Anda di halaman 1dari 21

PERTUMBUHAN POPULASI

Disusun sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah Dinamika
Populasi Ikan

Disusun Oleh :
Kelompok 2 / Perikanan B
Amsal Loudikia Tarigan 230110150132
Anis Chairunnisa N 230110150126
Basma Emeralda Hasibuan 230110150106
Damar P Putra 230110150142
Fajar Padli 230110150120
Hafiz Alby Fasa 230110150113
Haikal Munfaridzi Yusup 230110150101
Karimah Syakirotin 230110150084
Nabila Auva A.B 230110150079
Nabilah Muthiah 230110150147
Nurmuklis R 230110150090
Rintan Octaviana Julia 230110150153
Sania Malika 230110150137
Sapin 230110150095

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamin. Puji syukur selalu dipanjatkan kepada Allah


SWT., yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga
penyusun dapat menyelesaikan makalah ilmiah Dinamika Populasi Ikan pada
tanggal 4 Oktober 2017.
Sehubungan dengan tugas kelompok mata kuliah Dinamika Populasi Ikan,
penyusun sebagai mahasiswa perikanan dituntut untuk belajar dan memahami
tentang Dinamika Populasi Ikan dengan menyusun sebuah makalah yang berjudul
Pertumbuhan Populasi. Dalam makalah ini materi berfokus pada penjelasan
mengenai pertumbuhan dari populasi ikan itu sendiri. Makalah ini juga dilengkapi
gambar-gambar untuk memperjelas contoh dalam pembahasan materi serta
disusun secara sistematis dan tertata dengan baik yang dijelaskan dengan
menggunakan kalimat yang sederhana dan mudah dimengerti.
Akhir kata penyusun berharap semoga makalah ilmiah Dinamika Populasi
Ikan tentang Pertumbuhan Populasi ini dapat memperkaya wawasan tentang
Dinamika Populasi Ikan.

Jatinangor, Oktober 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

BAB Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................ iv
DAFTAR ISI ....................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR .......................................................................... v
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.3 Tujuan ....................................................................................... 1

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Pertumbuhan Populasi ................................................ 2
2.2 Pola Pertumbuhan ..................................................................... 2
2.3 Kurva Pertumbuhan .................................................................. 2
2.4 Hubungan Panjang dan Bobot .................................................. 4
2.5 Model Pertumbuhan .................................................................. 6
2.6 Estimasi Parameter-Parameter Persamaan
Pertumbuhan Von Bertalanffy (VBGF) ................................... 17

III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................... 16
3.2 Saran ......................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 17

iii
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


1. Kurva pertumbuhan panjang ............................................................ 3
2. Kurva pertumbuhan bobot ............................................................... 4
3. Plot Ford Walford ............................................................................ 10
4. Grafik Pertumbuhan Model Von Bertalanffy .................................. 12
5. Plot Gulland dan Holt sesuai............................................................ 31

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Emden & Harrington (2007), dinamika populasi merupakan
kajian ekologi yang dapat digunakan dalam mempelajari populasi hewan dan
regulasi yang terjadi. Dinamika populasi juga digunakan untuk memperoleh
pengetahuan teori maupun praktik dalam pengendalian hama. Pola fluktuasi
populasi merupakan dasar untuk mengetahui dinamika populasi (Scoonhoven et
al. 2005). Dinamika Populasi Ikan sebenarnya merupakan cabang ilmu yang
mempelajari dinamika perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu populasi
(stok) ikan, misalnya pertumbuhan, mortalitas, rekruitmen, produksi, serta
pengaruh penangkapan terhadap populasi/stok ikan. Dalam kaitan ini tercakup
pula berbagai metode untuk pendugaan populasi/stok ikan termasuk penggunaan
teknik penginderaan jauh dan akustik. Dalam beberapa literatur disimpulkan
bahwa ilmu dinamika populasi ikan merupakan suatu ilmu yang mempelajari
mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam populasi ikan. Perubahan-
perubahan anggota populasi ini sangat penting diketahui oleh pengelola agar dapat
mengaturnya untuk memperoleh suatu jumlah yang optimum sesuai dengan daya
dukungnya.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembahasan mengenai pertumbuhan populasi ikan ini adalah
sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui definisi dan kurva dari pertumbuhan populasi ikan.
b. Untuk mengetahui hubungan panjang dan bobot ikan.
c. Untuk mengetahui model dan pola pertumbuhan ikan.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pertumbuhan Populasi


Dalam dinamika populasi ikan, pertumbuhan sering didefinisikan sebagai
perubahan panjang atau bobot dari suatu ikan selama waktu tertentu. Jadi untuk
menghitung pertumbuhan diperlukan data panjang atau bobot dan umur atau
waktu (Effendie 1978). Pertumbuhan dapat pula didefinisikan sebagai
peningkatan biomassa suatu populasi yang dihasilkan oleh akumulasi bahan-
bahan yang ada dalam lingkungannya. Studi tentang pertumbuhan pada dasarnya
menyangkut penentuan ukuran tubuh sebagai suatu fungsi dari umur (Aziz 1989).
Pertumbuhan dalam individu adalah pertumbuhan jaringan akibat
pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi jika kelebihan input energi dan
asam amino (protein) dari makanan sebab bahan dari makanan akan digunakan
oleh tubuh untuk melakukan metabolisme dasar, pergerakan, reproduksi, produksi
organ seksual, perawatan bagian-bagian tubuh dan sebagainya. Berbeda dengan
pertumbuhan individu, pertumbuhan populasi sendiri ditandai dengan adanya
perubahan jumlah populasi disetiap waktu. Perubahan ini biasanya dipengaruhi
oleh jumlah kelahiran, kematian dan migrasi. Tujuan analisis pertumbuhan dalam
dinamika populasi adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui pengaruh pertumbuhan terhadap waktu atau kapan pertama kali
bertelur.
b. Pengaruh laju pertumbuhan terhadap stok.
c. Pengaruh laju pertumbuhan terhadap potensi hasil suatu stok.
d. Pengaruh Plot Gulland dan Holt.

2.2 Pola Pertumbuhan


Menurut Weatherley 1972 pola pertumbuhan dibagi menjadi empat
bagian yakni :
a. Fase pertama : Pertumbuhan larva (perubahan bentuk dan ukuran badan
berubah dengan cepat).

2
3

b. Fase kedua : Fase Juvenile.


c. Fase ketiga : Fase Linier (perubahan panjang dan bobot terjadi secara linier,
energy dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangan gonad).
d. Fase keempat : Fase dewasa (energi dimanfaatkan untuk pemeliharaan dan
hanya sedikit untuk pertumbuhan).

2.3 Kurva Pertumbuhan


Menurut Von Bertalanffy (1938), pertumbuhan panjang dan bobot badan
terhadap waktu adalah berbeda. Pertambahan ukuran baik dalam panjang atau
dalam bobot biasanya diukur dalam waktu tertentu. Pertumbuhan ikan sering
digambarkan dalam bentuk perubahan panjang (L) atau bobot (W) badan
berdasarkan waktu yang dapat dinyatakan dengan matematik. Hubungan
pertambahan ukuran dengan waktu bila digambarkan dalam suatu sistem
koordinat menghasilkan suatu diagram dikenal dengan nama kurva pertumbuhan.
Ukuran waktu ditempatkan pada sumbu X dan (ukuran) dimensi lain
(panjang atau bobot) pada sumbu Y Jika panjang ikan diplotkan dengan umur
(waktu) hasilnya ialah suatu kurva dengan sudut semakin kecil dengan
pertambahan umur mendekati asimtote yang sejajar dengan sumbu X (gambar 1).

Gambar 1. Kurva pertumbuhan panjang

Kurva bobot dan umur (waktu) juga mendekati asimtote atas tetapi
bentuknya sigmoid yang tidak simetri dengan titik infleksi (yaitu suatu perubahan
dari fase penaikan ke fase perlambatan pertumbuhan) yang menunjukkan pada
titik itu pertumbuhan menurun dibandingkan dengan pertumbuhan sebelumnya
(gambar 2).
4

Gambar 2. Kurva pertumbuhan bobot

Perubahan-perubahan ukuran panjang dan bobot ikan dapat dijelaskan


sebagai berikut:
a) Pertumbuhan mutlak (absolut: ukuran rata-rata ikan pada umur tertentu) yaitu
ukuran rata-rata ikan pada umur tertentu, misalnya, ukuran rata-rata panjang
atau bobot ikan pada umur 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, dst.
l2 l1 atau l3 l2 .....................................(1)
W2 W1 atau W3 W2 ..............................(2)
Dengan demikian maka yang dimaksud dengan pertumbuhan mutlak ialah
perbedaan panjang atau bobot dalam dua saat, yaitu dalam satu tahun (l2-l1)
atau (l3-l2).
b) Pertumbuhan relatif (nisbi: L/W pada suatu periode dibandingkan dengan
L/W pd awal periode), yaitu panjang atau bobot yang dicapai dalam satu
periode tertentu dihubungkan dengan panjang atau bobot pada awal periode
tersebut.
h = (l3-l2)/ l2 ................(3)
h = pertumbuhan nisbi (%)
c) Laju peningkatan sesaat
ln (l2) ln (l1) atau ln (W2) ln (W1) ...........(4)

2.4 Hubungan Panjang dan Bobot


Dalam perhitungan panjang dan bobot ini ada bagian yang disebut analisis
Weighted Regression. Pada analisis ini terdapat suatu persamaan garis lurus yaitu
Log W= Log a + b Log L. Nilai b disini adalah nilai pangkat yang harus cocok
5

dari panjang ikan yang kurus, dimana pertumbuhan panjangnya lebih cepat dari
pertumbuhan bobotnya. Sedangkan jika niali b lebih besar dari tiga, menunjukkan
ikan tersebut gemuk, dimana pertumbuhan bobotnya lebih cepat dari pertumbuhan
panjangnya (Effendi 2002). Menurut Effendi (1997) hubungan panjang dan bobot
ikan dapat dilihat dari nilai konstanta b berikut:
1) Bila b = 3, hubungan yang terbentuk adalah isometrik (pertambahan panjang
seimbang dengan pertambahan bobot).
2) Bila b 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik, maka:
Bila b > 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik positif yaitu
pertambahan bobot lebih cepat daripada pertambahan panjang, menunjukkan
keadaan ikan tersebut gemuk.
Bila b < 3, hubungan yang terbentuk adalah allometrik negatif yaitu
pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan bobot, menunjukkan
keadaan ikan yang kurus.
Bobot dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan
panjang dan bobot hampir mengikuti hukum kubik yaitu bobot ikan sebagai
pangkat tiga dari panjangnya. Tetapi hubungan yang terdapat pada ikan
sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda (Effendi
2002). Hubungan panjang dan bobot pada ikan dapat juga dilihat dari nilai R2
yang didapatkan pada grafik regresi, yakni dengan membandingkan nilai koefisien
korelasi R2 dengan nilai interpretasi, jika diketahui apabila nilai R2 adalah
sebagai berikut :

Tabel 1. Tingkat nilai koefisien korelasi R2


Range Nilai Tingkat
0,00 - 0,199 Sangat Rendah
0,20 - 0,399 Rendah
0,40 - 0,599 Sedang
0,60 - 0,799 Kuat
0,80 - 1,000 Sangat Kuat
Sumber : Effendi 2002.
6

Bobot ikan bervariasi seiring dengan pangkat dari panjangnya. Analisis


panjang dan bobot bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan di alam.
Menurut Effendie (1979) rumus hubungan antara panjang total ikan dengan
bobotnya adalah persamaan eksponensial sebagai berikut:
W = a . Lb atau Log W = log a + b . Log L
Keterangan :
W = bobot
L = Panjang
a dan b = konstanta

Perbedaan nilai b pada ikan tidak saja antara populasi yang berbeda dari
spesies yang sama, tetapi juga antara populasi yang sama pada tahun - tahun yang
berbeda yang barangkali dapat diasosiasikan dengan kondisi nutrisi yang ada. Hal
ini bisa terjadi karena pengaruh faktor ekologis dan biologis (Ricker 1975).
Ukuran ikan ditentukan berdasarkan panjang atau bobotnya. Ikan yang lebih tua,
umumnya lebih panjang dan gemuk. Pada usia yang sama, ikan betina biasanya
lebih berat dari ikan jantan. Pada saat matang telur, ikan mengalami penambahan
bobot dan volume. Setelah bertelur bobotnya akan kembali turun. Tingkat
pertumbuhan ikan juga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dilingkungan
hidupnya (Poernomo 2002).

2.5 Model Pertumbuhan


Dinamika populasi adalah suatu studi dari bagaimana dan mengapa
populasi berubah, sedang dinamika populasi kuantitatif adalah representasi
matematik dan statistik. Salah satu hal yang dapat mengakibatkan perubahan
populasi ialah pertumbuhan. Model pertumbuhan didesain untuk menerangkan
dan menduga perubahan-perubahan yang terjadi dalam suatu populasi ikan dari
waktu ke waktu. Model yang sederhana hanya menggambarkan parameter-
parameter pertumbuhan secara umum dan mempunyai nilai dugaan yang rendah.
Model yang lebih kompleks dapat meramalkan perubahan-perubahan yang terjadi
dalam suatu populasi ikan sehingga sangat berguna bagi manager untuk
mengambil keputusan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan.
7

Agar bermanfaat bagi pengelolaan sumberdaya perikanan, model


pertumbuhan ikan hendaknya mempunyai sejumlah karakteristik sebagai berikut :
1) Secara relatif model harus lebih mudah dalam pengetrapannya.
2) Karakteristik-karakteristik pertumbhan harus memberikan gambaran tertentu
yang layak dalam selang waktu yang diinginkan.
3) Sejumlah asumsi harus sekecil dan setepat mungkin.
4) Karakteristik yang berguna bagi suatu model pertumbuhan adalah yang
mudah dipadukan dengan model-model dinamika populasi ikan.
Terdapat dua macam model matematik untuk menghitung pertumbuhan
panjang dan bobot ikan yakni:
A. Model yang berhubungan dengan bobot
Wt = Woegt
Keterangan :
Wt = bobot ikan pada waktu t
Wo = bobot awal
e = dasar logaritma natural (= 2.7182818)
g = koefisien pertumbuhan
B. Model yang berhubungan dengan panjang
1) Model linier : Lt = a + bt
2) Model logaritmik : Lt = a + b log t
3) Model eksponensial : Lt = a.bt
4) Model geometric : Lt = a.tb
5) Model Gompertz : Lt = a.ebt
6) Model von Bertalanffy : Lt = L [1 e-K(t to)]

Sebelumnya harus dilakukan pengujian ketepatan model:


n
2
=l/n (Lj -Lc )
i=1

Keterangan :
= error;
Lj = panjang yang didapat dari observasi;
Lc = panjang yang didapat dari perhitungan;
n = jumlah observasi
8

Ada dua prinsip umum matematik yang dapat digunakan untuk


memperlihatkan perubahan populasi yaitu difference equations (Goldberg 1958)
dan differential equations (Braun 1983), dimana pada difference equations waktu
dilihat sebagai indeks bilangan berurutan (ordinal indexs) dari titik yang
berlainan, sedang pada differential equation, waktu digunakan sebagai variabel
kontinyu.
A. Difference equation
Model yang sangat sederhana untuk menggambarkan pertumbuhan
populasi (atau penurunan) didasarkan pada assumsi bahwa populasi memiliki
rasio perubahan konstan dari satu titik waktu ke titik waktu lainnya, yang dapat
ditulis dalam persamaan matematik sebagai berikut:
(N t +1)/Nt = R ............(1.1)
Dengan R adalah ratio perubahan konstan (R > 0), t adalah indeks waktu
berbeda (t = 0,1,2, .....) dan Nt adalah kelimpahan populasi pada waktu (t).
Sehingga ukuran populasi pada waktu tertentu, t + 1 adalah kelipatan konstanta
(atau rasio) dari populasi pada waktu t, atau :
Nt+1 = Nt R ............(1.2)
Ukuran populasi menurun secara geometrik seiring dengan waktu ke suatu
ambang nilai 0 apabila R < 1, ukuran populasi tetap apabila R = 1, dan ukuran
populasi meningkat secara geometrik tanpa batas apabila R > 1, sehingga
berdasarkan alasan tersebut model ini dikenal sebagai Geometric Growth Law
(Goldberg 1958).
Pada nilai awal tertentu ukuran populasi, No pada t = 0, dapat dijabarkan
berdasar No, R dan t sebagai berikut:
N1 = N0R
N2 = N1R = N0R2
N3 = N2R = N1R2 = N0R3
Atau secara umum,
Nt = N0Rt
9

B. Diffrential equation
Differential equation adalah model alternatif yang dapat digunakan
menggambarkan perubahan populasi. Berbeda dengan pendekatan pada difference
equation, model differential equation fokus pada perubahan seketika
(instantenous change) daripada perubahan pada selang waktu (interval change),
dan pada calculus differential daripada calculus of finite difference. Analog
differential equation dapat diturunkan dari difference eqution (1.1). Berdasarkan
persamaan (1.2), ukuran populasi (population size) Nt + h untuk kenaikan yang
berubah-ubah (arbitrary increment), h adalah fungsi dari Nt ialah :
Nt+h =N0 Ri+h =N0 Ri Rh =Nt Rh

2.6 Estimasi Parameter-Parameter Persamaan Pertumbuhan Von


Bertalanffy (VBGF)
A. Ford Walford Plot
Metode sampel tunggal dikenal juga sebagai metode Petersen. Salah satu
metode sederhana untuk mengkaji parameter pertumbuhan Von Bertlanffy adalah
metode Ford Walford Plot. Dari semua metode yang digunakan untuk estimasi
parameter VBGF, metode Ford-Walford plot merupakan yang paling banyak
digunakan. Metode ini diintroduksi oleh Ford (1933) dan Walford (1946). Metode
ini didasarkan pada persamaan sebagai berikut (Gulland 1969):
Lt +T = L (1- e KT) + Lte-KT
K
Untuk T = 1 persamaan di atas menjadi Lt+1 = L(1- e ) + Lte-K
merupakan persamaan regresi linier.
Dengan: y = Lt+1 (panjang pada umur satu tahun lebih muda)
x = Lt (panjang pada umur satu tahun)
Lt = L (1-exp[-Kt]) ...........................(15)
Lt = L - L exp(-Kt)],
L - Lt = L exp(-Kt)] ........................(16)
Mengganti Lt dengan Lt+1 pada persamaan 16 di atas, diperoleh persamaan :
Lt +1 - Lt = L (1-exp[-Kt+1]) - L (1-exp[-Kt])
= - L exp[-Kt+1] + L exp[-Kt]
10

= L exp[-Kt] (1-exp[-K]) ........................(17)


Dengan memasukan persamaan 16 ke dalam persamaan 17 diperoleh persamaan :
Lt +1 - Lt = (L -- Lt) (1-exp[-K]) ...........................(18)
= L (1-exp[-K]) - (Lt -- Lt exp[-K])
Lt +1 = L (1-exp[-K]) + Lt exp[-K] ........................(19)
Persamaan tersebut adalah persaman regresi linier, dengan Lt+1 sebagai
variabel dependen dan Lt sebagai variabel independen, sehingga :
K = - ln (b) ........................................(20)
L = a/(1-b) .......................................(21)
to = t + (1/K) ln [(L - Lt)/L] .........(22)
Jika Lt+1 diplot terhadap Lt didapat garis lurus (straight line) dengan slope
= e-K dan intersep = L(1 - e-K) pada garis 45o (Gambar.)

Gambar 3. Plot Ford Walford

Parameter L dan K dapat ditentukan secara langsung dari garis melalui


analisis regresi, sedangkan to dapat diestimasi dari persamaan sbb (Gulland
1969):
Lt = L[1 e-K(t-to)]
e-K(t-to) = L - Lt
to = t + 1/K log (L - Lt)/(L)
Contoh:
Tabel 2. Data panjang terhadap umur dari Atlantic yellowfin (Thunnus
albacares) untuk penggunaan plot Ford-Walford
11

Umur (tahun) FL (cm) Data disusun kembali untuk plot Ford-Walford


1 35 Lt ( = X) Lt+1 ( = Y)
2 55 35 55
3 75 55 75
4 90 75 90
5 105 90 105
6 115 105 115
Sumber : Pauly 1984

Metode sampel ganda disebut juga modal progression analysis (King


1995), dimana data frekuensi panjang dikumpulkan dari waktu yang berbeda,
kemudian disusun secara berurutan, dan modus dari kohort ditelusur
pergeserannya mengikuti aksis panjang. Selanjutnya King (1995) menyatakan
bahwa jika data dikumpulkan dengan interval waktu yang tidak sama, metode
Ford-Walfort plot tidak dapat digunakan. Mengatasi hal tersebut maka dapat
digunakan metode von Bertalanffy plot dan Gulland-Holtplot. Metode von
Bertalanffy plot yang digunakan untuk menganalisis data frekuensi panjang
sangat bagus untuk mengestimasi L. Untuk keperluan tersebut persamaan von
Bertalanffy dimanipulasi sebagai berikut:
Lt =L (1-exp(-K[t-t0 ]))
Lt /L =1-exp(-K[t-t0 ])
1-Lt /L =exp(-K[t-t0 ])
-ln(1-Lt /L ) =-Kt0 +Kt

B. Model Pertumbuhan Plot Von Bertalanffy


Persamaan tersebut adalah linier, dengan variabel dependennya adalah
-ln(1-Lt /L ) diplot dengan t sebagai variabel independen, sehingga K = b dan t0 =
-a/b. King (1995) selanjutnya menyatakan bahwa metode ini membutuhkan data
umur relatif dari kelompok modus yang nampak. Beberapa metode penentuan
nilai L telah banyak didiskusikan. Salah satunya seperti yang dilakukan Sparre
dan Venema (1998) adalah dengan menetapkan panjang dari 10 individu
terpanjang yang terdapat dalam sampel. Selanjutnya King (1995) mengemukakan
bahwa untuk menentukan umur relatif kelompok modus adalah dengan
12

mengestimasi jumlah minggu setelah lahir (yang didasarkan pada puncak musim
pemijahan).
Kurva pertumbuhan menggambarkan hubungan antara panjang dengan
umur, apabila menghubungkan setiap umur memiliki suatu panjang rata-rata
tertentu, maka nilai L dapat lebih kecil dari individu terpanjang dalam sampel.
Sebagai alternatif dengan mempertimbangkan hubungan antara umur dan panjang,
dengan menghubungkan untuk setiap panjang memiliki umur tertentu, maka :
t1 =t0 - 1K ln (1- 1L )
Berdasarkan Sparre dan Venema (1999) dalam Firdaus (2013) Dugaan
pertumbuhan panjang ikan dapat dihitung dengan model Von Bertalanffy sebagai
berikut.
A. Biopopulasi Pertumbuhan model Von Bertalanffy
Pertumbuhan ikan dianalisa menggunakan persamaan Von Bertalanffy
dengan pendekatan Gulland dan Holt Plot (1959) dalam Sparre et al (1999)
sebagai berikut :
Lt = L (1 exp-k(t-to))
Keterangan :
Lt : Panjang ikan pada umur t (cm)
L : Panjang infinitif (cm)
K : Koefisien pertumbuhan (per hari)
to : Dugaan umur teoritis ikan pada panjang nol

Gambar 4. Grafik Pertumbuhan Model Von Bertalanffy


13

B. Metode Least Squares


Analisa struktur umur menggunakan metode pergeseran kelas modus
dengan model Von Bertalanffy dalam Sparre et al (1999) yaitu :
(L/t) = (L2 L1) / (t2 t1)
L(t) = (L2 + L1)
Keterangan :
(L/t) : Pertumbuhan relatif
L : Panjang ikan
t : Selisih waktu
L(t) : Panjang rata-rata dari modus
Dengan memplotkan nilai L(t) dan (L/t) diperoleh persamaan garis
linear :
Y = a + bx
Dimana :
a = ((y/n) (b(x/n))
b = (n(xy) (x)(y) / (nx2 (x)2)
Nilai dari panjang rata-rata dari modus panjang dari metode tersebut untuk
menghitung asimtotik (L), koefisien pertumbuhan (K) yaitu :
K = -b
L = -a/b
Untuk mengetahui nilai umur teoritik to menggunakan persamaan Pauly
(1979) dalam Craig (1999) yaitu :
Log (-to) = 0,3922 0,2752 Log (L) 1,0382 Log K
Untuk mendapatkan umur relatif pada berbagai ukuran panjang digunakan
penurunan rumus model Von Bertalanffy oleh Gulland (1976) sebagai berikut :
-ln (1 Lt / L) = - K (to) + K (t)

C. Plot Gulland dan Holt


Kurva pertumbuhan menggambarkan hubungan antara panjang dengan
umur, apabila menghubungkan setiap umur memiliki suatu panjang rata-rata
tertentu, maka nilai L dapat lebih kecil dari individu terpanjang dalam sampel.
Sebagai alternatif dengan mempertimbangkan hubungan antara umur dan panjang,
dengan menghubungkan untuk setiap panjang memiliki umur tertentu, maka:
14

t1 = t0 1/K ln (1-1 / L)
Berdasarkan persamaan tersebut maka nilai L tidak akan lebih kecil dari
individu terpanjang dalam sampel. Gulland dan Holt (1959) dalam Sparre et
al(1999) mengenalkan suatu metode dengan mengasumsikan bahwa laju
pertumbuhan dalam panjang dl/dt, merupakan suatu fungsi linier dari panjang,
secara matematik dapat digambarkan sebagai:
dL
= K (L l)
dT
Dimana: L adalah panjang untuk dL/dT = 0.
Metode ini sangat membantu untuk menganalisis parameter pertumbuhan
dari data frekuensi panjang dengan interval waktu yang tidak sama. Secara
matematik metode Gulland dan Holt dapat ditulis sebagai :
L2 L1
= k L - k I
t2 t1
Contoh:
Tabel 3. Input data untuk plot Gulland dan Holt dan analisis regresi

Sumber : Sparre et al. 1989


15

Gambar 5. Plot Gulland dan Holt sesuai Tabel 2 (contoh hipotetis)


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pemaparan tentang pertumbuhan populasi ikan adalah
sebagai berikut:
a. Pertumbuhan populasi dapat pula didefinisikan sebagai peningkatan biomassa
suatu populasi yang dihasilkan oleh akumulasi bahan-bahan yang ada dalam
lingkungannya.
b. Ada empat fase/tingkat pola pertumbuhan yakni fase larva, fase juvenile, fase
linear, dan fase dewasa.
c. Perubahan ukuran panjang dan bobot ikan diantaranya pada pertumbuhan
mutlak, relatif, dan laju peningkatan sesaat.
d. Hubungan panjang dan bobot dapat dilihat dari nilai konstanta b, jika b = 3
hubungan yang terbentuk adalah isometrik. Dan jika b 3 maka hubungan
yang terbentuk adalah allometrik.
e. Terdapat dua macam model matematik untuk menghitung pertumbuhan
panjang dan bobot ikan yakni model yang berhubungan dengan bobot, dan
model yang berhubungan dengan panjang.
f. Estimasi parameter-parameter persamaan pertumbuhan von Bertalanffy
(VBGF) memiliki beberapa metode yakni Ford Walford Plot, Plot Von
Bertalanffy, metode Least Squares, dan Plot Gulland dan Holt.

3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah selanjutnya diharapkan mahasiswa memiliki
topik-topik baru serta pembahasan yang lebih luas lagi sebagai wujud nyata
eksplorasi pengetahuan yang tiada henti-hentinya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Effendi, H., 2002. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. KanisiusF; Yogyakarta.

Effendie, MI. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Cetakan Pertama. Bogor:


Yayasan Dewi Sri.

Effendie, M. I.. 1997. Biologi Perikanan, Yayasan Pustaka Nusatama.


Yogyakarta.

Effendie, MI. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.

Firdaus M., G. Salim, dkk. 2013. Analisis Pertumbuhan dan Struktur Umur Ikan
Nomei (Harpadon nehereus) di Perairan Juata Kota Tarakan. Jurnal
Akuatika. Universitas Borneo Tarakan (UBT) Vol. IV No. 2 Halaman 159
173.

Gulland, JA. 1974. The Management of Marine Fisheries. Bristol: Scientechnica


Publishers Ltd.

Hamsiah,Ekologi tanaman.http://fp.uns.ac.id/~hamasains/ekotan%205.htm

King. 1996. Introduction to Fisheries Biology and Stock Assessement. Fishing


News (Books). London.

Poemono, T., 2002. Biologi Perikanan. Brawijaya, Malang.

Ricker, W.E. 1975. Computation and interpretation of biological statistics of fish


populations. Fish. Res. Bd. Can. Bull. 191: 382 pp.

Sparre, P & SC Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Buku 1:
Manual. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, penerjemah.
Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan.

Weatherley, AH. 1972. Growth and Ecology of Fish Populations. London:


Academic Press Inc.

17

Anda mungkin juga menyukai