Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Hepatitis adalah peradangan yang terjadi pada hati yang merupakan infeksi sistemik
oleh virus atau oleh toksik termasuk alkohol yang berhubungan dengan manifestasi klinik
berspektrum luas dari infeksi tanpa gejala, melalui hepatitis ikterik sampai nekrosis hati
yang mengkasilkan kumpulan perubahan klinis, biokimia, dan selular yang khas (Sandra
M. Nettina, 2001 & Elizabeth J. Corwin, 2000)

Penyakit hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk di


Indonesia yang terdiri dari Hepatitis A, B, C, D, dan E. Hepatitis A dan E sering muncul
sebagai kejadian luar biasa, ditularkan secara fecal oral dan biasanya berhubungan
dengan perilaku hidup bersih dan sehat, bersifat akut dan dapat sembuh dengan baik.
Sedangkan Hepatitis B, C, dan D (jarang) ditularkan secara parenteral, dapat menjadi
kronis dan menimbulkan chirrhosis dan lalu kanker hati.

Pada tahun 2010, prevalensi penyakit infeksi virus hepatitis A mencapai angka 9.3%
dari total penduduk 237.6 juta jiwa. Di Sumatra Selatan pada tahun 2007 dengan jumlah
penduduk 7.019.964 jiwa, prevalensi hepatitis A adalah 0.2-1.9%. Indonesia adalah
negara dengan prevalensi hepatitis B dengan tingkat endemisitas tinggi yaitu lebih dari 8
persen yang sebanyak 1,5 juta orang Indonesia berpotensi mengidap kanker hati. Selama
periode itu telah terkumpul 5.870 kasus hepatitis di Indonesia. Dari pendataan itu, Depkes
memperoleh data kasus hepatitis C di Indonesia yang menjadi proyek percontohan
menurut umur, yaitu terbanyak pada usia 30-59 tahun dengan puncak pada usia 30-39
tahun yang berjumlah 1.980 kasus.

Hasil Riskesdas tahun 2013 Informasi yang di peroleh dari Riskesdas 2013, prevalensi
hepatitis 2013 adalah 1,2 persen, dua kali lebih tinggi dibandingkan 2007. Lima provinsi
dengan prevalensi hepatitis tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (4,3%), Papua (2,9%),
Sulawesi Selatan (2,5%), Sulawesi Tengah (2,3%) dan Maluku (2,3%). Bila dibandingkan
dengan Riskesdas 2007, Nusa Tenggara Timur masih merupakan provinsi dengan
prevalensi hepatitis tertinggi. (Riskesdas, 2007 & Riskesdas, 2013)
Infeksi virus Hepatitis A salah satunya didapat dari infeksi nosokomial yang terjadi di
rumah sakit. Penyakit nosokomial yang didapat di rumah sakit dapat disebabkan oleh
bakteri, virus, jamur, atau parasit yang berasal dari dalam tubuh penderita sendiri maupun
berasal dari sumber eksogin, yaitu dari lingkungan (udara,air), dari alat-alat kesehatan
(jarum suntik, pelarut obat suntik),alat bantu pernapasan, kateter vena, alat transfusi dan
perlengkapan rumah sakit lainnya (meja, kursi, tempat tidur) yang tercemar. Selain itu
sumber infeksi penting lainnya adalah petugas rumah sakit (dokter, dokter gigi, perawat,
bidan, dan petugas perawatan lainnya), dari penderita lain yang sedang dirawat di rumah
sakit, atau dari keluarga penderita yang berkunjung ke rumah sakit. (Soedarto, 2016)

WHO mencatat kasus infeksi nasokomial di dunia berupa penularan Hepatitis B


sebanyak 66.000 kasus, Hepatitis C sebanyak 16.000 kasus dan 1000 kasus penularan
HIV. Selain itu, telah diperkirakan terjadi penularan Hepatitis B (39%), Hepatitis C
(40%), dan HIV (5%) pada tenaga kesehatan di seluruh dunia. 3 Di Amerika Serikat
sekitar 10.000 petugas kesehatan tertular Hepatitis. Penelitian yang dilakukan di 11
rumah sakit di Jakarta pada 2004 menunjukkan 9,8% pasien rawat inap mendapat infeksi
nosokomial (Spritia, 2010). Berdasarkan Kepmenkes nomor 129 tahun 2008 tentang
standar pelayanan minimal Rumah Sakit, jumlah infeksi nosokomial yang dapat
ditoleransi yaitu sebesar 1,5%, sehingga dari data tersebut terlihat masih tingginya
angka kejadian infeksi nosokomial sehingga perlu adanya upaya pencegahan dan
pengendalian infeksi nosokomial (Pristiwani, 2013)

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, faktor faktor dari lingkungan penderita
Hepatitis A yang berasal dari infeksi nosokomial akan dibahas lebih lanjut dalam makalah
ini. Selain itu akan diabahas pula fase fase yang dialami oleh penderita Hepatitis A.

1.2 TUJUAN
1. Mengetahui permasalahan kesehatan melalui pendekatan ekologi dan ekosistem
2. Untuk memahami konsep menurunnya daya dukung lingkungan sebagai
konsekuensi dari pembangunan kesehatan yang tidak berwawasan ekologi
3. Mampu memahami Interaksi Host-Agent-Environtment pada proses terjadinya
sakit, termasuk menganalisa fator fisik, nutrisi, lingkungan, dan gaya hidup
pasien.
4. Mengetahui permasalahan lingkungan yang berdampak pada kesehatan manusia
(khususnya permasalahan lingkungan akibat pencemaran oleh bahan-bahan dan
sarana pelayanan kesehatan)

1.3 MANFAAT
1. Bagi penulis, makalah ini dapat memperluas pengetahuan mengenai permasalahan
kesehatatan yang dipengaruhi oleh ekologi dengan memperdalam pemahaman
mengenai interaksi Host-Agent-Environtment pada proses terjadinya sakit dan
menganalisa fator fisik, nutrisi, lingkungan, dan gaya hidup pasien yang berperan
didalamnya.
2. Bagi pembaca, agar mengetahui permasalahan lingkungan yang berdampak pada
kesehatan manusia dengan lebih mengenali fator fisik, nutrisi, lingkungan, dan
gaya hidup pasien yang dapat mempengaruhi kesehatan

Daftar pustaka

Corwin, Elizabeth J.2000.Buku Saku Patofisiologi.EGC: Jakarta

Nettina, Sandra M. 2001 Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa Setyawan dkk. Ed. 1.
Jakarta : EGC

Soedarto. 2016. Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit. Jalarta: Sagung Seto.

Pristiwani dan Arruum, D. 2013. Peran perawat dalam pengendalian infeksi nosokomial di
rumah sakit umum daerah Dr. T. Manyur Tanjungbalai.