Anda di halaman 1dari 20

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH KALIMANTAN TENGAH


RUMAH SAKIT BHAYANGKARA PALANGKA RAYA

PANDUAN NILAI NILAI


DAN KEPERCAYAAN
PASIEN

Palangka Raya, 2016


BAB I
DEFINISI

1.DEFINISI PENGERTIAN SPIRITUAL


Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan
Maha Pencipta. Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek :
1) berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidak pastian dalam
kehidupan,
2) menemukan arti dan tujuan hidup,
3) menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri
sendiri,
4) mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha
Tinggi.
Mempunyai kepercayaaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai
komitmen terhadap sesuatu atau seseorang.Konsep kepercayaan mempunyai dua
pengertian.
1) Kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga
keagamaan seperti Islam, Kristen, Budha,Hindu,Katolik.
2) Kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan
Ketuhanan, kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau kuasa,
suatu perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan dan keyakinan
sepenuhnya . Harapan; harapan merupakan suatu konsep multidimensi, suatu
kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, perkembangan, dan bisa
mengurangi sesuatu yang kurang menyenangkan. Harapan juga merupakan
energi yang bisa memberikan motivasi kepada individu untuk mencapai sutau
prestasi dan berorientasi ke depan. Agama, adalah sebagai sistem organisasi
kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan
jelas secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem
ibadah yang terorganisasi atau teratur.

Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan,


pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga
memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (hubungan
antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang lain dan lingkungan) dan
transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan dengan
ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Adapun unsur-unsur spiritualitas
meliputi kesehatan spiritual, kebutuhan spiritual dan kesadaran spiritual. Dimensi
spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjad isatu kesatuan antara unsur
psikologikal, fisiologikal ataufisik, sosiologikal dan spiritual.

Kata spiritual sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk


memahami pengertian spiritual dapat dilihat dari berbagai sumber. Menurut Oxford
English Dictionary, untuk memahami makna kata spiritual dapat diketahui dari arti
kata-kata berikut ini : persembahan, dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi
fisik, perasaan atau pernyataan jiwa, kekudusan, sesuatu yang suci, pemikiran yang
intelektual dan berkualitas, adanya perkembangan pemikiran dan perasaan, adanya
perasaan humor, ada perubahan hidup, dan berhubungan dengan organisasi
keagaamaan. Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang
mendasar, penting, dan mampu menggerakan serta memimpin cara berfikir dan
bertingkah laku seseorang .

Berdasarkan konsep keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan


dengan kata-kata : makna, harapan, kerukunan, dan sistem kepercayaan (Dyson,
Cobb, Forman, 1997). Dyson mengamati bahwa perawat menemukan aspek spiritual
tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dengan
Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup hubungan intra-, inter-, dan
transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang memasuki dan
mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku
serta dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan (Dossey
& Guzzetta, 2000).

Para ahli keperawatan menyimpulkan bahwa spiritual merupakan sebuah


konsep yang dapat diterapkan pada seluruh manusia. Spiritual juga merupakan
aspek yang menyatu dan universal bagi semua manusia. Setiap orang memiliki
dimensi spiritual. Dimensi ini mengintegrasi, memotivasi, menggerakkan, dan
mempengaruhi seluruh aspek hidup manusia.

KETERKAITAN ANTARA SPIRITUAL, KESEHATAN DAN SAKIT


Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi
tingkat kesehatan dan perilaku self-care klien. Keyakinan spiritual yang perlu di
pahami antara lain:
1) Menuntun kebiasaan hidup sehari-hari Praktik tertentu pada umumnya yang
berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna
keagamaan bagi klien, seperti tentang makanan diet atau pantangan makanan.
2) Sumber dukungan
Saat stress individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.
3) Sumber kekuatan dan penyembuhan
Individu bisa menahan distress fisik yang luar biasa karena mempunyai
keyakinan yang kuat.
4) Sumber konflik
Pada situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik
kesehatan, seperti pandangan penyakit.
Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk
mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa
keterikatan, dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf.

KARAKTERISTIK SPIRITUAL
Spiritualitas mempunyai suatu karakter, sehingga bisa diketahui bagaimana
tingkat spiritualitas seseorang. Karakteristik spiritual tersebut, antara lain
1) Hubungan dengan diri sendiri
Pengetahuan diri (siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya).
Sikap (percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa
depan, harmoni atau keselarasan diri).
2) Hubungan dengan alam
Mengetahui tentang tanaman, pohon, margasatwa dan iklim.
Berkomunikasi dengan alam (bertanam, berjalan kaki), mengabadikan dan
melindungi alam.
3) Hubungan dengan orang lain
Harmonis
Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik.
Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit.
Menyakini kehidupan dan kematian.
Tidak harmonis
Konflik dengan orang lain.
Resolusi yang menimbulkan ketidak harmonisan dan friksi.
4) Hubungan dengan Ketuhanan
Agamis atau tidak agamis
Sembahyang/ berdoa/ meditasi.
Perlengkapan keagamaaan atau sesaji.
Bersatu dengan alam.
Menginventarisasi 10 butir kebutuhan dasar spiritual manusia(Clinebell dalam
Hawari, 2002), yaitu :
1) Kebutuhan akan kepercayaan dasar (basic trust), kebutuhan ini secara terus-
menerus diulang guna membangkitkan kesadaran bahwa hidup ini adalah
ibadah.
2) Kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, kebutuhan untuk menemukan makna
hidup dalam membangun hubungan yang selaras dengan Tuhannya (vertikal)
dan sesama manusia (horisontat) serta alam sekitaraya
3) Kebutuhan akan komitmen peribadatan dan hubungannya dengan keseharian,
pengalaman agama integratif antara ritual peribadatan dengan pengalaman
dalam kehidupan sehari-hari.
4) Kebutuhan akan pengisian keimanan dengan secara teratur mengadakan
hubungan dengan Tuhan, tujuannya agar keimanan seseorang tidak melemah.
5) Kebutuhan akan bebas dari rasa bersalah dan dosa. rasa bersalah dan berdosa
ini merupakan beban mental bagi seseorang dan tidak baik bagi kesehatan jiwa
seseorang. Kebutuhan ini mencakup dua hal yaitu pertama secara vertikal
adalah kebutuhan akan bebas dari rasa bersalah, dan berdosa kepada Tuhan.
Kedua secara horisontal yaitu bebas dari rasa bersalah kepada orang lain
6) Kebutuhan akan penerimaan diri dan harga diri {self acceptance danself
esteem), setiap orang ingin dihargai, diterima, dan diakui oleh lingkungannya.
7) Kebutuhan akan rasa aman, terjamin dan keselamatan terhadap harapan masa
depan. Bagi orang beriman hidup ini ada dua tahap yaitu jangka pendek (hidup
di dunia) dan jangka panjang (hidup di akhirat).Hidup di dunia sifatnya sementara
yang merupakan persiapan bagi kehidupan yang kekal di akhirat nanti.
8) Kebutuhan akan dicapainya derajat dan martabat yang makin tinggi sebagai
pribadi yang utuh. Di hadapan Tuhan, derajat atau kedudukan manusia
didasarkan pada tingkat keimanan seseorang. Apabila seseorang ingin agar
derajatnya lebih tinggi dihadapan Tuhan maka dia senantiasa menjaga dan
meningkatkan keimanannya.
9) Kebutuhan akan terpeliharanya interaksi dengan alam dan sesama manusia.
Manusia hidup saling bergantung satu sama lain. Oleh karena itu, hubungan
dengan orang di sekitarnya senantiasa di jaga. Manusia juga tidak dapat
dipisahkan dari lingkungan alamnya sebagai tempat hidupnya. Oleh karena itu
manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam ini.
10) Kebutuhan akan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan nilai nilai
religius. Komunitas keagamaan diperlukan oleh seseorang dengan sering
berkumpul dengan orang yang beriman akan mampu meningkatkan iman orang
tersebut.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya
apabila mampu :
1) merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya di
dunia/kehidupan,
2) mengembangkan arti penderitaan dan menyakini hikmah dari suatu kejadian
atau penderitaan,
3) menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya dan
cinta,
4) membina integritas personal dan merasa diri berharga,
5) merasakan kehidupan yang terarah yang terlihat melalui harapan,
6) mengembangkan hubungan antar manusia yang positif.

KONSEP-KONSEP YANG TERKAIT DENGAN SPIRITUAL


Sebuah isu yang sering muncul dalam konsep keperawatan adalah kesulitan
dalam membedakan antara spiritual dengan aspek-aspek yang lain dalam diri
manusia, khususnya membedakan spiritual dari religi. Selain itu perawat juga perlu
memahami perbedaan dimensi spiritual dengan dimensi psikologi, dan
memperkirakan bagaimana kebudayaan dengan spiritual saling berhubungan.

Religi
Berdasarkan kamus, religi berarti suatu sistem kepercayaan dan praktek yang
berhubungan dengan Yang Maha Kuasa (Smith, 1995). Pargamet (1997)
mendefinisikan religi sebagai suatu pencarian kebenaran tentang cara-cara yang
berhubungan dengan korban atau persembahan. Sering kali kata spiritual dan religi
digunakan secara bertukaran, akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara
keduanya. Dari definisi religi, dapat digunakan sebagai dasar bahwa religi
merupakan sebuah konsep yang lebih sempit daripada spiritual. Mengingat spiritual
lebih mengacu kepada suatu bagian dalam diri manusia, yang berfungsi untuk
mencari makna hidup melalui hubungan intra-, inter-, dan transpersonal (Reed,
1992). Jadi dapat dikatakan religi merupakan jembatan menuju spiritual yang
membantu cara berfikir, merasakan, dan berperilaku serta membantu seseorang
menemukan makna hidup. Sedangkan praktek religi merupakan cara individu
mengekspresikan spiritualnya .

Dimensi Psikologi
Karena fisik, psikologi, dan spiritual merupakan aspek yang saling terkait,
sangat sulit membedakan dimensi psikologi dengan dimensi spiritual. Akan tetapi
sebagai perawat harus mengetahui perbedaan keduanya.Spilka, Spangler, dan
Nelson (1983) membedakan dua dimensi ini dengan mengatakan bahwa dimensi
psikologi berhubungan dengan hubungan antar manusia seperti : berduka,
kehilangan, dan permasalahan emosional. Sedangkan dimensi spiritual merupakan
segala hal dalam diri manusia yang berhubungan dengan pencarian makna, nilai-
nilai, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.
Kebudayaan merupakan kumpulan cara hidup dan berfikir yang dibangun oleh
sekelompok orang dalam suatu daerah tertentu (Martsolf, 1997). Kebudayaan terdiri
dari nilai, kepercayaan, tingkah laku sekelompok masyarakat. Kebudayaan juga
meliputi perilaku, peran, dan praktek keagamaan yang diwariskan turun-temurun.
Menurut Martsolf (1997) ada tiga pandangan yang menjelaskan hubungan spiritual
dengan kebudayaan, yaitu spiritual dipengaruhi seluruhnya oleh kebudayaan,
spiritual dipengaruhi pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan
kebudayaan, dan spiritual dapat dipengaruhi kebudayaan dan pengalaman hidup
yang tidak berhubungan dengan kebudayaan.
MANIFESTASI SPIRITUAL

Manifestasi spiritual merupakan cara kita untuk dapat memahami spiritual


secara nyata. Manifestasi spiritual dapat dilihat melalui bagaimana cara seseorang
berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan dengan Yang Maha Kuasa, serta
bagaimana sekelompok orang berhubungan dengan anggota kelompok tersebut
(Koenig & Pritchett, 1998).

Contoh kebutuhan spiritual individu adalah kebutuhan seseorang untuk


mencari tujuan hidup, harapan, mengekspresikan perasaan kesedihan maupun
kebahagiaan, untuk bersyukur, dan untuk terus berjuang dalam hidup. Kebutuhan
spiritual menyangkut individu dengan orang lain meliputi keinginan memaafkan dan
dimaafkan serta mencintai dan dicintai. Menurut Nolan & Crawford (1997) kebutuhan
spiritual sekelompok orang meliputi keinginan kelompok tersebut untuk dapat
memberikan kontribusi positif terhadap lingkungannya.

Dalam kenyataannya, semua manusia memiliki dimensi spiritual, semua klien


akan mengekspresikan dan memanifestasikan kebutuhan spiritual mereka kepada
perawat. Karena kurangnya pemahaman tentang kebutuhan spiritual, seringkali
perawat gagal dalam mengenali ekspresi kebutuhan spiritual klien, sehingga perawat
gagal dalam memenuhi kebutuhan tersebut.Kesejahteraan Spiritual,merupakan
suatu kondisi yang ditandai adanya penerimaan hidup, kedamaian, keharmonisan,
adanya kedekatan dengan Tuhan, diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan sehingga
menunjukkan adanya suatu kesatuan (Greer & Moberg, 1998). Dalam hierarki
kebutuhan dasar manusia, kesejahteraan spiritual termasuk dalam tingkat kebutuhan
aktualisasi diri .
I. TUJUAN
1. Memberikan kepuasan termasuk penghargaan, kreatifitas, imajinasi,
sensitifitas dan kepedulian.

2. Setiap pasien memiliki nilai-nilai dan keyakinan sendiri yang diterapkan


selama proses perawatan berlangsung. Nilai-nilai dan keyakinan tertentu
dianut seluruh pasien dan kerap kali bersumber dari budaya dan
keagamaan. Nilai dan keyakinan lainnya adalah dari pasien itu sendiri.
Semua pasien didukung menjalankan keyakinan mereka dengan cara
menghormati kepercayaan orang lain. Nilai-nilai keyakinan yang dipegang
teguh bisa ikut membentuk proses perawatan dan bagaimana proses
bereaksi terhadap perawatan itu. Dengan demikian setiap praktisi
kesehatan berupaya memahami perawatan dan layanan yang diberikan
dalam konteks keyakinan dan nilai-nilai yang dianut pasien.

3. MempermudahKetika seorang pasien atau keluarganya ingin berbicara


dengan seseorang dari aliran agama atau aliran spritual tertentu, rumah
sakit memiliki cara untuk menanggapi permintaan tersebut. Proses ini
dapat dilakukan melalui petugas agama setempat, Sumber daya setempat
atau sumber acuan keluarga. Proses menanggapi hal ini akan menjadi
lebih rumit, misalnya jika rumah sait atau negara itu tidak secara resmi
mengikuti dan/atau memiliki sumber-sumber terkait dengan agama atau
kepercayaan yang sesuai dengan permintaan mereka.
BAB II
RUANG LINGKUP

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SPIRITUAL


Menurut Taylor & Craven (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi spiritual
seseorang adalah:
1) Tahap perkembangan seseorang
Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat negara
berbeda, ditemukan bahwa mereka mempunyai persepsi tentang Tuhan dan
bentuk sembahyang yang berbeda menurut usia, seks, agama, dan kepribadian
anak.
2) Keluarga
Peran orang tua sangat menentukan dalam perkembangan spiritual anak. Hal
yang penting bukan apa yang diajarkan oleh orang tua pada anak tentang
Tuhan, tetapi apa yang anak pelajari mengenai Tuhan, kehidupan, diri sendiri
dari perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga merupakan lingkungan
terdekat dan pengalaman pertama anak dalam mempersepsikan kehidupan di
dunia, maka pandangan anak ada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka
dalam berhubungan dengan saudara dan orang tua.
3) Latar belakang etnik dan budaya
Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan budaya.
Pada umumnya seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga.
Anak belajar pentingnya menjalankan kegiatan agama termasuk nilai moral dari
hubungan keluarga. Akan tetapi perlu diperhatikan apapun tradisi agama atau
sistem kepercayaan yang dianut individu, tetap saja pengalaman spiritual unik
bagi setiap individu.
4) Pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat
mempengaruhi spiritual seseorang. Pengalaman hidup yang menyenangkan
seperti pernikahan, kelulusan, atau kenaikan pangkat menimbulkan syukur pada
Tuhan. Peristiwa buruk dianggap sebagai suatu cobaan yang diberikan Tuhan
pada manusia untuk menguji imannya.
5) Krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang. Krisis
sering dialami ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses
penuaan, kehilangan, dan bahkan kematian. Bila klien dihadapkan pada
kematian, maka keyakinan spiritual dan keinginan untuk sembahyang atau
berdoa lebih meningkat dibandingkan dengan pasien yang berpenyakit tidak
terminal.
6) Terpisah dari ikatan spiritual
Menderita sakit terutama yang bersifat akut, seringkali membuat individu terpisah
atau kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial. Kebiasaan
hidup sehari-hari juga berubah antara lain tidak dapat menghadiri acara sosial,
mengikuti kegiatan agama dan tidak dapat berkumpul dengan keluarga atau
teman yang biasa memberikan dukungan setiap saat diinginkan. Terpisahnya
klien dari ikatan spiritual beresiko terjadinya perubahan fungsi spiritual.
7) Isu moral terkait dengan terapi
Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara Tuhan
untuk menunjukkan kebesaranNya walaupun ada juga agama yang menolak
intervensi pengobatan. Prosedur medis seringkali dapat dipengaruhi oleh ajaran
agama seperti sirkumsisi, transplantasi organ, sterilisasi,dll. Konflik antara jenis
terapi dengan keyakinan agama sering dialami oleh klien dan tenaga kesehatan.

Peran Perawat Dalam Pemenuhan Kebutuhan Spiritual


Menurut Undang-undang Kesehatan No.23 tahun 1992 bahwa Perawat
adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan
keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan
keperawatan. Aktifitas keperawatan meliputi peran dan fungsi pemberian asuhan
atau pelayanan keperawatan, praktek keperawatan, pengelolaan institusi
keperawatan, pendidikan klien (individu, keluarga dan masyarakat) serta kegiatan
penelitian dibidang keperawatan (Gaffar, 1999).
Dalam hal ini klien dianggap sebagai tokoh utama (central figure) dan
menyadari bahwa tim kesehatan pada pokoknya adalah membantu tokoh utama tadi.
Usaha perawat menjadi sia-sia bila klien tidak mengerti, tidakmenerima atau
menolak atas asuhan keperawatan, karenanya jangan sampai muncul klien
tergantung pada perawat/tim kesehatan. Jadi pada dasarnya tanggung jawab
seorang perawat adalah menolong klien dalam membantu klien dalam menjalankan
pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dia lakukan tanpa bantuan.
Perawat dapat melakukan beberapa hal yang dapat membantu kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan klien, diantaranya : Menciptakan rasa kekeluargaan
dengan klien, berusaha mengerti maksud klien, berusaha untuk selalu peka terhadap
ekspresi non verbal, berusaha mendorong klien untuk mengekspresikan
perasaannya, berusaha mengenal dan menghargai klien. Mengingat perawat
merupakan orang pertama dan secara konsisten selama 24 jam sehari menjalin
kontak dengan pasien, sehingga dia sangat berperan dalam membantu memenuhi
kebutuhan spiritual pasien. Menurut Andrew dan Boyle (2002) pemenuhan
kebutuhan spiritual memerlukan hubungan interpersonal, oleh karena itu perawat
sebagai satu-satunya petugas kesehatan yang berinteraksi dengan pasien selama
24 jam maka perawat adalah orang yang tepat untuk memenuhi kebutuhan spiritual
pasien.
Kebutuhan spiritual klien sering ditemui oleh perawat dalam menjalankan
perannya sebagai pemberi pelayanan atau asuahn keperawatan. Hal ini perawat
menjadi contoh peran spiritual bagi klienya. Perawat harus mempunyai pegangan
tentang keyakianan spiritual yang memenuhi kebutuhanya untuk mendapatkan arti
dan tujuan hidup, mencintai, dan berhubungan serta pengampunan (Hamid, 2000).
Peran perawat menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari
peran sebagai pemberi asuhan keperawatan, advokad pasien, pendidik, koordinator,
kolaborator, konsultan, dan peneliti yang dapat digambarkan sebagai berikut
(Hidayat, 2008):
1. Peran Sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan
memperhatikan keadaan kebutuhan keadaan dasar manusia yang dibutuhkan
melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses
keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa
direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan dasar
manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya.
2. Peran Sebagai Advokat Klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi
lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepada klien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi
hak-hak pasian yang meliputi hak atas peleyanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya
sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3. Peran Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat
pengetahuan kesehatan, gejala penyakit, bahkan tindakan yang diberikan,
sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah mendapatkan pendidikan
kesehatan.
4. Peran Koordinator
Peran ini dilaksakan dengan mengarahkan, merencanakan, serta mengorganisasi
pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan
kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.
5. Peran Kolaborator
Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalaui tim kesehatan
yang terdiri dari dokter, fiisoterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya
mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi, atau
bertukar pendapat dalam bentuk pelayanan selanjutnya.
6. Peran Konsultan
Peran perawat sebagai konsultan adalah sebagai tempat konsultasi terhadap
masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini
dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan
keperawatan yang diberikan.
7. Peran Pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan,
kerja sama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode
pemberian pelayanan keperawatan. Peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan
spiritual pasien merupakan bagian dari peran dan fungsi perawat dalam
pemberian asuhan keperawatan. Untuk itu diperlukan sebuah metode ilmiah untuk
menyelesaikan masalah keperawatan, yang dilakukan secara sitematis yaitu
dengan pendekatan proses keperawatan yang diawali dari pengkajian data,
penetapan diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
BAB III
TATA LAKSANA

PROSES KEPERAWATAN
Berikut ini akan diuraikan mengenai proses keperawatan pada aspek spiritual
(Hamid, 2000):
1. Pengkajian
Ketepatan waktu pengkajian merupakan hal yang penting yaitu dilakukan setelah
pengkajian aspek psikososial pasien. Pengkajian aspek spiritual memerlukan
hubungan interpersonal yang baik dengan pasien. Oleh karena itu pengkajian
sebaiknya dilakukan setelah perawat dapat membentuk hubungan yang baik
dengan pasien atau dengan orang terdekat dengan pasien, atau perawat telah
merasa nyaman untuk membicarakannya. Pengkajian yang perlu dilakukan
meliputi:
a. Pengkajian data subjektif
Pedoman pengkajian yang disusun oleh Stoll (dalam Kozier, 2005) mencakup (a)
konsep tentang ketuhanan, (b) sumber kekuatan dan harapan, (c) praktik agama
dan ritual, dan (d) hubungan antara keyakinan spiritual dan kondisi kesehatan.
b. Pengkajian data objektif
Pengkajian data objektif dilakukan melalui pengkajian klinik yang meliputi
pengkajian afek dan sikap, perilaku, verbalisasi, hubungan interpersonal dan
lingkungan. Pengkajian data objektif terutama dilakukan melalui observasi,
Pengkajian tersebut meliputi:
1) Efek dan sikap
Apakah pasien tampak kesepian, depresi, marah, cemas, agitasi, apatis atau
preokupasi?
2) Perilaku
Apakah pasien tampak berdoa sebelum makan, membaca kitab suci atau buku
keagamaan? dan apakah pasien seringkali mengeluh, tidak dapat tidur,
bermimpi buruk dan berbagai bentuk gangguan tidur lainnya, serta bercanda
yang tidak sesuai atau mengekspresikan kemarahannya terhadap agama?.
3) Verbalisasi
Apakah pasien menyebut Tuhan, doa, rumah ibadah atau topik keagamaan
lainnya?, apakah pasien pernah minta dikunjungi oleh pemuka agama? dan
apakah pasien mengekspresikan rasa takutnya terhadap kematian?
4) Hubungan interpersonal
Siapa pengunjung pasien? bagaimana pasien berespon terhadap pengunjung?
apakah pemuka agama datang mengunjungi pasien? Dan bagaimana pasien
berhubungan dengan pasien yang lain dan juga dengan perawat?
5) Lingkungan
Apakah pasien membawa kitab suci atau perlengkapan ibadah lainnya? apakah
pasien menerima kiriman tanda simpati dari unsur keagamaan dan apakah
pasien memakai tanda keagamaan (misalnya memakai jilbab?).

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan masalah spiritual menurut
North American Nursing Diagnosis Association adalah distres spiritual (NANDA,
2006). Pengertian dari distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam
mengalami dan mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dihubungkan
dengan diri, orang lain, seni, musik, literature, alam, atau kekuatan yang lebih
besar dari dirinya (NANDA, 2006).
Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 2006)
batasan karakteristik dari diagnosa keperawatan distres spiritual adalah
1) berhubungan dengan diri, meliputi; pertama mengekspresikan kurang
dalam harapan, arti dan tujuan hidup, kedamaian, penerimaan, cinta,
memaafkan diri, dan keberanian. Kedua marah, ketiga rasa bersalah, dan
keempat koping buruk.
2) Berhubungan dengan orang lain, meliputi; menolak berinteraksi dengan
pemimpin agama, menolak berinteraksi dengan teman dan keluarga,
mengungkapkan terpisah dari sistem dukungan, mengekspresikan
terasing.
3) Berhubungan dengan seni, musik, literatur dan alam, meliputi; tidak
mampu mengekspresikan kondisi kreatif (bernyanyi, mendengar / menulis
musik), tidak ada ketertarikan kepada alam, dan tidak ada ketertarikan
kepada bacaan agama.
4) Berhubungan dengan kekuatan yang melebihi dirinya, meliputi; tidak
mampu ibadah, tidak mampu berpartisipasi 'alam aktifitas agama,
mengekspresikan ditinggalkan atau marah kepada Tuhan, tidak mampu
untuk mengalami transenden, meminta untuk bertemu pemimpin agama,
perubahan mendadak dalam praktek keagamaan, tidak mampu
introspeksi dan mengalami penderitaan tanpa harapan.
Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 2006) faktor
yang berhubungan dari diagnosa keperawatan distress spiritual adalah;
mengasingkan diri, kesendirian atau pengasingan sosial, cemas, deprivasi/kurang
sosiokultural, kematian dan sekarat diri atau orang lain, nyeri, perubahan hidup,
dan penyakit kronis diri atau orang lain.

3. Perencanaan
Setelah diagnosa keperawatan dan faktor yang berhubungan teridentifikasi,
selanjutnya perawat dan pasien menyusun kriteria hasil dan rencana intervensi.
Tujuan asuhan keperawatan pada pasien dengan distres spiritual difokuskan pada
menciptakan lingkungan yang mendukung praktek keagamaan dan kepercayaan
yang biasanya dilakukan. Tujuan ditetapkan secara individual dengan
mempertimbangkan riwayat pasien, area beresiko, dan tanda-tanda disfungsi
serta data objektif yang relevan.
Menurut (Kozier, 2005) perencanaan pada pasien dengan distres spiritual
dirancang untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien dengan:
1) membantu pasien memenuhi kewajiban agamanya,
2) membantu pasien menggunakan sumber dari dalam dirinya dengan
cara yang lebih efektif untuk mengatasi situasi yang sedang dialami,
3) membantu pasien mempertahankan atau membina hubungan personal
yang dinamik dengan Maha Pencipta ketika sedang menghadapi
peristiwa yang kurang menyenangkan,
4) membantu pasien mencari arti keberadaannya dan situasi yang sedang
dihadapinya,
5) meningkatkan perasaan penuh harapan, dan
6) memberikan sumber spiritual atau cara lain yang relevan.
4. Implementasi
Pada tahap implementasi, perawat menerapkan rencana intervensi dengan
melakukan prinsip-prinsip kegiatan asuhan keperawatan sebagai berikut :

1) periksa keyakinan spiritual pribadi perawat,

2) fokuskan perhatian pada persepsi pasien terhadap kebutuhan


spiritualnya
3) jangan beranggapan pasien tidak mempunyai kebutuhan spiritual

4) mengetahui pesan non verbal tentang kebutuhan spiritual pasien

5) berespon secara singkat, spesifik, dan aktual,

6) mendengarkan secara aktif dan menunjukkan empati yang berarti


menghayati masalah pasien,

7) membantu memfasilitasi pasien agar dapat memenuhi kewajiban


agama,

8) memberitahu pelayanan spiritual yang tersedia di rumah sakit.

Pada tahap implementasi ini, perawat juga harus memperhatikan 10 butir


kebutuhan dasar spiritual manusia seperti yang disampaikan oleh Clinebell
(Hawari, 2002) yang meliputi:
1) kebutuhan akan kepercayaan dasar,
2) kebutuhan akan makna dan tujuan hidup,
3) kebutuhan akan komitmen peribadatan dan hubungannya dengan
keseharian,
4) kebutuhan akan pengisian keimanan dengan secara teratur
mengadakan hubungan dengan Tuhan,
5) kebutuhan akan bebas dari rasa bersalah dan dosa,
6) kebutuhan akan penerimaan diri dan harga diri,
7) kebutuhan akan rasa aman terjamin dan keselamatan terhadap
harapan masa depan,
8) kebutuhan akan dicapainya derajat dan martabat yang makin. tinggi
sebagai pribadl yang utuh,
9) kebutuhan akan terpeliharanya interaksi dengan alam dan sesama
manusia,
10) kebutuhan akan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan nilai-
nilai religius.
Perawat berperan sebagai communicator bila pasien menginginkan untuk
bertemu dengan petugas rohaniawan atau bila menurut perawat memerlukan
bantuan rohaniawan dalam mengatasi masalah spirituahiya.
Menurut McCloskey dan Bulechek (2006) dalam NursingInterventions
Classification (NIC), intervensi keperawatan dari diagnosa distres spiritual adalah:
a) support spiritual. Definisi support spiritual adalah membantu pasien untuk
merasa seimbang dan berhubungan dengan kekuatan Maha Besar.
Adapun aktivitasnya meliputi:
1) buka ekspresi pasien terhadap kesendirian dan ketidakberdayaan,
2) beri semangat untuk menggunakan sumber-sumber spiritual, jika
diperlukan,
3) siapkan artikel tentang spiritual, sesuai pilihan pasien,
4) tunjuk penasihat spiritual pilihan pasien,
5) gunakan teknik klarifikasi nilai untuk membantu pasien mengklarifikasi
kepercayaan dan nilai, jika diperlukan,
6) mampu untuk mendengar perasaan pasien,
7) berekspresi empati dengan perasaan pasien,
8) fasilitasi pasien dalam meditasi, berdo'a dan ritual
keagamaan lainnya,
9) dengarkan dengan baik-baik komunikasi pasien, dan kembangkan rasa
pemanfaatan waktu untuk berdo'a atau ritual keagamaan,
10) yakinkan kepada pasien bahwa perawat akan dapat mensupport pasien
ketika sedang menderita,
11) buka perasaan pasien terhadap keadaan sakit dan kematian,
12) bantu pasien untuk berekspresi yang sesuai dan bantu
mengungkapkan rasa marah dengan cara yang baik (McCloskey dan
Bulechek, 2006).
b) Hope inspiration yaitu dengan meningkatkan keyakinan atas kapasitas diri
sendiri untuk memulai dan mempertahankan tindakan
c) Grief work facilitation yaitu membantu resolusi dari kehilangan yang
bermakna.
5. Evaluasi
Untuk mengetahui apakah pasien telah mencapai kriteria hasil yang
ditetapkan pada fase perencanaan, perawat perlu mengumpulkan data terkait
dengan pencapaian tujuan asuhan keperawatan. Tujuan asuhan keperawatan
tercapai apabila secara umum pasien : 1) mampu beristirahat dengan tenang, 2)
mengekspresikan rasa damai berhubungan dengan Tuhan, 3) menunjukkan
hubungan yang hangat dan terbuka dengan pemuka agama, 4) mengekspresikan
arti positif terhadap situasi dan keberadaannya, dan 5) menunjukkan afek positif,
tanpa rasa bersalah dan kecemas
BAB IV
PENUTUP

Nila-Nilai kepercayaan adalah keyakinan pasien terhadap sang


Penciptanya.Banyak cara orang menyampaikan keyakinanya kepada sang
penciptanya dengan cara pantang makanan,hari yang diangap baik dan ada juga
yang membuat sesajian,dalam hal ini adalah untuk member ketenangan jiwa,untuk
menbentukan arti hidup.untuk member kekuatan dalam sendirinya.
Panduan Nilai-Nilai Kepercayaan ini di berikan kepada seluruh pasien Rumah
Sakit baik rawat jalan mau pun rawat inap,dan sebagai acuan Rumah Sakit
Bhayangkara Palangka Raya dalam member kebebasan pada pasien dalam
menganut kepercayaanya, juga bertujuan untuk:
1. Memberikan kepuasan termasuk penghargaan, kreatifitas, imajinasi,
sensitifitasdan kepedulian.
2. Setiap pasien memiliki nilai-nilai dan keyakinan sendiri yang diterapkan selama
proses perawatan berlangsung. Nilai-nilai keyakinan yang dipegang teguh bisa
ikut membentuk proses perawatan dan bagaimana proses bereaksi terhadap
perawatan itu.
3. Mempermudah Ketika seorang pasien atau keluarganya ingin berbicara
dengan seseorang dari aliran agama atau aliran spiritual tertentu, rumah sakit
memiliki cara untuk menanggapi permintaan tersebut. Proses ini dapat
dilakukan melalui petugas agama setempat,
DAFTAR PUSTAKA
Aziz Alimul Hidayat. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika

Black M. Joyce&Jane H. Hawks. 2005. Medical Surgical Nursing : Clinical


Management For Positive Outcome. 7th edition. St Louis : Elseiver Inc.

Dugan, D.O. (1989). Laughter and Tears: Best Medicine for Stress. Nursing Forum,
24 (1) :18

Farland M&Leininger M. 2002. Transcultural Nursing, Concept, Theories, Research &


Practice. Mc. Grow-Hill Companies.

Leininger M. Madeline. Culture Care Diversity and Universality : A Theory Of


Nursing. 1991. New York : National league for nursing press.

Lindbert, J. Hunter, M. & Kruszweski, A. (1983). Introduction to Person Centered


Nursing. Philadelphia : J.B.Lippincott Company.

Meidiana Dwidiyanti. 1998. Aplikasi Model Konseptual Keperawatan. Edisi 1.


Semarang : Akper Depkes Semarang

Potter, P.A. & Perry, A.G. (1993). Fundamental of Nursing Concept, Process and
Practice. Third edition. St. Louis : Mosby Years Book.

Soekidjo Notoatmodjo. 1993. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Manusia. Edisi


revisi. Jakarta : Rineka Cipta.

Stuart G. W, Laraia M. T. 2001. Principles and Practice Of Psychiatric Nursing. 7th


edition. St Louis : Mosby.

Anda mungkin juga menyukai