan
subjektif berhubungan signifikan dengan yang tidak diinginkan (KTD), menunjukkan
intensi berperilaku. Prediktor inisiasi seks bahwa ada hubungan yang signifikan antara
pranikah lainnya adalah norma subyektif dan sikap terhadap seksualitas dengan perilaku
niat berperilaku seksual (Buhi, 2007; Mathews, seksual berisiko terhadap KTD (p value =
2009; Suwarni, 2009). 0,0001). Remaja yang mempunyai sikap
Norma subyektif yang terbentuk pada terhadap seksualitas lebih permisif berisiko 4
diri remaja juga dipengaruhi oleh norma kali melakukan perilaku seksual berisiko KTD
subyektif teman sebaya responden. Remaja yang daripada remaja yang bersikap kurang permisif
berpersepsi norma subyektif teman sebaya yang (Azinar, 2013). Selain itu, hasil penelitian yang
serba memperbolehkan seks pranikah, maka dilakukan BKKBN menunjukkan bahwa remaja
kecenderungan remaja tersebut mempunyai lebih permisif terhadap perilaku seks pranikah
norma subyektif yang sama dengan teman . Pengaruh sikap dalam perilaku seks pranikah
sebaya. Hal ini sejalan dengan peneltian yang remaja sebesar 15% (Irmawaty, 2013).
dilakukan Sieving yang menunjukkan bahwa Penelitian yang dilakukan oleh
persepsi remaja terhadap norma subyektif Ahrold (2010), menunjukkan bahwa adanya
teman sebaya berhubungan siginifikan dengan pergeseran sikap seksual di kalangan remaja.
inisiasi seks pranikah pada remaja (Sieving, selain itu, adanya perbedaan sikap seksual
2006). antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih

175
Linda Suwarni & Selviana / Inisiasi Seks Pranikah Remaja Di Kota Pontianak Dan Faktor Yang Mempengaruhinya Tahun 2014

mempunyai sikap yang liberal terhadap seksual Penutup


daripada perempuan (Ahrold and Meston,
2010). Sikap seksual diukur melalui persepsi Berdasarkan hasil penelitian ini
remaja terhadap dampak positif dan negatif ditemukan bahwa prediktor inisiasi seks
dari pengalaman abstinensia atau melakukan pranikah remaja di Kota Pontianak diantaranya:
seks (Bonnie, 2009). usia pacar/pasangan, monitoring parental,
Intensi (niat) berperilaku seksual sikap seksual, norma subyektif, perilaku seks
berhubungan signifikan dengan inisiasi seks teman sebaya, dan intensi berperilaku seks
pranikah (p value = 0,0001, CI = 2,427 4,090). pranikah. Untuk itu, diperlukan prevensi primer
Remaja yang mempunyai niat berperilaku seks dalam mencegah remaja melakukan inisiasi
pranikah berpeluang 3,150 kali melakukan seks pranikah berdasarkan prediktor yang
inisiasi seks pranikah. Niat berhubungan ditemukan dalam penelitian ini. Diperlukan
signifikan dengan inisiasi seks pranikah. Niat intervensi pada monitoring parental, teman
merupakan prediktor yang paling kuat dalam sebaya, dan sekolah tempat remaja bersekolah
mempengaruhi inisiasi seks pranikah remaja agar saling mendukung dalam menciptakan
(Buhi, 2007; Mathews, 2009; Suwarni, 2009). remaja yang sehat (menunda dan tidak
Niat menunjukkan hal yang dilakukan dan melakukan inisiasi seks pranikah).
mengidentifikasi seberapa keras seseorang
mencoba dan berupaya menampilkan perilaku. Daftar Pustaka
Niat diasumsikan sebagai faktor motivasi yang
mempengaruhi perilaku. Besar efek niat pada Ahrold, T.K. & Meston, C. 2010. Ethnic
perubahan perilaku 0,12-2.97 berdasarkan 47 Differences in Sexual Attitudes of U.S.
studi dan jumlah sampel total 8.802. Intervensi College Students: Gender, Acculturation,
perubahan niat sedang-besar yang sukses Tambah Umur jg and religiosity factors.
akan perubahan perilaku yang kecil sampai Archives of Sexual Behavior, 39 (1) : 190-
sedang. Besar efek korelasi niat dan perilaku 202.
sebesar 0,57, hal ini menunjukkan intervensi Akers, A. Y. 2011. Variations in Sexual Sehaviors
pada perubahan niat lebih besar pada perilaku in a Cohort of Adolescent females: The role
(Webb, 2006). od Personal, Perceived Peer, and Perceived
Perilaku seseorang dapat diprediksi Family Attitudes. Journal of Adolescent
Health, 48: 87-93.
berdasarlan intensi seseorang dalam
Azinar, M. 2013. Perilaku Seksual Pranikah Berisiko
menampilkan perilaku tertentu. Intensi terhadap Kehamilan Tidak Diinginkan.
didefinisikan sebagai pandangan subjektif Jurnal Kemas, 8(2): 143-150.
seseorang mengenai kemungkinan Braun-Courville, D. K., and Rojas, M. (2009).
menampilkan suatu perilaku tertentu. Exposure to Sexually web sites and adolescent
Pembentukan intensi ini merupakan faktor sexual attitudes and behaviors. Journal of
motivasional yang mempengaruhi perilaku Adolescent Health, 45: 156-162.
yang mengindikasikan seberapa besar usaha Bonnie, L., Halpern-Felsher, and Yan Reznik.
seseorang dan berapa banyak upaya yang 2009. Sexual attitudes and behaviors: A
dilakukan dalam menampilkan perilaku developmental perspective. The prevention
research. 16(4):1-6.
tersebut. Remaja yang mempunyai intensi
Buhi, E. R., and Goodson, P. 2007. Predictors of
melakukan inisiasi seks pranikah maka akan adolescent sexual behavior and intention: A
lebih besar kecenderungannya melakukan Theory-Guided Systematic Review. Journal
inisasi seks pranikah dalam kehidupannya. of Adolescent Health, 40 : 4-21.
Sejalan dengan hasil penelitian ini, remaja yang Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
berintensi melakukan inisiasi seks pranikah 2006. Youth risk behavior surveillance-
lebih besar melakukan iniasiasi seks pranikah United States. Surveillance summaries 2006.
dibandingkan dengan remaja yang tidak Coley, R. L., et al. 2013. Sexual partner accumulation
mempunyai intensi melakukan seks pranikah. from adolescence through early adulthood:

176
KEMAS 10 (2) (2015) 169-177

The role of family, peer, and social norms. Sieverding, A, J., et al. 2005. The influence of parental
Journal of Adolescent Health, 53: 91-97. monitoring on adolescent sexual initiation.
Gardner, M., and Steinberg, L. 2005. Peer influence Arch Pediatr Adolesc Med, 159, 724-729.
on risk taking, risk preference, and Sieving, R. E., et al. 2006. Friends influence on
risky decision making in adolescent and adolescent first sexual intercourse. Perspective
adulthood: An experimental study, 41 (6) : on Sexual and Reproductive Health, 38 (1):13-
625-635. 19.
Heilbron, N., and Pristein, M. J. 2008. Peer Stulhofer, A., Busko, V., Schmidt, G. 2012. Adolescent
Influence and adolescent nonsuicidal self- exposure to pornography and relationship
injury: A theoretical review of mechanisms intimacy in young adulthood. Psychology
and moderators. Applied and Preventive and Sexuality, 3 (2): 95-107.
Psychology, 12: 169-177. Suwarni, L. 2009. Pengaruh Monitoring Parental
Huang, DY. C. & Murphy, D. A. 2010. Parental dan Teman Sebaya terhadap Perilaku Seks
Monitoring during Early Adolescent Deters Pranikah Remaja di Kota Pontianak. Jurnal
Adolescent Sexual Initiation: Discrete-Time Promosi Kesehatan Indonesia, Universitas
Survival Mixture Analysis. Journal Child Diponegoro.
Family Study. 20: 511-520 UNFPA. 2004. Population and Development
Irmawaty, L. 2013. Perilaku seksual pranikah pada National Progress in Implementating the
mahasiswa. Jurnal Kesehatan Masyarakat, ICPD Programme of Action. UNFPA
9(1): 44-52. Vanoss Marin, B., et al. 2000. Older Boyfriends and
Kreager, D. & Staff, J.. 2009. The sexual double Girlfriends Increase Risk of Sexual Initiation
standard and adolescent peer acceptance. in Young Adolescents. Journal of Adolescent
Social Psychology Quarterly, 72 : 143-164. Health, 27, 409-418.
Le, T. N., and Kato, T. 2006. The role of peer, Yang, H., et al. 2006. Parental awareness of
parent, and culture in risky sexual behavior adolescent risk involvement: Implications of
Cambodian and Lao/Mien adolescent. overestimates and underestimates. Journal of
Journal of Adolescent Health, 38: 288-296. Adolescent Health, 39 : 353 361.
Mathews, C., et al. 2009. Predictors of initiation You, S. 2011. Peer influence and adolescents school
Sexual behavior on Adolescent. Health engangement. Procedia-Social and behavioral
Education Research, 24:1-10. Sciences. 29: 829-835.
Morales-Campos, D. Y., et al. 2012. Sexual initiation, Yulianto. (2010). Gambaran Sikap Siswa SMP
parent practices and acculturation in terhadap Perilaku Seksual Pranikah
Hispanic Seventh Graders. J Sch Health, (Penelitian dilakukan di SMPN 159 Jakarta).
82:75-81. Jurnal Psikologi, 8(2): 46-58.
Nagamatsu, M., Saito, H., and Sato, T. (2008). Webb, T. L., and Sheeran, P. 2006. Does Changing
Factors associated with gender differences in Behavioral Intentions Engender Behavior
parents-adolescent relationships that delay Change? A meta-Analysis of the experimental
first intercourse in Japan. Journal of School evidence. Psychological Bulletin, 132(2): 249-
Health, 78 (11) : 601-606. 268.

177