Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Populasi dapat didefinisikan sebagai kelompok kolektif organisme-

organisme dari spesies yang sama yang menduduki ruang atau waktu tertentu

dengan pola tertentu. Kumpulan dari beberapa populasi disebut dengan

komunitas. Proses identifikasi suatu komunitas dalam suatu habitat tertentu

salah satunya bisa dengan metode pitfall.

Jumlah dan jenis spesies disuatu komunitas tergantung pada kondisi

suatu daerah misalnya faktor biotik dan abiotik. Kemudian suatu spesies yang

beradaptasi dengan lingkungannya dan berinteraksi dengan sesamnya akan

dapat bertahan dilingkungan tersebut. Faktor-faktor lingkungan yang

mempengaruhi komunitas suatu spesies antara lain adalah suhu, kelembaban

dan pH.

Tujuan dari penanaman pitfall traps adalah untuk menjebak binatang-

binatang permukaan tanah agar jatuh ke dalamnya sehingga bisa dilakukan

identifikasi atau untuk mengoleksi jenis binatang permukaan tanah yang

berada pada lingkungan perangkap. Metode pitfall traps tidak dapat

digunakan untuk mengukur besarnya populasi namun dari data yang

diperoleh bisa di dapatkan cerminan komunitas binatang tanah dan indeks

diversitasnya. Berdasarkan latar belakang tersebut di lakukan praktikum

survei herpetefauna teresterial dengan menggunakan metode perangkat pitall.


B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini adalah sebagai berikut ;

1. Bagaimana memahami penggunaan metode perangkat pitfall ?

2. Bagaimana mengetahui cara mengetahui kekayaan jenis herpetefauna yang

terdapat dikawasan FMIPA ?

C. Tujuan Praktikum

Tujuan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Memahami penggunaan metode perangkat pitfall.

2. Mengetahui cara mengetahui kekayaan jenis herpetefauna yang terdapat

dikawasan FMIPA.

D. Manfaat Praktikum

Manfaat pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Dapat Memahami penggunaan metode perangkat pitfall.

2. Dapat mengetahui kekayaan jenis herpetefauna yang terdapat dikawasan

FMIPA.
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Herpetefauna

Amphibi dan reptil (herpetofauna) merupakan hewan yang pada

awalnya dianggap kurang menjanjikan sebagai obyek penelitian. Kelompok

hewan ini terkadang dinomorsekiankan karena beberapa jenis memang susah

ditemukan dan perlu penanganan (handling) tersendiri. Namun demikian, dari

waktu ke waktu jumlah penelitian tentang herpetofauna terus meningkat.

Masyarakat, baik peneliti maupun umum, mulai mengenal herpetofauna.

Penelitian mulai menjamur di berbagai tempat terutama wilayah yang memiliki

habitat herpetofauna. Herping selalu saja dijadwalkan tiap minggunya untuk

melihat lokasi dan potensi herpetofauna di tempat-tempat tertentu (James,

2015).

Pendataan spesies-spesies dari kelompok herpetofauna dilakukan

dengan cara eksploratif dengan menjelajahi daerah seluas-luasnya.

Herpetofauna dapat digolongkan sebagai satwa amfibian (termasuk kodok,

salamander), dan satwa reptilia (termasuk ular, kadal, kura-kura, dan buaya).

Beberapa metode pengambilan data yang digunakan: Heyer et al. (1994), yaitu

dengan mencari satwa herpetofauna pada habitatnya yaitu habitat terrestrial

(darat) dan habitat akuatik (perairan), dengan metode Visual Encounter Survey

(VES) dan metoda perangkap (trapping) (Sriyanto, 2013).


B. Reptil dan Amphibi

Selain ular dan kadal reptil (kura-kura, kada, buaya) memiliki empat

kaki. Reptil berjalan dengan cara merayap. Kulit mereka seluruhnya tertutupi

sisik yang saling bertumpuk. Reptil harus melakukan perubahan yang disbut

pergantian kulit. Sebagian besar reptil hidup di darat dan beberapa reptil hidup

di air. Sistem pernafasan reptil dengan paru-paru, reproduksi ovipar dan

termasuk hewan berdarah dingin. Amphibi adalah hewan teresterial yang

hidupnya didua alam, pada waktu masih kecil hidupnya di lingkungan aquatik

setelah dewasa hidupnya di lingkungan teresterial. Reproduksi amphibi

termasuk reproduksi eksternal pemuahan terjadi diluar tubuh induknya

(Hariyanti, 2006).

C. Metode Pitfall

Metode Pitfall trap digunakan untuk mengumpulkan serangga tanah

yang aktif dipermukaan tanah. metode ini dipilh atas dasar pemikiran yang

praktis, mudah digunakan dan di bawa, murah karena metode jebak ini

menggunakan gelas plastik yang biasa digunakan sebagai gelas minum dengan

ukuran garis tengah dasar 5,5 cm dan tinggi 10 cm. Metode Pitfall trap cukup

memberikan hasil yang baik dalam jumlah dan keanekaragaman individu

(Febriawan, 2012).

Perangkap jatuh (Fit fall trap) digunakan untuk menangkap serangga

yang hidup diatas permukaan tanah. Pemasangan alat ini dilakukan pada pukul
08.00 17.00 WIB untuk siang dan malam pada pukul 18.00- 08.00 WIB.

Lokasi dilakukan pada lahan sawah dengan sampel yang ditentukan.

Pemasangan perangkap dilakukan dengan sistem diagonal dengan interval

pemantauan 3 hari sekali dengan waktu pengamatan 5x pemantauan selama 2

minggu. Perangkap ini dapat digunakan untuk menangkap serangga baik yang

aktif padamalam hari dan aktif pada permukaan tanah. dipasang 5 perangkap

pada titik-titik tertentu (Sari dkk, 2014).


III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 20 Oktober 2017, pukul

08.00-10.00 WITA. Bertempat di belakang mushollah FMIPA, Jurusan

Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu

Oleo Kendari.

B. Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat dan Fungsi


No. Alat Kegunaan
1 2 3
1. 5 buah ember Tempat masuknya objek pengamatan
2. Spons Untuk menjaga kelembaban
3. Plastik berukuran Sebagai jalur objek pengamatan masuk kedalam
panjag 5 meter ember
4. Pacul Untuk menggali tanah
5. Alat tulis Mencatat hasil pengamatan
6. Kamera Untuk mendokumentasikan.

C. Bahan Praktikum

Bahan yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Bahan dan Fungsi


No. Bahan Kegunaan
1 2 3
1. Amphibi Sebagai objek pengamatan
D. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Menentukan transek tempat peletakan perangkap.

2. Perlakuan pertama, benamkan kedalam tanah 4 buah perangkap yang telah

dino,ori sepanjang garis lurus dengan jarak antara 1 perangkap dengan

perangkap yang lain adalah 2 meter. Pada sepanjang garis tersebut

dipasang plastik dengan panjang 8 meter dengan tinggi 10 cm di

permukaan tanah.

3. Perlakuan kedua benamkan 1 buah perangkap kedalam tanah. pasang

plastik berukuran panjang 4 meter bdan tinggi 10 cm dengan posisi

horizontal dan vertikal terhadap perangkap.

4. Mengamati perangkap pada pagi dan sore hari selama 4 hari berturut-turut.

Jika terdapat hewan heterefauna yang berhasil di tangkap segera ambil dan

identifikasi.

5. Hewan yang berhasil di tangkap selanjutnya di identifikasi nama jenisnya,

jumlah individu, dan nomor perangkap.

6. Mengambil dokumentasi setiap jenis hewan yang tertangkap.

7. Jenis yang belum diketahui nama jenisnya dapat dibawah kelaboratorium

untuk pengamatan lebih lanjut. Individu yang sudah diketahui nama

jenisnya dapat segera di lepaskan.

8. Mengamati juga kondisi mikrohabitat di sekitar tempat peletakkan

perangkap (tipe habitat, ketebalan serasah, penutupan vegetasi).


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 3 dan 4

Tabel 3. Aplikasi metode pitfall di lapangan


No Gambar Pengamatan Gambar Pengamatan
1 2 3

a b

Tabel 4. Pengamatan spesies


No NamaSpesies JumlahSpesies
1 2 3
Katakbatu (Limnonectes
macrodon)

4
B. Pembahasan

Herpetofauna adalah kelompok hewan dari kelas reptil dan amfibi,

pada saat ini keberadaan herpetofauna masih dianggap kurang penting jika

dibandingkan dengan kelas Mamalia dan Aves. Menurut Xiong dan Yong

(2007), herpetofauna memegang peranan penting didalam rantai makanan.

Herpetofauna juga menjadi bioindikator penting untuk menggambarkan

perubahan ekosistem yang terjadi. Kekayaan dan komposisi jenis herpetofauna

dipengaruhi oleh struktur suatu habitat. Berubahnya struktur habitat yang

banyak disebabkan oleh aktivitas manusia berdampak pada menurunnya

kekayaan jenis herpetofauna di alam. Perubahan kecil pada habitat akan

mengganggu kehidupan herpetofauna dan banyak dari spesies herpetofauna

merupakan herpetofauna spesifik. Herpetofauna spesifik hanya mampu hidup

pada lingkungan yang sangat spesifik dan sangat peka terhadap perubahan

habitat.

Metode Pitfall trap merupakan metode yang umum digunakan dalam

mengetahui keberadaan makrofauna tanah. Pitfall trap digunakan karena

sangat sederhana dan cukup efektif dimana memasang perangkap di titik yang

telh ditentukan. Perangkap sumuran merupakan metode yang efektif untuk

penelitian taksonomi maupun ekologi. Metode ini banyak digunakan untuk

penelitian arthropoda gua karena faktor manusia sangat kecil pengaruhnya

terutama untuk data ekologi. Teknik dan penentuan indeks kelimpahan itu

banyak sekali macamnya tergantung dari spesies hewan berikut kekhasan

perilakunya serta macam habitat yang ditempatinya. Salah satu metode yang
akan digunakan dalam praktikum ini adalah metode perangkap jebak (Pitfall

trap). Perangkap jebak itu berupa tabung atau ember sedarhana yang

dibenamkan dalam tanah, hingga mulut ember itu rata dengan permukaan tanah

maupun serasah yang menutupinya. Berdasarkan hasil yang dipraktikumkan

perangkap jebak Pitfall trap yang dipasang di sekitar Fakultas Mipa,

Universitas Halu Oleo ditemukan katak batu (Limnonectes macrodon) yang

berjumlah 4.
V. PENUTUP

A. Simpulan

Simpulan pada praktikum ini yaitu :

1. Cara penggunaan metode perangkap pitfall yaitu dengan cara

membenamkan di dasar tanah kemudian memasangi dengan plastik dengan

panjang 4 meter sehingga hewan heterefauna mengikuti plastik tersebut dan

masuk kedalam ember sesuai dengan perilakunya.

2. Untuk mengetahui kekayaan jenis herpetefauna di lingkungan kampus UHO

dapat dilakukan dengan menggunakan metode pitfall.

B. Saran

Saran saya pada praktikum ini agar teman-teman bekerja sama dalam

praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Febriawan, A.,2012, Keanearagaman dan Kelimpahan Serangga, Universitas


Pendidikan Indonesia, Halaman 40.

Hariyanti., 2006, Atlas Binatang, Erlangga, Jakarta.

James, M., 2015, Warta Herpetefauna Media Publikasi dan Informasi Dunia
Reptil dan Dunia Amphibi, Jurnal Warta Herpetefauna, 7 (4), 62.

Sari A., S., Bakti, D., dan Zahara, F., 2014, Keanekaragaman Jenis Serangga di
Berbagai Tipe Lahan Sawah, Jurnal Agroteknologi, 2 (4), 1664.

Sriyanto, A., 2013, Perencanaan dan Perancangan Survei Keanekaragamana


Hayati, Halaman 16.
LAPORAN PRAKTIKUM HERPETELOGI

PRAKTIKUM I

SURVEI HERPETEFAUNA TERESTERIAL DENGAN MENGGUNAKAN


METODE PERANGKAT PITFALL

OLEH :

NAMA : NASRUDDIN
STAMBUK : F1D1 15 054
KELOMPOK : I (SATU)
ASISTEN PEMBIMBING : SULHADANA

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017