Anda di halaman 1dari 8

ANALISA SISTEM KOMUNIKASI VOICE GROUND TO AIR PADA

BANDARA UDARA SOEKARNO-HATTA MENGGUNAKAN VCS


FREQUENTIS 3020X

Aditya*), Teguh Prakoso


Program Studi Sarjana Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudharto, SH, Kampus UNDIP Tembalang, Semarang 50275, Indonesia
*)
E-mail: adityair19@gmail.com

Abstrak

Pelayanan lalu lintas udara yang diberikan oleh Air Traffic Controller (ATC) adalah bagian vital dari sistem
komunikasi suara pada dunia transportasi penerbangan. Daerah jangkuan yang diatur oleh ATC dibagi menjadi tiga
yaitu Aerodorme Control (ADC), Approach Control (APP), dan Area Control Centre (ACC). Sistem komunikasi suara
pada dunia penerbangan menggunakan frekuensi dengan kisaran 118-137 MHz. Teknik modulasi yang digunakan pada
sistem komunikasi suara dunia penerbangan adalah teknik modulasi DSB-AM yang dapat menjangkau jarak transmisi
yang jauh. Untuk menunjang semua komunikasi yang dilakukan antara operator ATC dengan pesawat, diperlukan
alat yang dapat membantu petugas ATC. Selain berkomunikasi dengan pesawat secara langsung, alat ini juga dapat
mengatur frekuensi apa saja yang dapat masuk ke dalam area jangkauan ATC. ATC pada Bandara Udara Soekarno-
Hatta menggunakan peralatan sistem komunikasi suara VCS FREQUENTIS 3020X yang menggunakan algoritma
bahasa pemrograman berbasis objek VDM++. Salah satu fungsi VCS FREQUENTIS 3020X yang sering digunakan di
Bandara Udara Soekarno Hatta adalah fungsi coupling. Fungsi ini dapat memungkinkan operator ATC menggunakan
frekuensi yand digunakan pesawat tertentu sebagai perantara untuk meneruskan pesan ke pesawat lain di sekitarnya.
Seorang operator ATC Bandara Udara Soekarno-Hatta dapat menjangkau sampai dengan lima belas pesawat dalam
satu wilayah jangkauan fungsi coupling. Tiap operator harus menggunakan fungsi coupling dengan frekuensi acuan
yang berbeda.

Kata kunci : Air Traffic Controller, Komunikasi Suara, DSB-AM, Coupling,VDM++

Abstract

Air traffic services provided by Air Traffic Controller (ATC) is a vital part of the voice communications system in the
aviation transport world. The controlled area of the ATC is divided into three: Aeodorme Control (ADC), Approach
Control (APP), and Area Control Center (ACC). The voice communication system in the aviation world uses
frequencies in the range of 118-137 MHz. The modulation technique used in the aviation aviation communication
system is a DSB-AM modulation technique that can reach distant transmission distances. To support all communication
between ATC operators and aircraft, a tool that can help ATC officers is needed. In addition to communicating with the
aircraft directly, the tool can also control what frequencies can fit into the ATC coverage area. ATC at Soekarno-Hatta
Airport using VCS FREQUENTIS 3020X voice communications system equipment using VDM ++ object-based
programming language algorithm. One of the primary function of VCS FREQUENTIS 3020X which is often used in
Soekarno Hatta Airport is coupling function. This function may allow ATC operators to use certain aircraft with a
particular frequency as intermediariy to forward messages to other aircraft nearby. An ATC operator of Soekarno-
Hatta Airport can reach up to fifteen aircraft in one area of the functioning coupling range. Each operator must use a
coupling function with different reference frequencies.

Keywords : Air Traffic Controller, Voice Communication, DSB-AM, Coupling, VDM++


1. Pendahuluan
Seiring dengan semakin berkembang pesatnya populasi
manusia, membuat setiap orang dituntut untuk dapat
bergerak cepat agara dapat bersaing antara satu sama lain.
Oleh karena itu trasnportasi udara yang dalam hal ini
adalah pesawat terbang semakin menjadi pilihan utama
mengingat waktu tempuh dengan menggunakan pesawat
terbang dapat menjadi jauh lebih singkat. Tetapi, hal ini
juga mengakibatkan lalu lintas udara semakin padat.

Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh pada masalah


manajemen penerbangan dimana semua operator Air
Traffic Controller (ATC) dituntut untuk dapat
mengontrol tiap pesawat yang melintas di wilayah
jangkauan Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC).
Terutama pada tiga daerah cakupan komunikasi voice
atau yang disebut juga dengan komunikasi suara yaitu
Approach Control (APP), ADC (Area Aerodrome
Control), dan (Area Control Centre) ACC yang memiliki
area cakupan yang luas sehingga memerlukan jangkauan
monitoring yang sangat jauh. Dengan demikian pesawat
yang berada di luar pulau dapat termonitoring dengan
baik dan dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan udara Gambar 1 Menara ATC Pada Bandara Udara Soekarno-
yang akan terjadi. Hatta

2.1.1 Area Control Center


Untuk mendukung agar hal-hal di atas dapat
direalisasikan maka dibutuhkan alat yang dapat
Dalam sistem komunikasinya, ACC menggunakan
mempermudah para operator dalam memonitoring
frekuensi Very High Frequency (VHF) dengan rentang
pesawat dengan dapat melakukan switching ke frekuensi
frekuensi 118-137 MHz dan daya keluaran sebesar 100
yang dituju dengan cepat serta dapat melakukan fungsi
watt. ACC sendiri memiliki area kerja yang sangat jauh
coupling atau penggandengan frekuensi pada lebih dari
dan tinggi yaitu 75Nm 250Nm atau setara dengan jarak
satu pesawat di satu wilayah jangkauan. Oleh karena itu
140 Km 463 Km dan altitude filght 16.000 feet-43.500
adanya Voice Communication System (VCS) atau yang
feet sehingga transmitter dan receiver ditempatkan di
disebut juga dengan sistem komunikasi suara sangat
suatu tempat yang tinggi dan strategis serta jauh dari
diperlukan karena memiliki peran yang cukup vital untuk
Bandara Soekarno Hatta yaitu di sebelah barat kawah
dapat mendapatkan kinerja yang maksimal .
puncak Gunung Tangkuban Perahu. Sebagai sarana
penghubungnya digunakan radio link. Stasiun Tangkuban
2. Landasan Teori Perahu ini berperan sebagai repeater.
2.1 Air Traffic Control (ATC)
Untuk penerbangan di Indonesia sendiri ada dua wilayah
Air Traffic Controller (ATC) atau pemandu lalu lintas jangkauan ACC yaitu Jakarta ACC dan Makasar ACC.
udara adalah penyedia layanan yang mengatur lalu-lintas Dua wilayah tersebut terbentuk karena wilayah udara
di udara terutama pesawat terbang untuk mencegah Indonesia dibagi menjadi dua Flight Information Region
pesawat terlalu dekat dengan satu sama lain untuk (FIR) dimana Jakarta mengatur regional barat dan
mencegah terjadinya kecelakaan. ATC melakukan Makassar mengatur regional timur. Untuk mempermudah
pengaturan lalu lintas udara pada menara pengawas untuk mengakomodasi ruang udara yang sangat luas, Jakarta
daerah jangkauan kerja Aerodorme Control (ADC) agar ACC dan Makassar ACC memiliki beberapa sektor.
dapat melihat dengan jelas keadaan landasan pacu, Jakarta FIR sendiri memiliki lima sektor yaitu:
sedangkan untuk daerah jangkauan Approach Control Jakarta Upper Control Medan (UM) dengan
(APP) dan Area Control Centre (ACC) berada di frekuensi yang dimiliki 133,200 MHz.
ruangan yang letaknya berdekatan dengan menara. Jakarta Upper Control Palembang (UP) dengan
frekuensi yang dimiliki 132,700 MHz.
Jakarta Upper Control Tanjung Pandan (UT) dengan
frekuensi yang dimiliki 131,000 MHz.
Jakarta Upper Control Semarang (US) dengan NORTH
frekuensi yang dimiliki 120,900 MHz. DELIVERY 125,15 MHz MAIN
Jakarta Upper Control Kalimantan (UK) dengan CONTROL 123,75 MHz SECONDARY
frekuensi yang dimiliki 133,700 MHz SOUTH
TOWER 118,20 MHz MAIN
2.1.2 Approach Control NORTH 118,75 MHz SECONDARY
TOWER SOUTH 120,25 MHz MAIN
Dalam sistem komunikasinya, APP menggunakan 119,30 MHz SECONDARY
frekuensi Very High Frequency (VHF) dengan rentang
frekuensi 118-137 MHz dan daya keluaran sebesar 50 2.2 VCS Frequentis 3020X
watt. APP sendiri memiliki area kerja yang sangat jauh
dan tinggi yaitu 75Nm 75Nm atau setara dengan jarak
VCS Frequentis 3020X adalah suatu peralatan voice
140 Km 140 Km dan altitude filght 3.500 feet-15.000
communication system atau yang biasa disebut dengan
feet. Pada Tabel 1
sistem komunikasi suara yang berfungsi untuk mengirim
informasi penerbangan kepada pilot antara ground to
Tabel 1 Pembagian Frekuensi Menara Pengawas APP
ground dan ground to air. Keluaran yang didapat dari alat
Pemancar Frekuensi Keterangan
ini adalah suara. Alat ini menggunakan sistem komunikasi
HOLDING 123,85 MHz MAIN secara digital di mana system switching dan audio pada
WEST alat ini sudah menggunakan sistem digital, alat ini juga
HOLDING EAST 125,55 MHz MAIN terintegrasi dengan alat pemancar dan penerima. Bahasa
TERMINAL 119,75 MHz MAIN/BACK UP Pemrograman yang digunakan pada alat ini adalah bahasa
WEST pemrograman formal berbasis objek VDM++
TERMINAL 127,95 MHz MAIN/BACK UP
EAST Sedangkan tujuan utama dari pemrosesan VCS ini adalah:
DEPARTURE 127,90 MHz MAIN/BACK UP 1. Untuk mengalokasikan frekuensi ke tiap-tiap
EAST operator.
ARRIVAL EAST 125,45 MHz MAIN/BACK UP 2. Untuk menghubungkan tiap operator dengan
LOWER NORTH 124,35 MHz MAIN/BACK UP transmiiter dan receiver.
135,90 MHZ SECONDARY 3. Menghubungkan komunikasi point to point dengan
menggunakan VSAT pada komunikasi di daerah
LOWER EAST 130,10 MHz MAIN jangkauan ACC.
EMERGENCY 121,50 MHz MAIN 4. Melakukan fungsi monitoring, traffic, neighbour
muting, receiver voting, dan coupling
2.1.3 Aerodorme Control
2.2.1 Bagian-bagian pada VCS Frequentis 3020X
Dalam komunikasinya, ADC menggunakan VHF dengan
daya keluaran sebesar 15 watt. ADC sendiri memiliki
Bagian terpenting dari VCS FREQUENTIS 3020X yang
area kerja yang lebih sempit dibanding dengan ACC dan
sering digunakan pada pengoperasian VCS adalah bagian
APP yaitu 12Nm 12Nm atau setara dengan jarak 23 Km
operator position equipment yaitu peralatan yang
23 Km dan altitude filght 0 feet-3.500 feet dan tidak
digunakan oleh operator untuk melakukan panggilan dari
sepert pada ACC, transmitter dan receiver ditempatkan di
bandar udara ke bandar udara dan bandar udara ke
area Bandara Soekarno Hatta dengan pembagian seperti
pesawat. Berikut ini adalah bagian bagian dari operator
yang ditunjukan pada Tabel 2.
position equipment.
Tabel 2 Pembagian Frekuensi Menara Pengawas ADC
1. IPOS
Menara Frekuensi Keterangan IPOS seperti yang ditunjukan pada Gambar 2
Pengawas berfungsi sebagai input panel layar sentuh atau
GROUND 121,60 MHz MAIN user interface dari VCS FREQUENTIS 3020X.
CONTROL SECONDARY IPOS berisikan frekuensi-frekuensi dan juga
128,85 MHz
NORTH nomor-nomor telepon yang digunakan oleh
operator untuk berkomunikasi dengan pilot
pesawat dan juga dengan petugas ATC.
GROUND 121,75 MHz MAIN 2. IPIP (plug in panel)
CONTROL 128,95 MHz SECONDARY IPIP seperti yang ditunjukan pada Gambar 3
SOUTH berfungsi sebagai konektor handset/headset dan
DELIVERY 121,95 MHz MAIN mikrofon yang dihubungkan dengan IPOS
CONTROL 124,25 MHz SECONDARY menggunakan kabel jaringan.
3. Handset/headset dan Mikrofon mematikan fungsi dari assistance atau bisa
Perangkat audio dalam dunia penerbangan adalah disebut juga mematikan fungsi dari transmitter
hal yang sangat vital dan tidak dapat terpisahkan. yang berbeda, sehingga hanya ada satu jalur
Dengan perangkat audio ini, petugas ATC dapat komunikasi sementara yang lain dimatikan.
mendengarkan dan mengirimkan informasi kepada Dengan demikian hanya satu operator yang dapat
pilot atau petugas ATS lainnya berkomunikasi dengan pesawat itu tanpa ada
gangguan.
D. Coupling
Coupling adalah pengiriman ulang pembicaraan
antara pilot dengan ATC ke pilot lain dengan
cara mengirim ulang hasil percakapan antara
operator dengan pesawat ke pesawat yang
berdekatan tersebut. Hal ini biasanya terjadi
karena ada dua pesawat yang berdekatan,
sehingga dibutuhkan kejelasan informasi agar
kedua pesawat tidak berbenturan atau
kecelakaan.
E. Receiver Voting
Receiver voting yaitu dengan memindahkan
pemantau receiver yang kurang baik sinyalnya
ke dalam kawasan receiver yang memiliki sinyal
yang lebih baik. Sistem akan mendeteksi saluran
Gambar 2 Interface iPOS VCS FREQUENTIS 3020X dalam suatu kelompok saluran yang memberikan
sinyal terbaik.

2.3 Bahasa Pemrograman Berorientasi


Objek VDM++

Vienna Development Method (VDM) adalah bahasa


pemrograman metode formal untuk untuk pengembangan
Gambar 3 iPIP VCS FREQUENTIS 3020X sistem berbasis komputer. VDM berkembang menjadi
VDM++ yang dapat menyokong bentuk permodelan
2.2.2 Fungsi VCS FREQUENTIS 3020X berbasis orientasi objek. Bahasa pemrograman ini secara
garis besar terbagi menjadi dua fungsi yaitu active objects
Pada VCS FREQUENTIS 3020X terdapat lima fungsi (philosoper) dan passive objects (table).
utama yaitu:
A. Monitoring
Pemantuan atau monitoring dapat dilakukan oleh
lebih dari satu petugas ATC dengan
menggunakan tombol RX pada panel sentuh
VCS Frequentis 3020X. Petugas ATC memilih
yang akan dipantau pada panel sentuh,kemudian
mendengarkan percakapannya melalui
headset/loudspeaker.
B. Traffic
Operator dapat menyeleksi beberapa saluran
untuk traffic pada saat bersamaan. Pemberian
informasi dari OP ke pesawat sering kita sebut
dengan traffic, sehingga pada intinya fungsi ini
adalah untuk menyeleksi saluran yang akan
digunakan pada saat terjadi komunikasi dengan
beberapa pesawat secara bersamaan.
C. Neighbour Muting
Bila kita menggunakan sebuah gelombang untuk Gambar 4 Senarai Pemrograman VDM++ Jenis Active
melakukan hubungan mungkin bisa terjadi Object
feedback, untuk itu kita perlu dilakukan
neighbour muting yaitu dengan cara server
Gambar 6 Proses Komunikasi Suara ground to air

3.3.1 Implementasi VCS Pada Komunikasi Daerah ACC

Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan ACC yang sangat


luas, maka dibeberapa tempat dipasang peralatan VHF-
Extended Range (VHF-ER). Pemancar penerima serta
tiang antena VHF yang sangat tinggi ditempatkan di
daerah pegunungan atau dataran tinggi. Selanjutnya
dibangun stasiun radio untuk penempatan peralatan yang
dimaksud, sehingga dapat menjangkau daerah yang
sangat luas sesuai kebutuhan, dalam komunikasi ini
digunakan alat bentu berupa VSAT. Apabila operator
Gambar 5 Senarai Pemrograman VDM++ Jenis Passive
Object pada ATC ingin mengontrol sebuah pesawat maka
operator ATC harus memberi suatu frekuensi yang diatur
Contoh dari active object dan passive object ditunjukan oleh VCS FREQUENTIS 3020X dan diteruskan ke
pada Gambar 4 dan Gambar 5, dimana passive object transmitter menggunakan menara upper control lalu
setelah frekuensinya diterima oleh pesawat, maka
digunakan untuk menyimpan sekumpulan informasi dan
terjadilah komunikasi antara ATC dengan pesawat seperti
digunakan secara bersamaan oleh objek-objek lainnya yang ditunjukan pada Gambar 7.
seperti misalnya informasi mengenai berapa banyak
pesawat yang dapat masuk ke dalam suatu daerah kerja
coupling. Active object digunakan untuk memulai suatu
proses eksekusi perintah tertentu dan akan dihubungkan
dengan memori yang ada pada passive object seperti
misalnya saat akan memulai fungsi coupling pada lebih
dari satu pesawat di suatu area.

3. Analisa Sistem Komunikasi Suara


Ground to Air Pada Bandara Soekarno- Gambar 7 Proses komunikasi Ground to Air menggunakan
Hatta Menggunakan VCS FREQUENTIS VSAT
3020X
3.1 Komunikasi Ground to Air 3.3.2 Implementasi VCS Pada Daerah Komunikasi APP

Apabila operator pada ATC ingin mengontrol sebuah


Komunikasi ini dilakukan antara Air Traffic Controler
pesawat maka operator ATC harus memberi suatu
(ATC) dengan pesawat. Dalam hal ini komunikasi terdiri
frekuensi yang diatur oleh VCS frequentis 3020X dan
wilayah kerja Area Control Centre (ACC), Area
diteruskan ke transmitter lalu setelah frekuensinya
Aerodorme Control (ADC), dan Approach Control (APP)
diterima oleh pesawat, maka terjadilah komunikasi antara
dan akan melibatkan perangkat VSAT dan VCS
ATC dengan pesawat. Pada Gambar 8 akan dijelaskan
FREQUENTIS 3020X untuk teknis pengoperasian di
bagaimana ATC berkomunikasi dengan pesawat
wilayah kerja ACC. Pada Gambar 6 akan ditunjukan
menggunakan VCS FREQUENTIS 3020X.
bagaimana cara kerja komunikasi ground to air antara
ATC dengan pesawat.
Gambar 8 Proses komunikasi Ground to Air tanpa
menggunakan VSAT

3.3.3 Implementasi VCS Pada Daerah Komunikasi ADC

Apabila operator pada ATC ingin mengontrol sebuah


pesawat di wilayah kerja ADC maka operator ATC harus
memberi suatu frekuensi yang diatur oleh VCS frequentis
3020X dan diteruskan ke transmitter lalu setelah
frekuensinya diterima oleh pesawat,maka terjadilah
komunikasi antara ATC dengan pesawat. Pada Gambar 8
akan dijelaskan bagaimana ATC berkomunikasi dengan
pesawat menggunakan VCS FREQUENTSI 3020X.
Gambar 9 Spektrum sinyal dari modulasi DSB-AM
3.3.4 Sistem Modulasi Pada Komunikasi Suara a. Sinyal Baseband atau pita dasar
b. Sinyal HF dengan frekuensi carrier
Pada kawasan Bandara Soekarno Hatta ditempatkan dengan upper dan dan lower sideband dari
banyak pemancar untuk keperluan komunikasi frekuensi carrier
penerbangan seperti pada daerah cakupan kerja APP dan
ADC. Pada Tabel 1 dan Tabel 2 pada Subbab 2.1.2
sebelumnya telah ditunjukan pembagian frekuensi kerja
komunikasi suara menara pengawasnya.

Setiap pesawat yang ingin mengontak bagian ATC dapat


mengontak salah satu frekuensi yang ada pada Tabel 1
ataupun Tabel 2, apabila pesawat ingin mendarat dan
sudah mulai dekat dengan bandara, maka pesawat tersebut
dapat mengontak salah satu frekuensi menara pemancar
seperti misalnya ARRIVAL EAST dengan frekuensi 125,45
MHz dan selanjutnya akan diatur oleh VCS Gambar 10 Modulasi Sinyal DSB-AM
FREQUENTIS 3020X dalam bentuk fungsi monitoring
agar proses komunikasi antara pihak ATC dengan
pesawat berjalan dengan baik dan selanjutnya akan diatur
oleh VCS FREQUENTIS 3020X dalam bentuk fungsi 3.2 Analisa Penggunaan Fungsi Coupling
monitoring agar proses komunikasi antara pihak ATC Pada VCS FREQUENTIS 3020X.
dengan pesawat berjalan dengan baik.
Dari lima fungsi VCS FRQUENTIS 3020X yang sudah
Agar semua proses komunikasi tersebut berjalan dengan dijelaskan sebelumnya, fungsi coupling merupakan salah
lancar maka digunakan teknik modulasi DSB-AM satu fungsi paling penting karena fungsi ini dapat
(Double Sideband Amplitude Modulation) menggunakan memudahkan komunikasi antara dua pesawat yang
gelombang sinusoidal. Amplitudo dari gelombang suara berdekatan dengan pihak ATC. Terutama saat kedua
mengontrol amplitudo dari frekuensi carrier sinyal radio frekuensi dari pesawat saling berdekatan maka akan
dan gelombang suaranya ditransmisikan dalam bentuk sangat rawan terjadi interferensi gelombang informasi,
upper dan dan lower sideband dari frekuensi carrier sehingga dibutuhkan fungsi ini agar dapat terjadi
sinyal radio. pada Gambar 9 dan Gambar 10 akan kejelasan informasi antara pihak ATC dengan pesawat.
diilustrasikan modulasi sederhana dari modulasi DSB- Kemungkinan-kemungkinan posisi apa saja yang
AM yang biasa dilakukan pada sistem modulasi sinyal memungkinkan dari operator dan pesawat pada suatu
suara. daerah kerja Coupling ada di dalam senarai program
VDM++ pada Gambar 10 dan pada satu operator hanya
dapat menjangkau satu wilayah kerja coupling group.
terjadi seperti yang ditunjukan pada Gambar 14 dimana
saat mode duplex coupling (komunikasi point to point)
aktif dan ada dua pesawat yang mengirim sinyal suara
pada saat yang bersamaan pada frekuensi yang berbeda
yaitu pada F1 dan F2 tetapi hanya F1 yang terhubung
dengan operator pada ATC tanpa menyadari adanya
transmisi sinyal pada F2.

Sinyal masukan pada Rx F1 akan ditransmisi ulang pada


Tx F2 sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 14
dimana posisi Tx F2 cukup dekat dengan Rx F2 sehingga
Rx F2 akan menerima sinyal yang kuat. Pada kasus ini
operator pada ATC tidak akan menyadari adanya
panggilan pada pesawat di Rx F2.

Gambar 11 Senarai Pemrograman Fungsi Coupling

Arsitektur sistem secara keseluruhan pada VCS


FREQUENTIS 3020X yang terdiri dari RIF, LIF, OP, dan
SWITCH ditunjukan pada senarai permograman pada
Gambar 11 di atas.

Gambar 14 Coupling group dengan referensi frekuensi F1

Untuk menanggulanginya, operator pada ATC


menggunakan coupling group yang berbeda di tiap
operator sehingga apabila salah satu operator
menggunakan mode duplex coupling dengan referensi
pada frekuensi F1 maka salah satu coupling group dapat
menggunakan referensi F2 seperti pada Gambar 15
berikut.
Gambar 12 Senarai Pemrograman Untuk memulai Fungsi
Coupling Penyeleksi Frekuensi

Untuk dapat mengecek apakah suatu frekuensi dapat


dimasukan ke dalam daerah coupling dan memulai
fungsinya maka digunakan metode frequency coupling
start seperti yang ditunjukan pada Gambar 12.

Gambar 15 Coupling group dengan referensi frekuensi F2

Gambar 13 Senarai Pemrograman Untuk Mengakhiri 4. Kesimpulan


Fungsi Coupling
VCS FREQUENTIS 3020X memungkinkan operator
Sementara untuk menutup pintu masuk dari suatu daerah ATC dapat melakukan pemantauan terhadap pesawat
frekuensi coupling atau mengeksekusi suatu frekuensi yang sedang melintas di suatu area meliputi daerah area
dari daerah kerja frekuensi coupling seperti yang jangkauan ACC, APP atau ADC dengan mudah.
ditunjukan pada Gambar 13 di atas. Terutama dengan menggunakan fungsi coupling. Untuk
komunikasi pada wilayah ACC, VCS dihubungkan
Fungsi coupling merupakan salah satu fungsi yang dengan VSAT untuk dapat berkomunikasi pada sektor
digunakan hampir setiap hari terutama pada jam-jam tertentu di mana pesawa berada. Sementara untuk
padat, tetapi untuk melakukan fungsi ini tetap harus komunikasi pada wilayah APP dan ADC, VCS tidak perlu
berhati-hati karena terkadang ada sebuah kasus yang
dihubungkan dengan VSAT untuk dapat berkomunikasi Saya menyatakan bahwa segala informasi yang tersedia di
pada sektor tertentu di mana pesawa berada. Pemanfaatan makalah ini adalah benar, merupakan hasil karya sendiri,
bahasa pemrograman berbasis objek VDM++ pada sistem bebas dari plagiat, dan semua karya orang lain telah
komunikasi suara ground to air memungkinkan petugas dikutip dengan benar.
di ATC melakukan fungsi coupling, monitor, traffic,
neighbour muting, dan receiver voting. Untuk dapat
meningkatkan performa fungsi coupling, dapat
dikembangkan lagi kemampuan VCS untuk dapat
menjangkau lebih dari lima belas pesawat dalam satu
daerah jangkauan fungsi coupling dan tetap dapat Aditya
meminimalisir kesalahan pengiriman sinyal suara ke tiap 21060114130074
pesawat seperti pada saat mode duplex coupling sedang
aktif.
Pengesahan
Referensi
Telah disetujui untuk diajukan pada seminar Kerja Praktik
[1] Marzuki, Muhammad, Laporan Kegiatan PKL
Pengaplikasian Grond to Air berbasis Voice Semarang, 25 Maret 2017
Communication Control System (VCCS) Garex 220 In
Bandara Soekarno-Hatta. Tangerang: Perpustakaan Pembimbing
Voice & Switching, 2012.
[2] Azizah, Qonitatul, Laporan Kegiatan PKL
Pengaplikasian Ground to Ground berbasis Voice
Communication Control System (VCCS) Garex 220 di
Bandara Soekarno-Hatta. Tangerang: Perpustakaan Voice
& Switching, 2013. Teguh Prakoso, S.T.,M.T. P.hD
[3] Prakoso, Fahrireza, Laporan Kerja Praktik Unjuk Kerja NIP. 19770622 201012 1 001.
Voice Communication System (VCS) FREQUENTIS
3020x Bandara Soekarno-Hatta. Tangerang:
Perpustakaan Voice & Switching, 2015.
[4] AJN Solusindo. Training AP II. Tangerang: Perpustakaan
Voice & Switching, 2015
[5] Frequentis. Voice Control System (VCS) 3020X.
Malaysia: Frequentis, 2015.
[6] J. G. Proakis and M. Salehi, Communication System
Engineering. Boston: Northeasten University, 2001.
[7] C. B. Jones, Systematic Software Developtment. United
Kingdom: Academic press, 2012.

Biodata

Aditya (21060114130074) Lahir di


Jakarta, 3 April 1996. Telah
menempuh pendidikan di SD Negeri
Pondok Kelapa 01 Pagi Jakarta
selama enam tahun, SMP Negeri 195
Jakarta selama tiga tahun, SMA
Negeri 91 Jakarta selama tiga tahun.
Saat ini, penulis adalah mahasiswa
S1 Teknik Elektro Universitas
Diponegoro Konsentrasi Teknik Telekomunikasi
Angkatan 2014.