Anda di halaman 1dari 47

BAB IPENDAHULUANA.

Latar Belakang

Asidimetri dan Alkalimetri adalah analisis kuantitatif volumetri


berdasarkanreaksi netralisasi. Keduanya dibedakan pada larutan standarnya.
Analisis tersebutdilakukan dengan cara titrasi. Pada titrasi asam asetat dengan
NaOH (sebagai larutanstandar) akan dihasilkan garam yang berasal dari asam
dan basa kuat. Garam natrium iniakan terurai sempurna karena senyawa itu
adalah garam, sedang asam asetat akanterhidrolisis oleh air.Ion asetat akan
terhidrolisis oleh molekul air, menghasilkan molekul asam asetatdan ion
hidroksi. Oleh karena itu, larutan garam dari basa kuat dan asam lemah
sepertinatrium asetat, akan bersifat basa dalam air (pH>7). Apabila garam
tersusun dari basalemah dan asam kuat, larutan garamnya akan bersifat asam
(pH<7) sedangkan garam angtersusun dari asam dan basa kuat, larutan dalam
air akan bersifat netral (pH=7).Pada analisis asam asetat dalam cuka
perdagangan akan diperoleh informasiapakah kadar yang tertulis sudah benar
atau belum. Analisis dilakukan dengan menitrasilarutan asam asetat
perdagangan dengan larutan NaOH standar.Larutan asam dan basa dapat kita
temukan di dalam kehidupan sehari-hari.Manfaat dari kedua larutan tersebut
dapat dipakai secara optimal apabila digunakan dalamkadar yang cukup.
Perolehan larutan serta kadarnya dapat dilakukan dengan reaksi
kimiacontohnya titrasi. Maka dari itu, praktikum ini sangat dianjurkan untuk
dilakukan agar penggunaan larutan asam maupun basa dapat berdampak baik
bagi kehidupan.

B.
Tujuan

1.

Menentukan molaritas larutan NaOH dengan larutan standar asam oksalat2.

Menetapkan kadar asam cuka perdagangan

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat
yangterdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya
dapatbervariasi.Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer
adalah larutan yangmengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah
pelarut.Sedangkan larutan pekat adalahlarutan yang mengandung sebagian
besar solute.Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent(pelarut) adalah
medium dalam manasolute terlarut. Pada umumnya zat yang
digunakansebagai pelarut adalah air, selainair yang berfungsi sebagai pelarut
adalah alkohol
amoniak,kloroform, benzena,minyak, asam asetat (Syabatini,2007).Ada dua
komponen yang penting dalam suatu larutan, yaitu pelarut dan
zatyangdilarutkan dalam pelarut tersebut, zat yang dilarutkan itu disebut zat
terlarut.Apabila dua ataulebih komponen dicampurkan dan membentuk
campuran homogen,larutan yang dihasilkandapat berfase gas, larutan cair dan
padat. Kosentrasi larutanmenyatakan banyaknya zatterlarut dalam suatu
larutan. Apabila zat terlarut banyak sekali, sedangkan pelarutnya sedikit,maka
dapat dikatakan bahwa larutan itu pekatatau kosentrasinya sangat tinggi.
Sebaliknya bila zat yang terlarut sedikit sedangkanpelarutrnya sangat banyak,
maka dapat dikatakanlarutan itu encer atau kosentrasinyasangat rendah
(Agustian,2008).Asidi dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi
antara ion hidrogenyang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal
dari basa untuk menghasilkan air yang bersifatnetral. Netralisasi dapat juga
dikatakan sebagai reaksiantara pemberi proton (asam)
dengan penerima proton (basa). Asidimetri merupakanpenetapan kadar secara
kuantitatif terhadapsenyawa-senyawa yang bersifat basadengan menggunakan
baku asam. Sebaliknya alkalimetrimerupakan penetapan kadarsenyawa-
senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.Indikator adalah
zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah
dicapai.Umumnya indicator yang digunakan adalah indikator azo dengan
warna
yangspesifik pada berbagai perubahan pH. Titik Ekuivalen adalah titik dimana
terjadikesetaraan reaksisecara stokiometri antara zat yang dianalisis dan
larutan standar.Titik akhir titrasi adalah titikdimana terjadi perubahan warna
pada indicator yangmenunjukkan titik ekuivalen reaksiantara zat yyang
dianalisis dan larutan standar.Pada umumnya, titik ekuivalen lebih
dahuludicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam
penentuan titik akhir titrasisangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu
senyawa (Shochichah,2010).

Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam


buretyangditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya
sampai terjadi reaksisempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur
volume titran yangdiperlukan untukmencapai titik ekivalen. Titik ekivalen
adalah saat yangmenunjukkan bahwa ekivalen perekasi-
pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik
ekivalen sukar diamati, karena hanyameruapakan titik akhir teoritis atau titik
akhirstoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberianindikator asam-basa yang
membantusehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhirtitrasi
meruapakan keadaan dimana penambahan satu tetes zat penitrasi (titran)
akanmenyebabkan perubahanwarna indikator. Kadua cara di atas termasuk
analisis titrimetri atauvolumetrik.Selama bertahun-tahun istilah analisis
volumetrik lebih sering digunakan dari

padatitrimetrik. Akan tetatpi, dilihat dari segi yang kita, titrimetrik lebih
baik, karena

pengukuran volume tidak perlu dibatasi oleh titrasi (Arif,2008).


Pada titrasi larutan NaOH dengan asam oksalat menggunakan
indikatorPhenoptalein (PP) karena indikator ini akan mengalami perubahan
warna apabila telahmelewati titik ekuivalen yaitu ang sering disebut dengan
titik akhir titrasi dan mempunyai jangkauan pH antara 8,0-
9,6 . phenoptalein akan berubah menjadi merah muda ketikalarutan mencapai
pH sekitar 8,2 atau lebih. Perubahan warna indikatorphenoptalein akantidak
bewarna (bening) jika berada dalam larutan asam dan akan berubah warna
menjadimerah muda dalam larutan basa. Sehingga indikator PP adalah
indikator yang paling tepatdigunakan untuk memperkecil kesalahan pada
titrasi larutan NaOH dengan asam oksalat.Pada praktikum ini saat indikator
PP diteteskan pada larutan asam, larutan tetap bening
(tidak berwarna menandakan bahwa larutan bersifat asam). Dan
saat ditambahkanlarutan basa tetes demi tetes terjadi perubahan warna
menjadi merah muda, namun tidaklama kemudian mengallami perubahan
warna lagi menjadi bening. Hal ini menandakan belum tercapai titik
ekuivalen. Baru pada saat volume basa yang diteteskan (dalam hal
ini NaOH) terjadi perubahan warna indikator menjadi merah muda sepenuhny
a dan inilahyang disebut titik ekuivalen.Untuk menetralkan NaOH 1 M
dibutuhkan 5,6 ml asam oksalat.Reaksi kimia :2 NaOH + H

Na
2

+2H

O0,002 0,01n H

= mMr= 1 gr90= 0,01 mol


M NaOH = n NaOH Na

+ OH

V 10

-3

10

-3

= 0,02 Na

C
2

2 Na

+C

42-

20 5x10

-4

= 10

-3

MRumus Titrasi N

(asam)

. Ma. Va = N

(basa)

. Mb. Vb2 . 5x10

-4
. Va = 1. 10

-3

. 20Va = 2x 10

-3

10

-4

= 20 mlAsam cuka saat ditetesi phenoptalein tidak berubah warna.


Phenoptalein adalahindikator yang lain yang sering digunakan dan
phenoptalein ini merupakan bentuk asamlemah yang lain. Pada kasus ini,
asam lemah tidak berwarna dan ion-ionnya berwarna merahmuda terang.
Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser kesetimbangan ke arah kiri,
danmengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida
menghilangkan ionhidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan
untuk menggantikannya danmengubah indikator menjadi merah muda.
Setengah tingkat terjadi pada pH 9,3
karena pancampuran warna merah muda dan tak berwarna menghasilkan warn
a merah muda yang pucat hal ini sulit untuk mendeteksinya
dengan akurat.Molaritas asam cuka 25% = 25 x 100060 100= 4,1 MRumus
TitrasiMa. Va = Mb. VbMa. 100 = 4. 10Ma = 40/100= 0,4Untuk menganalisis
asam cuka dalam cuka perdagangan dapat dilakukan dengantitrasi netralisasi.
Titrasi ini merupakan titrasi alkalimetri, proses titrasi dengan larutanstandar
basa untuk mentitrasi asam bebas. Dalam titrasi ini digunakan buret yang
berukuran25 mL dengan tingkat ketelitian 0,05 mL. Set alat titrasi ditunjukkan
pada Gambar 02.
Terlebih dahulu perlu ditentukan perkiraan konsentrasi asam cuka yang akan
dititrasitersebut. Pada label asam cuka yang digunakan tercantum kadar asam
cuka 25%. Persen
yangdimaksud adalah persen berat/volum (b/v). Dalam perhitunngan diasumsi
kan (massa jenis) asam cuka perdagangan tersebut = 1 gram/mL.Karena
dalam titrasi ini, digunakan standar NaOH yang konsentrasinya + 0,1
Nsehingga larutan asam cuka ini perlu diencerkan terlebih dahulu agar
konsentrasinya menjadi+ 0,1 N. Dalam percobaan ini dilakukan 40 kali
pengenceran asam cuka (dari volume 25 mLmenjadi 1000 mL).
BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi,
sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi
asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi,
titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi
kompleks dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam
basa).

Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant dan biasanya
diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui
konsentrasinya disebut sebagai titer dan biasanya diletakkan di dalam
buret. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.

Titrasi asam basa disebut juga titrasi adisi alkalimetri. Kadar atau konsentrasi
asam basa larutan dapat ditentukan dengan metode volumetri dengan teknik
titrasi asam basa. Volumetri adalah teknik analisis kimia kuantitatif untuk
menetapkan kadar sampel dengan pengukuran volume larutan yang terlibat
reaksi berdasarkan kesetaraan kimia. Kesetaraan kimia ditetapkan melalui titik
akhir titrasi yang diketahui dari perubahan warna indicator dan kadar sampel
untuk ditetapkan melalui perhitungan berdasarkan persamaan reaksi.

Titrasi asam basa merupakan teknik untuk menentukan konsentrasi larutan


asam atau basa. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi asam basa (netralisasi).
Larutan yang kosentrasinya sudah diketahui disebut larutan baku. Titik
ekuivalen adalah titik ketika asam dan basa tepat habis bereaksi dengan
disertai perubahan warna indikatornya. Titik akhir titrasi adalah saat
terjadinya perubahan warna indicator.

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan kami melakukan praktikum ini adalah :

1. Mahasiswa mampu menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh


yang
mengandung asam.

2. Mahasiswa mampu menstandari larutan.

BAB II

Tinjauan Pustaka

Standarisasi dapat dilakukan dengan titrasi. Titrasi merupakan proses


penentuan konsentrasi suatu larutan dengan mereaksikan larutan yang sudah
ditentukan konsentrasinya (larutan standar). Titrasi asam basa adalah suatu
titrasi dengan menggunakan reaksi asam basa (reaksi penetralan). Prosedur
analisis pada titrasi asam basa ini adalah dengan titrasi volumemetri, yaitu
mengukur volume dari suatu asam atau basa yang bereaksi (Syukri, 1999).

Pada saat terjadi perubahan warna indikator, titrasi dihentikan. Indikator


berubah warna pada saat titik ekuivalen. Pasda titrasi asam basa, dikenal
istilah titik ekuivalen dan titik akhir titrasi. Titik ekuivalen adalah titik pada
proses titrasi ketika asam dan basa tepat habis bereaksi. Untuk mengetahui
titik ekuivalen digunakan digunakan indikator. Saat perubahan warna terjadi,
saat itu disebut titik akhir titrasi (Sukmariah, 1990).

Proses penentuan konsentrasi suatu larutan dipastikan dengan tepat dikenal


sebagai standarisasi. Suatu larutan standar kadang-kadang dapat disiapkan
dengan menggunakan suatu sampel zat terlarut yang diinginkan, yang
ditimbang dengan tepat, dalam volume larutan yang diukur dengan tepat. Zat
yang memadai dalam hal ini hanya sedikit, disebut standar primer (Sukmariah,
1990).

Zat yang digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi


persyaratan berikut:

1.Mudah diperoleh dalam bentuk murni maupun dalam keadaan yang


diketahui
kemurniannya.

2.Harus stabil.

3.Zat ini mudah dikeringkan, tidak higroskopis , sehingga tidak menyerap uap
air,
tidak menyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990).

Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan


mudah digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitatif.
Kuantitas zat terlarut dalam suatu volume larutan itu, dimana volume itu
diukur dengan teliti, dapat diketahui dengan tepat dari hubungan dasar berikut
ini:

Mol = liter x konsentrasi molar

atau:

Mmol = ml x konsentrasi molar

Perhitungan-perhitungan stokiometri yang melibatkan larutaan yang diketahui


molaritasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan devinisi bobot ekuivalen,
dua larutan akan bereaksi dengan tepat satu sama lain bila keduanya
mengandung gram ekuivalen yang sama. Dalam hubungan ini, kedua
normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama, demikian juga kedua
volume (Brady, 1990).

Analisis kimia yang diketahui terhadap sampel yaitu analisis kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kualitatif memberikan informasi mengenai apa
saja yang menjadi komponen penyusun dalam suatu sampel, sedangkan
analisis kuantitatif memberikan informasi mengenai beberapa banyak
komposisi suatu komponen dalam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif
berkaitan dengan jumlah atau banyaknya senyawa dalam sampel. Analisis
kuantitatif konvensional yang paling sering diterapkan yaitu analisis titrimetri.
Analisis titrimetri dilakukan dengan menitrasi suatu sampel tertentu dengan
larutan standar, yaitu larutan yang sudah diketahui konsentrasinya.
Perhitungan didasarkan pada volume titran yang diperlukan hingga tercapai
titik ekuivalen titrasi. Analisis titrimetri yang didasarkan pada terjadinya
reaksi asam basa antara sampel dengan larutan standar disebut analisis asidi
alkalimetri. Apabila larutan standar yang digunakan adalah suatu larutan yang
bersifat asam maka analisis yang dilakukan adalahh analisis asidimetri.
Sebaliknya jika digunakan suatu basa sebagai larutan standar, analisis tersebut
disebut sebagai analisis alkalimetri. Konsentrasi larutan asam basa sering
menggunakan satuan kemolaran (M), maka rumusan itu dapat diubah.
Konversi dari suatu kemolaran ke normalitasan adalah mengalikan valensi (n)
asam atau basa dengan kemolaran. Sebaliknya dari suatu kenormalan ke
satuan kemolaran adalah membagi kemolaran dengan valensi asam atau basa.
Konversi ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dengan rumus :

VA . MA . nA = VB . MB . nB

Keterangan :

VA = Volume sebelum pengenceran

MA = Molaritas sebelum pengenceran

VB = Volume setelah pengenceran

MB = Molaritas setelah pengenceran

nA = Valensi asam

nB = Valensi basa (Keenan, 1991).

Analisis kimiawi menetapkan komposisi kuantitatif dan kualitatif suatu


materi. Konstituen-konstituen yang akan didereksi ataupun ditentukan
jumlahnya adalah unsur, rasikal, gugus fungsi, senyawaan atau fase. Analisis
kimia menyangkut aspek analisis yang lebih sempit. Analisis pada umumnya
terdiri atas analisis kualitatif dilakukan sebelum analisis kuantitatif. Tahapan
penentuan analisis kuantitatif adalah dengan usaha mendapatkan sampel,
mengubahnya menjadi keadaan yang dapat terukur, pengukuran konstituen
yang dikehendaki, dan yang terakhir perhitungan dan interprestasi data
numerik (Khopkar, 1990).

Istilah analisis titrametri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang


dilakukan dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya
diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif
dengan larutan zat yang akan ditetapkan. Larutan dengan kekuatan
(konsentrasi) yang diketahui tepat itu, disebut larutan standar. Bobot zat yang
hendak ditetapkan, dihitung dari volume standar yang digunakan dan hukum-
hukum stokiometri yang diketahui. Dahulu digunakan orang analisis
volumetri, tetapi sekarang telah diganti dengan analisiss titrimetri, karena
yang terakhir ini dianggap lebih baik menyatakan proses titrasi, sedangkan
yang disebut terdahulu dapat dikacaukan dengan pengukuran-pengukuran
volume, seperti yang melibatkan gas-gas. Reagensia dengan konsentrasi yang
diketahui itu disebut titran, dan zat yang sedang dititrasi disebut titrat
(Khopkar, 1990).

Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila


memenuhi persyaratan berikut:

1. Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam


waktu yang
tidak terlalu lama.

2. Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat


kesetaraan
yang pasti dalam reaktan.

3. Reaksi harus berlangsung secara sempurna.


4. Mempunyai massa ekuivalen yang besar (Sukmariah, 1990).

Untuk analisis titrimetri lebih mudah jika kita memahami sistem ekuivalen
(larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekuivalen dari zat yang
dititrasi = jumlah ekuivalen zat penitrasi. Berat ekuivalen suatu zat sangat
sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Volumetri dapat
dibagi menjadi:

1. Asidi dan alkalimetri

2. Oksidimetri

3. Argentometri

Asidimetri adalah yang diketahui konsentrasi asamnya, sedangkan alkalimetri


bila yang diketahui adalah konsentrasi basanya. Titrasi asam basa ada lima.
Empat diantaranya adalah:

1. Titrasi asam dengan basa kuat

Diakhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basa
kuat.

Misal:

HCl + NaOH NaCl + H2O

2. Titrasi asam lemah dan basa kuat

Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa
kuat. Misal :
asam asetat dengan NaOH.

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O


3. Titrasi basa lemah dan asam kuat

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah dan asam
kuat.
Misal : NH4Cl dan HCl

NH4OH + HCl NH4Cl + H2O

4. Titrasi asam lemah dan basa lemah

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa
lemah.
Misal : asam asetat dan NH4OH

CH3COOH + NH4OH CH3COONH4 + H2O


(Sukmariah, 1990).

Peningkatan kadar logam berat dalam air laut akan diikuti peningkatan kadar
logam berat dalam biota laut yang pada gilirannya melalui rantai makanan
akan menimbulkan keracunan akut dan khronik, bahkan bersifat karsinogenik
pada manusia konsumen hasil laut (Keman, 1998). Penelitian yang telah
dilakukan oleh Pikir (1993) dengan metode Spektroskopi Serapan Atom
(SSA) menyimpulkan bahwa kerang yang berasal dari Pantai Kenjeran Suraba
ya, mengandung logam berat Cadmium (Cd) sebesar 1,22 ppm dan kerang
dari Pantai Keputih Surabaya, mengandung 1,09 ppm logam berat Cadmium.
Penelitian lain yang dilakukan dengan metode yang sama oleh Moesriati
(1995) terhadap beberapa jenis ikan dan kerang di Pantai Kenjeran Surabaya
menyatakan bahwa kadar logam berat Cadmium dalam daging kerang adalah
1,21 ppm (Sukmariah, 1990).
BAB III

Metodologi

3.1 Alat dan Bahan

1. NaOH 0,1 M

2. HCl 0,1 M

3. H2C2O4

4. Indikator penolphetalin

5. Erlenmeyer

6. Buret 50 mL

7. Statif dan klem

8. Gelas ukur 25 mL atau 10 mL

9. Corong kaca

3.2 Cara Kerja

Standarisasi larutan NaOH 0,1 M


Cara kerja :

1. Cuci 3 erlenmeyer, pipet 10 mL larutan asam oksanat 0,1 M dan masukkan


ke
dalam setiap erlenmeyer dan tambahkan ke dalam masing-masing
erlenmeyer 3
tetes indikator penolphtalein (PP).

2. Alirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai
terbentuk
warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas erlenmeyer
digoyangkan.

3. Catat volume NaOH yang terpakai.

4. Ulangi dengan cara yang sama untuk erlenmeyer II dan III.

5. Hitung molaritas (M) NaOH.

Penentuan konsentrasi HCl

1. Cuci 3 erlenmeyer, pipet 10 Ml larutan HCl 0,1 M dan masukkan ke dalam


setiap
erlenmeyer.

2. Tambahkan ke dalam masing-masing erlenmeyer 3 tetes indikator


phenolphtalein
(PP).

3. Alirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai
terbentuk
warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas erlenmeyer
digoyangkan.

4. Catat volume NaOH yang terpakai.

5. Ulangi dengan cara yang sama untuk erlenmeyer II dan III.

6. Hitung molaritas (M) HCl.

BAB IV

Hasil Pengamatan

Standarisasi NaOH dengan larutan oksanat


N Prosedu Ulangan Rata
o r I II III -rata

Volume
larutan
10 10 10 10
1 asam
mL mL mL mL
oksanat
0,1 M

Volume 19, 19,


20 19,8
2 NaOH 8 7
mL mL
terpakai mL mL

Molarita 0,0 0,0 0,0 0,05


3 s (M) 5 5 5 M
NaOH M M M

Standarisasi HCl dengan larutan HCl

N Prosedu Ulangan Rata


o r I II III -rata
Volume
10 10 10 10
1 larutan
mL mL mL mL
HCl

Volume
25 25 12 20,6
2 NaOH
mL mL mL mL
terpakai

Molarita
Berdasarkan hasil percobaan 0,05
3 s (M)
diatas mL
NaOH

Molarita
0,0 0,0 0,0
s (M) 0,05
4 4 4 8
larutan mL
mL mL mL
HCl
BAB V

Pembahasan

Faktor yang mempengaruhi terjadinya kesalahan adalah :

1. Kebocoran buret.

2. Kesalahan pada saat penimbangan HCl.

3. Kesalahan penglihatan pada saat pengukuran vollume pada buret.

4. Kesalahan mengamati perubahan warna.

Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat.

Reaksi yang terjadi antara NaOH dengan asam oksalat adalah sebagai berikut
:

2NaOH + H2C2O4 Na2C2O4 + 2H2O

Pada standarisasi NaOH terhadap asam oksalat indikator yang digunakan


adalah penolftalein atau PP 1 % ,pada saat indikator ditambahkan warna
larutan tetap bening,setelah dititrasi dengan NaOH sebanyak 20 mL larutan
berubah menjadi warna pink atau merah muda. Begitupun seterusnya.
Perubahan warna pada larutan disebabkan oleh resonansi isomer electron.
Berbagai indicator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda,sehingga
menunjukan warna pada range pH yang berbeda. Indikator penolftalein adalah
indikator yang dibuat dengan kondensasi anhidrida fthalein dengan fenol.
Dari hasil praktikum,di dapatkan Moralitas NaOH melalui perhitungan
sebagai berikut:

Moralitas NaOH pada percobaan I : Molaritas NaOH pada


percobaan III :

V1.M1=V2.M2 V1.M1=V2.M2

10,0,1=20.M2 10.0,1 = 19,7.M2

= M2 =M2
0,05 = M2 0,05 = M2

Moralitas NaOH pada percobaan II:

V1.M1 =V2.M2

10.0,1 = 19,8.M2

=M2

0,05 = M2

Jadi Moralitas rata-rata NaOH aadalah sebagai berikut:

0,05 M + 0,05 M + 0,05 M =

= 0,05 M

Jadi kadar NaOH pada proses titrasi yang dilakukan adalah sebanyak 0,05 M .
Standarisasi NaOH dengan larutan HCl

Reaksi yang terjadi antara NaOH dengan HCl adalah sebagai berikut :

NaOH + HCl NaCl + H2O

Pada standarisasi NaOH terhadap HCl indicator yang digunakan adalah


penolftalein atau PP 1 % ,pada saat indicator ditambahkan warna larutan tetap
bening,setelah dititrasi dengan NaOH sebanyak 20 ml larutan berubah
menjadi warna pink atau merah muda. Begitupun seterusnya. Perubahan
warna pada larutan disebabkan oleh resonansi isomer electron. Berbagai
indicator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda,sehingga menunjukan
warna pada range pH yang berbeda. Indicator penolftalein adalah indicator
yang dibuat dengan kondensasi anhidrida fthalein dengan fenol. Larutan yang
terbentuk ketika NaOH dan HCl dicampurkan adalah garam dan air.

Dari hasil praktikum,di dapatkan Moralitas HCl melalui perhitungan


sebagai berikut :

Moralitas HCl pada percobaan I : Moralitas HCl pada percobaan


I

V1.M1=V2.M2 V1.M1=V2.M2

10.0,1=25.M2 10.0,1=12.M2

= M2 = M2

0,04=M2 0,08 = M2

Moralitas HCl pada percobaan II :

V1.M1=V2.M2
10.0,1=25.M2

= M2

0,04=M2

Jadi Moralitas rata-rata HCl aadalah sebagai berikut:

0,04 M + 0,04M + 0,08 M =

= 0,053 M

Jadi kadar HCl pada proses titrasi yang dilakukan adalah sebanyak 0,053 M .

BAB VI

Penutup

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang bisa saya ambil dari praktikum yang kami lakukan
adalah :

1. Untuk mengetahuikadar larutan asam dapat ditentukan dengan


menggunakan
larutan basa yang sudah diketahui kadarnya,dan sebaiknya kadar suatu
larutan basa
dapat ditentukan dengan menggunakan larutan asam yang sudah
diketahui
kadarnya.

2. Pada standarisasi larutan NaOH terhadap asam oksalat dan NaOH


terhadapHCl
indicator yang digunakan adalah penolphtalein atau PP 1 % sebanyak 3
tetes,
dengan demikian didapat bahwa molaritas NaOH yang terpakai sebanyak
0,05 M
dan molaritas HCl sebanyak 0,05 M.

6.2 Saran

Setiap kita melakukan praktikum harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti
agar tidak terjadi kesalahan dalam praktikum.
BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi,
sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi
asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi,
titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi
kompleks dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam
basa).

Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant dan biasanya
diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui
konsentrasinya disebut sebagai titer dan biasanya diletakkan di dalam
buret. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.

Titrasi asam basa disebut juga titrasi adisi alkalimetri. Kadar atau konsentrasi
asam basa larutan dapat ditentukan dengan metode volumetri dengan teknik
titrasi asam basa. Volumetri adalah teknik analisis kimia kuantitatif untuk
menetapkan kadar sampel dengan pengukuran volume larutan yang terlibat
reaksi berdasarkan kesetaraan kimia. Kesetaraan kimia ditetapkan melalui titik
akhir titrasi yang diketahui dari perubahan warna indicator dan kadar sampel
untuk ditetapkan melalui perhitungan berdasarkan persamaan reaksi.
Titrasi asam basa merupakan teknik untuk menentukan konsentrasi larutan
asam atau basa. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi asam basa (netralisasi).
Larutan yang kosentrasinya sudah diketahui disebut larutan baku. Titik
ekuivalen adalah titik ketika asam dan basa tepat habis bereaksi dengan
disertai perubahan warna indikatornya. Titik akhir titrasi adalah saat
terjadinya perubahan warna indicator.

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan kami melakukan praktikum ini adalah :

1. Mahasiswa mampu menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh


yang
mengandung asam.

2. Mahasiswa mampu menstandari larutan.

BAB II

Tinjauan Pustaka

Standarisasi dapat dilakukan dengan titrasi. Titrasi merupakan proses


penentuan konsentrasi suatu larutan dengan mereaksikan larutan yang sudah
ditentukan konsentrasinya (larutan standar). Titrasi asam basa adalah suatu
titrasi dengan menggunakan reaksi asam basa (reaksi penetralan). Prosedur
analisis pada titrasi asam basa ini adalah dengan titrasi volumemetri, yaitu
mengukur volume dari suatu asam atau basa yang bereaksi (Syukri, 1999).

Pada saat terjadi perubahan warna indikator, titrasi dihentikan. Indikator


berubah warna pada saat titik ekuivalen. Pasda titrasi asam basa, dikenal
istilah titik ekuivalen dan titik akhir titrasi. Titik ekuivalen adalah titik pada
proses titrasi ketika asam dan basa tepat habis bereaksi. Untuk mengetahui
titik ekuivalen digunakan digunakan indikator. Saat perubahan warna terjadi,
saat itu disebut titik akhir titrasi (Sukmariah, 1990).

Proses penentuan konsentrasi suatu larutan dipastikan dengan tepat dikenal


sebagai standarisasi. Suatu larutan standar kadang-kadang dapat disiapkan
dengan menggunakan suatu sampel zat terlarut yang diinginkan, yang
ditimbang dengan tepat, dalam volume larutan yang diukur dengan tepat. Zat
yang memadai dalam hal ini hanya sedikit, disebut standar primer (Sukmariah,
1990).

Zat yang digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi


persyaratan berikut:

1.Mudah diperoleh dalam bentuk murni maupun dalam keadaan yang


diketahui
kemurniannya.

2.Harus stabil.

3.Zat ini mudah dikeringkan, tidak higroskopis , sehingga tidak menyerap uap
air,
tidak menyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990).
Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan
mudah digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitatif.
Kuantitas zat terlarut dalam suatu volume larutan itu, dimana volume itu
diukur dengan teliti, dapat diketahui dengan tepat dari hubungan dasar berikut
ini:

Mol = liter x konsentrasi molar

atau:

Mmol = ml x konsentrasi molar

Perhitungan-perhitungan stokiometri yang melibatkan larutaan yang diketahui


molaritasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan devinisi bobot ekuivalen,
dua larutan akan bereaksi dengan tepat satu sama lain bila keduanya
mengandung gram ekuivalen yang sama. Dalam hubungan ini, kedua
normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama, demikian juga kedua
volume (Brady, 1990).

Analisis kimia yang diketahui terhadap sampel yaitu analisis kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kualitatif memberikan informasi mengenai apa
saja yang menjadi komponen penyusun dalam suatu sampel, sedangkan
analisis kuantitatif memberikan informasi mengenai beberapa banyak
komposisi suatu komponen dalam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif
berkaitan dengan jumlah atau banyaknya senyawa dalam sampel. Analisis
kuantitatif konvensional yang paling sering diterapkan yaitu analisis titrimetri.
Analisis titrimetri dilakukan dengan menitrasi suatu sampel tertentu dengan
larutan standar, yaitu larutan yang sudah diketahui konsentrasinya.
Perhitungan didasarkan pada volume titran yang diperlukan hingga tercapai
titik ekuivalen titrasi. Analisis titrimetri yang didasarkan pada terjadinya
reaksi asam basa antara sampel dengan larutan standar disebut analisis asidi
alkalimetri. Apabila larutan standar yang digunakan adalah suatu larutan yang
bersifat asam maka analisis yang dilakukan adalahh analisis asidimetri.
Sebaliknya jika digunakan suatu basa sebagai larutan standar, analisis tersebut
disebut sebagai analisis alkalimetri. Konsentrasi larutan asam basa sering
menggunakan satuan kemolaran (M), maka rumusan itu dapat diubah.
Konversi dari suatu kemolaran ke normalitasan adalah mengalikan valensi (n)
asam atau basa dengan kemolaran. Sebaliknya dari suatu kenormalan ke
satuan kemolaran adalah membagi kemolaran dengan valensi asam atau basa.
Konversi ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dengan rumus :

VA . MA . nA = VB . MB . nB

Keterangan :

VA = Volume sebelum pengenceran

MA = Molaritas sebelum pengenceran

VB = Volume setelah pengenceran

MB = Molaritas setelah pengenceran

nA = Valensi asam

nB = Valensi basa (Keenan, 1991).

Analisis kimiawi menetapkan komposisi kuantitatif dan kualitatif suatu


materi. Konstituen-konstituen yang akan didereksi ataupun ditentukan
jumlahnya adalah unsur, rasikal, gugus fungsi, senyawaan atau fase. Analisis
kimia menyangkut aspek analisis yang lebih sempit. Analisis pada umumnya
terdiri atas analisis kualitatif dilakukan sebelum analisis kuantitatif. Tahapan
penentuan analisis kuantitatif adalah dengan usaha mendapatkan sampel,
mengubahnya menjadi keadaan yang dapat terukur, pengukuran konstituen
yang dikehendaki, dan yang terakhir perhitungan dan interprestasi data
numerik (Khopkar, 1990).

Istilah analisis titrametri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang


dilakukan dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya
diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif
dengan larutan zat yang akan ditetapkan. Larutan dengan kekuatan
(konsentrasi) yang diketahui tepat itu, disebut larutan standar. Bobot zat yang
hendak ditetapkan, dihitung dari volume standar yang digunakan dan hukum-
hukum stokiometri yang diketahui. Dahulu digunakan orang analisis
volumetri, tetapi sekarang telah diganti dengan analisiss titrimetri, karena
yang terakhir ini dianggap lebih baik menyatakan proses titrasi, sedangkan
yang disebut terdahulu dapat dikacaukan dengan pengukuran-pengukuran
volume, seperti yang melibatkan gas-gas. Reagensia dengan konsentrasi yang
diketahui itu disebut titran, dan zat yang sedang dititrasi disebut titrat
(Khopkar, 1990).

Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila


memenuhi persyaratan berikut:

1. Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam


waktu yang
tidak terlalu lama.

2. Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat


kesetaraan
yang pasti dalam reaktan.
3. Reaksi harus berlangsung secara sempurna.

4. Mempunyai massa ekuivalen yang besar (Sukmariah, 1990).

Untuk analisis titrimetri lebih mudah jika kita memahami sistem ekuivalen
(larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekuivalen dari zat yang
dititrasi = jumlah ekuivalen zat penitrasi. Berat ekuivalen suatu zat sangat
sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Volumetri dapat
dibagi menjadi:

1. Asidi dan alkalimetri

2. Oksidimetri

3. Argentometri

Asidimetri adalah yang diketahui konsentrasi asamnya, sedangkan alkalimetri


bila yang diketahui adalah konsentrasi basanya. Titrasi asam basa ada lima.
Empat diantaranya adalah:

1. Titrasi asam dengan basa kuat

Diakhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basa
kuat.

Misal:

HCl + NaOH NaCl + H2O

2. Titrasi asam lemah dan basa kuat

Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa
kuat. Misal :
asam asetat dengan NaOH.
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

3. Titrasi basa lemah dan asam kuat

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah dan asam
kuat.
Misal : NH4Cl dan HCl

NH4OH + HCl NH4Cl + H2O

4. Titrasi asam lemah dan basa lemah

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa
lemah.
Misal : asam asetat dan NH4OH

CH3COOH + NH4OH CH3COONH4 + H2O


(Sukmariah, 1990).

Peningkatan kadar logam berat dalam air laut akan diikuti peningkatan kadar
logam berat dalam biota laut yang pada gilirannya melalui rantai makanan
akan menimbulkan keracunan akut dan khronik, bahkan bersifat karsinogenik
pada manusia konsumen hasil laut (Keman, 1998). Penelitian yang telah
dilakukan oleh Pikir (1993) dengan metode Spektroskopi Serapan Atom
(SSA) menyimpulkan bahwa kerang yang berasal dari Pantai Kenjeran Suraba
ya, mengandung logam berat Cadmium (Cd) sebesar 1,22 ppm dan kerang
dari Pantai Keputih Surabaya, mengandung 1,09 ppm logam berat Cadmium.
Penelitian lain yang dilakukan dengan metode yang sama oleh Moesriati
(1995) terhadap beberapa jenis ikan dan kerang di Pantai Kenjeran Surabaya
menyatakan bahwa kadar logam berat Cadmium dalam daging kerang adalah
1,21 ppm (Sukmariah, 1990).
BAB III

Metodologi

3.1 Alat dan Bahan

1. NaOH 0,1 M

2. HCl 0,1 M

3. H2C2O4

4. Indikator penolphetalin

5. Erlenmeyer

6. Buret 50 mL

7. Statif dan klem

8. Gelas ukur 25 mL atau 10 mL

9. Corong kaca

3.2 Cara Kerja


Standarisasi larutan NaOH 0,1 M

Cara kerja :

1. Cuci 3 erlenmeyer, pipet 10 mL larutan asam oksanat 0,1 M dan masukkan


ke
dalam setiap erlenmeyer dan tambahkan ke dalam masing-masing
erlenmeyer 3
tetes indikator penolphtalein (PP).

2. Alirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai
terbentuk
warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas erlenmeyer
digoyangkan.

3. Catat volume NaOH yang terpakai.

4. Ulangi dengan cara yang sama untuk erlenmeyer II dan III.

5. Hitung molaritas (M) NaOH.

Penentuan konsentrasi HCl

1. Cuci 3 erlenmeyer, pipet 10 Ml larutan HCl 0,1 M dan masukkan ke dalam


setiap
erlenmeyer.

2. Tambahkan ke dalam masing-masing erlenmeyer 3 tetes indikator


phenolphtalein
(PP).
3. Alirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai
terbentuk
warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas erlenmeyer
digoyangkan.

4. Catat volume NaOH yang terpakai.

5. Ulangi dengan cara yang sama untuk erlenmeyer II dan III.

6. Hitung molaritas (M) HCl.

BAB IV

Hasil Pengamatan
Standarisasi NaOH dengan larutan oksanat

N Prosedu Ulangan Rata


o r I II III -rata

Volume
larutan
10 10 10 10
1 asam
mL mL mL mL
oksanat
0,1 M

Volume 19, 19,


20 19,8
2 NaOH 8 7
mL mL
terpakai mL mL

Molarita 0,0 0,0 0,0 0,05


3 s (M) 5 5 5 M
NaOH M M M

Standarisasi HCl dengan larutan HCl

N Prosedu Ulangan Rata


o r I II III -rata

Volume
10 10 10 10
1 larutan
mL mL mL mL
HCl

Volume
25 25 12 20,6
2 NaOH
mL mL mL mL
terpakai

Molarita
Berdasarkan hasil percobaan 0,05
3 s (M)
diatas mL
NaOH

Molarita
0,0 0,0 0,0
s (M) 0,05
4 4 4 8
larutan mL
mL mL mL
HCl
BAB V

Pembahasan

Faktor yang mempengaruhi terjadinya kesalahan adalah :

1. Kebocoran buret.

2. Kesalahan pada saat penimbangan HCl.

3. Kesalahan penglihatan pada saat pengukuran vollume pada buret.

4. Kesalahan mengamati perubahan warna.

Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat.

Reaksi yang terjadi antara NaOH dengan asam oksalat adalah sebagai berikut
:

2NaOH + H2C2O4 Na2C2O4 + 2H2O

Pada standarisasi NaOH terhadap asam oksalat indikator yang digunakan


adalah penolftalein atau PP 1 % ,pada saat indikator ditambahkan warna
larutan tetap bening,setelah dititrasi dengan NaOH sebanyak 20 mL larutan
berubah menjadi warna pink atau merah muda. Begitupun seterusnya.
Perubahan warna pada larutan disebabkan oleh resonansi isomer electron.
Berbagai indicator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda,sehingga
menunjukan warna pada range pH yang berbeda. Indikator penolftalein adalah
indikator yang dibuat dengan kondensasi anhidrida fthalein dengan fenol.
Dari hasil praktikum,di dapatkan Moralitas NaOH melalui perhitungan
sebagai berikut:

Moralitas NaOH pada percobaan I : Molaritas NaOH pada


percobaan III :

V1.M1=V2.M2 V1.M1=V2.M2

10,0,1=20.M2 10.0,1 = 19,7.M2

= M2 =M2
0,05 = M2 0,05 = M2

Moralitas NaOH pada percobaan II:

V1.M1 =V2.M2

10.0,1 = 19,8.M2

=M2

0,05 = M2

Jadi Moralitas rata-rata NaOH aadalah sebagai berikut:

0,05 M + 0,05 M + 0,05 M =

= 0,05 M

Jadi kadar NaOH pada proses titrasi yang dilakukan adalah sebanyak 0,05 M .
Standarisasi NaOH dengan larutan HCl

Reaksi yang terjadi antara NaOH dengan HCl adalah sebagai berikut :

NaOH + HCl NaCl + H2O

Pada standarisasi NaOH terhadap HCl indicator yang digunakan adalah


penolftalein atau PP 1 % ,pada saat indicator ditambahkan warna larutan tetap
bening,setelah dititrasi dengan NaOH sebanyak 20 ml larutan berubah
menjadi warna pink atau merah muda. Begitupun seterusnya. Perubahan
warna pada larutan disebabkan oleh resonansi isomer electron. Berbagai
indicator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda,sehingga menunjukan
warna pada range pH yang berbeda. Indicator penolftalein adalah indicator
yang dibuat dengan kondensasi anhidrida fthalein dengan fenol. Larutan yang
terbentuk ketika NaOH dan HCl dicampurkan adalah garam dan air.

Dari hasil praktikum,di dapatkan Moralitas HCl melalui perhitungan


sebagai berikut :

Moralitas HCl pada percobaan I : Moralitas HCl pada percobaan


I

V1.M1=V2.M2 V1.M1=V2.M2

10.0,1=25.M2 10.0,1=12.M2

= M2 = M2

0,04=M2 0,08 = M2

Moralitas HCl pada percobaan II :

V1.M1=V2.M2
10.0,1=25.M2

= M2

0,04=M2

Jadi Moralitas rata-rata HCl aadalah sebagai berikut:

0,04 M + 0,04M + 0,08 M =

= 0,053 M

Jadi kadar HCl pada proses titrasi yang dilakukan adalah sebanyak 0,053 M .

BAB VI

Penutup

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang bisa saya ambil dari praktikum yang kami lakukan
adalah :

1. Untuk mengetahuikadar larutan asam dapat ditentukan dengan


menggunakan
larutan basa yang sudah diketahui kadarnya,dan sebaiknya kadar suatu
larutan basa
dapat ditentukan dengan menggunakan larutan asam yang sudah
diketahui
kadarnya.

2. Pada standarisasi larutan NaOH terhadap asam oksalat dan NaOH


terhadapHCl
indicator yang digunakan adalah penolphtalein atau PP 1 % sebanyak 3
tetes,
dengan demikian didapat bahwa molaritas NaOH yang terpakai sebanyak
0,05 M
dan molaritas HCl sebanyak 0,05 M.

6.2 Saran

Setiap kita melakukan praktikum harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti
agar tidak terjadi kesalahan dalam praktikum.