Anda di halaman 1dari 5

BAB V

PEMBAHASAN

A. Pembahasan Analisis Univariat

1. Karakteristik Berdasarkan Hilangnya Gejala Klinis TB Paru

Pada tabel 4.1 didapatkan dari 80 responden bahwa responden

yang hilang gejala klinis TB paru cepat atau < 2 bulan sebanyak 36

orang (45,0%) sedangkan responden lambat atau > 2 bulan hilang gejala

klinis TB paru sebanyak 44 (55,0%) ini menunjukan bahwa responden

lebih lambat hilang gejala klinis.

Menurut peneliti, hal ini diakibatkan oleh kemungkinan

pengaruh obat anti tuberkulosis yang tidak efektif dan mengakibatkan

terjadinya resistensi terhadap obat anti tuberkulosis.

Perbaikan gejala klinis tuberkulosis timbul dalam 2 hingga 3

minggu pertama pada sebagian besar pasien (Thomas, 2000).

Penelitian ini, didapatkan hasil yang berbeda dengan penelitian

yang dilakukan oleh Beelt (2014) dengan judul hubungan kepatuhan

pengobatan dengan hilangnya gejala klinis tuberkulosis paru di Poli

Paru RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado didapatkan hasil yang

berbeda dengan peneliti yaitu dari 30 responden yang menjalani

pengobatan OAT yang hilangnya gejala klinis TB paru cepat atau < 2

bulan sebanyak 16 orang (53.3%), sedangkan yang lambat atau > 2

bulan sebanyak 14 orang (46.7). Hal ini menunjukan bahwa responden


55
56

lebih cepat hilang gejala klinis, sesuai dengan penelitian oleh Asra

(2013) dimana hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa dengan pasien

patuh berobat yang baik maka akan cepat sembuh.

2. Karakterisrik Berdasarkan Kepatuhan Pengobatan OAT

Pada tabel 4.2 didapatkan bahwa responden yang patuh

sebanyak 61 orang (76.3%) sedangkan responden yang tidak patuh

sebanyak 19 (23,8%).

Dari hasil diatas, menunjukkan angka kepatuhan pengobatan

OAT pada pasien TB paru cukup tinggi, namun angka kepatuhan

pengobatan OAT masih belum mencapai target nasional, dimana angka

kesuksesan pengobatan OAT seharusnya > 86% dan angka

ketidakpatuhan seharusnya tidak boleh lebih dari 5% dikarenakan

putusnya masa pengobatan sebelum waktunya akan mengakibatkan

peningkatan resistensi (kekebalan) kuman, sehingga menjadi tidak

efektif (Nugrahreni P.H., 2006).

Penelitian ini, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Senewe (2002) dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi

kepatuhan berobat penderita tuberkulosis paru di Depok, didapatkan

dari 215 responden yang berobat terdapat yang patuh sebanyak 144

(67%) responden, sedangkan yang tidak patuh 71 (33%) responden.

Penelitian ini, didukung oleh Beelt (2014) dengan judul

hubungan kepatuhan pengobatan dengan hilangnya gejala klinis

tuberkulosis paru di Poli Paru RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado,


57

didapatkan dari 30 pasien pengobatan OAT yang patuh sebanyak 16

orang (53.3%), sedangkan yang tidak patuh sebanyak 14 orang (46.7%).

Menurut penelitian lainya yang mendukung yaitu oleh Kondoy

dkk, (2014) dengan judul faktor-faktor yang berhubungan dengan

kepatuhan berobat pasien tuberkulosis paru di lima Puskesmas di Kota

Manado didapatkan dari 171 pasien pengobatan OAT yang patuh

sebanyak 138 orang (80.7%), sedangkan yang tidak patuh sebanyak 33

orang (19.3%).

B. Pembahasan Analisis Bivariat

1. Karakterisrik Responden Berdasarkan Hubungan Hilangnya

Gejala Klinis TB paru dengan Kepatuhan Pengobatan OAT

Pada tabel 4.3 didapatkan bahwa dari total sampel 80 orang

didapatkan responden yang hilang gejala klinis cepat dan patuh

sebanyak 22 orang (61.1%), cepat dan tidak patuh sebanyak 14 orang

(38.9%), sedangkan responden yang hilang gejala klinis lambat dan

patuh sebanyak 39 orang (88.6%), lambat dan tidak patuh sebanyak 5

orang (11.4%). Berdasarkan hasil analisis statistik terdapat hubungan

yang signifikan antara hilangnya gejala klinis TB paru dengan

kepatuhan pengobatan OAT. Diperoleh nilai p value = 0.009 atau

(<0.05).

Menurut pengamatan peneliti, penyebab responden yang

lambat hilang gejala klinis lebih patuh, karena timbul ketakutan dan

kecemasan akibat gejala klinis yang tidak hilang setelah 2 bulan


58

pengobatan OAT sehingga responden lebih teratur dan patuh dalam

mengkonsumsi OAT. Pada responden yang hilang gejala klinis cepat

atau sebelum 2 bulan lebih tidak patuh karena merasa sembuh sebelum

pengobatan selesai terutama pada fase intensif pengobatan OAT.

Gejala klinis TB biasanya hilang dalam fase intensif dengan

pengambilan obat yang teratur. Gejala klinis TB paru biasanya

berkurang pada fase intensif dan pasien putus berobat karena mereka

merasa merasa bebas dari gejala klinisnya (Chandrasekaran.V et al,

2005).

Putus berobat dikaitkan dengan panjang dan kompleksitas

pengobatan keadaan dimana sebagian besar pasien merasa sembuh atau

lebih baik setelah bulan pertama atau kedua pengobatan (Shargie &

Lindtjorn 2007).

Penelitian ini, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Vedikaran (2012) dengan judul hubungan hilangnya gejala klinis TB

paru dengan kepatuhan pengobatan di Poliklinik Bagian Paru RSUP H.

Adam Malik setelah dilakukan uji hipotesis dengan metode Chi Square

diperoleh nilai p (p value) adalah 0,000 (p < 0,005) bagi batuk, sesak

nafas dan demam nilai p (p value) adalah 0,000 (p <0,005) untuk batuk

berdarah adalah 0,002 (<0,005) dan nyeri dada adalah 0,003 (p< 0,005)

yang berarti bahwa ada hubungan antara hilangnya gejala klinis TB

paru dengan pengambilan pengobatan. Dari 98 orang responden

penelitian diketahui 58 orang (59,2%) yang putus berobat karena

merasa sembuh. Dari 58 orang, rata-rata 50% orang menghentikan


59

pengobatan dalam masa kurang dari 2 bulan karena gejala klinisnya

hilang dengan minum obat secara teratur.