Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Banyak pasien, terutama orang tua, diperlakukan terus menerus
dengan satu atau lebih obat untuk penyakit kronis seperti hipertensi, gagal
jantung, osteoarthritis dan sebagainya. Kejadian akut (infeksi misalnya,
infark miokard) diperlakukan dengan obat tambahan.Ada ratusan interaksi
obat, tetapi yang penting secara klinis hanya beberapa saja. Pasien harus
diberi perhatian jika terjadi interaksi obat. Ada obat-obat yang
kontraindikasi bila diberikan bersama-sama atau harus disesuaikan
dosisnya.
Interaksi obat merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi
respon tubuh terhadap pengobatan. Obat dapat berinteraksi dengan makanan
atau minuman, zat kimia atau dengan obat lain. Dikatakan terjadi interaksi
apabila makanan, minuman, zat kimia, dan obat lain tersebut mengubah efek
dari suatu obat yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan.
Beberapa obat sering diberikan secara bersamaan pada penulisan
resep, maka mungkin terdapat obat yang kerjanya berlawanan. Obat pertama
dapat memperkuat atau memperlemah, memperpanjang atau memperpendek
kerja obat kedua. Interaksi obat harus lebih diperhatikan, karena interaksi
obat pada terapi obat dapat menyebabkan kasus yang parah dan tingkat
kerusakan-kerusakan pada pasien, dengan demikian jumlah dan tingkat
keparahan kasus terjadinya interaksi obat dapat dikurangi.
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan mengenai
interaksi obat dengan cara mencampurkan dua macam obat, susu dan buah-
buahan. Dimana kedua macam obat atau obat dengan makanan/minuman
dicampurkan dan beri perlakuan (diputar dan diaduk) yang kemudian
diamati interaksi yang terjadi. Interaksi yang terjadi dapat berupa adanya
endapan, adanya gumpalan, serta bercampurnya kedua bahan obat tersebut.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
2

Adapun maksud dilaksanakannya praktikum ini yakni:


1. Untuk mengetahui cara dan jenis Interaksi obat
2. Mengetahui dengan tepat interaksi obat yang dilakukan secara in vitro.
1.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun Tujuan dilaksanakannya praktikum ini, yakni untuk
mengetahui terjadinya interaksi obat secara in vitro.
I.3 Prinsip Percobaan
Adapun prinsip dari percobaan ini yakni :
Pertama bahan bahan yang dalam bentuk larutan seperti OBH dan
susu di tuangkan ke dalam gelas ukur yang selanjutnya di tuangkan lagi ke
dalam 2 gelas kimia, Masing-masing sama. Setelah penuangan bahan yang
sudah terisi ke dalam gelas kimia selanjutnya dicampurkan dengan bahan
obat lain seperti GG (gliserilguiakolat). Setelah dicampurkan diberikan
perlakuan seperti diaduk ataupun diputar. Setelah diberi perlakuan selama 2
menit dapat dilihat interaksi yang terjadi. Interaksi tersebut dapat berupa
adanya endapan, gumpalan serta bercampurnya kedua bahan.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Definisi Obat
Obat adalah suatu bahan atau campuran bahan yang dimaksudkan
untuk digunakan dalam menentukan diagnosis, mencegah, mengurangi,
menghilangkan, menyembuhkan penyakit, lukaatau kelainan badaniah atau
rohaniah pada manusia atau hewan termasuk memperelok tubuh atau
bagian tubuh manusia (Anief, 1991).
Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait
obat (drug-related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau
keadaan terapi obat yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien.
Sebuah interaksi obat terjadi ketika farmakokinetika atau
farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran satu atau lebih
zat yang berinteraksi (Lullmann, 2000).
Farmakologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi
obat dengan konstituen (unsure pokok) tubuh untuk menghasilkan efek
terapi (Gunawan,2009)
II.1.2 Interaksi Farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik terjadi ketika suatu obat mempengaruhi
absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat lainnya sehingga
meningkatkan atau mengurangi jumlah obat yang tersedia untuk
menghasilkan efek farmakologisnya (Craig, 2007).
II.1.2.1 Absorbsi
Obat-obat yang digunakan secara oral biasanya diserap dari saluran
cerna ke dalam sistem sirkulasi. Ada banyak kemungkinan terjadi interaksi
selama obat melewati saluran cerna. Absorpsi obat dapat terjadi melalui
transport pasif maupun aktif, di mana sebagian besar obat diabsorpsi
secara pasif. Proses ini melibatkan difusi obat dari daerah dengan kadar
tinggi ke daerah dengan kadar obat yang lebih rendah. Pada transport aktif
terjadi perpindahan obat melawan gradien konsentrasi (contohnya ion-ion

3
4

dan molekul yang larut air) dan proses ini membutuhkan energi. Absorpsi
obat secara transport aktif lebih cepat dari pada secara tansport pasif. Obat
dalam bentuk tak-terion larut lemak dan mudah berdifusi melewati
membran sel, sedangkan obat dalam bentuk terion tidak larut lemak dan
tidak dapat berdifusi. Di bawah kondisi fisiologi normal absorpsinya agak
tertunda tetapi tingkat absorpsinya biasanya sempurna(Katzung, 2007).
II.1.2.2Distribusi
Interaksi dalam ikatan protein plasma. Banyak obat terikat pada
protein plasma, obat yang bersifat asam terutama pada albumin, sedangkan
obat yang bersifat basa pada asam 1-glikoprotein. Oleh karena jumlah
protein plasma terbatas, maka terjadi kompetisi antara obat-obat yang
bersifat asam maupun antara obat-obat yang bersifat basa untuk berikatan
dengan protein yang sama. Tergantung dari kadar obat dan afinitasnya
terhadap protein plasma, maka suatu obat dapat digeser dari ikatannya
dengan protein plasma oleh obat lain, dan peningkatan kadar obat bebas
menimbulkan peningkatan efek farmakologiknya. Akan tetapi keadaan ini
hanya berlangsung sementara karena peningkatan kadar obat bebas juga
meningkatnya eliminasinya sehingga akhirnnya tercapai keadaan mantap
yang baru dimana kadar obat total menurun tetapi kadarobat bebas
kembali seperti sebelumnya (mekanisme kompensasi) (Craig, 2007).
II.1.2.3 Metabolisme
Hambatan metabolisme obat. Hambatan metabolisme terutama
menyangkut obat obat yang merupakan substrat enzim metabolisme
sitokrom P450 (CYP) dalam mikrosom hati. Dalam bab 1 di bagian
farmakokinetik telah disebutkan adanya 6 isoenzim CYP yang penting
untuk metabolisme obat. Tiap isoenzim tersebut mempunyai substrat dan
penghambatnya masing masing. Pemberian bersama salah satu substrat
dengan salahsatu penghambat dari enzimyang sama akan meningkatkan
kafar plasma substrat sehingga meningkatkan efek atau toksisitasnya. Oleh
karena CYP 3A4/5 memetabolisme sekitar 50 % obat untuk manusia,
maka penghambat isoenzim ini menjadi penting karena akan berinteraksi
5

dengan banyak obat, terutama penghambat yang poten, yakni ketokonazol,


itrakonazol, eritromisin dan klaritromisin (Ganiswara, 2007).
II.1.2.4 Eliminasi
Gangguan ekskresi ginjal akibat kerusakan ginjal oleh obat. Obat
obat yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal adalah aminoglikosida,
obat obat lain yang eliminasinya terutama melalui ginjal maka akan
terjadi akumulasi obat obat lain tersebut sehingga menimbukan efek
toksik (Ganiswara, 2007).
2.1.2 Interaksi Farmaseutik
Interaksi farmaseutik inkompatibilitas ini terjadi di luar tubuh
(sebelum obat diberikan) antara obat yang tidak dapat dicampur
(inkompatibel).Pencampuran obat demikian menyebabkan terjadinya
interaksi langsung secara fisik atau kimiawi, yang hasilnya mungkin
terlihat sebagai pembentukan endapan, perubahan wana dan lain-lain, atau
mungkin juga tidak terlihat.Interaksi ini biasanya berakibat inaktivasi obat
(Ganiswara,2007).
2.1.4 Interaksi Farmakoidinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang terjadi antara obat
yang memiliki efek farmakologis, antagonis atau efek samping yang
hampir sama. Interaksi ini dapat terjadi karena kompetisi pada reseptor
atau terjadi antara obat-obat yang bekerja pada sistem fisiologis yang
sama. Interaksi ini biasanya dapat diprediksi dari pengetahuan tentang
farmakologi obat-obat yang berinteraksi (Goodman, 2006).
Insidens interaksi obat yang penting dalam klinik sukar
diperkirakan karena (1) dokumentasinya masih sangat jarang; (2)
seringkali lolos dari pengamatan karena kurangnya pengetahuan pada
dokter akan mekanisme dan kemungkinan terjadinya interaksi obat
sehingga interaksi obat berupa peningkatan toksisitas seringkali dianggap
sebagai reaksi idiosinkrasi terhadap salah satu obat sedangkan interaksi
berupa penurunan efektivitas seringkali diduga akibat bertambahnya
keparahan penyakit; selain itu terlalu banyak obat yang saling berinteraksi
6

sehingga sulit untuk diingat; dan (3) kejadian atau keparahan interaksi
dipengaruhi oleh variasi individual (populasi tertentu lebih peka misalnya
penderita lanjut usia atau yang berpenyakit parah, adanya perbedaan
kapasitas metabolisme antar individu), penyakit tertentu (terutama gagal
ginjal atau penyakit hati yang parah), dan faktor-faktor lain (dosis besar,
obat ditelan bersama-sama, pemberian kronik) (Scanlon, 2007).
2.2 Uraian Bahan
2.2.1 Aethanolum (Dirjen POM, 1979 ; Rowe, 2009)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol, alcohol
RM/ BM : C2H6O
Berat Molekul : 46,07
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan


mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang
tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p,
dan dalameter p.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

2.2.2 Efedrin (Dirjen POM, 1979)


Nama Resmi : EPHEDRIN HYDROCHLORIDUM
Nama Lain : Efedrin HCl, Efedrina hidroksida
RM : C10H15No, HCl
BM : 201,70
Rumus Struktur :
7

Pemerian : Hablur putih, tidak berbau, rasa pahit 14 bagian


Etanol (95%) P praktis tidak larut dalam eter P.
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 4 bagian air, dalam
lebih kurang dari 14 bagian Etanol (95%) P
praktis tidak Larut dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
2.2.3 Gliserilguiakolat (Dirjen POM, 1995)
Nama Resmi : GUANIFENESIN
Nama lain : Gliserilguaicolate
Rumus Molekul : C10H14O4
Berat Molekul : 198,22
Rumus Struktur :

Pemerian : Serbuk hablur, putih sampai agak kelabu; bau


khas lemah; rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam air, dalam etanol, dalam kloroform
dan dalam propilen glikol; agak sukar larut dalam
gliserin.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
2.2.4 Tetrasiklin (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : TETRACYCLINUM TERRACYCLINUM
Nama Lain : Tetrasiklin
Rumus Molekul : C22H24N2O8
Berat Molekul : 444.44
Rumus struktur :
8

Pemerian : Serbuk hablur; kuning; tidak berbau atau sedikit


berbau lemah
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air; larut dalam 50
bagian etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam
kloroform P dan dalam eter P; larut dalam asam
encer; larut dalam alkali disertai peruraian.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindungi dari
cahaya
2.2.5 Eritromisin (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : ERYTHROMYCINUM
Nama Lain : Eritromisin
Rumus Molekul : C37H67NO13

Berat Molekul : 733,94


Rumus struktur :

Pemerian : Serbuk hablur putih atau agak kuning; tidak


berbau atau praktis tidak berbau
Kelarutan : Sukar larut dalam air; larut dalam etanol, dalam
kloroform dan dalam eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
2.2.6 Sirop OBH (Dirjen POM, 1979) Komposisi OBH :
- Glycirrhizae Succus 10 gr
- Ammonii Chloridum 6 gr
- Ammoniae Anisi Spiritus 6 gr
- Aqua Destilata hingga 300 mL
9

2.2.6.1Glyvirrhiza Succus (Dirjen POM, 1979)


Nama Resmi : GLYCIRRHIZAE SUCCUS
Nama Lain : Ekstrak akar manis, Glycerhiza, glabra, Sucucus
Liquiritac
Rumus Molekul : -
Berat Molekul : -
Rumus Struktur : -
Pemerian : Batang berbentuk silinder atau bongkah besar,
licin, agak mengkilap, hitam coklat tua atau
serbuk berwarna coklat: bau lemah khas, rasa
manis khas
Kelarutan : Larut dalam etanol tidak kurang dari 75% mL air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
2.2.6.2 Ammonii Chloridum (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : AMMONII CHLORIDUM
Nama Lain : Amonium Klorida
Rumus Molekul : NH4Cl
Berat Molekul : 53,49
Rumus Struktur :

Pemerian : Hablur tidak berwarna, atau serbuk hablur halus


atau kasar, berwarna putih; rasa asin dan dingin;
higroskopik
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam gliserin, dan
lebih mudah larut dalam air mendidih; sedikit
larut dalam etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tetutup rapat
2.2.6.3 Ammoniae Anisi Spiritus (Dirjen POM,1979)
Nama Resmi : AMMONIAC ANISI SPRITUS
10

Nama Lain : Spritus ammonia, adasmaniss


Rumus Molekul : -
Rumus Molekul : -
Rumus Struktur : -
Pemerian : Cairan jernih tidak berbau, bau khas, menusuk
kuat
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat ditempat sejuk
2.2.6.4 Aqua Destilata (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama sinonim : Air suling, Air murni
RM/ BM : H2O
Berat Molekul : 18,02
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak


mempunyai rasa.
Kelarutan : Larut dengan kebanyakan larutan polar
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
11

BAB III
METODE KERJA
III.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Farmakologi Dasar tentang rute pemberian obat ini
dilaksanakan pada hari Selasa, 2 Mei 2017 pada pukul 14.30 WITA,
Bertempat di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas
Olahraga dan Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo
III.2 Alat dan Bahan
III.2.1 Alat
1. Spuit injeksi dan jarumnya
2. Spuit untuk oral
3. Timbangan analitik digital
4. Gelas ukur
5. Gelas beker
6. Erlenmeyer
7. Pengaduk
8. Pipet volume
III.2.2 Bahan
1. OBH
2. Efedrin
3. Griserilguiakolat
4. Buah-buahan
5. Eritromisin
6. Susu
7. Tetrasiklin
III.2.3 Cara kerja
III.2.3.1 Interaksi obat serbuk dengan obat cair
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersihkan alat denagan alkohol 70%
3. Digerus GG
4. Diukur OBH sebanyak 25 mL kedalam 2 gelas kimia

11
12

5. Dimasukkan GG ke dalam 2 gelas kimia yang telah berisi OBH


6. Dilakukan metode putar dan metode aduk
7. Diamati apabila kedua obat tersebut bercampur, mengendap atau
menggumpal
III.3.2.2 Interaksi eritromisin dengan makanan
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersihkan alat denagan alkohol 70%
3. Diperas jeruk
4. Diukur asam buah sebanyak 25 mL kedalam 2 gelas kimia
5. Dimasukkan eritromisin ke dalam 2 gelas kimia yang telah berisi
asam buaah-buahan
6. Dilakukan metode putar dan metode aduk
7. Diamati apabila kedua obat tersebut bercampur, mengendap atau
menggumpal
III.3.2.4 Interaksi susu dengan tetrasiklin
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersihkan alat denagan alkohol 70%
3. Diukur susu sebanyak 25 mL ke dalam 2 gelaskimia
4. Dimasukkan tetrasiklin kedalam gelas kimia yang telah berisi susu
5. Dilakukan metode putar dan metode aduk
6. Diamati apabila kedua obat tersebut bercampur, mengendap atau
menggumpal
13

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
Interaksi Diputar Diaduk
Obat Bercam Menge Mengg Bercam Menge Mengg
pur ndap upal pur ndap upal
OBH
dengan + - - + - -
GG
Asam
Buah - + - - + -
dengan
Eritromisin
Susu
dengan - - + + - -
Tetraciclie
IV.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan mengenai interaksi obat in vitro.
Menurut Dirjen POM (1979), interaksi obat in vitro atau interaksi
farmasetik yaitu interaksi yang terjadi karena adanya perubahan atau
reaksi kimia dan fisika antara dua obat atau lebih yang dapat di kenal atau
dilihat yang berlangsung di luar tubuh dan mengakibatkan aktifitas
farmakologis obat tersebut hilang atau berubah.
Langkah awal dalam percobaan ini interaksi antara Obat Batuk
Hitam dengan Gliserilguaikolat. Pertama digerus terlebih dahulu
Gliserilguaikolat ke dalam mortir sampai menjadi serbuk, kemudian
menyiapkan 25 ml larutan Obat Batuk Hitam dalam gelas kimia.
memasukan bubuk Gliserilguaikolat kedalam larutan Obat Batuk Hitam.
Metode yang digunakan adalah metode putar dan metode aduk, masing-
masing metode ini digunakan waktu selama 2 menit. Pada metode putar
dilakukan dengan cara digoyang larutan
13 Obat batuk hitam hingga semua
14

serbuk Gliserilguaikolat larut. Metode ini diamati bahwa reaksi antara


Obat Batuk Hitam dengan Gliserilguaikolat dapat bercampur dan tidak
mengendap atau tidak menggumpal. Sedangkan pada metode aduk
dilakukan dengan cara diaduk menggunakan batang pengaduk. Metode ini
diamati bahwa reaksi antara Obat Batuk Hitam dengan Gliserilguaikolat
dapat bercampur dan tidak mengendap atau tidak menggumpal.
Gliserilguaiakolat dan OBH merupakan obat Mukolitik ekspektoran dan
digunakan untuk batuk berdahak, dahak dimaksudkan untuk memudahkan
pengeluaran. Zat aktif yang termasuk dalam kelompok ini meliputi
gliserilguaiakolat. Apabila gliseril guaiakolat di kombinasikan dengan obat
batuk hitam derivat obat tersebut akan larut karena obat batuk hitam
memiliki fungsi yang sama sebagai obat antitusif yang berdahak. Hal
tersebut apabila Gliserilguaikolat dikombinasikan dengan Obat Batuk
Hitam, derivat obat tersebut akan larut karena memiliki fungsi yang sama
sebagai obat antitusif yang berdahak (Mutchler, 1991).
Langkah kedua yaitu interaksi Asam Buah dengan Eritromisin.
Pertama disiapkan 25 ml larutan asam buah dalam gelas kimia. Dibuka
kapsul Eritromisin dan dimasukan serbuk Eritromisin kedalam larutan
Asam Buah. Metode yang digunakan adalah metode putar dan metode
aduk, masing-masing metode ini digunakan waktu selama 2 menit. Pada
metode putar dilakukan dengan cara diputar campuran Eritromisin ke
dalam larutan Asam Buah hingga serbuk dari Eritromisin hilang. Metode
ini diamati bahwa reaksi antara Eritromisin dengan Asam Buah tidak dapat
bercampur dan tidak menggumpal, tetapi terjadi endapan. Sedangkan pada
metode aduk dilakukan dengan cara diaduk menggunakan batang
pengaduk. Metode ini diamati bahwa reaksi antara Eritromisin dengan
Asam Buah tidak dapat bercampur dan tidak menggumpal, tetapi terjadi
endapan. Interaksi obat dengan makanan/minuman (Food drug interaction)
Sifat fisika kimia obat menentukan tempat absorpsi obat. Obat biasanya
bersifat asam lemah atau basa lemah. Obat asam lemah akan diserap di
lambung (jika diberikan secara oral dengan diminum, bukan di bawah
15

lidah atau di di dinding mulut bucal) sementara yang bersifat basa lemah
akan diserap di usus yang lingkungannya memang lebih basa
dibandingkan lambung. Selain terkait sifat obat dan tempat absorpsi,
makanan / minuman akan mempengaruhi bentuk obat. Obat seharusnya
berbentuk molekul kecil untuk bisa terabsorpsi dengan baik. Maka perlu di
lakukan uji disolusi/ pelarutan obat saat dilakukan formulasi obat. Hal
lain yang perlu diwaspadai adalah adanya interaksi obat dengan
makanan/minuman atau nutrien tertentu, sehingga terbentuk senyawa
kompleks bermolekul besar yang menghalangi obat diabsorpsi. Reaksi
antara bahan makanan yang asam dapat mempengaruhi reabsropsi,
sehingga eritromisin tidak larut dalam asam buah tersebut, akibatnya obat
tersebut tidak dapat diabsorbsi oleh tubuh sehingga terjadi endapan yang
menandakan obat tersebut tidak larut (Sukandar et al, 2013).
Langkah terakhir yaitu interaksi Susu dengan Tetracicline. Pertama
disiapkan 25 ml susu dalam gelas kimia. Dibuka kapsul tetracicline dan
dimasukan serbuk Tetracicline kedalam Susu. Pada metode putar
digunakan waktu selam 2 menit. Metode yang digunakan adalah metode
putar dan metode aduk, masing-masing metode ini digunakan waktu
selama 2 menit. Pada metode putar dilakukan dengan cara diputar
campuran tersebut hingga serbuk Tetracicline larut. Metode ini diamati
bahwa reaksi antara Susu dengan Tetracicline tidak dapat bercampur dan
tidak mengendap, tetapi terjadi penggumpalan. Sedangkan pada metode
aduk dilakukan dengan cara diaduk menggunakan batang pengaduk.
Metode ini diamati bahwa reaksi antara Susu dengan Tetracicline dapat
bercampur, tetapi tidak mengendap maupun menggupal. Dari hasil
tersebut ditemukan adanya derivat obat yang menggumpal yang
diinteraksikan dengan susu. Jika tetracycline bersama susu, maka akan
terbentuk chelate sehingga mengurangi penyerapan tetracycline,
akibatnya kadar tetracycline dalam serum menurun dan khasiatnya
berkurang (Sukandar et al ,2013).
16

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat di simpulkan bahwa interaksi obat dalam
tubuh dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Jenis interaksi obat ini
dapat berupa interaksi farmakokinetik, interaksi farmasetik dan interaksi
farmakodinamik. Interaksi secara in vitro dapat terjadi pada saat obat
dicampurkan dan dengan mekanisme kerja obat yang berbeda-beda,
secara fisika, kimia dan biologis dapat menimbulkan perubahan sifat dan
efek suatu obat.
V.2 Saran
V.2.1 Saran untuk jurusan
Sebaiknya menyediakan fasilitas berupa laboraturium agar
praktikan tidak praktek diruang kelas.
V.2.2 Saran untuk laboratorium
Sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum
lebih dilengkapi agar praktikum berjalan lancar
V.2.3 Saran untuk asisten
Agar lebih sabar dalam membimbing praktikan dan diharapkan
kepada asisten agar lebih mengawasi dan membimbing praktikan terutama
yang belum paham saat praktikum.
V.2.4 Saran untuk praktikan
Agar lebih berhati-hati saat melakukan praktikum dan tetap
menjaga kebersihan laboratorium.

16
17

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 1991. Apa yang Perlu Diketahui Tentang Obat. Yogyakarta: Penerbit
Gadjah Mada University Press

Craig, R.Craig and Robert E.Stitzel. 2007. Modern Pharmacology With Clinical
Application-6th Ed. Lippncott Williams & Wilkin. Virginia.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departement


Kesehatan Republik Indonesia

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departement


Kesehatan Republik Indonesia

Mutchel, E. 1991. Dinamika Obat Edisi V. Bandung: Penerbit ITB

Ganiswarna, Sulistia, 2007.Farmakologi dan Terapi Edisi V. Departemen


Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran UI : Jakarta.

Goodman and Gilman. 2006. The Pharmacologic Basis of Therapeutics 11th


Ed.,McGraw-Hill Companies. Inc, New York.

Gunawan, Gan Sulistia. 2009. Farmakolgi dan Terapi edisi 5. Jakarta: EGC

Katzung, G.Bertram. 2007. Basic & Clinical Pharmacology 10th Ed. The
McGraw-Hill Companies. Inc, New York.

Lllmann, Heinz, [et al.]. 2000. Color Atlas of Pharmacology 2nd Ed. Thieme.
New York.

Sukandar, E. Y, et al. 2013. Informasi Spesialis Obat Farmakoterapi Jilid 1


Cetakan ke-3. Jakarta: PT ISFI
18

LAMPIRAN

1. SkemaKerja
a. Metode Putar (Interaksi GG dengan Obat cair (OBH))

Dibersihkan alat dengan alkohol Digerus GG

Dituangkan OBH dari gelas ke Diukur OBH sebanyak 25 ml ke


dalam gelas kimia dalam gelas ukur

Dimasukkan GG kedalam gelas Dilakukan metode putar pada gelas


kimia yang telah berisi OBH kimia yang telah berisi OBH dan
GG
19

Diamati apabila kedua obat tersebut Dihitung waktu selama 2 menit


untuk metode putar dan metode
bercampur, mengendap, atau aduk pada gelas kimia yang telah
menggumpal berisi OBH dan GG

b. Metode Aduk (Interaksi GG dengan Obat cair (OBH))

Dibersihkan alat dengan alkohol Digerus GG

Dituangkan OBH darigelas ukur ke Diukur OBH sebanyak 25 ml ke


dalam gelas kimia dalam gelas ukur
20

Dimasukkan GG kedalam gelas kimia Dilakukan metode aduk pada gelas


yang telah berisi OBH kimia yang telah berisi GG dan
OBH

Diamati apabila kedua obat tersebut Dihitung waktu selama 2 menit


bercampur, mengendap, atau untuk metode aduk pada gelas kimia
yang telah berisi OBH dan GG
menggumpal
21

c. Metode Putar (Interaksi Buah-buahan (Jeruk) dengan Eritromisin)

Dibersihkan alat dengan alkohol Diukur jeruk sebanyak 25 mL


kedalam gelas kimia

Dilakukan metode putar pada gelas


kimia yang telah berisi Jeruk dan Dimasukan Eritromisin kedalam
Eritromisin gelas kimia yang telah berisi jeruk

Dihitung waktu selama 2 menit Diamati apabila kedua obat tersebut


untuk metode putar pada gelas kimia bercampur, mengendap atau
yang telah berisi Jeruk dan
menggumpal
Eritromisin
22

d. Metode Putar (Interaksi Buah-buahan (Jeruk) dengan Eritromisin)

Dibersihkan alat dengan alkohol Diukur jeruk sebanyak 25 mL ke


dalam gelas kimia

Dilakukan metode aduk pada gelas


kimia yang telah berisi jeruk dan Dimasukan Eritromisin kedalam
eriromisin gelas kimia yang telah berisi jeruk

Dihitung waktu selama 2 menit Diamati apabila kedua obat tersebut


untuk metode putar dan metode bercampur, mengendap atau
aduk pada gelas kimia yang telah
menggumpal
berisi Jeruk dan Eritromisin
23

e. Metode Aduk (Interaksi susu dengan tetrasiklin)

Dibersihkan alat dengan alkohol Diukursususebanyak 25 mL


kedalamgelaskimia

Dilakukan metode putar pada gelas


Dimasukkantetrasiklinkedalamgela
kimia yang telah berisi Susu dan
Tetraksiklin skimia yang telahberisisusu

Dihitung waktu selama 2 menit


Dilakukan metode aduk pada gelas untuk metode putar dan metode
kimia yang lainnya aduk pada gelas kimia yang telah
berisi Susu dan Tetrasiklin
24

Diamati apabila susu dan tetrasiklin


bercampur, mengendap, atau
menggumpal

f. Metode Putar (Interaksi susu dengan tetrasiklin)

Dibersihkan alat dengan alkohol Diukur susu sebanyak 25 mL ke


dalamgelaskimia

Dilakukan metode putar pada gelas Dimasukkan tetrasiklin kedalam


kimia yang telah berisi Susu dan gelas kimia yang telah berisi susu
Tetraksiklin
25

Dihitung waktu selama 2 menit Diamati apabila susu dan tetrasiklin


untuk metode putar pada gelas kimia
bercampur, mengendap, atau
yang telah berisi Susu dan
Tetrasiklin menggumpal
26

2. Diagram Alir
Interaksi GG dengan OBH
a. Metode Putar

Interaksi GG dengan
OBH

- Disiapkan alat dan bahan


- Dibersihkan alat denagan alkohol 70%
- Digerus GG
- Diukur OBH sebanyak 25 mL kedalam gelas kimia
- Dimasukkan GG ke dalam gelas kimia yang telah berisi
OBH
- Dilakukan metode putar
- Diamati apabila kedua obat tersebut bercampur, mengendap
atau menggumpal
Hasil

b. Metode Aduk

Interaksi GG dengan
OBH

- Disiapkan alat dan bahan


- Dibersihkan alat denagan alkohol 70%
- Digerus GG
- Diukur OBH sebanyak 25 mL kedalam gelas kimia
- Dimasukkan GG ke dalam gelas kimia yang telah berisi
OBH
- Dilakukan metode aduk
- Diamati apabila kedua obat tersebut bercampur, mengendap
atau menggumpal
Hasil
27

Interaksi Buah-buah (Jeruk) dengan Eritromisin


a. Metode Putar
Interaksi buah-buahan
dengan eritromisin
- Disiapkan alat dan bahan
- Dibersihkan alat dengan alkohol 70%
- Diperas jeruk
- Diukur asam buah sebanyak 25 mL kedalam gelas kimia
- Dimasukkan eritromisin ke dalam gelas kimia yang telah
berisi asam buaah-buahan
- Dilakukan metode putar
- Diamati apabila kedua obat tersebut bercampur, mengendap
atau menggumpal
Hasil

b. Metode Aduk
Interaksi buah-buahan
dengan eritromisin
- Disiapkan alat dan bahan
- Dibersihkan alat dengan alkohol 70%
- Diperas jeruk
- Diukur asam buah sebanyak 25 mL kedalam gelas kimia
- Dimasukkan eritromisin ke dalam gelas kimia yang telah
berisi asam buaah-buahan
- Dilakukan metode aduk
- Diamati apabila kedua obat tersebut bercampur, mengendap
atau menggumpal
Hasil
28

Interaksi Susu dengan Tetracycline


a. Metode putar
Interaksi Susu dengan
Tetracycline
- Disiapkan alat dan bahan
- Dibersihkan alat denagan alkohol 70%
- Diukur susu sebanyak 25 mL ke dalam gelas kimia
- Dimasukkan tetrasiklin ke dalam gelas kimia yang telah
berisi susu
- Dilakukan metode putar
- Diamati apabila kedua obat tersebut bercampur,
mengendap atau menggumpal
Hasil

b. Metode aduk
Interaksi Susu dengan
Tetracycline
- Disiapkan alat dan bahan
- Dibersihkan alat denagan alkohol 70%
- Diukur susu sebanyak 25 mL ke dalam gelas kimia
- Dimasukkan tetrasiklin ke dalam gelas kimia yang telah
berisi susu
- Dilakukan metode aduk
- Diamati apabila kedua obat tersebut bercampur,
mengendap atau menggumpal
Hasil