Anda di halaman 1dari 91

PENGARUH PENGALAMAN AUDITOR TERHADAP OPINI GOING CONCERN MELALUI KUALITAS AUDIT

TESIS Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Magister

AUDIT TESIS Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Magister Oleh J U R A N A. NS

Oleh J U R A N A. NS

0920203017

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI

PASCASARJANA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA M A L A N G

2011

i

TESIS

PENGARUH PENGALAMAN AUDITOR TERHADAP OPINI GOING CONCERN MELALUI KUALITAS AUDIT

Oleh :

JURANA NS

Telah dipertahankan didepan penguji

Pada tanggal 7 juli 2011

Dinyatakan telah memenuhi syarat

Prof. Dr .Sutrisno, SE.,M.Si.,Ak

Ketua

Menyetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Prihat Assih, SE.,M. Si., Ak

Anggota

ii

JUDUL TESIS:

PENGARUH PENGALAMAN AUDITOR

TERHADAP OPINI GOING CONCERN

MELALUI KUALITAS AUDIT

Nama Mahasiswa

: Jurana NS

NIM

: 0920203017

Program Studi

: Magister Akuntansi (S2)

Minat

: Akuntansi

KOMISIN PEMBIMBING:

Ketua

: Prof. Dr. Sutrisno, SE., M.Si., Ak

Anggota

: Dr. Prihat Assih, SE., M.Si., Ak

TIM DOSEN PENGUJI:

Dosen Penguji 1

: Dr. Rosidi, SE., MM., Ak

Dosen Penguji 2

: Aulia Fuad R, SE., M.Si., Ak., Ph.D

Tanggal Ujian

: 7 Juli 2011

iii

PERNYATAAN ORISINALITAS TESIS

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa sepanjang pengetahuan

saya, di dalam Naskah Tesis ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan

oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu Perguruan Tinggi, dan

tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang

lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam

sumber kutipan dan daftar pustaka.

Apabila ternyata di dalam naskah Tesis ini dapat dibuktikan terdapat unsur-

unsur jiplakan, saya bersedia Tesis (MAGISTER) dibatalkan, serta diproses sesuai

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 20 Tahun 2003, pasal

25 ayat 2 dan pasal 70)

iv

Malang, 7 Juli 2011

Mahasiswa

Materai Rp 6.000,-

Jurana NS

0920203017

RIWAYAT HIDUP

Jurana NS, Palu, 13 April 1982 anak tunggal dari pasangan Bapak Nurdin Sewade dan (Almh) Ibu Patimang. Istri dari Muh Nasir Anwar dan memiliki 4 anak. Pendidikan dasar dan menengah ditempuh di Palu, Sulawesi tengah. Lulus dari SD Al-muhajirin tahun 1994, MTS Negeri 2 Palu tahun 1997 dan SMK Negeri 2 Palu tahun 2000. Pendidikan berikutnya ia tempuh di Universitas tadulako program studi Pendidikan Akuntansi kemudian ia melanjutkan pendidikan di Universitas Brawijaya program studi Magister Akuntansi tahun 2009. Pengalaman kerja sebagai Tenaga Pengajar pada fakultas Ekonomi Universitas Tadulako.

v

Malang, 7 Juli 2011

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji dan syukur hanya untuk Allah SWT yang telah memberikan anugerahnya sehingga tesis ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Penulis juga menyadari bahwa tesis ini dapat diselesaikan tepat waktu karena adanya bimbingan, bantuan dan motivasi dari berbagai pihak.

1. Bapak dan Suami yang selalu memberikan motivasi, doa dan inspirasi bagi penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan tepat waktu.

2. Prof. Dr. Sutrisno, SE., Ak, M.Si selaku pembimbing utama yang telah membimbing dengan sabar dan selalu memberikan saran sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.

3. Dr. Prihat Assih, SE., M.Si., Ak selaku anggota pembimbing yang selalu memberikan masukan dan saran yang sangat berharga bagi penulis demi kesempurnaan tesis ini.

4. Dr. Rosidi, SE., Ak., MM selaku penguji I yang selalu memberikan motivasi, saran dan masukan bagi penulis.

5. Aulia Fuad R, SE., M.Si.,Ak.,Ph.D selaku penguji II yang telah banyak memberikan saran dan masukan bagi penulis.

6. Anak-anakku yang secara tidak langsung memberikan semangat dan motivasi bagi penulis untuk secepatnya menyelesaiakan studi S2 ini. Kalian adalah anak-anak yang terbaik untuk mama!!!

7. Senior-senior kanda Nina yusnita, kanda Chalarce, kanda Husnah, pak kahar, pak Ikbal, yang selalu bersedia membantu dan memberikan motivasi, saran dan masukan bagi penulis.

8. Teman-teman MSA UB kelas B pak Asib, Fatma, Nana, Ratna, mbk Eki, bu Lamria, mbk Olin, pak Arthur, pak James, pak Joseph, dan kelas A Selmita, mbk Novi K, mbk Kim, mbk Niken. Thanks for all. Never give up to face your life guys!

vi

Malang, 7 Juli 2011

Penulis

ABSTRAK

Jurana NS: Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, 7 Juli 2011. Pengaruh Pengalaman Auditor terhadap Opini Going concern melalui Kualitas Audit. Ketua Pembimbing: Sutrisno, Komisi Pembimbing:

Prihat Assih

Penelitian ini menguji pengaruh pengalaman auditor terhadap opini going concern melalui kualitas audit. Pengujian dilakukan terhadap sampel sebanyak 47 auditor yang bekerja pada KAP yang terdaftar di ICMD 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman auditor berpengaruh positif terhadap opini going concern. Selain itu, pengalaman auditor memiliki pengaruh positif terhadap kualitas audit. Penelitian ini juga menemukan pengaruh positif kualitas audit terhadap opini going concern. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengalaman auditor dan kualitas audit merupakan determinan dari opini going concern.

Kata Kunci: Pengalaman auditor, Kualitas audit, opini going concern

vii

ABSTRACT

Jurana NS: Postgraduate Economics Faculty of Brawijaya University, Juli 7 2011. The Effect of Experience Auditor on Opinion Going concern trough the Quality Audit. Supervisor: Sutrisno, co-supervisor: Prihat Assih

This research examines the effect of experience auditor on Opinion going concern trough the Quality audit. Examination Examination conducted to sampel counted 47 laboring auditor at KAP which enlist in ICMD 2010. The results of research indicate that experience auditor have an effect on positive to opinion going concern. Besides, experience auditor have an effect on positive to quality audit. This research also find effect positive is quality audit to opinion going concern. Pursuant to result of the research hence can be concluded that experience auditor, quality audit is determinant of opinion going concern Keywords: Experience Auditor, Quality Audit, Opinion Going concern

viii

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyajikan tulisan tesis yang berjudul:

Pengaruh Pengalaman Auditor terhadap Opini Going Concern melalui Kualitas Audit.

Tulisan ini menyajikan bukti empiris dari pengaruh pengalaman auditor terhadap opini going concern melalui kualitas audit. Populasi dari penelitian ini adalah semua auditor yang mengaudit perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010. Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian- penelitian sebelumnya. Sangat disadari bahwa dengan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki penulis, walaupun telah dikerahkan segala kemampuan untuk lebih teliti, tetapi masih dirasakan banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran yang membangun demi kesempurnaan tulisan ini dan bermanfaat bagi yang membutuhkan.

ix

Malang, 7 Juli 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

 

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

HALAMAN IDENTITAS TIM PENGUJI TESIS

iii

PERNYATAAN ORISINALITAS TESIS

iv

RIWAYAT HIDUP

 

v

UCAPAN TERIMA KASIH

vi

ABSTRAK

vii

ABSTRACT

viii

KATA PENGANTAR

 

ix

DAFTAR ISI

x

DAFTAR TABEL

 

xiii

DAFTAR GAMBAR

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

xv

BAB I

PENDAHULUAN

1

1.1

Latar Belakang Penelitian

1

1.2 Motivasi Penelitian

6

1.3 Perumusan masalah

7

1.4 Tujuan Penelitian

8

1.5 Kontribusi Penelitian

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

11

2.1 Landasan Teori

11

2.2 Behavioral Decision Theory

11

2.3 Pertimbangan (judgment) Auditor atas Kelangsungan Usaha

Entitas (going concern)

14

2.4 Opini Going Concern

15

2.5 Pengalaman Auditor

19

2.6 Kualitas Audit

21

x

BAB III

RERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

24

3.1 Opini Going Concern

24

3.2 Perumusan Hipotesis

25

3.2.1 Pengalaman auditor

25

3.2.2 Kualitas audit dan opini going concern

29

BAB IV

METODE PENELITIAN

32

4.1 Jenis Penelitian

32

4.2 Populasi dan Sampel

32

4.3 Teknik pengumpulan data

33

4.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

34

4.4.1 Pengalaman auditor

34

4.4.2 Kualitas audit

35

4.4.3 Opini going concern

35

4.5 Pengujian Instrumen Penelitian dengan menggunakan CFA

36

4.6 Model pengujian hipotesis

39

4.7 Prosedur pengujian hipotesis

39

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

44

5.1 Proses pengumpulan data

44

5.2 Karakteristik responden

46

5.3 Deskripsi jawaban responden

47

5.3.1 Variabel Pengalaman auditor

48

5.3.2 Variabel Kualitas audit

49

5.3.3 Variabel Opini going concern

49

5.4 Uji Instrumen penelitian

50

5.4.1 Uji validitas Variabel Kualitas audit dan variabel opini

going concern

51

5.4.2 Uji Reliabilitas

52

5.5 Uji Normalitas

52

5.6 Pengujian Hipotesis

53

5.6.1 Pengujian hipotesis 1

53

5.6.2 Pengujian hipotesis 2

54

5.6.3 Pengujian hipotesis 3

55

5.6.4 Pengujian hipotesis 4

55

5.7 Pembahasan Hasil Penelitian

58

5.7.1 Pengaruh langsung pengalaman auditor terhadap opini

going concern

58

5.7.2 Pengaruh langsung pengalaman auditor terhadap kualitas audit

59

5.7.3 Pengaruh langsung kualitas audit terhadap opini going

concern

5.7.4 Pengaruh tidak langsung antara pengalaman auditor terhadap opini going concern melalui kualitas audit

60

61

xi

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

62

6.1 Kesimpulan

62

6.2 Keterbatasan Penelitian

63

6.3 Saran

63

6.4 Implikasi Penelitian

63

DAFTAR PUSTAKA

65

LAMPIRAN

70

xii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

5.1

Distribusi dan tingkat pengembalian kuesioner

45

5.2

Responden berdasarkan jenis kelamin

46

5.3

Responden berdasarkan umur

46

5.4

Responden berdasarkan tingkat pendidikan

47

5.5

Responden berdasarkan jabatan

47

5.6

Deskripsi variabel pengalaman kerja

48

5.7

Variabel pengalaman kerja

48

5.8

Deskripsi variabel kualitas audit

49

5.9

Deskripsi variabel opini going concern

50

5.10

Hasil pengujian validitas instrument kualitas audit

51

5.11

Hasil pengujian validitas instrument opini going concern

51

5.12

Uji Reliabilitas

52

5.13

Pengujian model persamaan hipotesis 1

54

5.14

Pengujian model persamaan hipotesis 2

54

5.15

Pengujian model persamaan hipotesis 3

55

5.16

Pengujian model persamaan hipotesis 4

55

5.17

Ikhtisar hasil uji hipotesis

56

5.18

Koefisien jalur, pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung dan pengaruh

total

57

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Judul

Halaman

3.1

Model. Konsep penelitian

25

4.1

Model Analisis Jalur

42

5.1

Gambar uji normalitas

53

5.2

Model analisis Jalur

57

xiv

Lampiran

DAFTAR LAMPIRAN

Judul

Halaman

1 Instrumen Penelitian

70

2 Uji validitas dan Reliabilitas instrument

77

3 Uji Normalitas data

82

4 Hasil analisis regresi

86

xv

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Laporan keuangan perusahaan disusun atas dasar asumsi going concern

(kelangsungan usaha). Going concern mengasumsikan bahwa perusahaan akan

melanjutkan usahanya dimasa depan dan tidak berkeinginan melikuidasi atau

mengurangi secara material skala usahanya. Perusahaan membutuhkan suatu

kepastian atau semacam jaminan tertentu yang dapat menimbulkan suatu rasa

nyaman dikemudian hari, dimana persaingan atau kompetisi didalam industri begitu

berat. Berkaitan dengan hal tersebut maka dibutuhkan suatu opini going concern

dari auditor mengenai kelangsungan hidup suatu perusahaan. Opini audit mengenai

kelangsungan

hidup

perusahaan

ini

pada

dasarnya

sangat

dibutuhkan

oleh

perusahaan, sehingga banyak perusahaan meminta auditor untuk melakukan audit

atas perusahaannya.

Pertimbangan auditor atas kelangsungan usaha entitas (going concern)

merupakan isu penting dalam riset auditing (Kida, 1984; Mc Keown et al., 1991;

Asare, 1992; Chen dan Church, 1992; Ricchiute, 1992; Libby dan Trotman, 1993;

Rau

dan

Moser,

1999).

Isu

tersebut

terkait

dengan

kewajiban

auditor

untuk

mengevaluasi kemampuan entitas dalam melanjutkan kelangsungan usaha (going

concern) pada satu periode tertentu (Boynton et al., 2001), dan mengungkapkannya

dalam opini audit.

Hoffman et al. (2003) menganggap pertimbangan kelangsungan usaha (going

concern)

adalah

isu

yang

substansial,

karena

beberapa

alasan

:

pertama,

pembuatan pertimbangan atas kelangsungan usaha (going concern) merupakan

2

bagian

proses

tugas

terstruktur

dalam

audit

yang

memerlukan

pengalaman

(Kennedy, 1993; Trotman dan Wright, 1996); kedua, terdapat kewajiban legal dan

moral dalam mengungkapkan kelangsungan usaha (going concern) sebagaimana

diatur dalam standar audit (SAS No. 59, AICPA, 1988 dan Standar Auditing nomor

341, IAI, 2001). Standar ini secara tegas memberikan arahan bagaimana auditor

mempertimbangkan kondisi dan kejadian yang berkaitan dengan kelangsungan

usaha (going concern), yaitu auditor tidak perlu mengembangkan prosedur audit

khusus dalam memperhatikan informasi terkait kelangsungan usaha (Rau dan

Moser, 1999); ketiga, tugas pertimbangan kelangsungan usaha mengharuskan

auditor untuk memperhatikan informasi secara menyeluruh dari sejumlah proses

pengujian audit yang dilakukan. Kondisi tersebut memberikan arahan proses audit

untuk mengembangkan evaluasi informasi yang berguna, dan bukan evaluasi yang

pasif terhadap bukti audit yang disajikan (Shelton, 1999). Tugas pertimbangan atas

kelangsungan usaha (going concern) merupakan contoh situasi yang baik, yang

mengharuskan auditor memperhatikan sejumlah urutan bukti dalam sebuah proses

yang tidak konsisten atau tidak sesuai dengan yang biasa dilakukan (Hoffman et al.,

2003).

Pembuatan

pertimbangan

atas

kelangsungan

usaha

(going

concern)

memberikan kesulitan dan kompleksitas tugas tersendiri bagi auditor dalam proses

audit

(Campisi

dan

Trotman,

1985).

Pertimbangan

atas

kelangsungan

hidup

kesatuan usaha (going concern) merupakan sesuatu yang sulit (Mayangsari, 2003),

karena

bukti-bukti

empirik

menunjukkan

bahwa

auditor

sering

salah

dalam

memberikan pendapat mengenai hal ini (Citron dan Taffler, 2004). Hal ini sejalan

dengan

pendapat

Chow

dan

Rice,

(1982)

bahwa

pembuatan

pertimbangan

kelangsungan usaha (going concern) secara umum dipandang sebagai kesulitan

3

dan tugas yang kompleks bagi auditor sehingga memerlukan pengalaman yang

lebih.

Ashton (1991), menyatakan bahwa pengalaman dan pengetahuan merupakan

faktor yang penting dalam pertimbangan auditor. Abdolmohammadi dan Wright

(1987) menunjukkan bahwa auditor yang memiliki pengalaman akan memberikan

pendapat yang berbeda dengan auditor yang tidak memiliki pengalaman untuk tugas

audit yang tidak terstruktur. Sejumlah riset tentang pengalaman auditor dengan

kompleksitas tugas menunjukkan hasil yang tidak konsisten (Mayangsari, 2003).

Ashton dan Kramer (1990) menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh pengalaman

terhadap tugas terstruktur. Sementara itu, Frederick dan Libby (1986); serta Libby

(1985) dalam Mayangsari (2003) menunjukkan adanya pengaruh pengalaman yang

signifikan terhadap keputusan yang terstruktur.

Hoffman

et

al. (2003) menguji proses pertimbangan pada auditor

yang

memiliki pengalaman dibandingkan dengan yang tidak memiliki pengalaman, karena

individu yang tidak memiliki pengalaman secara normal melakukan tugas evaluasi

informasi secara terstruktur, seperti apa yang disajikan kepada mereka. Auditor tidak

memiliki pengalaman merupakan subyek pembanding dengan alasan bahwa mereka

akan mengevaluasi informasi sama, baik dalam kondisi proses dibatasi atau tidak

(Patel et al., 1990).

Tidak

adanya

prosedur

audit

khusus

dalam

melakukan

pertimbangan

kelangsungan usaha entitas (going concern), memberikan implikasi perlunya auditor

mengembangkan struktur pengetahuan yang sesuai dalam memperhatikan informasi

(Libby dan Luft,1993). Hal tersebut mengasumsikan bahwa semua bukti yang terkait

dengan pertimbangan kelangsungan usaha (going concern) akan diperhatikan

auditor sebagai hasil prosedur audit standar yang tidak bias (Rau dan Moser, 1999).

4

Glover (1997) membuktikan bahwa pembatasan dalam proses pertimbangan

merupakan sebuah mekanisme yang memaksa auditor yang berpengalaman untuk

fokus hanya pada informasi yang relevan. Hal ini sejalan dengan temuan Biggs et al.

(1993)

yang

menyatakan

bahwa

auditor

menerima

kondisi

adanya

masalah

kelangsungan usaha dan hanya mengevaluasi bukti yang mengurangi masalah

tersebut. Temuan tersebut, menurut Hoffman et al. (2003), Krull et al. (1993)

merupakan akibat proses penentuan pertimbangan yang tidak seperti yang biasa

dilakukan oleh auditor berpengalaman, walaupun hal tersebut dapat mengurangi

hasil pertimbangannya (Trotman dan Wright, 1996).

Opini auditor merupakan sumber informasi bagi pihak eksternal perusahaan

sebagai pedoman untuk pengambilan keputusan. Auditor yang berkualitas dapat

menjamin

bahwa

laporan

(informasi)

yang

dihasilkannya

reliable.

Penelitian

mengenai kualitas auditor banyak dikaitkan dengan ukuran Kantor Akuntan Publik

(KAP) dan reputasi auditor. Barbadillo et al. (2004) meneliti pengaruh kualitas audit

terhadap keputusan going concern. Studinya menggunakan reputasi auditor sebagai

proksi kualitas audit.

Faktor

yang

mempengaruhi

auditor

mengeluarkan

opini

going

concern

penting untuk diketahui karena opini ini dapat dijadikan referensi investor berkaitan

dengan investasinya. Opini audit going concern merupakan suatu opini yang

dikeluarkan auditor untuk memastikan apakah perusahaan dapat mempertahankan

kelangsungan hidupnya (SPAP 2001). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa

faktor yang mempengaruhi auditor dalam menerbitkan opini going concern berbeda-

beda dan hasilnya tidak konklusif. Faktor-faktor itu adalah faktor keuangan dan non

keuangan. Faktor non keuangan terdiri dari tenure, reputasi KAP, disclosure dan

size perusahaan.

5

Penelitian di Indonesia tentang going concern telah dilakukan oleh Fanny

dan Saputra (2005), Mayangsari (2003), Komalasari (2004), Santosa dan Wedari

(2007), Januarti dan Fitrianasari (2008). Komalasari (2004), Januarti dan Fitrianasari

(2008) hasilnya menyebutkan bahwa reputasi auditor tidak signifikan mempengaruhi

opini going concern hal ini disebabkan karena ketika KAP sudah memiliki reputasi

yang

baik

maka

KAP

tersebut

akan

berusaha

mempertahankan

reputasinya

sehingga akan bersikap objktif, sedangkan menurut Geiger dan Rama (2006) hasil

penelitiannya menyebutkan bahwa reputasi auditor mempengaruhi opini going

concern hal ini disebabkan karena KAP besar cenderung untuk independen dalam

masalah

going

reputasinya.

concern

karena

KAP

tersebut

akan

berusaha

untuk

menjaga

Adanya konflik penelitian tersebut, menjadi motivasi bagi peneliti untuk

meneliti kembali faktor utama yang mempengaruhi opini going concern karena

menurut peneliti, faktor utama yang mempengaruhi opini going concern adalah

faktor pengalaman auditornya yang juga menjadi salah satu faktor utama yang

mempengaruhi kualitas audit itu sendiri sehingga dengan pengalaman yang dimiliki

oleh auditor maka auditor berskala besar dapat menyediakan kualitas audit yang

lebih

baik

dibanding

auditor

berskala

kecil,

termasuk

dalam

mengungkapkan

masalah going concern. Hal tersebut juga diperkuat oleh Geiger dan Rama (2006)

yang menguji perbedaan kualitas audit antara KAP Big 4 dan non Big 4. Hasil

menunjukkan bahwa tingkat kesalahan Tipe I dan II yang dihasilkan oleh Big 4 lebih

rendah daripada non Big 4. Penelitian Mutchler et al. (1997) juga menemukan bukti

univariat dimana auditor big six cenderung menerbitkan opini audit going concern

pada perusahaan yang mengalami financial distress dibandingkan auditor non big

six.

6

Berdasarkan uraian diatas maka going concern merupakan isu yang menarik

untuk diteliti karena going concern memainkan peranan yang penting baik bagi

perusahaan, auditor maupun pihak luar seperti investor atau calon investor, kreditor

dan pemerintah sehingga penelitian ini akan menguji kualitas auditor memediasi

hubungan antara pengalaman auditor dan opini going concern.

1.2. Motivasi Penelitian

Penelitian ini dimotivasi oleh beberapa alasan. Pertama, auditor mempunyai

tanggung jawab dalam mengungkapkan masalah going concern sesuai dengan PSA

No. 30 dan SAS no 59. Pemberian status going concern bukanlah suatu tugas yang

mudah.

Auditor

harus

mempunyai

pertimbangan

yang

akurat

sebelum

melaksanakan tanggung jawabnya, mengingat informasi tersebut akan digunakan

oleh berbagai pihak, dan tidak ada pedoman yang pasti dan terstruktur mengenai

masalah pemberian opini going concern, sehingga penelitian ini penting untuk

dilakukan. Auditor harus pandai menganalisis berbagai aspek dan faktor-faktor yang

mempengaruhi opini going concern.

Kedua, penelitian ini merupakan pengembangan dengan menggabungkan

dua

penelitian

sebelumnya

yaitu

Abdolmohammadi

dan

Wright

(1987)

yang

menunjukkan bahwa auditor yang tidak pengalaman mempunyai tingkat kesalahan

yang lebih signifikan dibandingkan dengan auditor yang lebih berpengalaman.

Mutchler (1984) yang menguji tentang persepsi auditor dalam pemberian keputusan

opini going concern. Penelitian ini digabungkan karena menurut peneliti auditor yang

bertugas dalam

pemberian opini going concern haruslah auditor

yang

sudah

memiliki pengalaman dalam bidang tersebut sehingga pemberian opini tersebut

tidaklah salah.

7

Ketiga, penelitian ini menarik untuk dikaji lebih lanjut karena penelitian

sebelumnya memberikan hasil yang beragam. Komalasari (2004), Januarti dan

Fitrianasari (2008) menyebutkan bahwa reputasi auditor sebagai proksi kualitas

audit tidak signifikan mempengaruhi opini going concern, sebaliknya menurut Geiger

dan Rama (2006) reputasi auditor sebagai proksi kualitas audit mempengaruhi opini

going concern.

Melihat fenomena diatas

peneliti mencoba untuk melakukan

penelitian untuk mengetahui pengaruh pengalaman auditor terhadap opini going

concern melalui kualitas auditor.

Keempat, semakin banyaknya KAP yang berdiri, menyebabkan semakin

ketatnya persaingan antar KAP tersebut. Oleh karena itu, KAP-KAP tersebut harus

dapat mempertahankan eksistensi usahanya. Eksistensi KAP ditentukan oleh mutu

jasa yang diberikan oleh auditor yang dalam hal ini adalah laporan audit. Untuk

menghasilkan jasa audit yang berkualitas, auditor harus berpedoman pada Standar

Audit

dan

pedoman

Aturan

Etika

Akuntan

Publik.

Standar

Auditing

digunakan

sebagai

mutu

professional

(professional

qualities)

auditor

independen

dan

pertimbangan (judgment) yang digunakan dalam pelaksanaan audit, sedangkan bagi

masyarakat umum Standar Auditing merupakan jaminan

audit yang dilakukan oleh auditor.

1.3. Perumusan Masalah

keyakinan akan kualitas

Pemberian opini going concern sangat penting karena pemberian status

going concern bukanlah suatu tugas yang mudah. Auditor harus mempunyai

pertimbangan yang akurat sebelum melaksanakan tanggung jawabnya, mengingat

informasi tersebut akan digunakan oleh berbagai pihak, dan tidak ada pedoman

yang pasti dan terstruktur mengenai masalah pemberian opini going concern.

Pengalaman auditor yang ditunjang dengan kualitas audit sangat membantu auditor

8

menyelesaikan pekerjaannya, adanya pengalaman serta kualitas yang baik yang

dimiliki oleh auditor maka pemberian opini going concern tingkat kesalahannya relatif

kecil. Permasalahan penelitian ini dapat peneliti rumuskan dalam pertanyaan berikut:

1. Apakah pengalaman auditor berpengaruh terhadap opini going concern ?

2. Apakah pengalaman auditor berpengaruh terhadap kualitas audit ?

3. Apakah kualitas audit berpengaruh terhadap opini going concern ?

4. Apakah pengalaman auditor berpengaruh terhadap opini going concern

melalui kualitas audit ?

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk menguji secara empiris pengaruh pengalaman auditor terhadap

opini going concern .

2. Untuk

menguji secara empiris pengaruh pengalaman auditor terhadap

kualitas audit.

3. Untuk menguji secara empiris pengaruh kualitas audit terhadap opini going

concern.

4. Untuk menguji secara empiris pengaruh pengalaman auditor terhadap

opini going concern melalui kualitas audit.

1.5 Kontribusi Penelitian

1. Kontribusi Teoritis

Memberikan bukti empiris atas riset tentang peranan variabel-variabel

pengalaman dan kualitas audit terhadap opini going concern dan penelitian

ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan

dibidang akuntansi keperilakuan (behavioral accounting), terutama berkaitan

dengan teori auditing khususnya dalam keputusan opini audit.

9

2.

Kontribusi Praktis

 

a.

Memberikan kontribusi praktik kepada akuntan publik , yakni hasil penelitian

ini diharapkan memberikan masukan yang berharga bagi

para auditor

tentang pentingnya memperhatikan kompetensi individu yaitu pengalaman

dalam rangka meningkatkan kualitas auditnya karena dalam standar umum

disebutkan bahwa audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang

memiliki keahlian (pengalaman) dan pelatihan teknis yang cukup sebagai

auditor

sehingga dapat memberikan penilaian keputusan opini audit yang

mengacu pada going concern perusahaan yang lebih akurat. Hal ini dapat

dilakukan dengan mengikuti seminar, simposium, dan training bagi auditor.

b.

Memberikan kontribusi praktik kepada perusahaan, yakni hasil penelitian ini

diharapkan dapat menjadi dasar pihak manajemen untuk memilih auditor

dengan mempertimbangkan faktor pengalaman auditor dan kualitas auditor

sebagai faktor yang penting dalam pemilihan auditor itu sendiri.

 

c.

Penelitian ini memberikan masukan yang sangat berharga bagi auditor di

Indonesia yang terdaftar di BEI tahun 2010 yang menjadi tempat penelitian,

dimana

hasil

penelitian

ini

dapat

dipergunakan

sebagai

media

untuk

mengurangi

kesalahan

dalam

pemberian

opini

going

concern

ketika

mengaudit laporan keuangan klien dalam rangka meningkatkan kualitas jasa

audit yang diberikan kepada kliennya.

 

3.

Kontribusi Kebijakan

 

a.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada Institut

Akuntan

Publik

Indonesia

sebagai

pihak

yang

secara

tidak

langsung

berwenang

menyusun

standar

professional

akuntan

publik

untuk

mempertimbangkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap opini going

10

concern dalam membuat regulasi (kebijakan) tentang pengeluaran opini

going concern.

b. Untuk para pimpinan kantor akuntan, Hasil studi ini dapat digunakan sebagai

sumber informasi dan referensi bagi para pimpinan perusahaan dalam

menentukan auditor yang akan membuat rencana manajemen untuk going

concern.

c. Untuk para peneliti lebih lanjut hasil studi ini dapat digunakan sebagai

referensi studi lebih lanjut khususnya berkaitan dengan pengalaman auditor

dan kualitas auditor terhadap opini going concern dengan ruang lingkup yang

lebih luas sehingga hasilnya lebih sempurna.

11

2.1. Landasan Teori

Studi

ini

bertitik

tolak

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

pada

konsep

aspek

perilaku

dalam

akuntansi

(behavioral accounting). Kusuma (2003) mengatakan bahwa akuntansi keperilakuan

adalah suatu pendekatan yang mengaplikasi aspek keperilakuan dalam akuntansi

baik akuntansi keuangan, akuntansi manajemen maupun bidang akuntansi terkait

lainnya.

Istilah akuntansi keperilakuan baru muncul pada tahun 1967 dalam artikel

Journal of Accounting Research oleh Becker. Becker lebih jauh mengatakan bahwa

perbedaan penelitian akuntansi keperilakuan dengan bidang lain adalah penelitian

akuntansi keperilakuan mengaplikasi teori dan metodologi dari ilmu keperilakuan

untuk memeriksa persinggungan antara informasi dan proses akuntansi dengan

perilaku manusia (termasuk perilaku organisasional). Bidang psikologi menjadi

paling sering digunakan dalam penelitian akuntansi keperilakuan seperti lens model.

Penggunaan lens model difokuskan untuk memperoleh hubungan antara peristiwa

dengan

seperangkat

sinyal

(clues).

Penggunaan

judgment

dalam

penelitian

akuntansi

keperilakuan

difokuskan

kepada

bagaimana

seorang

ahli

(expert)

bertindak /mengambil keputusan dan apakah keputusan yang diambil oleh seorang

ahli berdasarkan judgment lebih baik daripada keputusan berdasarkan perhitungan

statistik (Kusuma, 2003).

2.2. Behavioral Decision Theory

Isu pertimbangan auditor atas kelangsungan usaha (going concern) dikaitkan

dengan persepsi dan situasi dalam behavioral decision theory, yang menjelaskan

latar

belakang

terjadinya

perbedaan

pertimbangan

antara

auditor

ahli

dan

12

berpengalaman dengan auditor yang tidak memiliki salah satu karakteristik ataupun

kedua

karakteristik

tersebut.

Behavioral

decision

theory

menyatakan

bahwa

seseorang mempunyai keterbatasan pengetahuan dan bertindak hanya berdasarkan

persepsinya

terhadap

situasi

yang

sedang

dihadapi.

Selain

itu,

setiap

orang

mempunyai struktur pengetahuan yang berbeda dan kondisi ini akan mempengaruhi

cara memperhatikan informasi dalam rangka pembuatan keputusan.

Studi tentang information set (clues) mencoba untuk menentukan karakteristik

dari informasi dan decision context yang dapat mempengaruhi pembuat keputusan

dalam

menggunakan

informasi.

Studi

tentang

proses

pembuatan

keputusan

mencoba untuk menggambarkan bagaimana pembuat keputusan (decision maker)

mengkombinasikan

informasi

dalam

memperoleh

opini

dan

mengisvestigasi

pengaruh karakteristik decision maker terhadap penggunaan informasi. Sedangkan

variabel yang berhubungan dengan decision output adalah kualitas dari judgment,

decision maker’s self-insight, atau persepsinya sendiri (Libby dan Luft, 1993).

Terdapat tiga pendekatan dalam human information processing yaitu lens

model, probabilistic judgment dan cognitive style. Ketiga pendekatan ini didisain

untuk

menginvestigasi

bagaimana

informasi

dikombinasikan

menjadi

sebuah

keputusan dimana masing-masing memiliki framework yang berbeda. Lens model

merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk penelitian ini. Pendekatan Lens

model

diperkenalkan oleh

Brunswik

(1952)

yang

berguna untuk menganalisis

judgmental situation dimana individu membuat keputusan atau prediksi berdasarkan

pada

clues

atau

informasi

yang

berasal

dari

lingkungan

yang

kemungkinan

berhubungan dengan peristiwa yang relevan. Dalam model ini, persamaan regresi

dan korelasi digunakan untuk mendeskripsikan hubungan antara criterion dan clues

13

(informasi), informasi dan respon individu, atau respon individu dan keakuratan

respon.

Dalam

pendekatan

Lens

model,

pembuat

keputusan

(decision

maker)

mengevaluasi sejumlah kasus berdasarkan pada beberapa informasi yang sama.

Ketika informasi (clues) berbentuk nilai kategori maka digunakan ANOVA dalam

model proses pembuatan keputusan. Namun, ketika informasi bernilai kontinyu,

maka regresi atau analisis diskriminan yang digunakan. Dalam hal ini, judgment

adalah variabel dependen dan informasi (clues) adalah variabel independen dalam

model. Model ini memberikan hubungan fungsional yang sederhana antara cues dan

respon dari decision maker dan tidak memerlukan proses yang nyata dalam

pembuatan keputusan (Libby dan Luft, 1993).

Pembuatan keputusan tidak dapat dilepaskan dari berbagai konteks sosial

yang ada dalam praktik audit. Konteks sosial yang dimaksud adalah tekanan-

tekanan atau pengaruh politik, sosial, dan ekonomi, yang seringkali membatasi

proses

pembuatan

keputusan.

Pembatasan

yang

terjadi

dalam

proses

mengakibatkan

auditor

mengalami

kesulitan

memperhatikan

informasi

secara

normal,

sehingga

berpotensi

menimbulkan

masalah

dalam

pertimbangan

kelangsungan usaha entitas atau going concern (Hoffman et al., 2003).

Kewajiban legal dan moral auditor untuk mengungkapkan kelangsungan

usaha (going concern) merupakan motif yang mendasari pertimbangan oleh auditor.

Mc Keown et al. (1991) menyatakan hubungan yang strategis antara pengungkapan

kelangsungan usaha (going concern) dengan pertimbangan (judgment) atas efek

dari pengungkapan tersebut. Auditor berharap bahwa pengungkapan kelangsungan

14

usaha (going concern) dapat diberikan secara memadai, sehingga kepentingan-

kepentingan

ekonominya

tidak

terganggu

(karir

bermasalah,

kehilangan

klien

potensial).

2.3. Pertimbangan (judgment) Auditor atas Kelangsungan Usaha Entitas

(going concern)

Setiap proses audit mengharuskan adanya evaluasi terhadap kemampuan

entitas untuk melangsungkan usahanya. Statement on Auditing Standars No. 59

(AICPA, 1988) tentang Auditor s Consideration of an entity s Ability to Continue as a

Going Concern secara spesifik mengungkapkan tanggung jawab auditor untuk

menilai kemampuan suatu entitas dalam melanjutkan kelangsungan usahanya

(Boynton et al., 2001). Standar tersebut mengharuskan auditor mengevaluasi

apakah terdapat kesangsian yang cukup potensial mengenai kemampuan entitas

untuk melanjutkan kelangsungan usahanya.

Hal serupa juga dinyatakan dalam Standar Auditing nomor 341 (IAI, 2001),

bahwa

auditor

harus

mengevaluasi

adanya

kesangsian

besar

mengenai

kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka

waktu pantas. Evaluasi auditor atas kondisi tersebut, berdasarkan atas pengetahuan

tentang kondisi dan peristiwa yang ada pada atau telah terjadi sebelum pekerjaan

lapangan selesai.

Sejumlah riset telah menjadikan pertimbangan kelangsungan usaha sebagai

fokus (Kida, 1984; Mc Keown et al., 1991; Asare, 1992; Chen dan Church, 1992;

Ricchiute, 1992 & 1999; Libby dan Trotman, 1993; Rau dan Moser, 1999; Marshall

et al., 1995; dan Louwers, 1998). Telaah lebih lanjut, Asare (1992) menyatakan

bahwa kemampuan auditor untuk mengidentifikasi kesulitan perusahaan berkaitan

dengan kelangsungan usaha merupakan salah satu isu penting dalam riset, dan

15

menyarankan perlunya pemahaman tentang proses pertimbangan kelangsungan

usaha oleh auditor. Marshall et al. (1995) menemukan adanya peningkatan jumlah

perusahaan dari 39% menjadi 62% yang mengalami kondisi yang buruk dalam

pertimbangan kelangsungan usaha, sebagai akibat penerapan SAS No. 59 dalam

kasus kebangkrutan bank.

Penerapan

pertimbangan

kelangsungan

usaha

menjadi

perhatian

baik

auditor dan pengguna laporan keuangan. Bias dalam pertimbangan kelangsungan

usaha yang berdampak ekonomi potensial, dapat terjadi pada auditor dan klien,

sehingga penting bagi auditor untuk mengetahui bias apa saja yang dapat terjadi,

dan mengembangkan prosedur atau alat bantu yang dapat mengurangi adanya bias

(Rau dan Moser, 1999).

Sejalan

dengan

kombinasi

faktor

pengalaman

dan

perhatian

terhadap

informasi, Krull et al. (1993), dan Wong et al. (2000) menyatakan bahwa proses

pertimbangan yang tidak seperti biasa dilakukan oleh auditor berpengalaman, dapat

mengganggu

hasil

pertimbangannya.

Hal

ini

disebabkan

karena

auditor

berpengalaman mengalami kesulitan dalam memproses bukti secara langsung dan

mengembangkan strategi untuk menemukan potensi masalah kelangsungan usaha

(Cuccia

dan

McGill,

2000).

Auditor

berpengalaman

cenderung

melaksanakan

evaluasi bukti audit secara langsung, berorientasi pada tujuan (Bedard, et. al.,

1993), sehingga tidak memproses sejumlah urutan bukti seperti yang disajikan, tapi

menggunakan

tujuan

pemprosesan

(Hoffman et al., 2003).

2.4. Opini Going Concern

sebagai

acuan

untuk

mengevaluasi

bukti

Opini audit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan audit.

Laporan audit merupakan bagian terakhir dari keseluruhan proses audit. Opini Audit

16

diberikan oleh auditor setelah

mealalui

beberapa tahap proses audit sehingga

auditor dapat memberikan kesimpulan atas laporan keuangan audit. Opini audit

merupakan kesimpulan yang diberikan auditor atas rangkaian tugas audit dengan

menitikberatkan

pada

kesesuaian

antara

laporan

keuangan

dengan

standar

akuntansi yang diterima umum. Persyaratan Standar Auditing (PSA) No. 29 paragraf

10 menyebutkan opini audit terbagi menjadi 5 yaitu:

1.

Pendapat Wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)

 

Unqualified

opinion

merupakan

laporan

auditor

yang

menyatakan

bahwa

laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal material, posisi

keuangan, hasil usaha, dan arus kas sebuah usaha tertentu sesuai dengan

prinsip akuntansi yang berlaku umum.

 

2

Pendapat tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas (Unqualified Opinion

with Explanatory language)

Unqualified Opinion with Explanatory language diberikan jika keadaan tertentu

mengharuskan

auditor

menambahkan

paragraf

penjelasan

(atau

bahasa

penjelas lain) dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi Unqualified

opinion yang dinyatakan oleh auditor.

 

3

Pendapat Wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)

 

Kondisi tertentu mungkin memerlukan Unqualified opinion yang menyatakan

bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang

material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip

akuntansi yang berlaku umum, kecuali untuk dampak hal yang berkaitan dengan

yang dikecualikan.

17

4 Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion)

Adverse opinion menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara

wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip

akuntansi yang berlaku umum. Opini ini dinyatakan bila menurut pertimbangan

auditor, laporan keuangan secara keseluruhan tidak disajikan secara wajar

sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

5 Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of opinion)

Disclaimer opinion dimaksudkan bahwa auditor tidak memberikan pendapat

atas laporan keuangan. Pernyataan tidak memberikan pendapat biasanya

diberikan jika auditor – karena adanya pembatasan ruang lingkup – tidak dapat

melaksanakan

audit

yang

cukup

pendapat atas laporan keuangan.

Going

concern

dipakai

sebagai

untuk

memungkinkannya

memberikan

asumsi

dalam

pelaporan

keuangan

sepanjang tidak terbukti adanya informasi yang menunjukkan hal berlawanan

(contrary Information). Informasi yang secara signifikan dianggap berlawanan

dengan asumsi going concern adalah berhubungan dengan ketidakmampuan

satuan

usaha

dalam

memenuhi

kewajiban

pada

saat

jatuh

melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar

tempo

tanpa

melalui bisnis

biasa, restrukturisasi utang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan

kegiatan serupa yang lain (PSA NO 30).

Dood et al. (1984) memberikan saran bahwa penelitian yang menyelidiki

informasi going concern harus menggunakan suatu metode yang mengkontrol

penerbitan informasi pada saat itu, seperti informasi laporan keuangan. Dalam

akuntansi, going concern mengacu pada kemampuan perusahaan untuk terus

berfungsi sebagai badan usaha.

18

“A term for a company that has the resources needed in order to continue to operate. If a company is not a going concern, it means the company has gone bankrupt.” (http://dictionary.reference.com)

Leonard et al. (1998) menyatakan ketika kondisi keuangan suatu perusahaan

dalam audit tahunan, auditor harus menyediakan laporan audit dengan laporan

keuangan perusahaan. Salah satu dari hal-hal penting yang harus diputuskan

adalah apakah perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya (going

concern).

Menurut PSAK No. 01 (Revisi 1998) penyajian laporan keuangan mengenai

kelangsungan usaha paragraf 17-18 menyatakan bahwa :

“Laporan keuangan harus disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha. Apabila laporan keuangan tidak disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha maka kenyataan tersebut harus diungkapkan bersama dengan dasar lain yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan serta alasan mengapa asumsi kelangsungan usaha pelaporan tidak dapat digunakan. Manajemen bertanggung jawab untuk mempertimbangkan apakah asumsi apakah asumsi kelangsungan usaha masih layak digunakan dalam menyiapkan laporan keuangan. Dalam mempertimbangkan apakah dasar asumsi kelangsungan usaha dapat digunakan, manajemen memperhatikan semua informasi masa depan yang relevan paling sedikit untuk jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca tingkat pertimbangan tergantung pada kasus demi kasus. Apabila perusahaan selama ini menghasilkan laba dan mempunyai akses kesumber pembiayaan maka asumsi kelangsungan usaha mungkin dapat disimpulkan tanpa melalui analisis rinci. Dalam kasus lain, manajemen perlu memperhatikan faktor yang mempengaruhi profitabilitas masa kini maupun masa yang akan datang, jadwal pembayaran hutang dan sumber potensial pembiayaan pengganti sebelum dapat menyimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha dapat digunakan dalam PSAK No. 30. Going concern dapat dipakai sebagai asumsi dalam pelaporan keuangan, sepanjang tidak terbukti adanya informasi yang menunjukkan hal berlawanan, biasanya, informasi yang signifikan dianggap berlawanan dengan ketidakmampuan satuan usaha dalam memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagian besar aktiva pada pihak luar melalui bisnis biasa, restrukturisasi hutang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan kegiatan serupa yang lain.”

19

Petronela (2004) menyatakan kajian atas going concern dapat dilakukan

dengan melihat kondisi internal perusahaan yang tercermin dalam profitabilitas,

likuiditas

ataupun

respon

investor

terhadap

perusahaan.

Prediksi

tentang

kemungkinan

bangkrut

atau

tidaknya

suatu

perusahaan

termasuk

salah

satu

komponen

keputusan

tentang

going

concern.

Dengan

demikian,

jika

suatu

perusahaan dinyatakan dalam kategori bangkrut oleh model keputusan tersebut,

prediksi ini akan membantu kepastian dalam opini auditor yang berkaitan dengan

kelangsungan hidup suatu entitas.

2.5. Pengalaman Auditor

Herliansyah

dan

Ilyas

(2006)

mengatakan

bahwa

secara

spesifik

pengalaman dapat diukur dengan rentang waktu yang telah digunakan terhadap

suatu pekerjaan atau tugas. Penggunaan pengalaman didasarkan pada asumsi

bahwa tugas yang dilakukan secara berulang-ulang memberikan peluang untuk

belajar melakukan yang terbaik sehingga pengalaman dapat digunakan untuk

meningkatkan kinerja pengambilan keputusan.

Pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam

memprediksi performance auditor. Pengalaman auditor akan semakin berkembang

dengan bertambahnya pengalaman audit. Tubbs (1992) menunjukkan bahwa ketika

auditor

menjadi

lebih

berpengalaman,

maka

auditor

menjadi

sadar

terhadap

kekeliruan, auditor memiliki salah pengertian yang lebih sedikit tentang kekeliruan

dan auditor menjadi sadar mengenai kekeliruan yang tidak lazim.

Choo

dan Trotman (1991)

menunjukkan bahwa

para

profesional

yang

berpengalaman lebih mendapat infomasi yang lebih baik mengenai fakta mana yang

prediktif dan yang mungkin menghasilkan opini yang lebih akurat. Pengalaman yang

signifikan seperti halnya training membuat para auditor berpengalaman memiliki pola

20

pikir alasan yang tersusun dengan baik dalam kondisi going concern sedangkan

para auditor yang kurang berpengalaman memiliki pola pikir yang kurang tersusun

dengan baik.

Tugas pengungkapan kelangsungan usaha, selain mengharuskan auditor

untuk mengevaluasi sejumlah urutan informasi juga merupakan tugas yang biasa

dan penting dalam setiap pelaksanaan audit (Rau dan Moser, 1999). Jika tugas

biasa

tersebut

sering

dilakukan,

maka

auditor

cenderung

mengembangkan

kemampuan pemahaman yang sedikit (Schneider dan Shiffrin, 1977; Langer, 1978;

Bargh, 2002, Fazio, 1988, dalam Rau dan Moser, 1999).

Sejumlah

studi

mengindikasikan

bahwa

auditor

berpengalaman

mengembangkan struktur pengetahuan yang mempengaruhi pertimbangan audit

dalam tugas spesifik (Frederick, 1991; Nelson et al., 1995; Bonner et al., 1996).

Glover

(1997)

menemukan

bahwa

tekanan

waktu

dapat

mengurangi

proses

pertimbangan oleh auditor berpengalaman, karena mengharuskan auditor berfokus

pada informasi relevan dan mengabaikan yang tidak relevan. Libby dan Luft (1993)

menemukan

bahwa

auditor

berpengalaman

mampu

dibandingkan yang tidak berpengalaman.

menerapkan

persepsi

Auditor berpengalaman menggunakan strategi langsung dalam memperoleh

hanya pada informasi yang relevan, dibanding yang tidak berpengalaman yang

menguji sejumlah urutan informasi yang mungkin tidak relevan (Biggs dan Mock,

1983; Bouwman, 1984 dan Biggs et al, 1985). Individu berpengalaman dapat lebih

efektif memperhatikan bukti yang tidak relevan, karena pengulangan dari tugas

evaluasi menjadi pembiasaan atas aspek dasar dari tugas tersebut (Bargh, 2002;

Fazio, 1986; Rau dan Moser, 1999 dalam Hoffman et al., 2003). Pembiasaan atas

aspek

dasar

dari

tugas

(memperhatikan

bukti

yang

relevan)

memberikan

21

keleluasaan untuk memahami proses evaluasi bagian dari tugas (memperhatikan

bukti tidak relevan) lebih baik.

Konsisten dengan SAS No. 59, Biggs et al. (1993) menemukan bahwa

auditor berpengalaman pertama kali akan cenderung mengakui adanya masalah

kelangsungan usaha (going concern), kemudian baru mengevaluasi faktor-faktor

yang mengurangi masalah tersebut. Auditor berpengalaman kemungkinan akan

berusaha menyelesaikan bukti yang tidak relevan dengan masalah kelangsungan

usaha . Sebagai contoh, auditor berpengalaman mengetahui sejumlah kelalaian

yang tidak sering terjadi (pengetahuan mengenai batasannya) dan hambatan yang

melingkupi klien

(pengetahuan

tentang

kerugian

perusahaan),

keduanya

akan

mendorong auditor memperhatikan informasi yang dapat mengurangi masalah

kelangsungan

usaha.

Kondisi

ini

mengakibatkan

sejumlah

urutan

bukti

yang

dihadirkan kepada auditor akan diproses sebagaimana yang diinginkan, dengan

harapan dapat memperhatikan dan mengintegrasikan bukti yang relevan dan tidak

relevan sebagaimana cara yang biasa dilakukan untuk membuat pertimbangan

kelangsungan usaha (Hoffman et al., 2003).

2.6. Kualitas Audit

Kualitas audit merupakan hal penting yang menjadi perhatian auditor dalam

suatu

pekerjaan

audit.

Kualitas

audit

yang

baik

akan

tercapai

jika

auditor

menjalankan langkah audit dengan benar. Investor akan lebih cenderung pada data

akuntansi

yang

dihasilkan

dari

kualitas

audit

yang

tinggi.

DeAngelo

(1981)

mendefinisikan kualitas audit sebagai probabilitas bahwa auditor akan menemukan

dan melaporkan pelanggaran pada system akuntansi klien.

Kasus manipulasi akuntansi yang terjadi di Amerika Serikat menunjukkan

bahwa telah terjadi reduced audit quality (penurunan kualitas audit) sehingga

22

memicu terbitnya Peraturan BAPEPAM nomor Kep-20/PM/2002 per tanggal 12

November

2002

serta

SK

Menteri

keuangan

nomor

423/KMK-06/2002.

Pada

lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM nomor Kep-20/PM/2002 terdapat Peraturan

nomor VIII.A.2 yang berisikan tentang independensi akuntan yang memberi jasa

audit di pasar modal. Peraturan tersebut diantaranya membatasi hubungan auditee

dan auditor selama jangka waktu tertentu, yaitu emiten harus mengganti kantor

akuntan tiap 5 tahun dan tiap 3 tahun untuk auditor, selain itu pemberian jasa non

audit tertentu, seperti menjadi konsultan pajak, konsultan manajemen disamping

pemberian

jasa

audit

pada

seorang

klien

tidak

diperkenankan

karena

dapat

mengganggu independensi auditor. Peraturan tersebut kemudian disempurnakan

dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008, di mana pemberian jasa

audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP paling

lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang Akuntan Publik

paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut.

Deis dan Giroux (1992) melakukan penelitian tentang empat hal dianggap

mempunyai hubungan dengan kualitas audit yaitu: 1) lama waktu auditor telah

melakukan

pemeriksaan

terhadap

suatu

perusahaan

(tenure),

semakin

lama

seorang auditor telah melakukan audit pada klien yang sama maka kualitas audit

yang dihasilkan akan semakin rendah; 2) Jumlah klien, semakin banyak jumlah klien

maka kualitas audit akan semakin baik karena auditor dengan jumlah klien yang

banyak akan berusaha menjaga reputasinya; 3) kesehatan keuangan klien, semakin

sehat kondisi keuangan klien maka aka nada kecenderungan klien tersebut untuk

menekan auditor agar tidak mengikuti standar;dan 4) review oleh pihak ketiga,

kualitas

audit

akan

meningkat

jika

auditor

tersebut

mengetahui

pekerjaannya akan di review oleh pihak ketiga.

bahwa

hasil

23

Mutchler et al. (1997) mengungkapkan bahwa auditor skala besar dapat

menyediakan kualitas audit yang lebih baik dibanding auditor skala kecil, termasuk

dalam

mengungkapkan

masalah

going

concern.

Kemampuan

auditor

untuk

merencanakan dan melakukan sebuah audit berkualitas telah digambarkan sebagai

sebuah fungsi dari penilaian audit dan kinerja program audit (Pincus, 1990; Hogart,

1991)

Reputasi auditor sangat menentukan kredibilitas laporan keuangan. Kantor

akuntan yang bereputasi baik diperkirakan dapat melakukan audit lebih efisien dan

memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk menyelesaikan audit sesuai jadwal.

Auditor yang bekerja pada kantor akuntan publik besar dipandang sebagai seorang

auditor yang bereputasi tinggi. KAP yang memiliki reputasi baik umumnya memilki

sumber daya yang lebih besar (kompetensi, keahlian, dan kemampuan auditor,

fasilitas, sistem dan prosedur pengauditan yang digunakan) dibandingkan dengan

KAP yang memiliki reputasi kurang baik.

Reputasi auditor dalam penelitian sering dikelompokkan berdasarkan skala

standar internasional the big dan non the big. Waktu penyelesaian audit oleh auditor

yang memiliki reputasi baik cenderung lebih pendek. Salah satu alasannya adalah

karena KAP memiliki staf yang berkualitas. Penunjukkan staf merupakan masalah

penting dalam berbagai tahap pelaksanaan pekerjaan audit. Staf yang ditunjuk harus

memiliki

pengetahuan

(knowledge),

keahlian

(skill)

dan

kemampuan

(ability)

(Boynton et al., 2001 : 101). Kriteria ini terdapat pada auditor (KAP) yang memiliki

reputasi baik, yang memiliki staf relatif lebih banyak dan relatif tetap diversifikasi

bidang pengetahuan, keahlian, dan kemampuan lebih unggul.

24

BAB III

RERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Untuk memperjelas permasalahan penelitian yang telah disusun dalam bab-bab

sebelumnya, maka dalam bab ini disusun formulasi hipotesis penelitian yang

didasari oleh kerangka konseptual penelitian.

3.1. Opini going concern

Suatu asumsi yang mendasari proses akuntansi adalah bahwa perusahaan

melaporkan akan melanjutkan sebagai suatu going concern. Artinya suatu entitas

dianggap akan mampu mempertahankan usahanya dalam jangka panjang dan tidak

akan dilikuidasi. Laporan keuangan mengukur mengenai informasi posisi keuangan

suatu entitas dan hasil dari operasi. Laporan auditor menambah dimensi kualitatif

terhadap suatu informasi. Auditor merupakan perantara antara penyedia laporan

keuangan dan pengguna laporan tersebut.

Opini audit going concern merupakan opini yang dikeluarkan auditor untuk

memastikan apakah perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya

(SPAP 2001). Pada tahun 1988 Auditing Standard Board (ASB) menerbitkan

Statement on Auditing Standard (SAS) No. 59: The auditor's consideration of an

entity's

ability

to

continue

as

a

going

concern,

yang

meminta

auditor

untuk

mengevaluasi

apakah

terdapat

keraguan

substansial

mengenai

kemampuan

perusahan klien untuk melanjutkan sebagai suatu going concern. SAS meminta

auditor mengakumulasi dan mengevaluasi bukti untuk menentukan apakah status

going concern adalah dipertanyakan.

25

Seorang auditor mempertimbangkan penerbitan opini going concern jika ia

menemukan alasan atas keraguan keberlangsungan suatu perusahaan berdasarkan

pengujian.

Oleh

karena

itu

pengambilan

keputusan

dalam

keberadaan

ketidakpastian melalui dua proses tahapan. Tahap pertama adalah identifikasi

karakteristik yaitu perusahaan sebagai penerima potensial opini going concern.

Tahap kedua adalah menghasilkan analisis dalam pemilihan opini final.

kerangka konsep penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1. Model Konsep Penelitian

Kualitas audit

(X2)

: Gambar 3.1. Model Konsep Penelitian Kualitas audit (X2) Pengalaman auditor (X1) Opini going concern (Y)

Pengalaman

auditor (X1)

Opini going

concern (Y)

3.2. Perumusan Hipotesis

3.2.1. Pengalaman auditor

Secara spesifik pengalaman dapat diukur dengan rentang waktu yang telah

digunakan terhadap suatu pekerjaan atau tugas (job). Penggunaan pengalaman

didasarkan

pada

asumsi

bahwa

tugas

yang

dilakukan

secara

berulang-ulang

memberikan peluang untuk belajar melakukan yang terbaik sehingga pengalaman

dapat

digunakan

Abdolmohammadi

untuk

meningkatkan

kinerja

dan

Wright

(1987)

mengatakan

pengambilan

bahwa

auditor

keputusan.

yang

tidak

berpengalaman mempunyai tingkat kesalahan yang lebih signifikan dibandingkan

dengan auditor yang berpengalaman.

Menurut peneliti seseorang dengan lebih banyak pengalaman dalam suatu

bidang memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan dapat

26

mengembangkan suatu pemahaman yang baik mengenai peristiwa-peristiwa. Selain

itu, Menurut peneliti akuntan pemeriksa yang berpengalaman membuat judgment

lebih baik dalam tugas-tugas profesional ketimbang akuntan pemeriksa yang belum

berpengalaman. Hal ini dipertegas oleh Haynes et al. (1998) yang menemukan

bahwa pengalaman audit yang dipunyai auditor ikut berperan dalam menentukan

pertimbangan yang diambil.

Efek dilusi dapat dikurangi dengan pengalaman (dalam literature psikologi),

hal ini dimungkinkan karena pengambil keputusan yang lebih berpengalaman

memiliki struktur pengetahuan yang berkembang lebih baik yang membuat mereka

mampu fokus terhadap bukti yang relevan saja (Lesgold et al. 1988). Studi auditing

sebelumnya menunjukkan perbedaan struktur pengetahuan dari staff auditor, senior

auditor dan manajer (Frderick et al. 1994; Libby dan Frederick, 1990). Oleh karena

itu dalam literatur psikologi dan auditing efek dilusi dalam auditing dapat dikurangi

karena

struktur

pengetahuan

berkembang

sangat

tinggi

pada

auditor

berpengalaman dapat menyebabkan pengabaian informasi yang tidak relevan.

Riset sebelumnya terhadap efek dilusi dalam audit (Hacckenbrack, 1992;

Hoffman dan Patton, 1997; Glover, 1997) telah memfokuskan pada audit senior

yang

memiliki

pengalaman

3

tahun

dalam

pekerjaaan

audit.

Beberapa

studi

menunjukkan bahwa auditor yang berpengalaman pada level ini mengorganisir

pengetahuan dalam memori yang kemudian dapat mempengaruhi judgment audit

dalam suatu penugasan audit tertentu (Frederick 1991; Nelson et al. 1995; Bonner et

al. 1996). Dalam studi efek dilusi sebelumnya, bahkan senior auditor yang telah

memiliki struktur pengetahuan yang cukup untuk mempengaruhi judgment audit,

masih dibingungkan oleh adanya informasi tidak relevan. Glover (1997) menemukan

bahwa tekanan waktu dapat mengurangi efek dilusi dalam judgment senior auditor.

27

Glover (1997) menunjukkan bahwa tekanan waktu merupakan salah satu

mekanisme

untuk

menekan

pengambil

keputusan

yang

relatif

kurang

berpengalaman untuk fokus pada informasi relevan dan mengabaikan informasi

tidak

relevan.

Temuan

dalam

bidang

Psikologi

menunjukkan

bahwa

struktur

pengetahuan

yang

lebih

maju

dapat

diperoleh

melalui

pengalaman.

Struktur

pengetahuan ini dapat membuat pengambil keputusan mampu untuk fokus pada

informasi relevan tanpa adanya tekanan waktu. Ini berdampak bahwa efek dilusi

yang diteliti dalam penelitian sebelumnya dapat dikurangi oleh subjek yang lebih

berpengalaman.

Lesgold et al. (1988) menemukan bahwa orang yang ahli (experts) mampu

menemukan hal penting (kritis) dalam kasus khusus dan mengurangi informasi tidak

relevan ketika pemula (yang kurang ahli) menggunakannya dalam keputusannya.

Dalam studi auditing, ditemukan bahwa auditor ahli menggunakan strategi hanya

informasi relevan sebagai dasar judgmentnya, sementara auditor pemula informasi

relevan dan tidak relevan bersama-sama digunakan dalam judgmentnya (Biggs et

al., 1987; Biggs dan Mock, 1983; Bouwman, 1984).

Auditor ahli cenderung untuk mengabaikan informasi relevan ketika pemula

tidak mampu melihatnya meskipun informasi tidak relevan diakui sebelum keputusan

diambilnya (Lesgold et al., 1988). Biggs et al. (1993) menemukan bahwa auditor

berpengalaman

pertama

kali

akan

cenderung

mengakui

adanya

masalah

kelangsungan usaha (going concern), kemudian baru mengevaluasi faktor-faktor

yang mengurangi masalah tersebut. Auditor berpengalaman kemungkinan akan

berusaha menyelesaikan bukti yang tidak relevan dengan masalah kelangsungan

usaha Berdasarkan uraian di atas, maka diajukan

berikut :

hipotesis penelitian sebagai

28

H1 : Pengalaman auditor berpengaruh terhadap opini going concern

Pengalaman

kerja

telah

dipandang

sebagai

suatu

faktor

penting

dalam

memprediksi

kinerja

auditor.

Pengalaman

auditor

akan

semakin

berkembang

dengan bertambahnya pengalaman audit. Menurut Scheonfeld dan Hermann (1982)

saat auditor junior mengerjakan tugas audit, ia belum memiliki struktur memori yang

relevan untuk dapat memeriksa dan memilah dengan memadai informasi-informasi

yang relevan dengan tugas yang dikerjakannya. Selain itu, ia juga belum dapat

menganalisa dan mengintegrasikan informasi pada suatu tingkatan yang lebih dari

hanya sekedar fitur-fitur permukaan tugasnya saja. Akibatnya, muncul hasil-hasil

penilaian kontradiktif. Sebaliknya, auditor berpengalaman memiliki struktur memori

yang sangat berguna untuk membantu mereka dalam mengelolah informasi pada

tingkat yang lebih abstrak, sehingga dapat meminimalkan hasil-hasil penilaian yang

kontradiktif tersebut.

Auditor berpengalaman dapat mengidentifikasi petunjuk-petunjuk informasi

tertentu mana yang harus dipilih untuk menyimpulkan penilaian-penilaian mereka.

Ada

beberapa

alasan

mengapa

pengalaman

audit

mempengaruhi

ketepatan

penilaian auditor. Pengalaman menumbuhkan kemampuan auditor untuk mengolah

informasi,

membuat

perbaandingan-perbandingan

mental

berbagai

solusi-solusi

alternative

dan

mengambil

tindakan-tindakan

yang

diperlukan

(Gibbins,1984).

Auditor kurang berpengalaman tidak memiliki kemampuan-kemampuan seperti ini.

Melalui pengalaman audit mereka, auditor mengembangkan struktur memori lebih

luas dan kompleks yang membentuk kumpulan informasi yang dibutuhkan dalam

membuat keputusan-keputusan (Libby,1995). Auditor kurang berpengalaman belum

memiliki struktur memori seperti ini sehingga mereka tidak mampu memberikan

29

respon memadai, akibatnya, penilaian-penilaian mereka kalah akurat dibandingkan

dengan penilaian–penilaian auditor berpengalaman.

Menurut Bonner (1990) pengalaman juga memberikan pengetahuan yang

dapat

membantu

diharuskan

karena

auditor

mendapatkan

keputusan

yang

tepat

terhadap

bukti

pengalaman

membantu

mereka

mengembangkan

struktur

pengetahuan lebih komprehensif, dan memperbaiki kemampuan mereka untuk

menggunakan pengetahuan lebih efektif. Berdasarkan uraian di atas, maka diajukan

hipotesis penelitian sebagai berikut :

H2 : Pengalaman auditor berpengaruh terhadap kualitas audit

3.2.2. Kualitas audit dan opini going concern

Craswell et al. (1995) menyatakan bahwa klien biasanya mempersepsikan

auditor yang berasal dari KAP besar dan memiliki afiliasi dengtan KAP intenasional

memiliki kualitas yang .lebih tinggi karena auditor tersebut memiliki karakteristik yang

dapat dikaitkan dengan kualitas, seperti pelatihan, pengakuan internasional, serta

adanya peer review. John (1991) menunjukkan bahwa kualitas auditor meningkat

sejalan dengan besarnya KAP tersebut.

DeAngelo (1981) mengungkapkan bahwa

peningkatan

kualitas

audit

akan

mempertinggi

skala

KAP

dan

juga

akan

berpengaruh

pada

klien

dalam

memilih

KAP.

Sharma

dan

Sidhu

(2001)

menggolongkan reputasi KAP ke dalam skala big six firm dan non big six firm untuk

melihat tingkat independensi serta kecenderungan sebuah KAP terhadap besarnya

biaya audit yang diterimanya.

Auditor bertanggung jawab untuk menyediakan informasi yang berkualitas

tinggi yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan. Auditor yang bereputasi baik

cenderung akan menerbitkan opini audit going concern jika klien terdapat masalah

berkaitan going concern perusahaan.

30

DeAngelo (1981) secara teoritis telah menganalis hubungan antara kualitas

audit dan ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP). Dia berargumen bahwa auditor

besar akan memiliki lebih banyak klien dan fee total akan dialokasikan diantara para

kliennya.

DeAngelo

(1981)

berpendapat

bahwa

auditor

besar

akan

lebih

independen, dan karenanya, akan memberikan kualitas yang lebih tinggi atas audit.

Krishnan dan Schauer (2000) mengelompokkan Kantor Akuntan Publik besar

dan kecil sebagai berikut: (1) Kantor Akuntan Publik besar adalah Kantor Akuntan

yang termasuk dalam big six accounting firm, dan (2) Kantor Akuntan Publik kecil

adalah kantor akuntan yang tidak termasuk dalam big six accounting firm. Choi et al.

(2010) menggolongkan KAP besar adalah KAP yang mempunyai nama besar

berskala internasional (termasuk dalam big four auditors) dimana KAP yang besar

menyediakan mutu audit yang lebih tinggi dibanding dengan KAP kecil yang belum

mempunyai reputasi. Hal tersebut didukung juga oleh Lennox (1999), Choi et al.

(2010), Francis dan Yu (2009).

Mayangsari (2003) menggunakan industry specialization sebagai proksi

kualitas audit. Ini didasari oleh penelitian Craswell (1995), yaitu bahwa auditor yang

spesialis akan mendapatkan fee yang lebih tinggi. Tentunya hal tersebut akan

mempengaruhi kualitas audit, apakah dia spesialis atau tidak. Berdasarkan uraian di

atas, maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut :

H3 : Kualitas audit berpengaruh terhadap opini going concern

SPAP

menyatakan

bahwa

auditor

memiliki

tanggung

jawab

untuk

menyatakan kemampuan perusahaan auditan mengenai going concern usaha

secara sehat satu tahun mendatang. Standar tersebut meminta setiap auditor yang

melaksanakan prosedur audit harus melakukan evaluasi mengenai adanya masalah

mendasar mengenai kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usahanya. Ketika

31

menilai apakah perusahaan memiliki going concern atau tidak, perhatian utama

auditor tidak lagi ditujukan pada berapa kekayaan perusahaan pada masa yang

akan datang yang diharapkan manajemen. Auditor tidak bisa lagi hanya menerima

pandangan manajemen bahwa segala sesuatunya baik. Bahkan auditor sudah tidak

seharusnya lagi meletakkan kepercayaan sepenuhnya pada jaminan yang diberikan

oleh pemerintah bahwa perusahaan tertentu tidak akan ditutup.

Penelitian

yang

menguji

bagaimana

pengaruh

kualitas

audit

terhadap

keputusan opini going concern telah dilakukan. Praptitorini dan januarti (2007) dalam

penelitiannya menyimpulkan bahwa variabel kualitas audit yang diproksi dengan

auditor industry specialization tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan

opini going concern. Tetapi, arah koefisiennya menunjukkan arah positif sesuai

dengan

hipotesis,

berarti

bahwa

auditor

spesialis

berusaha

mempertahankan

reputasinya dengan bersikap obyektif terhadap opini yang dikeluarkannya, serta

pengklasifikasian auditor spesialis di Indonesia belum ada, sehingga pengaruhnya

tehadap kualitas audit belum dapat dibuktikan.

diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut :

Berdasarkan uraian di atas, maka

H4 : Pengalaman auditor berpengaruh terhadap opini going concern

melalui kualitas audit.

32

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengujian hipotesis (hypothesis testing).

Penelitian pengujian hipotesis umumnya merupakan penelitian yang menjelaskan

fenomena

dalam

bentuk

hubungan

antar

variable

(Indriantoro

dan

Supomo,

2002:89). Berdasarkan pola hubungannya, jenis penelitian ini adalah explanatory

research.

Explanatory

research

adalah

menjelaskan

hubungan

kausal

antara

variable-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis (Singarimbun dan Efendi,

1995 :5). Selain itu Singarimbun dan Effendi (1995: 6) juga mengkategorikannya

sebagai penelitian survey, yaitu “ Penelitian yang mengambil sampel dari populasi

dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data”.

Penelitian ini memfokuskan pada pengungkapan hubungan kausal antar

variabel. Suatu penelitian yang diarahkan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat

dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung

suatu variabel dari variabel eksogen (independen) terhadap variabel endogen

(dependen).

4.2. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh auditor yang bekerja di KAP se-

Indonesia yang mengaudit perusahaan publik (national accounting firm). Penetapan

populasi

tersebut

dilakukan

dengan

pertimbangan

bahwa

ukuran

KAP

akan

mempengaruhi pengalaman auditor yang bekerja di KAP tersebut karena meskipun

seorang auditor memiliki pengalaman kerja yang sama namun dalam KAP yang

berbeda kemungkinan akan memiliki pengetahuan yang berbeda sehingga untuk

menyeragamkan dan menyeimbangkannya, pada penelitian ini difokuskan pada

33

national accounting firm.

Data KAP diperoleh dari Indonesian Capital Market

Directory (ICMD) tahun 2010. Jumlah KAP tersebut sebanyak 165 KAP yang rata-

rata berdomisili di Jakarta.

Penelitian ini menggunakan sebagian dari populasi untuk dijadikan sebagai

subjek penelitian/dijadikan sampel. Jumlah populasi secara pasti tidak diketahui

Karena sampel bukanlah KAP tetapi individu yaitu auditor junior auditor senior dan

belum terdapat data tentang jumlah auditor junior dan auditor senior. Karena jumlah

populasi

tidak

diketahui

secara

pasti

maka

jumlah

sampel

mengacu

pada

persyaratan dari alat analisis yang digunakan. Penelitian ini menggunakan path

analysis

sehingga ukuran sampel minimal adalah 10 kali jumlah variabel sebagai

persyaratan dapat dilakukan analisis (Solimun, 2007). Berdasarkan jumlah variabel

pada penelitian ini maka jumlah sampel minimal sebanyak 30 agar bisa dilakukan

analisis. Pengambilan sampel berdasarkan random sampling dengan metode simple

random sampling dengan metode simple random sampling dimana setiap anggota

populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel sedangkan

unit analisis dari penelitian ini adalah individu (auditor).

Kuesioner yang dikirim sebanyak 210 kuesioner. Kuesioner yang kembali

dan memenuhi syarat untuk diolah sebanyak 47 kuesioner sehingga besarnya

sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 47 responden.

4.3. Teknik pengumpulan data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan

data primer. Data sekunder diperoleh dari ICMD tahun 2010 untuk memperoleh data

jumlah KAP se-Indonesia sedangkan data primer merupakan data yang langsung

diperoleh

dari

subjek

yaitu

auditor.

menggunakan kuesioner.

Pengumpulan

data

diperoleh

dengan

34

Dasar pertimbangan penggunaan kuesioner untuk pengumpulan data karena

faktor efisiensi dan efektivitas dalam penggunaannya. Penggunaan kuesioner ini

dipergunakan untuk mengumpulkan data yang berupa opini, pengalaman, kualitas

dari seseorang atau kelompok orang yang menjadi subjek penelitian. Pengiriman

kuesioner menggunakan email survey dan mail survey yang diantar langsung ke

KAP yang terdapat di Surabaya.

Peneliti

mengirimkan

kuesioner-kuesioner

kepada

pimpinan

KAP

yang

berwenang untuk mendistribusikan kuesioner-kuesioner tersebut. Mereka di instruksi

untuk menjawab daftar pertanyaan/kuesioner yang telah disiapkan dan dimohon

untuk mengisinya dengan jujur dan tanpa diwakili.

4.4. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

4.4.1 Pengalaman auditor

Dalam setiap audit, partner dan manajer adalah orang yang mengevaluasi

keputusan going concern, sementara

auditor senior dan junior adalah

auditor yang familiar dengan tugas going concern dimana mereka memberi

informasi kepada

partner

dan

Variabel

pengalaman

auditor

manajer

mengenai

akan

diukur

dengan

going

concern klien.

skala

likert

yaitu

menggunakan

indikator

lamanya/jumlah

tahun

seorang

auditor

bekerja

sebagai auditor.

Pengalaman diukur dengan lamanya responden menjadi seorang auditor

Pengalaman kurang dari 1 tahun diberi skor 1

Pengalaman lebih dari 1 tahun sampai 2 tahun diberi skor 2

Pengalaman lebih dari 2 tahun sampai 3 tahun diberi skor 3

Pengalaman lebih dari 3 tahun sampai 4 tahun diberi skor 4

35

4.4.2.

Kualitas Audit

Kualitas audit didefinisikan sebagai probabilitas seorang auditor untuk dapat

menentukan dan melaporkan kecurangan yang terjadi dalam sistem akuntansi

klien. Kualitas audit yang tinggi tercermin pada ukuran KAP, dan diyakini bahwa

KAP yang besar tidak hanya berpengaruh terhadap kualitas audit, namun lebih

dari itu. Audit yang berkualitas baik akan menghasilkan informasi yang dapat

dipercaya, akurat, dan mencerminkan realitas perusahaan yang bersangkutan.

Variabel kualitas audit dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan empat

indikiator. Keempat indikator tersebut antara lain: 1) banyaknya jumlah klien, 2)

afiliasi KAP dengan KAP internasional, 3) pemahaman tugas yang tercakup

dalam pekerjaan. 4) Biaya audit perusahaan. Ketiga indikator diatas diukur

dengan menggunakan lima (5) point skala likert. Skala satu menunjukkan

responden sangat tidak setuju (STS), skala dua menunjukkan responden tidak

setuju (TS), skala tiga menunjukkan responden cukup setuju (CS), skala empat

menunjukkan responden setuju (S) dan skala lima menunjukkan responden

sangat setuju (SS).

Indikator keempat diukur dengan menggunakan skala

sangat rendah, rendah, normal, tinggi, sangat tinggi. Pengukuran ini peneliti

ambil dari instrument yang digunakan oleh Ikhsan (2010).

4.4.3.

Opini Going Concern

Opini

going

concern

merupakan

opini

audit

modifikasi

yang

dalam

pertimbangan

auditor

terdapat

ketidakmampuan

atau

ketidakpastian

signifikan

atas

kelangsungan

hidup

perusahaan

dalam

menjalankan

operasinya (SPAP, 2001). variabel Opini going concern diukur dengan

menggunakan skala likert. Opini audit going concern yang dibagi menjadi

dua, yaitu opini audit going concern positif yang berarti auditor memberikan

pendapat atau suatu opini yang positif bagi suatu perusahaan, seperti

36

memberikan pendapat bahwa perusahaan tersebut mampu melangsungkan

hidupnya dalam jangka waktu tertentu hingga audit berikutnya, yang dibagi

menjadi

dua,

yaitu

positif

yang

tidak

bermasalah

dan

positif

yang

bermasalah, serta opini audit going concern negatif yang berarti auditor

memberikan opini atau pendapat yang bersifat negatif, seperti pendapat

auditor yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut menimbulkan suatu

kesangsian akan kelangsungan hidup usahanya, yang dibagi menjadi dua,

yaitu dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, dan yang tidak dapat

mempertahankan kelangsungan hidupnya (Boyton et al. 2001).

4.5. Pengujian Instrumen Penelitian Dengan Menggunakan Confirmatory Factor Analysis ( CFA )

Pengujian instrumen terdiri dari uji validitas dan reliabilitas. Validitas dan

reliabilitas atas data hasil penelitian dapat diketahui melalui tiap-tiap item yang

terlebih dahulu diadakan uji pendahuluan terhadap daftar pernyataan (kuisioner)

kepada

responden.

Selanjutnya

score

yang

diperoleh

atas

item-item

dari

masing-masing variabel diuji validitas dan reliabilitasnya.

 

Ghozali

(2008)

menjelaskan

bahwa

salah

satu

manfaat

utama

dari

confirmatory factor analysis (CFA) adalah kemampuan menilai validitas konstruk

dari measurement theory yang diusulkan. Validitas konstruk mengukur sampai

seberapa jauh ukuran indikator mampu merefleksikan konstruk laten teoritisnya.

Jadi, validitas konstruk memberikan kepercayaan bahwa ukuran indikator yang

diambil dari sampel menggambarkan skor sesungguhnya di dalam populasi.

Heck dalam

Supranto (2004), juga menguraikan bahwa analisis faktor

konfirmatori sebagai suatu pendekatan validasi konstruk atau konsep (approach

to construct validation).

37

Konfirmatori faktor analisis dapat dilakukan melalui 4 langkah, yaitu :

1) Memilih variabel.

2)

Hubungkan/kaitkan variabel dengan konstruk (construct).

3)

Uji ketepatan struktur faktor yang dihipotesiskan dengan data.

4) Terima atau tolak struktur faktor yang dihipotesiskan dengan menggunakan

kriteria tertentu.

Konstruk di dalam penelitian ini disebut dengan latent variable (variabel yang

tidak dapat diukur secara langsung) dan indikatornya adalah observed variable

(variabel yang diamati sebagai operasionalisasi pengukuran atas variabel laten).

Setelah susunan konstruk dan indikatornya dinyatakan dalam model kemudian untuk

memenuhi asumsi-asumsi path analysis dilakukan uji validitas dan reliabilitas.

Uji vali