Anda di halaman 1dari 9

PENILAIAN SUMATIF DALAM PEMBELAJAAN IPA BERBASIS INKUIRI

Harry Firman
harry.firman@hotmail.com

1. Pendahuluan
Penilaian (asesmen) adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi dalam rangka pembuatan
keputusan instruksional, baik keputusan untuk membantu peserta didik dalam pembelajaran (assessment
for learning) maupun keputusan tentang capaian kompetensi peserta didik setelah mengikuti
pembelajaran (assessmen of learning). Istilah penilaian formatif digunakan untuk merepresentasikan
penilaian sepanjang program pembelajaran untuk membantu peserta didik agar mencapai kompetensi-
kompetensi target yang ditetapkan dalam kurikulum. Sementara itu penilaian sumatif digunakan untuk
merepresentasikan penilaian pada akhir program pembelajaran dengan tujuan menentukan nilai prestasi
belajar individu peserta didik.
Sama halnya dengan pembelajaran tradisional, pembelajaran berbasis inkuiri (IBL) pun memerlukan
penilaian formatif dan sumatif. Namun, karena pembelajaran berbasis inkuiri berfokus pada
pengembangan scientific skills dan intelectual skills yang merepresentasikan kemampuan berpikir
tingkat tinggi (HOTS), di samping penguasaan materi pelajaran, maka IBL memerlukan strategi, metode,
dan instrumen penilaian formatif dan sumatif yang juga fokus pada kemampuan-kemampuan tersebut.
Makalah ini lebih lanjut akan memaparkan strategi, metode, dan instrumen, khususnya bagi penilaian
sumatif dalam implementasi pembelajaran IPA berbasis inkuiri.

2. Hasil Belajar (Learning Outcomes) dalam Pembelajaran Berbasis Inkuiri


Sebagaimana dikemukakan di atas, pembelajaran berbasis inkuiri mengembangkan keterampilan
inkuiri saintifik, yang merupakan integrasi antara keterampilan intelektual (nalar), dan konteks materi
pelajaran IPA (konsep, prinsip, hukum, teori) sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 1. Keterpaduan
ketiga elemen keterampilan inkuiri saintifik ini perlu tercermin dalam pembelajaran dan penilaian dalam
IBL.

Scientific Scientific Skills


Knowledge Inquiry
SCIENTIFIC
INQUIRY SKIIL

Reasoning

Gambar 1. Elemen-Elemen Keterampilan Inkuiri Saintifik

1
Secara ringkas keterampilan saintifik menurut Wenning (2007) meliputi antara lain:
- Mengidentifikasi masalah yang akan diselidiki;
- Memformulasi hipotesis atau model;
- Memprediksi;
- Dendesain prosedur eksperimen;
- Melakukan eksperimen ilmiah;
- Melakukan pengamatan;
- Mengumpulkan, mengorganisasi, serta menganalisis data;
- Menggunakan matematika dan statistika;
- Menjelaskan hasil-hasil yang berbeda dari yang diharapkan;
- Menggunakan teknologi untuk melaporkan dan menyajikan hasil penyelidikan.

Sementara itu keterampilan intelektual (penalaran) yang yang terlibat dalam proses saintifik tersebut
meliputi antara lain:
- Penalaran deduktif: Penalaran dari premis umum, yakni prinsip yang telah diketahui, menuju kesimpulan
spesifik yang pasti. Penalaran tipe ini digunakan dalam memprediksi, mengestimasi, mendesain
eksperimen, dsb.
- Penalaran induktif: Penalaran dari kasus-kasus spesifik menuju kesimpulan umum (generalisasi).
Penalaran tipe ini digunakan dalam mengklasifikasi, menimpulkan, mengidentifikasi masalah,
penjelaskan, menghubungkan,
- Penalaran abduktif: Penalaran yang melibatkan inferensi untuk penjelasan terbaik (inference to the best
explanation), yang digunakan secara khusus dalam dalam mengkonstruksi hipotesis atau penjelasan
terhadap fenomena.

3. Metode Penilaian Sumatif dalam IBL


Pada dasarnya penilaian sumatif bertujuan membuat keputusan tentang nilai prestasi individu peserta
didik (Harlen, 2013:21). Untuk itu dilakukan pengumpulan bukti-bukti (evidence) kemampuan masing-
masing peserta didik yang dapat dikumpulkan dengan pelbagai cara (Hammerman, 2006), misalnya hasil
tes, tugas-tugas khusus (task), artefak yang dibuat, laporan tertulis, presentasi, peer-assessment, observasi
guru, serta aktivitas sehari-hari, sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 2.

Tes, tugas atau


aktivitas reguler
Pengumpulan bukti
terkait tujuan

Bukti-Bukti

Interpretasi
Laporan Pertimbangan bukti
L
Prestasi prestasi

Gambar 2. Asesmen untuk tujuan sumatif

Bukti-bukti tadi ditafsirkan dengan membandingkannya terhadap kriteria atau standar terkait tujuan
pembelajaran, sehingga akhirnya nilai prestasi masing-masing individu peserta didik dapat ditentukan.

2
Lebih lanjut Harlen (2013) menyatakan bahwa dalam implementasi pembelajaran IPA berbasis inkuiri,
asesmen sumatif mesti terarah pada dua sasaran utama, yakni pengertian (understanding) terhadap ide-
ide pokok sebagai konten mata pelajaran, serta keterampilan inkuiri IPA. Pengertian wujud dalam level-
level yang berbeda. Oleh sebab itu asesmen sumatif perlu memetakan pengertian individu peserta didik
terhadap konten materi pelajaran. Dengan demikian level pengertian peserta didik dapat dipastikan,
apakah masih pada level memorisasi atau pemahaman yang bersifat permukaan, atau sudah pada level
aplikasi yang memampukan peserta didik menganalisis dan menjelaskan suatu fenomena yang
merefleksikan pemahaman secara mendalam.
Asesmen sumatif aspek konten IPA perlu memperhatikan hal-hal berikut:
Tugas asesmen perlu melibatkan aplikasi pengetahuan, tidak hanya memorisasi.
Tugas harus situasi baru (novel), namun pada saat yang sama harus tidak jauh dari pengalaman
belajarnya.
Agar peserta didik yakin bahwa IPA adalah tentang real world, bukan imajinasi, tugas asesmen harus
otentik, tentang hal-hal yang real dan juga data real.

4. Penggunaan Tes untuk Mengukur Keterampilan Inkuiri Saintifik


Untuk tujuan sumatif, apalagi jika asesmen sumatif dilaksanakan secara berskala luas (large-scale), hasil tes
menjadi bukti yang diandalkan. Terdapat pelbagai model bagi kerangka acuan (framework) dan konstruksi
tes keterampilan inkuiri saintifik. Terdapat dua pendekatan dalam mengukur keterampilan inkuiri saintifik,
yakni tes keterampilan inkuiri saintifik yang bebas konten sains (content free) dan yang terikat konten sains
(content bound). Apapun tes keterampilan inkuiri saintifik pasti mengandung konteks ke-IPA-an, namun
jenis tes keterampilan inkuiri bebas konten, tidak terkait erat dengan materi pelajaran IPA target. Berbeda
halnya dengan tes keterampilan inkuiri terikat konten, yang butir-butir soalnya terkait erat pada konteks
materi IPA target pembelajaran, tidak di luar itu.
Tes keterampilan inkuiri bebas konten dikembangkan sebagai standardized test yang dapat
digunakan untuk peserta didik berskala luas, sedangkan tes keterampilan inkuiri terikat konten
dikembangkan sebagai teacher-made test untuk peserta didik terbatas di sekolah. Kendatipun demikian,
butir-butir tes berskala besar seperti yang dikembangkan PISA (internasional) (Lihat contoh padas Lampiran
1), NAEP (Amerika Serikat) (Lihat contoh pada Lampiran 2), APU (England) (lihat contoh pada Lampiran 3)
dapat saja diadopsi atau dimodifikasi ketika guru mengembangkan tes keterampilan inkuiri saintifik untuk
mata pelajajaran yang diampunya. Di samping itu tes standar yang dikembangkan para peneliti, seperti
misalnya: The Assessment of Scientific Reasoning Skills of High School Science Students (Hanson, 2016)
(Lihat contoh pada Lampiran 4), serta tes yang dikembangkan Engger dan Yager (2001) (Lihat contoh pada
Lampiran 5) memberikan insprirasi dalam mengembangkan tes keterampilan inkuiri saintifik.
Pengembangan tes keterampilan inkuiri saintifik boleh jadi merupakan tantangan baru bagi guru IPA,
sebab konstruksinya banyak berbeda dari pengembangan tes tradisional yang biasa dilakukan sebelumnya.
Sesuai dengan fitur pembelajaran berbasis inkuiri yang melibatkan proses penyelidikan ilmiah dalam IPA,
maka untuk mengungkap keterampilan inkuiri ilmiah butir-butir tes pun perlu memuat situasi eksperimen
serta set data eksperimen yang otentik (real). Hal ini yang boleh jadi agak menyukarkan pada awalnya.
Namun yang sangat penting adalah merencanakan butir-butir soal menurut kisi-kisi tes yang
mengintegrasikan keterampilan saintifik, penalaran ilmiah dan konten IPA target pembelajaran. Dalam
kaitan ini Hanson (2016) memberikan model kisi-kisi tes keterampilan inkuiri ilmiah, yang memuat tiga
jenis informasi penting, yakni kategori keterampilan saintifik yang diukur, jenis penalaran ilmiah yang

3
diperlukan, serta fitur butir-butir soal yang hendak dibuat. Tentu saja adaptasi perlu dilakukan ke dalam
konteks standar penilaian pendidikan yang berlaku di Indonesia.

Referensi

Bybee, R. W., & Powell, J. C. (2014). Teaching secondary school science strategies for developing scientific
literacy. Essex: Pearson Education.
Enger, S. K., & Yager, R. E. (2001). Assessing student understanding in science: A standardized K-12
Handbook. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.
Hammerman, E. (2006). Essentials of inquiry-based science, K-8. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.
Hanson, S. (2016). The Assessment of Scientific Reasoning Skills of High School Science Students: A
Standardized Assessment Instrument. Thesis, Illinois State University.

Harlen, W. (2013). Assessment and inquiry-based science education: Issues in policy and practice. Trieste:
TWAS-Strada Costiera.

Wenning, C. J. (2007). Assessing inquiry skills as a component of scientific literacy. Journal of Physics
Teacher Education Online, 4(2), 21-24.

4
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1: Contoh Butir Soal PISA

5
Lampiran 2: Contoh Butir Soal NAEP

Question 10, Relate rate of evaporation to boiling point and molecular motion
A student placed two identical beakers on a windowsill. One beaker contained 80 milliliters (mL) of Liquid A, and the
other beaker contained 80 mL of Liquid B. The student left the beakers uncovered and undisturbed. After three days,
both beakers contained less liquid. However, there was less of Liquid B than Liquid A. The diagram below shows the
volume of liquid in each beaker at the start of the experiment and after three days.

Why is there less liquid in both beakers after three days?


_______________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________
Which liquid has the lower boiling point, Liquid A or Liquid B? Why?
_______________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________

6
Lampiran 3; Contoh Butir Soal APU

7
Lampiran 4: Contoh Butir Soal Hanson

12. The following figure shows a balance that is measuring the mass of steel wool before and after it has burned for a
short period of time. In the figure, the balancing mass is on the left side and the steel wool is on the right side.

Three students have different explanations as to what occurs during the burning of steel wool:
Student 1: Oxygen from the atmosphere combines with the steel wool, because burning is a chemical
reaction that always involves oxygen.
Student 2: Carbon dioxide from the steel wool is released into the atmosphere, because burning is a
process that always involves smoke coming from the substance.
Student 3: There is no exchange of gases between the steel wool and the atmosphere, because steel
wool does not burn like other substances.

The figure best supports which of the students explanations? Caution: A correct statement is not always the
answer to a given question.
a. Student 1
b. Student 2
c. Student 3
d. Student 1 and Student 2
e. There is not enough evidence in the figure to support any of the students.

8
Lampiran 5: Contoh Butir Soal Engger & Yager

01. Delapan biji benih kacang disemai dan kemudian dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri
atas dua biji benih. Satu kelompok ditumbuhkan di bawah sinar merah, kelompok berikutnya ditumbuhkan di
bawah sinar hijau, kelompok lain di bawah sinar biru, dan kelompok keempat di bawah sinar putih. Dengan cara
berikut manakah, eksperimen ini dapat ditingkatkan?
A. Memberikan lebih banyak air ke tumbuhkan di bawah sinar merah
B. Menambah jumlah biji benih yang disemai dalam kelompok keempat
C. Menumbuhkan tumbuhkan di bawah sinar putih dalam tanah berpasir, namun yang lain dalam tanah
berhumus
D. Menambah satu kelompok lagi dari dua benih dalam eksperimen dan menumbuhkannya di bawah sinar ungu

02. Urutkanlah tanaman berikut dari mulai yang daunnya terpanjang sampai dengan yang daunnya terpendek?

03. Sekelompok siswa melakukan percobaan untuk menentukan pengaruh pemanasan terhadap pertumbuhan
kecambah biji kacang. Faktor manakah yang paling tidak penting untuk dikendalikan (dibuat tetap) dalam
percobaan itu?
A. Temperatur ketika biji kacang dipanaskan
B. Lama waktu pemanasan biji kacang
C. Jenis tanah yang digunakan
D. Kelembaban tanah yang digunakan
E. Ukurang pot yang digunakan untuk menumbuhkan setiap biji kacang

04. Alamsyah mengukur tinggi tanaman kacang setiap minggu untuk melihat seberapa cepat tanaman itu tumbuh.
Pada pengamatan pertama (0 minggu) tanaman kacang tingginya 5 cm. Berikut ini adalah tinggi tanaman yang
diamati selama 4 minggu pertama.

Waktu Tinggi
(minggu) (cm)
0 5
1 15
2 30
3 40
4 45
Gambar grafik pada kertas mm yang memperlihatkan hubungan pertambahan tinggi tanaman dengan waktu
tumbuh.