Anda di halaman 1dari 7

No. Pengisian : ......................

FORMULIR ETIK PENELITIAN KESEHATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS

1. Peneliti Utama (title, unit penelitian):


Mifta Hul Jannah, Farmasi

Multisenter: Tidak Ya

2. Judul Penelitian:
Pemeriksaan Reversibilitas Fungsi Hati Akibat Efek Toksik dari Ekstrak Etanol
Tumbuhan Tali Putri (Cassytha filiformis L.)

3. Subyek: Penderita Non-Penderita Hewan

4. Perkiraan waktu penelitian yang dapat diselesaikan untuk tiap subyek

Penelitian ini akan dilaksanakan selama lebih kurang 2 bulan, di Laboratorium


Farmakologi Fakultas Farmasi dan Laboratorium Biota Sumatera Fakultas Farmasi
Universitas Andalas.

5. Ringkasan usulan penelitian yang mencakup tujuan penelitian, manfaat /


relevansi dari hasil penelitian, dan alasan / motivasi untuk melakukan penelitian
(ditulis dalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang yang bukan dokter)

a. Latar Belakang
Perkembangan terapi suatu penyakit pada dunia medis modern yang
sebelumnya menggunakan terapi dengan obat sintetis kini beralih ke obat tradisional.
Hal ini dikarenakan obat sintetis yang mahal dan banyaknya penelitian ilmiah yang
berkaitan dengan khasiat tumbuhan sebagai obat. Penelitian ilmiah yang berhasil
mengungkapkan khasiat, manfaat terapi penyakit, mendorong munculnya paradigma
baru dalam dunia kedokteran modern, yaitu back to nature (Mangan, 2003).
Data dari WHO (2008) menyebutkan bahwa di beberapa negara Asia dan
Afrika, lebih dari 80% populasi memilih obat tradisional untuk menjaga kesehatan.
Sementara itu, Kantor Regional WHO wilayah Amerika (AMOR/PAHO) melaporkan
71% penduduk Chile dan 40% penduduk Kolombia menggunakan obat tradisional
(Kemendag, 2014).
Obat tradisional merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian atau galenik, atau campuran
dari bahan tersebut, yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman. (BPOM, 2005).
Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional
adalah tumbuhan tali putri (Cassytha filiformis L.). Tumbuhan ini telah diteliti sebagai
antikoagulan (Armenia, 2007), antiplatelet, vasorelaksan (Sharma et al., 2010),
antiaterosklerosis (Maulani, 2010), membantu menurunkan kadar glukosa di dalam
darah (Permana, 2011). Di Afrika tumbuhan ini dilaporkan sebagai anti kanker,
sedangkan di Taiwan, digunakan sebagai obat sakit ginjal (Mythili et al., 2011),
memiliki daya larut terhadap batu ginjal (Novitri, 2012), serta sebagai diuretik
(Novitri, 2012, Cyril et al., 2013).
Selama ini masayarakat berpikir bahwa obat tradisional lebih aman daripada
obat sintetik karena efek samping obat yang berasal dari alam lebih minim. Menurut
Timbrell (2002), konsep natural is safe yang selama ini terdapat dalam banyak
kasus sangat jauh dari kebenaran dan beberapa zat yang paling beracun bagi manusia
berasal dari alam. Zat yang beracun menimbulkan efek toksik bagi manusia, menurut
WHO (2004) hal ini dapat terjadi disebabkan oleh pemakaian dosis dan lamanya
penggunaan obat yang tidak tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan uji keamanan obat
untuk menjamin kelayakan dan pemanfaatannya (BPOM Depkes RI, 2004).
Untuk menjamin kelayakan dan pemanfaatan penggunaan zat yang berasal
dari alam, Arif (2015) melakukan pengujian terhadap fungsi hati mencit putih jantan
akibat pengaruh pemberian ekstrak etanol tali putri. Ternyata dari hasil penelitian
tersebut diketahui bahwa ektrak etanol tali putri menimbulkan efek toksik pada hati
mencit putih jantan dengan menigkatnya kadar SGPT mencit dan menurunnya waktu
induksi tidur (onset) serta perpanjangan lama tidur hewan uji tersebut, tetapi Arief
(2015) tidak melaporkan apakah efek toksik itu bisa hilang atau tidak karena adanya
regenerasi fungsi hati bila pemakaian dihentikan.
Hati memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa dibandingkan organ lain,
yaitu pada beberapa kasus pengangkatan sebagian hati, akan diganti dengan jaringan
hati yang baru hanya dalam beberapa hari saja (Fawcett, 2002; Price, 2005). Oleh
karena itu, peneliti ingin melanjutkan penelitian sebelumnya dengan melakukan
pemeriksaan reversibilitas fungsi hati akibat efek toksik dari ekstrak tumbuhan
Cassytha filiformis L. Diharapkan dengan dilakukannya penelitian ini, selain dapat
menambah wawasan tentang reversibilitas fungsi hati, juga dapat membantu
masyarakat dalam menggunakan dosis dan lama pemakaian ekstrak Cassytha
filiformis ini dengan tepat sehingga terhindar dari efek toksik yang berbahaya pada
hati.
b. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah :
1. Apakah efek toksik pada hati mencit putih jantan akibat pemberian ekstrak
etanol Cassytha filiformis L. bersifat reversibel?
2. Pada dosis berapa efek toksik pada hati mencit putih jantan akibat pemberian
ekstrak etanol Cassytha filiformis L. dapat hilang atau berkurang setelah
diberhentikan pemberiannya?
3. Setelah diberhentikan pemberian ekstrak etanol Cassytha filiformis L., pada
hari ke berapakah efek toksik pada hati mencit putih jantan tersebut dapat
menurun atau hilang?
c. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Reversibilitas efek toksik pada hati mencit putih jantan akibat pemberian
ekstrak etanol Cassytha filiformis L.
2. Dosis yang dapat menurun atau hilang efek toksiknya pada hati mencit putih
jantan setelah diberhentikannya pemberian ekstrak etanol Cassytha filiformis L.
3. Hari ke berapa efek toksik pada hati mencit putih jantan dapat menurun atau
hilang, Setelah diberhentikan pemberian ekstrak etanol Cassytha filiformis L.

d. Hipotesa
Hipotesis dari penelitian ini adalah :
1. Efek toksik pada hati mencit putih jantan akibat pemberian ekstrak etanol
Cassytha filiformis L. bersifat reversible.
2. Pada dosis tertentu efek toksik pada hati mencit putih jantan akibat pemberian
ekstrak etanol Cassytha filiformis L. dapat hilang atau menurun setelah
diberhentikan pemberiannya.
3. Setelah diberhentikan pemberian ekstrak etanol Cassytha filiformis L., efek
toksik pada hati mencit putih jantan menurun atau hilang pada hari tertentu.

6. Masalah etik yang mungkin timbul :


Perkandangan harus selalu dijaga, makanan dan minuman dalam keadaan bersih dan
cukup,rasa nyeri yang ditimbulkan saat pengambilan darah pada ekor mencit, hewan uji
dibunuh dengan cara yang benar, hewan uji mati dikubur dengan cara yang layak.

7. Prosedur eksperimen (frekuensi, interval, dan jumlah total segala tindakan


invasive yang akan dilakukan, dosis dan cara pemberian obat, isotop, radiasi, atau
tindakan lain)

a. Pembagian Kelompok Hewan Uji


Hewan yang digunakan adalah mencit putih jantan dengan berat rata-rata 25-30
gram berjumlah 36 ekor (dilebihkan 12 ekor menjadi 48 ekor) diberikan ekstrak tali
putri selama 7 hari secara peroral. Pengelompokan dilakukan dengan cara random
sampling dengan pembagian sebagai berikut :

Kelompok Perlakuan

1 Dosis 5 mg/kg BB dibunuh masing-masing 3 ekor pada hari

ke 8, 9, 12, dan 15

2 Dosis 10 mg/kg BB dibunuh masing-masing 3 ekor pada

hari ke 8, 9, 12, dan 15

3 Dosis 20 mg/kg BB dibunuh masing-masing 3 ekor pada

hari ke 8, 9, 12, dan 15


b. Uji Pengaruh Ekstrak Tali Putri Terhadap Fungsi Hati
Sebanyak 36 ekor mencit dikelompokkan secara acak dibagi dalam 3

kelompok utama, dimana kelompok tersebut dibagi berdasarkan dosis yang berbeda

yaitu kelompok I : 5 mg/kg BB, kelompok II : 10 mg/kg BB, dan kelompok : III 20

mg/kg BB, kemudian masing-masing kelompok dosis dibagi menjadi 3 sub-

kelompok, dimana masing-masing sub-kelompok terdiri atas 3 ekor. Ekstrak

diberikan secara oral selama 7 hari, lalu dihentikan pemberiannya dan dilakukan

pengamatan pada hari ke-8, 9, 12 dan 15. Pengamatan dilakukan untuk melihat

fungsi hati melalui beberapa parameter, yakni pemeriksaan kadar SGPT dan

menghitung rasio bobot organ hati.

A. Pemeriksaan Kadar SGPT Plasma

Sebanyak 1,5 mL darah segar diambil dengan cara puncture jantung di bagian

dada atau daerah jantung mencit dan ditampung dengan microtube untuk selanjutnya

dipisahkan serumnya dengan cara di sentrifuge pada kecepatan 3000 rpm selama 3

menit. Serum yang telah terpisah kemudian dipipet menggunakan pipet mikro dan

dimasukkan ke dalam microtube. Sebanyak 100 L serum dipindahkan ke dalam

tabung reaksi, kemudian ditambahkan 1 mL reagen 1, selanjutnya dicampur

menggunakan vortex lalu didiamkan selama 5 menit. Setelah itu dilanjutkan dengan

pemberian reagen 2 sebanyak 0,25 mL, campur dan diamkan, kemudian diukur

absorban menggunakan spektrofotometer UV Visible denga panjang gelombang 365

nm pada menit ke 1, 2, dan 3 (Bergmeyer, 1974)

Aktivitas SGPT dapat dihitung dengan rumus :

Aktivitas SGPT (U/L) = A / menit x F

Keterangan :

A / menit = perubahan absorban rata-rata per menit


(Abs samp 2abs samp 1)+ (abs samp 3abs samp 2)
A / menit = 2

Abs samp 1 : absorban sampel pada menit pertama

Abs samp 2 : absorban sampel pada menit ke-2

Abs samp 3 : absorban sampel pada menit ke-3

F : faktor 3235 untuk pengukuran pada panjang gelombang 365 nm

B. Pemeriksaan Kadar SGOT Plasma

Sejumlah 100 L serum uji direaksikan dengan 1000 L pereaksi uji untuk

pemeriksaan GOT di dalam tabung reaksi 5 mL dihomogenkan dengan bantuan

vortex. Absorbansinya diukur dengan spektrofotometer pada suhu kamar tepat

setelah menit ke 1, 2, dan 3 pada panjang gelombang 340 nm. Hal yang sama

dilakukan terhadap blangko (pereaksi + aquades). Kadar GOT dapat ditentukan

dengan menghitung rata-rata selisih absorbansi sampel permenit dikalikan faktor

1745. (BPOM RI, 2014)

Rumus yang digunakan sebagai berikut:

(A3A2)+ (A2A1)
A sampel = 2

(A3A2)+ (A2A1)
A blangko = 2

GOT (U/I) = ( A Sampel - A blangko ) x faktor 1745

C. Perhitungan Rasio Bobot Organ Hati

Organ hati yang akan diambil dari mencit harus dikeringkan terlebih dahulu

dengan kertas penyerap, kemudian segera ditimbang untuk mendapatkan bobot organ

absolute (BPOM RI, 2014). Bobot organ relatif dapat diperoleh dengan rumus

berikut :

bobot organ absolut


bobot organ relatif = bobot badan
8. Bahaya potensial yang langsung atau tidak langsung, segera atau kemudian dan
cara mencegah atau mengatasi kejadian (termasuk rasa nyeri dan keluhan)

Bahaya potensial yang akan terjadi yaitu kesalahan pada saat pengambilan darah dengan
cara puncture jantung sehingga darah harus berkali-kali diambil. Solusi yang dilakukan
adalah meminta bantuan kepada analis laboratorium untuk mengambilkan darah dan
melakukan anestesi terlebih dahulu sebelum hewan uji diambil darahnya, setelah itu
darah dimasukkan ke dalam tabung Na EDTA dan hewan uji dibunuh dengan cara
dislokasi leher lalu diambil organ hatinya.

9. Pengalaman yang terdahulu ( sendiri atau orang lain ) dari tindakan yang akan
diterapkan.

Penelitian tentang uji toksisitas ekstrak etanol tali putri pada hati mencit putih jantan
yang telah dilakukan peneliti sebelumnya (Arief, 2015) menunjukan bahwa ekstrak tali
putri dapat meningkatkan nilai SGPT dan menurunnya waktu induksi tidur (onset) serta
perpanjangan lama tidur hewan uji tersebut pada hari ke 7 dengan dosis 5 mg/kg BB.

10. Bila penelitian ini menggunakan orang sakit dan dapat memberi manfaat untuk
subyek yang bersangkutan, uraikan manfaat itu?

Penelitian ini menggunakan hewan uji

11. Bagaimana cara memilih penderita/ sukarelawan sehat?

Penelitian ini menggunakan hewan uji

12. Bila penelitian menggunakan subyek manusia, jelaskan hubungan antara peneliti
utama dengan subyek yang diteliti?

Penelitian ini menggunakan hewan uji

13. Bila penelitian ini menggunakan orang sakit, jelaskan diagnosis dan nama dokter
yang bertanggung jawab merawatnya. Bila menggunakan orang sehat jelaskan
cara pengecekan kesehatannya!

Penelitian ini menggunakan hewan uji

14. Jelaskan cara pencatatan selama penelitian, termasuk efek samping dan
komplikasi bila ada

Pencatatan selama penelitian dilakukan menggunakan logbook yang berisi kegiatan yang
dilakukan setiap hari selama penelitian. Untuk perlakuan terhadap hewan uji dicatat
setiap perkembangan berat badan dari proses aklimatiasi dan setiap 7 hari selama
penelitian berlangsung. Jika terjadi kematian atau komplikasi, hewan uji dikeluarkan dari
penelitian dan untuk penggantinya telah dilakukan sejak awal penelitian dimana hewan
uji dilebihkan satu ekor dari tiap kelompok perlakuan.
15. Bila penelitian ini menggunakan subyek manusia, jelaskan bagaimana cara
memberitahukan dan mengajak subyek (lampirkan surat persetujuan penderita)?

Penelitian ini menggunakan hewan uji

16. Bila penelitian menggunakan subyek manusia, apakah subyek dapat ganti rugi bila
ada gejala efek samping?

Penelitiaan ini menggunakan hewan uji

17. Bila penelitian menggunakan subyek manusia, apakah subyek diasuransikan?

Penelitian ini menggunakan hewan uji

18. Nama tim peneliti :

Organisasi Pelaksana
Penelitian ini merupakan persyaratan untuk menyelesaikan studi Program Sarjana
Fakultas Farmasi Universitas Andalas dengan peneliti sebagai berikut.
Peneliti : Mifta Hul Jannah
Pembimbing I : Prof. Dr. Hj. Armenia, MS., Apt
Pembimbing II : Prof. Dr. Helmi Arifin, MS., Apt

19. Tempat dan Waktu penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama lebih kurang 2 bulan, di Laboratorium


Farmakologi Fakultas Farmasi dan Laboratorium Biota Sumatera Fakultas Farmasi
Universitas Andalas dengan rincian sebagai berikut :
a. Karakterisasi ekstrak etanol tali putri
b. Penyiapan hewan uji
c. Uji Pengaruh Ekstrak Tali Putri Terhadap Fungsi Hati hewan uji, yaitu : perhitungan nilai
SGPT dan SGOT hewan uji, dan perhitungan rasio bobot hati hewan uji

Padang, 23 Mei 2016


Peneliti Utama

Mifta Hul Jannah