Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala limpahan rahmat
yang diberikan-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Makalah yang berjudul Diksi dan
Kata Baku". Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Vanda Hardinata, M.Pd
selaku dosen pengampu Mata Kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas
makalah ini.
Kami selaku penulis berharap makalah ini dapat berguna dan juga bermanfaat serta
menambah wawasan pengetahuan tentang diksi dan kata baku. Dalam pembuatan makalah
ini kami menyadari masih terdapat kekurangan serta membutuhkan saran untuk perbaikan.
Oleh karena itu saran dan kritik pembaca yang dimaksud untuk mewujudkan kesempurnaan
makalah ini penulis sangat hargai.

Malang, 20 September 2017

Penyusun

Diksi dan Kata Baku 1


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahasa memegang peranan penting dalam proses komunikasi. Peran tersebut akan
mampu memainkan fungsinya jika dalam tuturan akan tercipta komunikasi yang baik.
Kegiatan bertutur selalu melibatkan dua hal utama, yaitu penutur (komunikator) dan petutur
(komunikan). Kegiatan bertutur pada dasarnya akan selalu hadir di tengah-tengah
masyarakat. Hal ini dikarenakan kegiatan bertutur merupakan sarana berinteraksi
masyarakat satu dengan lainnya.
Bahasa sebagai hasil bertutur mempunyai beragam fungsi dalam kehidupan
bermasyarakat. Dalam hubungan dengan kehidupan masyarakat, Bahasa Indonesia kini telah
terjadi berbagai perubahan. Terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia
dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya teknologi informasi yang
semakin sarat dengan tuntuan dan tantangan globalisasi. Kondisi demikian telah
menempatkan bahasa asing pada posisi strategis yang memungkinkan bahasa tersebut
memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan mempengaruhi perkembangan Bahasa
Indonesia.
Di sisi lain muncul fenomena dimana saat ini banyak orang telah mengesampingkan
pentingnya penggunaan bahasa, terutama dalam tata cara pemilihan kata atau diksi. Hal
ini terjadi karena masih kurangnya pengetahuan akan pentingnya menguasai Bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan diksi sangat penting agar terciptanya
komunikasi yang efektif guna menghindari kesalahpahaman saat berkomunikasi.
Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan
dalam berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata,
melainkan lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang
ingin disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga
digunakan dalam jurnalistik. Oleh karena itu, makalah Diksi dan Kata Baku disusun agar
pembaca dalam menggunakan pilihan kata (diksi) dapat lebih memahami penerapan serta
penggunaannya dalam berkomunikasi.

Diksi dan Kata Baku 2


1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah Diksi dan Kata Baku
yaitu:
1. Bagaimana diksi dan kata baku dapat digunakan dalam kehidupan masyarakat
Indonesia?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam makalah Diksi dan Kata Baku yakni:
1. Dapat menggunakan diksi dan kata baku secara tepat dalam kehidupan
masyarakat Indonesia.

Diksi dan Kata Baku 3


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Diksi


Secara etimologi, kata diksi berasal dari dictionary (Inggris: diction) yang berarti
perihal pemilihan kata. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam
penulisan karangan ilmiah maupun dalam bertutur setiap hari. Dalam memilih kata yang
tepat untuk menyatakan suatu maksud, tidak lepas dari adanya kamus. Kamus memberikan
suatu ketepatan tentang bagaimana pemakaian kata-kata. Dalam hal ini, makna kata yang
tepatlah yang diperlukan. Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan
dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Di samping itu,
pemilihan kata harus pula sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata-kata tersebut.

2.2 Fungsi Diksi


Adapun fungsi diksi yaitu sebagai berikut:
1. Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah
paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
2. Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
3. Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.
4. Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi)
sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca

2.3 Pembagian Makna Kata


2.3.1 Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini
adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang
dikandung sebuah kata secara objektif atau dapat disebut makna konseptual. Kata makan,
misalnya, bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dikunyah, dan kemudian ditelan.
Makna makan seperti itu adalah makna denotatif.
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari
sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna
konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.

Diksi dan Kata Baku 4


Makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman sehingga tidak tetap. Kata kamar kecil
mengacu pada kamar yang kecil (denotatif), tetapi kamar kecil berarti juga toilet (konotatif).
Dalam hal ini, terkadang lupa akan makna tersebut merupakan makna denotatif atau
konotatif.
Makna-makna konotatif sifatnya lebih professional dan operasional daripada makna
denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif
adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.
Tabel 2.1 Contoh Kata Makna Denotatif dan Konotatif
Makna Denotatif Makna Konotatif
rumah wisma, graha, gedung
penonton pemerhati, pemirsa
dibuat dirakit, dibikin, disulap
sesuai harmonis
tukang ahli (menguasai kebiasaan)
pembantu asisten
pekerja karyawan, pegawai
bunting Mengadung
mati wafat, meninggal
Makna konotatif dan makna denotatif berhubungan erat dengan kebutuhan
pemakaian bahasa. Makna denotatif ialah arti harafiah suatu kata tanpa ada suatu makna
yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan
pikiran, perasaan, dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain,
makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih
bersifat pribadi dan khusus.
Kalimat berikut menunjukkan perbedaan hal tersebut seperti Dia adalah wanita
cantik bermakna denotatif sedangakan Dia adalah wanita manis bermakna konotatif. Kata
cantik lebih umum daripada kata manis. Kata cantik akan memberikan gambaran umum
tentang seorang wanita. Akan tetapi, dalam kata manis terkandung suatu maksud yang lebih
bersifat memukau perasaan kita.
Nilai kata-kata itu dapat bersifat baik dan dapat pula bersifat jelek. Kata-kata yang
berkonotasi jelek dapat kita sebutkan seperti kata tolol (lebih jelek daripada bodoh) dan
gubuk (lebih jelek daripada rumah).
Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan
masyarakat. Kata membanting tulang (makna denotatif adalah pekerjaan membanting
sebuah tulang) mengandung makna bekerja keras yang merupakan sebuah kata kiasan.
Kata membanting tulang dapat kita masukkan ke dalam golongan kata yang bermakna
konotatif.

Diksi dan Kata Baku 5


Kata-kata yang dipakai secara kiasan pada suatu kesempatan penyampaian seperti
ini disebut idiom atau ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong dalam kata
yang bermakna konotatif. Kata-kata idiom atau ungkapan seperti kepala batu, keras kepala,
panjang tangan, ringan tangan, sakit hati, dan sebagainya.
2.3.2 Kata Umum dan Khusus
Kata ikan memiliki acuan yang lebih luas daripada nila atau mujair. Ikan tidak hanya
nila atau tidak hanya mujair, tetapi ikan terdiri atas beberapa beberapa macam, seperti
gurami, lele, tuna, ikan mas, dan bandeng. Dalam hal ini, kata yang acuannya lebih luas
disebut kata umum, seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus disebut kata
khusus, seperti gurami, lele, tuna, dan ikan mas.
Pasangan kata umum dan kata khusus harus dibedakan dalam pengacuan yang
generik dan spesifik. Sapi, kerbau kuda, dan keledai adalah hewan-hewan yang termasuk
segolongan, yaitu hewan mamalia. Dengan demikian, kata hewan mamalia bersifat umum
(generik), sedangkan sapi, kerbau, kuda, keledai adalah kata khusus (spesifik)
2.3.3 Kata Konkret dan Abstrak
Kata yang acuannya semakin mudah diserap pancaindra disebut kata konkret, seperti
meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, dan suara. Jika acuan sebuah kata tidak
mudah diserap pancaindra, kata itu disebut kata abstrak, seperti ide, gagasan, kesibukan,
keinginan, angan-angan, kehendak, dan perdamaian. Kata abstrak digunakan untuk
mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan
yang bersifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak terlalu diobral atau dihambur-
hamburkan dalam suatu karangan, karangan itu menjadi samar dan tidak cermat.
2.3.4 Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama,
tetapi betuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau
kemiripan.
Sinonim ini dipergunakan untuk mengalih-alihkan pemakaian kata pada tempat
tertentu sehingga kalimat itu tidak membosankan. Dalam pemakaiannya bentuk-betuk kata
yang bersinonim akan menghidupkan Bahasa seseorang dan mengonkretkan Bahasa
seseorang sehingga kejelasan komunikasi (lewat Bahasa itu) akan terwujud. Dalam hal ini
pemakai bahasa dapat memilih bentuk kata mana yang paling tepat untuk dipergunakannya,
sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapinya.

Diksi dan Kata Baku 6


Sebagai contoh kata cerdas dan cerdik. Kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata
tersebut tidak persis sama benar. Kata-kata lain yang bersinonim ialah agung, besar, raya;
mati, mangkat, wafat, meninggal; cahaya, sinar; ilmu, pengetahuan penelitian,
penyelidikan; dan lain-lain. Kesinoniman kata masih berhubungan dengan masalah makna
denotatif dan makna konotatif suatu kata.

2.4 Pembentukan Kata


Ada dua cara dalam pembentukan kata. Pembentukan kata dari dalam clan dari luar
Bahasa Indonesia. Dari dalam Bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru dengan dasar kata
yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan. Berikut
merupakan contoh dari pembentukan kata.
1. Dari dalam Bahasa Indonesia yang terbentuk kata baru sebagai berikut
Tabel 2.2 Pembentukan Kata dari Dalam Bahasa Indonesia
Tata Daya Serba
tata buku daya tahan serba putih
tata bahasa daya pukul serba plastik
tata rias daya tarik serba kuat
hari Tutup lepas
hari sial tutup tahun lepas tangan
hari jadi tutup buku lepas pantai
hari besar tutup usia lepas landas
2. Dari luar Bahasa indoesia terbentuk kata-kata melalui pungutan kata sebagai
berikut.
Bank
Kredit
Nyeri
Televisi
Kata pungut merupakan kata yang diubah dan ada juga yang tidak diubah. Kata-
kata pungut yang sudah biasa digunakan sudah disesuaikan dengan ejaan Bahasa
indionesia disebut dengan kata serapan. Berikut merupakan bentuk-bentuk kata
serapan.
a. Mengambil kata yang sudah sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia.
Contoh: Bank, opname, golf
b. Mengambil kata yang menyesuaikan kata itu dengan ejaan Bahasa
Indonesia
Contoh: Subject, apotheek, standard, dirubah menjadi subjek, apotek,
standar

Diksi dan Kata Baku 7


c. Menerjemahkan dan memadakan istilah-istilah asing kedalam Bahasa
Indonesia
Contoh: Starting point, meet the press, up to date menjadi titik tolak, jumpa
pers, mutakhir
d. Mengambil istilah yang tetap seperti aslinya karena sifat keuniversalnya
Contoh: De facto, Status quo, Cum laude

2.5 Hubungan Diksi Dalam Penulisan Karya Ilmiah


Diksi merupakan pemilihan kata. Pilihan kata ini terkait dengan kebenaran,
kejelasan, dan kefektifan dalam pemakaian. Pilihan kata dalam penulisan karangan ilmiah,
apabila pilihan kata ridak tepat, rangkaian kaliamt menjadi tidak efektif dan informasi yang
disampaiakan tidak jelas.
Pilihan kata dalam penulisan ilmiah harus sesuai dengan kaidah bahasa. Pilihan kata
yang digunakan harus mengutamakan kosakata bahasa Indonesia selama tidak mengganggu
mkna yang akan disampaiakan. Seorang penulis dianjurkan untuk memilih kata feces, anus,
amputasi, dan horizon. Oleh karena itu penulisan haruslah tepat, cermat, dan memperhatikan
pilihan kata yang digunakan terkait dengan makna yang akan disampaikan.
Jika bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang tepat, istilah bahasa asing juga
dapat dijadikan sumber istilah baru. Istilah baru ini dapat dibentuk dengan jalan
menerjemahkan, menyerap sekalgus menerjamhkan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan kata sebagai berikut:
1. Ketepatan makna
Ketepatan makna berkaitan dengan kemampuan kata agar dapat mengungkapkan
gagasan penulis dan diterima pembaca
2. Kecermatan memilih
Kecermatan memilih terkait dengan kemampuan memilih kata dengan baik.
Kecermatan ini erat kaitannya dengan pemahaman makna kata dan
penggunaannya. Kata-kata pendukung tidak diperlukan agar tidak mubadzir dan
efektif
3. Keserasian konteks
Keserasian konteks erat kaitannya dengan kemampuan penggunaan kata-kata
yang sesuai dengan konteks dan kelaziman pemakaian.

Diksi dan Kata Baku 8


2.6 Pengertian Kata Baku
Kata baku adalah kata yang digunakan sudah sesuai dengan pedoman atau kaidah
yang telah ditentukan. Kata baku merupakan kata yang sudah benar dengan aturan maupun
ejaan kaidah Bahasa Indonesia. Kata baku merupakan ragam bahasa yang digunakan dalam
berkomunikasi tentang ilmu pengetahuan. Berdasarkan sudut pandang pengguna bahasa,
ragam bahasa baku dapat dibatasi dengan ragam bahasa yang lazim digunakan oleh penutur
yang paling berpengaruh, seperti ilmuan, pemerintah, tokoh masyarakat, dan kaum jurnalis
atau wartawan

2.7 Ciri-ciri Kata Baku


Secara umum ciri-ciri kata baku Bahasa Indonesia, antara lain :
1. Tidak dipengaruhi bahasa daerah atau kebiasaan bahasa yang di gunakan.
Tabel 2.3 Berdasarkan Pengaruh Bahasa Daerah
Baku Tidak Baku
merasa ngerasa
saya gue
ayah bokap
2. Tidak dipengaruhi bahasa asing seperti penambahan kata bantu, pertukaran
posisi, perbedaan makna dan sebagainya.
Tabel 2.4 Berdasarkan Pengaruh Bahasa Asing
Baku Tidak Baku
banyak guru banyak guru-guru
itu benar itu adalah benar
kesempatan lain lain kesempatan
3. Bukan merupakan ragam bahasa percakapan
Tabel 2.5 Berdasarkan Bahasa Percakapan
Baku Tidak Baku
bagaimana gimana
begitu gitu
tidak nggak
4. Pemakaian imbuhan secara eksplisit agar pembaca dengan mudah menangkap
maksud dari kalimat tersebut dengan mudah .
Tabel 2.6 Berdasarkan Pemakaian Imbuhan
Baku Tidak Baku
Ia mendengarkan radio Ia dengar radio
Anak itu menangis Anak itu nangis
Kami bermain bola dilapangan Kami main bola dilapangan
5. Pemakaian yang sesuai konteks kalimat.
Tabel 2.7 Berdasarkan Konteks Kalimat
Baku Tidak Baku
seorang pasien seseorang pasien
dan lain sebagainya dan sebagainya
terdiri atas/dari terdiri

Diksi dan Kata Baku 9


6. Tidak mengandung makna ganda, tidak rancu.
Tabel 2.8 Tidak Bermakna Ganda dan Rancu
Baku Tidak Baku
menghemat waktu mempersingkat waktu
mengatasi berbagai ketinggalan mengejar ketinggalan
7. Tidak mengandung arti plenoasme atau menambahkan keterangan pada
pernyataan yang sudah jelas.
Tabel 2.9 Berdasarkan Plenoasme
Baku Tidak Baku
hadirin para hadirin
pada zaman dahulu pada zaman dahulu kala
mundur mundur ke belakang
8. Tidak mengandung hiperkorek yang merupakan kesalahan berbahasa akibat
koreksi yang berlebihian pada bentuk yang sudah benar sehingga menyebabkan
kesalahan.
Tabel 2.10 Berdasarkan Makna Hiperkorek
Baku Tidak Baku
akhir ahir
syukur sukur
masyarakat masarakat

2.8 Fungsi Kata Baku


Fungsi kata baku, antara lain sebagai berikut.
1. Pemersatu, Pemakaian bahasa baku dapat mempersatukan sekelompok orang
menjadi satu kesatuan masyarakat bahasa
2. Pembawa kewibawaan, Pemakaian bahasa baku dapat mempersatukan
sekelompok orang menjadi satu kesatuan masyarakat bahasa
3. Pemberi kekhasan, Pemakaian bahasa baku dapat memperlihatkan kewibawaan
pemakainya
4. Kerangka acuanBahasa baku menjadi tolok ukur ukur bagi benar tidaknya
pemakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang

2.9 Ketentuan Menggunakan Kata Baku


Penggunaan kata baku Bahasa Indonesia pada umumnya sering digunakan pada
kalimat yang resmi, baik dalam suatu tulisan maupun dalam pengungkapan kata-kata. Kata
baku biasanya sering digunakan dalam pengungkapan kata-kata melalui pidato resmi, rapat
dinas, musyawarah atau diskusi, selain itu kata baku juga digunakan dalam penyusunan
tulisan seperti berikut.
1. karya ilmiah;

Diksi dan Kata Baku 10


2. surat lamaran pekerjaan;
3. surat dinas, surat edaran serta surat resmi lainnya;
4. laporan;
5. nota dinas;
6. surat menyurat antar organisasi, instansi ataupun lembaga.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya kata tak baku, antara lain.
1. pengguna kata tidak mengetahui bentuk penulisan dari kata yang dimaksud;
2. pengguna kata tidak memperbaiki kesalahan dari penggunaan suatu kata;
3. pengguna kata sudah terbiasa menggunakan kata tidak baku.

2.10 Penyuntingan Diksi Dalam Kata Baku


Menyunting adalah kegiatan pemeriksaan kembali suatu tulisan atau naskah sebelum
tulisan tersebut dipublikasikan. Menyunting bertujuan untuk mengurangi kesalahan-
kesalahan yang dilakukan penulis dalam membuat tulisan, sehingga kualitas tulisan menjadi
lebih baik. Secara garis besar penyuntingan meliputi :
1. Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kasat mata
2. Menghindari kontradiksi dan memperbaiki tulisan sebelumnya
3. Menyesuaikan gaya bahasa sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan
4. Menghindari adanya arti ganda dan tulisan yang membosankan
5. Menelaah kembali hasil tulisan yang telah dicetak, mungkin masih terdapat
kesalahan secara redaksional maupun substansial.
Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang yang ada pada kalimat merupakan salah satu
kegiatan yang dilakukan dalam penyuntingan, kesalahan-kesalahan yang akan dibahas
adalah mengenai kesalahan penggunaan kata baku dan tidak baku serta kesalahan dalam
pemilihan kata atau diksi. Kesalahan penggunaan kata baku dan tidak baku dalam suatu
kalimat atau karya tulis dapat merusak kesempurnaan penyajian maksud dan tujuan
penulisan sekaligus dapat mengukur kekayaan kosa kata yang dimiliki oleh penulis, dalam
proses penyuntingan kata baku dan kata tidak baku, penyunting dapat menggunakan kamus
Bahasa Indonesia terbaru sebagai pembanding saat melakukan koreksi. Kedua, kesalahan
pada diksi atau pilihan kata, penyunting dapat memperhatikan tingkat kesesuaian dan
ketepatan pilihan kata yang digunakan dalam kalimat seperti istilah dan kata bentukan. Saat
terjadi kesalahan dalam pemilihan kata seringkali penyunting mengganti kata yang tak padu
dengan kata lain yang memiliki arti serupa (sinonim)

Diksi dan Kata Baku 11


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas sebagai berikut.
1. Dalam berkomunikasi sangat dibutuhkan pemilihan kata (diksi) yang tepatagar
komunikasi yang dihasilkan efektif dan ridak menimbulkan kesalahpahaman.
2. Pemilihan kata juga dibutuhkan dalam penyusunan karya ilmiah agar rangkaian
kalimat yang disajikan efektif dan informasi yang disampaikan dapat dengan
mudah dimengerti
3. Kata baku adalah ketetapan kata yang sudah sesuai dengan pedoman atau kaidah
yang telah ditentukan. Kata baku pada umumnya digunakan pada kalimat yang
resmi, seperti penyusunan karya ilmiah, rapat dinas dan lain-lain

3.2 Saran
Mempertahankan dan menerapkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan
benar secara lisan maupun tulisan dalam kehidupan sehari-hari, agar dapat menguasai
pemilihan kata yang tepat dan tidak menimbulkan kerancuan.

Diksi dan Kata Baku 12


DAFTAR PUSTAKA

Waridah, Ernawati. 2014.Pedoman Kata Baku dan Tidak Baku. Srengseng: Cetakan
Permata.
Widyartono, Didin. 2014. Bahasa Indonesia Riset: Panduan Menulis Karya Ilmiah di
Perguruan Tinggi. Malang: PT. Danar Wijaya.
Syahroni, Ngalimun, dkk. 2013. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Yogyakarta:
Aswaja Pressindo.

Diksi dan Kata Baku 13