Anda di halaman 1dari 3

BIOGRAFI ABU AL-'ABBAS ABDULLAH BIN MUHAMMAD AS-SAFFAH

Abu al-'Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah (721 - 754) (Bahasa Arab:
) merupakan khalifah pertama Bani Abbasiyah. Bani Abbasiyah berkuasa
antara 750 sampai 1258, dan ia berkuasa sampai kematiannya pada 754. Nama lengkapnya
adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas binAbdul-
Muththalib bin Hasyim.

Keluarga

Abu al-'Abbas merupakan pemimpin salah satu cabang Bani Hashim, yang menisbatkan nasabnya
kepada Hasyim, buyut Nabi Muhammad, melalui al-Abbas, paman Nabi SAW.Bani Hasyim mendapat
dukungan besar dari golongan Syiah yang berpikir bahwa keluarganya, yang telah diturunkan dari
Nabi Muhammad dan Ali bin Abi Thalib, akan menurunkan pemimpin besar lainnya atau Mahdi yang
akan membebaskan Islam. Kebijakan tanggung-tanggung penguasa terakhir Umayyah untuk
mentoleransi Muslim non-Arab dan Syiah telah gagal memadamkan kerusuhan antara minoritas-
minoritas itu.

Masa pemerintahan Abul abbas as saffah dan Karyannya

Masa pemerintahan abul abbas as saffah hanya berlangsung 4 tahun. Setelah di baiat menjadi
khalifah pertama bani abbasiyah, tugas yang pertama ia lakukan adalah mengalahkan khalifah terakhir
bani umayah yaitu marwan bin muhammad. Abul abbas memberangkatkan pasukannya untuk
memerangi marwan bin muhammad yang saat itu bersama dengan tentaranya berada di Zab, marwan
dikalahkan dalam perang ini dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya
berhasil dibunuh oleh pasukan abul abbas pada januari tahun 132 H / 750 M. Dengan demikian semua
wilayah pemerintahan berada dibawah kendali abbasiyah kecuali andalusia.

Setelah marwan bin muhammad terbunuh, maka secara de facto berdiri dinasti baru yaitu Dinasti
abbasiyah dengan kekhalifahan abul abbas as saffah. Dia mengeluarkan dekrit kepada para gubernur
supaya tokoh-tokoh umayah yang memiliki darah biru semuanya dibunuh. Ia sendiri banyak
membunuh rival dari dinasti itu. bukan hanya diam di situ saja, abul abbas menggali kuburan para
khalifah umayah ( kecuali umar bin abdul aziz ) dan tulang-tulangnya pun dibakar. Oleh karena itu
rakyat damaskus, harran, hims, kinnisirin, zerusalam dan daerah lainnya memberontak, namun
pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dengan tangan besi oleh razim abul abbas as saffah.
Dalam pemerintahan abul abbas, ia menjadikan kota anbas sebagai ibukota negaranya, ia juga
disibukkan dengan upaya untuk konsolidasi internal dan untuk menguatkan pilar-pilar negara yang
hingga saat itu belum sepenuhnya stabil, oleh karena itulah, dia tidak banyak fokus terhadap masalah
penaklukan wilayah karena pertempuran di kawasan turki dan asia tengah terus bergolak.
Oleh karena itu, pemerintahan abul abbas as saffah bersandar pada tiga hal utama yaitu
1. keluarganya sebab dia memiliki paman, saudara-saudara, dan anak-anak saudara dalam jumlah besar.
Mereka menyerahkan kepemimpinan dan pemerintahan wilayah kepadanya, demikian juga dalam
masalah nasihat dan musyawarah.

2. Abu muslim khurasani. Dia adalah panglima perang yang jempolan. Dengan kekuatan dan tekadnya
yang kokoh, dia mampu menaklukan khurasan dan irak sehingga membuka jalan yang lapang bagi
berdirinya pemerintahan abbasiyah

3. Fanatisme golongan. Dia muncul pada akhir-akhir dan melemahnya pemerintahan umayah peluang
ini di manfaatkan oleh bani abbasiyah mereka bersama-sama dengan yamaniyun bergerak melawan
qoysiyun yang berpihak kepada bani umayah.