Anda di halaman 1dari 152
PENGARUH FASILITAS BELAJAR DI SEKOLAH TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR DABIN IV

PENGARUH FASILITAS BELAJAR DI SEKOLAH TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR DABIN IV KECAMATAN PITURUH KABUPATEN PURWOREJO

Skripsi

diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

oleh

Kartika Wahyuningrum

1401410492

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2015

ii

ii

iii

iii

iv

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyiroh: 5)

Man jadda wajada

Sopo temen bakal tinemu

Siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil

(Maqolah)

Jangan menyerah atas impianmu, impian memberimu tujuan hidup. Ingatlah,

sukses bukan kunci kebahagiaan, kebahagiaanlah kunci sukses. Semangat !

(Penulis)

Persembahan

Untuk

Bapak

Kiswanto,

Ibu

Endang

Widyaningrum, Mba Saptari Kusumaningrum

dan

adikku

Arista

Ageng

Wijayaningrum,

serta para sahabatku Ira, Rini, Widiyah, Imam,

Singgih, Miftah, Devi dan Widy yang selalu

mendoakan dan memotivasiku.

v

PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan

hidayahNya,

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan

skripsi

dengan

judul

“Pengaruh Fasilitas Belajar di Sekolah terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas V

Sekolah Dasar Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo. Penulis

menyadari bahwa dalam melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi, tidak

lepas dari bimbingan, pengarahan, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang

yang telah memberikan kesempatan studi.

2. Prof. Dr. Fakhruddin,M.Pd.,Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

Negeri

Semarang

yang

penyusunan skripsi

telah

memberikan

3. Dra.

Hartati,

M.Pd.,

Ketua

Jurusan

PGSD

izin

dalam

penelitian

dan

Fakultas

Ilmu

Pendidikan

Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin penelitian.

4. Drs.

Akhmad

Junaedi,

M.Pd.,

Koordinator

UPP

Tegal

Fakultas

Ilmu

Pendidikan

Universitas

Negeri

Semarang

yang

telah

memberikan

izin

penelitian.

5. Drs. Sigit Yulianto, M.Pd., Dosen Pembimbing yang telah memberikan

bimbingan, pengarahan, dan motivasi yang bermanfaat kepada penulis dalam

penyusunan skripsi.

6. Kepala SD se-Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo yang telah

memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.

vi

7.

Guru Kelas V SD se-Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo

yang telah memberikan waktu dan bimbingannya dalam membantu penulis

melaksanakan penelitian.

8. Staf

Guru,

Karyawan,

dan

Siswa

SD

se-Dabin

IV

Kecamatan

Pituruh

Kabupaten Purworejo yang telah bersedia bekerjasama dalam penelitian.

9. Semua

pihak

yang

penyusunan skripsi.

telah

membantu

dan

memberikan

masukan

dalam

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan

pembaca.

vii

Tegal, Juni 2015

Penulis

ABSTRAK

Wahyuningrum, Kartika. 2014. Pengaruh Fasilitas Belajar di Sekolah terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas V Sekolah Dasar Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar,Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing:Drs. Sigit Yulianto, M.Pd.

Kata Kunci:Belajar; Fasilitas; Motivasi.

Motivasi belajar merupakan hal penting yang harus dimiliki siswa demi keberhasilan belajarnya. Motivasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain yaitu fasilitas belajar di sekolah. Perbedaan fasilitas belajar di sekolah yang ada di setiap sekolah kemudian memunculkan motivasi belajar siswa yang berbeda-beda pula, seperti halnya motivasi belajar siswa kelas V SD Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) pengaruh fasilitas belajar di sekolah terhadap motivasi belajar siswa kelas V SD Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo. Metode dalam penelitian ini adalah ex postfacto dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD se-Dabin IV yang berjumlah 142 siswa, tetapi karena keterbatasan dana, waktu, dan tenaga, maka dalam penelitian ini digunakan sampel sebanyak 107 siswa yang ditentukan menggunakan rumus Proporsional Random Sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan angket untuk fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar siswa. Analisis data penelitian menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) nilai signifikansi sebesar 0,030. Oleh karena 0,030 < 0,05 maka H 0 ditolak dan H a diterima, sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara fasilitas belajar di sekolah terhadap motivasi belajar siswa, (2) hasil R sebesar 0,210 yang artinya terjadi hubungan yang rendah antara fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar siswa, (3) koefisien determinasi (R 2 ) 0,044 menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel independen sebesar 4,4%. Hal ini menunjukkan bahwa 4,4% motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh fasilitas belajar di sekolah, sedangkan 95,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian.

viii

DAFTAR ISI

 

Halaman

JUDUL PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

iii

PENGESAHAN

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

v

PRAKATA

vi

ABSTRAK

viii

DAFTAR ISI

ix

DAFTAR TABEL

xii

DAFTAR GAMBAR

xiii

DAFTAR LAMPIRAN Bab

xiv

1

PENDAHULUAN

1

1.1

Latar Belakang

1

1.2

Identifikasi Masalah

6

1.3

Pembatasan Masalah

7

1.4

Rumusan Masalah

7

1.5

Tujuan Penelitian

8

1.6

Manfaat Penelitian

8

1.6.1

Manfaat Teoritis

8

1.6.2

Manfaat Praktis

8

2

KAJIAN PUSTAKA

9

2.1

Kerangka Teori

9

2.1.1

Hakikat Sarana dan Prasarana

9

2.1.2

Standar Sarana dan Prasarana ……………………

11

2.1.3

Prinsip-Prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana

13

2.1.4

Hakikat Fasilitas dan Sarana Pendidikan

15

ix

2.1.5

Fungsi Peran Fasilitas dan Sarana Pendidikan

17

2.1.6

Standar Minimum Sarana Pendidikan

18

2.1.7

Hakikat Motivasi Belajar

24

2.1.8

Strategi Motivasi Belajar

28

2.1.9

Indikator Pengukuran Motivasi

34

2.2

Hasil Penelitian yang Relevan

35

2.3

Kerangka Berpikir

41

2.4

Hipotesis Penelitian

42

3

METODE PENELITIAN

43

3.1

Desain Penelitian

43

3.2

Populasi dan Sampel

44

3.2.1

Populasi

44

3.2.2

Sampel

45

3.3

Variabel dan Devinisi Operasional Variabel

47

3.3.1

Variabel Penelitian

47

3.3.2

Definisi Operasional Variabel

48

3.4

Teknik Pengumpulan Data

52

3.4.1

Angket dan Kuesioner

52

3.4.2

Dokumentasi

52

3.5

Instrumen Penelitian

53

3.5.1

Validitas Instrumen

54

3.5.2

Realibilitas Instrumen

56

3.6

Analisis Data

57

3.6.1

Analisis Deskriptif

57

3.6.2

Uji Prasyarat Analisis

58

3.6.3

Analisis Akhir (Pengujian Hipotesis)

59

4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

63

4.1

Hasil Penelitian

63

4.1.1

Gambaran Umum Objek Penelitian

63

4.1.2

Analisis Deskriptif

64

4.1.3

Uji Prasyarat Analisis

71

x

4.1.4

Pengujian Hipotesis (Analisis Regresi Linier Sederhana)

73

4.1.5

Analisis Koefisien Determinasi

76

4.2

Pembahasan

77

5

PENUTUP

82

5.1

Simpulan

82

5.2

Saran

83

Daftar Pustaka Lampiran-lampiran

85

xi

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

3.1

Tabel Populasi Penelitian

45

3.2

Tabel Sampel Penelitian Tiap Wilayah

47

3.3

Tebel SkalaLikert

54

4.1

Tabel Deskripsi Data

65

4.2

Tabel Indeks Variabel Motivasi Belajar

68

4.3

Tabel Indeks Variabel Fasilitas Belajar

70

4.4

Tabel Hasil Uji Normalitas

72

4.5

Tabel Hasil Uji Linieritas

73

4.6

Tabel Hasil Uji Regresi

74

4.7

Tabel Nilai B Persamaan Regresi

74

4.8

Tabel

Hasil Koefisien Determinasi

76

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1

Pola Kerangka Berpikir

41

3.1

Gambar Desain Penelitian

44

3.2

Diagram Variabel Penelitian

48

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1 Daftar Nama Siswa Populasi Penelitian

87

2 Daftar Nama Siswa Sampel Penelitian

89

3 Daftar Nama Siswa Sampel Uji Coba Angket

92

4 Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar Siswa dan Fasilitas Belajar (Uji Coba)

93

5 Angket Motivasi Belajar Siswa dan Fasilitas Belajar

97

6 Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar Siswa dan Fasilitas Belajar (setelah uji validitas dan reliabilitas)

102

7 Angket Penelitian Motivasi Belajar Siswa dan Fasilitas Belajar

105

8 Tabel Pembantu Analisis Hasil Uji Coba Angket

108

9 Output Uji Validitas Uji Coba Angket

112

10 Rekapitulasi Uji Validitas Uji Coba Angket

115

11 Output Uji Reliabilitas Uji Coba Angket

117

12 Data Hasil Penelitian Motivasi Belajar Siswa dan Fasilitas Belajar

118

13 Rekapitulasi Skor Angket Motivasi Belajar Siswa dan Fasilitas Belajar

134

14 Hasil Uji Normalitas

139

15 Hasil Uji Linieritas

140

16 Hasil Uji Regresi Linier Sederhana

141

17 Surat Izin Penelitian

143

18 Surat Rekomendasi Permohonan Izin Riset

144

19 Surat Keterangan Pengambilan Data

145

20 Dokumentasi Foto Penelitian

155

xiv

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia perlu adanya sebuah

pendidikan yang berkualitas, pendidikan memiliki peran yang sangat penting

untuk membangun potensi manusia. Seperti yang dinyatakan dalam Undang-

Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional pasal 1:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual-keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang

berkualitas.

Untuk

mencapai

tujuan

pendidikan

diperlukan

bantuan

dari

masyarakat, upaya pemerintah dalam mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan

nasional yaitu diselenggarakanya pendidikan melalui tiga jalur sebagaimana yang

tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 13 ayat (1) yang berbunyi: “jalur

pendidikan

terdiri

atas

pendidikan

formal,

nonformal

dan

informal”.

Jalur

pendidikan formal dilaksanakan di sekolah dan perguruan tinggi, pendidikan

nonformal dilaksanakan melaluitaman pendidikan Al-Quran(TPA), khursus dan

lain sebagainya, sedangkan pendidikan informal dilaksanakan didalam keluarga

dan lingkungan. Salah satu jenjang pendidikan formal yaitu sekolah dasar (SD).

1

 

2

Pada

sekolah

dasar

(SD)

pendidikan

berfungsi

memberikan

bekal

dasar

pengembangan kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun masyarakat.

Pada pencapaian tujuan pendidikan perlu dilakukannya belajar, Whittaker

dalam

Aunurrahman(2014:35)

mengemukakan

belajar

adalah

proses

dimana

tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman belajar.

Untuk mencapai tujuan dari pendidikan memang perlu adanya kegiatan belajar,

Aunurrahman (2014:36-37) “mengemukakan beberapa ciri umum kegiatan belajar

yaitu (1).Belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari

atau disengaja,(2).Belajar merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan,

(3). Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku.

Motivasi dan belajar menurut Uno (2014:23) “Merupakan dua hal yang

saling mempengaruhi”. Sehingga kegiatan belajar diperlukan adanya motivasi

dalam diri siswa, karena menurut Gray dalam Majid(2013: 307) Mendefinisikan

motivasi sebagai sejumlah proses yang bersifat internal dan eksternal bagi seorang

individu yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan presistensi dalam hal

melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Sedangkan hakikat motivasi belajar

menurut Uno (2014:23) “Dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang

sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku”. Motivasi belajar

sangat diperlukan dalam suatu proses pembelajaran, agar siswa memiliki semangat

dalam mencapai tujuan pendidikan. Bedasarkan dari pendapat tersebut dapat

disimpulkan

bahwa

motivasi

merupakan

kekuatan

yang

menjadi

pendorong

kegiatan individu untuk melakukan suatu kegiatan mencapai tujuan.

bahwa motivasi merupakan kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu untuk melakukan suatu kegiatan mencapai tujuan.
 

3

Prawira

(2011:

320)

menyatakan

secara

lebih

khusus

jika

orang

menyebutkan motivasi belajar

yang dimaksudkan tentu segala sesuatu

yang

ditunjukkan untuk mendorong atau memberikan semangat kepada seseorang yang

melakukan kegiatan belajar agar menjadi lebih giat lagi dalam belajarnya untuk

memperoleh prestasi yang lebih baik lagi.Jadi motivasi belajar adalah keseluruhan

daya penggerak baik dalam diri maupun dari luar diri siswa dengan menciptakan

serangkaian

usaha

menyediakan

kondisi-kondisi

tertentu

yang

menjamin

kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang

dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Sejalan dengan hal ini Makmun (2009:40) mengungkapkan bahwa ada

beberapa

hal

diantaranya:

yang

dapat

dijadikan

indikator

dalam

pengukur

motivasi,

(1) Durasinya kegiatan (berapa lama kemampuan penggunaan waktunya untuk melakukan kegiatan) (2) Frekuensinya kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu) (3) Persistensinya (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan kegiatan. (4) Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan. (5) Devosi (pengabdian) dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. (6) Tingkatan aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target,dan idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. (7) Tingkatan kualifikasi prestasi atau produk atau output yang dicapai dari kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak). (8) Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan.

Motivasi belajar menurut Dimyati dan Mujiono dalam Lukman Sunadi

(2013:5) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu (1) cita-cita atau

aspirasi siswa (2) kemampuan belajar (3) kondisi jasmani dan rohani siswa (4)

mempengaruhinya yaitu (1) cita-cita atau aspirasi siswa (2) kemampuan belajar (3) kondisi jasmani dan rohani siswa

4

kondisi lingkungan kelas (5) unsur-unsur dinamis belajar (6) upaya guru dalam

membelajarkan siswa. Kondisi lingkungan kelas dalam belajar mempengaruhi

motivasi

belajar

yang

dimaksud

dengan

kondisi

lingkungan

kelas

yaitu

kenyamanan tempat belajar dan juga fasilitas belajar yang memadai. Menurut

Imron dalam Anjayani (2013:4) menjelaskan bahwa lingkungan fisik dan unsur

dinamis dalam belajar mempengaruhi motivasi belajar. Lingkungan fisik yang

dimaksud adalah berupa kenyamanan ruang belajar dengan ketersediaan fasilitas

belajar yang memadai. Unsur dinamis dalam belajar adalah persiapan alat, bahan

dan suasana belajar serta pemanfaatan sumber-sumber belajar.

Fasilitas dalam Heryati dan Muhsin(2014: 196) diartikan sebagai sesuatu

yang dapat memudahkan dan melancarkan pelaksanaan suatu usaha. Usaha ini

dapat berupa benda-benda ataupun uang. Jadi, fasilitas dapat disamakan dengan

sarana. Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses

belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar pencapaian

tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif, dan efisien

(Arikunto

dan

Yuliana

2008:

273).

Sedangkan

dalam

Barnawi

dan

Arifin

(2012:47) sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot

yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah.

Sejalan dengan yang dikemukaan oleh The Liang Gie (2003:33) bahwa “

untuk belajar yang baik hendaknya tersedia fasilitas yang memadai antara lain

tempat belajar, alat, waktu dan lain-lain. Jadi pada prinsipnya fasilitas belajar

adalah sesuatu yang memudahkan untuk belajar”. Fasilitas merupakan sarana yang

dapat

digunakan

untuk

menunjang

kelancaran

proses

belajar

siswa.

Dalam

untuk belajar”. Fasilitas merupakan sarana yang dapat digunakan untuk menunjang kelancaran proses belajar siswa. Dalam

5

Barnawi dan Arifin (2012:49) Fasilitas belajar dapat diklasifikasi menjadi 3,yaitu

(1) Habis Tidaknya (habis pakai dan tahan lama), (2) Bergerak tidaknya (bergerak

dan tidak bergerak), (3) Hubungan dalam proses pembelajaran (alat pelajaran, alat

peraga, dan media pembelajaran). Karena fasilitas dapat diklasifikasikan tentunya

banyak macamnya, dari berbagai macam fasilitas belajar dinilai dapat menunjang

berjalannya

proses pembelajaran

dengan

baik.

Untuk

menilai

suatu

sekolah

memiliki fasilitas belajar yang cukup atau tidak dapat di sesuaikan dengan standar

fasilitas belajar yang ada, menurut Barnawi dan Arifin (2012: 106-169) sarana dan

fasilitas belajar memiliki standar untuk (1) Ruang Kelas, (2) Ruang Perpustakaan,

(3)

Laboratorium

IPA,

(4)

Ruang

Pimpinan,

(5)

Ruang

Guru,

(6)

Tempat

Beribadah, (7) Ruang UKS, (8) Jamban, (9) Gudang, (10) Tempat Bermain atau

Berolahraga.

Beberapa penelitian dengan variabel hampir sama telah banyak dilakukan.

Penelitian yang dilakukan Yulianti Anjayani (2013) dengan judul “Pengaruh

Fasilitas Belajar Terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Produktif

Atministrasi Perkantoran SMK Negeri 3 Bandung”. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa fasilitas belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi

belajar siswa pada mata pelajaran produktif atministrasi perkantoran SMK Negeri

3 Bandung. Selanjutnya ada penelitian dari Lukman Sunadi (2013) dengan judul

“Pengaruh Motivasi Belajar dan Pemanfaatan Fasilitas Belajar Terhadap Prestasi

Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI IPS di SMA Muhamadiyah

2 Surabaya”. Hasil penelitian secara stimultan ada pengaruh antara motivasi

Ekonomi Kelas XI IPS di SMA Muhamadiyah 2 Surabaya”. Hasil penelitian secara stim ultan ada pengaruh

6

belajar dan pemanfaatan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar dapat dilihat dari

hasil analisis Fhitung 3,974306 > 3,12.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan guru kelas V dan

Kepala

Sekolah,

penulis

menemukan

bahwa

pada

beberapa

sekolah

tingkat

motivasi belajarnya masih cenderung rendah, hal tersebut dilihat dari daftar

kehadiran siswa serta wawancara dengan guru tentang apa yang menyebabkan

kurangnya motivasi belajar siswa di beberapa sekolah se-Dabin IV Kecamatan

Pituruh

Kabupaten

Purworejo.

Dabin

ini

meliputi

8

SD,

yaitu

SD

N

Megulungkidul, SD N Megulunglor, SD N Munggangsari, SD N Sepathi, SD N 1

Prapaglor, SD N 2 Prapaglor, SD N Sawangan, dan SD N Somogede.

Dari hasil wawancara tersebut penulis mengetahui beberapa faktor yang

mempengaruhi kurangnya motivasi belajar antara lain adalah kurangnya fasilitas

belajar, kurangnya guru, dan juga kondisi geografis sekolah tersebut. Berhubung

begitu banyak faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa, disini peneliti

hanya akan meneliti apakah benar fasilitas belajar di sekolah khususnya didalam

kelas dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka judul penelitian ini adalah

“Pengaruh Fasilitas Belajardi Sekolah Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas V

Sekolah Dasar se-Dabin IVKecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo”

1.2 Identifikasi Masalah

Seperti yang telah dipaparkan pada latar belakang, maka identifikasi

masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Seperti yang telah dipaparkan pada latar belakang, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

7

(1) Kurang lengkapnya fasilitas belajar yang ada di beberapa SD se-Dabin IV

Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

(2) Kurangnya motivasi belajar pada beberapa siswa kelas V SD se-Dabin IV

Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo dalam mengikuti pembelajaran di

sekolah.

(3) Kurangnya guru kelas

Kabupaten Purworejo.

di beberapa SD se-Dabin

IV Kecamatan Pituruh

(4) Kurangnya fasilitas belajar di sekolah mempengaruhi motivasi belajar siswa

kelas V SD se-Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

1.3 Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dilakukan agar pelaksanaan penelitian lebih efektif

dan efisien. Dalam penelitian ini peneliti membatasi masalah sebagai berikut.

(1)

Masalah yang diteliti dalam penelitian ini yaitu pengaruh fasilitas belajar

di

sekolah khususnya di dalam kelas terhadap motivasi belajar siswa kelas

V

SD se-Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

(2)

Populasi

dalam penelitian ini yaitu siswa kelas V SD se-Dabin IV

Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan

identifikasi

masalah

tersebut,

rumusan

masalah

dalam

penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh fasilitas belajar di kelas terhadap

motivasi belajar siswa kelas V SD se-Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten

Purworejo?”

belajar di kelas terhadap motivasi belajar siswa kelas V SD se-Dabin IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo?”

1.5 Tujuan Penelitian

8

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

fasilitas belajar di kelas terhadap motivasi belajar siswa kelas V SD se-Dabin IV

Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik teoritis maupun

praktis. Manfaat tersebut antara lain:

1.6.1 Manfaat Teoritis

Dapat

memberikan

informasi

ilmu

pengetahuan

tentang

manajemen

pendidikan melalui kajian fasilitas belajar di sekolah terhadap motivasi belajar.

1.6.2 Manfaat Praktis

1.6.2.1 Bagi Peneliti

Dapat

menambah

pengetahuan

serta

pengalaman

tentang

manajemen

pendidikan agar kelak dapat dipergunakan ketika jadi guru/pendidik

1.6.2.2 Bagi Pendidik

Diharapkan

dapat

dijadikan

motivasi

dalam

mengajar

agar

dapat

mempergunakan fasilitas yang ada secara maksimal.

Pendidik Diharapkan dapat dijadikan motivasi dalam mengajar agar dapat mempergunakan fasilitas yang ada secara maksimal.

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

2.1

Kerangka Teori

2.1.1

Hakikat Sarana dan Prasarana

Pendidikan berkualitas memerlukan tersedianya sarana dan prasarana yang

memadai. Sarana pendidikan adalah fasilitas-fasilitas yang digunakan secara

langsung dalam proses belajar mengajar agar tujuan pembelajaran tercapai, seperti

gedung, kelas, meja, kursi, dan alat-alat media pembelajaran. Sementara prasarana

pendidikan merupakan segala sesuatu yang secara tidak langsung menunjang

proses pendidikan, seperti kebun, halaman, taman sekolah, dan jalan menuju

sekolah.

Sarana

dan

prasarana

pendidikan

berperan

penting

karena

mutu

pendidikan dapat ditingkatkan melalui pengadaan sarana dan prasarana. Seperti

dalam bukunya Heryati dan Muhsin (2014: 195) bahwa pemerintah melalui

menteri pendidikan menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2007 tentang

standar sarana dan prasarana. Standar sarana dan prasarana berdasarkan PP No. 19

tahun 2005 tentang “Standar Nasional Pendidikan merupakan standar pendidikan

yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga,

tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain,

tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk

menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan

komunikasi”.

9

10

Sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu (1) habis

tidaknya dipakai; (2) bergerak tidaknya pada saat digunakan; (3) hubungannya

dengan proses belajar mengajar. Dilihat dari habis tidaknya dipakai, ada dua

macam sarana pendidikan, yaitu sarana pendidikan yang habis dipakai dan sarana

pendidikan tahan lama.

1)

Sarana pendidikan yang habis dipakai adalah segala bahan atau alat yang

apabila digunakan bisa habis dalam waktu yang relatif singkat. Contoh, kapur

tulis, beberapa bahan kimia untuk praktik guru dan siswa, dsb. Selain itu, ada

sarana pendidikan yang berubah bentuk, misalnya kayu, besi,dan kertas

karton yang sering digunakan oleh guru dalam mengajar. Contoh: pita mesin

ketik/komputer, bola lampu, dan kertas.

 

2)

Sarana

pendidikan

tahan

lama

Sarana

pendidikan

tahan

lama

adalah

keseluruhan bahan atau alat yang dapat digunakan secara terus menerus dan

dalam waktu yang relatif lama. Contoh, bangku sekolah, mesin tulis, atlas,

globe, dan beberapa peralatan olah raga.

Ditinjau dari bergerak tidaknya pada saat digunakan, ada dua macam

sarana pendidikan, yaitu sarana pendidikan yang bergerak dan sarana pendidikan

tidak bergerak.

1)

Sarana pendidikan yang bergerak Sarana pendidikan yang bergerak adalah

sarana

pendidikan

yang

bisa

digerakkan

atau

dipindah

sesuai

dengan

kebutuhan pemakainya, contohnya: almari arsip sekolah, bangku sekolah,

dsb.

bisa digerakkan atau dipindah sesuai dengan kebutuhan pemakainya, contohnya: almari arsip sekolah, bangku sekolah, dsb.

2)

11

Sarana pendidikan yang tidak, adalah semua sarana pendidikan yang tidak

bisa

atau

relatif

sangat

sulit

untuk

dipindahkan,

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

misalnya

saluran

dari

Ditinjau dari hubungannya dengan Proses Belajar Mengajar, Sarana

Pendidikan dibedakan menjadi 3 macam bila ditinjaudari hubungannya dengan

proses belajar mengajar, yaitu: alat pelajaran, alat peraga, dan media pengajaran.

1)

Alat pelajaran adalah alat yang digunakan secara langsung dalam proses

belajar mengajar, misalnya buku, alat peraga, alat tulis, dan alat praktik.

2)

Alat peraga adalah alat pembantu pendidikan dan pengajaran, dapat berupa

perbuatan-perbuatan

atau

benda-benda

yang

mudah memberi

pengertian

kepada anak didik berturut-turut dari yang abstrak sampai, dengan yang

konkret.

3)

Media

pengajaran

adalah

sarana

pendidikan

yang

digunakan

sebagai

perantara

dalam

proses

belajar

mengajar,

untuk

lebih

mempertinggi

efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan. Ada tiga jenis

media, yaitu media audio, media visual, dan media audio visual.

2.1.2 Standar Sarana dan Prasarana

Dalam standar sarana prasarana sekolah terdapat hakikat dan dasar hukum

sarana prasarana seperti dalam Heryanti dan Muhsin (2014:199-200):

(1) Pengertian standar sarana prasarana pendidikan

Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya

yang penting dan utama dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah.

Untuk

itu,

perlu

dilakukan

peningkatan

dalam

pendayagunaan

dan

dan utama dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah. Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan dalam pendayagunaan dan

12

pengelolaannya agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.Sebagaimana

ditetapkan dalam UU Sisdiknas No. 20/2003 Bab XII pasal 45 ayat 1

dijelaskan

bahwa:

“Setiap

satuan

pendidikan

formal

dan

nonformal

menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan

sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan

intelektual,

sosial,

emosional,

dan

kejiwaan

peserta

didik”.

Pasal

ini

menekankan pentingnya sarana dan prasarana dalam satuan pendidikan, sebab

tanpa didukung adanya sarana dan prasarana yang relevan, maka pendidikan

tidak akan berjalan secara efektif.

(2) Tujuan standar sarana dan prasarana pendidikan

Tujuan standar sarana dan prasarana pendidikan yaitu mewujudkan situasi

dan kondisi sekolah yang baik sebagai lingkungan belajar ataupun sebagai

kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan

kemampuan semaksimal mungkin dan menghilangkan berbagai hambatan

yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi dalam pembelajaran.

(3) Hubungan antara sarana prasarana dan program pengajaran

Hubungan antara sarana prasarana dan program pengajaran adalah

sebagai berikut (a) Jenis peralatan dan perlengkapan yang disediakan di

sekolah mempunyai pengaruh besar terhadap proses belajar mengajar. (b)

Persediaan sarana dan prasarana yang kurang dapat menghambat proses

belajar

mengajar.

Demikian

pula,

administrasinya

yang

jelek

akan

mengurangi kegunaan alat-alat dan perlengkapan tersebut. Penyediaan sarana

Demikian pula, administrasinya yang jelek akan mengurangi kegunaan alat-alat dan perlengkapan tersebut. Penyediaan sarana
 

13

di

sekolah disesuaikan

dengan

kebutuhan peserta didik

serta kegunaan

hasilnya pada masa mendatang.

(4) Dasar Hukum

Dasar hukum tentang sarana dan prasarana sebagai kebutuhan utama

sekolah yang harus terpenuhi adalah (a) Amanat Undang-Uandang Sistem

Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 tentang Kebijakan Operasional

Standar

Sarana

dan

Prasarana

Pendidikan

Persekolahan,

Pemerintah

No.19tahun

2005

tentang

Standar

Pendidikan

(b)

Peraturan

Nasional,

(c)

Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.24 tahun 2007

tentang

Standar

Sarana

dan

Prasarana

untuk

SD/MI,SMP/MTs,

SMA/MA.Yang terdapat pada dasar hukum tersebut, sarana prasarana di

sekolah

diatur

menjadi

3

pokok

bahasan,

kelengkapan sarana prasarana sekolah.

yaitu

lahan,

bangunan,

dan

2.1.3 Prinsip-Prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana

Dalam manajemen sarana dan prasarana sekolah terdapat sejumlah prinsip

yang perlu diperhatikan agar tujuan bisa tercapai dengan maksimal. Menurut

Bafadal (2014:5-6) prinsip- prinsip tersebut adalah (1) Prinsip pencapaian tujuan,

yaitu sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu dalam kondisi siap

pakai

apabila

akan

didayagunakan

oleh

opersonel

sekolah

dalam

rangka

pencapaian tujuan proses pembelajaran di sekolah, (2) Prinsip efisiensi, yaitu

pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus dilakukan melalui

perencanaan yang seksama sehingga dapat diadakan sarana dan prasarana yang

baik dengan harga yang murah. Demikian juga pemakaian juga harus hati-hati

dapat diadakan sarana dan prasarana yang baik dengan harga yang murah. Demikian juga pemakaian juga harus

14

agar mengurangi pemborosan, (3) Prinsip administratif, yaitu manajemen sarana

dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu memperhatikan undang-undang,

peraturan, intruksi, dan petunjuk teknis yang diberlakukan oleh pihak yang

berwenang, (4) Prinsip kejelasan tanggung jawab, yaitu manajemen sarana dan

prasarana di sekolah harus didelegasikan kepada personel sekolah yang mampu

tanggung

jawab.

Apabila

melibatkan

banyak

personel

sekolah

dalam

manajemenya, perlu adanya deskripsi tugas dan tanggung jawab yang jelas untuk

setiap personel sekolah, (5) Prinsip kekohesifan, yaitu bahwa manajemen sarana

dan prasarana pendidikan di sekolah harus direalisasikan dalam bentuk proses

kerja sekolah yang sangat kompak.

Sedangkan menurut Hunt Pierce dalam Barnawi dan Arifin (2012:82-

83), prinsip-prinsip dasar dalam manajemen sarana dan prasarana sekolah sebagai

berikut

(1)

Lahan

bangunan

dan

perlengkapan

perabot

sekolah

harus

menggambarkan cita dan citra masyarakat seperti halnya yang dinyatakan dalam

filsafat

dan

tujuan

pendidikan,

perlengkapan-perlengkapan

perabot

(2)

Perencanaan

lahan

bangunan,

dan

sekolah

hendaknya

merupakan

pancaran

keinginan bersama dan dengan pertimbangan suatu tim ahli yang cukup cakap

yang ada di masyarakat, (3) Lahan bangunan dan perlengkapan-perlengkapan

perabot sekolah hendaknya disesuaikan dan memadai bagi kepentingan anak-anak

didik, demi terbentuknya karakter mereka dan dapat melayani serta menjamin

mereka di waktu belajar, bekerja, dan bermain sesuai dengan bakat mereka

masing-masing, (4) Lahan bangunan dan perlengkapan-perlengkapan perabot

sekolah

serta

alat-alatnya

hendaknya

disesuaikan

dengan

kepentingan

serta

bangunan dan perlengkapan-perlengkapan perabot sekolah serta alat-alatnya hendaknya disesuaikan dengan kepentingan serta

15

kegunaan atau manfaat bagi anak-anak/murid-murid dan guru-guru, (5) Sebagai

penanggung jawab harus membantu program sekolah secara efektif, melatih para

petugas serta memilih alatnya dan cara menggunakannya agar mereka dapat

menyesuaikan diri serta melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsi bangunan

dan perlengkapannya, (6) Seorang penanggung jawab sekolah harus mempunyai

kecakapan untuk mengenal, baik kualitatif maupun kuantitatif serta menggunakan

dengan tepat fungsi bangunan dan perlengkapannya, (7) Sebagai penanggung

jawab

harus

mampu

memelihara

dan

menggunakan

bangunan

dan

tanah

sekitarnya

sehingga

ia

dapat

membantu

terwujudnya

kesehatan,

keamanan,

kebahagiaan, dan keindahan serta kemajuan dari sekolah dan masyarakat, (8)

Sebagai penanggung jawab sekolah bukan hanya mengetahui kekayaan sekolah

yang dipercayakan kepadanya, melainkan harus memperhatikan seluruh keperluan

alat-alat pendidikan yang dibutuhkan oleh anak didiknya.

Dari

beberapa

prinsip

tersebut

dapat

dilihat

bahwa

sarana

dan

prasarana sekolah sengaja di adakan untuk menunjang terlaksananya proses

belajar

mengajar

secara

maksimal,

karena

kualitas

sarana

dan

prasarana

merupakan simbol kualitas pendidikan yang ada di sekolah tersebut. Sarana dan

prasarana merupakan tanggung jawab kepala sekolah.

2.1.4 Hakikat Fasilitas dan Sarana Pendidikan

Fasilitas diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat memudahkan dan

melancarkan pelaksanaan suatu usaha. Usaha ini dapat berupa benda-benda

ataupun uang. Jadi, fasilitas dapat disamakan dengan sarana.Sarana pendidikan

adalah peralatan dan perlengkapan

yang secara langsung dipergunakan dan

dapat disamakan dengan sarana.Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan

16

menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar,mengajar seperti gedung,

ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran agar pencapaian

tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur , efektif dan efisien.

Menurut Bafadal (2014:2) “Sarana pendidikan adalah semua perangkatan

peralatan,bahan

dan

perabot

yang secara langsung digunakan

dalam

proses

pendidikan di sekolah”. Benda-benda pendidikan tersebut dapat digolongkan

sebagai berikut dalam Heryati dan Muhsin (2014:197-198):

(1) Ditinjau dari fungsinya terhadap PBM dibagi menjadi dua yaitu berfungsi

tidak

langsung

(kehadirannya

tidak

sangat

menentukan)

dan

berfungsi

langsung (kehadirannya sangat menentukan) terhadap PBM

(2) Ditinjau dari jenisnya terdapat dua jenis yang pertama, fasilitas fisik atau

fasilitas

material,

yaitu

segala

sesuatu

yang

berwujud

benda

mati

atau

dibendakan yang mempunyai peran untuk memudahkan atau melancarkan

PBM,

seperti

komputer,

perabot,

alat

peraga,

model,

media,

dan

sebagainya.Kedua fasilitas nonfisik, yaitu sesuatu yang bukan benda mati,

atau kurang dapat disebut benda atau dibendakan, yang mempunyai peran

untuk memudahkan atau melancarkan suatu usaha, seperti manusia, jasa,

uang.

(3) Ditinjau

dari

sifat

barangnya

terdapat

beberapa

jenis,

Pertama,

barang

bergerak atau barang berpindah/dipindahkan dikelompokkan menjadi barang

habis pakai dan barang tidak habis pakai.Kedua, barang habis pakai adalah

barang yang susut volumenya pada waktu dipergunakan, dan dalam jangka

waktu tertentu barang tersebut dapat susut terus sampai habis atau tidak

pada waktu dipergunakan, dan dalam jangka waktu tertentu barang tersebut dapat susut terus sampai habis atau

17

berfungsi lagi,seperti kapur tulis, tinta, kertas, sepidol, penghapus, sapu dan

sebagainya. (keputusan mentri keuangan nomor 225/MK/V/1971 tanggal 13

April 1971). Ketiga, barang tidak habis pakai, yaitu barang-barang yang dapat

dipakai berulang-ulang serta tidak susut volumenya ketika digunakan dalam

jangka waktu yang relatif lama, tetapi tetap memerlukan perawatan agar selalu

siap

pakai

untuk

pelaksanaan

tugas,

seperti

komputer,

mesin

stensil,

kendaraan, perabot, media pendidikan, dan sebagainya.Keempat, barang tidak

bergerak, yaitu barang yang tidak berpindah-pindah letaknya atau tidak dapat

dipindahkan, seperti tanah, bangunan/gedung, menara air, dan sebagainya.

2.1.5 Fungsi Peran Fasilitas dan Sarana Pendidikan

Dilihat

dari

fungsinya

atau

peranannya,

sarana

pendidikan

dapat

dibedakan

menjadi

3

seperti

dalam

Arikunto

dan

Yuliana (2014:274) Alat

Pelajaran, adalah semua benda yang dapat digunakan secara langsung oleh guru

maupun siswa dalam proses belajar mengajar. Buku tulis, gambar-gambar, alat-

alat tulis ataupun alat-alat praktek semua termasuk dalam lingkup pelajaran. Alat

Peraga, adalah semua alat pembantu pendidikan dan pengajaran, dapat berupa

benda ataupun perbuatan dari yang paling konkrit sampai ke yang paling abstrak

yang dapat mempermudah pemberian pengertian kepada siswa. Dengan pengetian

ini, maka alat pelajaran dapat termasuk ruang lingkup alat peraga, tapi belum

tentu alat pelajaran itu merupakan alat peraga. Media Pendidikan, adalah sarana

pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar

untuk mempertinggi efektivitas dan efisiensi pendidkan, tetapi dapat juga sebagai

perantara dalam proses belajar mengajar untuk mempertinggi efektivitas dan efisiensi pendidkan, tetapi dapat juga sebagai

18

pengganti peranan guru.Menurut klasifikasi indera yang digunakan ada 3 jenis

media yaitu:

(1)

Media audio, media untuk pendengaran (media pendengar)

(2)

Media visual, media untuk penglihatan (media tampak)

(3)

Media audio-visual, media untuk pendengaran dan penglihatan.

2.1.6

Standar Minimum Sarana Pendidikan

Sarana atau fasilitas pendidikan memiliki standar seperti dalam Barnawi

dan Arifin (2012:106-169):

(1)

Ruang Kelas

Ruang kelas dilengkapi sarana sebagai berikut:

(a)

1 buah kursi/peserta didik, kursi harus kuat, stabil dan mudah dipindahkan

oleh siswa. Ukuran sesuai dengan kelompok usia siswa dan mendukung

pembentukan postur tubuh yang baik,minimum dibedakan desainya antara

kelas 1-3 dan kelas 4-6. Desain dudukan dan sandaran membuat siswa

nyaman belajar.

(b)

Meja peserta didik 1 buah/peserta didik. Meja harus kuat, stabil, dan

mudah dipindah oleh siswa. Ukuran sesuai dengan kelompok usia siswa

dan mendukung pembentukan postur tubuh yang baik,minimum dibedakan

untuk kelas 1-3 dan kelas 4-6. Desain memungkinkan kaki siswa masuk

dengan leluasa kebawah meja.

(c)

Kursi guru 1 buah/guru. Kursi harus kuat, stabil dan mudah dipindahkan.

(d)

Meja guru 1buah /guru. Meja harus kuat,stabil dan mudah dipindahkan.

Ukuran memadai untuk bekerja dengan nyaman.

(d) Meja guru 1buah /guru. Meja harus kuat,stabil dan mudah dipindahkan. Ukuran memadai untuk bekerja dengan

19

(e)

Lemari 1 buah/ruang. Ukuran memadai untuk menyimpan perlengkapan

yang diperlukan kelas. Tertutup dan dapat dikunci.

(f)

Rak hasil karya siswa 1 buah /ruang. Ukuran memadai untuk meletakan

hasil karya seluruh siswa yang ada di kelas. Dapat berupa rak terbuka atau

lemari.

(g)

Papan panjang 1 buah/ruang. Ukuran minimum 60 cm x 120 cm.

(h)

Alat Peraga sesuai dengan daftar sarana laboratorium IPA

(i)

Papan tulis 1 buah/ruang. Ukuran minimum 90cm x 200cm. Ditempatkan

pada posisi yang memungkinkan seluruh siswa melihatnya dengan jelas.

(j)

Tempat sampah 1 buah/ruang.

(k)

Tempat cuci tangan 1 buah/ruang.

(l)

Jam dinding 1 buah/ruang.

(m)Soket listrik 1 buah/ruang.

(2)

Ruang Perpustakaan

 

Ketentuan sarana perpustakaan yaitu:

 

(a)

Buku

teks

pelajaran

1

eksemplar/mata

pelajaran/siswa,

ditambah

2

eksemplar/mata pelajaran/sekolah. Termasuk dalam daftar buku

yang

ditetapkan oleh Mendiknas dan daftar buku teks muatan lokal yang

ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota.

 

(b)

Buku panduan pendidikan 1 eksemplar/mata pelajaran/guru mata pelajaran

yang bersangkutan, ditambah 1 eksemplar/mata pelajaran/sekolah.

 

(c)

Buku pengayaan 840 judul/sekolah, terdiri dari 60% non-fiksi dan 40%

fiksi.

pelajaran/sekolah.   (c) Buku pengayaan 840 judul/sekolah, terdiri dari 60% non-fiksi dan 40% fiksi.
 

20

(d)

Buku

referensi

10judul/sekolah.

Sekurang-kurangnya

meliputi

Kamus

Besar Bahasa Indonesia, kamus Bahasa Inggris, Ensiklopedi, buku statistik

daerah, buku telepon, kitab undang-undang dan peraturan, dan kitab suci.

(e)

Sumber belajar lain 10 judul/sekolah.

 

(f)

Rak buku 1set/sekolah.

(g)

Rak majalah 1 buah/sekolah.

(h)

Rak surat kabar 1 buah/sekolah.

(i)

Meja baca 10 buah/sekolah.

(j)

Kursi baca 10 buah/sekolah.

(k)

Kursi kerja 1buah/petugas.

(l)

Meja kerja/sirkulasi 1 buah /petugas.

(m)Lemari katalog 1 buah/sekolah.

(n)

Lemari 1 buah/sekolah.

(o)

Papan pengumuman 1 buah /sekolah. Ukuran minimum 1meter

(p)

Meja multimedia 1 buah/sekolah.

(q)

Peralatan multimedia 1 set/sekolah.

(r)

Buku inventaris 1 buah/sekolah.

(s)

Tempat sampah 1 buah/ruang.

(t)

Seket listrik 1 buah/ruang.

(u)

Jam dinding 1 buah/ruang.

(3)

Laboratorium IPA

Setiap satuan pendidikan dilengkapi sarana laboratorium IPA seperti:

(a)

Lemari 1 buah/sekolah.

IPA Setiap satuan pendidikan dilengkapi sarana laboratorium IPA seperti: (a) Lemari 1 buah/sekolah.

21

(b)

Model kerangka manusia 1 buah/sekolah.

(c)

Model tubuh manusia 1buah /sekolah.

(d)

Globe 1 buah/sekolah.

(e)

Model tata surya 1 buah/sekolah.

(f)

Kaca pembesar 6 buah/sekolah.

(g)

Cermin datar 6 buah/sekolah.

(h)

Cermin cekung 6 buah/sekolah.

(i)

Cermin cembung 6 buah/sekolah.

(j)

Lensa datar 6 buah/sekolah.

(k)

Lensa cekung 6 buah/sekolah.

(l)

Lensa cembung 6 buah/sekolah.

(m)Magnet batang 6 buah/sekolah.

(n)

Poster IPA, terdiri dari metamorfosis, hewan langka, hewan dilindungi,

tanaman khas Indonesia, contoh ekosistem, dan sitem-sistem pernafasan

hewan, 1 set/sekolah. Jelas terbaca dan berwarna, ukuran minimum A1.

(4)

Ruang Pimpinan

Ruang pimpinan dilengkapi sarana berikut:

(a)

Kursi pemimpin 1 buah /ruang.

(b)

Meja pemimpin 1 buah /ruang.

(c)

Kursi dan meja tamu 1 set/ruang.

(d)

Lemari 1 buah/ruang.

(e)

Papan statistik 1 buah/ruang.

(f)

Simbol kenegaraan 1 set/ruang.

(d) Lemari 1 buah/ruang. (e) Papan statistik 1 buah/ruang. (f) Simbol kenegaraan 1 set/ruang.

22

(g)

Tempat sampah 1 buah /ruang.

(h)

Mesin ketik/komputer 1 set/sekolah.

(i)

Filing cabinet 1 buah/sekolah.

(j)

Brankas 1 buah/sekolah.

(k)

Jam dinding 1 buah/ruang.

(5)

Ruang Guru

(a)

Kursi kerja 1 buah/guru.

(b)

Meja kerja 1 buah/guru.

(c)

Lemari 1 buah/guru atau 1 buah yang digunakan bersama oleh semua

guru.

(d)

Papan statistik 1 buah/sekolah.

(e)

Papan pengumuman 1 buah/sekolah.

(f)

Perlengkapan Lain

(g)

Tempat sampah 1 buah/ruang.

(h)

Tempat cuci tangan 1 buah/ruang.

(i)

Jam dinding 1 buah/ruang.

(j)

Penanda waktu 1 buah/sekolah.

(6)

Tempat Beribadah

(a)

Lemari/rak 1 buah/tempat ibadah.

(b)

Perlengkapan ibadah disesuaikan dengan kebutuhan

(c)

Jam dinding 1 buah/tempat ibadah.

(7)

Ruang UKS

(a)

Tempat tidur 1 set/ruang.

dengan kebutuhan (c) Jam dinding 1 buah/tempat ibadah. (7) Ruang UKS (a) Tempat tidur 1 set/ruang.

(b)

Lemari 1 buah/ruang, dapat dikunci.

(c)

Meja 1 buah/ruang.

(d)

Kursi 2 buah/ruang.

(e)

Catatan peserta didik 1 set/ruang.

(f)

Perlengkapan p3k 1 set/ruang.

(g)

Tandu 1 buah/ruang.

(h)

Selimut 1 buah/ruang.

(i)

Tensimeter 1 buah /ruang.

(j)

Termometer 1 buah/ruang.

(k)

Timbangan badan 1 buah/ruang.

(l)

Pengukur tinggi badan 1 buah/ruang.

(m)Tempat sampah 1 buah/ruang.

23

(n)

Tempat cuci tangan 1 buah/ruang.

(o)

Jam dinding 1 buah/ruang.

(8)

Jamban

(a)

Kloset jongkok 1 buah/ruang. Saluran berbentuk leher angsa.

(b)

Tempat air 1 buah/ruang. Volume minimum 200 liter. Berisi air bersih.

(c)

Gayung 1 buah/ruang.

(d)

Gantungan pakaian 1 buah/ruang.

(e)

Tempat sampah 1 buah/ruang,

(9)

Gudang

(a)

Lemari 1 buah/ruang.

(b)

Rak 1 buah/ruang.

(e) Tempat sampah 1 buah/ruang, (9) Gudang (a) Lemari 1 buah/ruang. (b) Rak 1 buah/ruang.

(10) Tempat bermain atau berolahraga

(a)

Tiang bendera 1buah/sekolah.

(b)

Bendera 1 buah/sekolah.

(c)

Peralatan bola voli 1 set/sekolah.

(d)

Peralatan sepakbola 1 set/sekolah.

(e)

Peralatan senam 1 set/sekolah.

(f)

Peralatan atletik 1 set/sekolah.

(g)

Peralatan seni budaya 1 set/sekolah.

(h)

Peralatan keterampilan 1 set/sekolah.

(i)

Pengeras suara 1 set/sekolah.

(j)

Tape recorder 1 buah/sekolah.

2.1.7 Hakikat Motivasi Belajar

(1) Pengertian Motivasi Belajar

24

Sesuai dengan buku Prawira (2014:319) Motivasi memiliki akar kata

dari bahasa latin movere, yang berarti gerak atau dorongan untuk bergerak.

Dengan begitu, memberikan motivasi bisa diartikan dengan memberikan daya

dorong sehingga sesuatu yang diberi dorongan tersebut dapat bergerak. A.W.

Bernard

memberikan

pengertian

motivasi

sebagai

fenomena

yang

dapat

dilibatkan dalam perangsangan tindakan kearah tujuan-tujuan tertentu yang

sebelumnya kecil atau tidak ada gerakan sama sekali kearah tujuan-tujuan

tertentu.

Menurut Mc. Donal dalam Sadirman (2009: 73-75) motivasi adalah

perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya

Donal dalam Sadirman (2009: 73-75) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya
 

25

felling

dan

didahului

dengan

tanggapan

terhadap

adanya

tujuan.

Dari

pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen

penting.

(a)

Bahwa motivasi itu mewakili terjadinya perubahan energi pada diri setiap

individu

manusia.

Perkembangan

motivasi

akan

membawa

beberapa

perubahan

energi

didalam

sistem

“neurophysiological”

yang

ada

pada

organisme manusia, karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun

motivasi

itu

muncul

dari

dalam

diri

manusia),

penampakanya

akan

menyangkut kegiatan fisik manusia.

 

(b)

Motivasi ditandai dengan munculnya rasa atau feeling, afeksi seseorang.

Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi

dan emosi yang dapat menentuan tingkh laku manusia.

 

(c)

Motivasi akan dirangsangkarena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini

sebenarnya

merupakan

respons

dari

suatu

aksi,

yakni

tujuan.

Motivasi

memang

muncul

dari

dalam

diri

manusia,

tetapi

munculnya

karena

terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan.

Tujuan ini akan menyangkut dengan kebutuhan.

Dengan adanya ketiga elemen diatas, maka dapat dikatakan bahwa

motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan

terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan

bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk

kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua itu didorong karena

adanya

tujuan,

kebutuhan

atau

keinginan.Motivasi

juga

dapat

dikatakan

atau melakukan sesuatu. Semua itu didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.Motivasi juga dapat dikatakan
 

26

serangkaian

usaha untuk

menyediakan

kondisi-kondisi

tertentu,

sehingga

seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan

berusaha untuk meniadakan atau mengelakan perasaan tidak suka itu.

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan

daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang

menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada

kegiatan belajar, sehingga kegiatan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu

dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan” karena pada umumnya ada beberapa

motif yang bersama-sama menggerakan siswa untuk belajar. Motivasi belajar

adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Perananya yang

khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat

untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan banyak mempunyai

energi untuk melakukan kegiatan belajar.

(2) Fungsi motivasi belajar

Dalam kegiatan belajar diperlukan adanya motivasi. Motivasi akan

senantiasa

menentukan

intensitas

usaha

belajar

bagi

para

siswa.

Dalam

Sardiman A.M. (2009 : 85) Ada tiga fungsi motivasi:

(a) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang

melepaskan energi. Motivasi dalan hal ini merupakan motor penggerak dari

setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

(b) Menentukan

arah

perbuatan,

yakni

kearah

tujuan

yang

hendak

dicapai.

Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus

dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

27

(c) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus

dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-

perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang

akan menghadapi tujuan dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan

kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu

atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.

Selain itu ada juga fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi

sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu

usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan

menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain, adanya usaha yang tekun dan

terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat

melahirkan prsetasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang akan sangat

menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.

(3) Ciri-Ciri Motivasi

Menurut Sardiman A.M. (2013:83) motivasi yang ada di dalam diri

setiap orang memiliki ciri-ciri:

(a)

Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).

(b)

Ulet dalam menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).

(c)

Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah.

(d)

Lebih senang bekerja sendiri.

(e)

Cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin.

(f)

Dapat mempertahankan pendapatnya.

(g)

Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu.

(h)

Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

Apabila seseorang telah memiliki ciri-ciri diatas, berarti orang itu

selalu memiliki motivasi yang cukup kuat. Ciri-ciri motivasi itu akan sangat

memiliki ciri-ciri diatas, berarti orang itu selalu memiliki motivasi yang cukup kuat. Ciri-ciri motivasi itu akan

28

penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar

akan

berhasil

baik,

kalau

siswa

tekun

mengerjakan

soal,

ulet

dalam

memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara mandiri. Siswa yang

belajar dengan baik tidak akan terjebak dalam sesuatu yang retinitis dan

mekanis. Siswa yang mampu mempertahankan pendapatnya, kalau ia sudah

yakin dan dipandangnya cukup rasional. Bahkan lebih lanjut siswa juga harus

peka

dan

responsif

terhadap

berbagai

masalah

umum,

dan

bagaimana

memikirkan pemecahanya. Hal tersebut harus dipahami oleh guru, agar dalam

berinteraksi dengan siswanya dapat memberikan motivasi yang tepat dan

optimal.

(4) Faktor-faktor motivasi belajar

Motivasi belajar menurut Dimyati dan Mujiono dalam Lukman Sunadi

(2013:5) terdapat beberapa faktor yaitu (a) cita-cita atau aspirasi siswa (b)

kemampuan

belajar

(c)

kondisi

jasmani

dan

rohani

siswa

(d)

kondisi

lingkungan kelas (e) unsur-unsur dinamis belajar (f) upaya guru dalam

membelajarkan siswa.Beberapa faktor tersebut dapat mempengaruhi adanya

motivasi pada diri siswa, dengan adanya motivasi belajar yang timbul maka

proses

pembelajaran

maksimal.

dalam

mencapai

2.1.8 Strategi Motivasi Belajar

Pembelajaran

hendaknya

mampu

tujuan

pendidikan

dinilai

dapat

meningkatkan

motivasi

intrinsik

siswa sebanyak mungkin. Hal ini sejalan dalam Rifa’i dan Anni (2011: 186-

187) bahwa pendidik harus mampu menarik minat dan meningkatkan hasrat

ini sejalan dalam Rifa’i dan Anni ( 2011: 186- 187) bahwa pendidik harus mampu menarik minat

29

ingin tahu siswa terhadap materi yang disajikan. Untuk mencapai kearah itu

ada

beberapa

cara

yang

dapat

motivasi instrinsik siswa.

(1) Membangkitkan minat belajar

dilakukan

pendidik

dalam

meningktkan

Pengaitan pembelajaran dengan minat siswa adalah sangat penting,

untuk

itu

tunjukanlah

bahwa

pengetahuan

yang

dipelajari

itu

sangat

bermanfaat bagi mereka. Demikian juga tujuan pembelajaran yang penting

adalah membenagkitkan hasrat ingin tahu siswa mengenai pelajaran yang akan

datang, karena itu pembelajaran akan mampu meningkatkan motivasi intrinsik

siswa tentang materi pembelajaran yang disajiakn oleh pendidik. Cara lain

yang dapat dilakukan adalah memberi pilihan kepada siswa tentang materi

pembelajaran yang akan dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.

(2) Mendorong rasa ingin tahu

Pendidik

yang

terampil

akan

mampu

menggunakan

cara

untuk

membangkitkan dan memelihara rasa ingin tahu siswa didalam kegiatan

pembelajaran. Metode pembelajaran studi kasus, diskoveri, inkuiri, diskusi,

curah pendapat dan sebagainya merupakan beberapa metode yang dapat

digunakan untuk membangkitkan hasrat ingin tahu siswa.

(3) Menggunakan variasi metode penyajian yang menarik

Motivasi instrinsik untuk belajar sesuatu dapat ditingkatkan melalui

penggunaan materi pembelajaran yang menarik dan juga menggunakan variasi

metode pembelajaran. Misalnya untuk membangkitkan minat belajar siswa

yang menarik dan juga menggunakan variasi metode pembelajaran. Misalnya untuk membangkitkan minat belajar siswa

30

dapat dilakukan dengan cara pemutaran film, mengundang pembicara tamu,

demonstrasi, komputer, simulasi, bermain peran, dan lainya.

(4) Membantu siswa dalam merumuskan tujuan belajar

Prinsip yang mendasar dari motvasi adalah anak akan belajar keras

untuk mencapai tujuan apabila tujuan itu dirumuskan atau ditetapkan oleh

dirinya sendiri, dan bukan dirumuskan atau ditetapkan oleh orang lain. Oleh

karena

itu

pendidik

hendaknya

mendorong

dan

membantu

siswa

agar

merumuskan dan mencapai tujuan belajarnya sendiri.

Menurut Majid (2013:321-325) dalam bukunya yang berjudul Strategi

Pembelajaran memaparkan beberapa strategi yang dapat digunakan oleh guru

untuk memotivasi siswa didalam kelas.

(1) Gunakan metode dan kegiatan yang beragam

Melakukan hal yang sama secara terus menerus bisa menimbulkan kebosanan

dan

menurunkan

semangat

belajar.

Siswa

yang

bosan

cenderung

akan

mengganggu proses belajar. Variasi akan membuat siswa tetap konsentrasi

dan

termotivasi.

Sesekali

mencoba

sesuatu

yang

berbeda

dengan

menggunakan metode belajar yang bervariasi didalam kelas.

(2) Jadikan siswa peserta aktif

Pada usia muda sebaiknyak diisi dengan melakukan kegiatan, berkreasi,

menulis, berpetualang, mendesain, menciptakan sesuatu, dan menyelesaikan

suatu masalah. Jangan jadikan siswa peserta pasif di kelas karena dapat

menurunkan minat dan mengurangi rasa keingintahuanya. Gunakanlah metode

jadikan siswa peserta pasif di kelas karena dapat menurunkan minat dan mengurangi rasa keingintahuanya. Gunakanlah metode
 

31

belajar

yang

aktif

dengan

memberikan

siswa

tugas

berupa

simulasi

pengelesaian suatu masalah untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar.

(3) Buatlah tugas yang menantang namun realistis dan sesuai

Buatlah proses belajar yang cocok dengan siswa dan sesuai minat mereka

sehingga menarik karena mereka dapat melihat tujuan dari belajar. Buatlah

tugas yang menantang dan realistis. Realistis dalam pengertian bahwa standar

tugas cukup berbobot untuk memotivasi siswa dalam menyelesaikan tugas

sebaik mungkin, tetapi tidak terlalu sulit agar jangan banyak siswa yang gagal

dan berakibat turunya semangat untuk belajar.

(4) Ciptakan suasana kelas yang kondusif

Kelas yang aman tidak mendikte dan cenderung mendukung siswa untuk

berusaha dan belajar sesuai minatnya akan menumbuhkan motivasi untuk

belajar.

Apabila

siswa

belajar

disuatu

kelas

yang

menghargai

dan

menghormati mereka dan tidak hanya memandang kemampuan akademis

mereka, mereka cenderung terdorong untuk terus mengikuti proses belajar.

(5) Berikan tugas secara proporsional

Jangan hanya berorientasi pada nilai dan beri penekanan pada penguasaan

materi. Segala tugas di kelas dan pekerjaan rumah tidak selalu bisa disetarakan

dengan nilai. Hal tersebut dapat menurunkan semangat siswa yang kurang

mampu memenuhi stanadr dan berakibat siswa yang bersangkutan merasa

dirinya gagal

menurunkan semangat siswa yang kurang mampu memenuhi stanadr dan berakibat siswa yang bersangkutan merasa dirinya gagal
 

32

(6) Libatkan diri anda untuk membantu siswa mencapai hasil mereka.

Arahkan

siswa

untuk

meningkatkan

kemampuan

dalam

proses

belajar-

mengajar, jangan hanya terpaku pada hasil ujian atau tugas. Bantulah siswa

dalam mencapai tujuan pribadinya dan terus pantau perkembang

(7) Berikan petunjuk pada siswa agar sukses dalam belajar

Jangan membiarkan siswa berjuang sendiri dalam belajar. Sampaikan kepada

mereka apa yang perlu dilakukan.

(8) Hindari kompetensi antarpribadi

Kompetisi dapat menimbulkan kekhawatiran yang bisa berdampak buruk bagi

proses belajar dan sebagian siswa akan cenderung bertindak curang. Kurngi

peluang dan kecenderungan untuk membandingkan satu siswa dengan yang

lainya dan menciptakan perpecahan diantara siswa.

(9) Berikan masukan

Berikan masukan kepada siswa dalam mengerjakan tugas mereka. Gunakan

kata-kata yang positif dalam memberikan komentar. Para siswa akan lebih

termotivasi terhadap kata-kata positif dibandingkan dengan ungkapan negatif.

Komentar positif akan membangun kepercayaan diri.

(10) Hargai kesuksesan dan keteladanan

Hindari komentar negatif terhadap kelakuan buruk dan performa rendah yang

ditunjukan kepada siswa. Akan lebih baik bila menggunakan apresepsi bagi

siswa yang menunjukkan kelakuan dan kinerja yangbaik. Ungkapan positif

dan dorongan sukses bagi siswa anda merupakan penggerak yang sangat

berpengaruh dan memberikan aspirasi bagi siswa yang lain untuk berprestasi.

siswa anda merupakan penggerak yang sangat berpengaruh dan memberikan aspirasi bagi siswa yang lain untuk berprestasi.

(11) Antusias dalam mengajar

33

Antusiasme seorang guru dalam mengajar merupakan faktor yang penting

untuk menumbuhkan motivasi dalam diri siswa. Bila terlihat bosan adn kurang

antusias, para siswa akan menunjukkan hal serupa. Upayakan untuk selalu

tampil baik, percaya diri dan antusias didepan kelas.

(12) Tentukan standar yang tinggi (tetapi realistis) bagi seluruh siswa

Standar yang diharapkan oleh para guru terhadap siswanya memiliki dampak

yang signifikan terhadap performa dan kepercayaan diri siswa.

(13) Pemberian penghargaan untuk memotivasi

Pemberian penghargaan seperti nilai, hadiah, dan sebagainya, mungkin efektif

bagi

siswa,

tetapi

metode

ini

harus

berpotensi menciptakan kompetensi.

digunakan

secara

hati-hati

karena

(14) Ciptakan aktivitas yang melibatkan seluruh siswa dalam kelas

Buatlah aktifitas yang melibatkan siswa di dalam kelas. Hal ini akan membagi

pengetahuan, gagasan dan penyelesaian tugas-tugas individu siswa dengan

seluruh siswa di kelas tersebut.

(15) Hindari penggunaan ancaman

Jangan mengancam siswa dengan kekerasan, hukuman ataupu nilai rendah.

Bagi sebagian siswa ancaman untuk memberi nilai rendah mungkin efektif,

tetapi hal itu dapat memicu siswa untuk mengambil jalan pintas.

(16) Hindarilah komentar buruk

Gunakan komentar yang positif dan perilaku yang baik. Banyak siswa yang

percaya diri akan performa dan kemampuan mereka. Jangan buat pernyataan

positif dan perilaku yang baik. Banyak siswa yang percaya diri akan performa dan kemampuan mereka. Jangan

34

yang negatif kepada para siswa di kelas anda berkaitan dengan perilaku dan

kemampuan mereka. Apabila tidak hati-hati kepercayaan diri mereka akan

jatuh.

(17) Kenali minat siswa

Para siswa mungkin berada didalam satu kelas, tetapi mereka mempunyai

kepribadian

yang

berbeda-beda.

Pahamilah

siswa,

bagaimana

tanggapan

mereka terhadap materi dan apa minat, cita-cita, harapan, dan kekhawatiran

mereka.

(18) Peduli dengan siswa

Para siswa akan menunjukkan minat dan motivasi pada para guru yang

memiliki perhatian. Perhatian bahwa guru memandang para siswa sebagai

layaknya manusia normal dan perhatikan bahwa mereka mendapatkan proses

pembelajaran dan bukan hanya sekedar nilai karena hal tersebut tercermin

pada kemampuan seorang guru.

2.1.9 Indikator Pengukuran Motivasi Belajar

Pengukuran

motivasi

belajar

menurut

Makmun

(2009:40)

dapat

dilakukan dengan mengidentifikasi beberapa indikatornya, antara lain:

(1) Durasinya kegiatan (berapa lama kemampuan penggunaan waktunya untuk melakukan kegiatan) (2) Frekuensinya kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu) (3) Persistensinya (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan kegiatan. (4) Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan. (5) Devosi (pengabdian) dan pengorbanan untuk mencapai tujuan.

menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan. (5) Devosi (pengabdian) dan pengorbanan untuk mencapai tujuan.

35

(6) Tingkatan aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target,dan idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. (7) Tingkatan kualifikasi prestasi atau produk atau output yang dicapai dari kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak) (8) Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan

2.2Hasil Penelitian yang Relevan

Kajian yang relevan dengan penelitian ini adalah kajian tentang hasil

penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti, diantaranya:

(1) Penelitian

yang

dilakukan

oleh

Yulianti

Anjayani

(2013)

dengan

judul

“Pengaruh Fasilitas Belajar Terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Mata

Pelajaran

Produktif

Atministrasi

Perkantoran

SMK

Negeri

3

Bandung”.

Penelitian ini menggunakan metode explanatory survey. Pendekatan yang

digunakan yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan

data menggunakan teknik angket. Analisis data menggunakan analisis regresi

sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas belajar berpengaruh

positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran

produktif atministrasi perkantoran SMK Negeri 3 Bandung.

(2) Penelitian

yang

dilakukan

oleh

Haryadi

Pakpahan

(2012)

dengan

judul

“pengaruh fasilitas belajar dan lingkungan belajar terhadap prestasi belajar

siswa di

SMK

Raksana

2 Medan

pengumpulan

data

dilakukan

dengan

Tahun

Ajaran

2012/2013”. Teknik

observasi,

wawancara,

angket dan

dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan metode statistik regresi

linear

ganda yang diperoleh Ŷ = 13,365 +0,784X + 0,324X . Hal ini

menunjukkan bahwa nilai Y dipengaruhi X dan X . Untuk menguji hipotesis,

diperoleh Ŷ = 13,365 +0,784X + 0,324X . Hal ini menunjukkan bahwa nilai Y dipengaruhi X
 

36

digunakan

uji

“F”

pada

tarafsignifikan

95%

atau

alpha

0,05

dengan

hasil

20,539

dengan

demikian Fdibandingkan

dengan F yaitu

20,539

>

3,115.

Hasil

penelitian

menyatakanterdapat

pengaruh

yang

positif

dan

signifikan antara fasilitas belajar dan lingkunganbelajar

terhadap

prestasi

belajar

siswa

kelas

T.P. 2012/2013.

X

Administrasi

Perkantoran

(3) Penelitian

yang

dilakukan

oleh

Lukman

Sunadi

SMKRaksana 2 Medan

(2013)

dengan

judul

“Pengaruh Motivasi Belajar dan Pemanfaatan Fasilitas Belajar Terhadap

Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI IPS di SMA

Muhamadiyah 2 Surabaya”, metode penelitian ini menggunakan Asosiatif dan

menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis data yang digunakan

dalam penelitian ini yaitu regresi linier berganda, uji asumsi klasik dan uji

hipotesis yang terdiri dari uji t dan uji F. Secara stimultan ada pengaruh antara

motivasi belajar dan pemanfaatan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar,

dapat dilihat dari hasil analisis F hitung 3,974306 > 3,12.

(4) Penelitian yang dilakukan oleh Andaru Werdayanti (2003) yang berjudul

“Pengaruh Kompetensi Guru dalam Proses Belajar Mengajar di Kelas dan

Fasilitas Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa”, metode pengumpulan data

yang digunakan yaitu kuesioner dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan

2 analisis data yaitu analisis deskriptif presentase dan regresi berganda, hasil

dari penelitian ini adalah adanya pengaruh antara guru dalam proses mengajar

di kelas dan fasilitas belajar terhadap motivasi belajar siswa kelas X SMA N 1

Sukorejo Kendal diterima sebesar 41,20%.

di kelas dan fasilitas belajar terhadap motivasi belajar siswa kelas X SMA N 1 Sukorejo Kendal

37

(5) Penelitian yang dilakukan oleh Mathias Angger Yudistira dan Sri Rum

Giyarsih (2012) yang berjudul “ Pengaruh Keberadaan Fasilitas Pendidikan

Terhadap

Pola

Keruangan

Lahan

Terbangun”,

metode

penelitian

yang

digunakan dalam penelitian ini yaitu sensus dan survai, selanjutnya di olah

mengunakan penampalan kemudian di analisis menggunakan teknik diskriptif-

eksplanasi.

Hasil

dari

penelitian

ini

yaitu

fasilitas

pendidikan

yang

memberikan pengaruh terhadap pola keruangan lahan terbangun di kecamatan

Depok adalah fasilitas pendidikan jenjang SMA dan Perguruan tinggi.

(6) Penelitian

yang dilakukan oleh Arum Mulia Sari (2014)

yang berjudul

“Pengaruh Minat dan Fasilitas Belajar terhadap Motivasi dan Implikasinya

terhadap

Hasil

Belajar

Siswa

pada

Mata

Pelajaran

Ekonomi”.

Metode

penelitian yang digunakan yaitu survey explanatory. Sedangkan analisis data

yang digunakan adalah path analysis yaitu model yang digunakan untuk

menganalisis pola hubungan antar variabel dengan tujuan untuk mengetahui

pengaruh langsung

maupun

tidak

langsung

seperangkat

variabel

bebas

(eksogen)

terhadap

variabel terikat (endogen). Hasil

penelitian

yang

dilakukan

membuktikan pengaruh minat belajar terhadap motivasi sebesar

35,2%,

pengaruh

fasilitas

belajar

terhadap

motivasi

sebesar

17,8%,

pengaruh

minat

belajar

terhadap

hasil

belajar

sebesar

15,2%,

pengaruh

fasilitas

belajar terhadap hasil belajar sebesar 58,5%, pengaruh motivasi

terhadap hasil belajar sebesar 20,9%.

(7) Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Raflian Giantera (2013) yang berjudul

“Pengaruh Fasilitas Belajar Dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar

oleh Dwi Raflian Giantera (2013) yang berjudul “Pengaruh Fasilitas Belajar Dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar
 

38

Siswa

Mata

Pelajaran

Peralatan

Kantor

Siswa

Kelas

X

Program

Keahlian

Administrasi

Perkantoran

SMK Cokroaminoto 1 Banjarnegara”.

Metode pengumpulan

data

menggunakan

angket

dan

dokumentasi.

Analisis

data menggunakan analisis deskriptif persentase dan analisis regresi

berganda.Hasil

penelitian menunjukkan

bahwa

analisis

regresi

linier

berganda diperoleh

persamaan:

Y

=

38,519 +

0,541X1 +

0,249X2Uji

F

yang diperoleh Fhitung = 60,005, sehingga H3 diterima. Secara parsial (uji

t) fasilitas belajar (X1) diperoleh thitung = 5,445, sehingga H1diterima.

Variabel

motivasi

belajar

(X2) diperoleh thitung=

2,847, sehingga

H2diterima. Secara simultan (R2) fasilitas belajardan motivasi belajar siswa

berpengaruh

terhadap

hasil

belajar

siswa

sebesar 69,40%.Simpulan

penelitian

ini

adalah

fasilitas

belajar

dan motivasi

belajar berpengaruh

terhadap hasil belajar baik secara simultan maupun parsial.

(8) Penelitian yang dilakukan oleh Ria Risty Rahmawati (2013) yang berjudul

“Hubungan Fasilitas Belajar dan Lingkungan Belajar dengan Prestasi Belajar

Mata Pelajaran Sosiologi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 3 Sukoharjo Tahun

Ajaran

2012/2013”.

Metode

yang

digunakan

dalam

penelitian

ini

yaitu

deskriptif

kuantitatif

korelasional.

Berdasarkan

hasil

penelitian

dapat