Anda di halaman 1dari 221

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) TERHADAP


PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS V
SDI UMMUL QURO BEKASI

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam

Oleh
AMELIA SIDIK
NIM. 1111018300031

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
ABSTRAK

Amelia Sidik (1111018300031) Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif


Tipe Team Assisted Individualization (TAI) Terhadap Pemahaman Konsep
Matematika Siswa. Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2015.
Team Assisted Individualization merupakan tipe pembelajaran kooperatif
yang menggabungkan pembelajaran individual dan kelompok. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe team
assisted individualization terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas V
SDI Ummul Quro Bekasi. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen
semu dengan rancangan penelitian postest control group design. Pengambilan
sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel
penelitian yang pertama berjumlah 25 siswa untuk kelas eksperimen dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe team assisted individualization.
Sampel yang kedua berjumlah 25 siswa untuk kelas kontrol dengan menggunakan
model konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
model pembelajaran kooperatif tipe team assisted individualization terhadap
pemahaman konsep matematika siswa.

Kata kunci : Model Pembelajaran Kooperatif, Team Assisted Individualization


(TAI), Pemahaman Konsep Matematika, Penelitian Eksperimen Semu

i
ABSTRACT

Amelia Sidik (1111018300031) The Effects of Cooperative Learning Model


Type Team Assisted Individualization (TAI) to Student Understanding of
Mathematical Concepts. Minithesis of Elementary School Teacher Education,
Faculty of Tarbiyah and Teachers Training, Syarif Hidayatullah State Islamic
University Jakarta, 2015.
Team Assisted Individualization is type cooperative model integrate
individual learning and group learning. The purpose of this research is to know
the effects of cooperative learning model type team assisted individualization to
student understanding of mathematical concepts in fifth class SDI Ummul Quro
Bekasi. The method used in this research was a quasi experiment with a posttest
control group design. The sample taken by used purposive sampling technique.
The first sample were 25 students for experiment class used cooperative learning
model type team assisted individualization. The second sample were 25 students
for control class with used conventional model. The result of this research that
there were significant cooperative learning model type of team assisted
individualization to the understanding of mathematical concepts.

Keywords : Cooperative Learning Model, Team Assisted Individualization (TAI),


Understanding of Mathematical Concepts, Quasi Experiment

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa


memberikan nikmat dan rahmat kepada kita semua, selalu memberikan petunjuk
kepada orang yang bersungguh-sungguh dan memberikan jalan keluar terhadap
segala kesulitan. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada baginda Rasulullah
SAW yang memberikan tauladan bagi umatnya sehingga selamat di dunia dan
akhirat.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih
banyak kekurangan dan kelemahan. Berkat dukungan dan bantuan serta dorongan
dari berbagai pihak secara moril maupun materiil, akhirnya skripsi ini dapat
diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan
terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Khalimi, M.Ag, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
3. Dr. Tita Khalis Maryati, M.Kom, selaku dosen pembimbing skripsi yang
telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan
arahan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.
4. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah banyak membantu dan mengembangkan ilmu selama penulis mengikuti
proses perkuliahan.
5. Keluarga besar SDI Ummul Quro Bekasi. Ainur Rofiq, S.Sos selaku kepala
sekolah, Yunqi Manuwia, S.Pd.I selaku wali kelas VA, Aan Ansori, S.Pd.I
selaku wali kelas VC, seluruh dewan guru, serta siswa siswi SDI Ummul
Quro Bekasi khususnya kelas VA dan VC.
6. Teristimewa untuk kedua orangtua saya yang tercinta dan tersayang, Bapak
Sutarman Sidi dan Ibu Eni, yang selalu mendoakan dan memberikan kasih

iii
sayang, semangat, serta motivasi yang tiada henti-hentinya baik moril
maupun materiil, yang tidak mungkin terbalaskan pengorbanannya.
7. Adik-adikku tercinta dan tersayang Luthfia Juniarti dan Putra Zamani Sidik
yang selalu memberikan semangat dan motivasi kepada penulis agar
secepatnya menyelesaikan studi dan skripsinya.
8. Sahabat tercinta dan tersayang Sri Yulianingsih, Femmi Rahayu, Siti
Bahriyah, dan Siti Fatimah yang selalu ada bersama penulis dikala sedih dan
suka, memberikan semangat dan selalu memotivasi satu sama lain.
9. Untuk semua rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
angkatan 2011.
Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, semoga
bantuan, bimbingan, semangat, doa, dan dukungan yang diberikan pada penulis
dibalas oleh Allah SWT. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih
jauh dari kesempurnaan, semua itu dikarenakan keterbatasan pengalaman dan
pengetahuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran
serta masukan yang membangun sebagai bahan perbaikan dari berbagai pihak.
Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya
bagi pembaca.

Jakarta, November 2015

Amelia Sidik

iv
DAFTAR ISI

ABSTRAK ................................................................................................... i
ABSTRACT .................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ....................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................. 5
C. Pembatasan Masalah ................................................................. 6
D. Perumusan Masalah .................................................................. 6
E. Tujuan Penelitian ...................................................................... 7
F. Manfaat Penelitian .................................................................... 7

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ................. 9


A. Deskripsi Teoretik ..................................................................... 9
1. Pemahaman Konsep Matematika Siswa ............................. 9
a. Pemahaman Konsep ...................................................... 9
b. Pengertian dan Karakteristik Matematika ..................... 12
c. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika ............ 15
2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted
Individualization (TAI) ....................................................... 17
a. Model Pembelajaran ..................................................... 17
b. Model Pembelajaran Kooperatif ................................... 19
c. Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran
Kooperatif ..................................................................... 24
d. Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) .. 25

v
e. Langkah-langkah Pembelajaran Team Assisted
Individualization (TAI) ................................................. 27
f. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Team
Assisted Individualization (TAI) ................................... 29
3. Model Pembelajaran Konvensional .................................... 30
B. Penelitian yang Relevan ............................................................ 32
C. Kerangka Berfikir ..................................................................... 34
D. Hipotesis Penelitian .................................................................. 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 37


A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................. 37
B. Metode dan Desain Penelitian ................................................. 37
C. Populasi dan Sampel ................................................................ 38
D. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 38
E. Instrumen Penelitian ................................................................ 39
1. Uji Validitas ....................................................................... 41
2. Uji Realibilitas ................................................................... 41
3. Uji Taraf Kesukaran ........................................................... 42
4. Uji Daya Pembeda ............................................................. 43
F. Teknik Analisis Data ............................................................... 44
1. Uji Prasyarat Analisis ........................................................ 44
a. Uji Normalitas .............................................................. 44
b. Uji Homogenitas .......................................................... 45
2. Uji Hipotesis ...................................................................... 46
G. Hipotesis Statistik .................................................................... 47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................... 48


A. Deskripsi Data .......................................................................... 48
1. Pemahaman Konsep Matematika Kelas Eksperimen ........ 48
2. Pemahaman Konsep Matematika Kelas Kontrol ............... 51
3. Perbandingan Pemahaman Konsep Matematika Siswa
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ................................ 53

vi
B. Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengujian Hipotesis ........ 55
1. Pengujian Persyaratan Analisis .......................................... 55
a. Uji Normalitas .............................................................. 55
b. Uji Homogenitas .......................................................... 56
2. Pengujian Hipotesis ........................................................... 57
C. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................... 57
1. Proses Pembelajaran dengan Model Kooperatif Tipe
Team Assisted Individualization (TAI) .............................. 58
2. Analisis Hasil Pemahaman Konsep Matematika Siswa .... 66
D. Keterbatasan Penelitian ............................................................ 74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 75


A. Kesimpulan .............................................................................. 75
B. Saran ........................................................................................ 76

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 77

LAMPIRAN-LAMPIRAN ......................................................................... 79

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perolehan Nilai Peningkatan .................................................... 27


Tabel 3.1 Desain Penelitian ..................................................................... 37
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Pemahaman Konsep ................................. 39
Tabel 3.3 Indeks Taraf Kesukaran ........................................................... 43
Tabel 3.4 Kriteria Daya Pembeda ............................................................ 44
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Posttest Pemahaman Konsep
Matematika Siswa Kelas Eksperimen ...................................... 49
Tabel 4.2 Nilai Rata-rata Kategori Pemahaman Kelas Eksperimen ........ 51
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Posttest Pemahaman Konsep
Matematika Siswa Kelas Kontrol ............................................ 51
Tabel 4.4 Nilai Rata-rata Kategori Pemahaman Kelas Kontrol ............... 53
Tabel 4.5 Perbandingan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol ................................................ 54
Tabel 4.6 Rekapitulasi Nilai Rata-rata Kategori Pemahaman Konsep
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ...................................... 54
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan
Kelas Kontrol ........................................................................... 55
Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas ........................................ 56
Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji Hipotesis .............................................. 57

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Kerangka Berfikir ...................................................... 36


Gambar 4.1 Grafik Histogram Frekuensi Pemahaman Konsep
Matematika Kelas Eksperimen .............................................. 50
Gambar 4.2 Grafik Histogram Frekuensi Pemahaman Konsep
Matematika Kelas Kontrol .................................................... 52
Gambar 4.3 Siswa Mempelajari Materi Pembelajaran Secara
Individual ............................................................................... 60
Gambar 4.4 Siswa Melakukan Pembelajaran Kelompok .......................... 61
Gambar 4.5 Guru Sebagai Fasilitator dalam Proses Pembelajaran
Kelompok .............................................................................. 62
Gambar 4.6 Perwakilan Siswa Mempresentasikan Hasil Pekerjaannya ... 63
Gambar 4.7 Siswa Mengerjakan Kuis Individual ..................................... 63
Gambar 4.8 Hasil Pekerjaan Kuis Individual Pertemuan Ketiga .............. 64
Gambar 4.9 Hasil Pekerjaan Kuis Individual Pertemuan Kedelapan ........ 65
Gambar 4.10 Jawaban Posttest untuk Kategori Penerjemahan Kelas
Eksperimen ............................................................................ 67
Gambar 4.11 Jawaban Posttest untuk Kategori Penerjemahan Kelas
Kontrol ................................................................................... 68
Gambar 4.12 Jawaban Posttest untuk Kategori Penafsiran Kelas
Eksperimen ............................................................................ 70
Gambar 4.13 Jawaban Posttest untuk Kategori Penafsiran Kelas Kontrol
................................................................................................ 70
Gambar 4.14 Jawaban Posttest untuk Kategori Ekstrapolasi Kelas
Eksperimen ............................................................................ 72
Gambar 4.15 Jawaban Posttest untuk Kategori Ekstrapolasi Kelas
Kontrol ................................................................................... 73

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 RPP Kelas Eksperimen .......................................................... 79


Lampiran 2 RPP Kelas Kontrol ................................................................ 107
Lampiran 3 Lembar Kerja Siswa .............................................................. 130
Lampiran 4 Soal Kuis Individual .............................................................. 152
Lampiran 5 Kisi-kisi Instrumen Pemahaman Konsep .............................. 155
Lampiran 6 Soal Uji Coba Instrumen Pemahaman Konsep ..................... 157
Lampiran 7 Kunci Jawaban ....................................................................... 159
Lampiran 8 Pedoman Penskoran Pemahaman Konsep Matematika ......... 163
Lampiran 9 Hasil Uji Validitas ................................................................. 169
Lampiran 10 Hasil Uji Realibilitas ............................................................. 172
Lampiran 11 Hasil Uji Tingkat Kesukaran .................................................. 175
Lampiran 12 Hasil Uji Daya Pembeda ....................................................... 178
Lampiran 13 Data Nilai Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol .... 181
Lampiran 14 Nilai Posttest Kelas Eksperimen Berdasarkan Kategori
Bloom .................................................................................... 182
Lampiran 15 Nilai Posttest Kelas Kontrol Berdasarkan Kategori Bloom .. 184
Lampiran 16 Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen ................................ 186
Lampiran 17 Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol ....................................... 189
Lampiran 18 Perhitungan Uji Normalitas Hasil Posttest Kelas
Eksperimen ............................................................................ 192
Lampiran 19 Perhitungan Uji Normalitas Hasil Posttest Kelas Kontrol .... 194
Lampiran 20 Perhitungan Uji Homogenitas Hasil Posttest Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol .............................................. 196
Lampiran 21 Perhitungan Uji Hipotesis Statistik Hasil Posttest Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol ............................................... 197

x
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di
lembaga pendidikan formal (sekolah). Matematika menjadi salah satu mata
pelajaran yang dapat menempatkan siswa untuk masuk dalam lembaga
pendidikan ternama. Dalam kehidupan sehari-hari pun matematika menjadi
ilmu yang penting dan dibutuhkan. Disadari atau tidak dalam kehidupan sehari-
hari seseorang memanfaatkan konsep dalam matematika. Kegiatan jual beli
untuk memenuhi kebutuhan memanfaatkan konsep matematika yakni
penjumlahan dan pengurangan. Pentingnya matematika mengharuskan ilmu ini
perlu dipelajari oleh setiap siswa mulai dari jenjang dasar.
Pemahaman konsep merupakan tujuan awal dari pembelajaran
matematika. Dengan memahami konsep siswa mampu menyelesaikan
permasalahan menggunakan daya nalarnya secara logis dan tepat. Konsep
dalam matematika memiliki keterkaitan dan saling berkesinambungan. Oleh
karena itu, konsep dalam matematika wajib difahami oleh siswa mulai dari
tingkat dasar. Hal ini sejalan dengan Lampiran Permendiknas No. 22 Tahun
2006 pada jenjang pendidikan dasar, salah satu tujuan mata pelajaran
matematika adalah agar peserta didik memiliki kemampuan: memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan
konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam
pemecahan masalah.1
Namun yang terjadi saat ini, matematika menjadi salah satu mata
pelajaran yang tidak disukai para siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan
siswa saat prapenelitian pada tanggal 21 Sepetember 2015 di SDI Ummul Quro
Bekasi, memberikan informasi bahwa beberapa siswa tidak menyukai pelajaran
matematika. Menurut salah satu siswa kelas V sekolah dasar tersebut yang

1
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (Jakarta: Badan Standar Nasional
Pendidikan, Kementrian Pendidikan Nasional, 2006), h. 417.

1
2

bernama Fathin Naabilah mengungkapkan bahwa, matematika sebagai mata


pelajaran yang tidak disukai karena memusingkan dan sulit untuk dipahami
sehingga membuat minat dalam belajar rendah.
Persepsi negatif tentang matematika masih dimiliki oleh para siswa.
Supardi menyatakan bahwa, kebanyakan siswa masih menganggap pelajaran
matematika sulit, penuh perhitungan yang memusingkan, banyak rumus,
simbol, angka, serta pelajaran yang membosankan sehingga menimbulkan
sikap malas belajar yang ditunjukan siswa dalam belajar.2 Ketidaktertarikan
siswa menyebabkan siswa kurang berminat dalam belajar. Kurangnya minat
dalam belajar menghambat tercapainya tujuan pembelajaran matematika salah
satunya adalah pemahaman konsep.
Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru kelas V SDI
Ummul Quro Bapak Yunqi Manuwia, S.Pd.I pada tanggal 21 September 2015,
diperoleh informasi bahwa terdapat hambatan dalam pembelajaran matematika
yaitu kurangnya pemahaman siswa dalam menguasai materi yang diajarkan.
Siswa belum menguasai materi prasyarat sehingga menghambat siswa untuk
menguasai materi yang diajarkan. Siswa pun kesulitan untuk menyelesaikan
soal yang membutuhkan pemahaman seperti soal cerita atau soal yang
diberikan variasi berbeda. Kesulitan siswa tersebut dapat diamati dari sikap
siswa yang tidak mandiri dalam menyelesaikan. Siswa terus bertanya cara
penyelesaian dan rumus yang digunakan. Bahkan beberapa siswa ketika
dihadapkan soal tersebut menjadi malas dan tidak bersungguh-sungguh untuk
mencari penyelesaian.
Selain itu, berdasarkan hasil observasi di kelas V SDI Ummul Quro
serta wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa, didapatkan informasi
bahwa pembelajaran masih bersifat teacher center. Proses pembelajaran yang
berlangsung didominasi oleh guru sebagai pemberi informasi dengan metode
ekspositori. Pembelajaran dengan metode ekspositori menjadi model
pembelajaran konvensional yang dilaksanakan. Penekanan pada pembelajaran

2
Supardi U.S., Peran Kedisiplinan Belajar dan Kecerdasan Matematis Logis dalam
Pembelajaran Matematika, Jurnal Formatif, Vol. 4, 2014, h. 81.
3

konvensional menyebabkan guru tidak menggunakan variasi model


pembelajaran lain. Pembelajaran konvensional yang dilakukan biasanya
memposisikan siswa sebagai individu yang pasif. Siswa kurang diberikan
kesempatan untuk terlibat langsung dalam memahami konsep yang diberikan.
Siswa hanya menerima rumus jadi yang disajikan tanpa mengetahui proses
rumus tersebut terbentuk. Rumus jadi yang diberikan hanya mampu dihafalkan
oleh siswa, sehingga rumus tersebut mudah untuk dilupakan.
Berdasarkan tes prapenelitian pendahuluan yang dilakukan pada
tanggal 24 September 2015 mengenai bangun datar dapat diidentifikasi bahwa
pemahaman konsep siswa masih rendah. Siswa kurang tepat dalam
menentukan sudut dari bangun datar yang ditampilkan. Pernyataan simbol
sudut pada bangun datar dinyatakan siswa sebagai sisi bangun datar. Siswa
juga belum tepat dalam menentukan rumus yang akan digunakan dari
permasalahan yang diajukan. Selain itu, siswa juga kurang memahami keliling
dan luas pada bangun datar, sehingga siswa keliru dalam menentukan rumus
keliling dan luas pada bangun datar.
Berdasarkan hasil observasi pendahuluan yang telah dilaksanakan di
SDI Ummul Quro Bekasi, diketahui bahwa nilai hasil belajar matematika kelas
V SDI Ummul Quro Bekasi masih rendah. Hal ini terlihat dari hasil ulangan
harian yang telah dilakukan pada materi sudut. Nilai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yang ditetapkan ialah 70. Hasil nilai ulangan harian yang
diperoleh pada materi sudut terdapat 40 siswa atau 53% belum mencapai
KKM dari 75 siswa yang mengikuti ulangan harian.
Permasalahan di SDI Ummul Quro dapat diselesaikan dengan
memperbaiki proses pembelajaran di dalam kelas yang melibatkan siswa untuk
memahami konsep. Pembelajaran kooperatif dapat dijadikan sebagai model
pembelajaran yang digunakan agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Melalui model pembelajaran kooperatif siswa dapat memanfaatkan siswa lain
sebagai sumber belajar, selain guru dan sumber belajar lainnya.3 Bagi siswa

3
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: Bumi Aksara,
2011), h. 190.
4

yang mengalami kesulitan dapat diberikan bantuan secara individual oleh guru
ataupun teman yang pandai di kelompoknya, sehingga siswa dapat memahami
konsep dan menguasai materi yang diajarkan. Hal itu sejalan dengan pendapat
Slavin, bahwa tujuan yang paling penting dalam pembelajaran kooperatif
adalah memberikan siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman
bagi siswa yang dapat bermanfaat bagi dirinya maupun orang disekitarnya.4
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 2:

. . . . .
.
Artinya:
. . . Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan jangan
tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran . . . (Q.S. Al-Maidah:2)
Pada ayat tersebut Allah SWT memberikan prinsip dasar dalam
melakukan kerjasama dengan siapapun, selama tujuannya adalah kebajikan dan
ketakwaan. Belajar merupakan salah satu perbuatan kebajikan. Dalam kegiatan
pembelajaran siswa dapat mengambil manfaat dari siswa lainnya melalui
kerjasama. Suatu tujuan akan lebih mudah untuk dicapai bila dilakukan dengan
bersama-sama. Begitu pula dengan pemahaman, siswa akan lebih mudah
mencapai pemahaman melalui proses kerjasama yang dilakukan.
Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan
yaitu Team Assisted Individualization (TAI). Model pembelajaran kooperatif
TAI ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan
pengajaran individual. Pada prosesnya siswa dapat membangun dasar yang
kuat sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya. Penghargaan atau rewards
yang diberikan kepada kelompok terbaik menumbuhkan motivasi siswa untuk
memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan kelompoknya. Seperti yang
dinyatakan Alsa bahwa sistem pemberian rewards pada tim akan memotivasi
kerjasama siswa dalam kelompok untuk bekerja secara cepat dan tepat.5

4
Robert E. Slavin, Cooperative Learning, (Bandung: Nusa Media, 2005), h. 33.
5
Asmadi Alsa, Pengaruh Metode Belajar Team Assisted Individualization terhadap
Prestasi Belajar Statistika Pada Mahasiswa Psikologi, Jurnal Psikologi, Vol. 38, 2011, h. 84.
5

ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar
materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar
individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling
dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok
bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab
bersama.6
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI dapat digunakan sebagai
model pembelajaran matematika. Dalam prosesnya siswa diberikan
kesempatan untuk belajar secara individu kemudian saling mengkoreksi dan
memberi penguatan terhadap pembelajaran yang dilakukan. Siswa pun akan
mengetahui kesalahan dan memperbaikinya dengan memanfaatkan bimbingan
dari guru atau orang-orang pandai di kelompoknya. Dengan demikian
pemahaman konsep siswa akan meningkat. Sebagaimana yang dinyatakan oleh
Purnamayanti, Selain itu ada beberapa alasan perlunya menggunakan model
pembelajaran TAI untuk dikembangkan sebagai variasi model pembelajaran,
agar pemahaman konsep dapat tercapai.7
Berdasarkan permasalahan sebelumnya, penulis tertarik untuk
melakukan penelitian Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team
Assisted Individualization (TAI) Terhadap Pemahaman Konsep Matematika
Siswa Kelas V SDI Ummul Quro Bekasi.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebelumnya, penulis
mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang tidak disukai siswa
karena dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan
sehingga membuat minat siswa dalam belajar matematika rendah.

6
Widyantini, Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Kooperatif,
(Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Matematika, 2006), h.8-9.
7
Ni L. Pt. Deni Purnamayanti, Model Pembelajaran TAI Berbantuan Media Kartu
Bilangan Berpengaruh Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD GUGUS 8
MENGWI, e-Journal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, Vol. 2, 2014.
6

2. Model pembelajaran yang digunakan guru kurang bervariasi menekankan


pada pembelajaran konvesional dengan metode ekspositori sehingga
membuat siswa menjadi pasif.
3. Rumus jadi yang telah diberikan guru hanya mampu dihafalkan dan mudah
untuk dilupakan siswa.
4. Siswa kurang dilibatkan secara aktif untuk memahami konsep dari materi
yang diajarkan.
5. Pemahaman konsep matematika siswa masih rendah.
6. Hasil belajar matematika siswa rendah.

C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah, maka penulis melakukan pembatasan
masalah sebagai berikut:
1. Penelitian dilakukan pada siswa kelas V di SDI Ummul Quro Bekasi tahun
pelajaran 2015/2016 pada pokok bahasan luas bangun datar yang diajarkan
pada semester 1.
2. Model pembelajaran yang digunakan ialah model kooperatif tipe Team
Assisted Individualization (TAI). Model ini menggabungkan pembelajaran
kooperatif dan pengajaran individual yang dikembangkan oleh Robert E.
Slavin.
3. Pemahaman konsep yang digunakan berdasarkan kategori pemahaman
menurut Bloom yang meliputi penerjemahan, penafsiran, dan ekstrapolasi.
Kategori pemahaman menurut Bloom mudah untuk diaplikasikan pada
siswa kelas V sekolah dasar dengan materi luas bangun datar.
4. Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
pembelajaran yang berpusat pada guru sebagai pemberi informasi dengan
metode ekspositori.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan dan
pembatasan masalah, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut:
7

1. Bagaimana kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas V SDI


Ummul Quro Bekasi yang memperoleh model pembelajaran kooperatif tipe
Team Assisted Individualization (TAI) ?
2. Bagaimana kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas V SDI
Ummul Quro Bekasi yang memperoleh model pembelajaran konvensional ?
3. Apakah pemahaman konsep matematika siswa kelas V SDI Ummul Quro
Bekasi yang memperoleh pembelajaran dengan model kooperatif tipe Team
Assisted Individualization (TAI) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa
yang memperoleh metode pembelajaran konvensional ?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian ini
bertujuan untuk:
1. Menjelaskan pemahaman konsep matematika siswa kelas V SDI Ummul
Quro Bekasi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Team Assisted Individualization (TAI).
2. Menjelaskan pemahaman konsep matematika siswa kelas V SDI Ummul
Quro Bekasi dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.
3. Membandingkan pemahaman konsep matematika siswa kelas V SDI
Ummul Quro Bekasi yang memperoleh pembelajaran dengan model
koopertif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan siswa yang
memperoleh model pembelajaran konvensional.

F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam memperbaiki dan memperbaharui kegiatan belajar
mengajar yang dilaksanakan di sekolah.
2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk
melaksanakan pembelajaran matematika.
8

3. Bagi penulis, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan


meningkatkan keterampilan dalam mengajar agar tujuan pembelajaran
dapat dicapai dengan maksimal.
BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretik
1. Pemahaman Konsep Matematika Siswa
Salah satu tujuan pembelajaran matematika ialah siswa mampu
memahami konsep yang termuat dalam matematika. Kemampuan pemahaman
konsep matematika merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran.
Pemahaman konsep menjadi landasan untuk berfikir dalam menyelesaikan
permasalahan matematika. Teori-teori pendukung pada bagian ini meliputi
beberapa sub bagian yaitu pemahaman konsep, pengertian dan karakteristik
matematika, serta kemampuan pemahaman konsep matematika.

a. Pemahaman Konsep
Konsep adalah suatu kesepakatan bersama untuk penamaan sesuatu
dan merupakan alat intelektual yang membantu kegiatan berfikir dan
memecahkan masalah.1 Pendapat lain mengemukakakan bahwa konsep adalah
suatu ide abstrak yang memungkinkan orang untuk mengklasifikasikan apakah
sesuatu objek tertentu merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak
tersebut.2
Berdasarkan pendapat di atas dapat diartikan bahwa konsep
merupakan pemberian label atau nama dari hasil pemikiran agar lebih mudah
untuk mengenalinya. Konsep merupakan ide abstrak yang memiliki
karakteristik khusus. Karakteristik yang dimiliki suatu konsep dapat digunakan
untuk menggolongkan sesuatu termasuk bagian konsep yang dituju atau bukan.
Suprijono menyatakan bahwa konsep merupakan satu ide yang
mengkombinasikan beberapa unsur sumber-sumber berbeda ke dalam satu
gagasan tunggal.3 Hal itu sesuai dengan pendapat Rosser, konsep adalah suatu

1
Sapriya, dkk., Konsep Dasar IPS, (Bandung: UPI PRESS, 2006), h. 43.
2
Sri Anitah, dkk., Strategi Pembelajaran Matematika(Jakarta: Universitas Terbuka,
2007), h. 8.9.
3
Agus Suprijono, Cooperative Learning, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2013), h. 9.

9
10

abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, atau


hubungan-hubungan yang mempunyai atribut yang sama.4
Menurut Hamalik menyatakan bahwa untuk mengetahui apakah siswa
telah mengetahui suatu konsep paling tidak ada empat hal yang diperbuatnya,
yakni:5
1) Ia dapat menyebutkan nama contoh-contoh konsep.
2) Ia dapat menyatakan ciri-ciri konsep tersebut,
3) Ia dapat membedakan antara contoh-contoh dan yang bukan contoh.
4) Ia mungkin lebih mampu memecahkan masalah yang berhubungan
dengan konsep tersebut.
Suatu konsep disusun berdasarkan unsur-unsur yang membentuknya.
Konsep dapat dikatakan sebagai bentuk abstraksi yang menggambarkan objek,
kejadian, atau pengalaman lainnya. Berdasarkan uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa konsep merupakan ide abstrak yang dituangkan dalam
nama atau simbol terdiri dari unsur-unsur yang dapat digunakan untuk
mengelompokkan sesuatu dalam satu golongan.
Pemahaman berasal dari kata dasar paham yang berati mengerti.
Pemahaman merupakan salah satu indikator ketercapaian pembelajaran yang
dilaksanakan. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan yang menuntut
peserta didik untuk memahami atau mengerti tentang materi pelajaran yang
disampaikan guru dan dapat memanfaatkannya tanpa harus
menghubungkannya dengan hal-hal lain.6 Menurut Sagala, pemahaman
mengacu pada kemampuan untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah
sesuatu itu diketahui atau diingat dan memaknai arti dari bahan maupun materi
yang dipelajari.7
Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui proses pemahaman
terjadi ketika siswa sudah melakukan tahap mengetahui atau mengingat.

4
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 73.
5
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2005), h. 166.
6
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 21.
7
Sagala, op. cit., h. 157.
11

Seseorang dapat dikatakan paham terhadap suatu hal jika ia mengerti benar dan
mampu menjelaskan yang dipahaminya menggunakan bahasanya sendiri.
Pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta, akan tetapi
berkenaan dengan kemampuan menjelaskan, menerangkan, menafsirkan, atau
kemampuan menangkap makna atau arti suatu konsep.8 Hal itu sejalan dengan
pernyataan Hamalik bahwa, pemahaman tampak pada alih bahan dari suatu
bentuk ke bentuk lainnya, penafsiran, dan memperkirakan.9
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman
merupakan kemampuan memahami makna dibalik sesuatu sehingga dapat
didefinisikan kembali dalam bentuk lain. Misalnya seseorang dapat
menafsirkan grafik ke dalam kalimat-kalimat. Jika seseorang memiliki
pemahaman, maka ia akan mampu membandingkan, membedakan, bahkan
mempertentangkan yang telah dipahaminya dengan pengetahuan baru yang
diterimanya.
Pemahaman konsep menurut Benjamin Bloom dibedakan dalam tiga
kategori, yakni sebagai berikut:10
1) Penerjemahan (transalation), yaitu menerjemahkan konsep abstrak
menjadi suatu model, misalnya dari lambang ke arti. Kata kerja
operasional yang digunakan adalah menerjemahkan, mengubah,
mengilustrasikan, menggambarkan, memberi definisi, dan
menjelaskan kembali.
2) Penafsiran (interpretation), yaitu kemampuan memahami ide utama
dan mampu menentukan konsep yang digunakan dalam
menyelesaikan permasalahan. Kata kerja operasional yang
digunakan adalah menginterpretasikan, membedakan,
memperhitungkan, menjelaskan, dan menggambarkan.
3) Ekstrapolasi (extrapolation), yaitu menyimpulkan dan mengkaitkan
dari sesuatu yang telah diketahui. Kata kerja operasional yang dapat

8
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana,
2012), h. 126.
9
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 80.
10
Sagala, op. cit., h. 157.
12

dipakai untuk mengukur kemampuan ini adalah memperhitungkan,


menduga, menyimpulkan, meramalkan, membedakan, menentukan
dan mengisi.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
pemahaman konsep merupakan kemampuan untuk mengerti makna dari suatu
konsep, menerapkan konsep untuk menyelesaikan permasalahan, serta
mengkaitkan konsep satu dengan lainnya. Pemahaman terhadap suatu konsep
diperlukan dalam melakukan setiap pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan
pemahaman terhadap suatu konsep menjadi modal dasar untuk melanjutkan
pembelajaran berikutnya. Pemahaman konsep yang dimaksud dalam penelitian
ini adalah pemahaman berdasarkan kategori Benjamin Bloom yaitu
penerjemahan, penafsiran, dan ekstrapolasi.

b. Pengertian dan Karakteristik Matematika


Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada
jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas,
bahkan Perguruan Tinggi. Asal mula istilah matematika yang dinyatakan
dalam berbagai ungkapan berasal dari Bahasa Yunani yaitu mathematike. Kata
tersebut mengandung pengertian hal-hal yang berhubungan dengan belajar
(relating to learning) dan mempunyai akar kata mathema yang artinya
pengetahuan atau ilmu. Kata ini pun berhubungan erat dengan kata lain, yaitu
mathenein, yang maknanya adalah belajar (learning).11
Matematika adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan, pembuktian
logis direpresentasikan dengan bahasa simbol yang jelas, akurat, padat, lebih
berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi. 12 Soedjadi
menyatakan bahwa matematika memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada
kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.13

11
Suhendra, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika, (Jakarta:
Universitas Terbuka, 2007), h. 7.4.
12
Asep Jihad, Pengembangan Kurikulum Matematika, (Yogyakarta: Multipressindo,
2008), 152.
13
Heruman, Model Pembelajaran Matematika, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), h.
1.
13

Berdasarkan definisi diatas dapat dikatakan bahwa matematika


bukanlah ilmu yang bersifat hafalan, namun lebih kepada ilmu yang
membutuhkan daya pikir dan nalar dalam mempelajarinya. Daya pikir dan
nalar digunakan untuk memahami objek abstrak dalam matematika. Kelogisan
dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan diperlukan dalam matematika.
Hal tersebut dikarenakan keputusan dalam matematika hanya bisa bernilai
salah atau benar. Keputusan dalam matematika pun berlandaskan pada
kesepakatan yang telah diakui sebelumnya.
Matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan
hubungan-hubungan yang diatur menurut urutan yang logis.14 Pernyataan
tersebut sesuai dengan pendapat Suhendra bahwa matematika mengandung
pola hubungan ide atau gagasan dan pola berpikir manusia.15 Matematika
terdiri dari konsep-konsep yang bertingkat atau berjenjang. Sehingga konsep
dalam matematika memiliki sifat saling berkesinambungan dan harus diberikan
secara bertahap.
Matematika merupakan konstruktivisme sosial dengan penekananya
pada knowing how, yaitu siswa dipandang sebagai mahluk yang aktif dalam
mengkonstruksi ilmu pengetahuan dengan cara berinteraksi dengan
16
lingkungannya. Ketika siswa belajar matematika seharusnya siswa tidak
hanya diam pasif menerima, namun siswa terlibat aktif berinteraksi untuk
menyelesikan permasalahan dalam matematika. Oleh karena itu, guru
hendaknya perlu membangun suasana belajar aktif yang memungkinkan siswa
dapat berinteraksi agar kemampuan berfikir siswa terus berkembang.
Perbedaan pandangan yang dikemukakan oleh para ahli membuat
matematika dapat di definisikan dari berbagai sudut pandang. Hal tersebut
menyebabkan matematika tidak memiliki definisi baku yang telah disepakati
oleh para ahli sampai saat ini. Berbagai definisi yang dikemukakan para ahli

14
Anitah, op. cit., h. 7.4.
15
Suhendra, op. cit., h. 7.5.
16
Abdul Halim Fathani, Matematika Hakikat dan Logika, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2008), h. 19.
14

jika diperhatikan terdapat ciri-ciri atau karakteristik matematika. Beberapa


karakteristik yang terdapat dalam matematika adalah:17
1) Memiliki Objek Kajian Abstrak
Objek dasar matematika merupakan objek abstrak berupa fakta,
konsep, skill/keterampilan, dan prinsip. Fakta dalam matematika merupakan
kesepakatan yang disajikan dalam bentuk bilangan atau simbol. Konsep dalam
matematika adalah ide abstrak yang dapat diklasifikasikan dan dinyatakan
melalui definisi, gambar, model, dan peraga. Skill dalam matematika biasa
disebut operasi dan prosedur yang dijadikan sebagai proses memperoleh suatu
hasil tertentu. Prinsip dalam matematika merupakan objek dasar yang paling
kompleks, memuat keseluruhan objek lain seperti fakta, konsep, dan operasi.
2) Bertumpu Pada Kesepakatan
Kesepakatan yang sangat mendasar dalam matematika adalah unsur-
unsur yang tidak dapat didefinisikan (unsur primitif) dan aksioma (unsur
pernyataan pangkal) agar dapat menghindari pendefinisian dan pembuktian
yang tidak ada akhirnya. Salah satu contoh dari unsur primitif adalah geometri
Euclides yaitu titik, garis, dan bidang. Salah satu contoh dari pernyataan
pangkal (aksioma) adalah melalui dua titik dapat dibuat tepat satu garis.
3) Berpola Pikir Deduktif
Matematika sebagai ilmu, pola pikir yang diterima hanya yang bersifat
deduktif, yaitu suatu pemikiran dari hal yang bersifat umum menuju hal
bersifat khusus. Kebenaran pernyataan berlandaskan pada kebenaran
pernyataan sebelumnya.
4) Memiliki Simbol yang Kosong dari Arti
Simbol yang digunakan dalam matematika dapat berupa huruf,
lambang bilangan, lambang operasi, dan lain-lain. Rangkaian simbol yang
disusun dalam matematika dapat membentuk model matematika seperti
persamaan, pertidaksamaan, fungsi dan sebagainya. Sebelum ditentukan
semesta yang digunakan dengan jelas, simbol tersebut kosong tanpa arti.

17
Anitah, dkk., op.cit., h. 7. 5.
15

Misalnya huruf yang digunakan dalam model persamaan x + y = z masih


kosong dari arti tergantung pada siapa yang menggunakan.
5) Memperhatikan Semeseta Pembicaraan (Universal)
Semesta pembicaraan diperlukan untuk memberikan kejelasan dan
menjadi arahan dalam menyelesaikan model matematika. Misalanya jika
semesta pembicaraannya bilangan maka simbol-simbol yang digunakan dapat
diartikan sebagai bilangan. Semesta pembicaraan dapat menentukan benar atau
salahnya maupun ada atau tidaknya penyelesaian model matematika.
6) Konsisten dalam Sistemnya
Suatu sistem dalam matematika harus konsisten dan tidak boleh ada
kontradiksi baik makna atau kebenarannya. Suatu definisi atau teorema harus
menggunakan konsep yang telah ditetapkan terdahulu. Misalnya x + y = a dan
a + b = c maka x + y + b haruslah sama dengan c.
Berdasarkan uraian penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa,
matematika merupakan salah satu ilmu yang identik dengan perhitungan
didalamnya terdapat konsep-konsep abstrak dituangkan dalam bentuk kata atau
bahasa simbol yang memerlukan strategi, pemikiran, pertimbangan agar dapat
menyelesaikan permasalahan dengan tepat. Sehingga dapat dikatakan pula
bahwa matematika dapat mengembangkan kemampuan daya pikir bagi siswa.

c. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika


Konsep dalam matematika dapat diperkenalkan melalui definisi,
gambar, contoh, model atau peraga. Misalnya konsep persegi adalah bangun
datar yang memiliki empat sisi sama panjang dan memiliki empat sudut sama
besar. Konsep dalam matematika saling berkaitan dan berjenjang. Siswa akan
sulit memahami konsep matematika yang kompleks sebelum memahami
konsep yang sederhana. Oleh karena itu, konsep dalam matematika perlu
diberikan secara berjenjang dan bertahap. Dimulai dari konsep yang sederhana
hingga konsep yang lebih rumit dan kompleks.
Kemampuan pemahaman konsep merupakan salah satu tujuan awal
dari pembelajaran matematika. Pemahaman konsep matematika ditunjukan
16

terhadap konsep-konsep yang terdapat dalam matematika. Pemahaman konsep


memiliki tingkat kedalaman arti yang berbeda-beda. Para ahli memiliki
pandangan yang berbeda mengenai hasil akhir dari pencapaian pemahaman
konsep.
Polya membedakan empat jenis pemahaman matematika yaitu:18
1) Pemahaman mekanikal, yaitu dapat mengingat, menerapkan rumus
secara rutin, dan melakukan perhitungan secara sederhana.
2) Pemahaman induktif, yaitu dapat menerapkan rumus atau konsep
dalam kasus sederhana dan mengetahui rumus atau konsep tersebut
dapat diberlakukan dalam kasus yang mirip.
3) Pemahaman rasional, yaitu dapat membuktikan kebenaran rumus.
4) Pemahaman intuitif, yaitu dapat membuktikan kebenaran hingga
yakin sebelum melakukan analisis lebih lanjut.
Sedangkan Pollastek membedakan pemahaman matematika dalam dua
jenis, yaitu:19
1) Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan sesuatu atau
rumus dalam perhitungan rutin/sederhana dan mengerjakannya
secara algoritmik.
2) Pemahaman fungsional, yaitu dapat mengkaitkan rumus satu dengan
rumus lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
Menurut Copelland pemahaman matematika dikategorikan dalam
dalam dua jenis, yaitu:20
1) Knowing how to, yaitu dapat mengerjakan sesuatu secara secara
rutin/sederhana. Pemahaman ini hanya dapat mengerjakan suatu soal
atau permasalahan secara berurutan tetapi tidak menyadari proses
yang dilakukan.
2) Knowing, yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan sadar akan proses
yang dikerjakannya. Pemahaman ini memahami benar proses yang
dilakukan dalam menyelesaikan permasalahan atau soal.
18
Jihad, op. cit., h. 167.
19
Ibid.
20
Ibid., h. 167-168.
17

Suhendra menyatakan bahwa seseorang dikatakan memahami suatu


konsep matematika apabila ia telah mampu melakukan hal sebagai berikut:21
1) Menemukan kembali konsep yang belum diketahuinya didasarkan
pada pemahaman konsep yang telah lalu.
2) Medefinisikan konsep dengan kalimat sendiri tetapi sesuai dengan
ide utama dari konsep yang didefinisikan
3) Mengidentifikasi hal-hal yang sesuai dengan suatu konsep
4) Memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep.
Pemahaman terhadap suatu konsep dalam matematika perlu
dimaksimalkan karena pemahaman konsep menjadi landasan utama bagi
kemampuan matematika lainnya. Kemampuan pemahaman konsep menjadi
pendukung siswa untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan
penalaran, kemampuan komunikasi, bahkan kemampuan pemecahan masalah.

2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization


(TAI)
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model yang
dapat meningkatkan keaktifan dalam belajar dan mengembangkan kecakapan
sosial siswa. Model pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe, salah
satunya ialah tipe Team Assisted Individualization (TAI). Teori-teori
pendukung pada bagian ini meliputi beberapa sub bagian yaitu pengertian
model pembelajaran, pengertian model pembelajaran kooperatif, keunggulan
dan kelemahan pembelajaran kooperatif, pembelajaran Team Assisted
Individualization (TAI), langkah-langkah pembelajaran Team Assisted
Individualization (TAI), keunggulan dan kelemahan pembelajaran Team
Assisted Individualization (TAI).

a. Model Pembelajaran
Model adalah kerangka kerja konseptual, dapat pula disebut pola
kerja konseptual.22 Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang

21
Suhendra, op. cit., h. 7.21.
22
Anitah, dkk., op. cit., h. 9.3.
18

digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan.23 Model dapat


dijadikan sebagai landasan dalam melaksanakan kegiatan karena memuat
rancangan pelaksanaan.
Pembelajaran merupakan proses kegiatan belajar dan mengajar.
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.24 Pembelajaran diartikan
sebagai proses interaksi yang dilakukan oleh guru dan siswa dengan
memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan. Seperti yang telah dikemukakan bahwa dalam pembelajaran
terdapat prosedur atau metode yang digunakan untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Tidak hanya sebatas metode saja yang digunakan dalam
pembelajaran. Namun terdapat istilah lain yang digunakan dalam pembelajaran
seperti strategi, pendekatan, teknik, maupun model pembelajaran.
Menurut Joyce model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau
pola yang digunakan sebagai acuan dalam merencanakan pembelajaran dan
untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya
buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.25
Soekamto mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu,
dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para
pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.26
Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran merupakan rancangan secara umum proses pembelajaran yang
didalamnya terdapat prosedur atau cara khusus yang digunakan untuk
melaksanakan pembelajaran tersebut. Model pembelajaran mencakup berbagai

23
Sagala, op. cit., h. 175.
24
Oemar Hamalik, op. cit., h. 57.
25
Trianto, Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik, (Jakarta: Perstasi Pustaka,
2011), h. 74.
26
Aris Shoimin, Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, (Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media, 2014), h. 23.
19

hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran, seperti strategi, metode,


teknik, media, evaluasi, dan sebagainya.
Model pembelajaran mempunyai ciri-ciri khusus yang
membedakannya dengan strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut
adalah sebagai berikut: 27
1) Bersifat rasional teoritik logis disusun oleh para ahli atau
pengembangnya
2) Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar serta
berisi tujuan pembelajaran yang akan dicapai
3) Tingkah laku atau cara mengajar yang diperlukan agar model
tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil
4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu
dapat tercapai.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa model


pembelajaran merupakan buah pikiran penciptanya memuat gambaran secara
umum proses pembelajaran yang dilaksanakan dari awal hingga akhir
pertemuan meliputi penggunaan media, strategi, metode, teknik, serta
lingkungan belajar yang berguna sebagai acuan untuk mencapai tujuan yang
telah direncanakan.

b. Model Pembelajaran Kooperatif


Pembelajaran kooperatif berasal dari kata cooperative bekerjasama.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan
sistem pengelompokan terdiri antara empat sampai enam orang yang memiliki
latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang
berbeda atau heterogen.28 Dalam pembelajaran kooperatif, para siswa akan

27
Ibid., h. 24.
28
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana, 2013), h. 242.
20

duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang untuk


menguasai materi yang disampaikan oleh guru.29
Berdasarkan definisi diatas model pembelajaran kooperatif dilakukan
dengan menempatkan siswa dalam kelompok yang heterogen secara terstruktur
untuk menguasai materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif siswa dapat
saling memanfaatkan dan memberi manfaat yang positif. Bagi siswa yang
memiliki kemampuan akademik rendah dapat terbantu dengan siswa yang
memiliki kemampuan diatasnya. Kemudian bagi siswa yang memiliki
kemampuan akademik tinggi dapat lebih menguasai materi apabila sudah
mampu menjelaskan kepada siswa lain.
Menurut Davidson dan Worshman Cooperative learning adalah
model pembelajaran yang sistematis dengan mengelompokkan siswa untuk
tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang efektif yang
30
mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademis. Riyanto
mengatakan pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (akademik skill),
sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill.31
Pembelajaran kooperatif tidak hanya memberikan efek pada
kemampuan akademik, tetapi pembelajaran kooperatif juga memberikan efek
pada sikap sosial siswa. Melalui pembelajaran kooperatif siswa dapat
mengembangkan sikap sosialnya. Sikap saling menghargai, peduli terhadap
orang lain, saling sepenanggungan dan menerima kelebihan serta kekurangan
orang lain tergambar dalam proses pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam
menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan
dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.32 Unsur gotong royong dan
kerjasama merupakan komponen utama yang membedakan model kooperatif

29
Robert E. Slavin, Cooperative Learning, (Bandung: Nusa Media, 2005), h. 8.
30
Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009), h. 130.
31
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2012), h. 267.
32
Widyantini, Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kooperatif,
(Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Matematika, 2006), h. 3.
21

dengan model lainnya. Sumber belajar dalam kooperatif tidak hanya guru atau
lingkungan, tetapi siswa juga dapat menjadi sumber belajar bagi siswa lainnya
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Pembelajaran koopertif merupakan miniatur kecil dalam kehidupan
masyarakat. Perbedaan latar belakang anggota kelompok diibaratkan sebagai
masyarakat di lingkungan sekitar yang hidup saling berdampingan. Dalam
menggunakan model pembelajaran ini siswa diarahkan agar mampu hidup
berdampingan dan bekerjasama dengan orang lain yang berbeda latar belakang
untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif dapat dijadikan
sebagai alternatif untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran agar siswa lebih
aktif dan mampu mengembangkan sikap sosial para siswa. Melibatkan siswa
secara langsung dalam kegiatan belajar memberikan efek pada pembelajaran
yang lebih bermakna bagi siswa. Siswa akan lebih mudah memahami dan
menguasai materi dengan dilibatkan secara langsung.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan
mengelompokkan siswa secara heterogen dan terstruktur yang dapat
mengembangkan kecakapan sosial dan mencapai tujuan pembelajaran yang
ditetapkan. Terstruktur dalam pembelajaran kooperatif memiliki arti bahwa
setiap siswa dalam kelompok memiliki kontribusi yang sama. Tidak hanya satu
orang siswa yang bekerja untuk menyelesaikan pekerjaan kelompok, akan
tetapi setiap anggota bekerja demi keberhasilan kelompoknya.
Model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning dapat
dipastikan sebagai model kerja kelompok. Beberapa unsur perlu diterapkan
agar pembelajaran kelompok bisa dikatakan sebagai pembelajaran kooperatif.
Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran
cooperative learning harus diterapkan. Lima unsur tersebut yaitu:33
1) Saling Ketergantungan Positif
Dalam pembelajaran kooperatif perlu adanya pembagian pemerataan
tugas kepada masing-masing anggota kelompok. Tugas kelompok tidak

33
Anita Lie, Cooperative Learning, (Jakarta: Grasindo, 2014), h. 31.
22

mungkin bisa diselesaikan apabila terdapat anggota yang tidak dapat


menyelesaikan tugasnya. Oleh karena itu masingmasing anggota memiliki
ketergatungan pada anggota kelompoknya.
2) Tanggung Jawab Perseorangan
Keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka dari
itu setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan
tugasnya. Setiap anggota kelompok harus berusaha memberikan yang terbaik
untuk kelompoknya.
3) Tatap Muka
Tatap muka disini berarti memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berinteraksi, memberikan informasi, mengenal satu sama lain, saling
membelajarkan, dan berdiskusi. Interaksi tatap muka akan memberikan
pengalaman kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai
setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota, dan
mengisi kekurangan masing-masing.
4) Komunikasi Antaranggota
Salah satu tujuan pembelajaran koopeartif agar siswa mampu
berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Keberhasilan suatu kelompok
bergantung pada kesediaan anggota kelompok untuk saling mendengarkan dan
saling mengutarakan pendapat.
5) Evaluasi Proses Kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
melakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk menilai proses kerja kelompok
dan hasil kerja kelompok. Evaluasi digunakan untuk melakukan perbaikan agar
selanjutnya bisa melakukan kerjasama dengan lebih baik.
Pembelajaran kooperatif memiliki berbagai macam jenis, diantaranya
adalah :34
a) STAD (Student Teams Achievment Division)
STAD merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang sederhana. Ide
dasar STAD adalah memotivasi siswa dalam kelompok agar dapat saling

34
Zulfiani, dkk., op. cit., h. 137-138.
23

mendorong dan membantu satu sama lain dalam menguasai materi yang
disajikan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa belajar itu penting, bermakna,
dan menyenangkan. Tahapan dalam STAD dimulai dengan penyajian kelas,
kegiatan kelompok, tes individual, memberikan skor peningkatan individual,
dan pengakuan terhadap kelompok.
b) Jigsaw
Jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberi
kesempatan siswa untuk aktif dan saling membantu menguasai materi. Setiap
anggota ditugaskan secara acak untuk menjadi ahli pada bagian tertentu dengan
membaca bagian materi yang didapat. Setelah membacanya, para ahli dari tim
berbeda bertemu untuk mendiskusikan bagian materi yang sama. Kemudian
mereka kembali pada timnya untuk mengajarkan bagiannya kepada teman satu
kelompok. Selanjutnya dilakukan kuis untuk semua materi pembahasan.
c) TGT (Team Games Tournament)
TGT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
menggunakan turnamen mingguan. Dalam turnamen siswa berkompetisi
dengan kelompok lain agar memperoleh poin untuk kemajuan kelompok.
Pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari lima tahapan, yaitu tahap
penyajian kelas, belajar dalam kelompok, permainan, pertandingan, dan
penghargaan kelompok. Pertandingan dirancang dengan memberi kesempatan
siswa untuk berkompetisi dengan tingkat kemampuan yang sama.
d) TAI (Team Assisted Individualization)
TAI merupakan tipe pembelajaran kooperatif dengan pemberian
bantuan secara individual. Pengkombinasian belajar individual dan kelompok
menjadi ciri khas TAI yang membedakan dengan tipe kooperatif lainnya.
Siswa diberikan kesempatan memulai belajar secara individual dengan
kemampuan yang dimiliki. Hasil belajar siswa dibawa ke kelompok untuk
dikoreksi dengan mendiskusikan, mendebat, atau saling memberi masukan.
Kemudian siswa diberikan kuis individual untuk mengecek pemahaman siswa
dan tidak diperkenakan untuk bekerja sama dalam mengerjakan kuis tersebut.
Tanggung jawab individu dapat dipastikan muncul karena skor yang
24

diperhitungkan adalah skor akhir, dan siswa melakukan kuis tanpa bantuan
teman satu tim.35
e) CIRC (Cooperative Integrated Reading & Composition)
Model pembelajaran tipe ini menekankan pada pembelajaran
membaca, menulis, dan tata bahasa. Model kooperatif tipe CIRC merupakan
model pembelajaran khusus mata pelajaran bahasa dalam rangka membaca dan
menemukan ide pokok pikiran atau tema sebuah wacana. Dalam melaksanakan
pembelajaran CIRC siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis, tata
bahasa, baik secara tertulis maupun lisan dalam kelompok. Kegiatan CIRC
diawali dengan presentasi dari guru, latihan tim, latihan independen, pra
penelitian teman, latihan tambahan, dan tes.

c. Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif


Setiap model pembelajaran tidak ada yang sempurna. Kelebihan atau
keunggulan dan kekurangan atau kelemahan pasti dimiliki oleh suatu model
pembelajaran. Begitu pula dengan model pembelajaran kooperatif.
Keunggulan penggunaan model pembelajaran kooperatif bagi siswa
adalah sebagai berikut:36
1) Siswa dapat menambah kepercayaan kemampuan untuk berpikir
sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari
siswa yang lain.
2) Melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif, siswa dapat
mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan
dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide
yang dimiliki oranglain.
3) Dapat membantu siswa untuk peduli pada orang lain dan menyadari
segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4) Pembelajaran koperatif dapat membantu memperdayakan setiap
siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.

35
Slavin, op. cit., h. 15-16.
36
Sanjaya, op. cit., h. 249-250.
25

5) Dapat meningkatkan prestasi akademik dan keterampilan sosial,


termasuk mengembangkan rasa harga diri dan hubungan
interpersonal positif dengan orang lain.
6) Melalui pembelajaran koperatif, dapat mengembangkan kemampuan
siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri serta
memberikan ruang kebebasan untuk siswa memecahkan masalah
tanpa takut membuat kesalahan.
7) Pembelajaran kooperatif yang dilakukan dapat meningkatkan
kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar
abstrak menjadi nyata.
8) Interaksi dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan motivasi
dan memberikan rangsangan untuk berpikir.
Selain memiliki keunggulan model pembelajaran kooperatif juga
memiliki kelemahan atau keterbatasan, diantaranya yaitu:37
1) Siswa yang memiliki kemampuan lebih dapat merasa terhambat
sehingga dapat berakibat pada iklim kerjasama dalam kelompok.
2) Apabila kegiatan peer teaching tidak dilakukan secara efektif akan
menghambat siswa mencapai tujuan pembelajaran.
3) Siswa kurang mengharapkan penilaian didasarkan hasil kelompok,
penilaian secara individu yang menjadi harapan siswa.
4) Membutuhkan waktu yang lama bagi siswa dan guru, sehingga sulit
mencapai target kurikulum.
5) Tidak semua aktivitas pembelajaran dapat dilaksanakan dengan
berkelompok.

d. Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI)


Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization
(TAI) dikembangkan oleh Robert E. Slavin. Pembelajaran TAI ini dilakukan
dengan mengkombinasikan pembelajaran kooperatif dan pengajaran individual.
Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual.

37
Ibid., h. 250-251.
26

Dasar pemikiran pengembangan model ini ialah untuk mengadaptasi


pengajaran terhadap perbedaan individual siswa berkaitan dengan kemampuan
siswa maupun pencapaian prestasi siswa.38 Ketika memasuki ruang kelas siswa
memiliki pengetahuan, kemampuan, dan motivasi yang berbeda. Perbedaan
tersebut menjadi landasan bagi siswa untuk memulai pembelajaran yang
dilaksanakan.
Ciri khas dari model pembelajaran TAI ini adalah menitikberatkan
keaktifan siswa dalam belajar. Siswa secara individual belajar materi yang
sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok
untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok. Semua anggota
kelompok memiliki tanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai
tanggung jawab bersama.
Model Pembelajaran tipe TAI memiliki 8 (delapan) komponen,
39
yaitu: (a) Teams, yaitu kelompok kecil yang kemampuan anggotanya
heterogen tediri dari 4-6 siswa, (b) Placement Test, yaitu tes awal atau rata-rata
nilai harian siswa atau nilai pada bab sebelumnya untuk mengetahui kelemahan
siswa pada bidang tertentu, (c) Student Creative, yakni memberi penekanan
dan menciptakan persepsi bahwa keberhasilan setiap siswa ditentukan oleh
keberhasilan kelompoknya, (d) Team Study, merupakan tindakan belajar yang
harus dilaksanakan oleh kelompok. Pemberian bantuan kepada siswa yang
membutuhkan diperkenankan pada tahap ini. Pemberian bantuan dapat
dilakukan oleh guru dan siswa yang pandai dalam kelompok, (e) Team Score
and Team recognition, yaitu memberikan skor pada hasil kerja kelompok dan
memberikan penghargaan terhadap kelompok yang berhasil maupun yang
kurang berhasil, (f) Teaching Group, yakni memberikan materi secara singkat
menjelang tugas kelompok, (g) Fact Test, yakni memberikan tes-tes kecil
seperti kuis, (h) Whole Class Units, yaitu menyajikan kembali materi dengan
strategi pemecahan masalah untuk seluruh siswa dikelas.

38
Slavin, op. cit., h. 187.
39
Asmadi, Alsa Pengaruh Metode Belajar Team Assisted Individualization terhadap
Prestasi Belajar Statistika Pada Mahasiswa Psikologi, Jurnal Psikologi, Vol. 38, 2011. h. 83.
27

Penghargaan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk


menumbuhkan motivasi siswa dalam melakukan pembelajaran. Dalam
pembelajaran TAI ini guru memberikan penghargaan kepada kelompok
berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke
nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok.40
Adapun langkah-langkah untuk memberikan penghargaan terhadap
kelompok sebagai berikut:41
1) Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa dapat dilakukan
dengan memberikan pre test atau menggunakan nilai ulangan
sebelumnya.
2) Menentukan nilai terkini berdasarkan perolehan nilai yang didapat
dari hasil kuis/tes siswa. Misalnya nilai tes 1, nilai tes 2, atau bisa
juga rata-rata nilai tes 1 dan nilai tes 2.
3) Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan
berdasarkan selisih nilai kuis/tes terkini dan nilai dasar dengan
menggunakan kriteria pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1
Perolehan Nilai Peningkatan
Kriteria Nilai Peningkatan
Nilai kuis turun lebih 10 poin di bawah nilai awal 5
Nilai kuis turun 1 - 10 poin di bawah nilai awal 10
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai
20
dengan 10 diatas nilai awal
Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 di atas nilai awal 30

e. Langkah-langkah Pembelajaran Team Assisted Individualization


(TAI)
Menurut Widyantini, langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe
TAI sebagai berikut: 42

40
Widyantini, op. cit., h. 10.
41
Ibid.
28

1) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi


pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
2) Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk
mendapatkan skor dasar atau skor awal.
3) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4
5 siswa dengan kemampuan heterogen.
4) Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok.
Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling
memeriksa jawaban teman satu kelompok.
5) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan,
dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah
dipelajari.
6) Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.
7) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan
nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis
berikutnya (terkini).
Berdasarkan langkah-langkah di atas, langkah model pembelajaran
kooperaatif tipe TAI dalam penelitian ini yaitu:
1) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi
pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
2) Guru memberikan lembar kerja siswa yang didalamnya terdapat
petunjuk untuk dikerjakan secara individual (mengadopsi komponen
teaching group). Pada tahap ini kemampuan pemahaman yang
dilatihkan adalah penerjemahan dan penafsiran. Siswa diberikan
arahan untuk dapat menemukan konsep (kembali) berdasarkan
konsep yang telah diketahuinya dan menerapkan konsep untuk
menyelesaikan suatu permasalahan.
3) Guru membentuk beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 orang
secara heterogen dengan mencermati nilai pre test siswa
(mengadopsi komponen teams dan placement test).

42
Widyantini, op.cit., h. 9.
29

4) Hasil kerja siswa secara individual berupa kuis didiskusikan dalam


kelompok dengan saling memeriksa jawaban teman satu kelompok
(mengadopsi komponen team study dan student creative). Pada tahap
ini kemampuan pemahaman yang dilatihkan menekankan pada
ekstrapolasi. Siswa diberikan kesempatan untuk mendiskusikan hasil
pekerjaannya dan teman dikelompoknya. Sehingga pada tahap ini
siswa mampu melakukan perbandingan, membedakan, dan
menyimpulkan jawaban yang mereka anggap benar.
5) Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan hasil
pekerjaan kelompoknya dan memberikan penguatan (mengadopsi
komponen whole class unit). Saat siswa melakukan presentasi siswa
menjelaskan kembali terhadap apa yang dipahaminya. Sehingga
pada tahap ini kemampuan pemahaman yang dilatihkan ialah
penerjemahan.
6) Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual (mengadopsi
komponen fact test). Kemampuan pemahaman yang dilatihkan pada
tahap ini sesuai indikator soal yang diajukan.
7) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan
nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor
terkini (mengadopsi komponen team score and team recognition).

f. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Team Assisted


Individualization (TAI)
Keunggulan dan kelemahan merupakan hal yang pasti ada pada setiap
model pembelajaran. Begitu pula dengan model Pembelajaran dengan tipe
Team Assisted Individualization (TAI) memiliki keunggulan dan kelemahan.
Adapun keunggulan pembelajaran tipe TAI, yaitu: 43
1) Meminimalisir peran guru dalam pemeriksaan dan pengelolaan rutin.
2) Guru hanya menghabiskan sebagian dari waktunya untuk mengajar
kelompok-kelompok kecil.

43
Slavin, op. cit., h. 190-191.
30

3) Program yang dijalankan sederhana sehingga siswa kelas tiga ke atas


dapat melaksanakannya.
4) Siswa akan termotivasi untuk mempelajari materi yang diberikan
dengan cepat dan akurat.

Sedangkan kelemahan pembelajaran tipe TAI, diantaranya yaitu:44


1) Butuh waktu yang lama untuk membuat dan mengembangkan
perangkat kegiatan pembelajaran.
2) Jika jumlah siswa dalam kelas terlalu banyak, maka guru akan
mengalami kesulitan dalam memberikan bimbingan kepada siswa.

3. Model Pembelajaran Konvensional


Model pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran
yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Biasanya peran guru
dalam model pembelajaran ini lebih dominan. Salah satu contohnya adalah
metode ceramah yang berpusat kepada guru. Dalam pembelajaran yang
berpusat kepada guru hampir seluruh kegiatan dikendalikan penuh oleh guru.
Guru diposisikan sebagai pemberi informasi tunggal dan siswa diposisikan
sebagai individu yang siap menerima informasi. Selain ceramah metode
pembelajaran konvensional lainnya adalah tanya jawab, penugasan, dan
ekspositori.
Dari beberapa metode konvensional yang telah disebutkan,
pembelajaran konvensional yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
ekspositori. Metode ekspositori adalah metode mengajar yang banyak
digunakan oleh guru adalah dimana guru lebih banyak bertutur di dalam kelas
sedangkan siswa hanya menyimak penjelasan guru.45 Kegiatan mengajar dalam
pandangan metode ini ialah menyampaikan informasi kepada siswa dan
menempatkan siswa sebagai objek penerima informasi. Siswa diharapkan dapat

44
Juniar, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted
Individualization (TAI) dalam Pembelajaran Matematika Kelas VIII SMPN 5 Padangpanjang
Pada Materi Relasi dan Fungsi Tahun Pelajaran 2013/2014, h. 5, dari:
http://jurnal.umsb.ac.id/wp-content/uploads/2014/04/juniar.pdf (11 Juni 2015, pukul 12.38WIB).
45
Sanjaya, op. cit., h. 178.
31

menangkap informasi dan mengungkapkannya kembali melalui respon


jawaban yang diberikan saat pertanyaan diajukan.
Dalam metode ekspositori peran guru lebih banyak dan lebih aktif
dalam melakukan aktivitas proses pembelajaran. Penyajian materi dilakukan
oleh guru secara terperinci. Siswa berperan lebih pasif tanpa banyak aktivitas
dan hanya menerima bahan ajar yang disampaikan guru. Siswa hanya duduk
manis mendengar penjelasan guru dan sesekali bertanya apabila terdapat
bagian yang tidak dimengerti olehnya.
Prosedur pembelajaran dengan ekspositori sebagai berikut:46
a. Persiapan (preparation) yaitu guru mempersiapkan bahan selengkapnya
secara sistematik dan rapi.
b. Pertautan (apperception) bahan terdahulu. Pada tahap ini guru dapat
melakukan proses tanya jawab bekaitan dengan pengetahuan yang telah
dimilikinya untuk dihubungkan dengan pengetahuan yang akan
diberikan.
c. Penyajian (presentation) terhadap bahan yang baru. Pada tahap ini guru
menyampaikan bahan ajar yang sudah disiapkan. Penyampaian bahan
ajar dapat dilakukan melalui ceramah atau membaca teks yang sudah
disiapkan.
d. Evaluasi (resitation) untuk mengecek kemampuan siswa. Evaluasi
dapat dilakukan melalui proses tanya jawab atau meminta siswa untuk
menjelaskan pemahamannya terhadap materi yang dipelajari.
Setiap ada keunggulan tentu ada kelemahan, begitu pula dengan
metode ekspositori. Keunggulan dan kelemahan yang termuat pada metode
pembelajaran dapat dijadikan sebagai acuan dalam menggunakan metode
tersebut.
Keunggulan penggunaan metode ekspositori, yaitu:47
1) Guru mudah mengontrol dan menguasai kelas sehingga dapat
mengetahui perkembangan siswanya.

46
Sagala, op. cit., h. 79.
47
Sanjaya, op.cit., h. 190-191.
32

2) Efektif untuk materi pelajaran yang luas dan waktu yang dimiliki
terbatas.
3) Siswa dapat mendengar dan melihat sehingga pembelajaran ini
cocok untuk siswa yang memiliki gaya belajar auditori atau visual.
4) Dapat digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
Sedangkan kelemahan penggunaan metode ekspositori, yaitu:48
1) Metode ini hanya mungkin dapat dilakukan pada siswa yang
memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
2) Tidak dapat melayani perbedaan setiap individu baik dalam
kemampuan, pengetahuan, minat, bakat, serta gaya belajar.
3) Sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal sosialisasi,
hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.
4) Guru memegang peran yang dominan terhadap pencapaian tujuan
pembelajaran.
5) Pembelajaran bersifat satu arah yaitu berasal dari apa yang
disampaikan guru, sehingga akan sulit untuk mengetahui sudah
sejauh mana pemahaman siswa terhadap bahan ajar, juga dapat
membatasi pengetahuan siswa hanya sebatas apa yang disampaikan
oleh guru di depan kelas.
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode
ekspositori merupakan metode yang menekankan penuturan lisan guru dalam
penyajian materi sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai bergantung
dengan kemampuan guru dalam menyampaikan materi.

B. Penelitian yang Relevan


Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan
penulis, diantaranya sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Arief Rahmat Setyawan (2012) yang
berjudul Perbedaan Hasil Penerapan antara Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization dan Konvensional terhadap

48
Ibid., h. 191.
33

Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SDN Timuran Kota Yogyakarta


Tahun Ajaran 2011/2012 (Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta). Hasil
penelitian ini menunjukan adanya perbedaan hasil belajar siswa yang
diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted
Individualization dan model pembelajaran konvensional pada kelas IV SDN
Timuran Kota Yogyakarta. Hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi
daripada kelas kontrol.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Bakhrodin (2013) yang berjudul Efektivitas
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI)
Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa kelas VII
MTs Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta (Skripsi Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta). Dari hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted
Individualization (TAI) dengan Pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) lebih efektif disbanding model pembelajaran konvensional
dalam kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Irfa Kalimatillah (2014) yang berjudul
Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted
Individualization (TAI) Terhadap Kemampuan Koneksi dan Komunikasi
Matematis Siswa MTs (Tesis Universitas Terbuka Jakarta). Dari hasil
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan koneksi dan
komunikasi matematis siswa melalui penggunaan model pembelajaran
kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) lebih baik daripada
kemampuan koneksi dan komunikasi matematis siswa melalui penggunaan
model pembelajaran konvensional serta terdapat perbedaan kemampuan
koneksi dan komunikasi matematis siswa yang mendapat pembelajaran
kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan siswa yang
mendapat pemebelajaran konvensional ditinjaudari tingkat kemampuan
siswa tinggi, sedang, dan rendah.
Pada penelitian sebelumnya mempunyai variabel hasil belajar,
kemampuan pemecahan masalah, serta kemampuan koneksi dan komunikasi
34

matematis. Berbeda dengan hal itu, variabel dalam penelitian ini ialah
pemahaman konsep matematika. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya
model pembelajaran kooperatif tipe TAI memiliki pengaruh positif terhadap
variabel penelitian. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan model
kooperatif tipe TAI ini juga akan berpengaruh positif terhadap pemahaman
konsep matematika siswa. Hal tersebut dilatarbelakangi pada proses
pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk belajar secara mandiri
terlebih dahulu, sehingga siswa dapat membangun konsep yang kuat dalam
melaksanakan pembelajaran.

C. Kerangka Berfikir
Salah satu tujuan pembelajaran matematika berdasarkan
Permendiknas adalah agar peserta didik memiliki kemampuan pemahaman
konsep. Pemahaman konsep merupakan kemampuan untuk mengerti makna
dari suatu konsep, menerapkan konsep untuk menyelesaikan permasalahan,
serta mengkaitkan konsep satu dengan konsep lainnya. Indikator siswa
memahami konsep menurut Bloom diantaranya ialah siswa mampu
menerjemahkan yakni mengubah dari lambang ke arti, mampu memahami ide
utama dari konsep, dan mampu membuat kesimpulan berdasarkan konsep yang
telah diketahui.
Namun yang terjadi saat ini, pemahaman konsep yang dimiliki siswa
masih rendah. Persepsi negatif dan tidak sukanya siswa terhadap matematika
menyurutkan minat siswa dalam belajar, sehingga menghambat siswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran matematika. Kemudian guru dalam
melaksanakan pembelajaran masih menitikberatkan pada pembelajaran
konvensional yang berpusat kepada guru. Kegiatan pembelajaran yang
dilakukan belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun dan
memahami konsep dalam matematika. Siswa diberikan rumus jadi sehingga
siswa hanya mampu menghafal rumus dan belum mampu mengaplikasikan
rumus yang diterima ke dalam situasi yang berbeda.
35

Untuk mengatasi permasalahan diatas dapat dilakukan dengan


memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan. Guru harus pandai
memilih model pembelajaran yang tepat untuk menyajikan materi agar konsep
yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh para siswa. Menurut Lie,
pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) lebih efektif daripada pengajaran
oleh guru. Hal itu dikarenakan siswa lebih mudah memahami bahasa yang
disampaikan oleh rekan sebaya daripada bahasa yang disampaikan guru
sebagai orang dewasa. Model pembelajaran yang dapat digunakan ialah model
pembelajaran kooperatif. Model ini memberi kesempatan kepada siswa untuk
aktif dalam belajar dan memahami konsep yang diajarkan melalui kerjasama
dengan teman sekelompoknya.
Pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe salah satunya adalah
tipe Team Assisted Individualization. Pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted Individualization ini menggabungkan pembelajaran kooperatif dan
individual. Selain itu, tipe Team Assisted Individualization ini juga
memperhatikan perbedaan kemampuan individual dalam memulai
pembelajaran. Pada prosesnya siswa diberi kesempatan untuk membangun
konsep secara mandiri. Proses membangun konsep melibatkan kemampuan
awal siswa sehingga dapat menjadi dasar yang kuat bagi pemahaman siswa.
Kemudian hasil konsep yang telah dibangun siswa dilakukan pengecekan
melalui diskusi dengan anggota dalam kelompok. Dalam kegiatan diskusi
siswa dapat saling berdebat tetapi pada akhirnya setiap siswa dalam kelompok
harus mengambil keputusan secara bulat terhadap konsep yang dibangun.
Pemberian bantuan bagi siswa yang memiliki kemampuan lemah
dapat dilakukan oleh guru dan siswa dalam kelompok. Setiap kelompok harus
memastikan anggotanya telah menguasai materi yang diajarkan karena akan
menentukan keberhasilan kelompok. Dengan demikian setiap siswa lebih
termotivasi untuk memahami materi yang diajarkan sehingga pemahaman
konsep siswa dapat meningkat. Skema kerangka berpikir dapat dilihat pada
Gambar 2.1.
36

Skema Kerangka Berfikir

Rendahnya
pemahaman konsep

Persepsi negatif Pembelajaran Pemberian rumus


tentang matematika berpusat pada guru jadi kepada siswa

Model pembelajaran
diperlukan
kooperatif

Tipe Team Assisted


Individualization (TAI)

pemahaman yang dilatihkan

Penerjemahan Penafsiran Ekstrapolasi

Pemahaman
konsep meningkat

Gambar 2.1
Skema Kerangka Berpikir

D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir yang telah dijelaskan
sebelumnya, maka dalam penelitian ini dapat diajukan hipotesis penelitian
yaitu pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe TAI lebih tinggi dibandingkan pemahaman
konsep matematika siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran
konvensional.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di SDI Ummul Quro pada semester ganjil
bulan September sampai dengan bulan Oktober 2015 tahun pelajaran
2015/2016.

B. Metode dan Desain Penelitian


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
quasi eksperimen (eksperimen semu), yaitu metode eksperimen yang tidak
memungkinkan peneliti melakukan pengontrolan penuh terhadap variabel dan
kondisi eksperimen. Metode ini memiliki kelompok kontrol, tetapi tidak dapat
berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang
mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.1 Penelitian ini dilakukan terhadap dua
kelompok pengamatan, yaitu kelompok XE dan kelompok XK. Kelompok XE
adalah kelompok eksperimen yang dalam proses pembelajaran diberikan
perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI,
sedangkan XK adalah kelompok kontrol yang dalam proses pembelajaran
diberikan perlakukan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu postest
control group design dengan melibatkan dua kelompok yang dibandingkan,
yaitu kelompok eksperimen dan kontrol. Desain penelitian ini sebagai berikut:

Tabel 3.1
Desain Penelitian
Kelompok Perlakuan Posttest
Eksperimen XE Y
Kontrol XK Y

1
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,
(Bandung: Alfabeta, 2013), h. 114.

37
38

Keterangan:
XE = Perlakuan dengan menggunakan model kooperatif tipe TAI dalam
pembelajaran
XK = Perlakuan dengan menggunakan model konvensional dalam pembelajaran
Y = Tes yang diberikan kepada kedua kelompok setelah diberi perlakuan

C. Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDI
Ummul Quro pada semester Ganjil Tahun Ajaran 2015/2016 yang terbagi
menjadi tiga kelas. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan
tertentu.2 Kedua kelas yang terpilih menjadi sampel yaitu kelas VA dan VC.
Kelas VA sebagai kelas eksperimen dan kelas VC sebagai kelas kontrol
dengan masing-masing jumlah siswa sebanyak 25 orang. Pengambilan sampel
berdasarkan pertimbangan dari wali kelas V dan kepala sekolah SDI Ummul
Quro Bekasi. Selain itu, pertimbangan menggunakan kelas tersebut
dikarenakan kegiatan prapenelitian dilaksanakan di kelas tersebut.

D. Teknik Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui tes.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah skor pemahaman konsep
matematika siswa. Data tersebut diperoleh dari hasil tes pemahaman konsep
matematika kedua kelompok (eksperimen dan kontrol). Tes yang akan
diberikan merupakan tes tertulis berupa tes uraian. Tes ini diberikan kepada
kelompok eksperimen yang dalam pembelajarannya diterapkan model
pembelajaran tipe Team Assisted Individualization (TAI) dan kelompok kontrol
yang dalam pembelajarannya diterapkan model pembelajaran konvensional
dengan soal yang sama. Tujuan dari tes tertulis ini untuk mengetahui
kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dalam menjawab soal-soal
yang diberikan.

2
Ibid., h. 124.
39

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur
fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena
ini disebut variabel penelitian.3 Variabel dalam penelitian ini terdiri dari
variabel independen dan dependen. Variabel independen (bebas) dalam
penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe TAI sebagai variabel
(x), sedangkan variabel dependen (terikat) adalah pemahaman konsep
matematika siswa sebagai variabel (y).
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
instrumen tes. Tes yang digunakan adalah tes uraian yang berupa soal-soal
pemahaman konsep yang berguna untuk mengukur pemahaman konsep
matematika siswa. Tes kemampuan pemahaman konsep matematika yang
diberikan sesuai dengan indikator pemahaman konsep matematika. Indikator
pemahaman konsep yang digunakan dalam instrumen tes ini mengacu pada
indikator menurut Benjamin S. Bloom yaitu, penerjemahan (transalation),
penafsiran (interpretation), dan ekstrapolasi (extrapolation). Kisi-kisi
instrumen yang digunakan untuk mengetahui pemahaman konsep matematika
siswa dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Sebelum instrumen digunakan, instrumen terlebih dahulu
diujicobakan kepada siswa yang bukan sampel penelitian. Uji coba instrumen
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kualitas instrumen penelitian yang
akan digunakan. Instrumen penelitian ini diuji dengan mengukur validitas, uji
realibilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.

Tabel 3.2
Kisi-kisi Instrumen Pemahaman Konsep
Pokok Bahasan : Luas Bangun Datar
Kompetensi Dasar : 3.1 Menghitung luas trapesium dan layang-layang
3.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas
bangun datar

3
Ibid., h. 148.
40

No.
No Kategori Indikator
Soal
a. Mengubah satuan luas ke satuan luas lain
1a
yang tingkatannya berbeda
b. Menggambar bangun datar trapesium 2
c. Menggambar bangun datar layang-
4a
layang
d. Menggambar bangun datar belah ketupat 9
1. Penerjemahan
e. Mengidentifikasi sifat bangun datar
3a
trapesium
f. Mengidentifikasi sifat bangun datar
5
layang-layang
g. Mengidentifikasi sifat bangun datar belah
11a
ketupat
a. Menghitung gabungan beberapa satuan
1b
luas
b. Menghitung luas bangun datar trapesium 3b
2. Penafsiran c. Menghitung luas bangun datar layang-
4b
layang
d. Menghitung luas bangun datar belah
11b
ketupat
a. Menghitung tinggi trapesium 8
b. Menghitung diagonal layang-layang 6
c. Menghitung diagonal belah ketupat 12
d. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan
7
3. Ekstrapolasi dengan luas trapesium
e. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan
10
dengan luas layang-layang
f. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan
13
dengan luas belah ketupat
41

1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevaliditisan
atau kesahihan suatu instrumen.4 Suatu Instrumen dikatakan valid apabila tes
tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya dikur. Adapun
rumus yang digunakan untuk mengukur validitas adalah dengan menggunakan
rumus korelasi Product Moment, yaitu:5


xy
{ {

Keterangan :
rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan y
n = banyak siswa
X = jumlah skor butir soal
Y = jumlah skor total
XY= jumlah hasil kali skor X dengan Y untuk setiap responden
X2 = jumlah kuadrat skor butir soal
Y2 = jumlah kuadrat skor total
Untuk mengetahui valid atau tidaknya soal, maka rhitung dibandingkan
dengan rtabel product moment dengan taraf signifikansi 5% ( = 0,05). Adapun
kriteria pengujiannya adalah jika rxy rtabel, maka soal dinyatakan valid dan
jika rxy < rtabel, maka soal dinyatakan tidak valid. Berdasarkan hasil perhitungan
uji validitas dengan n = 40 dan = 0,05 diperoleh 17 soal yang dinyatakan
valid. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 9.

2. Uji Realibilitas
Uji realibilitas dapat digunakan untuk mengetahui tingkat
keterpecayaan hasil suatu tes. Suatu tes dikatakan memiliki taraf keterpecayaan
tinggi apabila dapat memberikan hasil yang tetap. Dalam penelitian ini uji

4
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 168.
5
Ibid., h.170.
42

realibilitas instrument tes menggunakan rumus Alpha Crornbach sebagai


berikut:6

r11= [ ]( )

Keterangan:
r11 = Reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
= Jumlah varians butir
= varians total

Kriteria koefisien reliabilitas adalah sebagai berikut:


0,80 < r11 1, 00 : derajat reliabilitas sangat tinggi (sangat baik)
0,60 < r11 0,80 : derajat reliabilitas tinggi (baik)
0,40 < r11 0,60 : derajat reliabilitas sedang (cukup)
0,20 < r11 0,40 : derajat reliabilitas rendah (kurang)
0,00 < r11 0,20 : derajat reliabilitas sangat rendah

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan pada 17 butir soal yang


valid, diperoleh nilai reliabilitas soal sebesar 0,91. Perhitungan selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran 10.

3. Uji Taraf Kesukaran


Uji taraf kesukaran butir soal bertujuan untuk mengetahui soal-soal
mudah, sedang, dan sukar. Untuk menghitung indeks kesukaran suatu butir
soal digunakan sebagai berikut:7

Keterangan :
P = indeks kesukaran butir soal
B = jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar

6
Ibid., h. 196.
7
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005),
h. 208.
43

JS = jumlah seluruh siswa peserta tes

Tabel 3.3
Indeks Taraf Kesukaran
Nilai P Keterangan
0,00 0,30 Soal Sulit
0,31 0,70 Soal Sedang
0,71 1,00 Soal Mudah

Berdasarkan hasil pengujian tingkat kesukaran soal, dari 17 soal tes


yang diujikan, sebanyak 16 soal termasuk dalam kriteria sedang dan sebanyak
1 soal termasuk dalam kriteria sulit. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat
pada lampiran 11.

4. Uji Daya Pembeda


Uji daya pembeda soal bertujuan untuk mengetahui kemampuan soal
dalam membedakan kemampuan siswa. Untuk mengetahui daya pembeda soal,
digunakan rumus:8

DP = = PA - PB

Keterangan :
DP = daya pembeda pada tiap soal
BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan
benar
JA = banyaknya peserta kelompok atas
JB = bayaknya peserta kelompok bawah

PA = = proporsi kelompok atas yang menjawab benar

PB = = proporsi kelompok bawah yang menjawab benar

8
Ibid., h. 213.
44

Tabel 3.4
Kriteria Daya Pembeda
Daya beda soal Keterangan
0,00 0,20 Jelek
0,21 0,40 Cukup
0,41 0,70 Baik
0,71 1,00 Baik Sekali

Bedasarkan hasil perhitungan uji daya pembeda, diperoleh 4 butir soal


dengan kriteria jelek, 8 butir soal dengan kriteria cukup, dan 5 butir soal
dengan kriteria baik. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 12.

F. Teknik Analisis Data


Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
analisis dengan uji perbedaan dua rata-rata populasi menggunakan uji t dengan
taraf signifikans = 0,05 untuk menguji hipotesis. Sebelum melakukan uji t,
terlebih dahulu harus dilakukan uji prasyarat analisis. Prasayaratnya adalah,
kedua populasi berdistribusi normal (uji normalitas) dan kedua populasi
memiliki varians yang homogen (uji homogenitas).

1. Uji Prasyarat Analisis


a. Uji Normalitas
Uji normalitas data ini dilakukan untuk mengetahui apakah sampel
yang diteliti berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak. Uji
normalitas yang digunakan adalah Uji Lilliefors.9
Adapun langkah-langkah dalam uji Lilliefors adalah sebagai berikut:
1) Urutkan data sampel dari yang terkecil hingga yang terbesar
2) Tentukan nilai Zi dari tiap-tiap data dengan menggunakan rumus:


Zi =

9
Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005), h. 466.
45

Keterangan:
Zi = skor baku
Xi = data yang diperoleh
= nilai rata-rata
s = simpangan baku
3) Tentukan nilai Ztabel berdasarkan nilai Zi
4) Tentukan besar peluang untuk masing-masing Zi berdasarkan Ztabel,
disebut dengan F (Zi) dengan aturan:
Jika Zi negatif (-), maka 0,5 - Ztabel
Jika Zi positif (+), maka 0,5 + Ztabel
5) Hitung proposisi Z1, Z2, , Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi jika
proposisi ini dinyatakan dengan S(Zi), maka:

S(Zi) =

6) Hitunglah selisih F (Zi) S (Zi) kemudian tentukan harga mutlaknya.


7) Ambil data terbesar diantara harga-harga mutlak tersebut ini kita
namakan Lo.
8) Ambil kesimpulan berdasarkan harga Lo dan Lt yang telah didapat.
Apabila Lhitung Ltabel, maka H0 diterima atau data berdistribusi normal.
Apabila Lhitung > Ltabel, maka H0 ditolak atau data tidak berdistribusi
normal.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara dua
keadaan atau sampel. Uji homogenitas yang digunakan adalah Uji Fisher.10
Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk melakukan Uji Fisher
sebagai berikut:
1) Tentukan hipotesis
2) Bagi data menjadi dua kelompok
3) Tentukan simpangan baku dari masing-masing kelompok
4) Menentukan Fhitung dengan rumus:

10
Ibid., h. 249.
46

Fhitung = =

5) Menentukan Fhitung dengan rumus:


dk pembilang = n-1 (untuk varians terbesar)
dk penyebut = n-1 (untuk varians terkecil)
dengan taraf signifikansi = 5% (0,05), kemudian dicari pada tabel F
6) Membandingkan nilai Fhitung dengan nilai Ftabel, dengan kriteria pengujian:
Jika Fhitung Ftabel, maka H0 diterima, yang berarti varians kedua populasi
homogen.
Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak, yang berarti varians kedua populasi
tidak homogen.

2. Uji Hipotesis
Setelah dilakukan pengujian populasi data dengan menggunakan uji
normalitas dan uji homogenitas, maka untuk menguji data yang diperoleh
digunakan rumus uji t. Taraf signifikan yang digunakan = 0,05. langkah
pengujian hipotesis yang dilakukan sebagai berikut:
a. Menentukan uji statistik
1) Jika varian populasi heterogen :11

=

2) Jika varian populasi homogen :12


= Dimana =

Keterangan:
1 = rata-rata data kelompok eksperimen
= rata-rata data kelompok kontrol
Sgab = nilai deviasi standar gabungan

11
Ibid., h. 241.
12
Ibid., h.239.
47

n1 = banyaknya siswa kelompok eksperimen


n2 = banyaknya siswa kelompok kontrol
s12 = varians kelompok eksperimen
s22 = varians kelompok kontrol
b. Menentukan tingkat signifikansi
tingkat signifikansi yang diambil dalam penelitian ini adalah dengan
signifikan = 0,05.
c. Menentukan kriteria pengujian
Untuk menentukan kriteria pengujian pada pengolahan data dilakukan
dengan operasi perhitungan, pengujiannya dengan melihat perbandingan antara
thitung dan ttabel.
d. Pengambilan kesimpulan
Pengambilan kesimpulan berdasarkan kriteria sebagai berikut:
Jika thitung ttabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Jika thitung > ttabel, maka H1 diterima dan H0 ditolak.

G. Hipotesis Statistik
Hipotesis statistik yang akan diuji pada penelitian ini adalah:
H0 : 1 2
H1 : 1 > 2
Keterangan Hipotesis
H0: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran kooperatif
tipe TAI terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa
H1: Terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran kooperatif tipe
TAI terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa
1: Rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang
diberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe TAI
2: Rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang
diberikan pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data
Penelitian ini dilaksanakan di SDI Ummul Quro Bekasi. Sebelum tes
akhir (posttest) diberikan, terlebih dahulu dilakukan uji coba instrument
sebanyak 17 soal uraian pemahaman konsep. Uji coba tersebut dilakukan pada
kelas VI-A dan VI-B yang berjumlah 40 siswa.
Peneliti mengambil dua kelas untuk dijadikan kelompok penelitian.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 50 siswa, masing-
masing kelas eksperimen dan kontrol berjumlah 25 siswa. Pada penelitian ini,
kelas V-A sebagai kelas eksperimen yang mendapat pembelajaran dengan
model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dan
kelas V-C sebagai kelas kontrol yang mendapat pembelajaran dengan model
pembelajaran konvensional.
Sebelum kegiatan penelitian dilakukan, peneliti melakukan tes
pendahuluan untuk mengetahui kemampuan siswa agar dapat membagi siswa
ke dalam kelompok yang heterogen. Hasil tes pendahuluan dijadikan sebagai
nilai dasar untuk perhitungan skor kemajuan siswa. Kegiatan pembelajaran
dalam penelitian ini berlangsung selama delapan kali pertemuan. Pokok
bahasan yang diajarkan pada penelitian ini mengenai bangun datar.
Pemahaman konsep matematika siswa kedua kelas tersebut dapat
diukur setelah diberikan perlakuan yang berbeda antara kelas eksperimen dan
kelas kontrol, selanjutnya kedua kelas tersebut diberikan posttest berbentuk tes
uraian. Berikut ini disajikan data hasil tes pemahaman konsep matematika yang
berupa hasil perhitungan akhir. Data pada penelitian ini ialah data yang
terkumpul dari posttest yang telah diberikan kepada dua sampel penelitian.

1. Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas Eksperimen


Gambaran umum tentang data-data ini meliputi nilai rata-rata, median,
modus, varians, dan simpangan baku. Berikut ini disajikan data hasil

48
49

perhitungan akhir tes pemahaman konsep matematika setelah proses


pembelajaran yang diberikan kepada siswa kelas eksperimen.
Hasil tes yang diberikan kepada kelas eksperimen, diperoleh nilai
terkecil yaitu 44 dan nilai tertinggi yaitu 93. Untuk lebih jelasnya, data hasil
posttest pemahaman konsep matematika siswa kelas eksperimen disajikan
dalam Tabel 4.1.

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Posttest Pemahaman Konsep
Matematika Siswa Kelas Eksperimen
Frekuensi
Nilai
Absolut Kumulatif Persentase (%)

44-52 3 3 12
53-61 4 7 16
62-70 4 11 16
71-79 7 18 28
80-88 5 23 20
89-97 2 25 8
Jumlah 25 100

Pada kelas eksperimen diperoleh nilai rata-rata sebesar 70,68. Dari


Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa banyaknya kelas interval adalah 6 kelas dengan
panjang tiap interval kelas adalah 9. Terlihat bahwa persentase terbesar yaitu
28% ada pada interval nilai 71-79. Sedangkan persentase terkecil yaitu 8% ada
pada interval nilai 89-97.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh rata-rata sebesar ( ) 70,68,
median (Me) 72,39, modus (Mo) 75,90, varians (s2) 183,06, simpangan baku
(s) 13,53. Sebanyak 56% atau 14 siswa kelas eksperimen mendapat nilai lebih
besar atau sama dengan nilai rata-rata kelas. Sedangkan siswa yang mendapat
nilai dibawah rata-rata sebanyak 44% atau 11 siswa. Hal ini menunjukan
50

bahwa sebagian besar siswa di kelas eksperimen mendapat nilai diatas rata-
rata.
Gambaran penyebaran data hasil kemampuan pemahaman konsep
matematika siswa di kelas eksperimen dengan model pembelajaran tipe Team
Assisted Individualization (TAI) dapat dilihat pada grafik histogram Gambar
4.1.

8
Data Kelas Eksperimen
7

5
Frekuensi

0
44-52 53-61 62-70 71-79 80-88 89-97
Nilai

Gambar 4.1
Grafik Histogram Frekuensi Pemahaman Konsep
Matematika Kelas Eksperimen

Untuk mengetahui pencapaian pemahaman konsep matematika siswa


kelas eksperimen pada tiap kategori pemahaman menurut Bloom, berikut ini
disajikan rekapitulasi nilai rata-rata tiap kategori pemahaman konsep. Data
statistik ini diperoleh berdasarkan analisis terhadap skor tes siswa yang
dicapainya terhadap soal-soal tes pemahaman, yang terdiri dari kategori
penerjemahan sebanyak 7 soal, kategori penafsiran sebanyak 4 soal, dan
kategori ekstrapolasi sebanyak 6 soal. Untuk melihat nilai rata-rata kategori
pemahaman konsep kelas eksperimen lebih jelas disajikan pada Tabel 4.2.
51

Tabel 4.2
Nilai Rata-rata Kategori Pemahaman Kelas Eksperimen
Kategori Pemahaman Skor Ideal Rata-rata Persentase (%)
Penerjemahan 28 20,20 72,14
Penafsiran 16 11,44 71,50
Ekstrapolasi 24 15,16 63,17

Berdasarkan Tabel 4.2 pemahaman konsep matematika siswa kelas


eksperimen lebih didominasi kategori penerjemahan. Hal ini dapat terlihat pada
perolehan persentase kategori penerjemahan memperoleh persentase terbesar
yaitu 72,14%. Sedangkan persentase terkecil diperoleh pada kategori
ekstrapolasi yaitu sebesar 63,17%.

2. Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas Kontrol


Berdasarkan hasil tes yang diberikan kepada kelas kontrol, diperoleh
nilai terkecil yaitu 34 dan nilai tertinggi yaitu 84. Untuk lebih jelasnya, data
hasil posttest pemahaman konsep matematika siswa kelas kontrol disajikan
dalam Tabel 4.3.

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Posttest Pemahaman Konsep
Matematika Siswa Kelas Kontrol
Frekuensi
Nilai
Absolut Kumulatif Persentase (%)

34-42 2 2 8
43-51 8 10 32
52-60 6 16 24
61-69 4 20 16
70-78 4 24 16
79-87 1 25 4
Jumlah 25 100
52

Tabel 4.3 menunjukan bahwa banyaknya kelas interval adalah 6 kelas


dengan panjang tiap interval kelas 9. Terlihat bahwa persentase terbesar yaitu
32% ada pada interval nilai 43-51. Sedangkan persentase terkecil yaitu 4% ada
pada interval nilai 79-87.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh rata-rata sebesar ( ) 57,08,
median (Me) 55,28, modus (Mo) 49,25, varians (s2) 150,66, simpangan baku
(s) 12,27. Sebanyak 48% atau 12 siswa kelompok kontrol mendapat nilai lebih
besar atau sama dengan nilai rata-rata kelas. Sedangkan siswa yang mendapat
nilai dibawah rata-rata sebanyak 52% atau 13 siswa. Dengan demikian
sebagian besar siswa pada kelas kontrol mendapat nilai dibawah rata-rata.
Gambaran penyebaran data hasil kemampuan pemahaman konsep
matematika siswa di kelas kontrol dengan model pembelajaran konvensional
dapat dilihat pada grafik histogram Gambar 4.2.

9
Data Kelas Kontrol
8
7
6
Frekuensi

5
4
3
2
1
0
34-42 43-51 52-60 61-69 70-78 79-87
Nilai

Gambar 4.2
Grafik Histogram Frekuensi Pemahaman Konsep
Matematika Kelas Kontrol

Untuk mengetahui pencapaian pemahaman konsep matematika siswa


kelas kontrol pada tiap kategori pemahaman menurut Bloom, berikut ini
disajikan rekapitulasi nilai rata-rata tiap kategori pemahaman konsep. Data
53

statistik ini diperoleh berdasarkan analisis terhadap skor tes siswa yang
dicapainya terhadap soal-soal tes pemahaman, yang terdiri dari kategori
penerjemahan sebanyak 7 soal, kategori penafsiran sebanyak 4 soal, dan
kategori ekstrapolasi sebanyak 6 soal. Untuk melihat nilai rata-rata kategori
pemahaman konsep kelas kontrol lebih jelas disajikan pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4
Nilai Rata-rata Kategori Pemahaman Kelas Kontrol
Kategori Pemahaman Skor Ideal Rata-rata Persentase (%)
Penerjemahan 28 17,24 61,57
Penafsiran 16 9,80 61,25
Ekstrapolasi 24 12,08 50,33

Berdasarkan Tabel 4.4 pemahaman konsep matematika siswa kelas


kontrol lebih didominasi kategori penerjemahan. Hal ini dapat terlihat pada
perolehan persentase kategori penerjemahan memperoleh persentase terbesar
yaitu 61,57%. Sedangkan persentase terkecil diperoleh pada kategori
ekstrapolasi sebesar 50,33%.

3. Perbandingan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas


Eksperimen dan Kelas Kontrol
Data statistik hasil tes pemahaman konsep matematika siswa dengan
model pembelajaran tipe TAI dan model pembelajaran konvensional terdapat
perbedaan. Berdasarkan perbandingan pemahaman konsep matematika, terlihat
nilai siswa tertinggi terdapat pada kelas eksperimen dengan nilai 93, sedangkan
nilai terendah terdapat pada kelas kontrol dengan nilai 34. Berdasarkan Tabel
4.5 nilai posttest kelas eksperimen lebih tinggi dari pada posttest kelas kontrol.
Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata ( ) kelas eksperimen sebesar
70,68, sedangkan kelas kontrol 57,08 dengan selisih 13,6 (70,68 57,08)
begitu pula dengan nilai median, modus, varians, dan simpangan baku kelas
eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel 4.5.
54

Tabel 4.5
Perbandingan Pemahaman Konsep Matematika Siswa
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Kelas
Statistik Deskriptif
Eksperimen Kontrol
Jumlah Siswa 25 25
Maksimum 93 84
Minimum 44 34
Rata-rata ( ) 70,68 57,08
Median (Me) 72,39 55,28
Modus (Mo) 75,90 49,25
Varians (s2) 183,06 150,66
Simpangan Baku (s) 13,53 12,27

Adapun pencapaian pemahaman konsep matematika tiap kategori


pemahaman menurut Bloom, pada kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat
perbedaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6
Rekapitulasi Nilai Rata-rata Kategori Pemahaman Konsep
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Kategori Skor Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pemahaman Ideal Rata-rata Persentase Rata-rata Persentase
Penerjemahan 28 20,20 72,14% 17,24 61,56%
Penafsiran 16 11,44 71,50% 9,80 61,25%
Ekstrapolasi 24 15,16 63,17% 12,08 50,33%

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa kelas eksperimen


memperoleh nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol pada tiap
kategori pemahaman. Selain itu nilai rata-rata yang diperoleh kelas eksperimen
lebih mendekati skor ideal dibandingkan kelas kontrol. Pemahaman konsep
matematika siswa kategori penerjemahan, penafsiran, dan ekstrapolasi pada
kelas eksperimen memperoleh persentase yang lebih besar dibandingkan
55

dengan kelas kontrol. Persentase terbesar pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol diperoleh dari kategori penerjemahan. Sedangkan persentase terkecil
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh dari kategori ekstrapolasi.

B. Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengujian Hipotesis


Sebelum melakukan pengujian hipotesis perlu dilakukan pemeriksaan
terlebih dahulu terhadap data hasil penelitian dengan melakukan pengujian
persyaratan analisis.

1. Pengujian Persyaratan Analisis


Penelitian ini menggunakan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji
homogenitas.

a. Uji Normalitas
Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji
Lilliefors. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berasal dari
populasi yang berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa
kelompok berdistribusi normal jika memenuhi kriteria Lhitung Ltabel diukur
pada taraf signifikansi dan tingkat kepercayaan tertentu.
Hasil perhitungan uji normalitas untuk kelas eksperimen dan kelas
kontrol diperoleh Lhitung = 0,12. Dari tabel harga kritis uji Lilliefors dengan
taraf signifikansi = 0,05 untuk n = 25 maka didapat harga Ltabel = 0,17.
Hasil pengujian normalitas posttest kelas eksperimen dan kelas
kontrol, dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7
Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Data Eksperimen Kontrol
n 25 25
Lhitung 0,12 0,12
Ltabel 0,17 0,17
Kesimpulan Berdistribusi normal Berdistribusi normal
56

Berdasarkan hasil pengujian diatas dapat disimpulkan bahwa data


pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal karena
memenuhi kriteria Lhitung Ltabel.

b. Uji Homogenitas
Setelah dilakukan uji normalitas, diketahui bahwa kedua kelompok
sampel dalam penelitian ini dinyatakan berasal dari populasi yang berdistribusi
normal. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan Uji
Fisher.
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok
sampel memiliki varians yang sama (homogen) atau tidak. Kriteria pengujian
yang digunakan yaitu kedua kelompok dikatakan homogen apabila Fhitung
Ftabel diukur pada taraf signifikansi dan tingkat kepercayaan tertentu.
Dari hasil perhitungan diperoleh Fhitung = 1,22 dan Ftabel = 1,98 pada
taraf signifikansi = 0,05 dengan derajat kebebasan pembilang dan derajat
kebebasan penyebut.
Untuk lebih jelasnya hasil pengujian homogenitas dapat dilihat pada
Tabel 4.8.

Tabel 4.8
Hasil Perhitungan Uji Homogenitas
Data Eksperimen Kontrol
n 25 25
Varians (s2) 183,06 150,66
Fhitung 1,22
Ftabel 1,98
Kesimpulan Varians Homogen

Berdasarkan hasil dari variansi kedua kelompok yaitu eksperimen dan


kontrol memenuhi kriteria Fhitung Ftabel, maka dari pengujian kedua kelompok
sampel berasal dari kelompok yang homogen.
57

2. Pengujian Hipotesis
Setelah dilakukan pengujian persyaratan analisis yaitu uji normalitas
dan homogenitas, diperoleh kesimpulan bahwa kedua sampel berdistribusi
normal dan homogen. Selanjutnya adalah melakukan pengujian hipotesis
dengan menggunakan uji t. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah
rata-rata pemahaman konsep matematika siswa pada kelompok eksperimen
yang dalam pembelajarannya menggunakan model kooperatif tipe TAI lebih
tinggi dibandingkan dengan pemahaman konsep matematika kelompok kontrol
yang dalam pembelajarannya menggunakan model konvensional.
Setelah melakukan perhitungan dengan menggunakan uji t, diperoleh
thitung = 3,77. Berdasarkan tabel distribusi t, dengan taraf siginifikansi 0,05 dan
derajat kebebasan (db) = 48 diperoleh harga ttabel = 2,01.
Hasil perhitungan uji hipotesis dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9
Hasil Perhitungan Uji Hipotesis
Data Eksperimen Kontrol
n 25 25
Rata-rata ( ) 70,68 57,08
thitung 3,77
ttabel 2,01
Kesimpulan H0 ditolak dan H1 diterima

Dari Tabel 4.8 telihat bahwa thitung > ttabel (3,77 > 2,01) maka dapat
disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima atau dengan kata lain terdapat
pengaruh yang signifikan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted
Individualization terhadap pemahaman konsep matematika siswa.

C. Pembahasan Hasil Penelitian


Berdasarakan hasil uji hipotesis, dapat ditarik kesimpulan bahwa rata-
rata pemahaman konsep matematika siswa kelompok eksperimen lebih tinggi
daripada kontrol. Hal ini dapat terjadi karena adanya perbedaan perlakuan yang
58

diberikan pada kedua kelompok tersebut. Proses pembelajaran yang dilakukan


di kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
TAI. Sedangkan proses pembelajaran yang dilakukan pada kelas kontrol
dengan menggunakan model konvensional.

1. Proses Pembelajaran dengan Model Kooperatif Tipe Team Assisted


Individualization (TAI)
Berdasarkan uraian sebelumnya diketahui bahwa terdapat perbedaan
nilai rata-rata posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Nilai rata-rata
posttest kelas eksperimen sebesar 70,68 sedangkan kelas kontrol sebesar
57,08. Perbedaan nilai rata-rata tersebut tidak terjadi secara kebetulan,
melainkan terjadi karena adanya perbedaan perlakuan yang diberikan kepada
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Perbedaan hasil posttest kelas eksperimen
dan kelas kontrol tersebut menunjukan bahwa pemahaman konsep matematika
siswa yang melaksanakan pembelajaran dengan model TAI lebih tinggi
daripada pemahaman konsep matematika siswa yang melaksanakan
pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional.
Model pembelajaran tipe TAI merupakan salah satu tipe model
pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran TAI mengkombinasikan
pembelajaran individual dan kelompok. Siswa dapat membangun dasar yang
kuat sebelum melangkah ke tahap selanjutnya. Sebelum memasuki
pembelajaran kelompok siswa terlebih dahulu melakukan pembelajaran secara
individual. Pembelajaran individual yang dilakukan memberi kesempatan
kepada siswa untuk mengawali pembelajaran berdasarkan kemampuan yang
dimiliki dan membangun konsep sesuai dengan kemampuannya.
Pada prosesnya pembelajaran kooperatif TAI dilakukan dengan
membawa hasil pekerjaan masing-masing anggota kelompok. Hasil pekerjaan
kelompok merupakan tanggung jawab masing-masing anggota. Setiap anggota
kelompok diberi kebebasan untuk mendiskusikan hasil pekerjaan para anggota
untuk mendapatkan kesepakatan hasil keseluruhan jawaban. Keberhasilan
kelompok merupakan keberhasilan para anggotanya dalam menyelesaikan kuis
59

di akhir pembelajaran. Oleh karena itu, pada pembelajaran kelompok setiap


anggota harus saling bekerja sama dan saling mengajarkan agar anggota
kelompoknya dapat menyelesaikan kuis dengan baik.
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan pun tidak lagi berpusat
kepada guru. Siswa lebih aktif untuk mengkonstruk pengetahuannya secara
mandiri terlebih dahulu. Kemudian pengetahuan yang telah dibangun siswa
dibawa ke kelompok untuk dilakukan pengecekan. Dengan demikian, siswa
dapat mengatasi kesulitan atau kesalahan pada pembelajaran individual
sehingga konsep yang dipelajari lebih melekat pada memori siswa. Selain itu,
siswa mengetahui letak kesalahan dan kebenaran melalui proses pengecekan
yang dilakukan sehingga pemahaman siswa menjadi lebih baik.
Pada awal pembelajaran di kelas eksperimen diawali pemberian
apersepsi dengan mengingatkan siswa mengenai materi yang berkaitan dengan
satuan luas. Kemudian pembelajaran dilanjutkan dengan pemberian motivasi,
penyampaian tujuan pembelajaran, dan penyampaian proses model
pembelajaran yang akan dilakukan.
Kegiatan inti pembelajaran dimulai dengan melakukan tanya jawab
antara guru dengan siswa berkaitan dengan satuan luas. Pada kegiatan ini siswa
diberi kesempatan untuk memaparkan pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini
bertujuan untuk menganalisa kemampuan awal yang dimiliki siswa. Kemudian
guru menyebutkan nama-nama siswa yang telah dibentuk ke dalam kelompok
yang heterogen. Pemberian informasi nama-nama anggota kelompok dilakukan
di awal pembelajaran agar pada pembelajaran kelompok siswa dapat langsung
berkumpul dengan teman satu kelompoknya.
Pembelajaran dilanjutkan dengan membagikan Lembar Kerja Siswa
(LKS) kepada setiap siswa untuk dikerjakan secara individual. Pada pertemuan
awal pembelajaran siswa terlihat bingung untuk menyelesaikan LKS yang
diberikan. Hal itu dikarenakan belum terbiasanya siswa menggunakan LKS
yang menuntut dirinya untuk mandiri dalam belajar. Proses pembelajaran yang
biasanya dilakukan guru menyajikan materi terlebih dahulu kemudian
mengerjakan latihan. Namun, yang terjadi siswa dihadapkan pada situasi
60

keterlibatan secara aktif untuk mengkonstruk pengetahuan secara mandiri.


Kategori pemahaman yang dilatihkan saat kegiatan pembelajaran individual
menekankan pada penerjemahan dan penafsiran. Saat siswa mempelajari LKS
secara mandiri setiap siswa melakukan penerjemahan terhadap permasalahan
yang terdapat pada LKS. Selain itu, siswa diberi kesempatan untuk
menafsirkan agar memahami ide utama permasalahan yang ada di LKS
sehingga siswa mampu melakukan proses penyelesaian dengan tepat. Kegiatan
pembelajaran individual dalam model pembelajaran tipe TAI dapat dilihat pada
Gambar 4.3.

Gambar 4.3
Siswa Mempelajari Materi Pembelajaran Secara Individual

Proses pembelajaran dilanjutkan dengan pembentukan kelompok


heterogen yang telah disebutkan di awal pembelajaran. Siswa membawa hasil
pekerjaan ke kelompoknya untuk dilakukan pengecekan. Kegiatan pengecekan
dilakukan dengan saling mendiskusikan, menambahkan, dan saling memberi
masukan terhadap hasil jawaban masing-masing anggota kelompok. Pada awal
pembelajaran pembentukan kelompok memerlukan waktu yang cukup lama
karena terhambat dengan terbatasnya luas ruang kelas sehingga siswa kesulitan
untuk menyatukan beberapa meja. Namun pertemuan sealanjutnya
pembelajaran kelompok dilakukan dengan melingkar dilantai sehingga tidak
menghabiskan waktu yang lama. Kegiatan ini dapat dilihat pada Gambar 4.4.
61

Gambar 4.4
Siswa Melakukan Pembelajaran Kelompok

Berdasarkan Gambar 4.4 dapat diamati bahwa siswa melakukan


diskusi untuk saling mengecek hasil pekerjaannya. Setiap siswa membawa
hasil kerjanya sehingga setiap siswa telah memiliki pemahaman yang berbeda-
beda. Oleh karena itu, saat pembelajaran kelompok penekanan pemahaman
yang dilatihkan kepada siswa ialah ekstrapolasi. Siswa harus mampu
menyimpulkan dan menyatukan berbagai pemahaman sehingga tebentuk
pemahaman yang utuh dan menyeluruh terhadap hasil LKS yang dikerjakan.
Pada awal proses pembelajaran kelompok beberapa siswa kurang aktif dalam
melaksanakan diskusi. Hanya beberapa orang dalam kelompok yang aktif
dalam pembelajaran kelompok. Siswa yang kurang aktif dalam diskusi pun
mengalami kesulitan untuk menyelesaikan kuis individual sehingga poin bagi
kelompok mereka menjadi rendah. Pada pertemuan selanjutnya siswa
menyadari hal itu dan semakin antusias dalam proses pembelajaran dalam
kelompok. Anggota kelompok pun semakin bertanggung jawab dengan
anggota yang lain. Jika terdapat teman anggotanya mengobrol, anggota
kelompok tersebut mengingatkan untuk kembali fokus .
Selama kegiatan diskusi yang dilakukan guru berkeliling untuk
memberikan bimbingan kepada kelompok yang membutuhkan. Pada awal
proses pembelajaran siswa masih canggung untuk meminta bantuan dan
bertanya kepada guru. Namun setelah beberapa pertemuan rasa canggung siswa
62

berkurang dan semakin antusias untuk meminta bantuan atau bertanya apabila
terdapat suatu hal yang belum dimengerti. Guru pun mengingatkan untuk
meminta bantuan kepada teman satu kelompok terlebih dahulu jika teman satu
kelompok tidak mampu baru meminta bantuan guru. Pemberian bimbingan
pada kelompok dapat dilihat pada Gambar 4.5

Gambar 4.5
Guru Sebagai Fasilitator dalam Proses Pembelajaran Kelompok

Kemudian guru meminta perwakilan siswa dari masing-masing


kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaan kelompoknya. Siswa
menuliskan hasil pekerjaan yang telah didiskusikan dan menjelaskan kepada
teman-temannya. Pada awalnya siswa saling tunjuk dan kurang percaya diri
untuk mempersentasikan hasil pekerjaan yang telah didiskusikan kelompoknya.
Peneliti pun menyarakan kepada setiap kelompok untuk menyusun giliran maju
dalam kelompok. Sehinga setiap siswa dalam kelompok memiliki kesempatan
yang sama untuk maju ke depan. Saat melakukan persentasi siswa ditugaskan
untuk menjelaskan kembali kepada siswa lainnya. Oleh karena itu, pada
kegiatan ini kategori pemahaman yang di latihkan ialah menerjemahkan.
Kegiatan siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya dapat dilihat pada
Gambar 4.6.
63

Gambar 4.6
Perwakilan Siswa Mempresentasikan Hasil Pekerjaannya

Selanjutnya ialah siswa mengerjakan kuis individual tanpa bantuan


guru dan teman kelompoknya. Sebelum melaksanakan kuis, guru membahas
bersama dan meluruskan hasil persentasi yang dilakukan perwakilan kelompok
jika terdapat kesalahan. Kuis dilakukan untuk mengetahui perkembangan
pemahaman siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Skor kuis didasarkan
pada kemajuan masing-masing siswa dalam belajar. Oleh karena itu siswa
bersaing dengan dirinya sendiri untuk mencapai kemajuan yang optimal dari
nilai dasar atau nilai kuis terakhir yang dilakukan dirinya. Ketika kuis
dilakukan siswa bersemangat untuk mengerjakan agar mampu memberikan
kontribusi terbaik bagi kelompoknya. Hal itu dapat diamati ketika bel pelajaran
berbunyi menandakan waktu pelajaran habis, siswa masih tetap berusaha
menyelesaikan kuis. Kegiatan kuis individual dapat dilihat pada Gambar 4.7.

Gambar 4.7
Siswa Mengerjakan Kuis Indvidual
64

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan memaksimalkan potensi awal


siswa dan proses kelompok membuatnya berhasil dalam menyelesaikan
evaluasi berupa kuis. Hal ini dapat dilihat pada hasil kuis individual yang
diselesaikan siswa. Gambaran hasil pekerjaan siswa berupa hasil kuis
individual siswa pada pertemuan ketiga dan kedelapan dapat dilihat pada
Gambar 4.8 dan Gambar 4.9.
Soal nomor 2 kuis individual pertemuan ketiga sebagai berikut:

2. Trapesium ABCD memiliki luas 240 cm2. Panjang sisi-sisi sejajar


tersebut adalah 8 cm dan 12 cm. Hitunglah tinggi trapesium tersebut !

Ada beberapa siswa yang menjawab seperti Gambar 4.8.

Gambar 4.8
Hasil Pekerjaan Kuis Individual Pertemuan Ketiga

Gambar 4.8 merupakan salah satu gambaran hasil pekerjaan kuis


individual pertemuan ketiga yang dikerjakan siswa dengan tujuan agar siswa
dapat menghitung tinggi dari suatu trapesium. Siswa diatas mampu
menyebutkan variabel dalam soal yang diketahui. Hanya saja siswa kurang
menuliskan satuan luas persegi pada variabel luas yang diketahui. Siswa
mampu memahami ide utama yang ditanyakan dalam soal yaitu tinggi dari
trapesium. Proses penyelesaian soal pun dilakukan dengan tepat. Siswa pun
mampu melakukan ekstrapolasi dengan mengkaitkan konsep luas yang telah
65

diketahui untuk menghitung tinggi trapesium. Dengan demikian siswa berhasil


untuk menyelesaikan soal kuis diatas dengan tepat.
Soal kuis individual pertemuan kedelapan sebagai berikut:

Farel memiliki layang-layang berukuran diagonal 50 dm dan 80 dm. Jika


Miska ingin membuat layang-layang yang salah satu diagonalnya 5 m tetapi
memiliki luas yang sama dengan luas layang-layang Farel, maka berapakah
ukuran diagonal yang lain dari layang-layang Miska ?

Ada beberapa siswa yang menjawab seperti Gambar 4.9.

Gambar 4.9
Hasil Pekerjaan Kuis Individual Pertemuan Kedelapan

Gambar 4.9 merupakan salah satu gambaran hasil pekerjaan kuis yang
dikerjakan siswa dengan tujuan agar siswa dapat menyelesaikan soal cerita
yang berkaitan dengan luas layang-layang. Berdasarkan hasil jawaban siswa
diatas dapat dilihat bahwa siswa sudah menuliskan variabel yang diketahui
pada soal yaitu panjang diagonal layang-layang Farel. Namun siswa kurang
menuliskan satuan pada diagonal tersebut dan kurang menyebutkan salah satu
panjang diagonal Miska. Pada proses pengerjaanya siswa mampu menentukan
bahwa yang pertama dilakukan ialah menghitung luas layang-layang Farel.
66

Siswa diatas pun sudah tepat untuk melakukan pengubahan satuan sesuai
dengan satuan layang-layang Miska yaitu meter. Setelah melakukan
pengubahan satuan siswa melanjutkan melakukan proses menghitung panjang
salah satu diagonal layang-layang Miska. Proses dan hasil pekerjaan siswa
benar. Dengan demikian siswa berhasil menyelesaikan soal kuis di atas dengan
tepat.
Pada kelas kontrol proses pembelajaran dilakukan dengan
menggunakan metode ekspositori. Pembelajaran di kelas kontrol pun
menggunakan LKS. Akan tetapi LKS yang digunakan berbeda dengan kelas
eksperimen, untuk kelas kontrol hanya berisi soal-soal yang harus dikerjakan
siswa setelah diberikan penjelasan. Pada prosesnya pembelajaan dilakukan
dengan menjelaskan terlebih dahulu kemudian memberikan contoh. Setelah itu,
siswa mengerjakan LKS. Siswa pun hanya menerima apa yang disampaikan
dan bertanya jika ada yang belum dipahami.
Siswa pada kelas kontrol kurang aktif dalam belajar. Hal itu dapat
diamati ketika ada bagian yang tidak dimengerti hanya beberapa orang saja
yang aktif untuk bertanya. Lebih banyak siswa diam, menerima apa adanya
yang dijelaskan, dan tidak berkomentar. Hal itu menyebabkan pemahaman
siswa kurang berkembang. Jika soal di LKS berbeda dengan contoh yang
diberikan, siswa kesulitan untuk menyelesaikan. Bagi siswa yang pintar dia
akan bertanya kepada guru, tetapi bagi siswa yang kurang pintar dia mengobrol
dengan temannya dan tidak bersemangat untuk menyelesaikan soal yang
diberikan.

2. Analisis Hasil Pemahaman Konsep Matematika Siswa


a. Penerjemahan
Kategori penerjemahan diwakili oleh indikator mengubah satuan luas
ke satuan luas lain yang tingkatannya berbeda diwakili oleh soal posttest
nomor 1a. Untuk indikator menggambar bangun datar trapesium, layang-
layang, dan belah ketupat diwakili oleh soal posttest nomor 2, 4a, dan 9.
Sedangkan untuk indikator mengidentifikasi sifat bangun datar trapesium,
67

layang-layang, dan belah ketupat diwakili oleh soal posttest nomor 3a, 5, dan
11a.
Persentase kategori penerjemahan yang diperoleh dari soal posttest
nomor 1a, 2, 3a, 4a, 5, 9,dan 11a untuk kelas eksperimen adalah 72,14% dan
persentase kelas kontrol adalah 61,57%, sedangkan nilai rata-rata pada kategori
penerjemahan kelas eksperimen sebesar 20,20 dan kelas kontrol sebesar 17,24.
Sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan penerjemahan kelas eksperimen
lebih tinggi dari kelas kontrol.
Hasil penelitian di atas diperkuat oleh hasil jawaban posttest yang
dikerjakan siswa. Terlihat terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep
matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dibawah ini merupakan hasil
jawaban posttest dari salah satu siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada
Soal nomor 4a sebagai berikut :

Amir memiliki sebuah layang-layang yang dinamakan layang-layang


MNOP. Panjang masing-masing diagonalnya 4 cm dan 2 cm. Bantulah Amir
untuk :
a. Menggambar model bangun datar tersebut !

Ada beberapa siswa kelas eksperimen menjawab seperti Gambar 4.10.

Gambar 4.10
Jawaban Posttest untuk Kategori Penerjemahan
Kelas Eksperimen
68

Dari hasil jawaban kelas ekperimen di atas, terlihat siswa telah


menggambar bangun datar layang-layang sesuai dengan yang diminta pada
soal. Siswa menggambar sesuai dengan ukuran yang diperintahkan pada soal
dan memberi nama pada bangun datar layang-layang tersebut. Karena siswa ini
dapat menggambar dengan baik dan benar, dapat dikatakan bahwa siswa ini
telah mencapai kemampuan penerjemahan yang baik.
Sedangkan pada kelas kontrol ada beberapa siswa yang menjawab
seperti Gambar 4.11

Gambar 4.11
Jawaban Posttest untuk Kategori Penerjemahan
Kelas Kontrol

Dari hasil jawaban siswa kelas kontrol diatas, terlihat siswa telah
menggambar bangun datar layang-layang dan memberi nama pada layang-
layang tersebut. Namun layang-layang yang dibuat siswa belum sesuai dengan
yang diperintahkan pada soal. Siswa menggambar bangun datar layang-layang
dengan ukuran yang berbeda dari yang diperintahkan pada soal. Karena siswa
ini belum tepat dalam menggambar yang diperintahkan pada soal, dapat
dikatakan bahwa siswa ini belum mencapai kemampuan penerjemahan yang
baik.
Ditinjau berdasarkan hasil pekerjaan siswa diatas terdapat perbedaan
pemahaman konsep matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol, yakni
kemampuan penerjemahan siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan
siswa kelas kontrol.
69

b. Penafsiran
Kategori penafsiran diwakili oleh indikator menghitung gabungan
beberapa satuan luas diwakili oleh soal posttest nomor 1b. Sedangkan untuk
indikator menghitung luas bangun datar trapesium, layang-layang, dan belah
ketupat diwakili oleh soal posttest nomor 3b, 4b, dan 11b.
Persentase kategori penafsiran yang diperoleh dari soal posttest
nomor 1b, 3b, 4b, dan 11b untuk kelas eksperimen adalah 71,50% dan
persentase kelas kontrol adalah 61,25%, sedangkan nilai rata-rata pada kategori
penafsiran kelas eksperimen sebesar 11,44 dan kelas kontrol sebesar 9,80.
Sehingga dapat dikatakan bahwa penafsiran kelas eksperimen lebih tinggi dari
kelas kontrol.
Hasil penelitian di atas diperkuat oleh hasil jawaban posttest yang
dikerjakan siswa. Terlihat terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep
matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dibawah ini merupakan hasil
jawaban posttest dari salah satu siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada
Soal nomor 11 b sebagai berikut :

Perhatikan gambar disamping !


b. Hitunglah luas bangun datar
P R 16 cm
disamping !

Q
12 cm

Ada beberapa siswa kelas eksperimen menjawab seperti Gambar 4.12.


70

Gambar 4.12
Jawaban Posttest untuk Kategori Penafsiran
Kelas Eksperimen

Dari hasil jawaban kelas eksperimen terlihat siswa dapat menyebutkan


variabel yang telah diketahui dalam soal berupa panjang masing-masing
diagonal belah ketupat. Siswa juga mampu menentukan konsep atau rumus
yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yaitu luas belah ketupat. Proses
dan cara pengerjaan dilakukan secara rinci sehingga menghasilkan jawaban
yang benar. Karena siswa ini mampu menyelesaikan soal dengan tepat baik
proses maupun hasil, dapat dikatakan bahwa siswa ini telah mencapai
kemampuan penafsiran yang baik.
Sedangkan pada kelas kontrol ada beberapa siswa yang menjawab
seperti Gambar 4.13.

Gambar 4.13
Jawaban Posttest untuk Kategori Penafsiran
Kelas Kontrol

Dari hasil jawaban siswa kelas kontrol diatas, terlihat siswa telah
menyelesaikan perhitungan luas belah ketupat. Walaupun siswa tidak
71

menyebutkan variabel yang telah diketahui dalam soal, namun siswa dapat
menentukan rumus yang tepat dalam penyelesaian soal yaitu luas belah
ketupat. Proses pengerjaan siswa sudah tepat, hanya saja hasil perhitungan
akhir siswa kurang teliti sehingga menghasilkan jawaban yang kurang tepat.
Selain itu siswa juga tidak menambahkan persegi pada hasil satuan luas yang Ia
hitung. Karena siswa ini belum mampu menyelesaikan soal dengan tepat, dapat
dikatakan bahwa siswa ini belum mencapai kemampuan penafsiran yang baik.
Ditinjau berdasarkan hasil pekerjaan siswa diatas terdapat perbedaan
pemahaman konsep matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol, yakni
penafsiran siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan siswa kelas kontrol.

c. Ekstrapolasi
Kategori ekstrapolasi diwakili oleh indikator menghitung tinggi
trapesium diwakili oleh soal posttest nomor 8. Untuk indikator menghitung
diagonal layang-layang dan belah ketupat diwakili oleh soal posttest nomor 6
dan 12. Sedangkan untuk indikator menyelesaikan soal cerita yang berkaitan
dengan luas trapesium, layang-layang, dan belah ketupat diwakili oleh soal
posttest nomor 7, 10, dan 13.
Persentase kategori ekstrapolasi yang diperoleh dari soal posttest
nomor 6, 7, 8, 10, 12, dan 13 untuk kelas eksperimen adalah 63,17% dan
persentase kelas kontrol adalah 50,33%, sedangkan nilai rata-rata pada kategori
ekstrapolasi kelas eksperimen sebesar 15,16 dan kelas kontrol sebesar 12,08.
Sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan ekstrapolasi kelas eksperimen
lebih tinggi dari kelas kontrol.
Hasil penelitian di atas diperkuat oleh hasil jawaban posttest yang
dikerjakan siswa. Terlihat terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep
matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dibawah ini merupakan hasil
jawaban posttest dari salah satu siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada
Soal nomor 13 sebagai berikut :
Sawah Pak Burhan berbentuk belah ketupat dengan luas 3 hektare dan salah
satu diagonalnya 150 m. Berapa meter panjang diagonal sawah yang
lainnya?
72

Ada beberapa siswa kelas eksperimen menjawab seperti Gambar 4.14.

Gambar 4.14
Jawaban Posttest untuk Kategori Ekstrapolasi
Kelas Eksperimen

Dari hasil jawaban siswa kelas eksperimen di atas, terlihat siswa telah
melakukan penyelesaian soal cerita yang berkaitan dengan luas belah ketupat
dengan baik. Siswa mampu menyebutkan variabel yang telah diketahui yaitu
luas dan salah satu diagonal lainnya. Siswa di atas menyadari satuan luas
dengan salah satu panjang diagonal lainnya tidak sama, oleh karena itu
diubahlah terlebih dahulu sehingga satuannya sama. Siswa mampu
mengkaitkan konsep luas dan salah satu diagonal yang sudah diketahui untuk
mencari panjang diagonal lainnya. Proses penyelesaian dilakukan dengan
benar, sehingga menghasilkan jawaban yang benar pula. Karena siswa ini
menyelesaikan soal dengan tepat baik proses maupun hasil, dapat dikatakan
bahwa siswa ini telah mencapai kemampuan ekstrapolasi yang baik.
Sedangkan pada kelas kontrol ada beberapa siswa yang menjawab
seperti Gambar 4.15. Dari hasil jawaban siswa kelas kontrol, dapat dilihat
bahwa siswa telah melakukan penyelesaian soal cerita yang berkaitan dengan
luas belah ketupat. Siswa di atas telah menyebutkan variabel yang telah
diketahui dalam soal yaitu luas dan panjang salah satu diagonal lainnya, hanya
saja siswa kurang menuliskan satuan pada variabel tersebut. Satuan yang
berbeda pada luas dan salah satu diagonal yang sudah diketahui kurang
disadari oleh siswa. Walaupun demikian, siswa sudah tepat dalam mengkaitkan
73

konsep luas yang sudah diketahui untuk menghitung salah satu panjang
diagonal yang belum diketahui. Penggunaan data yang digunakan siswa kurang
tepat. Siswa menjalankan operasi perhitungan tanpa mengubah satuan menjadi
sejenis terlebih dahulu, sehingga hasil jawaban siswa kurang tepat. Karena
siswa ini kurang tepat dalam menyelesaikan soal baik proses maupun hasil,
dapat dikatakan bahwa siswa ini belum mencapai kemampuan ekstrapolasi
yang baik.

Gambar 4.15
Jawaban Posttest untuk Kategori Ekstrapolasi
Kelas Kontrol

Ditinjau berdasarkan hasil pekerjaan siswa diatas terdapat perbedaan


pemahaman konsep matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol, yakni
kemampuan ekstrapolasi siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan
siswa kelas kontrol.
Berdasarkan pembahasan diatas, terlihat bahwa terdapat pengaruh
antara siswa yang diajarkan dengan menggunakan model kooperatif tipe TAI
dengan siswa yang diajarkan dengan model konvensional. Hal ini disebabkan
karena pada kelas eksperimen yang diajarkan dengan menggunakan model TAI
melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Siswa dilibatkan untuk
mengkonstruk pengetahuan awal secara mandiri dan dikonfirmasi dengan
teman kelompoknya sehingga siswa lebih memahami materi yang diajarkan
dengan baik. Dengan demikian terbukti bahwa siswa yang diajarkan dengan
model pembelajaran kooperatif tipe TAI memiliki pemahaman konsep yang
lebih baik dibandingkan siswa yang diajarkan dengan model konvensional.
74

D. Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari bahwa penelitian ini belum sempurna. Berbagai
usaha telah dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini agar diperoleh hasil
yang optimal. Walaupun demikian, masih ada beberapa faktor yang sulit
dikendalikan sehingga membuat penelitian ini mempunyai keterbatasan
diantaranya:
1. Penelitian ini dilaksanakan pada pokok bahasan bangun datar saja,
sehingga belum dapat digeneralisasikan pada pokok bahasa lain.
2. Pengontrolan variabel dalam penelitian ini mengukur aspek pemahaman
konsep menurut Bloom, sedangkan aspek lainnya tidak terkontrol.
3. Luas ruang kelas kurang kondusif tidak sebanding dengan jumlah siswa,
sehingga menghambat proses pembelajaran kelompok dan menghambat
peneliti untuk berpindah tempat memberikan bimbingan bagi kelompok
yang membutuhkan.
4. Waktu yang diperlukan pada proses pembelajaran menggunakan Team
Assisted Individualization lebih lama dibandingkan proses pembelajaran
konvensional, sehingga perlu mengatur waktu yang digunakan agar
pembelajaran selesai tepat waktu.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Pemahaman konsep matematika siswa kelas V SDI Ummul Quro Bekasi
yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted
Individualization memiliki nilai rata-rata sebesar 70,68 dan modus sebesar
75,90. Tingkat kategori pemahaman konsep dari yang paling baik adalah
pemahaman penerjemahan dengan persentase 72,14% (20,20), pemahaman
penafsiran dengan persentase 71,50% (11,44), dan pemahaman ekstrapolasi
dengan persentase 63,17% (15,16). Pemahaman konsep matematika siswa
kelas eksperimen lebih didominasi pada kategori penerjemahan.
2. Pemahaman konsep matematika siswa kelas V SDI Ummul Quro Bekasi
yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional memiliki nilai
rata-rata 57,08 dan modus sebesar 49,25. Tingkat kategori pemahaman
konsep dari yang paling baik adalah pemahaman penerjemahan dengan
persentase 61,56% (17,24), pemahaman penafsiran dengan persentase
61,25% (9,80), dan pemahaman ekstrapolasi denan persentase 50,33%
(12,08). Pemahaman konsep matematika siswa kelas eksperimen lebih
didominasi pada kategori penerjemahan.
3. Pemahaman konsep matematika siswa SDI Ummul Quro Bekasi yang
diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted Individualization lebih tinggi dibandingkan dengan yang diajar
dengan model pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji
t pada taraf signifikan 0,05 diperoleh hasil thitung > ttabel yaitu 3,77 > 2,01.
Dari hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai thitung berada
di daerah penerimaan H1 sehingga H0 ditolak. Dengan demikian terdapat
pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted
Individualization terhadap pemahaman konsep matematika.

75
76

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti dapat
memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pembelajaran matematika dengan model
kooperatif tipe Team Assisted Individualization dapat meningkatkan
pemahaman konsep matematika siswa, sehingga model pembelajaran
tersebut dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran matematika.
2. Tahapan pembelajaran individual dalam Team Assisted Individualization
menuntut siswa mandiri dalam belajar, oleh karena itu diperlukan arahan
yang lebih rinci pada Lembar Kerja Siswa (LKS) agar siswa mampu
melaksanakan pembelajaran individual dengan baik.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization pada pokok
bahasan lain, mengukur aspek yang lain atau jenjang sekolah yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Alsa, Asmadi. Pengaruh Metode Belajar Team Assisted Individualization terhadap
Prestasi Belajar Statistika Pada Mahasiswa Psikologi. Jurnal Psikologi. Vol. 38,
2011.

Anitah, Sri, dkk.. Strategi Pembelajaran Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.

Arifin, Zainal. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.

Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2005.

---------. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Fathani, Abdul Halim. Matematika Hakikat dan Logika. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2008.

Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

--------. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bandung: Bumi


Aksara, 2005.

Heruman. Model Pembelajaran Matematika. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.

Jihad, Asep. Pengembangan Kurikulum Matematika. Yogyakarta: Multipressindo, 2008.

Juniar. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization


(TAI) dalam Pembelajaran Matematika Kelas VIII SMPN 5 Padangpanjang Pada
Materi Relasi dan Fungsi Tahun Pelajaran 2013/201. dari:
http://jurnal.umsb.ac.id/wp-content/uploads/2014/04/juniar.pdf diakses pada 11
Juni 2015, pukul 12.38 WIB.

Lie, Anita. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo, 2014.

Purnamayanti, Ni L. Pt. Deni. Model Pembelajaran TAI Berbantuan Media Kartu


Bilangan Berpengaruh Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD
GUGUS 8 MENGWI. e-Journal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha.
Vol. 2, 2014.

Riyanto, Yatim. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana, 2012.

77
78

Sagala, Syaiful. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, 2013.

Sanjaya, Wina. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana, 2012.

--------. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:


Kencana, 2013.

Sapriya, dkk.. Konsep Dasar IPS. Bandung: UPI PRESS, 2006.

Shoimin, Aris. Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media, 2014.

Slavin, Robert E.. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media, 2005.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan
Kementrian Pendidikan Nasional, 2006.

Sudjana. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito, 2005.

Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.


Bandung: Alfabeta, 2013.

Suhendra. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Jakarta:


Universitas Terbuka, 2007.

Suprijono, Agus. Cooperative Learning Teori. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2013.

Trianto. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011.

U.S, Supardi. Peran Kedisiplinan Belajar dan Kecerdasan Matematis Logis dalam
Pembelajaran Matematika. Jurnal Formatif. Vol. 4, 2014.

Wena, Made. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Widyantini. Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Kooperatif.


Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Matematika, 2006.

Zulfiani, dkk.. Strategi Pembelajaran Sains. Jakarta: UIN Jakarta, 2009.


79

Lampiran 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(Kelas Eksperimen)

Nama Sekolah : SDI Ummul Quro


Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : V(Lima)/Ganjil
Tahun Ajaran : 2015/2016
Alokasi waktu : 2 x 35 menit (8 Pertemuan)

Pertemuan Ke - 1
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Mengubah satuan luas ke satuan luas lain yang tingkatannya berbeda
2. Menghitung gabungan beberapa satuan luas
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengubah satuan luas ke satuan luas lain yang tingkatannya
berbeda
2. Siswa dapat menghitung gabungan beberapa satuan luas
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)
F. Materi Ajar
Satuan Luas
80

G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan siswa
mengenai materi yang berkaitan dengan satuan luas
(Siswa memperhatikan guru dengan turut melakukan
1. 5
apersepsi dan mengingat satuan luas)
Menit
- Guru memberikan motivasi kepada siswa dengan
menyampaikan tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi ini
(Siswa menyimak tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi yang disampaikan oleh guru)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang satuan luas dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa mencoba menggali pengetahuannya tentang satuan
luas dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
2. pengetahuannya berkaitan dengan hubungan satuan luas
(Siswa memaparkan pengetahuan yang dimiliki terkait
hubungan satuan luas)
60
- Guru menginformasikan kepada siswa nama-nama anggota
Menit
kelompok yang berguna untuk pembentukan kelompok
setelah pembelajaran individual (placement test)
(Siswa memperhatikan namanya disebut dan nama anggota
kelompoknya yang berguna untuk pembentukan kelompok)
81

(Elaborasi)
- Guru memberikan LKS 1 kepada setiap siswa yang telah
dipersiapkan sebelumnya (teaching group)
(Siswa menerima dan mempelajari LKS 1 secara individual)
- Guru menugaskan siswa untuk membentuk kelompok sesuai
dengan nama-nama anggota kelompok yang telah ditentukan
di awal pembelajaran (teams)
(Siswa membentuk kelompok sesuai dengan nama-nama
anggota yang telah ditentukan di awal pembelajaran)
- Guru menugaskan siswa untuk saling mengkoreksi hasil
pekerjaan anggota kelompoknya dengan berdiskusi, saling
menambahkan, dan memberi masukan untuk mencapai suatu
keputusan (teams study dan student creative)
(Siswa saling mengkoreksi hasil pekerjaan anggota
kelompoknya dengan berdiskusi, saling menambahkan, dan
memberi masukan untuk mencapai suatu keputusan)
- Guru mengamati proses diskusi dan memberikan bantuan atau
bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan
(Kelompok yang mengalami kesulitan dapat meminta bantuan
atau bimbingan dari guru)
- Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan
hasil pekerjaan LKS 1 yang telah di diskusikan bersama
(whole class unit)
(Perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaan LKS 1
yang telah di diskusikan bersama)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi
(Siswa bersama guru memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
82

kembali hasil diskusi)


- Guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman masing-
masing siswa (fact test)
(Siswa mengerjakan kuis untuk mengecek pemahamannya)
- Guru meminta siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan
dijadikan sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok
(Siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan dijadikan
sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah 5
3.
dipelajari) Menit
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
Soenarjo, RJ, dkk.. 2008. Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 2
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
83

B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menggambar bangun datar trapesium
2. Mengidentifikasi sifat bangun datar trapesium
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menggambar bangun datar trapesium
2. Siswa dapat mengidentifikasi sifat bangun datar trapesium
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)
F. Materi Ajar
Sifat bangun datar trapesium
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi mengingatkan kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya
(Siswa melakukan apersepsi mengingat kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
5
1. - Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan kegunaan
Menit
mempelajari materi ini dan mengumumkan kelompok terbaik
pada pertemuan sebelumnya (team score and team
recognition)
(Siswa memperhatikan kegunaan mempelajari materi ini dan
menyimak pengumuman kelompok terbaik)
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan)
84

Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang bangun datar trapesium melalui contoh dalam
kehidupan sehari-hari
(Siswa mencoba menggali pengetahuannya tentang bangun
datar trapesium melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya berkaitan dengan sifat trapesium
(Siswa memaparkan pengetahuan yang dimiliki terkait sifat
bangun datar trapesium)
(Elaborasi)
- Guru memberikan LKS 2 kepada setiap siswa yang telah
dipersiapkan sebelumnya (teaching group)
(Siswa menerima dan mempelajari LKS 2 secara individual)
2. - Guru menugaskan siswa berkumpul dengan kelompoknya
60
untuk saling mengkoreksi hasil pekerjaan dengan berdiskusi,
Menit
saling menambahkan, dan memberi masukan agar mencapai
suatu keputusan (teams study dan student creative)
(Siswa berkumpul dengan kelompoknya untuk mengkoreksi
hasil pekerjaan dengan berdiskusi, saling menambahkan, dan
memberi masukan untuk mencapai suatu keputusan)
- Guru mengamati proses diskusi dan memberikan bantuan atau
bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan
(Kelompok yang mengalami kesulitan dapat meminta bantuan
atau bimbingan dari guru)
- Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan
hasil pekerjaan LKS 2 yang telah di diskusikan bersama
(whole class unit)
(Perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaan LKS 2
yang telah di diskusikan bersama)
85

(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi
(Siswa bersama guru memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi)
- Guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman masing-
masing siswa (fact test)
(Siswa mengerjakan kuis untuk mengecek pemahamannya)
- Guru meminta siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan
dijadikan sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok
(Siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan dijadikan
sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah 5
3.
dipelajari) Menit
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Supriyanto. 2009. Matematika Untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta: Arya
Duta.
Sumarmi, Mas Titing dan Kamsiyati, Siti. 2009. Asyiknya Belajar
Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
2. Alat:
86

Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.


I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 3
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menemukan kembali rumus luas bangun datar trapesium
2. Menghitung luas bangun datar trapesium
3. Menghitung tinggi bangun datar trapesium
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menemukan kembali rumus luas bangun datar trapesium
2. Siswa dapat menghitung luas bangun datar trapesium
3. Siswa dapat menghitung tinggi bangun datar trapesium
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)
F. Materi Ajar
Luas bangun datar trapesium
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
1. (Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen) 5 menit
- Guru melakukan apersepsi mengingatkan kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya
87

(Siswa melakukan apersepsi mengingat kembali materi


pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan kegunaan
mempelajari materi ini dan mengumumkan kelompok terbaik
pada pertemuan sebelumnya (team score and team
recognition)
(Siswa memperhatikan kegunaan mempelajari materi ini dan
menyimak pengumuman kelompok terbaik )
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang luas bangun datar trapesium melalui contoh
dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa menggali pengetahuannya tentang luas bangun datar
trapesium melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya tentang cara menentukan luas trapesium
(Siswa mencoba memaparkan pengetahuan yang dimilikinya
2. terkait dengan cara menentukan luas bangun trapesium)
(Elaborasi) 60
- Guru memberikan LKS 3 kepada setiap siswa yang telah Menit
dipersiapkan sebelumnya (teaching group)
(Siswa menerima dan mempelajari LKS 3 secara individual)
- Guru menugaskan siswa berkumpul dengan kelompoknya
untuk saling mengkoreksi hasil pekerjaan dengan berdiskusi,
saling menambahkan, dan memberi masukan untuk mencapai
keputusan (team study dan student creative)
(Siswa berkumpul dengan kelompoknya untuk mengkoreksi
hasil pekerjaan dengan berdiskusi, saling menambahkan, dan
88

memberi masukan untuk mencapai keputusan)


- Guru mengamati proses diskusi dan memberikan bantuan
atau bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan
(Kelompok yang mengalami kesulitan dapat meminta bantuan
atau bimbingan dari guru)
- Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan
hasil pekerjaan LKS 3 yang telah di diskusikan bersama
(whole class unit)
(Perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaan LKS 3
yang telah di diskusikan bersama)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi
(Siswa bersama guru memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi)
- Guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman masing-
masing siswa (fact test)
(Siswa mengerjakan kuis untuk mengecek pemahamannya)
- Guru meminta siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan
dijadikan sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok
(Siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan dijadikan
sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
5
dipelajari
Menit
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah
dipelajari)
89

- Guru memberikan tugas PR kepada siswa


3. (Siswa memperhatikan tugas PR yang diberikan)
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
Mas Titing Sumarmi dan Siti Kamsiyati. 2009. Asyiknya Belajar
Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, kertas origami, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke -4
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menggambar bangun datar layang-layang
2. Mengidentifikasi sifat bangun datar layang-layang
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menggambar bangun datar layang-layang
2. Siswa dapat mengidentifikasi sifat bangun datar layang-layang
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)
90

F. Materi Ajar
Sifat bangun datar layang-layang
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi mengingatkan kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya
(Siswa melakukan apersepsi mengingat kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
1. - Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan kegunaan 5 menit
mempelajari materi ini dan mengumumkan kelompok terbaik
pada pertemuan sebelumnya (team score and team
recognition)
(Siswa memperhatikan kegunaan mempelajari materi ini dan
menyimak pengumuman kelompok terbaik)
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang bangun datar layang-layang melalui contoh
dalam kehidupan sehari-hari
2.
(Siswa menggali pengetahuannya tentang bangun datar
layang-layang melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya berkaitan dengan sifat layang-layang
(Siswa mencoba memaparkan pengetahuan yang dimilikinya
91

terkait dengan sifat bangun datar layang-layang)


(Elaborasi)
- Guru memberikan LKS 4 kepada setiap siswa yang telah
dipersiapkan sebelumnya (teaching group)
(Siswa menerima dan mempelajari LKS 4 secara individual)
- Guru menugaskan siswa berkumpul dengan kelompoknya 60
untuk saling mengkoreksi hasil pekerjaan dengan berdiskusi, Menit
saling menambahkan, dan memberi masukan untuk mencapai
keputusan (team study dan student creative)
(Siswa berkumpul dengan kelompoknya untuk mengkoreksi
hasil pekerjaan dengan berdiskusi, saling menambahkan, dan
memberi masukan untuk mencapai keputusan)
- Guru mengamati proses diskusi dan memberikan bantuan atau
bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan
(Kelompok yang mengalami kesulitan dapat meminta bantuan
atau bimbingan dari guru)
- Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan
hasil pekerjaan LKS 4 yang telah di diskusikan bersama
(whole class unit)
(Perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaan LKS 4
yang telah di diskusikan bersama)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi
(Siswa bersama guru memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi)
- Guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman masing-
masing siswa (fact test)
(Siswa mengerjakan kuis untuk mengecek pemahamannya)
92

- Guru meminta siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan


dijadikan sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok
(Siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan dijadikan
sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah 5
3.
dipelajari) Menit
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)

H. Sumber dan Alat Belajar


1. Sumber Belajar:
Supriyanto. 2009. Matematika Untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta: Arya
Duta.
Mas Titing Sumarmi dan Siti Kamsiyati. 2009. Asyiknya Belajar
Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 5
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
93

B. Kompetensi Dasar
3.1 Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menemukan kembali rumus luas bangun datar layang-layang
2. Menghitung luas bangun datar layang-layang
3. Menghitung salah satu diagonal bangun datar layang-layang
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menemukan kembali rumus luas bangun datar layang-layang
2. Siswa dapat menghitung luas bangun datar layang-layang
3. Siswa dapat menghitung salah satu diagonal bangun datar layang-layang
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)
F. Materi Ajar
Luas bangun datar layang-layang
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi mengingatkan kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya
(Siswa melakukan apersepsi mengingat kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya) 5
1.
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan kegunaan Menit
mempelajari materi ini dan mengumumkan kelompok terbaik
pada pertemuan sebelumnya (team score and team
recognition)
(Siswa memperhatikan kegunaan mempelajari materi ini dan
menyimak pengumuman kelompok terbaik)
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
94

(Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan)


Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang luas bangun datar layang-layang melalui
contoh dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa menggali pengetahuannya tentang luas bangun datar
layang-layang melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya tentang cara menentukan luas layang-layang
(Siswa mencoba memaparkan pengetahuan yang dimilikinya
terkait dengan cara menentukan luas layang-layang)
(Elaborasi)
- Guru memberikan LKS 5 kepada setiap siswa yang telah
dipersiapkan sebelumnya (teaching group)
(Siswa menerima dan mempelajari LKS 5 secara individual) 60
2.
- Guru menugaskan siswa berkumpul dengan kelompoknya Menit
untuk saling mengkoreksi hasil pekerjaan dengan berdiskusi,
saling menambahkan, dan memberi masukan untuk mencapai
keputusan (team study dan student creative)
(Siswa berkumpul dengan kelompoknya untuk mengkoreksi
hasil pekerjaan dengan berdiskusi, saling menambahkan, dan
memberi masukan untuk mencapai suatu keputusan)
- Guru mengamati proses diskusi dan memberikan bantuan atau
bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan
(Kelompok yang mengalami kesulitan dapat meminta bantuan
atau bimbingan dari guru)
- Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan
hasil pekerjaan LKS 5 yang telah di diskusikan bersama
(whole class unit)
(Perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaan LKS 5
95

yang telah di diskusikan bersama)


(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi
(Siswa bersama guru memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi)
- Guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman masing-
masing siswa (fact test)
(Siswa mengerjakan kuis untuk mengecek pemahamannya)
- Guru meminta siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan
dijadikan sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok
(Siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan dijadikan
sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah
dipelajari) 5
3.
- Guru memberikan tugas PR kepada siswa Menit
(Siswa memperhatikan tugas yang diberikan guru)
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
Kusumawati, Heny, dkk.. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
96

2. Alat:
Lembar kerja siswa, kertas origami, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke -6
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menggambar bangun datar belah ketupat
2. Mengidentifikasi sifat bangun datar belah ketupat
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menggambar bangun datar belah ketupat
2. Siswa dapat mengidentifikasi sifat bangun datar belah ketupat
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)
F. Materi Ajar
Sifat bangun datar belah ketupat
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen) 5
1.
- Guru melakukan apersepsi mengingatkan kembali materi Menit
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya
(Siswa mengingat kembali materi pelajaran yang telah
97

dipelajari pada pertemuan sebelumnya)


- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan kegunaan
mempelajari materi ini dan mengumumkan kelompok terbaik
pada pertemuan sebelumnya (team score and team
recognition)
(Siswa memperhatikan kegunaan mempelajari materi ini dan
menyimak pengumuman kelompok terbaik)
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang bangun datar belah ketupat melalui contoh
dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa menggali pengetahuannya tentang bangun datar belah
ketupat melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya berkaitan dengan sifat belah ketupat
(Siswa memaparkan pengetahuan yang dimiliki terkait sifat
bangun datar belah ketupat)
2. 60
(Elaborasi)
Menit
- Guru memberikan LKS 6 kepada setiap siswa yang telah
dipersiapkan sebelumnya (teaching group)
(Siswa menerima dan mempelajari LKS 6 secara individual)
- Guru menugaskan siswa berkumpul dengan kelompoknya
untuk saling mengkoreksi hasil pekerjaan dengan berdiskusi,
saling menambahkan, dan memberi masukan untuk mencapai
keputusan (team study dan student creative)
(Siswa berkumpul dengan kelompoknya untuk mengkoreksi
hasil pekerjaan dengan berdiskusi, saling menambahkan, dan
memberi masukan untuk mencapai suatu keputusan)
98

- Guru mengamati proses diskusi dan memberikan bantuan atau


bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan
(Kelompok yang mengalami kesulitan dapat meminta bantuan
atau bimbingan dari guru)
- Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan
hasil pekerjaan LKS 6 yang telah di diskusikan bersama
(whole class unit)
(Perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaan LKS 6
yang telah di diskusikan bersama)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi
(Siswa bersama guru memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi)
- Guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman masing-
masing siswa (fact test)
(Siswa mengerjakan kuis untuk mengecek pemahamannya)
- Guru meminta siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan
dijadikan sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok
(Siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan dijadikan
sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
3. dipelajari 5
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah Menit
99

dipelajari)
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 7
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menemukan kembali rumus luas bangun datar belah ketupat
2. Menghitung luas bangun datar belah ketupat
3. Menghitung salah satu diagonal bangun datar belah ketupat
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menemukan kembali rumus luas bangun datar belah ketupat
2. Siswa dapat menghitung luas bangun datar belah ketupat
3. Siswa dapat menghitung salah satu diagonal bangun datar belah ketupat
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)
F. Materi Ajar
Luas bangun datar belah ketupat
100

G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi mengingatkan kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya
(Siswa melakukan apersepsi mengingat kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
5
1. - Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan kegunaan
Menit
mempelajari materi ini dan mengumumkan kelompok terbaik
pada pertemuan sebelumnya (team score and team
recognition)
(Siswa memperhatikan kegunaan mempelajari materi ini dan
menyimak pengumuman kelompok terbaik )
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang bangun datar belah ketupat melalui contoh
dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa menggali pengetahuannya tentang luas bangun datar
2. 60
belah ketupat melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
Menit
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya tentang cara menentukan luas belah ketupat
(Siswa mencoba memaparkan pengetahuan yang dimilikinya
terkait dengan cara menentukan luas pada bangun datar belah
ketupat)
101

(Elaborasi)
- Guru memberikan LKS 7 kepada setiap siswa yang telah
dipersiapkan sebelumnya (teaching group)
(Siswa menerima dan mempelajari LKS 7 secara individual)
- Guru menugaskan siswa berkumpul dengan kelompoknya
untuk saling mengkoreksi hasil pekerjaan dengan berdiskusi,
saling menambahkan, dan memberi masukan untuk mencapai
keputusan (team study dan student creative)
(Siswa berkumpul dengan kelompoknya untuk mengkoreksi
hasil pekerjaan dengan berdiskusi, saling menambahkan, dan
memberi masukan untuk mencapai suatu keputusan)
- Guru mengamati proses diskusi dan memberikan bantuan atau
bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan
(Kelompok yang mengalami kesulitan dapat meminta bantuan
atau bimbingan dari guru)
- Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan
hasil pekerjaan LKS 7 yang telah di diskusikan bersama
(whole class unit)
(Perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaan LKS 7
yang telah di diskusikan bersama)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi
(Siswa bersama guru memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi)
- Guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman masing-
masing siswa (fact test)
(Siswa mengerjakan kuis untuk mengecek pemahamannya)
- Guru meminta siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan
102

dijadikan sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok


(Siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan dijadikan
sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah
dipelajari) 5
3.
- Guru memberikan tugas PR kepada siswa Menit
(Siswa memperhatikan tugas yang diberikan guru)
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, kertas origami, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 8
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas bangun datar
103

C. Indikator
1. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun datar
trapesium
2. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun datar layang-
layang
3. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun datar belah
ketupat
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun
datar trapesium
2. Siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun
datar layang-layang
3. Siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun
datar belah ketupat
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)
F. Materi Ajar
Luas bangun datar trapesium, layang-layang, dan belah ketupat
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi mengingatkan kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya 5
1.
(Siswa melakukan apersepsi mengingat kembali materi Menit
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan kegunaan
mempelajari materi ini dan mengumumkan kelompok terbaik
pada pertemuan sebelumnya (team score and team
104

recognition)
(Siswa memperhatikan kegunaan mempelajari materi ini dan
menyimak pengumuman kelompok terbaik )
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk
menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan
trapesium, layang-layang, belah ketupat berdasarkan contoh
dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa menggali pengetahuan yang dimilikinya untuk
menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan
trapesium, layang-layang, belah ketupat berdasarkan contoh
dalam kehidupan sehari-hari)
(Elaborasi)
- Guru memberikan LKS 8 kepada setiap siswa yang telah
dipersiapkan sebelumnya (teaching group)
2.
(Siswa menerima dan mempelajari LKS 8 secara individual) 60
- Guru menugaskan siswa berkumpul dengan kelompoknya Menit
untuk saling mengkoreksi hasil pekerjaannya bersama
anggota kelompoknya dengan berdiskusi, saling
menambahkan, dan memberi masukan untuk mencapai suatu
keputusan (team study dan student creative)
(Siswa saling mengkoreksi hasil pekerjaan bersama anggota
kelompoknya dengan berdiskusi, saling menambahkan,
memberi masukan untuk mencapai suatu keputusan)
- Guru mengamati proses diskusi dan memberikan bantuan atau
bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan
(Kelompok yang mengalami kesulitan dapat meminta bantuan
atau bimbingan dari guru)
105

- Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan


hasil pekerjaan LKS 8 yang telah di diskusikan bersama
(whole class unit)
(Perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaan LKS 8
yang telah di diskusikan bersama)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi
(Siswa bersama guru memberikan tanggapan atau penilaian
terhadap hasil pekerjaan dan persentasi dengan membahas
kembali hasil diskusi)
- Guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman masing-
masing siswa (fact test)
(Siswa mengerjakan kuis untuk mengecek pemahamannya)
- Guru meminta siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan
dijadikan sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok
(Siswa mengumpulkan hasil kuisnya yang akan dijadikan
sebagai nilai individu dan nilai kemajuan kelompok)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah 5
3.
dipelajari) Menit
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
106

Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.


Kusumawati, Heny, dkk.. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
Sutopo, Agus, dkk.. 2008. Ayo Belajar Matematika Kelas 5 Sekolah Dasar.
Yogyakarta: Kanisius.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Bekasi, Oktober 2015

Peneliti

Amelia Sidik
107

Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(Kelas Kontrol)

Nama Sekolah : SDI Ummul Quro


Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : V(Lima)/Ganjil
Tahun Ajaran : 2015/2016
Alokasi waktu : 2 x 35 menit (8 Pertemuan)
Pertemuan Ke - 1
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Mengubah satuan luas ke satuan luas lain yang tingkatannya berbeda
2. Menghitung gabungan beberapa satuan luas
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengubah satuan luas ke satuan luas lain yang tingkatannya
berbeda
2. Siswa dapat menghitung gabungan beberapa satuan luas
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran konvensional (ekspositori)
F. Materi Ajar
Satuan Luas
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan 5
1.
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa Menit
108

(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)


- Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan siswa
mengenai materi yang berkaitan dengan satuan luas
(Siswa memperhatikan guru dengan turut melakukan
apersepsi dan mengingat satuan luas)
- Guru memberikan motivasi kepada siswa dengan
menyampaikan tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi ini
(Siswa menyimak tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi yang disampaikan oleh guru)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang satuan luas dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa mencoba menggali pengetahuannya tentang satuan
luas dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya berkaitan dengan hubungan satuan luas
(Siswa memaparkan pengetahuan yang dimiliki terkait
hubungan satuan luas)
2. (Elaborasi) 60
- Guru menjelaskan materi dan memberikan contoh soal untuk Menit
diselesaikan bersama berkaitan dengan satuan luas
(Siswa menyimak penjelesan materi dan menyelesaikan
contoh soal bersama guru terkait dengan satuan luas)
- Guru memberikan LKS 1 kepada setiap siswa untuk
dikerjakan
(Siswa menerima dan mengerjakan LKS 1 yang diberikan)
- Guru berkeliling, memperhatikan, dan mengarahkan siswa
yang mengalami kesulitan
(Siswa mendapat arahan guru jika kesulitan)
109

- Guru meminta beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil


pekerjaan LKS 1
(Siswa mempersentasikan hasil pekerjaan LKS 1)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa membahas hasil jawaban siswa yang
telah dipersentasikan
(Siswa bersama guru membahas bersama hasil jawaban yang
telah dipersentasikan)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah 5
3.
dipelajari) Menit
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
Soenarjo, RJ, dkk.. 2008. Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 2
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
110

B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menggambar bangun datar trapesium
2. Mengidentifikasi sifat bangun datar trapesium
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menggambar bangun datar trapesium
2. Siswa dapat mengidentifikasi sifat bangun datar trapesium
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran konvensional (ekspositori)
F. Materi Ajar
Sifat bangun datar trapesium
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali
materi pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya 5
1.
(Siswa melakukan apersepsi mengingat kembali materi Menit
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran dan kegunaan mempelajari materi
(Siswa memperhatikan tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi yang disampaikan guru)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
111

jawab tentang bangun datar trapesium melalui contoh dalam


kehidupan sehari-hari
(Siswa mencoba menggali pengetahuannya tentang bangun
2. datar trapesium melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari) 60
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan Menit
pengetahuannya berkaitan dengan sifat trapesium
(Siswa memaparkan pengetahuan yang dimiliki terkait sifat
bangun datar trapesium)
(Elaborasi)
- Guru menjelaskan materi sifat bangun datar trapesium
(Siswa menyimak penjelesan materi yang disampaikan guru)
- Guru memberikan LKS 2 kepada setiap siswa untuk
dikerjakan
(Siswa menerima dan mengerjakan LKS 2 yang diberikan)
- Guru berkeliling, memperhatikan, dan mengarahkan siswa
yang mengalami kesulitan
(Siswa mendapat arahan guru jika kesulitan)
- Guru meminta beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil
pekerjaan LKS 2
(Siswa mempersentasikan hasil pekerjaan LKS 2)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa membahas hasil jawaban siswa yang
telah dipersentasikan
(Siswa bersama guru membahas bersama hasil jawaban yang
telah dipersentasikan)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
5
3. - Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
Menit
dipelajari
112

(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah


dipelajari)
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Supriyanto. 2009. Matematika Untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta: Arya
Duta.
Sumarmi, Mas Titing dan Kamsiyati, Siti. 2009. Asyiknya Belajar
Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 3
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menemukan kembali rumus luas bangun datar trapesium
2. Menghitung luas bangun datar trapesium
3. Menghitung tinggi bangun datar trapesium
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menemukan kembali rumus luas bangun datar trapesium
2. Siswa dapat menghitung luas bangun datar trapesium
3. Siswa dapat menghitung tinggi bangun datar trapesium
113

E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran konvensional (ekspositori)
F. Materi Ajar
Luas bangun datar trapesium
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali
materi pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya
1. 5 menit
(Siswa melakukan apersepsi mengingat kembali materi
pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran dan kegunaan mempelajari materi
(Siswa memperhatikan tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang luas bangun datar trapesium melalui contoh
dalam kehidupan sehari-hari
2. (Siswa menggali pengetahuannya tentang luas bangun datar 60
trapesium melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari) Menit
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya tentang cara menentukan luas trapesium
(Siswa mencoba memaparkan pengetahuan yang dimilikinya
terkait dengan cara menentukan luas bangun trapesium)
114

(Elaborasi)
- Guru menjelaskan materi dan memberikan contoh soal untuk
diselesaikan bersama berkaitan dengan luas trapesium
(Siswa menyimak penjelesan materi dan menyelesaikan
contoh soal bersama guru terkait dengan luas trapesium)
- Guru memberikan LKS 3 kepada setiap siswa untuk
dikerjakan
(Siswa menerima dan mengerjakan LKS 3 yang diberikan)
- Guru berkeliling, memperhatikan, dan mengarahkan siswa
yang mengalami kesulitan
(Siswa mendapat arahan guru jika kesulitan)
- Guru meminta beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil
pekerjaan LKS 3
(Siswa mempersentasikan hasil pekerjaan LKS 3)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa membahas hasil jawaban siswa yang
telah dipersentasikan
(Siswa bersama guru membahas bersama hasil jawaban yang
telah dipersentasikan)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah
dipelajari) 5
3. - Guru memberikan tugas PR kepada siswa Menit
(Siswa memperhatikan tugas PR yang diberikan)
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
115

H. Sumber dan Alat Belajar


1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
Mas Titing Sumarmi dan Siti Kamsiyati. 2009. Asyiknya Belajar
Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke -4
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menggambar bangun datar layang-layang
2. Mengidentifikasi sifat bangun datar layang-layang
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menggambar bangun datar layang-layang
2. Siswa dapat mengidentifikasi sifat bangun datar layang-layang
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran konvensional (ekspositori)
F. Materi Ajar
Sifat bangun datar layang-layang
116

G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali
materi pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya 5
1.
(Siswa mengingat kembali materi pelajaran yang telah Menit
dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran dan kegunaan mempelajari materi
(Siswa memperhatikan tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi yang disampaikan guru)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang bangun datar layang-layang melalui contoh
dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa menggali pengetahuannya tentang bangun datar
layang-layang melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
2. - Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya berkaitan dengan sifat layang-layang
(Siswa mencoba memaparkan pengetahuan yang dimilikinya
terkait dengan sifat bangun datar layang-layang)
(Elaborasi)
- Guru menjelaskan materi sifat bangun datar layang-layang
(Siswa menyimak penjelesan materi yang disampaikan guru)
- Guru memberikan LKS 4 kepada setiap siswa untuk
117

dikerjakan 60
(Siswa menerima dan mengerjakan LKS 4 yang diberikan) Menit
- Guru berkeliling, memperhatikan, dan mengarahkan siswa
yang mengalami kesulitan
(Siswa mendapat arahan guru jika kesulitan)
- Guru meminta beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil
pekerjaan LKS 4
(Siswa mempersentasikan hasil pekerjaan LKS 4)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa membahas hasil jawaban siswa yang
telah dipersentasikan
(Siswa bersama guru membahas bersama hasil jawaban yang
telah dipersentasikan)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah 5
3.
dipelajari) Menit
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)

H. Sumber dan Alat Belajar


1. Sumber Belajar:
Supriyanto. 2009. Matematika Untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta: Arya
Duta.
Mas Titing Sumarmi dan Siti Kamsiyati. 2009. Asyiknya Belajar
Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
118

I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 5
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1 Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menemukan kembali rumus luas bangun datar layang-layang
2. Menghitung luas bangun datar layang-layang
3. Menghitung salah satu diagonal bangun datar layang-layang
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menemukan kembali rumus luas bangun datar layang-layang
2. Siswa dapat menghitung luas bangun datar layang-layang
3. Siswa dapat menghitung salah satu diagonal bangun datar layang-layang
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran konvensional (ekspositori)
F. Materi Ajar
Luas bangun datar layang-layang
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen) 5
1.
- Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali Menit
materi pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya
119

(Siswa mengingat kembali materi pelajaran yang telah


dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran dan kegunaan mempelajari materi
(Siswa memperhatikan tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi yang disampaikan guru )
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang luas bangun datar layang-layang melalui
contoh dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa menggali pengetahuannya tentang luas bangun datar
layang-layang melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya tentang cara menentukan luas layang-layang
(Siswa mencoba memaparkan pengetahuan yang dimilikinya
terkait dengan cara menentukan luas layang-layang)
(Elaborasi)
2. - Guru menjelaskan materi dan memberikan contoh soal untuk 60
diselesaikan bersama berkaitan dengan luas layang-layang Menit
(Siswa menyimak penjelesan materi dan menyelesaikan
contoh soal bersama guru terkait dengan luas layang-layang)
- Guru memberikan LKS 5 kepada setiap siswa untuk
dikerjakan
(Siswa menerima dan mengerjakan LKS 5 yang diberikan)
- Guru berkeliling, memperhatikan, dan mengarahkan siswa
yang mengalami kesulitan
(Siswa mendapat arahan guru jika kesulitan)
- Guru meminta beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil
pekerjaan LKS 5
(Siswa mempersentasikan hasil pekerjaan LKS 5)
120

(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa membahas hasil jawaban siswa yang
telah dipersentasikan
(Siswa bersama guru membahas bersama hasil jawaban yang
telah dipersentasikan)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah
dipelajari) 5
3.
- Guru memberikan tugas PR kepada siswa Menit
(Siswa memperhatikan tugas yang diberikan guru)
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
Kusumawati, Heny, dkk.. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke -6
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
121

B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menggambar bangun datar belah ketupat
2. Mengidentifikasi sifat bangun datar belah ketupat
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menggambar bangun datar belah ketupat
2. Siswa dapat mengidentifikasi sifat bangun datar belah ketupat
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran konvensional (ekspositori)
F. Materi Ajar
Sifat bangun datar belah ketupat
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali
materi pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya 5
1.
(Siswa mengingat kembali materi pelajaran yang telah Menit
dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan tujuan
pebelajaran dan kegunaan mempelajari materi
(Siswa memperhatikan tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi yang disampaikan guru)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
122

jawab tentang bangun datar belah ketupat melalui contoh


dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa menggali pengetahuannya tentang bangun datar belah
ketupat melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
pengetahuannya berkaitan dengan sifat belah ketupat
2. (Siswa memaparkan pengetahuan yang dimiliki terkait sifat 60
bangun datar belah ketupat) Menit
(Elaborasi)
- Guru menjelaskan materi sifat bangun datar belah ketupat
(Siswa menyimak penjelesan materi yang disampaikan guru)
- Guru memberikan LKS 6 kepada setiap siswa untuk
dikerjakan
(Siswa menerima dan mengerjakan LKS 6 yang diberikan)
- Guru berkeliling, memperhatikan, dan mengarahkan siswa
yang mengalami kesulitan
(Siswa mendapat arahan guru jika kesulitan)
- Guru meminta beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil
pekerjaan LKS 6
(Siswa mempersentasikan hasil pekerjaan LKS 6)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa membahas hasil jawaban siswa yang
telah dipersentasikan
(Siswa bersama guru membahas bersama hasil jawaban yang
telah dipersentasikan)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
123

Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah 5
3.
dipelajari) Menit
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 7
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1. Menghitung luas trapesium dan layang-layang
C. Indikator
1. Menemukan kembali rumus luas bangun datar belah ketupat
2. Menghitung luas bangun datar belah ketupat
3. Menghitung salah satu diagonal bangun datar belah ketupat
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menemukan kembali rumus luas bangun datar belah ketupat
2. Siswa dapat menghitung luas bangun datar belah ketupat
3. Siswa dapat menghitung salah satu diagonal bangun datar belah ketupat
124

E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran konvensional (ekspositori)
F. Materi Ajar
Luas bangun datar belah ketupat
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali
materi pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya
(Siswa turut melakukan apersepsi dengan mengingat kembali
5
1. materi pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan
Menit
sebelumnya)
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan kegunaan
mempelajari materi
(Siswa memperhatikan kegunaan mempelajari materi)
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan
guru)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan siswa dengan melakukan tanya
jawab tentang bangun datar belah ketupat melalui contoh
2.
dalam kehidupan sehari-hari
(Siswa menggali pengetahuannya tentang luas bangun datar
belah ketupat melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari)
- Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan
125

pengetahuannya tentang cara menentukan luas belah ketupat


(Siswa mencoba memaparkan pengetahuan yang dimilikinya
terkait dengan cara menentukan luas pada bangun datar belah
ketupat)
(Elaborasi)
- Guru menjelaskan materi dan memberikan contoh soal untuk
diselesaikan bersama berkaitan dengan luas belah ketupat
(Siswa menyimak penjelesan materi dan menyelesaikan 60
contoh soal bersama guru terkait dengan luas belah ketupat) Menit
- Guru memberikan LKS 7 kepada setiap siswa untuk
dikerjakan
(Siswa menerima dan mengerjakan LKS 7 yang diberikan)
- Guru berkeliling, memperhatikan, dan mengarahkan siswa
yang mengalami kesulitan
(Siswa mendapat arahan guru jika kesulitan)
- Guru meminta beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil
pekerjaan LKS 7
(Siswa mempersentasikan hasil pekerjaan LKS 7)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa membahas hasil jawaban siswa yang
telah dipersentasikan
(Siswa bersama guru membahas bersama hasil jawaban yang
telah dipersentasikan)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari 5
3.
(Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah Menit
dipelajari)
- Guru memberikan tugas PR kepada siswa
126

(Siswa memperhatikan tugas yang diberikan guru)


- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)
H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Pertemuan Ke - 8
A. Standar Kompetensi
3. Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas bangun datar
C. Indikator
1. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun datar
trapesium
2. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun datar layang-
layang
3. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun datar belah
ketupat
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun
datar trapesium
2. Siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun
datar layang-layang
127

3. Siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan luas bangun
datar belah ketupat
E. Model/Metode Pembelajaran
Model pembelajaran konvensional (ekspositori)
F. Materi Ajar
Luas bangun datar trapesium, layang-layang, dan belah ketupat
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Alokasi
No Kegiatan Pembelajaran
waktu
Kegiatan Pendahuluan
- Guru memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa
(Siswa menjawab salam, berdoa, dan menjawab absen)
- Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali
materi pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya 5
1.
(Siswa mengingat kembali materi pelajaran yang telah Menit
dipelajari pada pertemuan sebelumnya)
- Guru memberikan motivasi dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran dan kegunaan mempelajari materi
(Siswa memperhatikan tujuan pembelajaran dan kegunaan
mempelajari materi yang disampaikan)
Kegiatan Inti
(Eksplorasi)
- Guru menggali pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk
menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan
2. trapesium, layang-layang, dan belah ketupat berdasarkan 60
contoh dalam kehidupan sehari-hari Menit
(Siswa menggali pengetahuan yang dimilikinya untuk
menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan
trapesium, layang-layang, dan belah ketupat berdasarkan
128

contoh dalam kehidupan sehari-hari)


(Elaborasi)
- Guru menjelaskan materi dan memberikan contoh soal untuk
diselesaikan bersama berkaitan dengan luas trapesium,
layang-layang, dan belah ketupat
(Siswa menyimak penjelesan materi dan menyelesaikan
contoh soal bersama guru terkait dengan luas trapesium,
layang-layang, dan belah ketupat)
- Guru memberikan LKS 8 kepada setiap siswa untuk
dikerjakan
(Siswa menerima dan mengerjakan LKS 8 yang diberikan)
- Guru berkeliling, memperhatikan, dan mengarahkan siswa
yang mengalami kesulitan
(Siswa mendapat arahan guru jika kesulitan)
- Guru meminta beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil
pekerjaan LKS 8
(Siswa mempersentasikan hasil pekerjaan LKS 8)
(Konfirmasi)
- Guru bersama siswa membahas hasil jawaban siswa yang
telah dipersentasikan
(Siswa bersama guru membahas bersama hasil jawaban yang
telah dipersentasikan)
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
(Siswa bertanya jika terdapat sesuatu yang belum dipahami)
Kegiatan Penutup
- Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
5
3. (Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah
Menit
dipelajari)
- Guru memberitahukan siswa tentang materi pembelajaran
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
129

(Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan)


H. Sumber dan Alat Belajar
1. Sumber Belajar:
Adenoviria, dkk.. 2015. Mahir Matematika SD Kelas V. Jakarta: Yudhistira.
Kusumawati, Heny, dkk.. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas.
Sutopo, Agus, dkk.. 2008. Ayo Belajar Matematika Kelas 5 Sekolah Dasar.
Yogyakarta: Kanisius.
2. Alat:
Lembar kerja siswa, spidol, penghapus, dan papan tulis.
I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Uraian (terlampir)

Bekasi, Oktober 2015

Peneliti

Amelia Sidik
130
Lampiran 3
Lembar Kerja Siswa 1
Nama :
Tujuan pembelajaran ini ialah dapat
mengubah satuan luas ke satuan luas yang
Kelas :
tingkatannya berbeda dan meghitung
gabungan beberapa satuan luas

Tahukah kalian apa saja satuan panjang ?

Satuan luas yang akan kita pelajari berkaitan

dengan satuan panjang.

Satuan luas adalah perkalian dua satuan panjang yang sama.

Misalnya : 1 cm x 1 cm = 1 cm2 (dibaca satu centimeter persegi)

Lalu apa hubungannya antara satuan luas dengan luas daerah bangun datar ?

Luas daerah bangun datar merupakan banyaknya satuan luas yang


terdapat pada bangun datar tersebut.

Perhatikan gambar berikut ini!

Satuan luas ( 1 cm x 1 cm = 1cm2)

Luas persegi panjang ini 24 satuan luas atau 24


persegi.

Jika satuan luas panjang sisinya 1 cm, maka luas


setiap satuan persegi 1 cm x 1 cm = 1 cm2

Luas persegi panjang = x =


131

Tangga Konversi Satuan Luas

ka

ha = hm2 Setiap naik 1


tangga dibagi 10
daa

are = dam2

da
Setiap turun ca = m2
1 tangga
dikali 10 ma

Satuan luas selain persegi adalah are. Ingatlah selalu hubungan antarsatuan luas persegi
(m2) dan are (a).

1 hm2 = 1 ha
1 dam2 = 1 are
1 m2 = 1 ca
1 are = 100 m2

Soal !
Kerjakanlah soal dibawah ini !
1. 5000 da = daa 4. 23 are = cm2
(5000 : )daa = daa


2. 8 dam2 = ca 5. 75 hm2 = are
8 dam2 = are ...............................................
(8 x )ca = ca

3. 2000 m2 = ca



132

6. 8 ha + 52 dam2 = are
8 ha = are
52 dam2 = are
+
Jumlah = are

7. 5 dam2 + 3600 dm2 = ca




8. 7200 m2 4100 ca = are




Setelah selesai, lakukanlah pengecekan dengan anggota


kelompokmu serta diskusikanlah agar kamu memahaminya dan
mendapat jawaban yang tepat !

Selamat Mengerjakan
133

Lembar Kerja Siswa 2


Tujuan Pembelajaran Nama :
Siswa dapat menggambar
Kelas :
trapesium dan mengidentifikasi
sifat trapesium

Perhatikan gambar bangun datar persegi panjang disamping!

Lakukakan langkah berikut ini !

berikan nama pada titik sudut persegi panjang dengan huruf A,

B, C, dan D

kemudian letakan titik O diantara C dan D

Tariklah garis O

Menurutmu bangun datar apa yang terbentuk dari titik A, B, C,

dan O ? ..................................

Sekarang kalian gambarkan kembali bangun datar trapesium sesuai dengan

ukuran yang ditentukan.

Gambarlah trapesium dengan tinggi 3 cm yang masing-masing memiliki sisi

sejajar 4 cm dan 5 cm ! Berikan nama PQRS pada setiap titik sudutnya !

Tahukah kalian
trapesium terbagi
menjadi tiga jenis ?
134

Bangun ABCD adalah Trapesium sembarang, mari periksa sisi dan sudutnya!

1. Apakah terdapat sepasang sisi yang sejajar ? Jika iya, maka sebutkan !




2. Apakah terdapat sepasang sisi yang sama panjang ? Jika iya, maka
sebutkan!

Bangun KLMN adalah Trapesium siku-siku, mari periksa sisi dan sudutnya!

3. Apakah terdapat sepasang sisi yang sejajar ? Jika iya, maka sebutkan!




4. Apakah terdapat sudut siku-siku ? Jika iya, maka sebutkan!




135

Bangun PQRS adalah Trapesium sama kaki, mari periksa sisi dan sudutnya!

5. Apakah terdapat sepasang sisi yang sejajar ? Jika iya, maka sebutkan!




6. Apakah terdapat sepasang sisi yang sama panjang ? Jika iya, maka sebutkan!




7. Apakah terdapat sudut yang sama besar? Jika iya, maka sebutkan!

Setelah selesai, lakukanlah pengecekan dengan anggota


kelompokmu serta diskusikanlah agar kamu memahaminya dan
mendapat jawaban yang tepat !

Selamat Mengerjakan
136

Lembar kerja Siswa 3


Nama :
Tujuan pembelajaran
Kelas : Siswa dapat menemukan kembali rumus luas
trapesium, menghitung luas trapesium, dan
menghitung tinggi trapesium

Tahukah kamu cara


menentukan luas dari sebuah
bangun datar trapesium ?

Marilah kita menemukan rumus untuk menghitung luas trapesium, ikutilah langkah
berikut ini !

Siapkan kertas origami yang berbentuk bangun datar trapesium siku-siku

Buatlah garis yang sejajar dengan a melalui titik tengah t dan lekuk menjadi dua

bagian. seperti pada gambar: b

a
Potonglah garis lekukan tersebut menjadi dua bagian. Kemudian susun kedua potongan

tersebut menjadi persegi panjang.

susun disini

Berapa panjang persegi panjang ? .

Berapa lebar persegi panjang ?


137

Untuk menemukan rumus luas trapesium, kita dapat menggunakan rumus luas persegi

panjang. Mari mencoba !

L Persegi panjang = p x l

L trapesium = + x

Jadi luas trapesium rumusnya

L = ( + ) x

Dari rumus luas trapesium yang telah kalian temukan dapat dicari tinggi dari suatu

trapesium. Mari mencoba !

t=

Soal !

1. Lengkapilah uraian berikut ini untuk menambah pengetahuanmu tentang luas

trapesium !

Penyelesaian

a = 14 cm b = t =

L=( a + ) x

L = ( 14 cm + ) x

L = x

L = cm2

2. Hitunglah luas trapesium di bawah ini !

Penyelesaian
138

3. Tentukan tinggi dari trapesium ABCD jika diketahui luasnya 400 cm2 !

20 cm

30 cm
Penyelesaian

a = b = 20 cm L = 400 cm2

L = ( + ) x t

t=

t=

t = cm

4. Sebuah trapesium memiliki luas 28 cm2. Jika jumlah sisi yang sejajar 14 cm, maka

berapa tinggi trapesium tersebut ?

Penyelesaian

Setelah selesai, lakukanlah pengecekan dengan anggota


kelompokmu serta diskusikanlah agar kamu memahaminya dan
mendapat jawaban yang tepat !

Selamat Mengerjakan
139

Lembar Kerja Siswa 4


Nama :

Kelas :
Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat menggambar dan
mengindentifikasi sifat layang-layang

Pernahkah kalian memainkan ini bersama teman-teman ? Jika

pernah tentu kalian mengetahui nama mainan ini. Apakah

nama mainan ini ?

Bagian layang-layang:

BD merupakan diagonal panjang (d1)


AC merupakan diagonal pendek (d2)

Nah, setelah kalian mengetahuai bagian dari layang-layang cobalah gambarkan kerangka

layang-layang TUVW dengan diagonal panjang 5 cm dan diagonal pendeknya 3 cm !

Setiap bangun datar memiliki sifat atau ciri-ciri. Sifat yang dimiliki suatu bangun datar

dapat dijadikan sebagai ciri khas yang membedakan bangun datar satu dengan bangun

datar lainnya.

Tahukah kalian sifat yang

dimiliki layang-layang ?
140

Perhatikanlah gambar berikut ini dan jawablah pertanyaannya untuk memahami sifat

layang-layang !

1. Apakah terdapat pasangan sisi yang sama panjang ? Jika iya ,

maka sebutkan !

2. Apakah terdapat pasangan sudut yang sama besar ? Jika iya,

maka sebutkan !

3. Gambar bangun disamping merupakan kerangka

layang-layang Adi. Sisi DC memiliki panjang 12 cm

dan sisi BC memiliki panjang 16 cm. Berapa

panjang sisi AD dan AB ?

4. Diketahui sebuah layang-layang ABCD disamping memiliki

empat buah sudut. Besar sudut A = 105, sedangkan besar

sudut B dan D masing-masing 110 dan 40. Berapa besar

sudut C ?

Setelah selesai, lakukanlah pengecekan dengan anggota


kelompokmu serta diskusikanlah agar kamu memahaminya dan
mendapat jawaban yang tepat !

Selamat Mengerjakan
141

Lembar Kerja Siswa 5

Tujuan pembelajaran
Siswa dapat menemukan kembali rumus
luas layang-layang, menghitung luas Nama :
layang-layang, dan menghitung salah satu
Kelas :
diagonal layang-layang

Rama dan Amir sedang membuat layang-layang.

Mereka ingin mengetahui luas dari layang-layang yang

telah dibuat. Dapatkah kalian membantu mereka

menghitungnya ? Bagaimana cara untuk menghitung

luas layang-layang yang telah dibuat ?

Ayo temukan cara untuk menghitung luas layang-layang, ikutilah petunjuk berikut ini !

Layang-layang dibentuk dari dua buah segitiga sama kaki. Kedua segitiga mempunyai

alas sama panjang, tetapi tingginya berbeda.

BD merupakan diagonal panjang (d1)


AC merupakan diagonal pendek (d2)

Potonglah segitiga yang menyusun layang-layang tersebut sehingga di dapatkan

segitiga 1 yang memiliki tinggi lebih pendek dan segitiga 2 yang memiliki tinggi lebih

panjang.

Tempel Segitiga 1 Tempel Segitiga 2

Segitiga Segitiga
142

Luas layang-layang dapat dicari menggunakan rumus luas segitiga. Caranya dengan

menghitung luas kedua segitiga sama kaki yang menyusun layang-layang tersebut.

Setelah itu hasilnya dijumlahkan.

Luas layang-layangABCD = Luas + Luas

= ( x x ) + ( x x )

= x (OD + OB)

= x x

sisi merupakan diagonal 1 (d1)

sisi meruapakan diagonal 2 (d2)

Jadi, luas layang-layang dapat dirumuskan

L = x .. x ..

Lalu bagaimana menghitung


salah satu diagonal layang-
layang apabila luas layang-
layang sudah diketahui ?

Dari rumus luas layang-layang yang telah kalian temukan,


dapat ditentukan panjang diagonal-diagonalnya

x L x L
d1 = d2 =

143

Soal !

1. Tentukan luas dari bangun datar dibawah ini !

5 cm

8 cm

Penyelesaian :

2. Luas layang-layang PQRS adalah 280 cm2. Jika diketahui panjang PR (diagonal

pendek) 20 cm. Maka berapa panjang SQ (diagonal panjang) ?

Dik : Luas PQRS= 280 cm2


PR = 20 cm
Dit : SQ ?
Jawab:
Luas = x SQ x
2 2 280 2
SQ = = = cm
. .

Jadi, panjang diagonal SQ cm

Setelah selesai, lakukanlah pengecekan dengan anggota


kelompokmu serta diskusikanlah agar kamu memahaminya dan
mendapat jawaban yang tepat !

Selamat Mengerjakan
144

Lembar Kerja Siswa 6


Nama : Tujuan pembelajaran
Siswa dapat menggambar dan
Kelas :
mengidentifikasi sifat bangun datar
belah ketupat

Pernahkah kalian memakan ini saat lebaran ?

Jika pernah tentu kalian tahu apa nama

makanan ini bukan ?

Dalam pelajaran Matematika, bangun yang menyerupai makanan diatas disebut

belah ketupat.

Coba kalian gambarkan bangun datar yang menyerupai

makanan tersebut dengan masing-masing panjang diagonalnya

4 cm dan 5 cm, kemudian berikan nama PQRS pada setiap

titik sudutnya !

mudah bukan menggambar


bangun datarbelah
ketupat?
145

Sekarang, mari kita periksa sisi dan sudut dari bangun datar belah ketupat !
D = 120

A= 60

AB = 7cm

1. Berapa panjang keempat sisinya ?

AB = BC = CD = DA =

Sehingga dapat disimpulkan keempat sisinya

2. Bagaimana sudut-sudutnya ?

A = C = B = D =

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sudut yang

3. Bagaimana diagonal-diagonalnya ?

Diagonalnya saling dan membagi dua

Setelah selesai, lakukanlah pengecekan dengan anggota


kelompokmu serta diskusikanlah agar kamu memahaminya dan
mendapat jawaban yang tepat !

Selamat Mengerjakan
146

Lembar Kerja Siswa 7


Nama : Tujuan pembelajaran
Siswa dapat menemukan kembali
Kelas :
rumus luas belah ketupat, menghitung
luas belah ketupat, dan menghitung
salah satu diagonal belah ketupat

Merry bersama keluarganya sedang bertamasya ke Kebun

Raya Bogor. Saat di perjalanan Merry melihat papan

rambu-rambu lalu lintas yang sedang di ganti warna cat

nya oleh pekerja. Ia pun penasaran berapa kira-kira luas

papan yang sedang di cat tersebut dan bagaimana cara

untuk menghitung luas papan rambu-rambu tersebut.

Papan rambu lalu lintas diatas menyerupai salah satu bangun datar yaitu

belah ketupat

Marilah kita coba menemukan rumus untuk mencari luas dari bangun datar belah ketupat

Siapkan kertas origami yang telah berbentuk bangun datar belah ketupat dan berikan

garis pada kedua diagonal bangun tersebut.

Potong belah ketupat hingga menjadi dua bagian yang sama. Setelah dipotong

didapatlah dua segitiga yang menyusun belah ketupat tersebut yakni:

Tempel Segitiga 1 Tempel Segitiga 2

Segitiga Segitiga

Luas belah ketupat sama dengan luas ditambah luas

Luas = x x

= x x
147

Luas = x x

= x x

Luas belah ketupat = L + L

= ( x x ) + ( x x )

= x ( + )

= x x

Sisi merupakan diagonal 1

Sisi merupakan diagonal 2

Sehingga Luas belah ketupat = x x

Berdasarkan rumus luas tersebut dapat kita cari rumus untuk menentukan

panjang salah satu diagonal apabila diagonal lainnya telah diketahui.

Untuk mencari diagonal 1 Untuk mencari diagonal 2


d1 = d2 =

Soal !

1. Hitunglah luas bangun datar di bawah ini !

Penyelesaian :
14 cm
AC =

BD =

L = x x
13 cm
= x x

= x

= cm2
148

2. Sepotong kaca berbentuk belah ketupat dengan diagonal panjangnya 24 cm. Luas

permukaan kaca tersebut 120 cm2. Hitunglah diagonal pendek kaca tersebut !

Dik :

Dit : d2 ?

Jb :

L = x x
..
d2 =

..
d2 =
..
d2=

d2 = cm

Jadi,

3. Sebuah belah ketupat memiliki luas 630 cm2. Jika salah satu panjang diagonal

nya 42 cm, maka berapa panjang diagonal lainnya ?

Penyelesaian

Setelah selesai, lakukanlah pengecekan dengan anggota


kelompokmu serta diskusikanlah agar kamu memahaminya dan
mendapat jawaban yang tepat !

Selamat Mengerjakan
149

Lembar Kerja Siswa 8


Nama :
Tujuan pembelajaran : Siswa dapat menyelesaikan Kelas :
soal cerita yang berkaitan dengan bangun datar
trapesium, layang-layang, dan belah ketupat

Dalam kehidupan sehari-hari banyak masalah yang berkaitan dengan bangun

datar. Berikut ini disajikan masalah yang berkaitan dengan bangun datar. Pahamilah

masalah yang disajikan dan tentukan cara penyelesaian dengan tepat !

1. Bu Aminah ingin membeli karpet untuk menutupi mejanya yang berbentuk

trapesium. Panjang sisi alas meja 5 m dan panjang sisi atas meja 3 m. Jarak antara

sisi alas dan sisi bawah meja tersebut ialah 4 m. Jika harga karpet Rp 10.000 per

m2, maka berapa uang yang harus dikeluarkan

bu Aminah untuk membeli karpet ?

Informasi apa yang kalian dapat ?

Dik :

Apa yang ditanyakan dalam soal tersebut ?

Dit :

Rumus apa yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut ?

Lakukanlah perhitungan dengan tepat!

Jawab :

Harga karpet = Rp 10.000/m2 x = Rp


150

2. Jimmy ingin membuat layang-layang dengan ukuran diagonal yang

dikehendaki 35 cm dan 20 cm. Jika Jimmy ingin membuat 5

layang-layang, maka berapa cm2 kertas yang dibutuhkan Jimmy

untuk membuat layang-layang tersebut?

Informasi apa yang kalian dapat ?

Dik :

Apa yang ditanyakan dalam soal tersebut ?

Dit :

Rumus apa yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut ?

Lakukanlah perhitungan dengan tepat!

Jawab :

Kertas yang dibutuhkan untuk membuat 5 layang-layang = 5 x =

3. Pak Yos memiliki perkebunan yang berbentuk belah ketupat Panjang diagonal kebun

tersebut ialah 150 m dan 120 m. Berapa are luas perkebunan pak Yos ?

Informasi apa yang kalian dapat ?

Dik :
151

Apa yang ditanyakan dalam soal tersebut ?

Dit :

Rumus apa yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut ?

Lakukanlah perhitungan dengan tepat!

Jawab :

Setelah selesai, lakukanlah pengecekan dengan anggota


kelompokmu serta diskusikanlah agar kamu memahaminya dan
mendapat jawaban yang tepat !

Selamat Mengerjakan
152

Lampiran 4

Kuis Indvidual Pertemuan Ke-1

Kerjakanlah soal di bawah ini dengan benar !

1. 47000 are = hm2


2. 9 ha = .. dam2
3. 7 ca 5 dm2 = cm2
4. 6 hm2 + 3 km2 = are

Kuis Individual Pertemuan Ke- 2

1. Gambarlah trapesium sama kaki KLMN dengan panjang sisi atas 3 cm dan
panjang sisi bawah 5 cm, serta tinggi 4 cm !
2. Sebutkanlah dua sifat yang dimiliki bangun datar dibawah ini !

Kuis Individual Pertemuan Ke- 3

1. Sebuah trapesium mempunyai sisi sejajar 37 cm dan 52 cm. Tinggi


trapesium 44 cm. Tentukan luas trapesium tersebut !
2. Trapesium ABCD memiliki luas 240 cm2. Panjang sisi-sisi sejajar tersebut
adalah 8 cm dan 12 cm. Hitunglah tinggi trapesium ABCD!
153

Kuis Individual Pertemuan Ke- 4

1. Gambarlah layang-layang yang memiliki panjang diagonal berturut-turut 6


cm dan 3 cm, berikan nama PQRS pada tiap titik sudutnya !
2. Perhatikan gambar dibawah ini ! Sebutkan dua sifat yang dimiliki bangun
datar tersebut !

Kuis Individual Pertemuan Ke- 5

1. Berapakah luas layang-layang dibawah ini !


DO = 13 cm AO = 8 cm OC = 27 cm

2. Layang-layang dibawah ini luasnya 48 cm2. Jika panjang SQ = 12 cm,


tentukan panjang RT dan PT !
154

Kuis Individual Pertemuan Ke- 6

1. Dikelas Indah terdapat hiasan dinding yang berbentuk belah ketupat, sebut
saja hiasan tersebut memiliki nama TUVW. Panjang sisi TU = 4 cm dan
panjang sisi VW = 4 cm. Coba kalian gambarkan bangun datar yang
menyerupai hiasan dinding tersebut !
2. Sebutkan sifat-sifat yang dimiliki bangun datar belah ketupat ! (minimal 2)

Kuis Individual Pertemuan Ke- 7

1. Hitunglah luas bangun di bawah ini !

2. Sebuah belah ketupat memiliki luas 481 cm2. Panjang salah satu
diagonalnya adalah 37 cm. Berapa panjang diagonal lainnya ?

Kuis Individual Pertemuan Ke- 8

1. Farel memiliki layang-layang berukuran diagonal 50 dm dan 80 dm. Jika


Miska ingin membuat layang-layang dengan salah satu diagonalnya 5 m
tetapi memiliki luas yang sama dengan luas layang-layang Farel , maka
berapakah ukuran diagonal yang lain dari layang-layang Miska ?
155

Lampiran 5

Kisi-kisi Instrumen Pemahaman Konsep

Pokok Bahasan : Luas Bangun Datar


Kompetensi Dasar : 3.1 Menghitung luas trapesium dan layang-layang
3.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas
bangun datar

No.
No Kategori Indikator
Soal
a. Mengubah satuan luas ke satuan luas lain
1a
yang tingkatannya berbeda
b. Menggambar bangun datar trapesium 2
c. Menggambar bangun datar layang-
4a
layang
d. Menggambar bangun datar belah ketupat 9
1. Penerjemahan
e. Mengidentifikasi sifat bangun datar
3a
trapesium
f. Mengidentifikasi sifat bangun datar
5
layang-layang
g. Mengidentifikasi sifat bangun datar belah
11a
ketupat
a. Menghitung gabungan beberapa satuan
1b
luas
b. Menghitung luas bangun datar trapesium 3b
2. Penafsiran c. Menghitung luas bangun datar layang-
4b
layang
d. Menghitung luas bangun datar belah
11b
ketupat
a. Menghitung tinggi trapesium 8
b. Menghitung diagonal layang-layang 6
c. Menghitung diagonal belah ketupat 12
156

3. Ekstrapolasi d. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan


7
dengan luas trapesium
e. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan
10
dengan luas layang-layang
f. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan
13
dengan luas belah ketupat
157

Lampiran 6

Uji Coba Instrumen Penelitian

Petunjuk Umum
a. Tulislah nama lengkap dan kelas pada lembar jawaban yang disediakan
b. Periksa dan jawablah soal dengan teliti sebelum menjawab
c. jawablah pertanyaan pada lembar jawaban yang disediakan
d. Mulailah dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim
e. Akhiri pekerjaanmu dengan megucap Alhamdulillah

1. Selesaikan soal-soal berikut ini dengan benar dan gunakanlah tangga konversi satuan
untuk mempermudah penyelesaian soal !
a. 5600 m2= are
b. 7100 dam2 + 90000 ca = .. ha
2. Gambarlah trapesium siku-siku ABCD yang memiliki tinggi 3 cm dan sisi miring 4 cm !
3. Perhatikan gambar di bawah ini!

E 45 cm F
a. Apa nama bangun datar disamping ?

20 cm Tentukan pasangan sisi yang sejajar dan


pasangan sisi yang sama panjang !
b. Hitunglah luas bangun datar tersebut !
52 cm
G H
4. Amir memiliki sebuah layang-layang yang dinamakan layang-layang MNOP. Panjang
masing-masing diagonalnya 4 cm dan 2 cm. Bantulah Amir untuk :
a. Menggambar model bangun datar tersebut !
b. Setelah itu, Hitunglah luas model bangun datar tersebut !
5. K
3 cm
Perhatikan gambar disamping !
L N Tentukan panjang sisi yang belum diketahui dan besar
sudut x !
6 cm

KLM = 60
M
158

6. Imam membuat layang-layang menggunakan rangka bambu dengan luas 198 cm2. Panjang
salah satu diagonalnya ialah 22 cm. Berapa panjang diagonal lainnya
7. Adi sedang bermain puzzle yang apabila disusun akan membentuk trapesium. Susunan
baris paling atas sebanyak 32 potongan puzzle. Baris paling bawah sebanyak 40 potongan
dan susunan puzzle terdiri dari 12 baris. Berapa jumlah potongan puzzle yang harus
digunakan Adi agar terbentuk bangun datar trapesium ?
L 16 cm M
8. KLMN adalah bangun datar trapesium yang memiliki
luas 180 cm2. Panjang KO = 4 cm, LM = 16 cm.
Berapa panjang LO ?
K 4 cm O N

9. Gambarlah bangun datar belah ketupat EFGH yang memiliki panjang sisi 3 cm !

10. Paman membeli kertas berukuran 40 cm x 250 cm. Kertas tersebut akan digunakan untuk
membuat layang-layang dengan panjang diagonal 25 cm dan 20 cm sebanyak 24 buah.
Berapa sisa kertas yang dibeli Paman ?
11. S
Perhatikan gambar disamping !
a. Tentukan sisi yang sama panjang dan
sepasang segitiga yang luasnya sama !
P R 16 cm
b. Hitunglah luas bangun datar disamping !

Q
12 cm
12. Raka memiliki hiasan dinding yang berbentuk belah ketupat dengan panjang salah satu
diagonalnya 8 cm. Jika hiasan tersebut memiliki luas 48 cm2, maka berapa panjang
diagonal lainnya ?

13. Sawah Pak Burhan berbentuk belah ketupat dengan luas 3 hektare dan salah satu
diagonalnya 150 m. Berapa meter panjang diagonal sawah yang lainnya ?

Selamat Mengerjakan
159

Lampiran 7

Kunci Jawaban

1. 1 dam2 = 1 are
1 m2 = 1 ca
a. 5600 m2 = .. are
5600 m2 = 5600 ca = (5600 : 100) are= 56 are
b. 7100 dam2 + 90000 ca = .. ha
7100 dam2 = 7100 are = 71 ha
90000 ca = 9 ha
+
Jumlah = 80 ha

2. D C

3 cm

A B

3. a. Trapesium sama kaki. Pasangan sisi yang sejajar ialah EF dan GH. Pasangan
sisi yang sama panjang EG dan FH.
b. a = GH = 52 cm b = EF = 45 cm t = 20 cm
L = x (a+b) x t
= x (52 cm + 45 cm) x 20 cm
= x 97 cm x 20 cm
= 970 cm2 2 cm
4. a. M

N P
4 cm

O
160

b. d1 = 4 cm d2 = 2 cm
L = x d1 x d2
= x 4 cm x 2 cm
= 4 cm2

5. Panjang sisi yang belum diketahui LM =NM = 6 cm dan KN = KL = 3cm


Sudut x = KNM
KNM = KLM = 60

6. Dik :L = 198 cm2 d1 = 22 cm


Dit : d2 ?
Jawab : L = x d1 x d2

d2 =

d2 = = = 18 cm

Jadi, panjang diagonal lainnya ialah 18 cm

7. Dik : a = 40 potongan puzzle t = 12 baris


b = 32 potongan puzzle
Dit : jumlah potongan puzzle (luas trapesium) ?
Jawab:
L = x (Jumlah sisi sejajar) x tinggi
= x (40 + 32) x 12
= x 72 x 12
= 432 potongan puzzle
Jadi, jumlah potongan puzzle yang harus digunakan ialah 432 potongan

8. Dik : L = 180 cm2 KO = 4 cm


LM atau b= 16 cm KN atau a = 24 cm
Dit : Panjang LO atau tinggi (t) ?
Jawab :
L = x (a + b) x t
161

t=

t= = = 9 cm

Jadi, panjang LO atau tinggi trapesium ialah 9 cm.

9. H
3 cm

E G

10. Dik : Kertas = p x l = 40 cm x 250 cm


d1 = 25 cm d2 = 20 cm
Jumlah layang-layang yang akan dibuat 24 buah
Dit : Sisa kertas ?
Jawab:
Luas persegi panjang = p x l
= 40 cm x 250 cm
= 10000 cm2

Luas layang-layang = x d 1 x d2
= x 25 cm x 20 cm
= 250 cm2
Jumlah layangan yang akan dibuat 24 x 250 cm2 = 6000 cm2
Sisa Kertas = 10000 cm2 - 6000 cm2
= 4000 cm2
Jadi, sisa kertas yang dibeli paman ialah 4000 cm2

11. a. Sisi yang sama panjang PQ = QR = RS = SP dan sepasang segitiga yang


luasnya sama ialah PQR = PSR atau QPS = QRS
162

b. d1 = SQ = 16 cm d2 = PR = 12 cm
L = x d1 x d2
= x 16 cm x 12 cm
= 96 cm2

12. Dik : d1 = 8 cm L = 48 cm2


Dit : d2 ?
Jawab :
L = x d1 x d2

d2 =

d2 = = = 12 cm

Jadi, panjang diagonal lainnya ialah 12 cm.

13. Dik : L sawah = 3 ha = 3 hm2 = 30000 m2


d1 = 150 m
Dit : d2 ?
Jawab :
L = x d1 x d2

d2 =

d2 = = = 400 m

Jadi, panjang diagonal sawah yang lainnya ialah 400 m


163

Lampiran 8

Pedoman Penskoran Pemahaman Konsep Matematika

No
Indikator Kriteria Penilaian Skor
Soal
Mengubah satuan luas dengan membuat tangga konversi
4
Mengubah satuan dan menggunakan cara serta hasilnya tepat
satuan luas ke Mengubah satuan luas dengan membuat tangga konversi
3
satuan luas satuan dan menggunakan cara tetapi hasil kurang tepat
1a
yang Berusaha menjawab dengan membuat tangga konversi
2
tingakatannya satuan atau menggunakan cara tetapi hasil belum tepat
berbeda Berusaha menjawab tetapi salah 1
Tidak menjawab soal 0
Menghitung gabungan satuan luas dengan membuat
tangga konversi satuan dan menggunakan cara serta 4
hasilnyaa tepat
Menghitung gabungan satuan luas dengan membuat
Menghitung
tangga konversi satuan dan menggunakan cara tetapi 3
gabungan
1b hasil belum tepat
beberapa
Berusaha menghitung gabungan satuan luas dengan
satuan luas
membuat tangga konversi satuan atau menggunakan 2
cara tetapi hasil belum tepat
Berusaha menjawab tapi salah 1
Tidak menjawab soal 0
Menggambar bangun datar trapesium siku-siku ABCD
4
dengan ukuran yang tepat
Menggambar Menggambar trapesium siku-siku dengan ukuran yang
3
2 bangun datar tepat tetapi tidak memberi nama/sebaliknya
trapesium Menggambar bangun datar trapesium siku-siku tanpa
2
nama dan ukuran tidak tepat
Berusaha menggambar/jawaban salah 1
164

Tidak menjawab soal 0


Mengidentifikasi trapesium serta menentukan pasangan
4
sisi sejajar dan sisi sama panjang dengan tepat
Mengidentifikasi trapesium serta menentukan salah satu
Mengidentifika 3
pasangan sisi sejajar atau sama panjang dengan tepat
si sifat bangun
3a Mengidentifikasi trapesium tetapi kurang tepat
datar 2
menentukan pasangan sisi sejajar dan sama panjang
trapesium
Berusaha mengidentifikasi bangun datar pada
1
gambar/jawaban salah
Tidak menjawab soal 0
Menafsirkan informasi pada gambar serta melakukan
proses penyelesaian menghitung luas trapesium dengan 4
tepat dan hasil tepat
Menafsirkan informasi pada gambar serta melakukan
Menghitung
proses penyelesaian menghitung luas trapesium dengan 3
luas bangun
3b tepat namun hasil kurang tepat
datar
Menafsirkan informasi pada gambar namun kurang tepat
trapesium
melakukan proses penyelesaian menghitung luas 2
trapesium dan hasil perhitungan salah
Berusaha untuk menyelesaikan soal/jawaban salah 1
Tidak menjawab soal 0
Menggambar bangun datar layang-layang MNOP
4
dengan ukuran yang tepat
Menggambar bangun datar layang-layang dengan
3
Menggambar ukuran yang tepat tetapi tidak memberi nama/sebaliknya
bangun datar Menggambar bangun datar layang-layang tanpa nama
4a 2
layang-layang dan ukuran tidak tepat
Berusaha menggambar/jawaban salah 1
Tidak menjawab soal 0
4b Menghitung Menafsirkan informasi pada soal serta melakukan proses 4
165

luas bangun penyelesaian menghitung luas layang-layang dengan


datar layang- tepat serta hasil tepat
layang Menafsirkan informasi pada soal serta melakukan proses
penyelesaian menghitung luas layang-layang dengan 3
tepat namun hasil kurang tepat
Menafsirkan informasi pada soal namun kurang tepat
melakukan proses penyelesaian menghitung luas 2
layang-layang dan hasil salah
Berusaha untuk menyelesaikan soal/jawaban salah 1
Tidak menjawab soal 0
Mengidentifikasi dan menentukan panjang sisi serta
4
besar sudut yang belum diketahui dengan tepat
Mengidentifikasi dan menentukan salah satu panjang
Mengidentifika kedua sisi dengan tepat atau besar sudut yang belum 3
si sifat bangun diketahui dengan tepat
5
datar layang- Mengidentifikasi satu panjang sisi yang belum diketahui
2
layang dengan tepat tetapi tidak tepat menentukan besar sudut x
Berusaha mengidentifikasi bangun datar pada
1
gambar/jawaban salah
Tidak menjawab soal 0
Memahami maksud soal serta mampu menjalankan
proses penyelesaian menghitung salah satu diagonal 4
layang-layang dengan tepat dan hasil tepat
Menghitung Memahami maksud soal serta menjalankan proses
salah satu penyelesaian menghitung salah satu diagonal layang- 3
6
diagonal layang dengan tepat namun hasil kurang tepat
layang-layang Memahami maksud soal namun kurang tepat dalam
menjalankan proses penyelesaian menghitung salah satu 2
diagonal layang-layang dan hasil salah
Berusaha menjawab soal/jawaban salah 1
166

Tidak menjawab soal 0


Memahami maksud soal menentukan penggunaan
konsep luas trapesium dan melakukan proses dengan 4
tepat serta hasil tepat
Menyelesaikan Memahami maksud soal menentukan penggunaan
masalah yang konsep luas trapesium dan melakukan proses 3
7 berkaitan perhitungan dengan tepat namun hasil kurang tepat
dengan luas Memahami maksud soal menentukan penggunaan
trapesium konsep luas trapesium namun belum tepat dalam 2
melakukan proses perhitungan dan hasil salah
Berusaha menjawab soal/jawaban salah 1
Tidak menjawab soal 0
Memahami maksud soal serta mampu menjalankan
proses penyelesaian menghitung tinggi trapesium 4
dengan tepat dan hasil tepat
Memahami maksud soal serta menjalankan proses
Menghitung
penyelesaian menghitung tinggi trapesium dengan tepat 3
tinggi
8 namun hasil kurang tepat
trapesium
Memahami maksud soal namun kurang tepat dalam
menjalankan proses penyelesaian menghitung tinggi 2
trapesium dan hasil salah
Berusaha menjawab soal/jawaban salah 1
Tidak menjawab soal 0
Menggambar bangun datar belah ketupat EFGH dengan
4
ukuran yang tepat
Menggambar bangun datar belah ketupat dengan ukuran
Menggambar 3
yang tepat tetapi tidak memberi nama/sebaliknya
bangun datar
9 Menggambar bangun datar belah ketupat tanpa nama
belah ketupat 2
dan ukuran tidak tepat
Berusaha menggambar/jawaban salah 1
167

Tidak menjawab soal 0


Memahami maksud soal mampu menentukan
penggunaan konsep luas persegi panjang dan layang- 4
layang serta proses dan hasil perhitungan tepat
Memahami maksud soal mampu menentukan
Menyelesaikan penggunaan konsep luas persegi panjang dan layang-
3
masalah yang layang serta melakukan proses perhitungan dengan tepat
10 berkaitan namun hasil kurang tepat
dengan luas Memahami maksud soal mampu menentukan
layang-layang penggunaan konsep luas persegi panjang dan layang-
2
layang namun belum tepat dalam melakukan proses
perhitungan dan hasil salah
Berusaha menjawab soal/jawaban salah 1
Tidak menjawab soal 0
Mengidentifikasi sisi yang sama panjang dan sepasang
4
segitiga yang luasnya sama
Mengidentifikasi sisi yang sama panjang atau sepasang
3
Mengidentifika segitiga yang luasnya sama dengan tepat
si sifat bangun Mengidentifikasi sisi yang sama panjang namun kurang
11a
datar belah lengkap dan menentukan sepasang segitiga yang luasnya 2
ketupat sama tetapi kurang tepat
Berusaha mengidentifikasi bangun datar pada
1
gambar/jawaban salah
Tidak menjawab soal 0
Menafsirkan informasi pada gambar dan melakukan
proses penyelesaian menghitung luas belah ketupat 4
Menghitung
dengan tepat serta hasil tepat
11b luas bangun
Menafsirkan informasi pada gambar dan melakukan
datar belah
proses penyelesaian menghitung luas belah ketupat 3
ketupat
dengan tepat namun hasil kurang tepat
168

Menafsirkan informasi pada gambar namun kurang tepat


melakukan proses penyelesaian menghitung luas 2
trapesium dan hasil salah
Berusaha untuk menyelesaikan soal/jawaban salah 1
Tidak menjawab soal 0
Memahami maksud soal serta mampu menjalankan
proses penyelesaian menghitung salah satu diagonal 4
belah ketupat dengan tepat dan hasil tepat
Memahami maksud soal serta menjalankan proses
Menghitung
penyelesaian menghitung salah satu diagonal belah 3
salah satu
12 ketupat dengan tepat namun hasil kurang tepat
diagonal belah
Memahami maksud soal namun kurang tepat dalam
ketupat
menjalankan proses penyelesaian menghitung salah satu 2
diagonal belah ketupat dan hasil salah
Berusaha untuk menyelesaikan soal/jawaban salah 1
Tidak menjawab soal 0
Memahami maksud soal mampu menentukan
penggunaan konsep luas belah ketupat pada soal serta 4
melakukan proses dan hasil tepat
Memahami maksud soal mampu menentukan
Menyelesaikan
penggunaan konsep luas belah ketupat serta melakukan
masalah yang 3
proses perhitungan dengan tepat namun hasil kurang
13 berkaitan
tepat
dengan luas
Memahami maksud soal mampu menentukan
belah ketupat
penggunaan konsep luas belah ketupat namun belum 2
tepat dalam hasil dan pelaksanaan proses perhitungan
Berusaha untuk menyelesaikan soal/jawaban salah 1
Tidak menjawab soal 0
169

Lampiran 9

Langkah-langkah Perhitungan Uji Validitas Tes Uraian

Contoh mencari validitas nomor 1a:


1. Menentukan nilai X = Jumlah skor soal no 1a
= 103
2. Menentukan nilai Y = Jumlah skor total
= 1362
3. Menentukan nilai X2 = Jumlah kuadrat skor soal no 1a
= 351
2
4. Menentukan nilai Y = Jumlah kuadrat skor total
= 54108
5. Menentukan nilai X1aY = Jumlah hasil kali skor soal no 1a dengan skor total
= 3989

6. Menentukan nilai xy =
{ {

=
{ {

= 0, 592
7. Mencari nilai rtabel dengan n = 40 dan taraf signifikansi sebesar 0,05 diperoleh
nilai rtabel = 0,312
8. Setelah diperoleh nilai rxy = 0,592 lalu dibandingkan dengan nilai rtabel = 0,312.
Karena rxy > rtabel maka soal nomor 1a valid
9. Untuk perhitungan uji validitas pada soal selanjutnya menggunakan langkah
seperti soal nomor 1a.
170

Tabel Perhitungan Uji Validitas Tes Uraian


Soal
No Nama Y
1a 1b 2 3a 3b 4a 4b 5 6 7 8 9 10 11a 11b 12 13
1 A 4 1 1 2 2 3 2 3 2 1 1 2 1 1 1 2 0 29
2 B 4 4 3 2 3 2 3 3 2 1 1 3 2 3 2 2 2 42
3 C 1 1 2 2 0 1 0 4 1 0 0 1 0 2 0 0 0 15
4 D 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 2 1 1 2 1 1 1 21
5 E 1 1 1 1 1 3 1 3 1 1 2 0 0 2 0 0 0 18
6 F 1 4 3 1 1 2 3 3 2 1 1 2 1 2 1 1 1 30
7 G 1 1 1 3 2 2 2 1 1 1 3 2 2 1 2 1 1 27
8 H 4 4 4 1 1 4 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 32
9 I 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 3 4 2 4 3 3 59
10 J 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 3 63
11 K 4 4 3 1 1 3 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 28
12 L 4 1 3 2 1 3 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 21
13 M 1 1 1 3 2 2 2 1 1 1 3 2 1 0 1 1 1 24
14 N 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 3 2 2 0 1 1 1 23
15 O 1 1 1 2 1 1 4 4 1 1 1 1 1 0 1 1 1 23
16 P 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 3 4 3 4 2 2 59
17 Q 2 4 3 2 1 3 0 3 1 1 1 3 1 1 1 0 0 27
18 R 1 1 2 3 2 3 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15
19 S 4 4 3 4 4 4 4 4 2 4 2 3 3 3 4 0 0 52
20 T 4 2 3 3 2 3 1 1 1 1 1 1 1 2 0 0 0 26
21 U 1 1 1 2 3 1 3 1 3 1 0 0 1 3 1 1 1 24
22 V 4 4 3 4 1 3 4 4 3 4 2 3 4 3 4 4 3 57
23 W 1 1 4 2 3 3 3 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4 51
24 X 1 1 1 2 3 1 4 3 3 2 0 0 0 3 1 1 1 27
25 Y 4 2 3 2 1 2 4 1 1 1 1 1 4 1 4 4 3 39
26 Z 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 63
27 AA 1 0 4 3 1 3 4 1 1 4 2 3 4 3 4 4 3 45
171

28 BB 1 1 1 2 1 1 3 3 1 1 0 0 0 3 1 1 1 21
29 CC 4 3 3 3 4 4 3 4 2 4 1 3 4 4 4 2 3 55
30 DD 4 3 4 4 3 4 3 4 2 4 0 0 0 0 0 0 0 35
31 EE 1 1 0 3 0 2 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 16
32 FF 4 4 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 33
33 GG 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 1 3 0 0 0 0 0 39
34 HH 4 3 4 2 4 3 4 2 1 3 1 2 1 0 0 0 0 34
35 II 1 1 3 1 1 1 2 3 2 1 0 0 0 0 0 0 0 16
36 JJ 4 4 3 2 4 3 4 4 3 3 1 2 1 1 1 1 1 42
37 KK 1 1 3 4 3 0 4 4 3 3 2 3 1 0 0 0 0 32
38 LL 1 1 3 2 3 4 3 1 2 2 1 1 1 0 1 1 1 28
39 MM 4 4 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 34
40 NN 3 3 3 2 3 4 3 1 4 3 1 2 1 1 1 1 1 37
X 103 93 106 95 86 106 105 102 74 80 54 73 63 61 62 52 47 1362
X 351 295 334 257 252 330 359 326 182 234 112 185 177 155 186 138 111
Y 1362
Y 54108
XY 3989 3621 4006 3481 3402 3958 4113 3875 2903 3372 2121 2931 2794 2453 2809 2289 2082
rxy 0,592 0,582 0,620 0,500 0,658 0,566 0,670 0,435 0,650 0,857 0,513 0,703 0,837 0,543 0,837 0,703 0,733
rtabel 0,312
Keterangan valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid
172

Lampiran 10

Langkah-langkah Perhitungan Uji Realibilitas Tes Uraian

1. Menentukan jumlah varians skor tiap item


Misal pada item 1a, perhitungan jumlah varians adalah sebagai berikut:


b= = 2,14

2. Menentukan nilai jumlah varians semua soal dengan menjumlahkan varians


setiap soal, b =27
3. Menentukan nilai varians total, perhitungan jumlah varians total sebagai
berikut :


t= = 193,30

4. Menentukan uji realibilitasnya


r11 =* +( )

=* +( )

= (1, 0625) (0,86)


= 0, 91
5. Berdasarkan klasifikasi interpretasi realibilitas,
r11= 0,91 berada diantara 0,80 < r11< 1,00 maka soal tersebut memiliki tingkat
realibitas sangat tinggi.
173

Tabel Perhitungan Uji Realibilitas Tes Uraian


Soal
No Nama Y
1a 1b 2 3a 3b 4a 4b 5 6 7 8 9 10 11a 11b 12 13
1 A 4 1 1 2 2 3 2 3 2 1 1 2 1 1 1 2 0 29
2 B 4 4 3 2 3 2 3 3 2 1 1 3 2 3 2 2 2 42
3 C 1 1 2 2 0 1 0 4 1 0 0 1 0 2 0 0 0 15
4 D 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 2 1 1 2 1 1 1 21
5 E 1 1 1 1 1 3 1 3 1 1 2 0 0 2 0 0 0 18
6 F 1 4 3 1 1 2 3 3 2 1 1 2 1 2 1 1 1 30
7 G 1 1 1 3 2 2 2 1 1 1 3 2 2 1 2 1 1 27
8 H 4 4 4 1 1 4 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 32
9 I 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 3 4 2 4 3 3 59
10 J 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 3 63
11 K 4 4 3 1 1 3 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 28
12 L 4 1 3 2 1 3 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 21
13 M 1 1 1 3 2 2 2 1 1 1 3 2 1 0 1 1 1 24
14 N 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 3 2 2 0 1 1 1 23
15 O 1 1 1 2 1 1 4 4 1 1 1 1 1 0 1 1 1 23
16 P 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 3 4 3 4 2 2 59
17 Q 2 4 3 2 1 3 0 3 1 1 1 3 1 1 1 0 0 27
18 R 1 1 2 3 2 3 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15
19 S 4 4 3 4 4 4 4 4 2 4 2 3 3 3 4 0 0 52
20 T 4 2 3 3 2 3 1 1 1 1 1 1 1 2 0 0 0 26
21 U 1 1 1 2 3 1 3 1 3 1 0 0 1 3 1 1 1 24
22 V 4 4 3 4 1 3 4 4 3 4 2 3 4 3 4 4 3 57
23 W 1 1 4 2 3 3 3 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4 51
24 X 1 1 1 2 3 1 4 3 3 2 0 0 0 3 1 1 1 27
25 Y 4 2 3 2 1 2 4 1 1 1 1 1 4 1 4 4 3 39
26 Z 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 63
174

27 AA 1 0 4 3 1 3 4 1 1 4 2 3 4 3 4 4 3 45
28 BB 1 1 1 2 1 1 3 3 1 1 0 0 0 3 1 1 1 21
29 CC 4 3 3 3 4 4 3 4 2 4 1 3 4 4 4 2 3 55
30 DD 4 3 4 4 3 4 3 4 2 4 0 0 0 0 0 0 0 35
31 EE 1 1 0 3 0 2 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 16
32 FF 4 4 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 33
33 GG 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 1 3 0 0 0 0 0 39
34 HH 4 3 4 2 4 3 4 2 1 3 1 2 1 0 0 0 0 34
35 II 1 1 3 1 1 1 2 3 2 1 0 0 0 0 0 0 0 16
36 JJ 4 4 3 2 4 3 4 4 3 3 1 2 1 1 1 1 1 42
37 KK 1 1 3 4 3 0 4 4 3 3 2 3 1 0 0 0 0 32
38 LL 1 1 3 2 3 4 3 1 2 2 1 1 1 0 1 1 1 28
39 MM 4 4 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 34
40 NN 3 3 3 2 3 4 3 1 4 3 1 2 1 1 1 1 1 37
X 103 93 106 95 86 106 105 102 74 80 54 73 63 61 62 52 47 1362
X 351 295 334 257 252 330 359 326 182 234 112 185 177 155 186 138 111
Y 1362
Y 54108
b 2,14 1,97 1,33 0,78 1,68 1,23 2,08 1,65 1,13 1,85 0,98 1,29 1,94 1,55 2,25 1,76 1,39
b 27
t 193,30
r11 0,91
175

Lampiran 11

Langkah-langkah Perhitungan Tingkat Kesukaran Butir Soal

1. Menentukan B = jumlah skor siswa yang menjawab benar pada setiap item
2. Menentukan JS = jumlah maksimal suatu item dikali jumlah seluruh siswa
3. Menentukan tingkat tingkat kesukaran P
Misal pada item no 1a, perhitungan tingkat kesukaran sebagai berikut:
B = 103
JS = 160 (skor maksimal 1 item adalah banyaknya siswa adalah 40 orang,
sehingga 4 x 40 = 160)

P= = = 0, 64

Berdasarkan klasifikasi indeks kesukaran P = 0,64 berada di antara kisaran


nilai 0,31 - 0,70, maka soal 1a memiliki tingkat kesukaran soal sedang.
4. Untuk perhitungan taraf kesukaran pada soal selanjutnya menggunakan
langkah seperti soal 1a.
176

Tabel Perhitungan Tingkat Kesukaran Tes Uraian

Soal
No Nama
1a 1b 2 3a 3b 4a 4b 5 6 7 8 9 10 11a 11b 12 13
1 A 4 1 1 2 2 3 2 3 2 1 1 2 1 1 1 2 0
2 B 4 4 3 2 3 2 3 3 2 1 1 3 2 3 2 2 2
3 C 1 1 2 2 0 1 0 4 1 0 0 1 0 2 0 0 0
4 D 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 2 1 1 2 1 1 1
5 E 1 1 1 1 1 3 1 3 1 1 2 0 0 2 0 0 0
6 F 1 4 3 1 1 2 3 3 2 1 1 2 1 2 1 1 1
7 G 1 1 1 3 2 2 2 1 1 1 3 2 2 1 2 1 1
8 H 4 4 4 1 1 4 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1
9 I 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 3 4 2 4 3 3
10 J 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 3
11 K 4 4 3 1 1 3 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1
12 L 4 1 3 2 1 3 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0
13 M 1 1 1 3 2 2 2 1 1 1 3 2 1 0 1 1 1
14 N 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 3 2 2 0 1 1 1
15 O 1 1 1 2 1 1 4 4 1 1 1 1 1 0 1 1 1
16 P 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 3 4 3 4 2 2
17 Q 2 4 3 2 1 3 0 3 1 1 1 3 1 1 1 0 0
18 R 1 1 2 3 2 3 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 S 4 4 3 4 4 4 4 4 2 4 2 3 3 3 4 0 0
20 T 4 2 3 3 2 3 1 1 1 1 1 1 1 2 0 0 0
177

21 U 1 1 1 2 3 1 3 1 3 1 0 0 1 3 1 1 1
22 V 4 4 3 4 1 3 4 4 3 4 2 3 4 3 4 4 3
23 W 1 1 4 2 3 3 3 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4
24 X 1 1 1 2 3 1 4 3 3 2 0 0 0 3 1 1 1
25 Y 4 2 3 2 1 2 4 1 1 1 1 1 4 1 4 4 3
26 Z 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4
27 AA 1 0 4 3 1 3 4 1 1 4 2 3 4 3 4 4 3
28 BB 1 1 1 2 1 1 3 3 1 1 0 0 0 3 1 1 1
29 CC 4 3 3 3 4 4 3 4 2 4 1 3 4 4 4 2 3
30 DD 4 3 4 4 3 4 3 4 2 4 0 0 0 0 0 0 0
31 EE 1 1 0 3 0 2 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1
32 FF 4 4 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1
33 GG 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 1 3 0 0 0 0 0
34 HH 4 3 4 2 4 3 4 2 1 3 1 2 1 0 0 0 0
35 II 1 1 3 1 1 1 2 3 2 1 0 0 0 0 0 0 0
36 JJ 4 4 3 2 4 3 4 4 3 3 1 2 1 1 1 1 1
37 KK 1 1 3 4 3 0 4 4 3 3 2 3 1 0 0 0 0
38 LL 1 1 3 2 3 4 3 1 2 2 1 1 1 0 1 1 1
39 MM 4 4 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1
40 NN 3 3 3 2 3 4 3 1 4 3 1 2 1 1 1 1 1
X 103 93 106 95 86 106 105 102 74 80 54 73 63 61 62 52 47
P 0,64 0,58 0,66 0,59 0,54 0,66 0,66 0,64 0,46 0,50 0,34 0,46 0,40 0,38 0,39 0,33 0,30
Kriteria sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sulit
178

Lampiran 12

Langkah-langkah Perhitungan Daya Pembeda Tes Uraian

1. Menentukan jumlah kelompok atas dan kelompok bawah


Jumlah kelompok = 50% x Jumlah siswa
= 50% x 40 = 20
2. Nilai siswa diurutkan dari yang terbesar, sehingga 20 orang dengan nilai
tertinggi menempati kelas atas dan 20 orang dengan nilai terendah menempati
kelas bawah.
3. Menentukan JBA = jumlah skor siswa kelompok atas yang menjawab benar
Menentukan JBB = jumlah skor siswa kelompok bawah yang menjawab benar
4. Menentukan JSA = jumlah skor maksimal siswa kelompok atas
Menentukan JSB = jumlah skor maksimal siswa kelompok bawah
5. Misal, untuk soal 1a perhitungan daya pembedanya adalah sebagai berikut:
JBA = 70 JSA = 80
JBB = 33 JSB = 80
(skor maksimal 1 item adalah 4)
Jumlah siswa kelompok atas dan kelompok bawah masing-masing 20, sehingga
4 x 20 = 80
6. Menentukan Daya Pembeda
DP = - = - = 0, 46

Berdasarkan kriteria daya pembeda 0,46 berada diantara nilai 0,41 0, 70


maka soal nomor 1a daya pembedanya baik.
7. Untuk perhitungan daya pembeda pada soal selanjutnya menggunakan langkah
seperti soal 1a.
179

Tabel Perhitungan Daya Pembeda Tes Uraian


Soal
Kelompok
1a 1b 2 3a 3b 4a 4b 5 6 7 8 9 10 11a 11b 12 13
4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 3
4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4
4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 3 4 2 4 3 3
4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 3 4 3 4 2 2
4 4 3 4 1 3 4 4 3 4 2 3 4 3 4 4 3
4 3 3 3 4 4 3 4 2 4 1 3 4 4 4 2 3
4 4 3 4 4 4 4 4 2 4 2 3 3 3 4 0 0
1 1 4 2 3 3 3 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4
Kelompok 1 0 4 3 1 3 4 1 1 4 2 3 4 3 4 4 3
Atas 4 4 3 2 3 2 3 3 2 1 1 3 2 3 2 2 2
4 4 3 2 4 3 4 4 3 3 1 2 1 1 1 1 1
4 2 3 2 1 2 4 1 1 1 1 1 4 1 4 4 3
4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 1 3 0 0 0 0 0
3 3 3 2 3 4 3 1 4 3 1 2 1 1 1 1 1
4 3 4 4 3 4 3 4 2 4 0 0 0 0 0 0 0
4 4 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1
4 3 4 2 4 3 4 2 1 3 1 2 1 0 0 0 0
4 4 4 2 1 3 4 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1
1 1 3 4 3 0 4 4 3 3 2 3 1 0 0 0 0
4 4 4 1 1 4 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1
Jumlah 70 63 70 55 57 64 72 58 47 60 32 51 47 37 47 38 35
1 4 3 1 1 2 3 3 2 1 1 2 1 2 1 1 1
4 1 1 2 2 3 2 3 2 1 1 2 1 1 1 2 0
180

4 4 3 1 1 3 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1
1 1 3 2 3 4 3 1 2 2 1 1 1 0 1 1 1
1 1 1 2 3 1 4 3 3 2 0 0 0 3 1 1 1
1 1 1 3 2 2 2 1 1 1 3 2 2 1 2 1 1
2 4 3 2 1 3 0 3 1 1 1 3 1 1 1 0 0
4 2 3 3 2 3 1 1 1 1 1 1 1 2 0 0 0
Kelompok 1 1 1 3 2 2 2 1 1 1 3 2 1 0 1 1 1
Bawah 1 1 1 2 3 1 3 1 3 1 0 0 1 3 1 1 1
1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 3 2 2 0 1 1 1
1 1 1 2 1 1 4 4 1 1 1 1 1 0 1 1 1
1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 2 1 1 2 1 1 1
4 1 3 2 1 3 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0
1 1 1 2 1 1 3 3 1 1 0 0 0 3 1 1 1
1 1 1 1 1 3 1 3 1 1 2 0 0 2 0 0 0
1 1 0 3 0 2 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1
1 1 3 1 1 1 2 3 2 1 0 0 0 0 0 0 0
1 1 2 2 0 1 0 4 1 0 0 1 0 2 0 0 0
1 1 2 3 2 3 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Jumlah 33 30 36 40 29 42 33 44 27 20 22 22 16 24 15 14 12
DP 0.46 0.41 0.43 0.19 0.35 0.28 0.49 0.18 0.25 0.5 0.13 0.36 0.39 0.16 0.4 0.3 0.29
Ket. Baik Baik Baik Jelek Cukup Cukup Baik Jelek Cukup Baik Jelek Cukup Cukup Jelek Cukup Cukup Cukup
181

Lampiran 13

Data Nilai Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Kelas Kelas
No Nama No Nama
Eksperimen Kontrol
1 A 74 1 A 54
2 B 81 2 B 43
3 C 63 3 C 75
4 D 71 4 D 60
5 E 88 5 E 56
6 F 54 6 F 50
7 G 90 7 G 60
8 H 72 8 H 34
9 I 72 9 I 44
10 J 81 10 J 44
11 K 44 11 K 62
12 L 74 12 L 84
13 M 47 13 M 60
14 N 57 14 N 50
15 O 62 15 O 43
16 P 66 16 P 78
17 Q 71 17 Q 46
18 R 54 18 R 67
19 S 82 19 S 57
20 T 76 20 T 66
21 U 93 21 U 49
22 V 56 22 V 35
23 W 63 23 W 76
24 X 49 24 X 69
25 Y 81 25 Y 75
182

Lampiran 14

Nilai Posttest Kelas Eksperimen Berdasarkan Kategori Bloom

Kategori Soal Penerjemahan Penafsiran Ekstrapolasi Skor


Nilai
Total
Butir Soal 1a 2 3a 4a 5 9 11a Total 1b 3b 4b 11b Total 6 7 8 10 12 13 Total
No. Subjek Skor Skor Skor
A 4 3 0 4 3 3 0 17 3 4 4 4 15 4 2 4 1 3 4 18 50 74
B 4 4 3 4 4 3 1 23 4 4 3 4 15 4 3 4 1 3 2 17 55 81
C 1 3 4 4 3 3 0 18 4 4 4 4 16 4 1 1 1 1 1 9 43 63
D 2 2 4 4 3 1 3 19 1 3 2 2 8 4 4 4 1 4 4 21 48 71
E 4 4 4 3 4 3 3 25 4 3 3 3 13 4 4 2 4 4 4 22 60 88
F 1 3 2 3 4 3 3 19 2 2 3 3 10 4 3 0 0 1 0 8 37 54
G 2 3 4 4 4 3 3 23 2 4 4 4 14 4 4 4 4 4 4 24 61 90
H 1 3 3 3 3 3 1 17 1 3 3 4 11 4 3 4 2 4 4 21 49 72
I 2 2 4 4 3 1 4 20 2 3 3 4 12 4 1 4 1 3 4 17 49 72
J 2 3 3 4 4 3 4 23 4 4 4 2 14 4 2 4 1 3 4 18 55 81
K 2 3 2 3 3 3 3 19 2 1 2 1 6 1 1 0 1 1 1 5 30 44
L 3 3 4 3 3 3 4 23 2 4 3 2 11 4 2 2 2 2 4 16 50 74
M 4 3 4 3 1 3 0 18 3 3 1 1 8 1 1 1 1 1 1 6 32 47
N 1 3 1 3 1 3 1 13 1 4 3 3 11 4 1 4 0 3 3 15 39 57
O 1 3 3 4 4 3 0 18 1 4 4 0 9 4 4 4 1 1 1 15 42 62
P 4 3 3 2 3 3 3 21 4 3 3 1 11 4 3 4 0 1 1 13 45 66
Q 4 2 4 3 1 3 1 18 2 3 3 3 11 4 3 4 0 4 4 19 48 71
R 3 3 2 3 3 3 0 17 4 3 3 0 10 4 3 2 1 0 0 10 37 54
S 4 3 2 3 4 2 3 21 4 3 3 3 13 4 4 4 3 4 3 22 56 82
T 4 3 4 4 3 3 3 24 3 3 3 4 13 4 4 4 0 0 3 15 52 76
183

U 4 4 4 4 4 3 3 26 4 4 3 4 15 4 4 4 3 4 3 22 63 93
V 4 3 2 2 4 2 1 18 4 2 3 0 9 4 2 4 1 0 0 11 38 56
W 4 3 2 4 4 3 1 21 4 2 3 2 11 4 2 4 1 0 0 11 43 63
X 1 3 2 4 3 3 3 19 1 1 3 2 7 1 3 1 0 1 1 7 33 49
Y 4 3 4 3 4 3 4 25 4 3 3 3 13 4 3 4 0 2 4 17 55 81
Jumlah 505 286 379
Rata-rata 20,20 11,44 15,16
Skor Ideal 28 16 24
Persentase (%) 72,14% 71,50% 63,17%
184

Lampiran 15
Nilai Posttest Kelas Kontrol Berdasarkan Kategori Bloom

Kategori Soal Penerjemahan Penafsiran Ekstrapolasi Skor


Nilai
Total
Butir Soal 1a 2 3a 4a 5 9 11a Total 1b 3b 4b 11b Total 6 7 8 10 12 13 Total
No. Subjek Skor Skor Skor
A 2 3 1 4 4 1 4 19 2 3 2 3 10 2 1 1 1 1 2 8 37 54
B 2 3 3 3 1 3 0 15 1 4 2 1 8 1 1 1 1 1 1 6 29 43
C 2 3 4 1 3 3 3 19 2 4 3 3 12 4 4 4 2 2 4 20 51 75
D 0 3 1 3 3 3 0 13 0 4 4 4 12 4 2 3 1 4 2 16 41 60
E 4 3 2 3 1 3 4 20 0 4 4 4 12 1 1 1 1 1 1 6 38 56
F 2 3 4 3 4 3 0 19 2 1 0 1 4 4 3 1 1 1 1 11 34 50
G 0 3 4 3 4 3 4 21 0 4 4 4 12 1 1 1 1 2 2 8 41 60
H 0 3 2 2 3 3 0 13 0 1 0 1 2 3 1 1 1 1 1 8 23 34
I 1 3 4 3 1 1 0 13 1 2 3 1 7 3 1 1 1 4 0 10 30 44
J 1 3 4 3 1 3 0 15 1 1 3 1 6 1 1 1 1 4 1 9 30 44
K 1 3 4 3 4 3 1 19 1 4 4 1 10 3 3 4 1 1 1 13 42 62
L 4 3 4 3 4 3 1 22 4 4 4 4 16 4 4 4 2 3 2 19 57 84
M 1 3 4 3 4 2 4 21 1 4 4 0 9 3 1 1 1 3 2 11 41 60
N 1 3 4 3 4 1 0 16 1 4 4 0 9 2 2 2 1 0 2 9 34 50
O 1 3 3 3 3 0 0 13 1 4 1 0 6 4 1 1 0 2 2 10 29 43
P 4 3 2 2 4 3 1 19 4 4 4 3 15 4 4 4 1 4 2 19 53 78
Q 0 3 4 1 1 1 4 14 0 4 2 3 9 1 1 1 1 2 2 8 31 46
R 4 3 3 1 4 1 4 20 4 3 3 3 13 3 0 4 0 2 4 13 46 67
S 0 3 2 3 3 1 0 12 0 4 4 2 10 4 3 4 1 3 2 17 39 57
185

T 2 3 2 3 3 1 3 17 2 3 3 3 11 4 2 4 1 2 4 17 45 66
U 4 3 2 3 4 1 1 18 2 3 4 0 9 1 1 1 1 1 1 6 33 49
V 1 2 2 2 3 2 0 12 1 0 1 1 3 3 2 1 1 1 1 9 24 35
W 4 3 4 1 3 3 1 19 4 3 3 3 13 4 4 4 3 4 1 20 52 76
X 2 3 4 3 3 1 3 19 2 4 3 3 12 4 3 2 1 3 3 16 47 69
Y 2 3 4 3 4 3 4 23 3 4 4 4 15 4 3 1 1 2 2 13 51 75
Jumlah 431 245 302
Rata-rata 17,24 9,80 12,08
Skor Ideal 28 16 24
Persentase (%) 61,57% 61,25% 50,33%
186

Lampiran 16

DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS EKSPERIMEN

1. Distribusi Frekuensi
Urutan data nilai posttest kelas eksperimen dari yang terkecil hingga terbesar:
44 47 49 54 54
56 57 62 63 63
66 71 71 72 72
74 74 76 81 81
81 82 88 90 93

a. Banyak data (n) = 25

b. Rentang data (R) = Xmax - Xmin


Keterangan :
Xmax = Nilai maksimum (tertinggi)
Xmin = Nilai minimum (terendah)

R = Xmax - Xmin
= 93 - 44
= 49

c. Banyak kelas interval (K) = 1 + 3,3 log n


= 1 + 3,3 log 25
= 1 + 3,3 (1,40)
= 1 + 4,62
= 5,62 6 (dibulatkan ke atas)

d. Panjang kelas (i) =

= 8,16 9
187

Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen

Frekuensi
No. Nilai BB BA Xi Xi2 fi Xi fi Xi2
fi fk
1 44-52 43,5 52,5 3 3 48 2304 144 6912
2 53-61 52,5 61,5 4 7 57 3249 228 12996
3 62-70 61,5 70,5 4 11 66 4356 264 17424
4 71-79 70,5 79,5 7 18 75 5625 525 39375
5 80-88 79,5 88,5 5 23 84 7056 420 35280
6 89-97 88,5 97,5 2 25 93 8649 186 17298
Jumlah 25 1767 129285

2. Perhitungan Mean, Median, Modus, Varians, dan Simpangan Baku Kelas


Eksperimen
a. Mean/Nilai Rata-rata

Mean ( ) =

Keterangan :
fi Xi = Jumlah dari hasil perkalian midpoint (nilai tengah) dari masing-
masing interval dengan frekuensinya
fi = Jumlah frekuensi /banyak siswa


Mean ( ) = = = 70,68

b. Median (Me)

Me = b + i ( )

Keterangan :
Me = Nilai median/nilai tengah
b = Batas bawah kelas median
i = Panjang kelas median
188

n = Jumlah data
fb = Semua frekuensi yang berada di bawah kelas interval median
f = Frekuensi kelas median

Me = b + i ( ) = 70,5 + 9 ( )= 70,5 + 9 (0,21) = 72,39

c. Modus (Mo)

Mo = b + i ( )

Keterangan :
Mo = Nilai modus/nilai yang paling banyak muncul
b = Batas bawah kelas modus, diambil dari kelas interval yang paling
banyak frekuensinya
i = Panjang kelas interval modus
bs = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi sebelum kelas interval
modus
bm = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi sesudah kelas interval
modus

Mo = b + i ( ) = 70,5 + 9 ( ) = 70,5 + 9 (0,6) = 75,90

d. Varians (s2)


s2 = = = = 183,06

e. Simpangan Baku (s)


s= = = 13,53
189

Lampiran 17

DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS KONTROL

1. Distribusi Frekuensi
Urutan data nilai posttest kelas kontrol dari yang terkecil hingga terbesar:
34 35 43 43 44
44 46 49 50 50
54 56 57 60 60
60 62 66 67 69
75 75 76 78 84

a. Banyak data (n) = 25

b. Rentang data (R) = Xmax - Xmin


Keterangan :
Xmax = Nilai maksimum (tertinggi)
Xmin = Nilai minimum (terendah)

R = Xmax - Xmin
= 84 - 34
= 50

c. Banyak kelas interval (K) = 1 + 3,3 log n


= 1 + 3,3 log 25
= 1 + 3,3 (1,40)
= 1 + 4,62
= 5,62 6

d. Panjang kelas (i) =

= 8,3 9
190

Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol

Frekuensi
No. Nilai BB BA Xi Xi2 fi Xi fi Xi2
fi fk
1 34-42 33,5 42,5 2 2 38 1444 76 2888
2 43-51 42,5 51,5 8 10 47 2209 376 17672
3 52-60 51,5 60,5 6 16 56 3136 336 18816
4 61-69 60,5 69,5 4 20 65 4225 260 16900
5 70-78 69,5 78,5 4 24 74 5476 296 21904
6 79-87 78,5 87,5 1 25 83 6889 83 6889
Jumlah 25 1427 85069

2. Perhitungan Mean, Median, Modus, Varians, dan Simpangan Baku Kelas


Kontrol
a. Mean/Nilai Rata-rata

Mean ( ) =

Keterangan :
fi Xi = Jumlah dari hasil perkalian midpoint (nilai tengah) dari masing-
masing interval dengan frekuensinya
fi = Jumlah frekuensi /banyak siswa


Mean ( ) = = = 57,08

b. Median (Me)

Me = b + i ( )

Keterangan :
Me = Nilai median/nilai tengah
b = Batas bawah kelas median
i = Panjang kelas median
191

n = Jumlah data
fb = Semua frekuensi yang berada di bawah kelas interval median
f = Frekuensi kelas median

Me = b + i ( ) = 51,5 + 9 ( ) = 51,5 + 9 (0,42) = 55,28

c. Modus (Mo)

Mo = b + i ( )

Keterangan :
Mo = Nilai modus/nilai yang paling banyak muncul
b = Batas bawah kelas modus, diambil dari kelas interval yang paling
banyak frekuensinya
i = Panjang kelas interval modus
bs = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi sebelum kelas interval
modus
bm = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi sesudah kelas interval
modus

Mo = b + i ( ) = 42,5 + 9 ( ) = 42,5 + 9 (0,75) = 49,25

d. Varians (s2)


s2 = =

= = 150,66

e. Simpangan Baku (s)


s= = = 12,27
192

Lampiran 18

PERHITUNGAN UJI NORMALITAS HASIL POSTEST


KELAS EKSPERIMEN

Rata-rata ( ) = 70,68
Simpangan Baku (s) = 13,53
No Xi Zi Zt F(Zi) S(Zi) F(Zi) - S(Zi)
1 44 -1,97 0,4756 0,02 0,04 0,02
2 47 -1,75 0,4599 0,04 0,08 0,04
3 49 -1,60 0,4452 0,05 0,12 0,07
4 54 -1,23 0,3907 0,11 0,16 0,05
5 54 -1,23 0,3907 0,11 0,2 0,09
6 56 -1,08 0,3599 0,14 0,24 0,1
7 57 -1,01 0,3438 0,16 0,28 0,12
8 62 -0,64 0,2389 0,26 0,32 0,06
9 63 -0,57 0,2157 0,28 0,36 0,08
10 63 -0,57 0,2157 0,28 0,4 0,12
11 66 -0,35 0,1368 0,36 0,44 0,08
12 71 0,02 0,0080 0,51 0,48 0,03
13 71 0,02 0,0080 0,51 0,52 0,01
14 72 0,10 0,0398 0,54 0,56 0,02
15 72 0,10 0,0398 0,54 0,6 0,06
16 74 0,25 0,0987 0,60 0,64 0,04
17 74 0,25 0,0987 0,60 0,68 0,08
18 76 0,39 0,1517 0,65 0,72 0,07
19 81 0,76 0,2764 0,78 0,76 0,02
20 81 0,76 0,2764 0,78 0,8 0,02
21 81 0,76 0,2764 0,78 0,84 0,06
22 82 0,84 0,2995 0,80 0,88 0,08
23 88 1,28 0,3997 0,90 0,92 0,02
24 90 1,43 0,4236 0,92 0,96 0,04
25 93 1,65 0,4505 0,95 1 0,05

a) Mengurutkan data sampel dari yang terkecil hingga terbesar


b) Menentukan nilai Zi dari tiap-tiap data, dengan rumus:

Zi =

Z1 = = - 1,97
193

Untuk menghitung Z2 dan seterusnya, maka mengikuti cara menghitung Z1


c) Menentukan nilai Ztabel berdasarkan nilai Zi
Z1 = bulatkan menjadi dua angka dibelakang koma menjadi , kemudian nilai
minus dimutlakkan menjadi positif maka pada tabel nilai kritis distribusi
normal normal diperoleh nilai Ztabel yaitu 0,4756
Untuk mencari nilai Ztabel dari Z2 dan seterusnya, maka mengikuti cara yang
telah dipaparkan
d) Menentukan nilai F(Zi) berdasarkan nilai Ztabel
Jika Zi negatif (-), maka 0,5 - Ztabel
Jika Zi positif (+), maka 0,5 + Ztabel
F(Z1) = -1,97 ,karena nilai pada Z1 adalah negatif maka mencari F (Z1) adalah
F(Z1) = 0,5 - 0,4756 = 0,02
Untuk mencari nilai F(Z2) dan seterusnya dapat mengikuti cara yang telah
dipaparkan
e) Menentukan nilai S(Zi)

S(Z1) = = = 0,04

Untuk mencari nilai S(Z2) dan seterusnya dapat mengikuti cara yang telah
dipaparkan
f) Mencari nilai Lhitung yang merupakan selisih dari F(Zi) S(Zi)
L1 = F(Zi) S(Zi) = 0,02 0,04 = 0,02
Untuk mengetahui nilai L2 dan seterusnya dapat mengikuti cara menghitung
Lhitung diatas
g) Nilai Ltabel untuk = 0,05 dengan n = 25 maka didapati nilai Ltabel pada tabel
nilai kritis untuk Uji Lilliefors yaitu Ltabel = 0,17.
Kriteria yang telah ditentukan adalah Lhitung Ltabel, maka H0 diterima atau data
berdistribusi normal. Apabila Lhitung > Ltabel, maka H0 ditolak atau data tidak
berdistribusi normal. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan didapat
harga terbesar dari harga mutlak selisih yaitu L7 = 0,12 dan Ltabel = 0,17 jadi
Lhitung Ltabel, maka dapat disimpulkan data berdistribusi normal.
194

Lampiran 19
PERHITUNGAN UJI NORMALITAS HASIL POSTEST
KELAS KONTROL

Rata-rata ( ) = 57,08
Simpangan Baku (s) = 12,27
No Xi Zi Zt F(Zi) S(Zi) F(Zi) - S(Zi)
1 34 -1,88 0,4699 0,03 0,04 0,01
2 35 -1,80 0,4641 0,04 0,08 0,04
3 43 -1,15 0,3749 0,13 0,12 0,01
4 43 -1,15 0,3749 0,13 0,16 0,03
5 44 -1,07 0,3577 0,14 0,2 0,06
6 44 -1,07 0,3577 0,14 0,24 0,1
7 46 -0,90 0,3159 0,18 0,28 0,1
8 49 -0,66 0,2454 0,25 0,32 0,07
9 50 -0,58 0,2190 0,28 0,36 0,08
10 50 -0,58 0,2190 0,28 0,4 0,12
11 54 -0,25 0,0987 0,40 0,44 0,04
12 56 -0,09 0,0359 0,46 0,48 0,02
13 57 -0,01 0,0040 0,50 0,52 0,02
14 60 0,24 0,0948 0,60 0,56 0,04
15 60 0,24 0,0948 0,60 0,6 0
16 60 0,24 0,0948 0,60 0,64 0,04
17 62 0,40 0,1554 0,66 0,68 0,02
18 66 0,73 0,2673 0,77 0,72 0,05
19 67 0,81 0,2910 0,79 0,76 0,03
20 69 0,97 0,3340 0,83 0,8 0,03
21 75 1,46 0,4279 0,93 0,84 0,09
22 75 1,46 0,4279 0,93 0,88 0,05
23 76 1,54 0,4382 0,94 0,92 0,02
24 78 1,70 0,4554 0,96 0,96 0
25 84 2,19 0,4857 0,99 1 0,01

h) Mengurutkan data sampel dari yang terkecil hingga terbesar


i) Menentukan nilai Zi dari tiap-tiap data, dengan rumus:

Zi =

Z1 = = - 1,88
195

Untuk menghitung Z2 dan seterusnya, maka mengikuti cara menghitung Z1


j) Menentukan nilai Ztabel berdasarkan nilai Zi
Z1 = bulatkan menjadi dua angka dibelakang koma menjadi , kemudian nilai
minus dimutlakkan menjadi positif maka pada tabel nilai kritis distribusi
normal normal diperoleh nilai Ztabel yaitu 0,4699
Untuk mencari nilai Ztabel dari Z2 dan seterusnya, maka mengikuti cara yang
telah dipaparkan
k) Menentukan nilai F(Zi) berdasarkan nilai Ztabel
Jika Zi negatif (-), maka 0,5 - Ztabel
Jika Zi positif (+), maka 0,5 + Ztabel
F(Z1) = -1,88 ,karena nilai pada Z1 adalah negatif maka mencari F (Z1) adalah
F(Z1) = 0,5 0,4699 = 0,03
Untuk mencari nilai F(Z2) dan seterusnya dapat mengikuti cara yang telah
dipaparkan
l) Menentukan nilai S(Zi)

S(Z1) = = = 0,04

Untuk mencari nilai S(Z2) dan seterusnya dapat mengikuti cara yang telah
dipaparkan
m) Mencari nilai Lhitung yang merupakan selisih dari F(Zi) S(Zi)
L1 = F(Zi) S(Zi)= 0,03 0,04 = 0,01
Untuk mengetahui nilai L2 dan seterusnya dapat mengikuti cara menghitung
Lhitung diatas
n) Nilai Ltabel untuk = 0,05 dengan n = 25 maka didapati nilai Ltabel pada tabel
nilai kritis untuk Uji Lilliefors yaitu Ltabel = 0,17.
Kriteria yang telah ditentukan adalah Lhitung Ltabel, maka H0 diterima atau data
berdistribusi normal. Apabila Lhitung > Ltabel, maka H0 ditolak atau data tidak
berdistribusi normal. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan didapat
harga terbesar dari harga mutlak selisih yaitu L10 = 0,12 dan Ltabel = 0,17 jadi
Lhitung Ltabel, maka dapat disimpulkan data berdistribusi normal.
196

Lampiran 20
PERHITUNGAN UJI HOMOGENITAS HASIL POSTEST
KELAS EKSPERIMEN DAN KELAS KONTROL

Statistik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol


Varians (s2) 183,06 150,66
Fhitung 1,22
Ftabel 1,98
Kesimpulan Varians Homogen

Fhitung = = = 1,22

Keterangan :
= kelompok yang mempunyai varians besar
= kelompok yang mempunyai varians kecil
Kriteria pengujian:
Jika Fhitung Ftabel, maka H0 diterima yang berarti varians kedua populasi
homogen
Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak yang berarti varians kedua populasi tidak
homogen

Nilai Ftabel = 1,98


Karena Fhitung Ftabel (1,22 1,98) maka dapat disimpulkan bahwa kedua data
hasil posttest memiliki varians yang homogen
197

Lampiran 21

PERHITUNGAN UJI HIPOTESIS STATISTIK HASIL POSTTEST


KELAS EKSPERIMEN DAN KELAS KONTROL

Untuk pengujian hipotesis, maka langkah-langkahnya adalah :


1. Hipotesa statistik
H0 : 1 2
H1 : 1 > 2
2. Uji signifikansi dengan uji-t (t-test)
Berdasarkan perhitungan pada lampiran sebelumnya didapatkan:
Statistik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Jumlah (n) 25 25
Rata-rata 70,68 57,08
Simpangan Baku (s) 13,53 12,27
Varians (s2) 183,06 150,66

Karena kedua sampel homogen setelah diberi perlakuan, maka pengujian


hipotesis menggunakan rumus:

( ) ( )
=

( ) ( )
=

= = = = 12,92

Pengujian hipotesis dengan uji-t pada taraf siginifikansi 5% ( = 0,05) dengan


derajat kebebasan (dk = n1 + n2 2 atau 25 + 25 2 = 48) digunakan rumus:

=

= = = = 3,77
( )

198

Keterangan :
dan = nilai rata-rata hitung data kelas eksperimen dan kelas kontrol
s12 dan s22 = varians data kelas eksperimen dan kontrol
Sgab = simpangan baku kedua kelompok
n1 dan n2 = jumlah siswa pada kelas eksperimen dan kontrol

3. Menentukan harga ttabel


Menentukan harga ttabel dengan taraf siginifikansi 5% ( = 0,05) dan derajat
kebebasan (dk = n1 + n2 2 atau 25 + 25 2 = 48). Sehingga diperoleh harga
ttabel sebesar 2,01.

4. Kriteria pengujian ialah jika harga thitung > ttabel, maka H0 ditolak.

5. Kesimpulan
Karena thitung > ttabel yakni 3,77 > 2,01 maka H0 ditolak dan H1 diterima pada
taraf signifikansi = 5% dengan derajat bebas 48, sehingga dapat
disimpulkan bahwa rata-rata pemahaman konsep matematika kelas
eksperimen lebih baik dari rata-rata kelas kontrol.