Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan anak yang menandakanadanya kelainan
khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu
dan yang lainnya. Di negara Indonesia, anak berkebutuhan khusus yang mempunyai
gangguan perkembangan dan telahdiberikan layanan antara lain adalah anak dengan
ADHD.ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder,suatu kondisi
yang pernah dikenal sebagai Attention Deficit Disorder (Sulitmemusatkan perhatian),
Minimal Brain Disorder (Ketidak beresan kecil di otak),Minimal Brain Damage (Kerusakan
kecil pada otak), Hyperkinesis (Terlalu banyak bergerak / aktif), dan Hyperactive
(Hiperaktif). Ada kira-kira 3-5% anak usiasekolah menderita ADHD (Tanner, 2007). Dengan
memperoleh pendidikan yang sesuai dengan jenis dan tingkatankelainan ABK khususnya
anak dengan ADHD, diharapkan ABK khususnyaADHD memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang berguna untuk dirinyasendiri serta dapat turut berpatisipasi dalam
pembangunan demi menciptakankesejahteraan bangsa dan negaranya.Prinsip bimbingan dan
konseling adalahGuiedance For Alldimanasemua individu memiliki hak yang sama dalam
mendapatkan layanan bimbingandan konseling, siapa pun individu itu, dari mana pun individu itu
berasal, dan bagaimana pun kondisi konseling.

B. Tujuan
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas
Sistemneurobehavior yang berjudul ADHD.
Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah untuk dapat mengetahui definisi, etiologi,
patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang serta penatalaksanaan pada
gangguan ADHD agar dapat menambah pengetahuan penulis ataupun pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan
disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Begitu pula
anak hiperaktif adalah anak yang mengalami Gangguan Pemusatan Perhatian dengan
Hiperaktivitas (GPPH) atau juga disebut denganAttention Deficit and Hyperactivity
Disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi
ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome.
Dr. Seto Mulyadi dalam bukunya Mengatasi Problem Anak Sehari-harimengatakan
pengertian istilah anak hiperaktif adalah : Hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku
yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak
bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.
Hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukkan sikap tidak
mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekehendak
hatinya). Anak hiperaktif selalu bergerak dan tidak pernah merasakan asyiknya permainan
atau mainan yang disukai oleh anak-anak lain seusia mereka, dikarenakan perhatian mereka
suka beralih dari satu fokus ke fokus yang lain. Mereka seakan-akan tanpa henti mencari
sesuatu yang menarik dan mengasikkan namun tidak kunjung datang.
Jadi yang dimaksud dengan hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang
yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan
impulsif (bertindak sekehendak hatinya). Anak hiperaktif selalu bergerak dan tidak pernah
merasakan asyiknya permainan atau mainan yang disukai oleh anak-anak lain seusia mereka,
dikarenakan perhatian mereka suka beralih dari satu fokus ke fokus yang lain. Mereka
seakan-akan tanpa henti mencari sesuatu yang menarik dan mengasikkan namun tidak
kunjung datang.

B. KLASIFIKASI
a. Tipe Anak yang Tidak Bisa Memusatkan Perhatian
Dalam tipe ini, anak sangat mudah terganggu perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau
impulsif. Mereka tidak menunjukkan gejala hiperaktif. Tipe ini kebanyakan ada pada anak
perempuan. Mereka seringkali melamun dan dapat digambarkan seperti sedang berada di
awang-awang.Tidak bisa diajak bicara atau menerima instruksi karena perhatiannya terus
berpindah-pindah, pelupa dan kacau.

b. Tipe Anak yang Hiperaktif dan Impulsif


Anak-anak dalam tipe ini menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif dan impulsif,
tetapi bisa memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan pada anak- anak kecil.Anak
dalam tipe ini memiliki ciri-ciri berikut: terlalu energik, lari ke sana kemari, melompat
seenaknya, memanjat-manjat, banyak bicara, berisik.
Ia juga impulsif: melakukan sesuatu secara tak terkendali, begitu saja bertindak tanpa
pertimbangan, tak bisa menunda respons, tidak sabaran. Tetapi yang mengherankan, sering
pada saat belajar, ia menampakkan tidak perhatian, tetapi ternyata ia bisa mengikuti
pelajaran.

c. Tipe Gabungan.
Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif dan impulsif. Kebanyakan
anak-anak termasuk tipe seperti ini.Anak dalam tipe ini mempunyai ciri-ciri berikut: kurang
mampu memperhatikan aktivitas dan mengikuti permainan atau menjalankan tugas,
perhatiannya mudah terpecah, mudah berubah pendirian, selalu aktif secara berlebihan dan
impulsif.

C. ETIOLOGI
Pandangan-pandangan serta pendapatpendapat mengenai asal usul, gambaran
gambaran, bahkan mengenai realitas daripada gangguan ini masih berbedabeda serta
dipertentangkan satu sama lainnya. Beberapa orang berkeyakinan bahwa gangguan tersebut
mungkin sekali timbul sebagai akibat dari gangguangangguan di dalam neurokimia atau
neurofisiologi susunan syaraf pusat. Istilah gangguan kekurangan perhatian merujuk kepada
apa yang oleh banyak orang diyakini sebagai gangguan yang utamanya. Sindroma tersebut
diduga disebabkan oleh faktor genetik, pembuahan ataupun racun, bahayabahaya yang
diakibatkan terjadinya prematuritas atau immaturitas, maupun rudapaksa, anoksia atau
penyulit kelahiran lainnya.
Telah dilakukan pula pemeriksaan tentang temperamen sebagai kemungkinan
merupakan faktor yang mempermudah timbulnya gangguan tersebut, sebagaimana halnya
dengan praktek pendidikan serta perawatan anak dan kesulitan emosional di dalam interaksi
orang tua dan anak yang bersangkutan. Sampai sekarang tidak ada satu atau beberapa faktor
penyebab pasti yang tidak dapat diperlihatkan. Namun untuk sementara banyak pendapat
yang mengungkapkan bahwa anak yang hiperaktif memiliki pencetus antara lain:
a. Faktor Genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak
hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya
hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar. Anak laki-laki
dengan eksra kromosom Y yaitu XYY, kembar satu telur lebih memungkinkan hiperaktif
dibanding kembar dua telur.
b. Faktor Neurologik
Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-
masalahprenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara
ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan
persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan
rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan
insiden hiperaktif.

Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neuorologi yang
sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak
yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara
proses konsentrasi.

Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak
hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah orbital-limbik otak,
khususnya sisi sebelah kanan.
c. Faktor toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memiliki potensi untuk
membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah dalam serum darah
anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada
saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.
d. Faktor Kultural dan Psikososial
Pemanjaan
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak terlalu manis, membujuk-
bujuk makan, membiarkan saja, dan sebagainya. Anak yang terlalu dimanja itu sering
memilih caranya sendiri agar terpenuhi kebutuhannya.
Kurang Disiplin dan Pengawasan
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan akan berbuat sesuka hatinya, sebab perilakunya
kurang dibatasi. Jika anak dibiarkan begitu saja untuk berbuat sesuka hatinya dalam rumah,
maka anak tersebut akan berbuat sesuka hatinya ditempat lain termasuk di sekolah. Dan
orang lain juga akan sulit untuk mengendalikannya di tempat lain baik di sekolah maupun di
masyarakat.
Kesenangan
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi kesenangan umumnya akan memiliki ciri-
ciri hiperaktif secara sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda agar mau
mendengarkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

D. MANIFESTASI KLINIS
Ukuran objektif tidak memperlihatkan bahwa anak yang terkena gangguan ini
memperlihatkan aktifitas fisik yang lebih banyak, jika dibandingkan dengan anakanak
kontrol yang normal, tetapi gerakangerakan yang mereka lakukan kelihatan lebih kurang
bertujuan serta mereka selalu gelisah dan resah. Mereka mempunyai rentang perhatian yang
pendek, mudah dialihkan serta bersifat impulsif dan mereka cenderung untuk bertindak tanpa
mempertimbangkan atau merenungkan akibat tindakan tersebut. Mereka mempunyai
toleransi yang rendah terhadap perasaan frustasi dan secara emosional mereka adalah orang
orang yang labil serta mudah terangsang. Suasana perasaan hati mereka cenderung untuk
bersifat netral atau pertenangan, mereka kerap kali berkelompok, tetapi secara sosial mereka
bersikap kaku. Beberapa orang di antara mereka bersikap bermusuhan dan negatif, tetapi ciri
ini sering terjadi secara sekunder terhadap permasalahanpermasalahan psikososial yang
mereka alami. Beberapa orang lainnya sangat bergantung secara berlebihlebihan, namun
yang lain lagi bersikap begitu bebas dan merdeka, sehingga kelihatan sembrono.
Kesulitan-kesulitan emosional dan tingkah laku lazim ditemukan dan biasanya sekunder
terhadap pengaruh sosial yang negatif dari tingkah laku mereka. Anak-anak ini akan
menerima celaan dan hukuman dari orang tua serta guru dan pengasingan sosial oleh orang-
orang yang sebaya dengan mereka. Secara kronik mereka mengalami kegagalan di dalam
tugas-tugas akademik mereka dan banyak diantara mereka tidak cukup terkoordinasi serta
cukup mampu mengendalikan diri sendiri untuk dapat berhasil di dalam bidang olah raga.
Mereka mempunyai gambaran mengenai diri mereka sendiri yang buruk serta mempunyai
rasa harga diri yang rendah dan kerap kali mengalami depresi. Terdapat angka kejadian tinggi
mengenai ketidakmampuan belajar membaca matematika, mengeja serta tulis tangan. Prestasi
akademik mereka dapat tertinggal 1 2 tahun dan lebih sedikit daripada yang sesunguhnya
diharapkan dari kecerdasan mereka yang diukur.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang akan menegakkan diagnosis gangguan
kekurangan perhatian. Anak yang mengalami hiperaktivitas dilaporkan memperlihatkan
jumlah gelombang-gelombang lambat yang bertambah banyak pada elektorensefalogram
mereka, tanpa disertai dengan adanya bukti tentang penyakit neurologik atau epilepsi yang
progresif, tetapi penemuan ini mempunyai makna yang tidak pasti. Suatu EEG yang
dianalisis oleh komputer akan dapat membantu di dalam melakukan penilaian tentang
ketidakmampuan belajar pada anak itu.
Selain itu, digunakan instrumen Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif (SPPAHI)
untuk deteksi ADHD pada anak berusia 6-13 tahun, yang dapat dipakai oleh orang tua, guru,
dokter. Jika fasilitas tersedia, sebelum dan sesudah pemberian terapi, dapat dilakukan
pemeriksaan cognitive Event Related Potential (ERP), Matching Familiar Test, dan
Continuous Performance Test untuk menilai kemampuan memusatkan perhatian dan tingkat
kewaspadaan.

F. PENATALAKSANAAN
1. Keperawatan
Pengobatan serta perawatan yang harus dilaksanakan pada anak yang mengalami gangguan
hiperaktif ditujukan kepada keadaan sosial lingkungan rumah dan ruangan kelas penderita
serta kepada kebutuhan-kebutuhan akademik dan psikososial anak yang bersangkutan, suatu
penjelasan yang terang mengenai keadaan anak tersebut haruslah diberikan kepada kedua
orang tuanya dan kepada anak itu sendiri.
Anak tersebut hendaklah mempunyai aturan yang berjalan secara teratur menurut jadwal
yang sudah ditetapkan dan mengikuti kegiatan rutinnya itu, dan sebaiknya selalu diberikan
kata-kata pujian.
Perangsangan yang berlebihan serta keletihan yang sangat hebat haruslah dihindarakan, anak
tersebut akan mempunyai saat-saat santai setelah bermain terutama sekali setelah ia
melakukan kegiatan fisik yang kuat dan keras
Periode sebelum pergi tidur haruslah merupakan masa tenang, dengan cara menghindarkan
acara-acara televisi yang merangsang, permainan-permainan yang keras dan jungkir balik.
Lingkungan di sekitar tempat tidur sebaiknya diatur sedemikian rupa, barang-barang yang
membahayakan dan mudah pecah dihindarkan.
Tehnik-tehnik perbaikan aktif yang lebih formal akan dapat membantu, dengan memberikan
hadiah kepada anak tersebut berupa bintang atau tanda sehingga mereka dapat mencapai
kemajuan dalam tingkah laku mereka.

2. Medis
Terapi farmakologi :
Farmakoterapi kerap kali diberikan kepada anak-anak yang mengalami gangguan
hiperaktif. Farmakologi yang sering digunakan adalah dekstroamfetamin, metilfenidat,
magnesium pemolin serta fenotiazin. obat tersebut mempunyai pengaruh-pengaruh
sampingan yang lebih sedikit. Cara bekerja obat tersebut mungkin sekali adalah dengan
mengadakan modifikasi di dalam gangguan-gangguan fundamental pada rentang perhatian,
konsentrasi serta impulsivitas. Oleh karena respon yang akan mereka berikan terhadap
pengobatan tidak dapat diramalkan sebelumnya, maka biasanya diperlukan suatu masa
percobaan klinik, mungkin akan dibutuhkan waktu 2-3 minggu dengan pemberian
pengobatan setiap hari untuk menentukan apakah akan terdapat pengaruh obat itu atau tidak.

Dosis:
Obat tersebut diberikan setelah makan pagi dan makan siang, agar hanya memberikan
pengaruh yang minimal kepada nafsu makan dan tidur penderita.
Metilfenidat : dosis yang diberikan berbeda-beda sesuai dengan usia masing-masing anak
akan tetapi berat badan tidak berpengaruh terhadap dosis.pada awalnya mereka diberikan 5
mg pada saat makan pagi serta pada waktu makan siang. Jika tidak ada respon yang diberikan
maka dosis di naikan dengan 2,5 mg dengan selang waktu 3-5 hari. Bagi anak-anak yang
berusia 8-9 tahun dosis yang efektif adalah 15-20 mg/24 jam. Sementara itu anak yang
berusia lebuh lanjut akan memerlukan dosis sampai 40 mg/jam. Pengaruh obat ini akan
berlangsung selama 2-4 hari. Biasanya anak akan bersifat rewel dan menangis. Jika
pemakaian obat ini sudah berlangsung lama dan dosis yang diberikan lebih dari 20 mg/jam
rata-rata mereka akan mengalami pengurangan 5 cm dari tinggi yang diharapkan.
Dekstroamfetamin : dapat diberikan dalam bentuk yang dilepaskan (showreleased) secara
sedikit demi sedikit. Dosis awalnya adalah 10 mg dengan masa kerja selama 8-18 jam
sehingga penderita hanya membutuhkan satu dosis saja setiap hari, pada waktu sarapan pagi.
Dosisnya dalah kira sebesar setengah dosis metilfenidat, berkisar antara 10-20 mg/jam
Magnesium pemolin : dianjurkan untuk memberikan dosis awal sebesar 18,75 mg, untuk
selanjutnya dinaikan dengan setengah tablet/minggu. Akan dibutuhkan waktu selama 3-4
minggu untuk menetapkan keefektifan obat tersebut. Efek samping dari obat tersebut adalah
berpengaruh terhadap fungsi hati, kegugupan serta kejutan otot yang meningkat.
Fenotiazin : dapat menurunkan tingkah laku motorik anak yang bersangkutan, efek samping
: perasaan mengantuk, iritabilitas serta distonia.
CONCERTA
Indikasi
Adhd yang bekerja selamaq 12 jam dengan dosis 1x1 di pagi hari
kandungan : metilfenidat HCL 18mg,36mg.
Dosis max 1 hari 1x54mg.
PROHIPER 10
Kandungan : metifenidat HCL 10mg.
Dosis anak2 (< 6 th):2x5mg
Dewasa 20-30 mg
Persediaan tablet
RITALIN/RITALIN SR/RITALIN LA
Kandungan : metilfenidat HCL 10 mg,30 mg, 40 mg
Dosis : tab dewasa sehari 2-3 tab
Anak-anak <6 th,awal 2x1/2 tab dg peningkatan - 1 tab per minggu
Max sehari 6 tab.
Secara umum efek samping dari pemakaian obat-obatan tersebut diatas adalah
anoreksia dan penurunan berat badan, nyeri perut bagian atas serta sukar tidur, anak akan
mudah menangis serta peka terhadap celaan ataupun hukuman, detak jantung yang meningkat
serta penekanan pertumbuhan. Jika terjadi hal demikian maka pengurangan dosis atau
penghentian pengguanaan obat-obatan perlu dihentikan.
G. PRINSIP-PRINSIP PENERAPAN TERAPI BERMAIN
Berdasarkan luasnya batasan terapi bermain maka penerapannya bagi penyandang ADHD
memerlukan batasan-batasan yang lebih spesifik, disesuaikan dengan karakteristik penyandang
ADHD sendiri. Pada anak penyandang ADHD, terapi bermain dapat dilakukan untuk membantu
mengendalikan aktivitas yang berlebihan (hiperaktivitas), melatih kemampuan mempertahankan
perhatian pada objek tertentu, mengembangkan ketrampilan menunggu giliran, dan mengendalikan
tingkat agresivitas. Tentu saja pemberian terapi perilaku ini akan kurang efektif tanpa dibarengi
dengan tritmen yang berupa obat-obatan yang membantu untuk mengendalikan agresivitas,
memberikan ketenangan kepada anak, dan mengurangi kecemasan.
Pada prinsipnya terapi bermain digunakan untuk menjadi media bagi anak untuk:
1. mengalihkan perhatiannya dari aktivitas yang berlebihan namun tidak bermanfaat
2. melatih anak melakukan tugas satu persatu
3. melatih anak menunggu giliran
4. mengalihkan sasaran agresivitas.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian terapi bermain bagi anak ADHD adalah:
1. Salah satu yang perlu diperhatikan pada anak ADHD adalah sensitivitas mereka terhadap perubahan
sehingga kita harus membantu menciptakan sesuatu yang rutin untuk mereka. Dalam hal ini
konsistensi yang dapat diciptakan terapis misalnya dalam hal waktu, aturan bermain, tempat, dan
jumlah alat permainan. Pemilihan ini harus didasarkan pada kondisi anak dan target perilaku yang
dituju.
2. Permainan yang digunakan harus dipecah-pecah menjadi komponen-komponen kecil yang diajarkan
satu persatu dengan tahap dan cara yang sama. Mereka selalu sulit mengorganisasikan waktu
sehingga kita harus membantu untuk memecah-mecah tugas menjadi komponen-komponen kecil
yang sederhana. Misalnya: cara menggambar di bagi dalam kegiatan mengambil kertas, mengambil
pensil, mengambil crayon, dst.
3. Terapi diberikan dalam beberapa tahap, pertama dengan satu anak satu terapis dalam tempat
terapi khusus, kemudian perlahan-lahan anak akan dilibatkan dalam permainan bersama anak lain
(sebaiknya yang tidak ADHD), dan jika sudah memungkinkan maka anak dilibatkan dalam kelompok
yang lebih besar. Permainan sosial ini harus dirancang terapis dan orang tua untuk membantu anak
mengembangkan ketrampilan bersosialisasi.
4. Terapi bagi anak penyandang ADHD tidak dapat dilakukan hanya dengan terapi tunggal. Mengingat
bahwa gangguannya berkaitan dengan sirkuit di dalam otak, maka terapi bermain sebaiknya
dilakukan bersama-sama dengan terapi yang lain, yaitu terapi farmakologi. Rencana program terapi
yang dijalankan pun harus disusun dengan terpadu dan terstruktur dengan baik, begitu juga proses
evaluasinya.
5. Jika secara umum terapi bermain memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi dan
eksplorasi, maka pada anak ADHD hal ini justru akan digunakan untuk memperkenalkan aturan-
aturan dan mengendalikan perilaku.
6. Terapi bermain bagi penyandang ADHD dapat ditujukan untuk meminimalkan/menghilangkan
perilaku agresif, perilaku menyakiti diri sendiri, dan menghilangkan perilaku berlebihan yang tidak
bermanfaat. Hal ini dapat dilakukan dengan melatihkan gerakan-gerakan tertentu kepada anak,
misalnya tepuk tangan, merentangkan tangan, menyusun balok, bermain palu dan pasak, dan alat
bermain yang lain. Dengan mengenalkan gerakan yang lain dan berbagai alat bermain yang dapat
digunakan maka diharapkan dapat digunakan untuk mengalihkan agresivitas yang muncul, juga jika
anak sering berlarian tak bertujuan. Mengenalkan anak pada permainan konstruktif seperti
menyusun balok juga akan membantu anak mengenal urutan dan membantu mengembangkan
ketrampilan motorik

H. TERAPI BERMAIN
1. Pelampung, anak ADHD memiliki banyak energi yang perlu disalurkan lewat aktivitas
fisik. Olahraga seperti berenang bisa jadi salah satu cara.
2. Balok mencocokkan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat sehingga membangkitkan
kepercayaam diri anak ADHD yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas yang perlu
waktu lama.
3. Krayon besar, memberi kesempatan anak ADHD melakukan sesuatu tanpa ada yang
mengatakan benar-salah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan
hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini
juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain
dysfunction syndrome. Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat
susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk
tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong
pembicaran guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang
diajarkan guru kepadanya.
Bimbingan dan konseling menjadi sarana mengatasi anak hiperaktif baik bimbingan
konseling yang dilakukan di rumah maupun di sekolah. Selain itu perlu ada kerjasama antara
pihak sekolah dan orang tua dalam menangani anak yang hiperaktif. Kerjasama yang baik
antara semua pihak dalam menangani anak hiperaktif akan sangat membantu dalam
perbaikannya kedepan demi masa depan anak tersebut.

B. Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat
berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih D. 1978. Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Huda, M. Sholikul. Mengenal Anak Hiperaktif (Gangguan Hiperkinetik). [t.t]: [t.p]
L. Betz, Cecily, A. Sowden, Linda. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Alih Bahasa Jan
Tambayong. Jakarta, EGC.
Nelson. 2002. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian 1. Alih Bahasa Hunardja S. Jakarta, Widya Medika.
Setiawani, Mary Go . 2000. Menerobos Dunia Anak. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
Suryadi, Drs. 2007. Cara Efektif Mamahami Perilaku Anak Usia Dini. [t.t]: [t.p]
Zafiera, Ferdinand. 2007. Anak Hiperaktif. Jogjakarta: Katahati.