Anda di halaman 1dari 33

i

MAKALAH
INTEGRASI PROSES KEPERAWATAN DAN DIAGNOSA
KEPERAWATAN DIDALAM KERANGKA KERJA HOLISTIK

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata kuliah


Keperawatan Kritis

Disusun Oleh :

Amalul Ahli 1033161001


Akhlun Naza 1033161003
M. Rezky Aryadie 1033161002

PROGRAM STUDI S1 KEP


KERAWATAN FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS
MH.THAMRIN JAKARTA
2017

i
ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur yang sedalam-dalamnya kita curahkan kehadirat Allah


SWT yang telah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta sholawat
dan salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul Integrasi proses
keperawatan dan diagnosa keperawatan didalam kerangka kerja holistik .
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi syarat salah
satu tugas mata kuliah Keperawatan Kritis 1.

Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan rasa terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan
dan bimbingan baik berupa moral, spiritual maupun material sehingga makalah ini
dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penyusunan makalah ini, saya selaku penulis menyadari dengan


sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna baik dari segi isi
maupun cara penulisan. Oleh karena itu dengan rendah hati dan terbuka, penulis
menerima saran dan kritik yang sifatnya membangun dan bermanfaat untuk lebih
baiknya karya ilmiah ini di kemudian hari.Akhir kata, penulis berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, memberikan informasi bagi
teman-teman dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan
ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Jakarta, 30 September 2017

Penulis

ii
iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................ii

DAFTAR ISI......................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................1

1.1 Latar Belakang.................................................................... 1

1.2 Tujuan .................................................................................2

1.3 Manfaat ................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN....................................................................4

2.1 Konsep Holistik : Pengalaman Pasien kritis .......................4

2.2 Aspek - aspek Legal dalam keperawatan kritis...................9

2.3 Prinsip pengelolaan Keperawatan kritis..............................22

BAB III PENUTUP............................................................................29

3.1 Kesimpulan...........................................................................29

3.2 Saran.....................................................................................29

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelayanan kesehatan sedang dan terus mengalami perubahan seiring dengan


perkembangan ilmu dan teknologi dibidang kesehatan serta bertambah
kompleksnya masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat. Lingkungan
pelayanan kesehatan yang terus berubah menjadikan tantangan tersendiri baik
bagi pemberi pelayanan kesehatan maupun klien sebagai konsumen layanan
kesehatan. Kepekaan petugas kesehatan terhadap kecepatan dan ketepatan layanan
dengan mengembangkan berbagai inovasi merupakan kunci bagi tercapainya
pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau

Keperawatan kritis merupakan area spesialistik dari keperawatan yang


dikembangkan untuk menjawab tantangan dan kebutuhan klien dengan masalah
kesehatan akut dan mengancam jiwa yang memerlukan perawatan secara intensif
(Urden, Stacy, & Lough, 2006). Perkembangan teknologi dan intervensi medis
untuk pemulihan pasien-pasien kritis telah berdampak pada meningkatnya
pengakuan akan pentingnya peran keperawatan dalam mengobservasi dan
monitoring pasien-pasien kritis. Bahkan, dokter akan sangat tergantung pada
perawat dalam mengawasi perubahan-perubahan yang terjadi pada pasien kritis
termasuk melakukan penanganan awal ketika dokter tersebut tidak ada di tempat.

Keyakinan keperawatan akan nilai-nilai holistik dan humanistik dalam pelayanan


kesehatan sebetulnya sudah ditanamkan sejak masa Florence Nightingale yang
hidup pada tahun 1820 sampai 1910 (Dossey, Keegan, & Guzzetta, 2000).
Florence mengajarkan bahwa fokus keperawatan adalah keutuhan klien sebagai
manusia (unity), kesehatan dan kebaikan (wellness), dan hubungan timbal balik
antara manusia dan lingkungannya (Mariano, 2007). Namun, perkembangan
keperawatan setelah masa Florence Nightingale banyak mengalami pasang surut
dan lebih didominasi atau diarahkan oleh perkembangan kedokteran yang lebih

1
menekankan pada aspek-aspek biomedis. Hal inilah yang mendorong para pemikir
dan ilmuwan keperawatan untuk merevitalisasi keyakinan keperawatan holistik
dan mengimplementasikannya dalam tatanan praktik keperawatan secara nyata.
Upaya-upaya yang ditempuh untuk mewujudkan hal tersebut, diantaranya melalui
penelitian-penelitian untuk pengembangan teori-teori keperawatan holistik,
pengembangan terapi modalitas keperawatan berbasis keyakinan holistik, aplikasi
konsep holistik ke tatanan nyata praktik keperawatan, serta pengembangan
kurikulum pendidikan perawat

Mengingat pentingnya menggugah kesadaran dan motivasi perawat untuk


merevitalisasi nilai-nilai keperawatan holistik dan menerapkannya diberbagai
tatanan pelayanan keperawatan termasuk di area keperawatan kritis, maka
diperlukan adanya upaya-upaya yang sungguhsungguh untuk menggali,
memahami, dan mengimplementasikan nilai-nilai keperawatan holistik sekaligus
melakukan evaluasi dan refleksi terhadap praktik-praktik layanan keperawatan
yang sudah diberikan, apakah sudah bisa memenuhi kebutuhan klien secara
komprehensif, utuh, dan berkualitas, sehingga kalaupun penyakitnya tidak bisa
disembuhkan, namun klien dan keluarganya merasakan kepuasan akan layanan
keperawatan yang diberikan. Makalah ini bertujuan menyajikan kajian-kajian
tentang konsep dan nilai-nilai keperawatan holistik, serta upaya-upaya yang bisa
dilakukan dalam menerapkan nilai-nilai tersebut ke tatanan praktik keperawatan
khususnya di area keperawatan kritis.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui dan memahami bagaimana Konsep holistik, aspek - aspek
legal dan prinsip pengelolaan keperawatan kritis
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui dan memahami Definisi konsep holistik keperawatan kritis
2. Mengetahui dan memahami Aspek - aspek legal keperawatan kritis
3. Mengetahui dan memahami Prinsip pengelolaan keperawatan kritis

2
1.3 Manfaat
a. Menambah wawasan mahasiswa tentang Konsep holistik pengalaman pasien
dengan penyakit kritis, aspek - aspek legal dan prinsip pengelolaan
keperawtan kritis
b. Mengetahui masalah-masalah konsep yang berkaitan dengan konsep holistik,
aspek - aspek legal dan prinsip pengelolaan keperawatan kritis

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP HOLISTIK : PENGALAMAN PASIEN KRITIS

Kata holistic berasal dari bahasa Yunani holos (whole, wholism) yang berarti
satu kesatuan yang utuh (Dossey, Keegan, & Guzzetta, 2000). Hal ini berarti
manusia holistik adalah suatu kesatuan yang utuh, lebih dari atau bukan hanya
merupakan gabungan dari beberapa komponen penyusunnya. Asosiasi Perawat
Holistik Amerika (2007) mendefinisikan keperawatan holistik sebagai praktik
keperawatan yang menekankan pada penyembuhan (healing) dari manusia secara
utuh yang meliputi aspek badan (body), jiwa (spirit), dan pikiran (mind).
Keperawatan holistik didedikasikan untuk meningkatkan kesehatan dan
kesejahteraan individu, masyarakat, dan lingkungan. Keperawatan holistik
merupakan suatu pendekatan yang berpusat pada orang dengan menyertakan
konsep-konsep holism, healing, dan transpersonal caring sebagai konsep inti.
Praktik keperawatan holistik lebih menekankan pada perawatan mandiri (self-
care), itikad kuat (intentionality), keberadaan atau menghadirkan diri secara utuh
(presence), kesadaran penuh (mindfulness), dan menggunakan diri sebagai agen
terapi, sebagai landasan bagi praktik keperawatan professional (Hess, Bark, &
Southhard, 2010). Terdapat lima nilai inti dari keperawatan holistik, yaitu 1)
filosofi holistik dan pendidikan, 2) etika holistik dan riset, 3) perawatan mandiri
perawat, 4) komunikasi holistik, lingkungan terapetik dan mampu budaya, dan 5)
proses caring holistik (Frisch, 2009).

Perawat holistik harus terus berkarya untuk menciptakan lingkungan kerja yang
sehat bagi dirinya dan orang lain. Mereka juga memiliki komitmen untuk
mengembangkan praktik dan kebijakan yang lebih humanistik di tatanan
pelayanan kesehatan. Perawat holistik menyadari akan pentingnya perawatan
mandiri, mereka menghargai dirinya sendiri dan memobilisasi sumber daya yang
ada untuk merawat dirinya sendiri (Asosiasi Perawat Holistik Amerika, 2007).
Perawatan mandiri dalam konteks ini adalah suatu proses aktif untuk mencapai

4
tingkat kesehatan dan kesejahteraan optimal melalui cara-cara saling melengkapi,
mendukung, dan memberdayakan. Perawat holistik berkomitmen untuk belajar
terus menerus, mengembangkan peribadi dan professional dalam rentang yang
berkelanjutan

2.1.1 KARAKTERISTIK PASIEN DI UNIT PERAWATAN KRITIS

Seseorang yang masuk ke Unit Perawatan Kritis umumnya merupakan hal yang
tidak diperkirakan sebelumnya. Situasi lingkungan yang asing, peralatan-peralatan
yang kompleks, kondisi pasien kritis lain yang lebih dahulu dirawat, dan personel
yang belum dikenal sebelumnya dapat merupakan sumber stress bagi pasien dan
keluarganya. Pasien kritis adalah pasien yang beresiko tinggi mengalami masalah
kesehatan yang mengancam jiwa baik aktual maupun potensial (Urden, Stacy, &
Lough, 2006). Pasien-pasien tersebut memerlukan perawatan yang intensif dan
pengawasan yang ketat dari para perawat dan petugas medis.

Perubahan-perubahan fungsi normal akibat dari perkembangan penyakit, obat-


obat sedatif, alat-alat bantu termasuk ventilator mekanik, dapat berkontribusi
terhadap kemungkinan perubahan status mental pasien (Urden, Stacy, & Lough,
2006). Gangguan tidur dan rangsangan yang berlebihan dari lingkungan dapat
juga memperberat kemampuan kognitif pasien untuk memahami informasi,
belajar, membuat keputusan, dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Hal
ini berdampak pada ketentuan pengambilan keputusan, misalnya informed
consent, yang tidak mungkin dilakukan oleh pasien sendiri, dan biasanya
diwakili oleh keluarga terdekat.

Selain masalah kesehatan fisik yang mendominasi pasien-pasien kritis, masalah


psykososial juga bisa terjadi pada pasien-pasien kritis. Masalah ini umumnya
muncul akibat stressor tinggi dan kemampuan koping pasien terbatas untuk
mengatasi permasalahan tersebut. Walaupun pengalaman pasien bervariasi dari
individu ke individu, pasien dengan penyakit kritis minimal harus berhadapan
dengan salah satu situasi sebagai berikut (Urden, Stacy, & Lough, 2006):

5
Ancaman kematian
Ancaman bisa bertahan hidup namun dengan masalah sisa atau keterbatasan
akibat penyakit -Nyeri atau ketidaknyamanan
Kurang tidur
Kehilangan kemampuan untuk mengekpresikan diri secara verbal karena
terintubasi -Keterpisahan dengan keluarga/orang yang dicintai
Kehilangan autonomy/kemandirian dalam aktivitas hidup sehari-hari
Kehilangan control terhadap lingkungan
Kehilangan peran yang biasa dijalankan
Kehilangan harga diri
Kecemasan
Bosan, frustasi, dan pikiran-pikiran yang negative
Distress spiritual

Berat ringannya efek stressor tersebut dan respon pasien yang dimunculkan, akan
sangat tergantung pada faktor-faktor:

Lamanya terpapar stressor (akut atau kronis)


Efek kumulatif dari stressor yang simultan
Sekuen/urutan datangnya stressor
Pengalaman sebelumnya terpapar stressor dan keefektifan strategi koping
Besarnya dukungan sosial

Stress, apapun bentuknya baik itu fisik, psikologis, maupun sosial, dapat
menimbulkan respon secara fisik. Beberapa literature mengungkap adanya
hubungan antara interaksi pikiran/jiwa dan badan dengan respon kekebalan tubuh
terhadap stress (Osho, 1994; Urden, Stacy, & Lough, 2006).

2.1.2 PERAWATAN HOLISTIK DAN MODEL SINERGI DI UNIT


PERAWATAN KRITIS

Penerapan perawatan holistik memerlukan pertimbangan dari berbagai faktor baik


individu maupun lingkungan yang mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan

6
pasien dan kemampuan koping dalam menghadapin situasi krisis seperti kondisi
sakit baik akut maupun kronis. Untuk bisa memenuhi hal tersebut, perawat
memerlukan dasar pengetahuan yang handal tentang anatomi fisiologi, proses
penyakit, regimen tindakan, perilaku, spiritualitas, dan respon manusia. Perawat
kritis tidak hanya mampu bekerja dengan teknologi tinggi, melainkan juga harus
tahu pasien dalam artian memahami pasien seutuhnya agar bisa memberikan
asuhan keperawatan yang humanistik, individual, dan holistik.

Nilai presence atau menghadirkan diri secara utuh untuk membantu pasien,
merefleksikan salah satu aspek dari caring dalam keperawatan. Caring juga dapat
meliputi mengidentifikasi masalah pasien secara dini, memutuskan dan
melaksanakan intervensi yang tepat yang didasarkan pada pemahaman terhadap
pengalaman pasien sebelumnya, aspek keyakinan dan budaya pasien, pola
perilaku, perasaan, dan kecenderungan pasien. Penelitian yang dilakukan Jenny
dan Logan (1996) mengungkap perilaku caring perawat menurut pasien adalah
diantaranya mengurangi ketidaknyamanan, pembelaan (advocacy), member
dukungan (encouragement), dan menghormati pasien sebagai individu yang unik.
Seni dari caring memerlukan keterampilan dalam komunikasi dan hubungan
interpersonal, komitment peribadi, dan kemampuan untuk menjalin hubungan
saling percaya.

Keterampilan interpersonal sangatlah diperlukan oleh perawat dalam


mengaplikasikan perawatan holistik. Wysong dan Driver (2009) melakukan
penelitian tentang keterampilan apa saja yang perlu dimiliki oleh perawat di unit
kritis menurut persepsi pasien, hasilnya mengungkap beberapa atribut
kemampuan interpersonal, yaitu:

Ramah, ceria, senyum,gembira


Perduli, baik, kasih sayang
Percaya diri
Memperlakukan pasien sebagai manusia
Mencintai pekerjaan

7
Berjiwa humor
Memiliki waktu untuk pasien
Terorganisir
Memiliki ingatan yang baik
Rapih penampilan fisik
Baik dalam bertutur/menggunakan bahasa
Pendengar yang baik
Menyenangkan/memberikan kenyamanan
Kontak emosional

Disamping atribut skill interpersonal, ada atribut berpikir kritis yang penting
dimiliki oleh seorang perawat kritis, diantaranya:

Mampu membuat keputusan klinis yang akurat


Dapat mengkaji situasi dan mengambil tindakan yang tepat
Menggunakan akal sehat (logika)
Memberikan jawaban dan informasi yang jelas
Menawarkan saran dan arahan
Memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan, kondisi klinis, dan
pengobatan.

Sejak tahun 1999, Asosiasi Perawat Kritis Amerika telah mengembangkan dan
menerapkan model yang disebut Synergy Model untuk mengaitkan antara
praktik perawat kritis tersertifikasi dengan luaran pelayanan keperawatan (Relf &
Kaplow, NA). Model sinergi menjelaskan praktik keperawatan berdasar pada
kebutuhan dan karakteristik pasien daripada berdasarkan penyakit dan terapi
modalitas. Premis atau keyakinan yang mendasaari adalah bahwa kebutuhan dan
karakteristik pasien dan keluarga akan mempengaruhi dan mengarahkan
karakteristik dan kompetensi perawat. Karena setiap pasien memiliki karakteristik
unik dalam situasi klinis tertentu, perawat harus merespon dengan karakteristik
dan kompetensi yang unik pula. Apabila karakteristik pasien cocok dengan
kompetensi yang ditampilkan perawat, maka luaran pasien yang optimal dan

8
sinergi bisa tercapai. Dua ajaran utama dari model ini, yaitu; karakteristik pasien
merupakan perhatian utama bagi perawat, dan kompetensi perawat merupakan hal
terpenting bagi pasien.

Meskipun setiap pasien dan keluarga memiliki keunikan, namun mereka memiliki
kesamaan kebutuhan dan pengalaman dalam suatu rentang continuum dari rendah
ke tinggi. Semakin berat gangguan pasien, semakin kompleks permasalahan yang
dialami pasien. Praktik keperawatan ditentukan oleh kebutuhan pasien dan
keluarga. Asuhan keperawatan merupakan refleksi perpaduan dari pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
pasien dan keluarga. Model sinergi berfokus pada kontribusi unik dari
keperawatan terhadap asuhan pasien dengan menekankan pada peran professional
perawat.

Ada 8 karakteristik pasien dan 8 kompetensi perawat yang bersinergi dalam suatu
rentang continuum dari competent ke ahli, serta mencerminkan hubungan yang
harmonis antara pasien dan keluarga, dan pasien dan perawat. Model tersebut
seperti tergambar dalam gambar berikut:

Gambar 1: Hubungan antara pasien/keluarga dan perawat dan Model Sinergi (Relf
& Kaplow, NA)

9
2.2 ASPEK - ASPEK LEGAL DALAM KEPERAWATAN KRITIS

Merupakan aspek mengenai hak dan tanggung jawab legal terkait dengan praktik
keperawatan kritis yang merupakan hal penting bagi perawat dan pasien.

Perawat ruang intensif/kritis harus memberikan pelayanan keperawatan yang


mencerminkan pemahaman akan aspek etika dan legal keperawatan yang
mencerminkan pemahaman akan aspek etika dan legal kesehatan. Perawat ruang
kritis harus bekerja sesuai dengan aturan yang ada (standar rumah sakit/standar
pelayanan maupun asuhan keperawatan).

Adapun beberapa aspek legal dalam keperawatan kritis :

2.2.1 AREA HUKUM

Menurut Morton & Fontaine (2009) terdapat tiga area hukum yang mempengaruhi
praktik perawat perawatan kritis, yaitu hukum adminstrasi, hukum sipil, dan
hukum pidana.

A. Hukum Adminstrasi
Hukum adminstrasi merupakan suatu konsekuensi hukum dan regulasi negara
bagian dan federal yang terkait dengan praktik perawat. Di negara bagian terdapat
suatu badan legislasi yang berfungsi untuk mengukuhkan akta praktek perawat.
Dalam tiap akta tersebut, praktik keperawatan didefinisikan, dan kekuasaannya
didelegasikan pada lembaga negara bagian biasanya disebut dengan State Board
of Nursing. Lembaga ini berfungsi menyusun regulasi yang mengatur mengenai
bagaimana penafsiran dan implementasi dari akta praktek perawat seharusnya.

B. Hukum Sipil
Hukum sipil merupakan area kedua hukum yang mempengaruhi praktik
keperawatan. Salah satu area khusus hukum sipil, hukum kerugian, membentuk
landasan dari sebagian besar kasus sipil yang melibatkan perawat.

10
C. Hukum Pidana
Area ketiga hukum yang relevan dengan praktik keperawatan adalah hukum
pidana. Berbeda dengan hukum sipil, dimana individu yang satteru menuntut
individu yang lain, hukum pidana terdiri atas kasus tuntutan hukum yang diajukan
oleh negara bagian, pemerintah federal atau setempat terhadap perawat. Dalam hal
ini yang termasuk kasus pidana adalah penyerangan dan pemukulan, pembunuhan
akibat kelalaian, dan pembunuhan murni.

Di Indonesia pengaturan sanksi pidana secara umum diatur dalam beberapa pasal
pada KUH Pidana dan pengaturan secara khusus dapat dijumpai pada pasal 190-
200 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Oleh sebab itu, undang-
undang kesehatan memungkinkan diajukannya tuntutan kepada tenaga kesehatan
yang melakukan kesalahan atau kelalaian ketika menjalankan tugas pelayanan
kesehatan. Tuntutan itu dapat berupa gugatan untuk membayar ganti rugi kepada
korban atau keluarganya. Adapun dasar peraturan yang terdapat dalam Undang-
Undang tentang kesehatan yaitu Pasal 58 ayat (1) yang berbunyi. Setiap orang
berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang tenaga kesehatan dan/atau
penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau
kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya

2.2.2 PRINSIP ETIK DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Sebagaimana yang tercermin dalam model pengambilan keputusan, prinsip-
prinsip etika yang relevan harus dipertimbangkan ketika dilema etik
muncul. Terdapat beberapa prinsip-prinsip etik yang terkait dam pengaturan
perawatan kritis, prinsip-prinsip ini dimaksudkan untuk memberikan hormat dan
martabat bagi semua yang terlibat dalam pengambialn keputusan.

A. Menghargai otonomi (facilitate autonomy)


Suatu bentuk hak individu dalam mengatur kegiatan/prilaku dan tujuan hidup
individu. Kebebasan dalam memilih atau menerima suatu tanggung jawab
terhadap pilihannya sendiri. Prinsip otonomi menegaskan bahwa seseorang

11
mempunyai kemerdekaan untuk menentukan keputusan dirinya menurut rencana
pilihannya sendiri. Bagian dari apa yang didiperlukan dalam ide terhadap respect
terhadap seseorang, menurut prinsip ini adalah menerima pilihan individu tanpa
memperhatikan apakah pilihan seperti itu adalah kepentingannya. (Curtin, 2002).
Permasalahan dari penerapan prinsip ini adalah adanya variasi kemampuan
otonomi pasien yang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tingkat kesadaran, usia,
penyakit, lingkungan Rumah SAkit, ekonomi, tersedianya informsi dan lain-lain.
Contoh: Kebebasan pasien untuk memilih pengobatan dan siapa yang berhak
mengobatinya sesuai dengan yang diinginkan.

B. Kebebasan (freedom)
Prilaku tanpa tekanan dari luar, memutuskan sesuatu tanpa tekanan atau paksaan
pihak lain (Facione et all, 1991). Bahwa siapapun bebas menentukan pilihan yang
menurut pandangannya sesuatu yang terbaik. Contoh : Klien dan keluarga
mempunyai hak untuk menerima atau menolak asuhan keperawatan yang
diberikan.

C. Kebenaran (Veracity) truth


Melakukan kegiatan/tindakan sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika yang tidak
bertentangan (tepat, lengkap). Prinsip kejujuran menurut Veatch dan Fry (1987)
didefinisikan sebagai menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak bohong. Suatu
kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya atau untuk tidak membohongi
orang lain. Kebenaran merupakan hal yang fundamental dalam membangun
hubungan saling percaya dengan pasien. Perawat sering tidak memberitahukan
kejadian sebenarnya pada pasien yang memang sakit parah. Namun dari hasil
penelitian pada pasien dalam keadaan terminal menjelaskan bahwa pasien ingin
diberitahu tentang kondisinya secara jujur (Veatch, 1978). Contoh : Tindakan
pemasangan infus harus dilakukan sesuai dengan SOP yang berlaku dimana klien
dirawat.

12
D. Keadilan (Justice)
Hak setiap orang untuk diperlakukan sama (facione et all, 1991). Merupakan
suatu prinsip moral untuk berlaku adil bagi semua individu. Artinya individu
mendapat tindakan yang sama mempunyai kontribusi yang relative sama untuk
kebaikan kehidupan seseorang. Prinsip dari keadilan menurut beauchamp dan
childress adalah mereka uang sederajat harus diperlakukan sederajat, sedangkan
yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak sederajat, sesuai dengan kebutuhan
mereka. Ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar, maka
menurut prinsip ini harus mendapatkan sumber-sumber yang besar pula, sebagai
contoh: Tindakan keperawatan yang dilakukan seorang perawat baik dibangsal
maupun di ruang VIP harus sama dan sesuai SAK

E. Tidak Membahayakan (Nonmaleficence)


Tindakan/ prilaku yang tidak menyebabkan kecelakaan atau membahayakan orang
lain.(Aiken, 2003). Contoh : Bila ada klien dirawat dengan penurunan kesadaran,
maka harus dipasang side driil.

F. Kemurahan Hati (Benefiecence)


Menyeimbangkan hal-hal yang menguntungkan dan merugikan/membahayakan
dari tindakan yang dilakukan. Melakukan hal-hal yang baik untuk orang lain.
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan orang
lain/pasien. Prinsip ini sering kali sulit diterapkan dalam praktek keperawatan.
Berbagai tindakan yang dilakukan sering memberikan dampak yang merugikan
pasien, serta tidak adanya kepastian yang jelas apakah perawat bertanggung jawab
atas semua cara yang menguntungkan pasien.Contoh: Setiap perawat harus dapat
merawat dan memperlakukan klien dengan baik dan benar.

G. Confidentiality
Yang dimaksud confidentiality adalah menjaga privasi atau rahasia klien, segala
sesuatu mengenai klien boleh diketahui jika digunakan untuk pengobatan klien

13
atau mendapat izin dari klien. Sebagai perawat kita hendaknya menjaga rahasia
pasien itutanpa memberitahukanya kepada orang lain maupun perawat lain.

Perawat memiliki komitmen menyeluruh tentang perlunya mempertahankan


privasi dan kerahasiaan pasien sesuai kode etik keperawatan. Beberapa hal terkait
isu ini yangsecara fundamental mesti dilakuakan dalam merawat pasien adalah :

Jaminan kerahasiaan dan jaminan pelayanan dari informasi kesehatan yang


diberikanharus tetap terjaga
Individu yang menyalahgunakan kerahsiaan, keamanan, peraturan dan
informasi dapatdikenakan hukuman / legal aspek

2.2.3 INFORMED CONSENT


Informed consent merupakan suatu persetujuan tindakan medis terhadap suatu hal
yang dapat dilakukan pada dirinya. Informed consent dinyatakan valid jika
memenuhi tiga elemen yaitu : pasien harus kompeten atau sadar untuk
menyetujui, pasien harus diberikan informasi yang adekuat sehingga mampu
mengambil keputusan, dan pasien pada saat pengambilan keputusan harus bebas
dari ancaman atau paksaan (Khan, Haneef, 2010).

Menurut Kepmenkes Nomor 290 Tahun 2008 tentang persetujuan tindakan


kedokteran, pasien yang kompeten adalah pasien dewasa atau bukan anak
menurut peraturan perundang-undangan atau telah/pernah menikah, tidak
terganggu kesadaran fisiknya, mampu berkomunikasi secara wajar, tidak
mengalami penyakit menyal sehingga mampu membuat keputusan secara bebas.

Namun, pada beberapa keadaan, persetujuan tindakan tersebut tidak diperlukan.


Sebagai contoh keadaan darurat yang tidak membutuhkan persetujuan tindakan
dan pasien dapat melepaskan haknya untuk memberikan persetujuan tindakan
dengan menyatakan ia tidak menginginkan informasi mengenai rencana terapi
atau prosedur (Morton, 2009).

14
Menurut Iwanowsky (2007), pengkajian dari kompetensi pasien untuk
memberikan informed consent merupakan isu yang terpisah. Sebuah hasil survei
yang cukup unik dilakukan pada Swedish Acute Coronary Trialist mengenai
pendapat tentang kompetensi pasien gawat darurat, bahwa sebanyak 86% dari
mereka berpikir bahwa pasien SKA tidak akan mampu menerima informasi
dengan baik terkait penjelasan tentang informed consent itu sendiri. Namun, 68%
dari mereka berpikir bahwa jumlah informasi yang biasanya mereka berikan
kepada pasien sudah cukup banyak. Hasil ini sepertinya menunjukkan apa yang
banyak dipikirkan dan dirasakan oleh physicians lainnya diluaran sana khususnya
dalam memberikan informed consent : seperti halnya pasien yang berkurang
kompetensinya, bahkan yang lebih parah lagi kebanyakan dari mereka tidak
membacakan lembar informed consent ini. Jadi poin yang terpenting dari hasil
penelitian ini adalah bahwa defisit dari kompetensi seorang pasien tidak mudah
untuk dideteksi dengan pemeriksaan medis rutin.

Biasanya, memperoleh persetujuan tindakan dari pasien atau keluarga adalah


tanggung jawab dokter, namun perawat sering diminta untuk menyaksikan
penandatanganan formulir persetujuan tersebut. Pada kasus ini perawat bersaksi
bahwa tanda tangan pada formulir persetujuan tersebut adalah tanda tangan pasien
atau keluarga. ketika perawat menyaksikan seluruh penjelasan dokter mengenai
sifat terapi yang direncanakan, resiko, manfaat, dan kemungkin akibat perawat
dapat memberikan catatan pada formulir persetujuan tersebut atau pada catatan
perawat yang menyebutkan prosedur disaksikan (Morton, 2009).

2.2.4 DOKUMENTASI
Pepatah lama menyatakan bahwa, tidak melakukan dokumetasi berarti
tidak benar-benar melakukan keperawatan. Menurut hukum, jika sesuatu tidak di
dokumentasikan, berarti pihak yang bertanggung jawab tidak melakukan apa yang
seharusnya dilakukan. Jika perawat tidak melaksanaknnya atau menyelesaikan
suatu aktivitas atau mendokumentasikannya secara tidak benar,dia dapat dituntut
melakukan kelalaian atau malpraktik. Dokumentasikeperawatan harus dapat

15
dipercaya secara legal, yaitu harus memberika laporanyang akurat mengenai
perawatan yang diterima klien. Tappes, weiss, danwhitehead (2001) menyatakan
bahwa dokumentasi dapat dipercaya apabila memenuhi hal-hal sebagai berikut:

a. Dilakukan pada periode waktu yang sama, perawatan didokumentasikan pada


waktu perawatan diberikan.
b. Akurat, laporan yang akurat ditulis mengenai apa yang dilakukan oleh
perawat dan bagaimana klien berespons.
c. Jujur, dokumentasi mencakup laporan yang jujur mengenai apa yang
sebenarnya dilakukan atau apa yang sebenarnya diamati.
d. Tepat, apa saja yang dianggap nyaman oleh sesorang untuk dibahas
dilingkungan umum didokumentasikan.

2.2.5 ISU & MASALAH LEGAL DALAM KEPERAWATAN KRITIS

1) KEPUTUSAN TINDAKAN MEMPERTAHANKAN HIDUP

Bagi pasien yang menderita masalah kesehatan yang menyangkut kelangsungan


dan kualitas hidup diperlukan keputusan yang tidak mengesampingkan hak-hak
dari pasien. Masalah-masalah kritis seperti koma, kematian otak, CPR dan DNR
biasanya banyak memerlukan keputusan yang menyangkut dilema
etik. Keputusan yang diambil oleh tenaga medis harus sesuai dengan keinginan
dan keputusan yang telah disepakati dengan keluarga.

2) MASALAH KEMATIAN DAN MENJELANG AJAL


A. Patient self- determinatioan Act
Perawat dan pasien harus lebih awal dalam mendiskusikan surat resmi (advance
directives) dari pasien ketika kesehatan pasien masih dalam kondisi yang lebih
baik tidak dalam masa keritis. Hal ini dikarenakan keputusan yang akan diambil
akan lebih banyak membutuhkan waktu untuk mendiskusikan proses pembuatan
keputusan. Perawat harus menghormati keputusan dan keingnan pasien dalam
mengakhiri hidupnya, perawat juga harus menghormati persepsi pasien mengenai

16
kualitas hidup dalam perawatan diakhir hidupnya dan menurut keyakinan atau
adat dar masing masing pasien.

B. Advance directive
Pengajuan surat resmi adalah komunikasi spesifik tentang tindakan medic yang
dipilih oleh pasien.beberapa tipe pengajuan surat resmi yang biasa ada yaitu surat
perintah untuk melakukan DNR, perintah menghentikan kehidupan, surat wasiat
dll.hal ini penting bag perawat untuk mengetahui jenis surat atau perintah yang
ditandatangani atau dimiliki pasien dan pengajuan itu harus didikuti. Jika hal ini
tidak dipatuhi atau dilaksanakan akan mengakibatkan gugatan.

3) TRANSPLANTASI ORGAN DAN JARINGAN


Metode bedah semakin berkembang dan terapi obat immunosupresive semakin
efektif dalam meningkatkan jumlah maupun jenis organ dan jaringan yang
berhasil ditransplantasikan.

Profesi perawatan kritis harus memastikan bahwa keputusan untuk menarik


perawatan diri dibuat secara terpisah dari keputusan untuk menyumbangkan
organ. Disamping itu, donor jantung setelah kematian sering dilakukan dalam
operasi. anggota perawatan kritis perlu membuat rencana perawatan pasien
meninggal sebagai mana mestinya. pendonor harus meninggal sesuai dengan
kebijakan rumah sakit yang ditentukan sebelum pengadaan organ. Tidak adanya
proses pengadaan organ menjadi penyebab langsung kematian.

4) WRONGFUL DEATH
Menurut Urden (2010), wrongful death merupakan kematian pasien yang
disebabkan oleh kelalaian dari petugas kesehatan profesional ataupun dari
organisasi rumah sakit tersebut.
Contoh Kasus :
Tn. B, 67 tahun, datang ke rumah sakit dengan COPD stadium akhir, hipoksemia,
dan retensi karbondioksida dan memakai bantuan oksigen menggunakan nasal

17
kanul. Keadaan Umum Tn.B sudah sangat buruk. Perawat M datang dan
kemudian langsung melepaskan oksigen pasien dan mulai memindahkan pasien
ke ruangan sebelah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruangannya yang
sekarang. Keluarga meminta agar oksigen tetap dipasang, tapi Perawat M
mengatakan bahwa ruangannya sangat dekat. Setelah pasien dipindahkan ke bed
di ruangan yang baru tersebut, pasien didapati berhenti bernapas.

Dari kasus diatas menunjukkan kelalaian perawat karena melakukan pemindahan


pasien tanpa memasang oksigen dimana perawat tersebut tampak mengabaikan
keadaan umum pasien dan hal yang sangat mendasar dari kebutuhan dasar
manusia yaitu oksigenasi.

Oleh karena itu, untuk menghindari liabilitas wrongful death, penting sekali bagi
perawat untuk memperhatikan keadaaan akut dan kritis dari pasien, mengenali
tanda dan gejala dari komplikasi ataupun sesuatu yang membahayakan pasien,
dan kewenangan untuk melindungi pasien (Urden, 2010).

5) KELALAIAN DALAM KEPERAWATAN KRITIS


Kasus kelalaian dapat terjadi di berbagai tatanan dalam praktek keperawatan,.
Kasus-kasus seperti ini berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan
ilmu maupun kemajuan teknologi dalam bidang kesehatan, termasuk di dalamnya
dalam ranah praktek keperawatan kritis. Menurut Vestel KW (1995) dalam Ake
(2003), menyampaikan bahwa suatu perbuatan atau sikap tenaga kesehatan
dianggap lalai, bila memenuhi empat (4) unsur, yaitu:

A. Duty atau kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan atau untuk
tidak melakukan tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada situasi dan
kondisi tertentu. Seorang perawat perawatan kritis bertanggung jawab secara legal
dalam merawat pasien dalam kondisi apapun. Jika perawat tersebut gagal
memberikan perawatan sebagaimana mestinya sesuai dengan kondisi pasien,
perawat tersebut dianggap melakukan pelanggaran pada kewajibannya.

18
Contoh Kasus :
Seorang pasien yang dirawat di ICU dan baru saja dilakukan pemasangan chest
tube pada shift malam. Pada saat itu perawat lalai dalam melakukan monitoring
pasien dari pukul 23.00 sampai pukul 03.00, ketika dilakukan pengecekan
kembali pada pukul 03.00 didapatkan keadaan pasien memburuk, pasien
mengalami penurunan kesadaran, oksimetri buruk, dan tanda-tanda vital dalam
keadaan jelek. Kemudian klien mengalami henti nafas dan henti jantung, dan
kemudian segera dilakukan resusitasi pada pasien. Namun, ternyata pasien tetap
tidak terselamatkan

B. Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban


Pelanggaran kewajiban merupakan kegagalan untuk bertindak secara konsisten
sesuai standar perawatan (Urden, 2010). Menurut Morton & Fontaine (2009),
kelalaian terbukti benar atau salah dengan membandingkan perilaku perawat
dengan standar perawatan. Pada umumnya, kelalaian dapat berupa kelalaian biasa
atau kelalaian berat. Kelalaian biasa menunjukkan kecerobohan profesional,
sedangkan kelalaian berat menunjukkan bahwa perawat tersebut secara sengaja
dan sadar mengabaikan resiko bahaya yang telah diketahui pasien.

C. Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai
kerugian akibat dari layanan kesehatan yang diberikan oleh pemberi pelayanan.

D. Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata, dalam hal ini
harus terdapat hubungan sebab akibat antara penyimpangan kewajiban dengan
kerugian yang setidaknya menurunkan Proximate cause

6) EUTHANASIA
Euthanasia secara bahasa berasal dari bahasa Yunani eu yang berarti baik, dan
thanatos, yang berarti kematian (Utomo, 2003:177). Dalam bahasa Arab dikenal
dengan istilah qatlu ar-rahma atau taysir al-maut. Menurut istilah kedokteran,
euthanasia berarti tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang dialami

19
seseorang yang akan meninggal diperingan. Juga berarti mempercepat kematian
seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang
kematiannya (Hasan, 1995:145). Euthanasia sering di sebut juga dengan istilah
mercy killing / a good death (mati dengan tenang) .

Istilah untuk pertolongan medis adalah agar kesakitan atau penderitaan yang di
alami seseorang yang akan meninggal diperingan. Juga berarti mempercepat
kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang
kematiannya . Hal ini dapat terjadi karna pertolongan dokter atas permintaan
pasien atau keluarganya karna penderitaan yang sangat hebat, dan tiada akhir
ataupun tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit
tanpa menentu tersebut, tanpa memberikan pengbatan seperlunya . Euthanasia
pada hakikatnya adalah pencabutan nyawa seseorang yang menderita penyakit
parah atas dasar permintaan atau kepentingan orang itu sendiri. Euthanasia masih
menimbulkan problem keagamaan, hokum, dan moral di semua budaya dan tradisi
keagamaan

Euthanasia adalah kematian yang dialkukan sebelum waktunya yang biasa


dilakukan pada akhir kehidupan, masih banyak dibicarakan orang . euthanasia
biasanya berhubungan dengan pasien yang tak mempunyai harapan lagi
sedangkan pasien tersebut sangat menderita.

Suatu aspek yang penting tentang euthanasia adalah bahwa pengakhiran hidup
atau mengabaikan suatu tindakan yang dapat memperpanjang hidup seseorang,
yang dilaksanakan atas permintaan pasien yang bersangkutan . secara prinsip
dapat dapat dikatakan bahwa pasien yang bersangkutan adalah satu-satunya yang
dapat menyatakan bahwa hidupnya lebih lanjut baginya tak ada artinya dan tak
diharapkan lagi.

20
Ada empat metode euthanasia:
Euthanasia sukarela: ini dilakukan oleh individu yang secara sadar
menginginkan kematian.

Euthanasia non sukarela: ini terjadi ketika individu tidak mampu untuk
menyetujuikarena faktor umur, ketidak mampuan fisik dan mental

Euthanasia tidak sukarela: ini terjadi ketika pasien yang sedang sekarat
dapatditanyakan persetujuan,.

Bantuan bunuh diri: ini sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk
euthanasia.

Euthanasia dapat menjadi aktif atau pasif:


Euthanasia aktif menjabarkan kasus ketika suatu tindakan dilakukan dengan
tujuan untuk menimbulkan kematian

Euthanasia pasif menjabarkan kasus ketika kematian diakibatkan oleh


penghentian tindakan medis

21
2.3 PRINSIP PENGELOLAAN KEPERAWATAN KRITIS
Pasien kritis dengan perawatan di ruang ICU (Intensive Care Unit) memiliki
morbiditas dan mortalitas yang tinggi.Mengenali ciri-ciri dengan cepat dan
penatalaksanaan dini yang sesuai pada pasien beresiko kritis atau pasien yang
berada dalam keadaan kritis dapat membantu mencegah perburukan lebih lanjut
dan memaksimalkan peluang untuk sembuh (Gwinnutt, 2006 dalam Jevon dan
Ewens, 2009).Comprehensive Critical Care Department of Health-Inggris
merekomendasikan untuk memberikan perawatan kritis sesuai filosofi perawatan
kritis tanpa batas (critical care without wall), yaitu kebutuhan pasien kritis harus
dipenuhi di manapun pasien tersebut secara fisik berada di dalam rumah sakit
(Jevon dan Ewens, 2009). Hal ini dipersepsikan sama oleh tim pelayanan
kesehatan bahwa pasien kritis memerlukan pencatatan medis yang
berkesinambungan dan monitoring penilaian setiap tindakan yang
dilakukan.Dengan demikian pasien kritis erat kaitannya dengan perawatan intensif
oleh karena dengan cepat dapat dipantau perubahan fisiologis yang terjadi atau
terjadinya penurunan fungsi organ-organ tubuh lainnya (Rab, 2007).

2.3.1 DEFINISI KEPERAWATAN KRITIS


Ilmu perawatan kritis adalah bidang keperawatan dengan suatu fokus pada
penyakit yang kritis atau pasien yang tidak stabil. Perawat kritis dapat ditemukan
bekerja pada lingkungan yang luas dan khusus, seperti departemen keadaan
darurat dan unit gawat darurat (Wikipedia, 2013)

Keperawatan kritis adalah keahlian khusus di dalam ilmu perawatan yang


menghadapi secara rinci dengan manusia yang bertanggung jawab atas masalah
yang mengancam jiwa. Perawat kritis adalah perawat profesional yang resmi yang
bertanggung jawab untuk memastikan pasien dengan sakit kritis dan keluarga-
keluarga mereka menerima kepedulian optimal (American Association of Critical-
Care Nurses).

22
Keperawatan kritis adalah suatu bidang yang memerlukan perawatan pasien yang
berkualitas tinggi dan konperhensif. Untuk pasien yang kritis, waktu adalah vital.
Proses keperawatan memberikan suatu pendekatan yang sistematis, dimana
perawat keperawatan kritis dapat mengevaluasi masalah pasien dengan cepat.

Proses keperawatan adalah susunan metode pemecahan masalah yang meliputi


pengkajian, analisa, perencanaan ,implementasi, dan evaluasi. The American
Asosiation of Critical care Nurses (AACN) menyusun standar proses keperawatan
sebagai asuhan keperawatan kritikal.

2.3.2 Konsep Dasar Keperawatan Kritis menurut AACN


Scope critical care nursing menurut AACN (American Association of Critical
Care Nurse) dibagi 3 :

a. The critically ill patient


Masalah yang aktual dan potensial mengancam kehidupan pasien dan
membutuhkan observasi dan intervensi mencegah terjadinya komplikasi. Pasien
sakit kritis didefinisikan sebagai pasien yang beresiko tinggi untuk masalah
kesehatan aktual atau potensial mengancam jiwa. Semakin sakit kritis pasien,
semakin besar kemungkinan dia adalah untuk menjadi sangat rentan, tidak stabil
dan kompleks, sehingga membutuhkan kewaspadaan

b. The critical-care nurse


Perawat perawatan kritis praktek dalam pengaturan dimana pasien memerlukan
pengkajian yang kompleks, terapi intensitas tinggi dan intervensi
berkesinambungan. Perawat perawatan kritis mengandalkan pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman untuk memberikan perawatan kepada pasien dan
keluarga dan menciptakan lingkungan yang menyembuhkan, manusiawi dan
peduli.

23
c. The critical-care environment
Keistimewaan perawatan intensif dikembangkans ebagai konsekuensi dari
epidemi polio dari tahun 1950-an, ketika ventilasi mekanik luas diperlukan. Sejak
itu teknologi yang tersedia untuk mendukung pasien sakit kritis telah menjadi
lebih canggih dan kompleks, dan pentingnya unit perawatan intensif(ICU) dalam
sistem kesehatan.

2.3.3 Konsep keperawatan kritis

1. Tujuan
Untuk mempertahankan hidup (maintaining life).

2. Pengkajian
Dilakukan pada semua sistem tubuh untuk menopang dan mempertahankan
sistem-sistem tersebut tetap sehat dan tidak terjadi kegagalan.Pengkajian meliputi
proses pengumpulan data, validasi data, menginterpretasikan data dan
memformulasikan masalah atau diagnosa keperawatan sesuai hasil analisa data.
Pengkajian awal didalam keperawatan itensif sama dengan pengkajian umumnya
yaitu dengan pendekatan system yang meliputi aspek bio-psiko-sosial-kultural-
spiritual, namun ketika klien yang dirawat telah menggunakan alat-alat bantu
mekanik seperti Alat Bantu Napas (ABN), hemodialisa, pengkajian juga
diarahkan ke hal-hal yang lebih khusus yakni terkait dengan terapi dan dampak
dari penggunaan alat-alat tersebut.

3. Diagnosa keperawatan
Setelah melakukan pengkajian, data dikumpulkan dan diinterpretasikan kemudian
dianalisa lalu ditetapkan masalah/diagnosa keperawatan berdasarkan data yang
menyimpang dari keadaan fisiologis. Kriteria hasil ditetapkan untuk mencapai
tujuan dari tindakan keperawatan yang diformulasikan berdasarkan pada
kebutuhan klien yang dapat diukur dan realistis.

24
Ditegakkan untuk mencari perbedaan serta mencari tanda dan gejala yang sulit
diketahui untuk mencegah kerusakan/ gangguan yang lebih luas.

4. Perencanaan keperawatan
Perencanaan tindakan keperawatan dibuat apabila diagnosa telah diprioritaskan.
Prioritas maslah dibuat berdasarkan pada ancaman/risiko ancaman hidup (contoh:
bersihan jalan nafas tidak efektif, gangguan pertukaran gas, pola nafas tidak
efektif, gangguan perfusi jaringan, lalu dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasi
alternatif diagnosa keperawatan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan
(contoh: resiko infeksi, resiko trauma/injury, gangguan rasa nyaman dan diagnosa
keperawatan untuk mencegah, komplikasi (contoh: resiko konstifasi, resiko
gangguan integritas kulit). Perencanaan tindakan mencakup 4(empat) umsur
kegiatan yaitu observasi/monitoring, terapi keperawatan, pendidikan dan tindakan
kolaboratif. Pertimbangan lain adalah kemampuan untuk melaksanakan rencana
dilihat dari keterampilan perawat, fasilitas, kebijakan dan standar operasional
prosedur. Perencanaan tindakan perlu pula diprioritaskan dengan perencanaan ini
adalah untuk membuat efisiensi sumber-sumber, mengukur kemampuan dan
mengoptimalkan penyelesaian masalah.

5. Implementasi
Semua tindakan dilakukan dalam pemberian asuhan keperawatan terhadap klien
sesuai dengan rencana tindakan. Hal ini penting untuk mencapai tujuan. Tindakan
keperawatan dapat dalam bentuk observasi, tindakan prosedur terntentu, tindakan
kolaboratif dan pendidikan kesehatan. Dalam tindakan perlu ada pengawasan
terus menerus terhadap kondisi klien termasuk evaluasi prilaku.

Ditujukan terapi gejala-gejala yang muncul pertama kali untuk pencegahan krisis
dan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama sampai dapat
beradaptasi dengan tercapainya tingkat kesembuhan yang lebih tinggi atau terjadi
kematian.

25
6. Evaluasi
Evaluasi adalah langkah kelima dalam proses keperawatan dan merupakan dasar
pertimbangan yang sistematis untuk menilai keberhasilan tindkan keperawatan
dan sekaligus dan merupakan alat untuk melakukan pengkajian ulang dalam
upaya melakukan modifikasi/revisi diagnosa dan tindakan. Evaluasi dapat
dilakukan setiap akhir tindakan pemberian asuhan yang disebut sebagai evaluasi
proses dan evaluasi hasil yang dilakukan untuk menilai keadaan kesehatan klien
selama dan pada akhir perawatan. Evaluasi dicatatan perkembangan klien.
Dilakukan secara cepat, terus menerus dan dalam waktu yang lama untuk
mencapai keefektifan masing-masing tindakan/ terapi, secara terus-menerus
menilai kriteria hasil untuk mengetahui perubahan status pasien.

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pasien kritis prioritas pemenuhan


kebutuhan tetap mengacu pada hirarki kebutuhan dasar Maslow dengan tidak
meninggalkan prinsip holistic bio-psiko-sosio dan spritual.

Keperawatan kritis harus menggunakan proses keperawatan dalam memberikan


asuhan keperawatan :

A. Data akan dikumpulkan secara terus menerus pada semua pasien yang sakit
kritis dimanapun tempatnya.

B. Indentifikasi masalah/kebutuhan pasien dan prioritas harus didasarkan pada


data yang dikumpulkan.

C. Rencana asuhan keperawatan yang tepat harus diformulasikan.

D. Rencana asuhan keperawatan harus diimplementasikan menurut prioritas dari


identifikasi masalah atau kebutuhan.

E. Hasil dari asuhan keperawatan harus dievaluasi secara terus menurus.

26
7. Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi adalah catatan yang berisi data pelaksanaan tindakan keperawatan
atau respon klien terhadap tindakan keperawatan sebagai petanggungjawaban dan
pertanggunggugatan terhadap asuhan keperawatan yang dilakukan perawat kepada
pasien dari kebijakan. Dokumentasi keperawatan merupakan dokumentasi legal
dalam sistem pelayanan keperawatan, karena melalui pendokumentasikan yang
baik, maka informasi mengenai keadaan kesehatan klien dapat diketahui secara
berkesinambungan.

2.3.4 Prinsip keperawatan kritis


Pengatasan pasien kritis dilakukan di ruangan unit gawat darurat yang disebut
juga dengan emergency department sedangkan yang dimaksud dengan pasien
kritis adalah pasien dengan perburukan patofisiologi yang cepat yang dapat
menyebabkan kematian. Ruangan untuk mengatasi pasien kritis di rumah sakit
dibagi atas Unit Gawat Darurat (UGD) dimana pasien diatasi untuk pertama kali,
unit perawatan intensif (ICU) adalah bagian untuk mengatasi keadaan kritis
sedangkan bagian yang lebih memusatkan perhatian pada penyumbatan dan
penyempitan pembuluh darah koroner yang disebut unit perawatan intensif
koroner (Intensive Care Coronary Unit= ICCU). Baik UGD, ICU, maupun ICCU
adalah unit perawatan pasien kritis dimana perburukan patofisiologi dapat terjadi
secara cepat yang dapat berakhir dengan kematian. Sebenarnya tindakan
pengatasan kritis ini telah dimulai di tempat kejadian maupun dalam waktu
pengankutan pasien ke Rumah Sakit yang disebut dengan fase prehospital.
Tindakan yang dilakukan adalah sama yakni resusitasi dan stabilisasi sambil
memantau setiap perubahan yang mungkin terjadi dan tindakan yang diperlukan.
Tiap pasien yang dirawat di ICU memerlukan evaluasi yang ketat dan pengatasan
yang tepat dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu kelainan pada pasien kritis
dibagi atas beberapa rangkai kerja:
1. Prehospital, meliputi pertolongan pertama pada tempat kejadian resusitasi
cardiac pulmoner, pengobatan gawat darurat, teknik untuk mengevaluasi,
amannya transportasi, akses telepon ke pusat.

27
2. Triage, yakni skenario pertolongan yang akan diberikan sesudah fase keadaan.
Pasien-pasien yang sangat terancam hidupnya harus diberi prioritas utama. Pada
bencana alam dimana terjadi sejumlah kasus gawat darurat sekaligus maka
skenario pengatasan keadaan kritis harus dirancang sedemikian rupa sehingga
pertolongan memberikan hasil secara maksimal dengan memprioritaskan yang
paling gawat dan harapan hidup yang tinggi.

3. Prioritas dari gawat darurat tiap pasien gawat darurat mempunyai tingkat
kegawatan yang berbeda, dengan demikian mempunyai prioritas pelayanan
prioritas yang berbeda. Oleh karena itu diklasifikasikan pasien kritis atas:
a. Exigent, pasien yang tergolong dalam keadaan gawat darurat 1 dan
memerlukan pertolongan segera. Yang termasuk dalam kelompok ini dalah pasien
dengan obstruksi jalan nafas, fibrilasi ventrikel, ventrikel takikardi dan cardiac
arest.

b. Emergent, yang disebut juga dengan gawat darurat 2 yang memerlukan


pertolongan secepat mungkin dalam beberapa menit. Yang termasuk dalam
kelompok ini adalah miocard infark, aritmia yang tidak stabil dan pneumothoraks.

c. Urgent, yang termasuk kedalam gawat darurat 3. Dimana waktu pertolongan


yang dilakukan lebih panjang dari gawat darurat 2 akantetapi tetap memerlukan
pertolongan yang cepat oleh karena dapat mengancam kehidupan, yang termasuk
ke dalam kelompok ini adalah ekstraserbasi asma, perdarahan gastrointestinal dan
keracunan.

d. Minor atau non urgent, yang termasuk ke dalam gawat darurat 4, semua
penyakit yang tergolong kedalam yang tidak mengancam kehidupan

28
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pasien kritis yang dirawat di Unit Perawatan Intensif merupakan sosok manusia
yang utuh dan unik yang sedang mengalami gangguan/masalah kesehatan yang
kompleks. Cara pandang perawat terhadap pasien akan menentukan pola interaksi
dan pendekatan ke pasien secara keseluruhan. Berkembang pesatnya teknologi
dibidang perawatan intensif seyogyanya tidak menggeser pandangan folosofis
perawat terhadap pasien dan keluarga dan mengurangi interaksi caring antara
perawat dan pasien/keluarga. Keyakinan dan nilai-nilai keperawatan holistik bisa
dijadikan landasan penguat untuk menerapkan nilai-nilai caring yang menjadi
inti/ruhnya keperawatan. Model Sinergi, memberikan ilustrasi konkrit tentang
penerapan nilai-nilai caring yang holistic dalam kontek membangun hubungan
interaksi yang harmonis antara perawat dan pasien/keluarga dalam upaya
mencapai tujuan bersama, yaitu kesehatan dan kesejahteraan bagi pasien dan
keluarganya yang merupakan cita-cita luhur dari profesi keperawatan.

3.2 Saran

Diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca khususnya mahasiswa


keperawatan dapat memperoleh ilmu yang lebih tentang Integrasi proses
keperawatan dan diagnosa keperawatan didalam kerangka kerja holistik

Semoga makalah ini dapat dijadikan sumber literature yang layak digunakan
untuk mahasiswa.Jika anda ingin membuat suatu kesimpulan yang baik dan benar
dalam pembuatan makalah atau karya tulis ilmiah, anda harus memperhatikan
beberapa cara dan perlu mengingatnya diantaranya yaitu memahami isi materi
dari makalah atau karya tulis ilmiah sehingga didapatkan suatu kesimpulan dari
pemahaman yang telah diserap.

29
DAFTAR PUSTAKA

Frisch, N.C. (2009). Standard for holistic nursing practice: A way to think about
our care that includes complementary and alternative modalities.
Diakses tanggal 29 Desember 2009 dari
http://www.nursingworld.org/ojin/topic15/tpc15_4.html

Hendrik. (2011). Etika & Hukum Kesehatan. Jakarta : EGC

Undang-Undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

http://www.scribd.com/doc/243508922/Bab-II-Prespektif-Kep-Kritis#scribd
(Diakses tanggal 30/09/2017)
http://www.en.wikipedia.org/wiki/Critical_care_nursing (Diakses 30/09/2017

30