Anda di halaman 1dari 15

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL MAKALAH

Kata Pengantar ......................................................................................................... 1

Daftar Isi ............................................................................................................... ...2

BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 3

1.1 Latar Belakang... .................................................................................... 3

1.2 pengertian komputasi dan forensik.. ..................................................... .4

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... ....5

A. Definisi forensik komputer...........................................................................5


B. Tujuan dan Fokus Forensik Komputer..........................................................6

C. Manfaat dan Tantangan Forensik Komputer.................................................7


D. Konsep utama komputer forensik.................................................................8

E. Kejahatan Komputer.....................................................................................9

F. Obyek Forensik............................................................................................10

G. Tahapan Aktivitas Forensik..........................................................................11

H. Kebutuhan Sumber Daya..............................................................................12

BAB III KESIMPULAN.....................................................................................13

BAB IV PENUTUP............................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA...............15

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang


melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik.
Tujuan penulisan makalah ini dibuat untuk mendapatkan nilai tugas pada mata
kuliah Sistem Informasi Manajemen dan sebagai bahan tambahan untuk menambah ilmu
pengetahuan tentang komputasi forensik . Sebagai bahan penulisan diambil berdasarkan hasil
dari beberapa sumber literatur yang mendukung penulisan ini. Diharapkan dengan adanya
makalah ini pembaca dapat menambah wawasan tentang komputasi forensik dalam
kehidupan sehari-hari.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih kurang sempurna. Oleh
karena itu, segala kritik yang bersifat membangun akan penulis terima dengan tangan
terbuka.

Palembang, 10 Desember 2012

penulis

ASTROYUDHA KERTARAJASA

2
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1. Bayangkanlah sejumlah contoh kasus yang dapat saja terjadi seperti dipaparkan
berikut ini:
2. Seorang Direktur perusahaan multi-nasional dituduh melakukan pelecehan seksual
terhadap sekretarisnya melalui kata-kata yang disampaikannya melalui e-mail. Jika
memang terbukti demikian, maka terdapat ancaman pidana dan perdata yang
membayanginya.
3. Sebuah kementrian di pemerintahan menuntut satu Lembaga Swadaya Masyarakat
yang ditengarai melakukan penetrasi ke dalam sistem komputernya tanpa ijin.
Berdasarkan undang-undang yang berlaku, terhadap LSM yang bersangkutan dapat
dikenakan sanksi hukum yang sangat berat jika terbukti melakukan aktivits yang
dituduhkan.
4. Sekelompok artis pemain band terkemuka merasa berang karena pada suatu masa
situsnya diporakporandakan oleh perentas (baca: hacker) sehingga terganggu citranya.
Disinyalir pihak yang melakukan kegiatan negatif tersebut adalah pesaing atau
kompetitornya.
Sejumlah situs e-commerce mendadak tidak dapat melakukan transaksi pembayaran
karena adanya pihak yang melakukan gangguan dengan cara mengirimkan virus
tertentu sehingga pemilik perdagangan di internet tersebut rugi milyaran rupiah
karena tidak terjadinya transaksi selama kurang lebih seminggu. Yang bersangkutan
siap untuk menyelidiki dan menuntut mereka yang sengaja melakukan kegiatan ini.

Mereka yang merasa dirugikan seperti yang dicontohkan pada keempat kasus di atas,
paling tidak harus melakukan 3 (tiga) hal utama:

1. Mencari bukti-bukti yang cukup agar dapat ditangani oleh pihak berwenang untuk
memulai proses penyelidikan dan penyidikan, misalnya polisi di unit cyber crime;
2. Memastikan bahwa bukti-bukti tersebut benar-benar berkualitas untuk dapat dijadikan
alat bukti di pengadilan yang sah sesuai dengan hukum dan perundang-undangan
yang berlaku; dan
3. Mempresentasikan dan/atau memperlihatkan keabsahan alat bukti terkait dengan
terjadinya kasus di atas di muka hakim, pengacara, dan tim pembela tersangka.

Oleh karena itulah maka dalam ilmu kriminal dikenal istilah forensik, untuk membantu
pengungkapan suatu kejahatan melalui pengungkapan bukti-bukti yang sah menurut undang-
undang dan peraturan yang berlaku.

Sesuai dengan kemajuan jaman, berbagai tindakan kejahatan dan kriminal moderen dewasa
ini melibatkan secara langsung maupun tidak langsung teknologi informasi dan komunikasi.

Pemanfaatan komputer, telepon genggam, email, internet, website, dan lain-lain secara luas
dan masif telah mengundang berbagai pihak jahat untuk melakukan kejahatan berbasis
teknologi elektronik dan digital. Oleh karena itulah maka belakangan ini dikenal adanya ilmu
computer forensics atau forensik komputer, yang kerap dibutuhkan dan digunakan para
penegak hukum dalam usahanya untuk mengungkapkan peristiwa kejahatan melalui
pengungkapan bukti-bukti berbasis entitas atau piranti digital dan elektronik

3
1.2 pengertian komputasi

Komputasi diartikan sebagai cara untuk menemukan pemecahan masalah dari


data input dengan menggunakan suatu algoritma. Selama ribuan tahun, perhitungan dan
komputasi umumnya dilakukan dengan menggunakan pena dan kertas, atau kapur dan
batu tulis, atau dikerjakan secara mental, kadang-kadang dengan bantuan suatu tabel.
Pada zaman sekarang ini, kebanyakan komputasi telah dilakukan dengan menggunakan
komputer.

Secara umum iIlmu komputasi adalah bidang ilmu yang mempunyai perhatian
pada penyusunan model matematika dan teknik penyelesaian numerik serta penggunaan
komputer untuk menganalisis dan memecahkan masalah-masalah ilmu (sains). Dalam
penggunaan praktis, biasanya berupa penerapan simulasi komputer atau berbagai
bentuk komputasi lainnya untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam berbagai
bidang keilmuan, tetapi dalam perkembangannya digunakan juga untuk menemukan
prinsip-prinsip baru yang mendasar dalam ilmu.

Teknologi komputasi adalah aktivitas penggunaan dan pengembangan teknologi


komputer, perangkat keras, dan perangkat lunak komputer. Ia merupakan bagian
spesifik komputer dari teknologi informasi.

Pengertian Komputasi sebetulnya bisa diartikan sebagai cara untuk menemukan


pemecahan masalah dari data input dengan menggunakan suatu algoritma. Komputasi
merupakan suatu sub-bidang dari ilmu komputer dan matematika. Selama ribuan tahun,
perhitungan dan komputasi umumnya dilakukan dengan menggunakan pena dan kertas,
atau kapur dan batu tulis, atau dikerjakan secara mental, kadang-kadang dengan
bantuan suatu tabel. Namun sekarang, kebanyakan komputasi telah dilakukan dengan
menggunakan komputer. Komputasi yang menggunakan komputer inilah yang disebut
dengan Komputasi Modern.

Forensik
Forensik adalah suatu metode untuk mengidentifikasi, mengekstrak dan menemukan
informasi dari media digital seperti komputer dan hard drives. Forensik dalam artian
sempit, hanya diaplikasikan kepada proses evaluasi komputer, data storage dan
processing devices. Forensik biasanya dimanfaatkan terkait dengan hukum dan
persidangan atau sebagai barang bukti.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A.Definisi Forensik Komputer


Komputer Forensik sebagai cabang Ilmu Forensik memiliki banyak pengertian,
antara lain adalah sebagai berikut:

Pengungkapan, pengolahan, pemeliharaan, dan analisis informasi yang diperoleh


dari sistem, jaringan, aplikasi, atau sumber daya komputasi lain, untuk
menentukan sumber serangan terhadap sumber-sumber itu. (Joel Weise and
Brad Powell, 2005)

Cabang ilmu baru dan sedang berkembang yang dijelaskan sebagai pembelajaran
terhadap bukti digital yang merupakan hasil dari suatu kejadian. Hal ini
memerlukan analisis terhadap data digital. Langkah langkah lain yang sangat
penting dalam computer forensic adalah incident preparation, detection,
dan recovery. Semua prosedur ini harus didokumentasikan dengan baik sesuai
dengan standart yang berlaku.(Mandia & Prosise, 2001; McMillan, 2000)

Komputer Forensik bisa diartikan sebagai proses penerapan ilmu dan teknik
analisa terhadap sistem operasi komputer dan seluruh struktur file dalam upaya
menentukan dan mendapatkan bukti legal. (www.blackhat.com )

Computer forensics is computer investigation and analysis techniques that involve


the identification, preservation, extraction, documentation, and interpretation of
computer data to determine potential legal evidence(Computer Forensics
JumpStart)

Menurut Dr. HB Wolfre, definisi dari forensik komputer adalah sebagai berikut:
A methodological series of techniques and procedures for gathering evidence, from
computing equipment and various storage devices and digital media, that can be presented in
a court of law in a coherent and meaningful format.
Sementara senada dengannya, beberapa definisi dikembangkan pula oleh berbagai lembaga
dunia seperti:
The preservation, identification, extraction, interpretation, and documentation of
computer evidence, to include the rules of evidence, legal processes, integrity of
evidence, factual reporting of the information found, and providing expert opinion in
a court of law or other legal and/or administrative proceeding as to what was found;
atau
The science of capturing, processing, and investigating data from computers using a
methodology whereby any evidence discovered is acceptable in a Court of Law.

Dimana pada intinya forensik komputer adalah suatu rangkaian metodologi yang terdiri
dari teknik dan prosedur untuk mengumpulkan bukti-bukti berbasis entitas maupun piranti
digital agar dapat dipergunakan secara sah sebagai alat bukti di pengadilan.

5
B.Tujuan dan Fokus Forensik Komputer
Selaras dengan definisinya, secara prinsip ada tujuan utama dari aktivitas forensik
komputer, yaitu:
1. Untuk membantu memulihkan, menganalisa, dan mempresentasikan materi/entitas
berbasis digital atau elektronik sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan sebagai
alat buti yang sah di pengadilan; dan
2. Untuk mendukung proses identifikasi alat bukti dalam waktu yang relatif cepat, agar
dapat diperhitungkan perkiraan potensi dampak yang ditimbulkan akibat perilaku
jahat yang dilakukan oleh kriminal terhadap korbannya, sekaligus mengungkapkan
alasan dan motivitasi tindakan tersebut sambil mencari pihak-pihak terkait yang
terlibat secara langsung maupun tidak langsung dengan perbuatan tidak
menyenangkan dimaksud.

Adapun aktivitas forensik komputer biasanya dilakukan dalam dua konteks utama. Pertama
adalah konteks terkait dengan pengumpulan dan penyimpanan data berisi seluruh rekaman
detail mengenai aktivitas rutin yang dilaksanakan oleh organisasi atau perusahaan tertentu
yang melibatkan teknologi informasi dan komunikasi. Dan kedua adalah pengumpulan data
yang ditujukan khusus dalam konteks adanya suatu tindakan kejahatan berbasis teknologi.

Sementara itu fokus data yang dikumpulkan dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga)
domain utama, yaitu:
1. Active Data yaitu informasi terbuka yang dapat dilihat oleh siapa saja, terutama
data, program, maupun file yang dikendalikan oleh sistem operasi;
2. Archival Data yaitu informasi yang telah menjadi arsip sehingga telah disimpan
sebagai backup dalam berbagai bentuk alat penyimpan seperti hardisk eksternal, CD
ROM, backup tape, DVD, dan lain-lain; dan
3. Latent Data yaitu informasi yang membutuhkan alat khusus untuk
mendapatkannya karena sifatnya yang khusus, misalnya: telah dihapus, ditimpa data
lain, rusak (corrupted file), dan lain sebagainya.

6
C.Manfaat dan Tantangan Forensik Komputer
Manfaat dalam melakukan forensik komputer , antara lain:

1. Organisasi atau perusahaan dapat selalu siap dan tanggap seandainya ada tuntutan
hukum yang melanda dirinya, terutama dalam mempersiapkan bukti-bukti pendukung
yang dibutuhkan;
2. Seandainya terjadi peristiwa kejahatan yang membutuhkan investigasi lebih lanjut,
dampak gangguan terhadap operasional organisasi atau perusahaan dapat
diminimalisir;
3. Para kriminal atau pelaku kejahatan akan berpikir dua kali sebelum menjalankan aksi
kejahatannya terhadap organisasi atau perusahaan tertentu yang memiliki kapabilitas
forensik komputer; dan
4. Membantu organisasi atau perusahaan dalam melakukan mitigasi resiko teknologi
informasi yang dimilikinya.

Teramat banyak tantangan dalam dunia forensik komputer, terutama terkait dengan
sejumlah aspek sebagai berikut:

1. Forensik komputer merupakan ilmu yang relatif baru, sehingga Body of


Knowledge-nya masih sedemikian terbatas (dalam proses pencarian dengan metode
learning by doing);
2. Walaupun berada dalam rumpun ilmu forensik, namun secara prinsip memiliki
sejumlah karakteristik yang sangat berbeda dengan bidang ilmu forensik lainnya
sehingga sumber ilmu dari individu maupun pusat studi sangatlah sedikit;
3. Perkembangan teknologi yang sedemikian cepat, yang ditandai dengan
diperkenalkannya produk-produk baru dimana secara langsung berdampak pada
berkembangnya ilmu forensik komputer tesebut secara pesat, yang membutuhkan
kompetensi pengetahuan dan keterampilan sejalan dengannya;
4. Semakin pintar dan trampilnya para pelaku kejahatan teknologi informasi dan
komunikasi yang ditandai dengan makin beragamnya dan kompleksnya jenis-jenis
serangan serta kejahatan teknologi yang berkembang;
5. Cukup mahalnya harga peralatan canggih dan termutakhir untuk membantu proses
forensik komputer beserta laboratorium dan SDM pendukungnya;
6. Secara empiris, masih banyak bersifat studi kasus (happening arts) dibandingkan
dengan metodologi pengetahuan yang telah dibakukan dimana masih sedikit pelatihan
dan sertifikasi yang tersedia dan ditawarkan di masyarakat;
7. Sangat terbatasnya SDM pendukung yang memiliki kompetensi dan keahlian khusus
di bidang forensik komputer; dan
8. Pada kenyataannya, pekerjaan forensik komputer masih lebih banyak unsur seninya
dibandingkan pengetahuannya (more Art than Science).

7
D.konsep utama komputer forensik

Empat konsep utama dalam komputer forensik antara lain sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi barang bukti


2. Memutuskan bagaimana cara menjaga keutuhan dan keaslian barang bukti
3. Mengekstrak, memproses dan menginterpretasi barang bukti
4. Meyakinkan bahwa barang bukti tersebut bisa diterima dihadapan hukum

Data yang bisa digunakan sebagai barang bukti antara lain data yang tersimpan didalam
komputer, jaringan komputer ataupun media penyimpanan lainnya. Contoh data yang bisa
digunakan sebagai barang bukti antara lain : e-mail, word-processing dokumen, plaintext
files, database files, spreadsheets, digital art atauphotos, dll.

8
E.Kejahatan Komputer
Berbeda dengan di dunia nyata, kejahatan di dunia komputer dan internet variasinya begitu
banyak, dan cenderung dipandang dari segi jenis dan kompleksitasnya,
meningkat secara eksponensial.
Secara prinsip, kejahatan di dunia komputer dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. aktivitas dimana komputer atau piranti digital dipergunakan sebagai alat bantu untuk
melakukan tindakan kriminal
2. aktivitas dimana komputer atau piranti digital dijadikan target dari kejahatan itu
sendiri; dan
3. aktivitas dimana pada saat yang bersamaan komputer atau piranti digital dijadikan alat
untuk melakukan kejahatan terhadap target yang merupakan komputer atau piranti
digital juga.

Agar tidak salah pengertian, perlu diperhatikan bahwa istilah komputer yang dipergunakan
dalam konteks forensik komputer mengandung makna yang luas, yaitu piranti digital
yang dapat dipergunakan untuk mengolah data dan melakukan perhitungan secara elektronik,
yang merupakan suatu sistem yang terdiri dari piranti keras (hardware), piranti lunak
(software), piranti data/informasi (infoware), dan piranti sumber daya manusia (brainware).

Contoh kejahatan yang dimaksud dan erat kaitannya dengan kegiatan forensi komputer
misalnya:
1. Pencurian kata kunci atau password untuk mendapatkan hak akses;
2. Pengambilan data elektronik secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang empunya;
3. Pemblokiran hak akses ke sumber daya teknologi tertentu sehingga yang berhak tidak
dapat menggunakannya;
4. Pengubahan data atau informasi penting sehingga menimbulkan dampak terjadinya
mis-komunikasi dan/atau dis-komunikasi;
5. Penyadapan jalur komunikasi digital yang berisi percakapan antara dua atau beberapa
pihak terkait;
6. Penipuan dengan berbagai motivasi dan modus agar si korban memberikan aset
berharganya ke pihak tertentu;
7. Peredaran foto-foto atau konten multimedia berbau pornografi dan pornoaksi ke target
individu di bawah umur;
8. Penyelenggaraan transaksi pornografi anak maupun hal-hal terlarang lainnya seperti
perjudian, pemerasan, penyalahgunaan wewenang, pengancaman, dan lain
sebagainya;
9. Penyelundupan file-file berisi virus ke dalam sistem korban dengan beraneka macam
tujuan;
10. Penyebaran fitnah atau berita bohong yang merugikan seseorang, sekelompok
individu, atau entitas organisasi; dan lain sebagainya.

9
F.Obyek Forensik
Apa saja yang bisa dipergunakan sebgai obyek forensik, terutama dalam kaitannya dengan
jenis kejahatan yang telah dikemukakan tersebut? Dalam dunia kriminal dikenal istilah
tidak ada kejahatan yang tidak meninggalkan jejak. Ada banyak sekali hal yang
bisa menjadi petunjuk atau jejak dalam setiap tindakan kriminal yang dilakukan
dengan menggunakan teknologi seperti komputer. Contohnya adalah sebagai
berikut:

1. Log file atau catatan aktivitas penggunaan komputer yang tersimpan secara rapi dan
detail di dalam sistem;
2. File yang sekilas telah terhapus secara sistem, namun secara teknikal masih bisa
diambil dengan cara-cara tertentu;
3. Catatan digital yang dimiliki oleh piranti pengawas trafik seperti IPS (Intrusion
Prevention System) dan IDS (Intrusion Detection System);
4. Hard disk yang berisi data/informasi backup dari sistem utama;
5. Rekaman email, mailing list, blog, chat, dan mode interaksi dan komunikasi lainnya;
6. Beraneka ragam jeis berkas file yang dibuat oleh sistem maupun aplikasi untuk
membantu melakukan manajemen file (misalnya: .tmp, .dat, .txt, dan lain-lain);
7. Rekam jejak interaksi dan trafik via internet dari satu tempat ke tempat yang lain
(dengan berbasis IP address misalnya);
8. Absensi akses server atau komputer yang dikelola oleh sistem untuk merekam setiap
adanya pengguna yang login ke piranti terkait; dan lain sebagainya.

Beraneka ragam jenis obyek ini selain dapat memberikan petunjuk atau jejak, dapat pula
dipergunakan sebagai alat bukti awal atau informasi awal yang dapat dipergunakan oleh
penyelidik maupun penyidik dalam melakukan kegiatan penelusuran terjadinya suatu
peristiwa kriminal, karena hasil forensik dapat berupa petunjuk semacam:

1. Lokasi fisik seorang individu ketika kejahatan sedang berlangsung (alibi);


2. Alat atau piranti kejahatan yang dipergunakan;
3. Sasaran atau target perilaku jahat yang direncanakan;
4. Pihak mana saja yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam tindakan
kriminal;
5. Waktu dan durasi aktivitas kejahatan terjadi;
6. Motivasi maupun perkiraan kerugian yang ditimbulkan;
7. Hal-hal apa saja yang dilanggar dalam tindakan kejahatan tersebut;
8. Modus operandi pelaksanaan aktivitas kejahatan; dan lain sebagainya.

10
G.Tahapan Aktivitas Forensik
Secara metodologis, terdapat paling tidak 14 (empat belas) tahapan yang perlu
dilakukan dalam aktivitas forensik, sebagai berikut:

1. Pernyataan Terjadinya Kejahatan Komputer merupakan tahap dimana secara formal


pihak yang berkepentingan melaporkan telah terjadinya suatu aktivitas kejahatan
berbasis komputer;
2. Pengumpulan Petunjuk atau Bukti Awal merupakan tahap dimana ahli forensik
mengumpulkan semua petunjuk atau bukti awal yang dapat dipergunakan sebagai
bahan kajian forensik, baik yang bersifat tangible maupun intangible;
3. Penerbitan Surat Pengadilan merupakan tahap dimana sesuai dengan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku, pihak pengadilan memberikan ijin resmi kepada
penyelidik maupun penyidik untuk melakukan aktiivitas terkait dengan pengolahan
tempat kejadian perkara, baik yang bersifat fisik maupun maya;
4. Pelaksanaan Prosedur Tanggapan Dini merupakan tahap dimana ahli forensik
melakukan serangkaian prosedur pengamanan tempat kejadian perkara, baik fisik
maupun maya, agar steril dan tidak tercemar/terkontaminasi, sehingga dapat dianggap
sah dalam pencarian barang-barang bukti;
5. Pembekuan Barang Bukti pada Lokasi Kejahatan merupakan tahap dimana seluruh
barang bukti yang ada diambil, disita, dan/atau dibekukan melalui teknik formal
tertentu;
6. Pemindahan Bukti ke Laboratorium Forensik merupakan tahap dimana dilakukan
transfer barang bukti dari tempat kejadian perkara ke laboratorium tempat
dilakukannya analisa forensik;
7. Pembuatan Salinan 2 Bit Stream terhadap Barang Bukti merupakan tahap dimana
dilakukan proses duplikasi barang bukti ke dalam bentuk salinan yang identik;
8. Pengembangan MD5 Checksum Barang Bukti merupakan tahap untuk
memastikan tidak adanya kontaminasi atau perubahan kondisi terhadap barang bukti
yang ada;
9. Penyiapan Rantai Posesi Barang Bukti merupakan tahap menentukan pengalihan
tanggung jawab dan kepemilikan barang bukti asli maupun duplikasi dari satu
wilayah otoritas ke yang lainnya;
10. Penyimpanan Barang Bukti Asli di Tempat Aman merupakan tahap penyimpanan
barang bukti asli (original) di tempat yang aman dan sesuai dengan persyratan teknis
tertentu untuk menjaga keasliannya;
11. Analisa Barang Bukti Salinan merupakan tahap dimana ahli forensik melakuka
analisa secara detail terhadap salinan barang-brang bukti yang dikumpulkan untuk
mendapatkan kesimpulan terkait dengan seluk beluk terjadinya kejahatan;
12. Pembuatan Laporan Forensik merupakan tahap dimana ahli forensik menyimpulkan
secara detail hal-hal yang terjadi seputar aktivititas kejahatan yang dianalisa
berdasarkan fakta forensik yang ada;
13. Penyerahan Hasil Laporan Analisa merupakan tahap dimana secara resmi dokumen
rahasia hasil forensik komputer diserahkan kepada pihak yang berwajib; dan
14. Penyertaan dalam Proses Pengadilan merupakan tahap dimana ahli forensik menjadi
saksi di pengadilan terkait dengan kejahatan yang terjadi.

11
H.Kebutuhan Sumber Daya
Untuk melakukan aktivitas forensik, dibutuhkan sejumlah piranti bantu, baik yang
berbentuk software maupun hardware. Piranti lunak atau software biasanya
dipergunakan oleh praktisi untuk membantu mereka dalam melakukan hal-hal
sebagai berikut:

1. Mencari dan mengembalikan file yang telah terhapus sebelumnya;


2. Membantu merekonstruksi pecahan-pecahan file yang ada (corrupted file);
3. Mengidentifikasi anomali program melalui analisa serangkaian data beserta struktur
algoritma yang terdapat pada sebuah file atau sistem basis data;
4. Menemukan jejak-jejak yang tertinggal dalam sebuah peristiwa kriminal tertentu yang
telah dilakukan sebelumnya;
5. Mendapatkan data berbasis pola-pola tertentu sesuai dengan permintaan penegak
hukum dalam proses penyelidikan maupun penyidikan peristiwa kejahatan internet;
6. Memfilter dan memilah-milah antara data yang berguna/relevan untuk kebutuhan
forensik dengan yang tidak, agar mekanisme analisa dapat dilakukan secara fokus dan
detail;
7. Menganalisa kejanggalan-kejanggalan yang terdapat pada suatu program atau sub-
program tertentu;
8. Mempercepat proses pencarian penggalan instruksi atau data tertentu yang dibutuhkan
oleh seorang ahli forensik terhadap sebuah media repositori bermemori besar;
9. Menguji dan mengambil kesimpulan terhadap sejumlah kondisi tertentu terkait
dengan aktivias dan konsep forensik; dan lain sebagainya.

Dewasa ini piranti lunak tersebut cukup banyak tersedia di pasar, mulai dari yang bersifat
gratis (open source) hingga yang komersial (berharga milyaran rupiah).
Disamping aplikasi pendukung aktivitas forensik, diperlukan pula seperangkat piranti
keras atau peralatan elektronik/digital agar proses forensik dapat dilakukan secara efektif
dan sesuai dengan prosedur baku standar yang berlaku. Piranti keras ini biasanya
dibutuhkan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut

1. Membuat replikasi atau copy atau cloning dari sistem basis data (atau media basis
data) yang akan diteliti dengan cara yang sangat cepat dan menghasilkan kualitas
yang identik dengan aslinya;
2. Mengambil atau memindahkan atau mengekstrak data dari tempat-tempat atau media
penyimpan yang khusus seperti: telepon genggam, server besar (superkomputer),
PDA (Personal Digital Assistance), komputer tablet, dan lain-lain;
3. Menggenerasi nilai numerik secara urut maupun random secara ultra cepat untuk
membongkar kata kunci (password) atau hal sejenis lainnya, sebagai bagian dari
proses deskripsi (tilik sandi);
4. Membongkar berbagai proteksi secara piranti keras atau lunak yang menjadi proteksi
dari sebagian besar perangkat teknologi informasi dan komunikasi;
5. Menghapus dan memformat hard disk secara cepat dan efektif dengan melakukan
demagnetisasi agar data benar-benar terhapus sebagai bagian dari penyiapan media
replikasi; dan lain sebagainya.

12
BAB lll

Kesimpulan

Komputer Forensik merupakan cabang Ilmu Forensik yang bertujuan mengungkapkan


bukti legal dalam data digital. Dalam proses Komputer Forensik membutuhkan banyak
pengetahuan mengenai hardware maupun software, hal ini ditujukan untuk mencegah
adanya accidental invalidation ataupun perusakan terhadap barang bukti yang ada serta
untuk menjaga barang bukti tersebut agar bisa dimanfaatkan untuk keperluan analisa
lebih lanjut. Secara umum, Komputer Forensik menggunakan aplikasi khusus untuk
pelaksanaan investigasinya dan juga menggunakan teknik analisa untuk menjaga
barang bukti yang legal (tidak mengalami kerusakan), oleh karena itu seorang
profesional dalam bidang ini harus mempunyai pemahaman yang mendetail tentang
hukum-hukum lokal, regional, nasional atau bahkan internasional yang mempunyai
pengaruh dalam proses pengumpulan dan penjagaan barang bukti tersebut.

Komputer Forensik dapat juga dideskripsikan sebagai analisa terhadap hard disk
komputer setelah terjadi adanya tindak kejahatan atau sesuatu yang tidak diharapakan.
Pada penyelidikan ini membutuhkan software dan prosedur khusus yang digunakan
untuk menganalisa berbagai area dimana data itu disimpan. Seringkali pada proses ini
dibutuhkan untuk mengembalikan kembali data yang telah dihapus sebelumnya yang
bisa digunakan sebagai barang bukti dihadapan hukum.

13
BAB lV

Penutup
Seperti halnya dalam dunia nyata, diperlukan pula ahli Forensik Komputer dalam
melaksanakan pekerjaan terkait. Jika dilihat dari kompetensi dan keahliannya, seorang
ahli forensik komputer yang baik dan lengkap harus memiliki tiga domain atau basis
pengetahuan maupun keterampilannya, yaitu dari segi akademis, vokasi, dan profesi.
Dari sisi akademis, paling tidak yang bersangkutan memiliki latar belakang
pengetahuan kognitif mengenai cara kerja komputer dalam lingkungan jejaring
teknologi informasi dan komputasi, terutama berkaitan dengan hal-hal yang bersifat
fundamental dalam pengembangan sistem berbasis digital. Sementara dari sisi vokasi,
dibutuhkan kemampuan untuk melakukan atau kerap disebut sebagai psiko-motorik,
karena dalam prakteknya seorang ahli forensik akan melakukan kajian, analisa, dan
penelitian secara mandiri dengan menggunakan seperangkat peralatan teknis yang
spesifik. Dan yang terakhir dari perspektif profesi, seorang ahli yang baik akan
berpegang pada kode etik (afektif) seorang ahli forensik. Disamping itu dibutuhkan
pula pengalaman yang cukup untuk dapat berkreasi dan berinovasi dalam setiap
tantangan kasus forensik. Berdasarkan pengalaman, memang yang paling sulit adalah
menyiapkan SDM yang handal di bidang forensik komputer, karena hingga sekarang
jumlahnya sangatlah sedikit tidak sepadan dengan besarnya kebutuhan di masyarakat.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://www.idsirtii.or.id/content/files/IDSIRTII-Artikel-ForensikKomputer.pdf

Sedikit Referensi dari :


http://risna1911z.wordpress.com/2010/07/08/definisi-komputer-forensik/

tanggal 10-12-2012 16:15

dan mengutip beberapa point dari :

http://id.wikipedia.org/wiki/Komputasi

http://www.pustakasekolah.com/forensik-dan-anti-forensik.html

http://itinkz.wordpress.com/2010/04/10/komputasi-modern/

tanggal 10-12-2012 16:20

15