Anda di halaman 1dari 19

MANAJEMEN KEUANGAN

INTERNASIOANL &PERUSAHAAN
MULTINASIONAL
1. Pengertian Perusahaan Multinasional
Menurut kamus ekonomi,perusahaan multinasional adalah sebuah
perusahaan yang wilayah operasinya meliputi sejumlah negara dan memiliki
fasilitas produksi dan pelayanan diluar negaranya sendiri (Rusmadi 2001). Ekspor-
impor dalam perdagangan internasional biasanya merupakan tahap awal dari
operasi internasional sebuah perusahaan. Perdagangan ini lalu di ikuti oleh para
perusahaan internasional lainnya seperti usaha patungan,penanaman modal asing
dan sistem lisensi. Pola bisnis demikian (usaha patungan, penanaman modal asing,
dan sistem lisensi) merupakan bentuk kegiatan dari perusahaan multinasional atau
multinational corporation(MNC).
Beberapa perusahaan-perusahaan besar yang mengembangkan bisnisnya ke
negara-negara lain, seperti ; Dow Chemical, IBM, Nike, dan banyak perusahaan-
perusahaan lain yang memiliki lebih dari setengah asetnya di luar negeri. Beberapa
bisnis lainya juga seperti ; Exxon Mobil, Fortune Brands, dan Colgate-Palmolive,
biasanya perusahaan menghasilkan lebih dari setengah dari hasil penjualan di luar
negeri.
2. Tujuan Perusahaan Multinasional
Tujuan atau motivasi perusahaan untuk bisa go internasional atau menjadi
perusahaan multinasional sebagai berikut:
1. Memperluas pasar
2. Penggunaan bahan baku dari negara asing,
3. Untuk mempertahankan kelangsungan suplai bahan baku dari berbagai Negara,
4. Penggunaan teknologi asing
5. Peningkatan efisiensi produksi
6. Menghindari hambatan politik dan peraturan pemerintah
7. Fluktuisasi foreign exchange market
8. Diversifikasi international
3. Manajemen Keuangan Perusahaan Multinasional dengan Perusahaan
Domestik
Perbedaan manajemen keuangan multinasional dengan manajemen
keuangan domestik terletak pada skup bisnis yang dilaksanakan. Perbedaan
tersebut menjadi inti munculnya kondisi-kondisi yang tidak terdapat pada
manajemen keuangan domestik seperti:
1. Perbedaan denominasi mata uang. Aliran kas dari anak perusahaan di berbagai
negara terdiri atas mata uang yang berbeda. Dengan demikian analisis nilai tukar
dan pengaruh perubahan nilai mata uang harus diperhatikan
2. Ramifikasi legal dan ekonomi, setiap negara dimana perusahan beroperasi
mempunyai institusi ekonomi dan politik yang berbeda, dan perbedaan ini
menimbulkan masalah yang serius bagi holding company.
3. Perbedaan bahasa, kemampuan berbahasa yang baik memungkinkan untuk
melakukan penetrasi pasar dengan mudah
4. Perbedaan budaya, perusahaan multinasional harus mempertimbangkan faktor
budaya terutama dalam penentuan tujuan, ketenaga kerjaan, dan kemampuannya
untuk memperoleh profit yang wajar.
5. Peranan pemerintah, memilki peran dalam menciptakan aturan dasar dan
partisipasi yang minim. Kondisi seperti ini mudah dijumpai di beberapa negara
maju, tetapi dibanyak negara berkembang peran pemerintah begitu besar dalam
transaksi international.
6. Risiko politik, adalah kumungkinan bahwa perusahaan multinasional diambil
alih oleh negara dimana perusahaan itu berada.

4. Faktor yang Memepengaruhi Penganggaran Modal Multinasional


Penganggaran modal perusahaan multinasional pada dasarnya sama dengan
perusahaan domestic. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penganggaran
modal perusahaan multinasional adalah:
Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penganggaran
modal MNC, antara lain;
1. Fluktuasi valuta asing
Valuta asing selalu berfluktuasi sepanjang waktu, baik menguat maupun
melemah. Sulitnya peramalan kurs secara benar dan akurat menyebabkan MNC
haurus membuat beberapa skenario untuk mengantisipasi perubahan valuta asing.
Ada dua skenario yang dapat dipergunakan, yaitu skenario pesimis dan skenario
optimis.
2. Inflasi
Inflasi terjadi apabila biaya variabel per unit dan harga barang secara umum
naik terus menerus. Inflasi dalam setiap negara dapat berubah dari tahun ke tahun,
sehingga akan mempengaruhi aliran khas neto suatu proyek. Peramalan inflasi
yang tidak akurat akan menyebabkan ketidakakuratkan peramalan aliran kas neto.
Tingkat inflasi di beberapa negara berkembang dapat mencapai 200% atau lebih.
Hal ini menyebabkan perusahaan anak tidak mungkin melakukan peramalan
tingkat inflasi secara akurat.
3. Struktur penganggaran
Nilai sebuah proyek ditentukan oleh struktur penganggaran perusahaan karena
dengan sumber pembiayaan yang berbeda, biaya modal akan berbeda pula. Dan
hasil akhirnya, NPV juga berubah. Sebuah perusahaan dapat memilih bentuk
pembiayaan dengan modal sendiri atau meminjam dari bank atau lembaga
keuangan. Bentuk alternatif pembiayaan seperti ini dapat pula ditentukan dengan
analisis penganggaran modal.
4. Blocked fund
Dalam beberapa kasus, negara tuan rumah mungkin melakukan pelarangan
atas dana yang akan dikirimkan oleh perusahaan anak ke perusahaan induk.
Sebagai contoh, beberapa negara mungkin mengharuskan pendapatan yang
diterima perusahaan anak diinvestasikan kembali di negara tuan rumah delama
jangka waktu kurang lebih tiga tahun sebelum pendapatan tersebut di izinkan untuk
dikirimkan ke negara asal.

5. Ketentuan pembayaraan
Perusahaan induk kadang kala memaksa perusahaan anak untuk
mengirimkan dana dalam persentase tetap ( dihitung dari pendapatannya ).
Tindakan ini akan memperumit peramalan jumlah dana yang harus dikirimkan ke
perusahaan induk.
6. Nilai sisa
Besaranya nilai sisa ( salvage value ) proyek MNC memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap NPV proyek. Apabila salvage value tidak tentu, maka
MNC tidak akan mengetahui dengan pasti nilai salvage value yang akan dipakai
dalam menghitung NPV perusahaan dan harus mengestimasikan ulang NPV
didasarkan pada perubahan salvage value tersebut.
7. Insentif pemerintahan negara asal
Proyek baru MNC diluar negeri dapat memberikan dampak yang
menguntungkan bagi kondisi perekonomian negara asal. Karena itu, investasi
berupa pendirian perusahaan anak di luar negeri sangat didukung oleh pemerintah
negara asal. Berbagai insentif ditawarkan oleh pemerintah negara asal, antara lain
berupa pinjaman dengan bunga rendah dan pengurangan tingkat pajak. Hal ini
mempengaruhi analisis pengangaran modal.
8. Biaya sosial
Suatu proyek perlu memasukkan biaya sosisl dalam perhitungan pengeluaran
operasional normal. Biaya sosial ini dapat berupa penyediaan tempat tinggal,
pendidikan, dan perawatan kesehatan bagi pekerja. Biaya-biaya ini dapat
diperhitungkan secara langsung dalam estimasi aliran kas periodik. Pengabaian
biaya sosial akan menghasilkan Keputusan penganggaran modal yang keliru.
9. Pengambilan oleh pemerintahan negara tuan rumah
Salah satu bentuk risiko bentuk negara yang akan dihadapi MNC adalah
diambilalihnya perusahaan anak oleh pemerintah setempat. Risiko seperti ini akan
mempengaruhi NPV. Karena itu perusahaan perlu memperkirakan NPV proyek,
sbelum diambil alih.

5. Permasalahan Manajemen Modal Perusahaan Multinational


Permasalahan manajemen modal kerja perusahaan multinasional yang perlu
diperhatikan yaitu :
1) Manajemen kas yang dihadapi berkaitan dengan adanya perturan dari negara
perusahaan subsidiraiesnya tentang batasan dana yang dapat di transfer ke
perusahan induk dan batasan dana yang dipergunakan untuk membeli bahan baku
atau peralatan ke negara dimana perusahaan induk berada.
2) Manajemen piutang dimana adanya risiko nilai tukar terutama berkaitan dengan
melemahnya nilai tukar mata uang yang mendenominasi penjualan kredit yang
telah dilakukan.
3) Manajemen persediaan berkaitan tentang lokasi secara geografis berbeda.

6. Kendala-kendala yang dihadapi MNC


Berikut beberapa kendala-kendala yang dihadapi oleh perusahaan
multinasional :
a. Kendala Lingkungan
Sejumlah Negara mungkin mengenakan lebih banyak restriksi atas anak
perusahaan yang induknya berbasis di luar negeri. Izin usaha, ketentuan-ketentuan
mengenai pembuangan limbah produksi, dan perangkat-perangkat pengendali
polusi adalah sejumlah contoh restriksi yang memaksa anak perusahaan
mengeluarkan biaya tambahan.
b. Kendala Regulatori
Tiap negara juga memiliki karakteristik-karakteristik regulatori yang unik
menyangkut pajak, aturan-aturan konversi valuta, pengembalian laba, dan regulasi-
regulasi lain yang dapat mempengaruhi arus kas anak perusahaan. Karena regulasi-
regulasi ini dapat mempengaruhi arus kas, regulasi-regulasi ini harus
dipertimbangkan oleh manajer-manajer keuangan pada saat merancang kebijakan.

c. Kendala Etika
Tidak ada standar etika bisnis yang seragam dan berlaku bagi semua negara.
Suatu praktek bisnis yang dianggap tidak etis di suatu negara bisa saja dianggap
etis di negara lain.

Pengertian Manajemen Keuangan mengalami perkembangan mulai dari pengertian


manajemen yang hanya mengutamakan aktivitas memperoleh dana saja sampai
yang mengutamakan aktivitas memperoleh dan menggunakan dana serta
pengelolaan terhadap aktiva. Khususnya penganalisisan sumber dana dan
penggunaan-nya untuk merealisasikan keuntungan maksimum bagi perusahaan
tersebut. Seorang manajemen keuangan harus memahami arus peredaran uang baik
eksternal maupun internal.

Perusahaan yang sudah bertaraf internasional tentu tidak hanya terfokus pada
bisnis domestik saja. Pada dasarnya tidak ada perusahaan yang tidak terkait dengan
pasar internasional, kecuali negara tertutup yang tidak terkena dampak dari
aktivitas negara lain.

Dalam perkembangannya ilmu tentang manajemen keuangan, khususnya


manajemen keuangan internasional merupakan sesuatu yang penting untuk
dipelajari. Hal ini bertujuan untuk menghadapi fenomena globalisasi yang semakin
lama, semakin berkembang.

Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai manajemen fungsi-fungsi keuangan


perusahaan. dalam perusahaan terdapat beberapa fungsi-fungsi yaitu: fungsi
pemasaran, fungsi keuangan, fungsi produksi, dan fungsi personalia. Keempat
fungsi tersebut dipecah ke dalam beberapa bagian yaitu: perencanaan,
pengorganisasian, staffing, pelaksanaan, dan pengendalian. Jadi dapat dikatakan
manajemen keuangan dapat dikatakan sebagai kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, staffing, pelaksanaan, pengendalian fungsi-fungsi keuangan.

Keterkaitan Model Neraca dengan Manajemen Keuangan


Model neraca bisa dijadikan sebagai penjelasan terhadap tugas manajer keuangan
yang lebih spesifik. Neraca keuangan terdiri dari dua sisi yaitu sisi kiri ; aset yang
dimiliki perusahaan, sedangkan sisi kanan: sumber dana perusahaan. manajer
keuangan bertugas mengambil keputusan keuangan yang berkaitan dengan
pendanaan dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan alokasi dana tersebut
untuk mendanai pembelian aset. Secara garis besar sisi kiri kiri neraca (aset) tugas
manajer keuangan adalah mengambil keputusan investasi, pendanaan, dan
likuiditas dengan tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham.
Tipe aset dalam perusahaan terbagi menjadi 2, yaitu aset jangka panjang dan aset
jangka pendek. Aset jangka pendek didefinisikan sebagai aset yang kurang dari 1
tahun, sedangkan aset jangka panjang didefinisikan sebagai aset yang lebih dari 1
tahun. Contoh aset jangka pendek yaitu Piutang, contoh aset jangka panjang yaitu
obligasi, saham.

Sisi kanan neraca merupakan tugas dari seorang manajer keuangan dalam hal
mencari dana yang kemudian di investasikan pada neraca sisi kiri. Tujuan dari
pendanaan tersebut adalah memperoleh dana dengan biaya yang paling rendah.
Jadi tujuan dari seorang manajemen keuangan adalah memaksimalkan nilai
perusahaan.

Manajemen Keuangan Internasional


Langsung atau pun tidak langsung, banyak perusahaan yang melakukan bisnis
dengan pihak diluar negeri. Semisal perusahaan yang melakukan ekspor atau impor
produk atau mempunyai cabang perusahaan di luar negeri. Perusahaan yang sudah
bertaraf internasional tentu tidak hanya terfokus pada bisnis domestik saja. Pada
dasarnya tidak ada perusahaan yang tidak terkait dengan pasar internasional,
kecuali negara tertutup yang tidak terkena dampak dari aktivitas negara lain. Pada
bagian ini kita akan mencoba mengulas tentang manajemen keuangan internasional
dalam perusahaan bertaraf internasional.
MAKALAH MANAGEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL

SISTEM MONETER INTERNATIONAL

NAMA : PUTRI WULANDARI

NIM : 1400861201462

N DOSEN : HANA TAMARA PUTRI ,SE, MM

UNIVERSITAS BATANG HARI


FAKULTAS EKONOMI MANAGEMEN
TAHUN 2017/2018
SISTEM MONETER INTERNASIONAL

1. Sistem Nilai Tukar Valuta Asing


Secara garis besar sistem nilai tukar valuta asing terbagi menjadi dua, yaitu:
Sistem nilai tukar tetap ( fixed rate, pegged rate ), sistem di mana nilai tukar
mata uang domestik ditetapkan pada tingkat tertentu terhadap nilai mata uang
asing.
Sistem nilai tukar mengambang ( floating rate, flexible rate ), sistem di mana
nilai tukar mata uang domestik diambangkan terhadap nilai mata uang asing, atau
sesuai dengan pergerakan pasar dimana terjadinya kurs valuta berdasarkan pada
permintaan dan penawaran mata uang asing.

Akan tetapi, dari kedua sistem tersebut dapat dibagi-bagi lagi menjadi:

Permanently Fixed Exchange Rate (Sistem kurs tetap permanen)

Absolutely Flexible Exchange Rate (Sistem kurs mengambang murni)

Fixed Exchange rate bands (Sistem kurs terbatas).


Sistem kurs baku biasanya memungkinkan fluktuasi kurs sampai batas tertentu,
mengingat kurs yang benar-benar baku/tetap tidak pernah ada dalam sejarah.
Dalam sistem kurs yang didasarkan pada batas-batas fluktuasi atau sistem kurs
tetap terbatas ini negara-negara dapat memutuskan sendiri nilai patokan ( par value
) nya, untuk kemudian membiarkan mata uangnya itu bergerak di atas atau di
bawah nilai patokan tersebut secara terbatas. Sebagai contoh, dalam sistem Bretton
Woods yang beroperasi selama periode pasca perang sampai tahun 1971, kurs
dimungkinkan untuk berfluktuasi sekitar 1% di atas atau di bawah nilai
patokannya.
Adjustable Fixed Exchange Rate wide band (Sistem kurs tetap yang dapat
disesuaikan). Sistem ini lebih menitikberatkan pada penetapan nilai patokan kurs
daripada batas-batas nilai fluktuasi. Sepintas lalu, sistem ini mirip dengan sistem
kurs tetap terbatas ( fixed exchange rate bands ). Bedanya dalam sistem kurs baku
yang dapat disesuaikan ini, yang diubah bukan batas-batas fluktuasinya, tapi nilai
patokannya.
Crawling Peg System (Sistem kurs merayap). Guna menghindari kelemahan atau
resiko perubahan nilai patokan yang kelewat besar (yang akan memancing
spekulasi perusak stabilitas), maka diciptakanlah sistem kurs baku merayap atau
sistem pergeseran kurs, atau sistem paritas merayap. Dalam sistem ini nilai-nilai
patokan masih boleh diubah, namun setiap kali diubah, perubahannya diusahakan
sekecil mungkin.
Managed Floating Exchange Rate (Sistem kurs mengambang terkendali). Dalam
sistem ini otorita moneter di masing-masing negara dibebani kewajiban untuk
melakukan intervensi terhadap pasar-pasar valuta asing dalam rangka mendukung
fluktuasi jangka pendek tanpa mengganggu kecenderungan jangka panjangnya.
Sistem ini cukup sering membuahkan keberhasilan, dan pada saat itu sistem
tersebut dipuji sebagai satu-satunya sistem yang sanggup memadukan kelebihan-
kelebihan sistem kurs tetap dan sistem kurs mengambang. Namun dalam
prakteknya, tidak selamanya sistem kurs ini mampu mengatasi ketidakseimbangan
pada neraca pembayaran. Salah satu kesulitan yang mungkin timbul adalah otorita
moneter bisa jadi tidak berada pada posisi yang lebih baik ketimbang para
spekulan, investor, dan pedagang uang professional dalam menduga-duga
kecendrungan kurs dalam jangka panjang.

2. Sejarah Sistem Moneter Internasional

Sejarah sistem moneter internasional dimulai pada periode standar emas pada
tahun 1870 1914. Standar emas ini pertama kali diperkenalkan di negara Inggris
pada tahun 1870. Pada standar ini, setiap negara mengikatkan mata uangnya
dengan emas. Sistem nilai tukar yang dipakai adalah sistem kurs tetap ( fixed
exchange rate ). Pada periode ini, perdagangan relatif bebas, pergerakan modal
internasional tidak terhambat.
Oleh karena semua negara mengikatkan mata uangnya terhadap emas, cadangan
internasional yang harus dimiliki setiap bank sentral juga berupa emas. Peraturan
standar emas juga mengharuskan setiap negara untuk membebaskan ekspor dan
impor emas melewati tapal batas wilayahnya. Dengan adanya pengaturan ini,
dalam standar emas, seperti halnya dalam sistem mata uang cadangan, kurs semua
mata uang menjadi baku. Sebagai contoh, jika harga emas dari dollar ditetapkan
pada tingkat $35 per satu ons emas oleh Federal Reserve, sedangkan harga puond
ditetapkan 14,58 per satu ons oleh Bank of England, maka kurs dollar/pound pasti
konstan di tingkat ($35 per ons) : (14,58 per ons) = $2,40 per pound.
Periode antar perang (1918 1939) dimulai dengan adanya Perang Dunia I,
kemudian disusul dengan terjadinya The Great Depression di Amerika Serikat
pada tahun 1925 1931. Pada periode ini terjadinya fluktuasi nilai tukar dari
hampir setiap mata uang. Kemudian volume perdagangan dunia mengalami
kemerosotan.
Sistem Bretton Woods (1944 1971) dibentuk pada Konferensi di Bretton Woods,
New Hampshire pada tahun 1944. Tujuan Konferensi ini adalah reformasi sistem
moneter internasional. Pada tahun yang sama dibentuk Badan Moneter
Internasional ( International Monetary Fund, IMF). IMF merupakan sebuah
lembaga yang khusus didirikan untuk memantau dan menjaga beroperasinya sistem
moneter internasional yang diciptakan seusai Perang Dunia Kedua, dan sekaligus
berfungsi sebagai lembaga penyedia kredit bagi negara-negara yang tengah
menghadapi kesulitan jangka pendek pada neraca pembayaran mereka. Sistem
moneter yang digunakan adalah the adjustable peg exchange rate system , yaitu
sistem kurs tetap yang dapat disesuaikan. Akan tetapi sistem kurs tetap ini
memerlukan cadangan moneter internasional yang cukup besar.
Sistem Bretton Woods telah membuka peluang bagi dilakukannya perubahan nilai
tukar melampaui patokannya dalam skala cukup besar secara permanen bagi
negara-negara yang mengalami ketidakseimbangan fundamental. Namun
demikian, pada kenyataannya negara-negara industri enggan mengubah nilai
patokan mereka. Keenganan ini mengakibatkan ketidakseimbangan fundamental
dan sejumlah dampak sampingan; seperti mengacaukan fleksibilitas dalam
melakukan penyesuaian atas terjadinya ketidakseimbangan neraca pembayaran.
Sejak Maret 1973 neraca pembayaran Amerika Serikat mengalami defisit yang
cukup besar, sehingga sistem kurs tetap dibiarkan menjadi managed floating
exchange rate system . Lima tahun kemudian, April 1978, terdapat kesepakatan
Jamaika ( Jamaica Accord ) mengakui tatanan sistem nilai tukar mengambang.
Pembagian alokasi SDR ( Special Drawing Rate ) yang baru menetapkan
peningkatan kuota negara-negara di IMF.

3. Negara yang Mengalami Kepailitan


Pada tahun 1970-an adalah waktu yang baik bagi bank untuk memberikan
pinjaman kepada negara berkembang. Kondisi saat itu menggambarkan seakan
negara tidak akan mengalami kepailitan. Kenyataan memperlihatkan sovereign
debt (utang pemerintah negara berdaulat) menghantam bisnis internasional.
Beberapa negara berkembang ternyata tidak mampu mengembalikan utangnya
bahkan bunganya pun tidak terbayar.
Krisis sovereign debt terjadi di Polandia pada tahun 1981, sedangkan di
Meksiko, Brazilia dan Argentina terjadi tahun 1982. Penyebab bertambahnya utang
negara berkembang yaitu melonjaknya harga minyak. Pada tahun 1973 1974
harga minyak mengalami kenaikan 4 kali lipat dan tahun 1979 1980 dinaikkan
lagi 2 kali lipat. Kenaikan harga minyak ini mendorong meningkatnya inflasi yang
kemudian ditambah lagi dengan terjadinya resesi dunia. Sementara itu, komoditi
ekspor non migas negara berkembang menurun, sehingga menggoncang
perekonomian dan kemampuan untuk membayar utang.
Tahun 1979 1980 harga minyak mulai naik lagi. Akan tetapi kenaikan harga
tersebut diikuti dengan kenaikan suku bunga yang berpengaruh pada suku bunga
pinjaman baru maupun sisa pinjaman yang pada umumnya digunakan suku bunga
variabel. Negara berkembang menanggung biaya bunga sebesar AS$ 2,5
milliar/tahun untuk setiap kenaikan 1 persen suku bunga pinjaman AS$. Hal ini
mengakibatkan naiknya nilai mata uang AS$. Negara berkembang pada umumnya
meminjam uang dalam bentuk AS$ sehingga setiap kenaikan nilai mata uang AS$
menambah beban. Beban tersebut menjadi lebih berat karena pembayaran komoditi
ekspor diterima dalam berbagai mata uang lain yang digunakan untuk membayar
uatang dalam AS$.

4. Pemecahan Masalah Utang


IMF, BIS, bank-bank sentral nasional dan bank-bank komersial berusahan
keras mengatasi masalah utang ini melalui berbagai cara, jangka pendek dan
jangka panjang.

Pemecahan Jangka Pendek


Cara mengatasi masalah utang jangka pendek yaitu dengan melakukan
penjadwalan ulang pembayaran utang agar negara penerima pinjaman dapat
mengembalikan utangnya pada saat jatuh tempo, walaupun diperlukan negosiasi
yang cukup alot.
Negara berkembang penerima pinjaman tidak dapat melaksanakan program-
program kegiatannya secara fleksibel karena adanya tekanan dari IMF.
Pertumbuhan ekonomi negara berkembang tertahan karena dana baru dari hasil
ekspornya atau pinjaman yang digunakan untuk membayar utangnya, bukan
melanjutkan programnya atau kegiatan produktif lainnya.
Negara berkembang dapat mengurangi utangnya dengan meningkatkan ekspornya
agar diperoleh surplus neraca pembayaran. Namun hasil surplus tersebut sebagian
digunakan untuk membayar utangnya, kemudian sebagian lagi untuk biaya impor
dalam upaya peningkatan ekspor. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi negara
berkembang sangat lamban dan bahkan terhenti. Negara berkembang memerlukan
banyak dana untuk menggerakkan roda perekonomiannya, tapi jika memperoleh
pinjaman juga akan memperberat beban utangnya.
Negosiasi ulang utang biasanya terlebih dahulu diikuti dengan tindakan pengetatan
agar dapat mendorong menurunnya standar kehidupan, pertumbuhan ekonomi dan
ekpor. Kemudian, meningkatkan kesadaran akan pentingnya melakukan
penyesuaian dan keterpaduan kebijaksanaan jangka pendek, karena permasalahan
yang dihadapi negara berkembang tidak hanya masalah utang tetapi juga masalah
ekonomi, budaya dan perilaku.
Beberapa contoh kegagalan sovereign debt adalah Equador, Yunani, dan Mesir.
Equador mengalami kegagalan membayar utangnya sejak tahun 1800 dan untuk
memulihkan perekonomiannya diperlukan waktu 113 tahun. Yunani mengalami
kegagalan membayar utangnya selama 87 tahun. Dua abad yang lalu negara-negara
terkenal seperti Belanda, Austria, Jepang dan Cina juga pernah mengalami
kegagalan memenuhi kewajibannya membayar utang luar negeri. Mesir yang gagal
memenuhi kewajiban utang luar negeri tahun 1976, telah membelanjakan lebih
banyak uang pinjamannya untuk penari balet dan semacamnya daripada untuk
pekerjaan umum.
Paris Club, kelompok pemberipinjaman negara Barat, memberikan ampunan
berupa penghapusan separoh utang Polandia atau senilai AS$ 17,5 milliar.
Sedangkan Amerika Serikat memberikan ampunan berupa penghapusan utang
Mesir sebagai imbalan atas bantuan Mesir kepada Amerika Serikat pada saat
perang melawan Irak. Pemberian bantuan ini didasarkan pada nilai kemanusiaan
dan mendorong terciptanya reformasi ekonomi, sehingga membangkitkan kegiatan
ekonomi yang sudah rapuh.
Pemecahan Jangka Panjang
Beberapa saran untuk memecahkan masalah utang jangka panjang adalah sebagai
berikut:

1. Negara penerima pinjaman hendaknya memanfaatkan dana pinjaman


barunya untuk kegiatan yang mendorong pertumbuhan ekonomi daripada
untuk keperluan yang bersifat konsumtif, capital flight , atau memenuhi
ambisi pemeintah.
2. Negara penerima pinjaman hendaknya membangun dana cadangan yang
cukup untuk jangka pendek maupun jangka panjang sehingga mampu
menjaga fluktuasi harga komoditi ekspor bila terjadi perubahan yang tidak
diinginkan
3. Negara maju harus terus berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
membuka pasarnya untuk barang ekspor dari negara berkembang melalui
persaingan yang sehat.
4. IMF dan negara pemberi pinjaman hendaknya tidak melakukan suatu
tekanan kepada negara peminjam.
5. IMF, Bank Dunia dan negara pemberi pinjaman hendaknya memberi
pinjaman dalam jumlah yang cukup sehingga dapat digunakan untuk jangka
panjang.
6. Sebagian utang negara berkembang hendaknya diubah bentuknya menjadi
bentuk equitas, sehingga mendorong timbulnya rasa memiliki atas proyek-
proyek yang dilaksanakan. Sebagian utang lainnya hendaknya diperpanjang
jatuh temponya dengan penerapan bunga ceiling.
7. Negara berkembang hendaknya mengurangi larangan investasi asing
8. Jangan menyalahkan satu pihak atas timbulnya krisis utang

Apakah Amerika Serikat terlibat Utang?


Amerika Serikat telah menjadi negara donatur besar dunia selama 70 tahun, namun
pernah menjadi negara penerima pinjaman terbesar di dunia yang membuat
Amerika Serikat menjadi negara yang mandiri. Utang Amerika Serikat
sebagaimana yang dikatakan Departemen Perdagangan, net negative international
investment position , yaitu selisih antara nilai asset negara lain di Amerika Serikat
dengan asset Amerika Serikat di negara lain.
Perbedaan utang Amerika Serikat dengan negara berkembang:

1. Nilai asset negara lain yang berada di Amerika Serikat yang bernilai di atas
AS$ 3 milliar dijamin dalam obligasi US Treasury yang diperdagangkan
setiap hari di pasar internasional. Nilai asset tersebut memiliki tingkat
perubahan yang konstan tidak seperti di negara berkembang.
2. Asset negara lain di Amerika Serikat dinilai berdasarkan nilai buku sehingga
nilai perkiraannya dapat mencapai di atas AS$ 100 milliar. Nilai buku
berdasarkan nilai saat dilakukan pembelian dan dilakukan depresiasi sesuai
usia asset.
3. Asset Amerika Serikat di negara lain dilaporkan menghasilkan banyak
keuntungan misalnya dari bunga dividen investasi dollar.
4. Total utang Amerika Serikat sebesar 6% dari GDP Amerika Serikat.
Sedangkan biaya jasa untuk utang per tahunnya tidak mencapai 1 persen dari
niali ekspor barang dan jasa Amerika Serikat.

Utang luar negeri Amerika Serikat dalam bentuk AS$, sehingga untuk melunasi
utang tersebut Amerika Serikat dapat mencetak obligasi sejumlah yang diperlukan.
Negara berkembang yang utangnya tidak dengan mata uang sendiri tidak dapat
melakukan seperti Amerika Serikat.

Sistem moneter international (SMI) terutama menunjuk sperangkat kebijakan,


institusi, praktik, peraturan, dan mekanisme yang menentukan tingkat di mana
suatu mata uang ditukarkan dengan mata uang lain(Shapiro, 1992)

Konvertibilitas mata uang

Konsep konvertibilitas mata uang secara implisit menekankan pentingnya


penggunaan mata uang yang dapat dengan mudah ditukarkan dengan mata uang
lain. Inilah yang literature disebut internationally convertible currency. Konsep
konvertibilitas menunjukkan derajat kebebasan suatu mata uang untuk
dikonversikan ke dalam mata uang lain. Banyak Negara yang mengenakan
restricksi terhadap mata uangnya sehingga mata uang tersebut tidak mudah
dikonversikan kedalam mata uang Negara lain.

Dalam prakteknya tidak semua mata uang dapat dengan mudah ditukarkan di pasar
dunia. Oleh karena itu konsep konvertibilitas berkaitan erat dengan perbedaan
antara hard and soft currencies.

Ciri-ciri mata uang yang tergolong hard currency


1. Suatu mata uang dinamakan hard currentcy apabila mata uang negara
tersebut secara luas diterima sebagai bukti pembayaran internasional.
2. Adanya suatu pasar yang bebas dan aktif bagi mata uang tersebut. Dengan
kata lain , apabila diperlukan, mata uang ini dapat dengan mudah diperoleh
dan dijual secara internsional dengan jumlah banyak.
3. Relative minmal restriksi dalam mentransfer mata uang ini kedalam dan ke
luar Negara asalnya.

Soft currency adalah mata uang yang tidak secara luas diterima sebagai media
dalam transaksi keuangan internasional. biasanya mata uang semacam ini ini tidak
memiliki pasar bebas atau valuta asing yang memperdagangkan.

Pasar gelap (black market) sering muncul dan beroprasi di luar kontror pemerintah.
Pada dasaranya pasar gelap adalah suatau pasar bebas yang berdampingan dengan
pasar resmi dan menawarkan konversi penuh dalam mata uang lokal kendati
ditambah premi yang cukup substantial diatas resmi.

Sejarah singkat SMI

Secara historis, SMI mengalami evolusi mulai dari

1. Sistem standar emas(1821-1914)


2. Nonsistem (1914-1946)
3. Sistem Bretton woods (1946-1968)
4. Sistem kurs telambat (1968-1073)
5. Sistem kurs mengambang (1973- sekarang)

Sistem standar emas

Konsep tradisional mengenai kovertibilitas mata uang mengajarkan bahwa standar


komoditi beroperasi atas dasar full bodied coins, artinya nilai mata uang adalah
sama dengan nilai logam pembuatnya.

Inggris telah menetapkan standar emas sepanjang abad ke-19, namun pada tahun
1870-an standar emas secara luas ditiru oleh Negara lain.

Aturan dasar standar emas:


1. Suatu Negara yang menganut standar emas menetapkan nilai mata uangnya
dalam nilai emas
2. Bahwa aliran ekspor dan impor diizinkan bebas (tanpa hambatan) antar
Negara
3. Standar emas menyebutkan bahwa otoritas moneter harus memegang
cadangan emas dalam kaitannya dengan uang kertas yang dikeluarkan.

Nonsistem

Begitu dahsatnya perang dunia 1 pada tahun 1914 terbukti ikut menggoncangkan
stabilitas standar emas. Begitu perang tersebut berakhir, SMI dalam kondisi
berantakan. Sebagian besar mengalami fuktuasi yang tajam dan ekonomi Negara-
negara eropa rusak berat akibat perang

Apa yang terjadi ternyata adalah kekacauan moneter, maka muncullanlah sistem
kurs dirty float(mengambang dengan capur tangan pemerintah), runtuhnya blok-
blok mata uang, dan sistim yang disepakati pun hancur berantakan. Ini diperparah
dengan menjamurnya pengawasan devisa, tariff dan restriksi perdagangan lainnya.

Fenomena yang terakhir inilah yang dinamakan nonsistem dalam SMI, dimana
nilai mata uang ditentukan secara arbitrer oleh penguasa dan mekanisme pasar.
Devaluasi sterling di ikuti oleh 25 Negara yang mendevaluasi mata uangnya untuk
mempertahankan daya saing produk perdagangannya.

Sistem Bretton woods

Untuk mencega kebijakan ekonomi yang destruktif dimasa mendatang, pada bulan
juli 1944 diadakan konferensi moneter international di Bretton Woods, new
hamphire. Konferensi ini dihadiri 44 negara dan berhasil menciptakan dua lembaga
baru yaitu Dana Moneter Internasional (IMF) dan bank dunia (IBRD), yang
bertugas melaksanakan SMI baru yang dikenal dengan nama Bretton Woods. Peran
kunci emas dalam sistem Bretton Woods sering dikaitkan dengan konvertibilitas
dolar AS terhadap emas pada harga yang konstan.

Dalam prakteknya, ternyata tidak mudah menerapkan sistem Bretton Woods.


Sistem Bretton Woods yang identic dengan kurs tetap hanya tinggal nama. Dari 21
negara industri, hanya AS dan Jepang saja yang tidak mengalami berubah nilai
parinya selama periode 1946-1971. Dari 21 negara tersebut, 12 medevaluasi mata
uangnya lebih dari 30% terhadap dolar, 4 melakukan revaluasi, dan 4
mengembangkan mata uangnya pada pertengahan 1971 ketika sistem Brotton
Woods dirasakan semakin tidak relevan.
tanda tanda krisis sebenarnya mucul pada akhir dasawarsa 1950-an ketika AS
mengalami deficit neraca pembayaran yang sangat beasr.

Tanda tanda krisis AS terlihat dari:

1. Pemborongan emas secara besar besaran yang mendorong arga pasar


meroket diatas harga resmi US$35 per onsnya.
2. Resmi dan tidak resmi, dimana pemerintah AS bersedia menukarkan dolar
AS dengan emas hanya dari sumber resmi.

Kelemahan dari dua sistem ini adalah menyebarnya dampak kebijakan moneter AS
ke Negara lain, bila AS menjalankan kebijakan ekspansi moneter, Negara lain mau
tidak mau harus melakukan kontraksi moneter agar dapat mempertahankan kurs
parinya.

Sistem Bretton Woods runtuh akibat adanya dilemma trifin. Dolar tidak dapat
dipertahankan sebagai komponen persetujuan Bretton Woods dan pensuplai
likuiditas yang diperlukan SMI karena defisit neraca pembayaran AS membengkak
dan krisis kepercayaan terhadap dolar sebagao mata uang cadangan.

Era Sistem Kurs Mengambang

Dunia berlalih mengatur kurs mengambang pada tahun 1973. Transisi menuju
sistem kurs mengambang (floating exchange rates) tidak melalui peretujuan
normalseperti saat sistem kurs tetap ala Bretton woods dicanangkan. Sistem ini
terjadi karena sistem sebelumnya telah runtuh dan tidak ada persetujuan normal
formal untuk menggantikan sistem lama.

Jenis sistem kurs yang utama meliputi:

1. Berbagai jening kurs mengambang (floating exchange rates)


2. Sistem kurs tertambat (pegged exchange rate),
3. Sistem tertambat merangkak (crawling pegs)
4. Sekeranjangan mata uang (basket of currencies)
5. Sisitem kurs tetap (fixed exchange rate)

Kurs mengambang dibagi 2 yaitu:

Mengambang murni bebas dimana kurs mata uang uang ditentukan


sepenuhnya oleh mekanisme pasar tanpa ada campur tangan pemerintah
Mengambang terkendali dimana otoritas moneter berperan aktif dalam
menyetabilkan kurs pada tingkat tertentu.

Sistem Kurs tertambat

Dalam sistem ini, suatu Negara mengaitkan nilai mata uangnya dengan suatu mata
uang lain atau sekelompok mata uang, yang biasanya merupakan mata uang
partner dagang yang utama.

Sistem Kurs Tertambat merangkak

Dalam sistem ini, suatu Negara melakukan sedikit perubahan dalam nilai mata
uang secara periodikdengan tujuan untuk bergerak menuju suatu nilai tertentu pada
retang waktu tertentu.

Sistem sekeranjang mata uang

Banyak Negara, terutama negeara sedang berkembang, menetapakan nilai mata


uang berdasarkan sekeranjang mata uang. Ini mirip dengan penilaian SDR (Special
Drawing Rights) keuntungan utamasisitem ini menawarkan stabilitas mata uang
suatu Negara karena pergerakan mata uang disebarkan dalam sekeranjang mata
uang.

Sistem kurs tetap

Dalam sistem ini suatu Negara mengumumkan suatu kurs tertentu atas mata
uangnya dan menjaga kurs ini dengan menyetujui untuk membeli atau menjual
valas dalam jumlah tidak terbatas pada kur tersebut. Kurs biasanya tetap atau
diperbolekan berfluktuasi dalam batas yang sangat sempit. Saat ini boleh dikatakan
tidak ada Negara yang masih menerapkan sistem kurs yang kaku semacam ini.