Anda di halaman 1dari 3

Ayahku Seorang Pembohong

Cerpen Karangan: Wariez Raymond


Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 November 2017

Pintar, baik dan cantik adalah sosok yang didambakan setiap kaum hawa, dan karakter itu
terdapat pada dara manis kelahiran 07 maret 1998.
Di keluarganya dia biasa dipanggil Dian, namun teman-temannya lebih suka memanggilnya
Dini.

Dian tinggal bersama kedua orangtuanya dan seorang adik yang bernama Salwa. Sehari-hari
ayahnya bekerja sebagai awak kapal motor yang ada di tempat tinggalnya dan ibunya tidak
bekerja, seperti ibu-ibu pada umumnya hanya mengurus rumah tangga saja.

Kehidupan dian dan keluarganya sangat harmonis, penuh kasih sayang dan saling menghormati
satu sama lain.
Hidupnya boleh dibilang sederhana, apapun yang dilakukan tidak berlebihan. Setiap hari dian
disibukkan dengan aktifitas mencari ilmu mulai dari mengaji, sholat berjemaah di musholla,
sekolah umum (SMP) sampai ke madrasah diniyah. Semua itu dia lakukan dengan senang hati
dan sungguh-sungguh alhasil setiap kenaikan kelas tak jarang juara kelas selalu dia sabet.

Beberapa bulan kemudian dian lulus dari Sekolah Menengah Pertamanya dengan nilai yang
memuaskan. Orangtua dian berencana mau melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih
tinggi lagi dan pilihannya jatuh pada lingkungan Pesantren. Dengan beberapa pertimbangan
akhirnya dian dan keluarganya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya sekaligus nyantri
di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang dengan pilihan sekolah SMA Darul Ulum
1 Unggulan BPPT.

Waktu berjalan begitu cepat dan dian pun berangkat ke pesantren dengan diantar oleh kedua
orangtuanya dan juga adik tersayangnya dengan berjuta harapan dan impian.
Mereka menempuh perjalanan yang tidak sebentar, dan di dalam kendaraan yang mereka
tumpangi terjadilah percakapan dian dan ayahnya.

nak, ayah mau ngomong ajak sang ayah


iya yah, mau ngomong apa?jawab dian
nanti kalau kamu sudah mondok, kamu tidak boleh nakal. Kamu harus manaati peraturan yang
diterapkan di pesantren karena bagaimanapun juga itu ibarat rumah kedua kamu jelas sang ayah
iya yah, insya Allah dian akan inget terus pesan ayah sambung dian

Tiba-tiba di pertengahan percakapan yang lagi asyik, ibunya pun menyambung dan
menambahkan pesan ke dian.
nak, ingat baik-baik ucapan ibu ini.. Kamu dimasukkan ke pesantren (Darul Ulum) bukan
karena kita punya banyak uang tapi karena ayahmu yang bersikukuh biar kamu seperti anak-anak
yang lain mendapatkan pendidikan yang layak dan bagus, kamu tau kan ayahmu bekerja sebagai
apa tapi ayahmu tidak menyurutkan niatnya. Betapa sangat ingin ayahmu melihatmu sukses
kelak, jadi pesan ibu kamu cari ilmu yang benar banggakan kami terutama ayahmu yang
berjuang siang malam demi kamu jelas sang ibu
iya buk.. Dian akan banggakan kalian apapun yang terjadi
Dari kecil dian memang sudah dekat dengan ayahnya. Disayang, dimanja bahkan selalu dituruti
keinginannya.

Setibanya di tempat lokasi dian dan keluarganya beristirahat di ruang sambang para
wali/orangtua.
Beberapa saat kemudian tibalah waktu untuk berpisah, dian mengantar orangtuanya ke depan
pintu gerbang pesantren dan terjadilah percakapan, nak, sekali lagi ayah mau berpesan sama
kamu.. Jangan nakal-nakal jaga nama baik diri dan keluarga, ayah berjanji akan selalu
mendampingimu sampai kamu memakai baju kebanggaan toga pas wisuda sarjana nanti ucap
sang ayah
Iya aamiin yah, terima kasih untuk semuanya yah.. Dian pasti merindukan kalian sambil
mencium tangan orang tuanya

Beberapa bulan kemudian, ayah dian jatuh sakit ketika sedang bekerja dan dilarikan ke rumah
sakit terdekat, tak lama kemudian ayahnya sembuh dan mulai menjalani hari-hari seperti
biasanya.
Berselang beberapa bulan kemudian ayahnya bersikap tak seperti biasanya, sering melakukan
hal-hal yang seakan-akan mau berpisah (meninggal).

Dan pada hari itu tepatnya waktu menunjukkan kurang lebih pukul 12.30 istiwak dian dan
keluarganya mendapat kabar bahwasannya ayahnya dilarikan ke rumah sakit terdekat, dian dan
keluarganya pun menangis dan harap-harap cemas menunggu kabar selanjutnya. Tak lama
kemudian kabar pun telah sampai ke telinga dian dan keluarga kalau ayahnya sudah pergi untuk
selama-lamanya.

ayahhhhh teriak dian sambil menangis


ayahhhh.. Mana janji ayah yang katanya mau mendampingi dian sampai dian sarjana, mana
yahh.. Mana.. Ayah pembohong.. Dian benci sama ayah.. Ayahhh Jangan tinggalin dian, dian
sayang ayahh..
Dian pun menangis sejadi-jadinya.

Beberapa bulan kemudian di sekolahnya ada acara pembagian raport dian pun teringat sama
almarhum ayahnya, ayahhh.. Dian kangen sama ayah, dian ingin seperti teman-teman yang lain
setiap di sambang orang tuanya lengkap.. Ayah, betapa dian ingin ayah tau hasil raport dian dan
menandatanganinya, ayahhh .. Dian kangen ayah ucap dian dalam hati sambil memeluk
raportnya
Air matanya pun tak dapat dibendung, mengalir sederas-derasnya.

Sekian.

NB:
Dear ayah..
Yah, Hari ini ulang tahunku lho.. Ayah ingat kan?
Gadis kecilmu yang dulu manja kini sudah beranjak remaja yah.. Ayah lihat kan?
Ayah.. Betapa hati ini rindu, rindu segalanya yah.. Rindu kasih sayangmu, rindu dimanja sama
ayah.
Ayah.. Dian sudah kuliah lho yah, sudah bisa hidup mandiri. Dian janji yah akan menjadi anak
apa yang ayah mau.
Dian janji yah.. Akan bahagiakan ibu dan adik.

*dikutip dari kisah nyata

Cerpen Karangan: Wariez Raymond


Facebook: Wariez Raymond
Abd. Waris Rimoen, S.Pd
Guru di SMKN 3 SAMPANG
Pulau Mandangin Sampang Madura Jatim